Sabtu, 16 Jun 2018

AYAT 58


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
 tafsir surah Maryam Ayat 58
    SEBAGAI MANA AYAT AYAT SEBELUM NYA DALAM SURAH MARIAM ALLAH MENYERU AKAN NABI MUHAMAT AGAR MENCERITAKAN KISAH RASUL RASUL TERDAHULU DENGAN KEBENARAN DAN NABI MUHAMAT ITU TIDAK LAH LAIN MELAIANKAN MENYAMPAIKAN KEBENARAN ,.

     Seawal ayat pertama dari surah mariam hingga ayat ke 58 allah menyeru nabi mkuhamat sebanyak beberapa kali agar menceritakan kisah nabi nabi seawal nabi adam hingga nabi isa ,..,dan dalam ayat ini allah menjelaskan kerahmatan keatas rasul rasul nya dan dari keturunan nuh rasul terakhir yang mana terselamat dari banjir besar keatas dunia ,.., dan dari keturunanya maka lahirlah rasul rasul setelah nabi ibrahim,.,. hingga musa dan isa.,., dan dalam ayat ini di seru agar menunduk sujud syajadah bila membaca nya.,., sebagai mana tertera dalam ayat di bawah,..,Doa Sujud Tilawah - Sujud tilawah adalah sujud yang disunnahkan untuk dilakukan ketika kita membaca atau mendengar ayat ayat sajdah. ayat ayat sajdah sendiri adalah ayat ayat tertentu didalam Al-Quran yang jika kita membaca atau mendengarnya baik sengaja ataupun tidak maka disunnahkan bagi kita untuk mengerjakan sujud tilawah atau biasa disebut sujud sajadah.

    Adapun ayat ayat Al Quran yang termasuk ayat sajdah tilawah adalah Surat الأعراف ayat yang ke 206, Surat الرعد ayat yang ke 15, surat النحل ayat yang ke 49, surat مريم ayat yang ke 58, surat الحج dalam dua ayat ke 18 dan ayat yang ke 77, surat السجدة ayat ke 15, surat الفرقان ayat yang ke 60, surat النمل ayat yang ke 26, surat فصلت ayat yang ke 38, surat النجم ayat yang ke 62, surat الانشقاق ayat yang ke 21, surat الإسراء ayat yang ke 108 dan terakhir adalah surat العلق ayat yang ke 19.

DOA SUJUD SEJADAH; ALLAAHUMMA UKTUB LII BIHAA ‘INDAKA AJROO WAJ’ALHAA LII ‘INDAKA DZUKHRON WADLO’ ‘ANNII BIHAA WIZRON WAQBALHAA MINNII KAMAA QOBILTAHAA MIN ABDIKA DAAWUUD ‘ALAIHI SALAAM.

sebagai mana allah azawajalla berfirman; أُولئِكَ الَّذينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَ مِمَّنْ حَمَلْنا مَعَ نُوحٍ وَ مِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْراهيمَ وَ إِسْرائيلَ وَ مِمَّنْ هَدَيْنا وَ اجْتَبَيْنا إِذا تُتْلى‏ عَلَيْهِمْ آياتُ الرَّحْمٰنِ خَرُّوا سُجَّداً وَ بُكِيًّا َ (58)

Mereka itulah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah keatas diri mereka , yaitu dari antara Nabi-nabi , dari keturunan Adam dan dari ( keturunan orang-orang yang Kami angkut bersama Nuh , dan dari keturunan Ibrahim dan Israil , dan daripada ( keturunan ) orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan Yang telah Kami pilih. (Yang) apabila dibacakan kepada me­reka ayat-ayat Tuhan Yang Rahman (Pengasih), bertelutlah mereka itu dalam keadaan sujud dan menangis. kisah Hamba-hamba Allah Pilihan ayat 58* Pada ayat 58 ini, sesudah Allah menyuruhkan RasulNya mengingat kembali Nabi-nabi yang utama itu, Tuhan menjelaskan betapa tinggi ke­dudukan beliau-beliau.

Moga-moga shalawat dan Salam Allah atas mereka semua di sisi Tuhan: أُولئِكَ الَّذينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ "Mereka itulah orang-orang yang teiah diberi nikmat oleh Allah ke atas diri mereka." (pangkal ayat 58). Mereka itu adalah manusia, bukan malaikat dan bukan jenis makhluk yang lain, tetapi mereka terpilih untuk menyampaikan seruan Ilahi kepada sesamanya manusia di muka bumi ini: مِنَ النَّبِيِّينَ "Yaitu dari antara Nabi-nabi," dalam kalimat ini diterangkanlah martabat apa yang diberikan Tuhan kepada mereka, yaitu nubuwwat.

Nabi artinya orang yang diturunkan Tuhan wahyu kepadanya. Mereka berhubungan dengan Tuhan dengan per­antaraan Malaikat Jibril yang ditugaskan buat menyampaikan wahyu itu. Tidak­lah manusia yang lain mencapai nikmat tertinggi itu, menerima wahyu; yang menerima wahyu itu hanyalah Nabi dan Rasul saja: مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ "Dan keturunan Adam." Itulah yang disebut terlebih dahulu. Ahli-ahli tafsir mengatakan bahwa Nabi yang langsung dari keturunan Adam ialah Idris. Kemudian dari Idris ialah Nuh. Yang kedua ialah: وَ مِمَّنْ حَمَلْنا مَعَ نُوحٍ "Dan dari (keturunan) orang-orang yang Kami angkut ber­sama Nuh." Yaitu Nuh sendiri dan keturunannya dan keturunan orang-orang yang ada bersama beliau diselamatkan Allah, diangkut atau diangkat belayar di dalam bahtera Nabi Nuh. Maka keturunan dari yang diangkut dalam bahtera Nabi Nuh itu, menurut tafsir dari Ibnu Jarir hanya seorang Nabi saja; Ibrahim. مِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْراهيمَ "Dan dari keturunan Ibrahim." Sekali lagi Ibnu Jarir menyatakan dalam Tafsir­nya bahwa yang dimaksud dengan keturunan Ibrahim itu ialah tiga orang: (1) Ismail, anak tertua. Dialah yang kelaknya menurunkan bangsa Arab Musta'ribah, dari perkawinan befiau dengan Arab Jurhum. Dari keturunan Ismail inilah timbul Arab Adnan yang menurunkan Nabi kita Muhammad s.a.w. (2) Ishak dan (3) anak dari Ishak, cucu dari Ibrahim, yaitu Ya'kub.

 Nama Ya'kub itu di waktu kecilnya ialah Israil. وَ إِسْرائيلَ "Dan Israil;" keturunan dari Ya'kub yang bernama Israil itulah yang banyak di antara Nabi-nabi Bani Israil. Sejak dari putera beliau Nabi Yusuf, Musa dan Harun, Daud dan Sulaiman, Zakariya dan Yahya dan Isa Almasih dari pihak ibu beliau. Kata Ibnu Jarir seketika menguraikan ini semuanya: "Demikianlah serpih belahan mereka, meskipun semuanya pulang kembali kepada satu nenek saja, yaitu Adam." Dan bunyi ayat selanjutnya: وَ مِمَّنْ هَدَيْنا وَ اجْتَبَيْنا "Dan daripada (keturunan) orang orang yang telah Kami beri petunjuk dan yang tetah Kami pilih." Setelah di pangkal ayat Allah menerangkan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang dianugerahi Allah nikmat, maka sesudah serpih belahan mereka diuraikan satu demi satu, diiringkan lagi dengan pujian ini. Yaitu bahwa mereka itu adalah orang-orang yang diberi petunjuk semuanya. Mereka itu adalah orang-orang terpilih semuanya. Orang bukan sembarang orang. Kata al-Qurthubi dalam Tafsirnya: Mereka itu semua diberi petunjuk. Petunjuk itu ialah ISLAM. Dan mereka adalah orang-orang yang terpilih, sebab hidup mereka diperhiasi dengan Iman dan Takwa. إِذا تُتْلى‏ عَلَيْهِمْ آياتُ الرَّحْمٰنِ "(Yang) apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Tuhan Yang Rahman (Pengasih)." Yaitu apabila Nabi-nabi orang pilihan Allah itu didatangi oleh Malaikat Jibril, membacakan wahyu yang akan mereka sampaikan kelaknya kepada ummat manusia: خَرُّوا سُجَّداً وَ بُكِيًّا "Berlututlah mereka itu dalam keadaan sujud dan menangis. " (ujung ayat 58). Mereka semuanya adalah orang-orang yang diberi nikmat, diberi petunjuk dan orang-orang pilihan di sisi Tuhan, namun mereka adalah tunduk tadharru kepada Tuhan. Menjadi hamba yang setia, bukan sombong mengangkat diri. Di sinilah Allah dengan secara tidak langsung memberikan didikan yang tinggi sekali bagi orang yang beriman. Nabi-nabi itu diberi nikmat tertinggi, dijadikan Nabi dan Rasul, mereka selalu diberi petunjuk dan mereka diakui sebagai orang-orang pilihan. Tetapi adakah mereka menyombong karena kemuliaan yang ditimpahkan itu?

Tidak! Bahkan mereka selalu insaf bagaimana hubungan semestinya di antara mereka dengan Tuhan. Betapa pun tinggi kemuliaan yang diberikan, namun mereka lain tidak, hanyalah `Ibaadullah: hamba sahaya dari Allah. Bila malaikat datang membawa wahyu mereka bertelut atau berlutut merendahkan diri, mereka bersujud mensyukuri nikmat bahkan mereka menangis, mungkin saja lantaran terharu menerima kepercayaan yang begitu tinggi yang dilimpah­kan Tuhan ke atas diri mereka. Teringatlah kita akan sebuah Hadits yang diriwayatkan daripada Aisyah isteri Nabi kita s.a.w. bahwa banyak kali beliau melihat Nabi kita s.a.w. sembah­yang malam lama sekali, sampai pegal atau gembung kaki beliau. Lalu Aisyah bertanya, mengapa masih sembahyang selama itu, padahal sederhana saja pun tak mengapa. Sebab Allah telah berjanji juga hendak mengampuni jika beliau bersalah. Tetapi beliau menjawab, dengan kata-kata beliau yang terkenal : "Tidakkah patut aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?" Maka beliau beribadat kepada Tuhan itu bukanlah semata-mata karena ingin banyak pahala. Bukanlah layaknya demikian seorang Nabi, apakah Nabi penutup segala Nabi , Muhammad s.a.w. Beliau beribadat sebanyak itu ialah karena belum puas kalau tidak banyak-banyak menyatakan syukur kepada Tuhan. Perasaan hati seorang Nabi yang tergambar dalam ayat ini, yaitu bila ayat Allah dibacakan mereka tersungkur atau berkelutlah sujud lalu menangis, banyaklah contohnya kita lihat pada Nabi s.a.w. Beliau tidak membiarkan sahabat-sahabatnya hendak beribadat sampai bersusah-payah. Ketika beliau masuk ke dalam rnesjid didapatinya ada tali terentang, tempat bergantung seorang perempuan bernama Zainab kalau dia telah payah duduk dan akan berdiri memulai sembahyang lagi, lalu Rasulullah s.a.w. menyuruh tanggalkan tali itu dan singkirkan. Dan beliau nasihatkan supaya sesudah payah sembahyang jangan memaksa diri. Kalau terasa payah istirahatlah atau tidurlah. Padahal beliau sendiri, sebagai yang diriwayatkan Aisyah itu, sembahyang malam sampai pegal atau bengkak kakinya. Beliau larang seketika ada sahabatnya mencoba puasa secara wishal, yaitu terus-menerus tanpa berbuka dan tanpa makan sahur. Beliau larang keras menyiksa diri demikian rupa. Padahal ada orang yang melihat beliau tidak makan tidak minum, tidak berbuka dan tidak sahur beberapa hari, namun badannya sekuat itu juga. Ketika ditanyai dengan senyum beliau jawab, bahwa makanan selalu disediakan malaikat buat dia. Sampai dalam al-Quran datang teguran terhadap sahabat-sahabat beliau yang menjauhi bersetubuh dengan isterinya di malam bulan puasa. Puasa hanya siang. Malam orang boleh bersenda-gurau lagi sebagai suami dan isteri. Namun orang menyaksikan, dan Hadits-hadits shahih banyak menerangkan bahwa 10 hari yang akhir dari bulan puasa Nabi s.a.w. memperketat ikat pinggangnya dan memperbanyak i'tikafnya. Sampai ditafsirkan oleh ahli Hadits, maksudnya ialah bahwa karena tekunnya beribadat di sepuluh hari yang akhir Ramadhan itu, beliau tidak ada waktu lagi mencampuri isteri. Bersyukurlah kita dan merasa bangga membaca tarikh beliau, s.a.w. Beliau larang ummatnya beribadat melebihi kekuatan, supaya jangan menimbulkan bosan kelaknya, padahal beliau sendiri beribadat selalu lebih dari ummatnya. Dan dan ayat ini pula kita pengikut Nabi Muhammad dapat memahamkan kedua tugas kita sebagai Anak keturunan Adam. Dengan jelas Allah menyatakan bahwa Adam dan keturunannya ialah Khalifah Allah di permukaan bumi ini. Tetapi Allah menjelaskan pula bahwa kita ini adalah hambaNya belaka. Bukanlah selayaknya kita membesarkan diri karena Allah menyatakan manusia adalah khalifahNya di muka bumi ini (Surat 2, al-Baqarah, ayat 30), atau dikatakan bahwa isi bumi ini semuanya disediakan buat manusia (Surat al-Baqarah, 29). Atau dikatakan bahwa Allah memuliakan Anak Adam di antara sebahagian terbanyak makhluk di muka bumi ini (Surat 17, al-Isra', 70). Atau dikatakan bahwa kejadian Insan adalah dalam sebaik-baik bentuk (Surat 95, at-Tiin, 4). Karena yang demikian itu adalah buat manusia seluruhnya; Mu'min­nya dan kafirnya, taatnya dan fasiknya. Tetapi barulah berarti hidup ini kalau kita sudah insaf benar bahwa kita ini adalah hamba Allah, budak Allah, sahaya Allah. Apabila kita telah membebaskan diri dan jiwa kita daripada perbudakan benda, berhala manusia dan segala macam thaghuth, maka kita dengan segala kerendahan hati, dengan bertelut dan berlutut, beruku` dan bersujud mengakui diri sebagai hamba dari Allah, dan minta diakui oleh Allah sebagai hambaNya. Bilamana Allah hendak mengangkat martabat hambaNya, dipanggilNya hambaNya itu dengan `ABDI; artinya hamba atau sahaya atau budak. Seketika Tuhan menceriterakan anugerah tertinggi yang Dia kurniakan kepada Nabi kita s.a.w. pada ayat 1 dari Surat al-Isra', dengan mengisra'kan beliau s.a.w. malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, disebutnyalah Nabi kita itu `ABDIHI; yang berarti hambaNya. Dan seketika Allah memperingatkan kisah permohonan Nabi Zakariya, disebutNya lagi `ABDUHU ZAKARIYA; hamba­Nya Zakariya. Di Surat al-Isra' juga, ayat 3, Nabi Nuh disebut Tuhan `Abdan Syakuraa; hamba yang bersyukur selalu. Seketika Nabi Musa disuruh datang menuntut ilmu pengetahuan (al-Kahfi, 66) disebut bahwa Guru ialah "`Abdan min `Ibaadina"; seorang hamba di antara hamba-hamba Kami. Sulaiman di­sebutNya "Ni'mal `Abdu"; hamba yang paling baik, (Surat 30, Shaad, 30). Ayyub pun disebutnya demikian, (Shaad, 45). Dan Isa Almasih sendiri, yang dianggap Tuhan oleh Ummat Nashara, ketika beliau membuka mulut dan ber­kata-kata sedang sarat menyusu, ucapan beliau yang pertama terdengar ialah; "Ana Abdullah"; aku adalah Hamba Allah! Beliau bukan anak Allah, sebagai yang dijadikan dasar kepercayaan oleh orang Nasrani. Demikian Nabi-nabi itu, bertambah diberi Tuhan nikmat, petunjuk dan menjadi orang terpilih, bertambah mereka bertelut sujud sambil berurai airmata karena tunduk clan cinta kepada Tuhan, dan mengakui din mereka adalah Hamba Tuhan. Dan inilah contoh teladan yang ditinggalkan oleh Nabi-nabi pada kita, untuk kita turuti. Jangan membangga karena disebut Khalifatullah, karena itu belum cukup. Tetapi senantiasalah mendekati Tuhan, sehingga berhak buat dipanggilkan Tuhan hambaNya. Maka samalah pendapat Ulama, bahwa sesampai di ujung ayat ini, dianjur­kanlah kita sujud ketika kita membaca al-Quran. Menurut keterangan al-Qurthubi dalam tafsirnya; Ulama menganjurkan ketika kita melakukan sujud (sajadah) di Surat Alif-Lam-Mim Tanzil (Surat Sajdah, ayat 15), sebaiknya kita baca : "Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang yang sujud kepada wajah Engkau, yang mengucapkan tasbih memuji Engkau, dan Aku berlindung kepada Engkau, jangan termasuk orang yang sombong dari perintah Engkau." Dan bilamana melakukan sujud yang di "Subhanal ladzi" (Surat al-Isra', ayat 109) kita baca : "Ya Allah, jadikanlah aku orang yang menangis karena cinta akan Engkau dan yang khusyu` kepada Engkau." Dan jika sampai pada sajadah ayat ini (Surat Mar)am, 58) baca:

AYAT 56-57


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
 tafsir surah Maryam Ayat 56 - 57
      SEBAGAI MANA AYAT AYAT SEBELUM NYA ALLAH MENJELASKAN KISAH NABI NABI DAN RASUL NYA SEAWAL KISAH ZAKARIA HINGGA MUSA DAN DALAM AYAT INI ALLAH AZAWAJALLA MENCERITAKAN KEATAS RASUL NYA MUHAMAT YANG MANA HAMBA DAN SEORANG YANG BERNAR BENAR BERKATA KATA BENAR,.., ALLAH MENJELASKAN KISAH NABI IDRIS.,.,

Allah azawajalla berfirman; وَ اذْكُرْ فِي الْكِتابِ إِدْريسَ إِنَّهُ كانَ صِدِّيقاً نَبِيًّا َ (56) Dan ingatlah di dalam Kitab dari­hal Idris. Sesungguhnya dia ada­lah seorang yang sangat benar, lagi seorang Nabi. وَ رَفَعْناهُ مَكاناً عَلِيًّا َ (57) Dan telah Kami angkatkan dia ke tempat yang tinggi. Nabi Idris a.s. وَ اذْكُرْ فِي الْكِتابِ إِدْريسَ "Dan ingatlah di dalam Kitab darihal Idris." (pangkal ayat 56). Nama Nabi ldris ini tersebut di dalam al-Quran hanya dua kali. Pertama pada ayat ini, Maryam; 56.

 Kedua pada Surat 21, al-Anbiya', ayat 85; disebut nama beliau sesudah Ismail juga, dan sesudah ldris disebut Al-Kifli. Ketika Rasulullah s.a.w. Mi'raj ke langit beliau menyatakan bertemu Nabi ldris itu pada langit yang keempat. Banyaklah ceritera orang di sekitar diri Nabi yang satu ini meskipun hanya dua kali tersebut dalam al-Quran. Menurut suatu riwayat dari Ibnu Abbas ldris itu adalah seorang tukang jahit (Khayyath). Ibnu Abbas mengatakan pula bahwa setiap beliau menusukkan jarumnya ke kain selalu beliau membaca zikir "Subhanallah" (Amat Sucilah Allah).

Begitulah terus dia bekerja dan berusaha sehari-harian sampai petang. Dipujilah beliau oleh Tuhan di ujung ayat ini: إِنَّهُ كانَ صِدِّيقاً نَبِيًّا "Sesungguhnya dia adalah se­orang yang sangat benar, lagi seorang Nabi." (ujung ayat 56). SHIDDIQ kita artikan sangat benar, atau sangat jujur, tidak banyak bahkan tidak ada belat dan belit. Dan beliau pun adalah Nabi Allah, orang yang dipercayai oleh Allah menyampaikan wahyuNya. Di dalam Tafsir al-Qurthubi disebutkan bahwa Nabi ldris itulah manusia yang mula-muia menulis dengan qalam. Yang mula-mula menjahit dengan jarum. Yang mula-mula mengetahui ilmu bintang dan ilmu hisab. Dia bernama Idris, yang diartikan belajar karena dia banyak sekali belajar Kitab Allah. Ada disebut bahwa kepadanya diturunkan 30 Shuhuf.

Ada yang mengatakan Idris itu ialah Ukhnukh. Nenek dari Nabi Nuh. Nuh anak Lamak anak Matusyalakh anak Ukhnukh! . Dalam silsilah keturunan itu ada disebut bahwa Lamak itu anak dari Matusyalakh dan Matusyalakh anak dari Ukhnukh atau disebut juga Henokh, anak dari Jared, anak dari Mahlael, anak dari Qinan, anak dari Syits, anak dari Adam. Mungkin karena menyangka bahwa Idris ini adalah Ukhnukh, atau disebut juga Henokh, terbiasalah orang menyebut susunan Nama Nabi-nabi sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad, nama Idris selalu terletak pada nomor dua; Adam, Idris, Nuh, Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya'kub, Yusuf, Luth, Syu'aib, dan seterusnya.Tetapi nampaknya menetapkan Idris adalah Ukhnukh (Henokh) hanyalah kemungkinan saja, bukan kepastian. Malah Sayid Jamaluddin al-Qasimi di dalam Tafsinya "Mahasin ut-Ta'wil" berkata: "Idris itu ialah Ilyas yang akan datang sebutannya kelak dalam Surat ash-Shaffat. Di dalam Taurat Ilyas itu disebut Elya." Tetapi Syaikh Thanthawi Jauhari di dalam Tafsir Jawahirnya menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan IDRIS ialah Oziris atau Azoris, dan kalimat Idris adalah ucapan nama itu dalam bahasa Arab. Serupa juga dengan Yesoa atau Yesus diucapkan dalam bahasa Arab dengan Isa; Yohannes dalam bahasa Yunani diucapkan dalam bahasa Arab Yahya. Menurut Syaikh Thanthawi, Oziris atau Idris ini seorang Nabi yang diutus Allah kepada bangsa Mesir purba­kala dan membawa ajaran-ajaran dan perobahan yang besar-besar.

Di dalam sejarah-sejarah Kuno Mesir disebutkan bahwa Idris itu meninggal karena di­bunuh oleh saudaranya sendiri karena dengki akan pengaruhnya yang besar. Lalu dipotong-potong badannya untuk dihancurkan. Tetapi sepotong dari badan itu dipelihara oleh isterinya dan dibalsem; pembalseman mayat itulah kelaknya yang menjadi kepandaian yang utama dari orang Mesir purbakala. Syaikh Thanthawi menguraikan panjang lebar, bahwa di zaman purbakala bangsa Mesir itu di antara Kerajaan dengan agama adalah satu, sehingga Idris itu pun merangkap juga raja. Itulah sebab dia didengki oleh saudaranya. Namun setelah dia mati orang Mesir memuliakan sekalian jasanya yang besar-­besar. Kata dongeng mereka, setelah seorang raja besar atau orang besar mati, bersidanglah hakim-hakim 42 orang banyak anggotanya memusyawaratkan dan mempertimbangkan tentang kebaikan atau keburukan raja semasa hidup­nya. Rupanya kebaikan Oziris atau Idris itu lebih banyak dan lebih berat dari­pada keburukannya; maka ditempatkanlah dia pada tempat yang amat tinggi dan agung di alam lain. Dan beratus tahun lamanya sesudah Oziris mati, selalu dipertimbangkan kebaikan dan keburukan penguasa.

Kalau ternyata kebaikan­nyalah yang banyak, dianggaplah bahwa tempatnya di alam lain ialah di tempat yang ditempati oleh Oziris. Sayid Quthub di dalam "Fi Zhilalil Quran"pun memberatkan pendapatnya kepada pendapat Syaikh Thanthawi Jauhari ini, bahwa besar kemungkinan bahwa Idris ialah Oziris yang ternama dalam Sejarah Mesir Purbakala itu. Niscaya di dalam tafsir-tafsir yang lama sejak Thabari, ar-Razi, al-Qurthubi, Ibnu Katsir dan yang sezaman tidak bertemu kemungkinan Oziris itu, dan baru bertemu pada Tafsir Syaikh Thanthawi Jauhari pada sekitar tahun 1928, atau pada Tafsir Sayid Quthub selepas tahun 1955.

Sedang Tafsir AI-Manar Sayid Rasyid Ridha hanya sampai pada Surat Yusuf saja (Juzu' 13). Karena Ilmu hasil penyelidikan kebudayaan dan Peradaban Bangsa Mesir Kuno, yang terkenal dengan nama "Egyptologi" barulah tumbuh sejak permulaan Abad Kesembilan­ belas , sejak para sarjana dapat membuka kunci rahasia Huruf Hyroglefy, huruf bangsa Mesir Kuno itu. Dari hasil penyelidikan yang baru berusia 165 tahun itu­lah didapat ceritera tentang orang besar Mesir yang bernama Oziris itu. Dan ajaran-ajaran Oziris yang didapat dari huruf-huruf Kuno itu bertemu pokok ajaran Tauhid. Cuma setelah lama kemudian sepeninggal dia, setelah pada mulanya hakim-hakim mengakui bahwa jasanya sangat besar, maka beliau di­tempatkan di tempat yang Maha Tinggi di alam lain, maka beliau pulalah yang dipertuhan orang, dipuja dan disembah, sebagai dilakukan orang Kristen kepada Isa Almasih atau orang Budha kepada Bodhisatwa. Maka tersebutlah pada lanjutan ayat: وَ رَفَعْناهُ مَكاناً عَلِيًّا َ "Dan telah Kami angkatkan dia ke tempat yang tinggi." (ayat 57). Sedianya akan sederhana sajalah penafsiran daripada ayat ini. Di ayat 56 sebelumnya, Allah telah memujikan keistimewaan Idris, bahwa dta adalah se­orang yang sangat benar, sangat jujur, artinya seorang yang lurus: sesuai dengan pengangkatan Allah atas dirinya menjadi Nabi. Oleh karena sangat jujur, sangat benar dan sangat lurusnya itu, sudah pastilah Martabatnya di­angkatkan Allah kepada tempat yang tinggi dan agung. Di dalam Surat 58 al-Mujadilah ayat 11 Tuhan bersabda: وَ الَّذينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجاتٍ "Akan diangkatkan oleh Allah orang-orang yang beriman daripada kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." Maka tinggilah kedudukan Idris itu karena jujurnya dan lurusnya. Tetapi rupanya tidaklah "mereka itu" merasa puas kalau tempatnya yang diangkatkan tinggi itu tidak ditafsirkan dengan ganjil. Di sini akan kita salinkan beberapa ceritera tentang diangkatkan Nabi Idris ini yang ganjil-ganjil. Adapun yang pokok, yang masuk di akal dan dapat difikirkan ialah sebuah riwayat yang dirawikan oleh Bukhari yang diterimanya dari Syarik bin Abdullah bin Abu Namir, bahwa dia mendengar sahabat Rasulullah s.a.w. Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Nabi s.a.w. menceriterakan tatkala beliau Mi'raj ke langit beliau bertemu Nabi-nabi Allah di tiap-tiap langit dan bertemu Nabi Idris di langit yang keempat. Demikian juga dalam riwayat yang disampaikan oleh Muslim dari Malik bin Sha'sha'ah. Beberapa ahli tafsir menjadikan Hadits-hadits Mi'raj itu akan alasan menguatkan bahwa Nabi Idris itu diangkatkan Tuhan ke tempat yang tinggi. Maka kalau Hadits-hadits itu yang dijadikan alasan, niscaya bukanlah Nabi Idris saja yang diangkatkan martabatnya. Sudahlah selayaknya sekalian Nabi di­angkatkan kemuliaannya, sehingga Nabi kita s.a.w. berjumpa dengan setengah mereka pada langit ketujuh tingkatnya itu; ada yang di langit pertama, kedua, ketiga, keempat dan seterusnya sampai yang ketujuh. Tetapi ceritera tentang ldris tidaklah dicukupkan orang sehingga itu saja. Beberapa ceritera akan kita salinkan dalam tafsir ini tentang din Nabi Idris itu: 1. Disalinkan oleh al-Qurthubi di dalam Tafsirnya sebuah riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Abbas dan Ka'ab al-Ahbar bahwa Nabi Idris itu diangkat­kan ke langit. Sebabnya maka beliau diangkat ke langit ialah, karena pada suatu hari beliau berjalan kaki menuju suatu maksud maka sangatlah lelahnya dalam perjalanan itu karena dari teriknya Matahari. Lalu berkatalah dia: "Ya Tuhanku! Berjalan baru satu hari aku telah sangat lelah, bagaimanalah halnya yang memikul bumi ini 5 tahun! Ringankanlah kiranya bagi yang memikul bumi ini akan beratnya." Yang dia maksud ialah malaikat yang ditugaskan Allah memikul falak Matahari ini. Dan Idris menyambung doanya pula: "Ya Allah ringankanlah keberatannya dan kurangi kiranya panasnya." Tatkala hari mulai pagi terasalah oleh malaikat yang memikul Matahari itu bahwa yang dipikulnya lebih ringan dari biasa dan cahayanya tidak begitu panas lagi menimpa dirinya, yang sebelum ini belum pernah dialaminya. Lalu berdatang sembahlah malaikat itu kepada Tuhan: "Ya Tuhan! Engkau ciptakan daku untuk memikul Matahari. Sekarang apa yang telah terjadi makanya dia jadi lebih ringan?" Maka bersabdalah Tuhan: "Hambaku yang bernama Idris memohon kepadaKu agar Matahari itu diringankan dan panasnya dikurangi, lalu Aku kabulkan!'' Maka berkata malaikat itu: "Ya Tuhan, pertemukan kiranya aku dengan dia, clan jadikan kiranya di antara kami berdua persahabatan yang kekal!" Permohonan malaikat itu dikabulkan Tuhan, sehingga datanglah malaikat itu menemui Nabi Idris. Lalu Idris berkata kepadanya: "Aku mendengar berita bahwa persahabatan engkau dengan Malaikat Maut sangat karib pula. Maukah engkau memintakan kepa.da Malaikat Maut itu agar dia suka melambatkan ajalku, supaya bertambah-tambah aku bersyukur kepada Allah dan bertambah-­tambah pula aku beribadat?" Malaikat itu menjawab: "Tidak Allah menta'khirkan ajal seseorang bila­mana ajal itu telah datang." Lalu Idris berkata: "Aku tahu hal itu, tetapi ingin juga aku berkenalan dengan Malaikat Maut itu untuk menyenangkan hatiku." Maka dibawalah Idris oleh malaikat pemikul Matahari itu di dalam sayap­nya lalu digunggungnya terbang ke langit, dan diletakkannya di dekat tempat Matahari terbit. Setelah itu dia pun pergi menemui Malaikat Maut, seraya berkata: "Hai Malaikat Maut! Saya ada mempunyai seorang sahabat dari Anak Adam, dia meminta tolong kepadaku agar aku menyampaikan permohonan­nya kepada engkau, supaya ajalnya diperlambatkan." Malaikat Maut menjawab: "Kewajibanku tidaklah sampai begitu jauh. Tetapi kalau engkau ingin rnengetahui, aku dapat memberitahukan kepada engkau bila dia akan mati, supaya engkau sampaikan berita itu kepadanya." Malaikat pemikul Matahari menjawab: "Baiklah!" Maka mulailah Malaikat Maut memeriksa daftarnya. Setelah diperiksanya lalu Malaikat Maut berkata: "Telah saya selidiki dengan teliti, nampaknya kawanmu itu tidak akan mati selama-lamanya." "Mengapa begitu," tanya Malaikat pemikul Matahari. "Saya dapati dia akan mati di tempat Matahari terbit." Dengan herannya Malaikat pemikul Matahari berkata: "Seketika saya datang kepada engkau ini, dia saya tinggalkan di dekat tempat Matahari terbit." Malaikat Maut menjawab: "Segeralah engkau kembali ke sana. Sesampai engkau di sana nanti akan engkau dapati dia telah mati, maka demi Allah, tidak ada lagi sisa dari ajal Idris." Setelah Malaikat pemikul Matahari melihatinya ke sana, didapati memang dia telah mati." Sekian ceritera dari Ka'ab al-Ahbar. 2. Ceritera dari as-Suddi lain lagi Dia berkata: "Pada suatu hari Idris itu tidur nyenyak. Tiba-tiba dia terbangun karena sangat teriknya panas Matahari, lalu dia bangun sangat kepayahan lantaran panas. Lalu dia berdoa: "Ya Allah, ringankanlah kiranya bagi Malaikat yang memikul Matahari ini akan beratnya dan kurangi kiranya panasnya, karena telah sama rasanya dengan gejala api neraka." Tiba-tiba setelah hari pagi Malaikat pemikul Matahari itu pun telah di­dudukkan Tuhan di atas kursi daripada nur, dikelilingi oleh 70.000 malaikat sebelah kanannya dan 70,000 pula sebelah kirinya; semua berkhidmat kepada­nya, melaksanakan apa yang diperintahkannya. Maka berkatalah Malaikat pemikul Matahari itu: "Ya Tuhanku, dari sebab apa semuanya ini"?" Tuhan bersabda: "Seorang Anak Adam bernama Idris mendoakan untuk­mu!" (Lalu as-Suddi berceritera pula menurut jalan cerita pada Hadis Ka'ab al-Ahbar di atas tadi. Yaitu sampai malaikat itu datang menjumpai Idris). Lalu berkatalah Malaikat pemikul Matahari itu: "Adakah sesuatu hajatmu yang akan dapat aku tolong"?" ldris menjawab: "Memang ada! Aku ingin sekali hendak melihat bagaimana rupanya dalam syurga itu." Permintaan Idris itu dikabulkannya. Lalu ldris dibawanya terbang dalam sayapnya. Sesampai mereka pada langit tingkat keempat, tiba-tiba berselobok­lah mereka dengan Malaikat Maut sedang memandang-mandang ke langit, ke kanan dan ke kiri. Melihat dia datang, Malaikat Matahari mengucapkan salam kepadanya. Dan kepada Idris dia berkata: "Hai Idris! Ini Malaikat Maut datang, ucapkan pulalah salam kepadanya." Mendengar perkataan Malaikat pemikul Matahari itu berkatalah Malaikat Maut: "Subhanallah! Dengan maksud apa dia engkau bawa terbang kemari?" Maka berkatalah Malaikat Maut: "Heran ! , Allah memerintahkan kepadaku pergi menjemput nyawa Idris itu di langit keempat. Lalu aku bertanya kepada Tuhan: "Ya Tuhanku! Mengapa pula Idris itu akan sampai ke langit keempat? Tiba-tiba dia sudah berada di sini bersama engkau!" Maka diambillah rohnya oleh Malaikat Maut di langit keempat itu, lalu diangkat ke syurga, dan dikuburkan jasmaninya oleh malaikat-malaikat pada langit yang keempat itu. Itulah artinya ayat Allah: "Dan Kami angkatkan dia ke tempat yang amat tinggi." Sekian pula ceritera as-Suddi. 3. Menurut riwayat Wahab bin Munabbih pula: "Idris itu sangat shalih. Setiap hari amal ibadatnya yang shalih itu dilaporkan ke langit sebagaimana laporan amal-amal makhluk yang lain juga. Oleh karena banyak amal yang di laporkan, maka sangat kagumlah sekalian malaikat yang ada di langit atas orang yang bernama Idris ini. Siapa benarkah orangnya. Sampai Malaikat Maut sendiri sangat ingin hendak berkenalan dengan dia. Maka pada suatu hari minta izinlah Malaikat Maut itu hendak datang menziarahi Idris, lalu diberi izin oleh Tuhan. Lalu datanglah Malaikat Maut menziarahinya dengan merupakan dirinya sebagai seorang Anak Adam saja. Waktu tetamunya itu datang, beliau sedang puasa. Seketika datang waktu berbuka Idris mengajak tetamunya itu bersama makan, tetapi tetamu itu tidak mau. Sudah sampai tiga hari berturut-turut. Idris puasa, tetamu diajak makan dan ketiga harinya dia tidak mau. Maka heranlah Idris, lalu dia bertanya: "Siapa sebenarnya engkau ini? Katakanlah!° Malaikat Maut menjawab: "Saya ini adalah Malaikat Maut! Saya telah minta izin kepada Tuhanku hendak menziarahi engkau dan telah diberi izin." Idris berkata: "Saya ada keinginan kepada engkau, sudilah engkau mengabulkannya." "Apakah itu?" Tanya Malaikat Maut. Idris menjawab: "Cabutlah nyawaku!" Maka datanglah wahyu Tuhan kepada Malaikat Maut mengabulkan per­mohonan Idris itu, nyawanya pun dicabut. Tetapi hanya sesaat seketika saja, nyawa itu pun dikembalikan ke dalam dirinya, sehingga dia hidup kembali. Lalu Malaikat Maut bertanya: "Apakah faedah nyawamu dicabut lalu dikembalikan pula?" Jawab Idris: "Supaya aku rasakan kesukaran maut itu, supaya aku lebih bersedia lagi menunggunya." Sesaat kemudian Idris berkata pula: "Ada pula permintaanku yang lain sekarang!" "Apa yang engkau minta?" Tanya Malaikat Maut. Jawab Idris: "Angkat aku ke langit, supaya aku dapat melihat syurga dan neraka." Maka diberi izinlah Malaikat Maut,oleh Allah membawa ldris terbang ke langit. Mulanya dibawalah beliau melihat neraka. Setelah dilihatnya bagaimana hebatnya, pingsanlah Idris. Setelah dia siuman dari pingsannya, dia berkata: "Segera bawa aku melihat syurga!" Permintaannya itu-pun dikabulkan. Dia dibawa oleh Malaikat Maut melihat syurga. Sampai masuk ke dalamnya. Setelah lama menunggu di dalam, Malaikat Maut berkata: "Keluarlah lekas, supaya aku hantarkan engkau kembali ke tempatmu." ldris menjawab: "Aku tidak mau keluar lagi dari sini!" Lalu dia berpegang teguh pada satu pohon kayu. Setelah terjadi soal-jawab yang demikian di antara Malaikat Maut dengan Idris, diutus Allahlah seorang malaikat akan menjadi perantara dan pendamai. Lalu Malaikat itu bertanya: "Mengapa engkau tidak mau keluar?" ldris men­jawab: "Karena Allah telah bersabda: كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Tiap-tiap nyawa akan merasakan maut." (Surat 3, ali Imran, 185 ,Surat 21, 35. Surat 29, 57). "Dan saya telah merasakannya." Dan Allah pun bersabda: وَ إِنْ مِنْكُمْ إِلاَّ وارِدُها "Tidak seorang pun di antara kamu melainkan akan melaluinya." (Surat 19, Maryam ayat 71). "Dan saya telah melalui neraka itu." Dan Tuhan pun bersabda pula: ٌ وَما هُمْ مِنْها بِمُخْرَجينَ "Dan tidaklah mereka dari dalamnya akan dikeluarkan lagi." (Surat 15, 48). "Sekarang saya telah masuk ke dalam syurga ini, mengapa saya akan dikeluarkan lagi?" Berkata Wahab bin Munabbih selanjutnya: "Maka bersabdalah Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Dengan izinKu dia masuk ke dalam syurga, maka dengan izinKu pula baru dia boleh dikeluarkan." Maka hiduplah dia di sana sekarang ini. Kata Wahab bin Munabbih seterusnya: "Idris itu kadang-kadang ber­keliling-keliling dalam syurga, dan kadang-kadang dia beribadat kepada Allah bersama-sama dengan beribu malaikat di langit." Sekian ceritera Wahab bin Munabbih.

AYAT 50-55



TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
 tafsir surah Maryam Ayat 50 - 55
 SEBAGAI MANA AYAT AYAT SEBELUM NYA ALLAH MENJELASKAN KISAH NABI NABI DAN RASUL NYA SEAWAL KISAH ZAKARIA HINGGA MUSA DAN KINI ALLAH MENYATAKAN KISAH NABI ISMAIL YANG MANA SALAH SEORANG RASUL UTUSAN ALLAH AZAWAJALLA DAN KISAH NYA SEBAGAI MANA KISAH KISAH NABI YANG LAIN DI UBAH DALAM KETERAGAN KITAB KITAB TULISAN YAHUDI DAN NASRANI DENGAN FITNAH DAN DUSTA YANG MELANDA KETURUNAN YAKKUB DAN NABI NABI SEBELUM DATANG NYA NABI MUHAMAT SAW,.., SEBAGAI MANA AYAT AYAT SEBELUM NYA DALAM SURAH MARIAM ALLAH MENYERU AKAN NABI MUHAMAT AGAR MENCERITAKAN KISAH RASUL RASUL TERDAHULU DENGAN KEBENARAN DAN NABI MUHAMAT ITU TIDAK LAH LAIN MELAIANKAN MENYAMPAIKAN KEBENARAN ,

.sebagai mana ayat ayat terdahulu dalam ayat 51 hingga 53 allah menceritakan kisah nabi musa dengan kebenaran dan tiada satu pun dapat di nyatakan melaikan hanya dengan kebenaran nabi muhamat saw,.,. firman allah sawt,.,. Ayat 51-53 Quran, Surah Maryam, Ayat 51 Wadz kur fil kita_bi musa_ in nahu_ ka_na mukhlashaw wa ka_na rasu_lan nabiy ya_Ayat 52 Wa na_daina_hu min ja_nibit thu_ril aimani wa qar rabna_hu najiy ya_Ayat 53-Wa wahabna_ lahu_ mir rahmatina_ akha_hu ha_ru_na nabiy ya_ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (51).

 وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مُوسَىٰ ۚإِنَّهُ كَانَ مُخْلَصًا وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam Al Kitab (Al Qur'an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih dan seorang rasul dan nabi. (52). وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ وَقَرَّبْنَاهُ نَجِيًّا Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia munajat (kepada Kami). (53). وَوَهَبْنَا لَهُ مِنْ رَحْمَتِنَا أَخَاهُ هَارُونَ نَبِيًّا Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya sebagian rahmat Kami, yaitu saudaranya, Harun menjadi seorang nabi. وَ اذْكُرْ فِي الْكِتابِ مُوسى‏ "Dan ingatlah di dalam Kitab darihal Musa." (pangkal ayat 51).

 Setelah selesai memperingatkan darihal Ibrahim dan perselisihan pendapatnya dengan ayahnya karena berlainan akidah, dan setelah dibayangkan pula bagaimana keyakinan seorang Rasul Allah sekali-kali tidak merobah rasa hormat dan khidmatnya kepada orang tuanya, maka sekarang Tuhan menyuruh NabiNya pula, Muhammad s.a.w. memperingati pula darihal Nabi Musa a.s. إِنَّهُ كانَ مُخْلَصاً وَ كانَ رَسُولاً نَبِيًّا "Sesungguhnya dia adalah orang pilihan dan adalah dia Rasul, lagi Nabi." (ujung ayat 51). Dia adalah orang pilihan, atau seorang yang mempunyai keistimewaan sendiri, gagah perkasa, pemimpin, menganjur yang tidak mengenal bosan dan gagah berani.

Dikatakan dia orang pilihan, karena memang istimewalah Musa itu di antara Rasul-rasul dan Nabi-nabi. Namanya tersebut di dalam al-Quran sampai lebih dari 300 kaii. Menjadi tinggilah keistimewaan itu sebab dia pun diangkat Tuhan menjadi RasulNya, menjadi utusanNya kepada Bani Israil, disertai jabatan Nabi. Menerima wahyu dari llahi. وَ نادَيْناهُ مِنْ جانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنَِ "Dan telah Kami panggil dia dari pinggir gunung sebelah kanan. " (pangkal ayat 52). Telah diceriterakan di dalam al-Quran pada Surat-surat yang lain bahwa Musa telah dipanggil menghadap Allah ke atas gunung Thursina, di lembah yang bernama Thuwa Yang Suci. Pertama tatkala dia akan pulang kembali ke negeri Mesir dari pembuangan di Madyan, kedua ketika dia telah selamat menyeberangkan Bani Israil melalui Lautan Qulzum dengan membelah laut, dari Mesir. Lalu dia dipanggil buat menyampaikan perintah Tuhan yang bernama Taurat. Dikatakan dalam ayat-ayat itu (al-Qashash; 29, Thaha 10, an-Naml 7, an-Nazi'at 16, al-A'raf 142)

dan lain-lain bahwa beliau melihat api di gunung, lalu beliau naik ke gunung itu. Sampai di sana kedengaranlah olehnya seruan Tuhan kepadanya. Di Surat al-A'raf, pada pertemuan yang kedua kali Musa memohon hendak melihat wajah Tuhan yang sebenarnya, tetapi Tuhan menyatakan kepadanya bahwa dia tidak akan dapat melihat wajah Tuhan, hanya akan melihat bukti adanya Tuhan saja, yaitu dengan hancurnya sebuah gunung. lalu Musa pingsan melihat keajaiban besar itu. Dikatakan di dalam ayat ini bahwa Musa dipanggil di pinggir gunung yang sebelah kanan. Tentu kita pun maklum bahwa gunung tidaklah mempunyai kanan dan kiri. Maka yang dimaksud dengan kanan di sini ialah yang sebelah kanan Musa. Maka dikatakanlah di ujung ayat: وَ قَرَّبْناهُ نَجِيًّا "

Dan Kami dekatkan dia untuk bercakap." (ujung ayat 52). Di dalam Surat 4 an-Nisa' ayat 164 Tuhan menjelaskan: وَ كَلَّمَ اللهُ مُوسى‏ تَكْليما "Dan Allah telah bercakap kepada Musa sebenar-benar bercakap." Maka tidaklah perlu kita bicarakan panjang lebar bagaimana beliau Nabi Musa itu bercakap dengan Allah, atau Allah bercakap dengan dia. Mempunyai huruf-hurufkah percakapan Tuhan itu dan mempunyai suara? Apakah suara dan huruf itu termasuk zat Allah atau sifatNya? Tidaklah layak kita memperkatakan hal itu. sebab akal kita tidaklah akan sampai ke sana. Sedangkan manusia dengan alat-alat moden telah dapat menyampaikan fikiran dari si anu kepada si tulan yang sangat jauh jarak tempatnya dengan tidak memakai huruf dan suara, apatah lagi Allah Yang Maha Kuasa, yang telah menjadikan Adam langsung dari tanah, dan menjadikan tubuh Hawa langsung dari tubuh Adam dan menjadikan Isa tidak dengan perantaraan bapa, dan menghilangkan kemandulan isteri Ibrahim dan isteri Zakariya. Tuhan bersabda bahwa Nabi Musa di waktu itu didekatkan oleh Tuhan kepadaNya, untuk diajak bercakap. Kita pun percaya akan sabda Tuhan itu, dengan tidak mengorek lagi bagaimana pendekatan itu. Karena memang sudah terang bahwa Nabi-nabi dan Rasul itu memangiah orang-orang yang Mushthafa; orang-orang yang terpilih di antara sekalian hamba Tuhan. وَ وَهَبْنا لَهُ مِنْ رَحْمَتِنا أَخاهُ هارُونَ نَبِيًّا َ "Dan Kami kumiakan kepadanya, dan rahmat Kami, saudaranya Harun, seorang Nabi." (ayat 53). Di dalam Surat 20 Thaha, ayat 29 sampai 32 jelaslah bahwa seketika tugas berat itu telah dipikulkan Allah kepada Musa, untuk pergi kepada Fir'aun menyampaikan da'wah llahi, Musa pun telah memohonkan agar dia diberi pembantu. Dan Musa sendiri telah menentukan yang diharapnya jadi pembantu itu, yaitu saudara kandungnya sendiri, abangnya, Harun. Yaitu untuk memperkuat kedudukannya dan supaya bertanggung-jawab. Karena meskipun Musa itu seorang yang gagah berani, ada pula kelemahannya, yaitu tidaklah dia pandai berlemah-lembut pada perkara-perkara yang memerlukan lemah lembut berhadapan dengan seorang Raja yang telah merasa dirinya besar dan agung sama dengan Tuhan. Maka dalam ayat 53 Surat Maryam ini dijelaskan Tuhanlah bahwa pengangkatan Harun menjadi Nabi di samping Musa, ialah karena memperkenankan permohonan Musa; rahmat dari Tuhan kepadanya. Sebagaimana kita terangkan di atas, kisah perjuangan Musa ini telah banyak disebut di dalam al-Quran; baik dalam surat-surat yang diturunkan di Makkah ataupun pada surat-surat yang diturunkan di Madinah. Karena memang perjuangan Nabi-nabi yang terdahulu yang banyak menyerupai perjuangan Muhammad s.a.w. ialah perjuangan Musa. Di dalam tiga ayat Surat Maryam ini

(51-52 dan 53) hanya diterangkan sedikit saja, tetapi dalam sekali apa yang dapat kita ambil dari dalamnya. Yaitu bagaimanapun gagah perkasa Musa, kuat dan teguh badannya, rohani dan jasmani, namun dia sendiri pun merasakan sendiri betapa perlunya ada seorang yang mendampinginya. Dan tabiat lemah-lembut, mengurangi tekanan kekerasan Musa hanya ada pada saudaranya Harun. Dan itu pun dapat kita rasakan seketika Musa sendiri naik darah kepada saudaranya itu. Karena sepeninggal Musa pergi menghadap liahi 40 hari di sebelah kanan gunung Thur di Wadi Thuwa itu, Bani Israil telah dapat disesatkan oleh tipuan Samiri. Harun tidak ada upaya melarang dengan kekerasan, bahkan dia nyaris dibunuh orang. Dan setelah Musa pulang ditariknya janggut Harun dan ubun-ubunnya dengan marah. Harun menyambut dengan lemah-lembutnya: قالَ يَا بْنَ أُمَّ لا تَأْخُذْ بِلِحْيَتي‏ وَلا بِرَأْسي "Hai anak ibuku, janganlah kau tarik janggutku dan kepalaku!" (Thaha: 94).

Karena sambutan Harun yang demikian jatuhlah tangan Musa, dan sebagaimana kebiasaan beliau, beliau pun segera menyesal. Namun demikian, ayat 53 tetap mengagungkan Harun: "Dia adalah Nabi." allah berfirman ; وَ اذْكُرْ فِي الْكِتابِ إِسْماعيلَ إِنَّهُ كانَ صادِقَ الْوَعْدِ وَ كانَ رَسُولاً نَبِيًّا (54) Dan ingatlah di dalam Kitab dariha1 Ismail. Sesungguhnya dia adalah benar dalam berjanji dan adalah dia Rasul, lagi Nabi. وَ كانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلاةِ وَ الزَّكاةِ وَ كانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا (55) Dan adalah dia menyuruhkan ahlinya dengan sembahyang dan berzakat. Dan adalah dia itu di sisi Tuhannya, sangat diridhai .Kisah Nabi lsmail a.s.dalam ayat 54-55 ادِقَ الْوَعْدِ وَ كانَ رَسُولاً نَبِيًّا "Dan ingatlah di dalam Kitab dari hal Ismail. " (pangkal ayat 54). Nabi Ismail adalah putera yang tertua dari Nabi Ibrahim. Ibunya Hajar, hamba sahaya yang dihadiahkan oleh Sarah isteri tertua kepada suaminya, dengan harapan karena dengan dia Ibrahim tidak juga beroleh putera. moga-moga dengan gadis muda ini, dapatlah beiiau berputera. Ibu Ismail inilah yang dipindahkan Ibrahim ke "lembah yang tidak bertumbuh-tumbuhan" itu, yang kemudian bernama Makkah, karena sejak ia mengandung berobah hati sembayan (madu)nya Sarah yang telah tua itu kepadanya, sehingga tiap hari berkelahi saja. Pada Fasal 21; ayat 21 dari Kitab Kejadian disebutlah lembah itu dengan nama Paran, atau Faran.

Itulah yang kemudian bernama Makkah. Daripada Ismail itulah turun bangsa Arab yang bernama Musta'ribah. Merekalah yang mendiami lembah itu turun-temurun dan setelah Ibrahim meninggal dunia, Ismail itulah yang ditugaskan Tuhan memimpin anak-cucu dan kaumnya yang telah berkampung sekeliling sumur Zamzam di Makkah itu. Dipujikanlah di dalam ayat ini kelebihan Ismail itu di antara Nabi-nabi: إِسْماعيلَ إِنَّهُ كانَ صادِقَ "Sesungguhnya dia adalah benar dalam berjanji," inilah perangai utama pada satu peribadi yang besar. Ibnu Juraij menafsirkan: "Tidak pernah Ismail berjanji yang tidak diteguhinya dan dipenuhinya; baik janji dengan Tuhan yang berupa nazar atau janji dengan sesama manusia." Ibn Jarir pun menyebutkan dalam tafsirnya bahwa Ismail pernah berjanji dengan seseorang akan bertemu di suatu tempat, lalu dipenuhinya janji itu. Tetapi orang itu lupa. Sehingga ditunggunya orang itu, tidak dia beranjak dari sana, sampai orang itu datang esoknya, karena waktu itu baru orang itu ingat akan janjinya. Didapatinya Ismail berdiri di sana. Lalu orang itu bertanya: "Sejak kemaren engkau menunggu aku di sini?" Beliau jawab: "Ya!" Orang itu menjawab: "Maafkan saya, saya lupa!" Ismail menjawab: "Saya bertekad tidak meninggalkan tempat ini sampai engkau datang." Lalu Tuhan bersabda lagi: وَ اذْكُرْ فِي الْكِتابِ "Dan adalah dia Rasul, lagi Nabi " (ujung ayat 54).

Orang yang tidak pernah melalaikan "janji" itulah yang diangkat Allah menjadi RasulNya dan menjadi NabiNya; suatu pengangkatan yang tepat. Selanjutnya Allah memberikan lagi pujian terhadap Ismail karena keahliannya memimpin ahlinya atau pengikutnya: وَ كانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلاةِ وَ الزَّكاةِ "Dan adalah dia menyuruhkan ahlinya dengan sembahyang dan berzakat." (pangkal ayat 55). Dapatlah difahamkan dari susunan ayat bahwasanya Ismail itu disegani dalam kalangan ahli atau pengikutnya. Karena senantiasanya teguh memenuhi janji orang mesti segan kepadanya. Kalau sudah disegani, timbullah wibawa; kalau wibawa telah tumbuh niscaya perintah atau ajakannya akan dipatuhi. Maka disuruhnyalah ahlinya itu mengerjakan sembahyang menurut syariat llahi yang ada pada masa itu. Dan disuruhnya pula ahlinya itu berzakat. Yaitu mengeluarkan sebahagian daripada hartabenda, untuk zakat, yang berarti pembersihan. Membersihkan diri dari penyakit batil, membersihkan jiwa dari kekotoran rasa benci kepada sesama manusia, terutama karena orang yang berkekurangan, dan membersihkan harta itu sendiri daripada sumber-sumber yang tidak halal. Oleh karena jasanya yang demikian besar, teguhnya memegang disiplin atas dirinya dan pandainya memimpin ahlinya sehingga patuh menuruti perintah, mendapatlah dia pujian tertinggi dari Tuhan: وَ كانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا " Dan adalah dia itu, di sisi Tuhannya, sangat diridhai." (ujung ayat 55). Artinya. bahwasanya segala amal dan usahanya, teguhnya pada janji, pandainya memimpin ahli dan pengikut, menyebabkan dia mendapat Keridhaan dari Tuhan, Rabbul 'Alamin.

 Ada lagi setengah tafsir yang indah tentang teguhnya Ismail memenuhi janji. Dan itu telah tumbuh sejak dia masih budak-budak. Ketika ayahnya menyampaikan kepadanya bahwa beliau bermimpi.menyembelih lehernya, Ismail telah berjanji: "Ayah akan dapati aku termasuk orang yang sabar." Dan janji dengan ayahnya itu dipenuhinya, dikalangkannya lehernya, bersedia disembelih seketika ayahnya telah meletakkan lehernya, ke atas batu. ( lihat Surat 37, ayat 102. Tafsir Juzu 23). Dari ayat ini pun dapat kita mengambil kesan tentang yang dimaksud dengan ahlinya. Boleh dipersempit artinya, yaitu keluarga terdekat, isteri dan anak-anak. Ismail telah dapat memerintahkan anak isterinya sembahyang dan berzakat. Para pemimpin dan Ulama yang akan mewarisi Nabi-nabi (Wartsatul Anbiya') diberi peringatan halus dengan ayat ini, yaitu sebelum memberi peringatan dan da'wah kepada orang lain, lebih utamakanlah dahulu memberi da'wah dan perintah kepada anak isteri, menyuruh sembahyang. Karena banyak muballigh dan pemegang-pemegang Da'wah memberikan peringatan kepada orang luar sedang dalam rumahtangganya sendiri tidak kelihatan pengaruh agama yang hendak ditegakkannya. Dalam ayat ini pun terdapat kelebihan yang nyata Ismail, nenek-moyang bangsa Arab. terutama nenek-moyang Nabi Muhammad daripada Ishak dan Ya'kub puteranya. Pada ayat 49 di atas tadi diterangkan bahwa Ishak dan Ya'kub itu diangkat Allah menjadi Nabi. Tetapi di ayat 55 ini dijelaskan bahwa Ismail adalah Rasul dan Nabi. Sebuah Hadis yang shahih riwayat Muslim, sabda s.a.w. berbunyi: "Sesungguhnya Allah telah memilih dan anak-anak Ibrahim itu akan anaknya yang bemama Ismail." Keterangan Hadits ini pun dapat kita fahamkan. Bukankah Ismail, anak yang tertua itu yang dipilih oleh Allah buat membantu ayahnya Ibrahim mendirikan Baitullah itu? (Surat 2, al-Baqarah, ayat 12, Tafsir Juzu' 1), dan dari salurannya pula Allah memilih untuk menurunkan RasulNya yang terakhir Muhammad s.a.w.? .

AYAT 40-50


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
 Tafsir surah Maryam Ayat 40 - 50
Dan Terjemah SEAWAL SURAH MARIAM DARI AYAT 1HINGGA AYAT 49 ALLAH MENYATAKAN BAHAWA UTUSAN NYA NABI MUHAMAT SAW, ADALAH SEBAIK BAIK UTUSAN DAN SEORANG HAMBA SEORANG YANG BERKATA KATA BENAR TIADA YANG BENAR MELAIKAN DARI NYA RASUL AKHIR ZAMAN DAN APA APA YANG DI SAMPAIKAN TENTANG KISAH KISAH RASUL DAN NABI ADALAH KISAH KEBENARAN DAN BUKAN PULA DARI KISAH KISAH FITNAH DAN KITAB KITAB INJIL TULISAN TANGGAN MANUSIA MANUSIA MUNAFIK YANG MENJADIKAN KISAH KISAH KETURUNAN IBRAHIM YUSOF ZAKARIA YAHYA ISMAIL IMRAN MARIAM MUSA DAN ISA.,.,

      sebagai mana awal ayat di bawah allah bersemu dengan ceritakan lah wahai muhamat ,, dan muhamat itu adalah sejujur jujur manusia.,. dan sebenar benar kata kata ,. tiada yang keluar dari mulut nya melaikan kebenar dari allah azawajalla .,,. sebagai mana dalam surah mariam dari awal kisah zakaria yahya,ismail lalu imran mariam dan isa lalu kisah musa dan firaund.ibrahim dan bapaknya,,. dalam beberapa surah surah mariam di turunkan ketika nabi berhijrah kemadinah,.., Surah Maryam (Arab: مريم‎, Maryam, "Maryam") adalah surah ke-19 dalam al-Qur'an.

Surah ini terdiri atas 98 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah karena hampir seluruh ayatnya diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, bahkan sebelum sahabat-sahabat dia hijrah ke negeri Habsyi. Menurut riwayat Ibnu Mas'ud, Ja'far bin Abi Thalib membacakan permulaan surah Maryam ini kepada raja Najasyi dan pengikut-pengikutnya di waktu ia ikut hijrah bersama-sama sahabat-sahabat yang lain ke negeri Habsyi. Surah ini dinamai Maryam, karena surat ini mengandung kisah Maryam (atau Maria dalam agama Kristen), ibu dari Nabi Isa AS.

Surah ini menceritakan kelahiran yang ajaib, di mana Ia melahirkan Isa AS sedang ia sebelumnya belum pernah digauli oleh seorang laki-laki. Kelahiran Isa AS tanpa ayah, merupakan suatu bukti kekuasaan Allah SWT. Pengutaraan kisah Maryam sebagai kejadian yang luar biasa dan ajaib dalam surah ini, diawali dengan kisah kejadian ajaib lainnya, yaitu dikabulkannya doa nabi Zakaria AS oleh Allah SWT, di mana ia ingin dianugerahi seorang putra sebagai pewaris dan penerus cita-cita dan kepercayaannya, sedang usianya sudah sangat tua dan istrinya adalah wanita yang mandul. sebagai mana firman allah azawajalla,..,.,

BISMILLAHIRAHMANIRAHIM,.;Ayat 40 Quran, Surah Maryam, Ayat 40 In na_ nahnu naritsul ardha wa man alaiha_ wa ilaina_ yurja'u_n Quran, Surah Maryam, Ayat 41 Wadz kur fil kita_bi ibra_him in nahu_ ka_na shid diqan nabiy ya_ Quran, Surah Maryam, Ayat 42 Idz qa_la li abihi ya_ abati lima ta'budu ma_ la_ yasma'u wa la_ yubshiru wa la_ yughni 'anka sai a_ Quran, Surah Maryam, Ayat 43 Ya_ abati in ni qad ja_ ani minal 'ilmi ma_ lam ya'tika fat tabi'ni ahdika shira_than sawiy ya_ Quran, Surah Maryam, Ayat 44 Ya_ abati la_ ta'budis saitha_n inas saitha_na ka_na lir rahma_ni ashiy ya_ Quran, Surah Maryam, Ayat 45 Ya_ abati in ni akha_fu ay yamas saka adza_bum minar rahma_ni fataku_na lis saitha_ni waliy ya_ Quran, Surah Maryam, Ayat 46 Qa_la ara_ghibun anta an a_lihati ya_ ibra_him la il lam tantahi la arjuman naka wah jurni maliy ya_ Quran, Surah Maryam, Ayat 47 Qa_la sala_mun 'alaika sa astaghfiru laka rab bi in nahu_ ka_na hafiy ya_ Quran, Surah Maryam, Ayat 48 Wa a'tazilukum wa ma_ tad'u_na min du_nil la_hi wa ad'u_ rab bi asa_ al la_ aku_na bidu'a_i rab bi syaqiy ya_ Quran, Surah Maryam, Ayat 49 Falam ma tazalahum wa ma_ ya'budu_na min du_nil la_hi wahabna_ lahu_ is ha_qa wa ya'qu_b wa kul lan ja'alna_ nabiy ya_ Quran, Surah Maryam, Ayat 50 Wa wahabna_ lahum mir rahmatina_ wa ja'alna_ lahum lisa_na shidqin 'aliy ya_ 19:51 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

  Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (41). وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ ۚإِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Qur'an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. (42). إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya: "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? (43). يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. (44). يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ ۖإِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ عَصِيًّا Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. (45). يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan". (46). قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ ۖلَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ ۖوَاهْجُرْنِي مَلِيًّا Berkata bapaknya: "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama". (47). قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ ۖسَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي ۖإِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا Berkata Ibrahim: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (48). وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَىٰ أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا Dan aku akan menjauhkan diri daripadamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdo`a kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo`a kepada Tuhanku". (49). فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۖوَكُلًّا جَعَلْنَا نَبِيًّا Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq, dan Ya`qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi. (50). وَوَهَبْنَا لَهُمْ مِنْ رَحْمَتِنَا وَجَعَلْنَا لَهُمْ لِسَانَ صِدْقٍ عَلِيًّا Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi.

Dan jelaskan riwayat Ibrahim dalam Al-Kitab, sungguh ia adalah seorang yang benar, seorang Nabi; tatkala ia berkata kepada bapaknya; "Wahai bapakku, mengapakah kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, serta tidak melihat maupun tidak berjasa sedikitpun untuk dirimu? Wahai bapakku, sungguh telah tersampaikan kepada diriku sebagian Ilmu yang tidak hadir kepada dirimu, oleh sebab itu, ikutilah aku niscaya aku akan membimbing dirimu menuju Jalan Lurus; Wahai bapakku, jangan menyembah setan sebab setan itu memberontak terhadap Yang Maha Pengasih; Wahai bapakku, aku sungguh khawatir apabila kamu ditimpa malapetaka dari Yang Maha Pengasih akibat kamu berkawan dengan setan" sang bapak mengatakan: "Bencikah kamu terhadap sembahan-sembahanku, wahai Ibrahim? jika kamu tidak menghentikan hal itu tentulah aku akan merajam dirimu, maka menjauhlah terhadap diriku selama mungkin" ia berkata: "kesejahteraan untuk dirimu, aku akan memohon pengampunan untuk dirimu kepada Tuhanku; sungguh Dia sangat mempedulikan diriku, serta aku akan menjauhkan diri terhadap diri kalian maupun hal-hal yang kalian seru selain Allah, sungguh aku akan berdoa kepada Tuhanku; kiranya aku takkan menyesal untuk berdoa kepada Tuhanku" tatkala Ibrahim telah menjauhkan diri terhadap kaum itu serta hal-hal yang kaum itu sembah selain Allah, maka Kami anugerahkan Ishaq juga Ya’qub untuk ia; bahwa masing-masing Kami jadikan seorang nabi, serta Kami anugerahi sebagian Kasih Kami untuk mereka, serta Kami jadikan mereka sebagai buah tutur yang disegani, dipermuliakan. (Ayat:41-50) Allah berfirman kepada Nabi-Nya, Muhammad: “Ceritakanlah didalam al-Qur’an tentang kisah Ibrahim dan bacakanlah kepada kaummu para penyembah berhala itu serta ceritakanlah kepada mereka tentang keadaan Ibrahim Khalilur-rahman yang merupakan nenek moyang mereka, dan mereka sendiri mengaku penganut agamanya. Sesungguhnya dia adalah seorang Nabi yang jujur, bagaimana beliau melarang ayahnya menyembah berhala-berhala.” Dia berfirman: yaa abati lima ta’budu maa laa yasma’u wa laa yubshiru wa laa yughni ‘anka syai-an (“Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?”) yaitu tidak memberi manfaat padamu dan tidak mampu menolak bahaya darimu. Yaa abati innii qad jaa-anii qad jaa-anii minal ‘ilmi maa lam ya’tika (“Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu penjetahuan yang tidak datang kepadamu.”) Dia berkata: “Jika aku merupakan keturunanmu dan engkau lihat aku lebih kecil darimu, karena aku adalah anakmu, maka ketahuilah sesungguhnya aku mendapatkan sebagian ilmu dari Allah sesuatu yang belum engkau ketahui dan belum datang kepadamu, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus,” yaitu jalan lurus yang dapat mengantarkanmu meraih sesuatu yang dicari dan selamat dari sesuatu yang ditakuti. Yaa abati laa ta’budisy syaithaan (“Wahai ayahku janganlah engkau menyembah syaitan,”) yaitu janganlah engkau mentaatinya dalam beribadah kepada berhala-berhala itu. Firman-Nya: innasy syaithaana kaana lir rahmaani ‘asyiyyan (“Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Yang Mahapemurah,”) yaitu mefanggar lagi sombong dengan tidak mentaati Rabbnya, sehingga ia diusir dan dijauhkan. Maka, janganlah engkau mengikutinya yang nantinya engkau akan menjadi lama dengannya. Yaa abati innii akhaafu ay yamassaka ‘adzaabum mir rahmaani (“Wahai ayahku, sesungguhnya aku kbawatir bahwa engkau akan ditimpa adzab dari Yang Mahapemurah,”) yaitu atas kesyirikan dan pelanggaran-pelanggaranmu kepada perintah yang diberikan untukmu, yaitu tidak ada lagi pemelihara, penolong dan pembantu bagimu kecuali iblis, padahal tidak ada urusan sedikit pun kepadanya atau kepada yang lainnya, keikutsertaanmu kepadanyalah yang mengantarkanmu memperoleh adzab. (Bapaknya berkata, "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim?) maka sebab itu kamu mencelanya. (Jika kamu tidak berhenti) mencaci makinya (maka niscaya kamu akan kurajam) dengan batu, atau dengan perkataan yang jelek, maka hati-hatilah kamu terhadapku (dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama)" yakni dalam masa yang lama. Nabi Ibrahim â��alaihis salam menjawab dengan jawaban â��ibadurrahman (hamba-hamba Ar Rahman) terhadap ucapan orang-orang yang bodoh, dan tidak membalas, bahkan bersabar serta tidak menyikapi ayahnya dengan sikap yang buruk. Bisa juga diartikan, â��Keselamatan atasmuâ�� yakni engkau akan serlamat dari perkataan dan sikap yang menyakitkan dariku. Maka Nabi Ibrahim melakukan janjinya itu dengan memintakan ampunan untuk ayahnya. Hal ini sebelum jelas baginya, bahwa ayahnya adalah musuh Allah. Setelah jelas bahwa ayahnya adalah musuh Allah, maka beliau tidak memintakan ampunan untuknya serta berlepas diri darinya Sangat sayang dan perhatian kepadaku. Ketika Nabi Ibrahim melihat bahwa kaumnya dan ayahnya tidak dapat lagi diharapkan keimanannya. Bisa juga diartikan, â��dan aku hanya beribadah kepada Tuhanku (saja).â�� Sebagaimana kalian kecewa ketika berdoa kepada patung-patung. Allah berfirman, ketika Ibrahim menjauhkan diri dari bapak dan kaumnya karena Allah, maka Dia menggantikannya dengan orang yang lebih baik dari mereka, yaitu dengan menganugerahkan Ishaq dan Ya’qub, puteranya dan putera Ishaq. Sebagaimana Allah berfirman: wa miw waraa-i ishaaqa ya’quub (“Dan dari Ishaq [akan lahir puteranya] Ya’qub.”) Tidak ada perbedaan bahwa Ishaq adalah ayah Ya’qub, dan itulah nash al-Qur’an di dalam surat al-Baqarah. Untuk itu, di dalam ayat ini disebutkan Ishaq dan Ya’qub, artinya Kami jadikan untuknya keturunan dan anak cucunya sebagai Nabi yang namanya ditetapkan Allah dalam hidupnya. Untuk itu Dia berfirman: wa kullan ja’alnaa nabiyyan (“Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi Nabi.”) Seandainya Ya’qub as belum diangkat menjadi Nabi di masa hidup Ibrahim, mengapa hanya namanya yang disebut dan tidak menyebut Yusuf, karena dia pun seorang Nabi. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda di dalam hadits yang disepakati keshahihannya ketika beliau ditanya tentang sebaik-baik manusia. Beliau bersabda: “Yusuf Nabi Allah bin Ya’qub Nabi Allah bin Ishaq Nabi Allah bin Ibrahim Khalilullah.” Firman-Nya: wa waHabnaa laHum mir rahmatinaa wa ja’alnaa laHum lisaana shidqin ‘aliyyan (“Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi.”) `Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu `Abbas: “Yaitu pujian yang baik.” Demikian perkataan as-Suddi dan Malik bin Anas. Ibnu Jarir berkata: “Dia berfirman, ‘Lagi tinggi,’ karena seluruh millah dan agama memuji dan mengagungkan mereka.” Semoga shalawat dan salam untuk mereka semua.

AYAT 39

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
Maryam Ayat 39: 19:39
19:39
      Transliteration BISSMILLAHIRAHMANIRAHIM.,Waanthirhum yawma alhasrati ithqudiya al-amru wahum fee ghaflatin wahum layu/minoon
    Dan berilah amaran (wahai Muhammad) kepada umat manusia seluruhnya tentang hari penyesalan iaitu hari diselesaikan perbicaraan perkara masing-masing pada masa mereka (yang ingkar) di dunia ini berada dalam kelalaian serta mereka pula tidak mahu beriman. Dan berilah amaran (wahai Muhammad) kepada umat manusia seluruhnya tentang hari penyesalan; Hari Penyesalan itu adalah hari Mahsyar yang akan penuh dengan penyesalan pada hari itu. Segala keputusan akan dibuat pada hari itu. Iaitu keputusan balasan amalan manusia dan jin di dunia. Samada akan mendapat balasan baik atau balasan buruk. Ianya hari yang amat ditakuti.

 Ayat ini dalam bentuk perintah. Perintahnya adalah: memberi amaran kepada manusia. Maka, kalau dah arahan, maka kita kena ikut. Maka kita pun kenalah berdakwah kepada manusia. Itu adalah perintah Allah. Yang pertama diberi perintah itu adalah Nabi. Dan sekarang kita yang membaca ayat ini pula yang diarahkan oleh Allah untuk memberi peringatan. Kita selalu cerita tentang masalah masyarakat, mereka begitu, begini. Kita komplen mereka tidak beradab, mereka sudah tinggalkan agama, mereka sudah tidak baca Quran, tidak solat dan sebagainya. Tapi apa yang kita buat? Adakah kita dakwah kepada mereka? Atau adakah kita pandai komplen sahaja? Kita hendaklah memberi peringatan kepada orang lain tentang bahaya yang mereka akan terima kalau mereka tidak memperbaiki hidup mereka kalau mereka telah tersasar dari landasan agama. Ianya seperti kita nampak seseorang yang sedang berjalan dan akan masuk gaung. Dia sendiri tidak sedar bahawa dia sedang menuju gaung. Maka, tentulah kita tegur dan beri amaran kepada dia kerana kita tak mahu dia masuk gaung. Kerana ianya memang sesuatu yang pasti terjadi. Dan kita beri teguran itu kerana kita sayang kepada orang itu. Maka, bukanlah maksud beri peringatan itu hanya untuk menakutkan-nakutkan dia sahaja dengan neraka dan azab. Kita bukan nak merendahkan orang lain dengan dakwah kita. Bukan kita nak kata kita pandai. Bukan kita nak kata kita telah pasti akan masuk syurga. Tapi kita hendak sama-sama memberi peringatan. Kita juga tidak boleh paksa orang beriman. Kita boleh beri amaran sahaja. Perkataan الْحَسْرَةِ bererti penyesalan yang teruk sangat sampai rasa lagi elok kalau kita tak pernah wujud. Waktu itu ramai yang akan berharap semoga mereka tidak dijadikan sebagai manusia, tapi sebagai tanah sahaja. Kita ingatkan manusia supaya mereka ingat tentang hari penyesalan ini. Supaya mereka tak menyesal nanti. Orang yang berdosa akan rasa menyesal atas perbuatan mereka. Menyesal sesangat.

Dalam riwayat, mereka sampai gigit dan mamah lengan mereka. Bukan gigit jari atau tangan sahaja, tapi dengan lengan sekali. Bukan gigit sahaja, tapi dah mamah dah! Ma sha Allah! Bayangkan, kalau kita terseksa di dunia, kita boleh mengharap ianya akan berakhir. Paling kurang, ianya akan berakhir apabila kita mati. Tapi, kalau di akhirat nanti, tidak ada kematian dah. Apa yang kita terima itu tidak ada penghujungnya. Tidak dapat dibayangkan penyesalan yang akan kita tanggung. Orang yang beriman pun akan menyesal juga. Bagaimana pula orang beriman boleh menyesal juga? Mereka akan menyesal kerana mereka tidak melakukan lebih banyak ibadat. Mereka akan fikir: kenapakah aku dulu masa di dunia tak buat ibadat sepanjang waktu, setiap saat? Kerana mereka tahu mereka akan dapat lebih banyak kebaikan. Tingkatan syurga mereka akan lebih tinggi lagi. Tidak dapat dibayangkan apakah nikmat yang akan mereka dapati. Dari hadis, kita dapat tahu bahawa manusia terakhir yang masuk syurga akan diberikan sepuluh kali ganda kerajaan kalau dibandingkan dengan dunia ini. Itulah manusia yang masuk neraka dahulu, kemudian selepas sekian lama di neraka, akan dimasukkan ke dalam syurga kerana dia tidak buat syirik. Serendah-rendah martabat dia pun akan dapat sepuluh kali ganda dari kerajaan dunia. Maka bayangkan kalau manusia yang lebih baik dari beliau. Lagi banyak amal, lagi tinggi tingkatan mereka akan dapat. Sebab itulah hari itu dinamakan يَوْمَ الْحَسْرَةِ Hari Penyesalan. Penyesalan yang tidak terhingga. Yang celaka akan menyesal dan yang beruntung pun akan menyesal juga.

AYAT 37-38


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
Tafsir surah mariam ayat 37-38
          Bismillahir-rahman-nir-rahim Quran, Surah Maryam, Ayat 37 Fakh talafal ahza_bu mim bainihim fawailul lil lazina kafaru_ mim mashadi yaumin 'azhim Quran, Surah Maryam, Ayat 38 Asmi'bihim wa abshir yauma ya'tu_nana_ la_kiniz zha_limu_nal yauma fi dhala_lim mubin Quran, Surah Maryam, Ayat 39 Wa andzirhum yaumal hasrati idz qudhiyal amr wa hum fi ghaflatiw wahum la_ yu'minu_n Quran, Surah Maryam, Ayat 40 In na_ nahnu naritsul ardha wa man alaiha_ wa ilaina_ yurja'u_n

Dari ayat 37-40 allah menjelaskan bahwasanya pada hari mereka datang menghadap ke hadapan Mahkamah Agung ilahi itu pen­dengaran mereka menjadi sangat nyaring dan penglihatan mereka menjadi sangatlah terang: sehingga bunyi detik sedikit halus pun kedengaran dan barang yang kecil tersembunyi pun nampak dengan jelas. Sebagaimana ter­sebut juga pada ayat 22 dari Surat 50, Qaaf. bahwasanya meskipun di kala hidup di dunia semua dipandang enteng dan diremehkan belaka, dipandang perkara kecil, namun kelak akan datang masanya di hadapan Mahkamah Ilahi, segala penghalang penglihatan itu akan dibukakan oleh Tuhan, sehingga peng­lihatan mata itu jadi sangat tajam.

Maka kelihatanlah segala kesalahan masa lampau sampai kepada yang sekecil kecilnya. Artinya bahwa berfikir menjadi sihat! Yang salah, terang salah! Yang benar, terang benar. Tetapi apalah hendak dikata, keadaan tidak dapat dibalikkan ke belakang lagi.Lalu Rasulullah mem­baca ayat 39 ini: "Dan ancamkanlah kepada mereka hari penyesalan itu, ketika telah diputuskan perkara, karena mereka lalai dan mereka tidak beriman!" Lalu Rasulullah memberi isyarat dengan tangannya menyambung bicaranya: "Ahli dunia telah dilalaikan oleh dunianya."

Tersebutlah pula dalam suatu tafsiran dari Ibnu Abbas yang selalu diulang-­ulangkan kepada kami seketika mentafsirkan ayat ini, oleh guru kami Syaikh Abdulkarim Amrullah bahwa di hari penyesalan itu bukan saja orang yang ber­buat kebajikan yang merasa menyesal. Bahkan orang yang berbuat baik pun merasa menyesal, melihat betapa besar ganjaran dan pahala yang diberikan Tuhan! Dia menyesali diri mengapa hanya sekian saja yang dikerjakannya, padahal kalau dia mau, dia sedianya sanggup berbuat baik lebih banyak dari itu. Kemudian, sebagai penutup dari bahagian ini, bersabdalah Allah:

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

 Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

 فَاخْتَلَفَ الْأَحْزابُ مِنْ بَيْنِهِمْ فَوَيْلٌ لِلَّذينَ كَفَرُوا مِنْ مَشْهَدِ يَوْمٍ عَظيمٍ َ ( 37)
Maka berselisihlah golongan-golongan itu diantara mereka , maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang kafir dari persaksian hari yang hebat itu kelak .
 أَسْمِعْ بِهِمْ وَ أَبْصِرْ يَوْمَ يَأْتُونَنا لكِنِ الظَّالِمُونَ الْيَوْمَ في‏ ضَلالٍ مُبينٍ (38)
Alangkah terang mereka men­dengar dan melihat, pada hari mereka akan datang kepada Kami itu. Namun orang orang yang aniaya pada hari sekarang pun, di dalam kesesatan yang nyata (39)
. وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الْأَمْرُ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ وَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman. (40).
 إِنَّا نَحْنُ نَرِثُ الْأَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَإِلَيْنَا يُرْجَعُونَ
Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan. Menurut suatu riwayat dari Abdullah bin Mas'ud, sebenarnya bagi setiap orang yang mendurhakai Allah dan kufur itu, sudah disediakan rumah buat mereka dalam syurga. Tetapi karena kedurhakaan kepada Tuhan, rumah itu tak sempat mereka diami, karena mereka dimasukkan ke dalam neraka. Alangkah menyesal! Maka se­telah perkara diputuskan bahwa orang itu akan dimasukkan ke dalam neraka, bahwasanya rumah telah disediakan buat dia di syurga itu diterangkan juga kepadanya. Apa sebabnya jadi demikian? Ujung ayat mengatakan:

Di dalam ash-Shahihain pula, bahwa Rasulullah bersabda: “Tidak ada yang lebih sabar dalam mendengar keburukan daripada Allah. Karena, mereka menjadikan anak untuk-Nya, akan tetapi Dia tetap memberi rizki dan mensejahterakan mereka.” “Sesungguhnya Allah menangguhkan (adzab) kepada orang yang zhalim, hingga apabila Dia menindaknya/mengadzabnya, maka Dia tidak akan melepaskannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kemudian Rasulullah membaca: ‘Rabbmu, apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.’” (QS. Huud : 102) Allah berfirman: wa ka-ayyim min qoryatin amlaitu laHaa wa Hiya dhaalimatun tsumma akhadztuHaa wa ilayyal mashiir (“Dan berapalah banyaknya kota yang Aku tangguhkan [adzab-Ku] kepadanya, yang penduduknya berbuat dhalim, kemudian Aku adzab mereka, dan hanya kepada-Kulah kembalinya [segala sesuatu].” (QS. Al-Hajj: 48).

Untuk itu, di dalam ayat ini Allah berfirman: fa wailul lilladziina kafaruu mim masy-Hadi yaumin ‘adhiim (“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar.”) yaitu hari Kiamat. Tercantum dalam hadits shahih yang telah disepakati keshahihannya dari `Ubadah bin ash-Shamit, ia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang haq) kecuali Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, `Isa adalah hamba dan Rasul-Nya, kalimat-Nya yang diletakkannya kepada Maryam dan ruh dari-Nya.

Surga itu haq dan neraka itu haq, niscaya Allah akan memasukkannya kedalam surga sesuai dengan amalnya.” dalam ayat ini allah azawajallamenceritakan tentang berbagailah perselisihan ahlul-kitab tentang kelahiran Nabi Isa itu, sejak dahulu sampai sekarang. Sampai sebagai telah kita sebutkan di atas tadi Raja negero Romawi, Kaisar Costantin mengumpulkan pendeta-pendeta yang disuruh musyawarat bersama-sama, yang banyaknya sampai 2170. Macam-­macamlah pendapat yang keluar; segolongan berkata bahwa di antara Allah dengan Almasih seibarat persatuan api dengan besi seketika sudah sangat panas. Sebahagian berkata bahwa di antara Allah bersatu dengan Almasih laksana lautan dengan ombak, 100 berkata lain, 70 berkata lain pula. 50 ber­beda pula dengan yang 100 dan dengan yang 70, dan yang 160 lain pula. Akhirnya terdapatlah yang sefaham hanya 300 orang, ditambah dengan 8 orang yang mula-mulanya ragu-ragu . Dan Kaisar Costantin mendengarkan mereka itu berbincang dengan sangat hati-hati. Sedang baginda adalah se­orang raja yang masih melekat dalam dirinya faham agama orang Romawi Kuno, dan banyak terpengaruh oleh filsafat. Lalu akhirnya mengambil pen­dirian yang condong kepada yang 300 itu, yaitu bahwa "Tuhan" itu terdiri dari tiga oknum; "Allah Bapa, Allah Putera (itulah Isa Almasih) dan Allah Ruhul-Qudus", yang kadang-kadang merupakan dirinya sebagai burung merpati.

 Tiga oknum itu, meskipun tiga hendakiah dipercayai bahwa dia itu sebenarnya adalah satu jua. Ujung ayat ini membayangkan bahwa akan datanglah sesuatu zaman, bahwa kebenaran dari pokok kepercayaan ini akan diuji oleh pergantian masa. Kian lama kian naiklah kecerdasan manusia , maka kian lama kian hilanglah pamor dari kepercayaan yang tidak masuk akal itu. Sehingga banyaklah orang yang melawan dan menantangnya. Banyaklah orang yang membelakangi agama, karena menyangka bahwa ajaran agama tidak lain daripada ajaran yang bodoh tak masuk akal. Lebih-lebih dalam abad keduapuluh ini, sehingga di Eropa dan Amerika sendiri kian mundurlah perhatian orang kepada agama seperti itu, bahkan orang lebih suka hidup dalam kesesatan karena muak dan bosan. Maka kelihatanlah peradaban dunia sekarang ini telah terlepas sama­sekali kendalinya dari tangan agama yang selama ini disangka jadi anutan dari bangsa-bangsa itu, padahal telah lama mereka belakangi. Dan di akhirat kelak akan diperhitungkanlah ajaran yang samasekali bukan berasal dari Allah dan bukan dari ajaran Isa Almasih itu di hadapan Tuhan, sebagaimana tersebut di akhir Surat 5, al-Maidah, ayat 116 sampai 120. (Tafsir Juzu' 7). Maka tersebutlah dalam sebuah Hadis yang Shahih, diterima riwayatnya daripada Sahabat Rasulullah s.a.w. yang bernama `Ubbadah bin Shamit, di­sampaikan oleh Bukhari dan Muslim (Muttafaq `alaihi) demikian bunyinya: "Barangsiapa yang naik saksi bahwa "Tidak ada suatu Tuhan pun melain­kan Allah, yang berdiri sendinNya dan tidak ada sekutu bagiNya, dan bahwa Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. dan bahwa Isa adalah hamba Allah dan utusanNya dan kalimatNya yang didatangkanNya kepada Maryarn, dan Roh daripadaNya, dan bahwa syurga itu adalah benar dan neraka pun adalah benar" akan dimasukkan dia oleh Allah ke syurga dengan amal yang ada padanya. Berkata Ibnu Abi Hatim, bahwa Hadbah bin Khalid al-Qisi, menyebutkan, bahwa dia menerima berita dari Hazm bin Abu Hazm al-Qath'i. Dia ini berkata: "Berkirim suratlah Umar bin Abdul Aziz kepada Abdulhamid bin Abdurrahman, Walinya di negeri Kaufah, demikian di antara isinya; "Amma Ba'du. Sesungguhnya Allah telah menuliskan untuk seluruh makhlukNya ini seketika mereka Dia ciptakan, bahwa mereka mesti mati. Maka Dia pun menjadikan akhir perjalanan hidup mereka ialah penuju Dia. Dan Dia bersabda di dalam kitabNya Yang Benar, yang dipeliharaNya dalam ilmuNya dan disaksikan oleh malaikat-malaikatNya: "Sesungguhnya Kamilah yang mewarisi bumi dan siapa pun yang ada di dalamnya, dan kepada Kamilah mereka akan dikembalikan ."

AYAT 35-37


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARRUK
 TAFSIR SURAH MARIAM AYAT 35-37
                Dari ayat 35hingga ayat 37 allah menceritakan tentang sifat manusia manusia kafir munafik di zaman kelahiran isa putra mariam ,.,. seluruhan kisah mariam yang terdapat dalam injil perjanjian baru dan lama mengutuk dan memfitnah mariam dan isa putranya,.,. dan dalam ayat ini lah allah menjelaskan pada hamba hamba nya yang inggin menhgetahui kisah kisah mariam yang benar dari seorang rasul utusan nya dan seorang nabi akhir zaman,.,. seorang insan yang mana digelar hamba yang lurus benar betul dan benar ,.., Yaitu di antara perintah yang dianjurkan oleh Isa kepada kaumnya saat ia masih dalam ayunan ialah memberitahukan kepada mereka bahwa Allah adalah Tuhannya dan Tuhan mereka. Lalu Isa memerintahkan kepada mereka untuk menyembah Allah yang esa.,,.

Ahli Kitab berselisih pendapat tentang eksistensi Isa, padahal perkaranya sudah jelas dan gamblang, bahwa dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya yang diciptakan melalui perintah-Nya yang ditujukan kepada Maryam, dan diciptakan melalui roh ciptaan-Nya. Sebagian dari mereka yang terdiri atas orang-orang Yahudi telah sepakat mengatakannya sebagai anak zina; semoga laknat Allah menimpa mereka. Mereka mengatakan pula bahwa perkataan Isa yang masih ada dalam usia ayunan itu adalah sihir. Segolongan lainnya dari kalangan mereka mengatakan, sesungguhnya yang berbicara itu adalah Tuhan.

Segolongan lainnya lagi mengatakan bahwa Isa adalah anak Allah. Golongan lainnya lagi mengatakan, Isa adalah salah satu dari ketiga Tuhan. Dan golongan yang lainnya mengatakan bahwa Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Pendapat yang terakhir ini adalah pendapat yang benar sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman. Kisah yang semisal telah diriwayatkan melalui Amr ibnu Maimun, Ibnu Juraij, dan Qatadah serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang, baik dari kalangan ulama Salaf maupun dari kalangan ujama Khalaf.Seagaimana allah berfirman ; Q

uran, Surah Maryam, Ayat 36 36=Wa in nal la_ha rab bi wa rab bukum fa'budu_h ha_dza_ shira_thum mustaqim 37=Fakh talafal ahza_bu mim bainihim fawailul lil lazina kafaru_ mim mashadi yaumin 'azhim Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabbmu, maka sembahlah Dia olehmu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus. (QS. 19:36)
Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar. (QS. 19:37)” (Maryam: 36-37) Allah berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad saw. bahwa kisah yang telah Kami paparkan kepadamu tentang berita `Isa as.: qulal haqqil ladzii fiiHi yamtaruun (“Yang mengucapkan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya,”) yaitu orang-orang yang membatalkan dan orang-orang yang membenarkan saling berbantah-bantahan di antara orang yang beriman dan orang yang kufur kepada Nabi `Isa. Untuk itu, kebanyakan ahli qira-at membaca (qaulal haqqi) dengan merafa’kan (mendhammahkan) (qaulul haqqi). ‘Ashim dan’Abdullah bin ‘Amr membaca (qulal haqqi) dan dari Ibnu Masud, bahwa beliau membaca (dzaalika ‘iisabnu maryama qulal haqqi) Sedangkan bacaan rafa’ lebih jelas i’rabnya. Hal itu didukung oleh firman Allah: al haqqu mir rabbika falaa takuunanna minal mumtariin (“Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.”) (QS. Al-Baqarah: 147) Ketika Allah telah menceritakan, bahwasanya Dia menciptakan `Isa sebagai hamba dan Nabi-Nya, maka Dia pun mensucikan diri-Nya. Dia berfirman: maa kaana lillaaHi ay yattakhidza miw wadain subhaanaHu ( “Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Mahasuci Dia,”) yaitu sifat-sifat yang dilontarkan oleh orang-orang yang jahil, zhalim dan melampaui batas (Mahatingi Allah) dengan setinggi-tinggi dan seagung-agung-Nya. Firman-Nya: wa innallaaHa rabbii wa rabbukum fa’buduuHu Haadzaa shiraatum mustaqiim

 (“Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabbmu, maka sembahlah Dia olehmu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus,”) yaitu di antara perkara yang diperintahkan `Isa kepada kaumnya di saat ia berada dalam ayunan adalah mengabarkan bahwa Allah adalah Rabbnya dan Rabb mereka serta memerintahkan mereka untuk beribadah kepada-Nya. Allah berfirman: fa’buduuHu Haadzaa shiraatum mustaqiim (“sembahlah Dia olehmu sekalian, ini adalah jalan yang lurus,”) yaitu apa yang aku bawa dari Allah kepada kalian ini adalah jalan yang lurus yakni tegak lurus. Barangsiapa yang mengikutinya, niscaya ia mendapatkan bimbingan dan petunjuk serta barangsiapa yang menyelisihinya, niscaya ia akan tersesat dan celaka. Firman Allah: fakhtalfal ahzaabu mim bainiHim (“Maka berselisihlah golongan-golongan yang ada di antara mereka,”) yaitu pendapat Ahlul Kitab tentang `Isa berbeda-beda, setelah jelas perkaranya dan tegas posisinya bahwa dia adalah hamba dan utusan Allah, kalimat-Nya yang diletakkan-Nya kepada Maryam dan ruh dari-Nya. `Abdurrazzaq berkata, Ma’mar bercerita kepada kami dari Qatadah tentang firman-Nya: dzaalika ‘iisaabnu maryama qaulal haqqil ladzii fiiHi yamtaruun (“Itulah Isa putera Maryam, yang mengucapkan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.”) Ia berkata: “Dahulu Bani Israil telah sepakat, lalu mereka berpecah menjadi empat golongan yang masing-masing mengeluarkan orang yang paling berilmu di antara mereka untuk mengemukakan pendapat tentang `Isa pada waktu `Isa diangkat.

Sebagian berkata: “Dia adalah Allah yang turun ke muka bumi. Dia hidupkan orang yang hidup dan ia matikan orang yang mati, kemudian Dia naik ke atas langit. Mereka itulah kelompok Ya’qubiyyah.” Ketiga golongan yang lain berkata: “Engkau dusta.” Lalu berkata dua kelompok lain kepada kelompok ketiga: “Apa pendapatmu tentang `Isa?” Ia menjawab: “Dia anak Allah,” itulah kelompok Nasthuriyyah. Kedua kelompok lagi berkata: “Engkau dusta.” Lalu salah satu dari dua kelompok yang lain berkata kepada yang lainnya: “Bagaimana pendapatmu?” Dia menjawab: “Dia adalah tiga dalam satu (trinitas). Allah itu Ilah, `Isa adalah ilah dan ibunya juga ilah.” Mereka itu adalah para Israiliyyat, raja-raja kaum Nasrani, semoga laknat Allah atas mereka. Sedangkan kelompok keempat berkata: “Engkau dusta. Dia adalah hamba Allah, Rasul-Nya, ruh-Nya dan kalimat-Nya. Mereka itulah orang-orang muslim. Maka, setiap tokoh tersebut memiliki pengikut masing-masing, sehingga mereka saling memerangi dan berusaha menindas kaum muslimin. Itulah firman Allah: “Dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil.” (QS. Ali `Imran: 21) Firman-Nya: fa wailul lilladziina kafaruu mim masy-Hadi yaumin ‘adhiim (“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar.”) Ini merupakan hukuman dan ancaman yang keras bagi orang yang berdusta atas (nama) Allah serta menuduh bahwa Allah memiliki anak.

Akan tetapi, Allah menunda (hukuman) bagi mereka hingga hari Kiamat dan menunggu ajal mereka, karena kelembutan dan keteguhan pada kekuasaan-Nya atas mereka. Untuk itu, Dia tidak menyegerakan hukuman bagi orang yang bermaksiat kepada-Nya. Sebagaimana tercantum dalam ash-Shahihain: “Sesungguhnya Allah menangguhkan (adzab) kepada orang yang zhalim, hingga apabila Dia menindaknya/mengadzabnya, maka Dia tidak akan melepaskannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kemudian Rasulullah membaca: ‘Rabbmu, apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.’” (QS. Huud : 102) Di dalam ash-Shahihain pula, bahwa Rasulullah bersabda: “Tidak ada yang lebih sabar dalam mendengar keburukan daripada Allah. Karena, mereka menjadikan anak untuk-Nya, akan tetapi Dia tetap memberi rizki dan mensejahterakan mereka.” Allah berfirman: wa ka-ayyim min qoryatin amlaitu laHaa wa Hiya dhaalimatun tsumma akhadztuHaa wa ilayyal mashiir (“Dan berapalah banyaknya kota yang Aku tangguhkan [adzab-Ku] kepadanya, yang penduduknya berbuat dhalim, kemudian Aku adzab mereka, dan hanya kepada-Kulah kembalinya [segala sesuatu].” (QS. Al-Hajj: 48). Untuk itu, di dalam ayat ini Allah berfirman: fa wailul lilladziina kafaruu mim masy-Hadi yaumin ‘adhiim (“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar.”) yaitu hari Kiamat. Tercantum dalam hadits shahih yang telah disepakati keshahihannya dari `Ubadah bin ash-Shamit, ia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang haq) kecuali Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, `Isa adalah hamba dan Rasul-Nya, kalimat-Nya yang diletakkannya kepada Maryam dan ruh dari-Nya. Surga itu haq dan neraka itu haq, niscaya Allah akan memasukkannya kedalam surga sesuai dengan amalnya.”

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN