Sabtu, 16 Jun 2018

AYAT 15-21

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
Tafsir Suroh Maryam ayat 15 - 21,

           Dalam ayat 15-21 allah azawajalla menjelaskan bahawa kisah seorang wanita yang suci dari keturunan bani yakkub ,wamnita berkulit putih yang taad akan perintah allah seusia nya dari awal 7tahun senantiasa duduk dalam biara bersendirian dan tak pernah berbuat maksiat melaikan kepada allah azawajalla,.,. suatu malam allah mengutuskan seorang lelaki sempurna tiba dalam mihrab mariam dalam keadaan tergamam lalu mariam di kabarkan bahawa allah mengutuskan lelaki itu bernama jibrail untuk menyatakan bahawa ia akan mengandung seorang anak lelaki bernama isa ,. dari ayat ini jua allah menyatakan bahawa allah azawajalla maha mengatur tiap kehidupan insan ,.sebagai mana nabi zakaria ,yahya dan ismail yang mana saudara kepada imran ayah kepada mariam datok kepada nabi isa,.,. allah inggin menerangkan kepada mahluk nya yang taad akan kekuasaan nya terhadap takdir tiap hamba nya,.,.

            Kelahiran Maryam disebutkan dalam Al-Qur'an dalam banyak surat. Ayahnya 'Imran (Arab: يواكيم‎;Imran) dan ibunya (آن;Hannah) juga disebutkan dalam Al-Qur'an. Qur'an menceritakan bahwa 'Imran dan Hannah yang sudah tua tidak memiliki anak selama bertahun-tahun. Suatu hari Hannah melihat burung makan bersama anak-anaknya. Melihat ini membuat Hannah ingin anak untuk dirinya sendiri. Dia berdoa kepada Allah agar dikaruniai anak. Dia berjanji bahwa jika doanya terkabul , kehidupan anaknya akan diabdikan untuk mengabdi Allah. Hannah juga berdoa untuk anaknya untuk dilindungi dari "sentuhan" dari Setan (إبليس;Iblis) .

       Surah Maryam, Ayat 16 ,BIsmillahir-rahman-nirrahim Wadz kur fil kita_bi maryam idzin tabadzat min ahliha_ maka_nan syarqiy ya_Ayat 17-Fat takhadzat min du_nihim hija_ba_ fa arsalna_ ilaiha_ ru_hana_fatamats sala laha_ basyaran sawiy ya_ Ayat 18-Qa_lat in ni a'u_dzu bir rahma_ni minka in kunta taqiy ya_Ayat 19-Qa_la in nama_ ana rasu_lu rab bik li ahaba laki ghula_man zakiy ya_Ayat 20-Qa_lat an na_ yaku_nu li ghula_muw wa lam yamsasni basyaruw wa lam aku baghiy ya_Ayat 21-Qa_la kadza_lik qa_la rab buki huwa alay ya hay yin wa linaj'alahu_ a_ya_tal lin na_si wa rahmatam min na_ wa ka_na amram maqdhiy ya_

 وَ اذْكُرْ فِي الْكِتابِ مَرْيَمَ إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِها مَكاناً شَرْقِيًّا
 َ فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجاباً فَأَرْسَلْنا إِلَيْها رُوحَنا فَتَمَثَّلَ لَها بَشَراً سَوِيًّا َ قالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمٰنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا َ قالَ إِنَّما أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلاماً زَكِيًّا قالَتْ أَنَّى يَكُونُ لي‏ غُلامٌ وَلَمْ يَمْسَسْني‏ بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا َ قالَ كَذلِكِ قالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَ لِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ وَ رَحْمَةً مِنَّا وَ كانَ أَمْراً مَقْضِيًّا َ (16)

    Dan ingatlah (yang tersebut) di dalam Kitab, dari hal Maryam. Ketika dia menjauhkan diri dari keluarganya ke sebuah tempat disebelah Timur. (17) Maka dia adakan tabir yang akan melindunginya dari mereka, lalu Kami utuslah kepdanya Roh Kami, maka menjelmalah dia menyerupai manusia yang sebenamya.(18) Berkatalah dia: Sesungguhnya berlindunglah aku kepada Tuhan Yang Maha Kasih dari pada engkau, jika adalah engkau seorang yang bertakwa. (19) Dia pun menjawab: Saya ini tidak lain adalah Utusan dari Tuhan engkau, karena akan aku anugerahkan kepada engkau seorang anak laki-laki yang suci. ’ (20) Dia berkata: Betapa akan ada bagiku seorang anak laki·laki, padahal tidaklah pernah tersentuh diriku 0Ieh seorang laki-Iaki pun dan aku pun bukanlah seorang perempuan jahat.(21) Menjawab dia; Memang demikianlah. Tuhan teIah menyabdakan: Yang begitu bagiKu adalah hal yang mudah, dan akan Kami jadikan dianya suatu ayat untuk manusia dan suatu rahmat, dan dianya adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.

      Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan kisah Zakaria dan Yahya, di mana kisah itu termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah yang menakjubkan, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala melanjutkan dengan kisah yang lebih menakjubkan lagi dengan bertahap dari yang ringan lalu naik ke atasnya lagi.Hal ini termasuk dalil tentang keutamaan Maryam, karena nama dan kisahnya disebutkan dalam Al Qur’an yang dibaca oleh kaum muslimin di berbagai penjuru dunia, di sana disebutkan pujian untuknya, balasan terhadap amalnya yang utama dan sempurna.Dia ber’uzlah (mengasingkan diri) dari manusia dan menyendiri untuk beribadah kepada Allah.Yakni jika engkau takut kepada Allah, maka janganlah mendatangiku. Maryam menggabung antara berpegang teguh kepada Tuhannya dengan menakut-nakutinya serta menyuruhnya untuk bertakwa. Ketika itu kondisinya sepi, jauh dari manusia, sedangkan malaikat yang datang kepadanya menampakkan diri dalam bentuk manusia yang sempurna lagi indah. Pendorong untuk berbuat maksiat sangat banyak, akan tetapi Maryam menolaknya, ia berlindung kepada Allah dan menakut-nakuti orang yang mendekatinya. Hal ini menunjukkan ‘iffah (bersihnya) Maryam, jauhnya dari keburukan dan sebab-sebabnya. Sikap ‘iffah ini dengan adanya pendorong dan tidak adanya penghalang termasuk amalan yang sangat utama. Oleh karena itu, Allah memuji Maryam karena ‘iffahnya, Dia berfirman, “Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan Dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan Dia termasuk orang-orang yang taat.” (Terj. At Tahrim: 12). Oleh karena ‘iffahnya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menggantikannya dengan menganugerahkan seorang anak yang termasuk tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah dan menjadi salah seorang rasul-Nya.Yakni tugasku hanyalah menyampaikan risalah Tuhanku kepadamu.Yakni suci dari sifat-sifat tercela dan memiliki sifat-sifat terpuji.Maryam merasa heran karena akan melahirkan anak tanpa bapak.Dengan menikahiku.Yakni diciptakan-Nya seorang anak dari kamu tanpa seorang bapak.Yang menunjukkan sempurnanya kekuasaan Allah, dan bahwa semua sebab tidaklah berpengaruh dengan sendirinya, bahkan berpengaruh dengan taqdir Allah Subhaanahu wa Ta'aala.Baik kepadanya, kepada ibunya maupun kepada manusia. Rahmat Allah kepadanya adalah dengan menjadikannya salah seorang rasul di antara rasul-rasul Allah, di mana ia akan mengajak manusia menyembah Allah dan mengesakan-Nya. Lebih dari itu, Beliau (Nabi Isa ‘alaihis salam) termasuk salah seorang rasul ulul ‘azmi. Adapun rahmat-Nya kepada ibunya adalah karena ia mendapatkan kebanggaan, pujian yang baik dan manfaat yang besar. Sedangkan rahmat-Nya kepada manusia dan menjadi nikmat terbesar bagi mereka adalah dengan mengutusnya kepada manusia, membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, membersihkan mereka, mengajarkan mereka kitab dan hikmah, di mana jika mereka mengikutinya, maka mereka akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.Adanya ‘Isa ‘alaihis salam dengan cara seperti itu. مَرْيَمَ “Dari hal Maryam. " Wahyu dari hal Maryam ini telah disampaikan kepada Nabi Muhammad saw, dan disuruhlah pula Nabi Muhammad saw. menceriterakannya dan memperingatkannya kepada kita ummatnya. Yaitu: إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِها مَكاناً شَرْقِيًّا “Ketika dia menjauhkan diri dari keluarganya ke sebuah tempat di sebelah Timur. " (ujung ayat 16). Maryam anak perempuan dari Imran, sejak kecilnya dalam asuhan dari Nabi yang telah tua, yaitu Nabi Zakariya yang menjadi Imam dan pemelihara Baitul Maqdis. Menurut suatu riwayat, Zakariya itu adalah Suami dari kakaknya. Satu riwayat Iagi menyatakan bahwa Zakariya suami dari saudara ibunya.Maryam kecil itu ditumpangkan ibunya di dalam Baitul Maqdis dalam asuhan Zakariya, sebab memenuhi nazar dari ibunya sendiri. Maka 0Ieh karena ibunya seorang perempuan yang shalih dan Zakariya pendidiknya pun seorang Nabi yang utama, masuklah ke dalam diri anak perempuan itu didikan keagamaan yang mendalam. Imran ayahnya adalah keturunan pula daripada Nabi Daud ‘alaihis-salam. Sebab itu bolehlah dikatakan bahwasanya keluarga ini seluruhnya adalah rumahtangga beragama. Keluarga Zakariya dengan puteranya Yahya, keluarga Imran dengan isterinya dan puterinya Maryam terkenal sebagai keluarga beragama yang taat. Di dalam Surat 21 kelak, aI-Anbiya’, dari ayat 89 sampai ayat 91 sama disebutlah pujian yang besar dari Tuhan atas kedua keluarga ini, Disebutkanlah bahwa 0rang-0rang itu semuanya adalah keluarga-keluarga yang cepat mengambil tindakan jika akan berbuat baik. Maka tersebutlah dalam ayat ini bahwa dalam rangka ketaatannya kepada Tuhan Maryam pergi ke sebelah Timur Baitul Maqdis, mencari tempat menyisihkan diri dari keluarga supaya lebih tenang beribadat kepada Tuhan, sehingga dipasangnya tabir jangan sampai diganggu orang, sedang dia di waktu itu masih dara. Menurut riwayat dari Ibnu Jarir yang diterima dari Ibnu Abbas tempat di sebelah Timur itu ialah suatu kampung yang bernama Baitlaham (Bethlehem). Menurut keterangan riwayat Nauf al-Bikali; dia pergi ke sebelah Timur itu mengambil tempat buat beribadat. فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجاباًَ "Maka diadakan tabir yang akan melindunginya dari mereka." (pangkal ayat 17). Maksudnya supaya dia jangan terganggu di dalam melakukan ibadatnya kepada Allah. Mungkin itu pulalah salah satu tela- dan yang menyebabkan timbul dalam kalangan pencinta Nabi Isa di kemudian harinya perempuan-perempuan yang mening galkan hidup repot dalam dunia ini lalu menyisihkan diri ke dalam biara. Tekunlah Maryam di tempat itu, dipasangnya tabir atau dilindungkannya diri di tempat yang tersembunyi supaya jangan terganggu beribadat. فَأَرْسَلْنا إِلَيْها رُوحَنا "Lalu Kami utuslah kepadanya Roh Kami. " Yang dimaksud dengan Roh Kami, ialah Jibril. Di dalam beberapa ayat di dalam al-Qur'an telah disebutkan panggilan Jibril itu sebagai Roh; kadangkalanya disebut Roh saja, kadang kalanya disebut Ruhul-Qudus, atau Ruhul-Amin dan dalam ayat ini Ruuhana; Roh Kami. فَتَمَثَّلَ لَها بَشَراً سَوِيًّا "Maka rnenjelmalah dia menyerupai manusia yang sebenamya." (ujung ayat 17). Malaikat Jibril itu dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala dapatlah merupakan dirinya sebagai manusia biasa. Di satu waktu pernah dia merupakan dirinya sehingga disangka orang dia itu seorang sahabat Nabi s.a.w. yang bernama Dihyah al-Kalbi. Datangnya kepada Maryam sekarang ini pun menyerupai seorang laki-laki muda. Melihat seorang laki-laki muda berdiri di hadapannya, padahal dia telah sengaja menjauhkan diri dan berkurung di balik tabir , terkejutlah Maryam, lalu: قالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمٰنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا َ "Berkata dia: "Sesungguhnya berlindunglah aku kepada Tuhan Yang Maha Kasih daripada engkau, jika adalah engkau seorang yang bertakwa." (ayat 18). Maryam berkata demikian menunjukkan bahwa tidaklah timbul syak wasangkanya bahwa orang muda itu jahat! Sebab pa- da wajahnya dan tingkah lakunya ketika masuk tidaklah terbayang tanda-tanda bahwa dia orang jahat. Mungkin dia me - nyangka bahwa orang muda itu tersesat tidak tahu jalan. Sebab itu dikeluarkannyalah perkataan yang penuh dengan rasa kepercayaan akan pelindungan Tuhan Yang Maha Kasih (Ar-Rahman). Dan orang muda itu niscaya akan merasakan bagaimana permohonan perempuan itu kepada Allah, kalau memang dia pun seorang yang bertakwa. Menurut tafsiran dari al-Bikali: "Tertekurlah kepala Jibril mendengar seruan Maryam di waktu itu." قالَ "Dia pun menjawab. " Yaitu malaikat yang merupakan dirinya sebagai anak muda itu. إِنَّما أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ "Saya ini tidak lain adalah utusan dari Tuhan engkau," maka janganlah engkau ragu-ragu kepadaku, dan tidaklah pada tempatnya engkau takut kepadaku. Utusan Tuhan tidaklah akan berbuat yang tidak senonoh kepada engkau. Aku diutus Tuhan ialah: لِأَهَبَ لَكِ غُلاماً زَكِيًّا "Karena akan aku anugerahkan kepada engkau seorang anak laki-laki yang suci." (ayat 19). Maksud kedatangannya telah diterangkannya sendiri. Atas suruhan Allah menyampaikan anugerah dari Tuhan, dia sendiri yang membawanya, yaitu seorang anak laki-laki. Tercenganglah Maryam mendengarkan perkataan Malaikat itu. Maryam percaya apa yang dia katakan, yaitu bahwa dia adalah utusan Allah. Sebab itu tidaklah dia akan berdusta. Apatah lagi Maryam sendiri sebagai telah kita ketahui riwayat hidupnya sejak dari kecilnya, adalah seorang anak perempuan yang sangat shalih. Dan jika utusan Allah itu mengatakan pula bahwa dia akan menyampaikan anugerah Tuhan, yaitu anak laki-laki, Maryam pun percaya. Tetapi dia tidak mengerti bagaimana dia seorang anak perawan akan diberi anak: قالَتْ أَنَّى يَكُونُ لي‏ غُلامٌ وَلَمْ يَمْسَسْني‏ بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا َ Dia berkata: "Betapa akan ada bagiku seorang anak laki-laki, padahal tidaklah pernah tersentuh dinku oleh seorang laki-laki pun dan aku pun bukanlah seorang perempuan jahat." (ayat 20). Bagaimana jalannya akan beranak. Bersentuh dengan laki-laki belum pernah diriku sekali jua; artinya aku belum kawin dan aku masih perawan. Dan aku pun bukan seorang perempuan jahat yang melacurkan diri. قالَ كَذلِكِ َ "Menjawab dia: "Memang demikianlah!" (pangkal ayat 21). Artinya, memang demikianlah yang telah ditentukan oleh Tuhan. Yaitu bahwa engkau akan diberi anugerah putera oleh Allah dalam keadaanmu yang begini, belum disentuh laki-laki, masih perawan dan bukan karena engkau perempuan lacur. قالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ "Tuhan telah menyabdakan: "Yang begitu bagiKu adalah hal yang mudah." Sedangkan menjadikan seluruh isi Alam ini, baik di langit ataupun di bumi, daripada tidak ada lalu diadakan, mudah saja bagi Allah. Sedangkan Matahari yang selalu menerangi bumi ini, telah berjuta-juta tahun masih menyala dan belum padam-padam apinya, padahal besarnya berjuta kali besarnya bumi, sampai sekarang, sampai kelak masih bernyala; semuanya itu mudah saja bagi Allah, apatah kalau hanya akan menciptakan seorang anak laki-laki dilahirkan oleh seorang anak perawan yang masih suci. وَ لِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ "Dan akan Kami jadikan dianya suatu ayat untuk manusia," yaitu supaya manusia itu sadar akan Kemahakuasaan Allah atas makhluknya, kekuasaan yang mutlak. Memang, kelahiran manusia yang biasa ini ialah melalui peraturan tertentu, yaitu bila telah bertemu mani seorang laki-taki dengan mani seorang perempuan, bercampur menggeliga di dalam rahim perempuan. Namun Tuhan hendak menunjukkan pula tanda bahwa Dia itu ada! Dia berkuasa mencipta kan manusia di dalam rahim seorang anak dara, yaitu Maryam dengan cara yang lain وَ رَحْمَةً مِنَّا "dan suatu rahmat." Lahirnya seorang anak laki-laki suci dari anak perawan suci Maryam itu kelak, bukanlah semata-mata tanda atau ayat guna menunjukkan Kemaha-kuasaan Allah, bahkan juga Rahmat. Sebab lahirnya itu kelak ialah membawa tugas, menjadi Rasul Allah: وَ كانَ أَمْراً مَقْضِيًّا "Dan dianya adalah suatu perkara yang sudah diputuskan." (ujung ayat 21). Artinya, bahwasanya yang demikian itu sudah pasti terjadi, karena sudah menjadi keputusan Tuhan, telah tertulis di dalam rencana Allah.

AYAT 14


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
 Surah Maryam, Ayat 14

           BAISMILLAHIR-RAHMAN-NIR-RAHIM; Wa bar ran biwa_lidaihi wa lam yakun jab bara_n ashiy ya_

 وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا

           dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka. Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Yahya ibnu Sa'id, dari Sa'id ibnul Musayyab, bahwa telah menceritakan kepadanya Ibnul As, yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Nabi Saw. bersabda: Setiap anak Adam datang pada hari kiamat nanti dalam keadaan mempunyai dosa selain Yahya ibnu Zakaria. Ibnu Ishaq berpredikat mudallis, hadis ini telah diriwayatkannya secara mu'an'an olehnya; hanya Allah yang mengetahui kebenarannya.

       قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ، أَخْبَرَنَا عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ يُوسُفَ بْنِ مِهْران، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "مَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ وَلَدِ آدَمَ إِلَّا وَقَدْ أَخْطَأَ، أَوْ همَّ بِخَطِيئَةٍ، لَيْسَ يَحْيَى بْنَ زَكَرِيَّا، وَمَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَقُولَ: أَنَا خَيْرٌ مِنْ يُونُسَ بْنِ مَتَّى"

          Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Zaid, dari Yusuf ibnu Mahran, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Tidak ada seorang pun dari anak Adam melainkan pernah berbuat dosa atau berniat melakukan suatu dosa, selain Yahya ibnu Zakaria. Dan tidaklah layak bagi seseorang mengatakan bahwa diriku lebih baik daripada Yunus ibnu Mata. Hadis ini pun daif pula karena Ali ibnu Zaid ibnu Jad'an terkenal mem­punyai banyak hadis mungkar, hanya Allah yang mengetahui kebenarannya.

              Sa'id ibnu Abu Arubah telah meriwayatkan dari Qatadah, bahwa Al-Hasan pernah mengatakan, "Sesungguhnya Yahya dan Isa bersua, lalu Isa berkata kepadanya, 'Mohonkanlah ampunan bagiku, karena engkau lebih baik daripada aku.' Yahya berkata kepada Isa,' Engkaulah yang lebih baik daripada aku.' Isa berkata kepadanya, 'Engkaulah yang lebih baik daripada aku, karena aku mengucapkan selamat kepada diriku sendiri, sedangkan kamu yang mengucapkan kepadamu adalah Allah'." Maka dikatakanlah bahwa Allah memuliakan keduanya. Dan Allah menjadikannya seorang yang selalu berbakti dan berbuat baik kepada kedua orangtuanya serta tidak menjadikannya orang yang sombong kepada manusia dan berbuat maksiat kepada Allah.Dari Abu Hurairah r.a. bahawa Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Apabila seorang anak Adam mati putuslah amalnya kecuali tiga perkara : sedekah jariah,atau ilmu yang memberi manfaat kepada orang lain atau anak yang soleh yang berdoa untuknya." (Hadith Sahih - Riwayat Muslim dan lain-lainnya) Allah Swt. menyebutkan tentang ketaatan Yahya kepada Tuhannya, dan bahkan Allah menciptakannya dengan menganugerahinya rasa kasih sayang, kesucian dari dosa dan bertakwa. Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan bahwa selain itu Yahya adalah seorang yang taat dan berbakti kepada kedua orang tuanya serta menjauhi hal-hal yang menyakitkan kedua orang tuanya, baik secara ucapan maupun perbuatan; perintah dan larangan kedua orang tuanya selalu ditaati. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya: {وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا} dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka. (Maryam: 14) Setelah menyebutkan semua sifatnya yang terpuji, maka Allah membalasnya dengan balasan Beliau berbuat baik kepada keduanya baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan. Baik sombong dari beribadah kepada Allah maupun sombong terhadap manusia, bahkan Beliau seorang yang tawadhuâ��.

AYAT 12-13


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
 SURAH MARIAM AYAT 12-13

*يَا يَحْيَىٰ خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ ۖ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا وَحَنَانًا مِنْ لَدُنَّا وَزَكَاةً ۖ وَكَانَ تَقِيًّا*

      Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak,dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dan dosa). Dan ia adalah seorang yang bertakwa, Ayat ini ditujukkan kepada Yahya setelah Beliau lahir dan semakin besar, yaitu pada saat Beliau sudah dapat memahami pembicaraan, maka Allah memerintahkan Yahya untuk mempelajari kitab Taurat dengan sungguh-sungguh, baik dengan menghapalnya, memahami maknanya, mengamalkan perintah dan menjauhi larangannya.                        Yakni pelajarilah Taurat itu, amalkan isinya, dan sampaikan kepada umatmu. Maksudnya kenabian atau pemahaman terhadap Taurat dan pendalaman agama. Menurut sebagian ahli tafsir, bahwa ketika itu usia Yahya 3 tahun. Hal ini menunjukkan tidak adanya sifat-sifat tercela dalam dirinya dan akhlak yang buruk. Ada pula yang menafsirkan, dengan suka bersedekah kepada orang lain. Sufyan bin `Uyainah berkata: “Alangkah mencekamnya (keadaan) seseorang yang berada di tiga kondisi tersebut; pada saat ia dilahirkan, ia melihat dirinya keluar dari tempat yang selama ini di alaminya, pada saat ia mati ia akan melihat suatu keadaan yang belum pernah dialaminya, dan di saat ia dibangkitkan ia melihat dirinya berada di padang Mahsyar yang besar (luas)”.

Dia (Sufyan) pun berkata: “Allah telah menghormati Yahya bin Zakariya pada saat itu, lalu mengistimewakannya dengan salam sejahtera untuknya. Maka Dia berfirman: wa salaamun ‘alaiHi yauma wulida wa yauma yamuutu wa yauma yubhatsu hayyan (“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meninggal serta pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.”) (HR. Ibnu Jarir) Ayat ini jua mengandung kalimat yang dibuang, kalimat tersebut adalah bahwa anak laki-laki yang dijanjikan itu adalah Yahya as. Allah telah mengajarkan padanya al-Kitab, yaitu Taurat yang dahulu mereka pelajari serta dijadikan hukum oleh para Nabi yang patuh dari orang-orang Yahudi, para rahib dan pendeta. Di saat itu umurnya masih kecil. Untuk itu Allah memanggilnya dengan menyebutkan namanya serta nikmat yang diberikan kepada dirinya dan kedua orang tuanya. sebagai mana ayat (Qs. Al-Ahqaaf : 15)Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku.

Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’

Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548) Allah berfirman: yaa yahyaa khudzil kitaaba biquwwati (“Hai Yahya, ambillah al-Kitab [Taurat] itu dengan sungguh-sungguh,” yaitu pelajarilah Kitab itu dengan kuat, yaitu dengan sungguh-sungguh, penuh antusias dan semaksimal mungkin. Wa aatainaaHul hukma shabiyyan (“Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak,”) yaitu pemahaman, ilmu, kesungguhan, tekad, senang dan gemar kebaikan serta amat bersungguh-sungguh di dalamnya, padahal ia masih kanak-kanak. `Abdullah bin al-Mubarak berkata bahwa Ma’mar berkata: “Beberapa anak kecil berkata kepada Yahya bin Zakariya: ‘Pergilah main bersama kami.’ Yahya menjawab: ‘Kami diciptakan bukan untuk main.’” Untuk itu Allah menurunkan: Wa aatainaaHul hukma shabiyyan (“Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak,”) Dan firman Allah: wa hanaanam mil ladunnaa (“Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami,”) yaitu rasa kasih sayang dari sisi Kami. Demikian perkataan `Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu `Abbas. Demikian pula pendapat `Ikrimah, Qatadah dan adh-Dhahhak.

AYAT 10-11


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
 SURAH MARIAM AYAT 10-11
         BISMILLAHIRRAHMANNIRRAHIM;;;;;;;;;;;;;
 Quran, Surah Maryam, Ayat 10 -Qa_la rab bij'al li a_yah qa_la a_yatuka al la_ tukal liman na_sa tsala_tsa laya_lin sawiy ya_ Surah Maryam, Ayat 11Fakhraja 'ala_ qaumihi minal mihra_bi fa auha_ ilaihim an sab bihu_ bukrataw wa asyiy ya_

 قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِي آيَةً ۚ قَالَ آيَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَ لَيَالٍ سَوِيًّا فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ فَأَوْحَىٰ إِلَيْهِمْ أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِيًّا

Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda". Tuhan berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat".Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang. dari ayat ini allah azawajalla memerintahkan zakaria berpuasa ,dan zakaria memerintah kaum nya agar bertadbih sepanjang masa zakaria berpuasa ,. bagi memenuhi hajat zakaria yang di impikan dalam masa 90tahun,.,.

Akhirnya doanya terkabul. Di usianya yang ke-90, ia dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Yahya.. Zakaria berkata, "Ya Rabbku! Berilah aku suatu tanda)" pertanda yang menunjukkan istriku mulai mengandung (Allah berfirman, "Tanda bagimu) yang menunjukkan hal itu (adalah bahwa kamu tidak boleh bercakap-cakap dengan manusia) mencegah dirimu untuk tidak berbicara dengan mereka selain dari berzikir kepada Allah (selama tiga malam) yakni tiga hari tiga malam (padahal kamu sehat)" lafal Sawiyyan berkedudukan menjadi Hal dari Fa'il lafal Takallama, maksudnya ia tidak berbicara dengan mereka tanpa sebab.

(Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya) yakni dari mesjid, sedang orang-orang menunggu pintu mesjid itu dibuka, karena mereka hendak melakukan salat di dalamnya, sesuai dengan kebiasaan mereka menurut perintah Zakaria (lalu ia memberi isyarat) (kepada mereka; hendaklah kalian bertasbih) maksudnya melakukan salat (di waktu pagi dan petang) yakni pada permulaan siang hari dan akhirnya, sebagaimana biasa. Setelah Nabi Zakaria mencegah dirinya untuk bercakap-cakap dengan mereka, pada saat itu diketahui bahwa istrinya mengandung Yahya. Selang dua tahun kemudian setelah Yahya lahir, Allah berfirman kepadanya. Yakni yang menunjukkan kehamilan istriku. Perkataan ini adalah agar hati Beliau tenang (mantap), bukan karena ragu-ragu terhadap berita Allah. Hal ini seperti perkataan Nabi Ibrahim �alaihis salam, �Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati." Allah berfirman, "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab, "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).� (lihat Al Baqarah: 261).

 Beliau meminta kepada Allah agar ditambah lagi ilmunya dan disampaikan kepada â��ainul yaqin (penglihatan yang yakin) setelah â��ilmul yaqin (pengetahuan yang yakin), maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengabulkan permohonannya sebagai rahmat untuknya. Selain dzikrullah. Yakni tiga hari tiga malam. Hal ini termasuk ayat-ayat Allah yang menakjubkan, karena tidak mampunya Beliau berbicara dengan manusia selama tiga hari bukan karena bisu atau penyakit, termasuk dalil yang menunjukkan kekuasaan Allah yang menyelisihi kebiasaan. Meskipun Beliau terhalang dari berbicara dengan manusia, namun dzikrullah tidaklah tertahan. Oleh karena itu, di ayat lain Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, â��Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari".(Terj. Ali Imran: 41), hati Beliau pun tenang dan merasa gembira dengan kabar tersebut, Beliau mengikuti perintah Allah untuk bersyukur, yaitu dengan beribadah dan menyebut nama-Nya, maka Beliau berdiam di mihrabnya dan keluar kepada kaumnya dengan berisyarat agar mereka bertasbih di pagi dan petang.

Ibnu `Abbas, Mujahid, `Ikrimah, Wahb, as-Suddi, Qatadah dan lain-lain berkata: “Lisannya terikat (kaku), tanpa sakit dan tanpa adanya penyakit.” Ibnu Zaid bin Aslam berkata: “Beliau membaca dan bertasbih, tidak mampu berbicara kepada kaumnya kecuali isyarat saja.” Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali `Imran: “Zakariya berkata: `Berilah aku suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung).’ Allah berfirman: `Tanda bagimu, kamu tidak bisa Berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Rabbmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.’” (QS. Ali `Imran: 41) Illaa ramzan (“Kecuali ramza,”) yaitu isyarat. Untuk itu Dia berfirman dalam ayat yang mulia ini: fakharaja ‘alaa qaumiHii minal mihraabi (“Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya,”) yaitu dari mihrab tempat beliau mendapatkan kabar gembira akan mendapatkan seorang anak; fa auhaa ilaiHim (“Lalu ia memberi isyarat kepada mereka,”) yaitu memberikan isyarat tersembunyi lagi cepat; an tasbihuu bukrataw wa asyiyyan (“Hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang,”) artinya sesuai perintah yang diberikan kepadanya pada tiga hari tersebut sebagai tambahan amalnya dalam rangka syukur kepada Allah, atas segala pemberian-Nya. Mujahid berkata: fa auhaa ilaiHim (“Lalu ia mewahyukan kepada mereka,”) artinya mengisyaratkan. Itulah pendapat Wahb dan Qatadah. Dalam riwayat lain, Mujahid berkata: fa auhaa ilaiHim (“Lalu ia mewahyukan kepada mereka,”) artinya ia mewajibkan (menetapkan) untuk mereka di muka bumi. Demikian pendapat as-Suddi.

AYAT 7-9


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
 SURAH MARIAM AYAT 7-8-9
          Bismillahir-rahman-nir-rahim,.,.,.,.,.,..,., Ya_ zakariy ya_ in na_ nubas siruka bighula_minis muhu_ yahya_ lam naj'al lahu_ min qablu samiy ya_ Ayat 8 Qa_la rab bi an na_ yaku_nu li ghula_muw wa ka_natim ra ati 'a_qiraw wa qad balaghtu minal kibari 'itiy ya_Ayat 9 Qa_la kadza_lik qa_la rab buka huwa 'alay ya hay yinuw wa qad khalaqtuka min qablu wa lam taku sai a_

 يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَىٰ لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا قَالَ كَذَٰلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا

        Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia. (QS. Maryam: 7)“Zakariya berkata: ‘Ya Rabbku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua.’ (QS. 8) Dia berfirman: ‘Demikianlah.’ Rabbmu berfirman: ‘Hal itu adalah mudah bagi-Ku, dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali.’” (QS. 9) (mariam: 8-9) .(Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan beroleh seorang anak) yang akan menjadi waris, sebagaimana yang kamu minta (yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami tidak pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia) dalam hal namanya, yakni seseorang yang diberi nama Yahya.Zakaria berkata, "Ya Rabbku! Bagaimana) mana mungkin (akan ada anak bagiku, padahal istriku adalah seorang yang mandul dan aku sendiri sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua)"

 lafal 'itiyyan berasal dari lafal 'Ataa artinya Yabisa atau kering, maksudnya ia telah mencapai umur seratus dua puluh tahun, dan istrinya telah mencapai umur sembilan puluh delapan tahun. Kata 'Itiyyun pada asalnya adalah 'Ituwwun. Kemudian huruf Ta dikasrahkan untuk meringankan pengucapannya lalu jadilah 'Itiwwun. Selanjutnya huruf Wawu yang pertama diganti menjadi huruf Ya demi penyesuaian dengan harakat Kasrah sebelumnya, dan huruf Wawu yang kedua diganti pula dengan huruf Ya supaya huruf Ya yang pertama dapat diidgamkan atau dimasukkan kepadanya, sehingga jadilah 'Itiyyun.

(Allah berfirman) perkaranya memang ("Demikianlah.") cara menciptakan seorang anak lelaki dari kamu berdua (Rabbmu berfirman, "Hal itu adalah mudah bagi-Ku) yaitu dengan memberikan kekuatan bersetubuh kepadamu, kemudian menjadikan rahim istrimu dapat menerima spermamu (dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu belum ada sama sekali)" di waktu kamu belum diciptakan. Untuk menampilkan kekuasaan Allah yang mampu menciptakan hal yang besar ini, maka Dia memberikan ilham suatu pertanyaan, supaya pertanyaan itu kelak dijawab dengan hal yang membuktikan kekuasaan-Nya yang maha besar itu.

Tatkala Zakaria merasa rindu akan kedatangan berita gembira kelahiran seorang putra itu. Pembicaraan ini mengandung kalimat yang dibuang. Yaitu bahwa Allah swt memperkenankan permintaannya dalam do’a dengan firman-Nya: yaa zakariyyaa innaa nubasy-syiruka bighulaaminis muHuu yahyaa (“Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan [beroleh] seorang anak yang namanya Yahya.”) Dan firman-Nya: lam naj’allaHuu min qablu samiyyan (“Yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.”) Qatadah,

Ibnu Juraij dan Ibnu Zaid berkata: “Yaitu tidak ada seorang pun sebelumnya yang bernama dengan nama ini.” Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir. lam naj’allaHuu min qablu samiyyan (“Yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.”) ini diambil dari firman-Nya: Hal ta’lamu laHuu samiyyan (“Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia?”) (Maryam: 65) Betapa takjubnya Zakariya as. di saat permintaannya dikabulkan dan saat mendapatkan kabar gembira akan lahirnya seorang anak.

Dia amat suka cita dan mempertanyakan bagaimana caranya ia akan memperoleh anak, padahal sang istri merupakan wanita mandul yang tidak dapat melahirkan anak, sejak kecil hingga tua. Sedangkan ia sendiri sudah tua, lemah tulang-tulangnya dan kurus, tidak tersisa lagi air cinta dan keinginan jima’nya. Orang Arab berkata: “Jika kayu telah kering.” Mujahid berkata: “‘atiyyan: adalah kerapuhan tulang.” Sedangkan Ibnu `Abbas dan ulama yang lain berkata: “’atiyyan: yaitu tua.” Makna yang jelas adalah bahwa ‘atiyyan lebih daripada tua. Qaala (“Berkata,”) artinya, Malaikat menjawab ketakjuban Zakariya. Kadzaalika qaala rabbuka Huwa ‘alayya Hayyinun (“Demikianlah Rabbmu berfirman, Hal itu adalah mudah bagi-Ku”) yaitu mengadakan anak darimu dan isterimu itu, bukan dari orang lain itu adalah “Hayyinun” (“Mudah,”) artinya mudah sekali bagi Allah. Kemudian Allah menyebutkan sesuatu yang lebih menakjubkan dari permintaan Zakariya itu dengan firman-Nya: Wa qad khalaqtuka min qablu wa lam taku syaian (“Dan sesungguhnya Aku telah ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu [di waktu itu] belum ada sama sekali.”)

AYAT 5-6


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
SURAH MARIAM AYAT5-6
     Bismillah-hirrahman-nir-rahim,..,..,.,
Ayat 5;Wa in ni khiftul mawa_liya miw wara_i wa ka_natim ra ati 'a_qiran fahab li mil ladunka waliy ya ;Ayat 6 Yaritsuni wayaritsu min a_li ya'ku_b waj'alhu rab bi radhiy ya_

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (٥) يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا (٦) يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا 5.

dan Sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, 6. yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan Jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diridhai”. (Maryam: 5-6) Yang dimaksud adalah mengabarkan tentang kelemahan, ketuaan serta tanda-tanda dhahir dan bathinnya.[6] Yang dimaksud oleh Zakaria dengan mawali adalah orang yang akan mengendalikan dan melanjutkan urusan yang terkait dengan agama sepeninggalnya dan yang memimpin Bani Israil serta yang mengajak mereka kepada Allah.

Zakaria khawatir kalau orang-orang yang menggantikannya adalah orang-orang tidak dapat melaksanakan urusan itu dengan baik, karena tidak seorang pun di antara mereka yang dapat dipercaya, oleh sebab itu Beliau meminta dianugerahi seorang anak. Nampaknya, Beliau tidak melihat adanya orang yang layak memegang posisi imaamah fid din (pemimpin dalam agama). Hal ini menunjukkan perhatian Beliau kepada kaumnya, dan lagi permintaan Beliau agar dianugerahi anak tidak seperti permintaan orang lain, bahkan untuk maslahat agama dan agar agama ini tidak hilang. Beliau melihat bahwa selain Beliau tidak cocok terhadap imamah fid din, dan ketika itu hanya rumah Beliau yang paling terkenal tentang kebaikan agamanya, oleh karenanya Beliau meminta kepada Allah agar dianugerahkan seorang anak yang akan menegakkan agama-Nya setelah Beliau wafat.[7] Berupa ilmu, amal dan kenabian.[8] Di sisi-Mu.Nabi Zakaria Alaihissalam adalah pemimpin Bani Israil. Ia berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar diberi seorang anak. Akhirnya doanya terkabul. Di usianya yang ke-90, ia dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Yahya.

Firman-Nya: wa innii khiftul mawaaliya miw waraa-ii (“Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalanku.”) kebanyakan ulama membacanya dengan nashab [fathah] ya’ pada kalimat almawaaliya yang menjadi maf’ul. Sedangkan riwayat al-Kisa-i adalah mensukunkan huruf ya’. Mujahid, Qatadah, dan as-Suddi berkata: “Yang dimaksud almawali adalah pewaris ‘ashabah.” Sedangkan Abu shalih berkata: “Yaitu pewaris Kalalah. Menurut qiraat pertama, kekhawatiran beliau adalah [jikalau] mereka melakukan tindakan buruk kepada manusia sepeninggalannya. Maka ia meminta anak kepada Allah untuk menjadi Nabi sepeninggalannya agar ia dapat mendidik dan memimpin mereka dengan kenabiannya sesuai dengan wahyu yang diberikan. Lalu permintaannya itu dikabulkan. Dia sama sekali tidak merasa khawatir tentang harta yang dimilikinya bagi para ahli warisnya. Karena, posisi kenabian lebih tinggi kedudukannya dan lebih mulia ukurannya dibandingkan keinginannya pada harta. Di dalam ash-Shahihain tercantum dari berbagai jalan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Kami [para Nabi] harta kami tidak diwariskan.

Apa yang kami tinggalkan menjadi shadaqah.” Di dalam satu riwayat at-Tirmidzi dengan isnad yang shahih: “Sesungguhnya kami para Nabi, harta kami tidak diwariskan.” Atas dasar ini, firman-Nya: faHablii mil ladunka waliyyan. Yaritsunii (“maka anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang putera yang akan mewarisiku.”) ditujukan kepada warisan kenabian. Untuk itu Dia berfirman: wa yaritsu min aali ya’quuba (“Dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub.”) seperti firman-Nya: wa waritsa sulaimaanu daawuuda (“Dan Sulaiman mewarisi Dawud”) yaitu dalam kenabian. Karena seandainya hal tersebut adalah harta, mengapa hanya dikhususkan untuknya, bukan untuk saudara-saudaranya yang lain. Di dalam berita itu pula mengandung faedah yang besar. Karena sebagaimana yang telah dimaklumi dan telah ditetapkan dalam seluruh syariat dan agama bahwa anak mewarisi harta ayahnya. Seandainya hal itu bukan warisan khusus, niscaya tidak akan dikabarkan. Semua itu telah ditetapkan dan dipastikan. Apa yang sudah shahih dalam hadits: “Kami [para Nabi] harta kami tidak diwariskan. Apa yang kami tinggalkan menjadi shadaqah.” As-Suddi berkata dari Malik, dari Zaid bin Aslam: wa yaritsu min aali ya’quubaq (“dan mewarisi sebagian keluarga Ya’quub”) yaitu kenabian mereka. wallaaHu a’lam.”)

Firman-Nya: waj’alHu rabbi ra-dliyyan (“Dan jadikanlah ia wahai Rabbku seorang yang diridlai.”) yaitu diridlai di sisi-Mu dan di sisi makhluk-Mu. Engkau mencintainya dan menanamkan rasa cinta kepadanya bagi makhluk-Nya karena agama dan akhlaknya. dalam ayat ini allah azawajalla inggin menerangkan bahawa nabi zakaria menyimpan satu impian dalam keturunan nya yang bakal di warisi sehingga kini sebagai mana di ketahui zakaria melahirkan zuriat dari yahya lalu lahir lah mariam dan isa dari keturunan nabi yakkub,.,.., Bilangan para rasul sangat banyak, sebagian ulama mengatakan hingga mencapai 315 rasul. Sedangkan bilangan para nabi mencapai 124.000. Di antara mereka ada yang wajib diketahui dan ada yang tidak wajib. Nabi dan rasul Allah yang wajib diketahui berjumlah 25, yakni mereka yang disebutkan di dalam al-Qur’an dengan perincian sebagai berikut: Adam, Idris, Nuh, Hud, Salih, Ibrahim, Lut, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Ayyub, Syuaib, Musa, Harun, Dhul Kifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa’, Yunus, Zakariya, Yahya, ’Isa, Muhammad keseluruhan nya lahir dari nabi syead yang mana kisah nya tak dapat dalam kitab kitab karagan ulamak yang mana kembar dua anak adam alaihisalam.,,.., dari keturunan nabi syead jua lahir nya nabi zakaria dan yakkub sebagai mana ayat dalam surah mariam.,,..

SURAH MARIAM AYAT 1-3

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH MARIAM
إِBismillahi-rahman-nir-rahim,,,..................KAF HA YA IND SOD,..,
........................................ ;;; 1)Zikru rahmati rab bika 'abdahu_ zakariy ya_* 2)
Iz na_da_ rab bahu_ nida_ an khafiy ya_ ذِكْرُ رَحْمَةِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا َ(2) إِذْ نادى‏ رَبَّهُ نِداءً خَفِيًّا َ(3
 TIADA MAKNA YANG DI HURAI HURUF PERMULAAN KEPALA AYAT .,,. Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tetang rahmat Rabb kamu kepada hamba-Nya Zakariya. (19: 2)Yaitu tatkala ia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut. (19: 3

Sama seperti 28 surat lainnya, surat Maryam diawali dengan huruf muqatta’ah yang merupakan rahasia Ilahi. Tak ada seorang ulama tafsir yang mengaku mengerti maknanya. Semoga kelak di masa kehadiran Imam Mahdi as makna dari huruf-huruf muqatta’ah bisa dimengerti.Lafaz Zakaria, huruf ya-nya dibaca panjang dan dibaca pendek; hal ini merupakan dua qiraat yang terkenal mengenainya. Untuk Nabi yang bernama sama dari Agama Yahudi & Kristen, lihat Zakharia (nabi Ibrani). Untuk Ayah dari Yohanes (Yahya) Pembaptis, lihat Zakharia (imam).

Untuk kegunaan lain dari Zakharia, lihat Zakharia (disambiguasi). Zakariya (Arab: زكريا, Ibrani זְכַרְיָה Zakharia, Perjanjian Baru: Zechariah/ Zacharias) (sekitar 100 - 20 SM)[1][2] adalah salah seorang nabi yang disebut di dalam Al Kitab dan Qur'an. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 2 SM dan ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di Palestina. Namanya disebutkan sebanyak 8 kali di dalam Al-Quran. Ia memiliki 1 orang anak dan wafat di Syam. Nabi Zakaria adalah salah seorang nabi dari bani Israil. Beliau adalah keturunan Nabi Harun as, kakak Nabi Musa as.

Nama Zakaria disebut sebanyak tujuh kali dalam al-Quran. Allah Swt menceritakan kisah sebagian nabi dan kaum-kaum terdahulu di dalam kitab suci al-Quran untuk menjadi pelajaran bagi umat manusia yang hidup di zaman al-Quran, baik saat kitab suci ini diturunkan maupun zaman setelahnya sampai Hari Kiamat.Masa yang dialami oleh Nabi Zakaria adalah masa yang aneh di mana banyak hal yang berlawanan yang berhadap-hadapan dan saling bertentangan serta terlibat pertarungan yang tidak pernah padam. Keimanan kepada Allah SWT bercahaya di mesjid yang besar di Baitul Maqdis, sedangkan kebohongan memenuhi pasar-pasar Yahudi yang bersebelahan dengan mesjid itu.

Sudah menjadi tradisi dunia bahwa segala sesuatu yang bertentangan mesti saling berhadapan pada: kebaikan dengan kejahatan, cahaya dengan kegelapan, kebenaran dengan kebohongan, para nabi dengan para pembangkang. Alhasil, segala sesuatu berhadapan untuk mempertahankan kehidupan. Di masa yang kuno ini terdapat seorang nabi dan seorang alim yang besar. Nabi yang dimaksud adalah Zakaria sedangkan seorang alim besar yang Allah SWT memilihnya untuk salat di tengah-tengah manusia adalah Imran. Imran adalah seorang suami dan istrinya sangat berharap untuk melahirkan anak.

Waktu pagi menyelimuti kota, keluarlah istri Imran untuk memberikan makan kepada burung dan ia melihat pamandangan yang ada di sekitarnya dan mulai merenungkannya. Di sana terdapat seekor burung yang memberi makan anaknya dengan cara menyuapinya dan memberinya minum. Burung itu melindungi anaknya di bawah sayapnya karena khawatir dari kedinginan. Ketika melihat pemandangan itu, istri Imran berharap agar Allah SWT memberinya anak. Ia mengangkat tangannya dan mulai berdoa agar Allah SWT menganugerahinya seorang anak lelaki. Allah SWT mengabulkan doanya dan pada suatu hari ia merasa bahwa ia sedang hamil lalu kegembiraan menyelimutinya dan ia bersMikur kepada Allah SWT:

 Di ayat-ayat tadi, Allah Swt menjelaskan tentang anugerah dan rahmat-Nya kepada Nabi Zakaria as saat beliau berdoa dalam keheningan dan meminta diberi keturunan. Doa itu dipanjatkan dalam kesendirian sang Nabi, mengingat bani Israil mengolok-olok beliau karena tak memiliki keturunan. Adalah satu keanehan bagi mereka jika mendengar Zakaria memohon anak di saat usianya sudah lanjut dan rambut kepalanya sudah memutih. Memang dalam banyak riwayat disebutkan bahwa doa yang terbaik adalah yang diucapkan dalam keheningan dan suara pelan, bukan di depan umum dan dengan suara keras. Sebagian kalangan ulama tafsir mengatakan bahwa sesungguhnya Zakaria melirihkan suaranya dalam berdoa agar dalam permohonannya ini dia tidak dituduh sebagai orang yang lemah karena usianya telah lanjut, sebab ia meminta agar dikaruniai seorang putra. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Al-Mawardi.

Ulama lainnya mengatakan, sesungguhnya Zakaria melirihkan suaranya dalam berdoa karena kecintaannya kepada Allah Swt. seperti yang dikatakan oleh Qatadah sehubungan dengan makna ayat ini: Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. (Maryam: 3) Sesungguhnya Allah mengetahui kalbu orang yang bertakwa, dan mendengar suara yang perlahan. Sebagian ulama Salaf mengatakan, Zakaria bangun di tengah malam, sedangkan semua muridnya telah tidur; lalu dia berbisik kepada Tuhannya seraya berdoa dengan suara yang lembut. Maka Tuhannya berfirman ke­padanya, "Kupenuhi seruanmu, Kupenuhi seruanmu, Kupenuhi seruanmu." Dari 2 ayat tadi terdapat 4 pelajaran yang dapat dipetik:‎ 1. Menyebut nama dan mengingat para wali dan kekasih Allah sangat bernilai dan itulah yang diajarkan al-Quran kepada kita. 2. Jangan pernah lupa kesan dari doa, sebab doa adalah pintu bagi turunnya rahmat dan kasih sayang Allah. [3] Di tengah malam, karena pada waktu itu lebih cepat diijabah (dikabulkan). [4] Ketika tulang telah lemah, di mana ia merupakan penopang badan, maka anggota badan yang lain tentu ikut lem

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN