Ahad, 17 Jun 2018

AYAT 27-31


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
 JILIK 4=SURAH AL-KAHFFI;''
 (Ayat:27-31) menceritakan azab yang bakal di terima oleh pendust tentang kalimat kalimat yang di turunkan keatas nabi nabi sebelum muhamat dan mereka mengubah mengikut keingginan hawa nafsu mereka dan dalam neraka kelak.,mereka akan bersama sama orang kafir dalam keadaan terhina dan tersiksa,.,..,sebagai mana firman allah ; Bismillahir-rahman-nir-rahim'''; 27. Waotlu ma oohiyailayka min kitabi rabbika la mubaddila likalimatihi walantajida min doonihi multahadan28. Waisbir nafsaka maAAa allatheenayadAAoona rabbahum bialghadatiwaalAAashiyyi yureedoona wajhahuwala taAAdu AAaynaka AAanhum tureedu zeenata alhayatialddunya wala tutiAAman aghfalna qalbahu AAan thikrina waittabaAAa hawahu wakana amruhu furutan29. Waquli alhaqqu min rabbikum faman shaa falyu/min waman shaafalyakfur inna aAAtadna lilththalimeenanaran ahata bihim suradiquha wa-in yastagheethooyughathoo bima-in kaalmuhliyashwee alwujooha bi/sa alshsharabuwasaat murtafaqan30. Inna allatheena amanoo waAAamiloo alssalihati inna la nudeeAAuajra man ahsana AAamalan31. Ola-ika lahum jannatu AAadnin tajree min tahtihimual-anharu yuhallawna feeha min asawira min thahabinwayalbasoona thiyaban khudranmin sundusin wa-istabraqin muttaki-eena feeha AAala al-ara-ikiniAAma alththawabu wahasunatmurtafaqan -[sadaqallahulazim]

 وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا (27)وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا (28)وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا (29)إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا (30) أُولَئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَيَلْبَسُونَ ثِيَابًا خُضْرًا مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا (31)

 Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Rabb-mu (al-Qur’an). Tidak ada (seorang pun) yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain daripada-Nya. (QS. 18:27) Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan petang hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. 18:28)

Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.(18-29)Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik. (18: 30)Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga 'Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah. (18: 31) Di akhir cerita mengenai Ashabul Kahfi, ayat ini menjelaskan bahwa perkataan yang tidak memiliki dasar sangatlah banyak. Rasulullah diperintahkan untuk menyampaikan wahyu dari Allah Swt kepada masyarakat dan jangan perdulikan perkatan yang lain.“Pertanda orang yang munafiq ada tiga: apabila berbicara bohong, apabila berjanji mengingkari janjinya dan apabila dipercaya berbuat khianat” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.).Diriwayatkan daripada Abu Hurairah bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda, “Sesiapa yang menipu maka dia bukan dari kalanganku.”Dalam hadis yang lain, Rasulullah s.a.w. bersabda :"Mahukah kamu aku tunjukkan perihal dosa-dosa besar? Kami menjawab: Ya, tentu mahu ya Rasulullah. Rasulullah menjelaskan: Menyengutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua. Oh ya, (ada lagi) Iaitu perkataan dusta." (Riwayat Muttafaq Alaih)Rasulullah SAW bersabda dalam hadis maksudnya:"Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga macam, apabila berkata suka berdusta, apabila berjanji selalu menyalahi dan apabila diberi kepercayaan (amanah) suka khianat". (Riwayat Bukhari dan Muslim).Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam,Maka kecelakaan yAng besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah“, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. Para penentang Rasulullah Saw dengan berbagai alasan meminta sejumlah ayat dihapus dan diganti supaya mereka menerimanya. Namun, Rasullah sebagaimana dijelaskan dalam ayat tersebut bertanggung jawab untuk menolak usulan mereka dan mengatakan bahwa al-Quran adalah kalam Allah yang tidak bisa diganti atau dirubah. Jika ada yang hendak melakukannya, maka ia tidak akan selamat dari murka ilahi.:“Agama adalah nasihat bagi Allah, bagi Rasul-Nya, untuk para pemimpin umat Islam dan untuk para orang awamnya.” ( H.R Bukhari)Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎ 1. Al-Quran adalah kalam Allah bukan perkataan manusia. Oleh karena itu, tidak bisa diubah dan tidak mengalami perubahan sedikitpun. 2. Al-Quran adalah kitab langit terakhir, karena itu terbebas dari segala bentuk penyimpangan dan tidak membutuhkan kitab lain. Ayat 28 menolak pemikiran demikian, sekaligus memperingatkan Rasulullah supaya tidak tertipu para pembesar dan saudagar yang mennghendaki Rasulullah menjauhi muslim seperti Abu Dzar dan Salman karena kemiskinannya. Ayat tersebut juga mengingatkan agar tidak merekrut orang karena dunianya maupun orang yang mengikuti hawa nafsunya. Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎ 1. Duduk dan memahami orang-orang miskin sangat sulit. Orang mukmin yang beriman lebih utama dibandingkan orang kafir dan umat Islam harus memiliki perhatian penuh kepada mereka. 2. Saking tingginya ancaman haus dunia bagi para pemimpin masyarakat Islam, sampai-sampai Allah Swt mengingatkan hal tersebut kepada Rasulullah Saw. Saat menjawab permohonan tidak berdasar para saudagar kaya, ayat ini mengungkapkan, orang yang tidak ingin beriman mengungkapkan sejumlah persyaratan. Perkataan yang benar datang dari Allah, barang siapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman dan barang siapa yang ingin kafir maka biarlah ia kafir. Seorang yang beriman dengan sebenar-benarnya keimanan lebih utama dari ribuan kafir yang memberikan berbagai persyaratan untuk keimanannya. Selain itu orang yang tenggelam dalam kerusakan di dunia dan sibuk dengan hawa nafsunya, maka di akhirat berada dalam posisi terburuk, dan makanan serta minuman terburuk menantinya. Jangan melihat posisi mereka di dunia yang pendek usianya ini. Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎ 1. Kekafiran dan keimanan manusia tidak berperan terhadap kebenaran agama. Al-Quran adalah kebenaran, meski seluruh manusia kafir. 2. Meskipun manusia bebas memilih untuk kafir maupun beriman, namun amal setiap orang di dunia dan akhir amat berbeda dan ganjaran kafir adalah api neraka. kepada kaum Kafir yang congkak dan mengikuti hawa nafsunya, ayat ini menyinggung kedudukan orang-orang yang beriman dengan mengatakan, orang-orang miskin dan terpinggirkan di dunia akan mendapatkan posisi terbaik pada Hari Kiamat. Jika hari ini pakaian kebesaran yang mahal yang menjadi kebanggan baginya, maka orang-orang miskin akan mengenakan pakaian kebesaran yang indah pada Hari Kiamat. Namun pakaian kebesaran di dunia tidak bisa dibandingkan dengan akhirat. Hal tersebut diperoleh dengan keimanan dan karunia Allah Swt. Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎ 1. Orang yang beriman kehilangan dunia, karena menjalankan aturan Allah Swt. Karena itu, Allah Swt memberikan ganjaran kepada mukmin di akhirat yang jauh lebih baik dari kenikmatan dunia. 2. Ketika beribadah jangan melakukan hal yang mengurangi pahala dari Allah Swt.

AYAT 9-26


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK 4; SURAH AL-KAHFFI
Bermula dari (Ayat:9-26)

golongan yang mengada-adakan dusta terhadap Allah.yakni kisah ashabul kahffi 7pemuda yg terselamat dari raja zalim tertidur selama 309tahun,. sebagai mana firman allah azawajalla,. Bismillahir-rahman-nir-rahim''''' 9. Am hasibta anna as-haba alkahfi waalrraqeemi kanoo min ayatinaAAajaban10. Ith awa alfityatu ila alkahfi faqaloo rabbanaatina min ladunka rahmatan wahayyi/ lana min amrinarashadan (9).

 أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا(10). إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

 Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan? (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo`a: "Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)". Yang demikian itu merupakan pemberitahuan dari Allah mengenai kisah Ash-haabul Kahfi secara global dan ringkas. Dan setelah itu, Dia menjelaskannya seraya berfirman: am hasibta (“Atau kamu mengira”) yakni, hai Muhammad. Anna ash-haabal kaHfi war raqiimi kaanuu min aayaatinaa ‘ajaban (“Orang-orang yang mendiami gua dan [yang mempunya] raqiim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?”) Maksudnya, urusan mereka itu bukan suatu hal yang aneh dalam kekuasaan Kami. Mengenai firman-Nya: am hasibta Anna ash-haabal kaHfi war raqiimi kaanuu min aayaatinaa ‘ajaban (“Atau kamu mengira, Orang-orang yang mendiami gua dan [yang mempunya] raqiim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?”) Ibnu Juraij menceritakan dari Mujahid, ia mengatakan: “

Di antara tanda-tanda Kami (Allah) terdapat apa yang lebih aneh dari hal tersebut.” Sedangkan kata al-Kahfi berarti gua di gunung, dan itulah tempat yang menjadi persembunyian para pemuda tersebut. ‘Ali bin Abi Thalhah menuturkan, dari Ibnu `Abbas: “Ar-raqiim berarti al-Kitab.” `Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengemukakan: “Ar-Raqiim berarti Kitab.” Kemudian dia membaca, kitaabun marquum (kitab yang tertulis). Demikianlah yang tampak pada lahiriyah ayat di atas. Itu pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir. la mengemukakan: “Kata ar-raqiim merupakan wazan kata fa’iil yang berarti marquum (yang tertulis), sebagaimana orang yang terbunuh itu juga disebut qatiil, dan orang yang terluka disebut dengan jariih. Wallahu a’lam.”

Firman Allah Ta’ala: idz awal fitnatu ilal kaHfi faqaaluu rabbanaa aatinaa mil ladunka rahmataw wa Hayyi’lanaa min amrinaa rasyadan (“Tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo’a: ‘Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).’”) Orang-orang Yahudi bertanya Rasulullah ﷺ, “Wahai Muhammad! Tolong ceritakan kepada kami tentang kisah 7 pemuda yang rela mengasingkan diri untuk mempertahankan keyakinannya kepada Allah سبحانه وتعالى. Jika engkau sanggup menceritakan dengan benar, maka kami juga akan mengikuti ajaranmu dan menjadi sebahagian daripada orang Islam.” Lalu Nabi Muhammad ﷺ memohon pertolongan pada Allah سبحانه وتعالى dan selepas 15 hari kemudian baginda mendapat wahyu tentang penjelasan kisah Ashabul Kahfi Allah Ta’ala memberitahukan tentang para pemuda yang melarikan diri dengan membawa ajaran agama mereka dari kaum mereka supaya kaumnya itu tidak memfitnah mereka. Maka para pemuda itu pun pergi melarikan diri dari mereka untuk kemudian berlindung di gua di sebuah gunung untuk bersembunyi dari mereka. Dan ketika mereka memasuki gua itu, mereka berkata seraya memohon rahmat dan kelembutan kepada Allah yang Mahatinggi: rabbanaa aatinaa mil ladunka rahmatan (“Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu.”) Maksudnya, karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, yang dengannya Engkau mengasihi kami dan menutupi kami dari kaum kami. Wa Hayyi’lanaa min amrinaa rasyadan (“Dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini.”) Maksudnya, tetapkan bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami. Dengan kata lain, jadikanlah kesudahan akhir kami di bawah petunjuk yang lurus. Mereka adalah sekelompok 7 pemuda dan seekor anjing yang tertidur dalam gua yang tertidur lelap di dalam gua selama 309 tahun hijriah atau 300 tahun masehi, untuk melarikan diri dari kekejaman raja Dikyanus. Kisah ini bersumber dari Al Qur'an. Mereka hidup ditengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang kejam bernama Diqyanus. Raja tersebut meminta rakyatnya untuk menyembah selain Allah Ta’ala. Jika tidak, maka akan disiksa dan dibunuh. Perhitungan jumlah hari mereka tertidur dalam gua., 300 tahun Masehi = 300 x 365,2422 hari = 109572,66 hari 300 tahun Hijriah = 300 x 354,36056 hari =106310,11 hari Selisih hari di antara dua perhitungan bulan dan matahari di atas yaitu 3.262,55 hari. 3262,55 : 354,36056 = 9,20669 tahun Hijriah (9 tahun) 3262,55 : 365,2422 = 8,93256 tahun Masehi (8,9 atau 9 tahun) Jadi dapat kita pastikan bahwa 300 tahun Surya = 309 Tahun Bulan. Nama-nama Ashabul Kahfi yang terdiri dari 7 pemuda tersebut yaitu: Tamlikha, Maksalmina, Martunis, Nainunis, Sarbunis, Falyastatyunis, Dzununis. Serta seekor anjing bernama Qithmir, yang dipercaya sebagai satu-satunya anjing yang masuk Surga. Adapun lokasi gua Ashabul Kahfi tersebut ada 3 pendapat yaitu:yahudi di Suriah, tetapi ada beberapa ahli Al Qur'an dan Injil berpendapat mereka berasal dari Yordania. 1. Gua di Efesus, Anatolia, Turki sekarang. Paulus, Orang Yahudi dan Kristian mempercayainya di sini. Namun gua ini juga turut menepati ciri-ciri yang diberikan dalam Al-Quran. 2. Gua di Damsyik, Syria. 3. Gua di Amman, Jordan. Gua ini lebih menepati ciri-ciri yang diberi dalam Al-Quran.

AYAT 1-8


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
 JILIK 4-SURAH KAHFI
 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
 Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Tafsir Al Kahfi Ayat 1-8 Surah Al Kahf (Gua) Surah ke-18. 110 ayat. Makkiyyah Ayat 1-6: Beberapa ayat ini menyebutkan tentang pujian Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada Diri-Nya, penurunan Al Qur’an kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan bagaimana usaha keras Beliau agar kaumnya beriman, dan ancaman terhadap kepercayaan tuhan punya anak.

 فَلَعَلَّكَ بَٰخِعٌ نَّفْسَكَ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمْ إِن لَّمْ يُؤْمِنُوا۟ بِهَٰذَا ٱلْحَدِيثِ أَسَفًا

 fala'allaka baakhi'un nafsaka 'alaa aatsaarihim in lam yu'minuu bihaadzaa lhadiitsi asafaa Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran). sebagai mana penjelasan allah dalam ; (QS. Faathir: 8) Allah berfirman seraya menghibur Rasul-Nya, Muhammad saw. atas kesedihan beliau terhadap orang-orang musyrik karena tindakan mereka meninggalkan iman dan jauhnya mereka dari keimanan. Sebagaimana yang difirmankan-Nya: falaa tudzHib nafsaka ‘alaiHim hasaraat (“Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka.”) dalam ayat ini allah menjelaskan tentang orang yg kembali kafir setelah beriman .,,.

Qatadah mengemukakan: “Engkau membunuh dirimu sendiri karena murka dan sedih atas mereka.” Mujahid mengatakan: “Yakni, keluh kesah.” Semua pengertian tersebut sangat berdekatan. Dengan kata lain, janganlah kamu kecewa terhadap mereka, tetapi sampaikan risalah Allah kepada mereka. Barangsiapa yang mendapatkan petunjuk, maka yang demikian itu.untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka ia sendiri yang menyesatkan dirinya itu. Dan janganlah kamu membinasakan dirimu karena mereka. Kemudian Allah memberitahukan bahwa Dia telah menjadikan dunia ini sebagai alam fana yang dihiasi dengan hiasan-hiasan yang tidak abadi. Dia jadikan ia sebagai tempat ujian dan bukan tempat menetap. Firman-Nya: baakhi’ (“Membunuh,”) berarti membinasakan dirimu akibat kesedihanmu atas diri mereka. Oleh karena itu,

Allah Ta’ala berfirman: fala’allaka baakhi’un nafsaka ‘alaa aatsaariHim il lam yu’minuu biHaadzal hadiitsi ( “Maka [apakah] barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini,”) al-Hadits yakni al-Qur’an. Allah berfirman, janganlah kamu membinasakan dirimu karena putus asa.[11] Oleh karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ingin sekali dan bergembira jika manusia ketika itu mendapat hidayah dan Beliau berusaha sekuat tenaga untuknya, namun ketika manusia berpaling dan mendustakannya, Beliau pun bersedih karena kasihan kepada mereka, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengarahkan Beliau agar tidak menyibukkan dirinya dengan sedih memikirkan sikap mereka. Hal itu, karena pahala Beliau sudah pasti akan diberikan Allah, dan mereka yang berpaling itu, jika sekiranya Allah mengetahui bahwa dalam hati mereka ada kebaikan niscaya Dia akan memberi hidayah, akan tetapi Dia mengetahui, bahwa mereka lebih cocok masuk ke neraka, sehingga Dia telantarkan mereka dan tidak memberinya petunjuk. Oleh karena itu, sibuk dengan sedih memikirkan mereka tidak ada faedahnya bagimu. Dalam ayat ini dan yang semisalnya terdapat pelajaran, bahwa orang yang diperintahkan Allah untuk menyampaikan (seperti rasul dan orang yang diberi ilmu), tugasnya hanyalah menyampaikan dan melakukan segala sebab agar mereka memperoleh hidayah, menutup pintu kesesatan sesuai kemampuan, sambil bertawakkal kepada Allah. Jika mereka mendapatkan petunjuk, maka sungguh bagus sekali, kalau pun tidak maka jangan bersedih, karena hal itu dapat melemahkan jiwa (membuat dirinya lemas), meretakkan kekuatannya dan tidak ada faedahnya, bahkan hendaknya ia teruskan amal yang dibebankan kepadanya. Selebihnya, maka hal itu di luar kemampuan. Jika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam saja dikatakan tidak mampu memberi petunjuk kepada orang yang Beliau cintai, dan Nabi Musa ‘alaihis salam saja mengatakan, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku tidak berkuasa selain terhadap diriku dan saudaraku.” Maka selain mereka lebih tidak mampu lagi. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, ”Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. -Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,” (Terj. Al Ghaasyiyah: 21-22) Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda. "Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil. "Mereka (para Shahabat) bertanya: "Apakah syirik kecil itu, ya Rasulullah?" .Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Yaitu riya'"Abu Hurairah ra berkata: nabi saw bersabda:Allah ta’ala berfirman:Artinya : “Aku paling tidak membutuhkan sekutu, maka barangsiapa melakukan suatu amal dengan menyekutukan sesuatu kepada Ku dengan dia dan terserahlah ia kepada yang disekutukan itu.” (HR. Muslim dan Ibnu Majjah) [2] Ibnu katsir mengatakan mengenai tafsir ayat ini, “Allah mengetahui siapa saja dari hambanya yang layak mendapatkan hidayah, dan siapa saja yang tidak pantas mendapatkannya”.Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin menerangkan, “Hidayah di sini maknanya adalah hidayah petunjuk dan taufik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan hidayah ini kepada orang yang pantas mendapatkannya, karena segala sesuatu yang dikaitkan dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka mesti mengikuti hikmah-Nya.”Sebagai mana ayat 6 suratul kahfi rasulullah amat bimbang akan keadaan umatnya diwaktu itu yang mana kembali berpaling, dari ayat quran yang di turunkan ,..,.,

AYAT 3-5


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABBARUK
 JILIK 4 -SURAH KHAFFI-3-5 (3).

 مَاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا(4). وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا(5). مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ ۚكَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ ۚإِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا

 mākithīna fīhi ʾabadan*wa-yundhira lladhīna qālū ttakhadha llāhu waladan*mā lahum bihī min ʿilmin wa-lā li-ʾābāʾihim kaburat kalimatan takhruju min ʾafwāhihim ʾin yaqūlūna ʾillā kadhiban =3. mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. 4. dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: “Allah mengambil seorang anak.” 5. mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (al-Kahfi: 3-5)

 Pada awal penafsiran telah disebutkan bahwa Allah swt. memuji diri-Nya sendiri yang suci pada pembukaan dan penutupan berbagai urusan. Sesungguhnya Dia memang Mahaterpuji dalam setiap keadaan. Segala puji hanya bagi-Nya dari awal dan akhir segala sesuatu. Oleh karena itu, Dia memuji diri-Nya sendiri atas diturunkan-Nya kitab-Nya yang mulia kepada Rasul-Nya yang mulia, Muhammad saw. Yang demikian itu merupakan nikmat yang sangat besar yang diturunkan Allah Ta’ala kepada penduduk bumi, karena dengannya mereka dikeluarkan dari kegelapan menuju sinar terang benderang, dimana dia menjadikannya sebagai kitab yang lurus tiada kebengkokan di dalamnya serta tidak terdapat penyimpangan, tetapi justru memberi petunjuk ke jalan yang lurus lagi sangat jelas, terang dan nyata, yang memberikan peringatan kepada orang-orang kafir sekaligus memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.

Oleh karena itu Allah berfirman: wa lam yaj’allaHuu ‘iwajan (“dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya.”) maksudnya Allah swt. tidak membuat kebengkokan, penyimpangan, dan kemiringan, tetapi Dia justru membuatnya tegak lurus. Oleh karena itu Dia berfirman: qayyimal liyundhira ba’san syadiidam mil ladunHu (“Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi Allah.”) yakni bagi orang-orang yang menyalahi al-Qur’an, mendustakan serta tidak beriman kepadanya. Dia menjadikannya sebagai pemberi peringatan akan siksa yang pedih, hukuman langsung di dunia dan hukuman di akhirat kelak. Mil ladunHu (“Dari sisi-Nya”) yakni dari sisi Allah yang tidak seorang pun yang dapat memberikan siksaan seperti siksaan-Nya. Dan tidak ada pula seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya. Firman-Nya: wa yubasy-syiral mu’miniin (“Dan membawa berita gembira kepada orang-orangyang beriman.”) yakni dengan al-Qur’an, yaitu mereka yang benar keimanannya dengan mewujudkan amal shalih. Anna laHum ajran hasanan (“Bahwa mereka akan mendapatkan balasan yang baik.”) maksudnya mereka akan diberikan balasan di sisi Allah dengan pahala yang baik. Maa kitsiina fiiHi (“Mereka kekal di dalamnya.”) bersama pahala mereka di sisi Allah, yaitu surga, yang mereka akan kekal di dalamnya; abadan (“untuk selama-lamanya”) yakni terus menerus, tidak akan lenyap dan tidak pula berakhir. Firman Allah: wa yundziralladziina qaalut takhadzallaaHu waladan (“Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: ‘Allah mengambil seorang anak.’”)

Ibnu Ishaq mengatakan: “Mereka adalah orang-orang musyrik Arab yang mengatakan: ‘Kami menyembah malaikat karena mereka adalah anak perempuan Allah.” Maa laHum biHii min ‘ilmin (“Mereka sekali-sekali tidak mempunyai pengetahuan.”) tentang ucapan itu yang sengaja mereka buat-buat dan ada-adakan. Walaa li aabaa-iHim (“begitu pula nenek moyang mereka.”) yakni, para pendahulu mereka. Kaburat kalimatan takhruju min afwaaHiHim (“Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka.”) maksudnya mereka tidak mempunyai sandaran, kecuali ucapan mereka dan tidak pula mereka mempunyai dalil yang melandasinya, melainkan hanya kedustaan dan tindakan mereka yang mengada-ada. Oleh karen itu Allah berfirman: iy yaquuluuna illaa kadziban (“Mereka tidak mengatakan [sesuatu] kecuali dusta.”) Muhammad bin Ishaq menyebutkan sebab turunnya surah mulia ini. Dimana dia mengemukakan dari Ibnu ‘Abbas, ia bercerita: “Kaum Quraisy pernah mengutus an-Nadhar bin al-Harits dan ‘Uqbah bin Abi Mu’ith kepada para pendeta Yahudi di Madinah, maka mereka berkata kepada kedua utusan itu: ‘Tanyakan kepada para pendeta itu tentang diri Muhammad, terangkan kepada mereka sifatnya, dan beritahukan mereka tentang ucapannya, karena sesungguhnya mereka adalah ahlul kitab pertama, mereka mempunyai apa yang tidak kita miliki, yakni ilmu pengetahuan tentang para Nabi.’ Lalu kedua utusan itupun pergi hingga akhirnya sampai di Madinah. Selanjutnya mereka bertanya kepada para pendeta Yahudi tersebut mengenai Rasulullah saw. Lalu keduanya menyampaikan masalahnya kepada mereka dan juga sebagian ucapan beliau itu. Kedua utusan itu berkata: ‘Sesungguhnya kalian adalah ahlut Taurat, kami datang kepada kalian dengan harapan kalian mau memberitahu kami tentang shahabat kami ini.’” Lebih lanjut, Ibnu ‘Abbas menceritakan: “Maka mereka berkata kepada para utusan itu: ‘Tanyakan kepadanya [Muhammad] tentang tiga perkara yang kami memerintahkan kalian bertanya kepadanya tentang ketiganya. Jika ia memberitahukan ketiganya kepada kalian, maka ia memang seorang Nabi yang diutus. Dan jika tidak dapat menjawab ketiganya, maka ia hanyalah seorang yang banyak bicara, sehingga dengan demikian, kalian dapat melihat pendapat kalian tentang dirinya itu. Tanyakan kepada dirinya tentang beberapa pemuda yang pergi pada masa-masa pertama, apa yang terjadi pada mereka, sesungguhnya mereka mempunyai peristiwa yang sangat aneh. Tanyakan kepadanya tentang seorang yang berkeliling hingga sampai di belahan timur dan barat bumi ini, apa beritanya dan jawabannya tentang ruh? Jika ia memberitahukan hal itu kepada kalian, maka ia memang seorang Nabi, dan ikutilah dia. Dan jika dia tidak memberikan jawaban kepada kalian, maka sesungguhnya ia seorang yang banyak bicara. Maka berbuatlah kalian terhadap sesuatu yang tampak baik oleh kalian dari urusannya.’ Maka an-Nadhar dan ‘Uqbah berangkat sehingga menghadap kaum Quraisy seraya berkata: ‘Wahai kaum Quraisy, kami telah mendatangi kalian untu menjelaskan apa yang ada di antara kalian dengan Muhammad. Para pendeta Yahudi itu menyuruh kami menanyakan kepada Muhammad tentang beberapa hal.’ Lalu mereka memberitahukan hal itu, kemudian mereka mendatangi Rasulullah saw. Mereka bertanya: ‘Hai Muhammad, beritahukan kepada kami.’ Mereka menanyakan kepada beliau tentang apa yang diperintahkan oleh para pendeta Yahudi itu, maka Rasulullah saw. berkata kepada mereka: ‘Aku akan beritahukan apa yang kalian tanyakan itu besok hari. Dan beliau tidak mengecualikan untuk hari lainnya.’ Belum lama berselang, mereka pun bertolak meninggalkan beliau. Sedang Rasulullah saw. sendiri selama lima belas hari tinggal diam, tidak diturunkan satupun wahyu oleh Allah mengenai hal tersebut, dan tidak juga Jibril mendatangi beliau sehingga penduduk Makkah menyebarluaskan berita jahat. Mereka mengatakan: “Muhammad telah berjanji kepada kami esok hari, dan sekarang sudah lima belas hari berlalu, tetapi tidak juga memberitahu kami tentang apa yang kami tanyakan kepadanya.’ {مَاكِثِينَ فِيهِ} mereka kekal di dalamnya. (Al-Kahfi: 3) Mereka mendapat pahala yang kekal di sisi Allah, yaitu surga mereka kekal di dalamnya. {أَبَدًا} untuk selama-lamanya. (Al-Kahfi: 3) Yakni mereka kekal dan abadi di dalamnya untuk selama-lamanya, tidak pernah hilang dan tidak pernah habis nikmat yang diperolehnya. Firman Allah Swt.: {وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا} Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata, "Allah mengambil seorang anak.” (Al-Kahfi: 4) Ibnu Ishaq mengatakan, makna yang dimaksud ialah orang-orang musyrik Arab, karena mereka mengatakan, "Kami menyembah malaikat-malaikat, mereka adalah anak-anak perempuan Allah." {مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ} Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan. (Al-Kahfi: 5) Yaitu dengan ucapan yang mereka buat-buat dan mereka dustakan dari diri mereka sendiri itu. {وَلا لآبَائِهِمْ} begitu pula nenek moyang mereka. (Al-Kahfi: 5) Yakni para pendahulu mereka, {كَبُرَتْ كَلِمَةً} Alangkah jeleknya kata-kata. (Al-Kahfi: 5) Lafaz kalimatan di-nasab-kan sebagai tamyiz, bentuk lengkapnya ialah 'Alangkah buruknya kalimat mereka yang ini'. Menurut pendapat yang lain, ungkapan ini adalah sigat (bentuk) ta'ajjub, bentuk lengkapnya ialah 'Alangkah buruknya kata-kata mereka itu', seperti kalimat, "Akrim bizaidin rajutan," yakni alangkah mulianya Zaid sebagai seorang laki-laki. Demikianlah menurut sebagian ulama Basrah, dan sebagian ahli Qiraat Mekah membacanya demikian, yaitu kaburat kalimatan. Perihal­nya sama dengan kalimat kabura syanuka dan azuma qauluka, yakni 'alangkah buruknya keadaanmu' dan 'alangkah buruknya ucapanmu'. Makna yang dimaksud menurut qiraat jumhur ulama lebih jelas, bah­wa sesungguhnya ungkapan ini dimaksudkan kecaman terhadap ucapan mereka, dan bahwa apa yang mereka katakan itu merupakan kebohongan yang besar. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya: {كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ} Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka. (Al-Kahfi: 5) Yakni tidak berdasarkan kepada suatu bukti pun melainkan hanya semata-mata dari ucapan mereka sendiri yang dibuat-buat oleh mereka sebagai suatu kedustaan. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan: {إِنْ يَقُولُونَ إِلا كَذِبًا} mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusla. (Al-Kahfi: 5) Muhammad ibnu Ishaq telah menyebutkan tentang latar belakang turun­nya ayat ini. Untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepadanya seorang syekh (guru) dari kalangan ulama Mesir yang telah tinggal bersa­ma kaumnya sejak empat puluh tahun yang lalu, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa orang-orang kafir Quraisy mengutus An-Nadr ibnul Haris dan Uqbah ibnu Abu Mu'h kepada orang-orang alim Yahudi di Madinah. Kaumnya berpesan kepada mereka, "Tanyakan­lah kepada orang-orang Yahudi itu tentang Muhammad, dan ceritakanlah kepada mereka tentang sifatnya serta beritahukanlah kepada mereka tentang apa yang diucapkannya, karena sesungguhnya mereka adalah Ahli Kitab yang terdahulu. Mereka mempunyai pengetahuan yang tidak kita miliki tentang para nabi." Keduanya berangkat meninggalkan kota Mekah menuju Madinah. Setelah sampai di Madinah, keduanya bertanya kepada ulama Yahudi tentang Rasulullah Saw. dan menceritakan kepada mereka sifat-sifatnya serta sebagian dari ucapannya. Untuk itu keduanya mengatakan, "Se­sungguhnya kalian adalah Ahli Kitab Taurat, kami datang kepada kalian untuk memperoleh informasi tentang teman kami ini (maksudnya Nabi Saw.)" Ulama Yahudi itu menjawab, "Tanyakanlah oleh kalian kepada dia tentang tiga perkara yang akan kami terangkan ini. Jika dia dapat menja­wabnya, berarti dia benar-benar seorang nabi yang diutus. Tetapi jika dia tidak dapat menjawabnya, berarti dia adalah seseorang yang mengaku-aku dirinya menjadi nabi; saat itulah kalian dapat memilih pendapat sendiri terhadapnya. Tanyakanlah kepadanya tentang beberapa orang pemuda yang pergi meninggalkan kaumnya di masa silam, apakah yang dialami oleh mereka? Karena sesungguhnya kisah mereka sangat menakjubkan. Dan tanyakanlah kepadanya tentang seorang lelaki yang melanglang buana sampai ke belahan timur dan barat, bagaimanakah kisahnya. Dan tanyakanlah kepadanya tentang roh, apakah roh itu? Jika dia mencerita­kannya kepada kalian, berarti dia adalah seorang nabi dan kalian harus mengikutinya. Tetapi jika dia tidak menceritakannya kepada kalian, maka sesungguhnya dia adalah seorang lelaki yang mengaku-aku saja. Bila demikian, terserah kalian, apa yang harus kalian lakukan terhadapnya." Maka An-Nadr dan Uqbah kembali ke Mekah. Setelah tiba di Me­kah, ia langsung menemui orang-orang Quraisy dan mengatakan kepada mereka, "Hai orang-orang Quraisy kami datang kepada kalian dengan membawa suatu kepastian yang memutuskan antara kalian dan Muham­mad. Ulama Yahudi telah menganjurkan kepada kami untuk menanyakan kepadanya beberapa perkara," lalu keduanya menceritakan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada mereka. Mereka datang kepada Rasulullah Saw. dan berkata, "Hai Muham­mad, ceritakanlah kepada kami!' Lalu mereka menanyainya dengan per­tanyaan-pertanyaan yang dianjurkan oleh para pendeta Yahudi tadi. Dan Rasulullah Saw. menjawab mereka, "Aku akan menceritakan jawaban dari pertanyaan kalian itu besok," tanpa menentukan batas waktunya. Mereka bubar meninggalkan Nabi Saw., dan Nabi Saw. tinggal selama lima belas hari tanpa ada wahyu dari Allah yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut Malaikat Jibril pun tidak turun kepadanya selama itu, hingga penduduk Mekah ramai membicarakannya. Mereka mengatakan, "Muhammad telah menjanjikan kepada kita besok, tetapi sampai lima belas hari dia tidak menjawab sepatah kata pun tentang apa yang kami tanyakan kepadanya." Karenanya Rasulullah Saw. bersedih hati, wahyu terhenti darinya dan beliau merasa berat terhadap apa yang diperbincangkan oleh pendu­duk Mekah tentang dirinya. Tidak lama kemudian datanglah Malaikat Jibril kepadanya dengan membawa surat yang di dalamnya terkandung kisah Ashabul Kahfi (para penghuni gua), dan surat itu mengandung teguran pula terhadap diri Nabi Saw. yang bersedih hati atas sikap mere­ka. Surat itu juga mengandung jawaban dari pertanyaan mereka tentang kisah para pemuda yang menghuni gua serta lelaki yang melanglang buana (Zul Qarnain), juga firman Allah Swt. yang mengatakan: Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh, katakanlah, "Roh itu, (Al-Isra: 85), hingga akhir ayat."

AYAT 2


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK 4=SURATUL KHAFFI AYAT-2

 Imam Muslim, Abu Daud, Nasai, dan Turmuzi meriwayatkannya melalui hadis Qatadah dengan sanad yang sama. Menurut lafaz hadis yang ada pada Imam Turmuzi disebutkan seperti berikut:" مَنْ حَفِظَ الثَّلَاثَ الْآيَاتَ مَنْ أَوَّلِ الْكَهْفِ " Barang siapa yang hafal tiga ayat dari permulaan surat Al-Kahfi.dipelihara dari fitnah Dajjal. --------------------------------------

 suratul khaffi ayat 2=BISMILLAH-NIR-RAHMAN-NIR-RAHIM =Qoy yimal liyun dziro baq san syadi dam minladun hu wa yubash shiral muqminin* nalladzi nayaq malu nas so li hati an nalahum ajran hasana. قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا BERMAKSUT=sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik,
 ---------------------------------------------------- sebagai bimbingan yang lurus. (Al-Kahfi: 2) Yakni lurus tidak bengkok. {لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ} untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah. (Al-Kahfi: 2)terhadap orang-orang yang menentang-Nya dan mendustakan-Nya serta tidak beriman kepada-Nya. A!-Qur'an memperingatkan mereka akan pembalasan yang keras dan siksaan yang disegerakan di dunia serta yang ditangguhkan sampai hari akhirat nanti.{مِنْ لَدُنْهُ} dari sisi Allah. (Al-Kahfi: 2) Yaitu dari sisi Allah yang berupa siksaan yang tiada seorang pun dapat mengazab seperti azab yang ditimpakan oleh-Nya, dan tiada seorang pun dapat mengikat seperti ikatan-Nya. {وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ}dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman. (Al-Kahfi: 2)Maksudnya, dengan Al-Qur'an ini mereka yang imannya dibuktikan de­ngan amal saleh mendapat berita gembira. {أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا}bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik. (Al-Kahfi: 2)Yakni balasan pahala yang baik dari sisi Allah. (Sebagai jalan yang lurus) bimbingan yang lurus; lafal Qayyiman menjadi Hal yang kedua dari lafal Al-Kitab di atas tadi dan sekaligus mengukuhkan makna yang pertama (untuk memperingatkan) menakut-nakuti orang-orang kafir dengan Alquran itu (akan siksaan) akan adanya azab (yang sangat keras dari sisi-Nya) dari sisi Allah (dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengadakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik).sebagai mana firman allah swt.baqarah 268]Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir, korup, menipu, transaksi riba, atau pergi ke dukun dll); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui. Kelurusan kitab ini menunjukkan, bahwa kitab ini tidaklah memberitakan, kecuali dengan berita yang paling agung; berita yang memenuhi hati dengan ma’rifat (mengenal Tuhannya), keimanan dan pandangan yang lurus, seperti berita yang menerangkan tentang nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya dan perbuatan-Nya, termasuk pula hal-hal ghaib di masa lalu dan yang akan datang, dan bahwa perintah serta larangannya membersihkan jiwa, menumbuhkannya dan menyempurnakannya karena cakupannya yang mengandung keadilan, keikhlasan dan ibadah kepada Allah Rabbul ‘alamin.sebagai mana“berfirman, Allah Ta’ala “Wahai Anak Adam, luangkanlah olehmu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan, dan aku tutup kefakiranmu. Jika tidak, niscaya Aku akan penuhi tanganmu dengan kesibukan, dan tidak Aku tutup kefakiranmu.” (HR Tirmidzi, al-Albani mengatakan “shahih”) Siksaan di dunia maupun siksaan di akhirat. Termasuk rahmat (kasih-sayang)-Nya kepada hamba-hamba-Nya adalah Dia telah menetapkan hukuman berat kepada orang-orang yang menyelisihi perintah-Nya, menerangkannya kepada mereka, dan menerangkan sebab-sebab yang dapat mengarah kepadanya. Kepada orang-orang yang kafir dan yang mendurhakai perintah-Nya.sebagai mana firman allah dalam surah baqarah[2:41] Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur’an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa. Baik yang wajib maupun yang sunat, disertai ikhlas dan mutaba’ah (sesuai sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam).sebagai mana rasulullah saw bersabda "Allah tidak akan menerima shalat seseorang tanpa berwudlu (bersuci), dan tidak akan menerima sedekah dengan harta ghulul (curian/korupsi, merampok, palak, mencopet dll)" [HR. Muslim] Sebagai balasan terhadap iman dan amal saleh mereka, di mana yang paling besarnya adalah mendapatkan keridhaan Allah dan masuk ke surga.sebagai mana rasulullah saw bersabda "Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari makanan haram." [HR. Ibn Hibban dalam Shahîhnya] yakni hanya amalan amalan yang iklas dari hamba nya akan di balas dengan balasan syurga,.,.

AYAT 1


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
 SURAH KHAFFI AYAT-1]
 Di bawah ini sedikit keterangan tentang keutamaan surah al-Kahfi dan sepuluh ayat pertama dan terakhir, yang juga merupakan pelindung dari fitnah dajjal. Surah Al-Kahf (bahasa Arab:الكهف, al-Kahf, "Gua") disebut juga Ashabul Kahf adalah surah ke-18 dalam Al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Dinamai Al-Kahf dan Ashabul Kahf yang artinya Penghuni-Penghuni Gua. Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang beberapa orang pemuda (The Seven Sleepers) yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya. Selain cerita tersebut, terdapat pula beberapa cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung pelajaran-pelajaran yang berguna untuk kehidupan manusia. Terdapat beberapa hadits Rasulullah SAW yang menyatakan keutamaan membaca surah ini. Dalam surat ini terdapat titik tengah Al-Qur'an yang membelah isi Al-Qur'an menjadi dua bagian. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Ishaq, ia menceritakan, aku pernah mendengar al-Barra’ bercerita, ada seseorang yang membaca surah al-Kahfi, sedang di dalam rumah terdapat binatang, tiba-tiba binatang itu pergi melarikan diri, lalu ia melihat dan ternyata awan atau mendung telah meliputi dirinya. Kemudian ia menceritakan hal itu kepada Nabi saw. maka beliau bersabda: “Bacalah surah al-Kahfi, karena sesungguhnya ia merupakan ketenangan yang turun bersama dengan al-Qur’an, atau turun untuk al-Qur’an.” Demikian hadits yang diriwayatkan oleh al-bukhari dan Muslim dalam ash-Shahihain. Dan orang laki-laki yang membaca ayat tersebut adalah Usaid bin al-hudhair. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abud Darda’, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Barangsiapa yang hafal sepuluh ayat pertama surah al-Kahfi, maka ia akan dilindungi dari [fitnah] Danjjal.” Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, an-Nasa-i, dan at-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: “Hasan shahih.” Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abud Darda’, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat terakhir dari surah al-Kahfi, maka ia akan dilindungi dari fitnah Dajjal.” (HR Muslim dan an-Nasa-i) BISMILLAH-NIR-RAHMAN-NIR-RAHIM' الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا ۜ18* /Al-Kahf-1: Alhamdu lillahi allathee anzala AAala AAabdihi alkitaba walam yajAAal lahu AAiwajan Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya; (1) [[18 ~ AL-KAHF (GUA) Pendahuluan: Makkiyyah, 110 ayat ~ Surat al-Kahf termasuk kelompok surat Makkiyyah, kecuali ayat ke-38 dan duapuluh ayat lainnya mulai ayat ke-83 sampai dengan ayat ke-101 yang termasuk dalam kelompok surat-surat Madaniyyah. Surat al-Kahf diawali dengan pujian pada Allah, sebagai ungkapan rasa syukur atas diturunkannya al-Qur'ân al-Karîm yang berfungsi, antara lain, sebagai pemberi peringatan dan penyampai berita suka cita. Di antara ayat-ayat surat al-Kahf ada yang berisikan ancaman bagi orang-orang yang beranggapan bahwa Allah mempunyai anak. Disebutkan pula dalam surat ini besarnya perhatian dan harapan Rasulullah saw. akan keimanan orang-orang yang telah diserunya untuk mengikuti jalan Allah. Selanjutnya, surat ini juga menuturkan kisah Ashhâb al-Kahf (pemuda-pemuda beriman penghuni gua) yang bersembunyi di dalamnya dalam keadaan tertidur selama 309 tahun. Mereka itu adalah sekelompok penganut agama Nasrani yang melarikan diri karena penindasan penguasa Romawi. Untuk membuktikan kekuasaan-Nya menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati kelak di hari kiamat, Allah membangunkan mereka setelah lelap dalam tidur sekian lamanya itu. Dalam surat ini Allah juga memerintahkan Rasulullah saw. agar membaca al-Qur'ân, memberi peringatan kepada manusia dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman. Selain itu, juga disebutkan penjelasan ihwal masing-masing penghuni surga dan neraka. Pada bagian lain surat ini, Allah menerangkan sebuah perumpamaan berupa dua orang laki-laki yang saling berbeda perangainya. Yang satu kafir, berharta dan merasa bangga dengan kekayaan dan anak keturunannya, sementara yang lain hanya cukup membanggakan dirinya karena bertuhankan Allah. Ayat-ayat berikutnya berisi penjelasan bahwa perwalian yang benar hanyalah kepada Allah, kesenangan-kesenangan hidup duniawi yang fana, keadaan setelah hari kebangkitan yang tidak mengenal bentuk kehidupan lain kecuali kebahagiaan di surga atau penderitaan di neraka, berikut kisah Mûsâ dengan seorang hamba saleh yang mendapatkan karunia ilmu dari Allah Swt. Dalam kisah ini, Allah bermaksud menjelaskan betapa tidak tahunya manusia akan kekuasaan Allah-bahkan Nabi Muhammad saw. yang termasuk dalam golongan Ulû al'Azm (nabi-nabi yang mempunyai azam kuat) sekalipun--jika Allah tidak menurunkan ilmu-Nya pada mereka. Disusul kemudian dengan kisah Dzû al-Qarnain yang telah berhasil mencapai kawasan paling jauh di belahan bumi timur dan telah mampu membangun bendungan besar. Sebelum ditutup, masih ada ayat-ayat lain yang menguraikan ihwal hari kiamat, hari pemberian pahala bagi orang-orang beriman dan penjelasan pengetahuan dan kalimat-kalimat Allah yang tidak akan pernah habis. Dan akhirnya, surat ini ditutup dengan penjelasan mengenai jalan yang seharusnya diikuti oleh manusia untuk mendapat rida Allah.]] Segala puji yang baik hanyalah hak Allah yang telah menurunkan al-Qur'ân kepada hamba-Nya, Muhammad. Allah tidak menjadikan al-Qur'ân sebagai kitab suci yang mengandung hal-hal yang menyimpang dari kebenaran. Akan tetapi al-Qur'ân itu berisikan kebenaran yang tidak perlu diragukan. Pada awal penafsiran telah disebutkan bahwa Allah swt. memuji diri-Nya sendiri yang suci pada pembukaan dan penutupan berbagai urusan. Sesungguhnya Dia memang Mahaterpuji dalam setiap keadaan. Segala puji hanya bagi-Nya dari awal dan akhir segala sesuatu. Oleh karena itu, Dia memuji diri-Nya sendiri atas diturunkan-Nya kitab-Nya yang mulia kepada Rasul-Nya yang mulia, Muhammad saw. Yang demikian itu merupakan nikmat yang sangat besar yang diturunkan Allah Ta’ala kepada penduduk bumi, karena dengannya mereka dikeluarkan dari kegelapan menuju sinar terang benderang, dimana dia menjadikannya sebagai kitab yang lurus tiada kebengkokan di dalamnya serta tidak terdapat penyimpangan, tetapi justru memberi petunjuk ke jalan yang lurus lagi sangat jelas, terang dan nyata, yang memberikan peringatan kepada orang-orang kafir sekaligus memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman. Oleh karena itu Allah berfirman: wa lam yaj’allaHuu ‘iwajan (“dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya.”) maksudnya Allah swt. tidak membuat kebengkokan, penyimpangan, dan kemiringan, tetapi Dia justru membuatnya tegak lurus. Rasulullah saw. sendiri merasa sedih karena berhentinya pengiriman wahyu kepada beliau, dan beliau juga sangat terpukul dengan ucapan penduduk Makkah. Kemudian Jibril datang kepada beliau dari Allah swt. dengan membawa surah al-Kahfi yang di dalamnya terdapat celaan kepada beliau atas kesedihannya terhadap mereka, juga memuat jawaban terhadap apa yang mereka pertanyakan mengenai para pemuda dan seorang yang berkeliling, serta firman-Nya: wa yas-aluunaka ‘anir ruuhi qulir ruuhu min amri rabbii wa maa uutiitum minal ‘ilmi illaa qaliilan (“Mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Rabbku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan [tentangnya] melainkan hanya sedikit.’”)(Al-Israa’: 85)

ISI KANDUGAN SURAH KHAFFI


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABBARUK   
 PENGENALAN TENTANG PERKARA
PERKARA PENTING DALAM SURAH AL-KHAFFI DARI AYAT 1-110,.,..
       (Ayat:1-5)MENCERITAKAN TENTANG Azab pedih dari sisiNya, serta supaya menggembirakan golongan beriman,dan tentang pengucapan dusta tentang allah beranak .betapa buruk ucapan yang keluar dari mulut orang-orang itu, orang-orang itu hanyalah mengucapkan dusta (Ayat:7-8) keindahan-keindahan di bumi sebagai perhiasan disana supaya Kami membuktikan diri mereka; siapakah yang berperilaku terbaik di tengah-tengah mereka, ketahuilah bahwa kelak Kami jadikan hal-hal yang berada di atasnya sebagai tempat berpasir, tandus. (Ayat:9-26) golongan yang mengada-adakan dusta terhadap Allah.yakni kisah ashabul kahffi 7pemuda yg terselamat dari raja zalim tertidur selama 309tahun,. (Ayat:27-31) menceritakan azab yang bakal di terima oleh pendust al-quran dan ahli ahli kitab yg terdahulu dalam neraka kelak.,., (Ayat:32-46) Kisah pemilik dua kebun dan perumpamaan orang yang tertipu dengan dunia dengan orang yang berharap kehidupan akhirat.Perumpamaan bahwa menghadapkan diri kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala lebih baik dari segalanya.Harta benda beserta anak-anak merupakan kemegahan kehidupan duniawi namun berbagai kebajikan yang kekal merupakan hal yang terbaik bagi Tuhanmu serta lebih baik sebagai pengharapan (Ayat:47-49) Pertermuan allah dengan kalian(hari pembalasan)" tatkala Al-Kitab dihadirkan kemudian kamu akan melihat golongan yang berdosa merasa ketakutan terhadap hal-hal yang berada di dalamnya, serta mereka berkata: "Celakalah kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan perkara-perkara terkecil sekalipun, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitakan tentang keadaan pada hari kiamat, dan apa yang terjadi pada hari itu berupa peristiwa yang dahsyat dan mengerikan.yang mana manusia akan di kumpulkan di dataran luas dan rata dinamakan; Mahsyar (Arab: محشر) dalam Islam adalah tanah berpasir putih yang sangat luas dan datar, (Ayat:50-53) "Peristiwa sujudnya malaikat kepada Nabi Adam as, dan penentangan iblis terhadap perintah ilahi. golongan pengikut iblis yg mana Allah adakan untuk orang-orang itu; tempat kehancuran, sedangkan golongan yang berdosa melihat Neraka sehingga mereka meyakini bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya, serta mereka tidak mendapati tempat perlindungan menghadapi hal demikian. (Ayat:54-55-) Al-Qur'an ini, bermacam-macam perumpamaan untuk umat manusia, tetapi manusia adalah makhluk yang gemar berdebat ,menentang kebatilan menegak kemungkaran yakni membantah setia perintah allah; (Ayat:56) Kami tiada mengutus para Rasul selain sebagai pembawa berita gembira serta sebagai pemberi peringatan; (Ayat:57-59) Lalai dan abai terhadap dosa-dosa dan perbuatan buruk di masa lalu bisa menyebabkan kekelaman jiwa dan pengingkaran terhadap hakikat agama.Dia (allah) menghukum mereka akibat segala tindakan mereka tentulah Dia akan menyegerakan Azab untuk mereka; tetapi ada waktu tertentu untuk mereka, ketika takkan mereka dapati pelindung terhadap hal tersebut; dan demikian itu merupakan negeri-negeri yang telah Kami binasakan ketika mereka sedang berbuat zalim,Allah Swt selalu mengedepankan rahmat dan maghfirah-Nya dalam menyikapi hamba-hamba-Nya kecuali terhadap sekelompok golongan yang memang sengaja menolak untuk memperoleh hidayah. (Ayat:60-82)pertemuan antara nabi musa dan nabi khidir berakhir dengan erpisahan dan kata kata nabi kidir ,bahwa tidaklah aku melakukan tindakan-tindakan tersebut menuruti kemauanku sendiri, demikianlah maksud perkara-perkara yang tidak sanggup kamu mengerti " (Ayat:83-99)kisah pertemuan nabi zulkarnain dengan berbagai bangsa yang mana hampir tidak ketahui perbicaraan mereka dan pertemuan antara nabi zulkarnain dengan yakjud dan makjud..,.,., ." (Ayat:100-106) tempat kediaman untuk golongan kafir . (Ayat:107-108)disediakan Surga Firdaus untuk mereka sebagai tempat kesudahan(Ayat:109) jika lautan itu dijadikan tinta untuk berbagai Ketetapan Tuhanku, tentulah samudra itu telah habis,namun kalimat allah tetap tak akan habis(Ayat:110)Pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah orang tersebut memperbuat kebajikan, serta janganlah orang tersebut mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN