Khamis, 6 September 2018

AYAT 62-63

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH HUD''62-63

{قَالُوا يَا صَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَذَا أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ (62) قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَآتَانِي مِنْهُ رَحْمَةً فَمَنْ يَنْصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِنْ عَصَيْتُهُ فَمَا تَزِيدُونَنِي غَيْرَ تَخْسِيرٍ (63) }

Kaum Tsamud berkata: ‘Hai Shalih, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk beribadah kepada apa yang diibadahi oleh bapak-bapak kami, dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.’ (QS. 11:62) Shalih berkata: ‘Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan diberi-Nya aku rahmat (kenabian) dari-Nya, maka siapakah yang akan menolong aku dari (adzab) Allah, jika aku mendurhakai-Nya. Sebab itu kamu tidak menambah apa pun kepadaku selain daripada kerugian. (QS. 11:63)”

(Huud: 62-63) Allah menyebutkan tentang pembicaraan antara Shalih dan kaumnya serta Allah menyebutkan tentang kebodohan dan pembangkangan kaumnya dalam perkataan mereka: qad kunta fiinaa maruwwan qabla Haadzaa (“Sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seseorang di antara kami yang kami harapkan.”) maksudnya kami dulu mengharapkan kamu (sebagai orang yang berakal tajam) sebelum kamu berkata dengan apa yang kamu katakan itu. A tanHaanaa an na’buda maa ya’budu aabaa-unaa (“Apakah kamu melarang kami untuk beribadah kepada apa yang diibadahi oleh bapak-bapak kami?”) Dan apa yang diperbuat oleh pendahulu kami. Wa innanaa lafii syakkim mimmaa tad’uunaa ilaiHi muriib (“Dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.”)

Maksudnya, dalam keraguan yang teramat sangat. Qaala yaa qaumi ara-aitum in kuntu ‘alaa bayyinatim mir rabbii (“Shalih berkata: ‘Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku,”) pada apa yang Allah mengutusku kepadamu sebagai dasar yang meyakinkan dan keterangan yang kuat. Wa aataanii minHu rahmatan famay ya’shurunii minallaaHi in ‘ashaituHu (“Dan diberin-Nya aku rahmat [kenabian] dari-Nya, maka siapakah yang akan menolong aku dari [adzab] Allah jika aku mendurhakai-Nya.”) yaitu jika aku tidak mengajak kalian pada kebenaran dan beribadah kepada Allah saja, maka sekiranya aku meninggalkan-Nya, tentu kamu tidak memberiku manfaat dan tidak menambah apa pun; ghaira takhsiir (“Selain daripada kekurangan.”) Maksudnya, kerugian.


Rabu, 5 September 2018

AYAT 61


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
 SURAH HUD 61''

{وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ (61) }

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Saleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do’a hamba-Nya).”

(Huud: 61). ISI KANDUNGAN AYAT (IBN KATSIR) و (dan) sungguh kami telah mengutus إِلَى ثَمُودَ (Kepada Tsamud) merekalah yang dahulu bertempat tinggal di kota-kota alhajar antara tabuk dan madinah. Mereka adalah generasi setelah aad. Maka Allah mengutus dari mereka أَخَاهُمْ صَالِحًا (saudara mereka Shalih). Dia memerintahkan mereka agar beribadah kepada Allah saja. Untuk itu Ia berkata هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ (Allah telah menciptakan kamu dari bumi (tanah). Maksudnya, Allah memulai penciptaan kalian dari tanah, dari tanah itulah diciptakanNya Adam, bapak kalian وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا (dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya) maksudnya Allah menjadikan kamu sebagai pemakmur, penduduk yang meramaikan bumi dan memanfaatkannya. فَاسْتَغْفِرُوهُ (karena itu mohonlah ampunan kepadaNya) untuk dosa-dosamu yang telah lalu. ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ (kemudian bertaubatlah kepadaNya) pada apa yang akan kamu hadapi. Sesungguhnya Rabbku amat dekat rahmatNya lagi memperkenankan doa hambanya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al_Baqarah 186: “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah: 186).

 PENJELASAN REFERENSI LAIN Maksud dari ayat ini, manusia yang dipercaya oleh Allah sebagai khalifah itu bertugas memakmurkan atau membangun bumi ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh yang menugaskan (Allah). Atas dasar ini dapat dikatakan bahwa tujuan pendidikan dalam Al-Qur’an adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh Allah. Maksud dari manusia sebagai pemakmur bumi adalah; karena manusia itu diciptakan dari tanah yang diambil dari bumi, maka sepatutnya manusia yang bahan utamanya adalah tanah untuk menjaga dan memakmurkannya, sebagai tanda penghargaan atas asal-usul penciptaan mereka. Dengan kekuasaan yang diberikan kepadanya, manusia harus mampu menjaga amanah yang diberikan Allah kepada mereka dalam hal-hal yang menyebabkan bumi itu tetap terjaga dan makmur. Sebaliknya, jika manusia itu dengan kekuasaannya merusak dan menyalah gunakan kekuasaan yang diamanahkan kepadanya, maka secara tidak langsung manusia itu telah menghina asal-usul dari mana mereka diciptakan (tanah).Allah SWT memperhatikan eksistensi manusia di muka bumi, setelah mempeoleh cukup pengetahuan maka Allah SWT menempatkan manusia sebagai eksistensi yang kreatif, sebagaimana termaktub dalam surat Hud ayat 61 “Dan Dia yang menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menugaskan kamu untuk memakmurkan.” Atas dasar surat huud 61 ini, Quraish Shihab menjelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya, guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah. Manusia yang dibina adalah makhluk yang memiliki unsur-unsur material (jasmani) dan immaterial (akal dan jiwa). Pembinaan akalnya menghasilkan ilmu. Pembinaan jiwanya menghasilkan kesucian dan etika, sedangkan pembinaan jasmaninya menghasilkan keterampilan. Dengan penggabungan unsur-unsur tersebut, terciptalah mahluk dwidimensi dalam satu keseimbangan, dunia dan akhirat, ilmu dan iman. Dasar pemikiran di atas tentu saja menuntut umat manusia untuk menempatkan aspek penguasaan ilmu pengetahuan menjadi penting. Pendidikan dalam hal ini, tidak saja menjadi rekomendasi Islam yang bersifat normatif-doktriner, tetapi juga menjadi investasi bagi umat manusia untuk menentukan masa depannya, baik jangka pendek (dunia) maupun jangka panjang (akhirat).

Selasa, 4 September 2018

AYAT 57-60

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK '
SURAH HUD 57-60''
BISMILLAHIRAHMANIRAHIM''
Fa in tawallaw faqad ablaghtukum maaa ursiltu biheee ilaikum; wa yastakhlifu Rabbee qawman ghairakum wa laa tadur roonahoo shai'aa; inna Rabbee 'alaa kulli shai'in Hafeez Wa lammaa jaaa'a amrunaa najainaa Hoodanw wallazeena aamanoo ma'ahoo birahmatim minnaa wa najainaahum min 'azaabin ghaleez Wa tilka 'aad, jahadoo bi Aayaati Rabbihim wa 'asaw Rusulahoo wattaba'ooo amra kulli jabbaarin 'aneed Wa utbi'oo fee haazihid dunyaa la'natanw wa Yawmal Qiyaamah; alaaa inna 'Aadan kafaroo Rabbahum; alaa bu'dal li 'Aadin qawmin Hood (section 5)

Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Rabbku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikit pun. Sesungguhnya Rabbku Mahapemelihara segala sesuatu. (QS. 11:57) Dan tatkala datang adzab Kami, Kami selamatkan Huud dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat dari Kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari adzab yang berat. (QS. 11:58) Dan itulah (kisah) kaum ‘Aad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka, dan mendurhakai para Rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). (QS. 11:59) Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari Kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum ‘Aad itu kafir kepada Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum ‘Aad (mereka adalah) kaum Huud itu. (QS. 11:60)”

 (Huud: 57-60) Huud as. berkata kepada mereka: “Jika kalian berpaling dari risalah yang aku sampaikan kepadamu agar kalian beribadah hanya kepada Allah, Rabb kalian yang tidak ada sekutu bagi-Nya, maka sungguh telah ada bukti (yang memberatkan kalian dengan penyampaianku atas risalah tersebut kepada kalian), yang aku diutus untuk itu. Wa yastakhlifu rabbii qauman ghairakum (“Dan Rabbku akan mengganti [kamu] dengan kaum yang lain [dari] kamu,”) mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak menyekutukan-Nya, dan Allah tidak akan peduli kepadamu karena kamu tidak dapat memberikan bahaya kepada-Nya dengan sebab kekafiranmu, akan tetapi bahaya kekafiranmu itu kembali kepadamu.”) Inna rabbii ‘alaa kulli syai-in hafiidh (“Sesungguhnya Rabbku adalah Mahapemelihara segala sesuatu,”) maksudnya; Saksi dan Pemelihara terhadap ucapan dan perbuatan hamba-hamba-Nya, kemudian Allah membalas ucapan dan perbuatan itu kepada mereka. Jika baik, maka balasannya baik. DanJika buruk, maka balasannya buruk. Wa lammaa jaa-a amrunaa (“Dan tatkala datang adzab Kami,”) yaitu angin yang sangat kencang, lalu akhirnya Allah membinasakan mereka dan Allah menyelamatkan Huud dan pengikut-pengikutnya dari siksa yang sangat keras dengan rahmat-Nya dan dengan kelembutan-Nya. Wa tilka ‘aadun jahaduu bi-aayaati rabbiHim (“Dan itulah [kisah] kaum Aad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka.”) Mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan durhaka kepada para Rasul Allah, karena sesungguhnya barangsiapa yang kafir terhadap seorang Nabi, maka sungguh dia telah kafir kepada seluruh Nabi, karena tidak ada perbedaan di antara mereka dalam kewajiban beriman kepadanya, sedangkan kaum `Aad, mereka kafir terhadap Huud, maka dianggaplah kekafiran mereka itu bagaikan orang yang kafir terhadap semua Rasul. Wattaba’uu amra kulla jabbaarin ‘aniid (“Dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang [kebenaran].”) Mereka meninggalkan (perintah) untuk mengikuti Rasul mereka yang membawa petunjuk dan mereka mengikuti perintah setiap orang yang berkuasa dan keras kepala. Untuk itu, mereka diliputi laknat Allah dan kutukan hamba-hamba-Nya yang mukmin di dunia ini, demikian juga ketika mereka disebut dan dipanggil pada hari Kiamat nanti di atas kepala para saksi; Alaa inna ‘aadan kafaruu rabbaHum (“Ingatlah bahwa sesungguhnya kaum Aad itu kafir kepada Rabb mereka,”) dan ayat seterusnya. As-Suddi berkata: “Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus setelah `Aad, melainkan mereka (kaum `Aad) dilaknat oleh lisan para Nabi itu.”

Isnin, 3 September 2018

AYAT 53-56

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
Hud, ayat 53-56''BISMILLAHIRAHMANIRAHIM''
Qaaloo yaa Hoodu maa ji'tanaa bibaiyinatinw wa maa nahnu bitaarikeee aalihatinaa 'an qawlika wa maa nahnu laka bimu'mineen In naqoolu illa' taraaka ba'du aalihatinaa bisooo'; qaala inneee ushhidul laaha wash hadooo annee bareee'um mimmaa tushrikoon Min doonihee fakeedoonee jamee'an summa laa tunziroon Innee tawakkaltu 'alallaahi Rabbee wa Rabbikum; maa min daaabbatin illaa Huwa aakhizum

  {قَالُوا يَا هُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي آلِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ (53) إِنْ نَقُولُ إِلا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (54) مِنْ دُونِهِ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنْظِرُونِ (55) إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (56) }

Kaum Ad berkata, "Hai Hud kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.” Hud menjawab, "Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian, bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan dari selain-Nya. Sebab itu, jalankanlah tipu daya kalian semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” Allah Swt. menceritakan bahwa mereka mengatakan kalimat berikut kepada nabi mereka: {مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ} kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata.

(Hud: 53) Maksudnya, hujah dan bukti yang membenarkan apa yang kamu akui itu. {وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي آلِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ} dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu. (Hud: 53) Yakni hanya karena perkataanmu, "Tinggalkanlah sembahan-sembahan itu," lalu kami meninggalkan mereka: {وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ} dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu (Hud: 53) Artinya, kami tidak akan membenarkan dan tidak akan mempercayaimu. {إِنْ نَقُولُ إِلا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ} Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu. (Hud: 54) Mereka mengatakan, "Tiadalah dugaan kami terhadapmu melainkan bahwa sebagian dari sembahan kami telah menimpakan penyakit saraf ke dalam otakmu karena kamu telah melarang kami menyembah mereka dan kamu mencela mereka." {قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ مِنْ دُونِهِ} Hud menjawab, "Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah oleh kalian, bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan dari selain-Nya.” (Hud: 54-55) Hud mengatakan, "Sesungguhnya aku berlepas diri dari semua tandingan dan berhala yang kalian ada-adakan itu." {فَكِيدُونِي جَمِيعًا} Sebab itu, jalankanlah tipu daya kamu sekalian terhadapku. (Hud: 55) Yakni oleh kalian dan sembahan-sembahan kalian, jika memang kalian benar. {ثُمَّ لَا تُنْظِرُونِ} Dan janganlah kalian memberi tangguh kepadaku. (Hud: 55) barang sekejap mata pun. *******************

Firman Allah Swt. yang mengatakan: {إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا} Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. (Hud: 56) Maksudnya, semuanya berada di bawah kekuasaan dan keperkasaan-Nya. Dialah Tuhan, Hakim yang seadil-adilnya dan tidak pernah lalim dalam keputusan-Nya; sesungguhnya Dia berada pada jalan yang lurus. Al-Walid ibnu Muslim telah meriwayatkan dari Safwan ibnu Amr, dari Aifa' ibnu Abdul Kala'i sehubungan dengan firman-Nya: Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. (Hud: 56) Aifa' mengatakan bahwa Allah memegang ubun-ubun semua hamba­Nya, lalu Dia mengajari orang mukmin, sehingga terasa bagi orang mukmin bahwa Dia lebih sayang ketimbang seorang ayah kepada anaknya. Lalu Aifa' membacakan firman-Nya: {مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ} apakah yang memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. (Al-Infithar: 6) Dalam jawaban Nabi Hud ini terkandung hujah yang mematahkan dan dalil yang pasti yang menunjukkan kebenaran dari apa yang disampaikannya kepada mereka; juga menunjukkan kebatilan dari apa yang mereka kerjakan, yaitu penyembahan mereka kepada berhala-berhala. Padahal berhala-berhala itu tidak dapat memberikan manfaat, tidak pula dapat mendatangkan mudarat, bahkan berhala-berhala itu adalah benda-benda mati yang tidak dapat mendengar, tidak dapat melihat, tidak dapat melindungi, dan tidak dapat memusuhi. Sesungguhnya yang berhak disembah secara murni dan ikhlas hanyalah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Di tangan kekuasaan-Nyalah kerajaan, dan Dialah yang mengaturnya. Tidak ada sesuatu pun melainkan berada di bawah kepemilikan, pengaruh, dan kekuasaan-Nya; maka tidak ada Tuhan selain Dia, dan tidak ada Rabb selain Dia.

Ahad, 2 September 2018

AYAT 50-52


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
 SURAH HUD 50'52
BISMILLAHIRAHMANNIRRAHIM'
Wa ilaa 'aadin akhaahum Hoodaa; qaala yaa qawmi' budul laaha maa lakum min ilaahin ghairuhooo in antum illaa muftaroon

{وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلا مُفْتَرُونَ (50) يَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي أَفَلا تَعْقِلُونَ (51) وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ (52) } “

Dan kepada kaum ‘Aad (Kami utus) saudara mereka Huud. Ia berkata: ‘Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Ilah selain Allah. Kamu hanyalah mengada-adakan saja. (QS. 11:50) Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?’ (QS. 11:51) Dan (dia berkata): ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabbmu, lalu taubatlah kepada-Nya, niscaya Allah menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan Allah akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.’ (QS. 11:52)”

(Huud: 50-52) Allah berfirman: wa (“Dan”) sungguh telah kami utus: ilaa ‘aadin akhaaHum Huudan (“Kepada kaum Aad [Kami utus] saudara mereka, Huud.”) Supaya memerintahkan mereka beribadah hanya kepada Allah saja, tidak menyekutukan-Nya dan melarang mereka dari beribadah kepada berhala-berhala yang mereka ada-adakan dan memberi nama dengan nama-nama Ilah, memberitahukan kepada mereka bahwa dia (Huud as) tidak meminta dari mereka upah atas nasihat dan penyampaian dari Allah ini, akan tetapi dia hanya mengharapkan pahala dari Allah Ta’ala yang telah menciptakannya. Apakah kamu tidak berfikir; orang yang mengajakmu kepada perbaikan dunia dan akhirat tanpa mengharapkan upah, kemudian dia menyuruh mereka untuk memohon ampunan yang dapat menghapus dosa-dosa yang telah lalu dan bertaubat dari dosa yang sedang mereka hadapi.

Barangsiapa memiliki sifat ini, maka Allah memudahkan kepadanya rizkinya juga menggampangkan urusannya dan memelihara keadaannya. Untuk itu Allah berfirman: yursilis samaa-a ‘alaikum midraaran (“Niscaya Allah menurunkan hujan yang sangat deras atasmu.”) Dalam hadits disebutkan: “Barangsiapa yang senantiasa memohon ampunan, maka Allah menjadikan untuknya dari setiap kesedihan ada kelapangan, dan dari setiap kesempitan ada jalan keluar dan memberinya rizki (dari jalan/jumlah) yang tidak terduga.” (HR. Abu Dawud [No. 1581], Ibnu Majah [No. 3819])

Sabtu, 1 September 2018

AYAT 49

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
 SURAH HUD 49''
BISMILLAHIRAHMANIRAHIM''

{تِلْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ (49) }

 Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

(QS. Huud: 49)DALAM Ayat 46-49 menjelaskan bahwa Allah menegur Nabi Nuh atas perbuatannya mendoakan keselamatan anaknya yang kafir, karena bukan dianggap sebagai anak lagi. Perbuatan tersebut adalah perbuatan jahililah (bodoh terhadap hakikat Allah). Maka Nabi Nuhpun memohon ampun pada Allah atas kesalahan yang dilakukannya. Akhirnya, Nabi Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya diselamatkan dari banjir besar dan diberi keberkahan hidup sampai akhir hayat mereka. Sedangkan yang kafir pada Allah dan kerasulannya, musnah ditelan banjir besar yang Allah rancang dengan ilmu-Nya. Maksudnya,

Kami ajarkan kepadamu tentangnya sebagai wahyu yang Kami turunkan kepadamu: {مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَذَا} tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu se­belum ini. (Hud: 49) Yakni tidaklah kamu —-tidak pula seseorang pun dari kaummu— mengetahui kisah ini sebelumnya, sehingga berkatalah orang-orang yang mendustakanmu, bahwa sesungguhnya kamu telah mempelajarinya dari seseorang. Tidak, bahkan Allah-Iah yang memberitahukannya kepadamu sesuai dengan kejadian yang sebenarnya, seperti juga yang dikisahkan oleh kitab-kitab para nabi sebelum kamu. Maka bersabarlah terhadap pendustaan orang-orang yang mendusta­kanmu dari kalangan kaummu, juga bersabarlah dalam menghadapi gangguan mereka yang menyakitkan terhadap dirimu. Karena sesungguhnya Kami pasti akan memenangkan kamu dan meliputi kamu dengan perhatian Kami, dan Kami jadikan akibat yang terpuji bagimu dan bagi para pengikutmu di dunia dan di akhirat. Perihalnya sama dengan apa yang telah Kami lakukan terhadap para utusan lainnya, Kami menolong mereka dari musuh-musuhnya, Allah berfirman kepada Nabi-Nya: min ambaa-il ghaibi (“Di antara berita-berita penting tentang yang ghaib”) Yakni, sebagian dari kabar-kabar ghaib yang telah lewat, Kami wahyukan kepadamu dengan jelas seolah-olah kamu menyaksikannya,

Kami wahyukan kepadamu, maksudnya Kami mengajarimu dengan kisah itu sebagai wahyu dari Kami kepadamu. Maa kunta ta’lamuHaa anta wa laa qaumuka min qabli Haadzaa (“Tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak [pula] kaummu sebelum ini.”) Maksudnya, kamu dan seorang pun kaummu tidak mengetahui sebelumnya, sehingga orang yang mendustakanmu berkata bahwa kamu mempelajarinya dari dia, akan tetapi Allahlah yang memberi kabar kepadamu dengannya, yang sesuai dengan kenyataan, sebagaimana yang dikabarkan dalam kitab-kitab para Nabi sebelummu, maka bersabarlah atas pendustaan kaummu dan penganiayaan mereka terhadapmu, karena sesungguhnya Kami akan menolongmu dan melindungimu dengan bantuan Kami Dan Kami jadikan kemenangan untukmu dan pengikut-pengikutmu dunia dan akhirat, sebagaimana telah Kami lakukan terhadap para Rasul, yaitu Kami tolong mereka atas musuh-musuh mereka: “Sesungguhnya Kami menolong Rasul-Rasul Kami dan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Mu’min: 57), dan ayat seterusnya. Dan Allah Ta’ala berfirman: fashbir innal ‘aaqibata lil muttaqiin (“Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”)

Jumaat, 31 Ogos 2018

AYAT 48



TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK.,
SURAH HUD 48
BIS'MIL'LAHI'RAHMA'NIRAHIM'
Qeela yaa Noohuh bit bisalaamim minnaa wa barakaatin 'alaika wa 'alaaa umamim mimmam ma'ak; wa umamun sanumatti'uhum summa yamassuhum minaa 'azaabun aleem

{قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (48) }

Difirmankan, "Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami.”

Allah Swt. menceritakan firman-Nya kepada Nuh a.s. ketika bahteranya telah berlabuh di atas Bukit Al-Judi, yaitu ucapan kesejahteraan yang ditujukan kepadanya, kepada orang-orang mukmin yang bersamanya, dan kepada seluruh orang mukmin dari kalangan keturunannya sampai hari kiamat. Seperti yang dikatakan oleh Muhammad ibnu Ka'b, bahwa termasuk ke dalam ucapan sejahtera (salam) ini setiap orang mukmin —baik laki-laki maupun perempuan— sampai hari kiamat nanti. Demikian pula mengenai azab dan kesenangan sementara, ditujukan kepada setiap orang kafir laki-laki dan perempuan sampai hari kiamat nanti.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa ketika Allah bermaksud menghentikan banjir besar, Dia mengirimkan angin ke atas permukaan bumi. Maka air pun berhenti, dan semua sumber air di bumi yang berlimpah lagi besar tertutup, begitu pula semua pintu langit (yakni hujannya). Allah Swt. berfirman: وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ Dan difirmankan, "Hai bumi, telanlah airmu.” (Hud: 44), hingga akhir ayat. Maka air pun mulai berkurang dan menyurut serta mengering. Menurut dugaan Ahli Kitab Taurat, berlabuhnya bahtera Nabi Nuh di atas Bukit Al-Judi adalah pada bulan tujuh tanggal tujuh belasnya. Dan pada permulaan bulan kesepuluh Nuh a.s. melihat puncak-puncak bukit. Setelah berlalu empat puluh hari, Nuh membuka pintu bahteranya, lalu ia mengirimkan burung gagak untuk melihat keadaan air, tetapi burung gagak tidak kembali lagi. Lalu Nuh mengirimkan burung merpati, dan burung merpati itu kembali lagi kepadanya karena tidak menemukan daratan untuk tempat hinggapnya. Maka Nabi Nuh mengulurkan tangannya kepada merpati itu dan menangkapnya, lalu memasukkannya kembali kedalam bahtera. Kemudian berlalulah tujuh hari, dan Nuh kembali mengirimkan burung merpati untuk melihat keadaan daratan. Merpati itu kembali kepadanya pada sore harinya, sedangkan di paruhnya terdapat daun pohon zaitun. Maka Nuh mengetahui bahwa air telah menyurut dari permukaan bumi Nuh tinggal selama tujuh hari lagi, kemudian ia kembali mengirimkan burung merpati itu, dan ternyata burung merpati itu tidak kembali, maka Nuh mengetahui bahwa daratan telah muncul. Setelah genap satu tahun sejak Allah mengirimkan banjir besar hingga Nuh mengirimkan burung merpati dan pada tanggal satu bulan pertama dari tahun berikutnya daratan telah tampak, maka Nuh membuka penutup bahteranya. Dan pada bulan yang kedua dari tahun berikutnya, yaitu pada tanggal dua puluh enamnya: قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلامٍ مِنَّا Difirmankan, "Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera.” (Hud: 48), hingga akhir ayat.

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN