Ahad, 1 Julai 2018

AYAT 97-107


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
SURAH BAQARAH AYAT 97-107
BIS-MIL-LAH-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM'' 97.Qulman – kaana ‘ aduwawal – li –Jibrilla fa –‘innahuu nazzala – huu ‘alaa qalbika bi – ‘iznillaahi musaddiqal – limaa bayna ya – dayhi wa hudanw – wa bushraa lil – Mu' – miniin. 98.Man – kaana ‘aduwwal – lil – laahi wa malaaa – ‘ikatihii wa rusulihi wa Jibriila wa Miikaala fa –‘innal – laaha ‘aduwwul lil – kaafiriin. 99.Wa laqad ‘anzalnaaa ‘ilayka ‘Aayaatim – bayyinaat; wa man yakfuru bihaaa ‘illal – faasiquun. 100.'Awa – kullamaa ‘aahaduu ‘ahdan – nabazahuu fariiqum – minhum? – Bal ‘aksaruhum la yu' – minuun. 101.Wa lammaa jaaa – ‘ahum Rasuulum – min ‘indillaahi mu – saddiqul – limaa ma – ‘ahum nabaza fariiqum – minal – laziina ‘uutul – kitaaba kitaaballaahi waaraaa – ‘a zuhuurihim ka – ‘an – nahum laa ya' – la – muun! 102.Wattaba – ‘uu maa tatlush – shayaati – inu ‘alaa mulki Sulaymaan. Wa maa kafara Sulay – maa – nu wa laakin nash – shayaa – tii – na kafaruu yu – ‘allimuunan – naa – sas – sihir, wa maaa ‘unzila ‘alal – ma – lakayni bi, Baabila Haaruuta – wa Maarut. Wamaa yu – ‘alli maani min ‘ahadin hattaa yaquulaaa ‘innamaa nahnu fitnatun falaa takfur. Fayata – ‘allamuuna minhu – maa maa yufarriquuna bihii baynal – mar – ‘i wa zawjih. Wa maa hum bi – daaar- riina bihii min ‘ahadin ‘illaa bi – ‘iznil – laah. Wa yata –‘alla muuna maa yadurruhum wa laayanfa – ‘uhum. Wa laqad ‘alimuu – lama nishtaraahu maa lahuu fil – ‘Aakhirati min khalaaq. Wa labisa maa sharaw bihiii ‘anfusahum, law kanuu ya' – lamuun. 103.Wa law ‘annahum ‘aamanuu wat – taqaw lamasuubatum – min ‘indillaahi khayr: law kaanuu ya' – lamuun. 104.Yaaa – ‘ayyu – hallaziina ‘aa – manuu laa taquuluu raa – ‘inaa wa quulunzurnaa was – ma – ‘uu. Wa lil – kaafiriiina Aazaabun ‘aliim. 105.Maa Yawaddullaziina kafaruu min ‘Ahlil – Kitaabi walal – Mushrikiina ‘any – yunazzala ‘alaykum – min khayrim mir'Rabbikum. Wallaahu yakhtassu bi – rahmatihii many – yashaaa': wallaahu Zul Fadlil – ‘aziim. 106.Maa nansakh min ‘aa yatin ‘aw nunsihaa na' – ti bi – khayrim minhaaa ‘aw mislihaa: ‘alam ta' – lam ‘anallaaha ‘alaa kulli shay ‘in – Qadiir? 107.‘Alam ta' – lam ‘annallaaha lahuu mulkus – samaawaati wal'ard? Wa maa lakum min duu – nillaahi minw – waliyyinw – walaa nasiir. 

                Katakanlah: “Barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah me-nurunkan (al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.(QS. 2:97) Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka se-sungguhnya Allah adalah musuh orang-orang yang kafir.(QS. 2:98) Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik. (QS. 2:99) Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya, bahkan sebagian besar dari mereka tidak beriman. (QS. 2:100) Dan setelah datang kepada mereka seorang rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah). (QS. 2:101) Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka me-ngatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (me-ngerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu jangan-lah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari se-suatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya sendiri dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (QS. 2:102) Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui. (QS. 2:103) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Nabi Muhammad e): “Raa’ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih. (QS. 2:104) Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturun-kannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Rabb-mu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. 2:105)Ayat mana saja yang kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha-kuasa atas segala sesuatu. (QS. 2:106)Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah. Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong. (QS. 2:107)

           Imam Abu Ja’far bin Jarir ath-Thabari rahimahullahu mengatakan, para ulama tafsir telah sepakat bahwa ayat ini turun sebagai jawaban terhadap per-nyataan orang-orang Yahudi dari kalangan Bani Israil, di mana mereka mengaku bahwa Jibril adalah musuh mereka, sedangkan Mikail sebagai penolong mereka. Sebagian ulama mengemukakan, pengakuan mereka itu berkenaan dengan per-debatan yang terjadi antara mereka dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengenai masalah kenabian beliau. Abu Kuraib memberitahu kami, dari Yunus bin Bukair, dari Ibnu Abbas, ia menceritakan, ada sekelompok orang Yahudi mendatangi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka berkata, “Wahai Abu Qasim, beritahukanlah kepada kami perkara yang kami tanyakan kepadamu, yang tidak diketahui kecuali oleh seorang Nabi.” Lalu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berujar, “Tanyakanlah segala hal yang kalian ke-hendaki, tetapi berjanjilah kepadaku sebagaimana Ya’qub telah mengambil janji dari anak-anaknya. Jika aku memberitahukan kepada kalian dan kalian mengetahui bahwa itu benar, maka kalian harus mengikutiku memeluk Islam.” Mengenai firman Allah Tabaraka wa Ta’ala, Î وَلَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكَ ءَايَاتٍ بَيِّنَاتٍ Ï “Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadmu ayat-ayat yang jelas,” Imam Abu Ja’far bin Jarir mengatakan, artinya Kami (Allah) telah menurunkan ke-padamu, hai Muhammad, beberapa tanda yang sangat jelas yang menunjukkan kenabianmu. Ayat-ayat itu adalah di antara berbagai ilmu orang-orang Yahudi yang tersembunyi bermacam-macam unsur rahasia berita mereka dan berita mengenai para pendahulu mereka dari kalangan Bani Israil, yang semuanya itu terkandung di dalam al-Qur’an. Selain itu, juga berita mengenai hal-hal yang yang dikandung oleh kitab-kitab mereka yang tidak diketahui kecuali oleh para pendeta dan pemuka agama mereka, serta hukum-hukum yang terdapat di dalam kitab Taurat yang diselewengkan dan diubah oleh para pendahulu mereka. Kemudian Allah I memperlihatkan semua itu di dalam kitab (al-Qur’an) yang diturunkan kepada nabi-Nya, Muhammad e. Dalam hal itu terdapat ayat-ayat yang jelas bagi orang yang adil terhadap diri sendiri dan tidak membiarkannya dibinasakan oleh rasa dengki dan sikap melampaui batas. Orang yang memiliki fitrah yang sehat pasti akan membenar-kan ayat-ayat yang jelas yang dibawa oleh nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, yang diperoleh-nya tanpa melalui proses belajar atau mengambil kabar dari seseorang. Sebagaimana yang dikatakan adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas, mengenai firman-Nya, Î وَلَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكَ ءَ ايَاتٍ بَيِّنَاتٍ Ï “Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas,” ia mengatakan, “Engkau yang membacakan dan memberi-tahukannya kepada mereka pada pagi dan petang dan di antara keduanya sedang dalam pandangan mereka, engkau adalah orang yang ummi, yang tidak dapat membaca kitab, tetapi engkau dapat memberitahukan apa yang ada pada mereka dengan tepat. Allah Ta’alamengatakan hal itu kepada mereka sebagai ibrah (pelajaran), bayan (penjelasan), dan menjadi hujjah (bukti) yang memberatkan mereka jika mereka mengetahui.”

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menceritakan, bahwa Ibnu Shuriya al-Quthwaini pernah berkata kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Hai Muhammad, engkau tidak datang kepada kami membawa sesuatu yang kami mengetahuinya. Dan Allah tidak menurunkan suatu ayat yang jelas kepadamu sehingga kami dapat mengikutimu.”Maka berkenaan dengan hal itu Allah menurunkan ayat: Î وَ لَقَدْ أَنزَلْـنَا إِلَيْكَ ءَ ايَاتٍ بَيِّنَاتٍ وَ مَا يَكْفُـرُ بِهَا إِلاَّ الْفَاسِـقُونَ Ï “Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas, dan tidak mengingkarinya kecuali orang-orang fasik.” Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallamdiutus dan beliau mengingatkan orang yang-orang Yahudi dan janji mereka kepada Allah serta perintah-Nya kepada mereka agar beriman kepada nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, Malik bin Shaif berkata, “Demi Allah, Allah tidak memerintah kami untuk beriman kepada Muhammad dan tidak pula (Allah) mengambil janji dari kami (untuk hal itu) “Aku melihat ke alamatnya lalu mencampakkannya, seperti engkau mencampakkan sandalmu yang telah rusak.” Aku (Ibnu Katsir) katakan; Allah Ta’ala mencela kaum Yahudi itu karena mereka telah mencampakkan berbagai perjanjian, yang Dia meminta mereka agar berpegang teguh padanya serta menunaikan hak-hak-Nya. Oleh karena itu pada ayat berikutnya Allah mengungkapkan kedustaan mereka terhadap Rasul yang diutus kepada mereka dan kepada seluruh umat manusia, yang di dalam kitab-kitab mereka sudah tertulis mengenai sifat-sifat dan berita-berita mengenai-nya. Dan melalui kitab-kitab tersebut mereka telah diperintah untuk mengikuti, mendukung, dan menolongnya. Sebagaimana firman-Nya: Î الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ اْلأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَاْلإِنجِيلِ Ï “Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul, dan Nabi yang ummi yang namanya mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.” (QS. Al-A’raf: 157) “Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari termpatnya. Mereka berkata: ‘Kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya.’ Dan (mereka mengatakan pula): ‘Dengarlah,’ padahal sebenarnya kamu tidak mau mendengar apa-apa. Dan mereka mengatakan: ‘Raa’ina,’ dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: ‘Kami mendengar dan patuh. Dengar dan perhatikanlah kami.’ Maka yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Me-reka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.(QS. An-Nisa’: 46) Banyak juga hadits yang menceritakan mengenai diri mereka ini, dikisahkan, jika orang-orang Yahudi itu mengucapkan salam, sebenarnya yang mereka ucapkan adalah: “السَّـامُ عَلَيْكُـمْ” (semoga kematian menimpa kalian). “السَّامُ” berarti kematian. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk membalas salam yang mereka sampaikan dengan mengucapkan: “وَعَلَيْكُمْ” (dan juga atasmu) supaya dengan demikian ucapan kita kepada mereka dikabulkan sedangkan ucapan mereka kepada kita tidak dikabulkan. Maksudnya bahwa Allah Ta’ala melarang orang-orang mukmin menyerupai orang-orang kafir baik dalam ucapan maupun perbuatan, di mana Dia berfirman, Î يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَ امَنُوا لاَ تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ Ï “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengatakan: ‘Raa’ina,’ tetapi katakanlah: ‘Unzhurnaa,’ dan dengarlah. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.” Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Munib, dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhuma, ia menceritakan, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَجَعَلَ رِزْقِى تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِى، وَجُعِلَتِ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي. وَمَنْ تَشَبَّهُ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ. “Aku diutus menjelang kiamat dengan membawa pedang sehingga hanya Allah yang diibadahi yang tiada sekutu bagi-Nya. Rizkiku dijadikan berada di bawah bayang-bayang tombakku. Kehinaan dan kerendahan ditimpakan kepada orang-orang yang menyalahi perintahku. Dan barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”(HR. Ahmad).

Abu Daud juga meriwayatkan dari Utsman bin Abi Syaibah, dari Abu an-Nadhr Hasyim, Ibnu Qasim memberitahu kami, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: وَمَنْ تَشَبَّهُ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari golongan mereka.” (HR. Abu Daud) Hadits tersebut mengandung larangan keras sekaligus ancaman terhadap tindakan menyerupai orang-orang kafir, baik dalam ucapan, perbuatan, pakaian, perayaan hari-hari besar, dan ibadah mereka, maupun hal lainnya yang sama sekali tidak pernah disyari’atkan dan tidak kita akui keberadaannya. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, “Ayahku pernah bercerita kepadaku, ada seseorang yang mendatangi Abdullah Ibnu Mas’ud dan menuturkan, ‘Ajarilah aku.’ Maka Ibnu Mas’ud berujar, ‘Jika engkau mendengar Allah berfirman, Î يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَ امَنُوا Ï ‘Hai orang-orang yang beriman,’maka pasanglah pendengaranmu baik-baik, karena itu adalah suatu kebaikan yang diperintahkan-Nya atau keburukan yang dilarang-Nya.” Mengenai firman Allah Ta’ala, Î مَانَنسَخْ مِنْ ءَ ايَةٍ Ï “Ayat mana saja yang Kami nasakhkan,” Ibnu Abi Thalhah meriwayatkan, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, “Aartinya, yang Kami (Allah) gantikan.” Masih mengenai ayat yang sama, dari Mujahid, Ibnu Juraij meriwayat-kan, Î مَانَنسَخْ مِنْ ءَايَةٍ Ï “Ayat mana saja yang Kami nasakhkan,” maksudnya adalah, Ayat mana saja yang Kami (Allah) hapuskan.” Ibnu Abi Nujaih meriwayatkan dari Mujahid, bahwa ia menuturkan: Î مَانَنسَـخْ مِنْ ءَ ايَةٍ Ï artinya,‘Kami (Allah) biarkan tulisannya, tetapi kami ubah hukumnya.’ Hal itu diriwayatkan dari beberapa sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhu. Î مَانَنسَخْ مِنْ ءَ ايَةٍ Ï, as-Suddi mengatakan, “Nasakh berarti menarik (meng-genggamnya).” Sedangkan Ibnu Abi Hatim mengatakan, Yakni menggenggam dan mengangkatnya, seperti firman-Nya: Î الشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُ إِذَا زَنَيَا فَارْجُمُوْهُمَا الْبَتَّةَ Ï “Orang yang sudah tua, baik laki-laki maupun perempuan yang berzina, maka rajamlah keduanya.” Demikian juga firman-Nya: Î لَوْ كَانَ لإِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ لاَبْتَغَـى لَهُمَا ثَالِثًا Ï “Seandainya Ibnu Adam mem-punyai dua lembah emas, niscaya mereka akan mencari lembah yang ketiga.” Masih berhubungan dengan firman-Nya. Î مَانَنسَخْ مِنْ ءَايَةٍ Ï “Ayat mana saja yang Kami nasakhkan,” Ibnu Jarir mengatakan, Artinya hukum suatu ayat yang Kami (Allah) pindahkan kepada lainnya dan Kami ganti dan ubah, yaitu mengubah yang halal menjadi haram dan yang haram menjadi halal, yang boleh menjadi tidak boleh dan yang tidak boleh menjadi boleh. Dan hal itu tidak terjadi kecuali dalam hal perintah, larangan, keharusan, mutlaq, dan ibahah (kebolehan). Sedangkan ayat-ayat yang berkenaan dengan kisah-kisah tidak mengalami nasikh maupun manshukh.

 Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menceritakan, “Umar bin al-Khaththab t mengatakan, ‘Orang yang terbaik bacaanya di antara kami adalah Ubay dan yang paling ahli hukum adalah Ali, dan kami akan meninggalkan kata-kata Ubay, di mana ia mengatakan, ‘Aku tidak akan me-ninggalkan sesuatu apapun yang aku dengar dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam,’ padahal Allah Ta’ala berfirman, Î مَانَنسَخْ مِنْ ءَ ايَةٍ أَوْ نُنسِهَا Ï “Ayat mana saja yang Kaminasakh,” dan firman-Nya, Î نَأْتِ بِخَيْرٍمِّنْهَآ أَوْمِثْلِهَا Ï “Kami datangkan yang lebih baik darinya atau sepadan dengannya.” Yaitu hal hukum yang berkaitan dengan kepentingan para mukallaf.” Sebagaimana yang dikatakan Ali bin Abi Talhah, dari Ibnu Abbas, mengenai firman-Nya, Î نَأْتِ بِخَيْـرٍمِّنْهَآ أَوْمِثْلِهَـا Ï “Kami datangkan yang lebih baik darinya atau sepadan dengannya,” ia mengatakan, “Yaitu memberi manfaat yang lebih baik bagi kalian dan lebih ringan.” Imam Abu Ja’far bin Jarir rahimahullahu mengatakan, “Penafsiran ayat tersebut adalah sebagai berikut: ‘Hai Muhammad, tidakkah engkau mengetahui bahwa hanya Aku (Allah) pemilik kerajaan dan kekuasaan atas langit dan bumi dan tidak yang lainnya. Di dalamnya Aku putuskan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Ku, dan di sana Aku mengeluarkan perintah dan larangan, dan (juga) menasakh, mengganti, serta merubah hukum-hukum yang Aku berlakukan di tengah-tengah hamba-Ku sesuai kehendak-Ku, jika Aku menghendaki.”

Lebih lanjut Abu Ja’far mengatakan, ayat itu meski diarahkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberitahu keagungan Allah Ta’ala, namun sekaligus hal itu dimaksudkan untuk mendustakan orang-orang Yahudi yang mengingkari nasakh(penghapusan) hukum-hukum Taurat dan menolak kenabian Isa ‘alaihissalam dan Muhammad karena keduanya datang dengan membawa beberapa perubahan dari sisi AllahTa’ala untuk merubah hukum-hukum Taurat. Maka Allah memberitahukan kepada mereka bahwa kerajaan dan kekuasaan atas langit dan bumi ini hanyalah milik-Nya, semua makhluk ini berada di bawah kekuasaan-Nya. Mereka ini harus tunduk dan patuh menjalankan perintah dan menjahui larangan-Nya. Dia mempunyai hak memerintah dan melarang mereka, menasakh, menetapkan, dan membuat segala sesuatu menurut ke-hendak-Nya. Berkenaan dengan hal tersebut penulis (Ibnu Katsir) katakan, Yang membawa orang Yahudi membahas masalah nasakh ini adalah semata-mata karena kekufuran dan keingkarannya terhadap adanya nasakh tersebut. Menurut akal sehat, tidak ada suatu hal pun yang melarang adanya nasakh dalam hukum-hukum Allah Ta’ala, karena Dia dapat memutuskan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, sebagaimana Dia juga dapat berbuat apa saja yang di kehendaki-Nya. Yang demikian itu juga telah terjadi di dalam kitab-kitab dan syari’at-syari’at-Nya yang terdahulu. Misalnya, dahulu Allah Ta’ala membolehkan Nabi Adam mengawinkan putrinya dengan puteranya sendiri, tetapi setelah itu Dia mengharamkan hal itu. Dia juga membolehkan Nabi Nuh setelah keluar dari kapal itu untuk memakan semua jenis hewan, tetapi setelah itu Dia menghapus penghalalan sebagiannya. Selain itu, dulu menikahi dua saudara puteri itu diperbolehkan bagi Israil (Nabi Ya’qub) dan anak-anak-nya, tetapi hal itu diharamkan di dalam syariat Taurat dan kitab-kitab setelahnya, Dia juga pernah menyuruh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menyembelih puteranya, tetapi kemudian Dia menasakhnya sebelum perintah itu dilaksanakan. Allah Ta’ala juga memerintahkan mayoritas Bani Israil untuk membunuh orang-orang di antara mereka yang menyembah anak sapi, lalu Dia menarik kembali perintah pembunuhan tersebut agar tidak memusnahkan mereka. Di samping hal itu, masih banyak lagi hal-hal yang berkenaan dengan masalah itu, orang-orang Yahudi sendiri mengakui dan membenarkannya.

Dan jawaban-jawaban formal yang diberikan berkenaan dengan dalil-dalil ini, tidak dapat memalingkan sasaran maknanya, karena demikian itulah yang dimaksudkan. Dan sebagaimana yang masyhur tertulis di dalam kitab-kitab mereka mengenai kedatangan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan perintah untuk mengikutinya. Hal itu memberikan pengertian yang mengharuskan untuk mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan bahwa suatu amalan tidak akan diterima kecuali yang didahulukan berdasar-kan syariatnya, baik dikatakan bahwa syariat terdahulu itu terbatas sampai pe-ngutusan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka yang demikian itu tidak disebut sebagai nasakh. Hal itu didasarkan pada firman-Nya, Î ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّـيَامَ إِلَـى اللَّيْـلِ Ï “Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa syariat itu bersifat mutlak sedangkan syariat Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menasakhnya. Bagaimanapun adanya, mengikutinya (Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam) merupakan suatu keharusan, karena beliau datang dengan membawa sebuah kitab yang merupakan kitab terakhir dari Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dalam hal ini, Allah Ta’ala menjelaskan dibolehkannya nasakh sebagai bantahan terhadap orang-orang Yahudi -la’natulah ‘alaihim-, di mana Dia ber-firman, Î أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَـى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيـرٌ أَلَمْ تَعْلَـمْ أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّـمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ Ï “Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu? Tidaklah engkau mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah?” Sebagaimana Dia mempunyai kekuasaan tanpa ada yang menandingi-nya, demikian pula hanya Dia yang berhak memutuskan hukum menurut ke-hendak-Nya. Î أَلاَلَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ Ï“Ketahuilah, menciptakan dan memerintah hanya-lah hak Allah.” (QS. Al-A’raaf: 54)

Dan di dalam surat Ali Imran yang mana konteks pembicaraan pada bab awal surat tersebut ditujukan kepada Ahlul Kitab juga terdapat nasakh, yaitu pada firman-Nya: Î كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلاًّ لِّبَنِى إِسْرَاءِيلَ إِلاَّ مَاحَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ Ï “Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil kecuali makanan yang diharamkan oleh Israil (Nabi Ya’qub) untuk dirinya sendiri.”Sebagaimana penafsiran ayat ini akan kami sampaikan pada pembahasan berikutnya. Kaum muslimin secara keseluruhan sepakat membolehkan adanya nasakh dalam hukum-hukum Allah Ta’ala, karena di dalamnya terdapat hikmah yang sangat besar. Dan mereka semua mengakui terjadinya nasakh tersebut. Seorang mufasir, Abu Muslim ash-Ashabahani mengatakan: “Tidak ada nasakh di dalam al-Qur’an.” Pendapat Abu Muslim itu sangat lemah dan patut ditolak. Dan sangat mengada-ada dalam memberikan jawaban berkenaan dengan terjadinya nasakh. Misalnya (pendapat) mengenai masalah iddah seorang wanita yang berjumlah empat bulan sepuluh hari setelah satu tahun. Dia tidak dapat memberikan jawaban yang dapat diterima. Demikian halnya masalah pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah, juga tidak diberikan jawaban sama sekali. Juga penghapusan kewajiban bersabar manghadapi kaum kafir satu lawan sepuluh menjadi satu lawan dua. Dan juga penghapusan (nasakh) kewajiban membayar sedekah sebelum mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan lain-lainnya.Wallahu a’lam.

Sabtu, 30 Jun 2018

AYAT 93-96

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
SURAH BAQARAH 93-96

93.Wa ‘iz ‘akhaznaa Misaaqakum wa rafa' – naa fawqa – kumut –Tuur: Khuzuu maaa ‘aataynaakum bi – quwwatinw – wasma –‘uu . Qaalu sami' – naawa ‘asaynaa: wa ushribuu fii quluubihimul – ‘ijla bi – kufrihi. Qulbi' samaa ya' – murukum – bihiii ‘iimaanukum ‘in – kuntum mu' – miniin. 94.Qul ‘in – kaanat lakumud – Daarul – ‘Aakhiratu ‘indallaahi khaalisatam – min – duunin – naasi fatamannawul – mawta ‘in – kuntum saadiqiin. 95.Wa lany yatamannaw – hu ‘abadam – bimaa qaddamat ‘aydiihim . Wallaahu ‘Aliimum – biz –zaalimiin. 96.Wala – tajidannahum ah' – rasan – naasi ‘alaa hayaah. Wa minallaziina ‘ashrakuu yawaddu ‘ahaduhum law yu' – ammaru ‘alfa sanah: wa maa huwa bi – muzahzihihii minal – ‘azaabi ‘any – yu –‘ammar. Wallaahu Basiirum – bimaa ya' – maluun..

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): ‘Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!’ Mereka menjawab: ‘Kami mendengarkan tapi tidak mentaati.’ Dan telah diresapkan ke dalam bati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: ‘Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika kamu betul beriman (kepada Taurat).’”“(93)Katakanlah: ‘Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, Maka inginilah kematian(mu), jika kamu memang benar.’ (al-Baqarah: 94) Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha mengetahui siapa orang-orang yang aniaya. (al-Baqarah: 95) dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling tamak kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih tamak lagi) dari orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, Padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.”(96)

     Allah merinci kesalahan, pelanggaran janji, kesombongan, dan berpalingnya orang-orang Yahudi dari-Nya sehingga Dia mengangkat gunung Thursina untuk ditimpakan kepada mereka sampai mereka mau menerima perjanjian itu., lalu mereka melanggar perjanjian tersebut. Oleh karena itu: qaaluu sami’naa wa ‘ashainaa (“Mereka berkata kami mendengar tetapi kami tidak mentaati”)
Wa usy-ribuu fii quluubiHimul ‘ijla bikufriHim (“Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka kecintaan kepada anak sapi lantaran kekafiran mereka.”) Berkenaan dengan ayat tersebut, dari Qatadah, Abdur Razaq mengatakan: “Kecintaan mereka kepada anak sapi telah meresap hingga merasuk ke dalam hati mereka.”Hal senada juga dikatakan oleh Abu al-Aliyah dan Rabi’ bin Anas. Imam Ahmad pernah meriwayatkan, dari Abu Darda’, dari Nabi beliau bersabda: “Kecintaanmu pada sesuatu membuatmu buta dan tuli.” (HR Abu Dawud. Didlaifkan oleh syaikh al-Albani dalam Dla’iiful Jaami’ [2688])
       Firman Allah: qul bi’samaa ya’murukum biHii iimaanukum in kuntum mu’miniin (“Katakanlah, amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika kamu benar-benar beriman [kepada Taurat].”) artinya, betapa buruknya kekufuran kalian kepada ayat-ayat Allah dan pengingkaran kalian kepada Nabi, serta kekafiran kalian kepada Muhammad saw., yang telah kalian jadikan pegangan dari dulu hingga sekarang. Itu merupakan dosa kalian yang paling besar dan perkara paling besar/parah yang kalian lakukan karena kekufuran kalian terhadap Nabi dan Rasul penutup, Muhammad saw., yang diutus untuk seluruh umat manusia. Lalu bagaimana kalian mengaku beriman, padahal kalian telah melakukan berbagai perbuatan buruk seperti itu, baik berupa pengingkaran janji, kafir kepada ayat-ayat Allah, maupun penyembahan terhadap anak sapi –selain Allah ?
Muhammad bin Ishak meriwayatkan dari Ibnu Abbas: Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, Muhammad: qul in kaanat lakumud daarul aakhiratu khaalishatam min duunin naasi fatamannawul mauta in kuntum shaadiqiin (“Katakanlah, ‘Jika kamu [menganggap bahwa] kampung akhirat [surge] itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginkanlah kematian[mu], jika kamu memang benar.’”) Maksudnya, “Berdoalah kalian agar ditimpakan kematian terhadap salah satu kelompok yang paling berdusta. Namun mereka menolak ajakan Rasulullah tersebut. Wa lay yatamannauHu abadam bimaa qaddamat aidiiHim. wallaaHu ‘aliimum bidh-dhaalimiin (“Dan sekali-sekali mereka tidak akan menginginkan kematian itu selama-lamannya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka sendiri.

Dan Allah Mahamengetahui siapa orang-orang yang zhalim.”) Artinya, Allah mengetahui segala sesuatu tentang mereka, bahkan pengingkaran mereka terhadap (ajakan Rasul). Seandainya mereka menginginkan kematian itu pada saat Rasulullah mengajaknya niscaya tidak akan ada di muka bumi ini seorang pun dari kaum Yahudi, melainkan akan mati. Dari Ibnu Abbas, adh-Dhahhak meriwayatkan, “fa tamannawul mauta” berarti mohonlah kematian. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Seandainya orang-orang Yahudi itu menginginkan kematian, niscaya mereka akan disambar kematian.” Seluruh sanad ini shahih sampai Ibnu Abbas.

 Demikian itulah penafsiran yang dikemukakan Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat di atas, yaitu ajakan untuk bermubahalah (adu do’a) untuk mengetahui kelompok mana yang berdusta, baik kelompok kaum muslimin ataupun Yahudi. Hal yang sama dinyatakan pula oleh Ibnu Jarir dari Qatadah, Abu al-Aliyah, dan Rabi’ bin Anas semoga Allah merahmati mereka. Ketika orang-orang Yahudi terlaknat itu mengatakan bahwa mereka itu anak Allah dan kekasih-Nya serta mengatakan: “Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi dan Nasrani,” maka mereka diajak bermuhahalah dan mendoakan keburukan kepada salah satu kelompok yang berdusta, baik itu kelompok muslim ataupun kelompok Yahudi. Setelah mereka menolak ajakan tersebut, maka setiap orang mengetahui bahwa mereka itu zhalim, karena jika mereka benar-benar teguh dengan pengakuannya itu, pasti mereka menjadi kelompok yang paling dahulu tampil untuk melakukan mubahalah. Ketika mereka menunda-nunda, maka terungkaplah kebohongan mereka. Peristiwa itu sama dengan peristiwa pada saat Rasulullah mengajak utusan kaum Nasrani Najran untuk bermuhahalah setelah hujjah tegak atas mereka dalam perdebatan, (sementara mereka semakin) sombong dan ingkar, maka Allah Ta’ala berfirman: “Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (QS. Ali Imran: 61)

 Setelah orang-orang Nasrani mendengar ajakan itu, lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Demi Allah, jika kalian bermubahalah dengan Nabi ini, niscaya kalian akan musnah dalam sekejap.” Pada saat itu, mereka langsung cenderung untuk berdamai dan menyerahkan jizyah (pajak) dengan patuh, dalam keadaan hina. Kemudian Abu Ubaidah bin Jarrah diutus sebagai pengawas bagi mereka. Mubahalah ini disebut tamanni (yaitu kalimat “tamannau” [pengharapan/keinginan kematian]), karena kedua belah pihak yang merasa benar ingin agar Allah Ta ala membinasakan kelompok yang batil, apalagi jika merasa mempunyai hujjah untuk menjelaskan kebenaran dan keunggulannya. Dan mubahalah itu dilakukan dalam bentuk memohon kematian, karena kehidupan dunia bagi orang-orang Yahudi sangat mulia dan berharga, sementara mereka mengetahui tempat kembali mereka yang menyeramkan setelah kematian. Oleh karena itu Allah berfirman: Wa lay yatamannauHu abadam bimaa qaddamat aidiiHim. wallaaHu ‘aliimum bidh-dhaalimiina wa latajidannaHum ahrashun naasi ‘alaa hayaatin (“Sekali-kali mereka tidak akan menginginkannya untuk selama-lamanya karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka [sendiri].

Dan Allah Mahamengetahui orang-orang yang berbuat zhalim. Sesungguhnya kamu akan mendapati mereka setamak-tamak manusia kepada kehidupan [di dunia].”) Maksudnya, sepanjang umur mereka, karena mereka tahu bahwa tempat kembali mereka (di akhirat) itu sangat buruk dan kesudahan yang akan mereka alami sangat merugikan. Sebab dunia itu merupakan penjara bagi orang-orang mukmin dan surga bagi orang kafir. Mereka mengangankan seandainya mereka dapat menghindari alam akhirat dengan segala macam cara. Padahal apa yang mereka hindari dan jauhi itu pasti akan mereka alami. Terhadap kehidupan duniawi ini, orang-orang Yahudi itu lebih rakus daripada orang-orang musyrik yang tidak memiliki kitab. Yang demikian itu merupakan ‘athaf khash (penyandaran yang khusus) kepada yang ‘aam (umum). Mengenai firman Allah: wa minal ladziina asy-rakuu (“Bahkan [lebih tamak lagi] dari orang-orang musyrik.”) Diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, “orang-orang non-Arab.” Demikian halnya hadits yang diriwayatkan al-Hakim dalam kitab, al- Mustadrak, dari Sufyan ats-Tsauri, dan ia mengatakan bahwa hadits ini shahih menurut persyaratan al-Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkannya.

Al-Hakim berkata bahwa kedua imam itu bersepakat atas sanad tafsir sahabat ini. Sehubungan dengan firman Allah: wa latajidannaHum ahrashun naasi ‘alaa hayaatin (“Sesungguhnya engkau akan mendapati mereka setamak-tamak manusia kepada kehidupan [di dunia],”) Hasan al-Bashri mengatakan: “Orang munafik itu lebih tamak terhadap kehidupan dunia daripada orang musyrik.” Yawaddu ahaduHum (“Masing-masing orang dari mereka ingin.”) Maksudnya, salah seorang dari kaum Yahudi, seperti yang ditujukan konteks ayat. Sedangkan menurut Abul al-Aliyah: “Adalah salah seorang dari kaum Majusi. Dan ia akan kembali seperti semula, meski diberi umur seribu tahun.” Mengenai firman-Nya: Yawaddu ahaduHum lau yu-‘ammaru alfa sanatin (“Masing-masing orang dari mereka ingin agar diberi umur seribu tahun.”) Mujahid mengatakan, “Perbuatan dosa dijadikan hal yang mereka sukai sepanjang umur.” Dan berkenaan dengan firrnan-Nya: wa maa Huwa bimuzahzihiHii minal ‘adzaabi ay yu-‘ammara (“Pahahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa.”)

Berkata Mujahid bin Ishak dari Muhammad bin Abi Muhammad, dari Sa’id atau Ikrimah, dari Ibnu Abbas: “Maksudnya, umur panjang itu sama sekali tidak akan menyelamatkan mereka dari adzab, karena orang musyrik tidak mengharapkan kebangkitan kembali setelah kematian, tetapi menginginkan umur panjang. Sedangkan orang Yahudi mengetahui kehinaan yang akan mereka terima di akhirat karena mereka menyia-nyiakan ilmu yang mereka miliki.” Berkaitan dengan firman-Nya: wa maa Huwa bimuzahzihiHii minal ‘adzaabi ay yu-‘ammara (“Pahahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa.”) Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas katanya, “yaitu orang-orang yang memusuhi Jibril.” Sedangkan Abu al-Aliyah dan Ibnu Umar mengatakan, “Makna ayat itu adalah umur panjang tidak akan membantu dan menyelamatkan mereka dari adzab.” Mengenai makna ayat ini, Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam mengatakan, “Orang Yahudi itu lebih rakus terhadap kehidupan dunia ini dari pada orang-orang Musyrik, di mana mereka mengharapkan diberikan umur seribu tahun lagi. Namun umur panjang itu tidak akan dapat menyelamatkan mereka dari adzab. Sebagaimana umur panjang yang diberikan kepada Iblis tidak memberikan manfaat sama sekali kepadanya, karena ia kafir.” wallaaHu bashiirum bimaa ya’maluun (“Allah Mahamengetahui apa yang mereka lakukan.”) Maksudnya, Allah mengetahui dan menyaksikan kebaikan dan keburukan yang dikerjakan oleh hamba-hamba-Nya, dan masing-masing akan diberikan balasan sesuai dengan amalannya.

Jumaat, 29 Jun 2018

AYAT 88-92

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH AL-BAQARAH 88-92'
                BIS-MIL-LAH-HIR-RAHMAN-NIR=RAHIM''
88.Wa qaalu quluubunaa ghulf; bal – la – ‘anahumullaahu bi – kufri – him fa – qaliilam maa yu' – minuun. 89.Wa lammaa jaaa – ‘ahum Kitaabum min ‘indillaahi Musaddiqul – limaa ma – ‘ahum wa kaanuu min – qablu yastaftiihuuna ‘alal – laziina kafaruu, – falamamaajaa –‘ahum – maa – ‘arafuu kafaruu bihii fala' natullaahi ‘alal – Kaafiriin. 90.Bi' – sa – mash taraw bihiii ‘an – fusahum ‘any – yakfuruu bi – maaa – anzal – allaahu baghyan ‘ any – yunazzilal – laahu min – fadlihii ‘alaa many – yashaaa ‘u min ‘ibaadih. Fabaaa – ‘uu bi- ghadabin ‘alaa ghadab. Wa lil – kaafi – riinaa Azaabum – muhiin. 91.Wa ‘izaa qiila lahum ‘aaminuu bimaaa ‘anzalal – laaahu qaaluu nu' – minu bimaa ‘un – zila ‘alaynaa wa yak furuuna bimaa waraaa – ‘ahuu wa huwal – Haqqu musaddiqal ‘limaa ma – ‘ahum. Qul falima taqtuluuna ‘ambiyaaa – ‘allaahi min – qabluu ‘inkuntum – mu' – miniin: 92.Wa laqad jaaa – ‘akum – Muusaa bil – Bayyinaati summat – takhaz – tumul – ‘ijla mim – ba' – dihii wa ‘antum zaalimuun.

وَقَالُواْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَل لَّعَنَهُمُ اللَّه بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلاً مَّا يُؤْمِنُونَ وَلَمَّا جَاءهُمْ كِتَابٌ مِّنْ عِندِ اللّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُواْ مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُواْ فَلَمَّا جَاءهُم مَّا عَرَفُواْ كَفَرُواْ بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّه عَلَى الْكَافِرِينَ بِئْسَمَا اشْتَرَوْاْ بِهِ أَنفُسَهُمْ أَن يَكْفُرُواْ بِمَا أنَزَلَ اللّهُ بَغْياً أَن يُنَزِّلُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ عَلَى مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ فَبَآؤُواْ بِغَضَبٍ عَلَى غَضَبٍ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُّهِينٌ وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُواْ بِمَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ نُؤْمِنُ بِمَا أُنزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرونَ بِمَا وَرَاءهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَهُمْ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنبِيَاءَ اللّهِ مِن قَبْلُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ , وَلَقَدْ جَاءكُم مُّوسَى بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِن بَعْدِهِ وَأَنتُمْ ظَالِمُونَ

Dan mereka berkata: “Hati kami tertutup”. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman. (QS. 2:88)Dan setelah datang kepada mereka al-Qur’an dari Allah yang membenar-kan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, lalu mereka ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. (QS. 2:89)Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang yang kafir siksaan yang menghinakan. (QS. 2:90)Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada al-Qur’an yang diturunkan Allah”. Mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. Dan mereka kafir kepada al-Qur’an yang diturun-kan sesudahnya, sedang al-Qur’an itu (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: “Mengapa dahulu kamu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman”. (QS. 2:91) Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zhalim. (QS. 2:92)

 Masih mengenai ayat yang sama, dari Ibnu Abbas, Ali bin Abi Thalhah mengatakan, “Artinya hati mereka itu tidak dapat memahami”. Î بَل لَّعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ Ï “Namun sebenarnya Allah melaknat mereka karena kekafiran mereka.”Artinya, Allah Ta’ala mengusir dan menjauhkan mereka dari segala macam kebaikan. Î فَقَلِيلاً مَّا يُؤْمِنُونَ Ï “Maka sedikit sekali di antara mereka yang beriman.” Qatadah mengatakan, “Artinya, tidak ada dari mereka yang beriman kecuali sedikit sekali.” Para mufassir masih berbeda pendapat mengenai firman Allah Ta’ala, Î فَقَلِيـلاً مَّايُؤْمِنُونَ Ï dan firman-Nya, Î فَلاَ يُؤْمِنُونَ إِلاَّ قَلِيـلاً Ï. Sebagian dari mereka ada yang mengatakan, “Hanya sedikit sekali dari mereka yang beriman.” Tetapi ada juga yang mengartikan, sangat sedikit sekali iman mereka, dengan pengertian, mereka beriman kepada apa yang dibawa oleh Nabi Musa‘alaihissalaam berkenaan dengan hari kebangkitan, pahala, dan adzab, tetapi keimanan mereka itu tidak memberikan manfaat kepada mereka, karena keimanannya itu telah tertutup oleh kekufuran mereka terhadap apa yang dibawa Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam.diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishak dari Qatadah al-Anshari dari beberapa syaikh, katanya kisah ini tentang kami dan juga tentang mereka, yaitu tentang kaum Anshar dan kaum Yahudi yang merupakan tetangga terdekat mereka dengan kisah ini diturunkan. Yaitu: Ïوَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُصَدِّقُُلِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَآءَهُم مَّاعَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ Î “Dan setelah datang kepada mereka al-Qur’an dari sisi Allah yang membenar-kan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir. Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui. Lalu mereka ingkar kepadanya.” Mereka berkata, kami dulu pernah mengalahkan mereka pada zaman Jahiliyah, ketika itu kami masih sebagai orang musyrik, sedang mereka sebagai Ahlul Kitab dan mereka mengatakan, “Sekarang ada seorang nabi yang akan diutus, dan kami akan mengikutinya, lalu bersamanya kami akan memerangi kalian sebagaimana halnya serangan terhadap kaum ‘Aad dan Iram.” Dan ketika Allah Ta’alamengutus Rasul-Nya dari kalangan kaum Quraisy, dan kami mengikutinya, namun mereka (orang-orang Yahudi) pun meng-ingkarinya. Allah Ta’ala berfirman: Î فَلَمَّا جَآءَهُم مَّاعَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ Ï “Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, lalu mereka ingkar kepadanya, maka laknat Allah atas orang-orang kafir.”Abu al-Aliyah mengemukakan, “Allah Shalallahu ‘alaihi wa sallam murka kepada mereka disebabkan karena kekufuran mereka terhadap Injil dan Isa ‘alaihissalam, Kemudian Dia murka kepada mereka karena kekufuran mereka terhadap Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan al-Qur’an.” As-Suddi menuturkan, “Kemurkaan pertama adalah ketika mereka mendapatkan murka dari Allah karena tindakan mereka menyembah anak lembu. Sedangkan kemurkaan kedua adalah karena kufur kepada Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam.” Dan firman-Nya, Î وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابُُ مُّهِينُُ Ï “Dan bagi orang-orang kafir itu adzab yang hina.” Ketika kekufuran mereka itu disebabkan oleh kedurhakaan dan kedengkian, yang timbul akibat sikap sombong, maka mereka pun dibalas dengan kehinaan dan kekerdilan di dunia dan di akhirat. Sebagaimana firman Allah: Î إِنَّ الَّذِيـنَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِـي سَيَدْخُلُونَ جَـهَنَّمَ دَاخِرِيـنَ Ï “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mukmin: 60) Maksudnya mereka akan masuk neraka dalam keadaan terhina, tercela, dan tidak terhormat sama sekali. Imam Ahmad meriwayatkan, dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari NabiShalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: يُحْشَرُ الْمٌتَكَبِّرُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِى صُوَرِ النَّاسِ، يَعْلُوْهُمْ كُلُّ شَيْئٍ مَنَ الصِّغَارِ، حَتَّى يَدْخُلُوْا سِجْنًا فِيَ جَهَنَّمَ يُقَالُ لَهُ بُوْلَسَ، تَعْلُوْهُمْ نَارُ اْلأَنْيَارِ، يُسْقَوْنَ مِنْ طِيْنَةِ اْلخَبَالِ عُصَـارَةِ أَهْلِ النَّارِ. “Pada hari kiamat kelak, orang-orang sombong akan digiring seperti semut kecil dalam bentuk manusia yang diungguli segala sesuatu yang kecil sehingga mereka masuk ke penjara di neraka Jahanam yang disebut Bulas dan di atasnya diliputi api dari segala macam api. Mereka diberi minum dengan (thinatul khabal) cairan (nanah) penghuni neraka.” (HR. Ahmad).Abu Ja’far bin Jarir mengatakan, (makna ayat ini) “Hai Muhammad, jika engkau katakan kepada orang-orang Yahudi dari kalangan Bani Israil, ‘Berimanlah kepada apa yang diturunkan Allah’, dan mereka menjawab, ‘Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami’, maka katakanlah kepada mereka, ‘Jika kalian benar-benar beriman, mengapa kalian membunuh para nabi, wahai orang-orang Yahudi, padahal di dalam kitab yang diturunkan kepada kalian; Allah telah mengharamkan kalian membunuh mereka, bahkan Dia memerintah kalian untuk mengikuti, mentaati, dan membenarkan mereka. Yang demikian itu merupakan pembeberan kebohongan dan celaan kepada mereka atas ucapan mereka, yaitu kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami saja.’”Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, mereka pun berkata, Sungguh jika Rabb kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raaf: 149).

Khamis, 28 Jun 2018

AYAT 84-87

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
SURAH BAQARAH AYAT 84-87
BIS-MIL-LAH-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM'''
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيْثَاقَكُمْ لاَ تَسْفِكُوْنَ دِمَاءَكُمْ وَلاَ تُخْرِجُوْنَ أَنْفُسَكُم مِّنْ دِيَارِكُمْ ثُمَّ أَقْرَرْتُمْ وَ أَنْتُمْ تَشْهَدُوْن-ثُمَّ أَنْتُمْ هَؤُلاَءِ تَقْتُلُوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَ تُخْرِجُوْنَ فَرِيْقاً مِّنْكُمْ مِّنْ دِيَارِهِمْ تَظَاهَرُوْنَ عَلَيْهِمْ بِالْإِثْمِ وَ الْعُدْوَانِ وَ إِنْ يَأتُوْكُمْ أُسَارَى تُفَادُوْهُمْ وَ هُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ إِخْرَاجُهُمْ أَفَتُؤْمِنُوْنَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَ تَكْفُرُوْنَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّوْنَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَ مَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْن-أُولَئِكَ الَّذِيْنَ اشْتَرَوُا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآَخِرَةِ فَلاَ يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلاَ هُمْ يُنْصَرُوْ-وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ ۖ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ ۗ أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَىٰ أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ.

Wa ‘iz ‘akhaznaa Miisaaqakum laa tasfikuuna dimaaa ‘akum wa laa tukhrijuuna ‘anfusakum min – diyaarikum; summa ‘aqrartum wa ‘antum tash – haduun. 85.Summa ‘antum haaa –‘ulaaa – ‘i taq – tuluuna ‘anfusa kum wa tukhrijunna fariiqamminkum – min – diyaarihim; ta– zaaharuuna ‘alayhim – bil – ismil wal – ‘udwaan; wa ‘iny – yatuu – kum ‘usaaraa tufaaduuhum wa huwa muharramun ‘alaykum ikhraajuhum . ‘Afa – tu' – minuu nabiba' – dil – Kitaabi wa takfu–ruuna bi – ba'?: Famaa jazaaa –‘ u many – yaf – ‘alu zalalika minkum ‘illaa khiz – yun fil – ha – yaatid – dunyaa? Wa Yaw – mal Qiyaamati yuradduuna ‘ilaaa ‘ashaddil – ‘azaab. Wa mal – laahu bi – gaafilin ‘ammaa ta' – maluum. 86.‘Ulaaa – ‘ikallazii – nashtara Wul – hayaatad – Dunyaa bil ‘Aa – khirati falaa yukhaffafu ‘an – humul – ‘azaabu wa laa hum yunsaruun . 87.Walaqad ‘aataynaa Muusal – Kitaaba wa qaffaynaa mim – ba' – dihii birrusul wa aaataynaa ‘Iisabna – Maryamal Bayyi – naati wa ‘ayyadnaahu bi – ruu – hil – qudus. ‘Afa – kullamaa jaaa – ‘akum Rasuulum bimaa laa tahwaa ‘ anfusukumus ‘ takbartum? Fa - fariiqan kazzabtum wa fariqan taqtuluun?

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): Kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung balamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhi) sedang kamu mempersaksikannya.” (QS. Al-Baqarah: 84) Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan darimu dari kampung halamannya, kamu bantu-membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakab kamu beriman kepada sebagian dari al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian darimu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada bari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengab dari apa yang kamu perbuat. (QS. Al-Baqarah: 85) Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong. (QS. Al-Baqarah: 86) “Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada ‘Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombongkan diri, maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?” (QS. Al-Baqarah: 87)

    Semua janji dan sumpah yang diikrarkan Bani Israil sebagaimana disebut dalam ayat 83 dan 84 di atas, mereka langgar. Kenyataan sejarah antara dua suku Yahudi di Madinah, yaitu Bani Quraizah dan Bani Nadir selalu berperang. Tetapi jika ada orang Yahudi di antara kedua suku itu tertawan oleh suku lain, misalnya oleh suku Aus sekutu Bani Quraizah atau suku Khazraj sekutu Bani Nadir, mereka bersatu menebusnya. Allah mengecam orang-orang Yahudi pada zaman Rasulullah di Madinah dan apa yang mereka alami karena peperangan dengan kaum Aus dan Khazraj. Kaum Aus dan Khazraj adalah kaum Anshar, yang pada masa Jahiliyah mereka menyembah berhala. Di antara mereka terjadi banyak peperangan, kaum Yahudi Madinah terbagi menjadi tiga kelompok: Bani Qainuqa’ dan Bani Nadhir menjadi sekutu kaum Khazraj, dan Bani Quraidhah yang menjadi sekutu kaum Aus. Apabila perang meletus, masing-masing kelompok bersama sekutunya saling menyerang. Orang Yahudi membantai musuh-musuhnya, bahkan ada orang Yahudi yang membunuh orang Yahudi dari kelompok lain. Padahal menurut ajaran mereka, yang demikian itu merupakan suatu hal yang diharamkan bagi mereka dan telah tertuang di dalam kitab mereka. Kelompok yang satu mengusir kelompok yang lain sambil merampas harta kekayaan dan barang-barang berharga. Kemudian apabila peperangan usai mereka segera melepaskan tawanan kelompok yang kalah sebagai bentuk pengamalan hukum Taurat. Oleh karena itu Allah berfirman: a fa tu’minuuna bi ba’dlil kitaabi wa takfuruuna bi ba’dlin (“Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab [Taurat] dan inkar terhadap sebagian lainnya.”) dan firman-Nya juga: wa idz akhadnaa miitsaaqakum laa tasfikuuna dimaa-akum wa laa tukhrijuuna anfusakum min diyaarikum (“[ingatlah] ketika Kami mengambil janji darimu, yaitu: kalian tidak akan menumpahkan darah [membunuh orang] dan kamu tidak akan mengusir diri kamu dari kampung halaman kamu”). Artinya, sebagian kalian tidak diperbolehkan membunuh sebagian yang lain, tidak boleh juga mengusirnya, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Maka bertaubatlah kepada Rabb yang menjadikanmu dan bunuhlah dirimu. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu di sisi Rabb yang menjadikanmu. ” (QS. Al-Baqarah: 54) Menurut Ibnu Abbas, di antara mukjizatnya itu adalah menghidupkan orang mati, membuat bentuk seekor burung dari tanah lalu ditiupkan padanya roh sehingga benar-benar menjadi burung dengan seizin Allah, menyembuhkan orang sakit, dan mampu memberitahu hal-hal yang bersifat ghaib, dan diperkuat dengan Ruhul Qudus, yaitu jibril as. Semuanya itu merupakan bukti yang menunjukkan kepada mereka kebenaran apa yang dibawa oleh `Isa. Namun meski begitu, Bani Israil semakin gencar mendustakannya. Kedengkian dan keingkaran mereka pun semakin parah, disebabkan mereka menyelisihi sebagian isi Taurat. Sebagaimana firman-Nya tentang `Isa: “Dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu.” (QS. Ali Imraan: 50).

 Hal itu karena pemeluk satu agama adalah seperti satu tubuh, sebagaimana disabdakan Rasulullah “Perumpamaan orang mukmin dalam cinta mencintai, kasih mengasihi, dan sayang menyayangi adalah laksana satu tubuh. Jika salah satu anggotanya sakit, maka seluruh tubuhnya akan merasakan sakit dengan demam dan tidak dapat tidur.” (Muttafaq ‘alaih) Allah telah mencap Bani Israil dengan sifat melampaui batas, ingkar, melanggar perintah, dan sombong terhadap para Nabi. Mereka ini hanya menuruti hawa nafsu. Lalu Allah Ta’ala mengingatkan bahwa Dia telah menurunkan al-Kitab kepada Musa, yaitu Taurat. Tetapi orang-orang Yahudi itu mengubah, menukar, dan melanggar perintah-Nya. Sepeninggal Musa, Allah mengutus para Rasul dan Nabi yang menjalankan hukum berdasarkan syari’at-Nya, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi) yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh Nabi-nabi yang menyerahkan diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. ” (QS. Al-Maa-idah: 44). Ayat 84 – 88 masih terkait dengan pelanggaran Bani Israel terhadap janji-janji mereka dengan Allah. Di antaranya, tidak boleh membunuh manusia dan mengusir orang dari negeri mereka. Janji-janji ini sudah mereka ikrarkan dan saksikan. Faktanya, mereka tetap saja melakukan kejahatan pembunuhan, mengusir sebagian masyarakat dari negeri mereka dan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Perilaku tersebut mencerminkan bahwa hakikatnya mereka beriman hanya kepada sebagian Kitab (Taurat) dan kafir kepada sebagian lain. Ancaman Allah terhadap mereka ialah kehinaan di dunia dan masuk neraka di akhirat. Allah tidak pernah lalai terhadap apa saja yang dilakukan manusia. Perilaku dan sikap yang dibangun dan dikembangkan Bani Israel itu didasari paham dan karakter materialisme yang menggurita pemikiran, hati dan perasaan mereka. Materialisme inilah rahasia di balik perilaku dan sikap keras Bani Israel yang Allah ungkapkan. Materialisme itulah yang menyebabkan Bani Israel menjual akhirat mereka demi mendapatkan kenikmatan duniawi yang tidak seberapa dibandingkan dengan kebaikan akhirat yang Allah janjikan. Sebagai balasannya, Allah sediakan bagi mereka azab yang amat berat di kahirat dan tidak sedikitpun diberikan keringanan dan pertolongan. Sikap kufur lain yang dilakukan Bani Israel ialah menolak dan membunuh setiap Rasul yang diutus Allah kepada mereka yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka. Penyebabnya, sifat sombong yang ada dalam diri mereka dan menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan yang mereka taati.

Rabu, 27 Jun 2018

AYAT 80-83


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
 SURAH BAQARAH AYAT 80-83
BIS-MIL-LSH-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM''

 وَقَالُوْا لَن تَمَسَّنَا النَّارُ إِلاَّ أَيَّاماً مَّعْدُوْدَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُوْلُوْنَ عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُوْن (80) Dan mereka berkata : Sekali­kali tidak kami akan disentuh oleh api-neraka kecuali berbilang hari saja. Katakanlah : Apakah kamu telah membuat janji di sisi Allah ? (Kalau demikian). Maka tidaklah Allah akan memungkiri janji­Nya, atau apakah kamu meng­atakan terhadap Allah barang yang tidak kamu ketahui ?  \

بَلَى مَن كَسَبَ سَيِّئَةً وَ أَحَاطَتْ بِهِ خَطِيْئَتُهُ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ (81) Tidak begitu ! Barangsiapa yang berusaha jahat, sedang dosanya telah meliputinya, maka mereka itu adalah penghuni neraka, mereka akan kekal di dalamnya

. وَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ عَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ (82) Dan orang-orang yang beriman dan beramal yang shalih ­shalih , mereka itu adalah penghuni syurga; merekapun akan kekal di dalamnya. وَ إِذْ أَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ لاَ تَعْبُدُوْنَ إِلاَّ اللهَ وَ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَ ذِي الْقُرْبَى وَ الْيَتَامَى وَ الْمَسَاكِيْن وَ قُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْناً وَ أَقِيْمُوا

 الصَّلاَةََ وَ آتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلاَّ قَلِيْلاً مِّنكُمْ وَ أَنْتُمْ مِّعْرِضُوْن (83) Dan (ingatlah) tatkala Kami membuat janji dengan Bani Israil, supaya jangan mereka menyembah melainkaii kepada Allah, dan terhadap kedua ibu ­bapak hendaklah berbuat balk, dan (juga) kepada keluarga yang hampir, dan anak-anak yatim dan orang ­orang miskin , dan hendaklah mengucapkan perkataan yang baik kepada manusia, dan dirikanlah sembahyang dan keluarkanlah zakat. Kemudian , berpaling kamu , kecuali sedikit, padahal kamu tidak memperdulikan.

 ayat 80). Mereka merasa demikian istimewa di sisi Tuhan. Kalau mereka dimasukkan ke neraka esok, hanya sebentar saja. Kata yang setengah kalau dimasukkan ke neraka orang Bani Israil, hanya selama empat puluh hari saja, yaitu selama mereka menyembah berhala anak-sapi, seketika ditinggalkan oleh Nabi Musa empat puluh hari. Demikian riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Jarir.

Dan satu riwayat lagi dibawakan oleh Ibnu Jarir juga, dan Ibnu Ishaq , dan Ibnul Mundzir dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas, bahwa: menurut kepercayaan orang Yahudi umur dunia kita ini adalah 7.000 tahun. Maka mana yang berdosa di antara mereka akan diazab dalam neraka sehari dalam 1.000 tahun. Menjadi hanya tujuh hari saja mereka di neraka, kemudian dikeluarkan dan dipindahkan ke surga. Menurut Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Bukhari, seketika memerangi Khaibar, benteng pertahanan orang Yahudi yang terakhir, Nabi s. a. w menanyakan kepada mereka, siapa ahli neraka ? Mereka menjawab bahwa kami hanya akan masuk neraka sebentar, sesudah itu keluar. Inilah menurut setengah riwayat asal turunnya ayat ini. ayat 81). Keadilan dan hukum Ilahi berlaku buat semua orang Di sini disebut dua hal yang menyebabkan kekal di neraka. Pertama kejahatan sudah menjadi usaha, kedua kesalahan itu sudah mengepung dan meliputi diri. Tidak ada kekerasan hati lagi buat membebaskan diri dari kepungan kejahatan. Dan puncak dari segala kejahatan ialah mempersekutukan Tuhan dengan yang lain. Segala dosa pangkalnya ialah karena mempersekutukan Tuhan. Di antaranya ialah dengan mempersekutukan Tuhan dengan hawa-nafsu dan dengan setan. ayat 82). Tidak pandang apakah dia Yahudi, atau Nasrani atau Islam sebagai yang telah diterangkan pada ayat 62 yang 1alu. Dapatkah agaknya kita kaum Muslimin tertegun sejenak memikirkan ayat ini ? Yang sebab turunnya ialah Bani Israil di Madinah, tetapi ayatnya telah terlukis tetap di dalam al-Qur'an ? Siapa yang membaca ayat ini sekarang , apakah kita atau Bani Israil ? Bagaimana orang yang mengaku dirinya Islam atau keturunan Islam, tetapi seluruh usaha hidupnya dipengaruhi oleh nafsu-nafsu jahat ? Dan dia tidak lagi dapat memmbebaskan diri dari kepungan dosa ? Bagaimana dengan orang yang berkeyakinan apabila dia membaca Qul-Huallahu-Ahad 1.000 kali atau membaca syahadat 10.000 kali, atau membaca Surat Yasin malam Jum'at atau membaca Ayat Kursi seketika akan tidur, dijamin pasti masuk surga ? Allah berfirman sambil memerintahkan Rasul-Nya, Muhammad saw.: fa ir raja’akallaaHu (“Maka jika Allah mengembalikanmu.”) Maksudnya, Allah mengembalikanmu dari peperanganmu ini.”) ilaa thaa-ifatim minHum (“Kepada suatu golongan dari mereka.”) Qatadah mengatakan: “Disebutkan kepada kami, bahwa mereka berjumlah dua belas orang.” Fasta’dzanuuka lil khuruuji (“Kemudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar.”) Yaitu pergi berperang bersamamu dalam peperangan yang lain. Fa qul lan takhrujuu ma’iya abadaw walan tuqaatiluu ma’iya ‘aduwwan (“Maka katakanlah: ‘Kalian tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku.’”) Yang demikian itu sebagai hukuman dan siksaan bagi mereka. Kemudian hal itu dijelaskan melalui firman-Nya: innakum radliitum bil qu’uudi awwala marratin (“Sesungguhnya kalian telah rela [untuk] tidak pergi berperang [pada] kali yang pertama.”) Yang, demikian itu adalah sama seperti firman-Nya yang artinya berikut ini: “Dan orang-orang Badui yang tertinggal itu akan berkata, ‘Apabila kalian berangkat untuk mengambil barang rampasan.’” (QS. Al-Fath: 15) Firman-Nya: faq’uduu ma’al khaalifiin (“Karena itu duduklah [tinggallah] bersama orang-orang yang tidak ikut berperang.”) Ibnu `Abbas mengatakan: “Yaitu (bersama) orang-orang yang tidak mau mengikuti berbagai macam peperangan.”

AYAT 78-79

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
Tafsir Surah Al-Baqarah
 Ayat 78-79
Bahagian 4(Memakan Hasil Dari Riba Menempah Kecelakaan)

 أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ {وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَظُنُّونَ (78) فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ (79) }

Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al-Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya, "Ini dari Allah," (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka karena apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka karena apa yang mereka kerjakan.

Ad-Dahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas ketika menafsirkan ayat ini , “kecelakaan bagi mereka karena apa yang mereka tulis dengan tangan mereka sendiri berupa kedustaan, kebohongan, serta kepalsuan.Kecelakaan juga bagi mereka karena apa yang biasa mereka makan melalui hasil riba.” Kalimah "Fawailul lahum" bahwa azab menimpa mereka yang menulis kedustaan tersebut dengan tangan mereka. Kalimah "Wawailul lahum mimma yaksibun", dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka disebabkan apa yang mereka lakukan Menurut Ibnu Jarir, pendapat yang lebih mirip kepada kebenaran ialah apa yang telah dikemukakan oleh Ad-Dahhak,

dari Ibnu Abbas tadi. Mujahid mengatakan, sesungguhnya orang-orang ummi itu ialah kaum yang disebutkan ciri-cirinya oleh Allah Swt., bahwa mereka ti­dak sedikit pun memahami kitab yang telah diturunkan oleh Allah ke­pada Nabi Musa, tetapi mereka membuat-buat kedustaan dan kebatil­an serta kedustaan dan kepalsuan. Dengan demikian, berarti makna tamanni dalam ayat ini ialah membuat-buat kedustaan dan kepalsuan. Termasuk ke dalam pengertian ini, ada sebuah riwayat yang bersum­ber dari sahabat Ugman ibnu Affan La. Disebutkan bahwa ia pernah mengatakan, "Aku tidak pernah bersyair, tidak pernah pula membuat kebatilan, serta aku tidak pernah membuat kedustaan." Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan makna illaa amaa niyya —dibaca dengan tasydid dan takhfif ialah illaa tilawatan— ha­nyalah bacaan belaka. Berdasarkan pengertian ini, berarti istiSna yang ada bersifat munqati' .

Para pendukung pendapat ini memperkuat pen­dapatnya berdalil kepada firman Allah Swt. yang mengatakan, "Me­lainkan apabila ia hendak membaca, maka setan pun memasukkan go­daan-godaan terhadap bacaannya itu," hingga akhir ayat 52 surat Al-Hajj (menurut orang yang mengartikan tamanna dengan makna tala, yakni membaca). Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Amr ibnul Hari§, dari Darij, dari Abul Haigam, dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a., dari Rasulullah Saw. yang pernah bersabda: Wail adalah sebuah lembah di dalam neraka Jahannam, orang kafir dicampakkan ke dalamnya selama empat puluh tahun se­belum mencapai dasarnya. Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Turmuii, dari Abdur Rahman ibnu Humaid, dari Al-Hasan ibnu Musa, dari Ibnu Luhai'ah, dari Darij dengan lafaz yang sama. Imam Turmuii mengatakan bahwa ha­dis ini garib, kami tidak mengenalnya kecuali hanya melalui hadis Ibnu Luhai'ah. Menurut kami, hadis ini —seperti yang Anda lihat— tidak hanya diketengahkan oleh Ibnu Luhai'ah, dan ternyata musibahnya menim­pa orang-orang sesudahnya, mengingat penilaian marfu' hadis ini me­rupakan hal yang munkar (diingkari) Ibnu Jarir meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Al Mutsana, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Abdus Sa­lam telah menceritakan kepada kami Saleh Al-Qusyairi, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Jarir, dari Hammad ibnu Salamah, dari Abdul Hamid ibnu Ja'far, dari Kinanah Al-Adawi, dari Utsman ibnu Affan r.a dari Rasulullah Saw. sehubungan dengan makna firman‑Nya: Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka karena apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka karena apa yang mereka kerjakan. (Al-Baqarah: 79)

Selasa, 26 Jun 2018

AYAT 74-77

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH AL-BAQARAH 74-77
BIS-MIL-LAH-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM''

              74.Summa qasat quluubukum – mimba' – di zaalika fahiya kal – hijaarati ‘aw ‘ashaddu qaswah. Wa 'inna minal-hijaarati lamaa yatafajjaru minhul-'anhaar; Wa inna minhaa la – maa yash- shaqqaqu fa – yakhruju – minhul – maaa' Wa ‘inna minhaa lamaa yahbitu min khash – yatil – laah. Wa mallaahu bi – ghaafilin ‘ammaa ta' maluun. 75.‘Afa – tatma – ‘uuna ‘any – yu' – minuu lakum wa qad kaana fariiqum – minhum yasma – ‘ uuna Kalaamallahi summa yuharrifuunahuu mim – ba' – di maa ‘aqaluuhu wa hum ya' lamuun? 76.Wa ‘izaa laqullaziina ‘aa – manuu qaluuu ‘aamannaa: wa ‘izaa khalaa ba' – duhum ‘ilaa ba' din – qaaluuu ‘atuhaddi – suunahum – bimaa fatahalllaahu ‘alaykum li – yuhaaaj- juukum bihii ‘inda Rab – bikum? ‘Afalaa ta'qiluun? 77.‘ Awalaa ya' – lamuuna an – nallaaha ya' – lamu maa yusir – runna wa maa yu' linuun?

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَا بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ قَالُوا أَتُحَدِّثُونَهُم بِمَا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَاجُّوكُم بِهِ عِندَ رَبِّكُمْ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ Artinya:
                         “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh; karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. 2:74)“75. Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, Padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (al-Baqarah: 75) 76. dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata:” Kamipun telah beriman,” tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: “Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu mengerti?” (al-Baqarah: 76) 77. tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan?” (al-Baqarah: 77)
             Ibnu Abi Najih meriwayatkan dari, Mujahid katanya, setiap batu yang memancarkan air atau terbelah karena terpaan air atau yang meluncur dari puncak gunung, adalah karena takut kepada Allah . Hal itu dinyatakan al-Qur’an, “Dan Allah sekali-kali tidak akan lengah dari apa yang kamu kerjakan.” Ar-Razi’, al-Qurthubi, dan imam-imam lainnya mengatakan..Dalam hadits shahih disebutkan: “Inilah gunung yang mencintai kami dan kami pun mencintainya.” Dan seperti kisah mutawatir tentang ratapan batang pohon kurma, dan disebutkan dalam Shahih Muslim, hadits: “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Makkah yang mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus, dan sesungguhnya sekarang aku mengetahuinya.” (HR. Muslim). Kisah atau hadits Mutawatir: “Kisah atau hadits yang diriwayatkan oleh banyak perawi, yang mereka mustahil bersepakat dalam dusta. Dan wajib mempercayainya.”-pent.

                       Demikian juga mengenai sifat Hajar Aswad, bahwasannya ia akan memberi kesaksian bagi yang menyalaminya dengan benar pada hari kiamat kelak. Dan lain sebagainya yang semakna dengan hal itu. Misalnya, dalam penjelasannya. Yaitu dengan hal ini atau dengan hal lainnya.-pent.Menurut Ibnu Abbas, al-Wail ini berarti suatu siksaan yang sangat memberatkan. Dan menurut al-Khalil bin Ahmad, al-wail berarti puncak kejahatan. Al-Qurthubi menyampaikan sebuah pendapat yang menyatakan: “Bahwa hal itu dimaksudkanIbnu Jarir mengatakan, sebagian ulama lainnya berpendapat, kata “au” dalam ayat di atas bermakna “bal” (bahkan). Maka pengertiannya: “Hati kamu itu menjadi keras seperti batu bahkan lebih keras lagi.” untuk takhyir (memberikan pilihan), artinya, pemisahan untuk (hal) ini, (hal) ini atau hal (ini).Muhammad bin Ishak dari Ibnu Abbas mengatakan Mengenai firman-Nya: wa idzaa laqulladziina aamanuu qaaluu aamannaa (“Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: ‘Kami telah beriman.”‘) Ini artinya bahwa sahabat kalian itu adalah Rasulullah, namun ia khusus (diutus) kepada kalian saja.” Dan apabila mereka berada sesama mereka saja, maka mereka (orang Yahudi) berkata, “Jangan kalian beritahukan hal ini kepada masyarakat Arab. Karena sebelumnya kalian menyatakan akan menaklukkan mereka dengan dukungan Rasul ini, tetapi ternyata dia itu berasal dari mereka.”

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN