Sabtu, 12 Mei 2018

AYAT 8-10

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
SURAH AL-JIN AYAT  8-19
BIS-MIL-LAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM

8. wa-annaa lamasnaa alssamaa-a fawajadnaahaa muli-at harasan syadiidan wasyuhubaan 9. wa-annaa kunnaa naq’udu minhaa maqaa’ida lilssam’i faman yastami’i al-aana yajid lahu syihaaban rashadaan 10. wa-annaa laa nadrii asyarrun uriida biman fii al-ardhi am araada bihim rabbuhum rasyadaan

 إِنَّهُ عَلَى رَجْعِهِ لَقَادِرٌ (8) يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ (9) فَمَا لَهُ مِنْ قُوَّةٍ وَلَا نَاصِرٍ (10)

 dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka. Syuhub adalah jama’ syihaab yang artinya panah api atau meteor.

Mereka dilimpari syuhub ketika hendak mencuri berita dari langit.Yang dimaksud dengan sekarang, ialah waktu setelah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam diutus menjadi rasul.SEBAGAI MANA FIRMAN ALLAH DALAM AYAT LAIN BERBUNYI,.,."Sesungguhnya Aku telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Aku telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang (nya), () Aku menjaganya dari setiap syaitan yang terkutuk, () kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang. "(Surah Al-Hijr: 16 - 18).Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. (Surah Al-Mulk: 5)Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu,

Nabi shallallahu' alaihi wa sallam bersabda, إذا قضى الله الأمر في السماء ضربت الملائكة بأجنحتها خضعانا لقوله كأنه سلسلة على صفوان, فإذا فزع عن قلوبهم قالوا ماذا قال ربكم? قالوا للذي قال: الحق وهو العلي الكبير. فيسمعها مسترق السمع ومسترق السمع هكذا بعضه فوق بعض, فيسمع الكلمة فيلقيها إلى من تحته ثم يلقيها الآخر إلى من تحته حتى يلقيها على لسان الساحر أو الكاهن, فربما أدرك الشهاب قبل أن يلقيها وربما ألقاها قبل أن يدركه, فيكذب معها مائة كذبة, فيقال أليس قد قال لنا يوم كذا وكذا كذا وكذا? فيصدق بتلك الكلمة التي سمع من السماء "

Apabila Allah menetapkan suatu ketetapan di langit, maka para malaikat mengepakkan sayap mereka kerana tunduk terhadap firman-Nya, seperti layaknya suara rantai yang digesek di atas batu. Setelah rasa takut itu dicabut dari hati para malaikat, mereka bertanya-tanya: 'Apa yang telah difirmankan oleh Tuhan kamu?' Malaikat yang mendengar menjawab, 'Dia berfirman yang benar. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar. 'Bisikan malaikat ini didengar oleh jin pencuri berita. Pencuri berita modusnya dengan 'pundi-pundian' (jin yang bawah menjadi penyokong bagi jin yang di atasnya, bertingkat terus ke atas). Jin yang paling atas mendengar ucapan malaikat, kemudian disampaikan kepada jin bawahnya, dan seterusnya, hingga jin yang paling bawah menyampaikannya kepada tukang sihir atau dukun. Kadang-kadang mereka mendapat panah api sebelum dia sampaikan kepada dukun, dan kadang-kadang berjaya disampaikan sebelum terkena panah api. Kemudian dicampur dengan 100 tuduhan. (Sehingga ada 1 yang benar). Orang mengatakan, bukankah pak dukun telah mengatakan demikian dan dia benar? Akhirnya sang dukun dibenarkan dengan satu kalimat yang benar yang dicuri dari langit. (HR. Bukhari 4800).

Bintang jatuh / hujan meteor yang dilemparkan dari langit, tidak menutup kemungkinan masuk ke atmosfera bumi, setelah digunakan untuk melempar dan merejam syaitan. Dan kadang-kadang sampai turun di bumi, hingga menimbulkan tumbukan keras. Dan kejadian ini secara umum, sesuai dengan penjelasan syariat. (Fatwa Islam, no. 180866) Dari sini mereka mengetahui, bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala hendak mengadakan sesuatu yang besar di bumi; entah sesuatu itu baik atau buruk, sebagaimana yang diterangkan dalam ayat selanjutnya,Yakni ini (keburukan) atau itu (kebaikan) yang akan terjadi. Hal itu, karena mereka melihat keadaan yang telah berubah yang mereka ingkari, maka mereka mengetahui dengan kecerdasan mereka bahwa perkara ini (kebaikan) adalah yang Allah inginkan untuk penduduk bumi. Dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang adab mereka, karena mereka sandarkan kebaikan kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan terhadap keburukan, mereka hilangkan fa’ilnya/pelakunya karena beradab terhadap Allah Subhaanahu wa Ta'aala..sebagai mana

PENJELASAN BEBERAPA AYAT DAN HADIS TENTANG HAK HAK JIN DAN MANUSIA KETIKA BERADA DIATAS MUKA BUMI MILIK ALLAH SAWT,. Islam menjaga hak alam. Islam menjaga hak makhluk-makhluk selain dari manusia seperti jin. Jangan kita terkejut. Seperti mana Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menegur sahabat, لَا تَسْتَنْجُوا بِالرَّوْثِ وَلَا بِالْعِظَامِ فَإِنَّهُ زَادُ إِخْوَانِكُمْ مِنْ الْجِنِّ “Janganlah kalian beristinja dengan menggunakan kotoran haiwan dan tulang, kerana sesungguhnya ia adalah makanan saudara kalian dari bangsa jin.” (Riwayat Abu Daud, At-Tirmizi, dan An-Nasa-i) Hak bagi kaum jin pun dijaga, hak haiwan juga dijaga di dalam Islam. Sangat dijaga adab dan etika dalam sembelihan. Sehingga Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah menegur seorang sahabat di mana sahabat ini mengasah pisaunya di hadapan kambing yang hendak disembelihnya. Nabi bersabda, أَتُرِيْدُ أَنْ تَمِيْتَهَا مَوْتَات هَلاَ حَدَدْتَ شَفْرَتَكَ قَبْلَ أَنْ تَضْجَعَهَا “Apakah kamu hendak mematikannya dengan beberapa kali kematian?! Hendaklah pisaumu sudah diasah sebelum engkau membaringkannya.” (riwayat Al-Hakim) Bahkan di dalam hadis lain Baginda shallallaahu’alaihi wasallam menyebut, إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ “Sesungguhnya Allah menetapkan sifat ihsan terhadap segala sesuatu. Apabila membunuh, maka bunuhlah dengan ihsan. Apabila menyembelih, maka sembelihlah dengan ihsan. Hendaklah kalian menajamkan pisaunya dan senangkanlah haiwan yang akan disembelih.” (Riwayat Muslim)

AYAT 3-7

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK;
AYAT 3-9 SURAH AL-JIN ,.

BIS-MIL-LAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM'
3. wa-annahu ta’aalaa jaddu rabbinaa maa ittakhadza shaahibatan walaa waladaan 4. wa-annahu kaana yaquulu safiihunaa ‘alaa allaahi syathathaan 5. wa-annaa zhanannaa an lan taquula al-insu waaljinnu ‘alaa allaahi kadzibaan 6. wa-annahu kaana rijaalun mina al-insi ya’uudzuuna birijaalin mina aljinni fazaaduuhum rahaqaan 7. wa-annahum zhannuu kamaa zhanantum an lan yab’atsa allaahu ahadaan

 (3). وَأَنَّهُ تَعَالَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak.(4). وَأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى الَّهِ شَطَطًا Dan bahwasanya: orang yang kurang akal daripada kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah,(5). وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ تَقُولَ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى الَّهِ كَذِبًا dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.(6). وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.(7). وَأَنَّهُمْ ظَنُّوا كَمَا ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَبْعَثَ الَّهُ أَحَدًا Dan sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kamu (orang-orang kafir Mekah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul) pun,

      Ayat 1-7: Berita tentang sebagian jin yang mendengarkan Al Qur’an, lalu mereka tersentuh olehnya dan beriman serta mengagungkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, dan ajakan mereka kepada kaumnya untuk beriman kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
            [1] Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu Abbas ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah pergi bersama beberapa orang para sahabatnya menuju pasar ‘Ukazh. Sedangkan para setan telah dihalangi mendengarkan berita dari langit; mereka telah dilempari panah api sehingga mereka kembali (tidak jadi mencuri berita), dan (setan-setan) yang lain berkata, “Ada apa dengan kamu?” Mereka menjawab, “Kami telah dihalangi mendapatkan berita dari langit dan telah dihujani panah-panah api.” Lalu (setan-setan yang lain itu) mengatakan, “Tidaklah keadaannya demikian kecuali karena ada sesuatu yang terjadi. Oleh karena itu, lakukanlah perjalanan di bagian timur bumi dan bagian baratnya, kemudian lihatlah apa yang sedang terjadi.” Maka mereka (para setan itu) pergi ke bagian timur bumi dan bagian baratnya untuk melihat kejadian apa yang menghalangi mereka untuk mendengarkan berita dari langit. Sedangkan para setan yang pergi menuju Tihamah pergi mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di Nakhlah ketika Beliau sedang dalam perjalanan menuju pasar ‘Ukazh dan shalat Subuh dengan para sahabatnya. Ketika mereka mendengarkan Al Qur’an, maka mereka memperhatikannya dengan seksama dan berkata, “Inilah yang menghalangi kamu mendengar berita dari langit.” Ketika itulah mereka kembali ke kaum mereka dan berkata, “Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al Qur’an),-- (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami,” Dan Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat kepada Nabi-Nya, “Katakanlah (Muhammad), "Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (bacaan Al Quran),…dst.”
       (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Jarir, Hakim, Baihaqi dan Abu Nu’aim dalam Al Hilyah). [2] Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menghadapkan mereka (sekumpulan jin) kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mendengarkan ayat-ayat-Nya agar hujjah tegak terhadap mereka, nikmat menjadi sempurna dan mereka menjadi pemberi peringatan terhadap kaum mereka. Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menceritakan berita ini kepada manusia, dimana ketika mereka (sekumpulan jin) tiba di dekat Beliau, mereka berkata kepada sesama mereka, “Diamlah.” setelah mereka semua terdiam, mereka mendengarnya dan memahami maknanya, dan hakikatnya pun sampai ke hati mereka. [3] Yakni yang menunjukkan kepada segala yang bermaslahat bagi manusia baik bagi agama maupun dunia mereka. Inilah arti Ar Rusyd. [4] Setelah ini. Mereka menggabung antara ‘beriman’ yang masuk ke dalamnya semua amal baik, dan antara bertakwa yang mengandung arti meninggalkan keburukan. Sebab yang mendorong mereka beriman dan melakukan pengiringnya adalah apa yang mereka ketahui dari pengarahan Al Qur’an, kandungannya yang terdiri dari maslahat, faedah dan menjauhi bahaya. Hal itu, karena Al Qur’an adalah ayat yang agung, hujjah yang qath’i bagi orang yang mengambil sinar darinya dan mengambil petunjuk darinya. Itulah iman yang bermanfaat yang membuahkan segala kebaikan yang dibangun di atas petunjuk Al Qur’an, berbeda dengan iman karena ikut-ikutan yang berada dalam bahaya syubhat dan berbagai aral yang melintang. [5] Dari apa yang dinisbatkan kepada-Nya. [6] Mereka mengetahui dari keagungan Allah dan kebesaran-Nya, batilnya orang yang mengatakan bahwa Allah punya istri dan anak karena Dia mempunyai keagungan dan kebesaran pada setiap sifat sempurna, sedangkan mempunyai istri atau anak menafikan hal itu karena bertentangan dengan sempurnanya kecukupannya. [7] Yang dimaksud dengan perkataan yang melampaui batas, ialah mengatakan bahwa Allah mempunyai istri dan anak. Hal ini karena kebodohan mereka dan kelemahan akalnya. [8] Yakni kami tertipu sebelumnya, dan yang membuat kami tertipu adalah para pemimpin kami dari kalangan jin dan manusia, kami terlalu bersangka baik dengan mereka dan mengira bahwa mereka tidak akan berani berdusta terhadap Allah. Oleh karena itulah, kami sebelumnya mengikuti mereka, namun sekarang kebenaran telah jelas bagi kami, kami pun kembali dan tunduk kepadanya dan tidak peduli dengan perkataan siapa pun yang bertentangan dengan petunjuk. [9] Ada di antara orang-orang Arab apabila mereka melintasi tempat yang sunyi, maka mereka minta perlindungan kepada jin yang mereka anggap berkuasa di tempat itu. [10] Atau bisa maksudnya bertambah takut. Dan bisa juga maksudnya, bahwa perbuatan yang dilakukan manusia itu membuat jin bertambah sombong dan melampaui batas karena melihat manusia menyembah dan meminta perlindungan kepada mereka. [11] Oleh karena mereka mengingkari kebangkitan, maka mereka berani berbuat syirk dan melampui batas. (Dan bahwasanya) dhamir yang terdapat pada ayat ini adalah dhamir sya'n, demikian pula pada dua tempat lain sesudahnya (Maha Tinggi Kebesaran Rabb kami) Maha Suci kebesaran dan keagungan-Nya dari apa-apa yang dinisbatkan kepada-Nya (Dia tidak beristri) tidak mempunyai istri (dan tidak pula beranak.) (Tafsir Al-Jalalain, Al-Jinn 72:3) (Dan bahwasanya orang yang kurang akal daripada kami selalu mengatakan) maksudnya orang yang bodoh di antara kami (perkataan yang melampaui batas terhadap Allah) dusta yang berlebihan, yaitu dengan menyifati Allah punya istri dan anak. (Tafsir Al-Jalalain, Al-Jinn 72:4) (Dan sesungguhnya kami mengira, bahwa) huruf an di sini adalah bentuk takhfif dari anna, yakni annahu (manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah) yakni menyifati-Nya dengan hal-hal tersebut hingga kami dapat buktikan kedustaan mereka dalam hal itu. Allah berfirman: (Tafsir Al-Jalalain, Al-Jinn 72:5) (Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan) memohon perlindungan (kepada beberapa laki-laki di antara jin) di dalam perjalanan mereka sewaktu mereka beristirahat di tempat yang menyeramkan, lalu masing-masing orang mengatakan, aku berlindung kepada penunggu tempat ini dari gangguan penunggu lainnya yang jahat (maka jin-jin itu menambah bagi mereka) dengan permintaan perlindungannya kepada jin-jin itu (dosa dan kesalahan) karena mereka mengatakan, bahwa kami telah dilindungi oleh jin anu dan orang anu. (Tafsir Al-Jalalain, Al-Jinn 72:6) maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.
       (Al-Jin: 6) Yakni kami dahulu berpandangan bahwa diri kami lebih utama daripada manusia karena mereka sering meminta perlindungan kepada kami, bila mereka berada di sebuah lembah atau suatu tempat yang mengerikan seperti di hutan dan tempat-tempat lainnya yang angker. Sebagaimana yang sudah menjadi kebiasaan orang-orang Arab di masa Jahiliah mereka; mereka meminta perlindungan kepada pemimpin jin di tempat mereka beristirahat agar mereka tidak diganggu olehnya. Perihalnya sama dengan seseorang dari mereka bila memasuki kota musuh mereka di bawah jaminan perlindungan orang besar yang berpengaruh di kota tersebut. Ketikajin melihat bahwa manusia itu selalu meminta perlindungan kepada mereka karena takut kepada mereka, maka justru jin-jin itu makin membuatnya menjadi lebih takut, lebih ngeri, dan lebih kecut hatinya. Dimaksudkan agar manusia itu tetap takut kepada mereka dan lebih banyak meminta perlindungan kepada mereka, sebagaimana yang dikatakan oleh Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 6) Yaitu makin menambah manusia berdosa, dan jin pun sebaliknya makin bertambah berani kepada manusia. As-Sauri telah meriwayatkan dari Mansur, dari Ibrahim sehubungan dengan makna firman-Nya: maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 6) Artinya, jin makin bertambah berani kepada manusia. As-Saddi mengatakan bahwa dahulu bila seseorang melakukan perjalanan bersama keluarganya, dan di suatu tempat ia turun istirahat, maka ia mengatakan, "Aku berlindung kepada pemimpin jin lembah ini agar aku jangan diganggu atau hartaku atau anakku atau ternakku." Qatadah mengatakan bahwa apabila dia meminta perlindungan kepada jin selain dari Allah, maka jin makin menambah gangguannya kepada dia, dan membuatnya makin merasa takut. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id alias Yahya ibnu Sa'id Al-Qattan, telah menceritakan kepada kami Wahb ibnu Jarir, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Az-Zubair ibnul Kharit, dari Ikrimah yang mengatakan bahwa dahulu jin takut kepada manusia, sebagaimana sekarang manusia takut kepada jin, atau bahkan lebih parah dari itu. Dan tersebutlah bahwa pada mulanya apabila manusia turun istirahat di suatu tempat, maka jin yang menghuni tempat ini bubar melarikan diri. Tetapi pemimpin manusia mengatakan, "Kita meminta perlindungan kepada pemimpin jin penghuni lembah ini." Maka jin berkata, "Kita lihat manusia takut kepada kita, sebagaimana kita juga takut kepada mereka." Akhirnya jin mendekati manusia dan menimpakan kepada mereka penyakit kesurupan dan penyakit gila.
       Yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya: {وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الإنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا} Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 6) Yakni dosa. Abul Aliyah dan Ar-Rabi' serta Zaid ibnu Aslam telah mengatakan sehubungan dengan makna rahaqa, bahwa artinya takut. Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 6) Rahaqan artinya dosa. Hal yang sama dikatakan oleh Qatadah. Menurut Mujahid, rahaqan artinya kekufuran dan kedurhakaan. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Farwah ibnul Migra Al-Kindi, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim ibnu Malik Al-Muzani, dari Abdur Rahman ibnu Ishaq, dari ayahnya, dari Kirdam ibnus Sa-ib Al-Ansari yang mengatakan bahwa ia keluar bersama ayahnya dari Madinah untuk suatu keperluan. Demikian itu terjadi di saat berita Rasulullah Saw. di Mekah tersiar. Maka malam hari memaksa kami untuk menginap di tempat seorang penggembala ternak kambing. Dan ketika tengah malam tiba, datanglah seekor serigala, lalu membawa lari seekor anak kambing, maka si penggembala melompat dan berkata, "Hai penghuni lembah ini, tolonglah aku!" Maka terdengariah suara seruan yang tidak kami lihat siapa dia, mengatakan, "Hai Sarhan (nama serigala itu), lepaskanlah anak kambing itu!" Maka anak kambing itu bergabung kembali dengan kumpulan ternak dengan berlari tanpa mengalami luka apa pun. Dan Allah Swt. menurunkan kepada Rasul-Nya di Mekah ayat berikut, yaitu firman-Nya: Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosadan kesalahan. (Al-Jin: 6) Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Ubaid ibnu Umair, Mujahid, Abul Aliyah, Al-Hasan, Sa'id ibnu Jubair, dan Ibrahim An-Nakha'i hal yang semisal. Barangkali serigala yang mengambil anak kambing itu adalah jelmaan jin untuk menakut-nakuti manusia agar manusia takut kepadanya, kemudian ia mengembalikan anak kambing itu ketika manusia meminta tolong dan memohon perlindungan kepadanya, hingga manusia itu menjadi sesat, dihinakan oleh jin dan mengeluarkannya dari agamanya; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. ******************* Firman Allah Swt.: {وَأَنَّهُمْ ظَنُّوا كَمَا ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَبْعَثَ اللَّهُ أَحَدًا} Dan sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kamu (orang-orang kafir Mekah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul)pun. (Al-Jin: 7) Yakni Allah tidak akan mengutus seorang rasul pun sesudah masa itu. Demikianiah menurut apa yang dikatakan oleh Al-Kalabi dan Ibnu Jarir. 72. Al-Jin Juz 29 Makkiyah Surat Al-Jin Tafsir Al-Jin

Khamis, 10 Mei 2018

SURAH AL-JIN 1-2


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
SURAH AL-JIN.,1-2.,.,
Surah Al-Jinn (Bahasa Arab: سورة الجن‎)
ialah surah ke-72 dalam al-Quran.

Surah ini tergolong surah Makkiyah dan terdiri atas 28 ayat.
Dinamakan "al-Jinn" yang bererti "Jin" diambil dari kata "al-Jinn" yang terdapat pada ayat pertama surah ini. Pada ayat tersebut dan ayat-ayat berikutnya diterangkan bahawa jin sebagai makhluk halus telah mendengar pembacaan Al Quran dan mereka mengikuti ajaran Al Quran tersebut. BismillaaHir rahmaanir rahiim (“Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang”) “1. Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya Kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan,

2. قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا (1) يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا (2)

 qul uuhiya ilayya annahu istama’a nafarun mina aljinni faqaaluu innaa sami’naa qur-aanan ‘ajabaan 2. yahdii ilaa alrrusydi faaamannaa bihi walan nusyrika birabbinaa ahadaan

 Dari Ibnu Mas’ud. Hadits tersebut memiliki sanadnya sohih dan diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Baihaqi. Khabar dari Rasulullah ini pun kemudian menjadi penjelasan kepada muslimin mengenai eksistensi dan kehidupan jin.Sewaktu nabi Muhammad saw dan para sahabat sedang bermusafir , dan bersolat subuh di satu lembah, satu kumpulan sebanyak 9 ekor jin telah mendengar baginda nabi saw membaca Al Quran iaitu sewaktu baginda sedang bersolat subuh.Hanya setelah nabi saw dan para sahabat tiba ke Mekah, barulah wahyu surah al Jin diturunkan. Walhal nabi saw dan rombongan sahabat tidak pun mengetahui bahawa jin telah datang untuk mendengar bacaan Al Quran yang dibaca oleh baginda saw ketika musafir tersebut.Jelas bahawa ini membuktikan bahawa nabi saw sendiri tidak mengetahui berkenaan hal Jin melainkan setelah Allah memberitahukan kepada baginda saw. Jika nabi sendiri tidak tahu para sahabat lebih lagi tidak mengetahuinya.

Oleh itu bagaimana pula dengan mereka yang mendakwa bahawa mereka boleh scan Jin kononnya Jin ada di kaki, di kepala dan di belakang? Ini semua jelas karut belaka. Jawapannya ialah barang siapa yang kufur pada Allah dengan melakukan amalan-amalan syirik nescaya akan diberikan kuasa sedemikian disebabkan mereka telah menjadi sahabat kepada Jin tersebut. Sedangkan di waktu yang sama mereka sendiri tidak menyedari bahawa mereka itu telah pun kufur terhadap Allah Azza wa Jalla disebabkan perbuatan mereka tersebut.Golongan Jin tidak akan dapat merasuk manusia melainkan jika manusia sendiri yang menjemput mereka itu masuk ke dalam tubuh manusia. Tatkala manusia jadi kufur, maka Jin pun akan mempunyai kuasa ke atas manusia. Dalam surah Al-Jin ini menjelaskan, bahawa Allah mengabarkan kepada Rasul saw. ada segolongan jin yang mendengarkan ayat ayat Al-Qur’an dari yang di baca Rasul saw sedang beliau bermunajat di pergunungan gua hiraq.,., sedangkan Beliau tidak mengetahuinya bahawa ada sekumpulan rombongan jin diantara mereka ada lelaki ada wanita dan laki bini . Gologan Jin mengakui keajaiban Al-Qur’an dan kebesaran ayat al-quran karim, karena Al-Qur’an itu memberikan petunjuk kepada agama Tauhid sebagai mana nabi adam hingga ibrahim lalu musa dan isa,.., tauhid yang menyatakan bahawa bumi ini ada pencipta nya yakni allah dzat yang maha dzat keatas penduduk di bawah pemerintah nya,.., dzat yang maha kaya itu tiada bertempat sebagai mana mahluk dan tiada berhajat pada mahluk sdebagai mana aqidah nabi isa dan musa ,. sedang musa berhajat akan tuhan nya akan tetapi tuhan nya tiada berhajat keatas mana mana mahluki ciptaanya., . Allah itu tidak pantas disekutukan, atau di terjemahkan dengan tuhan duduk beristiwak di langgit di atas kursyi nya., karena Dia Mahatinggi lagi Mahabesar dan Mahasuci dari tuduhan jin dan manusia bodoh dan pendusta itu. Manusia akan sesat bila meminta perlindungan dari jin. Jin kafir dan manusia kafir mengira tidak ada hari kebangkitan. 
Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

وَإِذْ صَرَفْنا إِلَيْكَ نَفَراً مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an. (Al-Ahqaf: 29) Telah kami sebutkan dalam beberapa hadis-hadis soheh yang berkaitan dengan ayat ini dalam tafsir surat Al-Ahqaf, sehingga tidak perlu diulangi lagi di sini. Dalam Kitab Asbaab Nuzul diceritakan bahwa Rasulullah saw. tidak pernah membacakan al-Qur’an kepada jin, dan tidak pernah melihat mereka. Ketika Rasulullah saw. bersama rombongan sahabatnya menuju Pasar ‘Ukazh, setibanya di Tuhamah, beliau dan rombongan berhenti untuk Solat Fajar (Subuh).Hal ini menyebabkan berita-berita di langit yang biasa dicuri syaitan-syaitan terhalang. Bahkan syaitan-syaitan itu menerima balasan lemparan bintang-bintang, sehingga terpaksa pulang kepada kaumnya. Setibanya di tempat kaumnya, syaitan-syaitan itu ditanya: ” Apa yang terjadi sehingga kalian kembali?” Mereka menjawab: “Kami terhalang untuk mendapat berita langit, bahkan kami dikejar bintang-bintang.” Kaumnya berkata: “Tak mungkin terhalang antara kita dan berita langit. Tentu ada penyebabnya. Menyebarlah kalian ke timur dan ke barat, dan carilah sebab penghalangnya.” Mereka pun menyebar ke barat dan ke timur mencari sebab penghalang tersebut, sehingga sampailah sebahagianya ke Tuhamah, tempat Rasulullah saw berhenti untuk melaksanakan solat Subuh. Mereka mendengar bacaan Rasulullah saw serta memerhatikannya, kemudian berkata: “Demi Allah, inilah yang menghalangi kita dari mendengar berita dari langit.” Mereka pun pulang ke kaumnya dan menyampaikan kejadian itu. Mereka mengagumi al-Qur’an yang membawa mereka ke jalan petunjuk Allah, sehingga mereka pun beriman. Maka turunlah ayat 1 surah al-Jinn ini sebagai pemberitahuan kepada Nabi saw. agar kejadian tersebut diberitahukan pula kepada ummatnya. Sebagai mana penjelasan ayat ayat quran karim 1hingga 2 yang mana berkisar tentang pertemuan yang mana rasulullah saw dan al-jin seramai 9ekor di dalam perjalan waktu solat subuh atau dan suatu masa lagi di kata kan dalam gua hiraq.,,. dan jin suka akan mendengar atau membaca ayat ayat allah saw., barang siapa yang membaca atau memperdengarkan ayat ayat quran bagi bertujuan memohon perlindugan dari jin atau bantuan dari jin maka tempat nya adalam dalam neraka bersama sama jin .,,. sebagai mana penjelasan bahawa 9ekor jin telah terpegun dengan ayat quran karim yang di baca baginda 9ekor jin merasakan ayat ayat ini ;lah yang di denggar ketika mana 9ekor jin sedang mengintai rahsia di langgit .,.. dengan keajaiban ayat quran ini maka 9ekor jin pun beriman dan masuk islam bersama sama rasulullah saw.,,. Maka Jin pun menyatakan keimanannya terhadap Al Quran dan berjanji tidak akan mensyirikkan Allah selepas daripada itu. Peristiwa ini membuktikan bahawa nabi saw dan para sahabat tidak mengetahui akan kehadiran Jin-jin tersebut mendengar bacaan baginda saw. Baginda hanya mengetahuinya setelah baginda tiba di mekah iaitu ketika wahyu turun menceritakan kepada baginda saw. Adalah tidak benar dan dusta apabila seseorang mengaku bahawa dia mampu skan Jin atau mengetahui samada Jin masih ada atau telah tiada dalam tubuh seorang yang dirasuk. Hanya dengan membacakan jampi mentera kepada orang tersebut mereka kata mereka tahu saat Jin tersebut keluar. Adakah mereka lebih alim dari nabi saw? Hakikatnya ini adalah Jahiliyah serta kekufuran terhadap Allah Azza wa Jalla.

Selasa, 17 April 2018

ayat 195-200


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK;.
Tafsir Surah Ali Imran Ayat 195 – 200
 (Bersedia untuk berperang)

DALAM AYAT 5TERAKHIR SURAH ALI-IMRAH ALLAH MENERANGKAN KEBERSEDIAAN UNTUK BERPERANG .,.,

   Dalam ayat sebelum ini telah disebut tentang ulul albab dan apakah kata-kata dan doa mereka. Sekarang adalah sambungan dari ayat-ayat itu. 196-197-198-199-200;' Ayat 195 Fastaja_ba lahum rabbuhum anni la_ udi'u 'amala'a_milim minkum min zakarin au unsa_, ba'dukum mim ba'd(in), fallazina ha_jaru_ wa ukhriju_ min diya_rihim wa u_zu_ fi sabili wa qa_talu_ wa qutilu_ la'ukaffiranna'anhum sayyi'a_tihim wa la'udkhilannahum janna_tin tajri min tahtihalanha_r(u), sawa_bam min'indilla_h(i), walla_hu'indahu_ husnus sawa_b(i). 3:196 Ayat 196 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 196 La_ yagurrannaka taqallubul lazina kafaru_ fil bila_d(i). 3:197 Ayat 197 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 197 Mata_'un qalil(un), summa ma'wa_hum jahannam(u), wa bi'sal miha_d(u). 3:198 Ayat 198 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 198 La_kinil lazinat taqau rabbahum lahum janna_tun tajri min tahtihal anha_ru kha_lidina fiha_ nuzulam min'indilla_h(i), wa ma_'indalla_hi khairul lil abra_r(i). 3:199 Ayat 199 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 199 Wa inna min ahlil kita_bi lamay yu'minu billa_hi wa ma_ unzila ilaikum wa ma_ unzila ilaihim kha_syi'ina lilla_h(i), la_ yasytaru_na bi a_ya_tilla_hi samanan qalila_(n), ula_'ika lahum ajruhum 'inda rabbihim, innalla_ha sari'ul hisa_b(i). 3:200 Ayat 200 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 200 Ya_ ayyuhal lazina a_manusbiru_ wa sa_biru_ wa ra_bitu_, wattaqulla_ha la'allakum tuflihu_n(a).

   195''Maka Tuhan mereka perkenankan doa mereka (dengan firmanNya): “Sesungguhnya Aku tidak akan sia-siakan amal orang-orang yang beramal dari kalangan kamu, sama ada lelaki atau perempuan, (kerana) setengah kamu (adalah keturunan) dari setengahnya yang lain; maka orang-orang yang berhijrah (kerana menyelamatkan ugamanya), dan yang diusir ke luar dari tempat tinggalnya, dan juga yang disakiti (dengan berbagai-bagai gangguan) kerana menjalankan ugamaKu, dan yang berperang (untuk mempertahankan Islam), dan yang terbunuh (gugur Syahid dalam perang Sabil) – sesungguhnya Aku akan hapuskan kesalahan-kesalahan mereka, dan sesungguhnya Aku akan masukkan mereka ke dalam Syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, sebagai ganjaran dari sisi Allah. Dan di sisi Allah jualah ganjaran yang sebaik-baiknya (bagi mereka yang beramal soleh)”.196'; Ayat tentang infak pula. Kerana infak itu amat penting untuk menjalankan jihad di jalan Allah. Kita kena ingat yang infak ini adalah untuk kebaikan kita. Kerana infak itu akan menjadi harta kita yang sebenar. Cuma mungkin kita lihat mereka yang tidak infak itu banyak harta kerana mereka kumpul sahaja harta mereka tanpa diinfakkan dan kerana itu tidak berkurangan harta mereka. Mungkin pada fikiran kita, itu adalah baik, tapi tidak sebenarnya. Mereka yang tidak infak itu nampak hanya kepentingan dunia sahaja dan kerana itu mereka tumpukan usaha mereka untuk dapatkan kelebihan dunia sahaja. Mereka takut untuk infak kerana mereka takut mereka akan jatuh miskin kalau beri duit pada orang lain. Allah ingatkan kita supaya jangan terpikat dengan cara-cara mereka itu. Kerana hujung nasib mereka adalah sengsara.197''(Semuanya) itu hanyalah kesenangan yang sedikit, (akhirnya akan lenyap), kemudian tempat kembali mereka neraka Jahannam: dan itulah seburuk-buruk tempat ketetapan.198''Tetapi orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhan mereka, mereka beroleh Syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya, sebagai tempat sambutan tetamu (yang meriah dengan nikmat pemberian) dari Allah. Dan (ingatlah) apa jua yang ada di sisi Allah adalah lebih bagi orang-orang yang berbakti (yang taat, yang banyak berbuat kebajikan).199;''Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab, ada orang yang beriman kepada Allah dan (kepada) apa yang diturunkan kepada kamu (Al-Quran) dan juga (kepada) apa yang diturunkan kepada mereka, sedang mereka khusyuk kepada Allah dengan tidak menukarkan ayat-ayat Allah untuk mengambil keuntungan dunia yang sedikit. Mereka itu beroleh pahalanya di sisi Tuhan mereka. Sesungguhnya Allah Amat segera hitungan hisabNya.200;''Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara yang berkebajikan), dan kuatkanlah kesabaran kamu lebih daripada kesabaran musuh, di medan perjuangan), dan bersedialah (dengan kekuatan pertahanan di daerah-daerah sempadan) serta bertaqwalah kamu kepada Allah supaya, kamu berjaya (mencapai kemenangan)

. وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لأكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلأدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ (١٩٥) لا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلادِ (١٩٦) مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ (١٩٧) لَكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نُزُلا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِلأبْرَارِ (١٩٨ وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ لا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلا أُولَئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (١٩٩) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (٢٠٠

     Dalam tafsir Al Jalaalain disebutkan, bahwa ayat ini turun ketika kaum muslimin mengatakan, "Musuh-musuh Allah sepengetahuan kami berada dalam kenikmatan, sedangkan kami berada dalam kesulitan."Abu Bakar Al Bazzar meriwayatkan dari Anas, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menyalatkan raja Najasyi ketika diberitakan bahwa ia telah wafat, lalu ada yang mengatakan, "Wahai Rasulullah, apakah Engkau akan menyalatkan seorang budak Habasyah?" Maka Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, "Wa inna min ahlil kitaab…dst." (Hadits ini memiliki banyak jalur yang menjadikannya shahih). Maksud ayat ini adalah menghibur kaum mukmin agar tidak terpedaya oleh kesenangan dunia yang diperoleh orang-orang kafir dan bebasnya mereka bergerak di seluruh negeri melakukan berbagai perdagangan, lancarnya usaha mereka, dapat bersenang-senang dan menikmati berbagai kesenangan. Semua ini sebagaimana disebutkan pada ayat selanjutnya adalah kesenangan sementara, mereka hanya menikmati sebentar dan akan dilanjutkan dengan azab yang lama.Hadis menjadi dalil bahawa sesiapa yang menyerupai golongan fasik, atau kuffar atau ahli bid’ah dalam apa-apa perkara yang khusus untuk mereka, samada dalam pakaian, kenderaan atau cara, maka dia termasuk dalam kalangan mereka. Jika dia menyerupai kafir dalam pakaian (khusus) dan beriktikad untuk jadi seperti mereka, maka dia telah kufur. Jika dia tidak beriktikad demikian, maka para fuqaha (ahli fekah) berbeza pendapat mengenainya. Ada yang menyatakan dia menjadi kufur kerana berdasarkan secara zahir hadis tersebut. Ada yang menyatakan tidak kufur, tetapi dia diadabkan (oleh pemerintah)”. (al-Son’ani, Subul as-Salam, 4/321. Beirut: Muassasah Fuad). Kalau pun orang-orang mukmin di dunia ini ditaqdirkan mengalami kesengsaraan, kesusahan dan kesulitan, namun jika dibandingkan dengan kenikmatan surga yang kekal, maka kesusahan itu sangat ringan sekali. Dunia memang menjadi surga bagi orang kafir, namun surga mereka (dunia ini) adalah surga yang sementara, terbatas dan tidak sempurna. Di dunia ada hidup dan ada mati, ada senang dan ada sedih, ada masa muda dan ada masa tua, ada sehat dan ada sakit serta keterbatasan lainnya. Maksudnya ialah penghargaan dari Allah disamping tempat tinggal beserta perlengkapan-perlengkapannya itu, adalah lebih baik daripada kesenangan duniawi yang dinikmati bersama sama orang-orang kafir itu.wallahuaklambissawab,..,.,,..,

Isnin, 16 April 2018

AYAT 190-194

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
Ali Imran, ayat 190-194

          Ayat 190 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 190 Inna fi khalqis sama_wa_ti wal ardi wakhtila_fil laili wan naha_ri la'a_ya_til li'ulil alba_b(i). 3:191 Ayat 191 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 191 Allazina yazkuru_nalla_ha qiya_maw wa qu'u_daw wa 'ala_ junu_bihim wa yatafakkaru_na fi khalqis sama_wa_ti wal ard(i), rabbana_ ma_ khalaqta ha_za_ ba_tila_(n), subha_naka fa qina_ 'za_ban na_r(i). 3:192 Ayat 192 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 192 Rabbana_ innaka man tudkhilin na_ra faqad akhzaitah(a_), wa ma_ liz za_limina min ansa_r(in). 3:193 Ayat 193 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 193 Rabbana_ innana_ sami'na_ muna_diyay yuna_di lil ima_ni an a_minu_ bi rabbikum fa a_manna_, rabbana_ fagfir lana_ zunu_bana_ wa kaffir 'anna_ sayyi'a_tina_ wa tawaffana_ ma'al abra_r(i). 3:194 Ayat 194 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 194 Rabbana_ wa a_tina_ ma_ wa'attana_ 'ala_ rusulika wa la_ tukhzina_ yaumal qiya_mah(ti), innaka la_ tukhliful mi'a_d(a).

 إِنَّ فِي خَلْقِ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهارِ لَآياتٍ لِأُولِي الْأَلْبابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنا مَا خَلَقْتَ هَذَا باطِلاً سُبْحانَكَ فَقِنا عَذابَ النَّارِ (191) رَبَّنا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَما لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصارٍ (192) رَبَّنا إِنَّنا سَمِعْنا مُنادِياً يُنادِي لِلْإِيمانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنا فَاغْفِرْ لَنا ذُنُوبَنا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئاتِنا وَتَوَفَّنا مَعَ الْأَبْرارِ (193) رَبَّنا وَآتِنا مَا وَعَدْتَنا عَلى رُسُلِكَ وَلا تُخْزِنا يَوْمَ الْقِيامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعادَ (194)

    Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.     
      Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): 'Berimanlah kalian kepada Tuhan kalian,' maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbuat bakti. Ya. Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantara-an rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji."
     
     Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Ishaq At-Tusturi, telah menceritakan kepada kami Yahya Al-Hammani, telah menceritakan kepada kami Ya'qub Al-Qumi dari Ja'far ibnu Abul Mugirah, dari Said ibnu Jubair dari Ibnu Abbas' yang menceritakan bahwa orang-orang Quraisy datang kepada orang-orang Yahudi, lalu berkata, "Mukjizat apakah yang dibawa oleh Nabi Musa kepada kalian?" Orang-orang Yahudi menjawab, "Tongkat dan tangannya yang tampak putih bagi orang-orang yang memandang." Mereka datang kepada orang-orang Nasrani, lalu bertanya, "Apakah yang dilakukan oleh Nabi Isa?" Orang-orang Nasrani menjawab, "Dia dapat menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya, orang yang berpenyakit supak, dan dapat menghidupkan orang-orang yang mati." Mereka datang kepada Nabi Saw. dan berkata, "Berdoalah kepada Allah, semoga Dia menjadikan bagi kami Bukit Safa ini menjadi emas." Maka turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Ali Imran: 190) Karena itu, renungkanlah oleh kalian hal tersebut. Riwayat ini sulit dimengerti, mengingat ayat ini adalah ayat Madaniyah, sedangkan permintaan mereka yang menghendaki agar Bukit Safa menjadi emas adalah di Mekah.dalam kitab Sahihain dengan melalui Imran ibnu Husain, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: «صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبِكَ» Salatlah sambil berdiri. Jika kamu tidak mampu berdiri, maka salatlah sambil duduk; dan jika kamu tidak mampu sambil duduk, maka salatlah dengan berbaring pada lambungmu. Mereka tidak pernah terputus dari berzikir mengingat-Nya dalam semua keadaan mereka. Lisan, hati, dan jiwa mereka semuanya selalu mengingat Allah Swt. {وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ} dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.
      (Ali Imran: 191) Mereka memahami semua hikmah yang terkandung di dalamnya yang menunjukkan kepada kebesaran Penciptanya, kekuasaan-Nya, pengetahuan-Nya, hikmah-Nya, pilihan-Nya, dan rahmat-Nya. Syekh Abu Sulaiman Ad-Darani mengatakan, "Sesungguhnya bila aku keluar dari rumahku, tiada sesuatu pun yang terlihat oleh mataku melainkan aku melihat bahwa Allah telah memberikan suatu nikmat kepadaku padanya, dan bagiku di dalamnya terkandung pelajaran." Demikianlah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abud Dunia di dalam Kitabut Tawakkul wal I'tibar. Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri bahwa ia pernah mengatakan, "Berpikir selama sesaat lebih baik daripada berdiri salat semalam." Al-Fudail mengatakan bahwa Al-Hasan pernah berkata, "Pikiran merupakan cermin yang memperlihatkan kepadamu kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukanmu." Sufyan ibnu Uyaynah mengatakan bahwa pikiran merupakan cahaya yang memasuki hatimu. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, bila ia ingin menyegarkan hatinya, maka ia datang ke tempat yang telah ditinggalkan oleh penghuninya (karena sudah rusak). Kemudian ia berdiri di depan pintunya, lalu berseru dengan suara yang lirih seraya mengatakan, "Ke manakah penghunimu?" Kemudian ia mengoreksi dirinya sendiri dan membacakan firman-Nya: {كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ} Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Zat Allah. (Al-Qashash: 88) Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ia pernah mengatakan, "Dua rakaat yang lamanya pertengahan dengan bertafakkur adalah lebih baik daripada berdiri salat sepanjang malam, sedangkan hatinya lupa." Al-Hasan Al-Basri mengatakan, "Hai anak Adam, makanlah (isilah) sepertiga perutmu dengan makanan, dan sepertiga lagi dengan minuman, dan kosongkanlah sepertiga lainnya untuk memberikan udara segar dalam bertafakkur." Salah seorang yang bijak mengatakan, "Barang siapa memandang dunia tanpa dibarengi dengan pandangan mengambil pelajaran, maka akan padamlah sebagian dari pandangan mata hatinya sesuai dengan kelalaiannya."194 menerangkan Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami. sebagai balasan atas iman kepada rasul-rasul-Mu". Menurut pendapat yang lainnya lagi, maksudnya adalah "apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui lisan rasul-rasul-Mu'. Makna yang kedua ini lebih kuat dan lebih jelas.Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Iyasy, dari Anir ibnu Muhammad, dari Abu Iqal, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, "Ada dua golongan manusia yang menjadi pusat perhatian manusia, Allah membangkitkan salah satunya kelak di hari kiamat sebanyak tujuh puluh ribu orang yang tidak ada hisab atas diri mereka. Darinya Allah membangkitkan sebanyak lima puluh ribu orang syuhada, mereka adalah delegasi-delegasi yang menghadap kepada Allah. Di antara mereka yang lima puluh ribu orang itu terdapat barisan para syuhada yang kepala mereka dalam keadaan terpotong dan berada di tangannya masing-masing, sedangkan wajah mereka berlumuran dengan darah seraya mengucapkan: 'Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.'                         (Ali Imran: 194) Maka berfirmanlah Allah Swt, 'Benarlah hamba-hamba-Ku, mandikanlah mereka di dalam sungai putih.' Akhirnya mereka keluar dari sungai itu dalam keadaan bersih lagi putih, lalu mereka berjalan-jalan di dalam surga menurut apa yang disukainya." Hadis ini termasuk hadis garib yang ada di dalam kitab musnad. Ibnu Abud Dunia mengatakan, telah menceritakan kepadaku Qasim ibnu Hasyim, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Iyasy, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Sulaiman yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Al-Auza'i tentang batas minimal dari pengertian memikirkan ayat-ayat tersebut dan jalan menyelamatkan diri dari kecelakaan tersebut." Maka Al-Auza'i menundukkan kepalanya sejenak, lalu berkata, "Hendaklah seseorang membaca ayat-ayat tersebut seraya memikirkan maknanya." Hadis lain mengandung garabah (keanehan). Abu Bakar ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Basyir ibnu Numair, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim Al-Busti. Telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim ibnu Zaid, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Ammar, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Musa Az-Zuhri, telah menceritakan kepada kami Mu-zahir ibnu Aslam Al-Makhzumi, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Abu Sa'id Al-Maqbari, dari Abu Hurairah yang menceritakan: Setiap malam Rasulullah Saw. selalu membaca sepuluh ayat dari akhir surat Ali Imran. Muzahir ibnu Aslam orangnya daif.

Ahad, 15 April 2018

AYAT 187-189


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK',
    SURAH ALI-IMRAN AYAT 187-189

       Ayat 187-189: Menerangkan tentang pengambilan perjanjian dari Ahli Kitab, dan bagaimana mereka melempar janji itu ke belakang punggung mereka Ayat 187

   Wa iz akhazalla_hu misa_qal lazina u_tul kita_ba latubayyinunnahu_ linna_si wa la_ taktumu_nah(u_), fanabazu_hu wara_'a zuhu_rihim wasytarau bihi samanan qalila_(n), fabi'sa ma_ yasytaru_n(a). 3:188 Ayat 188 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 188 La_ tahsabannal lazina yafrahu_na bima_ atau wa yuhibbu_na ay yuhmadu_ bima_ lam yaf'alu_ fala_ tahsabannahum bimafa_zatim minal 'aza_b(i), wa lahum'aza_bun alim(un). 3:189 Ayat 189 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 189 Wa lilla_hi mulkus sama_wa_ti wal ard(i), walla_hu 'ala_ kulli syai'in qadir(un).

 وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلا فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ (١٨٧)لا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (١٨٨) وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (١٨٩

    Terjemah Surat Ali Imran Ayat 187-189 187. Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu), "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya[9]," lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka[10] dan menukarnya dengan harga yang murah[11]. Amat buruk tukaran yang mereka terima.188.[12] Janganlah sekali-kali kamu mengira hahwa orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan[13] dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan[14], jangan sekali-kali kamu mengira bahwa mereka akan lolos dari siksa. Mereka akan mendapat siksa yang pedih[15].189. Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu[16].
       [9] Di antara keterangan yang disembunyikan itu ialah tentang kedatangan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.[10] Yakni tidak mengamalkannya. 11] Yakni dengan kesenangan dunia, seperti menginginkan kedudukannya diangkat atau memperoleh harta. Sehingga mereka berani menyembunyikan ilmu yang mereka ketahui.[12] Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Sa'id Al Khudri radhiyallahu 'anhu, bahwa beberapa orang munafik di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar berperang, mereka tidak ikut dan merasa senang tidak berangkat meninggalkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
     Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pulang, mereka mengemukakan alasan dan mereka senang jika dipuji terhadap hal yang tidak mereka lakukan, maka turunlah ayat, "Laa tahsabannalladziina yafrahuuna…dst." Imam Bukhari meriwayatkan dari 'Alqamah bin Waqqas, bahwa Marwan berkata kepada penjaga pintunya, "Pergilah wahai Raafi' kepada Ibnu Abbas, katakan kepadanya, "Jika setiap orang senang dengan apa yang diberikan dan senang dipuji dalam hal yang tidak dilakukannya akan diazab, tentu kita semua akan diazab." Ibnu Abbas berkata, "Apa hubungan kamu dengan ayat ini! Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengajak orang-orang Yahudi dan menanyakan kepada mereka tentang sesuatu, lalu mereka menyembunyikannya, dan mereka memberitakan dengan yang selainnya, lalu saya melihat mereka ingin dipuji terhadap berita yang mereka sampaikan dan mereka senang dengan sikap mereka menyembunyikan." Lalu Ibnu Abbas membacakan ayat, "Wa idz akhadzallahu miitsaaqalladziina utul kitaab…." Sampai "Yafrahuuna bimaa atau wa yuhibbuuuna ay yuhmaduu bimaa lam yaf'aluu…"
             (Ali Imran: 187-188) [13] Berupa menyesatkan manusia, atau mengerjakan perbuatan dan perkataan buruk.[14] Padahal mereka tidak mengerjakan kebaikan dan tidak menegakkan kebenaran. Dengan demikian, mereka menggabung antara mengerjakan keburukan, senang terhadapnya dan suka dipuji terhadap sesuatu yang mereka tidak melakukannya. [15] Termasuk ke dalam ayat ini adalah Ahli Kitab yang bergembira dengan ilmu yang ada pada mereka, namun mereka tidak mengikuti rasul dan menyangka bahwa sikap mereka benar. Demikian juga orang yang mengadakan bid'ah baik berupa ucapan maupun perbuatan, lalu ia bergembira dengannya dan mengajak manusia kepada perbuatan bid'ah itu serta menyangka bahwa diri mereka benar, sedangkan yang lain salah. Ayat di atas juga menunjukkan bahwa orang yang senang mendapat pujian karena kebaikannya dan mengikuti yang hak, jika maksudnya bukan riya' dan sum'ah, maka tidaklah tercela. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim 'alaihis salam pernah berdoa, "Dan Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." (Terj. Asy Syu'araa: 84) [16] Dia bertindak terhadap semua yang ada di langit dan di bumi dengan kuasa-Nya yang sempurna, sehingga tidak ada satu pun makhluk yang dapat menolak ketetapan-Nya dan tidak ada satu pun makhluk yang dapat melemahkan-Nya. Di antara kekuasaan-Nya juga adalah dengan menyiksa orang-orang kafir dan menyelamatkan orang-orang mukmin.

Sabtu, 14 April 2018

ayat 187


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK.
JUZ-4,AYAT 187;

 Ayat 187 Wa iz akhazalla_hu misa_qal lazina u_tul kita_ba latubayyinunnahu_ linna_si wa la_ taktumu_nah(u_), fanabazu_hu wara_'a zuhu_rihim wasytarau bihi samanan qalila_(n), fabi'sa ma_ yasytaru_n(a).

 وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ

 Dan (ingatlah), Ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu):" Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia dan jangan kamu menyembunyikan kalau mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit, amatlah buruk tukaran yang mereka terima. (3: 187)

 Di setiap kaum, ada kalangan masyarakat menengah yang mengikuti para pembesar dan ilmuwan. Oleh karenanya, ilmuwan saleh dapat memperbaiki masyarakat dan ilmuwan fasid yang ingin merusak masyarakat. Salah satu tugas besar pemikiran dan ulama adalah menjelaskan hakikat dan kebenaran. sebagai mana fiirman allah sawt.,“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan.” (QS. Al-Maidah: 15)

 Para ilmuwan bukan saja bertanggung jawab atas dirinya, melainkan bertanggungjawab memberi petunjuk masyarakat. Dengan demikian, menyembunyikan ayat-ayat ilahi dan pemahamannya adalah dosa besar dalam al-Quran. sebagai mana jelas sifat orang munafik yang suka bernista akan ayat ayat allah ., Sahih Muslim No 90: Dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Di antara tanda-tanda orang munafik ada tiga: apabila dia berbicara niscaya dia berbohong, apabila dia berjanji niscaya mengingkari, dan apabila dia dipercaya niscaya dia berkhianat." .....

Hadis 2 Sunan Nasa'i (hadis sahih) No 4952: Dari Anas bin Malik bahwa Abu Musa Al Asy'ari berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al Qur`an adalah seperti buah Utrujah, rasanya enak dan baunya wangi. Sedang permisalan seorang mukmin yang tidak membaca Al Qur`an adalah seperti buah kurma, rasanya enak dan tidak berbau. Permisalan orang munafik yang membaca Al Qur`an adalah seperti tumbuhan Raihanah, baunya harum dan rasanya pahit. Dan permisalan orang munafik yang tidak membaca Al Qur`an adalah seperti Hanzhalah (sejenis labu), rasanya pahit dan tidak berbau." Sebagaimana disaksikan dewasa ini ilmuwan Ahlul Kitab menutup-nutupi berita gembiraTaurat dan Injil dalam soal kemunculan Nabi Muhammad Saw. Mereka tidak menjelaskan hakikat kepada masyarakat. Untuk memelihara kedudukannya, mereka bersedia menjual ayat-ayat Allah demi imbalan duniawi. Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:‎ 1. Bukan saja ucapan batil, tapi diam tidak pada tempatnya juga ada hukumannya. Menyembunyikan kebenaran adalah perbuatan dosa yang mengancam para ahli ilmu dan dampaknya terasa hingga berabad-abad. 2. Para ilmuwan bertanggung jawab menunjuki dan menyadarkan masyarakat. 3. Para ahli ilmu pecinta dunia menyebabkan penyelewengan masyarakat bila tidak menyampaikan kebenaran kepada mereka.

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN