Sabtu, 3 Mac 2018

ayat 83-85

Tafsir Al-Qur’an dan Hadis Tabaruk;
Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan) Surah Madaniyyah;
surah ke 3: 200 ayat;

 {أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ
 (83) قُلْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزلَ عَلَيْنَا وَمَا أُنزلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَالنَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (84) وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (85) } “

Ayat 83 Afagaira dinilla_hi yabgu_na wa lahu_ aslama man fis sama_wa_ti wal ardi tau'aw wa karhaw wa ilaihi yurja'u_n(a). 3:84 Ayat 84 Qul a_mannu_ billa_hi wa ma_ unzila 'alaina_ wa ma_ unzila'ala_ ibra_hima wa isma_'ila wa isha_qa wa ya'qu_ba wal asba_ti wa ma_ u_tiya mu_sa_ wa 'isa_ wan nabiyyu_na mir rabbihim, la_ nufarriqu baina ahadim minhum, wa nahnu lahu_ muslimu_n(a). 3:85  Ayat 85 Wa may yabtagi gairal isla_mi dinan falay yuqbala minh)u), wa huwa fil a_khirati minal kha_sirin(a).

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan. (QS. 3:83) Katakanlah: ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa dan para Nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.’ (QS. 3:84) Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. 3:85) Allah Swt. mengingkari melalui firman-Nya terhadap orang yang menghendaki sebuah agama selain agama Allah yang diturunkan melalui kitab-kitab-Nya dengan perantara para rasul yang diutus-Nya. Agama Allah itu adalah yang memerintahkan hanya menyembah kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya; semua makhluk yang ada di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, baik dengan suka maupun terpaksa. Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَنْ فِي السَّماواتِ وَالْأَرْضِ
 طَوْعاً وَكَرْهاً

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa. (Ar-Ra'd: 15) أَوَلَمْ يَرَوْا إِلى مَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ يَتَفَيَّؤُا ظِلالُهُ عَنِ الْيَمِينِ وَالشَّمائِلِ سُجَّداً لِلَّهِ وَهُمْ داخِرُونَ وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّماواتِ وَما فِي الْأَرْضِ مِنْ دابَّةٍ وَالْمَلائِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ يَخافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan sujud kepada Allah, sedangkan mereka berendah diri? Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melala di bumi dan (juga) para malaikat, sedangkan mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). (An-Nahl: 48-50) Orang yang benar-benar mukmin dengan segenap jiwa dan raganya berserah diri kepada Allah, sedangkan orang yang kafir berserah diri kepada Allah hanya karena terpaksa; karena sesungguhnya ia berada di bawah pengaruh, keperkasaan, dan kekuasaan Yang Mahaagung yang tidak dapat ditentang dan tidak pula dapat dicegah. Di dalam sebuah hadis disebutkan pengertian lain sehubungan dengan tafsir ayat ini yang di dalamnya terkandung keanehan. Untuk itu, Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan:
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ النَّضْرِ الْعَسْكَرِيُّ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ حَفْصٍ النُّفَيْلي، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ
  مِحْصَن الْعُكَّاشِيُّ، حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا} أمَّا مَنْ فِي السَّمَاواتِ فَالْمَلائِكَةُ، وأمَّا مَنْ فِي الأرضِ فَمَنْ وُلِدَ عَلَى الإسْلامِ، وأمَّا كَرْهًا فَمَنْ أُتِي بِهِ مِنْ سَبَايا الأمَمِ فِي السَّلاسِلِ والأغْلالِ، يُقَادُونَ إلَى الْجَنَّةِ وَهُمْ كَارِهُونَ".
telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnun Nadr Al-Askari, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Hafs An-Nufaili, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mihsan Al-Ukasyi, telah menceritakan kepada kami Al-Auza'i, dari Ata ibnu Abu Rabah, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: "Padahal kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa" (Ali Imran: 83). Adapun makhluk yang ada di langit, mereka adalah para malaikat. Dan adapun makhluk yang ada di bumi, maka mereka adalah orang yang dilahirkan dalam keadaan Islam. Dan adapun orang yang berserah diri dengan terpaksa, maka mereka adalah para tawanan dari berbagai umat yang didatangkan dalam keadaan terbelenggu oleh rantai; mereka digiring masuk surga, sedangkan mereka dalam keadaan terpaksa. Di dalam sebuah hadis sahih disebutkan: «عَجِبَ رَبُّكَ مِنْ قَوْمٍ يُقَادُونَ إِلَى الْجَنَّةِ فِي السَّلَاسِلِ»
          Tuhanmu merasa kagum terhadap suatu kaum yang digiring ke surga dalam keadaan dirantai. Dalam pembahasan berikut akan disebutkan dalil lain dan segi yang lain, tetapi makna yang pertama bagi ayat ini lebih kuat. Waki' mengatakan di dalam kitab tafsirnya, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Mansur, dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya: padahal kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa. (Ali Imran; 83); Menurut Mujahid, makna ayat ini sama dengan yang terdapat di dalam ayat Lain, yaitu firman-Nya: وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّماواتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?. Tentu mereka akan menjawab, "Allah." (Luqman: 25) Waki' mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A'masy, dari Mujahid dan Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: padahal kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa. (Ali Imran: 83) Yakni hal ini terjadi di saat Allah mengambil janji (dari mereka bahwa mereka tidak akan menyembah melainkan hanya kepada Allah, yaitu di zaman azali). ***************** وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan. (Ali Imran: 83) Yakni pada hari kemudian, lalu Allah membalas tiap-tiap orang sesuai dengan amal perbuatannya. Kemudian Allah Swt. berfirman: {قُلْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزلَ عَلَيْنَا} Katakanlah, "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami." (Ali Imran: 84) Yang dimaksud adalah Al-Qur'an. {وَمَا أُنزلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ} dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, dan Ya'qub. (Ali Imran: 84) Yakni semua suhuf (lembaran-lembaran kitab) dan wahyu yang diturunkan kepada mereka. {وَالأسْبَاطِ} dan anak-anaknya. (Ali Imran: 84) Mereka adalah kabilah-kabilah dari kalangan Bani Israil yang bercabang dari anak-anak Israil (yakni Nabi Ya'qub) yang jumlahnya ada dua belas orang. {وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى} dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa. (Ali Imran: 84) Yang dimaksud ialah kitab Taurat dan kitab Injil. {وَالنَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ} dan para nabi dari Tuhan mereka. (Ali Imran: 84) Hal ini mencakup pengertiannya kepada semua nabi secara umum. {لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ} Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka. (Ali Imran: 84) Bahkan kami beriman kepada semuanya. {وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ} dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri. (Ali Imran: 84) Orang-orang mukmin dari kalangan umat ini beriman kepada semua nabi yang diutus dan beriman kepada semua kitab yang diturunkan. Mereka sama sekali tidak ingkar kepada sesuatu pun dari hal tersebut, bahkan mereka membenarkan bahwa semuanya itu diturunkan dari sisi Allah dan membenarkan semua nabi yang diutus oleh Allah. ***************** Firman Allah Swt.: وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ دِيناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya. (Ali Imran: 85) Yakni barang siapa yang menempuh suatu jalan selain jalan yang telah disyariatkan oleh Allah, maka jalan itu tidak akan diterima darinya. {وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ} dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali Imran: 85), Perihalnya sama dengan apa yang telah dikatakan oleh Nabi Saw. dalam sebuah hadis sahih, yaitu: «مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ» Barang siapa yang melakukan suatu amal, sedangkan amal itu bukan termasuk urusan kami, maka amal itu ditolak.

 قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ، حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ رَاشِدٍ، حَدَّثَنَا الْحَسَنُ، حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ، إِذْ ذَاكَ وَنَحْنُ بِالْمَدِينَةِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "تَجِيءُ الأعْمَالُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَتَجِيءُ الصَّلاةُ فَتَقُولُ: يَا رَبِّ، أَنَا الصَّلاةُ. فَيَقُولُ: إِنَّكِ عَلَى خَيْرٍ. فَتَجِيءُ الصَّدَقَةُ فَتَقُولُ: يَا رَبِّ، أَنَا الصَّدَقَةُ. فَيَقُولُ: إِنَّكِ عَلَى خَيْرٍ. ثُمَّ يَجِيءُ الصِّيَامُ فَيَقُولُ: أَيْ يَا رَبِّ، أَنَا الصِّيَامُ. فَيَقُولُ: إِنَّكَ عَلَى خَيْرٍ. ثُمَّ تَجِيءُ الأعْمَالُ، كُل ذَلِكَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: إِنَّكَ عَلَى خَيْرٍ، ثُمَّ يَجِيءُ الإسْلامُ فَيَقُولُ: يَا رَب، أَنْتَ السَّلامُ وَأَنَا الإسْلامُ. فَيَقُولُ اللَّهُ [تَعَالَى] : إِنَّكَ عَلَى خَيْرٍ، بِكَ الْيَوْمَ آخُذُ وَبِكَ أُعْطِي، قَالَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ: {وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنْ الْخَاسِرِينَ}

 Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id maula Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Abbad ibnu Rasyid, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan, telah menceritakan kepada kami Abu Hurairah yang saat itu kami berada di Madinah, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Kelak di hari kiamat amal perbuatan datang. Maka datanglah salat, lalu berkata, "Wahai Tuhanku, akulah salat." Allah berfirman, "Sesungguhnya kamu dalam kebaikan." Sedekah datang, lalu berkata, "Wahai Tuhanku, akulah sedekah." Allah berfirman, "Sesungguhnya kamu dalam keadaan baik." Kemudian datanglah puasa, lalu berkata, "Wahai Tuhanku, akulah puasa." Allah berfirman, "Sesungguhnya kamu dalam keadaan baik." Kemudian datanglah amal-amal yang lain, semuanya dijawab oleh Allah Swt., "Sesungguhnya kamu dalam keadaan baik." Lalu datanglah Islam dan berkata, "Wahai Tuhanku, Engkau adalah sumber keselamatan, dan akulah Islam." Maka Allah berfirman, "Sesungguhnya kamu dalam keadaan baik; atas dasar kamulah Aku mengambil, dan atas dasar kamulah Aku memberi." Lalu Rasulullah Saw. membacakan firman-Nya: Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali Imran: 85) Hadis ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Abu Abdur Rahman (yaitu Abdullah ibnu Imam Ahmad) mengatakan bahwa Abbad ibnu Rasyid adalah orang yang siqah, tetapi Al-Hasan belurn pernah mendengar dari Abu Hurairah. Allah mengingkari orang yang menghendaki agama selain agama-Nya yang dengannya diturunkan kitab-kitab-Nya serta diutus para Rasul-Nya. Yaitu peribadatan (penghambaan diri) hanya kepada Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, yang kepada-Nya semua yang ada di langit dan bumi menyerahkan diri, baik suka rela maupun terpaksa. Sebagaimana yang difirmankan-NYa: wa lillaaHi yasjudu man fis samaawaati wal ardli thau’an aw karHan (“Hanya kepada Allah segala apa yang ada di langit dan bumi ini bersujud,baik secara suka rela maupun terpaksa.”)
\
 (QS. Ar-Ra’d: 15). Maka seorang mukmin itu berserah diri dengan hati dan seluruh raganya kepada Allah, sedangkan seorang kafir berserah diri kepada Allah dengan terpaksa sebab berserah dirinya, karena ia berada di bawah penundukan, penaklukan, dan kekuasaan yang sangat besar yang ia tidak dapat mengelak dan menolak. Di dalam sebuah hadits shahih disebutkan: “Rabb-mu heran terhadap sebagian kaum yang digiring ke Surga dalam adaan terbelenggu rantai.” Akan dikemukakan bukti penguat hadits ini dari sisi yang lain, tetapi makna pertama bagi ayat di atas adalah lebih kuat. Firman Nya, wa ilaiHi turja’uun (“Dan hanya kepada Allah mereka dikembalikan.”) Yaitu pada hari Kiamat dan masing-masing akan diberikan balasan sesuai dengan amalnya. Setelah itu Dia berfirman, qul aamannaa billaaHi wa maa unzila ‘alainaa (“Katakanlah: ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami.’”) Yakni al-Qur’an. Wa maa unzila ‘alaa ibraahiima wa ismaa-‘iila wa is-haaqa wa ya’quuba (“Dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, dan Ya’qub.”) Yaitu yang berupa shuhuf dan wahyu, wal asbaath (“Dan anak-anaknya.”) Mereka itu adalah keturunan Bani Israil yang bercabang dari anak-anak Israil, yakni anak-anak Ya’qub, yang jumlahnya ada dua belas orang. Wa maa uutiya muusaaa wa ‘iisaa (“Serta apa yang diberikan kepada Musa dan `Isa.”) Yaitu Taurat dan Injil. Wan nabiyyuuna mir rabbiHim (“Dan para Nabi dari Rabb mereka.”) Ini mencakup seluruh Nabi. Laa nufarriqu baina ahadim minHum (“Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka.”) bahkan kami beriman kepada mereka semua. Wa nahnu laHuu muslimuun (“Dan hanya kepada-Nya kami menyerahkan diri.”) Artinya orang-orang yang beriman dari umat ini (umat Muhammad) beriman kepada seluruh Nabi yang diutus dan semua Kitab yang diturunkan, tidak sedikit pun mengingkarinya, bahkan mereka membenarkan apa yang diturunkan dari sisi Allah, dan membenarkan semua Nabi yang diutus Allah. Selanjutnya Allah berfirman, wa may yabtaghii ghaira islaama diinan falay yuqbala minHu (“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima [agama itu] darinya.”) Maksudnya, barangsiapa menempuh jalan selain yang telah disyari’atkan Allah, maka Dia tidak akan menerimanya. Wa Huwa fil aakhirati minal khaasiriin (“Dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi.”) Sebagaimana yang diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda dalam hadits shahih: “Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dasar perintahnya dari kami, maka amalannya itu ditolak.”

Jumaat, 2 Mac 2018

Ayat 77-82

 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK;
       Surat Ali Imran Ayat 77-82;
 BISS-MIL-LAAA-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM';

      Ayat 77 Innal lazina yasytaru_na bi'ahdilla_hi wa aima_nihim samanan qalilan ula_'ika la_ khala_qa lahum fil a_khirati wa la_ yukallimuhumulla_hu wa la_ yanzuru ilaihim yaumal qiya_mati wa la_ yuzakkihim, wa lahum 'aza_bun alim(un). 3:78 Ayat 78 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 78 Wa inna minhum la fariqay yalwu_na alsinatahum bil kita_bi litahsabu_hu minal kita_bi wa ma_ huwa minal kita_b(i), wa yaqu_lu_na huwa min 'indilla_hi wa ma_ huwa min 'indilla_h(i), wa yaqu_lu_na 'alalla_hil kaziba wa hum ya'lamu_n(a). 3:79 Ayat 79 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 79 Ma_ ka_na libasyarin ay yu'tiyahulla_hul kita_ba wal hukma wan nubuwwata summa yaqu_la linna_si ku_nu_ 'iba_dal li min du_nilla_hi wa la_kin ku_nu_ rabba_niyyina bima_ kuntum tu'allimu_nal kita_ba wa bima_ kuntum tadrusu_n(a). 3:80 Ayat 80 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 80 Wa la_ ya'murakum an tattakhizul mala_'ikata wan nabiyyina arba_ba_(n), aya'murukum bil kufri ba'da iz antum muslimu_n(a). 3:81 Ayat 81 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 81 Wa iz akhazalla_hu misa_qan nabiyyina lama_ a_taitukum min kita_biw wa hikmatin summa ja_'akum rasu_lum musaddiqul lima_ ma'akum latu'minunna bihi wa latansurunnah(u_), qa_la a'aqrartum wa akhaztum'ala_ za_likum isri, qa_lu_ aqrarna_, qa_la fasyhadu_ wa ana ma'akum minasy sya_hidin(a). 3:82 Ayat 82 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 82 Faman tawalla_ ba'da za_lika fa ula_'ika humul fa_siqu_n(a).

 إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَٰئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا ۗ أَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ فَمَنْ تَوَلَّىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

      Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah". Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?". Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab: "Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu". Barang siapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. Allah berfirman bahwa orang-orang yang menukar janji mereka kepada Allah untuk mengikuti Muhammad saw., menyebutkan sifatnya kepada manusia, dan menjelaskan ihwalnya, serta menukar sumpah-sumpah dusta mereka yang keji dengan harga yang murah dan sedikit, berupa kesenangan yang fana di dunia ini, maka: ulaa-ika laa khalaqa laHum fil aakhirati (“Mereka tidak mendapatkan bagian pahala di akhirat”) maksudnya mereka tidak akan mendapatkan bagian pahala di akhirat kelak. Wa laa yukallimuHumullaaHu wa laa yandhuru ilaiHim yaumal qiyaamati (“Dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka di hari kiamat.”) dengan rahmat dari-Nya untuk mereka. Artinya Allah tidak akan mengajak mereka berbicara dengan ucapan yang lembut dan tidak akan melihat mereka dengan pandangan kasih sayang. Wa laa yuzakkiiHim (“dan tidak pula [akan] menyucikan mereka”) yakni dari berbagai macam dosa dan kotoran, sebaliknya Dia memerintahkan mereka masuk neraka. wa laHum ‘adzaabun aliim (“Dan bagi mereka adzab yang pedih.”)

 Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa bersumpah untuk merebut harta seorang muslim, maka ia akan bertemu dengan Allah, sedang Dia dalam keadaan murka.” Al-Asy’ats berkata, “Demi Allah hal itu terjadi pada diriku. Antara diriku dan seorang Yahudi pernah terjadi sengketa tanah. Lalu orang Yahudi itu mengingkari tanah milikku itu. Kemudian aku pun mengadu kepada Rasulullah saw. maka beliau bertanya kepadaku, ‘Apakah kamu punya bukti?’ ‘Tidak,’ jawabku. Orang Yahudi itu berkata, ‘Aku berani bersumpah.’ Lalu kukatakan, ‘Ya Rasulallah, jika ia bersumpah, maka hilanglah hartaku.’ Kemudian Allah menurunkan ayat: innal ladziina yasytaruuna bi-‘aHdillaaHi wa aimaaniHim tsamanan qaliilan (“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji [nya dengan Allah] dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit…”) Imam Ahmad meriwayatkan dari Sahl bin Anas, dari ayahnya, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai beberapa hamba yang Allah tidak mau berbicara kepada mereka pada hari Kiamat kelak, tidak mensucikan mereka, dan tidak pula melihat kepada mereka.” Ditanyakan, “Siapakah mereka itu, ya Rasulallah?” Beliau menjawab, “Orang yang melepaskan diri dari kedua orang tuanya dan membenci keduanya, orang yang melepaskan diri dari tanggung jawab kepada anaknya dan orang yang diberikan kenikmatan oleh suatu kaum, lalu mengingkari nikmat tersebut serta melepaskan diri dari mereka.” Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Ada tiga golongan yang pada hari Kiamat Allah tidak mengajak mereka berbicara, tidak melihat mereka, serta tidak pula mensucikan mereka, dan mereka akan memperoleh adzab yang pedih. Yaitu, orang yang melarang Ibnu Sabil mendapatkan sisa air yang dimilikinya, orang yang bersumpah atas suatu barang setelah `Ashar, yakni sumpah palsu, dan orang yang membai’at seorang imam, jika diberikan sesuatu kepadanya, ia akan mendukungnya, akan tetapi jika tidak memberinya, maka ia tidak memberikan dukungan kepadanya.” (Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari hadits Waki’. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.) Allah memberitahukan tentang orang-orang Yahudi, bahwa di antara mereka terdapat segolongan orang yang menyelewengkan firman-firman Allah dari makna yang sebenarnya dan menggantinya, serta menghilangkan maksudnya untuk menipu orang-orang yang tidak mengerti supaya mengira bahwa hal itu terdapat pula dalam Kitabullah, dan mereka pun menisbatkannya kepada Allah, padahal hal itu adalah perbuatan dusta terhadap Allah, sedang mereka sendiri mengetahui bahwa mereka telah berbuat dusta dan bohong dalam hal itu semua. Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Ketika para pendeta kalangan Yahudi dan Nasrani dari penduduk Najran berkumpul di tempat Rasulullah dan mengajak mereka kepada Islam, Abu Rafi’ al-Qurazhi berkata, “Wahai Muhammad, apakah engkau menginginkan kami menyembahmu sebagaimana orang-orang Nasrani itu menyembah `Isa bin Maryam?” Lalu seseorang dari penduduk Najran yang menganut agama Nasrani, disebut ar-Ra-is berkata, “Apakah itu yang engkau kehendaki dari kami, wahai Muhammad, dan apa untuk itu Pula engkau menyeru kami?” Maka Rasulullah bersabda, “Aku berlindung kepada Allah dari menyembah selain Allah atau menyuruh menyembah selain Allah. Bukan untuk itu Dia mengutusku dan bukan itu pula yang Dia perintahkan kepadaku.” Atau senada dengan hal ini. Karena ucapan kedua orang inilah, Allah menurunkan ayat yang artinya: “Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu ia berkata kepada manusia: ‘Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.’ Akan tetapi (ia berkata):

‘Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.’ Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan Malaikat dan para Nabi sebagai Rabb. Apakah patut ia menyuruhmu berbuat kekufuran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?” Dalam kitab al-Musnad dan Sunan at-Tirmidzi, sebagaimana akan dijelaskan bahwa `Adi bin Hatim berkata: “Ya Rasulullah, mereka tidak menyembah para pendeta dan rahib. Beliau menjawab, “Tidak, bahkan mereka (para pendeta dan rahib itu) menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal bagi mereka, lalu mereka pun mengikutinya. Maka yang demikian itulah penyembahan mereka terhadap para pendeta dan rahib mereka.” Orang-orang bodoh dari kalangan para pendeta dan rahib serta pemuka kesesatan termasuk dalam kecaman dan celaan ini. Berbeda dengan para Rasul dan para pengikutnya dari kalangan ulama yang konsisten, mereka hanya menyuruh kepada apa yang diperintahkan Allah serta apa yang disampaikan oleh para Rasul yang mulia. Mereka juga melarang apa yang dilarang oleh Allah dan apa yang disampaikan oleh para Rasul. Karena, para Rasul merupakan duta antara Allah dan makhluk-Nya dalam menunaikan risalah yang mereka bawa, serta menyampaikan amanat. Mereka melaksanakan tugasnya itu dengan amat baik dan sangat sempurna, menasehati umat manusia dan menyampaikan kebenaran kepada mereka. Ibnu ‘Abbas, Abu Razin, dan ulama lainnya berkata, “Jadilah orang-orang bijak, para ulama dan orang-orang yang bersabar.” Sedangkan al-Hasan dan ulama lainnya berkata, “Jadilah fuqaha (orang yang faham tentang agama).” Hal yang sama juga diriwayatkan dari Ibnu’Abbas, Sa’id bin Jubair, Qatadah, `Atha’ al-Khurasani, `Athiyyah al-‘Aufi, dan ar-Rabi’ bin Anas. Diriwayatkan pula dari al-Hasan bahwa maknanya adalah ahli ibadah dan ahli takwa. Muhammad bin Ishaq berkata, “ishrii” maksudnya beban yang kalian pikul, berupa perjanjian (dengan)-Ku, yaitu ikrar perjanjian (dengan)-Ku, adalah berat lagi dikukuhkan.” Ali bin Abi Thalib dan putera pamannya, Ibnu ‘Abbas ra. pemah berkata, “Allah tidak mengutus seorang Nabi pun melainkan Dia mengambil janji darinya, (Yaitu) jika Allah mengutus Muhammad, sedang ia dalam keadaan hidup niscaya ia akan beriman kepadanya, menolongnya dan memerintahkan kepada Nabi itu untuk mengambil janji dari umatnya: Jika Muhammad diutus sedang mereka hidup, niscaya mereka akan beriman kepadanya dan menolongnya.” Thawus, al-Hasan al-Bashri, dan Qatadah berkata, “Allah telah mengambil janji dari para Nabi, agar masing-masing mereka saling membenarkan satu dengan yang lainnya.” Pendapat ini tidak bertentangan dengan pendapat yang dikemukakan oleh `Ali dan Ibnu ‘Abbas, bahkan menuntut makna tersebut dan mendukungnya. Oleh karena itu, ‘Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma’mar dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, pendapat yang sama seperti pendapat `Ali dan Ibnu ‘Abbas. Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Tsabit, ia berkata, “Umar bin al-Khaththab pernah datang kepada Nabi seraya berkata: `Ya Rasulullah, sesungguhnya aku memerintahkan kepada seorang saudaraku yang beragama Yahudi dari suku Quraizhah (untuk menuliskan ringkasan Taurat), maka ia menuliskan untukku ringkasan dari isi Taurat. Berkenankah engkau jika aku perlihatkan hal itu kepadamu?’ ‘Abdullah bin Tsabit berkata, maka berubahlah wajah Rasulullah. Kemudian aku katakan kepada ‘Umar: ‘Tidakkah engkau melihat perubahan pada wajah Rasulullah?’ ‘Umar pun berkata: ‘Aku rela Allah sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Rasulku.’ ‘Abdullah bin Tsabit melanjutkan, maka hilanglah kemarahan Nabi dan beliau bersabda: ‘Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa berada di tengah-tengah kalian, lalu kalian mengikutinya dan meninggalkanku, maka kalian telah tersesat. Sesungguhnya kalian adalah (umat yang menjadi) bagianku dan aku adalah (Nabi yang menjadi) bagian kalian.” Dengan demikian, Muhammad adalah Rasul yang menjadi penutup para Nabi selama-lamanya sampai hari Kiamat kelak. Beliau adalah pemimpin agung, seandainya beliau muncul kapan saja, maka beliau yang wajib ditaati dan didahulukan atas seluruh Nabi. Oleh karena itu, beliau menjadi imam mereka (para Nabi) pada malam Israa’, yaitu ketika mereka berkumpul di Baitul Maqdis. Beliau juga adalah pemberi syafa’at di Mahsyar, agar Allah datang memberi keputusan di antara hamba-hamba-Nya. Syafa’at inilah yang disebut maqaaman mahmuudan (kedudukan yang terpuji) yang tidak pantas bagi siapa pun kecuali beliau, yang mana Uulul `Azmi dari kalangan para Nabi dan Rasul pun semua menghindar darinya (dari memberikan syafa’at), sampai tibalah giliran untuk beliau, maka syafa’at ini khusus bagi beliau. Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepadanya. Ayat ke77 Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik: 1. Melanggar perjanjian dan sumpah menyebabkan keluar dari agama dan masuk ke dalam api neraka. 2. Menjaga amanah adalah perjanjian Tuhan. Dalam ayat-ayat sebelumnya, pembicaraan soal amanah rakyat, ayat ini melihat penjagaan amanah sebagai satu dari perjanjian Tuhan yang harus dipelihara. Ayat ke 78 Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik: 1. Janganlah kita dengarkan segala omongan. Betapa sering perkataan indah yang dikira oleh manusia sebagai al-Quran, ternyata kontra dengan al-Quran. Hendaknya kita waspada karena terdapat beberapa orang yang menghancurkan agama atas nama agama. 2. Janganlah kita lalai terhadap bahaya para cendekiawan yang tidak bertakwa. Mereka mencampakkan rakyat ke jurang kesalahan dan kesesatan, juga berbohong atas nama tuhan dan menisbatkan perkataannya kepada Tuhan. Ayat ke 79-80 Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik: 1. Segala bentuk penyalahgunaan status, popularitas dan tanggung jawab adalah perbuatan terlarang. Bahkan para nabi pun tidak berhak menyalahgunakan status dan kedudukannya yang tinggi. 2. Hanya ulama rabbani yang berhak menafsirkan al-Quran, sebagaimana halnya jalan untuk menjadi rabbani adalah akrab dengan al-Quran, belajar dan mengajarkannya. 3. Segala bentuk berlebih-lebihan, memiliki ideologi yang ekstrim mengenai para nabi dan auliya adalah terlarang. Mereka adalah hamba-hamba Tuhan yang sampai pada derajat tinggi berkat ibadah, namun mereka tidak menganggap dirinya sebagai Tuhan. 4. Kufur bukan hanya mengingkari Tuhan. Menerima peran manusia dalam peletakan undang-undang yang bertentangan dengan aturan Tuhan juga berarti ingkar terhadap rubbubiyah Tuhan dan kufur kepada-Nya. Ayat ke 81-82 Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik: 1. Perbedaan para nabi dalam menjalankan risalah, sebagaimana halnya perbedaan para guru satu sekolah dalam bidang pengajaran. Tujuan mereka semuanya satu dan setiap guru memperkenalkan guru selepasnya kepada para murid untuk melanjutkan pelajaran. 2. Iman dengan sendirinya tidaklah cukup. Dukungan dan pertolongan agama dan para pemimpin agama juga diperlukan. 3. Meskipun semua nabi menerima antara satu dengan lainnya, namun tidak ada alasan para pengikut agama ilahi menunjukkan fanatisme yang tidak berdasar

Khamis, 1 Mac 2018

AYAT 75-76

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK; SURAH ALI-IMRAN 200AYAT

 Ayat 75 Wa min ahlil kita_bi man in ta'manhu bi qinta_riy yu'addihi ilaik(a), wa minhum man in ta'manhu bi dina_ril la_ yu'addihi ilaika illa_ ma_ dumta 'alaihi qa_'ima_(n), za_lika bi annahum qa_lu_ laisa 'alaina_ fil umiyyina sabil(un), wa yaqu_lu_na 'alalla_hil kaziba wa hum ya'lamu_n(a). 3:76 Ayat 76 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 76 Bala_ man aufa_ bi 'ahdihi wattaqa_ fa innalla_ha yuhibbul muttaqin(a).

 {وَمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لَا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِمًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَيْسَ عَلَيْنَا فِي الأمِّيِّينَ سَبِيلٌ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (75) بَلَى مَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ وَاتَّقَى فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ (76) }

 Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan, "Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi." Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. (Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.

 Allah Swt. memberitakan perihal orang-orang Yahudi, bahwa di antara mereka ada orang-orang yang khianat; dan Allah Swt. memperingatkan kaum mukmin agar bersikap waspada terhadap mereka, jangan sampai mereka teperdaya, karena sesungguhnya di antara mereka terdapat orang-orang yang disebutkan oleh firman-Nya: {مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ} ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya senilai satu qintar. (Ali Imran: 75) Yakni sejumlah harta yang banyak. {يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ} dia mengembalikannya kepadamu. (Ali Imran: 75). Yaitu barang yang nilainya kurang dari satu qintar jelas lebih ditunaikannya kepadamu. {وَمِنْهُمْ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لَا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِمًا} dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, dia tidak mengembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya, (Ali Imran: 75) Maksudnya, terus-menerus menagih dan mendesaknya agar melunasi hakmu. Apabila demikian sikapnya terhadap satu dinar, maka terlebih lagi jika menyangkut yang lebih banyak, maka ia tidak akan mengembalikannya kepadamu. Dalam pembahasan yang lalu pada permulaan surat ini telah diterangkan makna qintar. Adapun mengenai satu dinar, hal ini sudah dimaklumi kadarnya. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Amr As-Sukuti, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, dari Ziad ibnul Haisam, telah menceritakan kepadaku Malik ibnu Dinar yang telah mengatakan bahwa sesungguhnya dinar disebut demikian karena merupakan gabungan dari dua kata, yaitu din (agama) dan nar (yakni api). Menurut pendapat yang lain, makna dinar ialah 'barang siapa yang mengambilnya dengan jalan yang benar, maka ia adalah agamanya; dan barang siapa yang mengambilnya bukan dengan jalan yang dibenarkan baginya, maka baginya neraka'. Sehubungan dengan masalah ini selayaknya disebutkan hadis-hadis yang di-ta'liq oleh Imam Bukhari dalam berbagai tempat dari kitab sahihnya. Yang paling baik konteksnya ialah yang ada di dalam Kitabul Kafalah. Imam Bukhari mengatakan:

 قَالَ اللَّيْثُ: حَدَّثَنِي جَعْفَرُ بْنِ رَبِيعَةَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ هُرْمُز الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَّهُ ذَكَرَ رَجُلا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ سَأَلَ [بَعْضَ] بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنْ يُسْلِفَهُ أَلْفَ دِينَارٍ، فَقَالَ: ائْتِنِي بِالشُّهَدَاءِ أُشْهِدُهُمْ. فَقَالَ: كَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا. قَالَ: ائْتِنِي بِالْكَفِيلِ. قَالَ: كَفَى بِاللَّهِ كَفِيلا. قَال: صَدَقْتَ. فَدَفَعَهَا إِلَيْهِ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى، فَخَرَجَ فِي الْبَحْرِ فَقَضَى حَاجَتَهُ، ثُمَّ الْتَمَسَ مَرْكَبًا يَرْكَبُهَا يَقْدَمُ عَلَيْهِ لِلأجَلِ الَّذِي أَجَّلَهُ، فَلَمْ يَجِدْ مَرْكِبًا، فَأَخَذَ خَشَبَةً فَنَقَرَهَا فَأَدْخَلَ فِيهَا أَلْفَ دِينَارٍ، وَصَحِيفَةً مِنْهُ إِلَى صَاحِبِهِ، ثُمَّ زَجَّجَ مَوْضِعَهَا، ثُمَّ أَتَى بِهَا إِلَى الْبَحْرِ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنِّي استَسْلَفْت ُ فُلانًا أَلْفَ دِينَارٍ فَسَأَلَنِي كَفِيلا فَقُلْتُ: كَفَى بِاللَّهِ كَفِيلا فَرَضِيَ بِكَ . وَسَأَلَنِي شَهِيدًا، فَقُلْتُ: كَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا فَرَضِيَ بِكَ، وَإِنِّي جَهَدْتُ أَنْ أَجِدَ مَرْكَبًا أَبْعَثُ إِلَيْهِ الَّذِي لَهُ فَلَمْ أَقْدِرْ، وَإِنِّي اسْتَوْدَعْتُكَهَا. فَرَمَى بِهَا فِي الْبَحْرِ حَتَّى وَلَجَتْ فِيهِ، ثُمَّ انْصَرَفَ وَهُوَ فِي ذَلِكَ يَلْتَمِسُ مَرْكَبًا يَخْرُجُ إِلَى بَلَدِهِ، فَخَرَجَ الرَّجُلُ الَّذِي كَانَ أَسْلَفَهُ يَنْظُرُ لَعَلَّ مَرْكَبًا يَجِيئُهَُ بِمَالِهِ، فَإِذَا بِالْخَشَبَةِ الَّتِي فِيهَا الْمَالُ، فَأَخَذَهَا لأهْلِهِ حَطَبًا، فَلَمَّا كَسَرَهَا وَجَدَ الْمَالَ وَالصَّحِيفَةَ، ثُمَّ قَدِمَ الَّذِي كَانَ تَسَلَّف مِنْهُ، فَأَتَاه بِأَلْفِ دِينَارٍ، وَقَالَ: وَاللَّهِ مَا زِلْتُ جَاهِدًا فِي طَلَبِ مَرْكَبٍ لآتِيَكَ بِمَالِكَ، فَمَا وَجَدْتُ مَرْكَبًا قَبْلَ الَّذِي أَتَيْتُ فِيهِ. قَالَ: هَلْ كُنْتَ بَعَثْتَ إِلَيَّ بِشَيْءٍ؟ قَالَ: أَلَمْ أُخْبِرْكَ أَنِّي لَمْ أَجِدْ مَرْكَبًا قَبْلَ هَذَا؟ قَالَ: فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَدَّى عَنْكَ الَّذِي بَعَثْتَ فِي الْخَشَبَةِ، فَانْصَرِفْ بِأَلْفِ دِينَارٍ رَاشِدًا.

bahwa Al-Lais mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ja'far ibnu Rabi'ah, dari Abdur Rahman ibnu Hurmuz Al-A'raj, dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah Saw. yang pernah menceritakan: bahwa di zaman dahulu ada seorang lelaki dari kalangan umat Bani Israil berutang sejumlah seribu dinar kepada seorang lelaki lain yang juga dari Bani Israil. Lelaki yang diminta berkata, "Datangkanlah orang-orang yang aku akan jadikan mereka sebagai saksi." Lelaki yang mengajukan utang berkata, "Cukuplah Allah sebagai saksinya." Lelaki yang diminta berkata, "Datangkanlah kepadaku seorang penjamin." Lelaki yang meminta menjawab, "Cukuplah Allah sebagai penjaminnya." Lelaki yang diminta berkata, "Engkau benar," lalu ia memberikan utang itu kepadanya sampai waktu yang telah ditentukan. Lelaki yang berutang itu berangkat melakukan suatu perjalanan menempuh jalan laut. Setelah menyelesaikan urusan dan keperluannya, maka ia mencari perahu yang akan ditumpanginya menuju tempat lelaki pemiutang karena saat pembayarannya telah tiba, tetapi ia tidak menemukan sebuah perahu pun. Lalu ia mengambil sebatang kayu dan kayu itu dilubanginya, kemudian memasukkan ke dalamnya uang seribu dinar berikut sepucuk surat yang ditujukan kepada pemiliknya, lalu lubang itu ia tutup kembali dengan rapat. Ia datang ke tepi laut, lalu berkata, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku telah berutang kepada si Fulan sebanyak seribu dinar. Lalu ia meminta saksi kepadaku, maka kujawab bahwa cukuplah Allah sebagai saksinya. Ia meminta kepadaku seorang penjamin, lalu kujawab bahwa cukuplah Allah sebagai penjaminnya. Ternyata dia rida dengan-Mu. Sesungguhnya aku telah berupaya keras untuk menemukan sebuah perahu untuk mengirimkan pembayaran ini kepadanya, tetapi aku tidak mampu menemukannya.

 Sesungguhnya sekarang aku titipkan pembayaran ini kepada-Mu." Kemudian ia melemparkan kayu itu ke laut hingga kayu itu terapung-apung di atasnya. Setelah itu ia pergi seraya mencari perahu untuk menuju tempat pemiutang. Lalu lelaki yang memiliki piutang itu keluar melihat-lihat, barangkali ada perahu yang datang membawa hartanya. Ternyata ia menemukan sebatang kayu, yaitu kayu tersebut yang di dalamnya terdapat hartanya. Lalu ia mengambil kayu itu dengan maksud untuk dijadikan sebagai kayu bakar bagi keluarganya. Tetapi ketika ia membelah kayu itu, tiba-tiba ia menjumpai sejumlah uang dan sepucuk surat. Ketika lelaki yang berutang kepadanya tiba seraya membawa seribu dinar lagi dan berkata, "Demi Allah, aku terus berusaha keras mencari kendaraan yang dapat mengantarkan diriku kepadamu guna membayar utangku kepadamu, ternyata aku tidak menemukannya sebelum perahu yang membawaku sekarang ini." Lelaki yang memiliki piutang bertanya, "Apakah engkau telah mengirimkan sesuatu kepadaku?" Ia menjawab, "Bukankah aku telah ceritakan kepadamu bahwa aku tidak menemui suatu perahu pun sebelum perahu yang membawaku sekarang." Lelaki yang memiliki piutang berkata, "Sesungguhnya Allah telah menunaikan (melunaskan) utangmu melalui apa yang engkau kirimkan di dalam kayu itu." Maka si lelaki yang berutang itu pergi membawa seribu dinarnya dengan hati lega. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di salah satu tempat dari kitabnya dengan sigat jazm, sedangkan di lain tempat dari kitab sahihnya ia sandarkan hadis ini dari Abdullah ibnu Saleh, juru tulis Al-Lais, dari Lais sendiri. Imam Ahmad meriwayatkannya di dalam kitab musnadnya seperti ini dengan kisah yang panjang lebar dari Yunus ibnu Muhammad Al-Muaddib, dari Lais dengan lafaz yang sama. Al-Bazzar meriwayatkannya di dalam kitab musnadnya dari Al-Hasan ibnu Mudrik, dari Yahya ibnu Hammad, dari Abu Uwwanah, dari Umar ibnu Abu Salamah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. dengan lafaz yang semisal. Kemudian ia mengatakan bahwa tidak diriwayatkan dari Nabi Saw. kecuali dari segi dan sanad ini. Demikianlah menurutnya, tetapi ia keliru, karena adanya keterangan di atas tadi. ***************** Firman Allah Swt.: ذلِكَ بِأَنَّهُمْ قالُوا لَيْسَ عَلَيْنا فِي الْأُمِّيِّينَ سَبِيلٌ Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan, "Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi." (Ali Imran: 75) Yakni sesungguhnya yang mendorong mereka mengingkari perkara yang hak tiada lain karena mereka berkeyakinan bahwa tiada dosa dalam agama kami memakan harta orang-orang ummi —yaitu orang-orang Arab— karena sesungguhnya Allah telah menghalalkannya bagi kami. ***************** Firman Allah Swt.: وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. (Ali Imran: 75) Yaitu mereka telah membuat-buat perkataan ini dan bersandar kepada kesesatan ini, karena sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas mereka memakan harta benda kecuali dengan cara yang dihalalkan. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang suka berbuat kedustaan. Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Abu Ishaq Al-Hamdani, dari Abu Sa'sa'ah ibnu Yazid, bahwa seorang lelaki bertanya kepada Ibnu Abbas, "Sesungguhnya kami dalam perang memperoleh sejumlah barang milik ahli zimmah, yaitu berupa ayam dan kambing." Ibnu Abbas balik bertanya, "Lalu apakah yang akan kamu lakukan?" Ia menjawab, "Kami memandang tidak ada dosa bagi kami untuk memilikinya." Ibnu Abbas berkata, "Ini sama dengan apa yang dikatakan oleh Ahli Kitab, 'Bahwasanya tidak ada dosa bagi kami terhadap harta orang-orang ummi.' Sesungguhnya mereka apabila telah membayar jizyah, maka tidak dihalalkan bagi kalian harta benda mereka kecuali dengan suka rela mereka'." Hal yang sama diriwayatkan oleh As-Sauri, dari Abu Ishaq.

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، أَخْبَرَنَا أَبُو الرَّبِيعِ الزَّهْرَانِيُّ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ، حَدَّثَنَا جَعْفَرٌ
، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ: لَمَّا قَالَ أَهْلُ الْكِتَابِ: {لَيْسَ عَلَيْنَا فِي الأمِّيِّينَ سَبِيلٌ} قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ [صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ] كَذَبَ أَعْدَاءُ اللهِ، مَا مِنْ شِيٍء كَانَ فِي الجَاهِلِيَّةِ إِلا وَهُوَ تَحْتَ قَدَمَيَّ هَاتَيْنِ إِلا الأمَانَةَ، فَإِنَّهَا مُؤَدَّاةٌ إِلَى الْبَرِّ وَالفَاجِرِ"

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Abur Rabi' Az-Zahrani, telah menceritakan kepada kami Ya'qub, telah menceritakan kepada kami Ja'far, dari Sa'id ibnu Jubair yang menceritakan bahwa ketika Ahli Kitab mengatakan, "Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi" maka Nabi Allah Saw. bersabda: Dustalah musuh-musuh Allah itu. Tiada sesuatu pun yang terjadi di masa Jahiliah, melainkan ia berada di kedua telapak kakiku ini, kecuali amanat. Maka sesungguhnya amanat harus disampaikan, baik kepada orang yang bertakwa maupun kepada orang yang durhaka. ***************** Kemudian Allah Swt. berfirman: بَلى مَنْ أَوْفى بِعَهْدِهِ وَاتَّقى (Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya, dan bertakwa. (Ali Imran: 76) Yakni tetapi orang yang menunaikan janjinya dan bertakwa dari kalangan kalian, hai Ahli Kitab, yaitu janji yang kalian ikrarkan kepada Allah yang isinya menyatakan kalian akan beriman kepada Muhammad Saw. apabila telah diutus. Sebagaimana janji dan ikrar telah diambil dari para nabi dan umatnya masing-masing untuk mengikrarkan hal tersebut. Kemudian ia menghindari hal-hal yang diharamkan oleh Allah, lalu ia taat kepada-Nya dan kepada syariat-Nya yang dibawa oleh penutup para rasul yang juga sebagai penghulu mereka. فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

Rabu, 28 Februari 2018

ayat 69-74

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK:
SURAH ALI-IMRAN 200AYAT: AYAT 69-74:
Biss-mil-laa-hir-rahman-nir-rahim,.; Ayat 69

Waddat ta_'ifatum min ahlil kita_bi lau yudillu_nakum, wa ma_ yudillu_na illa_ anfusahum wa ma_ yasy'uru_n(a). 3:70 Ayat 70 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 70 Ya_ ahlal kita_bi lima takfuru_na bi a_ya_tilla_hi wa antum tasyhadu_n(a). 3:71 Ayat 71 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 71 Ya_ ahlal kita_bi lima talbisu_nal haqqa bil ba_tili wa taktumu_nal haqqa wa antum ta'lamu_n(a). 3:72 Ayat 72 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 72 Wa qa_lat ta_'ifatum min ahlil kita_bi a_minu_ billazi unzila'alallazina a_manu_ wajhan naha_ri wakfuru_ a_khirahu_ la'allahum yarji'u_n(a). 3:73 Ayat 73 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 73 Wa la_ tu'minu_ illa_ liman tabi'a dinakum, qul innal huda_ hudalla_h(i), ay yu'ta_ ahadum misla ma_ u_titum au yuha_jju_kum 'inda rabbikum, qul innal fadla biyadilla_h(i), yu'tihi may yasya_'u, walla_hu wa_si'un'alim(un). 3:74 Ayat 74 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 74 Yakhtassu bi rahmatihi may yasya_'(u), walla_hu zul fadlil 'azim(i).

 {وَدَّتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يُضِلُّونَكُمْ وَمَا يُضِلُّونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (69) يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ (70) يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (71) وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُوا بِالَّذِي أُنزلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (72) وَلا تُؤْمِنُوا إِلا لِمَنْ تَبِعَ دِينَكُمْ قُلْ إِنَّ الْهُدَى هُدَى اللَّهِ أَنْ يُؤْتَى أَحَدٌ مِثْلَ مَا أُوتِيتُمْ أَوْ يُحَاجُّوكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْ قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (73) يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (74) } “

Segolongan dari ahli kitab ingin menyesatkan kamu, Padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya. (QS. 3:69) Hai ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, Padahal kamu mengetahui (kebenarannya). (QS. 3:70) Hai ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan Menyembunyikan kebenaran, Padahal kamu mengetahuinya? (QS. 3:71) Segolongan (lain) dari ahli kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran). Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Rabb-mu “. Katakanlah: “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Mahamengetahui. (QS. 3:73) Allah menentukan rahmat-Nya (kenabian) kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. 3:74)

 Allah memberitahukan tentang kedengkian orang-orang Yahudi serta kejahatan mereka terhadap orang-orang yang beriman atas usaha mereka menjerumuskan ke dalam kesesatan. Allah memberitahukan bahwa akibat buruk dari perbuatan mereka itu akan kembali kepada mereka sendiri sedang mereka tidak menyadari bahwa mereka terpedaya oleh diri mereka sendiri. Ibnu Abu Nujaih meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan firman Allah Swt. yang menceritakan perihal orang-orang Yahudi dalam ayat ini, bahwa orang-orang Yahudi ada yang ikut salat Subuh bersama Nabi Saw., lalu mereka kembali kafir pada akhir siang harinya. Hal tersebut sebagai pengelabuan agar orang-orang melihat telah tampak adanya kesesatan bagi mereka dalam agama Nabi Saw. setelah mereka mengikutinya. Kemudian Allah berfirman sebagai pengingkaran terhadap mereka: yaa aHlal kitaabi lima takfuruuna bi aayaatillaaHi wa antum tasyHaduun (“Wahai Ahlul Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui [kebenarannya]”) Artinya, bahwa kalian mengetahui kebenaran ayat-ayat tersebut serta membuktikannya. Yaa aHlal kitaabi lima talbisuunal haqqa bil baathili wa taktumuunal haqqa wa antum ta’lamuun (“Wahai Ahlul Kitab, mengapa kamu memcampur-adukkan yang baq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?”) yakni, kalian menyembunyikan sifat Muhammad yang telah tertulis di dalam kitab-kitab kalian, sedang kalian telah mengetahui dan membuktikannya. Qaalat thaa-ifatum min aHlil kitaabi aaminuu bil ladzii unzila ‘alal ladziina aamanuu wajHan naHaari wakfuruu aakhiraHuu (“Segolongan lain dari Ahlul Kitab berkata [kepada sesamanya], ‘Perlihatkanlah [seolah-olah] kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman [Sahabat-Sahabat Rasul] pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya.”) Ini merupakan tipu daya yang dimaksudkan untuk menjadikan orang-orang yang lemah bingung terhadap masalah agama mereka. Mereka bersepakat untuk menampakkan keimanan pada siang hari dan mengerjakan shalat Subuh bersama orang-orang yang beriman. Jika siang telah berlalu, maka mereka kembali ke agama mereka sendini, agar orang-orang yang tidak mengerti mengatakan, “Yang menyebabkan mereka kembali kepada agama mereka lagi, bahwa mereka menemukan adanya kekurangan dan aib (cacat) dalam agama orang-orang Islam. Oleh karena itu mereka mengatakan: la’allaHum yarji’uun (“Supaya mereka (orang-orang yang beriman) kembali [kepada kekafiran].”) Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, “Segologan Ahlul Kitab mengatakan, Jika kalian bertemu dengan Sahabat-Sahabat Muhammad pada permulaan Siang, maka berimanlah. Dan jika waktu siang telah berlalu (sore hari), maka kerjakanlah shalat berdasarkan tuntunan agama kalian, supaya mereka mengatakan, `Mereka adalah Ahlul Kitab dan lebih tahu daripada kita.’ Demikian pula diriwayatkan dari Qatadah, as-Suddi, ar-Rabi’, dan Abu Malik. Dan firman-Nya, wa laa tu’minuu illaa liman tabi’a diinakum (“Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu.”) Maksudnya, orang-orang Yahudi mengatakan, janganlah kalian mempercayai atau memperlihatkan rahasia kalian dan apa yang ada pada kalian kecuali kepada orang-orang yang mengikuti agama kalian. Jangan pula kalian memberitahukan apa yang kalian ketahui mengenai sifat Muhammad kepada kaum muslimin sehingga mereka akan mempercayainya dan menjadikannya sebagai hujjah atas kalian. Allah Ta’ala berfirman: qul innal Hudaa HudallaaHi (“Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk [yang harus diikuti] adalah petunjuk Allah.”) Maksudnya, Dia-lah yang memberi hidayah kepada hati orang-orang yang beriman menuju kepada kesempurnaan iman dengan apa yang diturunkan kepada hamba dan Rasul-Nya, Muhammad, berupa tanda-tanda yang nyata, bukti-bukti yang pasti, dan hujjah-hujjah yang jelas, meskipun kalian, wahai orang-orang Yahudi, menyembunyikan apa yang kalian ketahui mengenai sifat Muhammad dari kitab-kitab yang kalian peroleh dari para Nabi sebelumnya. Firman-Nya: ay yu’taa ahadum mitsla maa uutiitum aw tuhaajjuukum ‘inda rabbikum (“Dan janganlah kamu percaya bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan jangan pula kamu percaya bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Rabb-mu.”) Maksudnya; orang-orang Yahudi mengatakan, “Janganlah kalian memberitahukan ilmu yang ada pada kalian kepada kaum muslimin, sehingga mereka akan mempelajarinya dari kalian serta menyamai kalian dalam penguasaannya dan bahkan melebihi kalian karena keteguhan iman mereka akan mengalahkan kalian di sisi Rabb kalian. Yaitu mereka akan menjadikannya sebagai hujjah terhadap kalian. Sehingga dengan demikian akan ada bukti dan hujjah yang kuat terhadap kalian di dunia dan di akhirat. Firman-Nya: qul innal fadl-la biyadillaaHi yu’tiiHi may yasyaa-u (“Katakanlah, Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Dia memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”) artinya, segala sesuatu berada di bawah kendali Allah, Dia yang memberi atau menahan, menganugerahkan iman, pengetahuan, dan pengaturan yang sempurna kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, juga menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya, dengan membutakan mata kepala dan mata hatinya, mengunci hati dan pendengarannya, serta menutup penglihatannya. Hanya Dia pemilik hujjah yang sempurna dan hikmah yang sempurna. wallaaHu waasi’un ‘aliim. Yakhtashshu birahmatiHii may yasyaa-u wallaaHu dzul fadl-lil ‘adhiim (“Dan Allah Mahaluas [karunia-Nya] lagi Mahamengetahui. Allah menentukan rahmat-Nya [kenabian] kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar.” Maksudnya, wahai orang-orang yang beriman, Allah telah mengkhususkan karunia-Nya kepada kalian, karunia yang tidak terhingga dan tidak terlukiskan, berupa kemuliaan yang dianugerahkan kepada Nabi kalian, Muhammad atas semua Nabi yang lainnya. Dan dengan hidayah yang diberikan kepada kalian menuju kesempurnaan syari’at.

Selasa, 27 Februari 2018

ayat 63-70

 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK ;
 SURAH ALI-IMRAN 200AYAT; Pada Ayat 63-70
* kembali menyoroti kekeliruan konsep ketuhanan Ahli Kitab. Sebab itu, Allah memerintahkan Rasul saw. dan umatnya untuk menyeru mereka agar sama-sama mentauhidkan Allaah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, termasuk dengan Nabi dan para ulama. Jika mereka tidak mau, katakan dengan tegas bahwa kami adalah muslim. Di antara kebodohan Yahudi dan Nasrani ialah berdebat tentang Ibrahim. Masing-masing mengkalim Ibrahim penganut agamanya. Padahal Yahudi dengan Kitab Tauratnya dan Nasrani dengan Kitab Injil jauh setelah Ibrahim. Kenapa mereka tidak berfikir? Kenapa mereka berdebat apa yang mereka tidak ketahui. Allah Maha Tahu Ibrahim bukanlah penganut Yahudi dan bukan pula Nasrani. Dia adalah penganut tauhid, muslim dan bukan dari kalangan musyrikin. Sebab itu, Ibrahim lebih dekat kepada para pengikutnya, Nabi Muhammad dan kaum mukmin. Ada segolongan Ahlul Kitab yang menginginkan kaum muslimin sesat. Yang sesat itu adalah Ahlul kitab. Mereka tidak sadar. Sebab itu, Allah menegur penolakan mereka terhadap ayat-ayat Allah, padahal mereka menyaksikan kebenarannya.
*Ayat 63 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 63 Fa in tawallau fa innalla_ha'alimum bil mufsidin(a)., Ayat 64 Qul ya_ ahlal kita_bi ta'a_lau ila_ kalimatin sawa_'im bainana_ wa bainakum alla_ na'buda illalla_ha wa la_ nusyrika bihi syai'aw wa la_ yattakhiza ba'duna_ ba'dan arba_bam min du_nilla_h(i), fa in tawallau fa qu_lusyhadu_ bi anna_ muslimu_n(a). Ayat 65-Ya_ ahlal kita_bi lima tuha_jju_na fi ibra_hima wa ma_ unzilatit taura_tu wal injilu illa_ mim ba'dih(i), afala_ ta'qilu_n(a). , Ayat 66-Ha_ antum ha_'ula_'i ha_jajtum fima_ lakum bihi 'ilmun falima tuha_jju_na fima_ laisa lakum bihi 'ilm(un), walla_hu ya'lamu wa antum la_ ta'lamu_n(a)., Ayat 67-Ma_ ka_na ibra_himu yahu_diyyaw wa la_ nasra_niyyaw wa la_kin ka_na hanifam muslima_(n), wa ma_ ka_na minal musyrikin(a). Ayat 68-Inna aulan na_si bi ibra_hima lallazinattaba'u_hu wa ha_zan nabiyyu wallazina a_manu_, walla_hu waliyyul mu'minin(a). Ayat 69-Waddat ta_'ifatum min ahlil kita_bi lau yudillu_nakum, wa ma_ yudillu_na illa_ anfusahum wa ma_ yasy'uru_n(a). Ayat 70-Ya_ ahlal kita_bi lima takfuru_na bi a_ya_tilla_hi wa antum tasyhadu_n(a).
 *63. فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِالْمُفْسِدِينَ Kemudian jika mereka berpaling (dari kebenaran), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan.64. قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".65. يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ وَمَا أُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ وَالإنْجِيلُ إِلا مِنْ بَعْدِهِ أَفَلا تَعْقِلُونَ Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?66. هَا أَنْتُمْ هَؤُلاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui?; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.67. مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik."68. إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.69. وَدَّتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يُضِلُّونَكُمْ وَمَا يُضِلُّونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya.70. يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya).
*Kalimat ini merupakan kalimat yang disepakati oleh para nabi dan rasul, dan tidak ada yang menyelisihinya selain orang yang keras kepala dan sesat. Kalimat tersebut bukanlah kalimat yang khusus bagi pihak tertentu, bahkan semua juga harus memilikinya. Hal ini merupakan sikap adil dalam berbicara dan inshaf dalam berdebat. Kalimat tersebut adalah kalimat Laailaahaillallah sebagaimana yang diterangkan pada kalimat selanjutnya. Baik dengan nabi, malaikat, patung, berhala, salib, hewan maupun benda mati.Seperti menjadikan rahib dan orang alim mereka sebagai tuhan, dengan mentaati apa yang mereka perintahkan meskipun menyalahi perintah Allah, misalnya ketika mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan, mereka mengikutinya, dan ketika mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan, mereka pun mengikutinya. Dalam ayat ini terdapat perintah agar kita hanya taat mutlak kepada Allah dan Rasul-Nya dan tidak taat kepada makhluk saat mereka bermaksiat kepada Allah.Ayat ini turun ketika orang-orang Yahudi mengatakan bahwa Nabi Ibrahim beragama Yahudi, sedangkan orang-orang Nasrani mengatakan bahwa Nabi Ibrahim beragama Nasrani. Maka Allah membantah mereka dengan tiga alasan: Faedah mengatakan kata-kata ini kepada mereka (ahlul kitab) untuk menegakkan hujjah kepada mereka. Di samping itu, jika kita telah tunduk dan beriman, maka Allah tidak peduli dengan orang-orang yang tidak mau masuk Islam karena memang niat mereka yang buruk, sebagaimana firman Allah Ta'ala: Allah memberitahukan tentang kedengkian orang-orang Yahudi serta kejahatan mereka terhadap orang-orang yang beriman atas usaha mereka menjerumuskan ke dalam kesesatan. Allah memberitahukan bahwa akibat buruk dari perbuatan mereka itu akan kembali kepada mereka sendiri sedang mereka tidak menyadari bahwa mereka terpedaya oleh diri mereka sendiri. Kemudian Allah berfirman sebagai pengingkaran terhadap mereka: yaa aHlal kitaabi lima takfuruuna bi aayaatillaaHi wa antum tasyHaduun (“Wahai Ahlul Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui [kebenarannya]”) Artinya, bahwa kalian mengetahui kebenaran ayat-ayat tersebut serta membuktikannya. Yaa aHlal kitaabi lima talbisuunal haqqa bil baathili wa taktumuunal haqqa wa antum ta’lamuun (“Wahai Ahlul Kitab, mengapa kamu memcampur-adukkan yang baq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?”) yakni, kalian menyembunyikan sifat Muhammad yang telah tertulis di dalam kitab-kitab kalian, sedang kalian telah mengetahui dan membuktikannya.Wahai orang-orang yang diberi Taurat dan Injil, mengapa kalian mengingkari ayat-ayat Allah yang Dia turunkan kepada Rasul-rasul-Nya di dalam kitab-kitab kalian, dan di dalamnya terdapat keterangan bahwa Muhammad adalah rasul yang dinanti-nantikan, dan bahwa apa yang dia bawa kepada kalian adalah kebenaran, sementara kalian mengakui hal itu? Akan tetapi kalian justru mengingkarinya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan orang-orang yang beriman inilah yang lebih cocok mengatakan bahwa mereka di atas agama Nabi Ibrahim 'alaihis salam. Adapun orang-orang yang membuang agamanya ke belakang punggungnya seperti orang-orang Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik, bukanlah di atas agama Nabi Ibrahim 'alaihis salam, dan Beliau berlepas diri dari mereka.

Isnin, 26 Februari 2018

AYAT 64-68

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK ;
 SURAH ALI-IMRAN 200AYAT;
AYAT 64,65,67,68;

 قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ()يَاأَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ وَمَا أُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ إِلَّا مِنْ بَعْدِهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ()هَا أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ() مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ()إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ(*)

 Ayat 64 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 64 Qul ya_ ahlal kita_bi ta'a_lau ila_ kalimatin sawa_'im bainana_ wa bainakum alla_ na'buda illalla_ha wa la_ nusyrika bihi syai'aw wa la_ yattakhiza ba'duna_ ba'dan arba_bam min du_nilla_h(i), fa in tawallau fa qu_lusyhadu_ bi anna_ muslimu_n(a). 3:65 Ayat 65 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 65 Ya_ ahlal kita_bi lima tuha_jju_na fi ibra_hima wa ma_ unzilatit taura_tu wal injilu illa_ mim ba'dih(i), afala_ ta'qilu_n(a). 3:66 Ayat 66 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 66 Ha_ antum ha_'ula_'i ha_jajtum fima_ lakum bihi 'ilmun falima tuha_jju_na fima_ laisa lakum bihi 'ilm(un), walla_hu ya'lamu wa antum la_ ta'lamu_n(a). 3:67 Ayat 67 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 67 Ma_ ka_na ibra_himu yahu_diyyaw wa la_ nasra_niyyaw wa la_kin ka_na hanifam muslima_(n), wa ma_ ka_na minal musyrikin(a). 3:68 Ayat 68 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 68 Inna aulan na_si bi ibra_hima lallazinattaba'u_hu wa ha_zan nabiyyu wallazina a_manu_, walla_hu waliyyul mu'minin(a) “

Katakanlah: ‘Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah’. Jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)’. (Ali ‘Imraan: 64)“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir. (QS. 3:65) Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah-membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 3:66) Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik”. (QS. 3:67) Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.” (QS. 3:68)

 dari tiga ayat di atas dalam surah ali imran allah melahirkan kisah perselisihan faham antara ahli kitab ketika mana menafsir kan tentang tuhan yakn i allah azawajalla,Seruan ini mencakupi ahlul kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Qul yaa aHlal kitaabi ta’aalaw ilaa kalimatin (“Katakanlah: ‘Wahai orang-orang ahlul kitab, marilah kita berpegang pada suatu [ketetapan]’”) maksud dari kata “kalimat” adalah sebuah kalimat yang memberikan sebuah pengertian, demikian pula yang dimaksud dalam ayat ini.

Kemudian Allah menyifatinya dengan firman-Nya: sawaa-im bainanaa wa bainakum (“Yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu.”) yaitu sama dan seimbang antara kami dan kalian. Kemudian hal itu ditafsirkan melalui firman Allah: allaa na’buda illallaaHa wa laa nusyrika biHii syai-an (“Bahwa kita tidak beribadah kecuali kepada Allah, dan kita tidak menyekutukan Dia dengan suatu apapun.”) artinya tidak menyekutukannya dengan berhala, salib, patung, thaghut, api dan hal lainnya. Tetapi kita memurnikan ibadah itu hanya kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan inilah misi seluruh Rasul Allah. Dia berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat [untuk menyerukan]: ‘Beribadahlah kepada Allah saja dan jauhilah thaghut itu.’” (an-Nahl: 36) Kemudian Dia berfirman: wa laa tattakhidza ba’dlunaa ba’dlan arbaabam min duunillaaHi (“[dan tidak pula] sebagian kita menjadikan sebagian lain sebagai rabb-rabb selain Allah.”) Ibnu Juraij berkata, “Maksudnya sebagian kami tidak mentaati lainnya dalam bermaksiat kepada Allah.” Sedangkan ‘Ikrimah berkata, “Sebagian kami tidak bersujud kepada sebagian yang lain.” Fa in tawallaw faquulusyHaduu bi annaa muslimuun (“Jika mereka berpaling maka katakanlah: ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri [kepada Allah].”) maksudnya jika mereka berpaling dari kesamaan dan seruan ini, maka bersaksilah bahwa kalian akan tetap berada pada Islam yang telah disyariatkan oleh Allah swt bagi kalian. Telah kami sebutkan dalam Syarh al-Bukhari ketika ia meriwayatkan dari jalan az-Zuhri, dari Ibnu ‘Abbas, dari Abu Sufyan dalam kisahnya ketika menghadap sang Kaisar, lalu Kaisar bertanya kepadanya tentang nasab, sifat, dan perangai Rasulullah serta apa yang didakwahkannya. Maka ia pun menceritakan semua secara gamblang dan tuntas, padahal pada saat itu Abu Sufyan masih musyrik dan belum memeluk Islam. Peristiwa itu terjadi setelah perjanjian Hudaibiyah, sebelum pembebasan kota Makkah. Sebagaimana hal tersebut dinyatakan dalam hadits. Demikian pula pada saat ia ditanya, “Apakah ia itu suka berkhianat?” Abu Sufyan menjawab, “Tidak, selama ini kami tidak mengetahui darinya bahwa dia berbuat seperti itu.” Kemudian Abu Sufyan berkata: “Aku tidak dapat menambahkan suatu berita apapun selain dari itu.” Tujuan diketengahkan kisah ini ialah, bahwa diperlihatkannya surat Rasulullah kepadanya, di mana Abu Sufyan membacanya ternyata isinya: “Dengan Nama Allah yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Dari Muhammad Rasulullah untuk Heraclius, pembesar Romawi. Semoga keselamatan dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk, Amma ba’du, Masuklah Islam, maka anda akan selamat. Masuklah Islam, niscaya Allah memberi anda pahala dua kali. Jika anda berpaling, maka anda akan memikul dosa kaum Arisiyyin. “Wahai Ahlul Kitab, marilah berpegang kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak beribadah kecuali kepada Allah dan kita tidak menyekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai rabb-rabb selain Allah. “Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mareka, `Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).'” Muhammad bin Ishaq dan ulama lainnya telah menyebutkan bahwa permulaan surat Ali-‘Imran sampai pada ayat 80-an lebih adalah diturunkan berkaitan dengan utusan Najran. Sedangkan az-Zuhri berkata, “Mereka itu adalah orang yang pertama kali menyerahkan jizyah.” Allah mengingkari orang-orang Yahudi dan Nasrani yang saling berbantah-bantahan di antara mereka mengenai Ibrahim Khalilullah serta pengakuan setiap kelompok dari mereka bahwa Ibrahim adalah dari golongan mereka, sebagaimana Muhammad bin Ishaq bin Yasar mengatakan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Orang-orang Nasrani Najran dan para pendeta Yahudi berkumpul di tempat Rasulullah, lalu mereka saling bertengkar di hadapan beliau. Para pendeta Yahudi itu berkata, ‘Ibrahim itu tiada lain adalah seorang Yahudi.’ Sedangkan orang-orang Nasrani berkata, ‘Ibrahim itu tidak lain adalah seorang Nasrani.’ Maka Allah menurunkan firman-Nya, yaa aHlal kitaabi lima tuhaajjuuna fii ibraaHiima (“Wahai Ahlul Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim.”) Maksudnya, hai orang-orang Yahudi, bagaimana mungkin kalian mengakuinya bahwa ia itu seorang Yahudi, padahal zamannya itu sebelum Allah menurunkan Taurat kepada Musa as. Dan bagaimana mungkin, hai orang-orang Nasrani, kalian mengakuinya bahwa ia itu seorang Nasrani, padahal agama Nasrani itu adalah setelah masanya Ibrahim berlalu. Oleh karena itu, Allah berfirman: Haa antum Haa-ulaa-i haajajtum fiimaa lakum biHii ‘ilmun falima tuhaajjuuna fiimaa laisa lakum biHii ‘ilmun (“Beginilah kamu, kamu ini [sewajarnya bantah-membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka mengapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui?”) Hal ini merupakan penolakan terhadap orang-orang yang berbantah-bantahan mengenai suatu hal yang sama sekali tidak mereka ketahui. Karena sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani itu berbantah-bantahan mengenai Ibrahim tanpa didasari pengetahuan. Sekiranya mereka memperdebatkan mengenai sesuatu yang ada pada mereka yang mereka ketahui, seperti yang berkenaan dengan agama mereka yang telah disyari’atkan bagi mereka sampai pada pengutusan Muhammad, tentu yang demikian itu akan lebih baik bagi mereka. Namun sayangnya mereka memperdebatkan sesuatu yang mereka tidak mengetahui. Oleh karena itu, Allah mengingkari apa yang mereka lakukan tersebut serta memerintahkan mereka untuk menyerahkan apa yang mereka tidak ketahui itu kepada Allah yang Mahamengetahui semua hal yang ghaib dan yang nyata, yang mengetahui segala sesuatu dengan sebenar-benarnya dan sejelas-jelasnya. Untuk itu Dia berfirman: wallaaHu ya’lamu wa antum laa ta’lamuun (“Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”) Setelah itu Dia berfirman: Maa kaana ibraaHiimu yaHuudiyyaw wa laa nashraaniyyaw walaakin kaana haniifam musliman (“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan [pula] seorang Nasrani, akan tetapi ia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri [kepada Allah].”) Hanifan artinya berpaling dari kemusyrikan, menuju kepada iman. Wa maa kaana minal musyrikiin (“dan bukanlah sekali-sekali ia termasuk golongan orang orang musyrik.”) Ayat ini seperti (semakna) dengan ayat yang telah berlalu pada surat al-Baqarah: wa qaaluu kuunuu Hudan au nashaaraa taHtaduu (“Mereka berkata: ‘Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.’”) (QS. Al-Baqarah: 135) Selanjutnya Dia berfirman, inna aulan naasi bi-ibraaHiima lalladziinat taba’uuHu wa Haadzan nabiyyuu wal ladziina aamanuu wallaaHu waliyyul mu’miniin (“Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim adalah orang orang yang mengikutinya dan Nabi ini [Muhammad], serta orang-orang yang beriman [kepada Muhammad]. Dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman.”) Artinya Allah menyampaikan, bahwa orang yang paling berhaq sebagai pengikut Ibrahim Khalilullah adalah orang-orang yang mengikutinya dalam agamanya, dan Nabi ini [Muhammad saw.] dan orang-orang beriman dari para shahabatnya yaitu kaum Anshar dan Muhajirin serta orang-orang yang mengikuti mereka [para shahabat ini]. Sedangkan firman Allah: wallaaHu waliyyul mu’miniin (“dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman.”) maksudnya pelindung bagi semua orang yang beriman kepada para Rasul-Nya.

Ahad, 25 Februari 2018

AYAT 59-63

                                 
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK;
SURAH ALI-IMRAN 200AYAT ;
          BISS-MILLAA-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM;

                                    tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 59-63

3:59 Ayat 59 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 59 Inna masala 'isa_ 'indalla_hi ka masali a_dam(a), khalaqahu_ min tura_bin summa qa_la lahu_ kun fa yaku_n(u). 3:60 Ayat 60 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 60 Al haqqu mir rabbika fala_ taku_m minal mumtarin(a). 3:61 Ayat 61 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 61 Faman ha_jjaka fihi mim ba'di ma_ ja_'aka minal 'ilmi faqul ta'a_lau nad'u abna_'ana_ wa abna_'akum wa nisa_'ana_ wa nisa_'akum wa anfusana_ wa anfusakum, summa nabtahil fa naj'al la'natalla_hi 'alal ka_zibin(a). 3:62 Ayat 62 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 62 Inna ha_za_ lahuwal qasasul haqq(u), wa ma_ min ila_hin illalla_h(u), wa innalla_ha lahuwal 'azizul hakim(u). 3:63 Ayat 63 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 63.Fa in tawallau fa innalla_ha'alimum bil mufsidin(a).

 “Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘jadilah’ (seorang manusia), maka jadilah dia. (QS. 3:59) (Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Rabb-mu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS. 3:60) Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan din kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (QS. 3:61) Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Ilah (yang berhaq disembah) selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS. 3:62) Kemudian jika mereka berpaling (dari kebenaran), maka sesungguhnya Allah Mahamengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. 3:63)

 Allah swt. berfirman, inna matsala ‘iisaa ‘indallaaHi (“Sesungguhnya misal [penciptaan] ‘Isa di sisi Allah.”) Maksudnya dalam kekuasaan Allah, ketika Dia menciptakan ‘Isa tanpa adanya seorang ayah, kamatsali aadama (“Adalah seperti [penciptaan] Adam.”) Di mana Adam diciptakan dengan tidak melalui seorang ayah maupun ibu, tetapi: khalqaHuu min turaabin tsumma qaala laHuu kun fayakuun (“Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘jadilah, “maka jadilah ia.” Maka Allah yang telah menciptakan Adam tanpa adanya ayah, pasti Dia lebih layak mampu menciptakan ‘Isa, dilihat dari teori kelayakan. Jika pengakuan terhadap `Isa anak Allah itu dibolehkan, karena ia diciptakan tanpa ayah, maka pengakuan terhadap diri Adam sebagai anak Rabb lebih layak lagi untuk dibolehkan. Sebagaimana diketahui secara sepakat, bahwa pengakuan terhadap diri Adam sebagai anak Rabb adalah bathil, maka pengakuan terhadap `Isa sebagai anak Rabb adalah lebih bathil dan lebih jelas kerusakannya. Namun Allah ingin memperlihatkan kekuasaan-Nya bagi semua makhluk-Nya, ketika Dia menciptakan Adam tidak melalui seorang laki-laki maupun wanita, dan menciptakan Hawa melalui seorang laki-laki tanpa wanita, serta Dia menciptakan `Isa melalui seorang wanita tanpa laki-laki, sedang Dia menciptakan manusia lainnya melalui laki-laki dan wanita. Oleh karena itu, Dia berfirman dalam surat Maryam, wa linaj’alaHuu aayatal linnaasi (“Sungguh Kami akan menjadikannya sebagai tanda kebesaran bagi manusia.”) (QS. Maryam: 21) Sementara di sini, Dia berfirman: alhaqqu mir rabbika falaa takuunanna minal mumtariin (“[Apa yang telah Kami ceritakan] itulah yang benar, yang datang dari Rabb-mu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.”) Maksudnya, itulah ucapan yang benar mengenai diri `Isa; yang tidak ada penyimpangan di dalamnya dan tidak ada pula yang benar selain itu, maka tidak ada hal lain setelah kebenaran itu kecuali kesesatan. Selanjutnya Allah memerintahkan Rasulullah untuk bermubahalah dengan siapa yang menentang kebenaran mengenai diri `Isa setelah datangnya penjelasan dengan firman-Nya, faman haajjaaka fiiHi mim ba’di maa jaa-aka minal ‘ilmi faqul ta’aalaw nad’u abnaa-anaa wa abnaa-akum wa nisaa-anaa wa nisaa-akum wa anfusanaa wa anfusakum (“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu [yang meyakinkan kamu], maka katakanlah [kepadanya], Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu.”) Yaitu kami hadirkan mereka pada saat mubahalah (saling melaknat). Tsumma nabtaHil (“Kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah.”) Yaitu saling melaknat. Fa naj’al la’natallaaHi ‘alal kaadzibiin (“Maka kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta,”) baik dari kalangan kami maupun kalian. Sebab turunnya ayat mubahalah ini dan ayat sebelumnya, dari permulaan surat sampai ayat ini adalah, mengenai utusan Najran. Yaitu, ketika orang-orang Nasrani datang, lalu mereka mendebat mengenai diri `Isa dan mereka beranggapan bahwa ia (Isa) sebagai anak Allah dan salah satu sesembahan.

Maka Allah menurunkan permulaan surat ini guna membantah mereka, sebagaimana yang disebutkan Imam Muhammad bin Ishaq bin Yasar dan ulama lainnya. Ibnu Ishaq berkata, dalam kitab Sirahnya yang terkenal, dan juga ulama lainnya: “Utusan orang-orang Nasrani dari Najran yang berjumlah 60 (enam puluh) orang datang kepada Rasulullah dengan menaiki kendaraan. Di antara mereka terdapat 14 (empat belas) orang pemuka mereka dan sebagai tumpuan segala urusan mereka. Mereka itu adalah al-‘Aqib yang bernama Abdul Masih, as-Sayyid yang bernama al-Aiham, Abu Haritsah bin ‘Alqamah saudara Bakar bin Wa’il, Uwais bin al-Harist, Zaid, Qais, Yazid dan kedua puteranya, Khuwailid, ‘Amr, Khalid, ‘Abdullah, Muhsin. Sedang penanggung jawab mereka ada tiga orang yaitu: Al-‘Aqib, dialah pemimpin rombongan, pencetus ide, dan penentu perundingan, yang mereka tidak bisa memutuskan kecuali atas pendapatnya. Kedua, as-Sayyid, sebagai orang alim, pengatur perjalanan dan tempat singgah mereka. Dan ketiga, Abu Haritsah bin ‘Alqamah, sebagai uskup dan pemimpin kajian mereka, yang aslinya berkebangsaan Arab, berasal dari Bani Bakar bin Wa’il, tetapi ia masuk Nasrani sehingga ia sangat diagungkan dan dimuliakan oleh orang-orang Romawi dan raja-raja mereka. Mereka membangunkan gereja-gereja untuknya serta mengabdikan diri mereka kepadanya karena mereka mengetahui keteguhannya dalam memeluk agama.” Abu Haritsah bin ‘Alqamah ini sebenarnya telah mengetahui ihwal, sifat, keadaan Rasulullah saw. yang diketahuinya dari kitab-kitab terdahulu, namun ia tetap terus memeluk agama Nasrani, karena ia merasa mendapat penghormatan dan kedudukan dari para pengikutnya. Lebih lanjut Ibnu Ishaq berkata, Muhammad bin Ja’far bin az-Zubair menceritakan kepadaku, ia berkata: “Mereka tiba di Madinah dan menemui Rasulullah di masjid Nabawi ketika beliau sedang shalat `Ashar. Mereka mengenakan pakaian pendeta, yaitu jubah dan mantel dengan menunggang unta-unta milik para pemuka Bani al-Harits Ibnu Ka’ab. Sahabat Rasulullah yang melihat mereka mengatakan, “Kami tidak pernah melihat sesudah mereka utusan seperti mereka.” Ketika itu, telah masuk waktu shalat mereka, maka mereka pun berdiri shalat di masjid Nabawi, lalu Rasulullah bersabda, “Biarkan mereka.” Mereka mengerjakan shalat dengan menghadap ke timur. Setelah itu beberapa orang dari mereka, berbicara kepada Rasulullah antara lain Abu Haritsah bin ‘Alqamah, al-‘Aqib ‘Abdul Masih, dan as-Sayyid al-Aiham. Mereka semua ini adalah beragama Nasrani yang sefaham (sealiran) dengan faham Raja, meski ada perbedaan di antara mereka. Ada yang berpendapat bahwa `Isa adalah Allah, pendapat yang lain menyatakan bahwa ia adalah anak Allah, dan pendapat ketiga menyatakan bahwa ia adalah salah satu dari trinitas. Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan itu.” Demikianlah keyakinan orang-orang Nasrani, mereka yang mengatakan `Isa adalah Allah, berhujjah bahwa ia dapat menghidupkan orang yang sudah mati, menyembuhkan orang yang buta dan penderita sakit kusta, serta dapat memberitahukan hal-hal yang ghaib, membuat bentuk burung dari tanah liat lalu meniupnya sehingga menjadi burung. Padahal semua itu berdasarkan perintah Allah. Dan agar Allah menjadikannya sebagai tanda kekuasaan-Nya bagi umat manusia. Sedang yang menyatakan bahwa `Isa adalah anak Allah, mereka berhujjah bahwa ia tidak berayah, dan dapat berbicara pada saat masih bayi, suatu hal yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Adapun yang berkeyakinan bahwa `Isa itu salah satu dari trinitas, mereka berhujjah pada firman Allah, “Kami melakukan, Kami memerintahkan, Kami menciptakan, dan Kami telah putuskan. Menurut mereka, “Jika Allah itu satu, niscaya Dia akan berkata, Aku berbuat, Aku memerintah, Aku memutuskan, dan Aku menciptakan.’ Tetapi kata ‘Kami’ itu kembali kepada Allah, `Isa, dan Maryam.” –Mahatinggi dan Mahasuci Allah dari perkataan orang-orang yang zhalim dan ingkar dengan ketinggian yang setinggi-tingginya, karena semua yang mereka katakan itu telah disebutkan dalam al-Qur’an. Tatkala dua pendeta berbicara kepada Rasulullah saw, beliau pun bersabda kepada keduanya, “Masuklah Islam.” Jawab mereka berdua, “Kami telah memeluk Islam.” Beliau bersabda lagi, “Sesungguhnya kalian berdua belum masuk Islam, maka masuklah Islam.” Mereka pun menjawab, “Sungguh kami telah memeluk Islam sebelum dirimu.” Beliau pun bersabda, “Kalian berdua berdusta. Pengakuan kalian berdua bahwa Allah mempunyai anak dan penyembahan kalian terhadap salib, serta tindakan kalian memakan daging babi menghalangi kalian masuk Islam.” Mereka berdua pun bertanya, “Lalu siapa ayahnya (Isa) itu, wahai Muhammad?” Rasulullah diam dan tidak memberikan jawaban kepada keduanya. Lalu dikarenakan ucapan mereka dan perbedaan pendapat di antara mereka, Allah menurunkan permulaan surat Ali-Imran sampai 80 ayat lebih. Al-Bukhari meriwayatkan dari Hudzaifah, ia berkata; “Al-`Agib dan as-Sayyid, keduanya pemuka Najran datang kepada Rasulullah. Mereka berdua bermaksud untuk mengajak mubahalah dengan Nabi, lalu salah seorang dari keduanya berkata kepada yang lainnya, “Jangan kau lakukan hal itu. Demi Allah, jika ia itu seorang Nabi, lalu kita saling melaknat dengannya, maka kita dan keturunan kita tidak akan beruntung.” Setelah itu keduanya berkata, “Kami akan memberikan apa yang kamu minta. Utuslah bersama kami seseorang yang dapat dipercaya, dan jangan engkau utus kecuali orang yang benar-benar jujur.” Beliau pun bersabda, “Aku pasti akan mengutus seseorang yang benar-benar dapat dipercaya untuk ikut bersama kalian.” Para Sahabat pun berharap mendapat kehormatan sebagai utusan beliau. Lalu beliau bersabda: “Berdirilah, ya Abu `Ubaidah bin al Jarrah.” Ketika Abu `Ubaidah berdiri, Rasulullah bersabda: “Ini adalah orang yang dapat dipercaya dari umat ini.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

 Al-Bukhari juga meriwayatkan dari Anas bin Malik bersabda: “Setiap umat memiliki orang kepercayaan, dan orang kepercayaan dari umat ini adalah Abu `Ubaidah bin al-Jarrah.” Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Abu Jahal [semoga Allah menghinakannya] berkata: `Jika aku melihat Muhammad mengerjakan shalat di Ka’bah, maka aku akan mendatanginya dan menginjak lehernya.’ Lalu beliau pun berkata: `Seandainya ia melakukannya, niscaya Malaikat akan membinasakannya langsung. Dan seandainya orang-orang Yahudi mengharap kematian (diri mereka), niscaya mereka akan mati dan melihat tempat tinggal mereka di neraka. Dan seandainya berangkat juga orang-orang yang bermaksud bermubahalah dengan Rasulullah, niscaya mereka pulang dengan tidak mendapatkan lagi harta dan keluarga mereka.”‘ (HR. Ahmad) Hadits di atas juga diriwayatkan oleh al-Bukhari, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Abu Bakar ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Jabir, ia berkata: “Al-`Aqib dan ath-Thayyib datang kepada Nabi, lalu beliau mengajak keduanya untuk saling melaknat. Mereka berdua pun berjanji akan saling melaknatnya pada hari esok. Setelah pagi hari tiba, keluarlah Rasulullah dengan menggandeng tangan ‘Ali, Fathimah, al-Hasan, dan al-Husain. Lalu beliau mengutus utusan kepada keduanya, namun keduanya menolak memenuhi ajakan beliau, dan menyatakan setuju kepada beliau untuk membayar pajak. Beliau pun bersabda: ‘Demi Allah yang mengutusku dengan haq, andaikata mereka berdua mengatakan, ‘Tidak,’ niscaya lembah akan menimpakan hujan api kepada mereka.”‘ Jabir berkata, “Kepada mereka turun ayat: `Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu.’” Jabir melanjutkan, “Diri kami,” maksudnya adalah Rasulullah dan ‘Ali bin Abi Thalib. Sedangkan, “Anak-anak kami” adalah al-Hasan dan al-Husain. Dan “Wanita-wanita kami” adalah Fatimah. Demikianlah pula menurut riwayat al-Hakim dalam al Mustadrak, dan ia mengatakan bahwa hadits ini shahih menurut syarat Muslim, tetapi al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkan seperti ini. Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud ath-Thayalisi dari Syu’bah, dari al-Mughirah, dari asy-Sya’bi, sebagai hadits mursal. Dan ini yang lebih shahih. Juga diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan al-Barra’, (hadits yang) serupa dengan hadits di atas. Setelah itu Allah swt. berfirman: inna Haadzaa laHuwal qashashul haqqu (“Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar.”) Maksudnya, apa yang kami ceritakan kepadamu, ya Muhammad, mengenai `Isa adalah yang benar yang tidak ada penyimpangan di dalamnya dan tak dapat disangkal lagi. Wa maa min ilaaHin illallaaHu wa innallaaHa laHuwal ‘aziizul hakiimu fa in tawallaw (“Dan tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi] selain Allah, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Kemudian jika mereka berpaling [dari kebenaran].”) Yakni berpaling dari hal ini kepada yang lainnya, fa innallaaHa ‘aliimum bil mufsidiin (“sesungguhnya Allah Mahamengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan.”) Artinya, barangsiapa menyimpang dari kebenaran menuju kepada kebathilan, maka ia adalah pembuat kerusakan, dan Allah Mahamengetahui dan akan memberikan balasan atasnya dengan balasan yang seburuk-buruknya. Dia Mahakuasa yang tidak ada sesuatu pun yang luput dari kekuasaan-Nya. Mahasuci Allah, segala puji bagi-Nya. Kita berlindung kepada-Nya dari timpaan murka-Nya. sebab Turunnya Ayat Ali Imran 59 berkaitan dengan ayat sebelum dan sesudah nya.: Ibnu Abu Hatim mengetengahkan dari Hasan, katanya, "Dua orang pendeta Nasrani dari Najran datang menemui Rasulullah saw. lalu tanya salah seorang di antara mereka, 'Siapakah bapak Isa?' Rasulullah saw. tidak segera menjawab sebelum memohon petunjuk kepada Tuhannya, maka diturunkan kepadanya, 'Demikianlah Kami membacakannya kepadamu, sebagian dari bukti-bukti, kerasulannya dan membacakan, Alquran yang penuh hikmah...' sampai dengan, '...di antara orang yang ragu-ragu.'" (Q.S. Ali Imran 58-60).[1] Dan diketengahkan dari jalur Aufi dari Ibnu Abbas, katanya "Serombongan orang-orang Najran, termasuk para pemimpin dan pengiringnya, mereka datang menemui Nabi saw. lalu tanya mereka, 'Bagaimana kamu ini, kenapa kamu sebut-sebut pula sahabat kami?' Jawab Nabi, 'Siapa dia?' Ujar mereka, 'Isa! Kamu katakan dia hamba Allah!' 'Benar,' jawab Nabi pula. Tanya mereka, 'Pernahkah kamu melihat orang seperti Isa atau mendengar berita seperti yang dialaminya?' Setelah itu mereka keluar meninggalkan Nabi saw, maka datanglah Jibril, katanya kepada beliau, 'Katakanlah kepada mereka jika mereka datang kepadamu, 'Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah adalah seperti Adam...,' sampai dengan firman-Nya, 'Janganlah kamu termasuk di antara orang yang ragu-ragu!'" (Q.S. Ali Imran 59-60). [2] Baihaqi mengetengahkan dalam Dalail dari jalur Salamah bin Abdu Yasyu' dari bapaknya seterusnya dari kakeknya bahwa Rasulullah saw. menulis surat kepada warga Najran, yakni sebelum diturunkan kepadanya surat Thasin, "Atas nama Tuhan dari Ibrahim, Ishak dan Yakub, dari Muhammad yang nabi..." Di dalamnya disebutkan, "Maka orang-orang Najran itu mengutus Syurahbil bin Wadaah Al-Hamdani, Abdullah bin Syurahbil Al-Ashbahi dan Jabbar Al-Hartsi kepada Nabi saw. Perutusan ini berangkat mendatangi Nabi saw. sehingga mereka pun saling bertanya jawab. Demikianlah tanya jawab ini terus berlangsung sampai mereka menanyakan, 'Bagaimana pendapat Anda tentang Isa?' Jawab Nabi saw., 'Sampai hari ini tak ada suatu pun pendapat saya mengenai dirinya. Tinggallah tuan-tuan di sini dulu sampai saya dapat menerangkannya!' Ternyata esok paginya Allah telah menurunkan ayat ini, 'Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah...,' sampai dengan firman-Nya, '...seraya kita memohon agar laknat Allah itu ditimpakan-Nya kepada orang-orang yang dusta.'" (Q.S. Ali Imran 59-61) Ibnu Saad mengetengahkan dalam kitab Thabaqat dari Azraq bin Qais, katanya, "Telah datang kepada Nabi saw. uskup negeri Najran bersama bawahannya, kepada mereka ditawarkannya agama Islam. Mereka menjawab, 'Sebelum Anda, kami telah Islam.' Jawab Nabi saw., 'Bohong! Ada tiga perkara yang menghalangi tuan-tuan masuk Islam, yakni ucapan tuan-tuan bahwa Allah mempunyai anak, memakan daging babi dan sujud kepada patung.' Tanya mereka, 'Siapakah bapak dari Isa?' Rasulullah tidak dapat menjawab sampai Allah menurunkan, 'Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah...,' sampai dengan firman-Nya, '...dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tangguh lagi Maha Bijaksana.' (Q.S. Ali Imran 59-62) Nabi mengajak mereka untuk saling kutuk-mengutuk, tetapi mereka menolak dan setuju akan membayar upeti lalu mereka pun kembali

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN