Sabtu, 8 September 2018

AYAT 69-73

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK '
SURAH HUD 69-73
BIS-MIL-LAHI-RAHAN-NIRAHIM''

{وَلَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَى قَالُوا سَلامًا قَالَ سَلامٌ فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ (69) فَلَمَّا رَأَى أَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمِ لُوطٍ (70) وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ (71) قَالَتْ يَا وَيْلَتَا أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ (72) قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ (73) }

69.Qaalud – ‘u lanaa Rabbaka yubayyil – lanaa maa law – nuhaa. Qaala ‘'innahuu yaquulu ‘in – nahaa baqaratun – saf – raaa – ‘u faaqi- ‘ul –lawnuhaa tasurrun- naaziriin. 70.Qaalud – ‘u lanaa Rabbaka Yubayyil – lanaa maa hiya ‘in – nal – baqara tashabaha ‘alay – naa; wa –‘innaaa ‘in – shaaa – ‘al – laahu la – muhtaduun. 71.Qaala ‘innahuu yaquulu ‘in – nahaa baqaratul laa zaluu – lun – tusirul – ‘arda wa laa tasqil – hars; musallamutul laa shiyata fihaa Qaalu – ‘aanaji – tabil – haqq. Faza – bahuuha wa man kaaduu yaf –‘aluun. 72.Wa ‘iz qatalum nafsan – faddaara' – tum fiihaa: wallaahu mukhrijum – maa kuntum taktumuun. 73.Faqul- nadribuuhu bi – ba' – di – haa. Kazaalika yuhyil – laahul – mawtaa wa yuriikum ‘Aayaati – hii la – ‘allakum ta' – qiluun.
        Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (para Malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: ‘Selamat.’ Ibrahim menjawab: ‘Selamatlah,’ maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. (QS. 11:69) Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: ‘Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (para Malaikat) yang diutus kepada kaum Luth.’ (QS. 11:70) Dan isterinya berdiri (di balik tirai) dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya’qub. (QS. 11:71) Isterinya berkata: ‘Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.’ (QS. 11:72) Para Malaikat itu berkata: ‘Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah. (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahan-Nya, dicurahkan atas kamu, Ahlulbait! Sesungguhnya Allah Mahaterpuji lagi Mahapemurah.’ (QS. 11:73)”

 (Huud: 69-73) Allah berfirman: wa laqad jaa-at rusulunaa (“Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami [Para Malaikat] telah datang.”) Mereka adalah para Malaikat yang datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira. Dalam satu riwayat, mereka memberi kabar gembira tentang Ishaq, dan riwayat yang lain, mereka memberi kabar tentang kebinasaan kaum Luth. Pendapat pertama telah diperkuat dengan firman-Nya yang artinya: “Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bersoal-jawab dengan (para Malaikat) Kami tentang kaum Luth.” (QS. Huud: 74) Qaaluu salaaman qaala salaamun (“Mereka mengucapkan: ‘Salaman’ [selamat]. Ibrahim menjawab: `Salamu’ (selamatlah), ” maksudnya atas kamu. Ulama (ahli ilmu) al-bayan berkata: “Ini adalah lebih baik daripada penghormatan mereka (dengan mengucapkan “Salaman”), karena rafa’ (bacaan dengan akhiran “mun”) pada kata “salamun” menunjukkan ketetapan kesinambungan.” Famaa labitsa an jaa-a bi’ijlin haniid (“Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.”) Maksudnya, Ibrahim pergi dengan cepat, kemudian dia datang kepada mereka dengan membawa sapi muda. Sapi itu dipanggang di atas batu yang telah dipanaskan.

Ini adalah pengertian yang diriwayatkan oleh Ibnu `Abbas, Qatadah dan beberapa ulama. Sebagaimana Allah berfirman di ayat yang lain yang artinya: “Maka dia pergi dengan diam-diam meneinui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk [yang dibakar], lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim berkata: ‘Silahkan anda makan.’” (QS. Adz-Dzaariyaat: 26-27).

     Ayat ini memberi pelajaran dari berbagai segi tentang tata krama bagaimana adab dalam menyambut tamu. Firman-Nya: falammaa ra-aa aidiyaHum laa tashilu ilaiHi nakiraHum wa aujasa minHum khiifatan (“Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka. Dan merasa takut kepada mereka.”) Hal yang demikian karena Malaikat tidak berminat kepada makanan, tidak tertarik dan tidak makan makanan, maka dari itu ketika dia (Ibrahim) melihat keadaan mereka yang menghindar secara total dari makanan yang dihidangkan kepada mereka, maka dia memandang aneh dengan perbuatan (tingkah) mereka: wa aujasa minHum khiifatan (“Dan merasa takut kepada mereka.”) As-Suddi berkata: “Ketika Allah mengutus Malaikat kepada kaum Luth, mereka bergegas berjalan dengan penampilan sebagai laki-laki muda, kemudian mereka singgah di rumah Ibrahim dan bertamu kepadanya, ketika Ibrahim melihat mereka, dia menghormati mereka. “Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar).” (Adz-Dzaariyaat: 26). Maka dia menyembelihnya kemudian memanggangnya dalam batu besar dan menghidangkannya, lalu duduk bersama mereka, Sarah pun melayani mereka, maka ketika itulah Allah Ta’ala berfirman: “Istrinya berdiri sedangkan dia duduk.”

 Dalam bacaan Ibnu Masud: faqarrabaHuu ilaiHim qaala alaa ta’kuluun (“Ketika dihidang-kannya kepada mereka, Ibrahim berkata: ‘Silahkan anda makan.’”) (QS. Dzaariyaat: 27). Mereka berkata: “Hai Ibrahim, kami tidak makan makanan kecuali dengan memberikan harganya.” Ibrahim berkata: “Ini ada harganya.” Mereka berkata: “Apa itu harganya?” Ibrahim berkata: “Anda menyebut nama Allah di awal makan dan anda memuji-Nya di akhirnya.” Maka fibril melihat kepada Mikail, lalu berkata: “Memang pantas untuk orang ini kalau Rabbnya menjadikannya kekasih.” falammaa ra-aa aidiyaHum laa tashilu ilaiHi nakiraHum (“Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka.”)

Allah berfirman: “Ketika Ibrahim melihat mereka tidak makan, maka terperanjatlah ia dan takut kepada mereka, maka ketika Sarah melihat, bahwa Ibrahim telah memuliakan mereka dan ia pun melayaninya, ia tersenyum dan berkata: “Heran terhadap tamu-tamu kami, kami telah melayaninya untuk menghormatinya, sedangkan mereka tidak mau makan.” Firman-Nya, mengabarkan tentang Malaikat: qaaluu laa takhaf (“Malaikat itu berkata: ‘Jangan kamu takut.’”) Maksudnya, mereka berkata: “Janganlah kamu takut kepada kami, kami adalah Malaikat yang diutus kepada kaum Luth untuk membinasakan mereka.” Maka Sarah tertawa karena senang dengan kebinasaan mereka, karena mereka telah banyak membuat kerusakan, kekafiran dan penentangan mereka yang teramat sangat, maka dengan kesenangan dihadiahilah (mereka) dengan seorang anak laki-laki setelah ia berusia lanjut. 

     Al-`Aufi berkata dari Ibnu `Abbas: “fadlahikat” maksudnya adalah haid. fabasysyarnaaHaa bi-ishaaqa wa miw waraa-i ishaaqa ya’quuba (“Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentarig [kelahiran] Ishaq dan dari Ishaq [akan lahir puteranya] Ya’qub.”) Maksudnya, dari anaknya akan mempunyai anak, cucu dan keturunan Karena Ya’qub adalah anak Ishaq, maka dari sinilah ada sebagian ulama berdalil dengan ayat ini, bahwasanya yang disembelih adalah Isma’il, dan tidak dapat dikatakan bahwa ia adalah Ishaq, karena Ishaq diberikan sebagai penggembira, juga karena ia akan mempunyai anak (yaitu) Ya’qub, maka bagaimana mungkin Ibrahim diperintahkan untuk menyembelihnya, sedangkan ia masih seorang anak kecil dan Ya’qub yang dijanjikan keberadaannya belum dilahirkan, janji Allah adalah benar, tidak diingkari, maka tidak bisa diperintahkan untuk menyembelihnya, sedang keadaannya seperti demikian, maka bisa ditentukan bahwa yang disembelih itu adalah Isma’il as. Inilah pengambilan dalil yang paling baik, shahih dan jelas, hanya milik Allahlah segala puji. Qaalat yaa wailataa a alidu wa ana ‘ajuuzuw wa Haadzaa ba’lii syaikhan (“Isterinya berkata: ‘Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak, padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula.”) Qaaluu a ta’jabiina min amrillaaHi (“Para Malaikat itu berkata: ‘Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah.’”) Maksudnya, Malaikat berkata kepada Sarah: “Janganlah kamu heran terhadap urusan Allah, karena jika Allah menginginkan sesuatu,

      Dia akan berfirman: ‘Jadilah,’ maka jadilah sesuatu itu. Maka janganlah kamu heran terhadap ini, meskipun kamu sudah tua-renta dan mandul, juga dengan suamimu yang sudah tua-renta, sesungguhnya Allah adalah Mahakuasa atas segala sesuatu yang Dia kehendaki. rahmatullaaHi wa barakaatuHu ‘alaikum aHlal baiti innaHuu hamiidum majiid (“[Itu adalah] rahmat Allah dan keberkahan-Nya, dicurahkan atasmu, Ahlulbait! Sesungguhnya Allah terpuji lagi Mahapemurah.”) Maksudnya, Allah adalah Mahaterpuji dalam segala perbuatan dan firman-Nya, Sifat dan Dzat-Nya. Untuk itu, telah tetap dalam ash-Shahihain, bahwa mereka (sahabat Rasulullah saw.) berkata: “Kami telah mengetahui bagaimana salam kepada engkau, maka bagaimana shalawat atas engkau wahai Rasulullah?”

        Beliau bersabda: “Bacalah oleh kalian: allaaHumma shalli ‘alaa muhammadiw wa ‘alaa aali muhammadin kamaa shallaita ‘alaa ibraaHiima wa ‘alaa aali ibraaHiim, wa baarik ‘alaa muhammadiw wa ‘alaa aali muhammadin kamaa baarakta ‘alaa ibraaHiim. Innaka hamiidum majiid. (`Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi rahmat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberkahi Ibrahim, sesungguhnya Engkau adalah Mahaterpuji lagi Mahaagung.’)”

Jumaat, 7 September 2018

AYAT 64-68

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK ''
SURAH HUD 64-68'
BISMILLAHIRAHMANIRAHIM''
Wa yaa qawmi haazihee naaqatul laahi lakum aayatan fazaroohaa taakul feee ardil laahi wa laa tamassoohaa bisooo'in fa yaakhuzakum azaabun qareeb Fa 'aqaroohaa faqaala tamatta'oo fee daarikum salaasata aiyaamin zaalika wa'dun ghairu makzoob Falammaa jaaa'a amrunaa najjainaa Saalihanw wal lazeena aamanoo ma'ahoo birahmatim minnaa wa min khizyi Yawmi'iz inna Rabbaka Huwal Qawiyyul 'Azeez Wa akhazal lazeena zalamus saihatu fa asbahoo fee diyaarihim jaasimeena Ka al lam yaghnaw feehaaa; alaaa inna Samooda kafaroo Rabbahum; alaa bu'dal li Samood.(section 6

{وَيَا قَوْمِ هَذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ قَرِيبٌ (64) فَعَقَرُوهَا فَقَالَ تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلاثَةَ أَيَّامٍ ذَلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوبٍ (65) فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا صَالِحًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَمِنْ خِزْيِ يَوْمِئِذٍ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ (66) وَأَخَذَ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ (67) كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا أَلا إِنَّ ثَمُودَ كَفَرُوا رَبَّهُمْ أَلا بُعْدًا لِثَمُودَ (68) }

“Hai kaumku, inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat (yang menunjukkan kebenaran) untukmu, sebab itu biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun yang akan menyebabkan kamu ditimpa adzab yang dekat.’ (QS. 11:64) Mereka membunuh unta itu, maka berkata Shalih: ‘Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.’ (QS. 11:65) Maka tatkala datang adzab Kami, Kami selamatkan Shalih beserta orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat dari Kami dan dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Rabbmu, Allahlah yang Mahakuat lagi Mahaperkasa. (QS. 11:66) Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang dhalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka, (QS. 11:67) seolab-olab mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud. (QS. 11:68)”

(Huud: 64-68) Telah lewat pembicaraan tentang kisah ini dalam surat al-A’raaf yang mana sudah dianggap cukup tanpa mengulangnya, dan kepada Allahlah tempat memohon taufik.

SEBAGAI MANA FIRMAN ALLAH TERHADAP PENDERHAKA PENDERHAKA KEATAS RASUL UTUSAN ALLAH''Dan di antara mereka (yang munafik itu) ada orang-orang yang menyakiti Nabi sambil mereka berkata: "Bahawa dia (Nabi Muhammad) orang yang suka mendengar (dan percaya pada apa yang didengarnya)". Katakanlah: "Dia mendengar (dan percaya) apa yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah dan percaya kepada orang mukmin, dan ia pula menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu". Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab seksa yang tidak terperi sakitnya.

DAN SEBAGAI MANA RIWAYAT HADIS TENTANG PENCELA DAN PENDUSTA RASUL''“Seorang lelaki buta mempunyai Ummu Walad yang menghina Nabi SAW dan ia benar-benar telah melakukannya (penghinaan). Lelaki tersebut telah melarang dan mengancamnya namun ia tidak berhenti dan lelaki tersebut terus melarangnya namun wanita tersebut tidak mengendahkan larangan tersebut. Ibn Abbas meneruskan lagi: Pada suatu malam, wanita itu kembali mencela Nabi SAW, maka lelaki tersebut mengambil sebilah pisau yang tajam dan meletakkanya di perut wanita tersebut lantas menikamnya. Lelaki tersebut telah membunuhnya sementara antara dua kaki wanita tersebut lahir seorang bayi dalam keadaan wanita tersebut berlumuran darah. Apabila tiba waktu pagi, kejadian tersebut diceritakan kepada Nabi SAW, lalu baginda SAW mengumpul orang ramai dan bersabda: “Aku bersumpah kepada Allah SWT atas seorang lelaki, dia telah melakukan sesuatu perbuatan kerana aku dan dia adalah benar (perbuatannya)”. Kemudian lelaki buta itu melangkah di antara manusia hingga dia duduk di hadapan Rasulullah SAW. Dia berkata: “Wahai Rasulullah, aku adalah suaminya akan tetapi dia (wanita) telah mencela dan menghinamu. Aku telah melarangnya dan mengancamnya tetapi dia tetap tidak berhenti atau mengendahkannya. Daripadanya aku telah dikurniakan dua orang anak yang merupakan permata, isteriku sangat sayang kepadaku. Namun, semalam dia telah mencelamu dan menghinamu, lalu aku mengambil pisau dan aku letakkan di perutnya lantas aku menikamnya sehingga meninggal. Nabi SAW bersabda : “Ketahuilah bahawa darah wanita adalah sia-sia (halal).”Riwayat Abu Daud (4361), Kitab al-Hudud, Bab Hukum Orang Yang Mencela Rasulullah SAW. Hadis ini adalah Sahih dan perawi-perawinya adalah tsiqah. (Surah al-Taubah, 9:61)

 Ayat 63-68 masih meneruskan kisah nabi Saleh dan kaum Tsamud. Mereka selalu menantang nabi Saleh untuk mendatangkan bukti kerasulan Beliau. Nabi Saleh menjelaskan bahwa Ia telah mendapat wahyu dari Allah sebagai bukti kasih-sayang Allah padanya dan pada kaumnya. Jika ia durhaka pada Allah, maka tidak ada yang dapat menolongnya dari murka Allah. Kedurhakaan pada Allah itu hanya akan membawa kerugian yang amat besar. Karena kedurhakaan mereka yang sudah melampaui batas, maka mereka diuji Allah dengan seekor unta betina. Mereka dilarang mengganggunya dengan cara apapun dan membiarkannya makan rumput yang disukainya. Kalau mereka ganggu, Allah akan turunkan azab pada mereka. Mereka tidak mau menaati larangan tersebut dan menyembelih unta betina itu. Ketika Allah hendak memusnahkan mereka, Allah selamtkan terlebih dahulu nabi Saleh dan orang-orang beriman bersamanya Allah selamatkan. Lalu Allah mengirimkan azab pada mereka tiga hari setelah itu, berupa petir yang amat dahsyat sehingga mereka mati di rumah-rumah mereka bergelimpangan dan menjadi mayat-mayat yang beku. Begitulah cara Allah mengazab kaum Tsamud yang kafir lagi durhaka pada-Nya.

Khamis, 6 September 2018

AYAT 62-63

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH HUD''62-63

{قَالُوا يَا صَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَذَا أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ (62) قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَآتَانِي مِنْهُ رَحْمَةً فَمَنْ يَنْصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِنْ عَصَيْتُهُ فَمَا تَزِيدُونَنِي غَيْرَ تَخْسِيرٍ (63) }

Kaum Tsamud berkata: ‘Hai Shalih, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk beribadah kepada apa yang diibadahi oleh bapak-bapak kami, dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.’ (QS. 11:62) Shalih berkata: ‘Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan diberi-Nya aku rahmat (kenabian) dari-Nya, maka siapakah yang akan menolong aku dari (adzab) Allah, jika aku mendurhakai-Nya. Sebab itu kamu tidak menambah apa pun kepadaku selain daripada kerugian. (QS. 11:63)”

(Huud: 62-63) Allah menyebutkan tentang pembicaraan antara Shalih dan kaumnya serta Allah menyebutkan tentang kebodohan dan pembangkangan kaumnya dalam perkataan mereka: qad kunta fiinaa maruwwan qabla Haadzaa (“Sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seseorang di antara kami yang kami harapkan.”) maksudnya kami dulu mengharapkan kamu (sebagai orang yang berakal tajam) sebelum kamu berkata dengan apa yang kamu katakan itu. A tanHaanaa an na’buda maa ya’budu aabaa-unaa (“Apakah kamu melarang kami untuk beribadah kepada apa yang diibadahi oleh bapak-bapak kami?”) Dan apa yang diperbuat oleh pendahulu kami. Wa innanaa lafii syakkim mimmaa tad’uunaa ilaiHi muriib (“Dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.”)

Maksudnya, dalam keraguan yang teramat sangat. Qaala yaa qaumi ara-aitum in kuntu ‘alaa bayyinatim mir rabbii (“Shalih berkata: ‘Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku,”) pada apa yang Allah mengutusku kepadamu sebagai dasar yang meyakinkan dan keterangan yang kuat. Wa aataanii minHu rahmatan famay ya’shurunii minallaaHi in ‘ashaituHu (“Dan diberin-Nya aku rahmat [kenabian] dari-Nya, maka siapakah yang akan menolong aku dari [adzab] Allah jika aku mendurhakai-Nya.”) yaitu jika aku tidak mengajak kalian pada kebenaran dan beribadah kepada Allah saja, maka sekiranya aku meninggalkan-Nya, tentu kamu tidak memberiku manfaat dan tidak menambah apa pun; ghaira takhsiir (“Selain daripada kekurangan.”) Maksudnya, kerugian.


Rabu, 5 September 2018

AYAT 61


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
 SURAH HUD 61''

{وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ (61) }

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Saleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do’a hamba-Nya).”

(Huud: 61). ISI KANDUNGAN AYAT (IBN KATSIR) و (dan) sungguh kami telah mengutus إِلَى ثَمُودَ (Kepada Tsamud) merekalah yang dahulu bertempat tinggal di kota-kota alhajar antara tabuk dan madinah. Mereka adalah generasi setelah aad. Maka Allah mengutus dari mereka أَخَاهُمْ صَالِحًا (saudara mereka Shalih). Dia memerintahkan mereka agar beribadah kepada Allah saja. Untuk itu Ia berkata هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ (Allah telah menciptakan kamu dari bumi (tanah). Maksudnya, Allah memulai penciptaan kalian dari tanah, dari tanah itulah diciptakanNya Adam, bapak kalian وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا (dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya) maksudnya Allah menjadikan kamu sebagai pemakmur, penduduk yang meramaikan bumi dan memanfaatkannya. فَاسْتَغْفِرُوهُ (karena itu mohonlah ampunan kepadaNya) untuk dosa-dosamu yang telah lalu. ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ (kemudian bertaubatlah kepadaNya) pada apa yang akan kamu hadapi. Sesungguhnya Rabbku amat dekat rahmatNya lagi memperkenankan doa hambanya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al_Baqarah 186: “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah: 186).

 PENJELASAN REFERENSI LAIN Maksud dari ayat ini, manusia yang dipercaya oleh Allah sebagai khalifah itu bertugas memakmurkan atau membangun bumi ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh yang menugaskan (Allah). Atas dasar ini dapat dikatakan bahwa tujuan pendidikan dalam Al-Qur’an adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh Allah. Maksud dari manusia sebagai pemakmur bumi adalah; karena manusia itu diciptakan dari tanah yang diambil dari bumi, maka sepatutnya manusia yang bahan utamanya adalah tanah untuk menjaga dan memakmurkannya, sebagai tanda penghargaan atas asal-usul penciptaan mereka. Dengan kekuasaan yang diberikan kepadanya, manusia harus mampu menjaga amanah yang diberikan Allah kepada mereka dalam hal-hal yang menyebabkan bumi itu tetap terjaga dan makmur. Sebaliknya, jika manusia itu dengan kekuasaannya merusak dan menyalah gunakan kekuasaan yang diamanahkan kepadanya, maka secara tidak langsung manusia itu telah menghina asal-usul dari mana mereka diciptakan (tanah).Allah SWT memperhatikan eksistensi manusia di muka bumi, setelah mempeoleh cukup pengetahuan maka Allah SWT menempatkan manusia sebagai eksistensi yang kreatif, sebagaimana termaktub dalam surat Hud ayat 61 “Dan Dia yang menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menugaskan kamu untuk memakmurkan.” Atas dasar surat huud 61 ini, Quraish Shihab menjelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya, guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah. Manusia yang dibina adalah makhluk yang memiliki unsur-unsur material (jasmani) dan immaterial (akal dan jiwa). Pembinaan akalnya menghasilkan ilmu. Pembinaan jiwanya menghasilkan kesucian dan etika, sedangkan pembinaan jasmaninya menghasilkan keterampilan. Dengan penggabungan unsur-unsur tersebut, terciptalah mahluk dwidimensi dalam satu keseimbangan, dunia dan akhirat, ilmu dan iman. Dasar pemikiran di atas tentu saja menuntut umat manusia untuk menempatkan aspek penguasaan ilmu pengetahuan menjadi penting. Pendidikan dalam hal ini, tidak saja menjadi rekomendasi Islam yang bersifat normatif-doktriner, tetapi juga menjadi investasi bagi umat manusia untuk menentukan masa depannya, baik jangka pendek (dunia) maupun jangka panjang (akhirat).

Selasa, 4 September 2018

AYAT 57-60

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK '
SURAH HUD 57-60''
BISMILLAHIRAHMANIRAHIM''
Fa in tawallaw faqad ablaghtukum maaa ursiltu biheee ilaikum; wa yastakhlifu Rabbee qawman ghairakum wa laa tadur roonahoo shai'aa; inna Rabbee 'alaa kulli shai'in Hafeez Wa lammaa jaaa'a amrunaa najainaa Hoodanw wallazeena aamanoo ma'ahoo birahmatim minnaa wa najainaahum min 'azaabin ghaleez Wa tilka 'aad, jahadoo bi Aayaati Rabbihim wa 'asaw Rusulahoo wattaba'ooo amra kulli jabbaarin 'aneed Wa utbi'oo fee haazihid dunyaa la'natanw wa Yawmal Qiyaamah; alaaa inna 'Aadan kafaroo Rabbahum; alaa bu'dal li 'Aadin qawmin Hood (section 5)

Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Rabbku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikit pun. Sesungguhnya Rabbku Mahapemelihara segala sesuatu. (QS. 11:57) Dan tatkala datang adzab Kami, Kami selamatkan Huud dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat dari Kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari adzab yang berat. (QS. 11:58) Dan itulah (kisah) kaum ‘Aad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka, dan mendurhakai para Rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). (QS. 11:59) Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari Kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum ‘Aad itu kafir kepada Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum ‘Aad (mereka adalah) kaum Huud itu. (QS. 11:60)”

 (Huud: 57-60) Huud as. berkata kepada mereka: “Jika kalian berpaling dari risalah yang aku sampaikan kepadamu agar kalian beribadah hanya kepada Allah, Rabb kalian yang tidak ada sekutu bagi-Nya, maka sungguh telah ada bukti (yang memberatkan kalian dengan penyampaianku atas risalah tersebut kepada kalian), yang aku diutus untuk itu. Wa yastakhlifu rabbii qauman ghairakum (“Dan Rabbku akan mengganti [kamu] dengan kaum yang lain [dari] kamu,”) mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak menyekutukan-Nya, dan Allah tidak akan peduli kepadamu karena kamu tidak dapat memberikan bahaya kepada-Nya dengan sebab kekafiranmu, akan tetapi bahaya kekafiranmu itu kembali kepadamu.”) Inna rabbii ‘alaa kulli syai-in hafiidh (“Sesungguhnya Rabbku adalah Mahapemelihara segala sesuatu,”) maksudnya; Saksi dan Pemelihara terhadap ucapan dan perbuatan hamba-hamba-Nya, kemudian Allah membalas ucapan dan perbuatan itu kepada mereka. Jika baik, maka balasannya baik. DanJika buruk, maka balasannya buruk. Wa lammaa jaa-a amrunaa (“Dan tatkala datang adzab Kami,”) yaitu angin yang sangat kencang, lalu akhirnya Allah membinasakan mereka dan Allah menyelamatkan Huud dan pengikut-pengikutnya dari siksa yang sangat keras dengan rahmat-Nya dan dengan kelembutan-Nya. Wa tilka ‘aadun jahaduu bi-aayaati rabbiHim (“Dan itulah [kisah] kaum Aad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka.”) Mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan durhaka kepada para Rasul Allah, karena sesungguhnya barangsiapa yang kafir terhadap seorang Nabi, maka sungguh dia telah kafir kepada seluruh Nabi, karena tidak ada perbedaan di antara mereka dalam kewajiban beriman kepadanya, sedangkan kaum `Aad, mereka kafir terhadap Huud, maka dianggaplah kekafiran mereka itu bagaikan orang yang kafir terhadap semua Rasul. Wattaba’uu amra kulla jabbaarin ‘aniid (“Dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang [kebenaran].”) Mereka meninggalkan (perintah) untuk mengikuti Rasul mereka yang membawa petunjuk dan mereka mengikuti perintah setiap orang yang berkuasa dan keras kepala. Untuk itu, mereka diliputi laknat Allah dan kutukan hamba-hamba-Nya yang mukmin di dunia ini, demikian juga ketika mereka disebut dan dipanggil pada hari Kiamat nanti di atas kepala para saksi; Alaa inna ‘aadan kafaruu rabbaHum (“Ingatlah bahwa sesungguhnya kaum Aad itu kafir kepada Rabb mereka,”) dan ayat seterusnya. As-Suddi berkata: “Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus setelah `Aad, melainkan mereka (kaum `Aad) dilaknat oleh lisan para Nabi itu.”

Isnin, 3 September 2018

AYAT 53-56

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
Hud, ayat 53-56''BISMILLAHIRAHMANIRAHIM''
Qaaloo yaa Hoodu maa ji'tanaa bibaiyinatinw wa maa nahnu bitaarikeee aalihatinaa 'an qawlika wa maa nahnu laka bimu'mineen In naqoolu illa' taraaka ba'du aalihatinaa bisooo'; qaala inneee ushhidul laaha wash hadooo annee bareee'um mimmaa tushrikoon Min doonihee fakeedoonee jamee'an summa laa tunziroon Innee tawakkaltu 'alallaahi Rabbee wa Rabbikum; maa min daaabbatin illaa Huwa aakhizum

  {قَالُوا يَا هُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي آلِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ (53) إِنْ نَقُولُ إِلا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (54) مِنْ دُونِهِ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنْظِرُونِ (55) إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (56) }

Kaum Ad berkata, "Hai Hud kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.” Hud menjawab, "Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian, bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan dari selain-Nya. Sebab itu, jalankanlah tipu daya kalian semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” Allah Swt. menceritakan bahwa mereka mengatakan kalimat berikut kepada nabi mereka: {مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ} kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata.

(Hud: 53) Maksudnya, hujah dan bukti yang membenarkan apa yang kamu akui itu. {وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي آلِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ} dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu. (Hud: 53) Yakni hanya karena perkataanmu, "Tinggalkanlah sembahan-sembahan itu," lalu kami meninggalkan mereka: {وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ} dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu (Hud: 53) Artinya, kami tidak akan membenarkan dan tidak akan mempercayaimu. {إِنْ نَقُولُ إِلا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ} Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu. (Hud: 54) Mereka mengatakan, "Tiadalah dugaan kami terhadapmu melainkan bahwa sebagian dari sembahan kami telah menimpakan penyakit saraf ke dalam otakmu karena kamu telah melarang kami menyembah mereka dan kamu mencela mereka." {قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ مِنْ دُونِهِ} Hud menjawab, "Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah oleh kalian, bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan dari selain-Nya.” (Hud: 54-55) Hud mengatakan, "Sesungguhnya aku berlepas diri dari semua tandingan dan berhala yang kalian ada-adakan itu." {فَكِيدُونِي جَمِيعًا} Sebab itu, jalankanlah tipu daya kamu sekalian terhadapku. (Hud: 55) Yakni oleh kalian dan sembahan-sembahan kalian, jika memang kalian benar. {ثُمَّ لَا تُنْظِرُونِ} Dan janganlah kalian memberi tangguh kepadaku. (Hud: 55) barang sekejap mata pun. *******************

Firman Allah Swt. yang mengatakan: {إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا} Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. (Hud: 56) Maksudnya, semuanya berada di bawah kekuasaan dan keperkasaan-Nya. Dialah Tuhan, Hakim yang seadil-adilnya dan tidak pernah lalim dalam keputusan-Nya; sesungguhnya Dia berada pada jalan yang lurus. Al-Walid ibnu Muslim telah meriwayatkan dari Safwan ibnu Amr, dari Aifa' ibnu Abdul Kala'i sehubungan dengan firman-Nya: Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. (Hud: 56) Aifa' mengatakan bahwa Allah memegang ubun-ubun semua hamba­Nya, lalu Dia mengajari orang mukmin, sehingga terasa bagi orang mukmin bahwa Dia lebih sayang ketimbang seorang ayah kepada anaknya. Lalu Aifa' membacakan firman-Nya: {مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ} apakah yang memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. (Al-Infithar: 6) Dalam jawaban Nabi Hud ini terkandung hujah yang mematahkan dan dalil yang pasti yang menunjukkan kebenaran dari apa yang disampaikannya kepada mereka; juga menunjukkan kebatilan dari apa yang mereka kerjakan, yaitu penyembahan mereka kepada berhala-berhala. Padahal berhala-berhala itu tidak dapat memberikan manfaat, tidak pula dapat mendatangkan mudarat, bahkan berhala-berhala itu adalah benda-benda mati yang tidak dapat mendengar, tidak dapat melihat, tidak dapat melindungi, dan tidak dapat memusuhi. Sesungguhnya yang berhak disembah secara murni dan ikhlas hanyalah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Di tangan kekuasaan-Nyalah kerajaan, dan Dialah yang mengaturnya. Tidak ada sesuatu pun melainkan berada di bawah kepemilikan, pengaruh, dan kekuasaan-Nya; maka tidak ada Tuhan selain Dia, dan tidak ada Rabb selain Dia.

Ahad, 2 September 2018

AYAT 50-52


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
 SURAH HUD 50'52
BISMILLAHIRAHMANNIRRAHIM'
Wa ilaa 'aadin akhaahum Hoodaa; qaala yaa qawmi' budul laaha maa lakum min ilaahin ghairuhooo in antum illaa muftaroon

{وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلا مُفْتَرُونَ (50) يَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي أَفَلا تَعْقِلُونَ (51) وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ (52) } “

Dan kepada kaum ‘Aad (Kami utus) saudara mereka Huud. Ia berkata: ‘Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Ilah selain Allah. Kamu hanyalah mengada-adakan saja. (QS. 11:50) Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?’ (QS. 11:51) Dan (dia berkata): ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabbmu, lalu taubatlah kepada-Nya, niscaya Allah menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan Allah akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.’ (QS. 11:52)”

(Huud: 50-52) Allah berfirman: wa (“Dan”) sungguh telah kami utus: ilaa ‘aadin akhaaHum Huudan (“Kepada kaum Aad [Kami utus] saudara mereka, Huud.”) Supaya memerintahkan mereka beribadah hanya kepada Allah saja, tidak menyekutukan-Nya dan melarang mereka dari beribadah kepada berhala-berhala yang mereka ada-adakan dan memberi nama dengan nama-nama Ilah, memberitahukan kepada mereka bahwa dia (Huud as) tidak meminta dari mereka upah atas nasihat dan penyampaian dari Allah ini, akan tetapi dia hanya mengharapkan pahala dari Allah Ta’ala yang telah menciptakannya. Apakah kamu tidak berfikir; orang yang mengajakmu kepada perbaikan dunia dan akhirat tanpa mengharapkan upah, kemudian dia menyuruh mereka untuk memohon ampunan yang dapat menghapus dosa-dosa yang telah lalu dan bertaubat dari dosa yang sedang mereka hadapi.

Barangsiapa memiliki sifat ini, maka Allah memudahkan kepadanya rizkinya juga menggampangkan urusannya dan memelihara keadaannya. Untuk itu Allah berfirman: yursilis samaa-a ‘alaikum midraaran (“Niscaya Allah menurunkan hujan yang sangat deras atasmu.”) Dalam hadits disebutkan: “Barangsiapa yang senantiasa memohon ampunan, maka Allah menjadikan untuknya dari setiap kesedihan ada kelapangan, dan dari setiap kesempitan ada jalan keluar dan memberinya rizki (dari jalan/jumlah) yang tidak terduga.” (HR. Abu Dawud [No. 1581], Ibnu Majah [No. 3819])

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN