TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK;
SURAH ALI-IMRAN 200AYAT ;JUZ 4
BIS-MIL-LAAA-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM; Ayat 92 Lan tana_lul birra hatta_ tunfiqu_ mimma_ tuhibbu_n(a), wa ma_ tunfiqu_ min syai'in fainnalla_ha bihi 'alim(un)
{لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ (92) }
Kalian sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. Dan apa saja yang kalian nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengtahuinya.
Waki' di dalam kitab tafsirnya meriwayatkan dari Syarik, dari Abu Ishaq, dari Amr ibnu Maimun sehubungan dengan firman-Nya: Kalian sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna). (Ali Imran: 92) Yang dimaksud dengan al-birr ialah surga.
Mengenai firman Allah: lan tanaalul birra (“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan [yang sempurna],” dalam tafsirnya, Waki’ meriwayatkan dari Amr bin Maimun, maksudnya, yaitu Surga.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا رَوْحٌ، حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنْ إِسْحَاقُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ، سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ: كَانَ أَبُو طَلْحَةَ أَكْثَرَ أَنْصَارِيٍّ بِالْمَدِينَةِ مَالًا وكانَ أحبَّ أَمْوَالِهِ إِلَيْهِ بيْرَحاءُ -وَكَانَتْ مُسْتقْبلة الْمَسْجِدِ، وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُهَا وَيَشْرَبُ مِنْ مَاءٍ فِيهَا طَيِّبٍ-قَالَ أَنَسٌ: فَلَمَّا نَزَلَتْ: {لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ} قَالَ أَبُو طَلْحَةَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ: {لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ} وَإِنَّ أحبَّ أَمْوَالِي إلَيَّ بيْرَحاءُ وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلَّهِ أَرْجُو بِرَّها وذُخْرَها عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى، فَضَعْها يَا رَسُولَ اللَّهِ حَيْثُ أَرَاكَ اللَّهُ [تَعَالَى] فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "بَخٍ، ذَاكَ مَالٌ رَابِحٌ، ذَاكَ مَالٌ رَابِح، وَقَدْ سَمِعْتُ، وَأَنَا أرَى أنْ تجْعَلَهَا فِي الأقْرَبِينَ". فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ: أفْعَلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَقَسَمها أَبُو طَلْحَةَ فِي أَقَارِبِهِ وَبَنِي عَمِّهِ.
(Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian) artinya pahalanya yaitu surga (sebelum kamu menafkahkan) menyedekahkan (sebagian dari apa yang kamu cintai) berupa harta bendamu (dan apa yang kamu nafkahkan dari sesuatu maka sesungguhnya Allah mengetahuinya) dan akan membalasnya. Ketika orang-orang Yahudi mengatakan kepada Nabi saw., "Anda mengakui diri Anda dalam agama Ibrahim padahal ia tidak memakan daging unta dan susunya," turunlah ayat:
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Malik, dari Ishaq, dari Abdullah ibnu Abu Talhah yang pernah mendengar dari Anas ibnu Malik, bahwa Abu Talhah adalah seorang Ansar yang paling banyak memiliki harta di Madinah, dan tersebutlah bahwa harta yang paling dicintainya adalah Bairuha (sebuah kebun kurma) yang letaknya berhadapan dengan Masjid Nabawi. Nabi Saw. sering memasuki kebun itu dan meminum airnya yang segar lagi tawar. Sahabat Anas r.a. melanjutkan kisahnya, bahwa setelah diturunkan firman-Nya yang mengatakan: Kalian sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. (Ali Imran: 92) Lalu Abu Talhah berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Swt. telah berfirman: 'Kalian sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai' (Ali Imran: 92), dan sesungguhnya hartaku yang paling aku cintai adalah kebun Bairuha ini, dan sekarang Bairuha aku sedekahkan agar aku dapat mencapai kebajikan melaluinya dan sebagai simpananku di sisi Allah Swt. Maka aku mohon sudilah engkau, wahai Rasulullah, mempergunakannya menurut apa yang diperlihatkan oleh Allah kepadamu." Maka Nabi Saw. menjawab melalui sabdanya: Wah, wah, itu harta yang menguntungkan, itu harta yang menguntungkan; dan aku telah mendengarnya, tetapi aku berpendapat hendaklah kamu memberikannya kepada kaum kerabatmu. Abu Talhah menjawab, "Akan aku lakukan sekarang, wahai Rasulullah." Lalu Abu Talhah membagi-bagikannya kepada kaum kerabatnya dan anak-anak pamannya.
Hadis ini diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Khamis, 8 Mac 2018
Rabu, 7 Mac 2018
ayat 90-91
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK,
SURAH ALI-IMRAN 200AYAT Akhir Juz 3,
Al Baqarah Ayat 253-286 dan Surah Ali ‘Imran Ayat 1-91.
Bis-mil-laa-hir-rahman-nir-rahim. Surah Al-i'Imran, Ayat 90 Innal lazina kafaru_ ba'da ima_nihim summazda_du_ kufral lan tuqbala taubatuhum, wa ula_'ika humud da_llu_n(a).Ayat 91 Innal lazina kafaru_ wa ma_tu_ wa hum kuffa_run falay yuqbala min ahadihim mil'ul ardi zahabaw wa lawiftada_ bih(i), ula_'ika lahum'aza_bun alimnuw wa ma_ lahum min na_sirin(a).
{إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَنْ تُقْبَلَ تَوْبَتُهُمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الضَّالُّونَ (90) إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الأرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ (91) }
Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima tobatnya; dan mereka itulah orang-orang yang sesat. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati, sedangkan mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong. Allah Swt. berfirman mengancam dan memperingatkan orang yang kafir sesudah imannya, kemudian kekafirannya makin bertambah, yakni terus-menerus dalam kekafirannya hingga mati, bahwa tobat mereka tidak diterima di saat matinya. Makna ayat ini sama dengan ayat lain, yaitu firman-Nya: وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئاتِ حَتَّى إِذا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ
Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka. (An-Nisa: 18), hingga akhir ayat. Karena itulah maka dalam ayat ini Allah Swt. berfirman: {لَنْ تُقْبَلَ تَوْبَتُهُمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الضَّالُّونَ} sekali-kali tidak akan diterima tobatnya; dan mereka itulah orang-orang yang sesat. (Ali Imran: 90) Yakni mereka keluar dari jalan yang hak menuju ke jalan kesesatan. Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Bazi', telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Zurai', telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Abu Hindun, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa ada suatu kaum masuk Islam, setelah itu mereka murtad, lalu masuk Islam lagi, dan murtad kembali. Kemudian mereka mengirimkan utusan kepada kaumnya, meminta kepada kaumnya untuk menanyakan hal tersebut bagi mereka. Lalu kaum mereka menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah Saw. Maka turunlah ayat berikut, yaitu firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima tobatnya. (Ali Imran: 90)
Demikianlah bunyi riwayat Al-Bazzar, sanadnya adalah jayyid. Kemudian Allah Swt. berfirman: إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَماتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَباً وَلَوِ افْتَدى بِهِ Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati, sedangkan mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. (Ali Imran: 91) Maksudnya, barang siapa yang mati dalam keadaan kafir, maka tidak akan diterima darinya suatu kebaikan pun untuk selama-lamanya, sekalipun dia telah menginfakkan emas sepenuh bumi yang menurutnya dianggap sebagai amal taqarrub. Seperti yang pernah ditanyakan kepada Nabi Saw. tentang hal Abdullah ibnu Jad'an. Abdullah ibnu Jad'an semasa hidupnya gemar menjamu tamu, memberikan pertolongan kepada orang miskin, dan memberi makan orang kelaparan. Pertanyaan yang diajukan kepada beliau ialah, "Apakah hal itu bermanfaat baginya?" Maka Rasulullah Saw. menjawab: «لَا، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا مِنَ الدهر: ربي اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ» Tidak, sesungguhnya dia belum pernah mengucapkan barang sehari pun sepanjang hidupnya, "Ya Tuhanku, ampunilah bagiku semua kesalahanku di hari pembalasan nanti." Demikian pula seandainya dia menebus dirinya dengan emas sepenuh bumi, niscaya hal itu tidak akan diterima darinya. Seperti yang dinyatakan di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya: وَلا يُقْبَلُ مِنْها عَدْلٌ وَلا تَنْفَعُها شَفاعَةٌ dan tidak akan diterima suatu tebusan pun darinya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafaat kepadanya. (Al-Baqarah: 123) لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلا خِلالٌ Yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan. (Ibrahim: 31) إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً وَمِثْلَهُ مَعَهُ لِيَفْتَدُوا بِهِ مِنْ عَذابِ يَوْمِ الْقِيامَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذابٌ أَلِيمٌ Sesungguhnya orang-orang yang kafir, sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih. (Al-Maidah: 36) Karena itulah dalam ayat berikut ini disebutkan: {إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الأرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَى بِهِ} Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati, sedangkan mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. (Ali Imran: 91) Huruf ataf (wawu) yang terdapat di dalam firman-Nya: {وَلَوِ افْتَدَى بِهِ} walaupun dia menebus diri dengan emas (sebanyak) itu. (Ali Imran: 91), di-'ataf-kan kepada jumlah yang pertama. Hal ini menunjukkan bahwa yang kedua adalah bukan yang pertama. Pendapat yang kami kemukakan ini lebih baik daripada pendapat yang mengatakan bahwa huruf wawu di sini adalah zaidah (tambahan). Makna ayat ini menyimpulkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat menyelamatkan dirinya dari azab Allah, sekalipun dia telah menginfakkan emas sebesar bumi. Walaupun dia berupaya menebus dirinya dari azab Allah dengan emas sebesar bumi yang beratnya sama dengan berat semua gunung-gunung, semua lembah-lembah, semua tanah, pasir, dataran rendah dan hutan belukarnya, serta daratan dan lautannya (niscaya tidak akan diterima). قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حجَّاج، حَدَّثَنِي شُعْبَة، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الجَوْني، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " يُقَالُ لِلرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ لَكَ مَا عَلَى الأرْضِ مِنْ شَيْءٍ، أَكُنْتَ مُفْتَدِيًا بِهِ؟ قَالَ: فَيَقُولُ: نَعَمْ. قَالَ: فَيَقُولُ: قَدْ أَرَدْتُ مِنْكَ أَهْوَنَ مِنْ ذَلِكَ، قَدْ أَخَذْتُ عَلَيْكَ فِي ظَهْرِ أَبِيكَ آدَمَ أَلَّا تُشْرِكَ بِي شَيْئًا، فَأَبَيْتَ إِلا أَنْ تُشْرِكَ ".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepadaku Syu'bah, dari Abu Imran Al-Juni, dari Anas ibnu Malik, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: Dikatakan kepada seorang lelaki penghuni neraka kelak di hari kiamat, "Bagaimanakah yang akan kamu lakukan seandainya engkau mempunyai segala sesuatu yang ada di permukaan bumi, apakah itu akan engkau pakai untuk menebus dirimu (dari azab-Ku)?" Ia menjawab, "Ya." Allah berfirman, "Padahal Aku menghendaki darimu hal yang lebih mudah daripada itu. Sesungguhnya Aku telah mengambil janji darimu ketika kamu masih berada di dalam lulang sulbi kakek moyangmu, yaitu Adam; agar janganlah kamu mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun. Tetapi kamu menolak melainkan hanya tetap mempersekutukan (Aku)." Demikian pula apa yang diketengalikan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Jalur lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad. حَدَّثَنَا رَوْح، حَدَّثَنَا حَمَّاد، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يُؤْتَى بِالرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَقُولُ لَهُ: يَا ابْنَ آدَمَ، كَيْفَ وَجَدْتَ مَنزلَكَ؟ فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ، خَيْرُ مَنزلٍ. فَيَقُولُ: سَلْ وَتَمَنَّ. فَيَقُولُ: مَا أَسْأَلُ وَلا أَتَمَنَّى إِلا أَنْ تَرُدَّنِي إِلَى الدُّنْيَا فَأُقْتَلَ فِي سَبِيلِكَ عَشْرَ مِرَار -لِمَا يَرَى مِنْ فَضْلِ الشَّهَادَةِ. وَيُؤْتَى بِالرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَيَقُولُ لَهُ: يَا ابْنَ آدَمَ، كَيْفَ وَجَدْتَ مَنزلَكَ؟ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ شَرُّ مَنزلٍ. فَيَقُولُ لَهُ: تَفْتَدِي مِني بِطِلاعِ الأرْضِ ذَهَبًا؟ فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ، نَعَمْ. فَيَقُولُ: كَذَبْتَ، قَدْ سَأَلْتُكَ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ وَأَيْسَرَ فَلَمْ تَفْعَلْ، فيُرَد إِلَى النَّارِ" Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Sabit, dari Anas yang nicngatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Didatangkan seorang lelaki dari penduduk surga, lalu dikatakan kepadanya, "Hai anak Adam, bagaimanakah kamu jumpai tempat kedudukanmu?" Lelaki itu menjawab, "Wahai Tuhanku, (aku jumpai tempat tinggalku adalah) sebaik-baik tempat tinggal." Allah berfirman, "Mintalah dan berharaplah." Lelaki iiu menjawab, "Aku tidak akan meminta dan berharap lagi, kecuali kumohon Engkau mengembalikan aku ke dunia, lalu aku akan berperang hingga gugur di jalan-Mu," sebanyak sepuluh kali —ia mengatakan demikian karena keutamaan yang dirasakannya berkat mati syahid—. Dan didatangkan pula seorang lelaki dari penduduk neraka, lalu dikatakan kepadanya, "Hai anak Adam, bagaimanakah kamu jumpai tempat tinggalmu?" Ia menjawab, "Wahai Tuhanku (aku jumpai tempat tinggalku adalah) seburuk-buruk tempat tinggal." Dikatakan kepadanya, "Apakah engkau mau menebus dirimu dari (azab)-Nya dengan emas sepenuh bumi?" Ia menjawab, "Ya, wahai Tuhanku." Allah berfirman, "Kamu dusta, karena sesungguhnya Aku pernah memintamu melakukan hal yang lebih ringan daripada itu dan lebih mudah, tetapi kamu tidak mau melakukannya." Lalu lelaki itu dicampakkan kembali ke dalam neraka. Karena itulah dalam ayat ini disebutkan: {أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ} Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong. (Ali Imran: 91), Yakni tidak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan mereka dari azab Allah, dan tidak ada seorang pun yang melindungi mereka dari siksa-Nya yang amat pedih.
SURAH ALI-IMRAN 200AYAT Akhir Juz 3,
Al Baqarah Ayat 253-286 dan Surah Ali ‘Imran Ayat 1-91.
Bis-mil-laa-hir-rahman-nir-rahim. Surah Al-i'Imran, Ayat 90 Innal lazina kafaru_ ba'da ima_nihim summazda_du_ kufral lan tuqbala taubatuhum, wa ula_'ika humud da_llu_n(a).Ayat 91 Innal lazina kafaru_ wa ma_tu_ wa hum kuffa_run falay yuqbala min ahadihim mil'ul ardi zahabaw wa lawiftada_ bih(i), ula_'ika lahum'aza_bun alimnuw wa ma_ lahum min na_sirin(a).
{إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَنْ تُقْبَلَ تَوْبَتُهُمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الضَّالُّونَ (90) إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الأرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ (91) }
Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima tobatnya; dan mereka itulah orang-orang yang sesat. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati, sedangkan mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong. Allah Swt. berfirman mengancam dan memperingatkan orang yang kafir sesudah imannya, kemudian kekafirannya makin bertambah, yakni terus-menerus dalam kekafirannya hingga mati, bahwa tobat mereka tidak diterima di saat matinya. Makna ayat ini sama dengan ayat lain, yaitu firman-Nya: وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئاتِ حَتَّى إِذا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ
Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka. (An-Nisa: 18), hingga akhir ayat. Karena itulah maka dalam ayat ini Allah Swt. berfirman: {لَنْ تُقْبَلَ تَوْبَتُهُمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الضَّالُّونَ} sekali-kali tidak akan diterima tobatnya; dan mereka itulah orang-orang yang sesat. (Ali Imran: 90) Yakni mereka keluar dari jalan yang hak menuju ke jalan kesesatan. Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Bazi', telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Zurai', telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Abu Hindun, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa ada suatu kaum masuk Islam, setelah itu mereka murtad, lalu masuk Islam lagi, dan murtad kembali. Kemudian mereka mengirimkan utusan kepada kaumnya, meminta kepada kaumnya untuk menanyakan hal tersebut bagi mereka. Lalu kaum mereka menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah Saw. Maka turunlah ayat berikut, yaitu firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima tobatnya. (Ali Imran: 90)
Demikianlah bunyi riwayat Al-Bazzar, sanadnya adalah jayyid. Kemudian Allah Swt. berfirman: إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَماتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَباً وَلَوِ افْتَدى بِهِ Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati, sedangkan mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. (Ali Imran: 91) Maksudnya, barang siapa yang mati dalam keadaan kafir, maka tidak akan diterima darinya suatu kebaikan pun untuk selama-lamanya, sekalipun dia telah menginfakkan emas sepenuh bumi yang menurutnya dianggap sebagai amal taqarrub. Seperti yang pernah ditanyakan kepada Nabi Saw. tentang hal Abdullah ibnu Jad'an. Abdullah ibnu Jad'an semasa hidupnya gemar menjamu tamu, memberikan pertolongan kepada orang miskin, dan memberi makan orang kelaparan. Pertanyaan yang diajukan kepada beliau ialah, "Apakah hal itu bermanfaat baginya?" Maka Rasulullah Saw. menjawab: «لَا، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا مِنَ الدهر: ربي اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ» Tidak, sesungguhnya dia belum pernah mengucapkan barang sehari pun sepanjang hidupnya, "Ya Tuhanku, ampunilah bagiku semua kesalahanku di hari pembalasan nanti." Demikian pula seandainya dia menebus dirinya dengan emas sepenuh bumi, niscaya hal itu tidak akan diterima darinya. Seperti yang dinyatakan di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya: وَلا يُقْبَلُ مِنْها عَدْلٌ وَلا تَنْفَعُها شَفاعَةٌ dan tidak akan diterima suatu tebusan pun darinya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafaat kepadanya. (Al-Baqarah: 123) لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلا خِلالٌ Yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan. (Ibrahim: 31) إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً وَمِثْلَهُ مَعَهُ لِيَفْتَدُوا بِهِ مِنْ عَذابِ يَوْمِ الْقِيامَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذابٌ أَلِيمٌ Sesungguhnya orang-orang yang kafir, sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih. (Al-Maidah: 36) Karena itulah dalam ayat berikut ini disebutkan: {إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الأرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَى بِهِ} Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati, sedangkan mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. (Ali Imran: 91) Huruf ataf (wawu) yang terdapat di dalam firman-Nya: {وَلَوِ افْتَدَى بِهِ} walaupun dia menebus diri dengan emas (sebanyak) itu. (Ali Imran: 91), di-'ataf-kan kepada jumlah yang pertama. Hal ini menunjukkan bahwa yang kedua adalah bukan yang pertama. Pendapat yang kami kemukakan ini lebih baik daripada pendapat yang mengatakan bahwa huruf wawu di sini adalah zaidah (tambahan). Makna ayat ini menyimpulkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat menyelamatkan dirinya dari azab Allah, sekalipun dia telah menginfakkan emas sebesar bumi. Walaupun dia berupaya menebus dirinya dari azab Allah dengan emas sebesar bumi yang beratnya sama dengan berat semua gunung-gunung, semua lembah-lembah, semua tanah, pasir, dataran rendah dan hutan belukarnya, serta daratan dan lautannya (niscaya tidak akan diterima). قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حجَّاج، حَدَّثَنِي شُعْبَة، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الجَوْني، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " يُقَالُ لِلرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ لَكَ مَا عَلَى الأرْضِ مِنْ شَيْءٍ، أَكُنْتَ مُفْتَدِيًا بِهِ؟ قَالَ: فَيَقُولُ: نَعَمْ. قَالَ: فَيَقُولُ: قَدْ أَرَدْتُ مِنْكَ أَهْوَنَ مِنْ ذَلِكَ، قَدْ أَخَذْتُ عَلَيْكَ فِي ظَهْرِ أَبِيكَ آدَمَ أَلَّا تُشْرِكَ بِي شَيْئًا، فَأَبَيْتَ إِلا أَنْ تُشْرِكَ ".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepadaku Syu'bah, dari Abu Imran Al-Juni, dari Anas ibnu Malik, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: Dikatakan kepada seorang lelaki penghuni neraka kelak di hari kiamat, "Bagaimanakah yang akan kamu lakukan seandainya engkau mempunyai segala sesuatu yang ada di permukaan bumi, apakah itu akan engkau pakai untuk menebus dirimu (dari azab-Ku)?" Ia menjawab, "Ya." Allah berfirman, "Padahal Aku menghendaki darimu hal yang lebih mudah daripada itu. Sesungguhnya Aku telah mengambil janji darimu ketika kamu masih berada di dalam lulang sulbi kakek moyangmu, yaitu Adam; agar janganlah kamu mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun. Tetapi kamu menolak melainkan hanya tetap mempersekutukan (Aku)." Demikian pula apa yang diketengalikan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Jalur lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad. حَدَّثَنَا رَوْح، حَدَّثَنَا حَمَّاد، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يُؤْتَى بِالرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَقُولُ لَهُ: يَا ابْنَ آدَمَ، كَيْفَ وَجَدْتَ مَنزلَكَ؟ فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ، خَيْرُ مَنزلٍ. فَيَقُولُ: سَلْ وَتَمَنَّ. فَيَقُولُ: مَا أَسْأَلُ وَلا أَتَمَنَّى إِلا أَنْ تَرُدَّنِي إِلَى الدُّنْيَا فَأُقْتَلَ فِي سَبِيلِكَ عَشْرَ مِرَار -لِمَا يَرَى مِنْ فَضْلِ الشَّهَادَةِ. وَيُؤْتَى بِالرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَيَقُولُ لَهُ: يَا ابْنَ آدَمَ، كَيْفَ وَجَدْتَ مَنزلَكَ؟ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ شَرُّ مَنزلٍ. فَيَقُولُ لَهُ: تَفْتَدِي مِني بِطِلاعِ الأرْضِ ذَهَبًا؟ فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ، نَعَمْ. فَيَقُولُ: كَذَبْتَ، قَدْ سَأَلْتُكَ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ وَأَيْسَرَ فَلَمْ تَفْعَلْ، فيُرَد إِلَى النَّارِ" Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Sabit, dari Anas yang nicngatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Didatangkan seorang lelaki dari penduduk surga, lalu dikatakan kepadanya, "Hai anak Adam, bagaimanakah kamu jumpai tempat kedudukanmu?" Lelaki itu menjawab, "Wahai Tuhanku, (aku jumpai tempat tinggalku adalah) sebaik-baik tempat tinggal." Allah berfirman, "Mintalah dan berharaplah." Lelaki iiu menjawab, "Aku tidak akan meminta dan berharap lagi, kecuali kumohon Engkau mengembalikan aku ke dunia, lalu aku akan berperang hingga gugur di jalan-Mu," sebanyak sepuluh kali —ia mengatakan demikian karena keutamaan yang dirasakannya berkat mati syahid—. Dan didatangkan pula seorang lelaki dari penduduk neraka, lalu dikatakan kepadanya, "Hai anak Adam, bagaimanakah kamu jumpai tempat tinggalmu?" Ia menjawab, "Wahai Tuhanku (aku jumpai tempat tinggalku adalah) seburuk-buruk tempat tinggal." Dikatakan kepadanya, "Apakah engkau mau menebus dirimu dari (azab)-Nya dengan emas sepenuh bumi?" Ia menjawab, "Ya, wahai Tuhanku." Allah berfirman, "Kamu dusta, karena sesungguhnya Aku pernah memintamu melakukan hal yang lebih ringan daripada itu dan lebih mudah, tetapi kamu tidak mau melakukannya." Lalu lelaki itu dicampakkan kembali ke dalam neraka. Karena itulah dalam ayat ini disebutkan: {أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ} Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong. (Ali Imran: 91), Yakni tidak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan mereka dari azab Allah, dan tidak ada seorang pun yang melindungi mereka dari siksa-Nya yang amat pedih.
Selasa, 6 Mac 2018
ayat 89
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK,.
SURAH ALI-IMRAN 200AYAT, AYAT 89,
Biss-mil-laa-hir-rahman-nir-rahim Al-i'Imran,
Ayat 89, Illal lazina ta_bu_ mim ba'di za_lika wa aslahu_,
fa innalla_ha gafu_rur rahim(un).;3:90
إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
kecuali orang-orang yang taubat, sesudah (kafir) itu dan mengadakan perbaikan. Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
sebagai mana allah menjelaskan bahawa setiap dosa akan aku ampuni hamba ku dan dalam ayat ini telah menjelaskan walau pun dosa nya mensyirikkan atau mendua kan allah dengan aqrod dan jirim yang mana jirim yakni ketulan ketulan jasat batu atau kayu yang di ukir dan aqrod yang mana benda yang menumpang pada jirim yakni iblis hanyu atau jin atau pun afrit yang mana telah jelas bagi anak adam iblis sentiasa mengintai ruang ruang dalam sanubari manusia atau insan yang senantiasa lalai sebagai mana moyoang mereka yakni adam ., sifat insan lalai dan leka dengan tipu daya dan pujian pujian iblis dan afrit dan sanubari mereka dan terus lalai untuk memohon doa dan keampunan keatas dosa dosa yang di lakukan atau ibadah ibadah yang bercampur dengan riak,ujub,takabbur,sumah,atau bercampur dengan kufur atau bercampur dengan ibadah ibadah yang tiada dalam ajaran nabi muhamat saw,. sebagai mana doa doa para nabi dan tabien dan rasul di bawah,.,.,.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى “Allahummagh-firlii khothii-atii, wa jahlii, wa isrofii fii amrii, wa maa anta a’lamu bihi minni. Allahummagh-firlii jiddi wa hazlii, wa khotho-i wa ‘amdii, wa kullu dzalika ‘indii” (Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupn sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan)
[1] Hal ini merupakan bagian dari sifat lemah-lembut Allah, kebaikan-Nya, belas kasihan-Nya, rahmat, dan santunan-Nya kepada makhluk-Nya; yaitu barang siapa yang bertobat kepada-Nya, niscaya Dia menerima tobatnya. Allah SWT menerangkan bahwa orang-orang yang betul-betul bertobat dari perbuatannya dan kembali ke jalan yang benar, dengan meninggalkan kekafirannya, kemudian betul-betul menyesali perbuatannya yang salah dan memperbaiki masa depan dengan mengisinya dengan amal saleh, bersedia memupuk imannya dengan ajaran-ajaran yang benar, serta mau merubah tingkah lakunya yang jahat yang mengotori jiwanya, bagi mereka masih dibuka pintu tobat yang selebar-lebarnya. Dalam ayat ini terdapat suatu isyarat, bahwa orang-orang yang bertobat. akan tetapi tidak dibuktikan dengan amal yang baik, maka tobatnya tidak ada artinya menurut pandangan agama. Banyak orang yang menyatakan dirinya bertobat. dengan disertai penyesalan dan beristigfar akan tetapi kemudian mereka mengulangi perbuatan jahatnya itu. Orang yang semacam itu tobatnya tidak memberi pengaruh sedikitpun di dalam jiwanya dan tidak sanggup mengobati penyakitnya. Seandainya mereka dapat membuktikan tobatnya dalam bentuk perbuatan-perbuatan nyata niscaya mereka itu mendapat pengampunan dari Allah, dan mendapat Rahmat-Nya. Mengenai sebab turunnya ayat-ayat tersebut di atas (ayat 86 sampai dengan ayat 89) dapat dikemukakan sebuah Hadis: عن ابن عباس قال: كان رجل من الأنصار اسلم ثم ارتد ولحق بالشرك ثم ندم فسأل قومه أن ارسلوا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم هل لي من توبة؟ فنزلت: كيف يهدي الله قوما كفروا بعد إيمانهم إلى قوله: فإن الله غفور رحيم فارسل إليه قومه فأسلم Artinya Ibnu Abbas berkata: "Ada seorang laki-laki dari golongan Ansar masuk Islam, kemudian ia murtad dan menggabung ke golongan orang musyrik lalu ia menyesal. Maka dia minta kepada kaumnya agar ditanyakan kepada Rasulullah saw: "Bisakah diterima tobat saya?". Kemudian turunlah (ayat 86) sampai dengan (ayat 89). Maka disampaikanlah oleh kaumnya kepadanya, maka Islamlah dia kembali". (HR Imam Nasa'i, Ibnu Hibban dan Al Hakim) Demikianlah yang diriwayatkan an-Nasa’i, al-Hakim dan Ibnu Hibban dari Dawud bin Abu Hind. Dan menurut al-Hakim hadits ini shahih tetapi tidak dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Abdurrazzaq berkata: “Telah mengabarkan kepada kami Ja’far bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Humaid al-A’raj, dari Mujahid, ia berkata, al-Harits bin Suwaid datang dan masuk Islam di hadapan Nabi, lalu ia kafir lagi dan kembali kepada kaumnya, maka dengan inilah allah azawajalla menurunkan ayat 89ali imran ini,.
SURAH ALI-IMRAN 200AYAT, AYAT 89,
Biss-mil-laa-hir-rahman-nir-rahim Al-i'Imran,
Ayat 89, Illal lazina ta_bu_ mim ba'di za_lika wa aslahu_,
fa innalla_ha gafu_rur rahim(un).;3:90
إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
kecuali orang-orang yang taubat, sesudah (kafir) itu dan mengadakan perbaikan. Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
sebagai mana allah menjelaskan bahawa setiap dosa akan aku ampuni hamba ku dan dalam ayat ini telah menjelaskan walau pun dosa nya mensyirikkan atau mendua kan allah dengan aqrod dan jirim yang mana jirim yakni ketulan ketulan jasat batu atau kayu yang di ukir dan aqrod yang mana benda yang menumpang pada jirim yakni iblis hanyu atau jin atau pun afrit yang mana telah jelas bagi anak adam iblis sentiasa mengintai ruang ruang dalam sanubari manusia atau insan yang senantiasa lalai sebagai mana moyoang mereka yakni adam ., sifat insan lalai dan leka dengan tipu daya dan pujian pujian iblis dan afrit dan sanubari mereka dan terus lalai untuk memohon doa dan keampunan keatas dosa dosa yang di lakukan atau ibadah ibadah yang bercampur dengan riak,ujub,takabbur,sumah,atau bercampur dengan kufur atau bercampur dengan ibadah ibadah yang tiada dalam ajaran nabi muhamat saw,. sebagai mana doa doa para nabi dan tabien dan rasul di bawah,.,.,.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى “Allahummagh-firlii khothii-atii, wa jahlii, wa isrofii fii amrii, wa maa anta a’lamu bihi minni. Allahummagh-firlii jiddi wa hazlii, wa khotho-i wa ‘amdii, wa kullu dzalika ‘indii” (Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupn sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan)
[1] Hal ini merupakan bagian dari sifat lemah-lembut Allah, kebaikan-Nya, belas kasihan-Nya, rahmat, dan santunan-Nya kepada makhluk-Nya; yaitu barang siapa yang bertobat kepada-Nya, niscaya Dia menerima tobatnya. Allah SWT menerangkan bahwa orang-orang yang betul-betul bertobat dari perbuatannya dan kembali ke jalan yang benar, dengan meninggalkan kekafirannya, kemudian betul-betul menyesali perbuatannya yang salah dan memperbaiki masa depan dengan mengisinya dengan amal saleh, bersedia memupuk imannya dengan ajaran-ajaran yang benar, serta mau merubah tingkah lakunya yang jahat yang mengotori jiwanya, bagi mereka masih dibuka pintu tobat yang selebar-lebarnya. Dalam ayat ini terdapat suatu isyarat, bahwa orang-orang yang bertobat. akan tetapi tidak dibuktikan dengan amal yang baik, maka tobatnya tidak ada artinya menurut pandangan agama. Banyak orang yang menyatakan dirinya bertobat. dengan disertai penyesalan dan beristigfar akan tetapi kemudian mereka mengulangi perbuatan jahatnya itu. Orang yang semacam itu tobatnya tidak memberi pengaruh sedikitpun di dalam jiwanya dan tidak sanggup mengobati penyakitnya. Seandainya mereka dapat membuktikan tobatnya dalam bentuk perbuatan-perbuatan nyata niscaya mereka itu mendapat pengampunan dari Allah, dan mendapat Rahmat-Nya. Mengenai sebab turunnya ayat-ayat tersebut di atas (ayat 86 sampai dengan ayat 89) dapat dikemukakan sebuah Hadis: عن ابن عباس قال: كان رجل من الأنصار اسلم ثم ارتد ولحق بالشرك ثم ندم فسأل قومه أن ارسلوا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم هل لي من توبة؟ فنزلت: كيف يهدي الله قوما كفروا بعد إيمانهم إلى قوله: فإن الله غفور رحيم فارسل إليه قومه فأسلم Artinya Ibnu Abbas berkata: "Ada seorang laki-laki dari golongan Ansar masuk Islam, kemudian ia murtad dan menggabung ke golongan orang musyrik lalu ia menyesal. Maka dia minta kepada kaumnya agar ditanyakan kepada Rasulullah saw: "Bisakah diterima tobat saya?". Kemudian turunlah (ayat 86) sampai dengan (ayat 89). Maka disampaikanlah oleh kaumnya kepadanya, maka Islamlah dia kembali". (HR Imam Nasa'i, Ibnu Hibban dan Al Hakim) Demikianlah yang diriwayatkan an-Nasa’i, al-Hakim dan Ibnu Hibban dari Dawud bin Abu Hind. Dan menurut al-Hakim hadits ini shahih tetapi tidak dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Abdurrazzaq berkata: “Telah mengabarkan kepada kami Ja’far bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Humaid al-A’raj, dari Mujahid, ia berkata, al-Harits bin Suwaid datang dan masuk Islam di hadapan Nabi, lalu ia kafir lagi dan kembali kepada kaumnya, maka dengan inilah allah azawajalla menurunkan ayat 89ali imran ini,.
Isnin, 5 Mac 2018
AYAT 87-88
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK.,
SURAH ALI-IMRAN 200AYAT,. Ayat 87
Ula_'ika jaza_'uhum anna'alaihim la'natalla_hi wal mala_'ikati wan na_si ajma'in(a). 3:88 Ayat 88 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 88 Kha_lidina fiha_, la_ yukhaffafu 'anhumul 'aza_bu wa la_ hum yunzaru_n(a).
أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ أَنَّ عَلَيْهِمْ لَعْنَةَ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ خَالِدِينَ فِيهَا لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ
Mereka itu, balasannya ialah: bahwasanya laknat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) laknat para malaikat dan manusia seluruhnya mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh, sebagai mana ayat di atas menjelaskan bahawa orang orang yang menyekutukan allah dengan sesuatu baik dengan jirim atau aqrod yakni bayangan akal atau ketul batu atau ketul kayu ., sebagai mana jelas baik pada puak mujasima dan musrik yang mana menyembah sesuatu yang sekutu bagi allah .,., allah ada berupa dzat yang mana bukan putih atau hitam baik jua ketulan kayu atau batu .,,..,., dan balasan bagi mereka di akirat kelak seburuk buruk tempat dalam neraka yang mana api nya menyala nyala.,.,dan bahan bakar nya ketulan ketulan kayu dan batu yang menjadi sembahan bagi puak musrik dan iblis dan afrit yang di sembah oleh puak mujasima,.,. jelas lah dalam ayat ali imran ini bahawa tiada keriganan allah keatas mana mana mahluk yang engkar akan perintah allah azawajalla ,.,. tiada keampuanan sehingga mana selama lama nya kekal dalam neraka bersama sama apa apa yang mereka sembahkan sewaktu di atas dunia .,. sebagai mana hadis hadis soheh muslim dalam penjelasan yang lebih jelas bagi menghuraikan ayat ayat ini,..,;Menurut pengarang Tafsir Al Jalaalain, ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi. Namun menurut riwayat Al Bazzar dari Ibnu Abbas, bahwa ayat ini turun berkenaan beberapa orang yang masuk Islam, kemudian murtad, lalu masuk Islam lagi, kemudian murtad lagi (riwayat ini isnadnya jayyid).sebagai Contoh ; seseorang yang telah berjuang dalam perjuagan parti islam semalaysia dan istiqamah dalam jamaah ahli sunah dan aqtiqod sifat 20 dan nur muhamat aliran ars-syakri lalu keluar atau tarik diri beralih kearah parti umno dan barisan nasional yang mana bersama sama orang yang melayu yang kembali murtad dan di bawah aliran pahaman mujasima dan barisan orang orang kafir penyembah berhala ., mereka mereka ini lah yang di maksut kan dalam ayat ke 87-88 yang mana di akirat kelak allah akan bakar mereka dalam api neraka yang bernyala nyala .,.,. sebagai mana jelas dari ibnu jarir,. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Bazi' Al-Basri, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Zurai,' telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Abu Hindun dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa ada seorang dari kalangan Ansar murtad sesudah masuk Islam, lalu ia bergabung dengan orang-orang musyrik, tetapi setelah itu ia menyesal. Kemudian ia mengirimkan utusan kepada kaumnya agar mereka menanyakan kepada Rasulullah Saw., apakah masih ada jalan tobat baginya. Lalu turunlah firman-Nya: Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman. (Ali Imran: 86) sampai dengan firman-Nya: Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 89). Lalu kaumnya memanggilnya dan ia masuk Islam kembali. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Nasai, Imam Hakim, dan Imam Ibnu Hibban melalui jalur Daud ibnu Abu Hindun dengan lafaz yang sama. Imam Hakim mengatakan bahwa hadis ini sahih sanadnya, tetapi keduanya (Imam Bukhari dan Imam Muslim) tidak mengetengahkannya. Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Humaid Al-A'raj, dari Mujahid yang mengatakan bahwa Al-Haris ibnu Suwaid datang kepada Nabi Saw., lalu masuk Islam di tangannya. Tetapi setelah itu ia murtad dan kembali kepada kaumnya. Maka Allah menurunkan ayat berikut berkenaan dengan peristiwanya itu, yaitu firman-Nya: Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman. (Ali Imran: 86) sampai dengan firman-Nya: Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 89). Kemudian hal ini disampaikan kepada seorang lelaki dari kaumnya, lalu dibacakan kepadanya. Maka Al-Haris berkata, "Sesungguhnya engkau, demi Allah, sepanjang pengetahuanku benar-benar orang yang jujur. Dan sesungguhnya Rasulullah Saw. lebih jujur lagi daripada kamu, dan sesungguhnya Allah lebih jujur lagi di antara kesemuanya." Setelah itu Al-Haris kembali masuk Islam dan berbuat baik dalam Islamnya.
SURAH ALI-IMRAN 200AYAT,. Ayat 87
Ula_'ika jaza_'uhum anna'alaihim la'natalla_hi wal mala_'ikati wan na_si ajma'in(a). 3:88 Ayat 88 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 88 Kha_lidina fiha_, la_ yukhaffafu 'anhumul 'aza_bu wa la_ hum yunzaru_n(a).
أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ أَنَّ عَلَيْهِمْ لَعْنَةَ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ خَالِدِينَ فِيهَا لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ
Mereka itu, balasannya ialah: bahwasanya laknat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) laknat para malaikat dan manusia seluruhnya mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh, sebagai mana ayat di atas menjelaskan bahawa orang orang yang menyekutukan allah dengan sesuatu baik dengan jirim atau aqrod yakni bayangan akal atau ketul batu atau ketul kayu ., sebagai mana jelas baik pada puak mujasima dan musrik yang mana menyembah sesuatu yang sekutu bagi allah .,., allah ada berupa dzat yang mana bukan putih atau hitam baik jua ketulan kayu atau batu .,,..,., dan balasan bagi mereka di akirat kelak seburuk buruk tempat dalam neraka yang mana api nya menyala nyala.,.,dan bahan bakar nya ketulan ketulan kayu dan batu yang menjadi sembahan bagi puak musrik dan iblis dan afrit yang di sembah oleh puak mujasima,.,. jelas lah dalam ayat ali imran ini bahawa tiada keriganan allah keatas mana mana mahluk yang engkar akan perintah allah azawajalla ,.,. tiada keampuanan sehingga mana selama lama nya kekal dalam neraka bersama sama apa apa yang mereka sembahkan sewaktu di atas dunia .,. sebagai mana hadis hadis soheh muslim dalam penjelasan yang lebih jelas bagi menghuraikan ayat ayat ini,..,;Menurut pengarang Tafsir Al Jalaalain, ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi. Namun menurut riwayat Al Bazzar dari Ibnu Abbas, bahwa ayat ini turun berkenaan beberapa orang yang masuk Islam, kemudian murtad, lalu masuk Islam lagi, kemudian murtad lagi (riwayat ini isnadnya jayyid).sebagai Contoh ; seseorang yang telah berjuang dalam perjuagan parti islam semalaysia dan istiqamah dalam jamaah ahli sunah dan aqtiqod sifat 20 dan nur muhamat aliran ars-syakri lalu keluar atau tarik diri beralih kearah parti umno dan barisan nasional yang mana bersama sama orang yang melayu yang kembali murtad dan di bawah aliran pahaman mujasima dan barisan orang orang kafir penyembah berhala ., mereka mereka ini lah yang di maksut kan dalam ayat ke 87-88 yang mana di akirat kelak allah akan bakar mereka dalam api neraka yang bernyala nyala .,.,. sebagai mana jelas dari ibnu jarir,. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Bazi' Al-Basri, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Zurai,' telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Abu Hindun dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa ada seorang dari kalangan Ansar murtad sesudah masuk Islam, lalu ia bergabung dengan orang-orang musyrik, tetapi setelah itu ia menyesal. Kemudian ia mengirimkan utusan kepada kaumnya agar mereka menanyakan kepada Rasulullah Saw., apakah masih ada jalan tobat baginya. Lalu turunlah firman-Nya: Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman. (Ali Imran: 86) sampai dengan firman-Nya: Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 89). Lalu kaumnya memanggilnya dan ia masuk Islam kembali. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Nasai, Imam Hakim, dan Imam Ibnu Hibban melalui jalur Daud ibnu Abu Hindun dengan lafaz yang sama. Imam Hakim mengatakan bahwa hadis ini sahih sanadnya, tetapi keduanya (Imam Bukhari dan Imam Muslim) tidak mengetengahkannya. Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Humaid Al-A'raj, dari Mujahid yang mengatakan bahwa Al-Haris ibnu Suwaid datang kepada Nabi Saw., lalu masuk Islam di tangannya. Tetapi setelah itu ia murtad dan kembali kepada kaumnya. Maka Allah menurunkan ayat berikut berkenaan dengan peristiwanya itu, yaitu firman-Nya: Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman. (Ali Imran: 86) sampai dengan firman-Nya: Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 89). Kemudian hal ini disampaikan kepada seorang lelaki dari kaumnya, lalu dibacakan kepadanya. Maka Al-Haris berkata, "Sesungguhnya engkau, demi Allah, sepanjang pengetahuanku benar-benar orang yang jujur. Dan sesungguhnya Rasulullah Saw. lebih jujur lagi daripada kamu, dan sesungguhnya Allah lebih jujur lagi di antara kesemuanya." Setelah itu Al-Haris kembali masuk Islam dan berbuat baik dalam Islamnya.
Ahad, 4 Mac 2018
ayat 83-86
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK';
Ali Imran, ayat 86-89
BIss-mil-laa-hir-rahman-nir-rahim;. Ayat 86-Kaifa yahdilla_hu qauman kafaru_ ba'da ima_nihim wa syahidu_ annar rasu_la haqquw wa ja_'ahumul bayyina_t(u), walla_hu la_ yahdil qaumaz za_limin(a).3:87 Ayat 87-Ula_'ika jaza_'uhum anna'alaihim la'natalla_hi wal mala_'ikati wan na_si ajma'in(a).-3:88, Ayat 88-Kha_lidina fiha_, la_ yukhaffafu 'anhumul 'aza_bu wa la_ hum yunzaru_n(a). 3:89, Ayat 89-Illal lazina ta_bu_ mim ba'di za_lika wa aslahu_, fa innalla_ha gafu_rur rahim(un). 3:90
{كَيْفَ يَهْدِي اللَّهُ قَوْمًا كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ وَشَهِدُوا أَنَّ الرَّسُولَ حَقٌّ وَجَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (86) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ أَنَّ عَلَيْهِمْ لَعْنَةَ اللَّهِ وَالْمَلائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (87) خَالِدِينَ فِيهَا لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلا هُمْ يُنْظَرُونَ (88) إِلا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (89) }
Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keterangan pun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. Mereka itu balasannya ialah bahwa laknat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) laknat para malaikat dan manusia seluruhnya; mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh, kecuali orang-orang yang tobat, sesudah (kafir) itu dan mengadakan perbaikan. Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Bazi' Al-Basri, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Zurai,' telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Abu Hindun dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa ada seorang dari kalangan Ansar murtad sesudah masuk Islam, lalu ia bergabung dengan orang-orang musyrik, tetapi setelah itu ia menyesal. Kemudian ia mengirimkan utusan kepada kaumnya agar mereka menanyakan kepada Rasulullah Saw., apakah masih ada jalan tobat baginya. Lalu turunlah firman-Nya: Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman. (Ali Imran: 86) sampai dengan firman-Nya: Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 89). Lalu kaumnya memanggilnya dan ia masuk Islam kembali. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Nasai, Imam Hakim, dan Imam Ibnu Hibban melalui jalur Daud ibnu Abu Hindun dengan lafaz yang sama. Imam Hakim mengatakan bahwa hadis ini sahih sanadnya, tetapi keduanya (Imam Bukhari dan Imam Muslim) tidak mengetengahkannya. Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Humaid Al-A'raj, dari Mujahid yang mengatakan bahwa Al-Haris ibnu Suwaid datang kepada Nabi Saw., lalu masuk Islam di tangannya. Tetapi setelah itu ia murtad dan kembali kepada kaumnya. Maka Allah menurunkan ayat berikut berkenaan dengan peristiwanya itu, yaitu firman-Nya: Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman. (Ali Imran: 86) sampai dengan firman-Nya: Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 89). Kemudian hal ini disampaikan kepada seorang lelaki dari kaumnya, lalu dibacakan kepadanya. Maka Al-Haris berkata, "Sesungguhnya engkau, demi Allah, sepanjang pengetahuanku benar-benar orang yang jujur. Dan sesungguhnya Rasulullah Saw. lebih jujur lagi daripada kamu, dan sesungguhnya Allah lebih jujur lagi di antara kesemuanya." Setelah itu Al-Haris kembali masuk Islam dan berbuat baik dalam Islamnya. *****************
Firman Allah Swt.: كَيْفَ يَهْدِي اللَّهُ قَوْماً كَفَرُوا بَعْدَ إِيمانِهِمْ وَشَهِدُوا أَنَّ الرَّسُولَ حَقٌّ وَجاءَهُمُ الْبَيِّناتُ Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu benar-benar rasul, dan keterangan-keterangan pun telah datang kepada mereka. (Ali Imran: 86) Yakni hujah dan bukti telah jelas baginya membuktikan kebenaran apa yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. kepada mereka, dan beliau Saw. telah menerangkannya kepada mereka perkara tersebut. Kemudian mereka murtad dan kembali kepada kegelapan kemusyrikan. Maka bagaimana orang-orang seperti itu berhak mendapat petunjuk sesudah mereka diselamatkan dari kebutaannya? Karena itu, pada akhir ayat ini disebutkan: {وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ} Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. (Ali Imran: 86) Selanjutnya Allah Swt. berfirman: {أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ أَنَّ عَلَيْهِمْ لَعْنَةَ اللَّهِ وَالْمَلائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ} Mereka itu balasannya ialah bahwasanya laknat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) laknat para malaikat dan manusia seluruhnya. (Ali Imran: 87). Yaitu mereka dilaknat oleh Allah Swt., juga dilaknat oleh makhluk-Nya. {خَالِدِينَ فِيهَا} mereka kekal di dalamnya. (Ali Imran: 88) Yakni berada di dalam laknat yang abadi. {لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلا هُمْ يُنْظَرُونَ} tidak diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh. (Ali Imran: 88). Maksudnya, azab yang menimpa mereka tidak pernah terputus dan tidak pernah diberi keringanan, sekalipun hanya sesaat saja. Kemudian Allah Swt. berfirman: {إِلا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ} kecuali orang-orang yang tobat, sesudah (kafir) itu dan mengadakan perbaikan. Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 89).
Hal ini merupakan bagian dari sifat lemah-lembut Allah, kebaikan-Nya, belas kasihan-Nya, rahmat, dan santunan-Nya kepada makhluk-Nya; yaitu barang siapa yang bertobat kepada-Nya, niscaya Dia menerima tobatnya. Artinya telah jelas bagi mereka berbagai hujjah dan bukti kebenaran apa yang dibawa oleh Rasulullah, serta telah nyata perkara itu bagi mereka, tetapi kemudian murtad, kembali kepada kegelapan syirik, maka bagaimana mungkin mereka akan memperoleh hidayah setelah mereka bergelimang dalam kebutaan. Oleh karena itu Allah swt. berfirman, wallaaHu laa yaHdil qaumadh dhaalimiin (“Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”) Setelah itu Dia berfirman, ulaa-ika jazaa-uHum anna ‘alaiHim la’natallaaHi wal malaa-ikati wan naasi ajma’iin (“Mereka itu, balasannya adalah bahwa bagi mereka laknat Allah, laknat para Malaikat dan manusia seluruhnya.”) Maksudnya, mereka mendapatkan laknat dari Allah dan seluruh makhluk-Nya. Khaalidiina fiiHaa (“Mereka kekal di dalamnya,”) yaitu dalam laknat. Laa yukhaffafu ‘anHumul ‘adzaabu wa laa Hum yundharuun (“Tidak diringankan siksa dari mereka dan tidak [pula] mereka diberi tangguh.”) Maksudnya, siksa mereka tidak akan dikurangi atau diringankan meskipun hanya sesaat. Dan selanjutnya Allah berfirman: illalladziina taabuu mim ba’di dzaalika wa ash-lahuu fa innallaaHa ghafuurur rahiim (“Kecuali orang-orang yang taubat, sesudah [kafir] itu dan mengadakan perbaikan. Karena sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) Ini merupakan bagian dari kelembutan, kebaikan, kesantunan, kasih sayang, dan kemurahan-Nya bagi makhluk-Nya, bahwa barangsiapa yang bertaubat kepada-Nya, maka Dia akan mengampuninya.
Ali Imran, ayat 86-89
BIss-mil-laa-hir-rahman-nir-rahim;. Ayat 86-Kaifa yahdilla_hu qauman kafaru_ ba'da ima_nihim wa syahidu_ annar rasu_la haqquw wa ja_'ahumul bayyina_t(u), walla_hu la_ yahdil qaumaz za_limin(a).3:87 Ayat 87-Ula_'ika jaza_'uhum anna'alaihim la'natalla_hi wal mala_'ikati wan na_si ajma'in(a).-3:88, Ayat 88-Kha_lidina fiha_, la_ yukhaffafu 'anhumul 'aza_bu wa la_ hum yunzaru_n(a). 3:89, Ayat 89-Illal lazina ta_bu_ mim ba'di za_lika wa aslahu_, fa innalla_ha gafu_rur rahim(un). 3:90
{كَيْفَ يَهْدِي اللَّهُ قَوْمًا كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ وَشَهِدُوا أَنَّ الرَّسُولَ حَقٌّ وَجَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (86) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ أَنَّ عَلَيْهِمْ لَعْنَةَ اللَّهِ وَالْمَلائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (87) خَالِدِينَ فِيهَا لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلا هُمْ يُنْظَرُونَ (88) إِلا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (89) }
Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keterangan pun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. Mereka itu balasannya ialah bahwa laknat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) laknat para malaikat dan manusia seluruhnya; mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh, kecuali orang-orang yang tobat, sesudah (kafir) itu dan mengadakan perbaikan. Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Bazi' Al-Basri, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Zurai,' telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Abu Hindun dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa ada seorang dari kalangan Ansar murtad sesudah masuk Islam, lalu ia bergabung dengan orang-orang musyrik, tetapi setelah itu ia menyesal. Kemudian ia mengirimkan utusan kepada kaumnya agar mereka menanyakan kepada Rasulullah Saw., apakah masih ada jalan tobat baginya. Lalu turunlah firman-Nya: Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman. (Ali Imran: 86) sampai dengan firman-Nya: Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 89). Lalu kaumnya memanggilnya dan ia masuk Islam kembali. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Nasai, Imam Hakim, dan Imam Ibnu Hibban melalui jalur Daud ibnu Abu Hindun dengan lafaz yang sama. Imam Hakim mengatakan bahwa hadis ini sahih sanadnya, tetapi keduanya (Imam Bukhari dan Imam Muslim) tidak mengetengahkannya. Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Humaid Al-A'raj, dari Mujahid yang mengatakan bahwa Al-Haris ibnu Suwaid datang kepada Nabi Saw., lalu masuk Islam di tangannya. Tetapi setelah itu ia murtad dan kembali kepada kaumnya. Maka Allah menurunkan ayat berikut berkenaan dengan peristiwanya itu, yaitu firman-Nya: Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman. (Ali Imran: 86) sampai dengan firman-Nya: Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 89). Kemudian hal ini disampaikan kepada seorang lelaki dari kaumnya, lalu dibacakan kepadanya. Maka Al-Haris berkata, "Sesungguhnya engkau, demi Allah, sepanjang pengetahuanku benar-benar orang yang jujur. Dan sesungguhnya Rasulullah Saw. lebih jujur lagi daripada kamu, dan sesungguhnya Allah lebih jujur lagi di antara kesemuanya." Setelah itu Al-Haris kembali masuk Islam dan berbuat baik dalam Islamnya. *****************
Firman Allah Swt.: كَيْفَ يَهْدِي اللَّهُ قَوْماً كَفَرُوا بَعْدَ إِيمانِهِمْ وَشَهِدُوا أَنَّ الرَّسُولَ حَقٌّ وَجاءَهُمُ الْبَيِّناتُ Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu benar-benar rasul, dan keterangan-keterangan pun telah datang kepada mereka. (Ali Imran: 86) Yakni hujah dan bukti telah jelas baginya membuktikan kebenaran apa yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. kepada mereka, dan beliau Saw. telah menerangkannya kepada mereka perkara tersebut. Kemudian mereka murtad dan kembali kepada kegelapan kemusyrikan. Maka bagaimana orang-orang seperti itu berhak mendapat petunjuk sesudah mereka diselamatkan dari kebutaannya? Karena itu, pada akhir ayat ini disebutkan: {وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ} Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. (Ali Imran: 86) Selanjutnya Allah Swt. berfirman: {أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ أَنَّ عَلَيْهِمْ لَعْنَةَ اللَّهِ وَالْمَلائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ} Mereka itu balasannya ialah bahwasanya laknat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) laknat para malaikat dan manusia seluruhnya. (Ali Imran: 87). Yaitu mereka dilaknat oleh Allah Swt., juga dilaknat oleh makhluk-Nya. {خَالِدِينَ فِيهَا} mereka kekal di dalamnya. (Ali Imran: 88) Yakni berada di dalam laknat yang abadi. {لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلا هُمْ يُنْظَرُونَ} tidak diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh. (Ali Imran: 88). Maksudnya, azab yang menimpa mereka tidak pernah terputus dan tidak pernah diberi keringanan, sekalipun hanya sesaat saja. Kemudian Allah Swt. berfirman: {إِلا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ} kecuali orang-orang yang tobat, sesudah (kafir) itu dan mengadakan perbaikan. Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 89).
Hal ini merupakan bagian dari sifat lemah-lembut Allah, kebaikan-Nya, belas kasihan-Nya, rahmat, dan santunan-Nya kepada makhluk-Nya; yaitu barang siapa yang bertobat kepada-Nya, niscaya Dia menerima tobatnya. Artinya telah jelas bagi mereka berbagai hujjah dan bukti kebenaran apa yang dibawa oleh Rasulullah, serta telah nyata perkara itu bagi mereka, tetapi kemudian murtad, kembali kepada kegelapan syirik, maka bagaimana mungkin mereka akan memperoleh hidayah setelah mereka bergelimang dalam kebutaan. Oleh karena itu Allah swt. berfirman, wallaaHu laa yaHdil qaumadh dhaalimiin (“Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”) Setelah itu Dia berfirman, ulaa-ika jazaa-uHum anna ‘alaiHim la’natallaaHi wal malaa-ikati wan naasi ajma’iin (“Mereka itu, balasannya adalah bahwa bagi mereka laknat Allah, laknat para Malaikat dan manusia seluruhnya.”) Maksudnya, mereka mendapatkan laknat dari Allah dan seluruh makhluk-Nya. Khaalidiina fiiHaa (“Mereka kekal di dalamnya,”) yaitu dalam laknat. Laa yukhaffafu ‘anHumul ‘adzaabu wa laa Hum yundharuun (“Tidak diringankan siksa dari mereka dan tidak [pula] mereka diberi tangguh.”) Maksudnya, siksa mereka tidak akan dikurangi atau diringankan meskipun hanya sesaat. Dan selanjutnya Allah berfirman: illalladziina taabuu mim ba’di dzaalika wa ash-lahuu fa innallaaHa ghafuurur rahiim (“Kecuali orang-orang yang taubat, sesudah [kafir] itu dan mengadakan perbaikan. Karena sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) Ini merupakan bagian dari kelembutan, kebaikan, kesantunan, kasih sayang, dan kemurahan-Nya bagi makhluk-Nya, bahwa barangsiapa yang bertaubat kepada-Nya, maka Dia akan mengampuninya.
Sabtu, 3 Mac 2018
ayat 83-85
Tafsir Al-Qur’an dan Hadis Tabaruk;
Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan) Surah Madaniyyah;
surah ke 3: 200 ayat;
{أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ
(83) قُلْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزلَ عَلَيْنَا وَمَا أُنزلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَالنَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (84) وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (85) } “
Ayat 83 Afagaira dinilla_hi yabgu_na wa lahu_ aslama man fis sama_wa_ti wal ardi tau'aw wa karhaw wa ilaihi yurja'u_n(a). 3:84 Ayat 84 Qul a_mannu_ billa_hi wa ma_ unzila 'alaina_ wa ma_ unzila'ala_ ibra_hima wa isma_'ila wa isha_qa wa ya'qu_ba wal asba_ti wa ma_ u_tiya mu_sa_ wa 'isa_ wan nabiyyu_na mir rabbihim, la_ nufarriqu baina ahadim minhum, wa nahnu lahu_ muslimu_n(a). 3:85 Ayat 85 Wa may yabtagi gairal isla_mi dinan falay yuqbala minh)u), wa huwa fil a_khirati minal kha_sirin(a).
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan. (QS. 3:83) Katakanlah: ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa dan para Nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.’ (QS. 3:84) Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. 3:85) Allah Swt. mengingkari melalui firman-Nya terhadap orang yang menghendaki sebuah agama selain agama Allah yang diturunkan melalui kitab-kitab-Nya dengan perantara para rasul yang diutus-Nya. Agama Allah itu adalah yang memerintahkan hanya menyembah kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya; semua makhluk yang ada di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, baik dengan suka maupun terpaksa. Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:
وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَنْ فِي السَّماواتِ وَالْأَرْضِ
طَوْعاً وَكَرْهاً
Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa. (Ar-Ra'd: 15) أَوَلَمْ يَرَوْا إِلى مَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ يَتَفَيَّؤُا ظِلالُهُ عَنِ الْيَمِينِ وَالشَّمائِلِ سُجَّداً لِلَّهِ وَهُمْ داخِرُونَ وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّماواتِ وَما فِي الْأَرْضِ مِنْ دابَّةٍ وَالْمَلائِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ يَخافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan sujud kepada Allah, sedangkan mereka berendah diri? Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melala di bumi dan (juga) para malaikat, sedangkan mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). (An-Nahl: 48-50) Orang yang benar-benar mukmin dengan segenap jiwa dan raganya berserah diri kepada Allah, sedangkan orang yang kafir berserah diri kepada Allah hanya karena terpaksa; karena sesungguhnya ia berada di bawah pengaruh, keperkasaan, dan kekuasaan Yang Mahaagung yang tidak dapat ditentang dan tidak pula dapat dicegah. Di dalam sebuah hadis disebutkan pengertian lain sehubungan dengan tafsir ayat ini yang di dalamnya terkandung keanehan. Untuk itu, Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan:
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ النَّضْرِ الْعَسْكَرِيُّ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ حَفْصٍ النُّفَيْلي، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ
مِحْصَن الْعُكَّاشِيُّ، حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا} أمَّا مَنْ فِي السَّمَاواتِ فَالْمَلائِكَةُ، وأمَّا مَنْ فِي الأرضِ فَمَنْ وُلِدَ عَلَى الإسْلامِ، وأمَّا كَرْهًا فَمَنْ أُتِي بِهِ مِنْ سَبَايا الأمَمِ فِي السَّلاسِلِ والأغْلالِ، يُقَادُونَ إلَى الْجَنَّةِ وَهُمْ كَارِهُونَ".
telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnun Nadr Al-Askari, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Hafs An-Nufaili, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mihsan Al-Ukasyi, telah menceritakan kepada kami Al-Auza'i, dari Ata ibnu Abu Rabah, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: "Padahal kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa" (Ali Imran: 83). Adapun makhluk yang ada di langit, mereka adalah para malaikat. Dan adapun makhluk yang ada di bumi, maka mereka adalah orang yang dilahirkan dalam keadaan Islam. Dan adapun orang yang berserah diri dengan terpaksa, maka mereka adalah para tawanan dari berbagai umat yang didatangkan dalam keadaan terbelenggu oleh rantai; mereka digiring masuk surga, sedangkan mereka dalam keadaan terpaksa. Di dalam sebuah hadis sahih disebutkan: «عَجِبَ رَبُّكَ مِنْ قَوْمٍ يُقَادُونَ إِلَى الْجَنَّةِ فِي السَّلَاسِلِ»
Tuhanmu merasa kagum terhadap suatu kaum yang digiring ke surga dalam keadaan dirantai. Dalam pembahasan berikut akan disebutkan dalil lain dan segi yang lain, tetapi makna yang pertama bagi ayat ini lebih kuat. Waki' mengatakan di dalam kitab tafsirnya, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Mansur, dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya: padahal kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa. (Ali Imran; 83); Menurut Mujahid, makna ayat ini sama dengan yang terdapat di dalam ayat Lain, yaitu firman-Nya: وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّماواتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?. Tentu mereka akan menjawab, "Allah." (Luqman: 25) Waki' mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A'masy, dari Mujahid dan Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: padahal kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa. (Ali Imran: 83) Yakni hal ini terjadi di saat Allah mengambil janji (dari mereka bahwa mereka tidak akan menyembah melainkan hanya kepada Allah, yaitu di zaman azali). ***************** وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan. (Ali Imran: 83) Yakni pada hari kemudian, lalu Allah membalas tiap-tiap orang sesuai dengan amal perbuatannya. Kemudian Allah Swt. berfirman: {قُلْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزلَ عَلَيْنَا} Katakanlah, "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami." (Ali Imran: 84) Yang dimaksud adalah Al-Qur'an. {وَمَا أُنزلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ} dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, dan Ya'qub. (Ali Imran: 84) Yakni semua suhuf (lembaran-lembaran kitab) dan wahyu yang diturunkan kepada mereka. {وَالأسْبَاطِ} dan anak-anaknya. (Ali Imran: 84) Mereka adalah kabilah-kabilah dari kalangan Bani Israil yang bercabang dari anak-anak Israil (yakni Nabi Ya'qub) yang jumlahnya ada dua belas orang. {وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى} dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa. (Ali Imran: 84) Yang dimaksud ialah kitab Taurat dan kitab Injil. {وَالنَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ} dan para nabi dari Tuhan mereka. (Ali Imran: 84) Hal ini mencakup pengertiannya kepada semua nabi secara umum. {لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ} Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka. (Ali Imran: 84) Bahkan kami beriman kepada semuanya. {وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ} dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri. (Ali Imran: 84) Orang-orang mukmin dari kalangan umat ini beriman kepada semua nabi yang diutus dan beriman kepada semua kitab yang diturunkan. Mereka sama sekali tidak ingkar kepada sesuatu pun dari hal tersebut, bahkan mereka membenarkan bahwa semuanya itu diturunkan dari sisi Allah dan membenarkan semua nabi yang diutus oleh Allah. ***************** Firman Allah Swt.: وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ دِيناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya. (Ali Imran: 85) Yakni barang siapa yang menempuh suatu jalan selain jalan yang telah disyariatkan oleh Allah, maka jalan itu tidak akan diterima darinya. {وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ} dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali Imran: 85), Perihalnya sama dengan apa yang telah dikatakan oleh Nabi Saw. dalam sebuah hadis sahih, yaitu: «مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ» Barang siapa yang melakukan suatu amal, sedangkan amal itu bukan termasuk urusan kami, maka amal itu ditolak.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ، حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ رَاشِدٍ، حَدَّثَنَا الْحَسَنُ، حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ، إِذْ ذَاكَ وَنَحْنُ بِالْمَدِينَةِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "تَجِيءُ الأعْمَالُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَتَجِيءُ الصَّلاةُ فَتَقُولُ: يَا رَبِّ، أَنَا الصَّلاةُ. فَيَقُولُ: إِنَّكِ عَلَى خَيْرٍ. فَتَجِيءُ الصَّدَقَةُ فَتَقُولُ: يَا رَبِّ، أَنَا الصَّدَقَةُ. فَيَقُولُ: إِنَّكِ عَلَى خَيْرٍ. ثُمَّ يَجِيءُ الصِّيَامُ فَيَقُولُ: أَيْ يَا رَبِّ، أَنَا الصِّيَامُ. فَيَقُولُ: إِنَّكَ عَلَى خَيْرٍ. ثُمَّ تَجِيءُ الأعْمَالُ، كُل ذَلِكَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: إِنَّكَ عَلَى خَيْرٍ، ثُمَّ يَجِيءُ الإسْلامُ فَيَقُولُ: يَا رَب، أَنْتَ السَّلامُ وَأَنَا الإسْلامُ. فَيَقُولُ اللَّهُ [تَعَالَى] : إِنَّكَ عَلَى خَيْرٍ، بِكَ الْيَوْمَ آخُذُ وَبِكَ أُعْطِي، قَالَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ: {وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنْ الْخَاسِرِينَ}
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id maula Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Abbad ibnu Rasyid, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan, telah menceritakan kepada kami Abu Hurairah yang saat itu kami berada di Madinah, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Kelak di hari kiamat amal perbuatan datang. Maka datanglah salat, lalu berkata, "Wahai Tuhanku, akulah salat." Allah berfirman, "Sesungguhnya kamu dalam kebaikan." Sedekah datang, lalu berkata, "Wahai Tuhanku, akulah sedekah." Allah berfirman, "Sesungguhnya kamu dalam keadaan baik." Kemudian datanglah puasa, lalu berkata, "Wahai Tuhanku, akulah puasa." Allah berfirman, "Sesungguhnya kamu dalam keadaan baik." Kemudian datanglah amal-amal yang lain, semuanya dijawab oleh Allah Swt., "Sesungguhnya kamu dalam keadaan baik." Lalu datanglah Islam dan berkata, "Wahai Tuhanku, Engkau adalah sumber keselamatan, dan akulah Islam." Maka Allah berfirman, "Sesungguhnya kamu dalam keadaan baik; atas dasar kamulah Aku mengambil, dan atas dasar kamulah Aku memberi." Lalu Rasulullah Saw. membacakan firman-Nya: Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali Imran: 85) Hadis ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Abu Abdur Rahman (yaitu Abdullah ibnu Imam Ahmad) mengatakan bahwa Abbad ibnu Rasyid adalah orang yang siqah, tetapi Al-Hasan belurn pernah mendengar dari Abu Hurairah. Allah mengingkari orang yang menghendaki agama selain agama-Nya yang dengannya diturunkan kitab-kitab-Nya serta diutus para Rasul-Nya. Yaitu peribadatan (penghambaan diri) hanya kepada Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, yang kepada-Nya semua yang ada di langit dan bumi menyerahkan diri, baik suka rela maupun terpaksa. Sebagaimana yang difirmankan-NYa: wa lillaaHi yasjudu man fis samaawaati wal ardli thau’an aw karHan (“Hanya kepada Allah segala apa yang ada di langit dan bumi ini bersujud,baik secara suka rela maupun terpaksa.”)
\
(QS. Ar-Ra’d: 15). Maka seorang mukmin itu berserah diri dengan hati dan seluruh raganya kepada Allah, sedangkan seorang kafir berserah diri kepada Allah dengan terpaksa sebab berserah dirinya, karena ia berada di bawah penundukan, penaklukan, dan kekuasaan yang sangat besar yang ia tidak dapat mengelak dan menolak. Di dalam sebuah hadits shahih disebutkan: “Rabb-mu heran terhadap sebagian kaum yang digiring ke Surga dalam adaan terbelenggu rantai.” Akan dikemukakan bukti penguat hadits ini dari sisi yang lain, tetapi makna pertama bagi ayat di atas adalah lebih kuat. Firman Nya, wa ilaiHi turja’uun (“Dan hanya kepada Allah mereka dikembalikan.”) Yaitu pada hari Kiamat dan masing-masing akan diberikan balasan sesuai dengan amalnya. Setelah itu Dia berfirman, qul aamannaa billaaHi wa maa unzila ‘alainaa (“Katakanlah: ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami.’”) Yakni al-Qur’an. Wa maa unzila ‘alaa ibraahiima wa ismaa-‘iila wa is-haaqa wa ya’quuba (“Dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, dan Ya’qub.”) Yaitu yang berupa shuhuf dan wahyu, wal asbaath (“Dan anak-anaknya.”) Mereka itu adalah keturunan Bani Israil yang bercabang dari anak-anak Israil, yakni anak-anak Ya’qub, yang jumlahnya ada dua belas orang. Wa maa uutiya muusaaa wa ‘iisaa (“Serta apa yang diberikan kepada Musa dan `Isa.”) Yaitu Taurat dan Injil. Wan nabiyyuuna mir rabbiHim (“Dan para Nabi dari Rabb mereka.”) Ini mencakup seluruh Nabi. Laa nufarriqu baina ahadim minHum (“Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka.”) bahkan kami beriman kepada mereka semua. Wa nahnu laHuu muslimuun (“Dan hanya kepada-Nya kami menyerahkan diri.”) Artinya orang-orang yang beriman dari umat ini (umat Muhammad) beriman kepada seluruh Nabi yang diutus dan semua Kitab yang diturunkan, tidak sedikit pun mengingkarinya, bahkan mereka membenarkan apa yang diturunkan dari sisi Allah, dan membenarkan semua Nabi yang diutus Allah. Selanjutnya Allah berfirman, wa may yabtaghii ghaira islaama diinan falay yuqbala minHu (“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima [agama itu] darinya.”) Maksudnya, barangsiapa menempuh jalan selain yang telah disyari’atkan Allah, maka Dia tidak akan menerimanya. Wa Huwa fil aakhirati minal khaasiriin (“Dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi.”) Sebagaimana yang diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda dalam hadits shahih: “Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dasar perintahnya dari kami, maka amalannya itu ditolak.”
Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan) Surah Madaniyyah;
surah ke 3: 200 ayat;
{أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ
(83) قُلْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزلَ عَلَيْنَا وَمَا أُنزلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَالنَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (84) وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (85) } “
Ayat 83 Afagaira dinilla_hi yabgu_na wa lahu_ aslama man fis sama_wa_ti wal ardi tau'aw wa karhaw wa ilaihi yurja'u_n(a). 3:84 Ayat 84 Qul a_mannu_ billa_hi wa ma_ unzila 'alaina_ wa ma_ unzila'ala_ ibra_hima wa isma_'ila wa isha_qa wa ya'qu_ba wal asba_ti wa ma_ u_tiya mu_sa_ wa 'isa_ wan nabiyyu_na mir rabbihim, la_ nufarriqu baina ahadim minhum, wa nahnu lahu_ muslimu_n(a). 3:85 Ayat 85 Wa may yabtagi gairal isla_mi dinan falay yuqbala minh)u), wa huwa fil a_khirati minal kha_sirin(a).
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan. (QS. 3:83) Katakanlah: ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa dan para Nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.’ (QS. 3:84) Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. 3:85) Allah Swt. mengingkari melalui firman-Nya terhadap orang yang menghendaki sebuah agama selain agama Allah yang diturunkan melalui kitab-kitab-Nya dengan perantara para rasul yang diutus-Nya. Agama Allah itu adalah yang memerintahkan hanya menyembah kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya; semua makhluk yang ada di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, baik dengan suka maupun terpaksa. Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:
وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَنْ فِي السَّماواتِ وَالْأَرْضِ
طَوْعاً وَكَرْهاً
Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa. (Ar-Ra'd: 15) أَوَلَمْ يَرَوْا إِلى مَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ يَتَفَيَّؤُا ظِلالُهُ عَنِ الْيَمِينِ وَالشَّمائِلِ سُجَّداً لِلَّهِ وَهُمْ داخِرُونَ وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّماواتِ وَما فِي الْأَرْضِ مِنْ دابَّةٍ وَالْمَلائِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ يَخافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan sujud kepada Allah, sedangkan mereka berendah diri? Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melala di bumi dan (juga) para malaikat, sedangkan mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). (An-Nahl: 48-50) Orang yang benar-benar mukmin dengan segenap jiwa dan raganya berserah diri kepada Allah, sedangkan orang yang kafir berserah diri kepada Allah hanya karena terpaksa; karena sesungguhnya ia berada di bawah pengaruh, keperkasaan, dan kekuasaan Yang Mahaagung yang tidak dapat ditentang dan tidak pula dapat dicegah. Di dalam sebuah hadis disebutkan pengertian lain sehubungan dengan tafsir ayat ini yang di dalamnya terkandung keanehan. Untuk itu, Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan:
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ النَّضْرِ الْعَسْكَرِيُّ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ حَفْصٍ النُّفَيْلي، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ
مِحْصَن الْعُكَّاشِيُّ، حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا} أمَّا مَنْ فِي السَّمَاواتِ فَالْمَلائِكَةُ، وأمَّا مَنْ فِي الأرضِ فَمَنْ وُلِدَ عَلَى الإسْلامِ، وأمَّا كَرْهًا فَمَنْ أُتِي بِهِ مِنْ سَبَايا الأمَمِ فِي السَّلاسِلِ والأغْلالِ، يُقَادُونَ إلَى الْجَنَّةِ وَهُمْ كَارِهُونَ".
telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnun Nadr Al-Askari, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Hafs An-Nufaili, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mihsan Al-Ukasyi, telah menceritakan kepada kami Al-Auza'i, dari Ata ibnu Abu Rabah, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: "Padahal kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa" (Ali Imran: 83). Adapun makhluk yang ada di langit, mereka adalah para malaikat. Dan adapun makhluk yang ada di bumi, maka mereka adalah orang yang dilahirkan dalam keadaan Islam. Dan adapun orang yang berserah diri dengan terpaksa, maka mereka adalah para tawanan dari berbagai umat yang didatangkan dalam keadaan terbelenggu oleh rantai; mereka digiring masuk surga, sedangkan mereka dalam keadaan terpaksa. Di dalam sebuah hadis sahih disebutkan: «عَجِبَ رَبُّكَ مِنْ قَوْمٍ يُقَادُونَ إِلَى الْجَنَّةِ فِي السَّلَاسِلِ»
Tuhanmu merasa kagum terhadap suatu kaum yang digiring ke surga dalam keadaan dirantai. Dalam pembahasan berikut akan disebutkan dalil lain dan segi yang lain, tetapi makna yang pertama bagi ayat ini lebih kuat. Waki' mengatakan di dalam kitab tafsirnya, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Mansur, dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya: padahal kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa. (Ali Imran; 83); Menurut Mujahid, makna ayat ini sama dengan yang terdapat di dalam ayat Lain, yaitu firman-Nya: وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّماواتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?. Tentu mereka akan menjawab, "Allah." (Luqman: 25) Waki' mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A'masy, dari Mujahid dan Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: padahal kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa. (Ali Imran: 83) Yakni hal ini terjadi di saat Allah mengambil janji (dari mereka bahwa mereka tidak akan menyembah melainkan hanya kepada Allah, yaitu di zaman azali). ***************** وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan. (Ali Imran: 83) Yakni pada hari kemudian, lalu Allah membalas tiap-tiap orang sesuai dengan amal perbuatannya. Kemudian Allah Swt. berfirman: {قُلْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزلَ عَلَيْنَا} Katakanlah, "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami." (Ali Imran: 84) Yang dimaksud adalah Al-Qur'an. {وَمَا أُنزلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ} dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, dan Ya'qub. (Ali Imran: 84) Yakni semua suhuf (lembaran-lembaran kitab) dan wahyu yang diturunkan kepada mereka. {وَالأسْبَاطِ} dan anak-anaknya. (Ali Imran: 84) Mereka adalah kabilah-kabilah dari kalangan Bani Israil yang bercabang dari anak-anak Israil (yakni Nabi Ya'qub) yang jumlahnya ada dua belas orang. {وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى} dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa. (Ali Imran: 84) Yang dimaksud ialah kitab Taurat dan kitab Injil. {وَالنَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ} dan para nabi dari Tuhan mereka. (Ali Imran: 84) Hal ini mencakup pengertiannya kepada semua nabi secara umum. {لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ} Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka. (Ali Imran: 84) Bahkan kami beriman kepada semuanya. {وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ} dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri. (Ali Imran: 84) Orang-orang mukmin dari kalangan umat ini beriman kepada semua nabi yang diutus dan beriman kepada semua kitab yang diturunkan. Mereka sama sekali tidak ingkar kepada sesuatu pun dari hal tersebut, bahkan mereka membenarkan bahwa semuanya itu diturunkan dari sisi Allah dan membenarkan semua nabi yang diutus oleh Allah. ***************** Firman Allah Swt.: وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ دِيناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya. (Ali Imran: 85) Yakni barang siapa yang menempuh suatu jalan selain jalan yang telah disyariatkan oleh Allah, maka jalan itu tidak akan diterima darinya. {وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ} dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali Imran: 85), Perihalnya sama dengan apa yang telah dikatakan oleh Nabi Saw. dalam sebuah hadis sahih, yaitu: «مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ» Barang siapa yang melakukan suatu amal, sedangkan amal itu bukan termasuk urusan kami, maka amal itu ditolak.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ، حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ رَاشِدٍ، حَدَّثَنَا الْحَسَنُ، حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ، إِذْ ذَاكَ وَنَحْنُ بِالْمَدِينَةِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "تَجِيءُ الأعْمَالُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَتَجِيءُ الصَّلاةُ فَتَقُولُ: يَا رَبِّ، أَنَا الصَّلاةُ. فَيَقُولُ: إِنَّكِ عَلَى خَيْرٍ. فَتَجِيءُ الصَّدَقَةُ فَتَقُولُ: يَا رَبِّ، أَنَا الصَّدَقَةُ. فَيَقُولُ: إِنَّكِ عَلَى خَيْرٍ. ثُمَّ يَجِيءُ الصِّيَامُ فَيَقُولُ: أَيْ يَا رَبِّ، أَنَا الصِّيَامُ. فَيَقُولُ: إِنَّكَ عَلَى خَيْرٍ. ثُمَّ تَجِيءُ الأعْمَالُ، كُل ذَلِكَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: إِنَّكَ عَلَى خَيْرٍ، ثُمَّ يَجِيءُ الإسْلامُ فَيَقُولُ: يَا رَب، أَنْتَ السَّلامُ وَأَنَا الإسْلامُ. فَيَقُولُ اللَّهُ [تَعَالَى] : إِنَّكَ عَلَى خَيْرٍ، بِكَ الْيَوْمَ آخُذُ وَبِكَ أُعْطِي، قَالَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ: {وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنْ الْخَاسِرِينَ}
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id maula Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Abbad ibnu Rasyid, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan, telah menceritakan kepada kami Abu Hurairah yang saat itu kami berada di Madinah, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Kelak di hari kiamat amal perbuatan datang. Maka datanglah salat, lalu berkata, "Wahai Tuhanku, akulah salat." Allah berfirman, "Sesungguhnya kamu dalam kebaikan." Sedekah datang, lalu berkata, "Wahai Tuhanku, akulah sedekah." Allah berfirman, "Sesungguhnya kamu dalam keadaan baik." Kemudian datanglah puasa, lalu berkata, "Wahai Tuhanku, akulah puasa." Allah berfirman, "Sesungguhnya kamu dalam keadaan baik." Kemudian datanglah amal-amal yang lain, semuanya dijawab oleh Allah Swt., "Sesungguhnya kamu dalam keadaan baik." Lalu datanglah Islam dan berkata, "Wahai Tuhanku, Engkau adalah sumber keselamatan, dan akulah Islam." Maka Allah berfirman, "Sesungguhnya kamu dalam keadaan baik; atas dasar kamulah Aku mengambil, dan atas dasar kamulah Aku memberi." Lalu Rasulullah Saw. membacakan firman-Nya: Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali Imran: 85) Hadis ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Abu Abdur Rahman (yaitu Abdullah ibnu Imam Ahmad) mengatakan bahwa Abbad ibnu Rasyid adalah orang yang siqah, tetapi Al-Hasan belurn pernah mendengar dari Abu Hurairah. Allah mengingkari orang yang menghendaki agama selain agama-Nya yang dengannya diturunkan kitab-kitab-Nya serta diutus para Rasul-Nya. Yaitu peribadatan (penghambaan diri) hanya kepada Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, yang kepada-Nya semua yang ada di langit dan bumi menyerahkan diri, baik suka rela maupun terpaksa. Sebagaimana yang difirmankan-NYa: wa lillaaHi yasjudu man fis samaawaati wal ardli thau’an aw karHan (“Hanya kepada Allah segala apa yang ada di langit dan bumi ini bersujud,baik secara suka rela maupun terpaksa.”)
\
(QS. Ar-Ra’d: 15). Maka seorang mukmin itu berserah diri dengan hati dan seluruh raganya kepada Allah, sedangkan seorang kafir berserah diri kepada Allah dengan terpaksa sebab berserah dirinya, karena ia berada di bawah penundukan, penaklukan, dan kekuasaan yang sangat besar yang ia tidak dapat mengelak dan menolak. Di dalam sebuah hadits shahih disebutkan: “Rabb-mu heran terhadap sebagian kaum yang digiring ke Surga dalam adaan terbelenggu rantai.” Akan dikemukakan bukti penguat hadits ini dari sisi yang lain, tetapi makna pertama bagi ayat di atas adalah lebih kuat. Firman Nya, wa ilaiHi turja’uun (“Dan hanya kepada Allah mereka dikembalikan.”) Yaitu pada hari Kiamat dan masing-masing akan diberikan balasan sesuai dengan amalnya. Setelah itu Dia berfirman, qul aamannaa billaaHi wa maa unzila ‘alainaa (“Katakanlah: ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami.’”) Yakni al-Qur’an. Wa maa unzila ‘alaa ibraahiima wa ismaa-‘iila wa is-haaqa wa ya’quuba (“Dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, dan Ya’qub.”) Yaitu yang berupa shuhuf dan wahyu, wal asbaath (“Dan anak-anaknya.”) Mereka itu adalah keturunan Bani Israil yang bercabang dari anak-anak Israil, yakni anak-anak Ya’qub, yang jumlahnya ada dua belas orang. Wa maa uutiya muusaaa wa ‘iisaa (“Serta apa yang diberikan kepada Musa dan `Isa.”) Yaitu Taurat dan Injil. Wan nabiyyuuna mir rabbiHim (“Dan para Nabi dari Rabb mereka.”) Ini mencakup seluruh Nabi. Laa nufarriqu baina ahadim minHum (“Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka.”) bahkan kami beriman kepada mereka semua. Wa nahnu laHuu muslimuun (“Dan hanya kepada-Nya kami menyerahkan diri.”) Artinya orang-orang yang beriman dari umat ini (umat Muhammad) beriman kepada seluruh Nabi yang diutus dan semua Kitab yang diturunkan, tidak sedikit pun mengingkarinya, bahkan mereka membenarkan apa yang diturunkan dari sisi Allah, dan membenarkan semua Nabi yang diutus Allah. Selanjutnya Allah berfirman, wa may yabtaghii ghaira islaama diinan falay yuqbala minHu (“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima [agama itu] darinya.”) Maksudnya, barangsiapa menempuh jalan selain yang telah disyari’atkan Allah, maka Dia tidak akan menerimanya. Wa Huwa fil aakhirati minal khaasiriin (“Dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi.”) Sebagaimana yang diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda dalam hadits shahih: “Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dasar perintahnya dari kami, maka amalannya itu ditolak.”
Jumaat, 2 Mac 2018
Ayat 77-82
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK;
Surat Ali Imran Ayat 77-82;
BISS-MIL-LAAA-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM';
Ayat 77 Innal lazina yasytaru_na bi'ahdilla_hi wa aima_nihim samanan qalilan ula_'ika la_ khala_qa lahum fil a_khirati wa la_ yukallimuhumulla_hu wa la_ yanzuru ilaihim yaumal qiya_mati wa la_ yuzakkihim, wa lahum 'aza_bun alim(un). 3:78 Ayat 78 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 78 Wa inna minhum la fariqay yalwu_na alsinatahum bil kita_bi litahsabu_hu minal kita_bi wa ma_ huwa minal kita_b(i), wa yaqu_lu_na huwa min 'indilla_hi wa ma_ huwa min 'indilla_h(i), wa yaqu_lu_na 'alalla_hil kaziba wa hum ya'lamu_n(a). 3:79 Ayat 79 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 79 Ma_ ka_na libasyarin ay yu'tiyahulla_hul kita_ba wal hukma wan nubuwwata summa yaqu_la linna_si ku_nu_ 'iba_dal li min du_nilla_hi wa la_kin ku_nu_ rabba_niyyina bima_ kuntum tu'allimu_nal kita_ba wa bima_ kuntum tadrusu_n(a). 3:80 Ayat 80 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 80 Wa la_ ya'murakum an tattakhizul mala_'ikata wan nabiyyina arba_ba_(n), aya'murukum bil kufri ba'da iz antum muslimu_n(a). 3:81 Ayat 81 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 81 Wa iz akhazalla_hu misa_qan nabiyyina lama_ a_taitukum min kita_biw wa hikmatin summa ja_'akum rasu_lum musaddiqul lima_ ma'akum latu'minunna bihi wa latansurunnah(u_), qa_la a'aqrartum wa akhaztum'ala_ za_likum isri, qa_lu_ aqrarna_, qa_la fasyhadu_ wa ana ma'akum minasy sya_hidin(a). 3:82 Ayat 82 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 82 Faman tawalla_ ba'da za_lika fa ula_'ika humul fa_siqu_n(a).
إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَٰئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا ۗ أَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ فَمَنْ تَوَلَّىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah". Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?". Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab: "Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu". Barang siapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. Allah berfirman bahwa orang-orang yang menukar janji mereka kepada Allah untuk mengikuti Muhammad saw., menyebutkan sifatnya kepada manusia, dan menjelaskan ihwalnya, serta menukar sumpah-sumpah dusta mereka yang keji dengan harga yang murah dan sedikit, berupa kesenangan yang fana di dunia ini, maka: ulaa-ika laa khalaqa laHum fil aakhirati (“Mereka tidak mendapatkan bagian pahala di akhirat”) maksudnya mereka tidak akan mendapatkan bagian pahala di akhirat kelak. Wa laa yukallimuHumullaaHu wa laa yandhuru ilaiHim yaumal qiyaamati (“Dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka di hari kiamat.”) dengan rahmat dari-Nya untuk mereka. Artinya Allah tidak akan mengajak mereka berbicara dengan ucapan yang lembut dan tidak akan melihat mereka dengan pandangan kasih sayang. Wa laa yuzakkiiHim (“dan tidak pula [akan] menyucikan mereka”) yakni dari berbagai macam dosa dan kotoran, sebaliknya Dia memerintahkan mereka masuk neraka. wa laHum ‘adzaabun aliim (“Dan bagi mereka adzab yang pedih.”)
Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa bersumpah untuk merebut harta seorang muslim, maka ia akan bertemu dengan Allah, sedang Dia dalam keadaan murka.” Al-Asy’ats berkata, “Demi Allah hal itu terjadi pada diriku. Antara diriku dan seorang Yahudi pernah terjadi sengketa tanah. Lalu orang Yahudi itu mengingkari tanah milikku itu. Kemudian aku pun mengadu kepada Rasulullah saw. maka beliau bertanya kepadaku, ‘Apakah kamu punya bukti?’ ‘Tidak,’ jawabku. Orang Yahudi itu berkata, ‘Aku berani bersumpah.’ Lalu kukatakan, ‘Ya Rasulallah, jika ia bersumpah, maka hilanglah hartaku.’ Kemudian Allah menurunkan ayat: innal ladziina yasytaruuna bi-‘aHdillaaHi wa aimaaniHim tsamanan qaliilan (“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji [nya dengan Allah] dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit…”) Imam Ahmad meriwayatkan dari Sahl bin Anas, dari ayahnya, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai beberapa hamba yang Allah tidak mau berbicara kepada mereka pada hari Kiamat kelak, tidak mensucikan mereka, dan tidak pula melihat kepada mereka.” Ditanyakan, “Siapakah mereka itu, ya Rasulallah?” Beliau menjawab, “Orang yang melepaskan diri dari kedua orang tuanya dan membenci keduanya, orang yang melepaskan diri dari tanggung jawab kepada anaknya dan orang yang diberikan kenikmatan oleh suatu kaum, lalu mengingkari nikmat tersebut serta melepaskan diri dari mereka.” Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Ada tiga golongan yang pada hari Kiamat Allah tidak mengajak mereka berbicara, tidak melihat mereka, serta tidak pula mensucikan mereka, dan mereka akan memperoleh adzab yang pedih. Yaitu, orang yang melarang Ibnu Sabil mendapatkan sisa air yang dimilikinya, orang yang bersumpah atas suatu barang setelah `Ashar, yakni sumpah palsu, dan orang yang membai’at seorang imam, jika diberikan sesuatu kepadanya, ia akan mendukungnya, akan tetapi jika tidak memberinya, maka ia tidak memberikan dukungan kepadanya.” (Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari hadits Waki’. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.) Allah memberitahukan tentang orang-orang Yahudi, bahwa di antara mereka terdapat segolongan orang yang menyelewengkan firman-firman Allah dari makna yang sebenarnya dan menggantinya, serta menghilangkan maksudnya untuk menipu orang-orang yang tidak mengerti supaya mengira bahwa hal itu terdapat pula dalam Kitabullah, dan mereka pun menisbatkannya kepada Allah, padahal hal itu adalah perbuatan dusta terhadap Allah, sedang mereka sendiri mengetahui bahwa mereka telah berbuat dusta dan bohong dalam hal itu semua. Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Ketika para pendeta kalangan Yahudi dan Nasrani dari penduduk Najran berkumpul di tempat Rasulullah dan mengajak mereka kepada Islam, Abu Rafi’ al-Qurazhi berkata, “Wahai Muhammad, apakah engkau menginginkan kami menyembahmu sebagaimana orang-orang Nasrani itu menyembah `Isa bin Maryam?” Lalu seseorang dari penduduk Najran yang menganut agama Nasrani, disebut ar-Ra-is berkata, “Apakah itu yang engkau kehendaki dari kami, wahai Muhammad, dan apa untuk itu Pula engkau menyeru kami?” Maka Rasulullah bersabda, “Aku berlindung kepada Allah dari menyembah selain Allah atau menyuruh menyembah selain Allah. Bukan untuk itu Dia mengutusku dan bukan itu pula yang Dia perintahkan kepadaku.” Atau senada dengan hal ini. Karena ucapan kedua orang inilah, Allah menurunkan ayat yang artinya: “Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu ia berkata kepada manusia: ‘Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.’ Akan tetapi (ia berkata):
‘Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.’ Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan Malaikat dan para Nabi sebagai Rabb. Apakah patut ia menyuruhmu berbuat kekufuran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?” Dalam kitab al-Musnad dan Sunan at-Tirmidzi, sebagaimana akan dijelaskan bahwa `Adi bin Hatim berkata: “Ya Rasulullah, mereka tidak menyembah para pendeta dan rahib. Beliau menjawab, “Tidak, bahkan mereka (para pendeta dan rahib itu) menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal bagi mereka, lalu mereka pun mengikutinya. Maka yang demikian itulah penyembahan mereka terhadap para pendeta dan rahib mereka.” Orang-orang bodoh dari kalangan para pendeta dan rahib serta pemuka kesesatan termasuk dalam kecaman dan celaan ini. Berbeda dengan para Rasul dan para pengikutnya dari kalangan ulama yang konsisten, mereka hanya menyuruh kepada apa yang diperintahkan Allah serta apa yang disampaikan oleh para Rasul yang mulia. Mereka juga melarang apa yang dilarang oleh Allah dan apa yang disampaikan oleh para Rasul. Karena, para Rasul merupakan duta antara Allah dan makhluk-Nya dalam menunaikan risalah yang mereka bawa, serta menyampaikan amanat. Mereka melaksanakan tugasnya itu dengan amat baik dan sangat sempurna, menasehati umat manusia dan menyampaikan kebenaran kepada mereka. Ibnu ‘Abbas, Abu Razin, dan ulama lainnya berkata, “Jadilah orang-orang bijak, para ulama dan orang-orang yang bersabar.” Sedangkan al-Hasan dan ulama lainnya berkata, “Jadilah fuqaha (orang yang faham tentang agama).” Hal yang sama juga diriwayatkan dari Ibnu’Abbas, Sa’id bin Jubair, Qatadah, `Atha’ al-Khurasani, `Athiyyah al-‘Aufi, dan ar-Rabi’ bin Anas. Diriwayatkan pula dari al-Hasan bahwa maknanya adalah ahli ibadah dan ahli takwa. Muhammad bin Ishaq berkata, “ishrii” maksudnya beban yang kalian pikul, berupa perjanjian (dengan)-Ku, yaitu ikrar perjanjian (dengan)-Ku, adalah berat lagi dikukuhkan.” Ali bin Abi Thalib dan putera pamannya, Ibnu ‘Abbas ra. pemah berkata, “Allah tidak mengutus seorang Nabi pun melainkan Dia mengambil janji darinya, (Yaitu) jika Allah mengutus Muhammad, sedang ia dalam keadaan hidup niscaya ia akan beriman kepadanya, menolongnya dan memerintahkan kepada Nabi itu untuk mengambil janji dari umatnya: Jika Muhammad diutus sedang mereka hidup, niscaya mereka akan beriman kepadanya dan menolongnya.” Thawus, al-Hasan al-Bashri, dan Qatadah berkata, “Allah telah mengambil janji dari para Nabi, agar masing-masing mereka saling membenarkan satu dengan yang lainnya.” Pendapat ini tidak bertentangan dengan pendapat yang dikemukakan oleh `Ali dan Ibnu ‘Abbas, bahkan menuntut makna tersebut dan mendukungnya. Oleh karena itu, ‘Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma’mar dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, pendapat yang sama seperti pendapat `Ali dan Ibnu ‘Abbas. Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Tsabit, ia berkata, “Umar bin al-Khaththab pernah datang kepada Nabi seraya berkata: `Ya Rasulullah, sesungguhnya aku memerintahkan kepada seorang saudaraku yang beragama Yahudi dari suku Quraizhah (untuk menuliskan ringkasan Taurat), maka ia menuliskan untukku ringkasan dari isi Taurat. Berkenankah engkau jika aku perlihatkan hal itu kepadamu?’ ‘Abdullah bin Tsabit berkata, maka berubahlah wajah Rasulullah. Kemudian aku katakan kepada ‘Umar: ‘Tidakkah engkau melihat perubahan pada wajah Rasulullah?’ ‘Umar pun berkata: ‘Aku rela Allah sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Rasulku.’ ‘Abdullah bin Tsabit melanjutkan, maka hilanglah kemarahan Nabi dan beliau bersabda: ‘Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa berada di tengah-tengah kalian, lalu kalian mengikutinya dan meninggalkanku, maka kalian telah tersesat. Sesungguhnya kalian adalah (umat yang menjadi) bagianku dan aku adalah (Nabi yang menjadi) bagian kalian.” Dengan demikian, Muhammad adalah Rasul yang menjadi penutup para Nabi selama-lamanya sampai hari Kiamat kelak. Beliau adalah pemimpin agung, seandainya beliau muncul kapan saja, maka beliau yang wajib ditaati dan didahulukan atas seluruh Nabi. Oleh karena itu, beliau menjadi imam mereka (para Nabi) pada malam Israa’, yaitu ketika mereka berkumpul di Baitul Maqdis. Beliau juga adalah pemberi syafa’at di Mahsyar, agar Allah datang memberi keputusan di antara hamba-hamba-Nya. Syafa’at inilah yang disebut maqaaman mahmuudan (kedudukan yang terpuji) yang tidak pantas bagi siapa pun kecuali beliau, yang mana Uulul `Azmi dari kalangan para Nabi dan Rasul pun semua menghindar darinya (dari memberikan syafa’at), sampai tibalah giliran untuk beliau, maka syafa’at ini khusus bagi beliau. Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepadanya. Ayat ke77 Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik: 1. Melanggar perjanjian dan sumpah menyebabkan keluar dari agama dan masuk ke dalam api neraka. 2. Menjaga amanah adalah perjanjian Tuhan. Dalam ayat-ayat sebelumnya, pembicaraan soal amanah rakyat, ayat ini melihat penjagaan amanah sebagai satu dari perjanjian Tuhan yang harus dipelihara. Ayat ke 78 Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik: 1. Janganlah kita dengarkan segala omongan. Betapa sering perkataan indah yang dikira oleh manusia sebagai al-Quran, ternyata kontra dengan al-Quran. Hendaknya kita waspada karena terdapat beberapa orang yang menghancurkan agama atas nama agama. 2. Janganlah kita lalai terhadap bahaya para cendekiawan yang tidak bertakwa. Mereka mencampakkan rakyat ke jurang kesalahan dan kesesatan, juga berbohong atas nama tuhan dan menisbatkan perkataannya kepada Tuhan. Ayat ke 79-80 Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik: 1. Segala bentuk penyalahgunaan status, popularitas dan tanggung jawab adalah perbuatan terlarang. Bahkan para nabi pun tidak berhak menyalahgunakan status dan kedudukannya yang tinggi. 2. Hanya ulama rabbani yang berhak menafsirkan al-Quran, sebagaimana halnya jalan untuk menjadi rabbani adalah akrab dengan al-Quran, belajar dan mengajarkannya. 3. Segala bentuk berlebih-lebihan, memiliki ideologi yang ekstrim mengenai para nabi dan auliya adalah terlarang. Mereka adalah hamba-hamba Tuhan yang sampai pada derajat tinggi berkat ibadah, namun mereka tidak menganggap dirinya sebagai Tuhan. 4. Kufur bukan hanya mengingkari Tuhan. Menerima peran manusia dalam peletakan undang-undang yang bertentangan dengan aturan Tuhan juga berarti ingkar terhadap rubbubiyah Tuhan dan kufur kepada-Nya. Ayat ke 81-82 Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik: 1. Perbedaan para nabi dalam menjalankan risalah, sebagaimana halnya perbedaan para guru satu sekolah dalam bidang pengajaran. Tujuan mereka semuanya satu dan setiap guru memperkenalkan guru selepasnya kepada para murid untuk melanjutkan pelajaran. 2. Iman dengan sendirinya tidaklah cukup. Dukungan dan pertolongan agama dan para pemimpin agama juga diperlukan. 3. Meskipun semua nabi menerima antara satu dengan lainnya, namun tidak ada alasan para pengikut agama ilahi menunjukkan fanatisme yang tidak berdasar
Surat Ali Imran Ayat 77-82;
BISS-MIL-LAAA-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM';
Ayat 77 Innal lazina yasytaru_na bi'ahdilla_hi wa aima_nihim samanan qalilan ula_'ika la_ khala_qa lahum fil a_khirati wa la_ yukallimuhumulla_hu wa la_ yanzuru ilaihim yaumal qiya_mati wa la_ yuzakkihim, wa lahum 'aza_bun alim(un). 3:78 Ayat 78 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 78 Wa inna minhum la fariqay yalwu_na alsinatahum bil kita_bi litahsabu_hu minal kita_bi wa ma_ huwa minal kita_b(i), wa yaqu_lu_na huwa min 'indilla_hi wa ma_ huwa min 'indilla_h(i), wa yaqu_lu_na 'alalla_hil kaziba wa hum ya'lamu_n(a). 3:79 Ayat 79 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 79 Ma_ ka_na libasyarin ay yu'tiyahulla_hul kita_ba wal hukma wan nubuwwata summa yaqu_la linna_si ku_nu_ 'iba_dal li min du_nilla_hi wa la_kin ku_nu_ rabba_niyyina bima_ kuntum tu'allimu_nal kita_ba wa bima_ kuntum tadrusu_n(a). 3:80 Ayat 80 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 80 Wa la_ ya'murakum an tattakhizul mala_'ikata wan nabiyyina arba_ba_(n), aya'murukum bil kufri ba'da iz antum muslimu_n(a). 3:81 Ayat 81 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 81 Wa iz akhazalla_hu misa_qan nabiyyina lama_ a_taitukum min kita_biw wa hikmatin summa ja_'akum rasu_lum musaddiqul lima_ ma'akum latu'minunna bihi wa latansurunnah(u_), qa_la a'aqrartum wa akhaztum'ala_ za_likum isri, qa_lu_ aqrarna_, qa_la fasyhadu_ wa ana ma'akum minasy sya_hidin(a). 3:82 Ayat 82 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 82 Faman tawalla_ ba'da za_lika fa ula_'ika humul fa_siqu_n(a).
إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَٰئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا ۗ أَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ فَمَنْ تَوَلَّىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah". Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?". Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab: "Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu". Barang siapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. Allah berfirman bahwa orang-orang yang menukar janji mereka kepada Allah untuk mengikuti Muhammad saw., menyebutkan sifatnya kepada manusia, dan menjelaskan ihwalnya, serta menukar sumpah-sumpah dusta mereka yang keji dengan harga yang murah dan sedikit, berupa kesenangan yang fana di dunia ini, maka: ulaa-ika laa khalaqa laHum fil aakhirati (“Mereka tidak mendapatkan bagian pahala di akhirat”) maksudnya mereka tidak akan mendapatkan bagian pahala di akhirat kelak. Wa laa yukallimuHumullaaHu wa laa yandhuru ilaiHim yaumal qiyaamati (“Dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka di hari kiamat.”) dengan rahmat dari-Nya untuk mereka. Artinya Allah tidak akan mengajak mereka berbicara dengan ucapan yang lembut dan tidak akan melihat mereka dengan pandangan kasih sayang. Wa laa yuzakkiiHim (“dan tidak pula [akan] menyucikan mereka”) yakni dari berbagai macam dosa dan kotoran, sebaliknya Dia memerintahkan mereka masuk neraka. wa laHum ‘adzaabun aliim (“Dan bagi mereka adzab yang pedih.”)
Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa bersumpah untuk merebut harta seorang muslim, maka ia akan bertemu dengan Allah, sedang Dia dalam keadaan murka.” Al-Asy’ats berkata, “Demi Allah hal itu terjadi pada diriku. Antara diriku dan seorang Yahudi pernah terjadi sengketa tanah. Lalu orang Yahudi itu mengingkari tanah milikku itu. Kemudian aku pun mengadu kepada Rasulullah saw. maka beliau bertanya kepadaku, ‘Apakah kamu punya bukti?’ ‘Tidak,’ jawabku. Orang Yahudi itu berkata, ‘Aku berani bersumpah.’ Lalu kukatakan, ‘Ya Rasulallah, jika ia bersumpah, maka hilanglah hartaku.’ Kemudian Allah menurunkan ayat: innal ladziina yasytaruuna bi-‘aHdillaaHi wa aimaaniHim tsamanan qaliilan (“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji [nya dengan Allah] dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit…”) Imam Ahmad meriwayatkan dari Sahl bin Anas, dari ayahnya, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai beberapa hamba yang Allah tidak mau berbicara kepada mereka pada hari Kiamat kelak, tidak mensucikan mereka, dan tidak pula melihat kepada mereka.” Ditanyakan, “Siapakah mereka itu, ya Rasulallah?” Beliau menjawab, “Orang yang melepaskan diri dari kedua orang tuanya dan membenci keduanya, orang yang melepaskan diri dari tanggung jawab kepada anaknya dan orang yang diberikan kenikmatan oleh suatu kaum, lalu mengingkari nikmat tersebut serta melepaskan diri dari mereka.” Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Ada tiga golongan yang pada hari Kiamat Allah tidak mengajak mereka berbicara, tidak melihat mereka, serta tidak pula mensucikan mereka, dan mereka akan memperoleh adzab yang pedih. Yaitu, orang yang melarang Ibnu Sabil mendapatkan sisa air yang dimilikinya, orang yang bersumpah atas suatu barang setelah `Ashar, yakni sumpah palsu, dan orang yang membai’at seorang imam, jika diberikan sesuatu kepadanya, ia akan mendukungnya, akan tetapi jika tidak memberinya, maka ia tidak memberikan dukungan kepadanya.” (Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari hadits Waki’. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.) Allah memberitahukan tentang orang-orang Yahudi, bahwa di antara mereka terdapat segolongan orang yang menyelewengkan firman-firman Allah dari makna yang sebenarnya dan menggantinya, serta menghilangkan maksudnya untuk menipu orang-orang yang tidak mengerti supaya mengira bahwa hal itu terdapat pula dalam Kitabullah, dan mereka pun menisbatkannya kepada Allah, padahal hal itu adalah perbuatan dusta terhadap Allah, sedang mereka sendiri mengetahui bahwa mereka telah berbuat dusta dan bohong dalam hal itu semua. Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Ketika para pendeta kalangan Yahudi dan Nasrani dari penduduk Najran berkumpul di tempat Rasulullah dan mengajak mereka kepada Islam, Abu Rafi’ al-Qurazhi berkata, “Wahai Muhammad, apakah engkau menginginkan kami menyembahmu sebagaimana orang-orang Nasrani itu menyembah `Isa bin Maryam?” Lalu seseorang dari penduduk Najran yang menganut agama Nasrani, disebut ar-Ra-is berkata, “Apakah itu yang engkau kehendaki dari kami, wahai Muhammad, dan apa untuk itu Pula engkau menyeru kami?” Maka Rasulullah bersabda, “Aku berlindung kepada Allah dari menyembah selain Allah atau menyuruh menyembah selain Allah. Bukan untuk itu Dia mengutusku dan bukan itu pula yang Dia perintahkan kepadaku.” Atau senada dengan hal ini. Karena ucapan kedua orang inilah, Allah menurunkan ayat yang artinya: “Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu ia berkata kepada manusia: ‘Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.’ Akan tetapi (ia berkata):
‘Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.’ Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan Malaikat dan para Nabi sebagai Rabb. Apakah patut ia menyuruhmu berbuat kekufuran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?” Dalam kitab al-Musnad dan Sunan at-Tirmidzi, sebagaimana akan dijelaskan bahwa `Adi bin Hatim berkata: “Ya Rasulullah, mereka tidak menyembah para pendeta dan rahib. Beliau menjawab, “Tidak, bahkan mereka (para pendeta dan rahib itu) menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal bagi mereka, lalu mereka pun mengikutinya. Maka yang demikian itulah penyembahan mereka terhadap para pendeta dan rahib mereka.” Orang-orang bodoh dari kalangan para pendeta dan rahib serta pemuka kesesatan termasuk dalam kecaman dan celaan ini. Berbeda dengan para Rasul dan para pengikutnya dari kalangan ulama yang konsisten, mereka hanya menyuruh kepada apa yang diperintahkan Allah serta apa yang disampaikan oleh para Rasul yang mulia. Mereka juga melarang apa yang dilarang oleh Allah dan apa yang disampaikan oleh para Rasul. Karena, para Rasul merupakan duta antara Allah dan makhluk-Nya dalam menunaikan risalah yang mereka bawa, serta menyampaikan amanat. Mereka melaksanakan tugasnya itu dengan amat baik dan sangat sempurna, menasehati umat manusia dan menyampaikan kebenaran kepada mereka. Ibnu ‘Abbas, Abu Razin, dan ulama lainnya berkata, “Jadilah orang-orang bijak, para ulama dan orang-orang yang bersabar.” Sedangkan al-Hasan dan ulama lainnya berkata, “Jadilah fuqaha (orang yang faham tentang agama).” Hal yang sama juga diriwayatkan dari Ibnu’Abbas, Sa’id bin Jubair, Qatadah, `Atha’ al-Khurasani, `Athiyyah al-‘Aufi, dan ar-Rabi’ bin Anas. Diriwayatkan pula dari al-Hasan bahwa maknanya adalah ahli ibadah dan ahli takwa. Muhammad bin Ishaq berkata, “ishrii” maksudnya beban yang kalian pikul, berupa perjanjian (dengan)-Ku, yaitu ikrar perjanjian (dengan)-Ku, adalah berat lagi dikukuhkan.” Ali bin Abi Thalib dan putera pamannya, Ibnu ‘Abbas ra. pemah berkata, “Allah tidak mengutus seorang Nabi pun melainkan Dia mengambil janji darinya, (Yaitu) jika Allah mengutus Muhammad, sedang ia dalam keadaan hidup niscaya ia akan beriman kepadanya, menolongnya dan memerintahkan kepada Nabi itu untuk mengambil janji dari umatnya: Jika Muhammad diutus sedang mereka hidup, niscaya mereka akan beriman kepadanya dan menolongnya.” Thawus, al-Hasan al-Bashri, dan Qatadah berkata, “Allah telah mengambil janji dari para Nabi, agar masing-masing mereka saling membenarkan satu dengan yang lainnya.” Pendapat ini tidak bertentangan dengan pendapat yang dikemukakan oleh `Ali dan Ibnu ‘Abbas, bahkan menuntut makna tersebut dan mendukungnya. Oleh karena itu, ‘Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma’mar dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, pendapat yang sama seperti pendapat `Ali dan Ibnu ‘Abbas. Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Tsabit, ia berkata, “Umar bin al-Khaththab pernah datang kepada Nabi seraya berkata: `Ya Rasulullah, sesungguhnya aku memerintahkan kepada seorang saudaraku yang beragama Yahudi dari suku Quraizhah (untuk menuliskan ringkasan Taurat), maka ia menuliskan untukku ringkasan dari isi Taurat. Berkenankah engkau jika aku perlihatkan hal itu kepadamu?’ ‘Abdullah bin Tsabit berkata, maka berubahlah wajah Rasulullah. Kemudian aku katakan kepada ‘Umar: ‘Tidakkah engkau melihat perubahan pada wajah Rasulullah?’ ‘Umar pun berkata: ‘Aku rela Allah sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Rasulku.’ ‘Abdullah bin Tsabit melanjutkan, maka hilanglah kemarahan Nabi dan beliau bersabda: ‘Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa berada di tengah-tengah kalian, lalu kalian mengikutinya dan meninggalkanku, maka kalian telah tersesat. Sesungguhnya kalian adalah (umat yang menjadi) bagianku dan aku adalah (Nabi yang menjadi) bagian kalian.” Dengan demikian, Muhammad adalah Rasul yang menjadi penutup para Nabi selama-lamanya sampai hari Kiamat kelak. Beliau adalah pemimpin agung, seandainya beliau muncul kapan saja, maka beliau yang wajib ditaati dan didahulukan atas seluruh Nabi. Oleh karena itu, beliau menjadi imam mereka (para Nabi) pada malam Israa’, yaitu ketika mereka berkumpul di Baitul Maqdis. Beliau juga adalah pemberi syafa’at di Mahsyar, agar Allah datang memberi keputusan di antara hamba-hamba-Nya. Syafa’at inilah yang disebut maqaaman mahmuudan (kedudukan yang terpuji) yang tidak pantas bagi siapa pun kecuali beliau, yang mana Uulul `Azmi dari kalangan para Nabi dan Rasul pun semua menghindar darinya (dari memberikan syafa’at), sampai tibalah giliran untuk beliau, maka syafa’at ini khusus bagi beliau. Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepadanya. Ayat ke77 Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik: 1. Melanggar perjanjian dan sumpah menyebabkan keluar dari agama dan masuk ke dalam api neraka. 2. Menjaga amanah adalah perjanjian Tuhan. Dalam ayat-ayat sebelumnya, pembicaraan soal amanah rakyat, ayat ini melihat penjagaan amanah sebagai satu dari perjanjian Tuhan yang harus dipelihara. Ayat ke 78 Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik: 1. Janganlah kita dengarkan segala omongan. Betapa sering perkataan indah yang dikira oleh manusia sebagai al-Quran, ternyata kontra dengan al-Quran. Hendaknya kita waspada karena terdapat beberapa orang yang menghancurkan agama atas nama agama. 2. Janganlah kita lalai terhadap bahaya para cendekiawan yang tidak bertakwa. Mereka mencampakkan rakyat ke jurang kesalahan dan kesesatan, juga berbohong atas nama tuhan dan menisbatkan perkataannya kepada Tuhan. Ayat ke 79-80 Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik: 1. Segala bentuk penyalahgunaan status, popularitas dan tanggung jawab adalah perbuatan terlarang. Bahkan para nabi pun tidak berhak menyalahgunakan status dan kedudukannya yang tinggi. 2. Hanya ulama rabbani yang berhak menafsirkan al-Quran, sebagaimana halnya jalan untuk menjadi rabbani adalah akrab dengan al-Quran, belajar dan mengajarkannya. 3. Segala bentuk berlebih-lebihan, memiliki ideologi yang ekstrim mengenai para nabi dan auliya adalah terlarang. Mereka adalah hamba-hamba Tuhan yang sampai pada derajat tinggi berkat ibadah, namun mereka tidak menganggap dirinya sebagai Tuhan. 4. Kufur bukan hanya mengingkari Tuhan. Menerima peran manusia dalam peletakan undang-undang yang bertentangan dengan aturan Tuhan juga berarti ingkar terhadap rubbubiyah Tuhan dan kufur kepada-Nya. Ayat ke 81-82 Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik: 1. Perbedaan para nabi dalam menjalankan risalah, sebagaimana halnya perbedaan para guru satu sekolah dalam bidang pengajaran. Tujuan mereka semuanya satu dan setiap guru memperkenalkan guru selepasnya kepada para murid untuk melanjutkan pelajaran. 2. Iman dengan sendirinya tidaklah cukup. Dukungan dan pertolongan agama dan para pemimpin agama juga diperlukan. 3. Meskipun semua nabi menerima antara satu dengan lainnya, namun tidak ada alasan para pengikut agama ilahi menunjukkan fanatisme yang tidak berdasar
Langgan:
Catatan (Atom)
JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN
JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN
-
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK, Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 36 Falamma_ wada'atha_ qa_lat rabbi inni wada'tuha_ unsa_, walla...
-
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK' SURAH MUHAMAD AYAT 21-22 BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM'' 22. fahal ‘asaytum in tawallaytum an t...
-
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK. SURAH MUHAMAD AYAT 18 BIS-MILLAAHIR-RAHMAN-NIRRAHIM,.., 18. fahal yanzhuruuna illaa alssaa’ata an ta/ti...