Isnin, 3 September 2018

AYAT 53-56

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
Hud, ayat 53-56''BISMILLAHIRAHMANIRAHIM''
Qaaloo yaa Hoodu maa ji'tanaa bibaiyinatinw wa maa nahnu bitaarikeee aalihatinaa 'an qawlika wa maa nahnu laka bimu'mineen In naqoolu illa' taraaka ba'du aalihatinaa bisooo'; qaala inneee ushhidul laaha wash hadooo annee bareee'um mimmaa tushrikoon Min doonihee fakeedoonee jamee'an summa laa tunziroon Innee tawakkaltu 'alallaahi Rabbee wa Rabbikum; maa min daaabbatin illaa Huwa aakhizum

  {قَالُوا يَا هُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي آلِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ (53) إِنْ نَقُولُ إِلا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (54) مِنْ دُونِهِ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنْظِرُونِ (55) إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (56) }

Kaum Ad berkata, "Hai Hud kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.” Hud menjawab, "Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian, bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan dari selain-Nya. Sebab itu, jalankanlah tipu daya kalian semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” Allah Swt. menceritakan bahwa mereka mengatakan kalimat berikut kepada nabi mereka: {مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ} kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata.

(Hud: 53) Maksudnya, hujah dan bukti yang membenarkan apa yang kamu akui itu. {وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي آلِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ} dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu. (Hud: 53) Yakni hanya karena perkataanmu, "Tinggalkanlah sembahan-sembahan itu," lalu kami meninggalkan mereka: {وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ} dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu (Hud: 53) Artinya, kami tidak akan membenarkan dan tidak akan mempercayaimu. {إِنْ نَقُولُ إِلا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ} Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu. (Hud: 54) Mereka mengatakan, "Tiadalah dugaan kami terhadapmu melainkan bahwa sebagian dari sembahan kami telah menimpakan penyakit saraf ke dalam otakmu karena kamu telah melarang kami menyembah mereka dan kamu mencela mereka." {قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ مِنْ دُونِهِ} Hud menjawab, "Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah oleh kalian, bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan dari selain-Nya.” (Hud: 54-55) Hud mengatakan, "Sesungguhnya aku berlepas diri dari semua tandingan dan berhala yang kalian ada-adakan itu." {فَكِيدُونِي جَمِيعًا} Sebab itu, jalankanlah tipu daya kamu sekalian terhadapku. (Hud: 55) Yakni oleh kalian dan sembahan-sembahan kalian, jika memang kalian benar. {ثُمَّ لَا تُنْظِرُونِ} Dan janganlah kalian memberi tangguh kepadaku. (Hud: 55) barang sekejap mata pun. *******************

Firman Allah Swt. yang mengatakan: {إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا} Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. (Hud: 56) Maksudnya, semuanya berada di bawah kekuasaan dan keperkasaan-Nya. Dialah Tuhan, Hakim yang seadil-adilnya dan tidak pernah lalim dalam keputusan-Nya; sesungguhnya Dia berada pada jalan yang lurus. Al-Walid ibnu Muslim telah meriwayatkan dari Safwan ibnu Amr, dari Aifa' ibnu Abdul Kala'i sehubungan dengan firman-Nya: Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. (Hud: 56) Aifa' mengatakan bahwa Allah memegang ubun-ubun semua hamba­Nya, lalu Dia mengajari orang mukmin, sehingga terasa bagi orang mukmin bahwa Dia lebih sayang ketimbang seorang ayah kepada anaknya. Lalu Aifa' membacakan firman-Nya: {مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ} apakah yang memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. (Al-Infithar: 6) Dalam jawaban Nabi Hud ini terkandung hujah yang mematahkan dan dalil yang pasti yang menunjukkan kebenaran dari apa yang disampaikannya kepada mereka; juga menunjukkan kebatilan dari apa yang mereka kerjakan, yaitu penyembahan mereka kepada berhala-berhala. Padahal berhala-berhala itu tidak dapat memberikan manfaat, tidak pula dapat mendatangkan mudarat, bahkan berhala-berhala itu adalah benda-benda mati yang tidak dapat mendengar, tidak dapat melihat, tidak dapat melindungi, dan tidak dapat memusuhi. Sesungguhnya yang berhak disembah secara murni dan ikhlas hanyalah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Di tangan kekuasaan-Nyalah kerajaan, dan Dialah yang mengaturnya. Tidak ada sesuatu pun melainkan berada di bawah kepemilikan, pengaruh, dan kekuasaan-Nya; maka tidak ada Tuhan selain Dia, dan tidak ada Rabb selain Dia.

Ahad, 2 September 2018

AYAT 50-52


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
 SURAH HUD 50'52
BISMILLAHIRAHMANNIRRAHIM'
Wa ilaa 'aadin akhaahum Hoodaa; qaala yaa qawmi' budul laaha maa lakum min ilaahin ghairuhooo in antum illaa muftaroon

{وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلا مُفْتَرُونَ (50) يَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي أَفَلا تَعْقِلُونَ (51) وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ (52) } “

Dan kepada kaum ‘Aad (Kami utus) saudara mereka Huud. Ia berkata: ‘Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Ilah selain Allah. Kamu hanyalah mengada-adakan saja. (QS. 11:50) Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?’ (QS. 11:51) Dan (dia berkata): ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabbmu, lalu taubatlah kepada-Nya, niscaya Allah menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan Allah akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.’ (QS. 11:52)”

(Huud: 50-52) Allah berfirman: wa (“Dan”) sungguh telah kami utus: ilaa ‘aadin akhaaHum Huudan (“Kepada kaum Aad [Kami utus] saudara mereka, Huud.”) Supaya memerintahkan mereka beribadah hanya kepada Allah saja, tidak menyekutukan-Nya dan melarang mereka dari beribadah kepada berhala-berhala yang mereka ada-adakan dan memberi nama dengan nama-nama Ilah, memberitahukan kepada mereka bahwa dia (Huud as) tidak meminta dari mereka upah atas nasihat dan penyampaian dari Allah ini, akan tetapi dia hanya mengharapkan pahala dari Allah Ta’ala yang telah menciptakannya. Apakah kamu tidak berfikir; orang yang mengajakmu kepada perbaikan dunia dan akhirat tanpa mengharapkan upah, kemudian dia menyuruh mereka untuk memohon ampunan yang dapat menghapus dosa-dosa yang telah lalu dan bertaubat dari dosa yang sedang mereka hadapi.

Barangsiapa memiliki sifat ini, maka Allah memudahkan kepadanya rizkinya juga menggampangkan urusannya dan memelihara keadaannya. Untuk itu Allah berfirman: yursilis samaa-a ‘alaikum midraaran (“Niscaya Allah menurunkan hujan yang sangat deras atasmu.”) Dalam hadits disebutkan: “Barangsiapa yang senantiasa memohon ampunan, maka Allah menjadikan untuknya dari setiap kesedihan ada kelapangan, dan dari setiap kesempitan ada jalan keluar dan memberinya rizki (dari jalan/jumlah) yang tidak terduga.” (HR. Abu Dawud [No. 1581], Ibnu Majah [No. 3819])

Sabtu, 1 September 2018

AYAT 49

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
 SURAH HUD 49''
BISMILLAHIRAHMANIRAHIM''

{تِلْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ (49) }

 Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

(QS. Huud: 49)DALAM Ayat 46-49 menjelaskan bahwa Allah menegur Nabi Nuh atas perbuatannya mendoakan keselamatan anaknya yang kafir, karena bukan dianggap sebagai anak lagi. Perbuatan tersebut adalah perbuatan jahililah (bodoh terhadap hakikat Allah). Maka Nabi Nuhpun memohon ampun pada Allah atas kesalahan yang dilakukannya. Akhirnya, Nabi Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya diselamatkan dari banjir besar dan diberi keberkahan hidup sampai akhir hayat mereka. Sedangkan yang kafir pada Allah dan kerasulannya, musnah ditelan banjir besar yang Allah rancang dengan ilmu-Nya. Maksudnya,

Kami ajarkan kepadamu tentangnya sebagai wahyu yang Kami turunkan kepadamu: {مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَذَا} tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu se­belum ini. (Hud: 49) Yakni tidaklah kamu —-tidak pula seseorang pun dari kaummu— mengetahui kisah ini sebelumnya, sehingga berkatalah orang-orang yang mendustakanmu, bahwa sesungguhnya kamu telah mempelajarinya dari seseorang. Tidak, bahkan Allah-Iah yang memberitahukannya kepadamu sesuai dengan kejadian yang sebenarnya, seperti juga yang dikisahkan oleh kitab-kitab para nabi sebelum kamu. Maka bersabarlah terhadap pendustaan orang-orang yang mendusta­kanmu dari kalangan kaummu, juga bersabarlah dalam menghadapi gangguan mereka yang menyakitkan terhadap dirimu. Karena sesungguhnya Kami pasti akan memenangkan kamu dan meliputi kamu dengan perhatian Kami, dan Kami jadikan akibat yang terpuji bagimu dan bagi para pengikutmu di dunia dan di akhirat. Perihalnya sama dengan apa yang telah Kami lakukan terhadap para utusan lainnya, Kami menolong mereka dari musuh-musuhnya, Allah berfirman kepada Nabi-Nya: min ambaa-il ghaibi (“Di antara berita-berita penting tentang yang ghaib”) Yakni, sebagian dari kabar-kabar ghaib yang telah lewat, Kami wahyukan kepadamu dengan jelas seolah-olah kamu menyaksikannya,

Kami wahyukan kepadamu, maksudnya Kami mengajarimu dengan kisah itu sebagai wahyu dari Kami kepadamu. Maa kunta ta’lamuHaa anta wa laa qaumuka min qabli Haadzaa (“Tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak [pula] kaummu sebelum ini.”) Maksudnya, kamu dan seorang pun kaummu tidak mengetahui sebelumnya, sehingga orang yang mendustakanmu berkata bahwa kamu mempelajarinya dari dia, akan tetapi Allahlah yang memberi kabar kepadamu dengannya, yang sesuai dengan kenyataan, sebagaimana yang dikabarkan dalam kitab-kitab para Nabi sebelummu, maka bersabarlah atas pendustaan kaummu dan penganiayaan mereka terhadapmu, karena sesungguhnya Kami akan menolongmu dan melindungimu dengan bantuan Kami Dan Kami jadikan kemenangan untukmu dan pengikut-pengikutmu dunia dan akhirat, sebagaimana telah Kami lakukan terhadap para Rasul, yaitu Kami tolong mereka atas musuh-musuh mereka: “Sesungguhnya Kami menolong Rasul-Rasul Kami dan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Mu’min: 57), dan ayat seterusnya. Dan Allah Ta’ala berfirman: fashbir innal ‘aaqibata lil muttaqiin (“Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”)

Jumaat, 31 Ogos 2018

AYAT 48



TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK.,
SURAH HUD 48
BIS'MIL'LAHI'RAHMA'NIRAHIM'
Qeela yaa Noohuh bit bisalaamim minnaa wa barakaatin 'alaika wa 'alaaa umamim mimmam ma'ak; wa umamun sanumatti'uhum summa yamassuhum minaa 'azaabun aleem

{قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (48) }

Difirmankan, "Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami.”

Allah Swt. menceritakan firman-Nya kepada Nuh a.s. ketika bahteranya telah berlabuh di atas Bukit Al-Judi, yaitu ucapan kesejahteraan yang ditujukan kepadanya, kepada orang-orang mukmin yang bersamanya, dan kepada seluruh orang mukmin dari kalangan keturunannya sampai hari kiamat. Seperti yang dikatakan oleh Muhammad ibnu Ka'b, bahwa termasuk ke dalam ucapan sejahtera (salam) ini setiap orang mukmin —baik laki-laki maupun perempuan— sampai hari kiamat nanti. Demikian pula mengenai azab dan kesenangan sementara, ditujukan kepada setiap orang kafir laki-laki dan perempuan sampai hari kiamat nanti.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa ketika Allah bermaksud menghentikan banjir besar, Dia mengirimkan angin ke atas permukaan bumi. Maka air pun berhenti, dan semua sumber air di bumi yang berlimpah lagi besar tertutup, begitu pula semua pintu langit (yakni hujannya). Allah Swt. berfirman: وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ Dan difirmankan, "Hai bumi, telanlah airmu.” (Hud: 44), hingga akhir ayat. Maka air pun mulai berkurang dan menyurut serta mengering. Menurut dugaan Ahli Kitab Taurat, berlabuhnya bahtera Nabi Nuh di atas Bukit Al-Judi adalah pada bulan tujuh tanggal tujuh belasnya. Dan pada permulaan bulan kesepuluh Nuh a.s. melihat puncak-puncak bukit. Setelah berlalu empat puluh hari, Nuh membuka pintu bahteranya, lalu ia mengirimkan burung gagak untuk melihat keadaan air, tetapi burung gagak tidak kembali lagi. Lalu Nuh mengirimkan burung merpati, dan burung merpati itu kembali lagi kepadanya karena tidak menemukan daratan untuk tempat hinggapnya. Maka Nabi Nuh mengulurkan tangannya kepada merpati itu dan menangkapnya, lalu memasukkannya kembali kedalam bahtera. Kemudian berlalulah tujuh hari, dan Nuh kembali mengirimkan burung merpati untuk melihat keadaan daratan. Merpati itu kembali kepadanya pada sore harinya, sedangkan di paruhnya terdapat daun pohon zaitun. Maka Nuh mengetahui bahwa air telah menyurut dari permukaan bumi Nuh tinggal selama tujuh hari lagi, kemudian ia kembali mengirimkan burung merpati itu, dan ternyata burung merpati itu tidak kembali, maka Nuh mengetahui bahwa daratan telah muncul. Setelah genap satu tahun sejak Allah mengirimkan banjir besar hingga Nuh mengirimkan burung merpati dan pada tanggal satu bulan pertama dari tahun berikutnya daratan telah tampak, maka Nuh membuka penutup bahteranya. Dan pada bulan yang kedua dari tahun berikutnya, yaitu pada tanggal dua puluh enamnya: قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلامٍ مِنَّا Difirmankan, "Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera.” (Hud: 48), hingga akhir ayat.

AYAT 45-47

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
Hud, ayat 45-47
BISMILLAHIRAHMANIRAHIM''
Wa naadaa noohur Rabbahoo faqaala Rabbi innabnee min ahlee wa inna wa'dakal haqqu wa Anta ahkamul haakimeen Qaala yaa Noohu innahoo laisa min ahlika innahoo 'amalun ghairu saalihin falaa tas'alni maa laisa laka bihee 'ilmun inneee a'izuka an takoona minal jaahileen Qaala rabbi inneee a'oozu bika an as'alaka maa laisa lee bihee 'ilmunw wa illaa taghfir lee wa tarhamneee akum minal khaasireen

 {وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ (45) قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (46) قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ (47) }

    Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” Allah berfirman, "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik Sebab itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.”

 Nuh berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya) Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” Sebuah permintaan yang penuh dengan rasa berserah diri dan kejujuran dari Nuh a.s. tentang keadaan anaknya yang ditenggelamkan: {فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي} Nuh berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku."

(Hud: 45) Maksudnya, sedangkan Engkau telah menjanjikan kepadaku keselamatan seluruh keluargaku, dan janji-Mu adalah benar, tidak akan diingkari; maka mengapa Engkau menenggelamkannya. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya. {قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ} Allah berfirman, "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu." (Hud: 46) yang telah Aku janjikan keselamatan mereka, karena sesungguhnya Aku hanya menjanjikan kepadamu keselamatan orang-orang yang beriman saja dari kalangan keluargamu.

Karena itulah dalam ayat yang lain disebutkan oleh firman-Nya: {وَأَهْلَكَ إِلا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ} dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. (Hud: 40 ; Al-Mu’minun: 27) Putra Nabi Nuh itu termasuk di antara mereka yang telah ditakdirkan harus ditenggelamkan karena kekafirannya dan menentang perintah ayahnya sebagai Nabi Allah. Banyak dari kalangan para imam yang me-nas-kan kekeliruan orang yang berpendapat bahwa anak yang ditenggelamkan tersebut bukanlah putranya, dalam tafsir ayat ini.

Dan ia mengatakan bahwa anak tersebut adalah anak zina. Dan menurut pendapat yang lainnya lagi, anak yang ditenggelamkan tersebut adalah anak istri Nabi Nuh, yaitu anak tirinya. Demikianlah menurut riwayat yang bersumberkan dari Mujahid, Al-Hasan, Ubaid ibnu Umair, Abu Ja'far Al-Baqir, dan Ibnu Juraij. Sebagian dari mereka berdalilkan kepada firman Allah Swt. yang mengatakan: {إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ} sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. (Hud: 46) {فَخَانَتَاهمُا} lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya. (At-Tahrim: 10) Di antara orang yang mengatakan pendapat tersebut adalah Al-Hasan Al-Basri yang berdalilkan kepada kedua ayat di atas. Sebagian dari mereka mengatakan anak istrinya, yakni anak tiri Nuh a.s. Pendapat ini dapat diartikan sependapat dengan apa yang dimaksudkan oleh Al-Hasan; atau dia bermaksud bahwa anak tersebut dinisbatkan kepada Nuh a.s. secara majaz, karena anak tersebut dipelihara di rumah Nuh a.s. Ibnu Abbas dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf mengatakan bahwa tidak ada seorang istri nabi yang berbuat zina.

Mengenai firman-Nya yang mengatakan: {إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ} sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu. (Hud: 46) yang telah Aku janjikan kepadamu keselamatan mereka. Pendapat Ibnu Abbas dalam tafsir ayat ini adalah benar, dan tidak ada jalan untuk menghindar darinya. Karena sesungguhnya Allah Swt. sangat pencemburu dan tidak akan mungkin Dia biarkan ada seorang istri nabi yang berbuat zina. Karena itulah Allah Swt. sangat murka terhadap orang-orang yang menuduh hal yang tidak senonoh terhadap Ummul Mu’minin Siti Aisyah putri Abu Bakar As-Siddiq, istri Nabi Saw.

Dan Dia mengingkari orang-orang mukmin yang mempergunjingkan hal ini serta menyiarkannya. Untuk itulah disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya: {إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الإثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ} Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kalian juga. Janganlah kalian kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kalian, tetapi hal itu mengandung kebaikan bagi kalian. Tiap-tiap seseorang dari mereka men­dapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya azab yang besar. (An-Nur: 11) sampai dengan firman-Nya: {إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ} (Ingatlah) di waktu kalian menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kalian katakan dengan mulut kalian apa yang tidak kalian ketahui sedikit juga, dan kalian menganggapnya suatu yang ringan saja.

Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. (An-Nur: 15) Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Qatadah dan lain-lainnya, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa anak itu memang anaknya, hanya dia bertentangan dengan ayahnya dalam hal amal dan niat (akidah). Dalam sebagian qiraatnya Ikrimah mengatakan bahwa sesungguhnya anak itu telah melakukan suatu perbuatan yang tidak baik, dan perbuatan khianat (seperti yang disebutkan di atas) bukanlah pada tempatnya. Telah disebutkan pula di dalam hadis bahwa Rasulullah Saw. membacanya dengan bacaan tersebut. قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ شَهْر بْنِ حَوْشَب، عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ قَالَتْ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ: "إِنَّهُ عَمِلَ غَيْرَ صَالِح"، وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : {يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا} وَلَا يُبَالِي {إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ} Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Sabit, dari Syahr ibnu Hausyab, dari Asma binti Yazid yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. membacakan ayat ini dengan bacaan berikut: Sesungguhnya perbuatannya perbuatan yang tidak baik.

(Hud: 46) Ia pernah pula mendengar Nabi Saw. membacakan firman-Nya: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. (Az-Zumar: 53) Yakni tanpa mempedulikannya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Az-Zumar: 53) قَالَ أَحْمَدُ أَيْضًا: حَدَّثَنَا وَكِيع، حَدَّثَنَا هَارُونُ النَّحْوِيُّ، عَنْ ثَابِتٍ البُنَاني، عَنْ شَهْر بْنِ حَوْشَب، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَرَأَهَا: "إِنَّهُ عَمِل غَيْرَ صَالِح" Imam Ahmad mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Harun An-Nahwi, dari Sabit Al-Bannani, dari Syahr ibnu Hausyab, dari Ummu Salamah, bahwa Rasulullah Saw. membacanya dengan bacaan berikut: Sesungguhnya perbuatannya perbuatan yang tidak baik. (Hud: 46) Imam Ahmad mengulangi pula riwayat ini dalam kitab Musnad-nya. Ummu Salamah adalah Ummul Mu’minin, tetapi menurut makna lahiriahnya —hanya Allah yang lebih mengetahui— dia adalah Asma binti Yazid, karena Asma binti Yazid pun dijuluki dengan nama panggilan itu (yakni Ummu Salamah). Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami As-Sauri, dari Ibnu Uyaynah, dari Musa ibnu Abu Aisyah, dari Sulaiman ibnu Qubbah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas ketika berada di sisi Ka'bah ditanya mengenai firman Allah Swt.: lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya. (At-Tahrim: 10) Maka Ibnu Abbas menjawab, "Ingatlah, sesungguhnya bukan karena zina, melainkan si istri tersebut menceritakan kepada orang-orang bahwa suaminya gila." Dan hal ini tentu saja menunjukkan kepada pengertian perbuatan khianat. Kemudian Ibnu Abbas membacakan firman-Nya: sesungguhnya perbuatannya perbuatan yang tidak baik. (Hud: 46) Ibnu Uyaynah mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ammar Az-Zahabi, bahwa ia pernah bertanya kepada Sa'id ibnu Jubair mengenai hal tersebut. Maka Sa'id ibnu Jubair menjawab bahwa dia memang anak Nabi Nuh, Allah tidak pernah berdusta. Allah Swt. telah berfirman: {وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ} Dan Nuh berseru memanggil anaknya. (Hud: 42) Sebagian ulama mengatakan bahwa tiada seorang istri nabi yang berbuat fasik. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Mujahid, Ikrimah, Ad-Dahhak, Maimun ibnu Mahran, dan Sabit ibnul Hajjaj. Pendapat inilah yang dipilih oleh Abu Ja'far ibnu Jarir, dan pendapat inilah yang benar, tidak diragukan lagi.

AYAT 44

TAFSIR QUIRAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH HUD 44
BISMILLAHIRAHMANIRAHIM''

Wa qeela yaaa ardubla'ee maaa'aki wa yaa samaaa'u aqi'ee wa gheedal maaa'u wa qudiyal amru wastawat 'alal joodiyyi wa qeela bu'dal lilqawmiz zaalimee “Dan difirmankan: ‘Hai bumi, telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,’ dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judiy, dan dikatakan: ‘Binasalah orang-orang yang dhalim.’” (QS. 11:44)

 Allah memberi kabar, bahwa sesungguhnya ketika Allah menenggelamkan penduduk bumi seluruhnya kecuali orang-orang yang berada dalam perahu, Allah memerintahkan bumi untuk menelan airnya yang bersumber darinya dan berkumpul di atasnya, serta Allah memerintahkan langit untuk menahan hujan, wa ghiidlal maa-u (“Dan air pun disurutkan,”) maksudnya mulai berkurang. Wa qudliyal amru (“Perintah pun diselesaikan,”) maksudnya bersihlah penduduk bumi dari orang-orang yang kafir kepada Allah, rumah-rumah mereka pun tidak tersisa sama sekali.

Wastawat (“Dan bahtera itu pun berlabuh,”) perahu dengan orang-orang yang ada di dalamnya, ‘alal juudiy (“Di atas bukit Judiy.”) Mujahid berkata: “Yaitu suatu gunung yang berada di al Jazirah (Arabia) yang gunung-gunungnya sangat tinggi sehingga pada waktu itu tidak tenggelam dan gunung itu tunduk kepada Allah, maka ia tidak tenggelam dan perahu Nuh as. berlabuh di atasnya. Dan Qatadah berkata: “Perahu itu berada di gunung tersebut selama satu bulan, kemudian mereka turun darinya.” Qatadah berkata: “Allah telah mengabadikan perahu Nuh as. di atas gunung Judiy di bumi al Jazirah sebagai pelajaran dan suatu pertanda sehingga umat-umat pertama dari umat ini melihat, bahwa berapa banyak perahu-perahu sesudahnya telah rusak dan telah menjadi tanah. Al Jazirah ialah, sebuah kota di Irak, gunung Judiy terletak di dekat daerah Mosul, di dekat sungai Dajlah.

 Dan firman-Nya: wa qiila bu’dal lil qaumidh dhaalimiin (“Dan dikatakan: ‘Binasalah orang-orang yang dhalim.’”) Maksudnya kebinasaan, kerugian dan jauhnya diri dari rahmat Allah menimpa mereka, karena sesungguhnya mereka akhirnya telah binasa dan tidak tersisa sama sekali. Ayat ini menunjukkan perbuatan ALLAH mengarahkan bumi dan langit untuk surutkan banjir yang berlaku pada zaman Nabi Nuh. Ini menunjukkan kehebatan dan keagungan ALLAH sebagai Pentadbir Hakiki bagi bumi dan langit sedangkan kekufuran manusia itu tidak sedikit pun menggugah kebesaran ALLAH. Justeru, jika kita melihat kepada teks ayat tersebut menyebut perbuatan ALLAH yang mengarahkan bumi dan langit; dan bukan dalam bentuk doa. Timbul persoalan; Apakah dibenarkan dalam hukum syarak bertabarruk dan bertawassul dalam doa kepada ALLAH dengan ayat ini yang meminta agar dipulihkan banjir di beberapa tempat dalam negara? Kami tidak pasti perihal kemujaraban ayat ini dalam isu banjir.

 Tetapi sifat al-Quran itu sebagai syifa atau penyembuh tidak dapat dinafikan, sama ada yang disembuhkan itu penyakit nurani atau jasmani. Termaktub dalam kitab ulama, antaranya yang dicatat oleh Imam Ibn Muflih Al-Hanbali RHM dalam Al-Adab Al-Syar'iyyah (2/457), bahawa Syeikh Taqiuddin Ibn Taimiyyah RHM menulis ayat tersebut pada dahi orang yang terkena penyakit hidup berdarah sebagai rukyah dan tabarruk dengan ayat al-Quran dalam rawatan jasmani. Selain itu, Imam Al-Nawawi RHM ada menulis dalam kitabnya, Al-Adzkar (ms 182), satu bab yang bertajuk Apa yang perlu seseorang itu baca ketika hujan turun dengan terlalu banyak sehingga ditakuti berlakunya mudarat. Beliau menyebut satu riwayat daripada Anas bin Malik RA bahawa seorang lelaki mengadu kepada Rasulullah SAW perihal kemarau yang mereka alami sehingga rosaklah harta dan jalan. Lalu Baginda SAW yang ketika itu sedang berkhutbah lantas berdoa dan hujan pun turun dengan lebat. Apabila hujan turun dengan begitu lebat sehingga seminggu tidak nampak matahari, maka datang kembali lelaki tadi dan meminta doa daripada Rasulullah SAW agar ALLAH menghentikan hujan kerana harta dan jalan. Maka Rasulullah SAW berdoa: "Ya ALLAH! (Kami bermohon agar hujan hanya) mengelilingi kami dan bukannya menimpa ke atas kami. Ya ALLAH! (alihkan ia) ke tempat-tempat tinggi, gunung ganang dan bukit bukau, perut-perut lembah, dan tempat tumbuhnya pokok-pokok." (Riwayat Bukhari no 1014) Berhentilah hujan dan keluarlah matahari. Sebahagian ulama menulis faedah doa ini bahawa secara adabnya kita berdoa agar ALLAH mengalihkan hujan ini ke tempat lain kerana hujan itu membawa rahmat dan keberkatan. Sememangnya memperbanyakkan doa ketika musibah itu adalah amalan yang dituntut syarak. Tidak salah untuk berdoa kepada ALLAH dengan bertawassul dan bertabarruk dengan ayat al-Quran termasuklah ayat yang dinyatakan di atas. Namun daripada sudut keutamaan, kami menggalakkan agar masyarakat melazimi jua doa-doa yang warid daripada al-Quran dan hadis Rasulullah SAW yang berkat dan mujarab.

Rabu, 29 Ogos 2018

AYAT 41-43


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
     SURAH Hud, ayat 41-43''-BIS-MIL-LAHI-RAHMAN-NIRAHIM''
                Wa qaalar kaboo feehaa bismil laahi majraihaa wa mursaahaa; inna Rabbee la Ghafoorur Raheem Wa hiya tajree bihim fee mawjin kaljibaali wa naadaa Noohunib nahoo wa kaana fee ma'ziliny yaa bunai yarkam ma'anaa wa laa takum ma'al kaafireen Qaala sa aaweee ilaa jabaliny ya'simunee minal maaa'; qaala laa 'aasimal yawma min amril laahi illaa mar rahim; wa haala bainahumal mawju fakaana minal mughraqeen ''


{وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (41) وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ (42) قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلا مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ (43) }

Dan Nuh berkata, "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedangkan anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab, "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata, " Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

               Allah Swt. berfirman menceritakan perihal Nabi Nuh a.s., bahwa dia berkata kepada orang-orang yang diperintahkan agar dibawa masuk ke dalam bahteranya: {ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا} Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. (Hud: 41) Yakni dengan menyebut nama Allah ia dapat berlayar di atas air, dan dengan menyebut nama Allah pula ia dapat berlabuh di akhir perjalanannya. Abu Raja Al-Utaridi membaca ayat ini dengan bacaan berikut: "بسْمِ اللهِ مُجْرِيَها ومُرْسِيهَا". dengan menyebut nama Allah yang memberlayarkan dan yang melabuhkannya.
               (Hud: 41) Dan Allah Swt. telah berfirman: {فَإِذَا اسْتَوَيْتَ أَنْتَ وَمَنْ مَعَكَ عَلَى الْفُلْكِ فَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَجَّانَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ وَقُلْ رَبِّ أَنزلْنِي مُنزلا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنزلِينَ} Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah, "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang zalim.” Dan berdoalah, "Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat.” (Al-Mu’minun: 28-29) Karena itulah maka disunatkan membaca basmalah di saat hendak menaiki kendaraan, baik kendaraan laut maupun kendaraan darat, sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya: {وَالَّذِي خَلَقَ الأزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْفُلْكِ وَالأنْعَامِ مَا تَرْكَبُونَ لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ} Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untuk kalian kapal dan binatang ternak yang kalian tunggangi, supaya kalian duduk di atas punggungnya. (Az-Zukhruf: 12-13), hingga akhir ayat. Sunat menganjurkan hal tersebut dan menyerukannya, seperti yang akan disebutkan di dalam tafsir surat Az-Zukhruf. قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ هَاشِمٍ الْبَغَوِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْمُقَدَّمِيُّ -وَحَدَّثَنَا زَكَرِيَّا بْنُ يَحْيَى السَّاجِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُوسَى الحَرشي -قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ الْحَسَنِ الْهِلَالِيُّ، عَنْ نَهْشل بْنِ سَعِيدٍ، عَنِ الضَّحَّاكِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "أَمَانُ أُمَّتِي مِنَ الْغَرَقِ إذا ركبوا في السفن أن يقولوا: بسم اللَّهِ الْمَلِكِ، {وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالأرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ} [الزُّمَرِ: 67] ، {بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ} Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Hasyim Al-Bagawi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Bakar Al-Maqdami, dan telah menceritakan kepada kami Zakaria ibnu Yahya As-Saji, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Musa Al-Harsi, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid ibnul Hasan Al-Hilali, dari Nahsyal ibnu Sa'id, dari Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Keamanan umatku dari tenggelam, bila mereka menaiki kapal laut ialah hendaknya mereka mengucapkan, "Dengan menyebut nama Allah Maha Raja, dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya —hingga akhir ayat— dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." *******************
                               Firman Allah Swt.: {إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ} Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Hud: 41) Makna ayat ini merupakan perimbangan di saat menyebutkan pem­balasan azab Allah yang ditimpakan atas orang-orang kafir dengan menenggelamkan mereka semuanya. Untuk itu, Allah Swt. menyebutkan bahwa Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Perihalnya sama dengan pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya: {إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ} Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguh­nya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-A'raf: 167) وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِلنَّاسِ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ الْعِقَابِ Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia, sekalipun mereka zalim; dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksa-Nya. (Ar-Ra'd: 6) Masih banyak ayat lain yang menyebutkan antara rahmat dan azab-Nya secara bergandengan. ******************* Firman Allah Swt.: {وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ} Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. (Hud: 42) Maksudnya, bahtera itu berlayar membawa mereka di atas permukaan air yang telah menggenangi semua daratan di bumi, yang ketinggiannya sampai menutupi puncak-puncak gunung yang tertinggi, dan lebih tinggi lima belas hasta darinya. Menurut pendapat lain, tinggi banjir besar itu mencapai delapan puluh mil. Bahtera Nabi Nuh itu berlayar di atas permukaan air dengan seizin Allah dan dengan pengawasan, pemeliharaan, penjagaan, dan karunia­Nya. Seperti yang disebutkan di dalam ayat lain, yaitu: {إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ لِنَجْعَلَهَا لَكُمْ تَذْكِرَةً وَتَعِيَهَا أُذُنٌ وَاعِيَةٌ} Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung), Kami bawa (nenek moyang) kalian ke dalam bahtera, agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kalian dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. (Al-Haqqah: 11-12) {وَحَمَلْنَاهُ عَلَى ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا جَزَاءً لِمَنْ كَانَ كُفِرَ وَلَقَدْ تَرَكْنَاهَا آيَةً فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ} Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku, yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh). Dan sesungguhnya telah Kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al-Qamar: 13-15) *******************
                          Adapun firman Allah Swt.: وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ Dan Nuh memanggil anaknya. (Hud: 42) Yang dimaksud adalah anaknya yang keempat, namanya Yam; dia se­orang kafir. Ayahnya memanggilnya di saat hendak menaiki bahtera dan menyerunya agar beriman serta naik bahtera bersama mereka sehingga tidak tenggelam seperti yang dialami oleh orang-orang yang kafir. {قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ} Anaknya menjawab, "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah! (Hud: 43) Menurut suatu pendapat, dia membuat perahu dari kaca untuknya. Akan tetapi, kisah ini termasuk kisah Israiliyat, hanya Allah-lah yang mengetahui kebenarannya. Tetapi yang di-nas-kan oleh Al-Qur'an ialah bahwa dia berkata: Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat meme­liharaku dari air bah! (Hud: 43) Karena kebodohannya, dia menduga bahwa banjir itu tidak akan dapat mencapai puncak-puncak bukit (gunung); dan bahwa seandainya dia mengungsi ke puncak gunung itu, niscaya dia dapat selamat dari air bah tersebut. Maka ayahnya —Nuh a.s.— berkata kepadanya: {لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلا مَنْ رَحِمَ} Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang. (Hud: 43) Yakni tidak ada sesuatu pun pada hari ini yang dapat melindungi dari azab Allah. Menurut suatu pendapat, lafaz 'asiman ini bermakna ma'suman, seperti dikatakan terhadap lafaz ta'im (pemberi makan) dan kasin (pemberi pakaian) yang artinya mat'um (yang diberi makanan) dan maksuwwun (yang diberi pakaian). {وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ} Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (Hud: 43)

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN