TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 15
Qul a'unabbi'ukum bi khairim min za_likum, lillazinat taqau 'inda rabbihim janna_tun tajri min tahtihal anha_ru kha_lidina fiha_ wa azwa_jum mutahharatuw wa ridwa_num minalla_h(i), walla_hu basirum bil'iba_d(i).
۞ قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَٰلِكُمْ ۚ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?". Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.
dari ayat ini apa yang allah inggin jelaskan bahawa setiap amalan dan ibadah kebaikan akan allah gantikan suatu masa ketika mana di alam akirat yang kekal abadi buat nya berupa syurga yang mana kekal abadi dan dalam nya mengalir 7air sunggai yang mana berupa berbagai rasa dan antara nya susu dan air arak yang mana peminum nya tak akan mabuk dan rasa nya dan nikmat nya tak dapat di rasai di dunia serta penghuni syurga akan allah berikan sebidang tanah di syurga yang mana luas nya seluas 7kali luas bumi dandi bina sebuah istana yang mana terdapat 70bilik dan setiap bilik bagi nya allah jadikan isteri isteri yang baik dan soleh terdiri dari bidadari bidari syurga dan kecantikan dan kesucian nya 70,000kali lebih cantik dan suci dari wanita dunia.,., dan setiap satu bilik allah jadikan 70bidadari bagi nya siang dan malam bersama dan bermesra tampa ada yang tiada merasa sakit atau bosan keatas mereka .,,. di jadikan syurga nya itu berhadapan dengan wajjah allah dan setiap saat dan waktu menghadap akan penghuni penghuni syurga itu wajjah allah tampa rasa jemu .,,.., dari ayat ini jelas bahawa setiap dari mahluk insan ciptaan allah yang maha pencipta sedikit puntidak akan merasai teraniaya,.., sebagai mana penjelasan terperinci dari ayat ayat lain dan hadis di bawah sebagai gambaran tentang apa yang allah maha penghidup inggin jelaskan pada kita tentang syurga dan nikmat nya.,.,.,
(ADA YANG LEBIH BAIK DARI PESONA DUNIA)
1. Pada ayat 14 diterangkan bahwa manusia dihiasi dengan cinta syahwat kepada (1) lawan jenis, (2) anak cucu, (3) harta yang banyak, seperti emas, perak, kuda pilihan (4) peternakan, (5) pertanian, sawah dan ladang. Semua itu merupakan pesona hidup di dunia. Namun di sisi Allah ada keni’matan yang tiada terhingga dan tidak terbatas. Ayat 15 berikut menugaskan kepada Rasul SAW, untuk menjelaskan rincian keni’matan di akhirat kelak.
Inilah perbedaan utama, antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Pesona hidup di dunia bisa didapat oleh seluruh manusia, tanpa kecuali tapi bersifat semu dan sementara, sedangkan kehidupan akhirat yang hakiki, hanya bisa didapat oleh orang terpilih, yaitu yang bertaqwa. Justru itulah keni’matan hakiki, yang hanya bisa diperoleh orang yang terpilih. Jika keni’matan itu bisa didapat oleh setiap orang, maka tidak akan terasa kesempurnaannya. Keni’matan surga yang tiada terhingga dilukiskan oleh mengalir sungai-sungai di bawahnya. Sungai yang mengalir, merupakan simbol keni’amatan yang terus menerus tiada henti. Air juga menjadi simbol kehidupan, karena tidak ada penghidupan tanpa air. Jika keni’matan surga dilukiskan bagaikan air mengalir, berarti tiada henti dan tiada putus-putsnya.
3. وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan
Ternyata keni’matan di surga, bukan hanya yang bersifat konsumsi makanan, tapi juga berupa pasangan hidup yang mempesona. Laki-laki memperoleh pasangan yang cantik jelita dan suci dari noda. Kata al-Baydlawi, wanita surga tetap suci karena tidak akan pernah haidl, tidak terkena kotoran, tidak pula berakhlaq buruk. Mereka suci baik jasad, hati, ucap, maupun akhlaqnya.[1] Bila bicara tentang pasangan hidup yang mempesona, bisanya terkait bicara kurang suci, terkesan porno.
Perkataan أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ pasangan yang suci, menepis kesan kurang bersih. Pasangan di surga adalah pasangan suci. Perempuan pun memiliki pasangan pria yang tampan perkasa, bersih dan mengagumkan. Perkataan فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ juga mencakup laki-laki maupun perempuan. أَزْوَاجٌ merupakan istilah istri bagi pria, dan suami bagi wanita.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلُ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ وَالَّذِينَ عَلَى آثَارِهِمْ كَأَحْسَنِ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ إِضَاءَةً قُلُوبُهُمْ عَلَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ لَا تَبَاغُضَ بَيْنَهُمْ وَلَا تَحَاسُدَ لِكُلِّ امْرِئٍ زَوْجَتَانِ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ يُرَى مُخُّ سُوقِهِنَّ مِنْ وَرَاءِ الْعَظْمِ وَاللَّحْمِ
dari Abi Hurairah diriwayatkan dari nabi SAW bahwa yang paling pertama msuk surga wajahnya bagaikan bulan purnama, yang masuk berikutnya bagaikan bintang yang paling indah di langit yang gemerlap bercaha. Hatinya cemerlang. Hati mereka tidak ternodai oleh rasa benci dan iri. Mereka punya bidadari yang cantik jelita. Bila berjalan sumsum betisnya kelihatan dari balik pembungkus tulang dan dagingnya. Hr. Ahmad dan al-Bukhri[2]
Bidadari syurga, makhluk yang telah sangat indah yang telah Allah ciptakan untuk hamba-hambaNya yang soleh, yang berbuat kebaikan, yang layak untuk memasuki syurga. Diceritakan bahawa bidadari-bidadari syurga ini terlalu rindukan suaminya di dunia dan teringin melihat suaminya di dunia, namun tidak diberi izin oleh malaikat penjaga syurga. Suatu hari mereka meminta izin dari Allah untuk menjenguk ke bumi bagi melihat suami mereka dan telah diizinkan. Bidadari-bidadari ini dapat mengenal siapa suami mereka kerana di dada mereka telah tertulis nama suami yang mereka rindui.
Apabila melihat ke bumi, mereka terlihatlah bidadari-bidadari akan isteri bagi suami mereka di dunia tidak taat serta berbuat derhaka kepada suami, lalu bidadari syurga itu berkata, “Janganlah kamu menyakitinya, semoga Allah memerangimu, sesungguhnya dia hanyalah tamu di sisimu, sebentar lagi dia akan datang kepada kami dan meninggalkanmu.” Di dalam Al-Quran dan hadith banyak sekali dijelaskan ataupun digambarkan tentang susuk bidadari yang bertempat di syurga dan bersedia melayani para ahli Jannah.
Sesungguhnya Kami telah menciptakan isteri-isteri mereka dengan ciptaan istimewa, serta Kami jadikan mereka sentiasa dara (yang tidak pernah disentuh). (Al-Waqi’ah:35-36)
Dan di sisi mereka pula bidadari-bidadari yang pandangannya tertumpu (kepada mereka semata-mata), lagi yang sebaya umurnya. (Sad:52)
Di dalam Syurga-syurga itu terdapat bidadari-bidadari yang pandangannya tertumpu (kepada mereka semata-mata), yang tidak pernah disentuh sebelum mereka oleh manusia dan jin; maka yang mana satu di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu, yang kamu hendak dustakan? Bidadari-bidadari itu (cantik berseri) seperti permata delima dan marjan. (Ar-Rahman:56-58)
Sedang di sisi mereka ada pula bidadari-bidadari yang tidak menumpukan pandangannya melainkan kepada mereka, lagi yang amat indah luas matanya. (As-Saffat:48)
Dalam kedua-dua Syurga itu juga terdapat (bidadari-bidadari) yang baik akhlaknya, lagi cantik parasnya. (Ar-Rahman:70)
Ia itu bidadari-bidadari, yang hanya tinggal tetap di tempat tinggal masing-masing; maka yang mana satu di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu, yang kamu hendak dustakan? (Bidadari-bidadari itu) tidak pernah disentuh sebelum mereka oleh manusia dan tidak juga oleh jin. (Ar-Rahman:72-74)
HADITH
Rasulullah s.a.w bersabda: “Jika salah seorang bidadari menampakkan wajahnya, nescaya akan menerangi antara langit dan bumi.” (H.R. Bukhari)
Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: Allah Azza wa Jalla berfirman, “Aku siapkan bagi hamba-hambaKu yang soleh sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas oleh fikiran.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Anas bin Malik r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: “Jibril mengatakan kepadaku bahawa ketika orang mukmin masuk syurga, akan disambut oleh bidadari dengan pelukan hangat dan erat. Dengan jari dan telapak tangan manakah akan dibandingkan kelembutan dan keindahannya, kalau lambaiannya akan memadamkan sinar matahari dan bulan?” (H.R. Thabrani)
Rasulullah s.a.w bersabda: “Sekiranya salah seorang bidadari syurga datang ke dunia, pasti ia akan menyinari langit dan bumi dan memenuhi antara langit dan bumi dengan aroma yang harum semerbak. Sungguh penutup kepala salah seorang wanita syurga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Anas bin Malik r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: “Jika sehelai saja dari rambut bidadari jatuh ke bumi, nescaya wanginya akan meliputi seluruh timur dan barat.” (H.R. Ath-Thabrani)
Ibnul Qayyim memberikan penjelasannya mengenai hal ini: “Mengenai rambut bidadari ada dua sifat kontradiktif yang membuat kecantikannya semakin nyata dan memikat. Pekatnya hitam rambut terpadu dengan putihnya wajah dan mata yang bersinar cemerlang. Sungguh kontras sekali, namun disitulah letak kecantikannya.” (Kitab Hadzil Arwah:316)
Rasulullah s.a.w bersabda: “Rombongan yang pertama masuk syurga adalah dengan wajah bercahaya bak rembulan di malam purnama. Rombongan berikutnya adalah dengan wajah bercahaya seperti bintang-bintang yang berkilau di langit. Masing-masing orang di antara mereka mempunyai dua isteri, dimana sumsum tulang betisnya kelihatan dari balik dagingnya. Di dalam syurga nanti tidak ada orang bujang.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: “Penghuni syurga boleh mencermin melihat wajahnya di pipi bidadari yang mulus itu.” (H.R. Al-Baihaqi dan Al-Hakim)
Dari Anas bin Malik, Rasulullah s.a.w bersabda: “Seandainya bidadari meludah pada tujuh lautan, nescaya air laut akan tawar kerana keindahan dan kemanisan mulutnya, kerana bidadari terbuat dari za’faran.”
Dalam sebuah riwayat oleh Hafidz Abu Bakar Al-Ajri, dari Imran bin Hasyim dan Abu Hurairah, Rasulullah s.a.w bersabda: “Mahligai-mahligai (istana) di syurga itu tercipta dari Lu’lu, dan pada tiap-tiap mahligai itu ada tujuh puluh kampung dari Yaqut yang merah dan pada tiap-tiap kampung ada tujuh puluh rumah daripada Zamrud yang hijau; dan tiap-tiap rumah ada tujuh puluh tempat tidur; dan tiap-tiap tempat tidur ada tujuh orang perempuan dari bidadari.”
Dalam riwayat Ahmad bidadari itu dilukiskan:يُرَى مُخُّ سَاقِهَا مِنْ وَرَاءِ الثِّيَاب Sumsum betisnya terlihat dari luar gaunnya Hr. Ahmad.[3]
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ
Dari Abi Hurairah diriwayatkan, Rasul SAW bersabda: Allah SWT berfirman: “Aku sediakan untuk hamba-hamba-Ku keni’amatan yang tiada terhingga, yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, bahkan tidak terbayangkan oleh hati manusia. Bacalah (Qs.32:17) : فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam ni`mat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.). Hr. al-Bukhari, Muslim. [4]
Keni’matan surga tidak bisa digambarkan oleh kata, tidak bisa dilukiskan oleh rasa, tidak pula dapat dijangkau oleh lamunan dan angan-angan. Sedangkan bagaimana ni’matnya tidak bisa dibayangkan oleh akal fikiran, tidak pula terjanghkau oleh bayangan dan lamunan.
4. وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ serta keridhaan Allah:
Keni’matan yang tiada terhingga akan diperolah orang yang bertaqwa di surga, adalah keridoan Allah SWT. Setiap mu`min mencintai Allah SWT adalah segalanya, dan melebihi cinta kepada yang lainnya. Jika yang dicintai sepenuhnya telah mencurahkan keridoan, berarti kepuasan dan kebehgiaan telah paripurna.
5. وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.
Siapa yang berhak mendapat keridoan Allah, siapa yang tidak berhak, semuanya itu diketahui oleh-Nya. Dia Maha melihat atas segala ucap, sikap dan tindakan hamba-Nya, bahkan yang sangat rahasia sekalipun. Tiada tersembunyi bagi Allah SWT, bahkan pengetahuan Allah melebihi pengetahuan manusia pada dirinya.
Khamis, 1 Februari 2018
Rabu, 31 Januari 2018
AYAT 14 ali imran
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK.
Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 14
Zuyyina linna_si hubbusy syahawa_ti minan nisa_'i wal banina wal qana_tiril muqantarati minaz zahabi wal fiddati wal khailil musawwamati wal an'a_mi wal hars(i), za_lika mata_'ul haya_tid dunya_, walla_hu'indahu_ husnul ma'a_b(i)
. زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). ayat ini allah menjelaskan sesunguhnya manusia yang jahil dan kafir itu tiada lah lain bagi pandagan mereka keatas dunia ini hanya berkeingginan untuk hidup dalam kesedapan wanita cantik dan muda , kehidupan yang mana sekadar menghimpun dunia dengan harta kemewahan yang diturunkan allah dari langgit melalui air hujan kemudian terbentuk besi besi sebagai gijih besi bijih emas bijih perak tembaga dan berbagai lagi sebagai harta kekayaan mereka,.,. dari dalam perut laut itu kami keluarkan mutiara mutiara yang bernilai bagi manusia manusia jahil dan kafir itu jadikan rebutan mereka sewaktu hidup mereka ,. tiada lah lain kehidupan orang orang jahil dan kafir itu melaikan di lalaikan oleh tumbuhan dan haiwan yang allah jadikan sebagai menyubur bumi dengan kehijauan ,.., sebegitu lah penjelasan allah terhadap manusia yang rugi dan lalai dengan harta benda yang palsu tipu daya iblis , wanita wanita cantik dan muda sebagai isteri dan gundik mereka dan anak anak yang ramai dan cantik itu lah erti kehidupan mereka atas dunia ini kerna telah tertipu dengan bisikan dan ajakan iblis keatas mahluk allah ciptaan allah yang bermukin bagi nya .,,.. ayat ini jua menjelaskan bahawa orang orang jahil dan kafir akan menyesali kehidupan mereka bila mana berada di dalam alam akirat kerna tiada apa apa yang di lakukanya sewaktu hidup atas dunia melaikan lalai dan leka dengan tipu daya iblis nafsu dan bisikan syaitan .,,. sebagai mana penjelasan hadis riwayat ath tarmizi,.., dan muslim di bawah,.,.., Dunia adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangannya ialah istri yang saleh; jika suami memandangnya, maka ia membuat gembira suaminya; jika suami menyuruhnya, maka ia menaati suaminya; dan jika suami pergi, tidak ada di tempat, maka ia memelihara kehormatan dirinya dan harta benda suaminya.
Sabda Nabi Saw. dalam hadis yang lain, yaitu: «حُبِّبَ إِلَيَّ النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ» Aku dibuat senang kepada wanita dan wewangian, dan kesejukan hatiku dijadikan di dalam salatku. Siti Aisyah menceritakan bahwa tiada sesuatu pun yang lebih disukai oleh Rasulullah Saw. selain wanita kecuali kuda. Menurut riwayat yang lain disebutkan 'selain kuda kecuali wanita'. Senang kepada anak adakalanya karena dorongan membanggakan diri dan sebagai perhiasan yang juga termasuk ke dalam pengertian membanggakan diri. Adakalanya karena dorongan ingin memperbanyak keturunan dan memperbanyak umat Muhammad Saw. yang menyembah hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Maka hal ini baik lagi terpuji, seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis, yaitu: «تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ، فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» Nikahilah oleh kalian wanita-wanita yang keibuan lagi subur peranakannya, karena sesungguhnya aku memperbanyak umatku karena kalian kelak di hari kiamat. Cinta kepada harta adakalanya karena terdorong oleh faktor menyombongkan diri dan berbangga-banggaan, takabur terhadap orang-orang lemah, dan sombong terhadap orang-orang miskin. Hal ini sangat dicela. Tetapi adakalanya karena terdorong oleh faktor membelanjakannya di jalan-jalan yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan silaturahmi, serta amal-amal kebajikan dan ketaatan, hal ini sangat terpuji menurut syariat. Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang kadar qintar yang disebut oleh ayat ini, yang kesimpulannya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan qintar adalah harta yang banyak dan berlimpah, seperti yang dikatakan oleh Ad-Dahhak dan lain-lainnya. Menurut pendapat yang lain sejumlah seribu dinar, pendapat lainnya mengatakan seribu dua ratus dinar, pendapat yang lainnya mengatakan sejumlah dua belas ribu dinar, pendapat lain mengatakan empat puluh ribu dinar, pendapat yang lainnya lagi mengatakan enam puluh ribu dinar, dan ada yang mengatakan tujuh puluh ribu dinar, ada pula yang mengatakan delapan puluh ribu dinar, dan lain sebagainya. قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "القِنْطَارُ اثْنَا عَشَرَ ألْف أوقيَّةٍ، كُلُّ أوقِيَّةٍ خَيْر مِمَّا بَيْنَ السَّمَاءِ والأرْضِ". Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Asim, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Satu qintar adalah dua belas ribu auqiyah, tiap-tiap auqiyah lebih baik daripada apa yang ada di antara langit dan bumi. Ibnu Majah meriwayatkan pula hadis ini dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Abdus Samad ibnu Abdul Waris, dari Hammad ibnu Salamah dengan lafaz yang sama. Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Bandar, dari Ibnu Mahdi, dari Hammad ibnu Salamah, dari Asim ibnu Bahdalah, dari Zakwan Abu Saleh, dari Abu Hurairah secara mauquf (hanya sampai pada Abu Hurairah). Seperti yang terdapat pada riwayat Waki' di dalam kitab tafsirnya, disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Asim ibnu Bahdalah, dari Zakwan Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang mengatakan: Satu qintar adalah dua belas ribu auqiyah, satu auqiyah lebih baik daripada semua yang ada di antara langit dan bumi. Sanad riwayat ini lebih sahih. Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Mu'az ibnu Jabal dan Ibnu Umar. Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui Abu Hurairah dan Abu Darda, bahwa mereka (para sahabat) mengatakan, "Satu qintar adalah seribu dua ratus auqiyah." ثُمَّ قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي زَكَرِيَّا بْنُ يَحْيَى الضَّرِيرُ، حَدَّثَنَا شَبَابَةُ، حَدَّثَنَا مَخْلَد بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي مَيْمُونَةَ، عَنْ زِرّ بْنِ حُبَيْش عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "القِنْطَارُ ألْفُ أوقِيَّةٍ ومائَتَا أوقِيَّةٍ" Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Zakaria ibnu Yahya Ad-Darir (tuna netra), telah menceritakan kepada kami Syababah, telah menceritakan kepada kami Mukhallad ibnu Abdul Wahid, dari Ali ibnu Zaid, dari Ata dari Ibnu Abu Maimunah, dari Zurr ibnu Hubaisy, dari Ubay ibnu Ka'b yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Satu qintar adalah seribu dua ratus auqiyah. Hadis ini berpredikat munkar, lebih dekat kepada kebenaran ialah yang mengatakan bahwa hadis ini berpredikat mauquf hanya sampai pada Ubay ibnu Ka'b (tidak sampai kepada Nabi Saw.), sama halnya dengan yang lainnya dari kalangan sahabat. وَقَدْ رَوَى ابْنُ مَرْدُويَه، مِنْ طَرِيقِ مُوسَى بْنِ عُبَيْدة الرَبَذِي عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ يحنَّش أَبِي مُوسَى، عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ، عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَنْ قَرَأ مِائَةَ آيةٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِينَ، ومَنْ قَرَأ مِائَةَ آيةٍ إِلَى ألْف أصْبَح لَهُ قِنْطار مِنْ أجْرٍ عندَ اللَّهِ، القِنْطارُ مِنْهُ مِثلُ الجبَلِ العَظِيمِ". Ibnu Murdawaih meriwayatkan melalui jalur Musa ibnu Ubaidah Ar-Rabzi, dari Muhammad ibnu Ibrahim, dari Musa, dari Ummu Darda, dari Abu Darda yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa yang membaca seratus ayat, maka ia tidak dicatat sebagai orang-orang yang lalai; dan barang siapa yang membaca seratus ayat hingga seribu ayat, maka ia akan memiliki satu qintar pahala di sisi Allah. Satu qintar pahala sama banyaknya dengan sebuah bukit yang besar. Waki' meriwayatkan hal yang semakna dari Musa ibnu Ubaidah. Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Abbas Muhammad ibnu Ya'qub, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Isa ibnu Zaid Al-Lakhami, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amr ibnu Abu Salamah, telah menceritakan kepada kami Zuhair ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Humaid At-Tawil dan seorang lelaki lainnya, dari Anas ibnu Malik yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya mengenai makna firman-Nya: harta yang berlimpah. (Ali Imran: 14) Maka Nabi Saw. bersabda: «الْقِنْطَارُ أَلْفَا أُوقِيَّةٍ» satu qintar adalah dua ribu auqiyah. Hadis ini sahih dengan syarat Syaikhain, tetapi keduanya tidak mengetengahkannya. Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Hakim. Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya dengan lafaz yang lain. Untuk itu ia mengatakan: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الرَّقِّي، حدثنا عمرو ابن أَبِي سَلَمَةَ، حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ -يَعْنِي ابْنَ مُحَمَّدٍ-حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ وَرَجُلٌ آخَرُ قَدْ سَمَّاهُ-يَعْنِي يَزِيدَ الرَّقَاشي-عَنْ أَنَسٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ: قِنْطَارٌ، يَعْنِي: "أَلْفَ دِينَارٍ" telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdur Rahman Ar-Riqqi, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Abu Salamah, telah menceritakan kepada kami Zuhair (yakni Ibnu Muhammad), telah menceritakan kepada kami Humaid At-Tawil dan seorang lelaki yang disebutnya bernama Yazid Ar-Raqqasyi, dari Anas, dari Rasulullah Saw. dalam sabdanya yang mengatakan: bahwa satu qintar adalah seribu dinar. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Tabrani, dari Abdullah ibnu Muhammad ibnu Abu Maryam, dari Amr ibnu Abu Salamah, lalu ia menceritakan riwayat ini dengan sanad yang semisal. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri, dari Anas ibnu Malik secara mursal atau mauquf hanya sampai kepadanya yang isinya menyatakan bahwa satu qintar adalah seribu dua ratus dinar. Hal ini merupakan suatu riwayat yang dikemukakan oleh Al-Aufi dari Ibnu Abbas. Ad-Dahhak mengatakan bahwa sebagian orang Arab ada yang mengatakan satu qintar adalah seribu dua ratus dinar. Ada pula yang mengatakan dua belas ribu (dinar). Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Arim, dari Hammad, dari Sa'id Al-Harasi, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa'id Al-Khudri yang mengatakan bahwa satu qintar adalah sepenuh kulit banteng berisikan emas. Abu Muhammad mengatakan bahwa hal ini diriwayatkan oleh Muhammad ibnu Musa Al-Harasi, dari Hammad ibnu Zaid secara marfu', tetapi yang mauquf lebih sahih. Senang kuda ada tiga macam, adakalanya para pemiliknya memeliharanya untuk persiapan berjihad di jalan Allah; di saat mereka perlukan, maka mereka tinggal memakainya; mereka mendapat pahala dari usahanya itu. Adakalanya orang yang bersangkutan memelihara kuda untuk membanggakan diri dan melawan kaum muslim, maka pelakunya mendapat dosa dari perbuatannya. Adakalanya pula kuda dipelihara untuk diternakkan tanpa melupakan hak Allah yang ada padanya, maka bagi pemiliknya beroleh ampunan dari Allah Swt. زُيِّنَ لِلنَّاسِ " Diperhiaskan bagi manusia kesukaan kepada barang yang diingini, " (pangkal ayat 14). Di sini telah terdapat tiga kata. Pertama Zuyyina , artinya diperhiaskan. Maksudnya segala barang yang diingini itu ada. baiknya dan ada buruknya, tetapi apabila keinginan telah timbul, yang kelihatan hanya eloknya saja dan lupa akan buruk atau susahnya. Kata, kedua ialah Hubb , artinya kesukaan atau cinta. Kata ketiga ialah Syahwat , yaitu keinginan-keinginan yang menimbulkan selerayang menarik nafsu buat mempunyainya. -Maka disebutlah di sini enam macam hal yang manusia sangat menyukainya karena ingin hendak mempunyai dan menguasainya, sehingga yang nampak oleh manusia hanyalah keuntungannya saja, sehingga manusia tidak memperdulikan kepayahan buat naencintainya. حُبُّ الشَّهَواتِ مِنَ النِّساءِ وَ الْبَنينَ وَ الْقَناطيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَ الْفِضَّةِ وَ الْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَ الْأَنْعامِ وَ الْحَرْثِ " (yaitu) diri hal perempuan dan anak laki-laki, dan berpikul-pikul emas dan perak, dan kuda kendaraan yang di asuh , dan binatang-binatang tewrnak ; dan sawaah ladang " Itulah enam macam yang sangat disukai, diinginkan dan dengan berbagai macam usaha manusia ingin mempunyainya. ذلِكَ مَتاعُ الْحَياةِ الدُّنْيا " Yang demikian itulah perhiasan hidup di dunia. " Tegasnya bahwasanya semuanya itu. hanyalah perhiasan hiclup di dunia , niscaya usianya akan habis untuk itu, sedangkan perhiasan untuk di akhirat kelak dia tidak sedia. Padahal di belakang hidup yang sekarang ini ada lagi hidup yang akan dihadapi. Sesudah dunia adalah akhirat. Tuhan lebih tegaskan lagi: وَ اللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ Namun di sisi Allah ada (lagi) 5ebaik-baik tempat kembali . " (Ujung ayat 14). Di Ujung ayat diterangkan bahwa ada lagi yang lebih penting, entah berapa ribu kali lebih penting daripada perhiasan dunia itu, ialah sebaik-baik tempat kembali disediakan Allah. Sebab selama-lama hidup di dunia kita pasti kembali juga kepada Allah. Tuhan menyediakan bagi kita sebaik-baik tempat kembali itu.
Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 14
Zuyyina linna_si hubbusy syahawa_ti minan nisa_'i wal banina wal qana_tiril muqantarati minaz zahabi wal fiddati wal khailil musawwamati wal an'a_mi wal hars(i), za_lika mata_'ul haya_tid dunya_, walla_hu'indahu_ husnul ma'a_b(i)
. زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). ayat ini allah menjelaskan sesunguhnya manusia yang jahil dan kafir itu tiada lah lain bagi pandagan mereka keatas dunia ini hanya berkeingginan untuk hidup dalam kesedapan wanita cantik dan muda , kehidupan yang mana sekadar menghimpun dunia dengan harta kemewahan yang diturunkan allah dari langgit melalui air hujan kemudian terbentuk besi besi sebagai gijih besi bijih emas bijih perak tembaga dan berbagai lagi sebagai harta kekayaan mereka,.,. dari dalam perut laut itu kami keluarkan mutiara mutiara yang bernilai bagi manusia manusia jahil dan kafir itu jadikan rebutan mereka sewaktu hidup mereka ,. tiada lah lain kehidupan orang orang jahil dan kafir itu melaikan di lalaikan oleh tumbuhan dan haiwan yang allah jadikan sebagai menyubur bumi dengan kehijauan ,.., sebegitu lah penjelasan allah terhadap manusia yang rugi dan lalai dengan harta benda yang palsu tipu daya iblis , wanita wanita cantik dan muda sebagai isteri dan gundik mereka dan anak anak yang ramai dan cantik itu lah erti kehidupan mereka atas dunia ini kerna telah tertipu dengan bisikan dan ajakan iblis keatas mahluk allah ciptaan allah yang bermukin bagi nya .,,.. ayat ini jua menjelaskan bahawa orang orang jahil dan kafir akan menyesali kehidupan mereka bila mana berada di dalam alam akirat kerna tiada apa apa yang di lakukanya sewaktu hidup atas dunia melaikan lalai dan leka dengan tipu daya iblis nafsu dan bisikan syaitan .,,. sebagai mana penjelasan hadis riwayat ath tarmizi,.., dan muslim di bawah,.,.., Dunia adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangannya ialah istri yang saleh; jika suami memandangnya, maka ia membuat gembira suaminya; jika suami menyuruhnya, maka ia menaati suaminya; dan jika suami pergi, tidak ada di tempat, maka ia memelihara kehormatan dirinya dan harta benda suaminya.
Sabda Nabi Saw. dalam hadis yang lain, yaitu: «حُبِّبَ إِلَيَّ النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ» Aku dibuat senang kepada wanita dan wewangian, dan kesejukan hatiku dijadikan di dalam salatku. Siti Aisyah menceritakan bahwa tiada sesuatu pun yang lebih disukai oleh Rasulullah Saw. selain wanita kecuali kuda. Menurut riwayat yang lain disebutkan 'selain kuda kecuali wanita'. Senang kepada anak adakalanya karena dorongan membanggakan diri dan sebagai perhiasan yang juga termasuk ke dalam pengertian membanggakan diri. Adakalanya karena dorongan ingin memperbanyak keturunan dan memperbanyak umat Muhammad Saw. yang menyembah hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Maka hal ini baik lagi terpuji, seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis, yaitu: «تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ، فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» Nikahilah oleh kalian wanita-wanita yang keibuan lagi subur peranakannya, karena sesungguhnya aku memperbanyak umatku karena kalian kelak di hari kiamat. Cinta kepada harta adakalanya karena terdorong oleh faktor menyombongkan diri dan berbangga-banggaan, takabur terhadap orang-orang lemah, dan sombong terhadap orang-orang miskin. Hal ini sangat dicela. Tetapi adakalanya karena terdorong oleh faktor membelanjakannya di jalan-jalan yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan silaturahmi, serta amal-amal kebajikan dan ketaatan, hal ini sangat terpuji menurut syariat. Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang kadar qintar yang disebut oleh ayat ini, yang kesimpulannya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan qintar adalah harta yang banyak dan berlimpah, seperti yang dikatakan oleh Ad-Dahhak dan lain-lainnya. Menurut pendapat yang lain sejumlah seribu dinar, pendapat lainnya mengatakan seribu dua ratus dinar, pendapat yang lainnya mengatakan sejumlah dua belas ribu dinar, pendapat lain mengatakan empat puluh ribu dinar, pendapat yang lainnya lagi mengatakan enam puluh ribu dinar, dan ada yang mengatakan tujuh puluh ribu dinar, ada pula yang mengatakan delapan puluh ribu dinar, dan lain sebagainya. قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "القِنْطَارُ اثْنَا عَشَرَ ألْف أوقيَّةٍ، كُلُّ أوقِيَّةٍ خَيْر مِمَّا بَيْنَ السَّمَاءِ والأرْضِ". Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Asim, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Satu qintar adalah dua belas ribu auqiyah, tiap-tiap auqiyah lebih baik daripada apa yang ada di antara langit dan bumi. Ibnu Majah meriwayatkan pula hadis ini dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Abdus Samad ibnu Abdul Waris, dari Hammad ibnu Salamah dengan lafaz yang sama. Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Bandar, dari Ibnu Mahdi, dari Hammad ibnu Salamah, dari Asim ibnu Bahdalah, dari Zakwan Abu Saleh, dari Abu Hurairah secara mauquf (hanya sampai pada Abu Hurairah). Seperti yang terdapat pada riwayat Waki' di dalam kitab tafsirnya, disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Asim ibnu Bahdalah, dari Zakwan Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang mengatakan: Satu qintar adalah dua belas ribu auqiyah, satu auqiyah lebih baik daripada semua yang ada di antara langit dan bumi. Sanad riwayat ini lebih sahih. Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Mu'az ibnu Jabal dan Ibnu Umar. Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui Abu Hurairah dan Abu Darda, bahwa mereka (para sahabat) mengatakan, "Satu qintar adalah seribu dua ratus auqiyah." ثُمَّ قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي زَكَرِيَّا بْنُ يَحْيَى الضَّرِيرُ، حَدَّثَنَا شَبَابَةُ، حَدَّثَنَا مَخْلَد بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي مَيْمُونَةَ، عَنْ زِرّ بْنِ حُبَيْش عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "القِنْطَارُ ألْفُ أوقِيَّةٍ ومائَتَا أوقِيَّةٍ" Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Zakaria ibnu Yahya Ad-Darir (tuna netra), telah menceritakan kepada kami Syababah, telah menceritakan kepada kami Mukhallad ibnu Abdul Wahid, dari Ali ibnu Zaid, dari Ata dari Ibnu Abu Maimunah, dari Zurr ibnu Hubaisy, dari Ubay ibnu Ka'b yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Satu qintar adalah seribu dua ratus auqiyah. Hadis ini berpredikat munkar, lebih dekat kepada kebenaran ialah yang mengatakan bahwa hadis ini berpredikat mauquf hanya sampai pada Ubay ibnu Ka'b (tidak sampai kepada Nabi Saw.), sama halnya dengan yang lainnya dari kalangan sahabat. وَقَدْ رَوَى ابْنُ مَرْدُويَه، مِنْ طَرِيقِ مُوسَى بْنِ عُبَيْدة الرَبَذِي عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ يحنَّش أَبِي مُوسَى، عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ، عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَنْ قَرَأ مِائَةَ آيةٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِينَ، ومَنْ قَرَأ مِائَةَ آيةٍ إِلَى ألْف أصْبَح لَهُ قِنْطار مِنْ أجْرٍ عندَ اللَّهِ، القِنْطارُ مِنْهُ مِثلُ الجبَلِ العَظِيمِ". Ibnu Murdawaih meriwayatkan melalui jalur Musa ibnu Ubaidah Ar-Rabzi, dari Muhammad ibnu Ibrahim, dari Musa, dari Ummu Darda, dari Abu Darda yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa yang membaca seratus ayat, maka ia tidak dicatat sebagai orang-orang yang lalai; dan barang siapa yang membaca seratus ayat hingga seribu ayat, maka ia akan memiliki satu qintar pahala di sisi Allah. Satu qintar pahala sama banyaknya dengan sebuah bukit yang besar. Waki' meriwayatkan hal yang semakna dari Musa ibnu Ubaidah. Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Abbas Muhammad ibnu Ya'qub, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Isa ibnu Zaid Al-Lakhami, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amr ibnu Abu Salamah, telah menceritakan kepada kami Zuhair ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Humaid At-Tawil dan seorang lelaki lainnya, dari Anas ibnu Malik yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya mengenai makna firman-Nya: harta yang berlimpah. (Ali Imran: 14) Maka Nabi Saw. bersabda: «الْقِنْطَارُ أَلْفَا أُوقِيَّةٍ» satu qintar adalah dua ribu auqiyah. Hadis ini sahih dengan syarat Syaikhain, tetapi keduanya tidak mengetengahkannya. Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Hakim. Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya dengan lafaz yang lain. Untuk itu ia mengatakan: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الرَّقِّي، حدثنا عمرو ابن أَبِي سَلَمَةَ، حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ -يَعْنِي ابْنَ مُحَمَّدٍ-حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ وَرَجُلٌ آخَرُ قَدْ سَمَّاهُ-يَعْنِي يَزِيدَ الرَّقَاشي-عَنْ أَنَسٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ: قِنْطَارٌ، يَعْنِي: "أَلْفَ دِينَارٍ" telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdur Rahman Ar-Riqqi, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Abu Salamah, telah menceritakan kepada kami Zuhair (yakni Ibnu Muhammad), telah menceritakan kepada kami Humaid At-Tawil dan seorang lelaki yang disebutnya bernama Yazid Ar-Raqqasyi, dari Anas, dari Rasulullah Saw. dalam sabdanya yang mengatakan: bahwa satu qintar adalah seribu dinar. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Tabrani, dari Abdullah ibnu Muhammad ibnu Abu Maryam, dari Amr ibnu Abu Salamah, lalu ia menceritakan riwayat ini dengan sanad yang semisal. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri, dari Anas ibnu Malik secara mursal atau mauquf hanya sampai kepadanya yang isinya menyatakan bahwa satu qintar adalah seribu dua ratus dinar. Hal ini merupakan suatu riwayat yang dikemukakan oleh Al-Aufi dari Ibnu Abbas. Ad-Dahhak mengatakan bahwa sebagian orang Arab ada yang mengatakan satu qintar adalah seribu dua ratus dinar. Ada pula yang mengatakan dua belas ribu (dinar). Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Arim, dari Hammad, dari Sa'id Al-Harasi, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa'id Al-Khudri yang mengatakan bahwa satu qintar adalah sepenuh kulit banteng berisikan emas. Abu Muhammad mengatakan bahwa hal ini diriwayatkan oleh Muhammad ibnu Musa Al-Harasi, dari Hammad ibnu Zaid secara marfu', tetapi yang mauquf lebih sahih. Senang kuda ada tiga macam, adakalanya para pemiliknya memeliharanya untuk persiapan berjihad di jalan Allah; di saat mereka perlukan, maka mereka tinggal memakainya; mereka mendapat pahala dari usahanya itu. Adakalanya orang yang bersangkutan memelihara kuda untuk membanggakan diri dan melawan kaum muslim, maka pelakunya mendapat dosa dari perbuatannya. Adakalanya pula kuda dipelihara untuk diternakkan tanpa melupakan hak Allah yang ada padanya, maka bagi pemiliknya beroleh ampunan dari Allah Swt. زُيِّنَ لِلنَّاسِ " Diperhiaskan bagi manusia kesukaan kepada barang yang diingini, " (pangkal ayat 14). Di sini telah terdapat tiga kata. Pertama Zuyyina , artinya diperhiaskan. Maksudnya segala barang yang diingini itu ada. baiknya dan ada buruknya, tetapi apabila keinginan telah timbul, yang kelihatan hanya eloknya saja dan lupa akan buruk atau susahnya. Kata, kedua ialah Hubb , artinya kesukaan atau cinta. Kata ketiga ialah Syahwat , yaitu keinginan-keinginan yang menimbulkan selerayang menarik nafsu buat mempunyainya. -Maka disebutlah di sini enam macam hal yang manusia sangat menyukainya karena ingin hendak mempunyai dan menguasainya, sehingga yang nampak oleh manusia hanyalah keuntungannya saja, sehingga manusia tidak memperdulikan kepayahan buat naencintainya. حُبُّ الشَّهَواتِ مِنَ النِّساءِ وَ الْبَنينَ وَ الْقَناطيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَ الْفِضَّةِ وَ الْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَ الْأَنْعامِ وَ الْحَرْثِ " (yaitu) diri hal perempuan dan anak laki-laki, dan berpikul-pikul emas dan perak, dan kuda kendaraan yang di asuh , dan binatang-binatang tewrnak ; dan sawaah ladang " Itulah enam macam yang sangat disukai, diinginkan dan dengan berbagai macam usaha manusia ingin mempunyainya. ذلِكَ مَتاعُ الْحَياةِ الدُّنْيا " Yang demikian itulah perhiasan hidup di dunia. " Tegasnya bahwasanya semuanya itu. hanyalah perhiasan hiclup di dunia , niscaya usianya akan habis untuk itu, sedangkan perhiasan untuk di akhirat kelak dia tidak sedia. Padahal di belakang hidup yang sekarang ini ada lagi hidup yang akan dihadapi. Sesudah dunia adalah akhirat. Tuhan lebih tegaskan lagi: وَ اللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ Namun di sisi Allah ada (lagi) 5ebaik-baik tempat kembali . " (Ujung ayat 14). Di Ujung ayat diterangkan bahwa ada lagi yang lebih penting, entah berapa ribu kali lebih penting daripada perhiasan dunia itu, ialah sebaik-baik tempat kembali disediakan Allah. Sebab selama-lama hidup di dunia kita pasti kembali juga kepada Allah. Tuhan menyediakan bagi kita sebaik-baik tempat kembali itu.
Selasa, 30 Januari 2018
ali imran ayat 12-13
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK-10-AYAT12-13 SURAH ALI-IMRAN
قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا سَتُغْلَبُونَ وَتُحْشَرُونَ إِلَىٰ جَهَنَّمَ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا ۖ فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَىٰ كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ ۚ وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ
Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 12 Qul lillazina kafaru_ satuglabu_na wa tuhsyaru_na ila_ jahannam(a), wa bi'sal miha_d(u).Ayat 13 Qad ka_na lakum a_yatun fi fi'atainiltaqata_, fi'atun tuqa_tilu fi sabililla_hi wa ukhra_ ka_firatuy yaraunahum mislaihim ra'yal 'ain(i), walla_hu yu'ayyidu bi nasrihi may yasya_'(u), inna fi za_lika la'ibratal li ulil absa_r(i). “Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: ‘Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam Neraka Jahannam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya.’ (QS. 3:12)
Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kalijumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. (QS. 3:13)
Ayat ini turun ketika Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan orang-orang Yahudi masuk Islam sepulang Beliau dari peperangan Badar, lalu mereka mengatakan, "Janganlah sekali-kali membuat anda terpedaya karena berhasil membunuh beberapa orang Quraisy yang tidak ahli dan tidak mengenal taktik perang". Peperagan yang berlaku pertengahan Muharram tahun kedua dari hijrah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar Madinah dengan dua ratus pasukan. Tindakan ini beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ambil, setelah mendengar ada persekongkolan untuk menyerang kaum Muslimin yang dilakukan oleh kabilah-kabilah yang selama ini meraup keuntungan dari bisnis kaum Quraisy, karena daerah mereka dilalui oleh kafilah dagang Quraisy.
Di antaranya adalah kabilah-kabilah dari Bani Sulaim dan Bani Ghatafân serta beberapa kabilah lainnya. Mereka berkumpul di Qarqarah al-Kudri yaitu sumber mata air milik Bani Sulaim. Baik dengan dibunuh, ditawan maupun dengan ditetapkan membayar jizyah (pajak), dan hal itu telah terjadi. Allah berfirman: “Wahai Muhammad, katakanlah kepada orang-orang kafir: ‘Kalian akan dikalahkan,’ yakni di dunia, ‘dan kalian kelak akan dikumpulkan,’ yakni pada hari Kiamat, di Neraka Jahannam, suatu tempat yang paling buruk.” Yakni pelajaran yang dalam. Kamu di sini adalah "Orang-orang Yahudi yang sombong".
Pertemuan dua golongan itu antara kaum muslimin dengan kaum musyrikin terjadi dalam perang Badar. Badar nama suatu tempat yang terletak di selatan Madinah. Yaitu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Jika melihat kepada sebab yang nampak, seperti jumlah dan perlengkapan, maka kaum muslimin nampaknya akan kalah. Jumlah mereka hanya tiga ratus orang lebih, sedangkan jumlah musuh sekitar seribu orang. Terlebih dengan perlengkapan mereka yang kurang, yang menaiki kuda hanya dua orang, sedangkan selebihnya berjalan kaki. Namun di balik semua ini ada sebab terbesar yang menjadikan mereka menang, yaitu pertolongan Allah Azza wa Jalla. (Sesungguhnya bagi kamu ada tanda) atau pelajaran, lalu hal itu disebutkan untuk penjelasan (pada dua golongan) dua puak (yang bertemu) di hari Badar untuk berperang (segolongan bertempur di jalan Allah) untuk menaati perintah-Nya, yaitu Nabi saw. bersama para sahabat. Mereka berjumlah 313 orang laki-laki termasuk beberapa orang berkuda, enam buah ketopong besi dan delapan buah pedang, sedangkan kebanyakan mereka adalah berjalan kaki (dan yang lain kafir, yang melihat mereka) maksudnya kaum muslimin (dua kali lipat mereka) artinya jumlah mereka kaum muslimin kelihatan dua kali banyak dari jumlah mereka yang lebih kurang seribu orang, (yaitu penglihatan dengan mata kepala) artinya menurut pandangan lahir. Ini termasuk pertolongan Allah kepada kaum muslimin yang berjumlah sedikit. (Dan Allah menyokong) menguatkan (dengan pertolongan-Nya siapa yang disukai-Nya) untuk ditolong. (Sesungguhnya pada yang demikian itu) maksudnya yang disebutkan tadi (menjadi pelajaran bagi orang yang mempunyai mata hati). Kenapa kamu tidak mengambil pelajaran pula lalu kamu beriman? Muhammad bin Ishaq bin Yasar pernah menceritakan, dari ‘Ashim bin ‘Amr bin Qatadah, bahwa Rasulullah setelah memenangkan perang Badar dan sekembalinya ke Madinah, beliau mengumpulkan orang-orang Yahudi di sebuah pasar Bani Qainuga’ dan bersabda: “Wahai orang-orang Yahudi, masuklah Islam sebelum Allah menimpakan kepada kalian dengan apa yang telah ditimpakan kepada kaum Quraisy.” Maka mereka pun berkata: “Hai Muhammad, engkau jangan terperdaya oleh dirimu sendiri karena keberhasilanmu membunuh beberapa orang kaum Quraisy. Keberhasilan itu disebabkan oleh kebodohan mereka yang tidak mengetahui strategi berperang. Demi Allah, jika kamu memerangi kami, maka kamu akan mengetahui bahwa kami adalah orang-orang yang istimewa, dan kamu tidak menjumpai orang seperti kami.” Berkenaan dengan perkataan mereka ini maka Allah menurunkan firman-Nya: Katakanlah kepada orang-orang yang kafir, kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam Neraka Jahannam. Dan itu tempat yang seburuk-buruknya sampai dengan firman-Nya terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. ” Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Abi Muhammad dari Sa’id dan’Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas. Oleh karena itu Allah swt. berfirman, qad kaana lakum (“Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu.”) Maksudnya, telah datang kepada kalian, wahai orang-orang Yahudi, tanda yang menunjukkan bahwa Allah selalu memuliakan agama-Nya, menolong Rasul-Nya, serta memperlihatkan kalimat-Nya, dan meninggikan urusan-Nya; fii fi-ataini (“Pada dua golongan,”) al taqata (“Yang telah bertemu,”) untuk bertempur; fi-atun tuqaatilu fii sabiilillaaHi wa ukhraa kaafiratun (“segolongan berperang di jalan Allah dan segolongan yang lain kafir.”) mereka adalah orang-orang musyrik dari kaum Quraisy pada hari perang Badar. Firman-Nya: yaraunaHum mits-laiHim ra’yal ‘ain (“yang dengan mata kepala melihat [seakan-akan] orang Islam itu dua kali lipat jumlah mereka.”) seperti yang dikatakan Ibnu Jarir sebagian ulama mengatakan [pendapat pertama]: “Orang-orang musyrik pada perang Badar melihat dengan mata kepala sendiri bahwa kaum muslimin berjumlah dua kali lipat dari jumlah mereka. yakni Allah telah menjadikan apa yang mereka lihat itu sebagai penyebab kemenangan kaum Muslimin terhadap mereka. Hal ini bukanlah sesuatu yang aneh, melainkan hanya dengan satu hal, yaitu orang-orang musyrik mengutus ‘Umar bin Sa’ad hari itu sebelum perang terjadi untuk memata-matai kaum Muslimin lalu dia memberitahukan kepada mereka bahwa jumlah kaum muslimin sekitar 300 orang. Dan ketika perang terjadi, Allah menambah jumlah mereka dengan 1.000 pasukan pilihan dan pasukan utama dari para malaikat.” Pendapat kedua adalah bahwa firman Allah: yaraunaHum mits-laiHim ra’yal ‘ain (“yang dengan mata kepala melihat [seakan-akan] orang Islam itu dua kali lipat jumlah mereka.”) yaitu pasukan kaum Muslimin melihat kaum kafir dua kali jumlah mereka. Tetapi walaupun begitu, Allah memenangkan kaum Muslimin atas orang-orang kafir itu. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Yazid bin Ruman dari ‘Urwah bin az-Zubair bahwasannya Rasulullah saw. menanyakan kepada seorang budak hitam dari bani Hajjaj mengenai jumlah orang-orang Quraisy, maka dia menjawab, “Banyak.” “Berapa banyak mereka menyembelih unta setiap harinya?” tanya Rasulullah, dia pun menjawab, “Terkadang sehari sembilan dan terkadang sepuluh.” Lalu beliau berujar, “Jumlah mereka itu antara sembilan ratus atau seribu orang.” Yang terkenal, jumlah mereka itu sembilan ratus sampai seribu orang, dengan perkiraan apapun yang jelas jumlah mereka tiga kali lipat jumlah kaum muslimin. Oleh karena itu pendapat kedua bermasalah. wallaaHu a’lam. Akan tetapi Ibnu Jarir membenarkan hal itu, ia berujar bahwa yang demikian itu sama halnya ketika anda mengatakan, “Aku memiliki uang seribu, dan masih membutuhkan dua kali lipat jumlah itu, berarti anda masih membutuhkan tiga ribu, dengan demikian maka pendapat ini tidak ada kejanggalan.” wallaaHu yu-ayyidu binash-riHii may yasyaa-u inna fii dzaalika la’ib-ratal li ulil ab-shaar (“Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.”) yaitu bahwa dalam peristiwa itu terkandung pelajaran bagi orang-orang yang memiliki pandangan dan pemikiran, agar dengan pelajaran itu mereka memperoleh petunjuk menuju ketentuan hukum, perbuatan dan ketetapan Allah yang berlangsung dengan cara memenangkan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia ini dan pada hari Kiamat kelak.
قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا سَتُغْلَبُونَ وَتُحْشَرُونَ إِلَىٰ جَهَنَّمَ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا ۖ فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَىٰ كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ ۚ وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ
Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 12 Qul lillazina kafaru_ satuglabu_na wa tuhsyaru_na ila_ jahannam(a), wa bi'sal miha_d(u).Ayat 13 Qad ka_na lakum a_yatun fi fi'atainiltaqata_, fi'atun tuqa_tilu fi sabililla_hi wa ukhra_ ka_firatuy yaraunahum mislaihim ra'yal 'ain(i), walla_hu yu'ayyidu bi nasrihi may yasya_'(u), inna fi za_lika la'ibratal li ulil absa_r(i). “Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: ‘Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam Neraka Jahannam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya.’ (QS. 3:12)
Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kalijumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. (QS. 3:13)
Ayat ini turun ketika Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan orang-orang Yahudi masuk Islam sepulang Beliau dari peperangan Badar, lalu mereka mengatakan, "Janganlah sekali-kali membuat anda terpedaya karena berhasil membunuh beberapa orang Quraisy yang tidak ahli dan tidak mengenal taktik perang". Peperagan yang berlaku pertengahan Muharram tahun kedua dari hijrah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar Madinah dengan dua ratus pasukan. Tindakan ini beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ambil, setelah mendengar ada persekongkolan untuk menyerang kaum Muslimin yang dilakukan oleh kabilah-kabilah yang selama ini meraup keuntungan dari bisnis kaum Quraisy, karena daerah mereka dilalui oleh kafilah dagang Quraisy.
Di antaranya adalah kabilah-kabilah dari Bani Sulaim dan Bani Ghatafân serta beberapa kabilah lainnya. Mereka berkumpul di Qarqarah al-Kudri yaitu sumber mata air milik Bani Sulaim. Baik dengan dibunuh, ditawan maupun dengan ditetapkan membayar jizyah (pajak), dan hal itu telah terjadi. Allah berfirman: “Wahai Muhammad, katakanlah kepada orang-orang kafir: ‘Kalian akan dikalahkan,’ yakni di dunia, ‘dan kalian kelak akan dikumpulkan,’ yakni pada hari Kiamat, di Neraka Jahannam, suatu tempat yang paling buruk.” Yakni pelajaran yang dalam. Kamu di sini adalah "Orang-orang Yahudi yang sombong".
Pertemuan dua golongan itu antara kaum muslimin dengan kaum musyrikin terjadi dalam perang Badar. Badar nama suatu tempat yang terletak di selatan Madinah. Yaitu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Jika melihat kepada sebab yang nampak, seperti jumlah dan perlengkapan, maka kaum muslimin nampaknya akan kalah. Jumlah mereka hanya tiga ratus orang lebih, sedangkan jumlah musuh sekitar seribu orang. Terlebih dengan perlengkapan mereka yang kurang, yang menaiki kuda hanya dua orang, sedangkan selebihnya berjalan kaki. Namun di balik semua ini ada sebab terbesar yang menjadikan mereka menang, yaitu pertolongan Allah Azza wa Jalla. (Sesungguhnya bagi kamu ada tanda) atau pelajaran, lalu hal itu disebutkan untuk penjelasan (pada dua golongan) dua puak (yang bertemu) di hari Badar untuk berperang (segolongan bertempur di jalan Allah) untuk menaati perintah-Nya, yaitu Nabi saw. bersama para sahabat. Mereka berjumlah 313 orang laki-laki termasuk beberapa orang berkuda, enam buah ketopong besi dan delapan buah pedang, sedangkan kebanyakan mereka adalah berjalan kaki (dan yang lain kafir, yang melihat mereka) maksudnya kaum muslimin (dua kali lipat mereka) artinya jumlah mereka kaum muslimin kelihatan dua kali banyak dari jumlah mereka yang lebih kurang seribu orang, (yaitu penglihatan dengan mata kepala) artinya menurut pandangan lahir. Ini termasuk pertolongan Allah kepada kaum muslimin yang berjumlah sedikit. (Dan Allah menyokong) menguatkan (dengan pertolongan-Nya siapa yang disukai-Nya) untuk ditolong. (Sesungguhnya pada yang demikian itu) maksudnya yang disebutkan tadi (menjadi pelajaran bagi orang yang mempunyai mata hati). Kenapa kamu tidak mengambil pelajaran pula lalu kamu beriman? Muhammad bin Ishaq bin Yasar pernah menceritakan, dari ‘Ashim bin ‘Amr bin Qatadah, bahwa Rasulullah setelah memenangkan perang Badar dan sekembalinya ke Madinah, beliau mengumpulkan orang-orang Yahudi di sebuah pasar Bani Qainuga’ dan bersabda: “Wahai orang-orang Yahudi, masuklah Islam sebelum Allah menimpakan kepada kalian dengan apa yang telah ditimpakan kepada kaum Quraisy.” Maka mereka pun berkata: “Hai Muhammad, engkau jangan terperdaya oleh dirimu sendiri karena keberhasilanmu membunuh beberapa orang kaum Quraisy. Keberhasilan itu disebabkan oleh kebodohan mereka yang tidak mengetahui strategi berperang. Demi Allah, jika kamu memerangi kami, maka kamu akan mengetahui bahwa kami adalah orang-orang yang istimewa, dan kamu tidak menjumpai orang seperti kami.” Berkenaan dengan perkataan mereka ini maka Allah menurunkan firman-Nya: Katakanlah kepada orang-orang yang kafir, kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam Neraka Jahannam. Dan itu tempat yang seburuk-buruknya sampai dengan firman-Nya terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. ” Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Abi Muhammad dari Sa’id dan’Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas. Oleh karena itu Allah swt. berfirman, qad kaana lakum (“Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu.”) Maksudnya, telah datang kepada kalian, wahai orang-orang Yahudi, tanda yang menunjukkan bahwa Allah selalu memuliakan agama-Nya, menolong Rasul-Nya, serta memperlihatkan kalimat-Nya, dan meninggikan urusan-Nya; fii fi-ataini (“Pada dua golongan,”) al taqata (“Yang telah bertemu,”) untuk bertempur; fi-atun tuqaatilu fii sabiilillaaHi wa ukhraa kaafiratun (“segolongan berperang di jalan Allah dan segolongan yang lain kafir.”) mereka adalah orang-orang musyrik dari kaum Quraisy pada hari perang Badar. Firman-Nya: yaraunaHum mits-laiHim ra’yal ‘ain (“yang dengan mata kepala melihat [seakan-akan] orang Islam itu dua kali lipat jumlah mereka.”) seperti yang dikatakan Ibnu Jarir sebagian ulama mengatakan [pendapat pertama]: “Orang-orang musyrik pada perang Badar melihat dengan mata kepala sendiri bahwa kaum muslimin berjumlah dua kali lipat dari jumlah mereka. yakni Allah telah menjadikan apa yang mereka lihat itu sebagai penyebab kemenangan kaum Muslimin terhadap mereka. Hal ini bukanlah sesuatu yang aneh, melainkan hanya dengan satu hal, yaitu orang-orang musyrik mengutus ‘Umar bin Sa’ad hari itu sebelum perang terjadi untuk memata-matai kaum Muslimin lalu dia memberitahukan kepada mereka bahwa jumlah kaum muslimin sekitar 300 orang. Dan ketika perang terjadi, Allah menambah jumlah mereka dengan 1.000 pasukan pilihan dan pasukan utama dari para malaikat.” Pendapat kedua adalah bahwa firman Allah: yaraunaHum mits-laiHim ra’yal ‘ain (“yang dengan mata kepala melihat [seakan-akan] orang Islam itu dua kali lipat jumlah mereka.”) yaitu pasukan kaum Muslimin melihat kaum kafir dua kali jumlah mereka. Tetapi walaupun begitu, Allah memenangkan kaum Muslimin atas orang-orang kafir itu. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Yazid bin Ruman dari ‘Urwah bin az-Zubair bahwasannya Rasulullah saw. menanyakan kepada seorang budak hitam dari bani Hajjaj mengenai jumlah orang-orang Quraisy, maka dia menjawab, “Banyak.” “Berapa banyak mereka menyembelih unta setiap harinya?” tanya Rasulullah, dia pun menjawab, “Terkadang sehari sembilan dan terkadang sepuluh.” Lalu beliau berujar, “Jumlah mereka itu antara sembilan ratus atau seribu orang.” Yang terkenal, jumlah mereka itu sembilan ratus sampai seribu orang, dengan perkiraan apapun yang jelas jumlah mereka tiga kali lipat jumlah kaum muslimin. Oleh karena itu pendapat kedua bermasalah. wallaaHu a’lam. Akan tetapi Ibnu Jarir membenarkan hal itu, ia berujar bahwa yang demikian itu sama halnya ketika anda mengatakan, “Aku memiliki uang seribu, dan masih membutuhkan dua kali lipat jumlah itu, berarti anda masih membutuhkan tiga ribu, dengan demikian maka pendapat ini tidak ada kejanggalan.” wallaaHu yu-ayyidu binash-riHii may yasyaa-u inna fii dzaalika la’ib-ratal li ulil ab-shaar (“Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.”) yaitu bahwa dalam peristiwa itu terkandung pelajaran bagi orang-orang yang memiliki pandangan dan pemikiran, agar dengan pelajaran itu mereka memperoleh petunjuk menuju ketentuan hukum, perbuatan dan ketetapan Allah yang berlangsung dengan cara memenangkan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia ini dan pada hari Kiamat kelak.
Isnin, 29 Januari 2018
Ayat 11 ali-imran
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK-10,AYAT 11, ALI-IMRAN
كَدَأْبِ آلِ فِرْعَوْنَ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ ۗ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 11
Kada'bi a_li fir'aun(a), wallazina min qablihim, kazzabu_ bi a_ya_tina_ fa akhazahumulla_hu bi zunu_bihim, walla_hu syadidul 'iqa_b(i). (keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir'aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya. (Seperti adat kebiasaan kaum Firaun dan orang-orang sebelum mereka) seperti kaum Ad dan Tsamud (mereka mendustakan ayat-ayat Kami hingga dicelakakan Allah) dibinasakan-Nya (disebabkan dosa-dosa mereka). Perkataan ini menafsirkan perkataan yang sebelumnya. (Dan Allah sangat keras siksa-Nya). Ayat berikut turun ketika Nabi saw. menyuruh orang-orang Yahudi masuk Islam sekembalinya dari perang Badar, maka jawab mereka, "Janganlah kamu teperdaya mentang-mentang berhasil membunuh gerombolan Quraisy yang kacau balau dan tidak tahu memegang senjata." Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang dan pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan kepada para malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”. [QS. Ghafir/ 40: 46].
Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy rahimahullah, “Terdapat pengkhabaran bahwasanya ruh-ruh para pengikut Fir’aun itu akan selalu diperlihatkan neraka kepada mereka setiap pagi dan petang. Hal itu karena keberadaan ruh-ruh mereka itu berada di rongga burung-burung hitam yang berbeda dengan ruh-ruh orang mukmin yang berada di rongga burung-burung hijau yang memakan (makanan) di surga sampai hari kiamat”. [4] Di sini Allah berfirman: innalladziina kafaruu (“Sesungguhnya orang-orang kafir”) yaitu kafir terhadap ayat-ayat Allah dan mendustakan para Rasul-Nya dan menentang Kitab-Nya, mereka tidak mengambil manfaat dari kitab yang diwahyukan kepada para Nabi-Nya; lan tughniya ‘anHum amwaaluHum wa laa aulaaduHum minal llaaHi syai-aw wa ulaa-ika Hum waquudun naar (“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. dan mereka itu adalah bahan Bakar api neraka.”) yakni kayu bakar yang menjadikan api neraka menyala dan berkobar-kobar. Sebagaimana yang difirmankan-Nya: innakum wa maa ta’buduuna min duunillaaHi hashabu jaHannama (“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu ibadahi selain Allah adalah umpan jahanam.”) (al-Anbiyaa’: 98) Firman-Nya: kada’bi aali fir’auna (“[Keadaan mereka] seperti keadaan kaum Fir’aun”) adh-Dhahhak mengatakan dari Ibnu ‘Abbas: “Seperti apa yang dikerjakan oleh pengikut Fir’aun” demikian juga yang diriwayatkan dari ‘Ikrimah, Mujahid, Abu Malik, adh-Dhahhak dan lain-lain. Di antara mereka ada yang mengatakan, “Seperti yang diperbuat oleh pengikut Fir’aun.” Dan ungkapan-ungkapan lainnya yang maknanya tidak jauh berbeda. “Ad-da’bun” atau “ada-abun” sama [wazannya] dengan kata: “naHrun” [sungai] dan kata “naHarun” yang berarti perbuatan, keadaan, perihal, urusan, dan kebiasaan.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami ibnu Luhai'ah, telah menceritakan kepadaku Ibnul Had, dari Hindun bintil Haris, dari Ummul Fadl (yaitu Ummu Abdullah ibnu Abbas) yang menceritakan: Ketika kami berada di Mekah, maka di suatu malam Rasulullah Saw. bangkit, lalu berseru, "Apakah aku telah menyampaikan, ya Allah, apakah aku telah menyampaikan," sebanyak tiga kali. Maka Umar ibnul Khatlab r.a. bangkit, lalu menjawab, "Ya." Kemudian pada pagi harinya Rasulullah Saw. bersabda, "Islam benar-benar akan menang hingga kekufuran dikembalikan ke tempat asalnya, dan sesungguhnya banyak lelaki yang menempuh laut berkat Islam. Dan benar-benar akan datang suatu masa atas manusia, mereka mempelajari Al-Qur'an dan membacanya, kemudian mereka mengatakan, 'Kami telah membaca dan mengetahui(nya). Maka siapakah orang-orang yang lebih baik daripada kami ini, apakah di antara mereka terdapat kebaikan'?" Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah mereka itu?" Rasulullah Saw. menjawab," Mereka dari kalangan kalian, tetapi mereka adalah bahan bakar neraka." Atau kata Umru-ul Qais pernah bersya’ir: Yang membuat temanku berhenti di atas kendaraannya karena dia. Mereka berkata: “Janganlah kau hancurkan dirimu karena putus asa, tapi kuatkanlah hatimu. Seperti kebiasaanmu terhadap Ummul Huwairits sebelumnya. Dan budaknya, Ummur Rabab di Ma’sal.” Maknanya (da-bika, dalam sya’ir di atas) adalah, seperti kebiasaanmu terhadap Ummul Huwairits, yaitu ketika engkau menghancurkan dirimu dengan cinta yang kau berikan kepadanya, lalu kamu menangisi rumah dan bekas-bekas yang ditinggalkannya. Sedangkan makna ayat di atas adalah bahwa harta kekayaan dan anak-anak orang-orang kafir itu tidak lagi bermanfaat bagi mereka, bahkan sebaliknya akan menghancurkan dan menyiksa mereka, sebagaimana yang dialami oleh para pengikut Fir’aun dan orang-orang sebelum mereka, yaitu yang mendustakan para Rasul dan apa yang dibawa oleh mereka dari ayat-ayat Allah dan hujjah-hujjah-Nya. Firman-Nya, wallaaHu syadiidul ‘iqaab (“Dan Allah sangat keras siksa-Nya.”) Artinya, hukuman-Nya sangat berat dan siksa-Nya pun sangat pedih, yang tidak ada seorang pun yang dapat menolaknya dan tidak ada sesuatu pun yang luput dari-Nya, bahkan Dia berbuat apa raja yang dikehendaki-Nya, Dia telah menundukkan segala sesuatu, tiada Ilah (yang haq) dan tiada Rabb melainkan Dia. Dari Hudzaifah radliyallahu anhu dari NabiShallallahu alaihi wa sallam bercerita, “Pernah terjadi seseorang sebelum kalian berburuk sangka dengan amal perbuatannya. Ia berkata kepada keluarganya, ‘Apabila aku telah mati, maka ambil tindakan kepadaku (yakni di dalam riwayat yang lain, “bakarlah aku”) lalu taburkanlah (abuku) di lautan pada waktu hari panas terik. Kemudian merekapun melakukan (perintahnya). Lalu Allah Subhanahu wa ta’ala mengumpulkannya (kembali jasadnya) lalu berfirman, Apa yang mendorongmu untuk mengerjakan hal itu?”. Ia menjawab, “Tidak ada yang mendorongku untuk melakukannya kecuali karena rasa takut kepada-Mu”. Maka Allahpun mengampuninya. [HR al-Bukhoriy: 6480, 6841].
كَدَأْبِ آلِ فِرْعَوْنَ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ ۗ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 11
Kada'bi a_li fir'aun(a), wallazina min qablihim, kazzabu_ bi a_ya_tina_ fa akhazahumulla_hu bi zunu_bihim, walla_hu syadidul 'iqa_b(i). (keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir'aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya. (Seperti adat kebiasaan kaum Firaun dan orang-orang sebelum mereka) seperti kaum Ad dan Tsamud (mereka mendustakan ayat-ayat Kami hingga dicelakakan Allah) dibinasakan-Nya (disebabkan dosa-dosa mereka). Perkataan ini menafsirkan perkataan yang sebelumnya. (Dan Allah sangat keras siksa-Nya). Ayat berikut turun ketika Nabi saw. menyuruh orang-orang Yahudi masuk Islam sekembalinya dari perang Badar, maka jawab mereka, "Janganlah kamu teperdaya mentang-mentang berhasil membunuh gerombolan Quraisy yang kacau balau dan tidak tahu memegang senjata." Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang dan pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan kepada para malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”. [QS. Ghafir/ 40: 46].
Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy rahimahullah, “Terdapat pengkhabaran bahwasanya ruh-ruh para pengikut Fir’aun itu akan selalu diperlihatkan neraka kepada mereka setiap pagi dan petang. Hal itu karena keberadaan ruh-ruh mereka itu berada di rongga burung-burung hitam yang berbeda dengan ruh-ruh orang mukmin yang berada di rongga burung-burung hijau yang memakan (makanan) di surga sampai hari kiamat”. [4] Di sini Allah berfirman: innalladziina kafaruu (“Sesungguhnya orang-orang kafir”) yaitu kafir terhadap ayat-ayat Allah dan mendustakan para Rasul-Nya dan menentang Kitab-Nya, mereka tidak mengambil manfaat dari kitab yang diwahyukan kepada para Nabi-Nya; lan tughniya ‘anHum amwaaluHum wa laa aulaaduHum minal llaaHi syai-aw wa ulaa-ika Hum waquudun naar (“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. dan mereka itu adalah bahan Bakar api neraka.”) yakni kayu bakar yang menjadikan api neraka menyala dan berkobar-kobar. Sebagaimana yang difirmankan-Nya: innakum wa maa ta’buduuna min duunillaaHi hashabu jaHannama (“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu ibadahi selain Allah adalah umpan jahanam.”) (al-Anbiyaa’: 98) Firman-Nya: kada’bi aali fir’auna (“[Keadaan mereka] seperti keadaan kaum Fir’aun”) adh-Dhahhak mengatakan dari Ibnu ‘Abbas: “Seperti apa yang dikerjakan oleh pengikut Fir’aun” demikian juga yang diriwayatkan dari ‘Ikrimah, Mujahid, Abu Malik, adh-Dhahhak dan lain-lain. Di antara mereka ada yang mengatakan, “Seperti yang diperbuat oleh pengikut Fir’aun.” Dan ungkapan-ungkapan lainnya yang maknanya tidak jauh berbeda. “Ad-da’bun” atau “ada-abun” sama [wazannya] dengan kata: “naHrun” [sungai] dan kata “naHarun” yang berarti perbuatan, keadaan, perihal, urusan, dan kebiasaan.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami ibnu Luhai'ah, telah menceritakan kepadaku Ibnul Had, dari Hindun bintil Haris, dari Ummul Fadl (yaitu Ummu Abdullah ibnu Abbas) yang menceritakan: Ketika kami berada di Mekah, maka di suatu malam Rasulullah Saw. bangkit, lalu berseru, "Apakah aku telah menyampaikan, ya Allah, apakah aku telah menyampaikan," sebanyak tiga kali. Maka Umar ibnul Khatlab r.a. bangkit, lalu menjawab, "Ya." Kemudian pada pagi harinya Rasulullah Saw. bersabda, "Islam benar-benar akan menang hingga kekufuran dikembalikan ke tempat asalnya, dan sesungguhnya banyak lelaki yang menempuh laut berkat Islam. Dan benar-benar akan datang suatu masa atas manusia, mereka mempelajari Al-Qur'an dan membacanya, kemudian mereka mengatakan, 'Kami telah membaca dan mengetahui(nya). Maka siapakah orang-orang yang lebih baik daripada kami ini, apakah di antara mereka terdapat kebaikan'?" Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah mereka itu?" Rasulullah Saw. menjawab," Mereka dari kalangan kalian, tetapi mereka adalah bahan bakar neraka." Atau kata Umru-ul Qais pernah bersya’ir: Yang membuat temanku berhenti di atas kendaraannya karena dia. Mereka berkata: “Janganlah kau hancurkan dirimu karena putus asa, tapi kuatkanlah hatimu. Seperti kebiasaanmu terhadap Ummul Huwairits sebelumnya. Dan budaknya, Ummur Rabab di Ma’sal.” Maknanya (da-bika, dalam sya’ir di atas) adalah, seperti kebiasaanmu terhadap Ummul Huwairits, yaitu ketika engkau menghancurkan dirimu dengan cinta yang kau berikan kepadanya, lalu kamu menangisi rumah dan bekas-bekas yang ditinggalkannya. Sedangkan makna ayat di atas adalah bahwa harta kekayaan dan anak-anak orang-orang kafir itu tidak lagi bermanfaat bagi mereka, bahkan sebaliknya akan menghancurkan dan menyiksa mereka, sebagaimana yang dialami oleh para pengikut Fir’aun dan orang-orang sebelum mereka, yaitu yang mendustakan para Rasul dan apa yang dibawa oleh mereka dari ayat-ayat Allah dan hujjah-hujjah-Nya. Firman-Nya, wallaaHu syadiidul ‘iqaab (“Dan Allah sangat keras siksa-Nya.”) Artinya, hukuman-Nya sangat berat dan siksa-Nya pun sangat pedih, yang tidak ada seorang pun yang dapat menolaknya dan tidak ada sesuatu pun yang luput dari-Nya, bahkan Dia berbuat apa raja yang dikehendaki-Nya, Dia telah menundukkan segala sesuatu, tiada Ilah (yang haq) dan tiada Rabb melainkan Dia. Dari Hudzaifah radliyallahu anhu dari NabiShallallahu alaihi wa sallam bercerita, “Pernah terjadi seseorang sebelum kalian berburuk sangka dengan amal perbuatannya. Ia berkata kepada keluarganya, ‘Apabila aku telah mati, maka ambil tindakan kepadaku (yakni di dalam riwayat yang lain, “bakarlah aku”) lalu taburkanlah (abuku) di lautan pada waktu hari panas terik. Kemudian merekapun melakukan (perintahnya). Lalu Allah Subhanahu wa ta’ala mengumpulkannya (kembali jasadnya) lalu berfirman, Apa yang mendorongmu untuk mengerjakan hal itu?”. Ia menjawab, “Tidak ada yang mendorongku untuk melakukannya kecuali karena rasa takut kepada-Mu”. Maka Allahpun mengampuninya. [HR al-Bukhoriy: 6480, 6841].
Ahad, 28 Januari 2018
ayat 9-10 ali-imran
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK-10-AYAT 9-10
SURAH ALI-IMRAN Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 9\
Rabbana_ innaka ja_mi'un na_si li yaumil la_ raiba fih(i), innalla_ha la_ yukhliful mi'a_d(a).Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 10 Innal lazina kafaru_ lan tugniya 'anhum amwa_luhum wa la_ aula_duhum minalla_hi syai'a_(n), wa ula_'ika hum waqu_dun na_r
(i). رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلا أَوْلادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَأُولَئِكَ هُمْ وَقُودُ النَّارِ (١٠) "
Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya". Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.10. Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikit pun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka[1]. dan mereka itu (menjadi) bahan bakar api neraka. Tujuan dari do'a ini adalah menjelaskan bahwa hati mereka tertuju kepada akhirat. Oleh karena itu, mereka meminta keteguhan di atas hidayah agar memperoleh pahalanya.
Pada beberapa ayat di atas, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memuji orang-orang yang ilmunya mendalam dengan tujuh sifat yang merupakan tanda kebahagiaan:[1] Anak dan harta tidaklah bermanfaat bagi seorang hamba, yang bermanfaat hanyalah iman dan amal shalih. (Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau akan mengumpulkan manusia) menghimpun mereka (untuk suatu hari) maksudnya pada suatu hari (yang tak ada keraguan) atau kebimbangan (padanya) yakni hari kiamat, maka Engkau balas amal perbuatan mereka sebagaimana telah Engkau janjikan. (Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.") yakni janji-Nya tentang saat berbangkit.
Di sini terdapat peralihan pembicaraan dan kemungkinan ia merupakan firman Allah swt. Adapun maksud dari doa seperti itu ialah untuk menyatakan bahwa pusat perhatian mereka ialah soal akhirat. Oleh sebab itulah mereka memohon agar tetap berada dalam hidayah atau petunjuk Allah hingga beroleh pahala. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim melalui Aisyah r.a. katanya, "Rasulullah saw. membaca ayat, 'Dialah yang telah menurunkan kepadamu kitab, di antara isinya ialah ayat-ayat yang muhkamat...' dan seterusnya lalu sabdanya, 'Apabila kamu lihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat mereka itulah yang disebutkan oleh Allah, maka waspadalah terhadap mereka.'" Diriwayatkan pula oleh Thabrani dalam Al-Kabir melalui Abu Musa Al-Asyari, bahwa ia mendengar Nabi saw. bersabda, "Tidak ada yang aku khawatirkan terhadap umatku, kecuali tiga perkara yang di antaranya ialah akan dimudahkan bagi mereka mempelajari Alquran, tetapi orang mukmin mencari-cari takwil yang mutasyabihat, padahal tidak ada yang tahu akan takwilnya itu kecuali Allah, sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan, 'Kami beriman padanya, semuanya dari sisi Tuhan kami dan tidaklah yang beroleh peringatan kecuali orang-orang yang berakal.'" (Hadis)
Dari ayat ini menjelaskan setiap pahala pahala atau ganjaran ganjaran yang allah berikan kepada yang sesiapa yang layak sebagai mana amalan seseorang bila mana di timbang di al mizan maka akan ada suatu masa di mana di namakan hari balas membalas .,.anak pinak isteri dan keluarga tak mampu menyelamatkan sesiapa jua ., dan tiap amalan dan dosa hanya untuk tuan nya sendiri tiada seorang pun akan menanggung sebesar zarah pun dosa orang lain dan tiada pula teraniaya seorang pun di akirat kelak melaikan setelah dibalas.,., ,,. jika di dunia kita melakukan dosa dosa besar yang mana bukan dari syirik mendua atau menyekutu allah sebagai mana dosa dosa mencuri kelak akan di beri pahala pahala yang ketika hidup amalan baik nya di curi balas dan di beri pada orang yang pernah di curi.,,. sebagai mana membunuh ketika mana hidup atas dunia maka orang orang di bawah tanggungan orang yang terbunuh secara automatik akan di beri aman atas tanggugan nya baik makan atau pakaian dan pendidikan ,. kelak di hari balas membalas di beri amalan kebaikan pada si mati atas perbuatan nya dan di bunuh balas di akirat kelak,..,,. sebagai mana perbuatan meminum air arak maka seluruh amalan nya kelak di akirat tibuang tidak di ambik kira setiap titik 40 hari jika 100titik 4000hari amalan di gantung amalan ganjaran tiada di bayar allah sawt kelak di akirat kelak.,,.,.., jadi bila berbuat dosa mohon keampunan allah maha pengampun biar berkali kali mohon ampun allah terima ampunan hamba nya baik taubat nasuha atau taubat berkali kali dua kali tiga kali atau berapa kali sekali pun tetap allah terima hingga lah mana tiba ajal ,.,.
Dan firman-Nya: rabbanaa innaka jami’un naasi liyaumil laa raibaa; (“Ya Rabb kami, sungguhnya Engkau mengumpulkan’manusia untuk [menerima pembalasan pada] hari yang tidak ada keraguan di dalamnya.”) Yaitu di dalam do’anya, mereka berkata, “Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau akan mengumpulkan makhluk-makhluk-Mu pada hari kebangkitan, memutuskan hukum, serta memberikan keputusan kepada mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Dan Engkau berikan balasan kepada setiap orang atas amal yang pernah dilakukannya di dunia, baik perbuatan yang baik maupun perbuatan jahat.
SURAH ALI-IMRAN Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 9\
Rabbana_ innaka ja_mi'un na_si li yaumil la_ raiba fih(i), innalla_ha la_ yukhliful mi'a_d(a).Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 10 Innal lazina kafaru_ lan tugniya 'anhum amwa_luhum wa la_ aula_duhum minalla_hi syai'a_(n), wa ula_'ika hum waqu_dun na_r
(i). رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلا أَوْلادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَأُولَئِكَ هُمْ وَقُودُ النَّارِ (١٠) "
Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya". Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.10. Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikit pun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka[1]. dan mereka itu (menjadi) bahan bakar api neraka. Tujuan dari do'a ini adalah menjelaskan bahwa hati mereka tertuju kepada akhirat. Oleh karena itu, mereka meminta keteguhan di atas hidayah agar memperoleh pahalanya.
Pada beberapa ayat di atas, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memuji orang-orang yang ilmunya mendalam dengan tujuh sifat yang merupakan tanda kebahagiaan:[1] Anak dan harta tidaklah bermanfaat bagi seorang hamba, yang bermanfaat hanyalah iman dan amal shalih. (Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau akan mengumpulkan manusia) menghimpun mereka (untuk suatu hari) maksudnya pada suatu hari (yang tak ada keraguan) atau kebimbangan (padanya) yakni hari kiamat, maka Engkau balas amal perbuatan mereka sebagaimana telah Engkau janjikan. (Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.") yakni janji-Nya tentang saat berbangkit.
Di sini terdapat peralihan pembicaraan dan kemungkinan ia merupakan firman Allah swt. Adapun maksud dari doa seperti itu ialah untuk menyatakan bahwa pusat perhatian mereka ialah soal akhirat. Oleh sebab itulah mereka memohon agar tetap berada dalam hidayah atau petunjuk Allah hingga beroleh pahala. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim melalui Aisyah r.a. katanya, "Rasulullah saw. membaca ayat, 'Dialah yang telah menurunkan kepadamu kitab, di antara isinya ialah ayat-ayat yang muhkamat...' dan seterusnya lalu sabdanya, 'Apabila kamu lihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat mereka itulah yang disebutkan oleh Allah, maka waspadalah terhadap mereka.'" Diriwayatkan pula oleh Thabrani dalam Al-Kabir melalui Abu Musa Al-Asyari, bahwa ia mendengar Nabi saw. bersabda, "Tidak ada yang aku khawatirkan terhadap umatku, kecuali tiga perkara yang di antaranya ialah akan dimudahkan bagi mereka mempelajari Alquran, tetapi orang mukmin mencari-cari takwil yang mutasyabihat, padahal tidak ada yang tahu akan takwilnya itu kecuali Allah, sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan, 'Kami beriman padanya, semuanya dari sisi Tuhan kami dan tidaklah yang beroleh peringatan kecuali orang-orang yang berakal.'" (Hadis)
Dari ayat ini menjelaskan setiap pahala pahala atau ganjaran ganjaran yang allah berikan kepada yang sesiapa yang layak sebagai mana amalan seseorang bila mana di timbang di al mizan maka akan ada suatu masa di mana di namakan hari balas membalas .,.anak pinak isteri dan keluarga tak mampu menyelamatkan sesiapa jua ., dan tiap amalan dan dosa hanya untuk tuan nya sendiri tiada seorang pun akan menanggung sebesar zarah pun dosa orang lain dan tiada pula teraniaya seorang pun di akirat kelak melaikan setelah dibalas.,., ,,. jika di dunia kita melakukan dosa dosa besar yang mana bukan dari syirik mendua atau menyekutu allah sebagai mana dosa dosa mencuri kelak akan di beri pahala pahala yang ketika hidup amalan baik nya di curi balas dan di beri pada orang yang pernah di curi.,,. sebagai mana membunuh ketika mana hidup atas dunia maka orang orang di bawah tanggungan orang yang terbunuh secara automatik akan di beri aman atas tanggugan nya baik makan atau pakaian dan pendidikan ,. kelak di hari balas membalas di beri amalan kebaikan pada si mati atas perbuatan nya dan di bunuh balas di akirat kelak,..,,. sebagai mana perbuatan meminum air arak maka seluruh amalan nya kelak di akirat tibuang tidak di ambik kira setiap titik 40 hari jika 100titik 4000hari amalan di gantung amalan ganjaran tiada di bayar allah sawt kelak di akirat kelak.,,.,.., jadi bila berbuat dosa mohon keampunan allah maha pengampun biar berkali kali mohon ampun allah terima ampunan hamba nya baik taubat nasuha atau taubat berkali kali dua kali tiga kali atau berapa kali sekali pun tetap allah terima hingga lah mana tiba ajal ,.,.
Dan firman-Nya: rabbanaa innaka jami’un naasi liyaumil laa raibaa; (“Ya Rabb kami, sungguhnya Engkau mengumpulkan’manusia untuk [menerima pembalasan pada] hari yang tidak ada keraguan di dalamnya.”) Yaitu di dalam do’anya, mereka berkata, “Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau akan mengumpulkan makhluk-makhluk-Mu pada hari kebangkitan, memutuskan hukum, serta memberikan keputusan kepada mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Dan Engkau berikan balasan kepada setiap orang atas amal yang pernah dilakukannya di dunia, baik perbuatan yang baik maupun perbuatan jahat.
Sabtu, 27 Januari 2018
ayat 9 ali-imran
- TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
- JILIK-10-SURAH LI-IMRAN
- AYAT-9
- Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 9 Rabbana_ innaka ja_mi'un na_si li yaumil la_ raiba fih(i), innalla_ha la_ yukhliful mi'a_d(a)
(Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau akan mengumpulkan manusia) menghimpun mereka (untuk suatu hari) maksudnya pada suatu hari (yang tak ada keraguan) atau kebimbangan (padanya) yakni hari kiamat, maka Engkau balas amal perbuatan mereka sebagaimana telah Engkau janjikan. (Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.") yakni janji-Nya tentang saat berbangkit. Di sini terdapat peralihan pembicaraan dan kemungkinan ia merupakan firman Allah swt. Adapun maksud dari doa seperti itu ialah untuk menyatakan bahwa pusat perhatian mereka ialah soal akhirat. Oleh sebab itulah mereka memohon agar tetap berada dalam hidayah atau petunjuk Allah hingga beroleh pahala. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim melalui Aisyah r.a. katanya, "Rasulullah saw. membaca ayat, 'Dialah yang telah menurunkan kepadamu kitab, di antara isinya ialah ayat-ayat yang muhkamat...' dan seterusnya lalu sabdanya, 'Apabila kamu lihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat mereka itulah yang disebutkan oleh Allah, maka waspadalah terhadap mereka.'" Diriwayatkan pula oleh Thabrani dalam Al-Kabir melalui Abu Musa Al-Asyari, bahwa ia mendengar Nabi saw. bersabda, "Tidak ada yang aku khawatirkan terhadap umatku, kecuali tiga perkara yang di antaranya ialah akan dimudahkan bagi mereka mempelajari Alquran, tetapi orang mukmin mencari-cari takwil yang mutasyabihat, padahal tidak ada yang tahu akan takwilnya itu kecuali Allah, sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan, 'Kami beriman padanya, semuanya dari sisi Tuhan kami dan tidaklah yang beroleh peringatan kecuali orang-orang yang berakal.'" (Hadis).
kitab Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim dan kitab-kitab lainnya yang diriwayatkan melalui beberapa jalan tanpa adanya tambahan ayat tersebut. Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa’i. An-Nasa’i menambahkan, dan juga Ibnu Hibban dan’Abdullah bin Wahb, keduanya dari ‘Aisyah, jika Rasulullah maka beliau mengucapkan: “Tidak ada Ilah (yang haq) selain Engkau. Mahasuci Engkau, aku memohon ampunan kepada-Mu atas dosaku dan aku memohon rahmat-Mu. Ya Allah tambahkanlah ilmu kepadaku dan janganlah Engkau menjadikan hatiku condong kepada kesesatan setelah Engkau memberikan petunjuk kepadaku. Serta karuniakanlah kepadaku rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah Mahapemberi.” Dan firman-Nya: rabbanaa innaka jami’un naasi liyaumil laa raibaa; (“Ya Rabb kami, sungguhnya Engkau mengumpulkan’manusia untuk [menerima pembalasan pada] hari yang tidak ada keraguan di dalamnya.”) Yaitu di dalam do’anya, mereka berkata, “Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau akan mengumpulkan makhluk-makhluk-Mu pada hari kebangkitan, memutuskan hukum, serta memberikan keputusan kepada mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Dan Engkau berikan balasan kepada setiap orang atas amal yang pernah dilakukannya di dunia, baik perbuatan yang baik maupun perbuatan jahat.
[19] Tujuan dari do’a ini adalah menjelaskan bahwa hati mereka tertuju kepada akhirat. Oleh karena itu, mereka meminta keteguhan di atas hidayah agar memperoleh pahalanya. Pada beberapa ayat di atas, Allah Subhaanahu wa Ta’aala memuji orang-orang yang ilmunya mendalam dengan tujuh sifat yang merupakan tanda kebahagiaan:
Dari Ayat diatas menyebutkan bahwa Allah pada hari yang sudah ditentukan yaitu hari kiamat akan mengumpulkan seluruh manusi mulai dari nabi Adam sampai manusia diakhir jaman atau kiamat, bermilyar-milyar manusia itu akan dikumpulkan oleh Allah di suatu tempat yang sangat luas yaitu padang mahsyar. Setelah kejadian hari kiamat tersebut, semua yang bernyawa akan merasakan kematian dan manusia akan dibangkitkan kembali setelah ditiup tiupan terompet yang pertama. Seperti yang disebutkan oleh Allah SWT dalam surat An-Nazi’at Ayat 6-9. dan pada saat itulah manusia akan terkejut karena dibankitkan kembali dan akan dihisab. Dan itulah janji Allah SWT karena Allah tidak akan pernah mengingkari janji.6. (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncang alam, 7. tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. 8. hati manusia pada waktu itu sangat takut, 9. pandangannya tunduk. Pada hari itu semua amalan manusia akan dihisab atau diperhitungkan oleh pengadilan yang maha adil tidak ada keraguan mengenai keadilannya karena langsung oleh yang maha Adil yaitu Alla SWT. Manusia akan dipanggil satu persatu untuk mempertanggungjawabkan semua amal perbuatannya selama didunia. Pada saat itu matahari didekatkan oleh Allah SWT sehingga ada manusia yang keringatnya sedengkul, sepaha adajuga yang sepusar ada juga yang seleher bahkan ada juga yang tenggelam oleh keringatnya sendiri padahal orang disebelahnya tidak merasakan apa-apa karena pada hari itu tidak ada lagi pertolongan hanya amal ibadahnya sajalah yang berguna yang akan menolongnya. Pada saat itulah ada 7 kelompok manusia yang akan dapat naungan langsung dari Allah SWT antara lain : Imam Adil (pemimpin yang Adil), menjadi pemimpin yang adil adalah suatu pekerjaan yang berat sehingga pasntaslah mendapat naungan langsung dari Allah SWT. Kalau kita lihat dalam kehidupan sehari-hari sangatlah sulit kita akan menjumpai pemimpin yang adil, mereka hanya berlomba untuk menjadi pemimpin setelah itu mereka berbuat zhalim kepada para pemilihnya.Jumaat, 26 Januari 2018
AYAT 8,ALI-IMRAN
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK .
SURAH ALI-IMRAN AYAT 8,
BISMILLAHIRAHMANIRAHIM
(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)".
Mereka yang berakal sehat itu selalu berdoa, "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami menyeleweng dari kebenaran setelah Engkau tunjuki kami. Berikanlah kami rahmat dari sisi-Mu berupa kesesuaian dan kemantapan hati. Sesungguhnya hanya Engkaulah pemberi dan penolak."Dengan ini Allah menguji hamba-hamba-Nya sebagaimana Dia telah menguji mereka dalam masalah halal dan haram. Agar dengan demikian, benar-benar ayat-ayat tersebut tidak disimpangkan kepada (sesuatu) yang bathil dan tidak pula dirubah dari kebenaran.
Oleh karena itu Allah swt. berfirman, “Adapun orang-orang yang di dalam hatinya cenderung kepada kesesatan,” yaitu kesesatan dan keluar dari kebenaran menuju kepada kebathilan, “Maka mereka mengikuti sebagian dari ayat-ayat yang mutasyaabihaat.”Yaitu, mereka hanya mengambil ayat-ayat mutasyaabihaat saja yang memungkinkan bagi mereka untuk merubahnya kepada maksud-maksud mereka yang rusak, lalu mereka menempatkan ayat-ayat tersebut sesuai dengan maksud-maksud mereka, dikarenakan lafazhnya memiliki kemungkinan (atas) kandungan tersebut.Imam Ahmad meriwayatkan dari’Aisyah, dia berkata: Rasulullah pernah membaca ayat, “Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu.
Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi al-Qur’an. Dan (isi) yang lain adalah ayat-ayat mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya cenderung kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, dan semuanya itu dari sisi Rabb kami.
Dan tidak dapat mengambil pelajaran darinya melainkan orang-orang yang berakal.” Lalu beliau bersabda: “Jika kalian melihat orang-orang yang berbantah-bantahan tentang al-Qur’an, maka mereka itulah orang-orang yang dimaksud oleh Allah, maka waspadalah terhadap mereka.” Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Imam al Bukhari ketika menafsirkan ayat ini, Imam Muslim dalam kitab al-Qadar dari kitab Shahihnya dan Abu Dawud dalam as-Sunnah pada kitab Sunannya. Imam Ahmad meriwayatkan, Abu Kamil telah menceritakan kepada kami, Hammad menceritakan kepada kami, dari Abu Ghalib, di mana ia berkata, aku pernah mendengar Abu Umamah menyampaikan sebuah hadits dari Nabi, mengenai firman Allah Ta’ala, “Adapun orang-orang yang di dalam hatinya cenderung kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian dari ayat-ayat yang mutasyaabihaat,” beliau mengatakan: “Mereka itulah golongan Khawarij.”
Dan juga mengenai firman-Nya, “Pada hari yang pada waktu itu ada muka yang putih berseri dan ada pula muka yang hitam muram.” (QS. Ali-‘Imran: 106) Beliau mengatakan: “Mereka (muka yang hitam muram) itulah golongan Khawarij.” Hadits ini juga diriwayatkan Ibnu Mardawaih melalui jalur lain, dari Abu Ghalib, dari Abu Umamah, lalu beliau menyebutkan minimal derajat hadits ini mauquf dari perkataan Sahabat. Namun demikian, makna hadits ini shahih, karena bid’ah yang pertama kali terjadi dalam Islam adalah fitnah kaum Khawarij.
Yang menjadi penyebab pertama mereka dalam hal itu adalah masalah dunia, yaitu ketika Nabi membagikan ghanimah Hunain (harta rampasan perang pada perang Hunain), maka dalam akal pemikiran mereka yang rusak seolah-olah melihat bahwa beliau tidak adil dalam pembagian tersebut. Sikap mereka itu mengejutkan Nabi. Lalu juru bicara mereka, yaitu Dzul khuwaishirah (si pinggang kecil) -semoga Allah membelah pinggangnya-, berkata: “Berlaku adillah engkau, sebab engkau telah berlaku tidak adil.” Lalu Rasulullah bersabda: “Sungguh telah gagal dan merugilah aku, jika aku tidak berlaku adil.
Mengapa Allah saja mempercayaiku memimpin penduduk bumi ini, sedang kalian tidak mempercayaiku?”Dan hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dari Asma’ binti Yazid Ibnus Sakan, aku mendengar ia menceritakan, bahwa di antara do’a Rasulullah yang sering dipanjatkannya adalah: ‘Ya Allah, Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.’ Asma’ berkata, lalu kutanyakan: ‘Ya Rasulullah, apakah hati itu dapat berbolak balik?’ Beliau menjawab: ‘Ya, Allah tidak menciptakan seorang anak Adam melainkan hatinya berada di antara dua jari-jemari Allah, Jika Allah menghendaki, Dia akan menjadikannya berdiri tegak.
Dan jika Dia menghendaki, maka Dia akan menjadikannya condong kepada kesesatan.’ Kita semua memohon kepada Allah agar Dia tidak menjadikan hati kita condong kepada kesesatan setelah Dia memberikan petunjuk kepada kita. Dan semoga Allah melimpahkan kepada kita rahmat dari sisi-Nya. Sesungguhnya Dia Mahapemberi.”‘ Demikianlah yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari hadits Asad bin Musa, dari ‘Abdul Hamid bin Bahram. Hadits semisal juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari al-Mutsni dari al-Hajjaj bin Minhal dari ‘Abdul Hamid bin Bahrain dengan menambahkan: “Kukatakan: `Ya Rasulullah, maukah engkau mengajarkan kepadaku sebuah do’a yang dapat kupanjatkan untuk diriku sendiri?’
Beliau bersabda: `Ya, baiklah, ucapkanlah: `Ya Allah, Rabb Muhammad, ampunilah dosaku, singkirkanlah amarah hatiku, dan jauhkanlah aku dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.”‘ Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari ‘Aisyah ra. ia berkata, Rasulullah sering memanjatkan do’a: “Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” Aku berkata: “Ya Rasulullah, alangkah seringnya engkau berdo’a dengan do’a itu.” Beliau menjawab: “Tidak ada satu hati pun melainkan berada di antara dua jari dari jari-jemari ar-Rahmaan (Allah).
Jika Dia menghendaki untuk meluruskannya, maka Dia akan meluruskannya. Jika Dia menghendaki untuk membuatnya sesat, maka Dia akan membuatnya sesat. Tidakkah engkau mendengar firman-Nya: janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau adalah Mahapemberi (karunia).” Ditinjau dari redaksinya, hadits ini gharib, tetapi asalKesombongan (takabbur) atau dikenal dalam bahasa syariat dengan sebutan al-kibr yaitu melihat diri sendiri lebih besar dari yang lain.
Orang sombong itu memandang dirinya lebih sempurna dibandingkan siapapun. Dia memandang orang lain hina, rendah dan lain sebagainya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hakikat kesombongan dalam hadits beliau Shallallahu ‘alaihi wa salllam : الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. [HR. Muslim, no. 2749, dari ‘Abdullah bin Mas’ûd] Inilah yang membedakan takabbur dari sifat ‘ujub (membanggakan diri, silau dengan diri sendiri).
Sifat ‘ujub, hanya membanggakan diri tanpa meremehkan orang. Sedangkan takabbur, disamping membanggakan diri juga meremehkan orang. SEBAB-SEBAB KESOMBONGAN Sebab-sebab kesombongan, antara lain: sifat takabur untuk meminta merayu dan meraung dalam bersoa meminta pada allah sawt, Berdoalah Jangan Sombong DALAM sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda Doa adalah senjata orang mukmin tiang bagi agama dan cahaya dari langit Sesungguhnya hamba yang merendahkan dirinya dan bersikap tawaduk akan sentiasa berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT Sumber: https://almanhaj.or.id/2640-tidak-sepantasnya-manusia-menyombongkan-diri.html hadits ini terdapat dalam kitab Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim dan kitab-kitab lainnya yang diriwayatkan melalui beberapa jalan tanpa adanya tambahan ayat tersebut.
SURAH ALI-IMRAN AYAT 8,
BISMILLAHIRAHMANIRAHIM
- Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 8
- Rabbana_ la_ tuzig qulu_bana_ ba'da iz hadaitana_ wa hab lana_ mil ladunka rahmah(tan), innaka antal wahha_b(u).
- 3:9; رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)".
Mereka yang berakal sehat itu selalu berdoa, "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami menyeleweng dari kebenaran setelah Engkau tunjuki kami. Berikanlah kami rahmat dari sisi-Mu berupa kesesuaian dan kemantapan hati. Sesungguhnya hanya Engkaulah pemberi dan penolak."Dengan ini Allah menguji hamba-hamba-Nya sebagaimana Dia telah menguji mereka dalam masalah halal dan haram. Agar dengan demikian, benar-benar ayat-ayat tersebut tidak disimpangkan kepada (sesuatu) yang bathil dan tidak pula dirubah dari kebenaran.
Oleh karena itu Allah swt. berfirman, “Adapun orang-orang yang di dalam hatinya cenderung kepada kesesatan,” yaitu kesesatan dan keluar dari kebenaran menuju kepada kebathilan, “Maka mereka mengikuti sebagian dari ayat-ayat yang mutasyaabihaat.”Yaitu, mereka hanya mengambil ayat-ayat mutasyaabihaat saja yang memungkinkan bagi mereka untuk merubahnya kepada maksud-maksud mereka yang rusak, lalu mereka menempatkan ayat-ayat tersebut sesuai dengan maksud-maksud mereka, dikarenakan lafazhnya memiliki kemungkinan (atas) kandungan tersebut.Imam Ahmad meriwayatkan dari’Aisyah, dia berkata: Rasulullah pernah membaca ayat, “Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu.
Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi al-Qur’an. Dan (isi) yang lain adalah ayat-ayat mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya cenderung kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, dan semuanya itu dari sisi Rabb kami.
Dan tidak dapat mengambil pelajaran darinya melainkan orang-orang yang berakal.” Lalu beliau bersabda: “Jika kalian melihat orang-orang yang berbantah-bantahan tentang al-Qur’an, maka mereka itulah orang-orang yang dimaksud oleh Allah, maka waspadalah terhadap mereka.” Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Imam al Bukhari ketika menafsirkan ayat ini, Imam Muslim dalam kitab al-Qadar dari kitab Shahihnya dan Abu Dawud dalam as-Sunnah pada kitab Sunannya. Imam Ahmad meriwayatkan, Abu Kamil telah menceritakan kepada kami, Hammad menceritakan kepada kami, dari Abu Ghalib, di mana ia berkata, aku pernah mendengar Abu Umamah menyampaikan sebuah hadits dari Nabi, mengenai firman Allah Ta’ala, “Adapun orang-orang yang di dalam hatinya cenderung kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian dari ayat-ayat yang mutasyaabihaat,” beliau mengatakan: “Mereka itulah golongan Khawarij.”
Dan juga mengenai firman-Nya, “Pada hari yang pada waktu itu ada muka yang putih berseri dan ada pula muka yang hitam muram.” (QS. Ali-‘Imran: 106) Beliau mengatakan: “Mereka (muka yang hitam muram) itulah golongan Khawarij.” Hadits ini juga diriwayatkan Ibnu Mardawaih melalui jalur lain, dari Abu Ghalib, dari Abu Umamah, lalu beliau menyebutkan minimal derajat hadits ini mauquf dari perkataan Sahabat. Namun demikian, makna hadits ini shahih, karena bid’ah yang pertama kali terjadi dalam Islam adalah fitnah kaum Khawarij.
Yang menjadi penyebab pertama mereka dalam hal itu adalah masalah dunia, yaitu ketika Nabi membagikan ghanimah Hunain (harta rampasan perang pada perang Hunain), maka dalam akal pemikiran mereka yang rusak seolah-olah melihat bahwa beliau tidak adil dalam pembagian tersebut. Sikap mereka itu mengejutkan Nabi. Lalu juru bicara mereka, yaitu Dzul khuwaishirah (si pinggang kecil) -semoga Allah membelah pinggangnya-, berkata: “Berlaku adillah engkau, sebab engkau telah berlaku tidak adil.” Lalu Rasulullah bersabda: “Sungguh telah gagal dan merugilah aku, jika aku tidak berlaku adil.
Mengapa Allah saja mempercayaiku memimpin penduduk bumi ini, sedang kalian tidak mempercayaiku?”Dan hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dari Asma’ binti Yazid Ibnus Sakan, aku mendengar ia menceritakan, bahwa di antara do’a Rasulullah yang sering dipanjatkannya adalah: ‘Ya Allah, Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.’ Asma’ berkata, lalu kutanyakan: ‘Ya Rasulullah, apakah hati itu dapat berbolak balik?’ Beliau menjawab: ‘Ya, Allah tidak menciptakan seorang anak Adam melainkan hatinya berada di antara dua jari-jemari Allah, Jika Allah menghendaki, Dia akan menjadikannya berdiri tegak.
Dan jika Dia menghendaki, maka Dia akan menjadikannya condong kepada kesesatan.’ Kita semua memohon kepada Allah agar Dia tidak menjadikan hati kita condong kepada kesesatan setelah Dia memberikan petunjuk kepada kita. Dan semoga Allah melimpahkan kepada kita rahmat dari sisi-Nya. Sesungguhnya Dia Mahapemberi.”‘ Demikianlah yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari hadits Asad bin Musa, dari ‘Abdul Hamid bin Bahram. Hadits semisal juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari al-Mutsni dari al-Hajjaj bin Minhal dari ‘Abdul Hamid bin Bahrain dengan menambahkan: “Kukatakan: `Ya Rasulullah, maukah engkau mengajarkan kepadaku sebuah do’a yang dapat kupanjatkan untuk diriku sendiri?’
Beliau bersabda: `Ya, baiklah, ucapkanlah: `Ya Allah, Rabb Muhammad, ampunilah dosaku, singkirkanlah amarah hatiku, dan jauhkanlah aku dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.”‘ Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari ‘Aisyah ra. ia berkata, Rasulullah sering memanjatkan do’a: “Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” Aku berkata: “Ya Rasulullah, alangkah seringnya engkau berdo’a dengan do’a itu.” Beliau menjawab: “Tidak ada satu hati pun melainkan berada di antara dua jari dari jari-jemari ar-Rahmaan (Allah).
Jika Dia menghendaki untuk meluruskannya, maka Dia akan meluruskannya. Jika Dia menghendaki untuk membuatnya sesat, maka Dia akan membuatnya sesat. Tidakkah engkau mendengar firman-Nya: janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau adalah Mahapemberi (karunia).” Ditinjau dari redaksinya, hadits ini gharib, tetapi asalKesombongan (takabbur) atau dikenal dalam bahasa syariat dengan sebutan al-kibr yaitu melihat diri sendiri lebih besar dari yang lain.
Orang sombong itu memandang dirinya lebih sempurna dibandingkan siapapun. Dia memandang orang lain hina, rendah dan lain sebagainya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hakikat kesombongan dalam hadits beliau Shallallahu ‘alaihi wa salllam : الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. [HR. Muslim, no. 2749, dari ‘Abdullah bin Mas’ûd] Inilah yang membedakan takabbur dari sifat ‘ujub (membanggakan diri, silau dengan diri sendiri).
Sifat ‘ujub, hanya membanggakan diri tanpa meremehkan orang. Sedangkan takabbur, disamping membanggakan diri juga meremehkan orang. SEBAB-SEBAB KESOMBONGAN Sebab-sebab kesombongan, antara lain: sifat takabur untuk meminta merayu dan meraung dalam bersoa meminta pada allah sawt, Berdoalah Jangan Sombong DALAM sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda Doa adalah senjata orang mukmin tiang bagi agama dan cahaya dari langit Sesungguhnya hamba yang merendahkan dirinya dan bersikap tawaduk akan sentiasa berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT Sumber: https://almanhaj.or.id/2640-tidak-sepantasnya-manusia-menyombongkan-diri.html hadits ini terdapat dalam kitab Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim dan kitab-kitab lainnya yang diriwayatkan melalui beberapa jalan tanpa adanya tambahan ayat tersebut.
Langgan:
Catatan (Atom)
JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN
JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN
-
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK; SURAH ALI-IMRAN JUZ-4 BISS-,MILLAA-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM,.; Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 154 Summa a...
-
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK' SURAH MUHAMAD AYAT 21-22 BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM'' 22. fahal ‘asaytum in tawallaytum an t...
-
JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN