Rabu, 6 Disember 2017

FADHILAT SURAH YASIN


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK

JILIK-5-SURAH YASIN-AYAT 40
RAHSIA MENGAMALKAN SURAH YASIN DAN KEBAIKAN NYA;

Selain surah Al-Fatihah, Surah Yasin adalah surat yang banyak di baca juga oleh masyarakat muslim di dunia. Dapat di pastikan setiap satu anggota keluarga muslim mempunyai buku kecil "SURAT YASIN" yang biasanya di buat untuk tahlil dan sebagainya.

Mungkin selama ini kita sudah sering membacanya sehingga tanpa di sadari kita dapat menghafal surat tersebut. Biasanya kita selalu mendengar pada tahlilan, malam jumatan, menjenguk orang sakit, majelis ta'lim, ziarah kubur, dll. Tapi tahukah makna yang terkandung? Inilah makna dari surah yasin ayat 40.

لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۚ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ [٣٦:٤٠]


LA SYAMSU YAN-BAGII LAHAA AN-TUDRIKAL-QAMARA WALAA LLAYLU SAA BIQU-NNAHAARI - WA KULLUN FII FALAKIN YASBAHUUNA (QS.Yasin:40)

Artinya : "Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak mendahului
siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya."
Allah memberitahukan kepada kita semua bahwa sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya yang lain adalah bulan dan matahari. Berdasarkan ketetapan dan pengaturan Allah yang berlaku bagi benda-benda angkasa itu yang di sebut "sunnatullah", maka tidaklah mungkin terjadi tabrakan antara bulan dan matahari, dan tidaklah pula malam mendahului siang. Pada matahari dan bulan semuanya tetap bergerak pada garis edarnya, mereka tidak saling mendahului. Dan hal ini berlangsung selama dunia ini masih ada (sampai hari kiamat).

Renungkan kedua makhluk ini, manusia akan selalu melihat sisi baik dan buruknya. Apabila bulan tidak menerangi bumi alangkah gelapnya suatu malam, dan jika muncul alangkah indah sinarnya. Bagaimana dengan matahari? Hal inipun sama, jika matahari menyinari dengan panasnya dan jika matahari tertutup oleh mendung. Manusia harus selalu bersyukur atas karunia yang di berikan oleh Allah SWT.

Subhanallah... Betapa kecilnya kekuasaan manusia yang di bandingkan dengan kekuasaan Allah yang amat besarnya. Allah telah menciptakan suatu ketetapan peraturan sehingga berjalan dengan tertib. Sedangkan manusia yang sudah membuat peraturan lalu-lintas yang bermacam-macam belum berhasil dengan tertin, masih banyak terjadi kecelakaan yang terjadi di mana-mana.

"Ritual tradisi membaca surah Yasin sebanyak 3 kali yang di lakukan oleh masyarakat awam, pertama dengan niat panjang umur serta mendapat taufik untuk menjalankan ketaatan, kedua niat menjaga diri dari mara bahaya, penyakit-penyakit dan niat melapangkan rezki, ketiga untuk mencapai kekayaan hatidan khusnul khatimah, serta sholat yang mereka lakukan di sela-sela doa, solat dengan memenuhi hajat-hajat tertentu, semuanya itu batil dan tidak ada asalnya. Shalat itu tidak sah kecuali dengan niat murni kepada Allah SWT, bukan karena suatu tujuan dari berbagai tujuan."Inilah riyadloh sederhananya yaitu sebelum membaca surah yasin bacalah Al-Fatihah untuk Rasulullah, para nabi da rasul, alam semesta, diri sendiri, ddll, lalu sebelum membaca ayat pertama maka sampaikanlah kepada Allah hajat kita dengan bahasa kita sendiri(agar mudah di pahami dan di hayati). Sebagai contoh "Ya Allah dengan keberkahan surah Yasin mulia ini maka kabulkan untukku hajatku...(sebut hajat)..."

Amalkan dengan cara istiqamah membaca surah Yasin selama 41 hari berturut-turut tanpa terhenti atau terlewatkan. Insyaallah hajat ini akan di kabulkan oleh Allah. Kewajiban kita adalah memohon kepada Allah, kemudain laksanakan ikhtiar di barengi dengan ibadah yang sudah menjadi kewajiban kita. Semoga hajat kita terkabulkan.

Semoga kita semua dapat memperlakukan hidup dengan benar dan mendapat sisi yang baik di dekat-Nya, selalu dalam perlindungan-Nya. Jangan sampai kita menjadi manusia yang ada dalam kesesatan. Amin.

AYAT 37-40



TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK-5-SURAH YASIN AYAT 37-40
Bismillahirahmanirahim'
37 wa aayatul lahumullaylu naslakhu minhunnahaara faidhaa hum muZlimuuna
38 wash shamsu tajriy limustaqarril lahaa dhaalika taqdiyrul 'Aziyzil 'Aliym
39 wal qamara qaddarnaahu manaazila Hattaa 'AAdakal 'Urjuunil qadiymi
40 Lash shamsu yambagiy lahaaa an tudrikal qamara wa Lal laylu saabiqunnahaar wa kullun fiy falakiy yasbaHuuna

Pengaturan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap Alam Semesta

(Tafsir ayat 37-40)

وَآيَةٌ لَهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُمْ مُظْلِمُونَ (٣٧) وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (٣٨) وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ (٣٩) لا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan, (QS. 36:37) dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Mahamengetahui. (QS. 36:38) Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. (QS. 36:39) Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS. 36:40)

Allah Ta’ala berfirman bahwa di antara petunjuk bagi mereka tentang kekuasaan Allah Tabaaraka wa Ta’ala Yang agung adalah penciptaan malam dan siang. Malam dengan kegelapannya dan siang dengan cahaya sinarnya. Serta, Dia jadikan keduanya silih berganti, jika malam datang, siang pergi dan jika siang datang, malampun pergi. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا

Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat.” (QS. Al-A’raaf: 54).

Untuk itu, Allah Ta’ala berfirman di sini, “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu,” yaitu Kami tanggalkan, lalu dia pergi dan datanglah malam. Untuk itu Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman: “Maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.” Sebagaimana tercantum di dalam satu hadits:

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

“Jika malam datang dari arah sana, maka siang mundur ke arah lain. Dan matahari terbenam, maka pertanda bagi orang yang berpuasa untuk berbuka.” Inilah makna yang zhahir dalam ayat tersebut.

“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakannya pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya.” (QS. 15 : 19-20)

Dan firman Allah Ta’ala “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Mahamengetahui.” Pada makna firman-Nya, “Di tempat peredarannya,” terdapat dua pendapat.

Pendapat Pertama,

Mengatakan bahwa yang dimaksud adalah tempat peredarannya, yaitu di bawah ‘Arsy yang dekat ke arah bumi dari sisi tersebut. Dimana pun berada, matahari dan seluruh makhluk berada di bawah ‘Arsy, karena ‘Arsy merupakan atapnya dan bukan berbentuk bulat, sebagaimana yang dikira oleh para ahli hukum alam. Dia berbentuk kubah yang memiliki beberapa tiang yang dibawa oleh para Malaikat dan dia berada di atas alam seperti yang terlihat di atas kepala. Maka, matahari jika berada di dalam kubah falak di waktu siang, maka dia berada lebih dekat kepada ‘Arsy. Dan jika dia memutar pada falak ke empat menuju tempat tersebut, yaitu waktu pertengahan malam, maka dia semakin menjauh dari ‘Arsy. Di saat itu dia sujud dan meminta izin untuk terbit, sebagaimana yang tercantum di dalam beberapa hadits.

Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Dzarr r.a berkata: “Aku bersama Nabi Saw di dalam masjid ketika terbenamnya matahari. Lalu Rasulullah Saw bersabda: ‘Hai Abu Dzarr, apakah engkau tahu dimana matahari itu terbit?’ Aku menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Rasulullah Saw menjawab: ‘Dia itu pergi, hingga sujud di bawah ‘Arsy. Itulah firman Allah Ta’ala, ‘Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Mahamengetahui.”

Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin az-Zubair al-Humaidi, dari Abu Dzarr r.a yang berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw tentang firman Allah Ta’ala, ‘Dan matahari berjalan di tempat peredarannya,’ Rasulullah Saw menjawab:

مُسْتَقَرُّهَا تَحْتَ الْعَرْشِ

‘Tempat peredarannya di bawah ‘Arsy.”

Demikian yang dijelaskan di sini. Serta telah ditakhrij di beberapa tempat dan diriwayatkan oleh Jama’ah kecuali Ibnu Majah, dari beberapa jalur, dari al-A’masy.

Imam Ahmad meriwayatkan, bahwasanya Abu Dzarr r.a berkata: “Aku bersama Rasulullah Saw di dalam masjid ketika matahari tenggelam. Lalu Rasulullah Saw bersabda:

يَا أَبَا ذَرٍّ أَتَدْرِيْ أَيْنَ تَذْهَبُ الشَّمْسُ ؟ قُلْتُ : اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِنَّهَا تَذْهَبُ حَتَّى تَسْجُدَ بَيْنَ يَدَيْ رَبِّهَا عزّوَجل فَتَسْتَأْذِنُ فِي الرُّجُوْعِ فَيُؤْذَنُ لَهَا وَكأَنَّهَا قَدْ قِيْلَ لَهَا: ارْجِعِى مِنْ حَيْثُ جِئْتِ فَتَرْجِعُ إِلَى مَطْلِعِهَا وَذَلِكَ مُسْتَقَرُّهَا-ثُمَّ قَرَأَ-وَالشَّمْسُ تَجْرِ ي لِمُسْتَقَرِّ لَّهَا

‘Hai Abu Dzarr, apakah engkau tahu kemana perginya matahari?’ Aku menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Rasulullah Saw bersabda; ‘Dia pergi, hingga sujud di hadapan Rabb-nya ‘azza wa jalla untuk meminta izin kembali. Lalu dia diizinkan seakan dikatakan kepadanya: ‘Kembalilah dari mana engkau datang. Lalu dia kembali ke tempat terbitnya dan itulah tempat peredarannya.’ Kemudian, beliau membaca, ‘Dan matahari berjalan di tempat peredarannya.”

Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tempat peredarannya adalah akhir perjalanannya, yakni ujung naiknya di langit di waktu musim dingin, yaitu Aujaha, kemudian ujung bawahnya di saat musim panas, yaitu al-Hadhidh.

Pendapat Kedua

Mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tempat peredarannya adalah tempat akhir perjalanannya, yaitu pada hari Kiamat. Batallah perjalanannya, terhenti gerakannya, beredar dan berakhirlah alam ini. Dan ini adalah waktu peredaran.

Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma membaca

(وَالشَّمْسُ تَجْرِ ي لِمُسْتَقَرِّ لَّهَا) yaitu tidak tetap dan tidak tenang. Bahkan dia terus berputar, siang dan malam tanpa lelah dan tidak henti-hentinya. Sebagaimana Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman,

وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ

Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya).” (QS. Ibrahim: 33). Yaitu, tidak lelah dan tidak berhenti sampai hari Kiamat.

“Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa,” yakni yang tidak dibantah dan tidak dilanggar. “Lagi Mahamengetahui, “tentang seluruh gerakan dan segala sesuatu yang diam. Sesungguhnya hal itu sudah ditetapkan dan waktunya di atas satu aturan yang tidak berbeda dan tidak terbalik.

Kemudian Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah,” yaitu, Kami jadikan dia berjalan dalam perjalanan lain yang dapat dijadikan tanda berlalunya bulan, sebagaimana dengan matahari yang dapat diketahui antara siang dan malam. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

“Katakanlah: ‘Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji. (QS. Al-Baqarah: 189).

Dan Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).” (QS. Yunus: 5).

Dia menjadikan matahari memiliki cahaya yang khusus baginya dan bulan memiliki cahaya yang khusus pula baginya dan berbeda perjalanan antara keduanya. Matahari terbit setiap hari dan terbenam pada akhirnya dengan satu sinar, akan tetapi dia berpindah-pindah pada tempat terbit dan terbenam pada musim panas dan musim dingin. Dengan sebab itu, siang dapat lebih panjang dan malam dapat lebih pendek. Kemudian, malam dapat lebih panjang dan siang dapat lebih pendek serta menjadikan kekuasaannya pada siang hari dan itulah bintang siang.

Sedangkan bulan, telah ditetapkan baginya manzilah-manzilah yang terbit pada awal malam bulan dalam keadaan sabit, dengan cahaya kecil. Kemudian, sedikit demi sedikit bertambah pada malam yang kedua dan manzilahnya semakin naik. Kemudian, setiap kali manzilah itu naik meninggi, semakin bertambahlah sinarnya, sekalipun disadur dari cahaya matahari, hingga semakin sempurna sinarnya pada malam ke empatbelas. Kemudian, dia mulai berkurang kembali sampai akhir bulan, hingga seperti bentuk tandan tua.

Ibnu ‘Abbas r.a berkata; “Itulah asal rasa.” Mujahid berkata; “Al-‘urjuun al-qadiim” yaitu tandan yang kering (tua), Ibnu ‘Abbas r.a mengartikannya sebagai pokok tandan kurma yang telah lama, kering dan melengkang.” Setelah hal tersebut, Allah Ta’ala menampakkan bulan dalam bentuk baru di awal manzilah akhir.

Dan firman-Nya Tabaaraka wa Ta’ala, “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan. “Mujahid mengatakan: “Setiap matahari dan bulan mempunyai batasan yang tidak bisa dilampaui dan tidak bisa dikurangi oleh selainnya, jika kemungkinan (mendapatkan yang lainnya) ini terjadi, maka akan timbul kemampuan untuk membatasi.” Ats-Tsauri mengatakan dari Abi Shalih; “Tidaklah cahaya matahari mendapatkan bulan dan tidak pula cahaya bulan mendapatkan matahari.”

Firman-Nya Ta’ala, “Dan malam pun tidak dapat mendahului siang.” Allah berfirman, tidak sepatutnya jika malam telah terjadi, malam selanjutnya akan terjadi hingga malam sebelumnya menjadi siang. Maka, terbitnya matahari dengan adanya siang dan terbitnya bulan dengan adanya malam.

Adh-Dhahhak berkata: “Malam tidak akan berlalu hingga siang datang dari arah tersebut.” Dan ia memberikan isyarat pada arah timur. Mujahid mengatakan: “Dan malam pun tidak dapat mendahului siang,” dua hal yang dituntut cepat, yang mana salah satunya akan mendahului yang lain. Dan makna tafsiran tersebut yaitu, tidak ada selang waktu antara malam dan siang, akan tetapi setiap dari keduanya (terjadi) tanpa keterlambatan dan tidak ketinggalan (dari yang lainnya) karena keduanya bekerja tanpa pamrih lagi tekun yang dituntut dengan tuntutan yang cepat.

Dan firman-Nya Tabaaraka wa Ta’ala, “Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” Yakni malam, siang, matahari dan bulan semuanya beredar, yaitu berputar pada garis edar langit. Pendapat tersebut dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, adh-Dhahhak, al-Hasan, Qatadah, ‘Atha’ al-Khurasani. Ibnu ‘Abbas r.a dan selainnya dari kaum Salaf;
  1. lebih dari satu orang berkata: “Garis edarnya seperti putaran alat pemintal benang.” Mujahid berkata: “Garis edarnya bagaikan besi putar atau bagaikan putaran alat pemintal benang, yang mana alat pemintal tidak akan berputar kecuali dengan putaran tersebut dan putaran tersebut tidak akan berputar kecuali dengan alat pemintal tersebut. Pelajaran-pelajaran dari ayat 37 – 40, antara lain: Penjelasan tentang penciptaan malam, dimana Allah Ta’ala menanggalkan siang dari malam sebagimana kulit ditanggalkan dari seekor kambing. Itu menunjukkan bahwa siang datang sedikit demi sedikit. Sesungguhnya yang pertama diciptakan adalah kegelapan. Allah Ta’ala berfirman, “Kami tanggalkan siang dari malam itu”. Itu menunjukkan bahwa yang asal adalah kegelapan, dan sesungguhnya siang akan datang setelahnya. Oleh karena itu dia ditanggalkan dari malam, dan demikianlah adanya. Karena sesungguhnya asal sinar dari matahari, dan matahari muncul dan mendatangi malam, maka yang asal adalah kegelapan kemudian cahaya datang setelahnya. Sesungguhnya matahari beredar, yakni berjalan, dan itulah realitanya. Zhahir al-Quran menunjukkan bahwa perjalanan matahari adalah dzati, dan yang dimaksud bukanlah bahwa dia berjalan dengan penglihatan mata; dan sesungguhnya yang beredar adalah bumi. Yang wajib adalah mengimani al-Quran sesuai zhahirnya sampai datang dalil yang jelas menjadi hujjah bagi kita di hadapan Allah Ta’ala. Apabila Allah Ta’ala berfirman, “Dan matahari berjalan”, maka wajib kita katakan bahwa matahari berjalan, dan tidak boleh kita katakan bahwa kitalah yang berjalan. Akan tetapi dialah (matahari) yang berjalan dengan ketetapan Allah Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Bahwasanya seluruh makhluk memiliki titik akhir. Segala sesuatu yang ada di dunia dari para makhluk memiliki titik akhir dan dia pasti akan sirna. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ibrahim ayat 48.Penetapan dua nama dari nama-nama Allah yang baik, yakni “al‘Aziiz
(Maha Perkasa) dan “al-‘Aliim” (Maha Mengetahui). Hal ini menetapkan bahwa Allah Maha Menguasai segala sesuatu dan Maha Mengetahui segala sesuatu.
Sesungguhnya bulan adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah Ta’ala. Dengan adanya peredaran bulan maka manusia bisa mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.
Penjelasan tentang kekuasaan Allah yaitu adanya cahaya bulan, dimana cahayanya bermula dari keadaan lemah, lalu bertambah cahayanya, kemudian kembali melemah. Ini adalah kekuasaan Allah; karena jika Dia menghendaki, maka Dia akan menjadikannya selalu bercahaya atau selalu redup.
Untuk bahan renungan, bahwa penciptaan bulan, selaras dengan kondisi manusia, seperti firman-Nya: “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar-Ruum: 54)
Jadi kondisi manusia sama persis dengan kondisi bulan. Bulan mulai dalam keadaan lemah. Lalu bertambah kuat cahayanya sampai ketika telah sempurna kekuatan cahayanya, dia mulai berkurang cahayanya sampai redup sama sekali. Demikian juga manusia dalam kehidupannya.

Sesungguhnya matahari tidak mungkin terbit pada malam hari menurut sunnah Allah Ta’ala. Adapun menurut kekuasaan Allah Ta’ala, maka dia mungkin terbit pada malam hari; karena Allah Ta’ala berfirman, “Kun fayakun” (Jadilah, maka terjadilah ia).
Sesungguhnya malam tidak mungkin mendahului siang dan tidak akan masuk ke dalamnya, dimana akan ada dua malam sekaligus berturut-turut.
Sesungguhnya matahari, bulan, malam dan siang berada di garis edarnya, yakni pada sesuatu yang melingkar, dan sesungguhnya diapun beredar. Sesuai firman-Nya, “Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” Hal ini juga sebagai bantahan terhadap pendapat orang yang berkata, “Sesungguhnya matahari tetap, dan sesungguhnya dia tidak beredar.” Apabila kita menafsirkan “as-Sabhu” (beredar) dengan “ad-Dauran” (berkeliling) dan kita menetapkannya untuk bulan, maka hendaklah kita juga menetapkannya untuk matahari.

AYAT 33-36

TADSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
  • JILIK5-SURAH YASIN -AYAT 33-36
  • BISMILLAHIRAHMANIRAHIM';
  • 33 wa aayatul lahumuL arDul maytatu aHyaynaahaa wa akhrajnaa minhaa Habban faminhu ya'kuluuna
  • 34 wa ja'Alnaa fiyhaa jannaatim min nakhiyliw wa a'Ånaabiw wa fajjarnaa fiyhaa minal 'Uyuuni
  • 35 liya'kuluu min thamarihii wa maa 'Amilat-hu aydiyhim
  • 35 afaLaa yashkuruuna
  • 36 subHaanalladhiy khalaqaL azwaaja kullahaa mimmaa tumbituL arDu wa min anfusihim wa mimmaa Laa ya'Ålamuuna
  1. Surat YasinTanda-tanda Kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala
  • (Tafsir ayat 33-36)
  • وَآيَةٌ لَهُمُ الأرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَاهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ (٣٣) وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّاتٍ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ (٣٤) لِيَأْكُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ وَمَا عَمِلَتْهُ أَيْدِيهِمْ أَفَلا يَشْكُرُونَ (٣٥) سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الأزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ الأرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لا يَعْلَمُونَ
  1. Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. (QS. 36:33) Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, (QS. 36:34) supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? (QS. 36:35) Mahasuci Rabb yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS. 36:36)  
  •  Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman, “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka.” Yaitu, tanda bagi mereka tentang adanya Mahapencipta, kekuasaan-Nya yang sempurna dan perbuatan-Nya menghidupkan yang mati. “Adalah bumi yang mati,” yaitu, dahulunya bumi itu mati dan gersang, tidak ada tumbuhan satu pun. Lalu, ketika Allah Ta’ala menurunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah serta menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.Untuk itu Allah Ta’ala berfirman, “Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.” Yaitu, Kami jadikan hal itu sebagai rizki bagi mereka dan binatang-binatang ternak mereka.“Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air,” yaitu, Kami jadikan di dalamnya sungai-sungai yang mengalir di tempat-tempat yang mereka butuhkan agar mereka dapat memakan buah-buahnya. Dia telah memberikan nikmat-Nya kepada para makhluk dengan diadakannya tanam-tanaman, lalu Dia menyambungnya dengan menyebutkan buah-buahan, macam-macam dan jenis-jenisnya.Dan firman Allah Ta’ala, “Dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka,” yaitu, semua itu tidak mungkin kecuali dari rahmat Allah Ta’ala kepada mereka, bukan semata-mata hasil kerja dan jerih payah mereka, serta bukan pula semata-mata kemampuan dan kekuatan mereka. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas r.a dan Qatadah. Untuk itu Allah Ta’ala berfirman, “Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?” Maka, mengapakah mereka tidak bersyukur atas kenikmatan yang telah dianugerahkan kepada mereka berupa nikmat-nikmat yang tidak terhingga dan tidak terhitung.Kemudian Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman: “Mahasuci Rabb yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi,” yaitu berupa tumbuh-tumbuhan, buah-buahan dan tanam-tanaman.Dan dari diri mereka,” dimana Dia menjadikan mereka laki-laki dan perempuan. “Maupun dari apa yang tidak mereka ketahui,” yaitu berupa makhluk-makhluk lain yang tidak mereka ketahui. Sebagaimana Allah Yang Mahaagung berfirman:وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 49).  
  1. Pelajaran-pelajaran dari ayat 33 – 36, antara lain:
  2. Penjelasan tentang kekuasaan Allah Ta’ala akan kemampuan menghidupkan bumi setelah kematiannya. Allah mensifati bumi dengan kematian dan mensifatinya dengan kehidupan.Penjelasan tentang kenikmatan Allah Ta’ala dengan apa-apa yang Allah keluarkan dari bumi untuk manusia, seperti biji-bijian dan buah-buahan.Penjelasan akan kenikmatan Allah berupa pohon-pohon yang lebat dan rindang.Keutamaan akan buah kurma dan anggur. Keduanya diperoleh tanpa susah payah. Juga tentang kebutuhan kurma dan anggur akan air dan buahnya akan banyak sesuai dengan banyaknya air.Wajibnya bersyukur atas kenikmatan Allah Ta’ala, karena Allah itu benci kepada orang yang tidak bersyukur.Allah Ta’ala mensucikan dzat-Nya dari segala macam kekurangan dan cela.Perhatian khusus terhadap wahdaniyyah (keesaan) Allah Ta’ala dan perbedaan-Nya dengan para makhluk.Sesungguhnya tidak ada suatu apapun yang diciptakan kecuali dia berpasang-pasangan.Sesungguhnya Bani Adam (manusia) macamnya beraneka ragam seperti halnya tetumbuhan yang ditumbuhkan oleh bumi.Penetapan sifat bodoh manusia, dan sesungguhnya dia tidak mengetahui banyak perkara. Hal ini sebagaimana firman-Nya(وَمِمَّا لا يَعْلَمُونَ) [Yaasin: 36]

Selasa, 5 Disember 2017

AYAT 30-32

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
  1. JILIK-5-SURAH YASIN AYAT 30.31'32'
  • 30 yaa Hasratan 'Alal'Ibaadi maa ya'tiyhim mir rasuulin iLLaa kanuu bihii yastahziuuna31 alam yaraw kam ahlaknaa qablahum minal quruuni annahum ilayhim Laa yarji'UUna32 wa in kullul lammaa jamiy'Ul ladaynaa muHDaruuna
  • {يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (30) أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ الْقُرُونِ أَنَّهُمْ إِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُونَ (31) وَإِنْ كُلٌّ لَمَّا جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ (32) }
  1. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Tidakkah mereka mengetahui berapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwa orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami.Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu (Yasin: 30) Maksudnya, alangkah celakanya hamba-hamba itu.Sedangkan menurut Qatadah, makna firman-Nya: Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu (Yasin: 30) Yakni alangkah kecewanya hamba-hamba itu atas diri mereka sendiri karena menyia-nyiakan perintah Allah dan melalaikan kewajiban mereka kepada Allah.Menurut suatu qiraat disebutkan "يَا حَسْرَةَ الْعِبَادِ عَلَى أَنْفُسِهَا"., yang artinya 'alangkah besarnya kekecewaan dan penyesalan mereka kelak di hari kiamat bila mereka menyaksikan azab Allah Swt karena mereka telah mendustakan rasul-rasul Allah dan menentang perintah Allah saat mereka hidup di dunia'. Ungkapan ini ditujukan kepada mereka yang mendustakan hal tersebut.{مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ}tiada datang seorang rasul pun kepada mereka, melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. (Yasin: 30)Yaitu mendustakannya, memperolok-olokkannya, dan mengingkari kebenaran yang disampaikan olehnya. Kemudian disebutkan dalam firman selanjutnya:{أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ الْقُرُونِ أَنَّهُمْ إِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُونَ}Tidakkah mereka mengetahui berapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwa orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. (Yasin: 31)Yakni apakah mereka tidak mengambil pelajaran dari orang-orang yang sebelum mereka yang mendustakan para rasul. Allah telah membinasakan mereka, dan tiadalah mereka dikembalikan lagi ke dunia ini, dan perkaranya tidaklah seperti apa yang diduga oleh kebanyakan dari orang-orang bodoh dan orang-orang durhaka mereka yang telah mengatakan seperti apa yang disitir oleh firman-Nya:{إِنْ هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا}kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup. (Al-Mu-minun: 37)Mereka adalah orang-orang yang mempercayai adanya reinkarnasi suatu sekte dari aliran Dahriyyah. Mereka berkeyakinan, karena kebodohan mereka, bahwa mereka akan dikembalikan lagi ke dunia seperti masa mereka hidup. Maka Allah menyanggah keyakinan mereka yang batil itu melalui firman-Nya:{أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ الْقُرُونِ أَنَّهُمْ إِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُونَ}Tidakkah mereka mengetahui berapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwa orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. (Yasin: 31)*******Adapun firman Allah Swt.:{وَإِنْ كُلٌّ لَمَّا جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ}Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami. (Yasin: 32)Yakni sesungguhnya semua umat yang terdahulu dan yang akan datang, kelak akan dihimpunkan untuk menjalani perhitungan amal perbuatan di hari kiamat di hadapan Allah Swt. Maka Dia akan membalas masing-masing dari mereka sesuai dengan amal perbuatannya, yakni semua amal baik dan amal buruknya. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:{وَإِنَّ كُلا لَمَّا لَيُوَفِّيَنَّهُمْ رَبُّكَ أَعْمَالَهُمْ}Dan sesungguhnya kepada masing-masing (mereka yang berselisih itu) pasti Tuhanmu akan menyempurnakan dengan cukup (balasan) pekerjaan mereka. (Hud: 111)Ulama ahli qiraat berselisih pendapat sehubungan dengan bacaan ayat ini, di antara mereka ada yang membacanya dengan bacaan takhfif pada lafaz lamma sehingga menjadi lama. Atas dasar qiraat ini, berarti huruf in menunjukkan makna itbat. Di antara mereka ada pula yang men-tasydid-kan lamma serta menjadikan in sebagai huruf nafi. sedangkan huruf lamma bermakna illa, artinya 'dan tidaklah masing-masing dari mereka melainkan dikumpulkan kepada Kami'. Akan tetapi, makna kedua qiraat ini sama tidak ada bedanya.[30]Sungguh besar perasaan sesal dan kecewa yang menimpa hamba-hamba (yang mengingkari kebenaran)! Tidak datang kepada mereka seorang Rasul melainkan mereka mengejek-ejek dan memperolok-olokkannya.[31]Tidakkah mereka mengetahui berapa banyak umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka? Umat-umat yang telah binasa itu tidak kembali lagi kepada mereka (bahkan kembali kepada Kami, untuk menerima balasan).[32]Dan tidak ada satu makhluk pun melainkan dihimpunkan ke tempat perbicaraan Kami, semuanya dibawa hadir (untuk menerima balasan).Ayat 30 membawa maksud general.. ‏يَحَسْرَةً عَلَى ٱلْعِبَادِ ۚ ... penyesalan yang amat sangat... keatas semua hamba.. hamba.. nya. Merupakan satu seruan, bila mereka ini mengejet ngejet, allah menjadi kita badan, fikiran dan roh... kalau badan perlu makanan, begitu juga roh... perlu hidangan...Allah tidak melihat luaran kamu, tapi dia akan melihat hati kita. Apakan kita mengisi roh kita dengan apa yang mendatangkan ke redho-an allah. Kalau roh kita bermasaalah, kita akan liat menerima perintah allah.--- apa kah kita menerima , menolak atau mengambil ringan perintah tuhan..Penyealan diakhirat tak ada guna nya, kerana kita tidak akan berpeluang memperbaiki keadaan.. Oleh itu penyesalan kena bermula di-sini.. di dunia lagi.. Tafsiran Ibn Kathir.. celakan lah manusia yang apabila datang rasul menbawa agama allah dan mereka menolak, dan lebih teruk lagi, mereka menhina dan mengejek nama. Sekarang masih ada segelintir umat Islam yang mengejek para sahabat yang rapat dengan nabi.Sesalan mereka yang engkar itu, apabila mereka melihat seksaan allah di hari akhirat..Allah tidak menghukum sesuatu kaum sehingga dia menghantar para nabi kepada mereka.Dalam ayat 32, allah juga mengingat kan yang allah telah membinasakan umat umat dulu. Allah mengunakan perkataan ..."tidak kah kamu melihat" padahal ini perkara ghaib..walaupun maksud nya .. tidakkah kamu mengetahui. Mereka yang dibinasa-i oleh allah tidak kembali kepada mereka , tetapi mereka kembali kepada Allah dan mereka di hisab untuk balasan.

Isnin, 4 Disember 2017

ayat 26-29

  • TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK 
  • JILIK-5-SURAH YASIN
  1. AYAT 26-29-SYURGA UNTUK ORANG BERIMAN DAN AZAB UNTUK YG ENGKAR'                                                                                                                         “Dikatakan (kepadanya): ‘Masuklah ke syurga’, ia berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya kamumku mengetahui. Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan. Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukanpun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati 
  •               qiyladkhulil jannah qaala yaa layta qawmiy ya'Ålamuuna
  •          bimaa gafara liy rabbiy wa ja'Alaniy minal mukramiyna
  •    wa maaa anzalnaa 'Alaa qawmihii mim ba'Ådihii min jundim minas samaaai wa maa kunnaa munziliyna; in kaanat illaa SayHataw waaHidatan faidhaa hum khaamiduuna
  •  
    •   
        1.           
  •          26. 
    قِيلَ ٱدْخُلِ ٱلْجَنَّةَ ۖ قَالَ يَٰلَيْتَ قَوْمِى يَعْلَمُونَ
  •          27;بِمَا غَفَرَ لِى رَبِّى وَجَعَلَنِى مِنَ ٱلْمُكْرَمِينَ
  •          28'وَمَآ أَنزَلْنَا عَلَىٰ قَوْمِهِۦ مِنۢ بَعْدِهِۦ مِن جُندٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ
  •          29' إِن كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَٰحِدَةً فَإِذَا هُمْ خَٰمِدُونَ
  1.                  Allah Ta’ala berfirman kepadanya, 
  2. lalu dia memasukinya dan mendapatkan rizki di dalamnya. Sesungguhnya Allah telah menghilangkan darinya penyakit dan kedukaan dunia. Mujahid berkata; “Dikatakan kepada Habib an-Najjar: ‘Masuklah ke dalam Surga.'” Hal itu terjadi setelah dia terbunuh, sehingga dia berhak menerimanya. Ketika dia melihat pahala, “Ia berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui,”Qatadah berkata: “Tidak ada yang dijumpai seorang mukmin kecuali hal yang sebenarnya dan tidak menjumpai sesuatu yang menipu, dikarenakan tampaknya apa yang benar-benar tampak dari kemuliaan Allah Ta’ala.”

  •                  “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Rabb-ku memberikan ampun kepadaku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan,” dia berangan-angan, demi Allah, seandainya kaumku mengetahui apa yang tampak dari karunia Allah ini dan apa yang diberikan kepadanya. Ibnu ‘Abbas r.a berkata: “Dia menasihati kaumnya di waktu kehidupannya dengan per-kataannya, “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu,” dan setelah kematiannya, “Alangkah haiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Rabb ku memberikan ampun kepadaku dan menjadikanku temnasuk orang-orang yang dimuliakan.” (HR. Ibnu Abi Hatim).
  •                         Sufyan ats-Tsauri berkata dari ‘Ashim al-Ahwal, dari Abu Mijlaz, “Apa yang menyebabkan Rabb-ku memberikan ampun kepadaku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan,” dengan keimananku kepada Rabbku dan membenarkan para utusan. Maksud-nya adalah, seandainya mereka melihat apa yang aku terima berupa pahala dan balasan serta nikmat yang melimpah, niscaya hal itu akan membawa mereka untuk mengikuti para Rasul. Lalu Allah merahmati dan meridhainya, dikarenakan dia begitu antusias untuk memberikan hidayah kepada kaumnya.
  •                                Dan firman Allah Tabaaraka wa Ta’ala: “Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukanpun dari langitdan tidak layak Kami menurunkannya.“Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menghukum kaumnya setelah mereka membunuhnya karena kemurkaan-Nya kepada mereka. Hal itu dikarenakan mereka mendusatakan Rasul-Rasul-Nya dan membunuh wali-Nya. Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Dia tidak menurunkan pasukan Malaikat kepada mereka untuk membinasakan mereka. Akan tetapi, semua itu lebih ringan bagi-Nya. Dikatakan oleh Ibnu Mas’ud sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari sebagian sahabatnya.
  •                        “Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati, “lalu Allah Ta’ala membinasakan kerajaan tersebut dan penduduk Antokia, hingga mereka lenyap dari permukaan bumi dan tidak ada yang tersisa sedikit pun. Para ahli tafsir berkata: “Allah Ta’ala mengutus kepada mereka Malaikat Jibril lalu dia mengambil dua pundak pintu gerbang kota mereka dengan berteriak satu kali teriakan. Tiba-tiba mereka semuanya mati, tidak ada satu ruh pun yang tersisa dan kembali kepada jasadnya.”
  •  
  •                                Pelajaran-pelajaran dari ayat 26 – 29, antaranya
  •                                   :Penetapan tentang nikmat kubur, karena Allah Ta’ala berfirman,  “Dikatakan (kepadanya): Masuklah ke surga.” Padahal hari kiamat belum tiba dan orang-orang pun belum masuk surga.Penetapan tentang keberadaan surga. Hal itu telah ditunjukan oleh banyak ayat dan hadits, antara lain Firman Allah: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Ali ‘Imran: 133).Anugerah Allah Ta’ala terhadap orang yang beriman dengan ampunan dan balasan yang baik dari-Nya.Sesungguhnya ampunan Allah Ta’ala lebih dulu datang sebelum pemuliaan dan rahmatnya. Hal ini dapat ditunjukan dengan disandingkan dua nama-Nya misalnya “al-Ghafuur dan “ar-Rahiim”.Sesungguhnya Allah Ta’ala terkadang menurunkan para malaikat untuk membinasakan orang-orang yang mendustakan-Nya.Sesungguhnya para malaikat adalah tentara-tentara Allah Ta’ala. Hal itu ditunjukan dengan ayat (مِنْ جُنْدٍ) “suatu pasukan pun”Penjelasan tentang kekuasaan Allah Ta’ala yang Mahamampu untuk membinasakan seluruh makhluk hanya dengan satu teriakan saja tanpa perbuatan apapun, melainkan hanya dengan suara ribut yang memutuskan hati.

YASIN RUMI



  1. SURAH YASIN RUMI;


  1. BISMILLAH-NIR-RAHMAN-NIR-RAHIM;
  2. Yaa-Seeen
  3. Wal-Qur-aanil-Hakeem
  4. Innaka laminal mursaleen
  5. 'Alaa Siraatim Mustaqeem
  6. Tanzeelal 'Azeezir Raheem
  7. Litunzira qawmam maaa unzira aabaaa'uhum fahum ghaafiloon
  8. Laqad haqqal qawlu 'alaaa aksarihim fahum laa yu'minoon
  9. Innaa ja'alnaa feee a'naaqihim aghlaalan fahiya ilal azqaani fahum muqmahoon
  10. Wa ja'alnaa mim baini aydeehim saddanw-wa min khalfihim saddan fa aghshai naahum fahum laa yubsiroon
  11. Wa sawaaa'un 'alaihim 'a-anzartahum am lam tunzirhum laa yu'minoon
  12. Innamaa tunziru manit taba 'az-Zikra wa khashiyar Rahmaana bilghaib, fabashshirhu bimaghfiratinw-wa ajrin kareem
  13. Innaa Nahnu nuhyil mawtaa wa naktubu maa qaddamoo wa aasaarahum; wa kulla shai'in ahsainaahu feee Imaamim Mubeen
  14. Wadrib lahum masalan Ashaabal Qaryatih; iz jaaa'ahal mursaloon
  15. Iz arsalnaaa ilaihimusnaini fakazzaboohumaa fa'azzaznaa bisaalisin faqaalooo innaaa ilaikum mursaloon
  16. Qaaloo maaa antum illaa basharum mislunaa wa maaa anzalar Rahmaanu min shai'in in antum illaa takziboon
  17. Qaaloo Rabbunaa ya'lamu innaaa ilaikum lamursaloon
  18. Wa maa 'alainaaa illal balaaghul mubeen
  19. Qaaloo innaa tataiyarnaa bikum la'il-lam tantahoo lanar jumannakum wa la-yamassan nakum minnaa 'azaabun aleem
  20. Qaaloo taaa'irukum ma'akum; a'in zukkirtum; bal antum qawmum musrifoon
  21. Wa jaaa'a min aqsal madeenati rajuluny yas'aa qaala yaa qawmit tabi'ul mursaleen
  22. Ittabi'oo mal-laa yas'alukum ajranw-wa hum muhtadoon
  23. Wa maa liya laaa a'budul lazee fataranee wa ilaihi turja'oon
  24. 'A-attakhizu min dooniheee aalihatan iny-yuridnir Rahmaanu bidurril-laa tughni 'annee shafaa 'atuhum shai 'anw-wa laa yunqizoon
  25. Inneee izal-lafee dalaa-lim-mubeen
  26. Inneee aamantu bi Rabbikum fasma'oon
  27. Qeelad khulil Jannnah; qaala yaa laita qawmee ya'lamoon
  28. Bimaa ghafara lee Rabbee wa ja'alanee minal mukrameen (End Juz 22)
  29. Wa maaa anzalnaa 'alaa qawmihee mim ba'dihee min jundim minas-samaaa'i wa maa kunnaa munzileen
  30. In kaanat illaa saihatanw waahidatan fa-izaa hum khaamidoon
  31. Yaa hasratan 'alal 'ibaad; maa yaateehim mir Rasoolin illaa kaanoo bihee yastahzi 'oon
  32. Alam yaraw kam ahlak naa qablahum minal qurooni annahum ilaihim laa yarji'oon
  33. Wa in kullul lammaa jamee'ul-ladainaa muhdaroon
  34. Wa Aayatul lahumul ardul maitatu ahyainaahaa wa akhrajnaa minhaa habban faminhu yaakuloon
  35. Wa ja'alnaa feehaa jannaatim min nakheelinw wa a'naabinw wa fajjarnaa feeha minal 'uyoon
  36. Liyaakuloo min samarihee wa maa 'amilat-hu aideehim; afalaa yashkuroon
  37. Subhaanal lazee khalaqal azwaaja kullahaa mimmaa tumbitul ardu wa min anfusihim wa mimmaa laa ya'lamoon
  38. Wa Aayatul lahumul lailu naslakhu minhun nahaara fa-izaa hum muzlimoon
  39. Wash-shamsu tajree limustaqarril lahaa; zaalika taqdeerul 'Azeezil Aleem
  40. Walqamara qaddarnaahu manaazila hattaa 'aada kal'ur joonil qadeem
  41. Lash shamsu yambaghee lahaaa an tudrikal qamara wa lal lailu saabiqun nahaar; wa kullun fee falaki yasbahoon
  42. Wa Aayatul lahum annaa hamalnaa zurriyatahum fil fulkil mashhoon
  43. Wa khalaqnaa lahum mim-mislihee maa yarkaboon
  44. Wa in nashaa nughriqhum falaa sareekha lahum wa laa hum yunqazoon
  45. Illaa rahmatam minnaa wa mataa'an ilaa heen
  46. Wa izaa qeela lahumuttaqoo maa baina aideekum wa maa khalfakum la'allakum turhamoon
  47. Wa maa taateehim min aayatim min Aayaati Rabbihim illaa kaanoo 'anhaa mu'rideen
  48. Wa izaa qeela lahum anfiqoo mimmaa razaqakumul laahu qaalal lazeena kafaroo lillazeena aamanooo anut'imu mal-law yashaaa'ul laahu at'amahooo in antum illaa fee dalaalim mubeen
  49. Wa yaqooloona mataa haazal wa'du in kuntum saadiqeen
  50. Maa yanzuroona illaa saihatanw waahidatan taa khuzuhum wa hum yakhissimoon
  51. Falaa yastatee'oona taw siyatanw-wa laaa ilaaa ahlihim yarji'oon
  52. Wa nufikha fis-soori faizaa hum minal ajdaasi ilaa Rabbihim yansiloon
  53. Qaaloo yaa wailanaa mam ba'asanaa mim marqadinaa; haaza maa wa'adar Rahmanu wa sadaqal mursaloon
  54. In kaanat illaa saihatanw waahidatan fa-izaa hum jamee'ul ladainaa muhdaroon
  55. Fal-Yawma laa tuzlamu nafsun shai'anw-wa laa tujzawna illaa maa kuntum ta'maloon
  56. Inna Ashaabal jannatil Yawma fee shughulin faakihoon
  57. Hum wa azwaajuhum fee zilaalin 'alal araaa'iki muttaki'oon
  58. Lahum feehaa faakiha tunw-wa lahum maa yadda'oon
  59. Salaamun qawlam mir Rabbir Raheem
  60. Wamtaazul Yawma ayyuhal mujrimoon
  61. Alam a'had ilaikum yaa Baneee Aadama al-laa ta'budush Shaitaana innahoo lakum 'aduwwum mubeen
  62. Wa ani'budoonee; haazaa Siraatum Mustaqeem
  63. Wa laqad adalla minkum jibillan kaseeraa; afalam takoonoo ta'qiloon
  64. Haazihee Jahannamul latee kuntum too'adoon
  65. Islawhal Yawma bimaa kuntum takfuroon
  66. Al-Yawma nakhtimu 'alaaa afwaahihim wa tukallimunaaa aideehim wa tashhadu arjuluhum bimaa kaanoo yaksiboon
  67. Wa law nashaaa'u lata masna 'alaaa aiyunihim fasta baqus-siraata fa-annaa yubsiroon
  68. Wa law nashaaa'u lamasakhnaahum 'alaa makaanatihim famas-tataa'oo mudiyyanw-wa laa yarji'oon
  69. Wa man nu 'ammirhu nunakkishu fil-khalq; afalaa ya'qiloon
  70. Wa maa 'allamnaahush shi'ra wa maa yambaghee lah; in huwa illaa zikrunw-wa Qur-aanum mubeen
  71. Liyunzira man kaana haiyanw-wa yahiqqal qawlu 'alal-kaafireen
  72. Awalam yaraw annaa khalaqnaa lahum mimmaa 'amilat aideenaaa an'aaman fahum lahaa maalikoon
  73. Wa zallalnaahaa lahum faminhaa rakoobuhum wa minhaa yaakuloon
  74. Wa lahum feehaa manaa fi'u wa mashaarib; afalaa yashkuroon
  75. Wattakhazoo min doonil laahi aalihatal la'allahum yunsaroon
  76. Laa yastatee'oona nasrahum wa hum lahum jundum muhdaroon
  77. Falaa yahzunka qawluhum; innaa na'lamu maa yusirroona wa maa yu'linoon
  78. Awalam yaral insaanu annaa khalaqnaahu min nutfatin fa-izaa huwa khaseemum mubeen
  79. Wa daraba lanaa maslanw-wa nasiya khalqahoo qaala mai-yuhyil'izaama wa hiya rameem
  80. Qul yuh yeehal lazeee ansha ahaaa awwala marrah; wa Huwa bikulli khalqin 'Aleem
  81. Allazee ja'ala lakum minash shajaril akhdari naaran fa-izaaa antum minhu tooqidoon
  82. Awa laisal lazee khalaqas samaawaati wal arda biqaadirin 'alaaa ai-yakhluqa mislahum; balaa wa Huwal Khallaaqul 'Aleem
  83. Innamaa amruhooo izaaa araada shai'an ai-yaqoola lahoo kun fa-yakoon
  84. Fa Subhaanal lazee biyadihee malakootu kulli shai-inw-wa ilaihi turja'oon

AYAT 18-25


  • TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
  • JILIK -5-SURAH YASIN
  • Ayat 18 – 25
  1. Bismillahi-rahmanir-rahim.Qaaloo innaa tataiyarnaa bikum la'il-lam tantahoo lanar jumannakum wa la-yamassan nakum minnaa 'azaabun aleem'Qaaloo taaa'irukum ma'akum; a'in zukkirtum; bal antum qawmum musrifoon;Wa jaaa'a min aqsal madeenati rajuluny yas'aa qaala yaa qawmit tabi'ul mursaleen;Ittabi'oo mal-laa yas'alukum ajranw-wa hum muhtadoon;Wa maa liya laaa a'budul lazee fataranee wa ilaihi turja'oon'A-attakhizu min dooniheee aalihatan iny-yuridnir Rahmaanu bidurril-laa tughni 'annee shafaa 'atuhum shai 'anw-wa laa yunqizoon

  • قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (١٨) قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (*) وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ (٢٠) اتَّبِعُوا مَنْ لا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ (٢١) وَمَا لِيَ لا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (٢٢) أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلا يُنْقِذُونِ (٢٣) إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (٢٤) إِنِّي آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ

  • “Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami. Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas.” “Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu”. Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya jika (Allah) yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku.”

  • Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan Allah menganggap para rasul sebagai pembawa sial, dan itu adalah anggapan batil.
  • Sesungguhnya kesialan seseorang terletak pada amalannya sendiri, bukan pada dakwah hak yang dilakukan para rasul.
  • Sesungguhnya dosa-dosa dan pendustaan terhadap para rasul dapat menjadi sebab kehancuran dan bencana.
  • Seyogyanya bagi seseorang untuk menggunakan kesempatan sebaik-baiknya dalam hal memberikan peringatan dan menasihati kaumnya.
  • Sesungguhnya diperbolehkan bagi seseorang untuk memberi peringatan sesegera mungkin tanpa muqaddimah jika memang hal itu diperlukan.
  • Anjuran agar berlemah lembut dalam bertutur kata ketika berdakwah pada orang lain, sehingga dia dapat diikuti dan diterima nasihat-nasihatnya.
  • Sesungguhnya para rasul tidak pernah meminta upah apapun dari manusia atas petunjuk dan bimbingan yang mereka berikan.
  • Sesungguhnya wajib atas orang yang berdakwah kepada Allah Swt agar berada di atas bashirah dan di atas ilmu, karena itulah sifat para rasul.
  • Bimbingan untuk ikhlas dalam beribadah kepada Allah Swt.
  • Sesungguhnya segala sesuatu yang disembah adalah tuhan (ilah). Akan tetapi, jika dia berhak untuk diibadahi, maka dia adalah Tuhan yang hak, dan itu tidak berlaku melainkan hanya untuk Allah Swt. Namun jika dia tidak berhak untuk diibadahi, yakni tuhan selain Allah Swt, maka ibadah kepadanya adalah batil dan ketuhanannya juga batil. Hal ini sebagaimana firman Allah, “(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (tuhan) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. Al-hajj: 62)
  1. Sesungguhnya tidak ada seorangpun yang dapat menyelamatkan orang yang telah Allah kehendaki keburukan padanya.Penjelasan bahwa diantara kesesatan yang paling bahaya dan paling dahsyat adalah seseorang yang menjadikan bersama Allah tuhan-tuhan yang disembah.Sesungguhnya barangsiapa yang mengesakan Allah Swt, maka dia berada di atas hidayah yang nyata, jelas dan terang; karena dia membenarkan fitrah dan membenarkan apa yang dibawa oleh para rasul.Kuatnya kepribadian lelaki tersebut, dimana dia menampakkan di hadapan kaumnya bahwa dia telah beriman. Dia beriman kepada Rabb mereka yang mengharuskan mereka untuk mengikhlaskan ibadah hanya untuk-Nya.Ketika itu, penduduk kampung berkata kepada mereka, “Sesungguhnya kami bernasib malang karenamu,” yaitu kami tidak melihat kebaikan di wajah-wajah kalian bagi kehidupan kami.

  • Yakni kesialan itu karena tingkah laku kalian sendiri. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya yang menceritakan perihal kaum Fir'aun:{فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ}Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata, "Ini adalah karena (usaha) kami.” Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah. (Al-A'raf: 131)Dan kaum Nabi Saleh berkata:{اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَنْ مَعَكَ قَالَ طَائِرُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ}Mereka menjawab, "Kami mendapat nasib yang malang disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu.” Saleh berkata, "Nasibmu ada pada sisi Allah (bukan kami yang menjadi sebab).” (An-Naml: 47)Qatadah dan Wahb ibnu Munabbih mengatakan, yang dimaksud dengan ta'ir di sini adalah amal perbuatan, yakni amal perbuatan kalian. Disebutkan pula di dalam firman-Nya hal yang semisal, yaitu:{وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِكَ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ فَمَالِ هَؤُلاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا}Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, "Ini adalah dari sisi Allah.” Dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana, mereka mengatakan, "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad).” Katakanlah, "Semuanya (datang) dari sisi Allah.” Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun. (An-Nisa: 78)
  1. Qatadah berkata: “Mereka menjawab; ‘Kami tertimpa keburukan hanya disebabkan oleh kalian.” Mujahid berkata, mereka menjawab; “Tidak ada satu orang pun seperti kalian yang memasuki sebuah kampung kecuali dia akan menghukum penduduknya.”“Sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajammu,” Qatadah berkata; “Yaitu dengan batu.” Mujahid berkata: “Yaitu dengan celaan.” “Dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami,”yaitu siksaan yang dahsyat. Lalu, para utusan mereka berkata, “Kemalanganmu itu adalah karena kamu sendiri,” yaitu kembali kepada kalian, seperti firman Allah Ta’ala tentang kaum Nabi Shalih: “Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu.” Shalih berkata: “Nasibmu ada pada sisi Allah.” (QS. An-Naml: 47).Qatadah dan Wahb bin Munabbih berkata; “Yaitu amal-amal kalian bersama kalian.”
  •  Dan firman Allah Ta’ala,”Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas,” yaitu, dikarenakan kami mengingatkan dan memerintahkan kalian untuk mengesakan Allah dan mengikhlaskan pengabdian hanya kepada-Nya, maka kalian membalas, mengancam dan menggertak dengan kata-kata tersebut, bahkan kalian adalah kaum yang melampaui batas.Ats-Tsauri berkata dari ‘Ashim al-Ahwal, dari Abu Mijlaz bahwa namanya adalah Habib bin Murri. Syuhaib bin Bisyr berkata dari ‘Ikrimah bahwa Ibnu ‘Abbas r.a berkata: “Nama laki-laki di surah Yaasiin adalah Habib an-Najjar yang dibunuh oleh kaumnya.” Qatadah berkata: “Dia beribadah di sebuah gua.“Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu,” dia mendorong kaumnya untuk mengikuti orang-orang yang mendatangi mereka, “Ikutilah orang yang tidak minta balasan kepadamu,” yaitu sebagai balasan menyampaikan risalah. “Dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk,” tentang apa yang mereka serukan kepada kalian berupa beribadah kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya.“Mengapa aku tidak menyembah (Ilah)yang telah menciptakanku, “yaitu, apa yang mencegahku untuk memurnikan ibadah kepada Rabb yang menciptakan aku, Mahaesa yang tidak ada sekutu bagi-Nya? “Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan” yaitu pada hari dikembalikannya kalian, lalu Dia membalas kalian atas amal-amal kalian. Jika amalnya baik, maka akan dibalas dengan kebaikan dan jika amalnya buruk, maka akan dibalas dengan keburukan. “Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selain-Nya,”
  1. “Jika (Allah) Yang Mahapemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafa’at mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku.” Yaitu, ilah-ilah yang kalian sembah selain Allah ini tidak memiki urusan sedikit pun. Seandainya Allah Ta’ala menghendaki keburukan bagiku, “Maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia sendiri.” (QS. Al-An’aam: 17). Berhala-berhala ini tidak mampu menolak dan mencegah terjadinya semua itu, dan mereka tidak dapat menyelamatkanku dari apa yang aku alami. “Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata,” yaitu, jika aku menjadikannya sebagai ilah-ilah lain selain Allah. Dan firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabb-mu,” telah kalian kufuri, “Maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku,” yaitu, dengarkanlah perkataanku.
  •  Dan boleh jadi yang diajak bicara adalah Rasulullah Saw dengan firman-Nya, “Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabb-mu,” yaitu yang telah mengutus kalian, “Maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku.” Yaitu, maka saksikanlah oleh kalian tentangku dalam masalah itu. Itulah yang diceritakan oleh Ibnu Jarir.Ulama yang lain berkata: “Bahkan, para utusan tersebut mengkhithab hal itu pula dan dia berkata kepada mereka: ‘Dengarkanlah oleh kalian perkataanku agar kalian menjadi saksi bagiku tentang apa yang aku katakan kepada kalian di sisi Rabb-ku. Sesungguhnya aku beriman kepada Rabb kalian dan aku mengikuti kalian. Apa yang diceritakan oleh beliau ini adalah makna yang lebih jelas dalam ayat ini. Wallaahu a’lam

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN