Jumaat, 28 September 2018

AYAT 118-119

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK '
SURAH HUD'
BISMILLAHIRAHMANIRAHIM'
118. walaw syaa-a rabbuka laja’ala alnnaasa ummatan waahidatan walaa yazaaluuna mukhtalifiina 119. illaa man rahima rabbuka walidzaalika khalaqahum watammat kalimatu rabbika la-amla-anna jahannama mina aljinnati waalnnaasi ajma’iina

 {وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ (118) إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (119) } “

Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Allah menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, (QS. 11:118) kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Rabbmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan; sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. (QS. 11:119)” (Huud: 118-119)

 Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan, bahwa sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) kesemuanya. Dalam ash-shahihain, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Surga dan neraka saling berselisih, maka surga berkata: `Mengapa yang masuk kepadaku hanya orang-orang yang lemah dan orang-orang yang berperingkat rendah.’

Dan neraka berkata: `Aku dipenuhi dengan orang orang yang sombong dan penguasa,’ maka Allah berfirman kepada surga: `Engkau adalah rahmat-Ku, denganmu Aku merahmati siapa saja yang Aku kehendaki.’ Dan Allah berkata kepada neraka: `Engkau adalah siksa-Ku, denganmu Aku menyiksa siapa saja yang Aku kehendaki. Setiap salah satu dari kalian berdua, mereka akan memenuhinya. Adapun surga, masih tetap ada di dalamnya tempat yang berlebih, sehingga Allah menciptakan makhluk untuknya yang menempati kelebihan tempat surga tersebut.

Dan adapun neraka, ia senantiasa selalu berkata: ‘Apakah ada tambahan, sehingga Rabb yang Mahaperkasa meletakkan kaki-Nya, maka neraka berkata: ‘Cukup-cukup, demi kemulyaan Engkau.’” Rasulullah?" Rasulullah Saw. menjawab:

       (Orang-orang yang) mengerjakan apa yang aku dan sahabat-sahabatku mengerjakannya. Imam Hakim meriwayatkannya di dalam kitab Mustadrak-nya dengan tambahan ini. Ata mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. (Hud: 118) Yakni orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Majusi. kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. (Hud: 119) Yaitu orang-orang yang memeluk agama yang hanif (agama Islam). Qatadah mengatakan bahwa orang-orang yang dirahmati oleh Allah adalah ahlul jama'ah, sekalipun tempat tinggal dan kebangsaan mereka berbeda-beda. Dan orang-orang yang ahli maksiat adalah ahli dalam perpecahan, sekalipun tempat tinggal dan kebangsaan mereka sama. *******************

        Firman Allah Swt.: {وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ} Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. (Hud: 119) Al-Hasan Al-Basri —menurut suatu riwayat yang bersumberkan dari­nya— menyebutkan bahwa makna ayat ini ialah 'mereka diciptakan untuk berselisih pendapat'. Makki ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Allah menciptakan mereka dalam keadaan berpecah belah, yakni berbeda-beda. Pengertiannya sama saja dengan firman Allah Swt. dalam ayat yang lain, yaitu: {فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ} maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. (Hud: 105) Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah Allah menciptakan mereka untuk dirahmati. Ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muslim ibnu Khalid, dari Abu Najih, dari Tawus, bahwa pernah ada dua orang lelaki bersengketa kepadanya dengan persengketaan yang sengit. Lalu Tawus berkata, "Kalian sering bertengkar dan berselisih pendapat." Salah seorang di antara keduanya menjawab, "Memang demikianlah kita diciptakan.' Tawus berkata, "Kamu dusta." Lalu lelaki itu berkata, "Bukankah Allah Swt. telah berfirman: 'tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.” (Hud: 118-119)?"

         Tawus berkata, "Allah tidaklah menciptakan mereka agar mereka berselisih pendapat, tetapi Dia menciptakan mereka agar bersatu dan untuk dirahmati." Seperti yang telah diriwayatkan oleh Al-Hakam ibnu Aban, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa mereka diciptakan untuk dirahmati, bukan untuk diazab. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ad-Dahhak, dan Qatadah. Kesimpulan pendapat ini merujuk kepada pengertian yang terkandung di dalam firman Allah Swt.: {وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ} Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz-Dzariyat: 56) Menurut pendapat lain, makna yang dimaksud ialah bahwa untuk rahmat dan perselisihan Allah menciptakan mereka. Seperti yang dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri dalam suatu riwayat yang bersumberkan darinya sehubungan dengan makna firman-Nya: tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. (Hud: 118-119)

         Bahwa manusia itu senantiasa berselisih pendapat dalam masalah agamanya hingga terbagi-bagi menjadi berbagai macam pendapat. kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. (Hud: 119) Maka barang siapa yang dirahmati oleh Tuhanmu, berarti dia tidak berselisih pendapat. Ketika dikatakan kepadanya, "Untuk itulah Allah menciptakan mereka." Al-Hasan Al-Basri menjawab, "Allah men­ciptakan sebagian dari mereka untuk surganya, sebagian yang lainnya untuk neraka-Nya, dan sebagian yang lain untuk azab-Nya." Hal yang sama telah dikatakan oleh Ata ibnu Abu Rabah dan Al-A'masy. Ibnu Wahb pernah mengatakan bahwa ia telah bertanya kepada Malik tentang makna firman-Nya: tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. (Hud: 118-119) Malik menjawab bahwa segolongan dimasukkan ke dalam surga dan segolongan yang lain dimasukkan ke dalam neraka sa'ir. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir dan Abu Ubaid Al-Farra. Dari Malik, menurut apa yang telah kami riwayatkan darinya di dalam kitab Tafsir sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. (Hud: 119) Disebutkan bahwa mereka diciptakan untuk dirahmati. Sedangkan suatu kaum dari kalangan ulama mengatakan bahwa mereka diciptakan untuk berselisih. *******************

        Firman Allah Swt.: {وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ} Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan bahwa sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) kesemuanya. (Hud: 119) Allah Swt. menyebutkan bahwa telah ditetapkan di dalam qada dan takdir­Nya berkat pengetahuan-Nya yang Maha Sempurna dan kebijaksanaan­Nya yang Mahaperiksa, bahwa di antara makhluk yang diciptakan-Nya ada yang berhak mendapat surga, ada pula yang berhak mendapat neraka. Dan sudah merupakan suatu kepastian bahwa Dia akan memenuhi neraka Jahanam dari kedua jenis makhluknya, yaitu jin dan manusia. Allah mempunyai hujah yang kuat dan kebijakan yang sempurna dalam semua perbuatan-Nya.

         Di dalam kitab Sahihain disebutkan dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: "اخْتَصَمَتِ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ، فَقَالَتِ الْجَنَّةُ: مَا لِي لَا يَدْخُلُنِي إِلَّا ضَعَفَةُ النَّاسِ وسَقطُهم؟ وَقَالَتِ النَّارَ: أُوثِرْتُ بِالْمُتَكَبِّرِينَ وَالْمُتَجَبِّرِينَ. فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِلْجَنَّةِ، أَنْتِ رَحْمَتِي أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ. وَقَالَ لِلنَّارِ: أَنْتَ عَذَابِي، أَنْتَقِمُ بِكِ مِمَّنْ أَشَاءُ، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْكُمَا مِلْؤُهَا. فَأَمَّا الْجَنَّةُ فَلَا يَزَالُ فِيهَا فَضْلٌ، حَتَّى يُنْشِئَ اللَّهُ لَهَا خَلْقًا يَسْكُنُ فَضْلَ الْجَنَّةِ، وَأَمَّا النَّارُ فَلَا تَزَالُ تَقُولُ: هَلْ مِنْ مَزِيدٍ؟ حَتَّى يَضَعَ عَلَيْهِ رَبُّ الْعِزَّةِ قَدمه، فَتَقُولُ: قَطْ قَطٍ، وَعَزَّتِكُ" Surga dan neraka mengadu (kepada Allah). Surga berkata, "Mengapa aku, tiada yang memasuki aku kecuali hanya orang-orang yang lemah dan orang-orang yang rendah?” Neraka berkata, "Aku dipilih untuk tempat orang-orang yang angkuh dan orang-orang yang kelewat batas.” Maka Allah Swt. berfirman kepada surga, 'Engkau adalah rahmat-Ku, Aku merahmati orang yang Aku kehendaki denganmu.” Dan berfirman kepada neraka, 'Engkau adalah azab-Ku, Aku membalas denganmu terhadap orang yang Aku kehendaki. Dan bagi masing-masing dari kamu berdua Aku akan memenuhinya.” Adapun surga, maka di dalamnya masih terus-menerus terjadi lebihan hingga Allah menciptakan baginya suatu ciptaan yang membuat lebihan surga menjadi terisi. Sedangkan neraka, maka ia masih terus mengatakan, "Apakah masih ada tambahan lagi, " hingga Allah meletakkan padanya telapak kaki kekuasaan-Nya; maka saat itu barulah neraka mengatakan "Cukup, cukup, demi keagungan-Mu.”

Khamis, 27 September 2018

AYAT 114-117

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH HUD
Ayat 114-117:

Pentingnya menjaga shalat lima waktu, dorongan berbuat kebaikan dan larangan mengadakan kerusakan di bumi.BISMILLAHIRAHMANIRAHIM'
114. wa-aqimi alshshalaata tharafayi alnnahaari wazulafan mina allayli inna alhasanaati yudzhibna alssayyi-aati dzaalika dzikraa lildzdzaakiriina 115. waishbir fa-inna allaaha laa yudhii’u ajra almuhsiniina 116. falawlaa kaana mina alquruuni min qablikum uluu baqiyyatin yanhawna ‘ani alfasaadi fii al-ardhi illaa qaliilan mimman anjaynaa minhum waittaba’a alladziina zhalamuu maa utrifuu fiihi wakaanuu mujrimiina 117. wamaa kaana rabbuka liyuhlika alquraa bizhulmin wa-ahluhaa mushlihuuna

 وَأَقِمِ الصَّلاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ (١١٤) وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ (١١٥) فَلَوْلا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الأرْضِ إِلا قَلِيلا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ (١١٦) وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ (١١٧

 Terjemah Surat Hud Ayat 114-117 114.
[1] Dan dirikanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang)[2] dan pada bagian permulaan malam[3]. Perbuatan-perbuatan baik itu[4] menghapus kesalahan-kesalahan[5]. Itu[6] peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)[7]. 115. Dan bersabarlah[8], karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan[9].116.[10] Maka mengapa tidak ada di antara umat-umat sebelum kamu orang yang mempunyai keutamaan yang melarang (berbuat) kerusakan di bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang yang telah Kami selamatkan[11]. Dan orang-orang yang zalim[12] hanya mementingkan kenikmatan dan kemewahan, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa[13]. 117. Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim[14], selama penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan (beriman)[15].

[1] Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki yang mencium seorang wanita, lalu laki-laki itu datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan hal itu, maka turunlah kepada Beliau ayat, “Dan dirikanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).” Laki-laki itu berkata, “Apakah ayat ini untukku?” Beliau bersabda, “Untuk orang yang melakukan demikian di kalangan umatku.” Dalam riwayat Muslim dan para pemilik kitab sunan dari Ibnu Mas’ud disebutkan, “Ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mendapatkan seorang wanita di kebun, lalu aku berbuat segala sesuatu dengannya, hanyasaja aku tidak menjima’inya; aku mencium dan memeluknya. Oleh karena itu, lakukanlah terhadapku apa yang engkau kehendaki…dst.”

 [2] Yakni shalat Subuh, Zhuhur dan ‘Ashar. [3] Yaitu Maghrib dan Isya. Termasuk ke dalamnya shalat malam, karena ia dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala berdasarkan lafaz “wa zulafam minal lail.” [4] Seperti shalat yang lima waktu dan shalat-shalat sunat.

 [5] Yakni dosa-dosa kecil, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: « الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ » . “Shalat yang lima waktu, shalat Jum’at yang satu ke shalat Jum’at berikutnya, dan Ramadhan yang satu ke Ramadhan berikutnya mengapuskan dosa-dosa antara keduanya apabila ia menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)

 [6] Kata “itu” di sini bisa tertuju kepada perintah-perintah sebelumnya, yaitu tetap istiqmah di atas jalan yang lurus, tidak melampaui batas, tidak cenderung kepada orang-orang zalim, mendirikan shalat dan penjelasan bahwa kebaikan-kebaikan dapat menghapuskan kesalahan-kesalahan.

 [7] Dengannya mereka dapat memahami perintah dan larangan Allah, dan mereka bisa mengerjakan perbuatan-perbuatan baik yang membuahkan kebaikan dan menghindarkan keburukan. Akan tetapi, perbuatan tersebut butuh usaha keras dari dalam diri manusia dan kesabaran, oleh karenanya pada ayat selanjutnya Allah memerintahkan bersabar.

 [8] Yakni terhadap gangguan kaummu atau bersabarlah dalam mendirikan shalat atau secara umum bersabar di atas ketaatan dan bersabar dalam menjauhi kemaksiatan.

 [9] Yaitu mereka yang bersabar di atas ketaatan dan bersabar dalam menjauhi kemaksiatan.

 [10] Setelah sebelumnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan tentang kebinasaan umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan bahwa kalau sekiranya di kalangan umat-umat itu ada orang-orang yang utama yang mengajak kepada petunjuk dan melarang perbuatan buruk, tentu mereka akan selamat, akan tetapi sedikit sekali orang yang melakukan. Oleh karena itu, umat akan tetap eksis selama mereka mengikuti petunjuk Allah yang dibawa oleh para rasul, dan jika mereka meninggalkannya, maka mereka akan binasa.

 [11] Mereka melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar sehingga mereka selamat.

 [12] Baik dengan melakukan kerusakan di bumi (kemaksiatan) maupun dengan tidak melakukan nahi munkar padahal mampu.

 [13] Oleh karena itu, mereka mesti diberi hukuman dan dibinasakan oleh azab. Dalam ayat ini terdapat dorongan kepada umat ini agar di tengah-tengah mereka ada orang-orang yang utama yang mengadakan perbaikan, yang menegakkan agama Allah, mengajak orang yang tersesat kepada petunjuk, bersabar terhadap gangguan dan menerangkan jalan yang lurus kepada masyarakat yang sebelumnya nampak gelap di hadapan mereka. Orang yang melakukannya kedudukannya dalam agama adalah tinggi dan pelakunya menjadi imam dalam agama ini apabila dia melakukannya ikhlas karena Allah Rabbul ‘alamin.

 [14] Dia tidak berbuat zalim kepada mereka.

 [15] Oleh karena itu, Allah tidak akan membinasakan mereka kecuali apabila mereka berbuat zalim dan telah tegak hujjah kepada mereka. Maksud ayat ini bisa juga bahwa Allah tidak akan membinasakan neger-negeri karena kezaliman mereka yang dahulu apabila mereka telah rujuk dan memperbaiki amal mereka, karena Allah akan memaafkan mereka, dan menghapuskan kezaliman mereka yang telah lalu.

Rabu, 26 September 2018

AYAT 112-113

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'

SURAH HUD 112-113
BIS-MIL-LAHIR-RAHMAN-NIR-RAHIM''
111. wa-inna kullan lammaa layuwaffiyannahum rabbuka a’maalahum innahu bimaa ya’maluuna khabiirun 112. faistaqim kamaa umirta waman taaba ma’aka walaa tathghaw innahu bimaa ta’maluuna bashiirun 113. walaa tarkanuu ilaa alladziina zhalamuu fatamassakumu alnnaaru wamaa lakum min duuni allaahi min awliyaa-a tsumma laa tunsharuuna
{فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (112) وَلا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (113) }

Maka tetaplah kamu dalam jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) kepada orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kalian kerjakan. Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka, dan sekali-kali kalian tiada mempunyai seorang penolong pun selain dari Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan.

Allah Swt. memerintahkan kepada Rasul-Nya dan hamba-hamba-Nya yang beriman agar bersikap teguh dan tetap berjalan pada jalan yang lurus. Karena hal tersebut merupakan sarana yang membantu untuk memperoleh kemenangan atas musuh dan menangkal semua perlawanan mereka. Lalu Allah melarang bersikap melampaui batas, karena sesungguhnya sikap ini mendatangkan kehancuran diri, sekalipun dalam bersikap terhadap orang musyrik. Allah Swt. memberitahukan pula bahwa Dia Maha Melihat semua amal perbuatan hamba-hamba-Nya, Dia tidak akan lalai terhadap sesuatu pun dan tidak ada sesuatu pun yang samar bagi-Nya. Firman Allah Swt.:
{وَلا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا}
Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang zalim. (Hud: 113)

Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna latarkanu, bahwa makna yang dimaksud ialah janganlah kalian bersikap diplomasi. Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah cenderung kepada kemusyrikan. Abul Aliyah mengatakan, makna yang dimaksud ialah janganlah kamu rela terhadap perbuatan mereka. Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang aniaya. Pendapat ini cukup baik, yang maksudnya ialah janganlah kalian meminta pertolongan kepada orang-orang yang aniaya, karena jadinya seakan-akan kalian rela kepada amal perbuatan mereka.

{فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ}
yang akibatnya kalian akan disentuh api neraka, dan sekali-kali kalian tidak mempunyai seorang penolong pun selain dari Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan. (Hud: 113) Maksudnya, kalian tidak akan mempunyai seorang penolong pun yang dapat menyelamatkan diri kalian; dan tidak akan mempunyai seorang pelindung pun yang dapat membebaskan kalian dari azab Allah selain Allah sendiri.

Selasa, 25 September 2018

AYAT 109-111

TFASIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH HUD''
Ayat 109-117
                            BIS'MIL'LAHI'RAHMAN'NIR'RAHIM.
       Menjelaskan beberapa prinsip Islam dan ketetapan Allah dalam kehidupan. Diantaranya: Tidak boleh ragu sedikitpun terhadap kesesatan ibadah orang-orang kafir dan musyrik, karena mereka sebenarnya menyembah tuhan-tuhan hasil rekaan nenek moyang belaka, sebagaimana yang terjadi pada umat nabi Musa sebelumnya. Siksaan terhadap orang-orang kafir ada yang ditangguhkan Allah sampai akhirat. Sebab itu, dalam berdakwah harus istiqamah (tidak boleh berhenti atau menyimpang) kendati semua manusia menolaknya dan tidak boleh berbuat kezaliman atau melampaui batas, kendati terhadap orang kafir dan musyrik. Allah melarang kaum Mukmin meridhai ibadah kaum kafir dan musyrik, bersikap lunak pada mereka dalam masalah-masalah prinsip dan meminta tolong kepada mereka, kecuali dalam masalah yang sangat terbatas dan tidak mempengaruhi nilai Islam. Orang yang melanggar ketetapan Allah tersebut mendapat ancaman masuk neraka dan tidak mendapat pertolongan Allah di dunia dan akhirat. Menjaga salat fardhu, salat malam, selalu beramal saleh dan sabar terhadap semua konsekuensi dakwah adalah ciri-ciri juru dakwah sejati. Kaum Mukmin pada umumnya dan para da’i khususnya harus hidup sederhana, karena yang hidup berfoya-foya itu hanyalah orang-orang kafir dan zalim. Negeri akan selamat jika nahi mungkar ditegakkan dan masyarakatnya taat pada sistem Allah.

                         
{فَلا تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِمَّا يَعْبُدُ هَؤُلاءِ مَا يَعْبُدُونَ إِلا كَمَا يَعْبُدُ آبَاؤُهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِنَّا لَمُوَفُّوهُمْ نَصِيبَهُمْ غَيْرَ مَنْقُوصٍ (109) وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ فَاخْتُلِفَ فِيهِ وَلَوْلا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّهُمْ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مُرِيبٍ (110) وَإِنَّ كُلا لَمَّا لَيُوَفِّيَنَّهُمْ رَبُّكَ أَعْمَالَهُمْ إِنَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (111) }

109. falaa taku fii miryatin mimmaa ya’budu haaulaa-i maa ya’buduuna illaa kamaa ya’budu aabaauhum min qablu wa-innaa lamuwaffuuhum nashiibahum ghayra manquushin 110. walaqad aataynaa muusaa alkitaaba faikhtulifa fiihi walawlaa kalimatun sabaqat min rabbika laqudhiya baynahum wa-innahum lafii syakkin minhu muriibun 111. wa-inna kullan lammaa layuwaffiyannahum rabbuka a’maalahum innahu bimaa ya’maluuna khabiirun

              Maka janganlah kamu berada dalam keragu-raguan tentang apa yang disembah oleh mereka. Mereka tidak menyembah melainkan sebagaimana nenek moyang mereka menyembah dahulu. Dan sesungguhnya Kami pasti akan menyempurnakan dengan secukup-cukupnya pembalasan (terhadap) mereka dengan tidak dikurangi sedikit pun. Dan sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab (Taurat) kepada Musa, lalu diperselisihkan tentang Kitab itu. Dan seandainya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Tuhan­mu, niscaya telah ditetapkan hukuman di antara mereka. Dan sesungguhnya mereka (orang-orang kafir Mekah) dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap Al-Qur'an. Dan sesunggguhnya kepada masing-masing (mereka yang berselisih itu) pasti Tuhanmu akan menyempurnakan dengan cukup (balasan) pekerjaan mereka. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

         Firman Allah Swt.: {فَلا تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِمَّا يَعْبُدُ هَؤُلاءِ} Maka janganlah kamu berada dalam keragu-raguan tentang apa yang disembah oleh mereka. (Hud: 109) Yakni orang-orang musyrik itu; sesungguhnya perbuatan itu adalah batil, bodoh, dan sesat. Mereka hanyalah menyembah apa yang dahulu disembah oleh bapak-bapak mereka. Dengan kata lain, mereka tidak mempunyai sandaran dalam mengerjakan apa yang mereka lakukan itu, melainkan hanyalah mengikuti kebodohan bapak-bapak mereka dahulu. Kelak Allah akan melakukan pembalasan kepada mereka atas hal tersebut dengan balasan yang sempurna. Karena itu, kelak Dia akan mengazab mereka dengan azab yang tidak pernah Dia timpakan kepada seorang pun. Dan jika mereka mempunyai kebaikan-kebaikan, maka Allah telah menunaikan balasannya di dunia sebelum mereka memasuki alam akhirat. Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Jabir Al-Ju'fi, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan sesungguhnya Kami pasti akan menyempurnakan dengan secukup-cukupnya pembalasan (terhadap) mereka dengan tidak dikurangi. (Hud: 109)

        Yaitu apa yang telah dijanjikan kepada mereka berupa balasan kebaikan dan balasan keburukan. Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan, "Sesungguhnya Kami pasti akan menimpakan pembalasan yang setimpal kepada mereka tanpa dikurangi." Kemudian Allah Swt. menyebutkan bahwa Dia telah memberikan Kitab Taurat kepada Musa, lalu umatnya memperselisihkannya. Di antara mereka ada yang beriman kepadanya, dan di antara mereka ada pula yang kafir kepadanya. Maka engkau, hai Muhammad, mempunyai teladan dari kalangan para nabi sebelummu. Karena itu, janganlah sekali-kali kamu marah bila mereka mendustakanmu, janganlah pula hal tersebut menggoyahkanmu. {وَلَوْلا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ} Dan seandainya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Tuhanmu, niscaya telah ditetapkan hukuman di antara mereka. (Hud: 110)

         Ibnu Jarir mengatakan, "Seandainya tidak ada takdir-Nya yang terdahulu yang memutuskan bahwa Dia menangguhkan azab-Nya sampai kepada waktu yang telah ditentukan, niscaya Allah menetapkan hukuman di antara mereka." Dapat pula diartikan bahwa Allah tidak akan mengazab seseorang melainkan sesudah tegaknya hujah atas orang itu dan rasul telah diutuskan kepadanya, seperti yang disebutkan di dalam firman Allah Swt.: {وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا} dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Al-Isra: 15) Dan sesungguhnya Allah Swt. telah berfirman dalam ayat yang lainnya, yaitu: {وَلَوْلا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَكَانَ لِزَامًا وَأَجَلٌ مُسَمًّى فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ} Dan sekiranya tidak ada suatu ketetapan dari Allah yang telah terdahulu atau tidak ada ajal yang telah ditentukan, pasti (azab itu) menimpa mereka. Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan. (Thaha: 129-130) Kemudian Allah Swt. menceritakan bahwa kelak Dia akan meng­himpunkan orang-orang yang terdahulu dan yang kemudian dari kalangan semua umat, lalu Dia memberikan balasan kepada mereka sesuai dengan amal perbuatan masing-masing. Jika amal perbuatannya baik, maka balasannya baik; dan jika amal perbuatannya buruk, maka balasannya buruk pula. Untuk itu, Allah Swt. berfirman: {وَإِنَّ كُلا لَمَّا لَيُوَفِّيَنَّهُمْ رَبُّكَ أَعْمَالَهُمْ إِنَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ خَبِيرٌ} Dan sesungguhnya kepada masing-masing (mereka yang berselisih itu) pasti Tuhanmu akan menyempurnakan dengan cukup (balasan) pekerjaan mereka. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Hud: 111)

         Yakni Allah Maha Mengetahui semua amal perbuatan mereka yang mulia dan yang rendah serta yang besar dan yang kecil. Sehubungan dengan ayat ini banyak riwayat yang menceritakan qiraatnya, tetapi maknanya kembali kepada apa yang telah kami sebutkan dalam tafsir firman-Nya: {وَإِنْ كُلٌّ لَمَّا جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ} Dan setiap mereka semuanya dikumpulkan lagi kepada Kami. (Yasin: 32)

Isnin, 24 September 2018

AYAT 108

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH HUD 108;
{وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ إِلا مَا شَاءَ رَبُّكَ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ (108) }

Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya. Firman Allah Swt.: {وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا}

Adapun orang-orang yang berbahagia. (Hud: 108) Mereka adalah pengikut-pengikut para rasul. {فَفِي الْجَنَّةِ} maka tempatnya di dalam surga. (Hud: 108) Yakni tempat tinggal mereka adalah surga. {خَالِدِينَ فِيهَا} mereka kekal di dalamnya. (Hud: 108)

 Maksudnya, mereka tinggal di dalam surga untuk selama-lamanya. {مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ إِلا مَا شَاءَ رَبُّكَ} selagi masih ada langit dan bumi kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). (Hud: 108) Pengertian istisna (pengecualian) dalam ayat ini menunjukkan bahwa keabadian mereka dalam kenikmatan yang mereka alami itu secara prinsip bukanlah merupakan suatu hal yang wajib (harus), melainkan terserah kepada kehendak Allah Swt. Dialah yang memberikan karunia kepada mereka selamanya, karena itulah disebutkan bahwa mereka diilhami oleh Allah untuk selalu bertasbih dan bertahmid, sebagaimana mereka diilhami untuk bernapas.

Ad-Dahhak dan Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa ayat ini berkaitan dengan nasib orang-orang yang durhaka dari kalangan ahli tauhid, yaitu mereka yang berada di dalam neraka (karena dosa-dosanya), kemudian dikeluarkan dari neraka. Sesudah itu disebutkan dalam ayat berikutnya: {عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ} sebagai karunia yang tiada terputus-putus. (Hud: 108)

 Yakni tidak pernah terputus. Demikianlah menurut pendapat Mujahid, Ibnu Abbas, Abul Aliyah, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang. Dimaksudkan agar sesudah penyebutan kehendak Allah tidak timbul dugaan yang mengatakan bahwa di sana ada putusnya atau ada terhentinya atau ada sesuatu. Melainkan telah diputuskan kekekalan dan tidak adanya keterputusan, seperti yang telah dijelaskan bahwa azab ahli neraka di dalam neraka kekal adalah karena kehendak Allah. Juga karena keadilan dan kebijaksanaan-Nya, Dia mengazab mereka. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya: {إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ} Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. (Hud: 107) Dalam ayat yang lainnya lagi disebutkan: {لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ} Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai. (Al-Anbiya: 23)

Dalam surat ini disebutkan pula hal yang menyenangkan hati dan meluruskan makna yang dimaksud, yaitu melalui firman selanjutnya: {عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ} sebagai karunia yang tiada putus-putusnya. (Hud: 108) Di dalam kitab Sahihain disebutkan sebuah hadis yang mengatakan: «يؤتى بالموت في صورة كبش أملح فَيُذْبَحُ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ ثُمَّ يُقَالُ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ خُلُودٌ فَلَا مَوْتَ، وَيَا أَهْلَ النَّارِ خُلُودٌ فَلَا مَوْتَ» Kelak maut akan didatangkan dalam bentuk seekor domba putih, lalu disembelih di antara surga dan neraka. Kemudian dikatakan, "Hai ahli surga, sesungguhnya kalian sekarang hidup dan tidak akan mati selama-lamanya. Hai ahli neraka, kekallah kalian dan tidak ada kematian lagi.

Di dalam sebuah hadis sahih disebutkan: "فَيُقَالُ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ، إِنْ لَكُمْ أَنْ تَعِيشُوا فَلَا تَمُوتُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أن تشبوا فلا تهْرَموا أبدا، وإن لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوا فَلَا تَسْقَمُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أن تنعموا فلا تبَأسوا أبدا" Maka dikatakan, "Hai ahli surga, hiduplah kalian dan kalian tidak akan mati selama-lamanya. Dan sesungguhnya tetap mudalah kalian, dan kalian tidak akan tua selama-lamanya. Dan sesungguhnya tetap sehatlah kalian dan kalian tidak akan sakit selama-lamanya. Dan sesungguhnya tetap bersenang-senanglah kalian dan kalian tidak akan sengsara selama-lamanya

Ahad, 23 September 2018

AYAT 100-107


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
 SURAH HUD 100-107
 Bismillahirahmanirahim'100. dzaalika min anbaa-i alquraa naqushshuhu ‘alayka minhaa qaa-imun wahashiidun 101. wamaa zhalamnaahum walaakin zhalamuu anfusahum famaa aghnat ‘anhum aalihatuhumu allatii yad’uuna min duuni allaahi min syay-in lammaa jaa-a amru rabbika wamaa zaaduuhum ghayra tatbiibi 102. wakadzaalika akhdzu rabbika idzaa akhadza alquraa wahiya zhaalimatun inna akhdzahu aliimun syadiidun 103. inna fii dzaalika laaayatan liman khaafa ‘adzaaba al-aakhirati dzaalika yawmun majmuu’un lahu alnnaasu wadzaalika yawmun masyhuudun 104. wamaa nu-akhkhiruhu illaa li-ajalin ma’duudin 105. yawma ya/ti laa takallamu nafsun illaa bi-idznihi faminhum syaqiyyun wasa’iidin 106. fa-ammaa alladziina syaquu fafii alnnaari lahum fiihaa zafiirun wasyahiiqun 107. khaalidiina fiihaa maa daamati alssamaawaatu waal-ardhu illaa maa syaa-a rabbuka inna rabbaka fa”aalun limaa yuriidu.

Ayat 98-108 meneruskan ayat sebelumnya terkiat Fir’aun dan para pengikut setianya. Pada hari kiamat nanti, Fur’aun akan menggiring mereka masuk neraka. Duhai malangnya Fir’aun, para petinggi dan para pengikut setianya. Di dunia mendapat azab dan laknat Allah, sedangkan di akhirat masuk neraka. Ayat-ayat tersebut juga menjelaskan beberapa sistem kehidupan yang Allah tetapkan untuk manusia: Para pemimpin kekafiran akan dimasukkan Allah ke neraka lebih dahulu sebelum para pengikut mereka. Mereka mendapatkan azab di dunia dan akhirat. Allah menghilangkan sebagian fakta sejarah umat yang diazab dan dimusnahkan-Nya dan sebagian lainnya dibiarkan tetap ada agar menjadi pelajaran bagi manusia-manusia setelah mereka. Allah sama sekali tidak menzalimi manusia, melainkan merekalah yang menzalimi diri sendiri dengan menjauh dan membangkang terhadap sistem hidup yang Allah ciptakan untuk mereka. Bila pembangkangan dan kekufuran suatu kaum kepada Allah dan rasul-Nya sudah melampaui batas, maka Allah akan menindak mereka dengan azab yang sangat mengerikan sehingga mereka bisa musnah semuanya dari atas bumi. Tujuannya agar menjadi pelajaran bagi orang-orang yang berharap surga-Nya. Tempat kembali di akhirat hanya dua: Surga atau Neraka dan sifatnya kekal. Hud,

 ayat 100-107{ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْقُرَى نَقُصُّهُ عَلَيْكَ مِنْهَا قَائِمٌ وَحَصِيدٌ (100) وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِنْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ لَمَّا جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ (101) } .وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ (102{إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِمَنْ خَافَ عَذَابَ الآخِرَةِ ذَلِكَ يَوْمٌ مَجْمُوعٌ لَهُ النَّاسُ وَذَلِكَ يَوْمٌ مَشْهُودٌ (103) وَمَا نُؤَخِّرُهُ إِلا لأجَلٍ مَعْدُودٍ (104) يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلا بِإِذْنِهِ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ (105) } {فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ (106) خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ إِلا مَا شَاءَ رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ (107) }

Hingga akhir ayat. Setelah Allah Swt. menceritakan kisah para nabi dan apa yang terjadi dengan mereka bersama umatnya masing-masing, lalu disebutkan bagaimana Allah membinasakan orang-orang kafir dan menyelamatkan orang-orang mukmin. Maka Allah Swt. berfirman: {ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْقُرَى} Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasa­kan). (Hud: 100) Yakni kisah-kisah penduduknya. {نَقُصُّهُ عَلَيْكَ مِنْهَا قَائِمٌ} yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya. (Hud: 100) Maksudnya, masih terdapat reruntuhan-reruntuhannya. {وَحَصِيدٌ} dan ada (pula) yang telah musnah. (Hud: 100) Yaitu hancur dan binasa tanpa bekas. {وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ} Dan Kami tidaklah menganiaya mereka. (Hud: 101) saat Kami binasakan mereka. {وَلَكِنْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ} tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (Hud: 101) karena mereka mendustakan dan kafir kepada rasul-rasul Kami. {فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ} Karena itu, tiadalah bermanfaat bagi mereka tuhan-tuhan mereka. (Hud: 101)

Yakni berhala-berhala mereka yang mereka sembah dan mereka seru. {مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ} selain dari Allah, barang sedikit pun. (Hud: 101) Sembahan-sembahan mereka itu tidak dapat memberikan sesuatu manfaat pun kepada mereka, tidak pula dapat menyelamatkan mereka dari kebinasaan. {وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ} Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka. (Hud: 101) Mujahid, Qatadah, dan lain-lainnya mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah kecuali kerugian belaka. Dikatakan demikian karena penyebab kebinasaan dan kehancuran mereka tiada lain karena mereka mengikuti sembahan-sembahan itu. Untuk itulah mereka dikatakan merugi di dunia dan akhiratnya. ) } Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras. Allah Swt. berfirman, "Sebagaimana Kami telah membinasakan umat-umat terdahulu yang telah berbuat aniaya lagi mendustakan rasul-rasul Kami, maka Kami pun melakukan hal yang serupa terhadap orang-orang yang sama dengan mereka." {إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ} Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras. (Hud: 102)

Di dalam kitab Sahihain disebutkan dari Abu Musa r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: "إِنَّ اللَّهَ ليُملي لِلظَّالِمِ، حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفلته"، ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ} Sesungguhnya Allah benar-benar mencatat (dosa orang) yang zalim; hingga manakala Dia mengazab-Nya, maka tidak akan dapat menyelamatkan dirinya dari azab Allah. Kemudian Rasulullah Saw. membacakan firman-Nya: Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. (Hud: 102),

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpul­kan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk). Dan Kami tiadalah mengundur­kannya, melainkan sampai waktu yang tertentu.

Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya, maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. Allah Swt. berfirman, "Sesungguhnya dalam pembinasaan Kami terhadap orang-orang kafir dan penyelamatan Kami terhadap orang-orang mukmin." لآيَةً benar-benar terdapat tanda. (Hud: 103) Yakni pelajaran dan nasihat yang menunjukkan kebenaran ancaman Kami kelak di hari kemudian. Allah Swt. berfirman: {إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأشْهَادُ} Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat). (Al-Mu’min: 51)

{فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظَّالِمِينَ} Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka, "Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim itu.” (Ibrahim: 13), hingga akhir ayat. Adapun firman Allah Swt.: {ذَلِكَ يَوْمٌ مَجْمُوعٌ لَهُ النَّاسُ} Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpul­kan untuk (menghadapi)nya. (Hud: 103) Maksudnya, dari yang pertama hingga yang paling akhir dari mereka semuanya dihimpunkan pada hari itu. Ayat ini semakna dengan ayat lainnya, yaitu: {وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا} dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka. (Al-Kahfi: 47) *******************

Firman Allah Swt.: {وَذَلِكَ يَوْمٌ مَشْهُودٌ} dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk). (Hud: 103) Yakni hari yang sangat besar, dihadiri oleh para malaikat; pada hari itu berkumpul pula para rasul, dan semua makhluk yang terdiri atas jin, manusia, burung-burung, binatang-binatang liar serta semua binatang ternak dihimpunkan. Lalu pada hari itu Tuhan Yang Mahaadil menjalankan hukum-Nya tanpa berbuat aniaya barang seberat zarrah pun; jika amal perbuatan berupa suatu kebaikan, maka Dia melipatgandakan pahalanya. Firman Allah Swt.: {وَمَا نُؤَخِّرُهُ إِلا لأجَلٍ مَعْدُودٍ} Dan Kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu. (Hud: 104)

Artinya, tidak sekali-kali Kami mengundurkan terjadinya hari kiamat melainkan karena telah ditetapkan oleh Allah dalam takdir-Nya yang terdahulu tentang keberadaan sejumlah manusia dari keturunan anak Adam, dan telah ditetapkan-Nya masa tertentu bagi mereka. Apabila masa itu telah mereka lalui dan keberadaan mereka di dunia telah terpenuhi menurut takdir-Nya, maka barulah hari kiamat terjadi. Karena itulah dalam firman-Nya disebutkan: {وَمَا نُؤَخِّرُهُ إِلا لأجَلٍ مَعْدُودٍ} Dan Kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu. (Hud: 104)

 Yaitu sampai waktu yang tertentu, tidak ditambahi dan tidak dikurangi. {يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلا بِإِذْنِهِ} Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya. (Hud: 105) Pada waktu hari kiamat terjadi, tiada seorang pun yang berbicara melainkan dengan seizin Allah. Ayat ini semakna dengan ayat lain yang disebutkan melalui firman-Nya: {لَا يَتَكَلَّمُونَ إِلا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَقَالَ صَوَابًا} mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucap­kan kata yang benar. (An-Naba: 38) {وَخَشَعَتِ الأصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ فَلا تَسْمَعُ إِلا هَمْسًا} dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. (Thaha: 108),

 hingga akhir ayat. Di dalam hadis Sahihain mengenai syafaat disebutkan: "وَلَا يَتَكَلَّمُ يَوْمَئِذٍ إِلَّا الرُّسُلُ، وَدَعْوَى الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ: اللهُم سَلّم سَلِّمْ Pada hari itu seorang pun yang berbicara selain para rasul, dan doa para rasul pada hari itu ialah, "Ya Allah, selamat­kanlah selamatkanlah.” *******************

 Firman Allah Swt.: {فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ} maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. (Hud: 105) Artinya, di antara mereka yang dihimpunkan pada hari perhimpunan itu ada yang celaka, ada pula yang berbahagia; perihalnya sama dengan yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: {فَرِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي السَّعِيرِ} Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka. (Asy-Syura: 7)

Al-Hafiz Abu Ya'la di dalam kitab Musnad-nya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Hissan, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami Sulaiman Abu Sufyan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Dinar, dari Ibnu Umar, dari Umar yang mengatakan bahwa ketika ayat berikut diturunkan: maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. (Hud: 105)

Ia bertanya kepada Nabi Saw., "Wahai Rasulullah, apakah yang harus kita kerjakan? Apakah yang kita kerjakan adalah sesuatu yang telah dirampungkan, ataukah sesuatu yang belum dirampungkan?" Rasulullah Saw. menjawab: "عَلَى شَيْءٍ قَدْ فُرِغَ مِنْهُ يا عمر وجرت به الأقلام، وَلَكِنْ كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ" Hai Umar, hal yang kita kerjakan adalah sesuatu yang telah dirampungkan dan telah dicatat oleh qalam (pena) takdir, tetapi tiap-tiap orang diciptakan sesuai dengan bakatnya masing-masing. Kemudian Allah Swt. menjelaskan keadaan orang-orang yang celaka dan orang-orang yang berbahagia. Untuk itu, Allah Swt. berfirman:

 Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik napas(dengan merintih), mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Mengenai firman Allah Swt.: {لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ} mereka mengeluarkan dan menarik napas (dengan merintih). (Hud: 106) Ibnu Abbas mengatakan bahwa suara zafir keluar dari tenggorokan, sedangkan syahiq dari dada, yakni tarikan napas dan pengeluarannya dibarengi dengan rintihan. Demikian itu karena pedihnya azab yang dialami oleh mereka, semoga Allah melindungi kita dari siksa neraka. {خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ} mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi. (Hud: 107)

 Imam Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan, termasuk kebiasaan orang-orang Arab bila hendak menggambarkan sesuatu hal yang kekal dan abadi adalah menyebutkan bahwa ini kekal selama ada langit dan bumi. Mereka pun mengatakan bahwa dia kekal selama siang dan malam silih berganti. Hal yang sama dikatakan, "Selama anak-anak Samir masih begadang," dan "Selama unta masih menggerak-gerakkan ekornya," semuanya itu menunjukkan pengertian kekal. Maka Allah Swt.ber-khitab kepada mereka dengan ungkapan yang telah mereka kenal di antara sesamanya. Untuk itu, Dia berfirman: mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi. (Hud: 107)

 Menurut kami, dapat pula ditakwilkan bahwa makna yang dimaksud dengan ungkapan selama ada langit dan bumi adalah jenisnya; karena di alam akhirat pasti ada langit dan bumi, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: {يَوْمَ تُبَدَّلُ الأرْضُ غَيْرَ الأرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ} (Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit. (Ibrahim: 48) Karena itulah Al-Hasan Al-Basri mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: selama ada langit dan bumi. (Hud: 107)

Menurutnya adalah langit yang selain dari langit sekarang ini, dan bumi yang selain dari bumi sekarang ini, yakni selama masih ada langit dan bumi tersebut. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Sufyan ibnu Husain, dari Al-Hakam, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: selama ada langit dan bumi. (Hud: 107) Bahwa setiap surga mempunyai langit dan buminya sendiri. Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan, "Selama bumi berfungsi sebagai bumi, dan langit berfungsi sebagai langit." *******************

 Firman Allah Swt.: {إِلا مَا شَاءَ رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ} kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.(Hud: 107) Ayat ini semakna dengan firman-Nya: {النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ} Neraka itulah tempat diam kalian, sedangkan kalian kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. (Al-An'am: 128)

Ulama tafsir berbeda pendapat tentang makna yang dimaksud dari istisna ini.

Banyak pendapat yang mereka kemukakan diriwayatkan oleh Syekh Abul Faraj ibnul Juzi di dalam kitabnya Zadul Maisir, juga oleh ulama tafsir lainnya. Kemudian dinukil oleh banyak ulama, antara lain oleh Imam Abu Ja'far ibnu Jarir rahimahullah di dalam kitabnya. Ibnu Jarir memilih pendapat yang dinukil dari Khalid ibnu Ma'dan, Ad-Dahhak, Qatadah, dan Ibnu Sinan. Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui Ibnu Abbas, juga Al-Hasan, bahwa istisna dalam ayat ini kembali kepada orang-orang yang durhaka dari kalangan ahli tauhid, lalu mereka dikeluarkan oleh Allah dari neraka berkat permohonan syafaat dari para pemberi syafaat—dari kalangan para malaikat, para nabi, dan orang-orang mukmin— hingga mereka memberikan syafaatnya kepada orang-orang yang berdosa besar (dari kalangan ahli tauhid). Kemudian datanglah rahmat Tuhan Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, lalu dikeluarkanlah dari neraka orang-orang (ahli tauhid) yang tidak pernah mengamalkan suatu kebaikan pun, tetapi di suatu hari ia pernah mengucapkan,* "Tidak ada Tuhan selain Allah." Seperti yang telah disebutkan oleh hadis-hadis sahih dari Rasulullah Saw. yang mengandung keterangan tersebut, diriwayatkan melalui hadis Anas, Jabir, Abu Sa'id, Abu Hurairah, serta para sahabat lainnya. Setelah itu tidak ada lagi seorang pun di dalam neraka kecuali orang-orang yang wajib menjadi penghuni tetap untuk selama-lamanya dan tidak ada jalan lain baginya untuk selamat dari neraka.

Demikianlah menurut pendapat kebanyakan ulama terdahulu dan ulama sekarang sehubungan dengan tafsir ayat ini. Sehubungan dengan tafsirnya telah diriwayatkan banyak asar dari Amirul Mu’minin Umar ibnul Khattab, Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abdullah ibnu Amr, Jabir, Abu Sa' id dari kalangan para sahabat; sedangkan dari kalangan para tabi'in ialah Abu Mijlaz, Asy-Sya'bi, dan yang lainnya. Telah diriwayatkan pula pendapat-pendapat yang garib dari Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, Ishaq ibnu Rahawaih, serta lain-lainnya dari kalangan para imam. Di dalam kitab Mu’jamul Kabir ImamTabrani telah disebutkan sebuah hadis garib melalui Abu Umamah Sada ibnu Ajlan Al-Bahili, tetapi predikatnya daif; hadis dimaksud berkaitan dengan tafsir ayat ini. Qatadah mengatakan bahwa Allah lebih mengetahui apa yang dikecualikan-Nya. As-Saddi mengatakan bahwa ayat ini di-mansukh oleh firman Allah Swt. yang mengatakan: {خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا} mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. (An-Nisa: 169)

Sabtu, 22 September 2018

AYAT 97-99

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'

SURAH Hud, ayat 97-99
Bismillahirahmanirahim'
 walaqad arsalnaa muusaa bi-aayaatinaa wasulthaanin mubiinin 97. ilaa fir’awna wamala-ihi faittaba’uu amra fir’awna wamaa amru fir’awna birasyiidin 98. yaqdumu qawmahu yawma alqiyaamati fa-awradahumu alnnaara wabi/sa alwirdu almawruudu 99. wautbi’uu fii haadzihi la’natan wayawma alqiyaamati bi/sa alrrifdu almarfuudu
{وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَى بِآيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ (96) إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَاتَّبَعُوا أَمْرَ فِرْعَوْنَ وَمَا أَمْرُ فِرْعَوْنَ بِرَشِيدٍ (97) يَقْدُمُ قَوْمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَوْرَدَهُمُ النَّارَ وَبِئْسَ الْوِرْدُ الْمَوْرُودُ (98) وَأُتْبِعُوا فِي هَذِهِ لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ بِئْسَ الرِّفْدُ الْمَرْفُودُ (99) }

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan mukjizat yang nyata, kepada Fir’aun dan pemimpin-pemimpin kaumnya, tetapi mereka mengikut perintah Fir’aun, padahal sekali-kali perintah Fir’aun bukanlah (perintah) yang benar. Ia berjalan di muka kaumnya di hari kiamat, lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi. Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. Laknat itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan. Allah Swt. menceritakan tentang Musa yang Dia utus dengan membawa ayat-ayat-Nya dan mukjizat-mukjizat yang jelas kepada Fir'aun, raja bangsa Qibti dan pemimpin-pemimpin kaumnya. {فَاتَّبَعُوا أَمْرَ فِرْعَوْنَ} tetapi mereka mengikuti perintah Fir'aun. (Hud: 97)

Yakni mereka mengikuti metode, jalan, dan cara Fir'aun dalam kesesatannya. {وَمَا أَمْرُ فِرْعَوْنَ بِرَشِيدٍ} padahal sekali-kali perintah Fir'aun bukanlah (perintah) yang benar. (Hud: 97)

 Perintah Fir'aun tidak mengandung kebenaran, tidak pula petunjuk; melainkan hanyalah kebodohan, kesesatan, kekufuran, dan keingkaran. Sebagaimana mereka mengikuti Fir'aun di dunia sehingga Fir'aun berada di depan mereka sebagai pemimpin mereka, maka demikian pula halnya kelak di hari kiamat; Fir'aun berada di depan mereka menuju neraka Jahanam, lalu dia memasukkan mereka ke dalamnya dan merasakan azab tempat yang dimasukinya. Sedangkan Fir'aun sendiri memperoleh bagian yang paling banyak dari azab yang sangat besar itu. Di dalam ayat lain disebutkan: {فَعَصَى فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلا} Maka Fir'aun mendurhakai Rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat. (Al-Muzzammil: 16)

{فَكَذَّبَ وَعَصَى ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَى فَحَشَرَ فَنَادَى فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الأعْلَى فَأَخَذَهُ اللَّهُ نَكَالَ الآخِرَةِ وَالأولَى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِمَنْ يَخْشَى} Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya, (seraya) berkata, "Akulah tuhan kalian yang paling tinggi " Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya). (An-Nazi'at: 21-26) *******************

Allah Swt. berfirman: {يَقْدُمُ قَوْمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَوْرَدَهُمُ النَّارَ وَبِئْسَ الْوِرْدُ الْمَوْرُودُ} Ia berjalan di muka kaumnya di hari kiamat, lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi. (Hud: 98) Demikian pula nasib yang dialami oleh para pemimpin yang diikuti kesesatannya. Mereka memperoleh bagian azab yang paling besar kelak di hari kiamat, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَكِنْ لَا تَعْلَمُونَ Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, tetapi kalian tiddk mengetahui. (Al-A'raf: 38) Allah Swt. menceritakan pula perihal orang-orang kafir, bahwa mereka di dalam neraka mengatakan: {رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَ رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا}

Dan mereka berkata, "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, berilah kepada mereka azab dua kali lipat " (Al-Ahzab: 67-68), hingga akhir ayat. وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا هُشَيْم، حَدَّثَنَا أَبُو الْجَهْمِ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "امْرُؤُ الْقَيْسِ حَامِلُ لِوَاءِ شُعَرَاءِ الْجَاهِلِيَّةِ إِلَى النَّارِ" Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Abul Jahm, dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Imru-ul Qais adalah pemegang panji para penyair Jahiliah (menuju) ke neraka. *******************

Firman Allah Swt.: {وَأُتْبِعُوا فِي هَذِهِ لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ} Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. (Hud: 99), hingga akhir ayat. Yakni sebagai tambahan dari azab neraka Kami ikutkan kepada mereka laknat (kutukan) di dunia. {وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ بِئْسَ الرِّفْدُ الْمَرْفُودُ} dan (begitu pula) di hari kiamat. Laknat itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan. (Hud: 99) Mujahid mengatakan bahwa ditambahkan kepada mereka kutukan pada hari kiamat, sehingga kutukan yang mereka terima sebanyak dua kali. Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman Allah Swt.:
 Laknat itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan. (Hud: 99)

Yang dimaksud ialah laknat dunia dan laknat akhirat. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ad-Dahhak dan Qatadah. Hal ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: {وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يُنْصَرُونَ وَأَتْبَعْنَاهُمْ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ هُمْ مِنَ الْمَقْبُوحِينَ} Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauh­kan (dari rahmat Allah). (Al-Qashash: 41-42) {النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ} Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada mereka), "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.”(Al-Mu’min: 46)

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN