Selasa, 24 Julai 2018

AYAT 260


TAFSIR SURAT AL-BAQARAH:260*
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABBARAK
 17.08.26 sobat . 8pagi,., ----------------------------------------------- Dalam ayat ini allah inggin menjelaskan tentang ilmu yaqin ketahap inol yakin,.., sebagai mana iman seseorang pada awal di peringkat yakin di tambah iman nya setelah allah berkehendak akan ilmu yakin nya ke tahap inol yakin ,..,., Oleh karena itu, Dia berfirman: wa’lam annallaaHa ‘aziizun hakiim (“Dan ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana.”) Maksudnya, Dia Mahaperkasa, tidak ada sesuatu pun yang dapat mengalahkan-Nya dan tidak ada pula yang dapat menghalangi-Nya dari sesuatu. Apa yang Dia kehendaki, pasti akan terjadi tanpa adanya sesuatu yang menghalangi-Nya, karena Dia Mahaperkasa atas segala sesuatu, Maha-bijaksana dalam ucapan, perbuatan, syariat, dan ketetapan-Nya. ------------------------------------------------------------------------

Bismillahir-rahman-nir-rahim ......260.Wa ‘iz qaala ‘Ibraa – hiimu Rabbi ‘arinii kayfa tuh yil – mawtaa. Qaala ‘awa lam tu' – min? qaala balaa wa laakilli – yatma – ‘inna qalbii. Qaala fakhuz ‘arba – ‘atam minat- tayri fasur – hunna ‘ilayka summaj – ‘al ‘alaa kulli jabalim – min – hunna juz'an summad – ‘u – hunna ya'– tii – naka sa' – yaa. Wa' – lam ‘annal – lahaa ‘Aziizun Hakiim.

 /*وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ 260*/

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera".

Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sedangkan hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari berkenaan dengan ayat ini, bersumber dari Abu Salamah dan Said, dari Abu Hurairah ia menceritakan, Rasulullah saw. bersabda: “Kita lebih berhak untuk ragu-ragu daripada Ibrahim ketika ia berkata: ‘Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku, bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.’ Allah berfirman: ‘Belum yakinkah engkau?’ Ibrahim menjawab: ‘Aku telah meyakininya akan tetapi agar hatiku tetap mantap [dengan imanku].’”ayat ini men jelaskan ayat sebelum nya yang mana kaum nabi ibrahim menyatakan bahawa mereka jua mampu menghidupkan yakni melahirkan atau membiarkan seseorang hidup,,, dan mereka jua mampu mematikan mana mana manusia yang mereka kehendaki,.., sambungan dari ayat sebelum ini jelas kali ini nabi ibrahim sendiri yang meminta pada tuhan nya agar di perlihatkan kehidupan setelah kematian.,., Ibrahim bermaksud hendak meningkatkan pengetahuannya dari ‘ilmul yaqin kepada ‘ainul yaqin.

Dan ia ingin melihat proses penghidupan itu dengan mata kepalanya sendiri, maka ia mengatakan: rabbi arinii kaifa tuhyil mautaa qaala awalam tu’min qaala balaa walaakil liyath-ma-inna qalbii (“‘Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku, bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.’ Allah berfirman: ‘Belum yakinkah engkau?’ Ibrahim menjawab: ‘Aku telah meyakininya akan tetapi agar hatiku tetap mantap [dengan imanku].’”) Ingatlah pula kisah Ibrâhîm ketika ia berkata, "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku proses menghidupkan kembali orang yang telah mati." Lalu Allah mananyakan keimanannya terhadap proses kebangkitan agar keraguannya hilang dengan mengatakan, "Apakah kamu tidak percaya?" Ibrâhîm menjawab, "Aku percaya, tetapi aku minta itu sekadar untuk menambah kemantapan hatiku." Allah berfirman, "Ambillah empat ekor burung dan dekatkanlah kepadamu agar kamu kenali betul. Lalu potong- potonglah setelah disembelih dan letakkan potongan-potongan tersebut di atas gunung-gunung yang berdampingan. Kemudian panggillah burung-burung itu, niscaya mereka akan datang menghampirimu dalam keadaan hidup seperti sediakala. Ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa atas segala sesuatu, Mahabijaksana dalam segala hal. (1) (1) Imam Fakhr al-Dîn al-Râzî dan ahli tafsir lainnya menyebutkan adanya pendapat lain dalam menafsirkan ayat ini. Dikatakan, Ibrâhîm tidak menyembelih burung-burung tersebut dan tidak diperintahkan untuk itu. Ia disuruh memeliharanya agar menjadi jinak. Empat ekor burung tersebut dipisah, di tiap gunung masing-masing diletakkan satu ekor. Kemudian keempatnya dipanggil dan datang. Ini adalah gambaran bagaimana Allah menciptakan segala sesuatu yaitu dengan perintahnya "kun" (jadilah), fa yakûn (maka sesuatu itu pun terjadi). Sama halnya dengan keempat burung tersebut, dipanggil lalu datang.

TAFSIR IBNU KATSIR ------------------------------------------------------------------------- Demikian juga hadits yang diriwayatkan Imam Muslim. Yang dimaksudkan dengan kata “ragu” dalam hadits tersebut tentunya bukan keraguan sebagaimana yang difahami oleh orang yang tidak berilmu. Mengenai jawaban tentang hadits ini di antaranya adalah (seperti yang dalam catatan kaki ini): Dalam manuskrip yang ada pada kami, tidak terdapat tulisan apapun dari Ibnu Katsir. Kami sebutkan di sini apa yang dikatakan oleh al-Baghawi untuk menyempurnakan manfaat. La menceritakan, Muhammad bin Ishak bin Khuzaimah menceritakan dari Abu Ibrahim bin Yahya al-Muzni, bahwasanya ia pemah mengatakan mengenai ihwal hadits tersebut, “Nabi saw. dan juga Ibrahim sama sekali tidak meragukan bahwa Allah mampu untuk menghidupkan apa yang sudah mati. Tetapi keduanya masih meragukan, apakah Allah Taala akan memenuhi apa yang mereka mohonkan.” Abu Sulaiman al-Khathabi mengatakan, “Sabda Rasulullah: Kita berhak untuk ragu-ragu daripada Ibrahim,’ di dalam hadits tersebut terdapat sesuatu yang menafikan keraguan dari keduanya. Beliau mengatakan, ‘Jika aku tidak ragu terhadap kemampuan Allah untuk menghidupkan sesuatu yang sudah mati, maka Ibrahim lebih-lebih tidak akan ragu.’ Perkataan itu diucapkan dengan penuh ketawadhu’an (kerendahan hati). Demikian juga sabda beliau, ‘Seandainya aku mendekam dalam penjara selama yang di alami oleh Yusuf, niscaya aku akan memenuhi seruan penyeru.’ Di dalamnya terdapat pemberi-tahuan bahwa pertanyaan yang diajukan Ibrahim itu tidak bersumber dari keraguan, tetapi didasarkan pada keinginan untuk menambah pengetahuan secara meyakinkan (‘ainul yaqin), karena pengetahuan yang demikian itu sangat bermanfaat bagi ma’rifah dan memberikan ketenangan, yang mana tidak dapat diperoleh hanya dengan pencarian dalil-dalil semata.” Ada juga yang mengatakan, ketika ayat ini turun, ada suatu kaum yang mengatakan, “Ibrahim masih merasa ragu, sedang Nabi kita (Muhammad saw) tidak merasa ragu. Maka Rasulullah saw. pun menyampalkan sabdanya tersebut sebagai bentuk sikap rendah hati dari beliau dan mengutamakan Ibrahim atas diri beliau. Firman Allah swt. berikutnya: fakhudz arba’atam minath thairi fashurHunna ilaika (“[Kalau demikian] ambilah empat ekor burung lalu cincanglah semuanya olehmu.”) Al-Aufi menceritakan dari Ibnu Abbas, mengenai firman-Nya “fashurHunna ilaika” ia mengatakan, artinya, ikatlah. Setelah mengikatnya, lalu ia menyembelih dan memotong-motongnya, mencabuti bulu-bulunya, mencabik cabiknya, serta mencampur adukan antara satu bagian dengan bagian yang lain. Setelah itu Ibrahim membagi-bagi bagian tubuh burung-burung tersebut dan meletakkan bagian-bagian itu pada setiap gunung. Ada yang mengatakan bahwa gunung itu berjumlah empat. Tetapi ada juga yang mengatakan berjumlah tujuh gunung. Ibnu Abbas mengatakan: “Ibrahim mengambil kepala burung-burung itu dengan tangannya, kemudian Allah swt. menyuruhnya untuk memanggil burung-burung tersebut. Maka Ibrahim pun segera memanggilnya. Seperti yang telah diperintahkan oleh Allah Ta’ala. Selanjutnya ia melihat bulu-bulu berterbangan menuju bulu-bulu yang lainnya, darah menuju ke darah yang lain, daging ke daging yang lainnya, serta bagian tubuh masing-masing burung itu berhubungan satu dengan lainnya sehingga masing-masing burung menjadi satu kesatuan yang utuh. Lalu burung-burung itu mendatangi Ibrahim dengan segera. Hal itu supaya penglihatan Ibrahim benar-benar jelas tentang apa yang ia telah tanyakan. Dan masing-masing burung datang dan bersatu dengan kepalanya yang berada di tangan Ibrahim as. Jika yang diberikan kepada burung itu bukan kepalanya sendiri, maka ia menolaknya. Tapi jika diberikan kepadanya kepalanya sendiri, maka ia langsung tersusun dengan tubuhnya dengan daya dan kekuatan Allah Ta’ala.

AYAT 259


TAFSIR SURAT AL-BAQARAH:259*
 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABBARAK
 17.08.25;jumaah . 8pagi,., -----------------------------------------------
Biamillahir-rahman-nir-rahim,............
259.‘Aw kallazii marra ‘alaa qaryatinw – wahiya khaawi' ‘yatun ‘alaa ‘uruu – shihaa. Qaaala ‘annaa yuhyii haazihil – laahu ba' da mawtihaa? Fa ‘amaata – hullaahu mi – ‘ata ‘aamin – summa ba – ‘asah. Qaala kamla bist? Qaala la – bistu yawman ‘aw ba'- da yawm. Qaala bal – labista mi – ‘ata ‘aamin – fan – zur ‘ilaa ta – ‘aamika wa sharaabika lam yata – sannah. Wan – zur ‘ilaa himaa – rika! Wa linaj – ‘ala – ka ‘aayatal – linnaasi wan zur ‘ilal –‘izaami kayfa nun – shizuhaa summa naksuuhaa lahmaa. Falammaa tabayyana lahuu qaala ‘a' – lamu ‘annal – laaha ‘alaa kulli shay – ‘in. Qadiir .

259*/أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَىٰ قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىٰ يُحْيِي هَٰذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۖ فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ ۖ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۖ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۖ قَالَ بَلْ لَبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۖ وَانْظُرْ إِلَىٰ حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِلنَّاسِ ۖ وَانْظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا ۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: "Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?" Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: "Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?" Ia menjawab: "Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari". Allah berfirman: "Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi beubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging".
Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: "Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu". Sebelumnya telah dikemukakan firman Allah yang artinya: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Rabbnya.” Melalui penekanan firman-Nya itu terkandung pertanyaan: “Apakah engkau mengetahui orang seperti mendebat Ibrahim mengenai Rabbnya?” Oleh karena itu, Allah hubungkan ayat itu dengan firman-Nya:Au kalladzii marra ‘alaa qaryyatiw wa Hiya khaawiyatun ‘alaa ‘uruusyiHaa (“Atau apakah [kamu tidak memperhatikan] orang yang melalui sesuatu negeri yang [temboknya] telah roboh menutup atapnya.”)

Para ulama masih berbeda pendapat mengenai siapakah dimaksud dengan orang tersebut. Renungkanlah kisah aneh berikut ini: kisah seseorang yang melewati suatu negeri yang hancur, atap dan temboknya roboh dan penghuninya binasa. Ia berkata, "Bagaimana Allah menghidupkan kembali penduduk negeri yang telah mati?" Kemudian Allah mematikan orang tersebut selama seratus tahun. Setelah itu ia dibangkitkan kembali agar tahu betapa mudahnya proses kebangkitan, untuk menghilangkan keraguannya. Ia lalu ditanya, "Berapa lama kamu mati?" Ia menjawab, "Aku tidak bisa merasakan berapa lamanya, mungkin sehari atau beberapa hari." Dikatakan kepadanya, "Sesungguhnya kamu telah mati selama seratus tahun." Kemudian Allah mengalihkan pandangannya kepada bukti kekuasaan-Nya yang lain dengan mengatakan, "Lihatlah! Makanan dan minumanmu tidak rusak dan keledaimu tidak berubah. Kami lakukan itu semua agar proses kebangkitan setelah mati yang kamu nafikan menjadi jelas dan kamu menjadi saksi hidup kebenaran hal tersebut." Selanjutnya Allah memerintahkan orang itu untuk melihat ciptaan-Nya yang lain.

Bagaimana makhluk-makhluk hidup disusun tulangnya, dibalut dengan daging, ditiupkan ruh ke dalamnya sehingga dapat bergerak. Ketika kekuasaan Allah dan mudahnya proses kebangkitan menjadi jelas baginya, ia berkata, "Aku yakin bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Ada yang mengatakan bahwa negeri itu adalah Baitul Maqdis dahulu, orang yang melewatinya dengan berkendaraan keledai adalah Uzair. Ia pun berkata dengan nada ta'ajjub (bingung) "Bagaimana caranya Allah menghidupkan negeri yang telah hancur ini?"Karena dirobohkan oleh raja Bukhtanasshar. Kata-kata ini diucapkan karena ia tidur di pagi hari lalu dicabut nyawanya, kemudian dihidupkan kembali menjelang matahari tenggelam, walahu a'lam.Meskipun sudah bertahun-tahun. Pada yang demikian itu terdapat dalil yang jelas kemahakuasaan Allah, yang mampu menjaga makanan itu sehingga tidak berubah meskipun telah berlalu masa yang lama, padahal makanan merupakan sesuatu yang paling cepat berubah menjadi basi dan tidak bisa dimakan lagi.Yakni bukti atas kemahakuasaan Allah untuk membangkitkan manusia yang telah mati. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari All bin Abi Thalib ra, ia berkata, “Ia adalah Uzair.” Pendapat ini juga diriwayatkan Ibnu Jarir dan Ibnu Hatim, dari Ibnu Abbas, al-Hasan, Qatadah, as-Suddi, dan Sulaiman bin Buraidah. Pendapat inilah yang masyhur. Sedangkan negeri yang dimaksudkan adalah sudah sangat masyhur, yaitu Baitul Maqdis. Ia melintasi negeri setelah dihancurkan dan dibunuh penduduknya oleh raja Bukhtanashr. Wa Hiya khaawiyatun (“Yang [temboknya] roboh menutupi atapnya.”) Maksudnya, tidak ada seorangpun di sana. Seperti perkataan mereka: khawatid daaru (“rumah tak berpenghuni/kosong”) bentuk lainnya yaitu: khuwiyya, takhwiy. Sedangkan firman Allah Ta’ala: ‘alaa ‘uruusyiHaa (“Yang [temboknya] telah roboh menutupi atapnya.”) Artinya, atap bangunan itu sudah runtuh dan temboknya telah roboh ke lantainya. Maka orang itu pun berdiri seraya berfikir tentang kejadian yang menimpa negeri itu beserta dan penduduknya, padahal sebelumnya negeri tersebut dipenuhi oleh bangunan-bangunan yang megah. Ia pun berkata: annaa yuhyii HaadziHillaaHu ba’da mautiHaa (“Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?”) Perkataan itu ia ucapkan setelah menyaksikan kerusakan dan kehancuran yang sangat parah serta tidak nungkin bisa kembali ramai seperti sediakala. Maka Allah swt. berfirman: fa amaataHullaaHu mi-ata ‘aamin tsumma ba-‘atsaHu (“Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali.”) Allah Ta’ala berfirman, “Aku membangun kembali negeri itu setelah 70 tahun berlalu dari kematiannya, penduduknya berkumpul kembali, dan Bani Israil telah kembali ke negeri tersebut, ketika Allah swt. membangkitkannya dari kematian.” Yang pertama kali dihidupkan oleh Allah swt. adalah kedua matanya, hingga ia dapat melihat ciptaan Allah, bagaimana Dia menghidupkan kembali badannya. Ketika ia telah hidup sempurna, maka Allah Ta’ala melalui malaikat-Nya bertanya: kam labits-ta qaala labits-tu yauman au ba’dla yaumin (“’Berapa lama kamu tinggal di sini?’” Ia menjawab: ‘Aku telah tinggal di sini satu hari atau setengah hari.’”) Yang demikian itu disebabkan kematiannya terjadi pada permulaan siang hari, kemudian Allah Ta’ala membangkitkan orang itu setelah seratus tahun pada akhir siang. Ketika ia melihat matahari masih bersinar, ia menyangkanya sebagai matahari pada hari yang sama, sehingga ia mengatakan: au ba’dla yaumin (“Atau setengah hari.”) Allah swt. berfirman: qaala bal labits-ta mi-ata ‘aamin fandhur ilaa tha’aamika wa syaraabika lam yatasannaH (“Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya. Lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah.”) wandhur ilaa himaarika (“Dan lihatlah kepada keledaimu [yang telah menjadi tulang-belulang].”) Maksudnya, bagaimana Allah swt. menghidupkan, sedang engkau memperhatikan. Wa linaj’alaka aayaatal lin naasi (“Kami akan menjadikanmu tanda kekuasaan Kami bagi manusia.”) Maksudnya sebagai dalil yang menunjukkan adanya hari akhir. Wandhur ilal ‘idhaami kaifa nunsyizuHaa (“Dan lihatlah kepada tulang-belulang keledai itu, bagaimana Kami menyusunnya kembali.”) Artinya, Kami (Allah) mengangkatnya, menyusun satu dengan yang lainnya. Dalam kitabnya, al-Mustadrak, al-Hakim meriwayatkan dari Kharijah bin Zaid bin Tsabit, dari ayahnya, bahwa Rasulullah pernah membaca ayat, “kaifa nunsizuHaa” membacanya dengan huruf “za” Kemudian ia mengatakan: “Hadits tersebut berisnad shahih, akan tetapi tidak diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.” Ayat (inipun dapat) dibaca dengan “nunsyiruHaa” yang artinya “Kami menghidupkannya.” Demikian yang dikatakan oleh Mujahid. Tsumma nakusuuHaa lahman (“Kemudian Kami menutup kembali dengan daging”) As-Suddi dan ulama lainnya mengatakan: “Tulang belulang keledai orang itu berserakan di sekitarnya, baik di sebelah kanan maupun di sebelah kirinya. Kemudian ia pun memperhatikan tulang-tulang itu yang tampak jelas karena putihnya. Selanjutnya Allah Ta’ala mengirimkan angin untuk mengumpulkan kembali tulang belulang tersebut dari segala tempat. Setelah itu, Dia menyusun setiap tulang pada tempatnya hingga menjadi seekor keledai yang berdiri dengan tulang tanpa daging. Selanjutnya Allah Ta’ala membungkusnya dengan daging, urat, pembuluh darah, dan kulit. Kemudian Dia mengutus malaikat untuk meniupkan ruh melalui kedua lubang hidung keledainya. Lalu dengan izin Allah swt. keledai itu bersuara. Semua peristiwa itu disaksikan oleh Uzair. Setelah semua menjadi jelas baginya, la berkata: qaala a’lamu annallaaHa ‘alaa kulli syai-in qadiir (“Ia berkata: ‘Aku yakin bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.’”) Artinya, aku benar-benar mengetahui hal itu, aku telah menyaksikannya dengan kedua mataku. Dan aku adalah orang yang paling mengetahui hal itu daripada orang-orang lain sezamanku. Para ulama lainnya membaca: qaala’lam (“la berkata: ‘Ketahuilah!’”) Hal ini menunjukan bahwa demikian itu merupakan suatu hal yang layak diketahui. di November 25, 2017

AYAT 258

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH BAQARAH AYAT 258
Dalam ayat 258 dari surah lembu betina ini allah azawajalla inggin menyatakan tentang bani israil terhadap nabi ibrahim ,, sebagai mana mereka menyatakan kami mampu menghidupkan manusia malah berapa ramai insan telah lahir dari perbutan kami , dan berapa ramai pula yang telah mati akibat perbuatan kami jua, jadi dari sini lah nabi ibrahim menjelaskan bahawa tuhan nya mampu menerbitkan matahari bari barat dan turun arah timur ,, maka terdiamlah orang kafir tentang kejadian allah dan allah tuhan yang maha berkuasa,.,. sebagai mana firman allah azwajalla dalam ayat 258 di bawah,.,.Yaitu Namrudz dari Babilonia. Yakni berani sekali ia mendebat sesuatu yang sudah yakin dan tidak ada keraguan lagi.Tentang keesaan Allah dan tentang rububiyyah-Nya (kepengurusan-Nya) terhadap alam semesta.Sehingga dirinya bersikap sombong, sampai-sampai ia menyangka dapat berbuat seperti yang diperbuat Allah. Sebagai jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan kepada Ibrahim, "Siapakah Tuhan yang kamu mengajak kami menyembahnya?"Maksud kata-kata raja Namrudz "menghidupkan" ialah membiarkan hidup dan menjadikan kehidupan , dan yang dimaksud dengan mematikan ialah membunuh. Perkataan itu untuk mengejek Nabi Ibrahim 'alaihis salam.Yakni Allah membiarkan mereka di atas kekafiran dan kesesatan, Karen merekalah yang memilih hal tersebut untuk diri mereka. Kalau seandainya, niat mereka mencari yang hak dan mencari hidayah, tentu Allah akan memberi mereka petunjuk dan memudahkan kepada mereka sebab-sebab untuk memperolehnya. ayat ini juga menjelaskan bahawa nabi ibrahim berpegang pada iqtiqod allah tuhan yang ada dan ada nya allah tiada bertempat dan allah itu ada di bawah kekuasaan nya dan kerajaan nya,.,. Ayat ini menceritakan debat antara Ibrahim dengan kaumnya yang mengagungkan benda-benda langit. Mereka yakini, benda-benda langit itu akan mengantarkan doanya kepada Allah. Karena mereka adalah para dewa dan malaikat yang dekat dengan Allah.Kemudian Ibrahim memisalkan dirinya seperti mereka.kerna iqtiqod nabi ibrahim pada tuhan yg satu . Firman allah '; Bismillahir-rahman-nir-rahim,258.‘Alam tara ‘ilal – lazii haaajja ‘Ibraahiima fii Rabbihiii ‘an ‘aataahullaahul – mulk? ‘Iz qaala ‘Ibraa – hiimu Rabbiyal lazii yuh – yii wa yumiitu Qaala ‘ana ‘uh – yii wa umiit. Qaala ‘Ibraa – hiimu fa – ‘in – nal – laaha ya' tii bish –Shamsi minal – Mashriqi fa' – ti bihaa minal –Maghribi fa – buhital lazii kafar. Wallaahu laa yahdil qawmaz – zaalimiin. --------------------------------------------------------------- 258

*أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ ۖ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. --------------------------------------------------------------------

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang buta akan bukti-bukti kebenaran dan mendebat Ibrâhîm, khalîl Allâh (kesayangan Allah), dalam hal ketuhanan dan keesaan Allah. Perhatikanlah bagaimana kesombongan terhadap kekuasaan yang telah Tuhan berikan mengeluarkan mereka dari cahaya fitrah (keimanan) kepada kekafiran. Ketika Ibrâhîm berkata, "Sesungguhnya Allah menghidupkan dan mematikan dengan cara meniupkan ruh ke dalam tubuh dan mencabutnya," orang kafir itu berkata, "Saya dapat memberikan kehidupan dan kematian dengan cara mengampuni dan membunuh." Lalu, untuk menyudahi perdebatannya, Ibrâhîm berkata, "Allah menerbitkan matahari dari timur. Terbitkanlah dari barat jika kamu benar-benar Tuhan." Orang kafir itu pun menjadi bingung dan terputuslah perdebatan karena kuatnya bukti yang menyingkap kelemahan dan keangkuhannya. Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang terus ingkar. sebagai mana firman allah;Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. Orang-orang musyrik yang disebutkan oleh Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, asalnya dari dua kelompok kaum; kaumnya Nabi Nuh dan kaum Nabi Ibrahim. Kaum Nuh, asal kesyirikan mereka adalah pemujaan terhaadap kuburan orang-orang shalih. Lalu mereka buat patung-patung berbentuk wajah orang soleh itu, kemudian mereka menyembahnya. Sementara kaum Ibrahim, asal kesyirikan mereka adalah peribadaatan kepada bintang-bintang, matahari, dan bulan. (at-Tawassul wa al-Wasilah, 2/22). Sementara berhala yang diagungkan umatnya Ibrahim adalah simbol dari benda-benda langit yang mereka sembah. Mereka membuat berhala-berhala, melambangkan benda-benda langit itu.Sebagaimana orang musyrikin yang mengagungkan orang soleh, mereka membuat patung yang melambangkan orang shaleh yang mereka sembah.Kami tidak tahu, apakah ini ada hubungannya dengan lambang-lambang zodiak yang menjadi tradisi Babylonia dan Yunani kuno. Yang benar, bahwa Ibrahim ‘alaihis shalatu was salam, pada posisi itu, beliau sedang berdebat dengan kaumnya. Beliau menjelaskan kebatilan aqidah mereka dan kesyirikan mereka, berupa penyembahan terhadap haikal dan patung. Allah menyebutkan di bagian pertama, Ibrahim berdebat dengan ayahnya untuk menjelaskan kesalahannya menyembah berhala. (Tafsir Ibnu Katsir, 3/292)

 TAFSIR IBNU KATSIR ---------------------------- Inilah orang yang mendebat Ibrahim mengenai Rabb-nya, yaitu Raja Babilonia yang bernama Namrudz bin Kan’an. Mujahid mengatakan: “Raja dunia dari barat sampai timur ada empat; dua mukmin dan dua kafir, raja mukmin adalah Sulaiman bin Daud dan Dzulkarnain. Sedangkan raja kafir adalah Namrudz dan Bukhtanashr. Wallahu a’lam.” Firman-Nya: alam tara (“Apakah kamu tidak memperhatikan,”) artinya, dengan hatimu, hai Muhammad; ilal ladzii haajja ibraaHiima fii rabbiHii (“Orang yang mendebat Ibrahim tentang Rabbnya.”) Yaitu keberadaan Rabbnya. Karena Namrud mengingkari adanya Rabb selain dirinya sendiri. Sebagaimana yang dikatakan Fir’aun yaitu orang setelah Namrud kepada rakyatnya yang artinya: “Aku tidak mengetahui Tuhan bagi kalian selain diriku. ” (QS. Al-Qashash: 38). Yang membuatnya berbuat sewenang-wenang, kekufuran yang sangat, dan penentangan yang keras adalah kelaliman dan lamanya masa ia berkuasa. Dikatakan bahwa ia berkuasa selama empat ratus tahun. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: aataaHullaaHul mulka (“Karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). “Namrud meminta kepada Ibrahim dalil yang menunjukkan keberadaan Rabb yang dia serukan kepada-Nya, maka Ibrahim bertutur: rabbiyal ladzii yuhyii wa yumiitu (“Rabbku adalah yang menghidupkan dan mematikan.”) Maksudnya, dalil yang menunjukkan keberadan-Nya adalah keberadaan segala sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya dan ketiadaannya setelah itu. Semua itu menunjukkan adanya pelaku dan pencipta secara pasti, karena segala sesuatu tidak akan ada dengan sendirinya. Melainkan harus ada pencipta yang menciptakan keberadaannya dan Dialah Rabb yang Ibrahim menyerukan ibadah hanya kepada-Nya semata, Rabb yang tiada sekutu bagi-Nya. Pada saat itu Namrud, si pendebat mengatakan: ana uhyii wa umiitu (“Akupun dapat menghidupkan dan mematikan.”) Qatadah, Muhammad bin Ishaq, as-Suddi, dan ulama lainnya mengatakan: “Kemudian Namrud mendatangkan dua orang yang akan dihukum mati. la menyuruh membunuh salah seorang dari keduanya dan memberikan ampunan kepada yang lain dan tidak membunuhnya. Dan itulah makna menghidupkan dan mematikan (menurut anggapannya).” Ketika Namrud memperlihatkan kesombongannya itu, Ibrahim berkata kepadanya: fa innallaaHa ya’tii bisy syamsi minal masyriqi fa’ti biHaa minal maghribi (“Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah matahari itu dari barat.”) Maksudnya, jika benar apa yang engkau katakana tadi, bahwa engkau dapat menghidupkan dan mematikan, maka yang dapat menghidupkan dan mematikan itu adalah yang mengendalikan segala yang ada, menciptakan zatnya dan menaklukkan planet-planet berikut peredarannya. Matahari ini selalu muncul setiap hari dari timur, jika engkau benar-benarTuhan sebagaimana yang engkau katakan, maka terbitkanlah matahari itudari barat.” Maka ketika Namrud mengetahui ketidakmampuannya dan bahwa tidak sanggup berbuat apa-apa dengan kesombongan itu, ia pun tercengang, membisu tidak dapat berbicara sepatah kata pun. Dan hujjah pun telah jelas (tegak) atas dirinya. Allah Ta’ala berfirman: wallaaHu laa yaHdil qaumadh dhaalimiin (“Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”) Artinya, Allah swt. tidak mengilhami mereka untuk mendapatkan suatu alasan, justru hujjah mereka tidak dapat berkutik di hadapan Rabb nereka. Mereka layak mendapatkan kemurkaan dan siksaan yang pedih. di November 25, 2017

AYAT 257

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH BAQARAH AYAT 257'
BISMILLAHIRAHMANIRRAHIM''
    ‘Allaahu Waliy – yullaziina ‘aamanuu yukhjuhum minaz – zulumaati ‘ilan – nuur. Wal – laziina kafaruuu ‘aw – liyaaa – ‘u – humut –Taaghuutu yukhri – juunahum minan – Nuuri ‘ilaz – zulu – maat. ‘Ulaaa – ‘ika ‘As – haabun Naari hum fiihaa Khaliduun.

     “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni nereka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 257)

 Allah Ta’ala memberitahukan, bahwa Dia akan memberikan hidayah (petunjuk) kepada orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya menuju jalan keselamatan. Dia mengeluarkan hamba-hamba-Nya yang beriman dari gelapnya kekufuran dan keraguan menuju cahaya kebenaran yang sangat jelas, terang, mudah, dan bersinar terang. Sedangkan pelindung orang-orang kafir adalah syaitan yang menjadikan kebodohan dan kesesatan itu indah dalam pandangan mereka, serta mengeluarkan mereka dari jalan kebenaran menuju kekufuran dan kebohongan. Sababbun Nuzul Ibnu Jarir Ath-Thabari meriwayatkan Abdah bin Abi Lubabah tentang firman Allah ((اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا)) bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman atas kenabian Isa as, ketika Muhammad saw datang, mereka pun beriman dan turunlah ayat ini. (Tafsir Al-Munir Lizzuhaili: 3: 20)

 Dalam ayat ini Allah swt mengabarkan bahwa Dia akan senantiasa memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti jalan-Nya menuju jalan keselamatan. Untuk itu, Allah mengeluarkan hamba-hamba-Nya yang mukmin dari kegelapan, kekufuran dan keraguan kepada cahaya haq yang jelas, gamblang, mudah dan bercahaya. Penolong orang kafir adalah syetan, syetanlah yang menghiasi mereka dengan kebodohan dan kesesatan. Syetan mengeluarkan mereka dan menyimpangkan mereka dari perkara yang hak kepada kekufuran dan kebohongan. Allah membagi manusia menjadi dua golongan; golongan yang beriman kepada-Nya dan tidak mensekutukan-Nya sedikitpun, aqidah mereka bersih dari noda-noda kesyirikan dan mengkufuri thaghut, golongan kedua adalah adalah orang yang beriman kepada thaghut, mereka menjadikan Thaghut sebagai wali dan pelindung, sehingga Allah menyesatkan mereka dan mengharamkan kebahagiaan. Maka orang yang beriman akan ditambahkan petunjuk dan dimudahkan oleh Allah swt untuk menerima ajaran-ajaran Islam, keyakinan islam yang ada dalam hati memudahkan dia menerima setiap kebenaran dan imannya bertambah setiap harinya, sementara orang yang lebih memilih kekafiran, maka hatinya akan tertutup untuk menerima kebenaran dan sebagai balasannya ia akan terus dalam keragu-raguan dan kesesatan setiap harinya. Ayat ini juga menunjukkan bahwa jalan kesesatan itu bermacam-macam dan jalan kebenaran hanya ada satu, yang bisa diketahui dari kata ad-dhulumaat yang berbentuk jamak/plural dan kata an-nur yang berbentuk sendiri, hal ini juga disebutkan oleh Allah swt dalam surat Al-An’am: 153: “

Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertaqwa”.(Dur Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur oleh Jalaluddin As Suyuthi: 3: 202, Taisiru Karimi Ar-Rahman Fi Tafsiri Kallamil mannan, Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di: 188) Hadits Dari Abu Hurairah menuturkan, Rasulullah saw. bersabda: “Allah berfirman; Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan, jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah, maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Ku-lindungi.” (HR Bukhari no 6021)

Isnin, 23 Julai 2018

AYAT 256


TAFSIR SURAT AL-BAQARAH:256*
 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABBARAK
17.08.21 isnen. 8pagi,.,Bismillahir-rahman-nir-rahim
256.Laaa ‘ikraaha fid – Diin. Qatta – bayya – nar – Rushdu minal –Ghayy. Famany yakfur bit – Taa –ghuuti wa yu' – min – bil – laahi faqadis – tamsaka bil –‘urwatil – wusqaa – Lan – fisaama lahaa. Wallaahu Samii – ‘un ‘Aliim. (256) *

*لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

 Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Tidak Ada Paksaan Untuk Memeluk Islam, Sebelum kita beranjak ke data-data historis tentang peperangan di dalam Islam, ada sebuah kaidah yang perlu dipahami bahwa umat Islam dilarang memaksa, mengancam, dan memberikan tekanan suatu kelompok atau individu tertentu agar mereka memeluk Islam.

Allah Ta’ala berfirman, (QS. Al-Baqarah: 256) [لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ] “Tidak ada paksaan dalam agama.” Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata tentang sebab diturunkannya ayat ini, “Ayat ini diturunkan berkaitan dengan salah seoarang Anshar (sahabat Nabi dari Madinah) dari Bani Salim bin Auf. Al-Hushaini mengatakan, ‘Sahabat ini memiliki dua orang anak laki-laki yang beragama Nasrani dan dia seorang muslim. Lalu ia berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bolehkah aku memaksa keduanya karena mereka menolak agama kecuali agama Nasrani. Allah pun menurunkan ayat ini’.” (Tafsir Ibnu Katsir).Jadi, tidak diperkenankan seorang muslim memaksa seseorang atau kelompok tertentu untuk memeluk Islam walaupun orang atau kelompok tersebut di bawah kekuasaannya. Kalau ternyata penduduk negeri-negeri yang ditaklukkan oleh umat Islam memeluk agama Islam, itu bukan dikarenakan paksaan atau tekanan dari pihak muslim yang berkuasa, akan tetapi dikarenakan kedamaian yang mereka temukan dalam ajaran Islam. Contohnya nyatanya adalah tentang keislaman Tsumamah bin Utsal. --------------------------------------------------------------------------------------

 Allah swt. berfirman: laa ikraaHa fid diini (“Tidak ada paksaan untuk memasuki agama.”) Maksudnya, janganlah kalian memaksa seseorang memeluk agama Islam. Karena sesungguhnya dalil-dalil dan bukti-bukti itu sudah demikian jelas dan gamblang, sehingga tidak perlu ada pemaksaan terhadap seseorang untuk memeluknya. Tetapi barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah dan dilapangkan dadanya serta diberikan cahaya bagi hati nurainya, maka ia akan memeluknya. Dan barangsiapa yang dibutakan hatinya oleh Allah Ta’ala, dikunci mati pen-dengaran dan pandangannya, maka tidak akan ada manfaat baginya paksaan dan tekanan untuk memeluk Islam. Para ulama menyebutkan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah ber-kenaan dengan beberapa orang kaum Anshar, meskipun hukumnya berlaku umum. Ibnu Jarir meriwayatkan, dari Ibnu Abbas, ia menceritakan, ada seorang wanita yang sulit mempunyai anak, berjanji kepada dirinya, jika putranya hidup, maka ia akan menjadikannya Yahudi. Dan ketika Bani Nadhir diusir, dan di antara mereka terdapat anak-anak kaum Anshar, maka mereka berkata, “Kami tidak mendakwahi anak-anak kami.” Maka Allah menurunkan ayat, laa ikraaHa fid diini qad tabayyanar rusydu minal ghayyi (“Tidak ada paksaan untuk [memasuki] agama [Islam]. Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.”) Demikian hadits yang diriwayatkan Imam Nasa’i secara keseluruhan. Juga diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya. Tidak ada paksaan bagi seseorang untuk memeluk suatu agama. Jalan kebenaran dan kesesatan telah jelas melalui tanda-tanda kekuasaan Allah yang menakjubkan. Barangsiapa beriman kepada Allah dan mengingkari segala sesuatu yang mematikan akal dan memalingkannya dari kebenaran, maka sesungguhnya ia telah berpegang-teguh pada penyebab terkuat untuk tidak terjerumus ke dalam kesesatan. Perumpamaannya seperti orang yang berpegangan pada tali yang kuat dan kokoh, sehingga tidak terjerumus ke dalam jurang. Allah Maha Mendengar apa yang kalian katakan, Maha Melihat apa yang kalian lakukan. Maka Dia pun akan membalasnya dengan yang setimpal. (1) (1) Komentar mengenai ayat ini dari segi hukum internasional telah disinggung pada ayat-ayat peperangan, dari nomor 190-195 surat al-Baqarah. ------------------------------------------------------------------------------------------

TAFSIR IBNU KATSIR; Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam).” (QS Al-Fath: 16). Diriwayatkan bahwa dalam hadits shahih disebutkan: “Rabbmu merasa kagum kepada kaum yang digiring ke dalam surga dengan rantai.” Maksudnya, para tawanan yang dibawa ke negeri Islam dalam keadaan diikat dan dibelenggu, setelah itu mereka masuk Islam, lalu amal perbuatan mereka dan hati mereka menjadi baik, sehingga mereka menjadi penghuni surga. Dan firman-Nya: fa may yakfur bith-thaaghuuti wa yu’mim billaaHi faqadistamsaka bil’urwatil wutsqaa lan fishaama laHaa wallaaHu samii’un ‘aliim (“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui.”) Artinya, barangsiapa yang melepaskan diri dari sekutu-sekutu (tandingan), berhala, serta apa yang diserukan oleh syaitan berupa penyembahan kepada selain Allah, mengesakan-Nya, serta menyembah-Nya, dan bersaksi bahwa tiada Ilah yang haq selain Dia. faqadistamsaka bil’urwatil wutsqaa (“Maka sesungguhnya ia telah berpegagang pada buhul tali yang amai kuat yang tidak akan putus.”) Berarti ia telah benar-benar tegar dan teguh berjalan di jalan yang tepat lagi lurus. Umar ra. mengatakan: “Bahwa al-jibt itu berarti sihir dan thaghut berarti syaitan. Bahwasanya keberanian dan sikap pengecut merupakan tabiat yang melekat pada diri Manusia. Orang yang berani akan memerangi orang-orang yang tidak dikenalnya, sedangkan seorang pengecut lari meninggalkan ibunya. Sesungguhnya kemuliaan seseorang adalah pada agama, kehormatan dan akhlaknya, meskipun ia orang Parsi ataupun rakyat jelata.” Demikian yang diriwayatkan Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, dari Umar ra. Lalu ia menyebutkannya. Dan makna yang diberikan Umar bahwa thaghut berarti syaitan mempunyai landasan yang sangat kuat, ia mencakup segala macam kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang Jahiliyah, yaitu berupa penyembahan berhala, berhukum, dan memohon bantuan kepadanya. Sedangkan firman-Nya: fa may yakfur bith-thaaghuuti wa yu’mim billaaHi faqadistamsaka bil’urwatil wutsqaa lan fishaama laHaa (“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.”) Artinya, ia telah berpegang teguh kepada agama dengan sarana yang sangat kuat. Dan Allah Ta’ala menyerupakan hal itu dengan tali sangat kuat yang tidak akan putus. Tali tersebut sangatlah kokoh, kuat keras ikatannya. Mujahid mengatakan: “Yang dimaksud dengan al-‘urwatul wutsqaa; adalah iman.” Sedangkan as-Suddi mengemukakan: “Yaitu Islam.” Sedangkan Sa’id bin Jubair dan adh-Dhahhak mengatakan: “Yaitu kalimat Laa ilaaHa illallaaH.” Dari Anas bin Malik: “Yang dimaksud dengan al-‘urwatul wutsqaa; adalah al-Qur’an.” Dan dari Salim bin Abi al-Ja’ad, ia mengatakan: “Cinta dan benci karena Allah.” Semua ungkapan di atas benar, tidak bertentangan satu dengan lainnya. Imam Ahmad meriwayatkan dari Muhammad bin Qais bin ‘Ubadah, menceritakan, suatu ketika aku berada di dalam masjid, lalu datang seseorang yang terpancar kekhusyuan dari wajahnya. Kemudian orang itu mengerjakan shalat dua rakaat secara singkat. Orang-orang di masjid itu berkata: “Inilah seorang ahli syurga.” Ketika orang itu keluar, aku mengikutinya hingga masuk ke rumahnya. Maka aku pun masuk ke rumahnya bersamanya. Selanjutnya aku ajak ia berbicara, dan setelah sedikit akrab, maka aku pun berkata kepada-nya: “Sesungguhnya ketika engkau masuk masjid, orang-orang berkata ini dan itu.” Ia berujar: “Subhanallah, tidak seharusnya seseorang mengatakan sesuatu yang tidak diketahuinya. Akan aku ceritakan kepadamu mengapa aku demikian. Sesungguhnya pada masa Rasulullah, aku bermimpi ini dan mimpi itupun kuceritakan kepada beliau. Aku pernah bermimpi seolah-olah berada di sebuah taman yang sangat hijau. Ibnu Aun mengatakan: “Orang itu menyebutkan warna hijau dan keluasan taman itu.” Di tengah-tengah taman itu terdapat tiang besi yang bagian bawahnya berada di bumi dan yang bagian atas berada di langit. Di atasnya terdapat tali. Dikatakan kepadaku, “Naiklah ke atasnya.” Aku tidak sanggup,” jawabku. Kemudian datang seorang pelayan kepadaku. -Ibnu Aun mengatakan: yaitu seorang pelayan muda menyingsingkan bajuku dari belakang seraya berkata: “Naiklah.” Maka aku pun menaikinya hingga aku berpegangan pada tali itu. Ia berkata: “Berpegangteguhlah pada tali itu!.” Setelah itu aku bangun dari tidur dan tali itu beradatanganku. Selanjutnya aku menemui Rasulullah saw. dan kuceritakan semua-nya itu kepada beliau, maka beliau bersabda: “Taman itu adalah taman Islam, dan tiang itu adalah tiang Islam, sedangkan tali itu adalah tali yang sangat kuat. Engkau akan senantiasa memeluk Islam sampai mati.” Imam Ahmad mengatakan: “Ia adalah Abdullah bin Salam.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahihain. di November 25, 2017

AYAT 255;AYATUL KURSYI'

TAFSIR AYATUL KURSYI''
TAFSIR SURAT AL-BAQARAH:255*
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABBARAK
17.08.20 AHAD. 8pagi,., Dalam surah lembu betina ayat 255 terdapat satu ayat yang mana di namakan sebagai ayat kursyi kerna di dalam ayat ini jelas allah menceritakan tentang luas nya kursi allah meliputi langgit dan bumi,.,. sebagai mana jelas dalam ayat ini disebut dalam Hadits dengan diriwayatkan Imam Muslim tanpa adanya tambahan: “Denmi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya ayat kursi itu mempunyai satu lidah dua bibir yang senantiasa menyucikan al-Malik (Allah) sisi tiang ‘Arsy. Inilah yang disebut ayat kursi. Ayat ini mengandung suatu hal yang sangat agung. Dan terdapat sebuah hadits shahih dari Rasulullah, yang menyebutkan bahwa ayat tersebut adalah ayat yang paling utama di dalam kitab Allah (al-Qur’an). Imam Ahmad meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, bahwa Nabi pernah bertanya kepadanya: “Apakah ayat yang paling agung di dalam kitab Allah?””Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui,” sahut Ubay bin Ka’ab. Maka Nabi saw. mengulang-ulang pertanyaan tersebut, dan kemudian Ubay bin Ka’ab menjawab: “Ayat kursi.” Lalu beliau mengatakan: “Engkau akan dilelahkan oleh ilmu, hai Abu Mundzir. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya ayat kursi itu mempunyai satu lidah dan dua bibir yang senantiasa menyucikan al-Malik (Allah) di sisi tiang ‘Arsy.” --------------------------------------------------------------- Allah berfirman ; Bismillahir-rahman-nir-rahim,.,.,..,,.255.‘Allahu laaa ‘ilaaha ‘illaa Huu. ‘Al –Hayyuk –Qayyun. Laa ta' – khuzuhuu sina – tunw – wa laa nawm. Lahuu maa fis – samaawati wa maa fil – ‘ardi. Man – zal – laazii yashfa – ‘u ‘indahuuu ‘illaa bi – ‘iznih? Ya' – lamu maa bayna ‘aydiihim wa maa khalfahum. Wa laa yu – hiituuna bi – shay – ‘im min ‘il – mihiii ‘illaa bimaa shaaa'. Wasi –‘a Kursiyyu – hus – Samaawaati wal – ‘ard; wa laa ya –‘uudu – huu hifzu – humaa wa Huwal – ‘Aliyyul – ‘Aziim. (--*للَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. Hanya Allahlah yang berhak untuk disembah. Dia hidup kekal dan terus-menerus mengurus makhluk ciptaan-Nya tanpa pernah lalai. Dia tidak pernah ceroboh atau tidur, sebab Dia tidak memiliki sifat kekurangan. Hanya Dialah yang memiliki langit dan bumi, tidak ada seorang pun yang menyertai-Nya. Maka dari itu, tak seorang makhluk pun dapat memberi syafaat kepada yang lainnya kecuali dengan izin Allah. Allah Swt. mengetahui segala sesuatu yang telah dan akan terjadi. Tidak ada seorang pun mampu mengetahui ilmu Allah kecuali orang-orang yang dipilih-Nya. Kekuasaan-Nya sangat luas, meliputi langit dan bumi. Tidak sulit bagi-Nya mengatur itu semua, sebab Dia terhindar dari sifat kurang dan lemah, dan Mahaagung dengan kekuasaan-Nya. TAFSIR IBNU KATSIR -------------------------------------------------------

     Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzar, ia menceritakan: Aku pernah mendatangi Rasulullah saw. ketika beliau sedang duduk di masjid, lalu aku duduk maka beliau bertanya: “Hai Abu Dzar, apakah engkau sudah shalat?” “Belum,” jawab Abu Dzar. “Berdiri dan kerjakanlah shalat,” perintah Rasulullah. Kemudian, lanjut Abu Dzar, aku bangun dan mengerjakan shalat, setelah itu aku duduk lagi, kemudian beliau bertanya: “Hai Abu Dzar, berlindunglah kepada Allah dari kejahatan syaitan yang berwujud manusia dan jin.” Lalu kutanyakan: “Ya Rasulullah, apakah ada syaitan yang berwujud manusia?” “Ya,” jawab beliau. Lalu kutanya lagi: “Ya Rasulullah, apakah shalat itu?” Beliau bersabda: “Merupakan amal yang paling bagus. Barangsiapa menghendaki boleh mengerjakan sedikit dan barangsiapa menghendaki boleh mengerjakan banyak.” Lebih lanjut kutanyakan: “Kemudian apa itu puasa?” Beliau menjawab: “Suatu kewajiban yang berpahala dan di sisi Allah terdapat tambahan (pahala).” Kutanyakan lagi: “Lalu apa yang dimaksud dengan sedekah itu?” Beliau menjawab: “Ibadah yang dilipatgandakan (pahalanya).” Selanjutnya kutanyakan: “Lalu mana di antara sedekah itu yang lebih baik?” Beliau menjawab: “Yaitu sedekah yang diberikan oleh orang yang sedikit hartanya atau sedekah yang diberikan secara sembunyi-sembunyi kepada orang miskin.” Kutanyakan lagi: “Siapakah nabi yang paling pertama?” Beliau menjawab: “Adam.” Kutanyakan lagi: “Nabi yang bagaimana ia itu?” Beliau menjawab: “Ia adalah nabi yang diajak bicara (oleh Allah secara langsung).” “Ya Rasulullah, berapakah rasul yang diutus?” tanyaku. Beliau menjawab: “Secara keseluruhan mereka berjumlah tiga ratus tiga belas lebih suatu jumlah yang banyak.” Di lain kesempatan Nabi mengatakan: “Mereka berjumlah tiga ratus lima belas orang.” Kutanyakan lagi: “Ya Rasulullah, ayat apa yang paling agung yang telah diturunkan kepadamu?” Beliau menjawab: “Ayat kursi; Tiada Ilan melainkan hanya Dia yang Maha hidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya.'” (HR. Nasa’i; Dha’if: Disebutkan oleh al-Haitsami dalam kitab al Majma’ (726), ia berkata: “Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bazzar dan ath-Thabrani dalam Mu’jam al Ausath seperti ini, di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama al-Mas’udi. Dia tsiqah, tetapi hafalannya bercampur/kacau.”) Imam Bukhari juga meriwayatkan dalam kitabnya, Shahih Bukhari pada bab Fadhailu al-Qur’an (keutamaan-keutamaan al-Qur’an) dan juga dalam bab al Walakah, dari Abu Hurairah ra. ia berkata: “Rasulullah saw. pernah memberikan tugas kepadaku untuk menjaga zakat bulan Ramadhan. Lalu ada seseorang yang mendatangiku seraya meraup makanan, maka aku pun segera menangkapnya seraya kukatakan: ‘Akan aku laporkan kamu kepada Rasulullah.’ Orang itu berkata: ‘Biarkanlah aku mengambilnya, sesungguhnya aku membutuhkannya untuk menanggung keluargaku yang banyak, dan aku punya keperluan yang sangat mendesak.’ Abu Hurairah melanjutkan ceritanya, kemudian aku pun membiarkannya, hingga pada keesokan harinya, Rasulullah saw. berkata: ‘Hai Abu Hurairah, apa yang dikerjakan oleh tawananmu tadi malam?’ Kujawab, lanjut Abu Hurairah: ‘Ya Rasulullah, ia mengadukan kebutuhannya yang sangat mendesak dan keluarganya yang banyak. Maka aku merasa kasihan kepadanya dan aku biarkan ia berlalu.’ Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya ia telah membohongimu dan akan kembali.’ Aku tahu bahwa orang itu akan kembali lagi berdasarkan sabda Rasulullah saw., ‘Bahwa ia akan kembali.’ Kemudian aku pun mengintainya. Ternyata ia datang dan meraup makanan. Lalu aku menangkapnya kembali dan kukatakan: ‘Akan aku laporkan engkau kepada Rasulullah.’ Maka orang itu pun berujar: ‘Biarkanlah aku mengambilnya, sesungguhnya aku benar-benar terdesak oleh kebutuhan dan tanggungan keluarga, aku tidak akan kembali.’ Maka aku pun kasihan dan aku biarkan ia berlalu. Dan pada keesokan harinya, Rasulullah berkata kepadaku: ‘Hai Abu Hurairah, apa yang dikerjakan oleh tawananmu tadi malam?’ Kukatakan: `Ya Rasulullah, ia mengadukan kebutuhannya yang sangat mendesak dan keluarganya yang banyak. Maka aku merasa kasihan kepadanya dan aku biarkan ia berlalu.’ Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya ia telah membohongimu dan is akan kembali.’ Selanjutnya kuintai untuk ketiga kalinya, dan temyata ia datang kembali dan meraup makanan lagi. Lalu aku menangkapnya kembali dan kukatakan: ‘Akan aku laporkan engkau kepada Rasulullah. Dan ini adalah yang ketiga kalinya dan engkau telah berjanji untuk tidak kembali, ternyata engkau masih kembali. Kemudian orang itu bertutur: ‘Lepaskanlah aku, aku akan mengajarkan kepadarnu beberapa kalimat, yang dengannya Allah akan memberikan manfaat kepadamu. ‘Apakah kalimat-kalimat tersebut?’ tanyaku. Maka ia menjawab: ‘Apabila engkau hendak beranjak tidur, maka bacalah ayat kursi: allaaHu laa ilaaHa illaa Huwal hayyul qayyuum (“Allah, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi melainkan Dia yang Mahahidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya,”) niscaya akan senantiasa ada perlindungan Allah bagimu dan engkau tidak akan didatangi syaitan hingga pagi hari tiba.’ Maka aku pun membebaskan orang itu. Dan pada saat pagi harinya, Rasulullah saw berkata kepadaku: ‘Apa yang dikerjakan oleh tawananmu tadi malam?’ Kukatakan: `Ya Rasulullah, orang itu telah mengajariku beberapa kalimat, yang dengannya Allah akan mem-berikan manfaat kepadaku. Maka aku pun membiarkan ia berlalu.’ Beliau bertanya: ‘Apa kalimat-kalimat tersebut?’ ‘Orang itu berkata kepadaku: Apabila beranjak ke tempat tidur, maka bacalah ayat kursi: allaaHu laa ilaaHa illaa Huwal hayyul qayyuum (“Allah, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi melainkan Dia yang Mahahidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya,”) niscaya akan senantiasa ada perlindungan Allah bagimu dan engkau tidak akan didatangi syaitan hingga pagi hari tiba’ para sahabat adalah orang-orang yang sangat loba terhadap kebaikan. Maka Rasulullah bersabda: ‘Sesungguhnyah berkata benar, padahal ia seorang pendusta. Tahukah engkau, hai Abu Hurairah, siapakah yang engkau ajak bicara selama tiga malam tersebut?’ ‘Tidak,’ jawabku. Beliau bersabda: ‘Ia adalah syaitan.’” Demikian hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari secara muallaq dengan ungkapan pasti. Hadits ini juga diriwayatkan an-Nasa’i dalam Kitab: “al yauma wa lailah.” Hadits yang lain, yang menjelaskan bahwa ayat ini mengandung nama Allah yang paling agung, diriwayatkan Imam Ahmad, dari Asma’ binti Yazid bin Sakan, ia berkata, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda mengenai dua ayat ini, allaaHu laa ilaaHa illaa Huwal hayyul qayyuum (“Allah, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi melainkan Dia yang Mahahidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya,”) Dan ayat, “Alif laam miim. allaaHu laa ilaaHa illaa Huwal hayyul qayyuum (“Aliif laam miim. Allah, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi melainkan Dia yang Mahahidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya,”) (QS. Ali Imraan: 1-2): “Sesungguhnya pada kedua ayat tersebut terdapat nama Allah yang paling agung.” Demikian hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah. Imam Tirmidzi mengatakan: “Hadits ini hasan shahih.” Ayat ini mencakup 10 (sepuluh) kalimat yang berdiri sendiri, yaitu firman Allah Ta’ala: AllaaHu laa ilaaHa illaa Huwa (“Allah, tidak ada ilah [yang berhak di-ibadahi] melainkan Dia.”) Yang demikian itu memberitahukan, bahwasanya Allah-lah yang Tunggal dalam uluhiyah-Nya (ketuhanan-Nya) bagi seluruh makhluk-Nya.” Al hayyul qayyuum (“Yang Mahahidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya.”) Artinya, yang hidup kekal, dan tidak akan pernah mati selamanya, yang mengendalikan semua yang ada. Dengan demikian, semua yang ada di dunia ini sangat membutuhkan-Nya, sedang Dia sama sekali tidak membutuhkan mereka, tidak akan tegak semuanya itu tanpa adanya perintah-Nya. seperti firman-Nya berikut ini: wa min aayaatiHii an taquumas samaa-u wal ardlu bi amri (“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah berdirinya langit dan bumi dengan iradah-Nya.”) (QS. Ar-Ruum: 25). Dan firman-Nya: laa ta’khudzuHu sinatuw walaa naum (“Tidak mengantuk dan tidak pula tidur”) Artinya, la suci dari cacat (kekurangan), kelengahan dan kelalaian tidur dalam mengurusi makhluk-Nya. Bahkan sebaliknya, Dia senantiasa mengurus dan memperhatikan apa yang dikerjakan setiap individu. Dan Dia senantiasa menyaksikan segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya. Dan di antara kesempurnaan sifat-Nya adalah Dia tidak pernah dikalahkan (dikuasai) kantuk dan tidur. Firman-Nya: laa ta’khudzuHu; berarti Dia tidak dikalahkan (dikuasai) oleh kantuk. Oleh karena itu Dia juga berkata: “Dan tidak juga tidur.” Karena tidur itu lebih kuat dari mengantuk. Dan firman-Nya: laHuu maa fis samaawaati wa maa fil ardli (“Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi.”) Hal itu merupakan pemberitahuan bahwaa makhluk ini adalah hamba-Nya, dan berada di dalam kerajaan-Nya, pemaksaan-Nya, dan juga kekuasaan-Nya. Firman-Nya: man dzal ladzii yasy-fa’u ‘indaHuu illaa bi-idzniHi (“Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.”) Ini merupakan bagian dari keagungan, keperkasaan, dan kebesaran Allah swt, yang mana tidak seorang pun dapat memberikan syafa’at kepada orang lain, kecuali dengan seizin-Nya. Sebagaimana yang ditegaskan dalam sebuah hadits tentang syafaat: “Aku datang ke bawah ‘Arsy, lalu aku tunduk bersujud. Maka Dia membiarkanku selama waktu yang Dia kehendaki. Kemudian dikatakan: ‘Angkatlah kepalamu, katakanlah perkataanmu akan didengar, dan berilah syafaat, dan engkau akan mendapat syafaat.’ Nabi bersabda: ‘Kemudian Allah memberikan suatu batasan kepadaku, lalu aku memasukkan mereka ke dalam surga.’” (HR Al-Bukhari dan lain-lainnya).

     Dan firman Allah Ta’ala: ya’lamu maa baina aidiiHim wa maa khalfaHum (“Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka.”) Yang demikian itu sebagai bukti yang menunjukkan bahwa ilmu-Nya meliputi segala yang ada, baik yang lalu, kini, dan yang akan datang. Selanjutnya penggalan ayat: walaa yuhiithuuna bibisyai-im min ‘ilmiHii illaa bimaa syaa’a (“Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya”) Artinya, tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui sedikit pun dari ilmu Allah kecuali yang telah diajarkan dan diberitahukan oleh Allah kepada-Nya. Mungkin juga makna penggalan ayat tersebut adalah, manusia tidak akan dapat mengetahui ilmu Allah sedikit pun, dzat dan sifatnya melainkan yang telah diperlihatkan Allah kepadanya. Hal itu seperti firman-Nya yang artinya: “Sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” (QS. Thaahaa: 110). Dan firman-Nya lebih lanjut: wasi’a kursiyyuHus samaawaati wal ardla (“Kursi Allah meliputi langit dan bumi.”) Ibnu Abi Hatim menceritakan, dari Ibnu Abbas mengenai firman-Nya, wasi’a kursiyyuHus samaawaati wal ardla (“Kursi Allah meliputi langit dan bumi.”) ia mengatakan, “Yaitu ilmu-Nya.” Pendapat yang sama juga diriwayatkan Ibnu Jarir, dari Abdullah bin Idris dan Hasyim, keduanya dari Mutharif bin Tharif. Ibnu Abi Hatim, menceritakan, hal yang sama juga diriwayatkan, dari Said bin Jubair. Dalam tafsirnya, Wak’i telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia mengatakan: “Kursi adalah tempat pijakan dua kaki (Allah) dan ‘Arsy tidak ada seorang pun yang mampu memperkirakannya. Hal itu juga diriwayatkan al-Hakim dalam kitabnya al-Mustadrak, ia mengatakan: “(Riwayat tersebut) shahih menurut syarat dari Syaikhani (al-Bukhari dan Muslim) tetapi keduanya tidak meriwayatkannya. Dan firman-Nya, “Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. “Maksudnya, Dia tidak merasa keberatan dan kewalahan untuk memelihara langit, bumi, dan semua yang ada di antara keduanya. Bahkan bagi-Nya semuanya itu merupakan suatu hal yang sangat mudah dan ringan. Dia yang mengawasi setiap individu atas apa yang ia kerjakan. Yang senantiasa memantau segala sesuatu, sehingga tidak ada sesuatu pun yang luput dan tersembunyi dari-Nya. Dia yang menundukkan dan menghisab (memperhitungkan) segala sesuatu. Dialah Ilah Yang Mahamengawasi, Mahatinggi, dan tidak ada Ilah selain Dia. Dengan demikian firman-Nya: wa Huwal ‘aliyyul ‘adhiim (“Dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar,”) adalah sama seperti firman-Nya: wa Huwal kabiirul muta’aal (“Yang Mahabesar lagi Mahatinggi.”) (QS. Ar-Ra’ad: 9). Jalan terbaik dalam memahami ayat-ayat di atas berikut maknanya yang terkandung dalam beberapa hadits shahih adalah dengan metode yang digunakan para ulama Salafush Shaleh; Mereka memahami makna ayat-ayat tersebut (sebagaimana arti bahasa yang digunakan dalam ayat-ayat atau hadits-hadits itu,-Pent.) tanpa takyif (menanyakan kaifiatnya/hakekatnya) dan tanpa tasybih (menyerupakan dengan makhluk). Dalam naskah al-Azhar: Arti memahami di sini ialah tanpa mena’wilkannya dengan pandangan-pandangan manusia tetapi kita hanya beriman kepada ayat-ayat itu dengan menyucikan Allah terhadap keserupaan-Nya dengan sesuatu pun dari makhluk-Nya. di November 25, 2017

AYAT 254

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH BAQARAH 254'
BIS-MIL-LAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM''
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلا خُلَّةٌ وَلا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ (254) }
“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rizki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada Iagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang dhalim.” (QS. Al-Baqarah: 254)

 Allah telah memerintahkan hamba hamba-Nya supaya menginfakkan sebagian dari apa yang telah Dia karuniakan kepada mereka di jalan-Nya, yaitu jalan kebaikan. Agar pahala infak tersebut tersimpan di sisi Allah Ta’ala dan supaya mereka segera mengerjakannya dalam kehidupan dunia ini. Mubtada dalam ayat ini dibatasi oleh khabar-nya, yakni orang-orang yang benar-benar zalim di antara mereka yang datang menghadap kepada Allah adalah orang yang kafir. Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Ata ibnu Dinar, bahwa ia pernah berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah berfirman: 'Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim' (Al-Baqarah: 254)

 Dan tidak mengatakan dalam firman-Nya, 'Orang-orang zalim itulah orang-orang yang kafir'." Para Ulama berbeda pendapat tentang infak yang dieprintahkan dalam ayat ini; apakah ia infak wajib yaitu zakat ataukah ia infak seecara umum mencakup yang wajib dan yang sunnah? Al-Hasan al-Bahsri rahimahullah berpendapat bahwa infak dalam ayat ini adalah khsusus untuk zakat saja (infak wajib), bukan infak sunnah namun Ulama yang lain (Jumhur) berpendapat infak dalam ayat ini adalah umum mencakup infak yang wajib yaitu zakat dan juga infak yang sunnah seperti sedekah dan lain-lain.

 Pelajaran dari ayat yang mulia di atas:  Di antara pelajaran yang dapat dipetik dari ayat di atas adalah sebagai berikut: 1. Keutamaan berinfak dari rizki yang telah Allah karuniakan kepada kita. 2. Bahwasanya infak adalah salah satu konsekwensi dari keimanan, dan kikir (belit/bakhil) adalah kekurangan dalam iman. Oleh sebab itu seorang mukmin bukanlah orang yang pelit, namun orang mukmin adalah orang yang dermawan dengan ilmunya, dermawan dengan kedudukan/kehormatannya, dermawan dengan hartanya dan dermawan dengan fisiknya. 3. Peringatan bahwa seseorang tidak memperoleh rizki semata-mata dengan usahanya sendiri, usaha hanyalah sebab namun yang menjadikan sebab itu adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana firman-Nya: مِمَّا رَزَقْنَاكُم (sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu). Maka tidak sepantasnya seseorang merasa ujub (takjub terhadap diri sendiri) sehingga menganggap rizki yang diperolehnya adalah semata-mata hasil usahanya, dan hasil kerjanya sebagaimana perkataan seseorang:”Sesungguhnya aku diberikan ini karena ilmu yang aku miliki.”

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN