Khamis, 1 Mac 2018

AYAT 75-76

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK; SURAH ALI-IMRAN 200AYAT

 Ayat 75 Wa min ahlil kita_bi man in ta'manhu bi qinta_riy yu'addihi ilaik(a), wa minhum man in ta'manhu bi dina_ril la_ yu'addihi ilaika illa_ ma_ dumta 'alaihi qa_'ima_(n), za_lika bi annahum qa_lu_ laisa 'alaina_ fil umiyyina sabil(un), wa yaqu_lu_na 'alalla_hil kaziba wa hum ya'lamu_n(a). 3:76 Ayat 76 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 76 Bala_ man aufa_ bi 'ahdihi wattaqa_ fa innalla_ha yuhibbul muttaqin(a).

 {وَمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لَا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِمًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَيْسَ عَلَيْنَا فِي الأمِّيِّينَ سَبِيلٌ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (75) بَلَى مَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ وَاتَّقَى فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ (76) }

 Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan, "Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi." Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. (Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.

 Allah Swt. memberitakan perihal orang-orang Yahudi, bahwa di antara mereka ada orang-orang yang khianat; dan Allah Swt. memperingatkan kaum mukmin agar bersikap waspada terhadap mereka, jangan sampai mereka teperdaya, karena sesungguhnya di antara mereka terdapat orang-orang yang disebutkan oleh firman-Nya: {مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ} ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya senilai satu qintar. (Ali Imran: 75) Yakni sejumlah harta yang banyak. {يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ} dia mengembalikannya kepadamu. (Ali Imran: 75). Yaitu barang yang nilainya kurang dari satu qintar jelas lebih ditunaikannya kepadamu. {وَمِنْهُمْ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لَا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِمًا} dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, dia tidak mengembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya, (Ali Imran: 75) Maksudnya, terus-menerus menagih dan mendesaknya agar melunasi hakmu. Apabila demikian sikapnya terhadap satu dinar, maka terlebih lagi jika menyangkut yang lebih banyak, maka ia tidak akan mengembalikannya kepadamu. Dalam pembahasan yang lalu pada permulaan surat ini telah diterangkan makna qintar. Adapun mengenai satu dinar, hal ini sudah dimaklumi kadarnya. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Amr As-Sukuti, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, dari Ziad ibnul Haisam, telah menceritakan kepadaku Malik ibnu Dinar yang telah mengatakan bahwa sesungguhnya dinar disebut demikian karena merupakan gabungan dari dua kata, yaitu din (agama) dan nar (yakni api). Menurut pendapat yang lain, makna dinar ialah 'barang siapa yang mengambilnya dengan jalan yang benar, maka ia adalah agamanya; dan barang siapa yang mengambilnya bukan dengan jalan yang dibenarkan baginya, maka baginya neraka'. Sehubungan dengan masalah ini selayaknya disebutkan hadis-hadis yang di-ta'liq oleh Imam Bukhari dalam berbagai tempat dari kitab sahihnya. Yang paling baik konteksnya ialah yang ada di dalam Kitabul Kafalah. Imam Bukhari mengatakan:

 قَالَ اللَّيْثُ: حَدَّثَنِي جَعْفَرُ بْنِ رَبِيعَةَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ هُرْمُز الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَّهُ ذَكَرَ رَجُلا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ سَأَلَ [بَعْضَ] بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنْ يُسْلِفَهُ أَلْفَ دِينَارٍ، فَقَالَ: ائْتِنِي بِالشُّهَدَاءِ أُشْهِدُهُمْ. فَقَالَ: كَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا. قَالَ: ائْتِنِي بِالْكَفِيلِ. قَالَ: كَفَى بِاللَّهِ كَفِيلا. قَال: صَدَقْتَ. فَدَفَعَهَا إِلَيْهِ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى، فَخَرَجَ فِي الْبَحْرِ فَقَضَى حَاجَتَهُ، ثُمَّ الْتَمَسَ مَرْكَبًا يَرْكَبُهَا يَقْدَمُ عَلَيْهِ لِلأجَلِ الَّذِي أَجَّلَهُ، فَلَمْ يَجِدْ مَرْكِبًا، فَأَخَذَ خَشَبَةً فَنَقَرَهَا فَأَدْخَلَ فِيهَا أَلْفَ دِينَارٍ، وَصَحِيفَةً مِنْهُ إِلَى صَاحِبِهِ، ثُمَّ زَجَّجَ مَوْضِعَهَا، ثُمَّ أَتَى بِهَا إِلَى الْبَحْرِ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنِّي استَسْلَفْت ُ فُلانًا أَلْفَ دِينَارٍ فَسَأَلَنِي كَفِيلا فَقُلْتُ: كَفَى بِاللَّهِ كَفِيلا فَرَضِيَ بِكَ . وَسَأَلَنِي شَهِيدًا، فَقُلْتُ: كَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا فَرَضِيَ بِكَ، وَإِنِّي جَهَدْتُ أَنْ أَجِدَ مَرْكَبًا أَبْعَثُ إِلَيْهِ الَّذِي لَهُ فَلَمْ أَقْدِرْ، وَإِنِّي اسْتَوْدَعْتُكَهَا. فَرَمَى بِهَا فِي الْبَحْرِ حَتَّى وَلَجَتْ فِيهِ، ثُمَّ انْصَرَفَ وَهُوَ فِي ذَلِكَ يَلْتَمِسُ مَرْكَبًا يَخْرُجُ إِلَى بَلَدِهِ، فَخَرَجَ الرَّجُلُ الَّذِي كَانَ أَسْلَفَهُ يَنْظُرُ لَعَلَّ مَرْكَبًا يَجِيئُهَُ بِمَالِهِ، فَإِذَا بِالْخَشَبَةِ الَّتِي فِيهَا الْمَالُ، فَأَخَذَهَا لأهْلِهِ حَطَبًا، فَلَمَّا كَسَرَهَا وَجَدَ الْمَالَ وَالصَّحِيفَةَ، ثُمَّ قَدِمَ الَّذِي كَانَ تَسَلَّف مِنْهُ، فَأَتَاه بِأَلْفِ دِينَارٍ، وَقَالَ: وَاللَّهِ مَا زِلْتُ جَاهِدًا فِي طَلَبِ مَرْكَبٍ لآتِيَكَ بِمَالِكَ، فَمَا وَجَدْتُ مَرْكَبًا قَبْلَ الَّذِي أَتَيْتُ فِيهِ. قَالَ: هَلْ كُنْتَ بَعَثْتَ إِلَيَّ بِشَيْءٍ؟ قَالَ: أَلَمْ أُخْبِرْكَ أَنِّي لَمْ أَجِدْ مَرْكَبًا قَبْلَ هَذَا؟ قَالَ: فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَدَّى عَنْكَ الَّذِي بَعَثْتَ فِي الْخَشَبَةِ، فَانْصَرِفْ بِأَلْفِ دِينَارٍ رَاشِدًا.

bahwa Al-Lais mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ja'far ibnu Rabi'ah, dari Abdur Rahman ibnu Hurmuz Al-A'raj, dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah Saw. yang pernah menceritakan: bahwa di zaman dahulu ada seorang lelaki dari kalangan umat Bani Israil berutang sejumlah seribu dinar kepada seorang lelaki lain yang juga dari Bani Israil. Lelaki yang diminta berkata, "Datangkanlah orang-orang yang aku akan jadikan mereka sebagai saksi." Lelaki yang mengajukan utang berkata, "Cukuplah Allah sebagai saksinya." Lelaki yang diminta berkata, "Datangkanlah kepadaku seorang penjamin." Lelaki yang meminta menjawab, "Cukuplah Allah sebagai penjaminnya." Lelaki yang diminta berkata, "Engkau benar," lalu ia memberikan utang itu kepadanya sampai waktu yang telah ditentukan. Lelaki yang berutang itu berangkat melakukan suatu perjalanan menempuh jalan laut. Setelah menyelesaikan urusan dan keperluannya, maka ia mencari perahu yang akan ditumpanginya menuju tempat lelaki pemiutang karena saat pembayarannya telah tiba, tetapi ia tidak menemukan sebuah perahu pun. Lalu ia mengambil sebatang kayu dan kayu itu dilubanginya, kemudian memasukkan ke dalamnya uang seribu dinar berikut sepucuk surat yang ditujukan kepada pemiliknya, lalu lubang itu ia tutup kembali dengan rapat. Ia datang ke tepi laut, lalu berkata, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku telah berutang kepada si Fulan sebanyak seribu dinar. Lalu ia meminta saksi kepadaku, maka kujawab bahwa cukuplah Allah sebagai saksinya. Ia meminta kepadaku seorang penjamin, lalu kujawab bahwa cukuplah Allah sebagai penjaminnya. Ternyata dia rida dengan-Mu. Sesungguhnya aku telah berupaya keras untuk menemukan sebuah perahu untuk mengirimkan pembayaran ini kepadanya, tetapi aku tidak mampu menemukannya.

 Sesungguhnya sekarang aku titipkan pembayaran ini kepada-Mu." Kemudian ia melemparkan kayu itu ke laut hingga kayu itu terapung-apung di atasnya. Setelah itu ia pergi seraya mencari perahu untuk menuju tempat pemiutang. Lalu lelaki yang memiliki piutang itu keluar melihat-lihat, barangkali ada perahu yang datang membawa hartanya. Ternyata ia menemukan sebatang kayu, yaitu kayu tersebut yang di dalamnya terdapat hartanya. Lalu ia mengambil kayu itu dengan maksud untuk dijadikan sebagai kayu bakar bagi keluarganya. Tetapi ketika ia membelah kayu itu, tiba-tiba ia menjumpai sejumlah uang dan sepucuk surat. Ketika lelaki yang berutang kepadanya tiba seraya membawa seribu dinar lagi dan berkata, "Demi Allah, aku terus berusaha keras mencari kendaraan yang dapat mengantarkan diriku kepadamu guna membayar utangku kepadamu, ternyata aku tidak menemukannya sebelum perahu yang membawaku sekarang ini." Lelaki yang memiliki piutang bertanya, "Apakah engkau telah mengirimkan sesuatu kepadaku?" Ia menjawab, "Bukankah aku telah ceritakan kepadamu bahwa aku tidak menemui suatu perahu pun sebelum perahu yang membawaku sekarang." Lelaki yang memiliki piutang berkata, "Sesungguhnya Allah telah menunaikan (melunaskan) utangmu melalui apa yang engkau kirimkan di dalam kayu itu." Maka si lelaki yang berutang itu pergi membawa seribu dinarnya dengan hati lega. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di salah satu tempat dari kitabnya dengan sigat jazm, sedangkan di lain tempat dari kitab sahihnya ia sandarkan hadis ini dari Abdullah ibnu Saleh, juru tulis Al-Lais, dari Lais sendiri. Imam Ahmad meriwayatkannya di dalam kitab musnadnya seperti ini dengan kisah yang panjang lebar dari Yunus ibnu Muhammad Al-Muaddib, dari Lais dengan lafaz yang sama. Al-Bazzar meriwayatkannya di dalam kitab musnadnya dari Al-Hasan ibnu Mudrik, dari Yahya ibnu Hammad, dari Abu Uwwanah, dari Umar ibnu Abu Salamah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. dengan lafaz yang semisal. Kemudian ia mengatakan bahwa tidak diriwayatkan dari Nabi Saw. kecuali dari segi dan sanad ini. Demikianlah menurutnya, tetapi ia keliru, karena adanya keterangan di atas tadi. ***************** Firman Allah Swt.: ذلِكَ بِأَنَّهُمْ قالُوا لَيْسَ عَلَيْنا فِي الْأُمِّيِّينَ سَبِيلٌ Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan, "Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi." (Ali Imran: 75) Yakni sesungguhnya yang mendorong mereka mengingkari perkara yang hak tiada lain karena mereka berkeyakinan bahwa tiada dosa dalam agama kami memakan harta orang-orang ummi —yaitu orang-orang Arab— karena sesungguhnya Allah telah menghalalkannya bagi kami. ***************** Firman Allah Swt.: وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. (Ali Imran: 75) Yaitu mereka telah membuat-buat perkataan ini dan bersandar kepada kesesatan ini, karena sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas mereka memakan harta benda kecuali dengan cara yang dihalalkan. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang suka berbuat kedustaan. Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Abu Ishaq Al-Hamdani, dari Abu Sa'sa'ah ibnu Yazid, bahwa seorang lelaki bertanya kepada Ibnu Abbas, "Sesungguhnya kami dalam perang memperoleh sejumlah barang milik ahli zimmah, yaitu berupa ayam dan kambing." Ibnu Abbas balik bertanya, "Lalu apakah yang akan kamu lakukan?" Ia menjawab, "Kami memandang tidak ada dosa bagi kami untuk memilikinya." Ibnu Abbas berkata, "Ini sama dengan apa yang dikatakan oleh Ahli Kitab, 'Bahwasanya tidak ada dosa bagi kami terhadap harta orang-orang ummi.' Sesungguhnya mereka apabila telah membayar jizyah, maka tidak dihalalkan bagi kalian harta benda mereka kecuali dengan suka rela mereka'." Hal yang sama diriwayatkan oleh As-Sauri, dari Abu Ishaq.

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، أَخْبَرَنَا أَبُو الرَّبِيعِ الزَّهْرَانِيُّ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ، حَدَّثَنَا جَعْفَرٌ
، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ: لَمَّا قَالَ أَهْلُ الْكِتَابِ: {لَيْسَ عَلَيْنَا فِي الأمِّيِّينَ سَبِيلٌ} قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ [صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ] كَذَبَ أَعْدَاءُ اللهِ، مَا مِنْ شِيٍء كَانَ فِي الجَاهِلِيَّةِ إِلا وَهُوَ تَحْتَ قَدَمَيَّ هَاتَيْنِ إِلا الأمَانَةَ، فَإِنَّهَا مُؤَدَّاةٌ إِلَى الْبَرِّ وَالفَاجِرِ"

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Abur Rabi' Az-Zahrani, telah menceritakan kepada kami Ya'qub, telah menceritakan kepada kami Ja'far, dari Sa'id ibnu Jubair yang menceritakan bahwa ketika Ahli Kitab mengatakan, "Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi" maka Nabi Allah Saw. bersabda: Dustalah musuh-musuh Allah itu. Tiada sesuatu pun yang terjadi di masa Jahiliah, melainkan ia berada di kedua telapak kakiku ini, kecuali amanat. Maka sesungguhnya amanat harus disampaikan, baik kepada orang yang bertakwa maupun kepada orang yang durhaka. ***************** Kemudian Allah Swt. berfirman: بَلى مَنْ أَوْفى بِعَهْدِهِ وَاتَّقى (Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya, dan bertakwa. (Ali Imran: 76) Yakni tetapi orang yang menunaikan janjinya dan bertakwa dari kalangan kalian, hai Ahli Kitab, yaitu janji yang kalian ikrarkan kepada Allah yang isinya menyatakan kalian akan beriman kepada Muhammad Saw. apabila telah diutus. Sebagaimana janji dan ikrar telah diambil dari para nabi dan umatnya masing-masing untuk mengikrarkan hal tersebut. Kemudian ia menghindari hal-hal yang diharamkan oleh Allah, lalu ia taat kepada-Nya dan kepada syariat-Nya yang dibawa oleh penutup para rasul yang juga sebagai penghulu mereka. فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

Rabu, 28 Februari 2018

ayat 69-74

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK:
SURAH ALI-IMRAN 200AYAT: AYAT 69-74:
Biss-mil-laa-hir-rahman-nir-rahim,.; Ayat 69

Waddat ta_'ifatum min ahlil kita_bi lau yudillu_nakum, wa ma_ yudillu_na illa_ anfusahum wa ma_ yasy'uru_n(a). 3:70 Ayat 70 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 70 Ya_ ahlal kita_bi lima takfuru_na bi a_ya_tilla_hi wa antum tasyhadu_n(a). 3:71 Ayat 71 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 71 Ya_ ahlal kita_bi lima talbisu_nal haqqa bil ba_tili wa taktumu_nal haqqa wa antum ta'lamu_n(a). 3:72 Ayat 72 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 72 Wa qa_lat ta_'ifatum min ahlil kita_bi a_minu_ billazi unzila'alallazina a_manu_ wajhan naha_ri wakfuru_ a_khirahu_ la'allahum yarji'u_n(a). 3:73 Ayat 73 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 73 Wa la_ tu'minu_ illa_ liman tabi'a dinakum, qul innal huda_ hudalla_h(i), ay yu'ta_ ahadum misla ma_ u_titum au yuha_jju_kum 'inda rabbikum, qul innal fadla biyadilla_h(i), yu'tihi may yasya_'u, walla_hu wa_si'un'alim(un). 3:74 Ayat 74 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 74 Yakhtassu bi rahmatihi may yasya_'(u), walla_hu zul fadlil 'azim(i).

 {وَدَّتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يُضِلُّونَكُمْ وَمَا يُضِلُّونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (69) يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ (70) يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (71) وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُوا بِالَّذِي أُنزلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (72) وَلا تُؤْمِنُوا إِلا لِمَنْ تَبِعَ دِينَكُمْ قُلْ إِنَّ الْهُدَى هُدَى اللَّهِ أَنْ يُؤْتَى أَحَدٌ مِثْلَ مَا أُوتِيتُمْ أَوْ يُحَاجُّوكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْ قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (73) يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (74) } “

Segolongan dari ahli kitab ingin menyesatkan kamu, Padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya. (QS. 3:69) Hai ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, Padahal kamu mengetahui (kebenarannya). (QS. 3:70) Hai ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan Menyembunyikan kebenaran, Padahal kamu mengetahuinya? (QS. 3:71) Segolongan (lain) dari ahli kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran). Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Rabb-mu “. Katakanlah: “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Mahamengetahui. (QS. 3:73) Allah menentukan rahmat-Nya (kenabian) kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. 3:74)

 Allah memberitahukan tentang kedengkian orang-orang Yahudi serta kejahatan mereka terhadap orang-orang yang beriman atas usaha mereka menjerumuskan ke dalam kesesatan. Allah memberitahukan bahwa akibat buruk dari perbuatan mereka itu akan kembali kepada mereka sendiri sedang mereka tidak menyadari bahwa mereka terpedaya oleh diri mereka sendiri. Ibnu Abu Nujaih meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan firman Allah Swt. yang menceritakan perihal orang-orang Yahudi dalam ayat ini, bahwa orang-orang Yahudi ada yang ikut salat Subuh bersama Nabi Saw., lalu mereka kembali kafir pada akhir siang harinya. Hal tersebut sebagai pengelabuan agar orang-orang melihat telah tampak adanya kesesatan bagi mereka dalam agama Nabi Saw. setelah mereka mengikutinya. Kemudian Allah berfirman sebagai pengingkaran terhadap mereka: yaa aHlal kitaabi lima takfuruuna bi aayaatillaaHi wa antum tasyHaduun (“Wahai Ahlul Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui [kebenarannya]”) Artinya, bahwa kalian mengetahui kebenaran ayat-ayat tersebut serta membuktikannya. Yaa aHlal kitaabi lima talbisuunal haqqa bil baathili wa taktumuunal haqqa wa antum ta’lamuun (“Wahai Ahlul Kitab, mengapa kamu memcampur-adukkan yang baq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?”) yakni, kalian menyembunyikan sifat Muhammad yang telah tertulis di dalam kitab-kitab kalian, sedang kalian telah mengetahui dan membuktikannya. Qaalat thaa-ifatum min aHlil kitaabi aaminuu bil ladzii unzila ‘alal ladziina aamanuu wajHan naHaari wakfuruu aakhiraHuu (“Segolongan lain dari Ahlul Kitab berkata [kepada sesamanya], ‘Perlihatkanlah [seolah-olah] kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman [Sahabat-Sahabat Rasul] pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya.”) Ini merupakan tipu daya yang dimaksudkan untuk menjadikan orang-orang yang lemah bingung terhadap masalah agama mereka. Mereka bersepakat untuk menampakkan keimanan pada siang hari dan mengerjakan shalat Subuh bersama orang-orang yang beriman. Jika siang telah berlalu, maka mereka kembali ke agama mereka sendini, agar orang-orang yang tidak mengerti mengatakan, “Yang menyebabkan mereka kembali kepada agama mereka lagi, bahwa mereka menemukan adanya kekurangan dan aib (cacat) dalam agama orang-orang Islam. Oleh karena itu mereka mengatakan: la’allaHum yarji’uun (“Supaya mereka (orang-orang yang beriman) kembali [kepada kekafiran].”) Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, “Segologan Ahlul Kitab mengatakan, Jika kalian bertemu dengan Sahabat-Sahabat Muhammad pada permulaan Siang, maka berimanlah. Dan jika waktu siang telah berlalu (sore hari), maka kerjakanlah shalat berdasarkan tuntunan agama kalian, supaya mereka mengatakan, `Mereka adalah Ahlul Kitab dan lebih tahu daripada kita.’ Demikian pula diriwayatkan dari Qatadah, as-Suddi, ar-Rabi’, dan Abu Malik. Dan firman-Nya, wa laa tu’minuu illaa liman tabi’a diinakum (“Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu.”) Maksudnya, orang-orang Yahudi mengatakan, janganlah kalian mempercayai atau memperlihatkan rahasia kalian dan apa yang ada pada kalian kecuali kepada orang-orang yang mengikuti agama kalian. Jangan pula kalian memberitahukan apa yang kalian ketahui mengenai sifat Muhammad kepada kaum muslimin sehingga mereka akan mempercayainya dan menjadikannya sebagai hujjah atas kalian. Allah Ta’ala berfirman: qul innal Hudaa HudallaaHi (“Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk [yang harus diikuti] adalah petunjuk Allah.”) Maksudnya, Dia-lah yang memberi hidayah kepada hati orang-orang yang beriman menuju kepada kesempurnaan iman dengan apa yang diturunkan kepada hamba dan Rasul-Nya, Muhammad, berupa tanda-tanda yang nyata, bukti-bukti yang pasti, dan hujjah-hujjah yang jelas, meskipun kalian, wahai orang-orang Yahudi, menyembunyikan apa yang kalian ketahui mengenai sifat Muhammad dari kitab-kitab yang kalian peroleh dari para Nabi sebelumnya. Firman-Nya: ay yu’taa ahadum mitsla maa uutiitum aw tuhaajjuukum ‘inda rabbikum (“Dan janganlah kamu percaya bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan jangan pula kamu percaya bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Rabb-mu.”) Maksudnya; orang-orang Yahudi mengatakan, “Janganlah kalian memberitahukan ilmu yang ada pada kalian kepada kaum muslimin, sehingga mereka akan mempelajarinya dari kalian serta menyamai kalian dalam penguasaannya dan bahkan melebihi kalian karena keteguhan iman mereka akan mengalahkan kalian di sisi Rabb kalian. Yaitu mereka akan menjadikannya sebagai hujjah terhadap kalian. Sehingga dengan demikian akan ada bukti dan hujjah yang kuat terhadap kalian di dunia dan di akhirat. Firman-Nya: qul innal fadl-la biyadillaaHi yu’tiiHi may yasyaa-u (“Katakanlah, Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Dia memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”) artinya, segala sesuatu berada di bawah kendali Allah, Dia yang memberi atau menahan, menganugerahkan iman, pengetahuan, dan pengaturan yang sempurna kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, juga menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya, dengan membutakan mata kepala dan mata hatinya, mengunci hati dan pendengarannya, serta menutup penglihatannya. Hanya Dia pemilik hujjah yang sempurna dan hikmah yang sempurna. wallaaHu waasi’un ‘aliim. Yakhtashshu birahmatiHii may yasyaa-u wallaaHu dzul fadl-lil ‘adhiim (“Dan Allah Mahaluas [karunia-Nya] lagi Mahamengetahui. Allah menentukan rahmat-Nya [kenabian] kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar.” Maksudnya, wahai orang-orang yang beriman, Allah telah mengkhususkan karunia-Nya kepada kalian, karunia yang tidak terhingga dan tidak terlukiskan, berupa kemuliaan yang dianugerahkan kepada Nabi kalian, Muhammad atas semua Nabi yang lainnya. Dan dengan hidayah yang diberikan kepada kalian menuju kesempurnaan syari’at.

Selasa, 27 Februari 2018

ayat 63-70

 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK ;
 SURAH ALI-IMRAN 200AYAT; Pada Ayat 63-70
* kembali menyoroti kekeliruan konsep ketuhanan Ahli Kitab. Sebab itu, Allah memerintahkan Rasul saw. dan umatnya untuk menyeru mereka agar sama-sama mentauhidkan Allaah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, termasuk dengan Nabi dan para ulama. Jika mereka tidak mau, katakan dengan tegas bahwa kami adalah muslim. Di antara kebodohan Yahudi dan Nasrani ialah berdebat tentang Ibrahim. Masing-masing mengkalim Ibrahim penganut agamanya. Padahal Yahudi dengan Kitab Tauratnya dan Nasrani dengan Kitab Injil jauh setelah Ibrahim. Kenapa mereka tidak berfikir? Kenapa mereka berdebat apa yang mereka tidak ketahui. Allah Maha Tahu Ibrahim bukanlah penganut Yahudi dan bukan pula Nasrani. Dia adalah penganut tauhid, muslim dan bukan dari kalangan musyrikin. Sebab itu, Ibrahim lebih dekat kepada para pengikutnya, Nabi Muhammad dan kaum mukmin. Ada segolongan Ahlul Kitab yang menginginkan kaum muslimin sesat. Yang sesat itu adalah Ahlul kitab. Mereka tidak sadar. Sebab itu, Allah menegur penolakan mereka terhadap ayat-ayat Allah, padahal mereka menyaksikan kebenarannya.
*Ayat 63 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 63 Fa in tawallau fa innalla_ha'alimum bil mufsidin(a)., Ayat 64 Qul ya_ ahlal kita_bi ta'a_lau ila_ kalimatin sawa_'im bainana_ wa bainakum alla_ na'buda illalla_ha wa la_ nusyrika bihi syai'aw wa la_ yattakhiza ba'duna_ ba'dan arba_bam min du_nilla_h(i), fa in tawallau fa qu_lusyhadu_ bi anna_ muslimu_n(a). Ayat 65-Ya_ ahlal kita_bi lima tuha_jju_na fi ibra_hima wa ma_ unzilatit taura_tu wal injilu illa_ mim ba'dih(i), afala_ ta'qilu_n(a). , Ayat 66-Ha_ antum ha_'ula_'i ha_jajtum fima_ lakum bihi 'ilmun falima tuha_jju_na fima_ laisa lakum bihi 'ilm(un), walla_hu ya'lamu wa antum la_ ta'lamu_n(a)., Ayat 67-Ma_ ka_na ibra_himu yahu_diyyaw wa la_ nasra_niyyaw wa la_kin ka_na hanifam muslima_(n), wa ma_ ka_na minal musyrikin(a). Ayat 68-Inna aulan na_si bi ibra_hima lallazinattaba'u_hu wa ha_zan nabiyyu wallazina a_manu_, walla_hu waliyyul mu'minin(a). Ayat 69-Waddat ta_'ifatum min ahlil kita_bi lau yudillu_nakum, wa ma_ yudillu_na illa_ anfusahum wa ma_ yasy'uru_n(a). Ayat 70-Ya_ ahlal kita_bi lima takfuru_na bi a_ya_tilla_hi wa antum tasyhadu_n(a).
 *63. فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِالْمُفْسِدِينَ Kemudian jika mereka berpaling (dari kebenaran), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan.64. قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".65. يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ وَمَا أُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ وَالإنْجِيلُ إِلا مِنْ بَعْدِهِ أَفَلا تَعْقِلُونَ Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?66. هَا أَنْتُمْ هَؤُلاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui?; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.67. مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik."68. إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.69. وَدَّتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يُضِلُّونَكُمْ وَمَا يُضِلُّونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya.70. يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya).
*Kalimat ini merupakan kalimat yang disepakati oleh para nabi dan rasul, dan tidak ada yang menyelisihinya selain orang yang keras kepala dan sesat. Kalimat tersebut bukanlah kalimat yang khusus bagi pihak tertentu, bahkan semua juga harus memilikinya. Hal ini merupakan sikap adil dalam berbicara dan inshaf dalam berdebat. Kalimat tersebut adalah kalimat Laailaahaillallah sebagaimana yang diterangkan pada kalimat selanjutnya. Baik dengan nabi, malaikat, patung, berhala, salib, hewan maupun benda mati.Seperti menjadikan rahib dan orang alim mereka sebagai tuhan, dengan mentaati apa yang mereka perintahkan meskipun menyalahi perintah Allah, misalnya ketika mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan, mereka mengikutinya, dan ketika mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan, mereka pun mengikutinya. Dalam ayat ini terdapat perintah agar kita hanya taat mutlak kepada Allah dan Rasul-Nya dan tidak taat kepada makhluk saat mereka bermaksiat kepada Allah.Ayat ini turun ketika orang-orang Yahudi mengatakan bahwa Nabi Ibrahim beragama Yahudi, sedangkan orang-orang Nasrani mengatakan bahwa Nabi Ibrahim beragama Nasrani. Maka Allah membantah mereka dengan tiga alasan: Faedah mengatakan kata-kata ini kepada mereka (ahlul kitab) untuk menegakkan hujjah kepada mereka. Di samping itu, jika kita telah tunduk dan beriman, maka Allah tidak peduli dengan orang-orang yang tidak mau masuk Islam karena memang niat mereka yang buruk, sebagaimana firman Allah Ta'ala: Allah memberitahukan tentang kedengkian orang-orang Yahudi serta kejahatan mereka terhadap orang-orang yang beriman atas usaha mereka menjerumuskan ke dalam kesesatan. Allah memberitahukan bahwa akibat buruk dari perbuatan mereka itu akan kembali kepada mereka sendiri sedang mereka tidak menyadari bahwa mereka terpedaya oleh diri mereka sendiri. Kemudian Allah berfirman sebagai pengingkaran terhadap mereka: yaa aHlal kitaabi lima takfuruuna bi aayaatillaaHi wa antum tasyHaduun (“Wahai Ahlul Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui [kebenarannya]”) Artinya, bahwa kalian mengetahui kebenaran ayat-ayat tersebut serta membuktikannya. Yaa aHlal kitaabi lima talbisuunal haqqa bil baathili wa taktumuunal haqqa wa antum ta’lamuun (“Wahai Ahlul Kitab, mengapa kamu memcampur-adukkan yang baq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?”) yakni, kalian menyembunyikan sifat Muhammad yang telah tertulis di dalam kitab-kitab kalian, sedang kalian telah mengetahui dan membuktikannya.Wahai orang-orang yang diberi Taurat dan Injil, mengapa kalian mengingkari ayat-ayat Allah yang Dia turunkan kepada Rasul-rasul-Nya di dalam kitab-kitab kalian, dan di dalamnya terdapat keterangan bahwa Muhammad adalah rasul yang dinanti-nantikan, dan bahwa apa yang dia bawa kepada kalian adalah kebenaran, sementara kalian mengakui hal itu? Akan tetapi kalian justru mengingkarinya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan orang-orang yang beriman inilah yang lebih cocok mengatakan bahwa mereka di atas agama Nabi Ibrahim 'alaihis salam. Adapun orang-orang yang membuang agamanya ke belakang punggungnya seperti orang-orang Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik, bukanlah di atas agama Nabi Ibrahim 'alaihis salam, dan Beliau berlepas diri dari mereka.

Isnin, 26 Februari 2018

AYAT 64-68

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK ;
 SURAH ALI-IMRAN 200AYAT;
AYAT 64,65,67,68;

 قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ()يَاأَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ وَمَا أُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ إِلَّا مِنْ بَعْدِهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ()هَا أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ() مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ()إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ(*)

 Ayat 64 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 64 Qul ya_ ahlal kita_bi ta'a_lau ila_ kalimatin sawa_'im bainana_ wa bainakum alla_ na'buda illalla_ha wa la_ nusyrika bihi syai'aw wa la_ yattakhiza ba'duna_ ba'dan arba_bam min du_nilla_h(i), fa in tawallau fa qu_lusyhadu_ bi anna_ muslimu_n(a). 3:65 Ayat 65 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 65 Ya_ ahlal kita_bi lima tuha_jju_na fi ibra_hima wa ma_ unzilatit taura_tu wal injilu illa_ mim ba'dih(i), afala_ ta'qilu_n(a). 3:66 Ayat 66 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 66 Ha_ antum ha_'ula_'i ha_jajtum fima_ lakum bihi 'ilmun falima tuha_jju_na fima_ laisa lakum bihi 'ilm(un), walla_hu ya'lamu wa antum la_ ta'lamu_n(a). 3:67 Ayat 67 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 67 Ma_ ka_na ibra_himu yahu_diyyaw wa la_ nasra_niyyaw wa la_kin ka_na hanifam muslima_(n), wa ma_ ka_na minal musyrikin(a). 3:68 Ayat 68 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 68 Inna aulan na_si bi ibra_hima lallazinattaba'u_hu wa ha_zan nabiyyu wallazina a_manu_, walla_hu waliyyul mu'minin(a) “

Katakanlah: ‘Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah’. Jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)’. (Ali ‘Imraan: 64)“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir. (QS. 3:65) Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah-membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 3:66) Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik”. (QS. 3:67) Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.” (QS. 3:68)

 dari tiga ayat di atas dalam surah ali imran allah melahirkan kisah perselisihan faham antara ahli kitab ketika mana menafsir kan tentang tuhan yakn i allah azawajalla,Seruan ini mencakupi ahlul kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Qul yaa aHlal kitaabi ta’aalaw ilaa kalimatin (“Katakanlah: ‘Wahai orang-orang ahlul kitab, marilah kita berpegang pada suatu [ketetapan]’”) maksud dari kata “kalimat” adalah sebuah kalimat yang memberikan sebuah pengertian, demikian pula yang dimaksud dalam ayat ini.

Kemudian Allah menyifatinya dengan firman-Nya: sawaa-im bainanaa wa bainakum (“Yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu.”) yaitu sama dan seimbang antara kami dan kalian. Kemudian hal itu ditafsirkan melalui firman Allah: allaa na’buda illallaaHa wa laa nusyrika biHii syai-an (“Bahwa kita tidak beribadah kecuali kepada Allah, dan kita tidak menyekutukan Dia dengan suatu apapun.”) artinya tidak menyekutukannya dengan berhala, salib, patung, thaghut, api dan hal lainnya. Tetapi kita memurnikan ibadah itu hanya kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan inilah misi seluruh Rasul Allah. Dia berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat [untuk menyerukan]: ‘Beribadahlah kepada Allah saja dan jauhilah thaghut itu.’” (an-Nahl: 36) Kemudian Dia berfirman: wa laa tattakhidza ba’dlunaa ba’dlan arbaabam min duunillaaHi (“[dan tidak pula] sebagian kita menjadikan sebagian lain sebagai rabb-rabb selain Allah.”) Ibnu Juraij berkata, “Maksudnya sebagian kami tidak mentaati lainnya dalam bermaksiat kepada Allah.” Sedangkan ‘Ikrimah berkata, “Sebagian kami tidak bersujud kepada sebagian yang lain.” Fa in tawallaw faquulusyHaduu bi annaa muslimuun (“Jika mereka berpaling maka katakanlah: ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri [kepada Allah].”) maksudnya jika mereka berpaling dari kesamaan dan seruan ini, maka bersaksilah bahwa kalian akan tetap berada pada Islam yang telah disyariatkan oleh Allah swt bagi kalian. Telah kami sebutkan dalam Syarh al-Bukhari ketika ia meriwayatkan dari jalan az-Zuhri, dari Ibnu ‘Abbas, dari Abu Sufyan dalam kisahnya ketika menghadap sang Kaisar, lalu Kaisar bertanya kepadanya tentang nasab, sifat, dan perangai Rasulullah serta apa yang didakwahkannya. Maka ia pun menceritakan semua secara gamblang dan tuntas, padahal pada saat itu Abu Sufyan masih musyrik dan belum memeluk Islam. Peristiwa itu terjadi setelah perjanjian Hudaibiyah, sebelum pembebasan kota Makkah. Sebagaimana hal tersebut dinyatakan dalam hadits. Demikian pula pada saat ia ditanya, “Apakah ia itu suka berkhianat?” Abu Sufyan menjawab, “Tidak, selama ini kami tidak mengetahui darinya bahwa dia berbuat seperti itu.” Kemudian Abu Sufyan berkata: “Aku tidak dapat menambahkan suatu berita apapun selain dari itu.” Tujuan diketengahkan kisah ini ialah, bahwa diperlihatkannya surat Rasulullah kepadanya, di mana Abu Sufyan membacanya ternyata isinya: “Dengan Nama Allah yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Dari Muhammad Rasulullah untuk Heraclius, pembesar Romawi. Semoga keselamatan dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk, Amma ba’du, Masuklah Islam, maka anda akan selamat. Masuklah Islam, niscaya Allah memberi anda pahala dua kali. Jika anda berpaling, maka anda akan memikul dosa kaum Arisiyyin. “Wahai Ahlul Kitab, marilah berpegang kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak beribadah kecuali kepada Allah dan kita tidak menyekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai rabb-rabb selain Allah. “Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mareka, `Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).'” Muhammad bin Ishaq dan ulama lainnya telah menyebutkan bahwa permulaan surat Ali-‘Imran sampai pada ayat 80-an lebih adalah diturunkan berkaitan dengan utusan Najran. Sedangkan az-Zuhri berkata, “Mereka itu adalah orang yang pertama kali menyerahkan jizyah.” Allah mengingkari orang-orang Yahudi dan Nasrani yang saling berbantah-bantahan di antara mereka mengenai Ibrahim Khalilullah serta pengakuan setiap kelompok dari mereka bahwa Ibrahim adalah dari golongan mereka, sebagaimana Muhammad bin Ishaq bin Yasar mengatakan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Orang-orang Nasrani Najran dan para pendeta Yahudi berkumpul di tempat Rasulullah, lalu mereka saling bertengkar di hadapan beliau. Para pendeta Yahudi itu berkata, ‘Ibrahim itu tiada lain adalah seorang Yahudi.’ Sedangkan orang-orang Nasrani berkata, ‘Ibrahim itu tidak lain adalah seorang Nasrani.’ Maka Allah menurunkan firman-Nya, yaa aHlal kitaabi lima tuhaajjuuna fii ibraaHiima (“Wahai Ahlul Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim.”) Maksudnya, hai orang-orang Yahudi, bagaimana mungkin kalian mengakuinya bahwa ia itu seorang Yahudi, padahal zamannya itu sebelum Allah menurunkan Taurat kepada Musa as. Dan bagaimana mungkin, hai orang-orang Nasrani, kalian mengakuinya bahwa ia itu seorang Nasrani, padahal agama Nasrani itu adalah setelah masanya Ibrahim berlalu. Oleh karena itu, Allah berfirman: Haa antum Haa-ulaa-i haajajtum fiimaa lakum biHii ‘ilmun falima tuhaajjuuna fiimaa laisa lakum biHii ‘ilmun (“Beginilah kamu, kamu ini [sewajarnya bantah-membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka mengapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui?”) Hal ini merupakan penolakan terhadap orang-orang yang berbantah-bantahan mengenai suatu hal yang sama sekali tidak mereka ketahui. Karena sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani itu berbantah-bantahan mengenai Ibrahim tanpa didasari pengetahuan. Sekiranya mereka memperdebatkan mengenai sesuatu yang ada pada mereka yang mereka ketahui, seperti yang berkenaan dengan agama mereka yang telah disyari’atkan bagi mereka sampai pada pengutusan Muhammad, tentu yang demikian itu akan lebih baik bagi mereka. Namun sayangnya mereka memperdebatkan sesuatu yang mereka tidak mengetahui. Oleh karena itu, Allah mengingkari apa yang mereka lakukan tersebut serta memerintahkan mereka untuk menyerahkan apa yang mereka tidak ketahui itu kepada Allah yang Mahamengetahui semua hal yang ghaib dan yang nyata, yang mengetahui segala sesuatu dengan sebenar-benarnya dan sejelas-jelasnya. Untuk itu Dia berfirman: wallaaHu ya’lamu wa antum laa ta’lamuun (“Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”) Setelah itu Dia berfirman: Maa kaana ibraaHiimu yaHuudiyyaw wa laa nashraaniyyaw walaakin kaana haniifam musliman (“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan [pula] seorang Nasrani, akan tetapi ia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri [kepada Allah].”) Hanifan artinya berpaling dari kemusyrikan, menuju kepada iman. Wa maa kaana minal musyrikiin (“dan bukanlah sekali-sekali ia termasuk golongan orang orang musyrik.”) Ayat ini seperti (semakna) dengan ayat yang telah berlalu pada surat al-Baqarah: wa qaaluu kuunuu Hudan au nashaaraa taHtaduu (“Mereka berkata: ‘Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.’”) (QS. Al-Baqarah: 135) Selanjutnya Dia berfirman, inna aulan naasi bi-ibraaHiima lalladziinat taba’uuHu wa Haadzan nabiyyuu wal ladziina aamanuu wallaaHu waliyyul mu’miniin (“Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim adalah orang orang yang mengikutinya dan Nabi ini [Muhammad], serta orang-orang yang beriman [kepada Muhammad]. Dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman.”) Artinya Allah menyampaikan, bahwa orang yang paling berhaq sebagai pengikut Ibrahim Khalilullah adalah orang-orang yang mengikutinya dalam agamanya, dan Nabi ini [Muhammad saw.] dan orang-orang beriman dari para shahabatnya yaitu kaum Anshar dan Muhajirin serta orang-orang yang mengikuti mereka [para shahabat ini]. Sedangkan firman Allah: wallaaHu waliyyul mu’miniin (“dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman.”) maksudnya pelindung bagi semua orang yang beriman kepada para Rasul-Nya.

Ahad, 25 Februari 2018

AYAT 59-63

                                 
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK;
SURAH ALI-IMRAN 200AYAT ;
          BISS-MILLAA-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM;

                                    tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 59-63

3:59 Ayat 59 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 59 Inna masala 'isa_ 'indalla_hi ka masali a_dam(a), khalaqahu_ min tura_bin summa qa_la lahu_ kun fa yaku_n(u). 3:60 Ayat 60 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 60 Al haqqu mir rabbika fala_ taku_m minal mumtarin(a). 3:61 Ayat 61 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 61 Faman ha_jjaka fihi mim ba'di ma_ ja_'aka minal 'ilmi faqul ta'a_lau nad'u abna_'ana_ wa abna_'akum wa nisa_'ana_ wa nisa_'akum wa anfusana_ wa anfusakum, summa nabtahil fa naj'al la'natalla_hi 'alal ka_zibin(a). 3:62 Ayat 62 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 62 Inna ha_za_ lahuwal qasasul haqq(u), wa ma_ min ila_hin illalla_h(u), wa innalla_ha lahuwal 'azizul hakim(u). 3:63 Ayat 63 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 63.Fa in tawallau fa innalla_ha'alimum bil mufsidin(a).

 “Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘jadilah’ (seorang manusia), maka jadilah dia. (QS. 3:59) (Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Rabb-mu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS. 3:60) Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan din kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (QS. 3:61) Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Ilah (yang berhaq disembah) selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS. 3:62) Kemudian jika mereka berpaling (dari kebenaran), maka sesungguhnya Allah Mahamengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. 3:63)

 Allah swt. berfirman, inna matsala ‘iisaa ‘indallaaHi (“Sesungguhnya misal [penciptaan] ‘Isa di sisi Allah.”) Maksudnya dalam kekuasaan Allah, ketika Dia menciptakan ‘Isa tanpa adanya seorang ayah, kamatsali aadama (“Adalah seperti [penciptaan] Adam.”) Di mana Adam diciptakan dengan tidak melalui seorang ayah maupun ibu, tetapi: khalqaHuu min turaabin tsumma qaala laHuu kun fayakuun (“Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘jadilah, “maka jadilah ia.” Maka Allah yang telah menciptakan Adam tanpa adanya ayah, pasti Dia lebih layak mampu menciptakan ‘Isa, dilihat dari teori kelayakan. Jika pengakuan terhadap `Isa anak Allah itu dibolehkan, karena ia diciptakan tanpa ayah, maka pengakuan terhadap diri Adam sebagai anak Rabb lebih layak lagi untuk dibolehkan. Sebagaimana diketahui secara sepakat, bahwa pengakuan terhadap diri Adam sebagai anak Rabb adalah bathil, maka pengakuan terhadap `Isa sebagai anak Rabb adalah lebih bathil dan lebih jelas kerusakannya. Namun Allah ingin memperlihatkan kekuasaan-Nya bagi semua makhluk-Nya, ketika Dia menciptakan Adam tidak melalui seorang laki-laki maupun wanita, dan menciptakan Hawa melalui seorang laki-laki tanpa wanita, serta Dia menciptakan `Isa melalui seorang wanita tanpa laki-laki, sedang Dia menciptakan manusia lainnya melalui laki-laki dan wanita. Oleh karena itu, Dia berfirman dalam surat Maryam, wa linaj’alaHuu aayatal linnaasi (“Sungguh Kami akan menjadikannya sebagai tanda kebesaran bagi manusia.”) (QS. Maryam: 21) Sementara di sini, Dia berfirman: alhaqqu mir rabbika falaa takuunanna minal mumtariin (“[Apa yang telah Kami ceritakan] itulah yang benar, yang datang dari Rabb-mu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.”) Maksudnya, itulah ucapan yang benar mengenai diri `Isa; yang tidak ada penyimpangan di dalamnya dan tidak ada pula yang benar selain itu, maka tidak ada hal lain setelah kebenaran itu kecuali kesesatan. Selanjutnya Allah memerintahkan Rasulullah untuk bermubahalah dengan siapa yang menentang kebenaran mengenai diri `Isa setelah datangnya penjelasan dengan firman-Nya, faman haajjaaka fiiHi mim ba’di maa jaa-aka minal ‘ilmi faqul ta’aalaw nad’u abnaa-anaa wa abnaa-akum wa nisaa-anaa wa nisaa-akum wa anfusanaa wa anfusakum (“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu [yang meyakinkan kamu], maka katakanlah [kepadanya], Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu.”) Yaitu kami hadirkan mereka pada saat mubahalah (saling melaknat). Tsumma nabtaHil (“Kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah.”) Yaitu saling melaknat. Fa naj’al la’natallaaHi ‘alal kaadzibiin (“Maka kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta,”) baik dari kalangan kami maupun kalian. Sebab turunnya ayat mubahalah ini dan ayat sebelumnya, dari permulaan surat sampai ayat ini adalah, mengenai utusan Najran. Yaitu, ketika orang-orang Nasrani datang, lalu mereka mendebat mengenai diri `Isa dan mereka beranggapan bahwa ia (Isa) sebagai anak Allah dan salah satu sesembahan.

Maka Allah menurunkan permulaan surat ini guna membantah mereka, sebagaimana yang disebutkan Imam Muhammad bin Ishaq bin Yasar dan ulama lainnya. Ibnu Ishaq berkata, dalam kitab Sirahnya yang terkenal, dan juga ulama lainnya: “Utusan orang-orang Nasrani dari Najran yang berjumlah 60 (enam puluh) orang datang kepada Rasulullah dengan menaiki kendaraan. Di antara mereka terdapat 14 (empat belas) orang pemuka mereka dan sebagai tumpuan segala urusan mereka. Mereka itu adalah al-‘Aqib yang bernama Abdul Masih, as-Sayyid yang bernama al-Aiham, Abu Haritsah bin ‘Alqamah saudara Bakar bin Wa’il, Uwais bin al-Harist, Zaid, Qais, Yazid dan kedua puteranya, Khuwailid, ‘Amr, Khalid, ‘Abdullah, Muhsin. Sedang penanggung jawab mereka ada tiga orang yaitu: Al-‘Aqib, dialah pemimpin rombongan, pencetus ide, dan penentu perundingan, yang mereka tidak bisa memutuskan kecuali atas pendapatnya. Kedua, as-Sayyid, sebagai orang alim, pengatur perjalanan dan tempat singgah mereka. Dan ketiga, Abu Haritsah bin ‘Alqamah, sebagai uskup dan pemimpin kajian mereka, yang aslinya berkebangsaan Arab, berasal dari Bani Bakar bin Wa’il, tetapi ia masuk Nasrani sehingga ia sangat diagungkan dan dimuliakan oleh orang-orang Romawi dan raja-raja mereka. Mereka membangunkan gereja-gereja untuknya serta mengabdikan diri mereka kepadanya karena mereka mengetahui keteguhannya dalam memeluk agama.” Abu Haritsah bin ‘Alqamah ini sebenarnya telah mengetahui ihwal, sifat, keadaan Rasulullah saw. yang diketahuinya dari kitab-kitab terdahulu, namun ia tetap terus memeluk agama Nasrani, karena ia merasa mendapat penghormatan dan kedudukan dari para pengikutnya. Lebih lanjut Ibnu Ishaq berkata, Muhammad bin Ja’far bin az-Zubair menceritakan kepadaku, ia berkata: “Mereka tiba di Madinah dan menemui Rasulullah di masjid Nabawi ketika beliau sedang shalat `Ashar. Mereka mengenakan pakaian pendeta, yaitu jubah dan mantel dengan menunggang unta-unta milik para pemuka Bani al-Harits Ibnu Ka’ab. Sahabat Rasulullah yang melihat mereka mengatakan, “Kami tidak pernah melihat sesudah mereka utusan seperti mereka.” Ketika itu, telah masuk waktu shalat mereka, maka mereka pun berdiri shalat di masjid Nabawi, lalu Rasulullah bersabda, “Biarkan mereka.” Mereka mengerjakan shalat dengan menghadap ke timur. Setelah itu beberapa orang dari mereka, berbicara kepada Rasulullah antara lain Abu Haritsah bin ‘Alqamah, al-‘Aqib ‘Abdul Masih, dan as-Sayyid al-Aiham. Mereka semua ini adalah beragama Nasrani yang sefaham (sealiran) dengan faham Raja, meski ada perbedaan di antara mereka. Ada yang berpendapat bahwa `Isa adalah Allah, pendapat yang lain menyatakan bahwa ia adalah anak Allah, dan pendapat ketiga menyatakan bahwa ia adalah salah satu dari trinitas. Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan itu.” Demikianlah keyakinan orang-orang Nasrani, mereka yang mengatakan `Isa adalah Allah, berhujjah bahwa ia dapat menghidupkan orang yang sudah mati, menyembuhkan orang yang buta dan penderita sakit kusta, serta dapat memberitahukan hal-hal yang ghaib, membuat bentuk burung dari tanah liat lalu meniupnya sehingga menjadi burung. Padahal semua itu berdasarkan perintah Allah. Dan agar Allah menjadikannya sebagai tanda kekuasaan-Nya bagi umat manusia. Sedang yang menyatakan bahwa `Isa adalah anak Allah, mereka berhujjah bahwa ia tidak berayah, dan dapat berbicara pada saat masih bayi, suatu hal yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Adapun yang berkeyakinan bahwa `Isa itu salah satu dari trinitas, mereka berhujjah pada firman Allah, “Kami melakukan, Kami memerintahkan, Kami menciptakan, dan Kami telah putuskan. Menurut mereka, “Jika Allah itu satu, niscaya Dia akan berkata, Aku berbuat, Aku memerintah, Aku memutuskan, dan Aku menciptakan.’ Tetapi kata ‘Kami’ itu kembali kepada Allah, `Isa, dan Maryam.” –Mahatinggi dan Mahasuci Allah dari perkataan orang-orang yang zhalim dan ingkar dengan ketinggian yang setinggi-tingginya, karena semua yang mereka katakan itu telah disebutkan dalam al-Qur’an. Tatkala dua pendeta berbicara kepada Rasulullah saw, beliau pun bersabda kepada keduanya, “Masuklah Islam.” Jawab mereka berdua, “Kami telah memeluk Islam.” Beliau bersabda lagi, “Sesungguhnya kalian berdua belum masuk Islam, maka masuklah Islam.” Mereka pun menjawab, “Sungguh kami telah memeluk Islam sebelum dirimu.” Beliau pun bersabda, “Kalian berdua berdusta. Pengakuan kalian berdua bahwa Allah mempunyai anak dan penyembahan kalian terhadap salib, serta tindakan kalian memakan daging babi menghalangi kalian masuk Islam.” Mereka berdua pun bertanya, “Lalu siapa ayahnya (Isa) itu, wahai Muhammad?” Rasulullah diam dan tidak memberikan jawaban kepada keduanya. Lalu dikarenakan ucapan mereka dan perbedaan pendapat di antara mereka, Allah menurunkan permulaan surat Ali-Imran sampai 80 ayat lebih. Al-Bukhari meriwayatkan dari Hudzaifah, ia berkata; “Al-`Agib dan as-Sayyid, keduanya pemuka Najran datang kepada Rasulullah. Mereka berdua bermaksud untuk mengajak mubahalah dengan Nabi, lalu salah seorang dari keduanya berkata kepada yang lainnya, “Jangan kau lakukan hal itu. Demi Allah, jika ia itu seorang Nabi, lalu kita saling melaknat dengannya, maka kita dan keturunan kita tidak akan beruntung.” Setelah itu keduanya berkata, “Kami akan memberikan apa yang kamu minta. Utuslah bersama kami seseorang yang dapat dipercaya, dan jangan engkau utus kecuali orang yang benar-benar jujur.” Beliau pun bersabda, “Aku pasti akan mengutus seseorang yang benar-benar dapat dipercaya untuk ikut bersama kalian.” Para Sahabat pun berharap mendapat kehormatan sebagai utusan beliau. Lalu beliau bersabda: “Berdirilah, ya Abu `Ubaidah bin al Jarrah.” Ketika Abu `Ubaidah berdiri, Rasulullah bersabda: “Ini adalah orang yang dapat dipercaya dari umat ini.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

 Al-Bukhari juga meriwayatkan dari Anas bin Malik bersabda: “Setiap umat memiliki orang kepercayaan, dan orang kepercayaan dari umat ini adalah Abu `Ubaidah bin al-Jarrah.” Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Abu Jahal [semoga Allah menghinakannya] berkata: `Jika aku melihat Muhammad mengerjakan shalat di Ka’bah, maka aku akan mendatanginya dan menginjak lehernya.’ Lalu beliau pun berkata: `Seandainya ia melakukannya, niscaya Malaikat akan membinasakannya langsung. Dan seandainya orang-orang Yahudi mengharap kematian (diri mereka), niscaya mereka akan mati dan melihat tempat tinggal mereka di neraka. Dan seandainya berangkat juga orang-orang yang bermaksud bermubahalah dengan Rasulullah, niscaya mereka pulang dengan tidak mendapatkan lagi harta dan keluarga mereka.”‘ (HR. Ahmad) Hadits di atas juga diriwayatkan oleh al-Bukhari, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Abu Bakar ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Jabir, ia berkata: “Al-`Aqib dan ath-Thayyib datang kepada Nabi, lalu beliau mengajak keduanya untuk saling melaknat. Mereka berdua pun berjanji akan saling melaknatnya pada hari esok. Setelah pagi hari tiba, keluarlah Rasulullah dengan menggandeng tangan ‘Ali, Fathimah, al-Hasan, dan al-Husain. Lalu beliau mengutus utusan kepada keduanya, namun keduanya menolak memenuhi ajakan beliau, dan menyatakan setuju kepada beliau untuk membayar pajak. Beliau pun bersabda: ‘Demi Allah yang mengutusku dengan haq, andaikata mereka berdua mengatakan, ‘Tidak,’ niscaya lembah akan menimpakan hujan api kepada mereka.”‘ Jabir berkata, “Kepada mereka turun ayat: `Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu.’” Jabir melanjutkan, “Diri kami,” maksudnya adalah Rasulullah dan ‘Ali bin Abi Thalib. Sedangkan, “Anak-anak kami” adalah al-Hasan dan al-Husain. Dan “Wanita-wanita kami” adalah Fatimah. Demikianlah pula menurut riwayat al-Hakim dalam al Mustadrak, dan ia mengatakan bahwa hadits ini shahih menurut syarat Muslim, tetapi al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkan seperti ini. Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud ath-Thayalisi dari Syu’bah, dari al-Mughirah, dari asy-Sya’bi, sebagai hadits mursal. Dan ini yang lebih shahih. Juga diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan al-Barra’, (hadits yang) serupa dengan hadits di atas. Setelah itu Allah swt. berfirman: inna Haadzaa laHuwal qashashul haqqu (“Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar.”) Maksudnya, apa yang kami ceritakan kepadamu, ya Muhammad, mengenai `Isa adalah yang benar yang tidak ada penyimpangan di dalamnya dan tak dapat disangkal lagi. Wa maa min ilaaHin illallaaHu wa innallaaHa laHuwal ‘aziizul hakiimu fa in tawallaw (“Dan tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi] selain Allah, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Kemudian jika mereka berpaling [dari kebenaran].”) Yakni berpaling dari hal ini kepada yang lainnya, fa innallaaHa ‘aliimum bil mufsidiin (“sesungguhnya Allah Mahamengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan.”) Artinya, barangsiapa menyimpang dari kebenaran menuju kepada kebathilan, maka ia adalah pembuat kerusakan, dan Allah Mahamengetahui dan akan memberikan balasan atasnya dengan balasan yang seburuk-buruknya. Dia Mahakuasa yang tidak ada sesuatu pun yang luput dari kekuasaan-Nya. Mahasuci Allah, segala puji bagi-Nya. Kita berlindung kepada-Nya dari timpaan murka-Nya. sebab Turunnya Ayat Ali Imran 59 berkaitan dengan ayat sebelum dan sesudah nya.: Ibnu Abu Hatim mengetengahkan dari Hasan, katanya, "Dua orang pendeta Nasrani dari Najran datang menemui Rasulullah saw. lalu tanya salah seorang di antara mereka, 'Siapakah bapak Isa?' Rasulullah saw. tidak segera menjawab sebelum memohon petunjuk kepada Tuhannya, maka diturunkan kepadanya, 'Demikianlah Kami membacakannya kepadamu, sebagian dari bukti-bukti, kerasulannya dan membacakan, Alquran yang penuh hikmah...' sampai dengan, '...di antara orang yang ragu-ragu.'" (Q.S. Ali Imran 58-60).[1] Dan diketengahkan dari jalur Aufi dari Ibnu Abbas, katanya "Serombongan orang-orang Najran, termasuk para pemimpin dan pengiringnya, mereka datang menemui Nabi saw. lalu tanya mereka, 'Bagaimana kamu ini, kenapa kamu sebut-sebut pula sahabat kami?' Jawab Nabi, 'Siapa dia?' Ujar mereka, 'Isa! Kamu katakan dia hamba Allah!' 'Benar,' jawab Nabi pula. Tanya mereka, 'Pernahkah kamu melihat orang seperti Isa atau mendengar berita seperti yang dialaminya?' Setelah itu mereka keluar meninggalkan Nabi saw, maka datanglah Jibril, katanya kepada beliau, 'Katakanlah kepada mereka jika mereka datang kepadamu, 'Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah adalah seperti Adam...,' sampai dengan firman-Nya, 'Janganlah kamu termasuk di antara orang yang ragu-ragu!'" (Q.S. Ali Imran 59-60). [2] Baihaqi mengetengahkan dalam Dalail dari jalur Salamah bin Abdu Yasyu' dari bapaknya seterusnya dari kakeknya bahwa Rasulullah saw. menulis surat kepada warga Najran, yakni sebelum diturunkan kepadanya surat Thasin, "Atas nama Tuhan dari Ibrahim, Ishak dan Yakub, dari Muhammad yang nabi..." Di dalamnya disebutkan, "Maka orang-orang Najran itu mengutus Syurahbil bin Wadaah Al-Hamdani, Abdullah bin Syurahbil Al-Ashbahi dan Jabbar Al-Hartsi kepada Nabi saw. Perutusan ini berangkat mendatangi Nabi saw. sehingga mereka pun saling bertanya jawab. Demikianlah tanya jawab ini terus berlangsung sampai mereka menanyakan, 'Bagaimana pendapat Anda tentang Isa?' Jawab Nabi saw., 'Sampai hari ini tak ada suatu pun pendapat saya mengenai dirinya. Tinggallah tuan-tuan di sini dulu sampai saya dapat menerangkannya!' Ternyata esok paginya Allah telah menurunkan ayat ini, 'Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah...,' sampai dengan firman-Nya, '...seraya kita memohon agar laknat Allah itu ditimpakan-Nya kepada orang-orang yang dusta.'" (Q.S. Ali Imran 59-61) Ibnu Saad mengetengahkan dalam kitab Thabaqat dari Azraq bin Qais, katanya, "Telah datang kepada Nabi saw. uskup negeri Najran bersama bawahannya, kepada mereka ditawarkannya agama Islam. Mereka menjawab, 'Sebelum Anda, kami telah Islam.' Jawab Nabi saw., 'Bohong! Ada tiga perkara yang menghalangi tuan-tuan masuk Islam, yakni ucapan tuan-tuan bahwa Allah mempunyai anak, memakan daging babi dan sujud kepada patung.' Tanya mereka, 'Siapakah bapak dari Isa?' Rasulullah tidak dapat menjawab sampai Allah menurunkan, 'Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah...,' sampai dengan firman-Nya, '...dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tangguh lagi Maha Bijaksana.' (Q.S. Ali Imran 59-62) Nabi mengajak mereka untuk saling kutuk-mengutuk, tetapi mereka menolak dan setuju akan membayar upeti lalu mereka pun kembali

Sabtu, 24 Februari 2018

ayat 54-58

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK;
Surah Ali-imran 200 ayat,
Ayat 54-58: Allah ‘Azza wa Jalla menyelamatkan Nabi Isa ‘alaihis salam dari musuh-musuhnya, yaitu orang-orang Yahudi ;Biss-millaa-hirahmaa-nir-rahim,

, Surah Al-i'Imran, Ayat 54 Wa makaru_ wa makaralla_h(u), walla_hu khairul ma_kirin(a). 3:55 , Ayat 55 Iz qa_lalla_hu ya_ 'isa_ inni mutawaffika wa ra_fi'uka ilayya wa mutahhiruka minal lazina kafaru_ wa ja_'ilul lazinattaba'u_ka fauqal lazina kafaru_ ila_ yaumil qiya_mah(ti), summa ilayya marji'ukum fa ahkumu bainakum fima_ kuntum fihi takhtalifu_n(a). 3:56Ayat 56 Fa ammal lazina kafaru_ fa u'azzibuhum 'aza_ban syadidan fid dunya_ wal a_khirah(ti), wa ma_ lahum min na_sirin(a). 3:57 Ayat 57 Wa ammal lazina a_manu_ wa'amilus sa_liha_ti fa yuwaffihim uju_rahum, walla_hu la_ yuhibbuz za_limin(a). 3:58 Ayat 58 Za_lika natlu_hu 'alaika minal a_ya_ti waz zikril hakim(i)

 وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ (٥٤) إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ (٥٥)فَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَأُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ (٥٦)وَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ (٥٧)ذَلِكَ نَتْلُوهُ عَليْكَ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ (٥٨ 54.

Dan mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya mereka[3]. dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. 55. (Ingatlah), ketika Allah berfirman, "Wahai Isa! Sesungguhnya aku akan mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku[4] serta menyucikanmu[5] dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas[6] orang-orang yang kafir[7] hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada-Ku kembalimu, lalu Aku beri keputusan tentang apa yang kamu perselisihkan[8]." 56. Adapun orang-orang yang kafir[9], maka akan Aku azab mereka dengan azab yang sangat keras di dunia[10] dan di akhirat, sedang mereka tidak memperoleh penolong. 57. Dan adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih[11], maka Allah akan memberikan pahala kepada mereka dengan sempurna[12]. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. 58. Demikianlah (kisah 'Isa), Kami membacakannya kepada kamu sebagaian dari bukti-bukti (kerasulannya) dan membacakan Al Quran yang penuh hikmah[3] Orang-orang kafir Bani Israil membuat makar terhadap Nabi Isa 'alaihis salam dengan menyerahkan Beliau kepada orang yang akan membunuhnya secara tiba-tiba, maka Allah menjadikan orang yang memberitahukan keberadaan Nabi Isa 'alaihis salam rupanya mirip Nabi Isa 'alaihis salam, akhirnya orang itu ditangkap, dibunuh dan disalib. Mereka menyangka bahwa orang yang mereka bunuh dan mereka salib adalah Nabi Isa 'alaihis salam, padahal bukan, bahkan Nabi Isa 'alaihis salam telah diangkat Allah ke langit. [4] Baik badan maupun ruhnya dari dunia ini tanpa mengalami mati. Nabi Isa 'alaihis salam diangkat ke langit ketika orang-orang kafir hendak membunuh Beliau, saat itu usia Beliau 33 tahun. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits bahwa Nabi Isa 'alaihis salam nanti akan turun menjelang hari kiamat, Beliau akan berhukum menggunakan syari'at Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, membunuh Dajjal, mematahkan salib dan meniadakan jizyah. Sedangkan dalam hadits riwayat Muslim disebutkan, bahwa nabi Isa 'alaihis salam akan tinggal selama tujuh tahun setelah turun ke bumi. Setelah itu Beliau wafat dan dishalatkan oleh kaum muslimin. [5] Yakni menjauhkanmu atau menyelamatkanmu. [6] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memenangkan orang-orang mukmin terhadap orang-orang kafir. Orang-orang Nasrani pada waktu itu yang beriman kepada Nabi Isa 'alaihis salam, senantiasa mampu mengalahkan orang-orang Yahudi, karena orang-orang Nasrani lebih mengikuti Nabi Isa daripada orang-orang yahudi, sampai Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengutus Nabi kita Muhamad shallallahu 'alaihi wa sallam. Kaum muslimin pengikuti Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam inilah yang sesungguhnya mengikuti Nabi Isa 'alaihis salam, maka Allah menguatkan mereka sehingga mampu mengalahkan orang-orang Yahudi dan orang-orang kafir lainnya, termasuk orang-orang Nasrani yang tidak mau mengikuti Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun terkadang orang-orang kafir baik dari kalangan Nasrani maupun lainnya dapat mengalahkan orang-orang muslim, hal tersebut merupakan hikmah/kebijaksanaan dari Allah dan sebagai hukuman karena mereka meninggalkan mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. [7] Baik mengalahkan hujjah mereka maupun mengalahkan mereka dalam peperangan. [8] Baik tentang perkara Nabi Isa 'alaihis salam maupun perkara agama. Masing-masing pihak mengaku bahwa dirinya yang benar, sedangkan yang lain adalah salah, pada hari kiamat nanti Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan menyelesaikan semua masalah yang mereka perselisihkan itu. [9] Yakni orang-orang yang kafir kepada Nabi Isa 'alaihis salam seperti orang-orang Yahudi dan orang-orang yang bersikap ghuluw (berlebihan) kepada Beliau sampai menuhankan. [10] Baik dengan musibah, diperangi, ditawan, dirampas harta dan kepemilikan maupun dikenakan jizyah (pajak). [11] Baik amal shalih yang terkait dengan hati, lisan maupun anggota badan yang diajarkan rasul, dan mereka melakukannya dengan niat mencari ridha Allah Rabbul 'alamin. [12] Ayat ini pun menunjukkan bahwa di dunia mereka akan mendapatkan pahala terhadap amal mereka, baik dengan dimuliakan, ditolong dan mendapatkan kehidupan yang bahagia, hanya saja pahala secara sempurna akan diberikan pada hari kiamat, di mana mereka akan mendapatkan kebaikan yang mereka kerjakan semuanya ada di hadapan, lalu diberikan balasannya dan diberikan tambahan oleh Allah dari karunia dan kepemurahan-Nya.Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan mutawaffika ialah mematikan kamu.

Muhammad ibnu Ishak telah meriwayatkan dari orang yang tidak dicurigai, dari Wahb ibnu Munabbih yang mengatakan bahwa Allah mematikannya selama tiga saat (jam) pada permulaan siang hari, yaitu ketika Allah mengangkatnya kepada Dia. Ibnu Ishaq mengatakan bahwa orang-orang Nasrani menduga bahwa Allah mematikannya selama tujuh jam, kemudian menghidupkannya kembali. Ishaq ibnu Bisyr meriwayatkan dari Idris, dari Wahb, bahwa Allah mematikannya selama tiga hari, kemudian menghidupkannya dan mengangkatnya. Matar Al-Waraq mengatakan, yang dimaksud ialah sesungguhnya Aku akan mewafatkan kamu dari dunia, tetapi bukan wafat dalam arti kata mati.
Hal yang sama dikatakan oleh Ibnu Jarir, bahwa yuwaffihi artinya mengangkatnya. Kebanyakan ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan wafat dalam ayat ini ialah tidur, seperti pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya: وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ Dan Dialah yang menidurkan kalian di malam hari. (Al-An'am: 60)Damir yang terdapat di dalam firman-Nya, "Qabla mautihi," kembali (merujuk) kepada Isa a.s. Dengan kata lain, tidak ada seorang pun dari ahli kitab melainkan akan beriman kepada Isa. Hal ini terjadi di saat Nabi Isa turun ke bumi sebelum hari kiamat, seperti yang akan diterangkan kemudian. M
aka saat itu semua ahli kitab pasti beriman kepadanya karena menghapuskan jizyah dan tidak mau menerima kecuali agama Islam (yakni ia memerangi ahli kitab yang tidak mau masuk Islam). Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abu Ja'far, dari ayahnya, telah menceritakan kepada kami Ar-Rabi' ibnu Anas, dari Al-Hasan, bahwa ia telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: sesungguhnya Aku akan mewafatkan kamu. (Ali Imran: 55), Yaitu wafat dengan pengertian tidur. Maksudnya, Allah mengangkatnya dalam tidurnya. Al-Hasan mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah berkata kepada orang-orang Yahudi: "إنَّ عِيسَى لم يَمُتْ، وَإنَّه رَاجِع إلَيْكُمْ قَبْلَ يَوْمِ الْقَيامَةِ" Sesungguhnya Isa itu belum mati, dan sesungguhnya dia akan kembali kepada kalian sebelum hari kiamat.Ketika Allah mengutus Nabi Muhammad Saw., maka orang-orang yang beriman kepadanya beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya dengan iman yang benar.
Mereka adalah pengikut semua nabi yang ada di bumi ini, mengingat mereka percaya kepada Rasul, Nabi yang Ummi dari Arab, penutup para rasul dan penghulu Bani Adam secara mutlak. Beliau Saw. menyeru mereka untuk percaya kepada semua perkara yang hak. Oleh karena itu, mereka lebih berhak kepada setiap nabi daripada umat nabi itu sendiri yang menduga bahwa mereka berada dalam agama dan tuntunannya, padahal mereka telah mengubah dan menyelewengkannya. Kemudian seandainya tidak ada perubahan dan tidak diselewengkan, sesungguhnya Allah telah me-nasakh syariat semua rasul dengan diutus-Nya Nabi Muhammad Saw. yang membawa agama yang hak yang tidak akan berubah dan tidak akan diganti lagi sampai hari kiamat nanti.
Agamanya tetap tegak, menang, dan unggul di atas agama lainnya. Karena itulah maka Allah membukakan bagi sahabat-sahabatnya belahan timur dan barat dari dunia ini. Mereka menjelajah semua kerajaan, dan semua negeri tunduk kepada mereka. Kerajaan Kisra mereka patahkan, dan kerajaan kaisar mereka hancurkan serta semua perbendaharaannya mereka jarah, lalu dibelanjakan untuk kepentingan jalan Allah. Seperti yang diberitakan kepada mereka oleh Nabi mereka dari Tuhannya,

Jumaat, 23 Februari 2018

AYAT 52-53

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK SURAH ALI IMRAN 200AYAT
 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 53 Rabbana_ a_manna_ bima_ anzalta wattaba'nar rasu_la faktubna_ ma'asy sya_hidin(a). Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 54 Wa makaru_ wa makaralla_h(u), walla_hu khairul ma_kirin(a). Ayat 52-53: Kafirnya Bani Israil kepada Isa putera Maryam, dan mengikutinya para hawariyin (pengikuti setia Nabi Isa) kepada Nabi Isa ‘alaihis salam

 فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (٥٢) رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ (٥٣ 52.

Maka ketika Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail)[1], dia berkata: "Siapakah yang akan menjadi penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyun (sahabat setianya) menjawab: "Kamilah penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim. 53. Ya Tuhan Kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan Kami telah mengikuti rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan-Mu dan kebenaran rasul-Mu)[2]". [1] Yakni mereka tetap saja ingkar, bahkan mereka bermaksud membunuh Beliau. [2] Ada yang menafsirkan bahwa maksud "menjadi saksi" di sini adalah sama seperti umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang akan menjadi saksi untuk para rasul, bahwa mereka telah menyampaikan risalahnya kepada kaumnya.\ Allah swt. berfirman, falammaa ahassa ‘iisaa (“Maka tatkala `Isa mengetahui,”) yaitu mengetahui ketetapan hati mereka untuk ingkar dan terus menerus dalam kesesatan, maka `Isa pun berkata, man anshaarii ilallaaH (“Siapakah yang akan menjadi penolong penolongku untuk [menegakkan agama] Allah?”) Mujahid berkata: “Maksudnya, siapakah yang mengikutiku menuju jalan Allah.” Sufyan ats-Tsauri dan yang lainnya berkata: “Maksudnya, siapakah orang-orang yang menjadi penolongku bersama Allah?” Akan tetapi, apa yang diungkapkan Mujahid lebih tepat. Dan lahiriyah dari ayat ini menunjukkan, bahwa `Isa menghendaki orang-orang yang menolongnya dalam berdakwah kepada jalan Allah. Dan demikianlah, maka segolongan dari Bani Israil pun tertarik untuk beriman kepadanya, maka mereka pun mendukung dan menolongnya serta mengikuti nur yang diturunkan bersamanya. Oleh karena itu, Allah swt. memberitakan mengenai keadaan mereka, dengan berfirman, qaalal hawaariyyuuna nahnu anshaarullaaHi aamannaa billaahi wasy-Had bi-annaa muslimuun. Rabbanaa aamannaa bimaa anzalta wat taba’nar rasuula faktubnaa ma’asy-syaaHidiin (“Para hawariyyun [sahabat-sahabat setia] menjawab: “Kamilah penolong ponolong agama Allah. Kami beriman kepada Allah. Dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami telah mengikuti Rasul, karena itu masukkanlah kami dalam golongan orang orang yang menjadi saksi [tentang keesaan Allah].”) Menurut pendapat yang benar, al-hawariy adalah penolong. Sebagaimana ditegaskan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa Rasulullah saw. mengajak orang-orang pada peristiwa Ahzab, maka tampillah az-Zubair, lalu ketika beliau menganjurkan mereka lagi, maka tampillah az-Zubair. Kemudian Nabi bersabda: “Setiap Nabi mempunyai penolong (hawariy), sedangkan penolongku adalah az-Zubair.” Mengenai firman-Nya, faktubnaa ma’asy-syaaHidiin (“Karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi [tentang keesaan Allah],”) Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu `Abbas ra. ia berkata: “Yaitu ke dalam golongan umat Muhammad.” Dan isnad riwayat ini adalah jayyid. Selanjutnya Allah swt. memberitahu mengenai sekelompok pemuka Bani Israil yang bermaksud menyerang `Isa as, berbuat jahat dan menyalibnya, ketika mereka telah bersekongkol terhadapnya, kemudian melaporkannya kepada raja yang pada saat itu berkuasa, dan dia adalah seorang-raja yang kafir, bahwasanya ada seorang yang menyesatkan rakyat, melarang mereka mentaati sang raja, merusak rakyat, memutuskan hubungan antara orang tua dengan anaknya, dan lain-lainnya dari yang mereka tuduhkan dan lontarkan seperti tuduhan dusta dan anak haram, sehingga mereka berhasil memancing amarah sang raja. Raja itu pun mengirim pasukan untuk mencari dan menangkap ‘Isa untuk selanjutnya disalib dan disiksa. Ketika pasukan tersebut mengepung rumahnya, dan mereka mengira telah berhasil menangkapnya, ternyata Allah menyelamatkannya dari kepungan mereka. Allah mengangkatnya dari lubang dinding rumah itu ke langit, dan kemudian Dia menjadikan salah seorang yang berada di dalam rumah itu serupa dengannya. Ketika pasukan itu memasuki rumahnya pada kegelapan malam, mereka meyakini bahwa ia adalah `Isa, lalu mereka menangkap, menyiksa dan menyalibnya serta menaruh duri pada kepalanya. Hal itu merupakan suatu bentuk tipu daya dari Allah terhadap mereka. Karena sesungguhnya, Dia telah menyelamatkan Nabi-Nya dan mengangkatnya dari hadapan mereka, meninggalkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan, namun mereka yakin telah berhasil dalam misi pencariannya itu. Dan Allah menanamkan dalam hati mereka kekerasan dan pembangkangan terhadap kebenaran sebagai konsekuensi bagi mereka, serta menimpakan kehinaan kepada mereka, yang tidak akan pernah lepas dari mereka hingga hari Kiamat kelak. Oleh karena itu Dia berfirman, wa makaruu wa makarallaaH. wallaaHu khairul maakiriin (“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”)

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN