Selasa, 30 Januari 2018

ali imran ayat 12-13

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK JILIK-10-AYAT12-13 SURAH ALI-IMRAN

 قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا سَتُغْلَبُونَ وَتُحْشَرُونَ إِلَىٰ جَهَنَّمَ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا ۖ فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَىٰ كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ ۚ وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ

        Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 12 Qul lillazina kafaru_ satuglabu_na wa tuhsyaru_na ila_ jahannam(a), wa bi'sal miha_d(u).Ayat 13 Qad ka_na lakum a_yatun fi fi'atainiltaqata_, fi'atun tuqa_tilu fi sabililla_hi wa ukhra_ ka_firatuy yaraunahum mislaihim ra'yal 'ain(i), walla_hu yu'ayyidu bi nasrihi may yasya_'(u), inna fi za_lika la'ibratal li ulil absa_r(i). “Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: ‘Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam Neraka Jahannam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya.’ (QS. 3:12)
               Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kalijumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. (QS. 3:13)
            Ayat ini turun ketika Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan orang-orang Yahudi masuk Islam sepulang Beliau dari peperangan Badar, lalu mereka mengatakan, "Janganlah sekali-kali membuat anda terpedaya karena berhasil membunuh beberapa orang Quraisy yang tidak ahli dan tidak mengenal taktik perang". Peperagan yang berlaku pertengahan Muharram tahun kedua dari hijrah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar Madinah dengan dua ratus pasukan. Tindakan ini beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ambil, setelah mendengar ada persekongkolan untuk menyerang kaum Muslimin yang dilakukan oleh kabilah-kabilah yang selama ini meraup keuntungan dari bisnis kaum Quraisy, karena daerah mereka dilalui oleh kafilah dagang Quraisy.
            Di antaranya adalah kabilah-kabilah dari Bani Sulaim dan Bani Ghatafân serta beberapa kabilah lainnya. Mereka berkumpul di Qarqarah al-Kudri yaitu sumber mata air milik Bani Sulaim. Baik dengan dibunuh, ditawan maupun dengan ditetapkan membayar jizyah (pajak), dan hal itu telah terjadi. Allah berfirman: “Wahai Muhammad, katakanlah kepada orang-orang kafir: ‘Kalian akan dikalahkan,’ yakni di dunia, ‘dan kalian kelak akan dikumpulkan,’ yakni pada hari Kiamat, di Neraka Jahannam, suatu tempat yang paling buruk.” Yakni pelajaran yang dalam. Kamu di sini adalah "Orang-orang Yahudi yang sombong".
       Pertemuan dua golongan itu antara kaum muslimin dengan kaum musyrikin terjadi dalam perang Badar. Badar nama suatu tempat yang terletak di selatan Madinah. Yaitu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Jika melihat kepada sebab yang nampak, seperti jumlah dan perlengkapan, maka kaum muslimin nampaknya akan kalah. Jumlah mereka hanya tiga ratus orang lebih, sedangkan jumlah musuh sekitar seribu orang. Terlebih dengan perlengkapan mereka yang kurang, yang menaiki kuda hanya dua orang, sedangkan selebihnya berjalan kaki. Namun di balik semua ini ada sebab terbesar yang menjadikan mereka menang, yaitu pertolongan Allah Azza wa Jalla. (Sesungguhnya bagi kamu ada tanda) atau pelajaran, lalu hal itu disebutkan untuk penjelasan (pada dua golongan) dua puak (yang bertemu) di hari Badar untuk berperang (segolongan bertempur di jalan Allah) untuk menaati perintah-Nya, yaitu Nabi saw. bersama para sahabat. Mereka berjumlah 313 orang laki-laki termasuk beberapa orang berkuda, enam buah ketopong besi dan delapan buah pedang, sedangkan kebanyakan mereka adalah berjalan kaki (dan yang lain kafir, yang melihat mereka) maksudnya kaum muslimin (dua kali lipat mereka) artinya jumlah mereka kaum muslimin kelihatan dua kali banyak dari jumlah mereka yang lebih kurang seribu orang, (yaitu penglihatan dengan mata kepala) artinya menurut pandangan lahir. Ini termasuk pertolongan Allah kepada kaum muslimin yang berjumlah sedikit. (Dan Allah menyokong) menguatkan (dengan pertolongan-Nya siapa yang disukai-Nya) untuk ditolong. (Sesungguhnya pada yang demikian itu) maksudnya yang disebutkan tadi (menjadi pelajaran bagi orang yang mempunyai mata hati). Kenapa kamu tidak mengambil pelajaran pula lalu kamu beriman? Muhammad bin Ishaq bin Yasar pernah menceritakan, dari ‘Ashim bin ‘Amr bin Qatadah, bahwa Rasulullah setelah memenangkan perang Badar dan sekembalinya ke Madinah, beliau mengumpulkan orang-orang Yahudi di sebuah pasar Bani Qainuga’ dan bersabda: “Wahai orang-orang Yahudi, masuklah Islam sebelum Allah menimpakan kepada kalian dengan apa yang telah ditimpakan kepada kaum Quraisy.” Maka mereka pun berkata: “Hai Muhammad, engkau jangan terperdaya oleh dirimu sendiri karena keberhasilanmu membunuh beberapa orang kaum Quraisy. Keberhasilan itu disebabkan oleh kebodohan mereka yang tidak mengetahui strategi berperang. Demi Allah, jika kamu memerangi kami, maka kamu akan mengetahui bahwa kami adalah orang-orang yang istimewa, dan kamu tidak menjumpai orang seperti kami.” Berkenaan dengan perkataan mereka ini maka Allah menurunkan firman-Nya: Katakanlah kepada orang-orang yang kafir, kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam Neraka Jahannam. Dan itu tempat yang seburuk-buruknya sampai dengan firman-Nya terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. ” Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Abi Muhammad dari Sa’id dan’Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas. Oleh karena itu Allah swt. berfirman, qad kaana lakum (“Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu.”) Maksudnya, telah datang kepada kalian, wahai orang-orang Yahudi, tanda yang menunjukkan bahwa Allah selalu memuliakan agama-Nya, menolong Rasul-Nya, serta memperlihatkan kalimat-Nya, dan meninggikan urusan-Nya; fii fi-ataini (“Pada dua golongan,”) al taqata (“Yang telah bertemu,”) untuk bertempur; fi-atun tuqaatilu fii sabiilillaaHi wa ukhraa kaafiratun (“segolongan berperang di jalan Allah dan segolongan yang lain kafir.”) mereka adalah orang-orang musyrik dari kaum Quraisy pada hari perang Badar. Firman-Nya: yaraunaHum mits-laiHim ra’yal ‘ain (“yang dengan mata kepala melihat [seakan-akan] orang Islam itu dua kali lipat jumlah mereka.”) seperti yang dikatakan Ibnu Jarir sebagian ulama mengatakan [pendapat pertama]: “Orang-orang musyrik pada perang Badar melihat dengan mata kepala sendiri bahwa kaum muslimin berjumlah dua kali lipat dari jumlah mereka. yakni Allah telah menjadikan apa yang mereka lihat itu sebagai penyebab kemenangan kaum Muslimin terhadap mereka. Hal ini bukanlah sesuatu yang aneh, melainkan hanya dengan satu hal, yaitu orang-orang musyrik mengutus ‘Umar bin Sa’ad hari itu sebelum perang terjadi untuk memata-matai kaum Muslimin lalu dia memberitahukan kepada mereka bahwa jumlah kaum muslimin sekitar 300 orang. Dan ketika perang terjadi, Allah menambah jumlah mereka dengan 1.000 pasukan pilihan dan pasukan utama dari para malaikat.” Pendapat kedua adalah bahwa firman Allah: yaraunaHum mits-laiHim ra’yal ‘ain (“yang dengan mata kepala melihat [seakan-akan] orang Islam itu dua kali lipat jumlah mereka.”) yaitu pasukan kaum Muslimin melihat kaum kafir dua kali jumlah mereka. Tetapi walaupun begitu, Allah memenangkan kaum Muslimin atas orang-orang kafir itu. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Yazid bin Ruman dari ‘Urwah bin az-Zubair bahwasannya Rasulullah saw. menanyakan kepada seorang budak hitam dari bani Hajjaj mengenai jumlah orang-orang Quraisy, maka dia menjawab, “Banyak.” “Berapa banyak mereka menyembelih unta setiap harinya?” tanya Rasulullah, dia pun menjawab, “Terkadang sehari sembilan dan terkadang sepuluh.” Lalu beliau berujar, “Jumlah mereka itu antara sembilan ratus atau seribu orang.” Yang terkenal, jumlah mereka itu sembilan ratus sampai seribu orang, dengan perkiraan apapun yang jelas jumlah mereka tiga kali lipat jumlah kaum muslimin. Oleh karena itu pendapat kedua bermasalah. wallaaHu a’lam. Akan tetapi Ibnu Jarir membenarkan hal itu, ia berujar bahwa yang demikian itu sama halnya ketika anda mengatakan, “Aku memiliki uang seribu, dan masih membutuhkan dua kali lipat jumlah itu, berarti anda masih membutuhkan tiga ribu, dengan demikian maka pendapat ini tidak ada kejanggalan.” wallaaHu yu-ayyidu binash-riHii may yasyaa-u inna fii dzaalika la’ib-ratal li ulil ab-shaar (“Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.”) yaitu bahwa dalam peristiwa itu terkandung pelajaran bagi orang-orang yang memiliki pandangan dan pemikiran, agar dengan pelajaran itu mereka memperoleh petunjuk menuju ketentuan hukum, perbuatan dan ketetapan Allah yang berlangsung dengan cara memenangkan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia ini dan pada hari Kiamat kelak.

Isnin, 29 Januari 2018

Ayat 11 ali-imran

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK JILIK-10,AYAT 11, ALI-IMRAN

كَدَأْبِ آلِ فِرْعَوْنَ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ ۗ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 11
     Kada'bi a_li fir'aun(a), wallazina min qablihim, kazzabu_ bi a_ya_tina_ fa akhazahumulla_hu bi zunu_bihim, walla_hu syadidul 'iqa_b(i). (keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir'aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya. (Seperti adat kebiasaan kaum Firaun dan orang-orang sebelum mereka) seperti kaum Ad dan Tsamud (mereka mendustakan ayat-ayat Kami hingga dicelakakan Allah) dibinasakan-Nya (disebabkan dosa-dosa mereka).                       Perkataan ini menafsirkan perkataan yang sebelumnya. (Dan Allah sangat keras siksa-Nya). Ayat berikut turun ketika Nabi saw. menyuruh orang-orang Yahudi masuk Islam sekembalinya dari perang Badar, maka jawab mereka, "Janganlah kamu teperdaya mentang-mentang berhasil membunuh gerombolan Quraisy yang kacau balau dan tidak tahu memegang senjata." Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang dan pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan kepada para malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”. [QS. Ghafir/ 40: 46].
                Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy rahimahullah, “Terdapat pengkhabaran bahwasanya ruh-ruh para pengikut Fir’aun itu akan selalu diperlihatkan neraka kepada mereka setiap pagi dan petang. Hal itu karena keberadaan ruh-ruh mereka itu berada di rongga burung-burung hitam yang berbeda dengan ruh-ruh orang mukmin yang berada di rongga burung-burung hijau yang memakan (makanan) di surga sampai hari kiamat”. [4] Di sini Allah berfirman: innalladziina kafaruu (“Sesungguhnya orang-orang kafir”) yaitu kafir terhadap ayat-ayat Allah dan mendustakan para Rasul-Nya dan menentang Kitab-Nya, mereka tidak mengambil manfaat dari kitab yang diwahyukan kepada para Nabi-Nya; lan tughniya ‘anHum amwaaluHum wa laa aulaaduHum minal llaaHi syai-aw wa ulaa-ika Hum waquudun naar (“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. dan mereka itu adalah bahan Bakar api neraka.”) yakni kayu bakar yang menjadikan api neraka menyala dan berkobar-kobar.                             Sebagaimana yang difirmankan-Nya: innakum wa maa ta’buduuna min duunillaaHi hashabu jaHannama (“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu ibadahi selain Allah adalah umpan jahanam.”) (al-Anbiyaa’: 98) Firman-Nya: kada’bi aali fir’auna (“[Keadaan mereka] seperti keadaan kaum Fir’aun”) adh-Dhahhak mengatakan dari Ibnu ‘Abbas: “Seperti apa yang dikerjakan oleh pengikut Fir’aun” demikian juga yang diriwayatkan dari ‘Ikrimah, Mujahid, Abu Malik, adh-Dhahhak dan lain-lain. Di antara mereka ada yang mengatakan, “Seperti yang diperbuat oleh pengikut Fir’aun.” Dan ungkapan-ungkapan lainnya yang maknanya tidak jauh berbeda. “Ad-da’bun” atau “ada-abun” sama [wazannya] dengan kata: “naHrun” [sungai] dan kata “naHarun” yang berarti perbuatan, keadaan, perihal, urusan, dan kebiasaan.
                 Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami ibnu Luhai'ah, telah menceritakan kepadaku Ibnul Had, dari Hindun bintil Haris, dari Ummul Fadl (yaitu Ummu Abdullah ibnu Abbas) yang menceritakan: Ketika kami berada di Mekah, maka di suatu malam Rasulullah Saw. bangkit, lalu berseru, "Apakah aku telah menyampaikan, ya Allah, apakah aku telah menyampaikan," sebanyak tiga kali. Maka Umar ibnul Khatlab r.a. bangkit, lalu menjawab, "Ya." Kemudian pada pagi harinya Rasulullah Saw. bersabda, "Islam benar-benar akan menang hingga kekufuran dikembalikan ke tempat asalnya, dan sesungguhnya banyak lelaki yang menempuh laut berkat Islam. Dan benar-benar akan datang suatu masa atas manusia, mereka mempelajari Al-Qur'an dan membacanya, kemudian mereka mengatakan, 'Kami telah membaca dan mengetahui(nya). Maka siapakah orang-orang yang lebih baik daripada kami ini, apakah di antara mereka terdapat kebaikan'?" Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah mereka itu?" Rasulullah Saw. menjawab," Mereka dari kalangan kalian, tetapi mereka adalah bahan bakar neraka." Atau kata Umru-ul Qais pernah bersya’ir: Yang membuat temanku berhenti di atas kendaraannya karena dia. Mereka berkata: “Janganlah kau hancurkan dirimu karena putus asa, tapi kuatkanlah hatimu. Seperti kebiasaanmu terhadap Ummul Huwairits sebelumnya. Dan budaknya, Ummur Rabab di Ma’sal.” Maknanya (da-bika, dalam sya’ir di atas) adalah, seperti kebiasaanmu terhadap Ummul Huwairits, yaitu ketika engkau menghancurkan dirimu dengan cinta yang kau berikan kepadanya, lalu kamu menangisi rumah dan bekas-bekas yang ditinggalkannya. Sedangkan makna ayat di atas adalah bahwa harta kekayaan dan anak-anak orang-orang kafir itu tidak lagi bermanfaat bagi mereka, bahkan sebaliknya akan menghancurkan dan menyiksa mereka, sebagaimana yang dialami oleh para pengikut Fir’aun dan orang-orang sebelum mereka, yaitu yang mendustakan para Rasul dan apa yang dibawa oleh mereka dari ayat-ayat Allah dan hujjah-hujjah-Nya. Firman-Nya, wallaaHu syadiidul ‘iqaab (“Dan Allah sangat keras siksa-Nya.”) Artinya, hukuman-Nya sangat berat dan siksa-Nya pun sangat pedih, yang tidak ada seorang pun yang dapat menolaknya dan tidak ada sesuatu pun yang luput dari-Nya, bahkan Dia berbuat apa raja yang dikehendaki-Nya, Dia telah menundukkan segala sesuatu, tiada Ilah (yang haq) dan tiada Rabb melainkan Dia. Dari Hudzaifah radliyallahu anhu dari NabiShallallahu alaihi wa sallam bercerita, “Pernah terjadi seseorang sebelum kalian berburuk sangka dengan amal perbuatannya. Ia berkata kepada keluarganya, ‘Apabila aku telah mati, maka ambil tindakan kepadaku (yakni di dalam riwayat yang lain, “bakarlah aku”) lalu taburkanlah (abuku) di lautan pada waktu hari panas terik. Kemudian merekapun melakukan (perintahnya). Lalu Allah Subhanahu wa ta’ala mengumpulkannya (kembali jasadnya) lalu berfirman, Apa yang mendorongmu untuk mengerjakan hal itu?”. Ia menjawab, “Tidak ada yang mendorongku untuk melakukannya kecuali karena rasa takut kepada-Mu”. Maka Allahpun mengampuninya. [HR al-Bukhoriy: 6480, 6841].

Ahad, 28 Januari 2018

ayat 9-10 ali-imran

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK JILIK-10-AYAT 9-10
 SURAH ALI-IMRAN Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 9\
    Rabbana_ innaka ja_mi'un na_si li yaumil la_ raiba fih(i), innalla_ha la_ yukhliful mi'a_d(a).Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 10 Innal lazina kafaru_ lan tugniya 'anhum amwa_luhum wa la_ aula_duhum minalla_hi syai'a_(n), wa ula_'ika hum waqu_dun na_r
     (i). رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلا أَوْلادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَأُولَئِكَ هُمْ وَقُودُ النَّارِ (١٠) "
    Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya". Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.10. Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikit pun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka[1]. dan mereka itu (menjadi) bahan bakar api neraka. Tujuan dari do'a ini adalah menjelaskan bahwa hati mereka tertuju kepada akhirat. Oleh karena itu, mereka meminta keteguhan di atas hidayah agar memperoleh pahalanya.
     Pada beberapa ayat di atas, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memuji orang-orang yang ilmunya mendalam dengan tujuh sifat yang merupakan tanda kebahagiaan:[1] Anak dan harta tidaklah bermanfaat bagi seorang hamba, yang bermanfaat hanyalah iman dan amal shalih. (Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau akan mengumpulkan manusia) menghimpun mereka (untuk suatu hari) maksudnya pada suatu hari (yang tak ada keraguan) atau kebimbangan (padanya) yakni hari kiamat, maka Engkau balas amal perbuatan mereka sebagaimana telah Engkau janjikan. (Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.") yakni janji-Nya tentang saat berbangkit.
   Di sini terdapat peralihan pembicaraan dan kemungkinan ia merupakan firman Allah swt. Adapun maksud dari doa seperti itu ialah untuk menyatakan bahwa pusat perhatian mereka ialah soal akhirat. Oleh sebab itulah mereka memohon agar tetap berada dalam hidayah atau petunjuk Allah hingga beroleh pahala. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim melalui Aisyah r.a. katanya, "Rasulullah saw. membaca ayat, 'Dialah yang telah menurunkan kepadamu kitab, di antara isinya ialah ayat-ayat yang muhkamat...' dan seterusnya lalu sabdanya, 'Apabila kamu lihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat mereka itulah yang disebutkan oleh Allah, maka waspadalah terhadap mereka.'"          Diriwayatkan pula oleh Thabrani dalam Al-Kabir melalui Abu Musa Al-Asyari, bahwa ia mendengar Nabi saw. bersabda, "Tidak ada yang aku khawatirkan terhadap umatku, kecuali tiga perkara yang di antaranya ialah akan dimudahkan bagi mereka mempelajari Alquran, tetapi orang mukmin mencari-cari takwil yang mutasyabihat, padahal tidak ada yang tahu akan takwilnya itu kecuali Allah, sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan, 'Kami beriman padanya, semuanya dari sisi Tuhan kami dan tidaklah yang beroleh peringatan kecuali orang-orang yang berakal.'" (Hadis)
      Dari ayat ini menjelaskan setiap pahala pahala atau ganjaran ganjaran yang allah berikan kepada yang sesiapa yang layak sebagai mana amalan seseorang bila mana di timbang di al mizan maka akan ada suatu masa di mana di namakan hari balas membalas .,.anak pinak isteri dan keluarga tak mampu menyelamatkan sesiapa jua ., dan tiap amalan dan dosa hanya untuk tuan nya sendiri tiada seorang pun akan menanggung sebesar zarah pun dosa orang lain dan tiada pula teraniaya seorang pun di akirat kelak melaikan setelah dibalas.,., ,,. jika di dunia kita melakukan dosa dosa besar yang mana bukan dari syirik mendua atau menyekutu allah sebagai mana dosa dosa mencuri kelak akan di beri pahala pahala yang ketika hidup amalan baik nya di curi balas dan di beri pada orang yang pernah di curi.,,. sebagai mana membunuh ketika mana hidup atas dunia maka orang orang di bawah tanggungan orang yang terbunuh secara automatik akan di beri aman atas tanggugan nya baik makan atau pakaian dan pendidikan ,. kelak di hari balas membalas di beri amalan kebaikan pada si mati atas perbuatan nya dan di bunuh balas di akirat kelak,..,,. sebagai mana perbuatan meminum air arak maka seluruh amalan nya kelak di akirat tibuang tidak di ambik kira setiap titik 40 hari jika 100titik 4000hari amalan di gantung amalan ganjaran tiada di bayar allah sawt kelak di akirat kelak.,,.,.., jadi bila berbuat dosa mohon keampunan allah maha pengampun biar berkali kali mohon ampun allah terima ampunan hamba nya baik taubat nasuha atau taubat berkali kali dua kali tiga kali atau berapa kali sekali pun tetap allah terima hingga lah mana tiba ajal ,.,.
     Dan firman-Nya: rabbanaa innaka jami’un naasi liyaumil laa raibaa; (“Ya Rabb kami, sungguhnya Engkau mengumpulkan’manusia untuk [menerima pembalasan pada] hari yang tidak ada keraguan di dalamnya.”) Yaitu di dalam do’anya, mereka berkata, “Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau akan mengumpulkan makhluk-makhluk-Mu pada hari kebangkitan, memutuskan hukum, serta memberikan keputusan kepada mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Dan Engkau berikan balasan kepada setiap orang atas amal yang pernah dilakukannya di dunia, baik perbuatan yang baik maupun perbuatan jahat.

Sabtu, 27 Januari 2018

ayat 9 ali-imran


  1. TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
  2. JILIK-10-SURAH LI-IMRAN
  3. AYAT-9 
  4. Hasil gambar untuk ali imran ayat 9
  5. Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 9 Rabbana_ innaka ja_mi'un na_si li yaumil la_ raiba fih(i), innalla_ha la_ yukhliful mi'a_d(a)

(Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau akan mengumpulkan manusia) menghimpun mereka (untuk suatu hari) maksudnya pada suatu hari (yang tak ada keraguan) atau kebimbangan (padanya) yakni hari kiamat, maka Engkau balas amal perbuatan mereka sebagaimana telah Engkau janjikan. (Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.") yakni janji-Nya tentang saat berbangkit. Di sini terdapat peralihan pembicaraan dan kemungkinan ia merupakan firman Allah swt. Adapun maksud dari doa seperti itu ialah untuk menyatakan bahwa pusat perhatian mereka ialah soal akhirat. Oleh sebab itulah mereka memohon agar tetap berada dalam hidayah atau petunjuk Allah hingga beroleh pahala. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim melalui Aisyah r.a. katanya, "Rasulullah saw. membaca ayat, 'Dialah yang telah menurunkan kepadamu kitab, di antara isinya ialah ayat-ayat yang muhkamat...' dan seterusnya lalu sabdanya, 'Apabila kamu lihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat mereka itulah yang disebutkan oleh Allah, maka waspadalah terhadap mereka.'" Diriwayatkan pula oleh Thabrani dalam Al-Kabir melalui Abu Musa Al-Asyari, bahwa ia mendengar Nabi saw. bersabda, "Tidak ada yang aku khawatirkan terhadap umatku, kecuali tiga perkara yang di antaranya ialah akan dimudahkan bagi mereka mempelajari Alquran, tetapi orang mukmin mencari-cari takwil yang mutasyabihat, padahal tidak ada yang tahu akan takwilnya itu kecuali Allah, sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan, 'Kami beriman padanya, semuanya dari sisi Tuhan kami dan tidaklah yang beroleh peringatan kecuali orang-orang yang berakal.'" (Hadis).

kitab Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim dan kitab-kitab lainnya yang diriwayatkan melalui beberapa jalan tanpa adanya tambahan ayat tersebut. Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa’i. An-Nasa’i menambahkan, dan juga Ibnu Hibban dan’Abdullah bin Wahb, keduanya dari ‘Aisyah, jika Rasulullah maka beliau mengucapkan: “Tidak ada Ilah (yang haq) selain Engkau. Mahasuci Engkau, aku memohon ampunan kepada-Mu atas dosaku dan aku memohon rahmat-Mu. Ya Allah tambahkanlah ilmu kepadaku dan janganlah Engkau menjadikan hatiku condong kepada kesesatan setelah Engkau memberikan petunjuk kepadaku. Serta karuniakanlah kepadaku rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah Mahapemberi.” Dan firman-Nya: rabbanaa innaka jami’un naasi liyaumil laa raibaa; (“Ya Rabb kami, sungguhnya Engkau mengumpulkan’manusia untuk [menerima pembalasan pada] hari yang tidak ada keraguan di dalamnya.”) Yaitu di dalam do’anya, mereka berkata, “Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau akan mengumpulkan makhluk-makhluk-Mu pada hari kebangkitan, memutuskan hukum, serta memberikan keputusan kepada mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Dan Engkau berikan balasan kepada setiap orang atas amal yang pernah dilakukannya di dunia, baik perbuatan yang baik maupun perbuatan jahat.

[19] Tujuan dari do’a ini adalah menjelaskan bahwa hati mereka tertuju kepada akhirat. Oleh karena itu, mereka meminta keteguhan di atas hidayah agar memperoleh pahalanya. Pada beberapa ayat di atas, Allah Subhaanahu wa Ta’aala memuji orang-orang yang ilmunya mendalam dengan tujuh sifat yang merupakan tanda kebahagiaan:

Dari Ayat diatas menyebutkan bahwa Allah pada hari yang sudah ditentukan yaitu hari kiamat akan mengumpulkan seluruh manusi mulai dari nabi Adam sampai manusia diakhir jaman atau kiamat, bermilyar-milyar manusia itu akan dikumpulkan oleh Allah di suatu tempat yang sangat luas yaitu padang mahsyar. Setelah kejadian hari kiamat tersebut, semua yang bernyawa akan merasakan kematian dan manusia akan dibangkitkan kembali setelah ditiup tiupan terompet yang pertama. Seperti yang disebutkan oleh Allah SWT dalam surat An-Nazi’at Ayat 6-9. dan pada saat itulah manusia akan terkejut karena dibankitkan kembali dan akan dihisab. Dan itulah janji Allah SWT karena Allah tidak akan pernah mengingkari janji.6. (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncang alam, 7. tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. 8. hati manusia pada waktu itu sangat takut, 9. pandangannya tunduk. Pada hari itu semua amalan manusia akan dihisab atau diperhitungkan oleh pengadilan yang maha adil tidak ada keraguan mengenai keadilannya karena langsung oleh yang maha Adil yaitu Alla SWT. Manusia akan dipanggil satu persatu untuk mempertanggungjawabkan semua amal perbuatannya selama didunia. Pada saat itu matahari didekatkan oleh Allah SWT sehingga ada manusia yang keringatnya sedengkul, sepaha adajuga yang sepusar ada juga yang seleher bahkan ada juga yang tenggelam oleh keringatnya sendiri padahal orang disebelahnya tidak merasakan apa-apa karena pada hari itu tidak ada lagi pertolongan hanya amal ibadahnya sajalah yang berguna yang akan menolongnya. Pada saat itulah ada 7 kelompok manusia yang akan dapat naungan langsung dari Allah SWT antara lain : Imam Adil (pemimpin yang Adil), menjadi pemimpin yang adil adalah suatu pekerjaan yang berat sehingga pasntaslah mendapat naungan langsung dari Allah SWT. Kalau kita lihat dalam kehidupan sehari-hari sangatlah sulit kita akan menjumpai pemimpin yang adil, mereka hanya berlomba untuk menjadi pemimpin setelah itu mereka berbuat zhalim kepada para pemilihnya.

Jumaat, 26 Januari 2018

AYAT 8,ALI-IMRAN

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK .
SURAH ALI-IMRAN AYAT 8,
BISMILLAHIRAHMANIRAHIM

  1. Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 8
  2. Rabbana_ la_ tuzig qulu_bana_ ba'da iz hadaitana_ wa hab lana_ mil ladunka rahmah(tan), innaka antal wahha_b(u).
  3. 3:9;   رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

 (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)".
      Mereka yang berakal sehat itu selalu berdoa, "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami menyeleweng dari kebenaran setelah Engkau tunjuki kami. Berikanlah kami rahmat dari sisi-Mu berupa kesesuaian dan kemantapan hati. Sesungguhnya hanya Engkaulah pemberi dan penolak."Dengan ini Allah menguji hamba-hamba-Nya sebagaimana Dia telah menguji mereka dalam masalah halal dan haram. Agar dengan demikian, benar-benar ayat-ayat tersebut tidak disimpangkan kepada (sesuatu) yang bathil dan tidak pula dirubah dari kebenaran.
       Oleh karena itu Allah swt. berfirman, “Adapun orang-orang yang di dalam hatinya cenderung kepada kesesatan,” yaitu kesesatan dan keluar dari kebenaran menuju kepada kebathilan, “Maka mereka mengikuti sebagian dari ayat-ayat yang mutasyaabihaat.”Yaitu, mereka hanya mengambil ayat-ayat mutasyaabihaat saja yang memungkinkan bagi mereka untuk merubahnya kepada maksud-maksud mereka yang rusak, lalu mereka menempatkan ayat-ayat tersebut sesuai dengan maksud-maksud mereka, dikarenakan lafazhnya memiliki kemungkinan (atas) kandungan tersebut.Imam Ahmad meriwayatkan dari’Aisyah, dia berkata: Rasulullah pernah membaca ayat, “Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu.
        Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi al-Qur’an. Dan (isi) yang lain adalah ayat-ayat mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya cenderung kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, dan semuanya itu dari sisi Rabb kami.
         Dan tidak dapat mengambil pelajaran darinya melainkan orang-orang yang berakal.” Lalu beliau bersabda: “Jika kalian melihat orang-orang yang berbantah-bantahan tentang al-Qur’an, maka mereka itulah orang-orang yang dimaksud oleh Allah, maka waspadalah terhadap mereka.” Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Imam al Bukhari ketika menafsirkan ayat ini, Imam Muslim dalam kitab al-Qadar dari kitab Shahihnya dan Abu Dawud dalam as-Sunnah pada kitab Sunannya. Imam Ahmad meriwayatkan, Abu Kamil telah menceritakan kepada kami, Hammad menceritakan kepada kami, dari Abu Ghalib, di mana ia berkata, aku pernah mendengar Abu Umamah menyampaikan sebuah hadits dari Nabi, mengenai firman Allah Ta’ala, “Adapun orang-orang yang di dalam hatinya cenderung kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian dari ayat-ayat yang mutasyaabihaat,” beliau mengatakan: “Mereka itulah golongan Khawarij.”
         Dan juga mengenai firman-Nya, “Pada hari yang pada waktu itu ada muka yang putih berseri dan ada pula muka yang hitam muram.” (QS. Ali-‘Imran: 106) Beliau mengatakan: “Mereka (muka yang hitam muram) itulah golongan Khawarij.” Hadits ini juga diriwayatkan Ibnu Mardawaih melalui jalur lain, dari Abu Ghalib, dari Abu Umamah, lalu beliau menyebutkan minimal derajat hadits ini mauquf dari perkataan Sahabat. Namun demikian, makna hadits ini shahih, karena bid’ah yang pertama kali terjadi dalam Islam adalah fitnah kaum Khawarij.
          Yang menjadi penyebab pertama mereka dalam hal itu adalah masalah dunia, yaitu ketika Nabi membagikan ghanimah Hunain (harta rampasan perang pada perang Hunain), maka dalam akal pemikiran mereka yang rusak seolah-olah melihat bahwa beliau tidak adil dalam pembagian tersebut. Sikap mereka itu mengejutkan Nabi. Lalu juru bicara mereka, yaitu Dzul khuwaishirah (si pinggang kecil) -semoga Allah membelah pinggangnya-, berkata: “Berlaku adillah engkau, sebab engkau telah berlaku tidak adil.” Lalu Rasulullah bersabda: “Sungguh telah gagal dan merugilah aku, jika aku tidak berlaku adil.
            Mengapa Allah saja mempercayaiku memimpin penduduk bumi ini, sedang kalian tidak mempercayaiku?”Dan hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dari Asma’ binti Yazid Ibnus Sakan, aku mendengar ia menceritakan, bahwa di antara do’a Rasulullah yang sering dipanjatkannya adalah: ‘Ya Allah, Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.’ Asma’ berkata, lalu kutanyakan: ‘Ya Rasulullah, apakah hati itu dapat berbolak balik?’ Beliau menjawab: ‘Ya, Allah tidak menciptakan seorang anak Adam melainkan hatinya berada di antara dua jari-jemari Allah, Jika Allah menghendaki, Dia akan menjadikannya berdiri tegak.
       Dan jika Dia menghendaki, maka Dia akan menjadikannya condong kepada kesesatan.’ Kita semua memohon kepada Allah agar Dia tidak menjadikan hati kita condong kepada kesesatan setelah Dia memberikan petunjuk kepada kita. Dan semoga Allah melimpahkan kepada kita rahmat dari sisi-Nya. Sesungguhnya Dia Mahapemberi.”‘ Demikianlah yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari hadits Asad bin Musa, dari ‘Abdul Hamid bin Bahram. Hadits semisal juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari al-Mutsni dari al-Hajjaj bin Minhal dari ‘Abdul Hamid bin Bahrain dengan menambahkan: “Kukatakan: `Ya Rasulullah, maukah engkau mengajarkan kepadaku sebuah do’a yang dapat kupanjatkan untuk diriku sendiri?’
         Beliau bersabda: `Ya, baiklah, ucapkanlah: `Ya Allah, Rabb Muhammad, ampunilah dosaku, singkirkanlah amarah hatiku, dan jauhkanlah aku dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.”‘ Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari ‘Aisyah ra. ia berkata, Rasulullah sering memanjatkan do’a: “Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” Aku berkata: “Ya Rasulullah, alangkah seringnya engkau berdo’a dengan do’a itu.” Beliau menjawab: “Tidak ada satu hati pun melainkan berada di antara dua jari dari jari-jemari ar-Rahmaan (Allah).
         Jika Dia menghendaki untuk meluruskannya, maka Dia akan meluruskannya. Jika Dia menghendaki untuk membuatnya sesat, maka Dia akan membuatnya sesat. Tidakkah engkau mendengar firman-Nya: janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau adalah Mahapemberi (karunia).” Ditinjau dari redaksinya, hadits ini gharib, tetapi asalKesombongan (takabbur) atau dikenal dalam bahasa syariat dengan sebutan al-kibr yaitu melihat diri sendiri lebih besar dari yang lain.
         Orang sombong itu memandang dirinya lebih sempurna dibandingkan siapapun. Dia memandang orang lain hina, rendah dan lain sebagainya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hakikat kesombongan dalam hadits beliau Shallallahu ‘alaihi wa salllam : الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. [HR. Muslim, no. 2749, dari ‘Abdullah bin Mas’ûd] Inilah yang membedakan takabbur dari sifat ‘ujub (membanggakan diri, silau dengan diri sendiri).
         Sifat ‘ujub, hanya membanggakan diri tanpa meremehkan orang. Sedangkan takabbur, disamping membanggakan diri juga meremehkan orang. SEBAB-SEBAB KESOMBONGAN Sebab-sebab kesombongan, antara lain: sifat takabur untuk meminta merayu dan meraung dalam bersoa meminta pada allah sawt, Berdoalah Jangan Sombong DALAM sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda Doa adalah senjata orang mukmin tiang bagi agama dan cahaya dari langit Sesungguhnya hamba yang merendahkan dirinya dan bersikap tawaduk akan sentiasa berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT Sumber: https://almanhaj.or.id/2640-tidak-sepantasnya-manusia-menyombongkan-diri.html hadits ini terdapat dalam kitab Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim dan kitab-kitab lainnya yang diriwayatkan melalui beberapa jalan tanpa adanya tambahan ayat tersebut.

Khamis, 25 Januari 2018

ayat 7 ali imran

tafsir quran dan hadis tabaruk,
Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 7
  • Huwal lazi anzala 'alaikal kita_ba minhu a_ya_tum muhkama_tun hunna ummul kita_bi wa ukharu mutasya_biha_t(un), fa ammal lazina fi qulu_bihim zaigun fa yattabi'u_na ma_ tasya_baha minhubtiga_'a ta'wilih(i), wa ma_ ya'lamu ta'wilahu_ illalla_h(u), war ra_sikhu_na fil 'ilmi yaqu_lu_na a_manna_ bih(i), kullum min'indi rabbina_, wa ma_ yazzakaru illa_ ulul alba_b(i).


هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
   
         Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dariAyat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang jelas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah. Yang dirujuk ketika terjadi kesamaran dan mengembalikan kepadanya paham yang menyelisihinya, atau maksudnya bisa juga "Yang dijadikan pegangan dalam hukum". Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat:

     ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali setelah diteliti secara mendalam atau dipadukan dengan ayat yang muhkamat; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib misalnya ayat-ayat mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain. Ada pula yang menggolongan beberapa huruf di awal surat sebagai mutasyabihat, seperti alif laam miim, dsb. wallahu a'lam. Orang-orang yang berpenyakit hati karena niatnya yang buruk berusaha mencari ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan syubhat di tengah manusia agar dapat menyesatkan mereka, di samping itu, mereka menta'wil ayat-ayat mutasyabihat untuk menguatkan pemahaman mereka yang batil.
      Jumhur (mayoritas) mufassir mewaqfkan (memberhentikan) sampai ayat ini, namun yang lain menyambung dengan kata-kata "wa raasikhuun…dst." Kedua-duanya masih mengandung kemungkinan benar, jika maksud "ta'wil" di sini adalah mengetahui hakikatnya, maka yang benar adalah waqf sampai "illallah", karena yang mengetahui hakikatnya adalah Allah saja. Misalnya hakikat sifat Allah, hakikat sifat-sifat yang terjadi pada hari akhir dsb. Hal ini, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah, tidak boleh bagi seseorang memberanikan diri mengkaifiyatkannya. Oleh karena itu, Imam Malik rahimahullah pernah ditanya tentang firman Alllah "Ar Rahmaanu 'alal 'arsyis tawaa" (Allah bersemayam di atas 'Arsy) bagaimana bersemayam-Nya?" Maka ia menjawab, "Bersemayam adalah kata yang sudah diketahui, bagaimananya adalah majhul (tidak diketahui), mengimaninya wajib dan menanyakannya bid'ah." Demikianlah yang harus dikatakan dalam ayat-ayat sifat, yakni bahwa sifat tersebut diketahui, namun kaifiyatnya majhul.

    Orang-orang yang ilmunya mendalam, mengimaninya dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah. Oleh karena semua ayat tersebut berasal dari sisi Allah, maka tidak akan terjadi pertentangan, bahkan isinya sama, yang satu dengan yang lain saling membenarkan dan menguatkan. Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat memahami dan mengerti maknanya secara benar. sisi Tuhan kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang Allah memberitahukan bahwa di dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat muhkamaat (jamak dari muhkam) yang semuanya merupakan pokok-pokok al-Qur’an.
      Yaitu ayat-ayat yang jelas dan terang pengertiannya, yang tidak ada kesamaran bagi siapa pun. Selain itu ada ayat-ayat lainnya (mutasyaabihaat – jamak dari mutasyaabih), yaitu ayat-ayat yang di dalamnya terdapat kesamaran pengertian bagi kebanyakan atau sebagian orang. Maka barangsiapa mengembalikan yang samar itu kepada yang jelas dari al-Qur’an, serta menjadikan ayat yang muhkam sebagai penentu bagi yang mutasyaabih, berarti dia telah mendapatkan petunjuk. Dan barangsiapa melakukan hal yang sebaliknya, maka dia pun akan memetik akibat yang sebaliknya. Oleh karena itu Allah berfirman, “Itulah pokok pokok isi al-Qur’an. “Yaitu pokok yang menjadi rujukan ketika menemukan kesamaran. “Dan yang lain adalah (ayat-ayat) mutasyaabihaat. ” Di mana kandungan yang dimaksud oleh ayat yang mutasyaabihaat ini sesuai dengan makna yang ada pada ayat yang muhkam, sebab terkadang kesamarannya itu dari segi lafazh dan susunannya saja, bukan dari segi maknanya.
   
     Para ulama telah berbeda pendapat mengenai pengertian ayat-ayat muhkamaat dan ayat-ayat mutasyaabihaat ini. Banyak ungkapan mengenai hal ini yang diriwayatkan dari para ulama Salaf. ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayat-ayat muhkamaat itu adalah ayat-ayat yang menasakh, ayat-ayat mengenai halal dan haram, huduud (hukuman), hukum-hukum, apa yang diperintahkan dan apa yang harus dikerjakan. Dan dikatakan pula mengenai ayat-ayat mutasyaabihaat; yaitu yang dinasakh, didahulukan, diakhirkan, perumpamaan-perumpamaan, sumpah, dan apa yang harus dipercayai tetapi bukan hal yang diamalkan. Ada juga yang berpendapat bahwa ayat mutasyaabihaat adalah huruf-huruf yang terpotong di awal-awal surat.
      Demikian pendapat yang dikemukakan oleh Muqatil bin Hayyan. Dengan demikian, ayat-ayat mutasyaabihaat adalah lawan dari ayat-ayat muhkamaat. Dan pendapat yang paling baik adalah yang akan segera kami kemukakan, yaitu yang diungkapkan oleh Muhammad bin Ishaq bin Yasar ketika dia mengatakan, “Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat,” maka ayat-ayat muhkamaat itu adalah hujjah Allah, pegangan bagi hamba, dan penolak bantahan yang bathil. Ayat-ayat yang tidak mengenal tashrif (penyimpangan) dan tahrif (perubahan) dari apa yang telah ditetapkan atasnya. Lebih lanjut, Muhammad bin Ishaq bin Yasar berkata, “Ayat-ayat mutasyaabihaat dalam hal kebenaran itu tidak boleh ada tashrif, tahrif dan takwil di dalamnya.
     Dengan ini Allah menguji hamba-hamba-Nya sebagaimana Dia telah menguji mereka dalam masalah halal dan haram. Agar dengan demikian, benar-benar ayat-ayat tersebut tidak disimpangkan kepada (sesuatu) yang bathil dan tidak pula dirubah dari kebenaran.dari ayat ini jelas bahawa ayat ayat muhkamaat menjadi hujah hujah ulamat tafsir dan para daie daie di seluruh dunia agar mereka dapat menyampaikan dengan pengertian yang sebenar benar yang di maksut kan dalam ayat tersebut .,,. ayat ayat kesamaran ini jua sebagai mana menyebut cahaya di atas cahaya allah bersemayam di atas aras nya ,sebagai mana dalam surah israq dan surah an-nur yang mana allah berfirman .Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis),sebagai mana ayat allah berupa cahaya ayat allah bersemayam di atas aras jua menjadi hujah dan perbincangan para fucorak dan ulamak tafsir agar bersesuaian dengan kehendak dan ada yang mentafsir dengan keingginan allah ,. Ayat ini wajib ditafsirkan dengan selain bersemayam, duduk dan semacamnya. Bahkan orang yang meyakini demikian hukumnya kafir. Berarti ayat ini tidak boleh diambil secara zhahirnya tetapi harus dipahami dengan makna yang tepat dan dapat diterima oleh akal. Bisa dikatakan bahwa makna lafazh istiwa’ di sini adalah al Qahr, menundukkan dan menguasai. Dalam bahasa Arab dikatakan : استوى فلان على الممالك Jika dia berhasil menguasai kerajaan, memegang kendali segala urusan dan menundukkan orang, seperti dalam sebuah bait syair : قَدْ اسْتَوَى ِبشْرٌ عَلَى الْعِرَاقِ مِنْ غَيْرِ سَيْفٍ وَدَمٍّ مهْرَاقِ “Bisyr telah menguasai Irak, tanpa senjata dan pertumpahan darah“. Sedangkan faedah disebutkannya ‘arsy secara khusus adalah bahwa ‘arsy merupakan makhluk Allah yang paling besar bentuk dan ukurannya. Ini berarti tentunya makhlukmakhluk yang lebih kecil dari ‘arsy termasuk di dalamnya.

    Sayyidina Ali Karromallohu Wajhah mengatakan : إنّ الله خلق العرش إظهارا لقدرته ولم يتّخذه مكانا لذاته “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘arsy (makhluk Allah SWT yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya“. Diriwayatkan oleh AbuManshur at-Tamimi, seorang imam serta pakar hadits, fiqhdan bahasa dalam kitabnya at-Tabshirah.Ayat ini juga boleh ditafsirkan bahwa “Allah SWT memilikisifat istiwa’ yang diketahui oleh-Nya, disertai keyakinanbahwa Allah SWT maha suci dari istiwa’-nya makhluk yangbermakna duduk, bersemayam dan semacamnya”.tujuh ayat Al-Quran, yaitu Surat Al-A’raf: 54, Yunus: 3, Ar-Ra’d: 2, Al-Furqan: 59, As-Sajdah: 4 dan Al-Hadid: 4, semuanya dengan lafazh: ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ Artinya: “Kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).” Dan dalam Surat Thaha 5 dengan lafazh: الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى Artinya: “Yang Maha Penyayang di atas ‘Arsy (singgasana) berada.” Ketahuilah bahwa harus diwaspadai orang-orang yang menyandangkan sifat duduk dan bersemayam di atas ‘arsy. dalam ayat ini allah menjelas kan tentang cahaya allah dan nur muhamat dalam bentuk contek cahaya allah, sebagai mana jelas bahawa banyak para daie dan tabien dan ulamak tafsir mentafsir mengikut apa yang bersesuaiyan dengan apa yang mereka ingginkan dan tak kurang jua yang mentafsir mengikut apa yang sebenar benar nya allah inggin sampai kan .,., sebagai mana jelas rasulullah dalam hadis Imam Ahmad meriwayatkan, Abu Kamil telah menceritakan kepada kami, Hammad menceritakan kepada kami, dari Abu Ghalib, di mana ia berkata, aku pernah mendengar Abu Umamah menyampaikan sebuah hadits dari Nabi, mengenai firman Allah Ta’ala, “Adapun orang-orang yang di dalam hatinya cenderung kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian dari ayat-ayat yang mutasyaabihaat,” beliau mengatakan: “Mereka itulah golongan Khawarij.” Dan juga mengenai firman-Nya, “Pada hari yang pada waktu itu ada muka yang putih berseri dan ada pula muka yang hitam muram.” (QS. Ali-‘Imran: 106) Beliau mengatakan: “Mereka (muka yang hitam muram) itulah golongan Khawarij.”

    Dan di antarapara qurra’ ada yang berpendapat bahwa waqaf itu pada kata “war raasikhuuna fil ‘ilmi”. Pendapat mereka ini diikuti oleh banyak ahli tafsir dan ahli ilmu ushuulul fiqh. Mereka mengatakan: “Suatu percakapan yang tidak dapat difahami adalah hal yang tidak mungkin.” Ibnu Abi Najih telah meriwayatkan dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa is berkata: “Aku termasuk salah seorang yang mendalami ilmu (raa-sikhun) yang mengetahui takwilnya.” Dan orang-orang yang mendalami ilmu (raasikhuun) mengatakan: “Kami beriman kepadanya.” Kemudian mereka mengembalikan takwil ayat-ayat mutasyaabihaat kepada apa yang mereka ketahui dari takwil ayat-ayat muhkamaat yang mana tidak ada seorang pun yang mentakwil kecuali takwil yang sama. Maka dengan pendapat mereka, serasilah seluruh isi al-Qur’an yang mana sebagian ayat membenarkan sebagian lainnya. Dengan demikian, hujjah menjadi tegak berdiri dan alasan pun tidak bisa diterima, sedang kebathilan tersingkir, dan kekufuran pun tertolak. Dalam sebuah hadits, Rasulullah pernah mendo’akan Ibnu ‘Abbas: “Ya Allah, berikanlah pemahaman kepadanya mengenai masalah agama dan ajarkanlah takwil (tafsir) kepadanya.” (Diriwayatkan Imam oleh al-Bukhari dalam kitab Fadhaailush Shahaabah, dan diriwayatkn pula oleh Imam Ahmad). Di antara para ulama ada yang memberikan uraian rinci mengenai hal ini. Mereka mengatakan: “Takwil itu mengandung pengertian umum, sedangkan di dalam al-Qur’an mengandung dua makna. Salah satunya ialah takwil yang berarti hakikat sesuatu dan apa yang permasalahannya dikembalikan kepadanya,

Rabu, 24 Januari 2018

tafsir ayat 5-6 ali imran,..

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
      Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 5 Innalla_ha la_ yakhfa_ 'alaihi syai'un fil ardi wa la_ fis sama_'(i).Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 6 .Huwal lazi yusawwirukum fil arha_mi kaifa yasya_'(u), la_ ila_ha illa_ huwal 'azizul hakim(u). إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ { هُوَ الذي يُصَوِّرُكُمْ فِي الأرحام كَيْفَ يَشَاءُ } من ذكورة وأنوثة وبياض وسواد وغير ذلك { لاَ إله إِلاَّ هُوَ } في ملكه { العليم الحكيم } في صنعه
      TERJEMAHAN MELAYU; Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.. Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali ‘Imraan: 5-6)
      TAFSIR MELAYU;AYAT5-6 Disebutkan hanya bumi dan langit, karena penglihatan manusia tidak dapat melebihinya.sebagai mana penglihatan rasulullah ketika di malam israq wal midraq , rasulullah menghadap allah dan kelihatan jelas wajjah allah namun penglihatan seorang hamba yakni insan terbatas sebagai mana melihat matahari yang terang bersinar pun penglihatan manusia terbatas dari kemampuan .,., jelas sekali ayat ini menerangkan bahawa tiada sesuatu mahluk yang ujud melaikan dia lah allah yang ujud di sebalik segala sesuatu pergerakan penglihatan pendengaran dan setiap detik dan saat waktu hanya bagi nya lah allah penentu takdir tiap mahluk ciptaan nya .,,. sebaik dari sebesar zarah hingga sebesar besar mahluk ,. sebaik baik mahluk bejirim ketulan hingga mahluk beraqrod anggin atau cahaya,..,,. namun apa yang jelas pada ayat ali imran ke5ini allah inggin menyatakan bahawasanya allah adalah tempat pengaduan tempat meminta tem pat penggan tugan tiap mahluk baik di langgit atau di bumi,. sebagai mana penjelasan hadis di bawah bersa bda rasulullah sawt; Untuk memahami konsep takdir, jadi umat Islam tidak dapat melepaskan diri dari dua dimensi pemahaman takdir.
          TERJEMAHAN MELAYU MENURUT HADIS;AYAT5-6;-Kedua dimensi dimaksud ialah dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan Pada masa nubuah,wujud"Lauh"yang dikenal oleh para sahabat adalah sebidang papan atau tulang yang biasa ditulisi.Papan dan tulang itu hanya disebut Lauh jika sudah ditulisi.Sedangkan "Qalam"adalah alat tulis atau pena. Pada masa itu"Qalam"berupa bulu unggas yang dipakai untuk menulis setelah dicelupkan ke tinta terlebih dahuluatau sebatang ranting/ kayu yang diruncingkan untuk mengores "Lauh". Demikianlah penggambaran yang diberikan oleh Ibnu Manzhur dalam kitab "Lisanul Arab". Mengenai Lauh Mahfuzh (Lauh yang selalu dijaga) dan pena yang telah menulisinya ada sebuah atsar marfu'dari Ibnu 'Abbas .Beliau berkata,"sesungguhnya Allah menciptakan Lauh Mahfuzh dari mutiara putih. Kedua sampulnya dari permata yaqut merah.Qalamnya adalah cahaya,tulisanya adalah cahaya, dan lebarnya sejarak antara langit dan bumi," Tulisan pada Lauh Mahfuzh Takdir Allah untuk setiap dan semua mahluk bresifat azali. Sebelum Allah menciptakan semua mahluk-temasuk Qalam dan Lauh Mahfuzh-Allah sudah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh setiap makhluk. Kemudian pada masa 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi Allah mencitakan Qalam,lalu diperintahkanya Qalam untuk menulis semua takdir. Hal ini dapat kita pahami dari kedua hadist berikut ini: "Allah menulis takdir pada mahkluk 50.000 tahun sebelum diciptakanya semua langit dan bumi."(H.R.Muslim dari Abdullah bin 'Amru bin 'Ash) "mahluk kedua setelah nur muhamat yang diciptakan oleh Allah adalah pena (qalam).Allah berfirman,'Tulislah!'Pena(qalam) menjawab,'Apa yang aku tulis?'Allah berfirman,'Tulislah takdir yang telah terjadi dan akan terjadi selamanya!'."(H.R.at-Tirmidziy dan dinyatakan shahih oleh al-Albaniy) Hal ini juga telah Allah terangkan di dalam al-Qur'an. Allah berfirman, "Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kamami menciptakanya.Sesungguhnya Allah mengetahuinya apa saja yang ada dilangit dan dibumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh).Sesungguhya yang demikian itu amat mudah bagi Allah."(Q.S.al-Hajj:70) Apa yand terjadi diseluruh alam dijadikan oleh Allah dengan iradah dan masyiah-Nya yang berporos pada rahmat dan hikmah-Nya. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki tersesat dengan hikmahNya.semua itu dan semua takdir telah ditulis didalam Lauh Mahfuzh.tidak ada seorang pun yang terlewatkan.Apa yang telah terjadi dan akan terjadi sampai hari kiamat. Dan saat kejadianya,semuanya persis seperti apa yang tertulis disana. Tidak sesuatu pun yang bergeser.Ini adalah bukti kesempurnaan ilmu,kuasa dan hikmah Allah. Memahami Takdir Illahi sebagai mana penjelasan ayat ali imran 5. Di dalam memahami takdir Illahi, setiap manusia harus merujuk pada apa yang terdapat dalam Rukun Iman yang telah di paparkan dalam Hadis Rasulullah Saw yakni Percaya pada Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari akhir dan percaya pada Qada dan Qadar-Nya. Keenam poin yang termaktup dalam Rukun Iman di atas harus kita yakini seyakin-yakinya, guna melahirkan dan menumbuhkan ketabahan dan kesabaran yang penuh di dalam menerima ujian dan cobaan dari Allah Swt, karena tidak ada manusia yang tidak luput dari cobaan dan ujian. Dan mewujudkan kepercayaan yang tinggi bahwa dalam penciptaan manusia, Allah Swt menetapkan apa yang di sebutkan agama dengan langkah, rezeki, pertemuan dan maut. Serta segala sesuatu yang baik ( kenikmatan ) atau segala sesuatu yang buruk (bencana maupun musibah). Lima poin di atas kebanyakan dari manusia khususnya manusia muslim mungkin sudah bisa merealisasikanya dengan baik dan benar melalui amal ibadah kita sehari-hari. Apakah itu amalan yang di kerjakan secara munfarit (sendiri) atau berjamaah, saling sehat-menasehati dan menaburkan kebaikan yang kesemuanya itu terangkum dalam ber-Amar Makruf dan ber-Nahi Mungkar. Dengan satu pengharapan, keridhoan dan pahala dari Allah Swt. Lalu bagaimana dengan poin ke enam mengimani dan mempercayai adanya takdir dalam bentuk Qada & Qadar yang di voniskan Allah Pada umat manusia?, bagaimana pula kita memahami dan mengimaninya ? sehingga apapun bentuk takdir apakah itu baik atau buruk, rasa syukur dan optimis tetap di terapkan dalam hidup dan kehidupan ini, dengan satu tekad Allah pun pasti memberikan jalan keluarnya. Mengimani takdir Ilahi atau Qada & Qadar akan memberikan pelajaran pada manusia, bahwa segala sesuatu yang telah dan yang akan terjadi di jagat raya ini sudah sesuai dengan kebijaksanaan yang telah di gariskan oleh zat yang maha tinggi. Sebagai muslim sejati kita dituntut untuk mentaati, menerima dan mematuhi. Seperti yang di firmankan Allah Swt dalam Qs Al Ahzab-36 “ Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak pula bagi perempuan mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia berada dalam kesesatan yang nyata “ pengajaran dan pegertian dari ayat ini jelas sebagai mana Allah mengabarkan bahwa Dia mengetahui apa yang tersembunyi di langit dan bumi. Tidak ada sesuatupun yang ada di antara keduanya yang tersembunyi dari-Nya. Huwalladzii yusharwwirukum fil arhaami kaifa yasyaa-u (“Dialah yang membentukmu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya.”) yakni menciptakan kalian dalam rahim seperti yang Dia kehendaki, baik laki-laki maupun perempuan, bagus maupun jelek, celaka [sengsara] maupun bahagia. Laa ilaaHa illaa Huwal ‘aziizul hakiim (“Tidak ada ilah [yang berhak diibadahi] melainkan Dia. yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”) artinya, Dia lah yang menciptakan dan hanya Dia lah yang berhak untuk diibadahi, tiada sekutu bagi-Nya. Dia yang mempunyai keperkasaan yang tidak terjangkau dan memiliki hikmah serta hukum. Di dalam ayat ini [telah] tersirat bahwa jelas sekali menunjukkan bahwa ‘Isa bin Maryam as. adalah hamba yang diciptakan, sebagaimana Allah telah menciptakan seluruh umat manusia, karena Dia telah membentuknya dalam rahim dan menciptakannya sesuai dengan yang dikehendak-Nya, maka bagaimana mungkin dia menjadi ilah [sesembahan] sebagaimana anggapan orang Nasrani –laknat Allah atas mereka–. Sesungguhnya ia telah mengalami proses pertumbuhan dalam rahim ibunya dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain, sebagaimana firman Allah: yakhluqukum fii buthuuni ummaHaatikum khalqam mim ba’di khalqin fii dhulumaatin tsalaats (“Dia telah menciptakanmu di dalam perut ibumu, ciptaan demi ciptaan dalam tiga kegelapan.”) (az-Zumar: 6)

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN