Ahad, 7 Oktober 2018

AYAT 1-3

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK ''
 SURAH QALAM AYAT 1-3
                      Surah ini populer dengan nama Surah al-Qalam atau Surah Nun ada juga yang menggabung kedua kata itu yaitu Surah Nun Wal Qalam. Mayoritas ulama menyatakan bahwa keseluruhan ayat-ayatnya adalah Makkiyah, diturunkan sebelum Nabi saw. berhijrah ke Madinah. Sebagian ulama dengan mengutip Riwayat Ibn ‘Abbas r.a menyatakan bahwa awal surah ini sampai ayat 16 adalah Makkiyah, lalu ayat 17 sampai ayat 33 adalah Madaniyyah, selanjutnya ayat 34 sampai 47 adalah Makkiyah lagi, dan selebihnya ayat 48 sampai 50 adalah Madaniyyah lagi. Isu sentral surah ini sebagai hiburan terhadap Nabi saw. setelah beliau dihina oleh kaum musyrikin sebagai orang gila. Dengan surah ini Allah swt. Menenangkan hati beliau melalui janji serta pujian atas akhlak mulia beliau sambil mengingatkan agar tidak mengikuti keinginan kaum musyrikin atau melunakkan sikap dalam menghadapi mereka. Sahabat Nabi saw., Jabir Ibn Abdillah ra. menyatakan bahwa surah al-Qalam adalah surah kedua yang diterima Nabi saw., setelahnya surah al-Muzzammmil baru al-Muddatstsir.

   Al Qalam – القلم 1
 nuun waalqalami wamaa yasthuruuna 2.
 maa anta bini’mati rabbika bimajnuunin 3.                
                                            Ayat 1-15 dari surah Al-Qalam ini menjelaskan, Allah bersumpah bahwa Nabi saw. bukanlah gila. Beliau mendapat pahala yang tidak terputus dan memiliki akhlak yang agung, yakni akhlak Qur’ani. Suatu hari akan diketahui siapa yang sesat dan siapa yang mendapat petunjuk Allah. Dalam berdakwah, tidak boleh mengikuti keinginan orang yang menentang, mencela, memprovokasi, menghalangi dakwah dan memiliki sifat buruk lainnya, kendati mereka memiliki harta dan pengikut yang banyak. Mereka selalu merendahkan dan menolak isi Al-Qur’an. bahkan menuduh Al-Qur’an itu kitab dongeng.\

             bismillaaHir rahmaanir rahiim (“Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang”) “1. Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis, 2. berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.

        Mengenai huruf hijaiyah telah dijelaskan di dalam surah al-Baqarah. Firman Allah: wal qalami (“Demi kalam”) secara lahiriyah,firman Allah Swt., "Nun, " sama dengan Shad. Qaf, dan lain sebagainya dari huruf-huruf terpisah yang mengawali surat-surat Al-Qur'an. Dan mengenai penjelasan tentang hal ini sudah cukup dikemukakan dalam tafsir surat Al-Baqarah, hingga tidak perlu diulangi lagi. tampak bahwa ia sejenis dengan pena yang dipergunakan untuk menulis.sebagai mana huruf huruf yang terdapat dalam surah al-quran huruf nun dalam permulaan surah qalam adalah nur yang mana allah ciptakan seawal mahluk sebelum qalam menulis nun di sini berupa nur muhamat yang mana menjadi tinta bagi qalam menulis setiap takdir seawal masa azali sehingga mana akhir zaman kiamat,.,.
          nun di sini adalah huruf nur yakni cahaya di bawah cahaya illah,.,. sebagai mana ulamak ulmak tafsir menghuraikan nun di sini sebagai mana riwayat riwayat hadis dan pandagan ulamak tafsir,.,. Menurut suatu pendapat, nun adalah nama seekor ikan yang amat besar berada di atas lautan air yang sangat luas, dialah yang menyangga tujuh lapis bumi, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Abu Ja'far ibnu Jarir yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Yahya, telah menceritakan kepada kami Sufyan As-Sauri, telah menceritakan kepada kami Sulaiman alias Al-A'masy, dari Abu Zabyan, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa yang mula-mula diciptakan oleh Allah adalah Al-Qalam. Allah berfirman, "Tulislah!" Qalam bertanya, "Apakah yang harus aku tulis?" Allah Swt. berfirman, "Tulislah takdir." Maka Qalam mencatat semua yang akan terjadi sejak hari itu sampai hari kiamat.setelah selesai qalam menulis maka terhentilah penulisan qalam dan menunduk sujud pada illah dzat yang maha qadim,..Kemudian Allah menciptakan nun dan menaikkan uap air; maka terciptalah darinya langit, dan terhamparlah bumi di atas nun. Lalu nun bergetar, maka bumi pun terhampar dengan luasnya, lalu dikukuhkan dengan gunung-gunung. Sesungguhnya nun itu benar-benar merasa bangga terhadap bumi. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, dari Ahmad ibnu Sinan, dari Abu Mu'awiyah, dari Al-A'masy dengan sanad yang sama. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Syu'bah, Muhammad ibnu Fudail dan Waki', dari Al-A'masy dengan sanad yang sama. Dan Syu'bah dalam salah satu riwayatnya menambahkan bahwa lalu Ibnu Abbas membaca firman-Nya: Nun, demi qalam dan apa yang mereka tulis. (Al-Qalam: 1) Syarik telah meriwayatkannya dari Al-A'masy ibnu Abu Zabyan atau Mujahid, dari Ibnu Abbas, lalu disebutkan hal yang semisal. Ma'mar meriwayatkannya dari Al-A'masy, bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakannya, kemudian ia membaca firman-Nya: Nun, demi qalam dan apa yang mereka tulis. (Al-Qalam: 1) Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Ata, dari AbudDuha, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa sesungguhnya sesuatu yang mula-mula diciptakan oleh Tuhanku adalah Al-Qalam. Kemudian Allah berfirman kepadanya,

            'Tulislah" Maka qalam menulis segala sesuatu yang akan terjadi sampai hari kiamat. Kemudian Allah menciptakan nun di atas air, lalu meletakkan bumi di atasnya. Imam Tabrani telah meriwayatkan hal ini secara marfu'. Untuk itu ia mengatakan: حَدَّثَنَا أَبُو حَبِيبٍ زَيْدُ بْنُ الْمُهْتَدِي الْمَرُّوذِيُّ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ يَعْقُوبَ الطَّالَقَانِيُّ، حَدَّثَنَا مُؤَمَّل بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ أَبِي الضُّحَى مُسْلِمِ بْنِ صَبِيح، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمُ وَالْحُوتُ، قَالَ لِلْقَلَمِ: اكْتُبْ، قَالَ: مَا أَكْتُبُ، قَالَ: كُلَّ شَيْءٍ كَائِنٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ". ثُمَّ قَرَأَ: {ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ} فَالنُّونُ: الْحُوتُ. وَالْقَلَمُ: الْقَلَمُ telah menceritakan kepada kami Abu Habib alias Zaid ibnul Mahdi Al-Marwazi, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Ya'qub At-Taliqani, telah menceritakan kepada kami Mu'ammal ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kaini Hammad ibnu Zaid, dari Ata ibnus Sa-ib, dari AbudDuha alias Muslim ibnu Sabih, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Sesungguhnya makhluk yang mula-mula diciptakan oleh Allah adalah Al-Qalam dan al-hut (ikan yang sangat besar). Allah berfirman kepada qalam, "Tulislah!" Qalam bertanya, "Apakah yang harus aku tulis?” Allah berfirman, "Segala sesuatu yang akan terjadi sampai hari kiamat.” Kemudian Nabi Saw. membaca firman-Nya: Nun, demi qalam dan apa yang mereka tulis. (Al-Qalam; 1) Nun adalah ikan yang sangat besar, sedangkan al-qalam adalah qalam (pena). Seperti pada firman Allah yang artinya: “Bacalah, dan Rabb-mu lah yang Paling Pemurah yang mengajarkan [manusia] dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (al-‘Alaq: 3-5). Yang demikian itu merupakan sumpah dari Allah Ta’ala sekaligus peringatan bagi makhluk-Nya atas apa yang telah Dia anugerahkan kepada mereka, berupa pengajaran tulis-menulis yang dengannya ilmu pengetahuan diperoleh. Oleh karena itu Dia berfirman: wa maa yasthuruuna (“dan apa yang mereka tulis.”) Ibnu ‘Abbas, Mujahid, dan Qatadah mengatakan: “Yakni, apa yang mereka tulis.” Abudh dhuha menceritakan dari Ibnu ‘Abbas: “Wamaa yasthuruuna; berarti dan apa yang mereka kerjakan.” Firman Allah: maa anta bini’mati rabbika bimajnuuni (“Berkat rahmat Rabbmu, kamu [Muhammad] sekali sekali bukan orang gila.”) maksudnya alhamdulillah engkau bukanlah seorang yang tidak waras seperti yang dikatakan oleh orang bodoh dari kaummu yang mendustakan apa yang engkau bawa kepada mereka, berupa petunjuk dan kebenaran yang nyata, sehingga mereka menyebut dirimu gila karenanya.

Khamis, 4 Oktober 2018

ISI KANDUGAN SURAH QALAM,.

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH Al-Qalam.
Informasi Arti Pena Nama lain Nun

[1] Klasifikasi Makkiyah Surah ke 68
Juz Juz 29 Statistik Jumlah ruku' 2 ruku' Jumlah ayat 52 ayat Surah Al-Qalam

(Arab: القلم ,"Kalam") adalah surah ke-68
dalam al-Qur'an. Surah ini tergolong surah Makkiyah,
yang terdiri atas 52 ayat.

Dinamakan Al Qalam’ yang berarti pena di ambil dari kata Al Qalam yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Surat ini dinamai pula dengan surat Nun

(huruf nun) diambil dari perkataan ’’Nun’’ yang terdapat pada ayat 1 surat ini. Terjemahan Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Nun, demi pena beserta hal yang mereka tulis; atas karunia Tuhanmu, kamu bukanlah orang gila; melainkan untuk dirimu sungguh disediakan upah yang tiada henti, serta dirimu merupakan sosok yang diagungkan, tentulah kelak kamu akan mengetahui, serta mereka pun akan mengetahui, siapa di antara kalian yang gila.

 (Ayat: 1-6) Bahwasanya Tuhanmu, Dialah Yang Maha Mengetahui siapa yang sesat terhadap JalanNya; serta Dialah Yang Maha Mengetahui tentang golongan yang terbimbing. (Ayat: 7) Maka janganlah kamu menuruti golongan yang mendustakan; mereka ingin supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak pula, serta janganlah kamu menuruti setiap orang yang memaki, orang yang melecehkan seraya berkeliaran menghambur ejekan, orang yang menghalangi kebajikan, orang yang melampaui batas serta penuh dosa juga keras kepala, demikianlah watak orang itu akibat mempunyai harta benda maupun anak-anak; apabila disampaikan kepada orang itu tentang ayat-ayat Kami, orang itu mengatakan: "riwayat orang dahulu." kelak akan Kami beri tanda pada belalainya.

(Ayat:8-16) Sungguh Kami telah menguji orang-orang tersebut sebagaimana Kami telah menguji para pemilik kebun yang telah berikrar bahwa mereka pasti memanen di esok pagi sementara mereka tidak waspada lalu hal demikian itu dihantam Azab dari Tuhanmu sewaktu mereka sedang tidur, sehingga kebun itu menjadi lenyap serta tandus. lalu mereka bercakap-cakap di keesokan pagi: "Bergegaslah di pagi ini jika kalian hendak memanen" kemudian mereka berangkat sambil saling berbisik: "Hari ini jangan sampai ada orang miskin yang memasuki kebun kalian" maka bergegaslah mereka untuk menghalangi. Tatkala mereka melihat hal demikian itu, mereka mengatakan: "kita memang orang-orang sesat, sebaliknya, justru kita sendiri yang dihalangi." berkatalah seorang yang bijak dari mereka: "Bukankah aku telah mengatakan kepada kalian, kiranya kalian berhati-hati" kemudian mereka berseru: "Dipermuliakanlah Tuhan kita, sungguh kita ini golongan yang zalim" lalu mereka saling menyalahkan, mereka mengatakan: "Celakalah kita, sesungguhnya kita merupakan golongan yang zalim! semoga Tuhan kita memberi ganti untuk kita dengan hal yang lebih baik daripada yang demikian ini; sungguh kita berbalik mengandalkan Tuhan kita." seperti itulah Azab, sesungguhnya Azab Akhirat merupakan lebih pedih sekiranya mereka mengetahui; bahwasanya untuk golongan bertakwa disediakan Surga-Surga penuh keberkatan di sisi Tuhan mereka.

(Ayat:17-34) Apakah Kami memperlakukan golongan yang berserah diri setara dengan golongan yang berdosa? namun tidak berlaku untuk kalian? bagaimana cara kalian menetapkan hukum? ataukah kalian mempunyai sebuah kitab yang kalian anut, yang berisi bahwa kalian berhak menetapkan apapun yang kalian kehendaki sendiri ? ataukah kalian memperoleh izin yang diperkuat sumpah Kami sampai Hari Kebangkitan bahwa kalian layak menetapkan hukum? pertanyakan kepada mereka, siapakah yang bertanggung jawab terhadap ketetapan hukum itu!" atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? maka hadirkan sekutu-sekutu mereka itu jika mereka memang golongan yang sanggup!. ketahuilah bahwa pada hari ketika betis disingkapkan, serta mereka diperintah supaya merendah diri namun mereka terdiam tiada berdaya, pandangan mereka tunduk ke bawah, serta mereka diliputi aib; sebab sebelumnya mereka diperintah untuk merendah diri sewaktu mereka dalam keadaan sanggup; Maka serahkan kepada Aku tentang orang-orang yang mendustakan perkataan ini; kelak Kami yang menumpas mereka secara perlahan dari arah yang tidak mereka duga-duga, bahwa Akulah yang menangguhkan mereka, sungguh RencanaKu merupakan Kemutlakan.

(Ayat:35-45) Ataukah kamu meminta upah kepada mereka? sehingga mereka dibebani hutang; ataukah berada pada mereka, ilmu tentang perkara ghaib lalu mereka menuliskannya? Maka bersabarlah dirimu terhadap Ketetapan Tuhanmu, serta janganlah dirimu menyerupai orang yang berada dalam ikan ketika ia berdoa sewaktu ia dalam keadaan berduka, sekiranya ia tidak memperoleh karunia dari Tuhannya, tentu ia dicampakkan ke daratan tandus dalam keadaan tercela; Namun Tuhannya memilih ia serta menjadikan ia termasuk golongan shaleh. (Ayat:46-50) Bahwa sungguh orang-orang kafir hampir memperdaya dirimu melalui pandangan mereka sewaktu orang-orang itu mendengar pengajaran; serta orang-orang itu mengatakan: "ia benar-benar orang gila," akan tetapi hal demikian ini tidak lain merupakan sebuah pengajaran untuk semesta alam. (Ayat:51-52)

Isnin, 1 Oktober 2018

AYAT 121-123

TAFSIR QURQN DQN HADIS TABARUK'
SURAH HUD 121-123
BISMILLAHIRAHMANIRAHIM'
121. waqul lilladziina laa yu/minuuna i’maluu ‘alaa makaanatikum innaa ‘aamiluuna 122. waintazhiruu innaa muntazhiruuna 123. walillaahi ghaybu alssamaawaati waal-ardhi wa-ilayhi yurja’u al-amru kulluhu fau’budhu watawakkal ‘alayhi wamaa rabbuka bighaafilin ‘ammaa ta’maluuna

{وَقُلْ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنَّا عَامِلُونَ (121) وَانْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ (122) }{وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الأمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (123) }

 Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman, "Berbuatlah menurut kemampuan kalian, sesungguhnya kami pun berbuat (pula).” Dan tunggulah (akibat perbuatan kalian), sesungguhnya kami pun menunggu (pula).”Dan kepunyaan Allah-lah apa yang gaib di langit dan di bumi dan kepada-Nyalah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kalian kerjakan.

 Allah Swt. berfirman memerintahkan kepada Rasul-Nya agar mengatakan kepada orang-orang yang tidak beriman kepada apa yang telah disampaikan olehnya dari Tuhannya dengan nada ancaman: {اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ} Berbuatlah menurut kemampuan kalian. (Hud: 121)

 Yakni menurut cara dan metode kalian sendiri. {إِنَّا عَامِلُونَ} sesungguhnya kami pun berbuat (pula). (Hud: 87) Yaitu menurut cara dan metode Kami sendiri. {وَانْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ} Dan tunggulah (akibat perbuatan kalian); sesungguhnya kami pun menunggu (pula)." (Hud: 122)

Dengan kata lain seperti apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lainnya, yaitu: فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ Kelak kalian akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapat keberuntungan. (Al-An'am: 135)

Allah menunaikan kepada Rasul-Nya janji yang telah diutarakan-Nya, dan Allah mendukungnya serta menjadikan kalimah-Nya tinggi dan menjadikan kalimah orang-orang yang kafir rendah dan hina. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. وَلِلَّهِ غَيْبُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ ٱلْأَمْرُ كُلُّهُۥ فَٱعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (Hud 11:123)

Maksudnya, tiada sesuatu pun yang samar dari apa yang disembunyikan oleh orang-orang yang mendustakanmu, hai Muhammad. Bahkan Dia Maha Mengetahui semua sikap dan ucapan mereka. Maka kelak Dia akan memberikan balasannya kepada mereka dengan balasan yang sempurna di dunia ini dan di akhirat nanti mereka dengan balasan yang sempurna di dunia ini dan di akhirat nanti. Dan Allah akan menolongmu bersama golonganmu dalam menghadapi mereka di dunia dan akhirat.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Waki', telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Hubab, dari Ja'far ibnu Sulaiman, dari Abu Imran Al-Jauni, dari Abdullah ibnu Rabah, dari Ka'b yang telah mengatakan bahwa penutup kitab Taurat sama dengan penutup surat Hud.
 «ولله غيب السماوات والأرض» أي علم ما غاب فيهما «وإليه يَرجع» بالبناء للفاعل يعود وللمفعول يرد «الأمر كله» فينتقم ممن عصى «فاعبده» وحده «وتوكل عليه» ثق به فإنه كافيك «وما ربك بغافل عما يعملون» وإنما يؤخرهم لوقتهم وفي قراءة بالفوقانية. (Dan kepunyaan Allahlah apa yang gaib di langit dan di bumi) artinya Allah mengetahui semua yang samar atau yang gaib di dalam keduanya (dan kepada-Nyalah dikembalikan) jika dibaca yarji'u artinya sama dengan lafal ya'uudu yaitu kembali.

Jika dibaca yurja'u maka artinya sama dengan lafal yuraddu yaitu dikembalikan (urusan-urusan semuanya) oleh sebab itu Dia menghukum orang-orang yang durhaka terhadap-Nya (maka sembahlah Dia) artinya esakanlah Dia (dan bertawakallah kepada-Nya) artinya percayalah kepada-Nya karena sesungguhnya Dialah yang mencukupimu. (Dan sekali-kali Rabbmu tidak lalai dari apa yang mereka kerjakan) sesungguhnya Dia sengaja menangguhkan mereka hanya sampai pada saatnya nanti. Menurut suatu qiraat lafal ya'maluuna dibaca ta`maluuna, artinya yang kalian kerjakan. (Tafsir Al-Jalalain, Hud 11:123)


Surah Hud Daripada Wikipedia,   Surah Huud (سورة هود) adalah surah ke-11 dalam Al Qur'an dan termasuk golongan surah-surah Makkiyyah. Surah ini terdiri daripada 123 ayat diturunkan sesudah surah Yunus. Surah ini dinamai surah Huud kerana ada hubungannya dengan terdapatnya kisah Nabi Huud a.s. dan kaumnya dalam surah ini terdapat juga kisah-kisah Nabi yang lain, seperti kisah Nuh a.s., Saleh a.s., Ibrahim a.s., Luth a.s., Syuaib a.s. dan Musa a.s.

       Isi kandungan Keimanan: Adanya 'Arasy Allah; kejadian alam dalam 6 tahap; adanya golongan-golongan manusia di hari kiamat. Hukum-hukum: Agama membolehkan berhias dan memakai perhiasan asalkan tidak berlebih-lebihan; tidak boleh berkelakuan sombong; tidak boleh mendoa atau mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin menurut sunnah Allah. Kisah-kisah: Kisah Nuh a.s. dan kaumnya; kisah Huud a.s. dan kaumnya; kisah Soleh a.s. dan kaumnya; kisah Ibrahim a.s. dan kaumnya; kisah Syuaib a.s. dan kaumnya; kisah Luth a.s. dan kaumnya; kisah Nabi Musa a.s. dan kaumnya. Dan lain-lain: Pelajaran-peIajaran yang diambil dari kisah-kisah para nabi; air sumber segala kehidupan; solat itu memperkuat iman; sunnah Allah yang berhubungan dengan kebinasaan suatu kaum.

WALLAHUAKLAM.,., 

Sabtu, 29 September 2018

AYAT 120

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH HUD ''
BISMILLAHIRAHMANIRAHIM''
120. wakullan naqushshu ‘alayka min anbaa-i alrrusuli maa nutsabbitu bihi fu-aadaka wajaa-aka fii haadzihi alhaqqu wamaw’izhatun wadzikraa lilmu/miniina
{وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ (120) }

Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. Allah Swt. menyebutkan bahwa semua kisah para rasul terdahulu bersama umatnya masing-masing sebelum engkau (Muhammad) Kami ceritakan kepadamu perihal mereka. Juga perihal pertentangan dan permusuhan yang dilancarkan oleh mereka terhadap nabinya masing-masing, dan pendustaan serta gangguan mereka yang dilancarkan terhadap para nabinya. Lalu Allah menolong golongan orang-orang yang beriman dan menghinakan musuh-musuh-Nya yang kafir. Semuanya itu diceritakan untuk meneguhkan hatimu, hai Muhammad. Dan agar engkau mempunyai suri teladan dari kalangan saudara-saudaramu para rasul yang terdahulu.


Demikianlah menurut Ibnu Abbas, Mujahid, dan sejumlah ulama Salaf. Menurut suatu riwayat yang bersumber dari Al-Hasan dan Qatadah disebutkan di dalam dunia ini. Tetapi pendapat yang benar ialah yang mengatakan di dalam surat ini yang mengandung kisah-kisah para nabi. Bagaimana Allah menyelamatkan mereka bersama orang-orang yang beriman kepada mereka, lalu Allah membinasakan orang-orang yang kafir. Surat ini disampaikan kepadamu yang di dalamnya terkandung kisah-kisah yang benar dan berita yang benar serta sebagai pelajaran untuk membuat jera orang-orang kafir, juga sebagai peringatan buat orang-orang yang beriman.

Jumaat, 28 September 2018

AYAT 118-119

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK '
SURAH HUD'
BISMILLAHIRAHMANIRAHIM'
118. walaw syaa-a rabbuka laja’ala alnnaasa ummatan waahidatan walaa yazaaluuna mukhtalifiina 119. illaa man rahima rabbuka walidzaalika khalaqahum watammat kalimatu rabbika la-amla-anna jahannama mina aljinnati waalnnaasi ajma’iina

 {وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ (118) إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (119) } “

Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Allah menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, (QS. 11:118) kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Rabbmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan; sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. (QS. 11:119)” (Huud: 118-119)

 Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan, bahwa sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) kesemuanya. Dalam ash-shahihain, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Surga dan neraka saling berselisih, maka surga berkata: `Mengapa yang masuk kepadaku hanya orang-orang yang lemah dan orang-orang yang berperingkat rendah.’

Dan neraka berkata: `Aku dipenuhi dengan orang orang yang sombong dan penguasa,’ maka Allah berfirman kepada surga: `Engkau adalah rahmat-Ku, denganmu Aku merahmati siapa saja yang Aku kehendaki.’ Dan Allah berkata kepada neraka: `Engkau adalah siksa-Ku, denganmu Aku menyiksa siapa saja yang Aku kehendaki. Setiap salah satu dari kalian berdua, mereka akan memenuhinya. Adapun surga, masih tetap ada di dalamnya tempat yang berlebih, sehingga Allah menciptakan makhluk untuknya yang menempati kelebihan tempat surga tersebut.

Dan adapun neraka, ia senantiasa selalu berkata: ‘Apakah ada tambahan, sehingga Rabb yang Mahaperkasa meletakkan kaki-Nya, maka neraka berkata: ‘Cukup-cukup, demi kemulyaan Engkau.’” Rasulullah?" Rasulullah Saw. menjawab:

       (Orang-orang yang) mengerjakan apa yang aku dan sahabat-sahabatku mengerjakannya. Imam Hakim meriwayatkannya di dalam kitab Mustadrak-nya dengan tambahan ini. Ata mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. (Hud: 118) Yakni orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Majusi. kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. (Hud: 119) Yaitu orang-orang yang memeluk agama yang hanif (agama Islam). Qatadah mengatakan bahwa orang-orang yang dirahmati oleh Allah adalah ahlul jama'ah, sekalipun tempat tinggal dan kebangsaan mereka berbeda-beda. Dan orang-orang yang ahli maksiat adalah ahli dalam perpecahan, sekalipun tempat tinggal dan kebangsaan mereka sama. *******************

        Firman Allah Swt.: {وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ} Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. (Hud: 119) Al-Hasan Al-Basri —menurut suatu riwayat yang bersumberkan dari­nya— menyebutkan bahwa makna ayat ini ialah 'mereka diciptakan untuk berselisih pendapat'. Makki ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Allah menciptakan mereka dalam keadaan berpecah belah, yakni berbeda-beda. Pengertiannya sama saja dengan firman Allah Swt. dalam ayat yang lain, yaitu: {فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ} maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. (Hud: 105) Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah Allah menciptakan mereka untuk dirahmati. Ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muslim ibnu Khalid, dari Abu Najih, dari Tawus, bahwa pernah ada dua orang lelaki bersengketa kepadanya dengan persengketaan yang sengit. Lalu Tawus berkata, "Kalian sering bertengkar dan berselisih pendapat." Salah seorang di antara keduanya menjawab, "Memang demikianlah kita diciptakan.' Tawus berkata, "Kamu dusta." Lalu lelaki itu berkata, "Bukankah Allah Swt. telah berfirman: 'tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.” (Hud: 118-119)?"

         Tawus berkata, "Allah tidaklah menciptakan mereka agar mereka berselisih pendapat, tetapi Dia menciptakan mereka agar bersatu dan untuk dirahmati." Seperti yang telah diriwayatkan oleh Al-Hakam ibnu Aban, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa mereka diciptakan untuk dirahmati, bukan untuk diazab. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ad-Dahhak, dan Qatadah. Kesimpulan pendapat ini merujuk kepada pengertian yang terkandung di dalam firman Allah Swt.: {وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ} Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz-Dzariyat: 56) Menurut pendapat lain, makna yang dimaksud ialah bahwa untuk rahmat dan perselisihan Allah menciptakan mereka. Seperti yang dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri dalam suatu riwayat yang bersumberkan darinya sehubungan dengan makna firman-Nya: tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. (Hud: 118-119)

         Bahwa manusia itu senantiasa berselisih pendapat dalam masalah agamanya hingga terbagi-bagi menjadi berbagai macam pendapat. kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. (Hud: 119) Maka barang siapa yang dirahmati oleh Tuhanmu, berarti dia tidak berselisih pendapat. Ketika dikatakan kepadanya, "Untuk itulah Allah menciptakan mereka." Al-Hasan Al-Basri menjawab, "Allah men­ciptakan sebagian dari mereka untuk surganya, sebagian yang lainnya untuk neraka-Nya, dan sebagian yang lain untuk azab-Nya." Hal yang sama telah dikatakan oleh Ata ibnu Abu Rabah dan Al-A'masy. Ibnu Wahb pernah mengatakan bahwa ia telah bertanya kepada Malik tentang makna firman-Nya: tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. (Hud: 118-119) Malik menjawab bahwa segolongan dimasukkan ke dalam surga dan segolongan yang lain dimasukkan ke dalam neraka sa'ir. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir dan Abu Ubaid Al-Farra. Dari Malik, menurut apa yang telah kami riwayatkan darinya di dalam kitab Tafsir sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. (Hud: 119) Disebutkan bahwa mereka diciptakan untuk dirahmati. Sedangkan suatu kaum dari kalangan ulama mengatakan bahwa mereka diciptakan untuk berselisih. *******************

        Firman Allah Swt.: {وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ} Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan bahwa sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) kesemuanya. (Hud: 119) Allah Swt. menyebutkan bahwa telah ditetapkan di dalam qada dan takdir­Nya berkat pengetahuan-Nya yang Maha Sempurna dan kebijaksanaan­Nya yang Mahaperiksa, bahwa di antara makhluk yang diciptakan-Nya ada yang berhak mendapat surga, ada pula yang berhak mendapat neraka. Dan sudah merupakan suatu kepastian bahwa Dia akan memenuhi neraka Jahanam dari kedua jenis makhluknya, yaitu jin dan manusia. Allah mempunyai hujah yang kuat dan kebijakan yang sempurna dalam semua perbuatan-Nya.

         Di dalam kitab Sahihain disebutkan dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: "اخْتَصَمَتِ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ، فَقَالَتِ الْجَنَّةُ: مَا لِي لَا يَدْخُلُنِي إِلَّا ضَعَفَةُ النَّاسِ وسَقطُهم؟ وَقَالَتِ النَّارَ: أُوثِرْتُ بِالْمُتَكَبِّرِينَ وَالْمُتَجَبِّرِينَ. فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِلْجَنَّةِ، أَنْتِ رَحْمَتِي أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ. وَقَالَ لِلنَّارِ: أَنْتَ عَذَابِي، أَنْتَقِمُ بِكِ مِمَّنْ أَشَاءُ، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْكُمَا مِلْؤُهَا. فَأَمَّا الْجَنَّةُ فَلَا يَزَالُ فِيهَا فَضْلٌ، حَتَّى يُنْشِئَ اللَّهُ لَهَا خَلْقًا يَسْكُنُ فَضْلَ الْجَنَّةِ، وَأَمَّا النَّارُ فَلَا تَزَالُ تَقُولُ: هَلْ مِنْ مَزِيدٍ؟ حَتَّى يَضَعَ عَلَيْهِ رَبُّ الْعِزَّةِ قَدمه، فَتَقُولُ: قَطْ قَطٍ، وَعَزَّتِكُ" Surga dan neraka mengadu (kepada Allah). Surga berkata, "Mengapa aku, tiada yang memasuki aku kecuali hanya orang-orang yang lemah dan orang-orang yang rendah?” Neraka berkata, "Aku dipilih untuk tempat orang-orang yang angkuh dan orang-orang yang kelewat batas.” Maka Allah Swt. berfirman kepada surga, 'Engkau adalah rahmat-Ku, Aku merahmati orang yang Aku kehendaki denganmu.” Dan berfirman kepada neraka, 'Engkau adalah azab-Ku, Aku membalas denganmu terhadap orang yang Aku kehendaki. Dan bagi masing-masing dari kamu berdua Aku akan memenuhinya.” Adapun surga, maka di dalamnya masih terus-menerus terjadi lebihan hingga Allah menciptakan baginya suatu ciptaan yang membuat lebihan surga menjadi terisi. Sedangkan neraka, maka ia masih terus mengatakan, "Apakah masih ada tambahan lagi, " hingga Allah meletakkan padanya telapak kaki kekuasaan-Nya; maka saat itu barulah neraka mengatakan "Cukup, cukup, demi keagungan-Mu.”

Khamis, 27 September 2018

AYAT 114-117

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH HUD
Ayat 114-117:

Pentingnya menjaga shalat lima waktu, dorongan berbuat kebaikan dan larangan mengadakan kerusakan di bumi.BISMILLAHIRAHMANIRAHIM'
114. wa-aqimi alshshalaata tharafayi alnnahaari wazulafan mina allayli inna alhasanaati yudzhibna alssayyi-aati dzaalika dzikraa lildzdzaakiriina 115. waishbir fa-inna allaaha laa yudhii’u ajra almuhsiniina 116. falawlaa kaana mina alquruuni min qablikum uluu baqiyyatin yanhawna ‘ani alfasaadi fii al-ardhi illaa qaliilan mimman anjaynaa minhum waittaba’a alladziina zhalamuu maa utrifuu fiihi wakaanuu mujrimiina 117. wamaa kaana rabbuka liyuhlika alquraa bizhulmin wa-ahluhaa mushlihuuna

 وَأَقِمِ الصَّلاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ (١١٤) وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ (١١٥) فَلَوْلا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الأرْضِ إِلا قَلِيلا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ (١١٦) وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ (١١٧

 Terjemah Surat Hud Ayat 114-117 114.
[1] Dan dirikanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang)[2] dan pada bagian permulaan malam[3]. Perbuatan-perbuatan baik itu[4] menghapus kesalahan-kesalahan[5]. Itu[6] peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)[7]. 115. Dan bersabarlah[8], karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan[9].116.[10] Maka mengapa tidak ada di antara umat-umat sebelum kamu orang yang mempunyai keutamaan yang melarang (berbuat) kerusakan di bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang yang telah Kami selamatkan[11]. Dan orang-orang yang zalim[12] hanya mementingkan kenikmatan dan kemewahan, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa[13]. 117. Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim[14], selama penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan (beriman)[15].

[1] Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki yang mencium seorang wanita, lalu laki-laki itu datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan hal itu, maka turunlah kepada Beliau ayat, “Dan dirikanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).” Laki-laki itu berkata, “Apakah ayat ini untukku?” Beliau bersabda, “Untuk orang yang melakukan demikian di kalangan umatku.” Dalam riwayat Muslim dan para pemilik kitab sunan dari Ibnu Mas’ud disebutkan, “Ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mendapatkan seorang wanita di kebun, lalu aku berbuat segala sesuatu dengannya, hanyasaja aku tidak menjima’inya; aku mencium dan memeluknya. Oleh karena itu, lakukanlah terhadapku apa yang engkau kehendaki…dst.”

 [2] Yakni shalat Subuh, Zhuhur dan ‘Ashar. [3] Yaitu Maghrib dan Isya. Termasuk ke dalamnya shalat malam, karena ia dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala berdasarkan lafaz “wa zulafam minal lail.” [4] Seperti shalat yang lima waktu dan shalat-shalat sunat.

 [5] Yakni dosa-dosa kecil, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: « الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ » . “Shalat yang lima waktu, shalat Jum’at yang satu ke shalat Jum’at berikutnya, dan Ramadhan yang satu ke Ramadhan berikutnya mengapuskan dosa-dosa antara keduanya apabila ia menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)

 [6] Kata “itu” di sini bisa tertuju kepada perintah-perintah sebelumnya, yaitu tetap istiqmah di atas jalan yang lurus, tidak melampaui batas, tidak cenderung kepada orang-orang zalim, mendirikan shalat dan penjelasan bahwa kebaikan-kebaikan dapat menghapuskan kesalahan-kesalahan.

 [7] Dengannya mereka dapat memahami perintah dan larangan Allah, dan mereka bisa mengerjakan perbuatan-perbuatan baik yang membuahkan kebaikan dan menghindarkan keburukan. Akan tetapi, perbuatan tersebut butuh usaha keras dari dalam diri manusia dan kesabaran, oleh karenanya pada ayat selanjutnya Allah memerintahkan bersabar.

 [8] Yakni terhadap gangguan kaummu atau bersabarlah dalam mendirikan shalat atau secara umum bersabar di atas ketaatan dan bersabar dalam menjauhi kemaksiatan.

 [9] Yaitu mereka yang bersabar di atas ketaatan dan bersabar dalam menjauhi kemaksiatan.

 [10] Setelah sebelumnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan tentang kebinasaan umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan bahwa kalau sekiranya di kalangan umat-umat itu ada orang-orang yang utama yang mengajak kepada petunjuk dan melarang perbuatan buruk, tentu mereka akan selamat, akan tetapi sedikit sekali orang yang melakukan. Oleh karena itu, umat akan tetap eksis selama mereka mengikuti petunjuk Allah yang dibawa oleh para rasul, dan jika mereka meninggalkannya, maka mereka akan binasa.

 [11] Mereka melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar sehingga mereka selamat.

 [12] Baik dengan melakukan kerusakan di bumi (kemaksiatan) maupun dengan tidak melakukan nahi munkar padahal mampu.

 [13] Oleh karena itu, mereka mesti diberi hukuman dan dibinasakan oleh azab. Dalam ayat ini terdapat dorongan kepada umat ini agar di tengah-tengah mereka ada orang-orang yang utama yang mengadakan perbaikan, yang menegakkan agama Allah, mengajak orang yang tersesat kepada petunjuk, bersabar terhadap gangguan dan menerangkan jalan yang lurus kepada masyarakat yang sebelumnya nampak gelap di hadapan mereka. Orang yang melakukannya kedudukannya dalam agama adalah tinggi dan pelakunya menjadi imam dalam agama ini apabila dia melakukannya ikhlas karena Allah Rabbul ‘alamin.

 [14] Dia tidak berbuat zalim kepada mereka.

 [15] Oleh karena itu, Allah tidak akan membinasakan mereka kecuali apabila mereka berbuat zalim dan telah tegak hujjah kepada mereka. Maksud ayat ini bisa juga bahwa Allah tidak akan membinasakan neger-negeri karena kezaliman mereka yang dahulu apabila mereka telah rujuk dan memperbaiki amal mereka, karena Allah akan memaafkan mereka, dan menghapuskan kezaliman mereka yang telah lalu.

Rabu, 26 September 2018

AYAT 112-113

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'

SURAH HUD 112-113
BIS-MIL-LAHIR-RAHMAN-NIR-RAHIM''
111. wa-inna kullan lammaa layuwaffiyannahum rabbuka a’maalahum innahu bimaa ya’maluuna khabiirun 112. faistaqim kamaa umirta waman taaba ma’aka walaa tathghaw innahu bimaa ta’maluuna bashiirun 113. walaa tarkanuu ilaa alladziina zhalamuu fatamassakumu alnnaaru wamaa lakum min duuni allaahi min awliyaa-a tsumma laa tunsharuuna
{فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (112) وَلا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (113) }

Maka tetaplah kamu dalam jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) kepada orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kalian kerjakan. Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka, dan sekali-kali kalian tiada mempunyai seorang penolong pun selain dari Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan.

Allah Swt. memerintahkan kepada Rasul-Nya dan hamba-hamba-Nya yang beriman agar bersikap teguh dan tetap berjalan pada jalan yang lurus. Karena hal tersebut merupakan sarana yang membantu untuk memperoleh kemenangan atas musuh dan menangkal semua perlawanan mereka. Lalu Allah melarang bersikap melampaui batas, karena sesungguhnya sikap ini mendatangkan kehancuran diri, sekalipun dalam bersikap terhadap orang musyrik. Allah Swt. memberitahukan pula bahwa Dia Maha Melihat semua amal perbuatan hamba-hamba-Nya, Dia tidak akan lalai terhadap sesuatu pun dan tidak ada sesuatu pun yang samar bagi-Nya. Firman Allah Swt.:
{وَلا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا}
Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang zalim. (Hud: 113)

Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna latarkanu, bahwa makna yang dimaksud ialah janganlah kalian bersikap diplomasi. Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah cenderung kepada kemusyrikan. Abul Aliyah mengatakan, makna yang dimaksud ialah janganlah kamu rela terhadap perbuatan mereka. Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang aniaya. Pendapat ini cukup baik, yang maksudnya ialah janganlah kalian meminta pertolongan kepada orang-orang yang aniaya, karena jadinya seakan-akan kalian rela kepada amal perbuatan mereka.

{فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ}
yang akibatnya kalian akan disentuh api neraka, dan sekali-kali kalian tidak mempunyai seorang penolong pun selain dari Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan. (Hud: 113) Maksudnya, kalian tidak akan mempunyai seorang penolong pun yang dapat menyelamatkan diri kalian; dan tidak akan mempunyai seorang pelindung pun yang dapat membebaskan kalian dari azab Allah selain Allah sendiri.

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN