Khamis, 9 Ogos 2018

AYAT 23-24'

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH HUD 23-24'
BIS-MIL-LAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM.,
Innal lazeena aamanoo wa 'amilus saalihaati wa akhbatooo ilaa Rabbihim ulaaa'ika Ashaabul Jannati hum feehaa khaalidoon Masalul fareeqini kal a'maa wal asammi walbaseeri wassamee'; hal yastawiyaani masalaa; afalaa tazakkaroon (section 2) “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih dan merendahkan diri kepada Rabb mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS. 11:23) Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran (daripada perbandingan itu)? (QS.-11:24)”

(Huud: 23-24) Setelah Allah menceritakan keadaan orang-orang yang hidup sengsara, kemudian Allah menceritakan golongan orang-orang yang berbahagia, yaitu mereka yang beriman dan mengerjakan amal shalih. Hati mereka benar-benar beriman dan seluruh anggota tubuh mereka berbuat amal shalih, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yakni dengan mengerjakan berbagai ketaatan dan menjauhi berbagai kemungkaran. Dengan demikian, mereka menjadi pewaris beraneka ragam surga yang mempunyai banyak kamar yang tinggi, pelaminan yang berderet rapi, aneka buah-buahan yang segar, permadani yang tebal, serta berbagai keindahan yang menyenangkan, berbagai macam makanan yang lezat dan minuman yang segar, serta kesempatan memandang kepada Rabb Pencipta langit dan bumf.

Di dalamnya mereka benar-benar kekal untuk selamanya, tidak akan mati, tidak tua, tidak juga sakit, tidak tidur, tidak buang kotoran, tidak meludah dan tidak berdahak, melainkan ia selalu mengeluarkan bau yang sangat harum.dalam tafsir lain menyatakan terdapat 7jenis syurga yang mana allah nilaikan bagi setiap insan yang bakal menghuni nya ,. 1.Darus Salam: Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, “Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal sholeh yang selalu mereka kerjakan.” (QS. 6:127)

 Surga adalah Darussalam (negri keselamatan) dari segala musibah, kecelakaan, dan segala hal yang tidak disukai, dan dia merupakan negri Allah subhanahu wata’ala, diambil dari nama Allah “as-Salam”. Allah subhanahu wata’ala pun mengucapkan salam atas mereka, “Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan), “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang Maha Penyayang.” (QS. 36:57-58) 2.Jannatu ‘adn: Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, (Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang sholeh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya, dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan), “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. 13:23-24) 3.Jannatul Khuld: Karena penduduknya kekal di dalamnya dan tidak akan berpindah ke alam (tempat) lain. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, ”Katakanlah, “Apakah (azab) yang demikian itu yang baik, atau surga yang kekal yang dijanjikan kepada orang- orang yang bertaqwa?” Surga itu menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka.” (QS. Al-Furqan:15) 4.Darul Muqamah: Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, “Dan mereka berkata:”Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”. (QS. 35:34-35) 5.Jannatul Ma’wa: Adalah tempat menetap sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat an-Najm di atas. Disebut demikian karena surga merupakan tempat menetapnya orang-orang mukmin 6.Jannatun Na’im: 7.Al Muqamul Amin:

 Dan dari ayat diatas jelas allah sawt menerangkan bahawa celakalah bagi mereka yang di tempatkan dalam neraka yang mana terdiri 7 tingkatan ,.,. 1.Neraka jahanam: Adalah tingkat yang atas sekali. yaitu tempat mukminin,mukminat,muslimin dan muslimat yang melakukan dosa kecil maupun besar “….Demi Neraka jahanam di datangkan untuk semua orang walaupun hanya lewat / mampir dalam 1 hari” Firman Allah SWT: “Bahwasanya orang-orang kafir dan orang aniaya itu tidak akan diampuniAllah, dan tidak pula ditunjuki jalan, melainkan jalan ke Neraka Jahannam. Mereka kekal dalam neraka itu selama-lamanya. Yang demikian itu mudah sekali bagi Allah”(Q.S. An-Nisa: 169) 2.Neraka ladhoh: Tingkat kedua yaitu tempat orang yang mendustakan agama Firman Allah SWT : “Sebab itu Kami beri kabar pertakut kamu dengan Neraka Luza (neraka yang menyala-nyala). Tiada yang masuk kedalamnya selain orang yang celaka. Yaitu orang yang mendustakan agama dan berpaling dari pada-Nya”(Q.S. Al-Lail : 14-16) 3.Neraka Khutamah: Inilah neraka tingkat ketiga. yaitu tempat orang yang hanya lalai memikirkan dunianya tanpa mengerjakan kebutuhan/kepentingan untuk ibadahnya. Harta yang membuat orang durhaka. Firman Allah SWT : “Tahukah engkau apakah Hathamah itu? Yaitu api neraka yang menyala-nyala yang membakar hati manusia. Api yang ditutupkan kepada mereka. Sedangkan mereka itu diikatkan pada tiang yang panjang” (Q.S. Al-Humazah : 4-9) 4.Neraka sair: Tingkat ke-empat yaitu tempat orang yang tidak mau mengeluarkan zakat atau bagi mereka yang mengeluarkan tapi tidak pada porsinya dan Dalam neraka ini ditempatkan orang yang memakan harta anak yatim. Didalam neraka ini mereka buta, pekak, dan kulitnya tebal seperti Jabal uhud. Firman Allah SWT : “Bahwasanya orang-orang yang memakan harta anak yatim dengan aniaya, sesungguhnya mereka memakan api sepenuh perutnya. Dan nanti mereka akan dimasukkan kedalam neraka Sair(Q.S. An-Nisa: 10) 5.Neraka Sahkhor: Yaitu tempat orang yang tidak melaksanakan salat, tempat orang yang berbohong tentang keberadaan Allah, menyembah selain Allah atau menyembah zat yang keluar dari sifat Allah dan Al quran,. Didalam kitab safina : “….orang yang tidak melaksanakan solat dihukumi sebagai hewan yang tidak ada harganya/ tidak ada manfaatnya “ Didalam surga mereka saling bertanya dari hal orang berdosa. Apakah sebabnya kamu masuk neraka Saqru? Karena kami tidak sholat, kami tidak memberi makan orang miskin, kami percaya pada yang bukan-bukan. Kami mendustakan hari kiamat.(Q.S. Al-Mudatsir : 40-46) 6.Neraka jahim: Tingkat ke-enam yaitu ditempatkan orang kafir, orang yang mendustakan agama, yaitu orang-orang Islam yang berdosa. Mereka yang berbuat apa yang dilarang Tuhan. Umpamanya berzina, meminum khamar, dan membunuh tanpa hak. Firman Allah SWT : ”Dan orang-orang yang kafir dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami, mereka itulah penghuni neraka Jahim.(Q.S. Al-Maidah : 86) 7.Neraka Hawiyah: Inilah neraka yang berada dibawah sekali.neraka yang paling keras, yaitu tempat orang yang ketika matinya tidak membawa iman dan islam, apinya hitam dan sudah dibakar 1000tahun lamanya, Alas atau kerak-kerak neraka. Disinilah tempat orang-orang yang berdoa berat. Mereka yang menjadi musuh nabi-nabi, seperti Firaun. Firman Allah SWT : “

       Dan barang siapa yang ringan timbangannya, maka dia dilemparkan ke neraka hawiyah. Tahukah engkau apakah Neraka Hawiyah itu? Yaitu api yang sangat panas”.(Q.S. Al-Qoriah : 8-11) sahabat Abu Hurairoh “terdengar suara yang mengelegar lalu bertanyalah ke rosulullah dan rosulullah menjawab itu adalah suara batu yang jatuh dari neraka jahanam ke “teleng” sekitar dada jatuhnya 1000 tahun”. Bersabda Nabi SAW : Adapun Neraka itu gelap gulita, tidak mempunyai penerangan kecuali api yang menyala-nyala. Neraka itu mempunyai tujuh pintu dan tiap-tiap pintu itu mempunyai tujuh puluh ribu bukit, tiap-tiap bukit mempunyai tujuh puluh ribu cabangnya, tiap-tiap cabang itu terdiri atas bagian-bagian yang lebih kecil. Dan tiap-tiap bagian yang lebih kecil itu terdiri atas tujuh puluh ribu dusunnya. Dan tiap-tiap dusun itu tujuh puluh ribu rumahnya dan api yang menyala-nyala. Tiap-tiap rumah itu tujuh puluh ribu ular dan kalajengking

Selasa, 7 Ogos 2018

AYAT 18-22

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH HUD'' 18-22
BIS-MILLAH-HIRAHMAN-NIRRAHIM''
{وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أُولَئِكَ يُعْرَضُونَ عَلَى رَبِّهِمْ وَيَقُولُ الأشْهَادُ هَؤُلاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ (18) الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا وَهُمْ بِالآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ (19) أُولَئِكَ لَمْ يَكُونُوا مُعْجِزِينَ فِي الأرْضِ وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ يُضَاعَفُ لَهُمُ الْعَذَابُ مَا كَانُوا يَسْتَطِيعُونَ السَّمْعَ وَمَا كَانُوا يُبْصِرُونَ (20) أُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ (21) لَا جَرَمَ أَنَّهُمْ فِي الآخِرَةِ هُمُ الأخْسَرُونَ (22) }

Wa man azlamu mimmanif taraa 'alal laahi kazibaa; ulaaa'ika yu'radoona 'alaa Rabbihim wa yaqoolul ashhaa duhaaa'ulaaa'il lazeena kazaboo 'alaa Rabbihim; alaa la'natul laahi alaz zaalimeen Allazeena yasuddoona 'an sabeelil laahi wa yabghoonahaa 'iwajanw wa hum bil Aakhiratihum kaafiroon Ulaaa'ika lam yakoonoo mu'jizeena fil ardi wa maa kaana lahum min doonil laahi min awliyaaa'; yudaa'afu lahumul 'azaab; maa kaanoo yastatee'oonas sam'a wa maa kaanoo yubsiroon Ulaaa'ikal lazeena khasirooo anfusahum wa dalla 'anhum maa kaanoo yaftaroon Laa jarama annahum fil Aakhirati humul akhsaroon
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang y ang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim, (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. Dan mereka itulah orang-orang yang tidak percaya adanya hari akhirat. Orang-orang itu tidak mampu menghalang-halangi Allah untuk (mengazab mereka) di bumi ini, dan sekali-kali tidak adalah bagi mereka penolong selain Allah.

Siksaan itu dilipatgandakan kepada mereka. Mereka selalu tidak dapat mendengar (kebenaran) dan mereka selalu tidak dapat melihat (nya). Mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, dan lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan. Pasti mereka itu di akhirat menjadi orang-orang yang paling merugi. Allah Swt. menerangkan keadaan orang-orang yang mendustakan-Nya, juga tentang dipermalukan-Nya mereka di hari akhirat kelak di hadapan mata kepala semua makhluk dari kalangan para malaikat, para rasul, para nabi, serta seluruh umat manusia dan jin.

 Allah menjelaskan tentang keadaan orang-orang yang mengada-adakan dusta terhadap-Nya dan mengungkapkan rahasia mereka di akhirat kelak di hadapan semua makhluk, di antaranya para Malaikat, para Rasul, Nabi, Berta seluruh bangsa manusia dan bangsa jin. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Shafwan bin Muhriz, ia bercerita: “Aku pernah memegang tangan Ibnu ‘Umar, tiba-tiba ada seseorang yang menghadangnya. Ia berkata: ‘Apa yang kamu dengar ketika Rasulullah bersabda tentang pembicaraan rahasia pada hati Kiamat?’

Ibnu `Umar menjawab: `Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah swt. mendekati orang mukmin, lalu melindungi dan menutupi aibnya dari manusia serta membuatnya mengakui dosa-dosanya. Dia bertanya kepadanya: ‘Apakah kamu mengetahui dosa ini? Apakah kamu mengetahui dosa ini? Apakah kamu mengetahui dosa ini ?’ Sehingga apabila telah mengakui dosa-dosanya dan memandang dirinya telah binasa, maka Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa itu bagimu di dunia dan sekarang Aku mengampuninya.’ Setelah itu Allah memberikan kitab amal kebaikannya. Sedangkan orang-orang kafir dan orang-orang munafik, ‘Para saksi akan berkata: ‘Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Rabb mereka.’ Ingatlah, kutukan Allah ditimpakan atas orang orang yang dhalim.’” Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab ash-Shahihain. Artinya, justru mereka berada di bawah tekanan, kendali, genggaman dan kekuasaan-Nya. Dan Allah mampu,untuk menuntut balas kepada mereka di alam dunia sebelum di alam akhirat, “Sesungguhnya Allah memberi penangguhan kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42) Dalam kitab ash-Shahihain disebutkan, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah akan menangguhkan (adzab) kepada orang dhalim hingga apabila Allah menindaknya, maka la tidak akan melepaskannya.” Oleh karena itu Allah berfirman: yudlaa’afu laHumul ‘adzaabu (“Siksaan itu dilipatgandakan kepada mereka.”) Maksudnya, siksaan mereka dilipatgandakan. Yakni bahwa Allah Ta `ala telah memberi pendengaran dan penglihatan, serta hati. Tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak bermanfaat bagi mereka, bahkan justru mereka malah menjadi tuli dari mendengar kebenaran, buta untuk mengikuti kebenaran itu, sebagaimana diceritakan oleh Allah tentang diri mereka itu ketika masuk neraka. Misalnya firman-Nya yang artinya berikut ini: “Dan mereka berkata: ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya kami tidak akan termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Al-Mulk: 10)

 Oleh karena itu, mereka disiksa atas setiap perintah yang mereka abaikan dan setiap larangan yang mereka langgar. Oleh sebab itu pendapat yang paling benar adalah, bahwa mereka dibebani dengan cabang-cabang syari’at, perintah maupun larangannya sampai ke alam akhirat. Bahz dan Affan; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Safwan ibnu Muharriz yang mengatakan bahwa ia dalam keadaan memegang tangan Ibnu Umar di saat-ada seorang lelaki bertanya kepadanya, "Apakah yang telah engkau dengar dari Rasulullah Saw. tentang najwa (berbisik) di hari kiamat kelak?" Ibnu Umar menjawab, bahwa ia pernah mendengar Nabi Saw. bersabda: Sesungguhnya Allah Swt. mendekati orang mukmin, lalu meletak­kan perlindungan dan naungan-Nya di atas orang mukmin itu sehingga orang mukmin itu dalam keadaan tertutup dari pan­dangan manusia. Lalu Allah menyebutkan semua dosanya. Allah berfirman kepadanya, "Tahukah kamu dosa ini? Tahukah kamu dosa itu? Tahukah kamu dosa anu?” Setelah Allah menyebutkan semua dosanya dan orang mukmin yang bersangkutan merasakan bahwa dirinya pasti binasa, maka Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa-dosamu itu sewaktu di dunia, dan sesungguhnya Aku sekarang mengampuninya bagimu hari ini." Kemudian diberikan kepadanya kitab catatan amal-amal kebaikannya. Adapun terhadap orang-orang kafir dan orang-orang munafik, maka para saksi akan berkata, " Orang-Orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka.” Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim. Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya di dalam kitab Sahihain melalui hadis Qatadah dengan sanad yang sama. Allah Swt. menceritakan tentang tempat kembali mereka, bahwa mereka adalah orang-orang yang paling merugi di hari akhirat nanti karena mereka telah mengganti ketinggian dengan kerendahan, mengganti nikmat surga dengan panasnya api neraka, khamr surga dengan air yang sangat panas, bidadari dengan makanan dari darah dan nanah, gedung-gedung surga dengan jurang-jurang neraka, serta berada dekat dengan Tuhan Yang Maha Pemurah lagi dapat melihat-Nya dengan murka Tuhan Yang Maha Membalas serta siksaan-Nya. Maka tidaklah aneh bila mereka adalah orang-orang yang paling merugi kelak di akhirat.

Sabtu, 4 Ogos 2018

AYAT 17

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH HUD AYAT 17
BIS-MIL-LAHI-RAHMAN-NIRRAHIM,.,.

{أَفَمَنْ كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ وَيَتْلُوهُ شَاهِدٌ مِنْهُ وَمِنْ قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَى إِمَامًا وَرَحْمَةً أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الأحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ فَلا تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِنْهُ إِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ (17) }

   Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al-Qur'an) dari Tuhannya, dan di­ikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum Al-Qur'an itu telah ada kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al-Qur’an. Dan barang siapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al-Qur’an, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya. Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al-Qur'an itu. Sesungguhnya (Al-Qur'an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.

Allah Swt. menceritakan perihal orang-orang mukmin yang berada pada fitrah Allah yang telah difitrahkan-Nya kepada semua hamba-Nya, yaitu pengakuan yang menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Disebutkan oleh Allah melalui firman-Nya: {فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ} Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia me­nurut fitrah itu. (Ar-Rum: 30), hingga akhir ayat.

“Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ia mempunyai bukti yang nyata (al-Qur’an) dari Rabbnya dan diikuti pula seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum al-Qur’an itu telah kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat. Mereka itu beriman kepada al-Qur’an. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) sekutu-sekutunya yang kafir kepada al-Qur’an, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap al-Qur’an itu. Sesungguhnya (al-Qur’an) itu benar-benar dari Rabbmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” (QS. Huud: 17)

 Dalam kitab ash-Shahihain telah diriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah ra. ia bercerita, Rasulullah saw. bersabda: “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani atau Majusi, sebagaimana binatang itu dilahirkan dengan lengkap. Apakah kalian melihat binatang-binatang lahir dengan terputus-putus (hidung, telinga, dan lain-lainnya secara terpisah)?” (HR Al-Bukhari dan Muslim) Dan dalam kitab Shahih Muslim, diriwayatkan dari Iyadh bin Hammad, dari Rasulullah saw., beliau bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (selalu berpegang kepada kebenaran).

Kemudian mereka didatangi oleh syaitan, lalu syaitan itu menjauhkan mereka dari agama mereka, mengharamkan bagi mereka apa yang Ku-halalkan bagi mereka. Dan syaitan itu juga menyuruh mereka menyekutukan-Ku, yang Aku tidak pernah menurunkan kekuasaan padanya.’” (HR. Muslim) Dan dalam kitab-kitab al-Musnad dan juga as-Sunan disebutkan: “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan memeluk agama ini sehingga lisannya mengucapkannya (dua kalimat syahadat secara spontan). Oleh karena itu Ibnu `Abbas, Mujahid, `Ikrimah, Abul `Aliyah, adh- Dhahhak, Ibrahim an-Nakha’i, as-Suddi dan beberapa ulama lainnya berkata mengenai firman-Nya: wa yatluuHu syaaHidum minHu (“Dan diikuti pula oleh satu saksi Allah.”) yaitu Jibril as. Dan dari `Ali , al-Hasan dan Qatadah, mereka mengatakan: “Seorang saksi itu adalah Muhammad saw.” Namun demikian, kedua penafsiran tersebut mempunyai kedekatan dalam arti tersebut, karena keduanya (Jibril dan Muhammad) menyampaikan risalah Allah Ta’ala. Di mana Jibril menyampaikan risalah-Nya kepada Muhammad saw, sedangkan Muhammad menyampaikan risalah tersebut kepada umatnya.

 Dalam kitab Shahib Muslim, diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak akan ada seorang pun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengarku kemudian ia tidak beriman kepadaku melainkan ia akan masuk neraka.” ulamak tafsir menafsirkan dengan cahaya di bahawah cahaya illah,.,. ayat ini di tafsir ibnu abbas bahawa .di sebut sesudahnya bahawa annur ayat 35; allah berfirman,.,. YANG DI DALAM NYA ADA PELITA YANG BESAR,. Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al-Qur’an itu. Sesungguhnya (Al-Qur'an) itu benar-benar dari Tuhanmu. (Hud: 17), hingga akhir ayat. Artinya, Al-Qur'an itu benar-benar dari Allah, tiada keraguan dan tiada kebimbangan di dalamnya. Seperti yang disebutkan pula di dalam firman-Nya: {الم تَنزيلُ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ} Alif Lam Mim. Turunnya Al-Qur'an yang tidak ada keraguan padanya (adalah) dari Tuhan semesta alam. (As-Sajdah: 1-2) {الم ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ} Alif Lam Mim. Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya. (Al-Baqarah: 1-2) Adapun firman Allah Swt.: {وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ} tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (Hud: 17) Ayat tersebut sama halnya dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: {وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ} Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya. (Yusuf: 103) {وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ} Dan Jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah (Al-An'am: 116) {وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ} Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian orang-orang yang beriman. (Saba: 20)

Jumaat, 3 Ogos 2018

AYAT 15-16

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'''''
SURAH HUD 15-16;
BIS-M,ILLAHI-RAHMAN-NIRAHIM''
       Man kaana yureedul hayaatad dunyaa zeenatahaa nuwaffi ilaihim a'maa lahum feehaa wa hum feehaa laa yubkhasoon Ulaaa'ikal lazeena laisa lahum fil Aakhirati illan Naaru wa habita maa sana'oo feehaa wa baatilum maa kaanoo ya'maloon (16)Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. (QS. 11:15) Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 11:16)”

      (Huud: 15-16) Al-‘Aufi menceritakan dari Ibnu `Abbas mengenai ayat ini, bahwa orang-orang suka berbuat riya’ (pamer), akan didatangkan kepada mereka kebaikan mereka di dunia. Dan dengan demikian itu mereka tidak didhalimi sedikit pun. Allah berfirman: “Barangsiapa berbuat amal shalih dengan tujuan untuk kepentingan dunia, baik itu berupa puasa, shalat atau tahajjud pada malam hari, tidak ia kerjakan kecuali (hanya) untuk memperoleh keduniaan.” Demikian itulah yang diriwayatkan dari Mujahid, adh-Dhahhak beberapa ulama lainnya.
   
     Sedangkan Anas bin Malik dan al-Hasan berkata: “Ayat tersebut turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani.” Qatadah mengemukakan: “Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan, niat dan kejarannya, maka Allah akan memberi balasan dunia atas kebaikannya yang telah ia lakukan, sehingga ketika menuju alam akhirat kelak, tidak ada lagi kebaikan baginya yang dapat diberikan sebagai balasan. Sedangkan orang mukmin, maka ia akan diberikan balasan di dunia atas kebaikan yang telah dilakukannya dan diberikan pula pahala atasnya kelak di alam akhirat.”

      Hal yang senada pun telah disebutkan dalam sebuah hadits marfu’. Sehubungan dengan ayat ini Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa sesungguhnya orang-orang yang suka riya (pamer dalam amalnya), maka pahala mereka diberikan di dunia ini. Demikian itu karena mereka tidak dianiaya barang sedikit pun. Ibnu Abbas mengatakan, "Barang siapa yang beramal saleh untuk mencari keduniawian, seperti melakukan puasa, atau salat, atau bertahajud di malam hari, yang semuanya itu ia kerjakan hanya semata-mata untuk mencari keduniawian, maka Allah berfirman, 'Aku akan memenuhi apa yang dicarinya di dunia, ini sebagai pembalasannya, sedangkan amalnya yang ia kerjakan untuk mencari keduniawian itu digugurkan, dan dia di akhirat nanti termasuk orang-orang yang merugi'." Dalam surat yang lain, Allah berfirman yang artinya: “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya. Dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan dunia, kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada bagiannya suatu bagian pun di akhirat (kelak).” (QS. Asy-Syuura: 20)

Khamis, 2 Ogos 2018

AYAT 12-14


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK ;;
SURAH HUD;
BIS-MILLAHI-RAHMAN-NIRAHIM''
 {فَلَعَلَّكَ تَارِكٌ بَعْضَ مَا يُوحَى إِلَيْكَ وَضَائِقٌ بِهِ صَدْرُكَ أَنْ يَقُولُوا لَوْلا أُنزلَ عَلَيْهِ كَنز أَوْ جَاءَ مَعَهُ مَلَكٌ إِنَّمَا أَنْتَ نَذِيرٌ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ (12) أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (13) فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنزلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (14) } “

 Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebahagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit pula karenanya dadamu, karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan: ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan (kekayaan) atau datang bersama-sama dengan dia seorang Malaikat.’ Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah Pemelihara segala sesuatu. (QS. 11:12) Bahkan mereka mengatakan: ‘Muhammad telah membuat-buat al-Qur’an itu,’ Katakanlah: ‘(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.’ (QS. 11:13) Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu, maka (katakanlah olehmu): ‘Ketahuilah, sesungguhnya al-Qur’an itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada Ilah selain Dia, maka maukah kamu berserah-diri (kepada Allah)?’ (QS. 11:14)” (Huud: 12-14)

 Allah berfirman seraya menghibur Rasulullah saw. atas kesulitan yang ditimbulkan oleh orang-orang musyrik, di mana mereka telah mengatakan perihal Rasul. Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya dan membimbingnya untuk tidak bersedih hati atas tindakan mereka itu, serta tidak pula menjadi halangan baginya untuk mengajak mereka ke jalan Allah pada tengah malam dan siang hari. Sesungguhnya kamu adalah pemberi peringatan dan untukmu pun ada suri tauladan dari saudara-saudaramu di kalangan para Rasul sebelummu, di mana mereka dulu juga pernah didustakan dan disakiti, tetapi mereka tetap bersabar sehingga Allah swt. mendatangkan pertolongan kepada mereka.

 Selanjutnya, Allah menjelaskan tentang kelebihan al-Qur’an. Allah juga menyatakan, bahwa tidak ada seorang pun yang sanggup mendatangkan hal yang serupa dengannya, atau hanya dengan sepuluh surat saja yang serupa dengannya, atau bahkan satu surat saja yang serupa dengannya, karena firman Allah yang Mahatinggi itu tidak sama dengan perkataan makhluk-Nya, sebagaimana sifat-sifat-Nya juga tidak dapat disamai dengan sifat-sifat makhluk ciptaan-Nya. Demikian juga dengan Dzat-Nya yang tidak dapat diserupai dengan sesuatu apa pun. Mahatinggi lagi Mahasuci, tiada Ilah melainkan hanya Allah semata dan tidak ada Rabb selain diri-Nya. Wahai Nabi, janganlah kamu berusaha untuk mengikuti kemauan dan menyenangkan hati orang-orang musyrik yang tak mau beriman. Sebab, mungkin saja karena didorong oleh keinginan untuk menyenangkan hati mereka dan khawatir mendapatkan bantahan dan ejekan mereka, kamu tidak menyampaikan wahyu yang sulit mereka terima, seperti pencelaan terhadap tuhan-tuhan mereka. Atau, mungkin juga--karena mempertimbangkan kemauan mereka--saat menyampaikan wahyu dadamu menjadi sesak, karena mereka meminta agar Allah menurunkan kepadamu harta kekayaan yang berlimpah sehingga kamu dapat hidup senang bak raja-raja, atau Allah mendatangkan malaikat kepadamu untuk memberitahu secara langsung kebenaran seruanmu. Jangan hiraukan semua itu, wahai Nabi. Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi ancaman dan peringatan bahwa Allah akan menyiksa mereka yang melanggar perintah-Nya. Dan kamu telah melakukan hal itu, maka bebaskanlah dirimu dari tekanan mereka. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah mengawasi dan mengontrol setiap sesuatu. Dia akan memperlakukan mereka sesuai dengan apa yang mereka lakukan.

Allah Swt. berfirman menghibur Rasul-Nya dalam menghadapi pembangkangan kaum musyrik yang mengatakan apa yang telah mereka katakan terhadap Rasul, seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya: {وَقَالُوا مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الأسْوَاقِ لَوْلا أُنزلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا أَوْ يُلْقَى إِلَيْهِ كَنز أَوْ تَكُونُ لَهُ جَنَّةٌ يَأْكُلُ مِنْهَا وَقَالَ الظَّالِمُونَ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلا رَجُلا مَسْحُورًا} Dan mereka berkata, "Mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dia? Atau (mengapa tidak)diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya?” Dan orang-orang yang zalim itu berkata, "Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir."(Al-Furqan: 7-8) Lalu Allah Swt. memerintahkan Rasul-Nya dan memberikan petunjuk kepadanya bahwa janganlah dadanya merasa sempit karena perlakuan mereka terhadapnya, jangan pula hal tersebut menghambatnya dan memalingkannya dari menyeru mereka di malam dan siang hari untuk menyembah Allah Swt. Dalam ayat lainnya disebutkan oleh firman-Nya: {وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ} Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan. (Al-Hijr: 97) Sedangkan dalam surat Hud ayat 12 berikut ini disebutkan oleh firman-Nya: {فَلَعَلَّكَ تَارِكٌ بَعْضَ مَا يُوحَى إِلَيْكَ وَضَائِقٌ بِهِ صَدْرُكَ أَنْ يَقُولُوا} Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya dadamu, karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan. Yakni karena perkataan mereka yang demikian itu. Sesungguhnya engkau adalah seorang pemberi peringatan, dan engkau mempunyai teladan dari saudara-saudaramu dari kalangan para rasul sebelummu. Karena sesungguhnya mereka didustakan dan disakiti, tetapi mereka tetap bersabar sehingga datang kepada mereka pertolongan dari Allah Swt. Kemudian Allah Swt. menyebutkan tentang mukjizat yang terkandung di dalam Al-Qur'an, bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mendatangkan hal yang semisal dengan Al-Qur'an, tidak juga sepuluh surat yang semisal dengannya, tidak pula suatu surat darinya. Karena kalam Allah berbeda dengan perkataan makhluk, sebagaimana sifat-sifat Allah berbeda dengan sifat-sifat makhluk, dan Zat Allah tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Mahasuci dan Mahatinggi Allah, tidak ada Tuhan selain Dia dan tidak ada Rabb selain Dia. Kemudian Allah Swt. berfirman: {فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ} Jika mereka yang kalian seru itu tidak menerima seruan kalian, (Hud: 14)

Maksudnya, jika mereka tidak menyambut tantangan yang telah kalian serukan kepada mereka, maka ketahuilah bahwa mereka tidak mampu melakukannya, dan bahwa Al-Qur'an ini adalah firman Allah yang diturunkan dari sisi-Nya; di dalamnya terkandung ilmu, perintah, dan larangan-Nya. {وَأَنْ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ} dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kalian berserah diri(kepada Allah)? (Hud: 14)

Rabu, 1 Ogos 2018

AYAT 9-10


 4s
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
(Huud: 9-11)
BIS-MIL-LAHI-RAHMAN-NI-RAHIM.,,.
Wa la'in azaqnal insaana minnaa rahmatan summa naza'naahaa minhu, innahoo laya'oosun kafoor Wala'in azaqnaahu na'maaa'a ba'da darraaa'a massat hu la yaqoolanna zahabas saiyiaatu 'anneee; innahoo lafarihun fakhoor Illal lazeena sabaroo wa 'amilus saalihaati ulaaa'ika lahum maghfiratunw wa ajrun kabeer''
TAFSIR
 “Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dan Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterimakasih. (QS. 11:9) Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: ‘Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku,’ sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga, (QS. 11:10) Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana) dan mengerjakan amal-amal shalih; mereka itu memperoleh ampunan dan pahala yang besar. (QS. 11:11)”
HURAIAN
 Allah mengabarkan tentang manusia dan sifat-sifat tercela yang terdapat dalam diri mereka, kecuali orang yang dirahmati Allah di antara hamba-hamba-Nya. Yaitu, mereka yang jika tertimpa bencana setelah mendapatkan nikmat, niscaya mereka berputus asa untuk mendapatkan kebaikan pada masa yang akan datang, serta ingkar terhadap keadaan yang telah berlalu, seakan-akan mereka tidak pernah melihat kebaikan dan setelah itu mereka tidak mengharap untuk memperoleh keberuntungan. Hal yang sama juga dialaminya jika ia memperoleh kenikmatan setelah sebelumya berada dalam kesengsaraan,
HADIS
 Sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab ash-Shahihain, di mana Rasulullah saw. bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, Allah tidak akan menetapkan suatu ketetapan bagi seorang mukmin, melainkan akan menjadikan kebaikan baginya. Jika mendapatkan hal yang menyenangkan, ia akan bersyukur dan yang demikian itu adalah lebih baik baginya. Dan jika ditimpa musibah maka ia akan bersabar, dan yang demikian itu adalah lebih baik baginya. Dan hal itu tidak untuk seorang pun selain (orang) mukmin.” Oleh karena itu dalam surat yang lain, Allah berfirman yang artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, saling menasihati dengan kebenaran dan saling berpesan untuk senantiasa bersabar (menasehati dengan kesabaran).” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Selasa, 31 Julai 2018

AYAT 7-8

TAFSIR QURAN DAN HADIS  TABARUK''
SURAH HUD AYAT 7-8
BIS-MIL-LAH-HIRAHMAN-NIR-RAHIM'''
Wa Huwal lazee khalaqas samaawaati wal alrda fee sittati aiyaaminw wa kaana 'Arshuhoo alal maaa'i liyablu wakum aiyukum ahsanu 'amalaa; wa la'in qulta innakum mab'oosoona mim ba'dil mawti la yaqoolanal lazeena kafaroo in haazaaa illaa sihrum mubeen Wala'in akhkharnaa 'anhumul 'azaaba ilaaa ummatim ma'doodatil la yaqoolunna maa yahbisuh; alaa yawma yaateehim laisa masroofan 'anhum wa haaqa bihim maa kaanoo bihee yastahzi'oon ,.
     “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa dan adalab `Arsy-Nya di atas air, agar Dia (Allah) menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya dan jika kamu berkata (kepada penduduk Makkah): ‘Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati,’ niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.’ (QS. 11:7)
    '' Dan sesungguhnya jika Kami undurkan adzab dari mereka sampai kepada suatu waktu yang ditentukan, niscaya mereka akan berkata: ‘Apakah yang menghalanginya?’ Ingatlah, di waktu adzab itu datang kepada mereka tidaklah dapat dipalingkan dari mereka dan mereka diliputi oleh adzab yang dahulunya mereka selalu memperolok-olokkannya. (QS. 11:8)”

    (Huud: 7-8) Allah mengabarkan tentang kekuasaan-Nya atas segala sesuatu. Allahlah yang telah menciptakan langit dan bumi, dalam enam hati, sedangkan Arsy-Nya yang berada di atas air sudah ada sebelum penciptaan segala sesuatu. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Ahmad dari`Imran bin Hushain, ia menceritakan, Rasulullah saw. bersabda: “Sambutlah kabar gembira, hai Bani Tamim.” Maka mereka pun menjawab: “Engkau telah menyampaikan kabar gembira kepada kami, karenanya berilah kami.” Beliau bertutur: “Sambutlah kabar gembira, hai penduduk Yaman.” “Kami telah menyambutnya, selanjutnya beritahukan kepada kami tentang urusan pertama kali, bagaimana kejadiannya?” Sahut mereka. Beliau menjawab: “Allah ada sebelum segala sesuatu ada, sedang ‘Arsy-Nya berada atas air dan Allah telah menuliskan segala sesuatu di dalam kitab Lauh mahfudh.” Lebih lanjut `Imran bin Hushain menceritakan: Lalu aku didatangi seseorang seraya berkata: “Hai `Imran, untamu lepas dari ikatannya.” Maka aku pun keluar mencari jejaknya, namun aku tidak mengetahui apa yang terjadi setelahku. Hadits tersebut di atas dikeluarkan dalam kitab Shahih al-Bukhari Shahih al-Muslim dengan lafazh yang sangat beragam.

       Imam Ahmad meriwayatkan dari Waki’ bin `Adas, dari pamannya, Abu Kazin, yang namanya Luqaith bin `Amir bin al-Munfiq al-‘Uqaili, bercerita: “Aku pernah bertanya: ‘Ya Rasulullah, di mana Rabb kita sebelum Dia menciptakan makhluk-Nya?’ Beliau menjawab: ‘Allah berada di atas awan yang di bawah dan atasnya terdapat udara, setelah itu Allah menciptakan ‘Arsy.’” Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam kitab at-Tafsir dan Ibnu Majah dalam kitab as-Sunan, dari hadits Yazid bin Harun. Dan at-Tirmidzi mengatakan: “Hadits ini derajatnya hasan.”

       Mengenai firman-Nya: wa kaana ‘arsyuHuu ‘alal maa-i (“Dan adalah ‘Arsy-Nya atas air.”) Mujahid mengatakan: “Maksudnya, sebelum Allah menciptakan segala sesuatu.” Lebih lanjut Allah Ta’ala berfirman: liyabluwakum ayyukum ahsanul ‘amalan (“Agar Allah menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya.”) Maksudnya, Allah menciptakan langit dan bumi agar dimanfaatkan olah hamba-hamba-Nya yang mereka diciptakan hanyalah untuk beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan Allah tidak menciptakan semuanya itu secara sia-sia.

      Yang demikian itu adalah seperti firman Allah Ta’ala lainnya yang artinya: “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya secara sia-sia.” (Shaad: 27)Bahwa mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, kami datang kepadamu untuk menanyakan tentang kisah kejadian ini pada awalnya." Maka Rasulullah Saw. bersabda: Allah telah ada, dan tiada sesuatu pun sebelum-Nya —menurut riwayat laindisebutkan tiada sesuatu pun selain-Nya, dan menurut riwayat yang lainnya lagi disebutkan tiada sesuatu pun bersama­Nya— dan 'Arasy-Nya berada di atas air, lalu Allah menulis segala sesuatu di Lauh Mahfuz kemudian menciptakan langit dan bumi.Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan dari Abdullah ibnu Amr ibnul As yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: "إِنَّ اللَّهَ قَدَّرَ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ" Sesungguhnya Allah telah menetapkan takdir-takdir semua makhluk sebelum Dia menciptakan langit dan bumi dalam jarak masa lima puluh ribu tahun, dan saat itu 'Arasy-Nya berada di atas air. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ya'la ibnu Ata, dari Waki' ibnu Adas, dari pamannya (yaitu Abu Razin yang nama aslinya Laqit ibnu Amir ibnul Munfiq Al-Uqaili), bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah Saw., "Wahai Rasulullah, di manakah Tuhan kita sebelum Dia menciptakan makhluk-Nya?" Rasulullah Saw. bersabda: Dia berada di awan yang di bawahnya tidak ada udara dan di atasnya tidak ada udara (pula), kemudian sesudah itu Dia menciptakan 'Arasy. Hadis ini telah diriwayatkan pula oleh Imam Turmuzi di dalam kitab Tafsir-nya, juga oleh Ibnu Majah di dalam kitab Sunan-nya melalui hadis Yazid ibnu Harun dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan. Mujahid mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: dan adalah 'Arasy-Nya (sebelum itu) di atas air. (Hud: 7) Yakni sebelum Dia menciptakan sesuatu. Hal yang sama telah dikatakan oleh Wahb ibnu Munabbih, Gamrah, Qatadah, Ibnu Jarir, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang. Demikian juga firman-Nya yang artinya berikut ini: “Maka apakah kalian mengira bahwa sesunggguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main saja dan bahwasanya kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?”
     (QS. Al-Mu’minuun: 115) Firman Allah: liyabluwakum (“Agar Allah menguji kalian”) yakni untuk memberikan ujian dan cobaan kepada kalian. Ayyukum ahsanu ‘amalan (“Siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya.”) Di sini. Allah Ta ala tidak menyebutkan: “Yang lebih banyak amalnya”, tetapi Allah menyebut, “Yang lebih baik amalannya.” Dan tidaklah amal itu baik sehingga amal itu didasari dengan ketulusan karena Allah dan sesuai dengan syari’at Rasulullah saw. Jika ada salah satu dari dua syarat di atas yang tidak terpenuhi, maka suatu amal akan sia-sia tidak memberikan manfaat. Sedangkan firman-Nya: wa la-in qulta innakum mab’uutsuuna mim ba’dil mauti (“Dan jika kalian berkata [kepada penduduk Makkah]: ‘Sesungguhnya kalian akan dibangkitkan sesudah mati.’”) Allah berfirman, “Jika engkau memberitahu orang-orang musyrik, hai Muhammad, bahwa Allah akan membangkitkan mereka setelah kematian mereka sama seperti mereka pertama kali diciptakan, sedang mereka mengetahui bahwa Allah yang telah menciptakan langit dan bumi.” Yang demikian itu sama seyerti firman-Nya yang lain yang artinya: “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan mereka,’ niscaya mereka menjawab: ‘Allah.’” (Az-Zukhruf: 87)

       Dengan demikian, mereka telah mengingkari kebangkitan dan pengembalian diri mereka pada hari Kiamat kelak yang jika diperkirakan dengan kekuasaan-Nya, maka hal itu lebih mudah daripada penciptaan awal (permulaan) sebagaimana yang difirmankan-Nya yang artinya: “Allahlah yang menciptakan manusia dari permulaan, kemudian mengembalikan [menghidupkan]nya kembali dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.” (QS. Ar-Ruum: 27) Dan ucapan mereka: in Haadzaa lasihrum mubiin (“Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.”) Maksudnya, dengan nada kufur dan mengingkari, mereka mengatakan: “Kami tidak mempercayaimu akan adanya kebangkitan kembali. Dia tidak menyebutkannya melainkan hanya sebagian dari sihir-Nya. Dia mengikuti apa yang kamu katakan.” Firman Allah selanjutnya: wa la in akhrajnaa ‘anHumul ‘adzaaba ilaa ummatim ma’duudatin (“Dan sesungguhnya, jika Kami undurkan adzab dari mereka sampai kepada suatu waktu yang ditentukan.”) Allah Ta’ala berfirman: “Jika Kami mengakhirkan adzab dan balasan dari orang-orang musyrik itu sampai waktu tertentu dan sampai waktu yang terbatas dan Kami ancamkan kepada mereka ancaman sampai ancaman sampai pada masa yang ditentukan, niscaya dengan nada mendustakan dan minta disegerakan, orang-orang musyrik itu berkata: maa yahsibuHu (“Apa yang menghalanginya”) Maksudnya, apa yang mengakhirkan adzab itu dari diri kami. Yang demikian itu karena mereka sudah terbiasa dengan dusta dan keraguan. Sesungguhnya, tiada jalan bagi mereka untuk menghindarkan diri darinya dan tidak ada tempat berlindung baginya. Di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, kata al-ummat dipergunakan untuk beberapa pengertian. Dalam ayat di atas, yang dimaksud dengan kata itu adalah jangka waktu. Maksud yang demikian itu adalah seperti maksud yang terdapat dalam ayat: ilaa ummatim ma’duudatin (“Sampai kepada suatu waktu yang ditentukan.”) maka maksudnya adalah jangka waktu. Demikian pula firman-Nya dalam surat Yusuf berikut ini yang artinya: “Dan orang-orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat [kepada Yusuf] sesudah beberapa waktu lamanya.” (QS. Yusuf: 45) Kata “al ummat” juga digunakan untuk pengertian imam yang dijadikan panutan. Hal itu seperti yang terkandung dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-sekali ia bukanlah termasuk orang yang menyekutukan [Rabb].” (an-Nahl: 120) Juga digunakan untuk pengertian al-millah dan ad-diin [agama].

      Hal ini seperti firman Allah yang menceritakan tentang orang-orang musyrik dimana mereka berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami adalah para pengikut jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 23) Selain itu, kata al-ummat ini juga dipergunakan untuk pengertian jama’ah (kumpulan), sebagaimana yang terkandung dalam firman Allah: “Dan ketika ia sampai di sumber air negeri Madyan, ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya).” (QS. Al-Qashash: 23) Allah juga berfirman: “TiaP-tiap umatpunyai Rasul, maka apabila telah datang Rasul mereka, diberikanlah keputusan mereka dengan adil dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.” (QS. Yunus: 47) Yang dimaksud dengan ummat di sini adalah kelompok orang yang diutus seorang Rasul kepada mereka, baik mereka yang mukmin maupun kafir. Sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab Shahih Muslim, di mana Rasulullah saw. bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak akan ada seorang pun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengarku, kemudian ia tidak beriman kepadaku melainkan ia akan masuk neraka.” Ada juga ummat yang berarti para pengikut. Mereka inilah orang-orang yang membenarkan para Rasul. Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta ala: “Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi umat manusia.” (QS. Ali Imran: 110) Kata al-ummat juga dipergunakan untuk pengertian kelompok dan golongan. Hal itu seperti yang terkandung dalam firman Allah Ta ala: “Dan di antara kaum Musa terdapat sekelompok orang yang memberi petunjuk dengan kebenaran dan menggunakannya untuk menetapkan keadilan.” (QS. Al-A’raaf: 159)

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN