Rabu, 1 Ogos 2018

AYAT 9-10


 4s
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
(Huud: 9-11)
BIS-MIL-LAHI-RAHMAN-NI-RAHIM.,,.
Wa la'in azaqnal insaana minnaa rahmatan summa naza'naahaa minhu, innahoo laya'oosun kafoor Wala'in azaqnaahu na'maaa'a ba'da darraaa'a massat hu la yaqoolanna zahabas saiyiaatu 'anneee; innahoo lafarihun fakhoor Illal lazeena sabaroo wa 'amilus saalihaati ulaaa'ika lahum maghfiratunw wa ajrun kabeer''
TAFSIR
 “Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dan Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterimakasih. (QS. 11:9) Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: ‘Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku,’ sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga, (QS. 11:10) Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana) dan mengerjakan amal-amal shalih; mereka itu memperoleh ampunan dan pahala yang besar. (QS. 11:11)”
HURAIAN
 Allah mengabarkan tentang manusia dan sifat-sifat tercela yang terdapat dalam diri mereka, kecuali orang yang dirahmati Allah di antara hamba-hamba-Nya. Yaitu, mereka yang jika tertimpa bencana setelah mendapatkan nikmat, niscaya mereka berputus asa untuk mendapatkan kebaikan pada masa yang akan datang, serta ingkar terhadap keadaan yang telah berlalu, seakan-akan mereka tidak pernah melihat kebaikan dan setelah itu mereka tidak mengharap untuk memperoleh keberuntungan. Hal yang sama juga dialaminya jika ia memperoleh kenikmatan setelah sebelumya berada dalam kesengsaraan,
HADIS
 Sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab ash-Shahihain, di mana Rasulullah saw. bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, Allah tidak akan menetapkan suatu ketetapan bagi seorang mukmin, melainkan akan menjadikan kebaikan baginya. Jika mendapatkan hal yang menyenangkan, ia akan bersyukur dan yang demikian itu adalah lebih baik baginya. Dan jika ditimpa musibah maka ia akan bersabar, dan yang demikian itu adalah lebih baik baginya. Dan hal itu tidak untuk seorang pun selain (orang) mukmin.” Oleh karena itu dalam surat yang lain, Allah berfirman yang artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, saling menasihati dengan kebenaran dan saling berpesan untuk senantiasa bersabar (menasehati dengan kesabaran).” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Selasa, 31 Julai 2018

AYAT 7-8

TAFSIR QURAN DAN HADIS  TABARUK''
SURAH HUD AYAT 7-8
BIS-MIL-LAH-HIRAHMAN-NIR-RAHIM'''
Wa Huwal lazee khalaqas samaawaati wal alrda fee sittati aiyaaminw wa kaana 'Arshuhoo alal maaa'i liyablu wakum aiyukum ahsanu 'amalaa; wa la'in qulta innakum mab'oosoona mim ba'dil mawti la yaqoolanal lazeena kafaroo in haazaaa illaa sihrum mubeen Wala'in akhkharnaa 'anhumul 'azaaba ilaaa ummatim ma'doodatil la yaqoolunna maa yahbisuh; alaa yawma yaateehim laisa masroofan 'anhum wa haaqa bihim maa kaanoo bihee yastahzi'oon ,.
     “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa dan adalab `Arsy-Nya di atas air, agar Dia (Allah) menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya dan jika kamu berkata (kepada penduduk Makkah): ‘Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati,’ niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.’ (QS. 11:7)
    '' Dan sesungguhnya jika Kami undurkan adzab dari mereka sampai kepada suatu waktu yang ditentukan, niscaya mereka akan berkata: ‘Apakah yang menghalanginya?’ Ingatlah, di waktu adzab itu datang kepada mereka tidaklah dapat dipalingkan dari mereka dan mereka diliputi oleh adzab yang dahulunya mereka selalu memperolok-olokkannya. (QS. 11:8)”

    (Huud: 7-8) Allah mengabarkan tentang kekuasaan-Nya atas segala sesuatu. Allahlah yang telah menciptakan langit dan bumi, dalam enam hati, sedangkan Arsy-Nya yang berada di atas air sudah ada sebelum penciptaan segala sesuatu. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Ahmad dari`Imran bin Hushain, ia menceritakan, Rasulullah saw. bersabda: “Sambutlah kabar gembira, hai Bani Tamim.” Maka mereka pun menjawab: “Engkau telah menyampaikan kabar gembira kepada kami, karenanya berilah kami.” Beliau bertutur: “Sambutlah kabar gembira, hai penduduk Yaman.” “Kami telah menyambutnya, selanjutnya beritahukan kepada kami tentang urusan pertama kali, bagaimana kejadiannya?” Sahut mereka. Beliau menjawab: “Allah ada sebelum segala sesuatu ada, sedang ‘Arsy-Nya berada atas air dan Allah telah menuliskan segala sesuatu di dalam kitab Lauh mahfudh.” Lebih lanjut `Imran bin Hushain menceritakan: Lalu aku didatangi seseorang seraya berkata: “Hai `Imran, untamu lepas dari ikatannya.” Maka aku pun keluar mencari jejaknya, namun aku tidak mengetahui apa yang terjadi setelahku. Hadits tersebut di atas dikeluarkan dalam kitab Shahih al-Bukhari Shahih al-Muslim dengan lafazh yang sangat beragam.

       Imam Ahmad meriwayatkan dari Waki’ bin `Adas, dari pamannya, Abu Kazin, yang namanya Luqaith bin `Amir bin al-Munfiq al-‘Uqaili, bercerita: “Aku pernah bertanya: ‘Ya Rasulullah, di mana Rabb kita sebelum Dia menciptakan makhluk-Nya?’ Beliau menjawab: ‘Allah berada di atas awan yang di bawah dan atasnya terdapat udara, setelah itu Allah menciptakan ‘Arsy.’” Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam kitab at-Tafsir dan Ibnu Majah dalam kitab as-Sunan, dari hadits Yazid bin Harun. Dan at-Tirmidzi mengatakan: “Hadits ini derajatnya hasan.”

       Mengenai firman-Nya: wa kaana ‘arsyuHuu ‘alal maa-i (“Dan adalah ‘Arsy-Nya atas air.”) Mujahid mengatakan: “Maksudnya, sebelum Allah menciptakan segala sesuatu.” Lebih lanjut Allah Ta’ala berfirman: liyabluwakum ayyukum ahsanul ‘amalan (“Agar Allah menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya.”) Maksudnya, Allah menciptakan langit dan bumi agar dimanfaatkan olah hamba-hamba-Nya yang mereka diciptakan hanyalah untuk beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan Allah tidak menciptakan semuanya itu secara sia-sia.

      Yang demikian itu adalah seperti firman Allah Ta’ala lainnya yang artinya: “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya secara sia-sia.” (Shaad: 27)Bahwa mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, kami datang kepadamu untuk menanyakan tentang kisah kejadian ini pada awalnya." Maka Rasulullah Saw. bersabda: Allah telah ada, dan tiada sesuatu pun sebelum-Nya —menurut riwayat laindisebutkan tiada sesuatu pun selain-Nya, dan menurut riwayat yang lainnya lagi disebutkan tiada sesuatu pun bersama­Nya— dan 'Arasy-Nya berada di atas air, lalu Allah menulis segala sesuatu di Lauh Mahfuz kemudian menciptakan langit dan bumi.Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan dari Abdullah ibnu Amr ibnul As yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: "إِنَّ اللَّهَ قَدَّرَ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ" Sesungguhnya Allah telah menetapkan takdir-takdir semua makhluk sebelum Dia menciptakan langit dan bumi dalam jarak masa lima puluh ribu tahun, dan saat itu 'Arasy-Nya berada di atas air. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ya'la ibnu Ata, dari Waki' ibnu Adas, dari pamannya (yaitu Abu Razin yang nama aslinya Laqit ibnu Amir ibnul Munfiq Al-Uqaili), bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah Saw., "Wahai Rasulullah, di manakah Tuhan kita sebelum Dia menciptakan makhluk-Nya?" Rasulullah Saw. bersabda: Dia berada di awan yang di bawahnya tidak ada udara dan di atasnya tidak ada udara (pula), kemudian sesudah itu Dia menciptakan 'Arasy. Hadis ini telah diriwayatkan pula oleh Imam Turmuzi di dalam kitab Tafsir-nya, juga oleh Ibnu Majah di dalam kitab Sunan-nya melalui hadis Yazid ibnu Harun dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan. Mujahid mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: dan adalah 'Arasy-Nya (sebelum itu) di atas air. (Hud: 7) Yakni sebelum Dia menciptakan sesuatu. Hal yang sama telah dikatakan oleh Wahb ibnu Munabbih, Gamrah, Qatadah, Ibnu Jarir, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang. Demikian juga firman-Nya yang artinya berikut ini: “Maka apakah kalian mengira bahwa sesunggguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main saja dan bahwasanya kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?”
     (QS. Al-Mu’minuun: 115) Firman Allah: liyabluwakum (“Agar Allah menguji kalian”) yakni untuk memberikan ujian dan cobaan kepada kalian. Ayyukum ahsanu ‘amalan (“Siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya.”) Di sini. Allah Ta ala tidak menyebutkan: “Yang lebih banyak amalnya”, tetapi Allah menyebut, “Yang lebih baik amalannya.” Dan tidaklah amal itu baik sehingga amal itu didasari dengan ketulusan karena Allah dan sesuai dengan syari’at Rasulullah saw. Jika ada salah satu dari dua syarat di atas yang tidak terpenuhi, maka suatu amal akan sia-sia tidak memberikan manfaat. Sedangkan firman-Nya: wa la-in qulta innakum mab’uutsuuna mim ba’dil mauti (“Dan jika kalian berkata [kepada penduduk Makkah]: ‘Sesungguhnya kalian akan dibangkitkan sesudah mati.’”) Allah berfirman, “Jika engkau memberitahu orang-orang musyrik, hai Muhammad, bahwa Allah akan membangkitkan mereka setelah kematian mereka sama seperti mereka pertama kali diciptakan, sedang mereka mengetahui bahwa Allah yang telah menciptakan langit dan bumi.” Yang demikian itu sama seyerti firman-Nya yang lain yang artinya: “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan mereka,’ niscaya mereka menjawab: ‘Allah.’” (Az-Zukhruf: 87)

       Dengan demikian, mereka telah mengingkari kebangkitan dan pengembalian diri mereka pada hari Kiamat kelak yang jika diperkirakan dengan kekuasaan-Nya, maka hal itu lebih mudah daripada penciptaan awal (permulaan) sebagaimana yang difirmankan-Nya yang artinya: “Allahlah yang menciptakan manusia dari permulaan, kemudian mengembalikan [menghidupkan]nya kembali dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.” (QS. Ar-Ruum: 27) Dan ucapan mereka: in Haadzaa lasihrum mubiin (“Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.”) Maksudnya, dengan nada kufur dan mengingkari, mereka mengatakan: “Kami tidak mempercayaimu akan adanya kebangkitan kembali. Dia tidak menyebutkannya melainkan hanya sebagian dari sihir-Nya. Dia mengikuti apa yang kamu katakan.” Firman Allah selanjutnya: wa la in akhrajnaa ‘anHumul ‘adzaaba ilaa ummatim ma’duudatin (“Dan sesungguhnya, jika Kami undurkan adzab dari mereka sampai kepada suatu waktu yang ditentukan.”) Allah Ta’ala berfirman: “Jika Kami mengakhirkan adzab dan balasan dari orang-orang musyrik itu sampai waktu tertentu dan sampai waktu yang terbatas dan Kami ancamkan kepada mereka ancaman sampai ancaman sampai pada masa yang ditentukan, niscaya dengan nada mendustakan dan minta disegerakan, orang-orang musyrik itu berkata: maa yahsibuHu (“Apa yang menghalanginya”) Maksudnya, apa yang mengakhirkan adzab itu dari diri kami. Yang demikian itu karena mereka sudah terbiasa dengan dusta dan keraguan. Sesungguhnya, tiada jalan bagi mereka untuk menghindarkan diri darinya dan tidak ada tempat berlindung baginya. Di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, kata al-ummat dipergunakan untuk beberapa pengertian. Dalam ayat di atas, yang dimaksud dengan kata itu adalah jangka waktu. Maksud yang demikian itu adalah seperti maksud yang terdapat dalam ayat: ilaa ummatim ma’duudatin (“Sampai kepada suatu waktu yang ditentukan.”) maka maksudnya adalah jangka waktu. Demikian pula firman-Nya dalam surat Yusuf berikut ini yang artinya: “Dan orang-orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat [kepada Yusuf] sesudah beberapa waktu lamanya.” (QS. Yusuf: 45) Kata “al ummat” juga digunakan untuk pengertian imam yang dijadikan panutan. Hal itu seperti yang terkandung dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-sekali ia bukanlah termasuk orang yang menyekutukan [Rabb].” (an-Nahl: 120) Juga digunakan untuk pengertian al-millah dan ad-diin [agama].

      Hal ini seperti firman Allah yang menceritakan tentang orang-orang musyrik dimana mereka berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami adalah para pengikut jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 23) Selain itu, kata al-ummat ini juga dipergunakan untuk pengertian jama’ah (kumpulan), sebagaimana yang terkandung dalam firman Allah: “Dan ketika ia sampai di sumber air negeri Madyan, ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya).” (QS. Al-Qashash: 23) Allah juga berfirman: “TiaP-tiap umatpunyai Rasul, maka apabila telah datang Rasul mereka, diberikanlah keputusan mereka dengan adil dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.” (QS. Yunus: 47) Yang dimaksud dengan ummat di sini adalah kelompok orang yang diutus seorang Rasul kepada mereka, baik mereka yang mukmin maupun kafir. Sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab Shahih Muslim, di mana Rasulullah saw. bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak akan ada seorang pun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengarku, kemudian ia tidak beriman kepadaku melainkan ia akan masuk neraka.” Ada juga ummat yang berarti para pengikut. Mereka inilah orang-orang yang membenarkan para Rasul. Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta ala: “Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi umat manusia.” (QS. Ali Imran: 110) Kata al-ummat juga dipergunakan untuk pengertian kelompok dan golongan. Hal itu seperti yang terkandung dalam firman Allah Ta ala: “Dan di antara kaum Musa terdapat sekelompok orang yang memberi petunjuk dengan kebenaran dan menggunakannya untuk menetapkan keadilan.” (QS. Al-A’raaf: 159)

Ahad, 29 Julai 2018

AYAT 6


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH HUD'' Ayat 6:
 ۞ وَما مِن دابَّةٍ فِي الأَرضِ إِلّا عَلَى اللَّهِ رِزقُها وَيَعلَمُ مُستَقَرَّها وَمُستَودَعَها ۚ كُلٌّ في كِتابٍ مُبينٍ

 Sahih transeliter'
Illal lazeena sabaroo wa 'amilus saalihaati ulaaa'ika lahum maghfiratunw wa ajrun kabeer 

Malay''
Dan tiadalah sesuatupun dari makhluk-makhluk yang bergerak di bumi melainkan Allah jualah yang menanggung rezekinya dan mengetahui tempat kediamannya dan tempat ia disimpan. Semuanya itu tersurat di dalam Kitab (Lauh mahfuz) yang nyata.

           HURAIAN'' وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ Dan tiadalah dari binatang-binatang yang bergerak di bumi Allah bukan sahaja menguruskan manusia, tetapi Allah menguruskan semua makhluk yang hidup dan bergerak di alam ini. Perkataan دَابَّةٍ bermaksud ‘yang bergerak’. Samada melata di bumi ataupun terbang di langit. Dari sekecil-kecil bakteria hingga kepada sebesar-besar makhluk ciptaanNya. Bilangannya pun kita tidak tahu. HURAIAN'' إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا melainkan Allah jualah yang memberi rezeki mereka; Bayangkan, semua makhluk yang entah berapa banyak, entah berapa jenis itu, semuanya Allah yang berikan rezeki kepada mereka. Ke mana sahaja binatang itu pergi, makanannya telah ada disitu. Makanan itu telah menunggunya di situ. Begitu juga manusia, pagi makan di kedai itu dan petang di kedai lain pula. Semuanya telah ditetapkan. Ada hadis yang menceritakan bagaimana ulat dalam batu pun Allah beri makan. Sahabat hairan dan bertanya bagaimana ulat dalam batu pun boleh dapat makanan. Maka, Nabi tunjukkan. Satu batu dipecahkan, di dalamnya ada batu lagi, ada batu lagi dan di dalamnya ada ulat dan di mulut ulat itu ada daun. Kenapa sebut tentang rezeki pula dalam ayat ini? Allah nak beritahu bahawa tak payah tunggu pun hari pembalasan untuk Allah beri azab kepada mereka yang menolak ajakan dakwah. Kerana Allah yang memberi rezeki, dan kalau Allah menahan rezekiNya dari sampai kepada mereka, mereka dah dapat seksa di dunia lagi dah. Janganlah mereka nak sombong dengan Allah, padahal segala rezeki yang mereka ada dan mereka dapat makan, pakai dan segalanya diberi oleh Allah. Maka, janganlah sombong dengan Allah. Allah boleh tahan rezeki yang diberinya itu dengan tiba-tiba sahaja. Siapa lagi yang boleh beri rezeki kepada kita kalau Allah dah tahan? Ia juga hendak menceritakan kekuasaan Allah, bagaimana Allah itu maha berkuasa dan kita amat berharap kepada Allah. Tidak ada yang selain Allah yang boleh beri rezeki kepada makhluk.
 HURAIAN'' وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا dan Dia mengetahui tempat tinggalnya Allah Maha Tahu di manakah tempat kediaman, tempat bermastautin semua makhlukNya, termasuklah kita. Perkataan مُسْتَقَرَّهَا diambil dari katadasar قرر yang bermaksud ‘sejuk’ atau ‘tidak bergerak’. Selalunya, kita boleh lihat bagaimana apabila sesuatu benda itu sejuk, maka ianya tidak bergerak. Macam kalau kita lihat salji, ianya tidak bergerak ke mana-mana pun. Jadi perkataan مُسْتَقَرَّ bermaksud tempat tinggal, tempat bermastautin yang tetap. Iaitu tempat yang kita tinggal lama. Kalau manusia, bermaksud rumahnya. Allah tahu di mana kita tinggal, walaupun kita hendak menyorok macam mana pun.
           HURAIAN'' وَمُسْتَوْدَعَهَا dan tempat ia disimpan. Ini pula bermaksud tempat tinggal yang sekejap sahaja. Kadang-kadang kita pergi ke merata tempat, tapi kita akan pulang juga ke tempat tinggal kita yang tetap, ke kampung halaman kita. Allah tahu segala-galanya. Allah tahu di mana kita berada pada setiap ketika, tidak kira untuk masa yang lama ataupun sekejap sahaja. Perkataan مُسْتَوْدَعَ dari katadasar وضع yang bermaksud ‘meninggalkan sesuatu’. Sebagai contoh, apabila kita meninggalkan sesuatu barang dengan seseorang untuk disimpan sebagai amanah. Oleh itu, مُسْتَوْدَعَ bermaksud tempat barang-barang yang di amanahkan itu ditinggalkan. Sebagai contoh, bank untuk ke kita tinggalkan emas kita atau locker tempat kita tinggalkan baju-baju kita kalau kita pergi gym. Barang-barang itu bukan ditinggalkan lama di situ tetapi untuk waktu sementara sahaja. Allah tahu di mana sahaja kita tinggal sebelum kita berpindah-randah. Bukan sahaja kita, tetapi segala makhluk-makhlukNya yang kecil ataupun besar. Kalau kita jenis orang yang berpindah-randah pun, tentu kita lupa di mana kita tinggal dahulu tetapi Allah tahu. Tempat tempat dan tempat kita pernah singgah di dalam hidup kita pun kita tidak ingat, tetapi Allah tahu kemana-mana sahaja tempat yang kita pernah pergi. Ada juga pendapat yang mengatakan bahawa مُسْتَوْدَعَ bermaksud ‘kubur’. Kerana kita akan tinggal sekejap sahaja di dalam kubur itu. HURAIAN'' كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ Semuanya itu tersurat di dalam Kitab (Lauh mahfuz) yang nyata.

       TAFSIR'' Allah Swt menceritakan dalam ayat 6 surah hud ini bahwa ''Dialah yang menjamin rezeki makhluk­Nya, termasuk semua hewan yang melata di bumi, baik yang kecil, yang besarnya, yang ada di daratan, maupun yang ada di lautan. Dia pun mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Dengan kata lain, Allah mengetahui sampai di mana perjalanannya di bumi dan ke manakah tempat kembalinya, yakni sarangnya; inilah yang dimaksud dengan tempat penyimpanannya. Ali ibnu Abu Talhah dan lain-lainnya telah menceritakan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu. (Hud: 6) Yakni tempat berdiamnya binatang itu (sarangnya) dan tempat penyimpanannya. (Hud: 6) bila telah mati. Diriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu. (Hud: 6) Maksudnya, di dalam rahim. dan tempat penyimpanannya. (Hud: 6) di dalam tulang sulbi, seperti yang terdapat pada surat Al-An'am. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ad-Dahhak, dan sejumlah ulama. Ibnu Abu Hatim telah menyebutkan pendapat-pendapat ulama tafsir dalam ayat ini, juga menyebutkan pendapat mereka tentang ayat dalam surat Al-An'am tersebut. Makna yang dimaksud ialah bahwa semuanya itu telah tercatat di dalam suatu Kitab yang ada di sisi Allah yang menerangkan kesemuanya itu.
Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam firman-Nya: {وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ وَلا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ} Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kalian. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (Al-An'am:38) {وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ} Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). (Al-An'am: 59) Ayat ini mengingatkan kepada kita tentang ilmu Allah yang maha luas. Dalam ayat sebelum ini telah disebut bagaimana Musyrikin Mekah cuba menyembunyikan apa yang ada di dalam hati mereka daripada diketahui Allah. Mana mungkin mereka boleh menyembunyikannya sedangkan Allah tahu segala-galanya.

AYAT 5

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK ''
SURAH HUD AYAT 5
BIS-MIL-LAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM''
Alaa innahum yasnoona sudoorahum liyastakhfoo minh;
alaa heena yastaghshoona siyaabahum ya'lamu maa yusiroona wa maa yu'linoon;
innahoo 'aleemum bizaatis sudoor (End Juz 11)

أَلَا إِنَّهُمْ يَثْنُونَ صُدُورَهُمْ لِيَسْتَخْفُوا مِنْهُ ۚ أَلَا
 حِينَ يَسْتَغْشُونَ ثِيَابَهُمْ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُو

       Ingatlah, sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk menyembunyikan diri daripadanya (Muhammad). Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. Ayat ini seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari melalui Ibnu Abbas r.a. diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang merasa malu untuk membuang air besar atau merasa malu berjimak karena kemaluan mereka terlihat dari atas langit.
     Akan tetapi menurut pendapat yang lain dikatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan perihal orang-orang munafik (Ingatlah sesungguhnya orang-orang munafik itu memalingkan dada mereka untuk menyembunyikan diri daripada-Nya) daripada Allah (Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain) menutupi dirinya dengan kain (Allah mengetahui) Maha Tinggi Allah (apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan) sehingga sembunyi mereka tidak ada gunanya lagi (sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati) artinya Dia mengetahui semua apa yang ada di dalam hati.
        Ibnu ‘Abbas berkata: “Mereka tidak suka menghdapkan kemaluannya ke langit ketika mereka berhubungan badan. Maka Allah menurunkan ayat ini.” Imam al-Bukhari dan imam yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, yastaghsyuuna (“pada waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain.”) yakni mereka menutupi kepala mereka. Dalam riwayat lain, ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu ‘Abbas mengemukakan: “Yang dimaksud dengan hal itu adalah keraguan terhadap Allah dan juga berbuat keburukan.” Hal yang sama juga diriwayatkan dari Mujahid, al-Hasan dan lain-lain.
       Dengan kata lain, mereka memalingkan dada mereka, jika mengatakan atau mengerjakan sesuatu. Dengan melakukan hal demikian, mereka menduga bahwa mereka dapat menyembunyikan diri dari Allah. Maka Allah memberitahu mereka bahwa ketika mereka menyelimuti diri pada saat tidur dan pada malam hari yang gelap gulita, ya’lamu maa yusirruuna (“Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan.”) berupa ucapan. Wa maa yu’linuuna innaHuu ‘aliimum bidzaatish shuduur (“dan apa yang merkea tampakkan. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala isi hati.”) maksudnya, Allah mengetahui niat, hati nurani dan berbagai macam rahasia yang mereka sembunyikan dalam dada mereka.
       Dari ayat ini allah menyatakan tentang rahsia hati yang mana hanya allah sawt yang mana berupa dzat tahu apa apa yg baik yang sedang di fikir atau yang belum di fikir setiap insan,.., sebagai mana sibgah allah yang mana celupan allah corak yang menentukan kejadian dan setiap kejadian,.,. Penyair masa Jahiliyyah ini telah mengetahui akan adanya Pencipta dan ilmu-Nya akan hal-hal yang paling kecil sekalipun, hari kebangkitan, pembalasan dan penulisan segala amal perbuatan di dalam buku catatan untuk selanjutnya dibuka pada hari kiamat kelak.sebagai mana perasaan malu mereka terhadap tuhan muhamat yang mana dalam diri mereka itu sendiri dan mengetahui akan tiap apa yang mereka lakukan ,., sebagai contoh seseorang yang dalam qalbu nya bila hendak mencuri atau melakukan penzinaan maka terlihat akan dalam akal nya dan qalbu nya berbisik tentang tuhan yang maha melihat berupa dzat yang maha qadim,.,.,. wallahuaklam .,,. 

Jumaat, 27 Julai 2018

AYAT 1-4

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
         تَفْسِيرُ سُورَةِ هُودٍ
Makkiyyah, 123 Ayat.
Kecuali ayat 12, 17 Dan 114 Madaniyyah.
Turun sesudah Surat Yunus

قَالَ الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى: حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ هِشَامٍ الْبَزَّارُ، حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنِ عِكْرِمة قَالَ: قَالَ أَبُو بَكْرٍ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا شَيّبك؟ قَالَ: " شَيَّبَتْنِي هُودٌ، وَالْوَاقِعَةُ، وَعَمَّ يَتَسَاءَلُونَ، وَإِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ "


 Al-Hafiz Abu Ya'la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnu Hisyam Al-Bazzar, telah menceritakan kepada kami Abul Ahwas, dari Abu Ishaq, dari Ikrimah yang mengatakan bahwa Abu Bakar r.a. pernah mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah Saw. ten­tang ubannya (yakni kesusahannya).
Maka Rasulullah Saw. menjawab: Aku dibuat beruban (susah) oleh surat Hud, surat Al-Waqi'ah, surat An-Naba, dan surat At-Takwir.

                  سْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Abu Isa At-Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad ibnul Ala, telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah ibnu Hisyam, dari Syaiban, dari Abu Ishaq, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Abu Bakar pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah beruban." Maka Rasulullah Saw. menjawab: Aku dibuat beruban oleh surat Hud, surat Waqi'ah, surat Mursalat, surat An-Naba, dan surat At-Takwir. Menurut riwayat lain disebutkan, "Oleh surat Hud dan saudara-saudaranya." Ayat 1-4: Menerangkan kemukjizatan Al Qur’an dalam shighat(bentuk)nya dan susunannya yang indah, perintah menyembah hanya kepada Allah, bukti-bukti keesaan dan kekuasaan-Nya, serta perintah beristighfar dan bertobat, dimana keduanya merupakan kunci kebahagiaan dan sebagai kunci rezeki yang luas

 Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.Alif-Laaam-Raa; Kitaabun uhkimat Aayaatuhoo summa fussilat mil ladun Hakeemin Khabeer Allaa ta'budooo illal laah; innanee lakum minhu nazeerunw wa basheer Wa anis taghfiroo Rabbakum summa toobooo ilaihi yumatti'kum mataa'an hasanan ilaaa ajalim musammanw wa yu'ti kulla zee fadlin fadlahoo wa in tawallaw fa inneee akhaafu 'alaikum 'azaaba Yawmin Kabeer Ilal laahi marji'ukum wa Huwa 'alaa kulli shai'in Qadeer

{الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ (1) أَلا تَعْبُدُوا إِلا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ (2) وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ (3) إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (4) }

Alif Lam Ra, (inilah) suatu Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana lagi Mahatahu, agar kalian tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepada kalian dari-Nya; dan hendaklah kalian meminta ampun kepada Tuhan kalian, dan bertobatlah kepada-Nya. (Jika kalian mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepada kalian sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kalian berpaling, maka sesungguhnya aku takut kalian akan ditimpa siksa di hari kiamat. Kepada Allah-lah kembali kalian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dalam permulaan surat Al-Baqarah telah disebutkan perihal huruf-huruf Hijaiyah yang ada pada permulaan surat-surat Al-Qur'an, yaitu dengan keterangan yang tidak perlu untuk diulangi lagi dalam bab ini, dan hanya kepada Allah-lah kami memohon taufik.
        Lafaznya tersusun rapi, sedangkan maknanya terinci. Dengan demikian, Al-Quran menjadi sempurna ditinjau dari segi bentuk dan maknanya. Demikianlah menurut makna yang diriwayatkan oleh Mujahid dan Qatadah serta dipilih oleh Ibnu Jarir. Firman Allah Swt.: {مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ} dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana lagi Mahatahu. (Hud: 1) Yakni yang diturunkan dari sisi Allah Yang Mahabijaksana dalam semua ucapan dan hukum-Nya, lagi Mahawaspada mengenai akibat segala urusan. {أَلا تَعْبُدُوا إِلا اللَّهَ} agar kalian tidak menyembah selain Allah. (Hud: 2)
Artinya, Al-Qur'an yang muhkam dan mufassal ini diturunkan agar hanya Allah sematalah yang disembah, tiada sekutu bagi-Nya. Ayat ini pengertiannya sama dengan ayat lain yang disebutkan oleh firman-Nya: {وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ} Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, "Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah oleh kamu sekalian akan Aku." (Al-Anbiya: 25) {وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ} Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Tagut.” (An-Nahl: 36)
 Artinya, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian akan adzab jika kalian mendurhakai-Nya, sekaligus sebagai penyampai kabar gembira akan pahala jika kalian mentaati-Nya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih, bahwasannya Rasulullah saw. pernah menaiki bukit Shafa. Beliau menyeru keturunan kaum Quraisy yang paling dekat kemudian yang paling dekat lagi, hingga akhirnya mereka berkumpul semua. Selanjutnya beliau bersabda: “Wahai sekalian kaum Quraisy, bagaimana menurut pendapat kalian, bahwa pasukan kuda akan menyerbu kalian pada pagi hari, bukankah kalian mempercayaiku?” mereka menjawab: “Kami tidak pernah menerima kebohongan darimu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian di hadapan adzab yang pedih.” (Muttafaq ‘alaiHi) Di dalam hadits shahih telah disebutkan, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda kepada Sa’ad: “Sesungguhnya kamu tidak akan menginfakkan sesuatu yang kamu maksudkan untuk mencari keridlaan Allah, melainkan kamu akan diberi pahala karenanya, termasukk [apa] yang kamu berikan ke dalam mulut istrimu.” Ibnu Jarir mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Al-Musayyab ibnu Syarik, dari Abu Bakar, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Mas'ud r.a. sehubungan dengan firman-Nya: dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. (Hud: 3)
 Bahwa barang siapa yang melakukan suatu keburukan, maka dicatatkan atasnya satu keburukan; dan barang siapa yang mengerjakan suatu amal kebaikan, maka dicatatkan untuknya sepuluh pahala kebaikan. Jika ia disiksa karena perbuatan buruk yang pernah dilakukannya di dunia, maka tersisalah baginya sepuluh pahala kebaikan (di akhirat). Jika ia tidak disiksa di dunia karena suatu amal keburukannya itu, maka akan diambil satu pahala kebaikan dari sepuluh pahala kebaikannya, sehingga yang tersisa baginya ada sembilan pahala kebaikan. Kemudian Ibnu Mas'ud mengatakan, "Binasalah orang yang satuannya mengalahkan puluhannya," Yakni keburukannya menghabiskan pahala kebaikannya yang sepuluh kali lipat itu.

 Sebab turunnya ayat ini disebutkan dalam hadits riwayat Imam Bukhari dari Muhammad bin ‘Abbad bin Ja’far, bahwa ia mendengar Ibnu Abbas membacakan ayat, “Alaa innahum yatsnuuna shudurahum,” Ia (Muhammad bin ‘Abbad) berkata, “Aku bertanya kepadanya tentang ayat itu, ia menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang merasa malu ketika buang hajat jika kelihatan ke langit atau menjima’i istrinya lalu kelihatan ke langit, maka turunlah ayat berkenaan dengan mereka.” Dari jalan yang lain Imam Bukhari meriwayatkan dari Muhammad bin ‘Abbad bin Ja’far, bahwa Ibnu Abbas pernah membacakan ayat, “Alaa innahum yatsnuuna shudurahum,” aku pun bertanya, “Wahai Abul ‘Abbas, apa maksud mereka memalingkan (membungkukkan) dadanya?” Ia menjawab, “Yaitu seseorang menjima’i istrinya, lalu ia merasa malu atau buang hajat (dalam keadaan telanjang), lalu merasa malu (kemudian membungkukkan dadanya), maka turunlah ayat, “Alaa innahum yatsnuuna shudurahum,” Ada pula yang berpendapat, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang munafik, wallahu a’lam.

Selasa, 24 Julai 2018

ISI KANDUGAN PENTING SURAH BAQARAH

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
Isi kandung penting dalam surah baqarah,.,. isi kandung penting dalam surah baqarah,.,.
November 24, 2017 Surah Al-Baqarah
 (bahasa Arab: البقرة , al-Baqarah, bahasa melayu: "Sapi Betina")
 adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an. Surah ini terdiri dari 286 ayat,
6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an. Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).

Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain. Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim. dari surah itu terdapat kisah kisah dan pengertian tentang kaum bani israel bani yakkub kisah kisah tentang hukum dan firanud bnabi musa ibrahim dan banyak lagi tentang pengajaran sebagai mana tertera di bawah; Indeks isi penting dalam surah baqarah 286ayat 2juz lebih,.., 

Tiga Golongan Manusia dalam menghadapi Al-Qur'an (1-20) Golongan Mukmin (1-5) Golongan Kafir (6-7) Golongan Munafik (8-20) Keesaan dan kekuasaan Allah SWT. (21-39) Perintah menyembah Allah SWT. Yang Maha Esa (21-22) Tantangan Allah SWT. kepada Kaum Musyrikin mengenai Al-Qur'an (23-24) Ganjaran bagi orang-orang yang beriman (25) Perumpamaan-perumpamaan dalam Al-Qur'an dan hikmah-hikmahnya (26-27) Bukti-bukti kekuasaan Allah SWT. (28-29) Penciptaan manusia dan penguasaannya di bumi (30-39) Peringatan Allah SWT. kepada Bani Israil (40-141) Beberapa perintah dan larangan Allah SWT. kepada Bani Israil (40-48) Perincian nikmat Allah SWT. kepada Bani Israil (49-60) Pembalasan terhadap sikap dan perbuatan Bani Israil (61) Pahala orang yang beriman (62) Pembalasan terhadap Bani Israil yang melanggar perjanjian dengan Allah SWT. (63-66) Kisah penyembelihan Sapi Betina (67-74) Keimanan Orang Yahudi sukar diharapkan (75-82) Bani Israil mengingkari janjinya dengan Allah SWT. (83-86) Sikap Orang Yahudi terhadap para rasul dan kitab-kitab yang diturunkan Allah SWT. (87-91) Penyembelihan anak sapi yang dilakukan Bangsa Yahudi merupakan tanda kecenderungan mereka kepada benda (92-96) Memusuhi Malaikat Jibril AS. berarti memusuhi Allah SWT. yang mengutusnya (97-101) Tuduhan Orang Yahudi terhadap Nabi Sulaiman AS. (102-103) Ketidaksopanan orang-orang Yahudi terhadap Nabi Muhammad SAW. dan sahabat-sahabatnya (104-105) Menasakhkan suatu ayat adalah urusan Allah SWT. (106-113) Tindakan-tindakan menghalangi ibadah (114-118) Larangan mengikuti Yahudi dan Nasrani (119-123) Perjanjian dengan Nabi Ibrahim AS. (124-129) Agama Nabi Ibrahim AS. (130-141) Ka'bah adalah kiblat bagi seluruh umat Islam (142-214) Sekitar pemindahan Ka'bah (142-152) Cobaan berat dalam menegakkan kebenaran (153-157) Manasik Haji (158) Laknat terhadap orang-orang yang menyembunyikan ayat-ayat Allah SWT. dan orang-orang kafir (159-162) Allah SWT. Yang Berkuasa dan Yang Menentukan (163-171) Makanan yang Halal dan yang Haram (172-176) Pokok-pokok kebajikan (177) Kisas dan hikmahnya (178-179) Wasiat (180-182) Puasa (183-188) Berjihad dengan jiwa dan harta di jalan Allah SWT. (189-195) Haji (196-203) Perbuatan orang-orang munafik (204-210) Hikmah diutusnya para rasul dan berbagai cobaan bagi para pengikutnya (211-214) Beberapa Hukum Syariat (215-252) Orang-orang yang diberi nafkah (215) Hukum perang dalam Islam (216-218) Khamr, judi, harta yang dinafkahkan dan pemeliharaan anak yatim (219-220) Pokok-pokok hukum perkawinan, perceraian, dan penyusuan (221-237) Kewajiban mengerjakan salat biarpun dalam keadaan takut (238-239) Wasiat untuk Istri dan Mutah (240-242) Kewajiban berjihad dan mengeluarkan harta di jalan Allah SWT. (243-252) Tentang rasul-rasul dan kekuasaan Allah SWT. (253-260) Keistimewaan dan perbedaan derajat rasul-rasul (253) Anjuran membelanjakan harta (254) Ayat Kursi (255) Tidak ada paksaan memasuki agama Islam (256-257) Membangkitkan kembali orang-orang yang sudah mati (258-260) Cara-cara menggunakan harta dan hukum-hukumnya (261-286) Menafkahkan harta di jalan Allah SWT. (261-274) Hukum Riba (275-281) Kesaksian dalam Muamalah (282-283) Pujian Allah SWT. terhadap para mukmin dan do'a mereka (284-286)dalam ayat terakhir dari surah terpanjang ini allah azawajalla menyatakan bahawa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya; orang tersebut memperoleh yang telah ia usahakan serta orang tersebut ditimpa Azab akibat yang telah ia lakukan."Wahai Tuhan kami, jangan kiranya memperkarakan kami apabila kami berbuat lupa atau kami berbuat ceroboh.Wahai Tuhan kami, jangan kiranya Engkau bebankan kepada diri kami beban berat sebagaimana yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang yang mendahului kami,Wahai Tuhan kami, jangan kiranya Engkau pikulkan kepada diri kami yang tak sanggup kami pikul; kiranya maafkan kami; ampuni kami; serta kasihani kami, Engkaulah Pemelihara kami maka tolonglah kami menghadapi kaum yang kafir." (Ayat:286) di November 24, 2017

AYAT 282-283

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK;;
Dalam Ayat 282 dan 283 menunjukkan bahwa manusia jika mau memakai petunjuk Allah, tentu dunia dan agama mereka menjadi baik, karena petunjuk-Nya mengandung keadilan dan maslahat, menjaga hak dan menghilangkan pertengkaran serta menertibkan jalan kehidupan. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Lais, dari Ja'far ibnu Rabi'ah, dari Abdur Rahman ibnu Hurmuz, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Saw. yang mengisahkan dalam sabdanya: Bahwa (dahulu) ada seorang lelaki dan kalangan Bani Israil meminta kepada seseorang yang juga dari kalangan Bani Israil agar meminjaminya uang sebanyak seribu dinar. Maka pemilik uang berkata kepadanya, "Datangkanlah kepadaku para saksi agar transaksiku ini dipersaksikan oleh mereka." Ia menjawab, "Cukuplah Allah sebagai saksi." Pemilik uang berkata, "Datangkanlah kepadaku seorang yang menjaminmu." Ia menjawab, "Cukuplah Allah sebagai penjamin." Pemilik uang berkata, "Engkau benar." Lalu pemilik uang memberikan utang itu kepadanya untuk waktu yang ditentukan. Lalu ia berangkat memakai jalan laut (naik perahu). Setelah keperluannya selesai, lalu ia mencari perahu yang akan mengantarkannya ke tempat pemilik uang karena saat pelunasan utangnya hampir tiba. Akan tetapi, ia tidak menjumpai sebuah perahu pun. Akhirnya ia mengambil sebatang kayu, lalu melubangi tengahnya, kemudian uang seribu dinar itu dimasukkan ke dalam kayu itu berikut sepucuk surat buat alamat yang dituju. Lalu lubang itu ia sumbat rapat, kemudian ia datang ke tepi laut dan kayu itu ia lemparkan ke dalamnya seraya berkata, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mengetahui bahwa aku pernah berutang kepada si Fulan sebanyak seribu dinar. Ketika ia meminta kepadaku seorang penjamin, maka kukatakan, 'Cukuplah Allah sebagai penjaminku,' dan ternyata ia rela dengan hal tersebut. Ia meminta saksi kepadaku, lalu kukatakan, 'Cukuplah Allah sebagai saksi,' dan ternyata ia rela dengan hal tersebut. Sesungguhnya aku telah berusaha keras untuk menemukan kendaraan (perahu) untuk mengirimkan ini kepada orang yang telah memberiku utang, tetapi aku tidak menemukan sebuah perahu pun. Sesungguhnya sekarang aku titipkan ini kepada Engkau." Lalu ia melemparkan kayu itu ke laut hingga tenggelam ke dalamnya. Sesudah itu ia berangkat dan tetap mencari kendaraan perahu untuk menuju ke negeri pemilik piutang. Lalu lelaki yang memberinya utang keluar dan melihat-lihat barangkali ada perahu yang tiba membawa uangnya. Ternyata yang ia jumpai adalah sebatang kayu tadi yang di dalamnya terdapat uang. Maka ia memungut kayu itu untuk keluarganya sebagai kayu bakar. Ketika ia membelah kayu itu, ternyata ia menemukan sejumlah harta dan sepucuk surat itu. Kemudian lelaki yang berutang kepadanya tiba, dan datang kepadanya dengan membawa uang sejumlah seribu dinar, lalu berkata, "Demi Allah, aku terus berusaha keras mencari perahu untuk sampai kepadamu dengan membawa uangmu, tetapi ternyata aku tidak dapat menemukan sebuah perahu pun sebelum aku tiba dengan perahu ini." Ia bertanya, "Apakah engkau pernah mengirimkan sesuatu kepadaku?" Lelaki yang berutang balik bertanya, "Bukankah aku telah katakan kepadamu bahwa aku tidak menemukan sebuah perahu pun sebelum perahu yang datang membawaku sekarang?" Ia berkata, "Sesungguhnya Allah telah membayarkan utangmu melalui apa yang engkau kirimkan di dalam kayu tersebut. Maka kembalilah kamu dengan seribu dinarmu itu dengan sadar." Sanad hadis ini sahih, dan Imam Bukhari meriwayatkannya dalam tujuh tempat (dari kitabnya) melalui berbagai jalur yang sahih secara muallaq dan memakai sigat jazm (ungkapan yang tegas). Untuk itu ia mengatakan bahwa Lais ibnu Sa'id pernah meriwayatkan, lalu ia menuturkan hadis ini. Menurut suatu pendapat, Imam Bukhari meriwayatkan sebagian dari hadis ini melalui Abdullah ibnu Saleh, juru tulis Al-Lais, dari Al-Lais bismillahir-rahman-nir-rahim.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,283.

Wa ‘in – kuntum ‘alaa safariinwwa lam taji – duu kaatiban fari – haanum – maq – buudah. Fa – ‘in ‘a – mina ba' – dukum ba'dan – fal – yu – ‘addillazi' – tumina ‘amaana – tahuu – wal – yatta –qillaaha Rabbah. Wa laa takhtumush – shahaadah: wa many yaktumhaa fa – ‘innahuuu ‘aasimun – qal –buh. Wallaahu bimaa ta' – ma – luuna ‘Aliim.

 ۞ وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَىٰ سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ ۖ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ ۗ وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ ۚ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

 Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barang tanggungan (rahn/borg) itu diadakan ketika satu sama lain tidak saling mempercayai sampai orang yang berhutang membayar hutangnya.Dalam As Sunnah dibolehkan mengadakan rahn ketika tidak safar dan adanya orang yang siap menulis.Tidak mengapa tanpa barang jaminan.Sehingga dia tidak mengkhianati kawannya.Jika orang yang berhutang mengingkari hutangnya, dan di sana terdapat orang yang hadir dan menyaksikan, maka orang yang ikut hadir itu wajib menunjukkan persaksiannya. Jika kalian sedang dalam perjalanan dan tidak ada yang dapat mencatat utang, maka jaminannya berupa barang yang diperoleh pihak yang mengutangi dari pihak yang berutang. Kalau seseorang menitipkan sesuatu kepada orang lain sebagai amanat, dan ia dipercayakan untuk itu, maka orang yang diamanatkan harus menyerahkannya saat diminta. Dan hendaknya ia takut kepada Allah yang memelihara dan mengawasinya, sehingga nikmat-Nya di dunia dan akhirat tidak diputus. Janganlah menyembunyikan keterangan atau persaksian ketika diminta. Dan barangsiapa menyembunyikannya, maka ia adalah orang yang berdosa dan buruk hati. Allah Maha Mengetahui segala apa yang kalian lakukan. Dan Dia akan memberi balasan sesuai hak kalian. Firman Allah: wa in kuntum ‘alaa safarin (“Jika kamu dalam perjalanan.”) Yakni, sedang melakukan perjalanan dan terjadi hutang-piutang sampai batas waktu tertentu; wa lam tajiduu kaatiban (“Sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis.”) Yaitu seorang penulis yang menuliskan transaksi untukmu. Ibnu Abbas mengatakan: “Atau mereka mendapatkan penulis, tetapi tidak mendapatkan kertas, tinta atau pena, maka hendaklah ada barang jaminan yang dipegang oleh pemberi pinjaman. Maksudnya, penulisan itu diganti dengan jaminan yang dipegang oleh si pemberi pinjaman.” Firman Allah Ta’ala: fariHaanum maqbuudlatun (“Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang [oleh yang berpiutang].”) Ayat ini dijadikan sebagai dalil yang menunjukkan bahwa jaminan harus merupakan sesuatu yang dapat dipegang. Sebagaimana yang menjadi pendapat Imam Syafi’i dan jumhur ulama. Dan ulama yang lain menjadikan ayat tersebut sebagai dalil bahwa barang jaminan itu harus berada ditangan orang yang memberikan gadai. Ini merupakan riwayat dari Imam Ahmad. Sekelompok ulama lain juga berpendapat demikian. Sebagian ulama salaf juga menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa barang jaminan itu hanya disyariatkan dalam transaksi di perjalanan saja. Demikian pendapat yang dikemukakan oleh Mujahid dan ulama lainnya. Dan dalam Shahihain telah diriwayatkan, dari Anas bin Malik ra: “Bahwa Rasulullah telah meninggal dunia, namun baju besinya masih menjadi jaminan di tangan seorang Yahudi, untuk pinjaman 30 wasaq gandum. Beliau meminjamnya untuk makan keluarganya.” Sedangkan dalam riwayat lain disebutkan: “Dari seorang Yahudi Madinah.” Dan dalam riwayat Imam Syafi’i, (beliau gadaikan) pada Abu Syahmal-Yahudi. Penjelasan mengenai permasalahan ini terdapat dalam kitab al-Ahkamul-Kabir. Firman Allah: fa in amina ba’dlukum ba’dlan fal yu-addil ladzi’tumina amaanataHuu (“Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya [hutangnya].”) Diwayatkan Ibnu AbiHatim dengan isnad jayid, dari Abu Sa’id al-Khudri, ia telah mengatakan bahwa ayat ini telah dinasakh oleh ayat sebelumnya. Imam asy-Sya’bi mengatakan, “Jika sebagian kamu saling mempercayai sebagian lainnya, maka tidak ada dosa bagimu untuk tidak menulis dan tidak mengambil kesaksian. Dan firman-Nya lebih lanjut: wal yattaqillaaHa rabbaHu (“Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabbnya,”) maksudnya (adalah), orang yang dipercaya (untuk memegang jaminan, hendaklah bertakwa kepada Allah.) Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan para penulis kitab as-Sunan, dari Qatadah, dari al-Hasan, dari Samurah, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Kewajiban tangan adalah mempertanggung-jawabkan amanat yang diterima-Nya, sehingga ia melaksanakan (pengembalian)nya.” (Dha’if, didha’ifkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Dha’iful jaami’ (3737). Firman Allah selanjutnya: walaa taktumusy syaHaadata (“Dan janganlah kamu [para saksi] menyembunyikan kesaksian.”) Maksudnya, janganlah kamu menyembunyikan, melebih-lebihkan, dan jangan pula mengabaikannya. Ibnu Abbas dan ulama lainnya mengatakan, “Kesaksian palsu merupakan salah satu dosa besar yang paling besar, demikian juga menyembunyikannya.” Oleh karena itu Allah berfirman: wamay yaktumHaa fa innaHuu aatsimun qalbuHu (“Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya.”) As-Suddi mengatakan, “Yaitu orang yang jahat hati-Nya.” Ini sama dengan firman-Nya yang artinya: “Dan (tidak pula) kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa.” (QS. Al-Maa-idah: 106). Dan firman-Nya yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih mengetahui kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha-mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisaa’: 135). Demikian juga dalam surat al-Baqarah ini, Allah Ta’ala berfirman: walaa taktumusy syaHaadata wamay yaktumHaa fa innaHuu aatsimun qalbuHu wallaaHu bimaa ta’maluuna ‘aliim (“Dan janganlah kamu [para saksi] menyembunyikan kesaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya. Dan Allah Maha-mengetahui apa yang kamu kerjakan. di November 25, 2017

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN