Khamis, 7 Disember 2017

AYAT 50

  1. TAFSIR SURAT YAASIN AYAT 50,TAFSIR AL-QUR'AN: TAFSIR SURAT YAASIN Ayat Ke-50 ]فَلَا يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً وَلَا إِلَى أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ
  2. Arti Kalimat : Maka mereka tidak mampu memberikan wasiat ataupun kembali kepada keluarga mereka.
  3. Kedatangan hari kiamat yang sangat mendadak itu telah membinasakan mereka, sehingga mereka tidak mampu lagi sekedar berbicara menyampaikan wasiat, ataupun bergerak berjalan menuju keluarganya. (disarikan dari Tafsir Yaasin libni Utsaimin halaman 179-180).
  4. Suatu suara yang sangat berpengaruh di dunia saja bisa melumpuhkan seseorang sejenak hingga tersungkur ke bumi. Jika ucapan itu dipahami dan berkesan. Seperti yang dialami oleh Umar bin al-Khotthob saat mendengar kabar meninggalnya Nabi. Awalnya beliau tidak percaya akan berita itu. Namun, ketika Abu Bakr radhiyallahu anhu berkhutbah dan membacakan ayat, maka Umarpun terjatuh ke bumi dan baru sadar bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam telah wafat.
  5. Abu Bakr radhiyallahu anhu berkhutbah
  6. مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ وَقَالَ { إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ } وَقَالَ { وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ }Barangsiapa yang menyembah Muhammad, shollallahu alaihi wasallam, sesungguhnya Muhammad telah meninggal dunia.Barangsiapa yang menyembah Allah, maka Allah adalah Yang Maha Hidup tidak akan mati. Kemudian Abu Bakr membaca ayat: « Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) akan mati, dan sesungguhnya mereka akan mati (Q.S az-Zumar ayat 30) » dan juga membaca ayat: « dan tidaklah Muhammad kecuali adalah Rasul. Telah berlalu sebelumnya para Rasul. Apakah jika ia meninggal atau terbunuh, kalian akan murtad kembali. Barangsiapa yang murtad, sekali-kali tidaklah memudharatkan Allah. Dan Allah akan memberikan balasan (kebaikan) kepada orang-orang yang bersyukur (Q.S Ali Imran ayat 144) ».
  7. Umar bin al-Khotthob radhiyallahu anhu menyatakan
  8. وَاللَّهِ مَا هُوَ إِلَّا أَنْ سَمِعْتُ أَبَا بَكْرٍ تَلَاهَا فَعَقِرْتُ حَتَّى مَا تُقِلُّنِي رِجْلَايَ وَحَتَّى أَهْوَيْتُ إِلَى الْأَرْضِ حِينَ سَمِعْتُهُ تَلَاهَا عَلِمْتُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ مَاتَ
  9. Demi Allah, ketika mendengar Abu Bakr membaca ayat itu, aku tercengang hingga kedua kakiku tak mampu lagi menyanggaku hingga aku terjatuh ke bumi. Pada saat itu aku (baru) menyadari bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam telah meninggal dunia (H.R al-Bukhari). Suara yang menimbulkan kesan mendalam di dunia saja, bisa membuat seorang terjatuh. Bisa karena ia meresapi maknanya, atau bisa jadi kekuatan suara yang demikian dahsyat menyebabkan seseorang tertegun, tak mampu berkata-kata bahkan bergerak. Apalagi suara yang sangat keras, tiupan sangkakala pertanda datangnya hari kiAMAT

AYAT 51-55

  1. TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
  2. JILIK5-SURAH YASIN 
  3. AYAT 51-55

  4. Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka.(QS. 36:51)
  • Surah Yaa siin 51 
  1. وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ (51) Setelah seluruh manusia mati pada tiupan sangkakala yang pertama, maka ditiuplah sangkakala kedua untuk membangkitkan seluruh manusia dari kuburnya. Waktu itu bangkitlah seluruh manusia dan hidup kembali, mereka bangun dan bergegas-gegas menemui Allah Yang Maha Kuasa untuk menerima hisab mereka. 
  2. Ayat yang lain yang dimaksud dengan ayat ini ialah firman Allah SWT: يوم يخرجون من الأجداث سراعا كأنهم إلى نصب يوفضون Artinya: (Yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia). (Q.S. Al Ma'arij: 43)
  1. Mereka berkata: `Aduhai celakalah kami? Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?` Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya).(QS. 36:52) 
  • Surah Yaa siin 52 
  • قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُو52) Ayat ini menerangkan keheranan orang-orang kafir di waktu mereka dibangkitkan dari kubur, dengan mengatakan : "Aduhai celakalah kami, siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur) ?". Mereka heran dan tercengang karena mereka bangun dari tidur nyenyak mereka dan menghadapi malapetaka dan kesulitan yang mereka alami pada waktu itu. 
  1. Abu Saleh berkata: "Sesudah terjadi tiupan sangkakala pertama, maka diangkatlah azab dari segala isi kubur dan merasalah mereka seakan-akan sedang tidur nyenyak. Karena itu tatkala mereka dibangkitkan dari kubur setelah tiupan kedua, mereka bangun dan bertanya keheran-heranan" "Siapakah yang membangunkan kami dari tidur kami yang nyenyak itu?". 
  2. Ketika mereka heran dan tercengang itu di antara orang-orang yang beriman mengatakan kepada mereka: "Semua yang terjadi dan yang kita alami ini sesuai dengan yang dijanjikan Allah SWT yang disampaikan oleh para Rasul yang telah datang kepada kita semua, sewaktu hidup di dunia dahulu. Kepada kita dahulu telah disampaikan oleh para Rasul janji dan ancaman dan adanya hari berbangkit seperti yang sekarang ini. Karena itu kita tidak pantas heran dan tercengang, keadaan yang kita alami sekarang ini". 
  3. Menurut suatu riwayat bahwa yang dimaksud dengan bunyi sangkakala dalam ayat ini, ialah suara malaikat Israfil yang sangat keras yang menyerukan: "Wahai tulang belulang yang telah hancur lebur, Allah memerintahkan kamu semua supaya kamu berkumpul kembali seperti semula untuk menerima keputusan yang adil". 
  4. Dalam ayat ini orang-orang kafir menanyakan siapa yang membangkitkan itu dan menghidupkan kembali mereka pada hari berbangkit ini, tetapi pertanyaan mereka itu dijawab dengan menerangkan apa yang telah disampaikan kepada mereka dahulu waktu masih hidup di dunia. Hal ini memberi pengertian bahwa seakan-akan Allah SWT menyuruh mereka mengingat apa yang pernah mereka lakukan dahulu terhadap para Rasul yang diutus kepada mereka.

  • Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami.(QS. 36:53)
  1. Surah Yaa siin 53 
  2. إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ (53) Allah SWT menerangkan bagaimana mudahnya bagi-Nya membangkitkan seluruh manusia yang pernah ada dahulu sebelum datangnya Hari Kiamat. Cukup dengan satu bunyi saja, maka hiduplah kembali seluruh manusia, dan berkumpul di hadapan Allah untuk diperhitungkan dan diputuskan perkara mereka. 
  • Ayat yang lain yang maksudnya sama dengan ayat ini ialah; Firman Nya: 
  1. وما أمر الساعة إلا كلمح البصر أو هو أقرب إن الله على كل شيء قدير Artinya: Tidak adalah kejadian Hari Kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Q.S. An Nahl: 77) 
  • Dan firman Nya: فإنما هي زجرة واحدة فإذا هم بالساهرة 
  • Artinya: Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi. (Q.S. An Naziat: 13-14)
  •  Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.(QS. 36:54)
  • Surah Yaa siin 54
  •  
  • فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (54) Kemudian Allah SWT menerangkan bahwa pada Hari Kiamat itu, setiap manusia akan menerima balasan semua perbuatan yang telah dilakukannya selama hidup di dunia, perbuatan baik dibalas dengan pahala yang berlipat ganda dan perbuatan buruk dan jahat akan dibalas dengan siksa yang seimbang dengan perbuatan itu. Sebagaimana sifat Allah SWT yang memberikan keputusan dengan adil maka pada hari itu pun Dia memberi keputusan dengan adil, karena itu seseorang tidak akan menerima pahala kebaikan yang dikerjakan orang lain, sebaliknya seseorang tidak akan menerima azab karena perbuatan jahat yang dilakukan orang lain

  •  Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka)
  • .(QS. 36:55) Surah Yaa siin 55 
  • إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ55) Allah SWT menerangkan bahwa orang-orang yang. beriman dibalas Allah dengan pahala yang berlipat ganda, berupa surga yang penuh kenikmatan, di dalamnya mereka merasakan kesenangan dan kenikmatan yang belum pernah mereka rasakan, keindahan yang belum pernah mereka lihat dan suara yang menyejukkan kalbu yang belum pernah mereka dengar. Waktu itu tidak terpikir olehnya azab yang sedang diderita orang-orang kafir yang terbenam dalam neraka. Yang dirasakan dan diingatnya hanyalah kegembiraan, kepuasan hati, bersama teman-temannya di dalam surga.Jalan yang dapat mengantarkan seorang hamba ke dalam Surga Allah hanyalah satu jalan, yaitu jalan yg ditempuh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan diikuti oleh para sahabat beliau radhiyallahu anhum ajma’in. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:« مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ »“Barangsiapa mentaatiku, ia pasti masuk Surga.”Barangsiapa menentang Ar-Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan selain jalannya kaum mukminin, maka Kami biarkan dia leluasa bergelimang dalam kesesatan (berpaling dari kebenaran), dan Kami masukkan dia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’ : 115).




AYAT 41-49

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
  • JILIK-5 AYAT 41-19
  • Surah Yasin 41-49
  • Wa Aayatul lahum annaa hamalnaa zurriyatahum fil fulkil mashhoon.Wa khalaqnaa lahum mim-mislihee maa yarkaboon;Wa in nashaa nughriqhum falaa sareekha lahum wa laa hum yunqazoon.Illaa rahmatam minnaa wa mataa'an ilaa heen.Wa izaa qeela lahumuttaqoo maa baina aideekum wa maa khalfakum la'allakum turhamoon.Wa maa taateehim min aayatim min Aayaati Rabbihim illaa kaanoo 'anhaa mu'rideen'Wa izaa qeela lahum anfiqoo mimmaa razaqakumul laahu qaalal lazeena kafaroo lillazeena aamanooo anut'imu mal-law yashaaa'ul laahu at'amahooo in antum illaa fee dalaalim mubeen'Wa yaqooloona mataa haazal wa'du in kuntum saadiqeen'Maa yanzuroona illaa saihatanw waahidatan taa khuzuhum wa hum yakhissimoon
  1. Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan,(QS. 36:41)Surah Yaa siin 41 
  • وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُون41) 
  • Pada ayat ini Allah SWT mengemukakan kapal yang berlayar di tengah lautan sebagai bukti kebesaran dan kekuasaan Nya. Yang mengangkut manusia dan barang-barang keperluannya dari suatu negeri ke negeri yang lain. Ada negeri-negeri itu yang berdekatan letaknya dan ada pula yang berjauhan. Penggunaan alat-alat angkutan laut sebagai salah satu perhubungan yang dimanfaatkan manusia untuk bergerak dan mengangkut barang, telah dikenal sejak zaman dahulu kala, bahkan telah dikenal sejak zaman Nabi Nuh as. Orang yang mula-mula membuat kapal adalah Nabi Nuh as. Kapal itu dibuat atas perintah dan bimbingan Allah SWT. 
  • Kata Arab masyhun, yang diterjemahkan dalam ayat ini sebagai "penuh muatan", asalnya bermakna "penuh" atau "terisi", memberi kesan bahwa segala sesuatu diisi dan bergerak maju menuju tugasnya berupa pengekalan Yang Mahaabadi (al-Baqi). Inilah makna dari memiliki keturunan (dzurriyyah), yang juga mempakan pengabadian dari peristiwa Ilahiyah. Hubungan intim seseorang dengan istri atau suaminya merupakan sebuah ibadah. Karenanya, bila ia memulai hubungan ini, ia harus selalu membaca basmalah (Bismillah ar-Rahman ar-Rahim). Jadi, ajaran tentang penyatuan (wahdah) diterapkan secara fisik dan terus-menerus. Dengan demikian, konsep wahdah ini tidak hanya ada secara batiniah, tapi juga mewujud secara lahiriah pada anak-anak kita
  • Ha ini diterangkan dalam firman Nya: 
  • واصنع الفلك بأعيننا ووحينا 
  • Artinya: 
  • Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami. (Q.S. Hud: 37) Perahu, sampan dan kapal-kapal yang berbobot berat, baik yang digerakkan oleh tenaga manusia, kekuatan angin, maupun tenaga mesin dapat meluncur dengan mudah di alas air, mengangkut manusia dan barang dari Suatu pulau ke pulau yang lain, dari suatu benua ke benua yang lain, seakan-akan ada sesuatu kekuatan yang menahan kapal itu, sehingga tidak tenggelam. Hal ini merupakan bukti-bukti kekuasaan dan kebesaran Allah. 
  • Allah SWT berfirman: 
  • ألم تر أن الفلك تجري في البحر بنعمة الله ليريكم من ءاياته إن في ذلك لآيات لكل صبار شكور 
  1. Artinya: Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. (Q.S. Luqman: 31)
  • Rasulullah saw bersabda:مثل أهل بيتي مثل سفينة نوح من ركبها نجا ومن تخلف عنها غرق وهوى
  • “Perumpamaan Ahlul baitku seperti bahtera Nuh, barangsiapa yang menaikinya ia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal ia akan tenggelam dan celaka.”
  1. dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti seperti bahtera itu.(QS. 36:42) Surah Yaa siin 42 
  • وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ (42) Dalam ayat ini Allah SWT mengingatkan manusia kepada bukti kekuasaan-Nya yang lain, dalam hal memberikan bermacam-macam kendaraan yang lain dari perahu, bahtera dan kapal, yaitu hewan-hewan yang dapat dijadikan kendaraan atau alat angkutan misalnya: kuda, keledai, unta, gajah dan sebagainya. Ini merupakan alat angkutan darat bagi manusia. 
  • Pada ayat yang lain Allah berfirman: 
  • والخيل والبغال والحمير لتركبوها وزينة ويخلق ما لا تعلمون 
  • Artinya: Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya). (Q.S. An Nahl: 8) Selanjutnya, untuk memungkinkan pengangkutan orang dan barang-barang yang lebih banyak, manusia dapat membuat alat-alat angkutan darat yang ditarik oleh hewan-hewan tersebut, seperti dokar, pedati, gerobak dan sebagainya Dengan menggunakan akal yang dikaruniakan Allah kepada manusia, mereka dapat pula membuat alat-alat angkutan yang bergerak dengan tenaga mesin yang memakai bahan bakar berupa minyak bumi atau batu bara, yang juga disediakan dan dikaruniakan Allah kepada manusia. Kendaraan bermesin ini dapat berjalan lebih cepat dan bermuatan lebih banyak. Sejalan dengan itu, berkat kemajuan akal dan ilmu pengetahuan yang dikaruniakan Allah kepada manusia, mereka dapat membuat kendaraan-kendaraan yang dapat terbang di udara, mulai dari balon, pesawat terbang, hingga roket-roket yang menggerakkan kapal-kapal ruang angkasa yang kecepatan Nya dapat melebihi kecepatan suara.Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan.(QS. 36:43)
  • Surah Yaa siin 43 
  • وَإِنْ نَشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ لَهُمْ وَلَا هُمْ يُنْقَذُونَ (43) Dalam ayat ini Allah SWT memperingatkan bahwa jika Allah menghendaki menenggelamkan kapal-kapal yang berlayar di lautan itu, niscaya ia akan tenggelam. Datangnya angin badai yang kencang yang menimbulkan gelombang-gelombang yang dahsyat, akan menyebabkan kapal-kapal itu binasa, para penumpangnya turut terkubur ke dasar laut, tak dapat di tolong lagi. 
  1. Peringatan ini berarti, bahwa manusia jangan merasa sombong dan takabur serta merasa bahwa dapatnya kendaraan yang berat itu berjalan di darat, di laut dan di udara adalah semata-mata karena kepintarannya, bukan karena karunia dari Allah SWT. Dari ilmu alam kita dapat mengetahui bahwa sesuatu dapat terapung di atas air, jika berat jenis benda itu lebih ringan dari berat jenis air yang dipindahkannya. Ini ketentuan atau Sunatullah yang ditetapkan Allah terhadap air yang diciptakannya. Allah berkuasa mencabut kembali suatu ketentuan yang ia tetapkan sendiri, bila Ia menghendaki. Jika ketentuan ini suatu ketika dicabut Nya, maka keadaan akan berubah. Sebagaimana halnya dengan api, yang diberi Nya ketentuan berubah sifat "membakar", Allah berkuasa untuk suatu ketika mencabut sifat tersebut sehingga ia tidak lagi membakar. Dalam riwayat Nabi Ibrahim as yang tersebut dalam Alquran dikatakan, bahkan ketika ia disiksa kaumnya, dan dimasukkan ke dalam api unggun, ternyata Ibrahim as tidak terbakar. ini adalah karena kekuasaan Allah SWT, yang menolong hamba Nya dengan mencabut sifat "membakar" api tersebut ketika itu.Tetapi (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika.(QS. 36:44)
  •  Surah Yaa siin 44 
  • إِلَّا رَحْمَةً مِنَّا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ (44) Akhirnya, pada ayat ini Allah menegaskan, bahwa karena kasih sayang--Nya yang amat besar terhadap hamba-hamba-Nya, dan agar mereka dapat bersenang-senang menikmati karunia-Nya, maka Allah tidak membiarkan kendaraan-kendaraan itu semua binasa, balk yang berjalan di darat, maupun yang berlayar di atas dan di dalam air, ataupun yang terbang di udara. Apalagi jika orang-orang yang menggunakan kendaraan itu tidak takabur serta selalu cermat dan berhati-hati. Apabila sewaktu-waktu terjadi kecelakaan, itu a adalah karena yang bersangkutan mempunyai rasa takabur, atau kurang cermat, lalai dan lain-lain sebagainya.
  •  Dan apabila dikatakan kepada mereka: `Takutlah kamu akan siksa yang di hadapanmu dan siksa yang akan datang supaya kamu mendapat rahmat`, (niscaya mereka berpaling).(QS. 36:45)Surah Yaa siin 45 
  • وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّقُوا مَا بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (45) 
  • Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa andaikata terhadap orang-orang yang ingkar itu dianjurkan agar mereka menjaga diri terhadap siksaan Allah yang telah dekat kepada mereka, atau yang akan datang di kemudian hari, sehingga mereka mendapat rahmat Allah, mereka akan tetap berpaling, tidak mau mendengarkan anjuran itu. 
  • Menjaga diri dari siksaan Allah ialah dengan cara bertakwa kepada Nya, yaitu melakukan apa-apa yang diperintahkan Nya menjauhi segala larangan Nya, dan mensyukuri setiap karunia Nya. Akan tetapi orang-orang yang ingkar, hati mereka telah tertutup terhadap kebenaran. Mereka senantiasa berpaling dari nasihat-nasihat yang baik. Oleh sebab itu wajarlah mereka ditimpa kemurkaan siksaan Allah.
  •  Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya.(QS. 36:46)
  • Surah Yaa siin 46 
  • وَمَا تَأْتِيهِمْ مِنْ آيَةٍ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِمْ إِلَّا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ (46) Allah menegaskan dalam ayat ini, bahwa orang-orang yang ingkar itu senantiasa memalingkan muka dari setiap tanda-tanda yang menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah, karena hati mereka telah buta, walaupun mata mereka dapat melihat dengan terang semua tanda-tanda tersebut.
  •  Dan apabila dikatakan kepada mereka: `Nafkahkanlah sebahagian dari rezki yang diberikan Allah kepadamu`, maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman: `Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan, tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata`.(QS. 36:47)
  •  Surah Yaa siin 47 
  • وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنُطْعِمُ مَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ أَطْعَمَهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ47) 
  • Dalam ayat ini Allah menyebutkan suatu segi lain dari keingkaran mereka, yaitu keengganan mereka menyumbangkan sebagian harta benda yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka. Apabila kepada mereka dianjurkan menafkahkan harta bagi kepentingan fakir miskin dan orang yang memerlukan bantuan, mereka menjawab kepada orang-orang beriman yang menganjurkan itu: "Apa perlunya kami memberi mereka itu makan, karena Allah dapat memberi makan bila Allah menghendaki". Di samping itu mereka mengatakan bahwa orang-orang mukmin yang suka menyumbangkan harta benda untuk membantu fakir miskin itu adalah orang-orang yang sesat. 
  • Alangkah jauh pendapat mereka itu dari kebenaran. Menyumbangkan sebagian harta benda menolong orang lain berupa sumbangan wajib, seperti zakat, maupun sumbangan suka rela, seperti sedekah, merupakan perwujudan dari rasa syukur atas nikmat Allah, dan sekaligus menghilangkan sifat bakhil dan jiwa manusia Harta benda, menurut ajaran Islam mempunyai fungsi sosial, bukan untuk kepentingan din sendiri. 
  • Harta benda haruslah dijadikan alat untuk mempererat tali persaudaraan dan solidaritas serta kegotong royongan, sebab manusia takkan dapat hidup sendiri, tanpa mengharapkan pertolongan orang lain dalam berbagai keperluan hidup, walaupun ia seorang yang kaya raya.
  •  Dan mereka berkata: `Bilakah (terjadinya) janji ini (hari berbangkit) jika kamu adalah orang-orang yang benar?`(QS. 36:48)
  • Surah Yaa siin 48 
  • وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (48) Suatu segi lain dari sifat-sifat jelek kaum yang ingkar itu adalah ketidak percayaan mereka tentang akan adanya hari berbangkit sesudah mati. Apabila kepada mereka disampaikan bahwa mereka kelak akan dibangkitkan kembali sesudah mati, untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka selama di dunia ini, maka mereka menjawab dengan sikap mengejek: "Bilakah janji itu akan terlaksana?". Demikian keadaan kaum yang ingkar, hati mereka tidak lagi terbuka untuk menerima kebenaran. Penyesalan mereka barulah akan timbul setelah mereka menghadapi kenyataan tentang apa yang dulunya mereka ingkari.
  1. Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar.(QS. 36:49)
  • Surah Yaa siin 49 
  • مَا يَنْظُرُونَ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُونَ (49) 
  • Pada ayat ini Allah memperingatkan kepada mereka, bahwa mereka tidak akan menunggu terlalu lama datangnya hari berbangkit itu. Cukup dengan suatu teriakan saja, yaitu suara tiupan yang pertama dari sangkakala yang menandai hancurnya alam ini sementara mereka asyik-asyik bertengkar. Kemudian manusia semuanya akan dibangkitkan kembali menjadi hidup, dan dikumpulkan kepada Allah untuk diperhitungkan segala perbuatannya selagi di dunia kemudian mereka menerima balasan sesuai dengan perbuatan mereka, baik atau buruk. 
  1. Ayat lain yang sama maksudnya dengan ayat ini ialah, firman Allah SWT: 
  1. هل ينظرون إلا الساعة أن تأتيهم بغتة وهم لا يشعرون 
  • Artinya:Mereka tidak menunggu kecuali kedatangan Hari Kiamat kepada mereka dengan tiba-tiba sedang mereka tidak menyadarinya. (Q.S. Az Zukhruf: 66) Manusia tidak menyadari kedatangan Hari Kiamat itu. Mereka dimatikan secara tiba-tiba dalam keadaan sibuk berselisih dan berbantah-bantahan dalam urusan dunia. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Umar, ia berkata: ."Sangkakala benar-benar akan ditiup di saat keadaan manusia dalam kesibukan urusan mereka masing-masing di jalan-jalan, di pasar-pasar dan di tempat-tempat mereka, hingga dalam keadaan dua orang yang sedang tawar menawar pakaian, maka sebelum sampai pakaian itu ke tangan salah seorangnya, maka tiba-tiba ditiupkan sangkakala, hingga mereka mati bergelimpangan semuanya, dan inilah yang dimaksud dengan firman Allah dalam ayat ini. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ia berkata, berkata Rasulullah saw: 
  • لتقو من الساعة وقد نشر الرجلان ثوبهما بينهما فلا يتبايعانه ولا يطويانه ولتقو من الساعة والرجل يليط حوضه فلا يسقي منه, ولتقو من الساعة وقد انصرف الرجل بلبن نعجته فلا يطعمه, ولتقو من الساعة وقد رفع أكلته إلى فمه فلا يطعمها. (الحديث رواه الشيخان) 
  1. Artinya: Hari Kiamat itu benar-benar akan terjadi pada saat dua orang laki-laki sedang mengembang-ngembangkan pakaian (sambil tawar menawar, dan keduanya tidak sempat berjual beli dan melipatkan itu kembali. Hari Kiamat itu benar-benar akan terjadi pada saat seseorang membuat kolam dan ia belum sempat mengisinya dengan air. Hari Kiamat benar-benar akan terjadi pada saat seseorang memeras susu kambingnya dan ia belum sempat meminumnya, dan Hari Kiamat itu benar-benar akan terjadi pada saat seseorang mengangkat makanan yang akan dimasukkannya ke mulainya, dan ia belum sempat memakannya.
  1. “Perhatikanlah enam tanda-tanda hari Kiamat: (1) wafatku, (2) penaklukan Baitul Maqdis, (3) wabah kematian (penyakit yang menyerang hewan sehingga mati mendadak) yang menyerang kalian bagaikan wabah penyakit qu’ash yang menyerang kambing, (4) melimpahnya harta hingga seseorang yang diberikan kepadanya 100 dinar, ia tidak rela menerimanya, (5) timbulnya fitnah yang tidak meninggalkan satu rumah orang Arab pun melainkan pasti memasukinya, dan (6) terjadinya perdamaian antara kalian dengan bani Asfar (bangsa Romawi), namun mereka melanggarnya dan mendatangi kalian dengan 80 kelompok besar pasukan. Setiap kelompok itu terdiri dari 12 ribu orang.” [5]

Rabu, 6 Disember 2017

FADHILAT SURAH YASIN


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK

JILIK-5-SURAH YASIN-AYAT 40
RAHSIA MENGAMALKAN SURAH YASIN DAN KEBAIKAN NYA;

Selain surah Al-Fatihah, Surah Yasin adalah surat yang banyak di baca juga oleh masyarakat muslim di dunia. Dapat di pastikan setiap satu anggota keluarga muslim mempunyai buku kecil "SURAT YASIN" yang biasanya di buat untuk tahlil dan sebagainya.

Mungkin selama ini kita sudah sering membacanya sehingga tanpa di sadari kita dapat menghafal surat tersebut. Biasanya kita selalu mendengar pada tahlilan, malam jumatan, menjenguk orang sakit, majelis ta'lim, ziarah kubur, dll. Tapi tahukah makna yang terkandung? Inilah makna dari surah yasin ayat 40.

لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۚ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ [٣٦:٤٠]


LA SYAMSU YAN-BAGII LAHAA AN-TUDRIKAL-QAMARA WALAA LLAYLU SAA BIQU-NNAHAARI - WA KULLUN FII FALAKIN YASBAHUUNA (QS.Yasin:40)

Artinya : "Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak mendahului
siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya."
Allah memberitahukan kepada kita semua bahwa sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya yang lain adalah bulan dan matahari. Berdasarkan ketetapan dan pengaturan Allah yang berlaku bagi benda-benda angkasa itu yang di sebut "sunnatullah", maka tidaklah mungkin terjadi tabrakan antara bulan dan matahari, dan tidaklah pula malam mendahului siang. Pada matahari dan bulan semuanya tetap bergerak pada garis edarnya, mereka tidak saling mendahului. Dan hal ini berlangsung selama dunia ini masih ada (sampai hari kiamat).

Renungkan kedua makhluk ini, manusia akan selalu melihat sisi baik dan buruknya. Apabila bulan tidak menerangi bumi alangkah gelapnya suatu malam, dan jika muncul alangkah indah sinarnya. Bagaimana dengan matahari? Hal inipun sama, jika matahari menyinari dengan panasnya dan jika matahari tertutup oleh mendung. Manusia harus selalu bersyukur atas karunia yang di berikan oleh Allah SWT.

Subhanallah... Betapa kecilnya kekuasaan manusia yang di bandingkan dengan kekuasaan Allah yang amat besarnya. Allah telah menciptakan suatu ketetapan peraturan sehingga berjalan dengan tertib. Sedangkan manusia yang sudah membuat peraturan lalu-lintas yang bermacam-macam belum berhasil dengan tertin, masih banyak terjadi kecelakaan yang terjadi di mana-mana.

"Ritual tradisi membaca surah Yasin sebanyak 3 kali yang di lakukan oleh masyarakat awam, pertama dengan niat panjang umur serta mendapat taufik untuk menjalankan ketaatan, kedua niat menjaga diri dari mara bahaya, penyakit-penyakit dan niat melapangkan rezki, ketiga untuk mencapai kekayaan hatidan khusnul khatimah, serta sholat yang mereka lakukan di sela-sela doa, solat dengan memenuhi hajat-hajat tertentu, semuanya itu batil dan tidak ada asalnya. Shalat itu tidak sah kecuali dengan niat murni kepada Allah SWT, bukan karena suatu tujuan dari berbagai tujuan."Inilah riyadloh sederhananya yaitu sebelum membaca surah yasin bacalah Al-Fatihah untuk Rasulullah, para nabi da rasul, alam semesta, diri sendiri, ddll, lalu sebelum membaca ayat pertama maka sampaikanlah kepada Allah hajat kita dengan bahasa kita sendiri(agar mudah di pahami dan di hayati). Sebagai contoh "Ya Allah dengan keberkahan surah Yasin mulia ini maka kabulkan untukku hajatku...(sebut hajat)..."

Amalkan dengan cara istiqamah membaca surah Yasin selama 41 hari berturut-turut tanpa terhenti atau terlewatkan. Insyaallah hajat ini akan di kabulkan oleh Allah. Kewajiban kita adalah memohon kepada Allah, kemudain laksanakan ikhtiar di barengi dengan ibadah yang sudah menjadi kewajiban kita. Semoga hajat kita terkabulkan.

Semoga kita semua dapat memperlakukan hidup dengan benar dan mendapat sisi yang baik di dekat-Nya, selalu dalam perlindungan-Nya. Jangan sampai kita menjadi manusia yang ada dalam kesesatan. Amin.

AYAT 37-40



TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK-5-SURAH YASIN AYAT 37-40
Bismillahirahmanirahim'
37 wa aayatul lahumullaylu naslakhu minhunnahaara faidhaa hum muZlimuuna
38 wash shamsu tajriy limustaqarril lahaa dhaalika taqdiyrul 'Aziyzil 'Aliym
39 wal qamara qaddarnaahu manaazila Hattaa 'AAdakal 'Urjuunil qadiymi
40 Lash shamsu yambagiy lahaaa an tudrikal qamara wa Lal laylu saabiqunnahaar wa kullun fiy falakiy yasbaHuuna

Pengaturan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap Alam Semesta

(Tafsir ayat 37-40)

وَآيَةٌ لَهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُمْ مُظْلِمُونَ (٣٧) وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (٣٨) وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ (٣٩) لا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan, (QS. 36:37) dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Mahamengetahui. (QS. 36:38) Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. (QS. 36:39) Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS. 36:40)

Allah Ta’ala berfirman bahwa di antara petunjuk bagi mereka tentang kekuasaan Allah Tabaaraka wa Ta’ala Yang agung adalah penciptaan malam dan siang. Malam dengan kegelapannya dan siang dengan cahaya sinarnya. Serta, Dia jadikan keduanya silih berganti, jika malam datang, siang pergi dan jika siang datang, malampun pergi. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا

Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat.” (QS. Al-A’raaf: 54).

Untuk itu, Allah Ta’ala berfirman di sini, “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu,” yaitu Kami tanggalkan, lalu dia pergi dan datanglah malam. Untuk itu Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman: “Maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.” Sebagaimana tercantum di dalam satu hadits:

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

“Jika malam datang dari arah sana, maka siang mundur ke arah lain. Dan matahari terbenam, maka pertanda bagi orang yang berpuasa untuk berbuka.” Inilah makna yang zhahir dalam ayat tersebut.

“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakannya pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya.” (QS. 15 : 19-20)

Dan firman Allah Ta’ala “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Mahamengetahui.” Pada makna firman-Nya, “Di tempat peredarannya,” terdapat dua pendapat.

Pendapat Pertama,

Mengatakan bahwa yang dimaksud adalah tempat peredarannya, yaitu di bawah ‘Arsy yang dekat ke arah bumi dari sisi tersebut. Dimana pun berada, matahari dan seluruh makhluk berada di bawah ‘Arsy, karena ‘Arsy merupakan atapnya dan bukan berbentuk bulat, sebagaimana yang dikira oleh para ahli hukum alam. Dia berbentuk kubah yang memiliki beberapa tiang yang dibawa oleh para Malaikat dan dia berada di atas alam seperti yang terlihat di atas kepala. Maka, matahari jika berada di dalam kubah falak di waktu siang, maka dia berada lebih dekat kepada ‘Arsy. Dan jika dia memutar pada falak ke empat menuju tempat tersebut, yaitu waktu pertengahan malam, maka dia semakin menjauh dari ‘Arsy. Di saat itu dia sujud dan meminta izin untuk terbit, sebagaimana yang tercantum di dalam beberapa hadits.

Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Dzarr r.a berkata: “Aku bersama Nabi Saw di dalam masjid ketika terbenamnya matahari. Lalu Rasulullah Saw bersabda: ‘Hai Abu Dzarr, apakah engkau tahu dimana matahari itu terbit?’ Aku menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Rasulullah Saw menjawab: ‘Dia itu pergi, hingga sujud di bawah ‘Arsy. Itulah firman Allah Ta’ala, ‘Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Mahamengetahui.”

Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin az-Zubair al-Humaidi, dari Abu Dzarr r.a yang berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw tentang firman Allah Ta’ala, ‘Dan matahari berjalan di tempat peredarannya,’ Rasulullah Saw menjawab:

مُسْتَقَرُّهَا تَحْتَ الْعَرْشِ

‘Tempat peredarannya di bawah ‘Arsy.”

Demikian yang dijelaskan di sini. Serta telah ditakhrij di beberapa tempat dan diriwayatkan oleh Jama’ah kecuali Ibnu Majah, dari beberapa jalur, dari al-A’masy.

Imam Ahmad meriwayatkan, bahwasanya Abu Dzarr r.a berkata: “Aku bersama Rasulullah Saw di dalam masjid ketika matahari tenggelam. Lalu Rasulullah Saw bersabda:

يَا أَبَا ذَرٍّ أَتَدْرِيْ أَيْنَ تَذْهَبُ الشَّمْسُ ؟ قُلْتُ : اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِنَّهَا تَذْهَبُ حَتَّى تَسْجُدَ بَيْنَ يَدَيْ رَبِّهَا عزّوَجل فَتَسْتَأْذِنُ فِي الرُّجُوْعِ فَيُؤْذَنُ لَهَا وَكأَنَّهَا قَدْ قِيْلَ لَهَا: ارْجِعِى مِنْ حَيْثُ جِئْتِ فَتَرْجِعُ إِلَى مَطْلِعِهَا وَذَلِكَ مُسْتَقَرُّهَا-ثُمَّ قَرَأَ-وَالشَّمْسُ تَجْرِ ي لِمُسْتَقَرِّ لَّهَا

‘Hai Abu Dzarr, apakah engkau tahu kemana perginya matahari?’ Aku menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Rasulullah Saw bersabda; ‘Dia pergi, hingga sujud di hadapan Rabb-nya ‘azza wa jalla untuk meminta izin kembali. Lalu dia diizinkan seakan dikatakan kepadanya: ‘Kembalilah dari mana engkau datang. Lalu dia kembali ke tempat terbitnya dan itulah tempat peredarannya.’ Kemudian, beliau membaca, ‘Dan matahari berjalan di tempat peredarannya.”

Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tempat peredarannya adalah akhir perjalanannya, yakni ujung naiknya di langit di waktu musim dingin, yaitu Aujaha, kemudian ujung bawahnya di saat musim panas, yaitu al-Hadhidh.

Pendapat Kedua

Mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tempat peredarannya adalah tempat akhir perjalanannya, yaitu pada hari Kiamat. Batallah perjalanannya, terhenti gerakannya, beredar dan berakhirlah alam ini. Dan ini adalah waktu peredaran.

Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma membaca

(وَالشَّمْسُ تَجْرِ ي لِمُسْتَقَرِّ لَّهَا) yaitu tidak tetap dan tidak tenang. Bahkan dia terus berputar, siang dan malam tanpa lelah dan tidak henti-hentinya. Sebagaimana Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman,

وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ

Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya).” (QS. Ibrahim: 33). Yaitu, tidak lelah dan tidak berhenti sampai hari Kiamat.

“Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa,” yakni yang tidak dibantah dan tidak dilanggar. “Lagi Mahamengetahui, “tentang seluruh gerakan dan segala sesuatu yang diam. Sesungguhnya hal itu sudah ditetapkan dan waktunya di atas satu aturan yang tidak berbeda dan tidak terbalik.

Kemudian Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah,” yaitu, Kami jadikan dia berjalan dalam perjalanan lain yang dapat dijadikan tanda berlalunya bulan, sebagaimana dengan matahari yang dapat diketahui antara siang dan malam. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

“Katakanlah: ‘Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji. (QS. Al-Baqarah: 189).

Dan Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).” (QS. Yunus: 5).

Dia menjadikan matahari memiliki cahaya yang khusus baginya dan bulan memiliki cahaya yang khusus pula baginya dan berbeda perjalanan antara keduanya. Matahari terbit setiap hari dan terbenam pada akhirnya dengan satu sinar, akan tetapi dia berpindah-pindah pada tempat terbit dan terbenam pada musim panas dan musim dingin. Dengan sebab itu, siang dapat lebih panjang dan malam dapat lebih pendek. Kemudian, malam dapat lebih panjang dan siang dapat lebih pendek serta menjadikan kekuasaannya pada siang hari dan itulah bintang siang.

Sedangkan bulan, telah ditetapkan baginya manzilah-manzilah yang terbit pada awal malam bulan dalam keadaan sabit, dengan cahaya kecil. Kemudian, sedikit demi sedikit bertambah pada malam yang kedua dan manzilahnya semakin naik. Kemudian, setiap kali manzilah itu naik meninggi, semakin bertambahlah sinarnya, sekalipun disadur dari cahaya matahari, hingga semakin sempurna sinarnya pada malam ke empatbelas. Kemudian, dia mulai berkurang kembali sampai akhir bulan, hingga seperti bentuk tandan tua.

Ibnu ‘Abbas r.a berkata; “Itulah asal rasa.” Mujahid berkata; “Al-‘urjuun al-qadiim” yaitu tandan yang kering (tua), Ibnu ‘Abbas r.a mengartikannya sebagai pokok tandan kurma yang telah lama, kering dan melengkang.” Setelah hal tersebut, Allah Ta’ala menampakkan bulan dalam bentuk baru di awal manzilah akhir.

Dan firman-Nya Tabaaraka wa Ta’ala, “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan. “Mujahid mengatakan: “Setiap matahari dan bulan mempunyai batasan yang tidak bisa dilampaui dan tidak bisa dikurangi oleh selainnya, jika kemungkinan (mendapatkan yang lainnya) ini terjadi, maka akan timbul kemampuan untuk membatasi.” Ats-Tsauri mengatakan dari Abi Shalih; “Tidaklah cahaya matahari mendapatkan bulan dan tidak pula cahaya bulan mendapatkan matahari.”

Firman-Nya Ta’ala, “Dan malam pun tidak dapat mendahului siang.” Allah berfirman, tidak sepatutnya jika malam telah terjadi, malam selanjutnya akan terjadi hingga malam sebelumnya menjadi siang. Maka, terbitnya matahari dengan adanya siang dan terbitnya bulan dengan adanya malam.

Adh-Dhahhak berkata: “Malam tidak akan berlalu hingga siang datang dari arah tersebut.” Dan ia memberikan isyarat pada arah timur. Mujahid mengatakan: “Dan malam pun tidak dapat mendahului siang,” dua hal yang dituntut cepat, yang mana salah satunya akan mendahului yang lain. Dan makna tafsiran tersebut yaitu, tidak ada selang waktu antara malam dan siang, akan tetapi setiap dari keduanya (terjadi) tanpa keterlambatan dan tidak ketinggalan (dari yang lainnya) karena keduanya bekerja tanpa pamrih lagi tekun yang dituntut dengan tuntutan yang cepat.

Dan firman-Nya Tabaaraka wa Ta’ala, “Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” Yakni malam, siang, matahari dan bulan semuanya beredar, yaitu berputar pada garis edar langit. Pendapat tersebut dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, adh-Dhahhak, al-Hasan, Qatadah, ‘Atha’ al-Khurasani. Ibnu ‘Abbas r.a dan selainnya dari kaum Salaf;
  1. lebih dari satu orang berkata: “Garis edarnya seperti putaran alat pemintal benang.” Mujahid berkata: “Garis edarnya bagaikan besi putar atau bagaikan putaran alat pemintal benang, yang mana alat pemintal tidak akan berputar kecuali dengan putaran tersebut dan putaran tersebut tidak akan berputar kecuali dengan alat pemintal tersebut. Pelajaran-pelajaran dari ayat 37 – 40, antara lain: Penjelasan tentang penciptaan malam, dimana Allah Ta’ala menanggalkan siang dari malam sebagimana kulit ditanggalkan dari seekor kambing. Itu menunjukkan bahwa siang datang sedikit demi sedikit. Sesungguhnya yang pertama diciptakan adalah kegelapan. Allah Ta’ala berfirman, “Kami tanggalkan siang dari malam itu”. Itu menunjukkan bahwa yang asal adalah kegelapan, dan sesungguhnya siang akan datang setelahnya. Oleh karena itu dia ditanggalkan dari malam, dan demikianlah adanya. Karena sesungguhnya asal sinar dari matahari, dan matahari muncul dan mendatangi malam, maka yang asal adalah kegelapan kemudian cahaya datang setelahnya. Sesungguhnya matahari beredar, yakni berjalan, dan itulah realitanya. Zhahir al-Quran menunjukkan bahwa perjalanan matahari adalah dzati, dan yang dimaksud bukanlah bahwa dia berjalan dengan penglihatan mata; dan sesungguhnya yang beredar adalah bumi. Yang wajib adalah mengimani al-Quran sesuai zhahirnya sampai datang dalil yang jelas menjadi hujjah bagi kita di hadapan Allah Ta’ala. Apabila Allah Ta’ala berfirman, “Dan matahari berjalan”, maka wajib kita katakan bahwa matahari berjalan, dan tidak boleh kita katakan bahwa kitalah yang berjalan. Akan tetapi dialah (matahari) yang berjalan dengan ketetapan Allah Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Bahwasanya seluruh makhluk memiliki titik akhir. Segala sesuatu yang ada di dunia dari para makhluk memiliki titik akhir dan dia pasti akan sirna. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ibrahim ayat 48.Penetapan dua nama dari nama-nama Allah yang baik, yakni “al‘Aziiz
(Maha Perkasa) dan “al-‘Aliim” (Maha Mengetahui). Hal ini menetapkan bahwa Allah Maha Menguasai segala sesuatu dan Maha Mengetahui segala sesuatu.
Sesungguhnya bulan adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah Ta’ala. Dengan adanya peredaran bulan maka manusia bisa mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.
Penjelasan tentang kekuasaan Allah yaitu adanya cahaya bulan, dimana cahayanya bermula dari keadaan lemah, lalu bertambah cahayanya, kemudian kembali melemah. Ini adalah kekuasaan Allah; karena jika Dia menghendaki, maka Dia akan menjadikannya selalu bercahaya atau selalu redup.
Untuk bahan renungan, bahwa penciptaan bulan, selaras dengan kondisi manusia, seperti firman-Nya: “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar-Ruum: 54)
Jadi kondisi manusia sama persis dengan kondisi bulan. Bulan mulai dalam keadaan lemah. Lalu bertambah kuat cahayanya sampai ketika telah sempurna kekuatan cahayanya, dia mulai berkurang cahayanya sampai redup sama sekali. Demikian juga manusia dalam kehidupannya.

Sesungguhnya matahari tidak mungkin terbit pada malam hari menurut sunnah Allah Ta’ala. Adapun menurut kekuasaan Allah Ta’ala, maka dia mungkin terbit pada malam hari; karena Allah Ta’ala berfirman, “Kun fayakun” (Jadilah, maka terjadilah ia).
Sesungguhnya malam tidak mungkin mendahului siang dan tidak akan masuk ke dalamnya, dimana akan ada dua malam sekaligus berturut-turut.
Sesungguhnya matahari, bulan, malam dan siang berada di garis edarnya, yakni pada sesuatu yang melingkar, dan sesungguhnya diapun beredar. Sesuai firman-Nya, “Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” Hal ini juga sebagai bantahan terhadap pendapat orang yang berkata, “Sesungguhnya matahari tetap, dan sesungguhnya dia tidak beredar.” Apabila kita menafsirkan “as-Sabhu” (beredar) dengan “ad-Dauran” (berkeliling) dan kita menetapkannya untuk bulan, maka hendaklah kita juga menetapkannya untuk matahari.

AYAT 33-36

TADSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
  • JILIK5-SURAH YASIN -AYAT 33-36
  • BISMILLAHIRAHMANIRAHIM';
  • 33 wa aayatul lahumuL arDul maytatu aHyaynaahaa wa akhrajnaa minhaa Habban faminhu ya'kuluuna
  • 34 wa ja'Alnaa fiyhaa jannaatim min nakhiyliw wa a'Ånaabiw wa fajjarnaa fiyhaa minal 'Uyuuni
  • 35 liya'kuluu min thamarihii wa maa 'Amilat-hu aydiyhim
  • 35 afaLaa yashkuruuna
  • 36 subHaanalladhiy khalaqaL azwaaja kullahaa mimmaa tumbituL arDu wa min anfusihim wa mimmaa Laa ya'Ålamuuna
  1. Surat YasinTanda-tanda Kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala
  • (Tafsir ayat 33-36)
  • وَآيَةٌ لَهُمُ الأرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَاهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ (٣٣) وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّاتٍ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ (٣٤) لِيَأْكُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ وَمَا عَمِلَتْهُ أَيْدِيهِمْ أَفَلا يَشْكُرُونَ (٣٥) سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الأزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ الأرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لا يَعْلَمُونَ
  1. Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. (QS. 36:33) Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, (QS. 36:34) supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? (QS. 36:35) Mahasuci Rabb yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS. 36:36)  
  •  Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman, “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka.” Yaitu, tanda bagi mereka tentang adanya Mahapencipta, kekuasaan-Nya yang sempurna dan perbuatan-Nya menghidupkan yang mati. “Adalah bumi yang mati,” yaitu, dahulunya bumi itu mati dan gersang, tidak ada tumbuhan satu pun. Lalu, ketika Allah Ta’ala menurunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah serta menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.Untuk itu Allah Ta’ala berfirman, “Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.” Yaitu, Kami jadikan hal itu sebagai rizki bagi mereka dan binatang-binatang ternak mereka.“Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air,” yaitu, Kami jadikan di dalamnya sungai-sungai yang mengalir di tempat-tempat yang mereka butuhkan agar mereka dapat memakan buah-buahnya. Dia telah memberikan nikmat-Nya kepada para makhluk dengan diadakannya tanam-tanaman, lalu Dia menyambungnya dengan menyebutkan buah-buahan, macam-macam dan jenis-jenisnya.Dan firman Allah Ta’ala, “Dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka,” yaitu, semua itu tidak mungkin kecuali dari rahmat Allah Ta’ala kepada mereka, bukan semata-mata hasil kerja dan jerih payah mereka, serta bukan pula semata-mata kemampuan dan kekuatan mereka. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas r.a dan Qatadah. Untuk itu Allah Ta’ala berfirman, “Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?” Maka, mengapakah mereka tidak bersyukur atas kenikmatan yang telah dianugerahkan kepada mereka berupa nikmat-nikmat yang tidak terhingga dan tidak terhitung.Kemudian Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman: “Mahasuci Rabb yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi,” yaitu berupa tumbuh-tumbuhan, buah-buahan dan tanam-tanaman.Dan dari diri mereka,” dimana Dia menjadikan mereka laki-laki dan perempuan. “Maupun dari apa yang tidak mereka ketahui,” yaitu berupa makhluk-makhluk lain yang tidak mereka ketahui. Sebagaimana Allah Yang Mahaagung berfirman:وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 49).  
  1. Pelajaran-pelajaran dari ayat 33 – 36, antara lain:
  2. Penjelasan tentang kekuasaan Allah Ta’ala akan kemampuan menghidupkan bumi setelah kematiannya. Allah mensifati bumi dengan kematian dan mensifatinya dengan kehidupan.Penjelasan tentang kenikmatan Allah Ta’ala dengan apa-apa yang Allah keluarkan dari bumi untuk manusia, seperti biji-bijian dan buah-buahan.Penjelasan akan kenikmatan Allah berupa pohon-pohon yang lebat dan rindang.Keutamaan akan buah kurma dan anggur. Keduanya diperoleh tanpa susah payah. Juga tentang kebutuhan kurma dan anggur akan air dan buahnya akan banyak sesuai dengan banyaknya air.Wajibnya bersyukur atas kenikmatan Allah Ta’ala, karena Allah itu benci kepada orang yang tidak bersyukur.Allah Ta’ala mensucikan dzat-Nya dari segala macam kekurangan dan cela.Perhatian khusus terhadap wahdaniyyah (keesaan) Allah Ta’ala dan perbedaan-Nya dengan para makhluk.Sesungguhnya tidak ada suatu apapun yang diciptakan kecuali dia berpasang-pasangan.Sesungguhnya Bani Adam (manusia) macamnya beraneka ragam seperti halnya tetumbuhan yang ditumbuhkan oleh bumi.Penetapan sifat bodoh manusia, dan sesungguhnya dia tidak mengetahui banyak perkara. Hal ini sebagaimana firman-Nya(وَمِمَّا لا يَعْلَمُونَ) [Yaasin: 36]

Selasa, 5 Disember 2017

AYAT 30-32

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
  1. JILIK-5-SURAH YASIN AYAT 30.31'32'
  • 30 yaa Hasratan 'Alal'Ibaadi maa ya'tiyhim mir rasuulin iLLaa kanuu bihii yastahziuuna31 alam yaraw kam ahlaknaa qablahum minal quruuni annahum ilayhim Laa yarji'UUna32 wa in kullul lammaa jamiy'Ul ladaynaa muHDaruuna
  • {يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (30) أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ الْقُرُونِ أَنَّهُمْ إِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُونَ (31) وَإِنْ كُلٌّ لَمَّا جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ (32) }
  1. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Tidakkah mereka mengetahui berapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwa orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami.Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu (Yasin: 30) Maksudnya, alangkah celakanya hamba-hamba itu.Sedangkan menurut Qatadah, makna firman-Nya: Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu (Yasin: 30) Yakni alangkah kecewanya hamba-hamba itu atas diri mereka sendiri karena menyia-nyiakan perintah Allah dan melalaikan kewajiban mereka kepada Allah.Menurut suatu qiraat disebutkan "يَا حَسْرَةَ الْعِبَادِ عَلَى أَنْفُسِهَا"., yang artinya 'alangkah besarnya kekecewaan dan penyesalan mereka kelak di hari kiamat bila mereka menyaksikan azab Allah Swt karena mereka telah mendustakan rasul-rasul Allah dan menentang perintah Allah saat mereka hidup di dunia'. Ungkapan ini ditujukan kepada mereka yang mendustakan hal tersebut.{مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ}tiada datang seorang rasul pun kepada mereka, melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. (Yasin: 30)Yaitu mendustakannya, memperolok-olokkannya, dan mengingkari kebenaran yang disampaikan olehnya. Kemudian disebutkan dalam firman selanjutnya:{أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ الْقُرُونِ أَنَّهُمْ إِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُونَ}Tidakkah mereka mengetahui berapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwa orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. (Yasin: 31)Yakni apakah mereka tidak mengambil pelajaran dari orang-orang yang sebelum mereka yang mendustakan para rasul. Allah telah membinasakan mereka, dan tiadalah mereka dikembalikan lagi ke dunia ini, dan perkaranya tidaklah seperti apa yang diduga oleh kebanyakan dari orang-orang bodoh dan orang-orang durhaka mereka yang telah mengatakan seperti apa yang disitir oleh firman-Nya:{إِنْ هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا}kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup. (Al-Mu-minun: 37)Mereka adalah orang-orang yang mempercayai adanya reinkarnasi suatu sekte dari aliran Dahriyyah. Mereka berkeyakinan, karena kebodohan mereka, bahwa mereka akan dikembalikan lagi ke dunia seperti masa mereka hidup. Maka Allah menyanggah keyakinan mereka yang batil itu melalui firman-Nya:{أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ الْقُرُونِ أَنَّهُمْ إِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُونَ}Tidakkah mereka mengetahui berapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwa orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. (Yasin: 31)*******Adapun firman Allah Swt.:{وَإِنْ كُلٌّ لَمَّا جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ}Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami. (Yasin: 32)Yakni sesungguhnya semua umat yang terdahulu dan yang akan datang, kelak akan dihimpunkan untuk menjalani perhitungan amal perbuatan di hari kiamat di hadapan Allah Swt. Maka Dia akan membalas masing-masing dari mereka sesuai dengan amal perbuatannya, yakni semua amal baik dan amal buruknya. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:{وَإِنَّ كُلا لَمَّا لَيُوَفِّيَنَّهُمْ رَبُّكَ أَعْمَالَهُمْ}Dan sesungguhnya kepada masing-masing (mereka yang berselisih itu) pasti Tuhanmu akan menyempurnakan dengan cukup (balasan) pekerjaan mereka. (Hud: 111)Ulama ahli qiraat berselisih pendapat sehubungan dengan bacaan ayat ini, di antara mereka ada yang membacanya dengan bacaan takhfif pada lafaz lamma sehingga menjadi lama. Atas dasar qiraat ini, berarti huruf in menunjukkan makna itbat. Di antara mereka ada pula yang men-tasydid-kan lamma serta menjadikan in sebagai huruf nafi. sedangkan huruf lamma bermakna illa, artinya 'dan tidaklah masing-masing dari mereka melainkan dikumpulkan kepada Kami'. Akan tetapi, makna kedua qiraat ini sama tidak ada bedanya.[30]Sungguh besar perasaan sesal dan kecewa yang menimpa hamba-hamba (yang mengingkari kebenaran)! Tidak datang kepada mereka seorang Rasul melainkan mereka mengejek-ejek dan memperolok-olokkannya.[31]Tidakkah mereka mengetahui berapa banyak umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka? Umat-umat yang telah binasa itu tidak kembali lagi kepada mereka (bahkan kembali kepada Kami, untuk menerima balasan).[32]Dan tidak ada satu makhluk pun melainkan dihimpunkan ke tempat perbicaraan Kami, semuanya dibawa hadir (untuk menerima balasan).Ayat 30 membawa maksud general.. ‏يَحَسْرَةً عَلَى ٱلْعِبَادِ ۚ ... penyesalan yang amat sangat... keatas semua hamba.. hamba.. nya. Merupakan satu seruan, bila mereka ini mengejet ngejet, allah menjadi kita badan, fikiran dan roh... kalau badan perlu makanan, begitu juga roh... perlu hidangan...Allah tidak melihat luaran kamu, tapi dia akan melihat hati kita. Apakan kita mengisi roh kita dengan apa yang mendatangkan ke redho-an allah. Kalau roh kita bermasaalah, kita akan liat menerima perintah allah.--- apa kah kita menerima , menolak atau mengambil ringan perintah tuhan..Penyealan diakhirat tak ada guna nya, kerana kita tidak akan berpeluang memperbaiki keadaan.. Oleh itu penyesalan kena bermula di-sini.. di dunia lagi.. Tafsiran Ibn Kathir.. celakan lah manusia yang apabila datang rasul menbawa agama allah dan mereka menolak, dan lebih teruk lagi, mereka menhina dan mengejek nama. Sekarang masih ada segelintir umat Islam yang mengejek para sahabat yang rapat dengan nabi.Sesalan mereka yang engkar itu, apabila mereka melihat seksaan allah di hari akhirat..Allah tidak menghukum sesuatu kaum sehingga dia menghantar para nabi kepada mereka.Dalam ayat 32, allah juga mengingat kan yang allah telah membinasakan umat umat dulu. Allah mengunakan perkataan ..."tidak kah kamu melihat" padahal ini perkara ghaib..walaupun maksud nya .. tidakkah kamu mengetahui. Mereka yang dibinasa-i oleh allah tidak kembali kepada mereka , tetapi mereka kembali kepada Allah dan mereka di hisab untuk balasan.

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN