Rabu, 21 November 2018

AYAT23-24

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK;
 SURAH MUHAMAD 23-24

 بسملهرهمنرحم
أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا “

BISMILLAHIRAHMANNIRRAHIM.
23. ulaa-ika alladziina la’anahumu allaahu fa-ashammahum wa-a’maa abshaarahum 24. afalaa yatadabbaruuna alqur-aana am ‘alaa quluubin aqfaaluhaa

   DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PEMURAH LAGI MAHA PENYAYANG;
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’an itu dan ajaklah penolong penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir.” (QS. 2:23-24)

 Selanjutnya Allah menetapkan kenabian setelah Dia menetapkan bahwasannya tiada Ilah yang hak selain Allah, maka Dia pun berfirman yang ditujukan kepada orang-orang kafir: wa in kuntum fii raibim mimmaa nazzalnaa ‘alaa ‘abdinaa (“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang kami wahyukan kepada hamba Kami.”) Yang dimaksud adalah Muhammad saw. Artinya, buatlah satu surat yang serupa dengan surat dari kitab yang dibawa oleh Muhammad, jika kalian mengaku bahwa wahyu itu diturunkan dari selain Allah, lalu bandingkanlah surat itu dengan apa yang telah dibawa oleh Muhammad. Dan untuk melakukan itu mintalah bantuan kepada siapa saja yang kalian kehendaki selain Allah maka sesungguhnya kalian tidak akan pernah berhasil melakukannya.

 Ibnu Abbas mengatakan, “syuHadaa-akum” berarti para penolong. Sedangkan as-Suddi menceritakan dari Abu Malik, ” syuHadaa-akum ” berarti kaum lain yang mau membantu kalian untuk melakukan hal tersebut. Dan mohonlah bantuan kepada sembahan-sembahan kalian yang engkau anggap dapat memberikan pertolongan. Dan Mujahid mengatakan, berarti beberapa orang ahli bahasa yang dapat membantu hal itu. Dan mereka ini telah ditantang oleh Allah untuk melakukan hal tersebut pada surat yang lain dalam al-Qur’an: “Katakanlah datangkanlah sebuah kitab dari sisi Allah yang kitab itu lebih (dapat) memberi petunjuk daripada keduanya (Taurat dan al-Qur’an), niscaya aku akan mengikutinya, jika kamu sungguh orang-orang yang benar. ” (QS. Al-Qashash: 49). Demikian juga firman-Nya yang terdapat dalam surat al-Israa’: “Katakanlah: `Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.”‘ (QS. Al-Israa’: 88).

 Sedangkan dalam surat Hudd difirmankan-Nya: “Tidaklah mungkin al-Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (al-Qur’an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam. Atau (patutkah) mereka mengatakan: ‘Muhammad membuat-buatnya.’ Katakanlah: `(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. “‘ (QS. Yunus: 37-38). Semua ayat di atas diturunkan di Makkah. Selain itu, Allah juga menantang orang-orang kafir untuk melakukan hal tersebut di Madinah, dengan firman-Nya: “Dan jika kamu tetap dalam keraguan terhadap al-Qur an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat yang serupa dengannya. ” (QS. Al-Baqarah: 23).

 Yaitu yang serupa dengan al-Qur’an. Demikian itulah yang dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah serta menjadi pilihan Ibnu Jarir, ath-Thabari, az-Zamakhasyari, ar-Razi, dan dinukil dari Umar, Ibnu Masud, Ibnu Abbas, Hasan al-Bashri, dan mayoritas para muhaqqiq. Dan hal itu ditarjih (dinilai kuat) dengan beberapa pandangan, yang terbaik di antaranya adalah bahwa Allah swt menantang mereka secara keseluruhan, baik dalam keadaan sendiri-sendiri maupun kelompok, orang-orang yang buta huruf maupun yang ahli kitab. Yang demikian itu merupakan tantangan yang paling tegas dan sempurna daripada sekedar menantang satu per satu dari mereka yang tidak dapat menulis dan belum mendalami ilmu sedikit pun. Juga dengan menggunakan dalil dari firman-Nya, “Sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya.” (QS. Huud: 13).

 Juga firman-Nya, serupa dengan-nya.”Niscaya mereka tidak dapat membuat yang semisal dengannya.” (QS. Al-Israa’: 88). Oleh karena itu Allah berfirman, wa il lam taf’aluu wa lan taf’aluu; (“Jika kamu tidak dapat membuatnya dan tidak akan pernah dapat melakukannya. “Kata “lan” untuk memberikan ketegasan pada masa yang akan datang. Artinya, sekali-kali kalian tidak akan pernah dapat melakukannya. Dan ini merupakan mukjizat lain, di mana Dia memberikan sebuah berita yang pasti dengan berani tanpa rasa takut maupun kasihan, bahwa al-Qur’an ini tidak akan pernah dapat ditandingi. Kenyataannya dari sejak dulu sampai sekarang, dan sampai kapanpun tidak ada yang dapat menyamai, dan tidak mungkin bagi seseorang dapat melakukan hal itu. Yang demikian itu karena al-Qur’an merupakan firman Allah, Rabb Pencipta segala sesuatu. Bagaimana mungkin firman Allah sang Pencipta akan sama dengan ucapan makhluk ciptaan-Nya. Orang yang mencermati dan memperhatikan al-Qur’an dengan seksama, niscaya ia kan menemukan berbagai keunggulan al-Qur’an -yang sulit untuk ditandingi dalam seni sastra baik yang tersurat maupun yang tersirat,- dari sisi lafazh dan juga sisi makna. Allah swt. berfirman: Alif laam raa . Inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi Allah yang Mahabijaksana lagi Mahatahu. ” (QS. Huud: 1).

 Artinya, Dia telah menyusun kata-kata di dalam al-Qur’an secara rapi dan indah dan menerangkan maknanya secara rinci. Dengan demikian, seluruh kata dan maknanya dikemukakan secara fasih, tidak ada yang dapat menyamai dan menandinginya. Di dalamnya Allah memberitakan berbagai berita ghaib yang telah lalu dan terjadi sesuai dengan apa yang diberitakan tersebut, dan Dia juga menyuruh berbuat kebaikan dan melarang berbuat kejahatan, sebagaimana firman Allah Tabaraka wa Ta’ala, “Telah sempurna kalimat Rabbmu (al-Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil.” (QS. Al-An’aam: 115). Artinya, benar dalam berita yang disampaikan al-Qur’an dan adil dalam hukum-hukum yang dimuatnya. Dengan demikian, semua kandungannya itu adalah benar, adil, dan petunjuk, yang tidak ada sedikit pun darinya kecerobohan, kebohongan, dan juga dibuat-buat, seperti yang terdapat dalam syair-syair Arab dan syair-syair selain mereka yang diwarnai dengan berbagai kecerobohan dan kebohongan, yang tidak akan indah kecuali dengan hal-hal seperti itu. Sebagaimana diungkapkan dalam syair: “Sungguh kata yang paling indah adalah yang paling dusta.” Sedangkan al-Qur’an, seluruh kandungannya benar-benar fasih, berada di puncak keindahan bahasa bagi orang-orang yang memahami hal tersebut secara rinci dan global dari kalangan mereka yang memahami ucapan dan ungkapan bangsa Arab.

 Sesungguhnya jika anda mencermati dan merenungkan berita-berita yang disajikan al-Qur’an, niscaya anda akan mendapatkannya benar-benar berada di puncak keindahan, baik penyajian secara panjang lebar maupun singkat, diulang-ulang atau tidak. Setiap kali melakukan pengulangan, maka semakin tinggi dan mempesona keindahannya. Tidak basi dengan banyaknya pengulangan dan tidak membuat para ulama menjadi bosan. Ancaman yang dikemukakan-Nya akan menjadikan gunung-gunung yang tegak berdiri itu berguncang karenanya. Lalu bagaimana dengan hati yang benar-benar memahami hal tersebut. Dan jika Dia berjanji, Dia mengemukakannya dengan ungkapan yang dapat membuka hati dan pendengaran serta merasa rindu ke darussalam (tempat yang penuh kedamaian, surga) dan berdekatan dengan Arsy ar-Rahman (singgasana Allah), sebagaimana firman-Nya dalam targhib-Nya berikut ini: “Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17).

 Dia juga berfirman: “Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diinginkan oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zukhruf: 71).
“Maka apakah kamu merasa aman (dari hukuman Allah) yang menjungkir balikkan sebagian daratan bersamamu.”(QS. Al-Isra’: 68) “
Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir-balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang. Atau apakab kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku.” (QS. Al-Mulk: 16-17).
 Dan dalam teguran-Nya Dia berfirman: “Maka masing-masing (dari mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya.” (QS. Al-Ankabut: 40).
 Sedangkan dalam nasihat-Nya, Dia mengatakan: “Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka adzab yang telah diancamkan kepada mereka. Niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang selalu mereka nikmati. ” (QS. Asy-Syuura: 205-207).

 Dan masih banyak lagi bentuk kefasihan, balaghah, dan keindahan. Jika ayat-ayat al-Qur’an berkenaan dengan hukum, perintah, dan larangan, maka mencakup perintah-Nya mengerjakan segala yang makruf, baik, bermanfaat, dan yang dicintai dan melarang dari segala yang buruk, hina, dan tercela. Sebagaimana dikemukakan Ibnu Masud dan ulama salaf lainnya, ia mengatakan, “Jika engkau mendengar Allah berfirman di dalam al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman,”maka siapkanlah pendengaranmu dengan baik, karena ia mengandung kebaikan yang diperintahkan-Nya atau kejahatan yang dilarang-Nya.” Oleh karena itu, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Yang menyuruh mereka mengerjakan kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran serta menghalalkan bagi mereka yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk serta membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka “. (QS. Al-A’raaf: 157).

 Dan jika ayat-ayat al-Qur’an menyifati hari kebangkitan serta peristiwa-peristiwa yang mengerikan pada waktu itu, juga menyifati surga dan neraka serta apa yang dijanjikan Allah swt. baik bagi para wali yang berupa kenikmatan dan kelezatan, dan ancaman-Nya bagi para musuh-musuh-Nya, berupa siksa dan adzab yang sangat pedih, maka ayat-ayat tersebut memberikan kabar gembira, atau memberikan peringatan dan juga menjauhi berbagai macam kemungkaran. Selain itu, ayat-ayat tersebut juga mengajak berzuhud di dunia dan menanamkan kecintaan pada kehidupan akhirat. Juga memberikan petunjuk ke jalan Allah yang lurus dan syari’at-Nya yang benar. Ayat-ayat itu juga membersihkan berbagai gangguan syaitan terkutuk dari hati manusia. Oleh karena itu, diriwayatkan dalam kitab Shahih al Bukhari dan Muslim hadits dari Abu Hurairah: “Tidak ada seorang pun dari para Nabi melainkan telah diberikan beberapa mu’jizat yang mana manusia mempercayai/mengimani kepada yang serupa dengannya.

Sedangkan (mu’jizat) yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan oleh Allah. Dan aku berharap menjadi nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat kelak”. Demikian menurut lafazh dari Imam Muslim. Sabda beliau, “Sedangkan yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan oleh Allah.” Maksudnya, bahwa yang dikhususkan kepada beliau di antara para nabi yang lainnya adalah al-Qur’an, yang tidak mungkin ada umat manusia yang mampu menandinginya, berbeda dengan kitab-kitab lainnya yang diturunkan Allah, karena bukan mukjizat menurut banyak ulama. Wallahu a’lam. Firman-Nya: fattaqun naaral latii waquuduHan naasu wal hijaaratu u-‘iddat lil kaafiriina (“Maka peliharalah dirimu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.”) “alwaquud” yaitu apa yang dicampakkan ke dalam neraka untuk menyalakan apinya seperti kayu bakar dan yang lainnya. Hal yang sama juga difirmankan-Nya: “Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu bakar bagi neraka jahanam.” (al-Jin: 15) Maksud kata “waquud” pada ayat di atas adalah batu api [belerang] yang besar dan berwarna hitam, sangat keras dan berbau busuk, yaitu sebuah batu yang paling panas jika membara. Semoga Allah melindungi kita darinya.

        Sedangkan firman-Nya: u-‘iddat lil kaafiriin; yang lebih jelas adalah dhamir (kata ganti) pada kata “u-‘iddat” bahan bakarnya berasal dari manusia dan batu, bisa pula kembali kepada batu. Sebagaimana dikatakan Ibnu Mas’ud. Dan tidak ada pertentangan makna antara kedua pendapat di atas, karena keduanya saling berkaitan. berarti disediakan dan dipersiapkan, bagi orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. u-‘iddat lil kaafiriin; menurut Ibnu Ishak, dari Muhammad, dari Ikrimah atau Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, yakni bagi orang yang berada dalam kekufuran seperti yang kalian lakukan. Banyak Imam Ahli Sunnah yang menjadikan ayat ini sebaai dalil bahwa neraka itu sudah ada sekarang ini, berdasarkan Firman-Nya: u-‘iddat; artinya disediakan dan disiapkan.

      Banyak juga hadits-hadits yang menunjukkan hal ini, antara lain: “Api neraka pernah minta izin kepada Rabb-nya. la berujar: `Ya Rabb-ku, sebagian kami memakan sebagian lainnya.” Lalu Rabb-nya memberikan izin kepadanya dengan dua jiwa. Satu jiwa pada musim dingin dan satu jiwa lagi pada musim panas”. Diriwayatkan oleh lima perawi (Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah). Ibnu Mas’ud juga pernah memberitahukan sebuah hadits, Kami pernah mendengar suara sesuatu yang jatuh, lalu kami pun bertanya: “Apa itu?” Maka Rasulullah bersabda: “Itu adalah batu yang dilontarkan dari tepi Neraka Jahanam sejak tujuh puluh tahun lalu dan sekarang telah sampai di dasarnya.” (HR. Muslim) Demikian juga hadits shalat gerhana, malam Isra’, dan hadits-hadits mutawatir lainnya yang berkenaan dengan makna ini. Namun golongan Mu’tazilah karena kebodohan mereka dalam hal ini telah berbeda paham, dan al-Qadhi Mundzir bin Said al-Baluthi, seorang hakim Andalus, juga berpaham sama seperti mereka. Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. Yakni dijauhkan dari rahmat-Nya dan didekatkan dengan kemurkaan-Nya. Dari mendengarkan yang hak. Dari melihat petunjuk. Allah Subhaanahu wa Ta'aala menjadikan mereka tidak dapat mendengar sesuatu yang bermanfaat bagi mereka. Mereka memang bisa mendengar, tetapi mendengarnya bukan untuk tunduk dan menerima, bahkan hanya menegakkan hujjah Allah atas mereka. Mereka punya mata, akan tetapi mereka tidak dapat melihat ibrah (pelajaran) dan ayat-ayat dengan matanya itu serta tidak melihat bukti dan keterangan.

Selasa, 20 November 2018

AYAT 21-22

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH MUHAMAD AYAT 21-22

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM''
 22. fahal ‘asaytum in tawallaytum an tufsiduu fii al-ardhi watuqaththhi’uu arhaamakum
 23. ulaa-ika alladziina la’anahumu allaahu fa-ashammahum wa-a’maa abshaarahum

{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (21) وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الأحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا (22) }


      Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidak menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.

        Ayat yang mulia ini merupakan dalil pokok yang paling besar, yang menganjurkan kepada kita agar meniru Rasulullah Saw. dalam semua ucapan, perbuatan, dan sepak terjangnya. Karena itulah Allah Swt. memerintahkan kepada kaum mukmin agar meniru sikap Nabi Saw. dalam Perang Ahzab, yaitu dalam hal kesabaran, keteguhan hati, kesiagaan, dan perjuangannya, serta tetap menanti jalan keluar dari Allah Swt. Semoga salawat dan salam-Nya terlimpahkan kepada beliau sampai hari kiamat. Melalui ayat ini Allah Swt. berfirman kepada orang-orang yang merasa khawatir, gelisah, dan guncang dalam menghadapi urusan mereka dalam Perang Ahzab:

{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ}
           Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu. (Al-Ahzab: 21) Yakni mengapa kalian tidak meniru dan mengikuti jejak sifat-sifatnya? Dalam firman selanjutnya disebutkan:

{لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا}
               (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al-Ahzab: 21) Selanjutnya Allah Swt. menyebutkan perihal hamba-hamba-Nya yang beriman yang membenarkan janji Allah kepada mereka, yang pada akhirnya Allah akan menjadikan kesudahan yang baik di dunia dan akhirat bagi mereka.

Untuk itu Allah Swt. berfirman: {وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الأحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ}

Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. (Al-Ahzab: 22) Menurut Ibnu Abbas dan Qatadah, ayat inilah yang dimaksudkan oleh Allah Swt. dalam surat Al-Baqarah melalui firman-Nya:
       {أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ}

       Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, "Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al-Baqarah: 214) Inilah yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya kepada kita, yakni cobaan dan ujian yang berakhir dengan kemenangan yang dekat. Karena itu, dalam firman berikutnya disebutkan: {وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ} Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. (Al-Ahzab: 22) ***********

         Adapun firman Allah Swt.: {وَمَا زَادَهُمْ إِلا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا} Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. (Al-Ahzab: 22) Hal ini menunjukkan bertambahnya iman dan kekuatan mereka bila dibandingkan dengan orang lain dan keadaannya, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian besar para imam yang mengatakan bahwa iman itu dapat bertambah dan berkurang. Hal ini telah kami tetapkan di dalam permulaan Syarah Imam Bukhari. Makna firman Allah Swt.: Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka. (Al-Ahzab: 22) Yakni kesempitan, keadaan gawat, dan situasi yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka. kecuali iman dan ketundukan. (Al-Ahzab: 22)
            Maksudnya, iman kepada Allah, tunduk kepada perintah-perintah-Nya, serta taat kepada Rasul-Nya. Taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. Yakni yang patut bagi mereka adalah melaksanakan perintah pada saat itu dan mengerahkan kemampuan mereka untuknya serta tidak meminta disyariatkan hal yang masih berat bagi mereka dan agar mereka bergembira atas perlindungan Allah dan maaf-Nya. Dengan memohon pertolongan kepada-Nya dan mengerahkan kemampuan untuk menaati-Nya. Daripada keadaan mereka pertama tadi. Hal itu dikarenakan beberapa sebab, di antaranya:

Isnin, 19 November 2018

AYAT 20

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK ;
SURAH MUHAMAD 20,

BIS-MILLAHIR-RAHMANIR-RAHIM'
20. wayaquulu alladziina aamanuu lawlaa nuzzilat suuratun fa-idzaa unzilat suuratun muhkamatun wadzukira fiihaa alqitaalu ra-ayta alladziina fii quluubihim maradhun yanzhuruuna ilayka nazhara almaghsyiyyi ‘alayhi mina almawti fa-awlaa lahum

وَيَقُولُ الَّذِينَ آمَنُوا لَوْلَا نُزِّلَتْ سُورَةٌ ۖ فَإِذَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ مُحْكَمَةٌ وَذُكِرَ فِيهَا الْقِتَالُ ۙ رَأَيْتَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ نَظَرَ الْمَغْشِيِّ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ ۖ فَأَوْلَىٰ لَهُمْ

 Dan orang-orang yang beriman berkata: "Mengapa tiada diturunkan suatu surat?" Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka.


         Ayat 20-29 menjelaskan karakter kaum munafik, yakni orang yang di dalam hati mereka terdapat berbagai penyakit seperti ragu terhadap janji Allah, Rasul-Nya dan bagaimana nasib mereka saat menghadapi kematian dan kenapa Allah melaknat mereka.
         Diantara karakter kaum munafik ialah ketika turun ayat yang mewajibkan berperang di jalan Allah, mereka memandang dengan sinis kepada Rasul saw. Wajah mereka pucat pasi seakan menghadapi sakratul maut. Kalau mereka mentaati perintah Allah tersebut dan mengeluarkan kata-kata yang baik, niscaya kebaikannya akan kembali kepada mereka sendiri. Sebenarnya mereka tidak memiliki tekad kuat, kejujuran dan memendam niat yang tidak baik. Kalau mereka berkuasa, mereka pasti melakukan kerusakan di atas muka bumi dan memutus tali persaudaraan. Allah melaknat kaum munafik, menjadikan telinga mereka tuli dan mata mereka buta dan tidak bisa memahami (tadabbur) Al-Qur’an karena hati mereka sudah dikunci mati. Orang yang meninggalkan ajaran Al-Qur’an setelah nyata bagi mereka kebenarannya, maka setan menguasai mereka dan memanjangkan angan-angan mereka. Mereka mentaati kaum Yahudi yang membenci Al-Qur’an itu.

         Padahal Allah Maha Mengetahui rahasia mereka. Mereka akan menghadapi kematian yang tragis. Ketika malaikat maut mencabut nyawa mereka, maka para malaikat akan memukul muka dan punggung mereka. Hal tersebut disebabkan mereka melakukan apa-apa yang dimurkai Allah dan membenci apa yang diridhai-Nya. Maka Allah menghapus semua amal kebaikan mereka. Kaum munafik itu mengira Allah tidak akan membongkar kedengkian dan niat jahat yang tersembunyi dalam hati mereka sehingga mereka leluasa bertingkah seenaknya saja. Meminta perkara yang berat dengan terburu-buru. Yang dimaksud dengan surat di sini ialah surat yang berisi perintah untuk memerangi orang-orang kafir. Mereka ini adalah kaum munafik.Dalam tafsir Ibnu Katsir, dia menjelaskan bahwa istilah ‘penyakit’ dalam ayat ini berarti ‘keraguan’. Selanjutnya, kita selalu melihat mereka yang mempunyai tanda-tanda munafik, sering ragu terhadap ulama, Allah SWT dan Mujahidin dan sebagainya. Keraguan mereka terdapat dalam banyak aspek dien, seperti hidup setelah mati, surga dan hari pengadilan; selanjutnya mereka melangkah terlalu jauh dengan meninggalkan ikatan Islam.

          Ayat ini seperti firman-Nya di ayat yang lain, “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat! Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih dari itu takutnya. mereka berkata, "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada Kami sampai kepada beberapa waktu lagi?" Katakanlah, "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.” (Terj. An Nisaa’: 77)

        Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari oleh Ibnu Abi Mulaikah, yang berkata, “Aku bertemu tiga puluh Shahabat Nabi SAW dan masing-masing dari mereka takut menjadi orang munafik, dan tidak ada dari mereka yang berkata bahwa dia sekuat Jibril atau Mika’il.” Dan Hasan (Al Basri) berkata: ‘Hanya orang yang beriman yang takut dari kemunafikan, dan hanya orang munafik yang merasa aman darinya (kemunafikan).’ (Shahih Al Bukhari Kitabul Iman Bab 36) Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyarankan sikap yang terbaik.Ayat 20: Kita sekarang sudah masuk ke dalam bahagian kedua surah Muhammad ini, iaitu menceritakan hal keadaan orang-orang munafik pula. Mereka ini pada zahirnya nampak seperti orang Islam kerana mereka duduk bersama orang Islam dan ada juga yang pergi mengerjakan ibadat solat di masjid dan sebagainya. Mereka bersama dengan orang-orang mukmin yang lain, sampaikan para sahabat pun tidak kenal siapakah di antara mereka yang munafik. Orang munafik ini menyembunyikan kekafiran mereka yang berada di dalam hati.

        Dan ciri utama mereka adalah mereka ini hanya mementingkan dunia sahaja kalau dibandingkan dengan akhirat. Mereka tidak ada keyakinan kepada akhirat. Salah satu daripada hikmah diwajibkan jihad ini adalah kerana dapat menapis siapakah di antara orang-orang Islam itu yang munafik dan mukmin. Kerana orang munafik ini tidak suka untuk menggadai nyawa mereka untuk berjihad dan juga mereka tidak suka untuk mengeluarkan infaq untuk menanggung proses jihad. Kerana mereka amat sayang kepada nyawa mereka dan harta mereka. Kita kena belajar ayat-ayat penerangan tentang munafik ini kerana apabila dia berada di dalam Qur’an, ia menunjukkan bahawa ianya akan tetap ada sampai ke hari kiamat nanti. Kerana itu ahli-ahli tafsir yang menafsirkan ayat-ayat sebegini merujuk kepada orang munafik; atau ada juga yang merujuk kepada golongan Muslim yang lemah iman. Kerana mereka mengatakan ayat-ayat ini adalah ciri-ciri yang ada pada orang orang Islam yang memang beriman tetapi iman mereka itu lemah. Maka, kalau kena kepada diri kita, maka tahulah kita yang iman kita lemah, maka kita kena ubahlah sifat dan perangai kita.

Ahad, 18 November 2018

AYAT 19

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH MUHAMAD 19'

BISMILLAHIRAHMANIRRAHIM.,
19. fai’lam annahu laa ilaaha illaa allaahu waistaghfir lidzanbika walilmu/miniina waalmu/minaati waallaahu ya’lamu mutaqallabakum wamatswaakum

بسملهرهمنرحم
 فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

 Terjemahan Oleh itu, maka tetapkanlah pengetahuanmu dan keyakinanmu (wahai Muhammad) bahawa sesungguhnya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan mintalah ampun kepadaNya bagi salah silap yang engkau lakukan, dan bagi dosa-dosa orang-orang yang beriman - lelaki dan perempuan; dan (ingatlah), Allah mengetahui akan keadaan gerak-geri kamu (di dunia) dan keadaan penetapan kamu (di akhirat). Maksud ayat ini bukanlah berarti seseorang hanya mengetahui arti kata laa ilaha illallah, akan tetapi maksudnya adalah orang yang bersaksi, mengucapkan kalimat tersebut dengan lisan dan hatinya, dia mengetahui maksud serta kandungannya dan dia mengamalkannya.


               Ayat 12-19 menjelaskan tiga hal pokok : Allah memastikan tempat kaum mukmin yang beramal saleh adalah surga. Sedangkan kaum kafir adalah neraka, karena mereka menikmati kehidupan dunia seperti hewan. Banyak sudah kaum kafir sebelum Rasul saw. yang Allah musnahkan, padahal mereka lebih kuat dari kaum Quraisy yang mengusir Rasul saw. Tidaklah sama nasib orang mukmin yang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup dengan orang kafir dan munafik. Mereka melihat indah dosa dan kejahatan serta mengikuti hawa nafsunya. Kaum mukmin yang bertakwa, akan meraih surga.

          Di dalamnya ada sungai air mineral, sungai susu yang tidak akan berubah rasanya, sungai khamar yang sangat lezat diminum dan sungai madu yang bersih dan mereka mendapat semua jenis buah-buahan dan ampunan Allah. Kaum kafir dan munafik kekal di neraka dan diberi minum airi mendidih sehingga usus mereka terpotong-potong. Kaum munafik tidak bisa memahami Islam karena Allah mengunci mati hati mereka dan mereka mengikuti hawa nafsu. Adapun orang yang mejadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, maka Allah akan tambahkan petunjuk-Nya dan menganugerahkan takwa kepadanya. Kaum munafik itu hanya menunggu kiamat, padahal tanda-tanda kiamat itu sudah ada. Ketahuilah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Minta ampunlah kepada-Nya, karena Allah Maha Mengetahui tingkah laku kita. Mengetahui mengharuskan untuk mengakui dengan hati dan mengenal makna (kandungan) yang dituntut untuk diketahui, dan menjadi sempurna adalah ketika mengerjakan konsekwensinya. Mengetahui keesaan Allah adalah fardhu ‘ain bagi setiap manusia.

        Di antara cara untuk mengetahui bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah adalah sebagai berikut: Yakni tetaplah kamu di atas pengetahuan itu, yakni bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, karena hal itu akan bermanfaat pada hari Kiamat. Dikatakan demikian kepada Beliau, sedangkan Beliau seorang yang ma’shum adalah agar umat Beliau mengikuti Beliau, dan Beliau telah melakukan hal itu (beristighfar). Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah dalam sehari seratus kali.” Ini adalah pemuliaan Beliau kepada mereka. Hal itu karena dengan sebab keimanan mereka, maka mereka memiliki hak atas orang mukmin baik laki-laki maupun wanita, di antara hak mereka adalah didoakan dan dimintakan ampunan untuk dosa mereka.

       Dalam perintah memintakan ampunan untuk mereka yang isinya mengandung penyingkiran dosa dan hukuman terhadap mereka terdaoat perintah untuk memberikan sikap nush-h (tulus) kepada mereka dan mencintai kebaikan diperoleh mereka serta tidak suka keburukan diperoleh mereka, memerintahkan mereka kepada hal yang baik untuk mereka dan melarang sesuatu yang membahayakan mereka, memaafkan kesalahan mereka, mendorong mereka bersatu dan menyingkirkan segala dendam yang dapat menimbulkan permusuhan dan pertengkaran, dimana hal itu dapat menambah dosa dan maksiat mereka. Dia mengetahui semua keadaanmu, dan tidak ada satu pun yang samar bagi-Nya. Oleh karena itu, berhati-hatilah jangan sampai mendurhakai-Nya. Ada pula yang mengartikan “tempat usahamu” yakni di dunia, dan “tempat tinggalmu” yakni di akhirat. Allah tahu yang kita sentiasa berubah dari masa ke semasa. Dan akhir sekali baru akan duduk tempat tetap. Ini hendak memberitahu kita yang Allah tahu segalanya tentang kita. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: {وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ} Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari. (Al-An’am: 60)

Sabtu, 17 November 2018

AYAT 18

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK.
SURAH MUHAMAD AYAT 18

BIS-MILLAAHIR-RAHMAN-NIRRAHIM,..,
18. fahal yanzhuruuna illaa alssaa’ata an ta/tiyahum baghtatan faqad jaa-a asyraathuhaa fa-annaa lahum idzaa jaa-at-hum dzikraahum

بسملهرهمنرحم
 فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً ۖ فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا ۚ فَأَنَّىٰ لَهُمْ إِذَا جَاءَتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ

      Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila Kiamat sudah datang?

      Yaitu orang-orang yang mendustakan. Yang menunjukkan kedekatannya, seperti telah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, terbelahnya bulan, adanya dukhan (asap), dsb. Kesadaran ketika itu tidaklah berguna karena waktunya telah berlalu, mereka telah melalui waktu yang biasanya orang yang sadar jika melaluinya akan sadar, yaitu di dunia. Di samping itu, pemberi peringatan telah datang kepada mereka. Dalam ayat ini terdapat dorongan untuk mempersiapkan diri sebelum maut datang seara tiba-tiba, karena dengan tibanya kematian, maka tibalah kiamat untuk dirinya. Dengan diutusnya Rasulullah Saw. merupakan salah satu pertanda dekatnya hari kiamat, karena beliau adalah penutup para rasul yang melaluinya Allah Swt. menyempurnakan agama dan menegakkan hujah-Nya kepada semua umat manusia. Dan sesungguhnya Rasulullah Saw. sendiri telah memberitakan tentang tanda-tanda dan syarat-syarat dekatnya hari kiamat, bahkan beliau menjelaskannya dengan keterangan yang belum pernah disampaikan oleh seorang nabi pun sebelumnya, seperti yang telah diterangkan di dalam babnya. Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa diutusnya Nabi Muhammad merupakan salah satu pertanda dekatnya hari kiamat, dan kenyataannya memang seperti yang dikemukakannya. Karena itulah disebutkan bahwa di antara nama Nabi Muhammad Saw.

     (yakni julukannya) ialah bahwa beliau adalah nabi taubat, nabi malhamah(heroik) lagi penghimpun, yang semua umat manusia dihimpunkan di bawah kedua telapak kakinya; dan nabi yang terakhir, yakni tiada nabi lagi sesudahnya.

قَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْمِقْدَامِ، حَدَّثَنَا فُضَيْلُ بْنُ سُلَيْمَانَ، حَدَّثَنَا أَبُو حَازِمٍ، حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ سَعْدٍ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بِأُصْبُعَيْهِ هَكَذَا، بِالْوُسْطَى وَالَّتِي تَلِيهَا: "بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ"

      Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Miqdam, telah menceritakan kepada kami Fudail ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Abu Raja, telah menceritakan kepada kami Sahl ibnu Sa'd r.a. yang mengatakan bahwa ia pernah menyaksikan Rasulullah Saw. berisyarat dengan kedua jarinya, yaitu jari tengah dan jari yang mengiringinya seraya bersabda: Aku diutus sedang (jarak antara) aku dan hari kiamat sama seperti kedua jari ini. *******************

      Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya: {فَأَنَّى لَهُمْ إِذَا جَاءَتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ} Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang? (Muhammad: 18) Yakni bagaimanakah dengan kesadaran orang-orang kafir itu apabila hari kiamat telah terjadi, di saat tiada gunanya lagi bagi mereka hal tersebut. Semakna dengan firman-Nya: {يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الإنْسَانُ وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى} dan pada hari itu ingatlah manusia, tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. (Al-Fajr: 23) Dan firman Allah Swt.: {وَقَالُوا آمَنَّا بِهِ وَأَنَّى لَهُمُ التَّنَاوُشُ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ} dan (di waktu itu) mereka berkata, "Kami beriman kepada Allah, " bagaimanakah mereka dapat mencapai (keimanan) dari tempat yang jauh itu? (Saba: 52) *******************

       Adapun firman Allah Swt.: {فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا اللَّهُ} Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah. (Muhammad: 19) Ini merupakan berita dari Allah Swt. bahwa Dia tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, dan bukan sebagai pemberitaan mengenai hal tersebut agar diketahui. Karena itulah di-'ataf-kan kepadanya firman berikutnya: {وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ} dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. (Muhammad: 19)

           Di dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah Saw. mengucapkan dalam doanya: "اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي هَزْلي وَجِدِّي، وخَطَئي وعَمْدي، وَكُلَّ ذَلِكَ عِنْدِي" Ya Allah, ampunilah bagiku semua kesalahanku, ketidaktahuanku, dan sikap berlebihan dalam urusanku, serta semua yang Engkau lebih mengetahui dariku. Ya Allah, ampunilah bagiku selorohku dan kesungguhanku, dan (juga) kekeliruanku serta kesengajaanku, yang semuanya itu ada padaku. Di dalam hadis sahih disebutkan pula bahwa Rasulullah Saw. acapkali sesudah salatnya mengucapkan doa berikut:

       "اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ إِلَهِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ" Ya Allah, ampunilah bagiku semua dosa yang telah kulakukan dan semua dosa yang kusembunyikan, dan semua dosa yang aku lahirkan, dan semua keberlebih-lebihanku serta semua perbuatan yang Engkau lebih mengetahuinya daripadaku. Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan yang wajib disembah selain Engkau. Di dalam hadis sahih disebutkan pula bahwa Nabi Saw. pernah bersabda:

          "يَا أَيُّهَا النَّاسُ، تُوبُوا إِلَى رَبِّكُمْ، فَإِنِّي أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً" Hai manusia, bertobatlah kamu kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya aku pun memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Asim Al-Ahwal yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Sarkhis menceritakan hadis berikut, bahwa aku datang kepada Rasulullah Saw., lalu makan bersamanya dari makanannya, dan aku berkata, "Semoga Allah memberikan ampunan kepada Engkau, ya Rasulullah." Beliau Saw. menjawab, "Juga bagimu." Maka aku berkata, "Aku memohon ampun buat engkau." Beliau Saw. menjawab, "Ya, juga (aku pun memohon ampun) bagimu." Lalu Rasulullah Saw. membaca firman-Nya: dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. (Muhammad: 19) Kemudian aku memandang ke arah belikatnya yang sebelah kanan -atau belikatnya yang sebelah kiri, Syu'bah (perawi) ragu- tiba-tiba padanya terdapat sesuatu yang berupa seperti tahi lalat (cap kenabian). Imam Muslim, Imam Turmuzi, Imam Nasai, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan hadis ini melalui berbagai jalur dari Asim Al-Ahwal dengan sanad yang sama.


      Di dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Abu Ya'la disebutkan: حَدَّثَنَا مُحَرَّز بْنُ عَوْنٍ، حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ مَطَرَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْغَفُورِ، عَنْ أَبِي نَصِيرَة، عَنْ أَبِي رَجَاءٍ، عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أنه قَالَ: "عَلَيْكُمْ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَالِاسْتِغْفَارِ، فَأَكْثِرُوا مِنْهُمَا، فَإِنَّ إِبْلِيسَ قَالَ: أَهْلَكْتُ (11) النَّاسَ بِالذُّنُوبِ، وَأَهْلَكُونِي بِـ "لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ"، وَالِاسْتِغْفَارِ فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ أَهْلَكْتُهُمْ بِالْأَهْوَاءِ، فَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ"

       telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Aun, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Matar, telah menceritakan kepada kami Abdul Gafur, dari AbuNasr, dari Abu Raja, dari Abu Bakar As-Siddiq r.a., dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda: bacalah oleh kalian kalimah 'la ilaha illallah' (tidak ada Tuhan yang wajib disembah) selain Allah, dan istigfar, perbanyaklah kalian membaca keduanya, karena sesungguhnya iblis telah mengatakan, "Sesungguhnya aku telah binasakan umat manusia dengan dosa-dosa, dan mereka membinasakanku dengan kalimah 'la ilaha illallah' dan istigfar. Setelah kulihat demikian, maka kubinasakan mereka dengan hawa nafsu, maka mereka mengira bahwa dirinya mendapat petunjuk.”
           Di dalam atsar yang telah diriwayatkan disebutkan bahwa iblis berkata, "Demi keagungan dan kebesaran-Mu, Aku tetap akan menyesatkan mereka selama nyawa mereka masih ada di tubuh mereka." Maka Allah Swt. berfirman, "Demi keagungan dan kebesaran-Ku, Aku terus menerus memberikan ampunan bagi mereka selama mereka memohon ampunan kepada-Ku." Hadis-hadis yang menceritakan keutamaan istigfar cukup banyak.

Jumaat, 16 November 2018

AYAT 17

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK '
SURAH MUHAMAD
Ayat 17:
      Kalau ayat sebelum ini tentang golongan munafik, ayat ini pula tentang orang mukmin. Maka kita kena pandai bezakan dan pilih mana satu jalan yang kita nak ikut. Orang mukmin itu, semakin lama dan semakin banyak mereka mengaji agama, semakin banyak mereka dapat ilmu. Maknanya, manusia bukannya terus pandai. Mereka kena meluangkan masa dan tenaga untuk terus belajar dan belajar.

BIS-MILLAAHIR-RAHMAN-NIR-RAHIM'
17. waalladziina ihtadaw zaadahum hudan waaataahum taqwaahum

  وَالَّذينَ اهتَدَوا زادَهُم هُدًى وَآتاهُم تَقواهُم

        (MELAYU) Dan orang-orang yang menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaannya.Dari apa yang disabdakan oleh Rasul Saw dapat difahami bahawa pada prinsipnya hakikat (ماهیت) wahyu yang diturunkan kepada semua manusia tidak ada perbezaannya dari makna apa yang diilhamkan, dan jika sekalipun ianya berbeza, perbezaan tersebut hanya dari sudut tingkatannya sahaja.

       Contohnya Rasulullah Saw pada salah sebuah hadisnya bersabda, "Mimpi yang benar merupakan sebahagian dari tujuh puluh bagian kenabian."[5] Hadis ini mengisyarahkan bahawa wahyu yang diturunkan kepada para nabi memiliki derajat yang tinggi dan terselimuti oleh cahaya sangat suci dimana seluruh manusia mampu untuk memanfaatkan pancaran cahaya malakuti tersebut. seterusnya,
وَالَّذينَ اهتَدَوا زادَهُم هُدًى
        Dan orang-orang yang menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka Ini adalah mereka yang telah ikut hidayah dan tidak ikut ajakan munafik itu. Iaitu mereka yang sebelum masuk ke dalam majlis Nabi pun mereka telah ada keinginan di dalam hati mereka untuk mendapatkan kebenaran. Mereka datang itu kerana mereka hendak belajar, bukannya hendak mempersoalkan. Ini adalah kerana mereka itu telah ada inabah di dalam hati mereka. Jadi apabila mereka yang sebegitu dapat duduk di dalam majlis Nabi maka mereka akan diberikan dengan hidayah tambahan di atas hidayah yang telah ada. Mereka itu memang sudah dapat hidayah dan semakin bertambah dan bertambah hidayah yang Allah akan berikan.

       Begitulah kalau orang yang belajar agama, belajar tafsir Qur’an kerana mereka telah dapat hidayah untuk belajar wahyu Allah. Apabila mereka duduk dalam kelas pengajian, mereka akan mendapat ilmu tambahan. Mereka jadi semakin faham. Mungkin pada awalnya mereka susah nak faham kerana baru belajar, tapi kerana mereka memang ada keinginan untuk tahu, maka Allah akan berikan hidayah itu kepada mereka. seterusnya,Melalui wahyu dan hidayah Allah SWT,

       Baginda SAW telah mengajar umatnya untuk mengenali apa itu emosi. Pelbagai jenis reaksi emosi diterangkan oleh Baginda SAW seperti perasaan marah, sedih dan duka lara, gembira, malu, takut dan gementar serta sebagainya. Sebagai contoh, dalam al Qur’an yang menjelaskan mengenai emosi sedih sebagaiman firman Allah dalam surah al Baqarah ayat 277, yang bermaksud: ‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan solat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya.

       Pada mereka tidak ada kekuatiran dan tidak (pula) mereka bersedih hati’. وَآتاهُم تَقواهُم dan memberikan balasan ketakwaannya. Dan Allah akan tambah taqwa mereka. Maknanya mereka sudah ada taqwa. Dan kerana usaha mereka, maka akan ditambah lagi oleh Allah. Ini bermaksud ada potensi taqwa yang telah ada dalam diri manusia itu.

             Mereka ini adalah jenis yang tidak hiraukan apa yang dikatakan oleh munafikin itu. Kalau zaman sekarang, akan ada sahaja orang yang hendak menjatuhkan agama. Mereka beri hujah-hujah yang tidak berasaskan wahyu. Kalau tidak ada kekuatan diri dan ilmu sedikit sebanyak, mungkin akan termakan dengan isu-isu yang ditimbulkan oleh golongan yang bukan sunnah ini. Tapi kalau hati telah bulat mahu kepada kebenaran, mahu kepada taqwa, maka Allah akan bantu. Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan keadaan orang-orang yang mendapat petunjuk. Dengan beriman, tunduk dan mengikuti keridhaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Sebagai syukur-Nya kepada mereka atas hal itu. Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan memberi mereka taufiq kepada kebaikan dan menjaga mereka dari keburukan. Dia menyebutkan dalam ayat ini bahwa orang-orang yang mendapatkan petunjuk memperoleh dua balasan; ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh.

Khamis, 15 November 2018

AYAT 16.,.,.,

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH MUHAMAD AYAT 16,.
BIS'MILLAHIR'RAHMAN'NIR'RAHIM16. waminhum man yastami’u ilayka hattaa idzaa kharajuu min ‘indika qaaluu lilladziina uutuu al’ilma maatsaa qaala aanifan ulaa-ika alladziina thaba’a allaahu ‘alaa quluubihim waittaba’uu ahwaa-ahum

Ayat 16: Ini adalah Zajrun tentang munafik.
        Atau, tentang orang mukmin tapi yang lemah iman mereka. Oleh itu, kita kena periksa diri kita dan kalau kita ada sifat-sifat ini, maka diam-diam kita buanglah. Orang munafik itu duduk dengan orang mukmin tapi akidah mereka berlainan. Maka natijah untuk mereka juga berlainan. Memang tidak akan sama, sebagai contoh, Firaun masuk neraka tapi isterinya masuk syurga. Begitu juga antara Nabi Nuh dan anaknya. Jadi kalau dalam dunia duduk bersama, tidak pasti di akhirat nanti akan duduk bersama. Maka Allah beri teguran kepada munafikin yang duduk dengan Nabi. Mereka itu kenalah belajar dan faham agama.
         Maka ayat ini juga ditujukan kepada orang-orang Islam sekarang yang tidak mengenal agama dengan sebenarnya.
بسملهرهمنرهم
(١٦) -(آيات )
   وَمِنهُم مَن يَستَمِعُ إِلَيكَ حَتّىٰ إِذا خَرَجوا مِن عِندِكَ قالوا لِلَّذينَ أوتُوا العِلمَ ماذا قالَ آنِفًا ۚ أُولٰئِكَ الَّذينَ طَبَعَ اللهُ عَلىٰ قُلوبِهِم وَاتَّبَعوا
  أَهواءَهُم

        (MELAYU)Yaitu pada saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berceramah. Mereka ini adalah orang-orang munafik. Mereka hanya sekedar mendengar, bukan untuk menerima dan mengikuti, bahkan hati mereka berpaling darinya. Meminta pemahaman terhadap apa yang mereka dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, padahal mereka tidak suka kepada ucapan Beliau. Sekiranya mereka menginginkan kebaikan, tentu mereka pasang telinganya dan ucapan Beliau yang begitu jelas masuk ke dalam hati mereka, dan anggota badan mereka tunduk kepadanya, akan tetapi mereka tidak demikian. Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah mengunci hatinya dan menutup pintu-pintu kebaikan disebabkan mereka mengikuti hawa nafsunya dan tidak mereka inginkan selain kebatilan. Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu, mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): “Apakah yang dikatakannya tadi?” Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. seterusnya,

 وَمِنهُم مَن يَستَمِعُ إِلَيكَ
            Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu Allah memberitahu ada dari kalangan yang datang dengar kepada pengajian dari Rasulullah itu adalah golongan munafik. Pada zahirnya nampak seperti mereka dengar dan memberi tumpuan kepada apa yang dikatakan oleh Rasulullah.

         Mereka itu sanggup duduk dalam majlis Nabi dan dengar dengan penuh perhatian kerana Allah pakai kalimah يَستَمِع dan bukan يَسمِع sahaja. Maknanya, mereka itu lebih baik sikit dari golongan munafik yang memang tidak datang dengar kepada kata-kata Nabi pun atau datang tapi tidak mendengar dengan teliti. seterusnya, حَتّىٰ إِذا خَرَجوا مِن عِندِكَ sehingga apabila mereka keluar dari sisimu Mereka itu nampak beri perhatian, sehinggalah mereka keluar dari majlis Nabi itu. Apa yang mereka kata setelah mereka keluar? seterusnya, قالوا لِلَّذينَ أوتُوا العِلمَ ماذا قالَ آنِفًا mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): “Apakah yang dikatakannya tadi?” Selepas mereka keluar dari majlis Rasulullah, mereka pegi jumpa para sahabat yang rapat dengan Nabi. Mereka itu adalah para sahabat yang diberi kefahaman ilmu wahyu. Ini adalah sifat sahabat kerana mereka itu diberikan dengan ilmu. Ilmu adalah lambang sahabat nabi. Kerana kalau jenis yang munafik, Allah sebut mereka datang ke majlis nabi sahaja (tapi tidak tidak dapat ilmu).

          Golongan yang munafik itu bertanya kepada golongan mukmin itu, apa yang dikatakan oleh Nabi. Maksudnya mereka itu hanya mendengar dan tunjuk baik semasa di dalam majlis sahaja. Mereka itu nampak macam dengar baik-baik, tapi sebenarnya apa yang disampaikan oleh Rasulullah itu tidak masuk dalam hati. Mereka tanya kepada sahabat yang mukmin itu, seolah-olah mereka macam tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Nabi. Mereka tanya begitu kerana mereka nak cari orang yang sama fahaman dengan mereka. Mereka sebenarnya buat-buat tanya sahaja. Mereka nak tanya: benarkah Nabi ajak kita berperang? Mereka tidak tanya Nabi pun semasa dalam majlis Nabi, tapi tanya orang lain kerana mereka nak buat kecoh sahaja. Mereka nak timbulkan suasana tidak percaya kepada baginda sedangkan waktu ini adalah waktu hampir untuk berperang dah. Ini bahaya kalau ada yang rasa tidak tulus ikhlas kerana kalau nak masuk perang, tidak boleh ada sifat begitu. Atau ayat ini hendak menceritakan keadaan mereka yang sebenarnya – mereka tidak beri tumpuan pun semasa di dalam majlis Nabi tadi kerana pada mereka apa yang dikatakan oleh Nabi itu tidak penting mana. Mereka nak dengar tentang dunia sedangkan wahyu banyak sebut tentang akhirat. Ini adalah kerana para munafik itu sifatnya hendakkan keduniaan sahaja. Kalau tentang akhirat, mereka tak beri perhatian pun. Mereka duduk dengan orang Islam yang lain pun kerana mereka nak mereka nampak seperti orang Islam macam mereka orang yang mukmin juga. seterusnya, أُولٰئِكَ الَّذينَ طَبَعَ اللهُ عَلىٰ قُلوبِهِم Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah Ayat khatmul qalbi (penutupan hati).

          Allah beritahu yang mereka itu telah ditutup hati mereka. Walaupun mereka duduk dalam majlis Nabi tapi mereka masih tetap tidak faham, maka itu bermaksud hati mereka itu telah ditutup oleh Allah dari memahami. Ini terjadi kepada mereka telah menjadi kafir ‘peringkat keempat’. Iaitu mereka berterusan menolak ajaran wahyu yang disampaikan oleh Nabi, sampai lama kelamaan hati mereka telah ditutup. Ini tidak terus berlaku dari awal tapi setelah lama mereka menentang. Maksudnya, lama peluang yang Allah telah berikan tapi mereka yang tidak ambil peluang itu. Sebagai contoh, semua sudah tahu kita bapa saudara Nabi Muhammad, Abu Talib. Beliau melebihkan kaum dia dari wahyu Allah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Dia tidak beriman dan menyatakan keimanannya sedangkan dia tolong anak saudaranya itu dari mula lagi sampai ke akhir hayatnya. Tapi kita kena faham yang dia tolong itu kerana Nabi Muhammad SAW itu adalah anak saudaranya, bukan dia tolong kerana Nabi Muhammad itu Rasulullah. Kalaulah dia tolong atas dasar Muhammad itu Rasulullah, ulama kata dia pasti akan dapat hidayah. Oleh itu, orang seperti Abu Talib itu tidak mengambil peluang untuk beriman semasa dia ada peluang itu.

        Maka dia telah kerugian yang amat sangat. seterusnya, وَاتَّبَعوا أَهواءَهُم dan mengikuti hawa nafsu mereka. allah beritahu yang mereka itu sebenarnya ikut nafsu mereka sahaja. Ini selalunya dikatakan tentang sifat orang kafir sedangkan ayat ini berkenaan orang munafik pada zaman Rasulullah. Maknanya, orang munafik itu sama sahaja dengan orang kafir. Mereka itu musuh dalaman. Kerana itu mereka lebih teruk kerana kalau musuh luaran, senang nak nampak. Tapi pada luarannya mereka nampak seperti orang Islam tapi dalam hati mereka sebenarnya kufur, mereka itu adalah musuh dalaman, gunting dalam lipatan. Mereka amat bahaya kerana mereka boleh merosakan umat Islam dari dalaman. Perangai mereka mungkin mempengaruhi orang-orang yang lemah iman mereka, maka mereka itu amat bahaya.

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN