Isnin, 19 November 2018

AYAT 20

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK ;
SURAH MUHAMAD 20,

BIS-MILLAHIR-RAHMANIR-RAHIM'
20. wayaquulu alladziina aamanuu lawlaa nuzzilat suuratun fa-idzaa unzilat suuratun muhkamatun wadzukira fiihaa alqitaalu ra-ayta alladziina fii quluubihim maradhun yanzhuruuna ilayka nazhara almaghsyiyyi ‘alayhi mina almawti fa-awlaa lahum

وَيَقُولُ الَّذِينَ آمَنُوا لَوْلَا نُزِّلَتْ سُورَةٌ ۖ فَإِذَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ مُحْكَمَةٌ وَذُكِرَ فِيهَا الْقِتَالُ ۙ رَأَيْتَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ نَظَرَ الْمَغْشِيِّ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ ۖ فَأَوْلَىٰ لَهُمْ

 Dan orang-orang yang beriman berkata: "Mengapa tiada diturunkan suatu surat?" Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka.


         Ayat 20-29 menjelaskan karakter kaum munafik, yakni orang yang di dalam hati mereka terdapat berbagai penyakit seperti ragu terhadap janji Allah, Rasul-Nya dan bagaimana nasib mereka saat menghadapi kematian dan kenapa Allah melaknat mereka.
         Diantara karakter kaum munafik ialah ketika turun ayat yang mewajibkan berperang di jalan Allah, mereka memandang dengan sinis kepada Rasul saw. Wajah mereka pucat pasi seakan menghadapi sakratul maut. Kalau mereka mentaati perintah Allah tersebut dan mengeluarkan kata-kata yang baik, niscaya kebaikannya akan kembali kepada mereka sendiri. Sebenarnya mereka tidak memiliki tekad kuat, kejujuran dan memendam niat yang tidak baik. Kalau mereka berkuasa, mereka pasti melakukan kerusakan di atas muka bumi dan memutus tali persaudaraan. Allah melaknat kaum munafik, menjadikan telinga mereka tuli dan mata mereka buta dan tidak bisa memahami (tadabbur) Al-Qur’an karena hati mereka sudah dikunci mati. Orang yang meninggalkan ajaran Al-Qur’an setelah nyata bagi mereka kebenarannya, maka setan menguasai mereka dan memanjangkan angan-angan mereka. Mereka mentaati kaum Yahudi yang membenci Al-Qur’an itu.

         Padahal Allah Maha Mengetahui rahasia mereka. Mereka akan menghadapi kematian yang tragis. Ketika malaikat maut mencabut nyawa mereka, maka para malaikat akan memukul muka dan punggung mereka. Hal tersebut disebabkan mereka melakukan apa-apa yang dimurkai Allah dan membenci apa yang diridhai-Nya. Maka Allah menghapus semua amal kebaikan mereka. Kaum munafik itu mengira Allah tidak akan membongkar kedengkian dan niat jahat yang tersembunyi dalam hati mereka sehingga mereka leluasa bertingkah seenaknya saja. Meminta perkara yang berat dengan terburu-buru. Yang dimaksud dengan surat di sini ialah surat yang berisi perintah untuk memerangi orang-orang kafir. Mereka ini adalah kaum munafik.Dalam tafsir Ibnu Katsir, dia menjelaskan bahwa istilah ‘penyakit’ dalam ayat ini berarti ‘keraguan’. Selanjutnya, kita selalu melihat mereka yang mempunyai tanda-tanda munafik, sering ragu terhadap ulama, Allah SWT dan Mujahidin dan sebagainya. Keraguan mereka terdapat dalam banyak aspek dien, seperti hidup setelah mati, surga dan hari pengadilan; selanjutnya mereka melangkah terlalu jauh dengan meninggalkan ikatan Islam.

          Ayat ini seperti firman-Nya di ayat yang lain, “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat! Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih dari itu takutnya. mereka berkata, "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada Kami sampai kepada beberapa waktu lagi?" Katakanlah, "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.” (Terj. An Nisaa’: 77)

        Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari oleh Ibnu Abi Mulaikah, yang berkata, “Aku bertemu tiga puluh Shahabat Nabi SAW dan masing-masing dari mereka takut menjadi orang munafik, dan tidak ada dari mereka yang berkata bahwa dia sekuat Jibril atau Mika’il.” Dan Hasan (Al Basri) berkata: ‘Hanya orang yang beriman yang takut dari kemunafikan, dan hanya orang munafik yang merasa aman darinya (kemunafikan).’ (Shahih Al Bukhari Kitabul Iman Bab 36) Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyarankan sikap yang terbaik.Ayat 20: Kita sekarang sudah masuk ke dalam bahagian kedua surah Muhammad ini, iaitu menceritakan hal keadaan orang-orang munafik pula. Mereka ini pada zahirnya nampak seperti orang Islam kerana mereka duduk bersama orang Islam dan ada juga yang pergi mengerjakan ibadat solat di masjid dan sebagainya. Mereka bersama dengan orang-orang mukmin yang lain, sampaikan para sahabat pun tidak kenal siapakah di antara mereka yang munafik. Orang munafik ini menyembunyikan kekafiran mereka yang berada di dalam hati.

        Dan ciri utama mereka adalah mereka ini hanya mementingkan dunia sahaja kalau dibandingkan dengan akhirat. Mereka tidak ada keyakinan kepada akhirat. Salah satu daripada hikmah diwajibkan jihad ini adalah kerana dapat menapis siapakah di antara orang-orang Islam itu yang munafik dan mukmin. Kerana orang munafik ini tidak suka untuk menggadai nyawa mereka untuk berjihad dan juga mereka tidak suka untuk mengeluarkan infaq untuk menanggung proses jihad. Kerana mereka amat sayang kepada nyawa mereka dan harta mereka. Kita kena belajar ayat-ayat penerangan tentang munafik ini kerana apabila dia berada di dalam Qur’an, ia menunjukkan bahawa ianya akan tetap ada sampai ke hari kiamat nanti. Kerana itu ahli-ahli tafsir yang menafsirkan ayat-ayat sebegini merujuk kepada orang munafik; atau ada juga yang merujuk kepada golongan Muslim yang lemah iman. Kerana mereka mengatakan ayat-ayat ini adalah ciri-ciri yang ada pada orang orang Islam yang memang beriman tetapi iman mereka itu lemah. Maka, kalau kena kepada diri kita, maka tahulah kita yang iman kita lemah, maka kita kena ubahlah sifat dan perangai kita.

Ahad, 18 November 2018

AYAT 19

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH MUHAMAD 19'

BISMILLAHIRAHMANIRRAHIM.,
19. fai’lam annahu laa ilaaha illaa allaahu waistaghfir lidzanbika walilmu/miniina waalmu/minaati waallaahu ya’lamu mutaqallabakum wamatswaakum

بسملهرهمنرحم
 فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

 Terjemahan Oleh itu, maka tetapkanlah pengetahuanmu dan keyakinanmu (wahai Muhammad) bahawa sesungguhnya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan mintalah ampun kepadaNya bagi salah silap yang engkau lakukan, dan bagi dosa-dosa orang-orang yang beriman - lelaki dan perempuan; dan (ingatlah), Allah mengetahui akan keadaan gerak-geri kamu (di dunia) dan keadaan penetapan kamu (di akhirat). Maksud ayat ini bukanlah berarti seseorang hanya mengetahui arti kata laa ilaha illallah, akan tetapi maksudnya adalah orang yang bersaksi, mengucapkan kalimat tersebut dengan lisan dan hatinya, dia mengetahui maksud serta kandungannya dan dia mengamalkannya.


               Ayat 12-19 menjelaskan tiga hal pokok : Allah memastikan tempat kaum mukmin yang beramal saleh adalah surga. Sedangkan kaum kafir adalah neraka, karena mereka menikmati kehidupan dunia seperti hewan. Banyak sudah kaum kafir sebelum Rasul saw. yang Allah musnahkan, padahal mereka lebih kuat dari kaum Quraisy yang mengusir Rasul saw. Tidaklah sama nasib orang mukmin yang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup dengan orang kafir dan munafik. Mereka melihat indah dosa dan kejahatan serta mengikuti hawa nafsunya. Kaum mukmin yang bertakwa, akan meraih surga.

          Di dalamnya ada sungai air mineral, sungai susu yang tidak akan berubah rasanya, sungai khamar yang sangat lezat diminum dan sungai madu yang bersih dan mereka mendapat semua jenis buah-buahan dan ampunan Allah. Kaum kafir dan munafik kekal di neraka dan diberi minum airi mendidih sehingga usus mereka terpotong-potong. Kaum munafik tidak bisa memahami Islam karena Allah mengunci mati hati mereka dan mereka mengikuti hawa nafsu. Adapun orang yang mejadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, maka Allah akan tambahkan petunjuk-Nya dan menganugerahkan takwa kepadanya. Kaum munafik itu hanya menunggu kiamat, padahal tanda-tanda kiamat itu sudah ada. Ketahuilah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Minta ampunlah kepada-Nya, karena Allah Maha Mengetahui tingkah laku kita. Mengetahui mengharuskan untuk mengakui dengan hati dan mengenal makna (kandungan) yang dituntut untuk diketahui, dan menjadi sempurna adalah ketika mengerjakan konsekwensinya. Mengetahui keesaan Allah adalah fardhu ‘ain bagi setiap manusia.

        Di antara cara untuk mengetahui bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah adalah sebagai berikut: Yakni tetaplah kamu di atas pengetahuan itu, yakni bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, karena hal itu akan bermanfaat pada hari Kiamat. Dikatakan demikian kepada Beliau, sedangkan Beliau seorang yang ma’shum adalah agar umat Beliau mengikuti Beliau, dan Beliau telah melakukan hal itu (beristighfar). Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah dalam sehari seratus kali.” Ini adalah pemuliaan Beliau kepada mereka. Hal itu karena dengan sebab keimanan mereka, maka mereka memiliki hak atas orang mukmin baik laki-laki maupun wanita, di antara hak mereka adalah didoakan dan dimintakan ampunan untuk dosa mereka.

       Dalam perintah memintakan ampunan untuk mereka yang isinya mengandung penyingkiran dosa dan hukuman terhadap mereka terdaoat perintah untuk memberikan sikap nush-h (tulus) kepada mereka dan mencintai kebaikan diperoleh mereka serta tidak suka keburukan diperoleh mereka, memerintahkan mereka kepada hal yang baik untuk mereka dan melarang sesuatu yang membahayakan mereka, memaafkan kesalahan mereka, mendorong mereka bersatu dan menyingkirkan segala dendam yang dapat menimbulkan permusuhan dan pertengkaran, dimana hal itu dapat menambah dosa dan maksiat mereka. Dia mengetahui semua keadaanmu, dan tidak ada satu pun yang samar bagi-Nya. Oleh karena itu, berhati-hatilah jangan sampai mendurhakai-Nya. Ada pula yang mengartikan “tempat usahamu” yakni di dunia, dan “tempat tinggalmu” yakni di akhirat. Allah tahu yang kita sentiasa berubah dari masa ke semasa. Dan akhir sekali baru akan duduk tempat tetap. Ini hendak memberitahu kita yang Allah tahu segalanya tentang kita. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: {وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ} Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari. (Al-An’am: 60)

Sabtu, 17 November 2018

AYAT 18

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK.
SURAH MUHAMAD AYAT 18

BIS-MILLAAHIR-RAHMAN-NIRRAHIM,..,
18. fahal yanzhuruuna illaa alssaa’ata an ta/tiyahum baghtatan faqad jaa-a asyraathuhaa fa-annaa lahum idzaa jaa-at-hum dzikraahum

بسملهرهمنرحم
 فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً ۖ فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا ۚ فَأَنَّىٰ لَهُمْ إِذَا جَاءَتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ

      Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila Kiamat sudah datang?

      Yaitu orang-orang yang mendustakan. Yang menunjukkan kedekatannya, seperti telah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, terbelahnya bulan, adanya dukhan (asap), dsb. Kesadaran ketika itu tidaklah berguna karena waktunya telah berlalu, mereka telah melalui waktu yang biasanya orang yang sadar jika melaluinya akan sadar, yaitu di dunia. Di samping itu, pemberi peringatan telah datang kepada mereka. Dalam ayat ini terdapat dorongan untuk mempersiapkan diri sebelum maut datang seara tiba-tiba, karena dengan tibanya kematian, maka tibalah kiamat untuk dirinya. Dengan diutusnya Rasulullah Saw. merupakan salah satu pertanda dekatnya hari kiamat, karena beliau adalah penutup para rasul yang melaluinya Allah Swt. menyempurnakan agama dan menegakkan hujah-Nya kepada semua umat manusia. Dan sesungguhnya Rasulullah Saw. sendiri telah memberitakan tentang tanda-tanda dan syarat-syarat dekatnya hari kiamat, bahkan beliau menjelaskannya dengan keterangan yang belum pernah disampaikan oleh seorang nabi pun sebelumnya, seperti yang telah diterangkan di dalam babnya. Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa diutusnya Nabi Muhammad merupakan salah satu pertanda dekatnya hari kiamat, dan kenyataannya memang seperti yang dikemukakannya. Karena itulah disebutkan bahwa di antara nama Nabi Muhammad Saw.

     (yakni julukannya) ialah bahwa beliau adalah nabi taubat, nabi malhamah(heroik) lagi penghimpun, yang semua umat manusia dihimpunkan di bawah kedua telapak kakinya; dan nabi yang terakhir, yakni tiada nabi lagi sesudahnya.

قَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْمِقْدَامِ، حَدَّثَنَا فُضَيْلُ بْنُ سُلَيْمَانَ، حَدَّثَنَا أَبُو حَازِمٍ، حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ سَعْدٍ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بِأُصْبُعَيْهِ هَكَذَا، بِالْوُسْطَى وَالَّتِي تَلِيهَا: "بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ"

      Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Miqdam, telah menceritakan kepada kami Fudail ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Abu Raja, telah menceritakan kepada kami Sahl ibnu Sa'd r.a. yang mengatakan bahwa ia pernah menyaksikan Rasulullah Saw. berisyarat dengan kedua jarinya, yaitu jari tengah dan jari yang mengiringinya seraya bersabda: Aku diutus sedang (jarak antara) aku dan hari kiamat sama seperti kedua jari ini. *******************

      Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya: {فَأَنَّى لَهُمْ إِذَا جَاءَتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ} Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang? (Muhammad: 18) Yakni bagaimanakah dengan kesadaran orang-orang kafir itu apabila hari kiamat telah terjadi, di saat tiada gunanya lagi bagi mereka hal tersebut. Semakna dengan firman-Nya: {يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الإنْسَانُ وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى} dan pada hari itu ingatlah manusia, tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. (Al-Fajr: 23) Dan firman Allah Swt.: {وَقَالُوا آمَنَّا بِهِ وَأَنَّى لَهُمُ التَّنَاوُشُ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ} dan (di waktu itu) mereka berkata, "Kami beriman kepada Allah, " bagaimanakah mereka dapat mencapai (keimanan) dari tempat yang jauh itu? (Saba: 52) *******************

       Adapun firman Allah Swt.: {فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا اللَّهُ} Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah. (Muhammad: 19) Ini merupakan berita dari Allah Swt. bahwa Dia tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, dan bukan sebagai pemberitaan mengenai hal tersebut agar diketahui. Karena itulah di-'ataf-kan kepadanya firman berikutnya: {وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ} dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. (Muhammad: 19)

           Di dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah Saw. mengucapkan dalam doanya: "اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي هَزْلي وَجِدِّي، وخَطَئي وعَمْدي، وَكُلَّ ذَلِكَ عِنْدِي" Ya Allah, ampunilah bagiku semua kesalahanku, ketidaktahuanku, dan sikap berlebihan dalam urusanku, serta semua yang Engkau lebih mengetahui dariku. Ya Allah, ampunilah bagiku selorohku dan kesungguhanku, dan (juga) kekeliruanku serta kesengajaanku, yang semuanya itu ada padaku. Di dalam hadis sahih disebutkan pula bahwa Rasulullah Saw. acapkali sesudah salatnya mengucapkan doa berikut:

       "اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ إِلَهِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ" Ya Allah, ampunilah bagiku semua dosa yang telah kulakukan dan semua dosa yang kusembunyikan, dan semua dosa yang aku lahirkan, dan semua keberlebih-lebihanku serta semua perbuatan yang Engkau lebih mengetahuinya daripadaku. Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan yang wajib disembah selain Engkau. Di dalam hadis sahih disebutkan pula bahwa Nabi Saw. pernah bersabda:

          "يَا أَيُّهَا النَّاسُ، تُوبُوا إِلَى رَبِّكُمْ، فَإِنِّي أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً" Hai manusia, bertobatlah kamu kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya aku pun memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Asim Al-Ahwal yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Sarkhis menceritakan hadis berikut, bahwa aku datang kepada Rasulullah Saw., lalu makan bersamanya dari makanannya, dan aku berkata, "Semoga Allah memberikan ampunan kepada Engkau, ya Rasulullah." Beliau Saw. menjawab, "Juga bagimu." Maka aku berkata, "Aku memohon ampun buat engkau." Beliau Saw. menjawab, "Ya, juga (aku pun memohon ampun) bagimu." Lalu Rasulullah Saw. membaca firman-Nya: dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. (Muhammad: 19) Kemudian aku memandang ke arah belikatnya yang sebelah kanan -atau belikatnya yang sebelah kiri, Syu'bah (perawi) ragu- tiba-tiba padanya terdapat sesuatu yang berupa seperti tahi lalat (cap kenabian). Imam Muslim, Imam Turmuzi, Imam Nasai, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan hadis ini melalui berbagai jalur dari Asim Al-Ahwal dengan sanad yang sama.


      Di dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Abu Ya'la disebutkan: حَدَّثَنَا مُحَرَّز بْنُ عَوْنٍ، حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ مَطَرَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْغَفُورِ، عَنْ أَبِي نَصِيرَة، عَنْ أَبِي رَجَاءٍ، عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أنه قَالَ: "عَلَيْكُمْ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَالِاسْتِغْفَارِ، فَأَكْثِرُوا مِنْهُمَا، فَإِنَّ إِبْلِيسَ قَالَ: أَهْلَكْتُ (11) النَّاسَ بِالذُّنُوبِ، وَأَهْلَكُونِي بِـ "لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ"، وَالِاسْتِغْفَارِ فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ أَهْلَكْتُهُمْ بِالْأَهْوَاءِ، فَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ"

       telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Aun, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Matar, telah menceritakan kepada kami Abdul Gafur, dari AbuNasr, dari Abu Raja, dari Abu Bakar As-Siddiq r.a., dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda: bacalah oleh kalian kalimah 'la ilaha illallah' (tidak ada Tuhan yang wajib disembah) selain Allah, dan istigfar, perbanyaklah kalian membaca keduanya, karena sesungguhnya iblis telah mengatakan, "Sesungguhnya aku telah binasakan umat manusia dengan dosa-dosa, dan mereka membinasakanku dengan kalimah 'la ilaha illallah' dan istigfar. Setelah kulihat demikian, maka kubinasakan mereka dengan hawa nafsu, maka mereka mengira bahwa dirinya mendapat petunjuk.”
           Di dalam atsar yang telah diriwayatkan disebutkan bahwa iblis berkata, "Demi keagungan dan kebesaran-Mu, Aku tetap akan menyesatkan mereka selama nyawa mereka masih ada di tubuh mereka." Maka Allah Swt. berfirman, "Demi keagungan dan kebesaran-Ku, Aku terus menerus memberikan ampunan bagi mereka selama mereka memohon ampunan kepada-Ku." Hadis-hadis yang menceritakan keutamaan istigfar cukup banyak.

Jumaat, 16 November 2018

AYAT 17

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK '
SURAH MUHAMAD
Ayat 17:
      Kalau ayat sebelum ini tentang golongan munafik, ayat ini pula tentang orang mukmin. Maka kita kena pandai bezakan dan pilih mana satu jalan yang kita nak ikut. Orang mukmin itu, semakin lama dan semakin banyak mereka mengaji agama, semakin banyak mereka dapat ilmu. Maknanya, manusia bukannya terus pandai. Mereka kena meluangkan masa dan tenaga untuk terus belajar dan belajar.

BIS-MILLAAHIR-RAHMAN-NIR-RAHIM'
17. waalladziina ihtadaw zaadahum hudan waaataahum taqwaahum

  وَالَّذينَ اهتَدَوا زادَهُم هُدًى وَآتاهُم تَقواهُم

        (MELAYU) Dan orang-orang yang menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaannya.Dari apa yang disabdakan oleh Rasul Saw dapat difahami bahawa pada prinsipnya hakikat (ماهیت) wahyu yang diturunkan kepada semua manusia tidak ada perbezaannya dari makna apa yang diilhamkan, dan jika sekalipun ianya berbeza, perbezaan tersebut hanya dari sudut tingkatannya sahaja.

       Contohnya Rasulullah Saw pada salah sebuah hadisnya bersabda, "Mimpi yang benar merupakan sebahagian dari tujuh puluh bagian kenabian."[5] Hadis ini mengisyarahkan bahawa wahyu yang diturunkan kepada para nabi memiliki derajat yang tinggi dan terselimuti oleh cahaya sangat suci dimana seluruh manusia mampu untuk memanfaatkan pancaran cahaya malakuti tersebut. seterusnya,
وَالَّذينَ اهتَدَوا زادَهُم هُدًى
        Dan orang-orang yang menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka Ini adalah mereka yang telah ikut hidayah dan tidak ikut ajakan munafik itu. Iaitu mereka yang sebelum masuk ke dalam majlis Nabi pun mereka telah ada keinginan di dalam hati mereka untuk mendapatkan kebenaran. Mereka datang itu kerana mereka hendak belajar, bukannya hendak mempersoalkan. Ini adalah kerana mereka itu telah ada inabah di dalam hati mereka. Jadi apabila mereka yang sebegitu dapat duduk di dalam majlis Nabi maka mereka akan diberikan dengan hidayah tambahan di atas hidayah yang telah ada. Mereka itu memang sudah dapat hidayah dan semakin bertambah dan bertambah hidayah yang Allah akan berikan.

       Begitulah kalau orang yang belajar agama, belajar tafsir Qur’an kerana mereka telah dapat hidayah untuk belajar wahyu Allah. Apabila mereka duduk dalam kelas pengajian, mereka akan mendapat ilmu tambahan. Mereka jadi semakin faham. Mungkin pada awalnya mereka susah nak faham kerana baru belajar, tapi kerana mereka memang ada keinginan untuk tahu, maka Allah akan berikan hidayah itu kepada mereka. seterusnya,Melalui wahyu dan hidayah Allah SWT,

       Baginda SAW telah mengajar umatnya untuk mengenali apa itu emosi. Pelbagai jenis reaksi emosi diterangkan oleh Baginda SAW seperti perasaan marah, sedih dan duka lara, gembira, malu, takut dan gementar serta sebagainya. Sebagai contoh, dalam al Qur’an yang menjelaskan mengenai emosi sedih sebagaiman firman Allah dalam surah al Baqarah ayat 277, yang bermaksud: ‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan solat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya.

       Pada mereka tidak ada kekuatiran dan tidak (pula) mereka bersedih hati’. وَآتاهُم تَقواهُم dan memberikan balasan ketakwaannya. Dan Allah akan tambah taqwa mereka. Maknanya mereka sudah ada taqwa. Dan kerana usaha mereka, maka akan ditambah lagi oleh Allah. Ini bermaksud ada potensi taqwa yang telah ada dalam diri manusia itu.

             Mereka ini adalah jenis yang tidak hiraukan apa yang dikatakan oleh munafikin itu. Kalau zaman sekarang, akan ada sahaja orang yang hendak menjatuhkan agama. Mereka beri hujah-hujah yang tidak berasaskan wahyu. Kalau tidak ada kekuatan diri dan ilmu sedikit sebanyak, mungkin akan termakan dengan isu-isu yang ditimbulkan oleh golongan yang bukan sunnah ini. Tapi kalau hati telah bulat mahu kepada kebenaran, mahu kepada taqwa, maka Allah akan bantu. Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan keadaan orang-orang yang mendapat petunjuk. Dengan beriman, tunduk dan mengikuti keridhaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Sebagai syukur-Nya kepada mereka atas hal itu. Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan memberi mereka taufiq kepada kebaikan dan menjaga mereka dari keburukan. Dia menyebutkan dalam ayat ini bahwa orang-orang yang mendapatkan petunjuk memperoleh dua balasan; ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh.

Khamis, 15 November 2018

AYAT 16.,.,.,

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH MUHAMAD AYAT 16,.
BIS'MILLAHIR'RAHMAN'NIR'RAHIM16. waminhum man yastami’u ilayka hattaa idzaa kharajuu min ‘indika qaaluu lilladziina uutuu al’ilma maatsaa qaala aanifan ulaa-ika alladziina thaba’a allaahu ‘alaa quluubihim waittaba’uu ahwaa-ahum

Ayat 16: Ini adalah Zajrun tentang munafik.
        Atau, tentang orang mukmin tapi yang lemah iman mereka. Oleh itu, kita kena periksa diri kita dan kalau kita ada sifat-sifat ini, maka diam-diam kita buanglah. Orang munafik itu duduk dengan orang mukmin tapi akidah mereka berlainan. Maka natijah untuk mereka juga berlainan. Memang tidak akan sama, sebagai contoh, Firaun masuk neraka tapi isterinya masuk syurga. Begitu juga antara Nabi Nuh dan anaknya. Jadi kalau dalam dunia duduk bersama, tidak pasti di akhirat nanti akan duduk bersama. Maka Allah beri teguran kepada munafikin yang duduk dengan Nabi. Mereka itu kenalah belajar dan faham agama.
         Maka ayat ini juga ditujukan kepada orang-orang Islam sekarang yang tidak mengenal agama dengan sebenarnya.
بسملهرهمنرهم
(١٦) -(آيات )
   وَمِنهُم مَن يَستَمِعُ إِلَيكَ حَتّىٰ إِذا خَرَجوا مِن عِندِكَ قالوا لِلَّذينَ أوتُوا العِلمَ ماذا قالَ آنِفًا ۚ أُولٰئِكَ الَّذينَ طَبَعَ اللهُ عَلىٰ قُلوبِهِم وَاتَّبَعوا
  أَهواءَهُم

        (MELAYU)Yaitu pada saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berceramah. Mereka ini adalah orang-orang munafik. Mereka hanya sekedar mendengar, bukan untuk menerima dan mengikuti, bahkan hati mereka berpaling darinya. Meminta pemahaman terhadap apa yang mereka dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, padahal mereka tidak suka kepada ucapan Beliau. Sekiranya mereka menginginkan kebaikan, tentu mereka pasang telinganya dan ucapan Beliau yang begitu jelas masuk ke dalam hati mereka, dan anggota badan mereka tunduk kepadanya, akan tetapi mereka tidak demikian. Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah mengunci hatinya dan menutup pintu-pintu kebaikan disebabkan mereka mengikuti hawa nafsunya dan tidak mereka inginkan selain kebatilan. Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu, mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): “Apakah yang dikatakannya tadi?” Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. seterusnya,

 وَمِنهُم مَن يَستَمِعُ إِلَيكَ
            Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu Allah memberitahu ada dari kalangan yang datang dengar kepada pengajian dari Rasulullah itu adalah golongan munafik. Pada zahirnya nampak seperti mereka dengar dan memberi tumpuan kepada apa yang dikatakan oleh Rasulullah.

         Mereka itu sanggup duduk dalam majlis Nabi dan dengar dengan penuh perhatian kerana Allah pakai kalimah يَستَمِع dan bukan يَسمِع sahaja. Maknanya, mereka itu lebih baik sikit dari golongan munafik yang memang tidak datang dengar kepada kata-kata Nabi pun atau datang tapi tidak mendengar dengan teliti. seterusnya, حَتّىٰ إِذا خَرَجوا مِن عِندِكَ sehingga apabila mereka keluar dari sisimu Mereka itu nampak beri perhatian, sehinggalah mereka keluar dari majlis Nabi itu. Apa yang mereka kata setelah mereka keluar? seterusnya, قالوا لِلَّذينَ أوتُوا العِلمَ ماذا قالَ آنِفًا mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): “Apakah yang dikatakannya tadi?” Selepas mereka keluar dari majlis Rasulullah, mereka pegi jumpa para sahabat yang rapat dengan Nabi. Mereka itu adalah para sahabat yang diberi kefahaman ilmu wahyu. Ini adalah sifat sahabat kerana mereka itu diberikan dengan ilmu. Ilmu adalah lambang sahabat nabi. Kerana kalau jenis yang munafik, Allah sebut mereka datang ke majlis nabi sahaja (tapi tidak tidak dapat ilmu).

          Golongan yang munafik itu bertanya kepada golongan mukmin itu, apa yang dikatakan oleh Nabi. Maksudnya mereka itu hanya mendengar dan tunjuk baik semasa di dalam majlis sahaja. Mereka itu nampak macam dengar baik-baik, tapi sebenarnya apa yang disampaikan oleh Rasulullah itu tidak masuk dalam hati. Mereka tanya kepada sahabat yang mukmin itu, seolah-olah mereka macam tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Nabi. Mereka tanya begitu kerana mereka nak cari orang yang sama fahaman dengan mereka. Mereka sebenarnya buat-buat tanya sahaja. Mereka nak tanya: benarkah Nabi ajak kita berperang? Mereka tidak tanya Nabi pun semasa dalam majlis Nabi, tapi tanya orang lain kerana mereka nak buat kecoh sahaja. Mereka nak timbulkan suasana tidak percaya kepada baginda sedangkan waktu ini adalah waktu hampir untuk berperang dah. Ini bahaya kalau ada yang rasa tidak tulus ikhlas kerana kalau nak masuk perang, tidak boleh ada sifat begitu. Atau ayat ini hendak menceritakan keadaan mereka yang sebenarnya – mereka tidak beri tumpuan pun semasa di dalam majlis Nabi tadi kerana pada mereka apa yang dikatakan oleh Nabi itu tidak penting mana. Mereka nak dengar tentang dunia sedangkan wahyu banyak sebut tentang akhirat. Ini adalah kerana para munafik itu sifatnya hendakkan keduniaan sahaja. Kalau tentang akhirat, mereka tak beri perhatian pun. Mereka duduk dengan orang Islam yang lain pun kerana mereka nak mereka nampak seperti orang Islam macam mereka orang yang mukmin juga. seterusnya, أُولٰئِكَ الَّذينَ طَبَعَ اللهُ عَلىٰ قُلوبِهِم Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah Ayat khatmul qalbi (penutupan hati).

          Allah beritahu yang mereka itu telah ditutup hati mereka. Walaupun mereka duduk dalam majlis Nabi tapi mereka masih tetap tidak faham, maka itu bermaksud hati mereka itu telah ditutup oleh Allah dari memahami. Ini terjadi kepada mereka telah menjadi kafir ‘peringkat keempat’. Iaitu mereka berterusan menolak ajaran wahyu yang disampaikan oleh Nabi, sampai lama kelamaan hati mereka telah ditutup. Ini tidak terus berlaku dari awal tapi setelah lama mereka menentang. Maksudnya, lama peluang yang Allah telah berikan tapi mereka yang tidak ambil peluang itu. Sebagai contoh, semua sudah tahu kita bapa saudara Nabi Muhammad, Abu Talib. Beliau melebihkan kaum dia dari wahyu Allah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Dia tidak beriman dan menyatakan keimanannya sedangkan dia tolong anak saudaranya itu dari mula lagi sampai ke akhir hayatnya. Tapi kita kena faham yang dia tolong itu kerana Nabi Muhammad SAW itu adalah anak saudaranya, bukan dia tolong kerana Nabi Muhammad itu Rasulullah. Kalaulah dia tolong atas dasar Muhammad itu Rasulullah, ulama kata dia pasti akan dapat hidayah. Oleh itu, orang seperti Abu Talib itu tidak mengambil peluang untuk beriman semasa dia ada peluang itu.

        Maka dia telah kerugian yang amat sangat. seterusnya, وَاتَّبَعوا أَهواءَهُم dan mengikuti hawa nafsu mereka. allah beritahu yang mereka itu sebenarnya ikut nafsu mereka sahaja. Ini selalunya dikatakan tentang sifat orang kafir sedangkan ayat ini berkenaan orang munafik pada zaman Rasulullah. Maknanya, orang munafik itu sama sahaja dengan orang kafir. Mereka itu musuh dalaman. Kerana itu mereka lebih teruk kerana kalau musuh luaran, senang nak nampak. Tapi pada luarannya mereka nampak seperti orang Islam tapi dalam hati mereka sebenarnya kufur, mereka itu adalah musuh dalaman, gunting dalam lipatan. Mereka amat bahaya kerana mereka boleh merosakan umat Islam dari dalaman. Perangai mereka mungkin mempengaruhi orang-orang yang lemah iman mereka, maka mereka itu amat bahaya.

Rabu, 14 November 2018

AYAT 14-15

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH MUHAMAD 14-15'

BIS MILLA HIR RAHMANIR RAHIM'
14. afaman kaana ‘alaa bayyinatin min rabbihi kaman zuyyina lahu suu-u ‘amalihi waittaba’uu ahwaa-ahum 15. matsalu aljannati allatii wu’ida almuttaquuna fiihaa anhaarun min maa-in ghayri aasinin wa-anhaarun min labanin lam yataghayyar tha’muhu wa-anhaarun min khamrin ladzdzatin lilsysyaaribiina wa-anhaarun min ‘asalin mushaffan walahum fiihaa min kulli altstsamaraati wamaghfiratun min rabbihim kaman huwa khaalidun fii alnnaari wasuquu maa-an hamiiman faqaththha’a am’aa-ahum

بسملهررهمننررهم
{أَفَمَنْ كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ كَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ (14) مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ (15) }

          Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (setan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya? (Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhannya, sama dengan orang yang kekal di dalam neraka, dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?

       Firman Allah Swt.: {أَفَمَنْ كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ} Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya. (Muhammad: 14)
      Yakni berada dalam keyakinan dan pengetahuan tentang perintah Allah dan agama-Nya melalui apa yang diturunkan oleh Allah Swt. di dalam Kitab-Nya, berupa hidayah dan ilmu serta fitrah yang lurus yang telah dijadikan oleh Allah Swt. di dalam dirinya. {كَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ} sama dengan orang yang (setan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya. (Muhammad: 14)
        Sebagai jawabannya dapat dikatakan bahwa jelas tidak sama, semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: {أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى} Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? (Ar-Ra'd: 19)

       Dan firman Allah Swt.: {لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ} Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung. (Al-Hasyr: 20) Kemudian Allah Swt. berfirman: {مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ} (Apakah) perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa. (Muhammad: 15) Menurut Ikrimah,
          makna yang dimaksud ialah sifat-sifat surga. {فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ} yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya. (Muhammad: 15)

         Menurut Ibnu Abbas, Al-Hasan, dan Qatadah, makna yang dimaksud ialah airnya tidak berubah rasa dan baunya. Qatadah, Ad-Dahhak, dan Ata Al-Khurrasani mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah tidak bau. Orang-orang Arab mengatakan terhadap air yang berubah baunya dengan sebutan asin. Di dalam hadis yang marfu' yang diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim, gairu asin artinya yang jernih dan tidak keruh.
          Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Waki', dari Al-A'masy, dari Abdullah ibnu Murrah, dari Masruq yang mengatakan bahwa Abdullah ibnu Mas'ud r.a. telah mengatakan bahwa sungai-sungai di surga itu berhulu dari gunung minyak kesturi.
                 {وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ} dan sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya. (Muhammad: 15) Bahkan warnanya sangat keruh dan rasanya sangat manis lagi berlemak Di dalam sebuah hadis marfu' disebutkan: "لَمْ يَخْرُجْ مِنْ ضُرُوع الْمَاشِيَةِ". Tidak dikeluarkan dari tetek hewan ternak. Firman Allah Swt.: {وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ} dan sungai-sungai dari khamr yang lezat rasanya bagi peminumnya. (Muhammad: 15)

       Yakni bau dan rasanya tidak buruk seperti yang ada pada khamr di dunia melainkan warna, bau, rasa, dan pengaruhnya sangat baik. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

        {لَا فِيهَا غَوْلٌ وَلا هُمْ عَنْهَا يُنزفُونَ} Tidak ada dalam khamr itu alkohol dan mereka tiada mabuk karena (meminum)nya. (Ash-Shaffat: 47) {لَا يُصَدَّعُونَ عَنْهَا وَلا يُنزفُونَ} mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk (Al-Waqi'ah: 19)
       Dan firman Allah Swt.: {بَيْضَاءَ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ} (Warnanya) putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang vanz minum. (Ash-Shaffat: 46) Di dalam hadis Marfu’ disebutkan:

        "لَمْ تَعْصُرْهَا الرِّجَالُ بِأَقْدَامِهَا". Tidak diperas dengan kaki-kaki kaum lelaki.
    ******************* {وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى} dan sungai-sungai dari madu yang disaring. (Muhammad: 15) Yaitu sangat jernih, indah warnanya, rasanya, dan baunya.
         Di dalam hadis yang marfu' disebutkan: "لَمْ يَخْرُجْ مِنْ بُطُونِ النَّحْلِ" yang bukan dikeluarkan dari perut lebah. قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَخْبَرَنَا الجُريري، عَنْ حَكِيمِ بْنِ مُعَاوِيَةَ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "فِي الْجَنَّةِ بَحْرُ اللَّبَنِ، وَبَحْرُ الْمَاءِ، وَبَحْرُ الْعَسَلِ، وَبَحْرُ الْخَمْرِ، ثُمَّ تَشَقَّقُ الْأَنْهَارُ مِنْهَا بَعْدُ"

        Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Al-Jariri, dari Hakim ibnu Mu'awiyah, dari ayahnya yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Di dalam surga terdapat sungai susu, sungai air, sungai madu, dan sungai khamr, kemudian semua sungai terbelah darinya sesudah itu. Imam Turmuzi telah meriwayatkannya di dalam Sifatul Jannah, dari Muhammad ibnu Yasar, dari Yazid ibnu Harun,

                dari Sa'id ibnu Abu Iyas Al-Jariri, dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan. قَالَ أَبُو بَكْرِ بْنُ مَرْدَوَيْهِ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَاصِمٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ النُّعْمَانِ، حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا الْحَارِثُ بْنُ عُبَيْدٍ أَبُو قُدَامَةَ الْإِيَادِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو عِمْرَانَ الْجَوْنِيُّ، عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قَيْسٍ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هَذِهِ الْأَنْهَارُ تَشخُبُ مِنْ جَنَّةِ عَدْنٍ فِي جَوْبَة، ثُمَّ تَصَدَّعُ بَعْدُ أَنْهَارًا"

       Abu Bakar ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnu Asim, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad ibnunNu'man, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Al-Haris ibnu Ubaid Abu Qudamah Al-Ayadi, telah menceritakan kepada kami Abu Imran Al-Juni, dari Abu Bakar ibnu Abdullah ibnu Qais, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sungai-sungai ini mengalir dari surga 'Adn dari mata air yang ada di dalamnya, kemudian terbelah menjadi banyak sungai sesudahnya.

      Di dalam hadis sahih disebutkan: "إِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ، وَمِنْهُ تُفَجَّر أَنْهَارُ الْجَنَّةِ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ" Apabila kalian meminta kepada Allah, mintalah surga Firdaus kepada-Nya, karena sesungguhnya Firdaus adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi; darinya mengalir semua sungai di surga, dan di atasnya terdapat Arasy Tuhan Yang Maha Pemurah. قَالَ الْحَافِظُ أَبُو الْقَاسِمِ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا مُصْعَبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ حَمْزَةَ الزُّبَيْرِيُّ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ الصفر السُّكَّرِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ الْحِزَامِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْمُغِيرَةِ، حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ دَلْهَمِ بْنِ الْأَسْوَدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَاجِبِ بْنِ عَامِرِ بْنِ الْمُنْتَفِقِ الْعُقَيْلِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَمِّهِ لَقِيطِ بْنِ عَامِرٍ، قَالَ دَلْهَمٌ: وَحَدَّثَنِيهِ أَيْضًا أَبُو الْأَسْوَدِ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ لَقِيطٍ أَنَّ لقيط بْنَ عَامِرٍ خَرَجَ وَافِدًا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قلت: يا رسول اللَّهِ، فَعَلَامَ نَطَّلِعُ مِنَ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: "عَلَى أَنْهَارِ عَسَلٍ مُصَفًّى، وَأَنْهَارٍ مِنْ خَمْرٍ مَا بِهَا صُدَاعٌ وَلَا نَدَامَةٌ، وَأَنْهَارٍ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ، وَمَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ، وَفَاكِهَةٍ، لَعَمْرُ إِلَهِكَ مَا تَعْلَمُونَ وَخَيْرٍ مِنْ مِثْلِهِ، وأزواج مطهرة" قلت: يا رسول الله، أو لنا فِيهَا أَزْوَاجٌ مُصْلِحَاتٌ؟ قَالَ: "الصَّالِحَاتُ لِلصَّالِحِينَ تَلَذُّونَهُنَّ مِثْلَ لَذَّاتِكُمْ فِي الدُّنْيَا وَيَلَذُّونَكُمْ، غَيْرَ أَلَّا تَوَالُدَ"

         Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mus'ab ibnu Ibrahim ibnu Hamzah Az-Zubairi dan Abdullah ibnus Safar As-Sukari. Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Munzir Al-Hizami, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnul Mugirah, telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman ibnu Iyasy, dari Dalham ibnul Aswad; dan Dalham menerima hadis ini pula dari Abul Aswad, dari Asim ibnu Laqit yang mengatakan bahwa sesungguhnya Laqit ibnu Amir berangkat sebagai delegasi kaumnya kepada Rasulullah Saw. Aku (Laqit ibnu Amir) bertanya, "Wahai Rasulullah, pemandangan apakah yang akan kita lihat di dalam surga itu?" Rasulullah Saw. menjawab: Sungai-sungai dari madu yang disaring, sungai-sungai dari khamr yang tidak memabukkan dan tidak pula membuat kecanduan, dan sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai dari air yang tiada berubah bau dan rasanya, dan berbagai macam buah-buahan, demi usia Tuhanmu, seperti yang pernah kalian ketahui, tetapi jauh lebih baik daripadanya, dan juga istri-istri yang disucikan. Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah bagi kita ada istri-istri yang saleh di dalam surga?' Rasulullah Saw. menjawab: Istri-istri yang saleh untuk orang-orang yang saleh, kalian merasakan kenikmatan mereka sebagaimana kenikmatan kalian di dunia dan mereka pun merasakan kenikmatan dari kalian, hanya saja tiada beranak.

             Abu Bakar ibnu Abdullah ibnu Muhammad ibnu Abud Dunia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya'qub ibnu Ubaid, dari Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepadaku Al-Jariri, dari Mu'awiyah ibnu Qurrah, dari ayahnya, dari Anas ibnu Malik r.a. yang mengatakan, "Barangkali kalian mengira bahwa sungai-sungai surga itu mengalir di parit-parit sebagaimana di bumi. Demi Allah, sesungguhnya sungai-sungai di surga itu benar-benar mengalir bebas di permukaan tanah; kedua sisinya adalah kubah-kubah dari mutiara dan tanahnya adalah minyak kesturi yang harum sekali."
     Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Bakar ibnu Murdawaih melalui hadis Mahdi ibnu Hakim, dari Yazid ibnu Harun dengan sanad yang sama secara marfu'.

******************* Firman Allah Swt.: {وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ} dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan. (Muhammad: 15) Semakna dengan firman-Nya: {يَدْعُونَ فِيهَا بِكُلِّ فَاكِهَةٍ آمِنِينَ} Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran). (Ad-Dukhan: 55) {فِيهِمَا مِنْ كُلِّ فَاكِهَةٍ زَوْجَانِ} Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan. (Ar-Rahman: 52)

      Adapun firman Allah Swt.: {وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ} dan ampunan dari Tuhan mereka. (Muhammad: 15) selain dari semua kenikmatan surgawi itu. Firman Allah Swt.: {كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ} sama dengan orang yang kekal dalam neraka. (Muhammad: 15) Apakah mereka yang telah disebutkan kedudukan mereka di dalam surga sama dengan orang-orang yang kekal di dalam neraka? Tentu saja tidak sama, orang yang berada di tingkat yang tinggi tidaklah sama dengan orang yang berada di dasar neraka. {وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا} dan diberi minum dengan air yang mendidih. (Muhammad: 15) Yakni air yang sangat panas yang panasnya tak terperikan. {فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ} sehingga memotong-motong ususnya?
       (Muhammad: 15) Yaitu menghancurleburkan semua isi perut dan usus yang bersangkutan. Semoga Allah melindungi kita dari siksa neraka.

Selasa, 13 November 2018

AYAT 10-13

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK.
. SURAH MUHAMAD AYAT 10-13
BIS-MILLAAHIR-RAHMAN-NIR-RAHIM'
10. afalam yasiiruu fii al-ardhi fayanzhuruu kayfa kaana ‘aaqibatu alladziina min qablihim dammara allaahu ‘alayhim walilkaafiriina amtsaaluhaa
11. dzaalika bi-anna allaaha mawlaa alladziina aamanuu wa-anna alkaafiriina laa mawlaa lahum
12. inna allaaha yudkhilu alladziina aamanuu wa’amiluu alshshaalihaati jannaatin tajrii min tahtihaa al-anhaaru waalladziina kafaruu yatamatta’uuna waya/kuluuna kamaa ta/kulu al-an’aamu waalnnaaru matswan lahum
 13. waka-ayyin min qaryatin hiya asyaddu quwwatan min qaryatika allatii akhrajatka ahlaknaahum falaa naasira lahum

 بسملهرهمنرحم
 وَلِلْكَافِرِينَ أَمْثَالُهَا (10) ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَى لَهُمْ (11) إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الأنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ (12) وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ هِيَ {أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ دَمَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ أَشَدُّ قُوَّةً مِنْ قَرْيَتِكَ الَّتِي أَخْرَجَتْكَ أَهْلَكْنَاهُمْ فَلا نَاصِرَ لَهُمْ (13) }
             Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu. Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada mempunyai pelindung. Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka. Dan betapa banyaknya negeri-negeri yang (penduduknya) lebih kuat daripada (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu. Kami telah membinasakan mereka; maka tidak ada seorang penolong pun bagi mereka.

        Firman Allah Swt.: {أَفَلَمْ يَسِيرُوا} Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan. (Muhammad: 10) Yakni mereka yang mempersekutukan Allah dan mendustakan rasul­Nya. {فِي الأرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ دَمَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ} di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka. (Muhammad: 10)
         Yakni Allah mengazab mereka karena kedustaan dan kekafiran mereka, sedangkan orang-orang mukmin diselamatkan Allah dari kalangan mereka yang diazab. . Dan dalam firman berikutnya disebutkan: {وَلِلْكَافِرِينَ أَمْثَالُهَا} dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu. (Muhammad: 10)

       Kemudian Allah Swt. berfirman: {ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَى لَهُمْ} Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada mempunyai pelindung. (Muhammad: 11)

       Abu Sufyan alias Sakhr ibnu Harb -pemimpin kaum musyrik- mengatakan dalam Perang Uhud ketika ia bertanya tentang Nabi Saw. dan Abu Bakar, tetapi tidak dijawab. Maka ia berkata, "Ingatlah, mereka telah mati." Lalu ucapannya itu dijawab oleh Umar ibnul Khattab r.a., "Engkau dusta, hai musuh Allah, bahkan Allah Swt. telah memelihara apa yang membuatmu susah, dan sesungguhnya orang-orang yang engkau bilang tadi masih hidup."
             Maka Abu Sufyan berkata, "Hari ini merupakan balasan dari Perang Badar, peperangan itu silih berganti. Ingatlah, sesungguhnya kalian akan menjumpai orang yang mati dicincang. Aku tidak memerintahkannya, tidak pula melarangnya." Lalu Abu Sufyan pergi seraya mendendangkan syair yang isinya, "Tinggilah Hubal, tinggilah Hubal!" (Hubal nama berhala yang disembah mereka).
            Maka Rasulullah Saw. bersabda, "Mengapa kalian tidak menjawabnya?" Mereka bertanya, "Apa yang harus kami katakan?" Rasulullah Saw. bersabda: اللَّهُ أَعْلَى وَأَجَلُّ Allah lebih tinggi dan lebih agung. Abu Sufyan berkata lagi, "Kami mempunyai Uzza, dan tiada Uzza bagi kalian." (maksudnya kejayaan yang namanya kebetulan sama dengan berhala sembahan mereka). Rasulullah Saw. bersabda (kepada para sahabatnya), "Mengapa kalian tidak menjawabnya?" Mereka bertanya, "Apakah yang harus kami katakan, wahai Rasulullah?" Rasulullah Saw. bersabda: اللَّهُ مَوْلَانَا وَلَا مَوْلَى لَكُمْ Allah adalah Pelindung kami, dan tiada pelindung bagi kalian. *******************

        Kemudian Allah Swt. berfirman: {إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ} Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (Muhammad: 12)
        Yakni pada hari kiamat nanti. {وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الأنْعَامُ} Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. (Muhammad: 12)
        Yaitu dalam kehidupan dunia mereka senang, dan mereka hidup hanya untuk makan sebagaimana binatang makan, yakni tujuan mereka hanyalah makan dan bersenang-senang dalam dunia ini.
            Karena itulah disebutkan dalam hadis sahih melalui sabda Rasulullah Saw. yang mengatakan: "الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعيّ وَاحِدٍ، وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ" Orang yang mukmin makan dengan satu perut, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh perut. Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya: {وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ} Dan neraka adalah tempat tinggal mereka. (Muhammad: 12)
   Yakni di hari mereka mendapat pembalasan.

*******************

Firman Allah Swt.: {وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ هِيَ أَشَدُّ قُوَّةً مِنْ قَرْيَتِكَ الَّتِي أَخْرَجَتْكَ} Dan betapa banyaknya negeri-negeri yang (penduduknya) lebih kuat daripada (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu. (Muhammad: 13)

         Yakni penduduk Mekah. {أَهْلَكْنَاهُمْ فَلا نَاصِرَ لَهُمْ} Kami telah membinasakan mereka; maka tidak ada seorang penolongpun bagi mereka. (Muhammad: 13) Ini merupakan peringatan yang keras dan ancaman yang kuat ditujukan kepada penduduk Mekah karena mereka telah mendustakan rasul-Nya, padahal dia adalah penghulu para rasul dan penutup para nabi. Apabila Allah telah membinasakan umat-umat yang dahulu telah mendustakan rasul-rasul yang sebelumnya, padahal mereka jauh lebih kuat daripada orang-orang musyrik Mekah. Maka apakah yang akan dilakukan oleh Allah Swt. terhadap mereka di dunia dan akhirat, yakni bagaimanakah prasangka mereka terhadap kenyataan ini?

       Dan jika Allah membebaskan sejumlah besar dari mereka dari hukuman di dunia berkat keberadaan Rasulullah Saw. Nabi pembawa rahmat, maka sesungguhnya azab akan dipenuhi terhadap orang-orang kafir itu di hari mereka dikembalikan kepada-Nya. {يُضَاعَفُ لَهُمُ الْعَذَابُ مَا كَانُوا يَسْتَطِيعُونَ السَّمْعَ وَمَا كَانُوا يُبْصِرُونَ} Siksaan itu dilipatgandakan kepada mereka. Mereka selalu tidak dapat mendengar (kebenaran) dan mereka selalu tidak dapat melihat (nya). (Hud: 20)

        Adapun firman Allah Swt.: {مِنْ قَرْيَتِكَ الَّتِي أَخْرَجَتْكَ} dari (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu. (Muhammad: 13) Yakni orang-orang yang telah mengusirmu dari kalangan mereka

   . قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: ذَكَرَ أَبِي، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْأَعْلَى، عَنِ الْمُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ حَنَش ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا خَرَجَ مِنْ مَكَّةَ إِلَى الْغَارِ أُرَاهُ قَالَ: الْتَفَتَ إِلَى مَكَّةَ -وَقَالَ: "أَنْتِ أَحَبُّ بِلَادِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ، وَأَنْتِ أَحَبُّ بِلَادِ اللَّهِ إِلَيَّ، وَلَوْ أَنَّ الْمُشْرِكِينَ لَمْ يُخْرِجُونِي لَمْ أَخْرُجْ مِنْكِ"

        Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa ayahnya telah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Abdul Ala, dari Al-Mu'tamir ibnu Sulaiman, dari ayahnya, dari Hanasy, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a., bahwa Nabi Saw. ketika keluar dari Mekah menuju ke gua tempat persembunyiannya. Ketika sampai di gua itu beliau menoleh ke arah Mekah, lalu berkata: Sesungguhnya engkau adalah negeri Allah yang paling disukai oleh-Nya, dan engkau adalah negeri Allah yang paling aku sukai; seandainya orang-orang musyrik itu (penduduknya) tidak mengusirku, aku tidak akan keluar meninggalkanmu. Musuh yang paling dimurkai ialah orang yang memusuhi Allah di tanah suci-Nya, atau memerangi orang yang tidak bersalah. Maka Allah menurunkan firman-Nya: {وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ هِيَ أَشَدُّ قُوَّةً مِنْ قَرْيَتِكَ الَّتِي أَخْرَجَتْكَ أَهْلَكْنَاهُمْ فَلا نَاصِرَ لَهُمْ} Dan betapa banyaknya negeri-negeri yang (penduduknya) lebih kuat daripada (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu. Kami telah membinasakan mereka; maka tidak ada seorang penolong pun bagi mereka. (Muhammad: 13)

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN