Ahad, 18 November 2018

AYAT 19

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH MUHAMAD 19'

BISMILLAHIRAHMANIRRAHIM.,
19. fai’lam annahu laa ilaaha illaa allaahu waistaghfir lidzanbika walilmu/miniina waalmu/minaati waallaahu ya’lamu mutaqallabakum wamatswaakum

بسملهرهمنرحم
 فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

 Terjemahan Oleh itu, maka tetapkanlah pengetahuanmu dan keyakinanmu (wahai Muhammad) bahawa sesungguhnya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan mintalah ampun kepadaNya bagi salah silap yang engkau lakukan, dan bagi dosa-dosa orang-orang yang beriman - lelaki dan perempuan; dan (ingatlah), Allah mengetahui akan keadaan gerak-geri kamu (di dunia) dan keadaan penetapan kamu (di akhirat). Maksud ayat ini bukanlah berarti seseorang hanya mengetahui arti kata laa ilaha illallah, akan tetapi maksudnya adalah orang yang bersaksi, mengucapkan kalimat tersebut dengan lisan dan hatinya, dia mengetahui maksud serta kandungannya dan dia mengamalkannya.


               Ayat 12-19 menjelaskan tiga hal pokok : Allah memastikan tempat kaum mukmin yang beramal saleh adalah surga. Sedangkan kaum kafir adalah neraka, karena mereka menikmati kehidupan dunia seperti hewan. Banyak sudah kaum kafir sebelum Rasul saw. yang Allah musnahkan, padahal mereka lebih kuat dari kaum Quraisy yang mengusir Rasul saw. Tidaklah sama nasib orang mukmin yang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup dengan orang kafir dan munafik. Mereka melihat indah dosa dan kejahatan serta mengikuti hawa nafsunya. Kaum mukmin yang bertakwa, akan meraih surga.

          Di dalamnya ada sungai air mineral, sungai susu yang tidak akan berubah rasanya, sungai khamar yang sangat lezat diminum dan sungai madu yang bersih dan mereka mendapat semua jenis buah-buahan dan ampunan Allah. Kaum kafir dan munafik kekal di neraka dan diberi minum airi mendidih sehingga usus mereka terpotong-potong. Kaum munafik tidak bisa memahami Islam karena Allah mengunci mati hati mereka dan mereka mengikuti hawa nafsu. Adapun orang yang mejadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, maka Allah akan tambahkan petunjuk-Nya dan menganugerahkan takwa kepadanya. Kaum munafik itu hanya menunggu kiamat, padahal tanda-tanda kiamat itu sudah ada. Ketahuilah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Minta ampunlah kepada-Nya, karena Allah Maha Mengetahui tingkah laku kita. Mengetahui mengharuskan untuk mengakui dengan hati dan mengenal makna (kandungan) yang dituntut untuk diketahui, dan menjadi sempurna adalah ketika mengerjakan konsekwensinya. Mengetahui keesaan Allah adalah fardhu ‘ain bagi setiap manusia.

        Di antara cara untuk mengetahui bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah adalah sebagai berikut: Yakni tetaplah kamu di atas pengetahuan itu, yakni bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, karena hal itu akan bermanfaat pada hari Kiamat. Dikatakan demikian kepada Beliau, sedangkan Beliau seorang yang ma’shum adalah agar umat Beliau mengikuti Beliau, dan Beliau telah melakukan hal itu (beristighfar). Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah dalam sehari seratus kali.” Ini adalah pemuliaan Beliau kepada mereka. Hal itu karena dengan sebab keimanan mereka, maka mereka memiliki hak atas orang mukmin baik laki-laki maupun wanita, di antara hak mereka adalah didoakan dan dimintakan ampunan untuk dosa mereka.

       Dalam perintah memintakan ampunan untuk mereka yang isinya mengandung penyingkiran dosa dan hukuman terhadap mereka terdaoat perintah untuk memberikan sikap nush-h (tulus) kepada mereka dan mencintai kebaikan diperoleh mereka serta tidak suka keburukan diperoleh mereka, memerintahkan mereka kepada hal yang baik untuk mereka dan melarang sesuatu yang membahayakan mereka, memaafkan kesalahan mereka, mendorong mereka bersatu dan menyingkirkan segala dendam yang dapat menimbulkan permusuhan dan pertengkaran, dimana hal itu dapat menambah dosa dan maksiat mereka. Dia mengetahui semua keadaanmu, dan tidak ada satu pun yang samar bagi-Nya. Oleh karena itu, berhati-hatilah jangan sampai mendurhakai-Nya. Ada pula yang mengartikan “tempat usahamu” yakni di dunia, dan “tempat tinggalmu” yakni di akhirat. Allah tahu yang kita sentiasa berubah dari masa ke semasa. Dan akhir sekali baru akan duduk tempat tetap. Ini hendak memberitahu kita yang Allah tahu segalanya tentang kita. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: {وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ} Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari. (Al-An’am: 60)

Sabtu, 17 November 2018

AYAT 18

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK.
SURAH MUHAMAD AYAT 18

BIS-MILLAAHIR-RAHMAN-NIRRAHIM,..,
18. fahal yanzhuruuna illaa alssaa’ata an ta/tiyahum baghtatan faqad jaa-a asyraathuhaa fa-annaa lahum idzaa jaa-at-hum dzikraahum

بسملهرهمنرحم
 فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً ۖ فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا ۚ فَأَنَّىٰ لَهُمْ إِذَا جَاءَتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ

      Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila Kiamat sudah datang?

      Yaitu orang-orang yang mendustakan. Yang menunjukkan kedekatannya, seperti telah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, terbelahnya bulan, adanya dukhan (asap), dsb. Kesadaran ketika itu tidaklah berguna karena waktunya telah berlalu, mereka telah melalui waktu yang biasanya orang yang sadar jika melaluinya akan sadar, yaitu di dunia. Di samping itu, pemberi peringatan telah datang kepada mereka. Dalam ayat ini terdapat dorongan untuk mempersiapkan diri sebelum maut datang seara tiba-tiba, karena dengan tibanya kematian, maka tibalah kiamat untuk dirinya. Dengan diutusnya Rasulullah Saw. merupakan salah satu pertanda dekatnya hari kiamat, karena beliau adalah penutup para rasul yang melaluinya Allah Swt. menyempurnakan agama dan menegakkan hujah-Nya kepada semua umat manusia. Dan sesungguhnya Rasulullah Saw. sendiri telah memberitakan tentang tanda-tanda dan syarat-syarat dekatnya hari kiamat, bahkan beliau menjelaskannya dengan keterangan yang belum pernah disampaikan oleh seorang nabi pun sebelumnya, seperti yang telah diterangkan di dalam babnya. Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa diutusnya Nabi Muhammad merupakan salah satu pertanda dekatnya hari kiamat, dan kenyataannya memang seperti yang dikemukakannya. Karena itulah disebutkan bahwa di antara nama Nabi Muhammad Saw.

     (yakni julukannya) ialah bahwa beliau adalah nabi taubat, nabi malhamah(heroik) lagi penghimpun, yang semua umat manusia dihimpunkan di bawah kedua telapak kakinya; dan nabi yang terakhir, yakni tiada nabi lagi sesudahnya.

قَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْمِقْدَامِ، حَدَّثَنَا فُضَيْلُ بْنُ سُلَيْمَانَ، حَدَّثَنَا أَبُو حَازِمٍ، حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ سَعْدٍ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بِأُصْبُعَيْهِ هَكَذَا، بِالْوُسْطَى وَالَّتِي تَلِيهَا: "بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ"

      Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Miqdam, telah menceritakan kepada kami Fudail ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Abu Raja, telah menceritakan kepada kami Sahl ibnu Sa'd r.a. yang mengatakan bahwa ia pernah menyaksikan Rasulullah Saw. berisyarat dengan kedua jarinya, yaitu jari tengah dan jari yang mengiringinya seraya bersabda: Aku diutus sedang (jarak antara) aku dan hari kiamat sama seperti kedua jari ini. *******************

      Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya: {فَأَنَّى لَهُمْ إِذَا جَاءَتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ} Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang? (Muhammad: 18) Yakni bagaimanakah dengan kesadaran orang-orang kafir itu apabila hari kiamat telah terjadi, di saat tiada gunanya lagi bagi mereka hal tersebut. Semakna dengan firman-Nya: {يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الإنْسَانُ وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى} dan pada hari itu ingatlah manusia, tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. (Al-Fajr: 23) Dan firman Allah Swt.: {وَقَالُوا آمَنَّا بِهِ وَأَنَّى لَهُمُ التَّنَاوُشُ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ} dan (di waktu itu) mereka berkata, "Kami beriman kepada Allah, " bagaimanakah mereka dapat mencapai (keimanan) dari tempat yang jauh itu? (Saba: 52) *******************

       Adapun firman Allah Swt.: {فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا اللَّهُ} Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah. (Muhammad: 19) Ini merupakan berita dari Allah Swt. bahwa Dia tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, dan bukan sebagai pemberitaan mengenai hal tersebut agar diketahui. Karena itulah di-'ataf-kan kepadanya firman berikutnya: {وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ} dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. (Muhammad: 19)

           Di dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah Saw. mengucapkan dalam doanya: "اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي هَزْلي وَجِدِّي، وخَطَئي وعَمْدي، وَكُلَّ ذَلِكَ عِنْدِي" Ya Allah, ampunilah bagiku semua kesalahanku, ketidaktahuanku, dan sikap berlebihan dalam urusanku, serta semua yang Engkau lebih mengetahui dariku. Ya Allah, ampunilah bagiku selorohku dan kesungguhanku, dan (juga) kekeliruanku serta kesengajaanku, yang semuanya itu ada padaku. Di dalam hadis sahih disebutkan pula bahwa Rasulullah Saw. acapkali sesudah salatnya mengucapkan doa berikut:

       "اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ إِلَهِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ" Ya Allah, ampunilah bagiku semua dosa yang telah kulakukan dan semua dosa yang kusembunyikan, dan semua dosa yang aku lahirkan, dan semua keberlebih-lebihanku serta semua perbuatan yang Engkau lebih mengetahuinya daripadaku. Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan yang wajib disembah selain Engkau. Di dalam hadis sahih disebutkan pula bahwa Nabi Saw. pernah bersabda:

          "يَا أَيُّهَا النَّاسُ، تُوبُوا إِلَى رَبِّكُمْ، فَإِنِّي أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً" Hai manusia, bertobatlah kamu kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya aku pun memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Asim Al-Ahwal yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Sarkhis menceritakan hadis berikut, bahwa aku datang kepada Rasulullah Saw., lalu makan bersamanya dari makanannya, dan aku berkata, "Semoga Allah memberikan ampunan kepada Engkau, ya Rasulullah." Beliau Saw. menjawab, "Juga bagimu." Maka aku berkata, "Aku memohon ampun buat engkau." Beliau Saw. menjawab, "Ya, juga (aku pun memohon ampun) bagimu." Lalu Rasulullah Saw. membaca firman-Nya: dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. (Muhammad: 19) Kemudian aku memandang ke arah belikatnya yang sebelah kanan -atau belikatnya yang sebelah kiri, Syu'bah (perawi) ragu- tiba-tiba padanya terdapat sesuatu yang berupa seperti tahi lalat (cap kenabian). Imam Muslim, Imam Turmuzi, Imam Nasai, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan hadis ini melalui berbagai jalur dari Asim Al-Ahwal dengan sanad yang sama.


      Di dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Abu Ya'la disebutkan: حَدَّثَنَا مُحَرَّز بْنُ عَوْنٍ، حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ مَطَرَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْغَفُورِ، عَنْ أَبِي نَصِيرَة، عَنْ أَبِي رَجَاءٍ، عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أنه قَالَ: "عَلَيْكُمْ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَالِاسْتِغْفَارِ، فَأَكْثِرُوا مِنْهُمَا، فَإِنَّ إِبْلِيسَ قَالَ: أَهْلَكْتُ (11) النَّاسَ بِالذُّنُوبِ، وَأَهْلَكُونِي بِـ "لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ"، وَالِاسْتِغْفَارِ فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ أَهْلَكْتُهُمْ بِالْأَهْوَاءِ، فَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ"

       telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Aun, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Matar, telah menceritakan kepada kami Abdul Gafur, dari AbuNasr, dari Abu Raja, dari Abu Bakar As-Siddiq r.a., dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda: bacalah oleh kalian kalimah 'la ilaha illallah' (tidak ada Tuhan yang wajib disembah) selain Allah, dan istigfar, perbanyaklah kalian membaca keduanya, karena sesungguhnya iblis telah mengatakan, "Sesungguhnya aku telah binasakan umat manusia dengan dosa-dosa, dan mereka membinasakanku dengan kalimah 'la ilaha illallah' dan istigfar. Setelah kulihat demikian, maka kubinasakan mereka dengan hawa nafsu, maka mereka mengira bahwa dirinya mendapat petunjuk.”
           Di dalam atsar yang telah diriwayatkan disebutkan bahwa iblis berkata, "Demi keagungan dan kebesaran-Mu, Aku tetap akan menyesatkan mereka selama nyawa mereka masih ada di tubuh mereka." Maka Allah Swt. berfirman, "Demi keagungan dan kebesaran-Ku, Aku terus menerus memberikan ampunan bagi mereka selama mereka memohon ampunan kepada-Ku." Hadis-hadis yang menceritakan keutamaan istigfar cukup banyak.

Jumaat, 16 November 2018

AYAT 17

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK '
SURAH MUHAMAD
Ayat 17:
      Kalau ayat sebelum ini tentang golongan munafik, ayat ini pula tentang orang mukmin. Maka kita kena pandai bezakan dan pilih mana satu jalan yang kita nak ikut. Orang mukmin itu, semakin lama dan semakin banyak mereka mengaji agama, semakin banyak mereka dapat ilmu. Maknanya, manusia bukannya terus pandai. Mereka kena meluangkan masa dan tenaga untuk terus belajar dan belajar.

BIS-MILLAAHIR-RAHMAN-NIR-RAHIM'
17. waalladziina ihtadaw zaadahum hudan waaataahum taqwaahum

  وَالَّذينَ اهتَدَوا زادَهُم هُدًى وَآتاهُم تَقواهُم

        (MELAYU) Dan orang-orang yang menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaannya.Dari apa yang disabdakan oleh Rasul Saw dapat difahami bahawa pada prinsipnya hakikat (ماهیت) wahyu yang diturunkan kepada semua manusia tidak ada perbezaannya dari makna apa yang diilhamkan, dan jika sekalipun ianya berbeza, perbezaan tersebut hanya dari sudut tingkatannya sahaja.

       Contohnya Rasulullah Saw pada salah sebuah hadisnya bersabda, "Mimpi yang benar merupakan sebahagian dari tujuh puluh bagian kenabian."[5] Hadis ini mengisyarahkan bahawa wahyu yang diturunkan kepada para nabi memiliki derajat yang tinggi dan terselimuti oleh cahaya sangat suci dimana seluruh manusia mampu untuk memanfaatkan pancaran cahaya malakuti tersebut. seterusnya,
وَالَّذينَ اهتَدَوا زادَهُم هُدًى
        Dan orang-orang yang menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka Ini adalah mereka yang telah ikut hidayah dan tidak ikut ajakan munafik itu. Iaitu mereka yang sebelum masuk ke dalam majlis Nabi pun mereka telah ada keinginan di dalam hati mereka untuk mendapatkan kebenaran. Mereka datang itu kerana mereka hendak belajar, bukannya hendak mempersoalkan. Ini adalah kerana mereka itu telah ada inabah di dalam hati mereka. Jadi apabila mereka yang sebegitu dapat duduk di dalam majlis Nabi maka mereka akan diberikan dengan hidayah tambahan di atas hidayah yang telah ada. Mereka itu memang sudah dapat hidayah dan semakin bertambah dan bertambah hidayah yang Allah akan berikan.

       Begitulah kalau orang yang belajar agama, belajar tafsir Qur’an kerana mereka telah dapat hidayah untuk belajar wahyu Allah. Apabila mereka duduk dalam kelas pengajian, mereka akan mendapat ilmu tambahan. Mereka jadi semakin faham. Mungkin pada awalnya mereka susah nak faham kerana baru belajar, tapi kerana mereka memang ada keinginan untuk tahu, maka Allah akan berikan hidayah itu kepada mereka. seterusnya,Melalui wahyu dan hidayah Allah SWT,

       Baginda SAW telah mengajar umatnya untuk mengenali apa itu emosi. Pelbagai jenis reaksi emosi diterangkan oleh Baginda SAW seperti perasaan marah, sedih dan duka lara, gembira, malu, takut dan gementar serta sebagainya. Sebagai contoh, dalam al Qur’an yang menjelaskan mengenai emosi sedih sebagaiman firman Allah dalam surah al Baqarah ayat 277, yang bermaksud: ‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan solat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya.

       Pada mereka tidak ada kekuatiran dan tidak (pula) mereka bersedih hati’. وَآتاهُم تَقواهُم dan memberikan balasan ketakwaannya. Dan Allah akan tambah taqwa mereka. Maknanya mereka sudah ada taqwa. Dan kerana usaha mereka, maka akan ditambah lagi oleh Allah. Ini bermaksud ada potensi taqwa yang telah ada dalam diri manusia itu.

             Mereka ini adalah jenis yang tidak hiraukan apa yang dikatakan oleh munafikin itu. Kalau zaman sekarang, akan ada sahaja orang yang hendak menjatuhkan agama. Mereka beri hujah-hujah yang tidak berasaskan wahyu. Kalau tidak ada kekuatan diri dan ilmu sedikit sebanyak, mungkin akan termakan dengan isu-isu yang ditimbulkan oleh golongan yang bukan sunnah ini. Tapi kalau hati telah bulat mahu kepada kebenaran, mahu kepada taqwa, maka Allah akan bantu. Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan keadaan orang-orang yang mendapat petunjuk. Dengan beriman, tunduk dan mengikuti keridhaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Sebagai syukur-Nya kepada mereka atas hal itu. Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan memberi mereka taufiq kepada kebaikan dan menjaga mereka dari keburukan. Dia menyebutkan dalam ayat ini bahwa orang-orang yang mendapatkan petunjuk memperoleh dua balasan; ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh.

Khamis, 15 November 2018

AYAT 16.,.,.,

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH MUHAMAD AYAT 16,.
BIS'MILLAHIR'RAHMAN'NIR'RAHIM16. waminhum man yastami’u ilayka hattaa idzaa kharajuu min ‘indika qaaluu lilladziina uutuu al’ilma maatsaa qaala aanifan ulaa-ika alladziina thaba’a allaahu ‘alaa quluubihim waittaba’uu ahwaa-ahum

Ayat 16: Ini adalah Zajrun tentang munafik.
        Atau, tentang orang mukmin tapi yang lemah iman mereka. Oleh itu, kita kena periksa diri kita dan kalau kita ada sifat-sifat ini, maka diam-diam kita buanglah. Orang munafik itu duduk dengan orang mukmin tapi akidah mereka berlainan. Maka natijah untuk mereka juga berlainan. Memang tidak akan sama, sebagai contoh, Firaun masuk neraka tapi isterinya masuk syurga. Begitu juga antara Nabi Nuh dan anaknya. Jadi kalau dalam dunia duduk bersama, tidak pasti di akhirat nanti akan duduk bersama. Maka Allah beri teguran kepada munafikin yang duduk dengan Nabi. Mereka itu kenalah belajar dan faham agama.
         Maka ayat ini juga ditujukan kepada orang-orang Islam sekarang yang tidak mengenal agama dengan sebenarnya.
بسملهرهمنرهم
(١٦) -(آيات )
   وَمِنهُم مَن يَستَمِعُ إِلَيكَ حَتّىٰ إِذا خَرَجوا مِن عِندِكَ قالوا لِلَّذينَ أوتُوا العِلمَ ماذا قالَ آنِفًا ۚ أُولٰئِكَ الَّذينَ طَبَعَ اللهُ عَلىٰ قُلوبِهِم وَاتَّبَعوا
  أَهواءَهُم

        (MELAYU)Yaitu pada saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berceramah. Mereka ini adalah orang-orang munafik. Mereka hanya sekedar mendengar, bukan untuk menerima dan mengikuti, bahkan hati mereka berpaling darinya. Meminta pemahaman terhadap apa yang mereka dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, padahal mereka tidak suka kepada ucapan Beliau. Sekiranya mereka menginginkan kebaikan, tentu mereka pasang telinganya dan ucapan Beliau yang begitu jelas masuk ke dalam hati mereka, dan anggota badan mereka tunduk kepadanya, akan tetapi mereka tidak demikian. Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah mengunci hatinya dan menutup pintu-pintu kebaikan disebabkan mereka mengikuti hawa nafsunya dan tidak mereka inginkan selain kebatilan. Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu, mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): “Apakah yang dikatakannya tadi?” Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. seterusnya,

 وَمِنهُم مَن يَستَمِعُ إِلَيكَ
            Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu Allah memberitahu ada dari kalangan yang datang dengar kepada pengajian dari Rasulullah itu adalah golongan munafik. Pada zahirnya nampak seperti mereka dengar dan memberi tumpuan kepada apa yang dikatakan oleh Rasulullah.

         Mereka itu sanggup duduk dalam majlis Nabi dan dengar dengan penuh perhatian kerana Allah pakai kalimah يَستَمِع dan bukan يَسمِع sahaja. Maknanya, mereka itu lebih baik sikit dari golongan munafik yang memang tidak datang dengar kepada kata-kata Nabi pun atau datang tapi tidak mendengar dengan teliti. seterusnya, حَتّىٰ إِذا خَرَجوا مِن عِندِكَ sehingga apabila mereka keluar dari sisimu Mereka itu nampak beri perhatian, sehinggalah mereka keluar dari majlis Nabi itu. Apa yang mereka kata setelah mereka keluar? seterusnya, قالوا لِلَّذينَ أوتُوا العِلمَ ماذا قالَ آنِفًا mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): “Apakah yang dikatakannya tadi?” Selepas mereka keluar dari majlis Rasulullah, mereka pegi jumpa para sahabat yang rapat dengan Nabi. Mereka itu adalah para sahabat yang diberi kefahaman ilmu wahyu. Ini adalah sifat sahabat kerana mereka itu diberikan dengan ilmu. Ilmu adalah lambang sahabat nabi. Kerana kalau jenis yang munafik, Allah sebut mereka datang ke majlis nabi sahaja (tapi tidak tidak dapat ilmu).

          Golongan yang munafik itu bertanya kepada golongan mukmin itu, apa yang dikatakan oleh Nabi. Maksudnya mereka itu hanya mendengar dan tunjuk baik semasa di dalam majlis sahaja. Mereka itu nampak macam dengar baik-baik, tapi sebenarnya apa yang disampaikan oleh Rasulullah itu tidak masuk dalam hati. Mereka tanya kepada sahabat yang mukmin itu, seolah-olah mereka macam tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Nabi. Mereka tanya begitu kerana mereka nak cari orang yang sama fahaman dengan mereka. Mereka sebenarnya buat-buat tanya sahaja. Mereka nak tanya: benarkah Nabi ajak kita berperang? Mereka tidak tanya Nabi pun semasa dalam majlis Nabi, tapi tanya orang lain kerana mereka nak buat kecoh sahaja. Mereka nak timbulkan suasana tidak percaya kepada baginda sedangkan waktu ini adalah waktu hampir untuk berperang dah. Ini bahaya kalau ada yang rasa tidak tulus ikhlas kerana kalau nak masuk perang, tidak boleh ada sifat begitu. Atau ayat ini hendak menceritakan keadaan mereka yang sebenarnya – mereka tidak beri tumpuan pun semasa di dalam majlis Nabi tadi kerana pada mereka apa yang dikatakan oleh Nabi itu tidak penting mana. Mereka nak dengar tentang dunia sedangkan wahyu banyak sebut tentang akhirat. Ini adalah kerana para munafik itu sifatnya hendakkan keduniaan sahaja. Kalau tentang akhirat, mereka tak beri perhatian pun. Mereka duduk dengan orang Islam yang lain pun kerana mereka nak mereka nampak seperti orang Islam macam mereka orang yang mukmin juga. seterusnya, أُولٰئِكَ الَّذينَ طَبَعَ اللهُ عَلىٰ قُلوبِهِم Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah Ayat khatmul qalbi (penutupan hati).

          Allah beritahu yang mereka itu telah ditutup hati mereka. Walaupun mereka duduk dalam majlis Nabi tapi mereka masih tetap tidak faham, maka itu bermaksud hati mereka itu telah ditutup oleh Allah dari memahami. Ini terjadi kepada mereka telah menjadi kafir ‘peringkat keempat’. Iaitu mereka berterusan menolak ajaran wahyu yang disampaikan oleh Nabi, sampai lama kelamaan hati mereka telah ditutup. Ini tidak terus berlaku dari awal tapi setelah lama mereka menentang. Maksudnya, lama peluang yang Allah telah berikan tapi mereka yang tidak ambil peluang itu. Sebagai contoh, semua sudah tahu kita bapa saudara Nabi Muhammad, Abu Talib. Beliau melebihkan kaum dia dari wahyu Allah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Dia tidak beriman dan menyatakan keimanannya sedangkan dia tolong anak saudaranya itu dari mula lagi sampai ke akhir hayatnya. Tapi kita kena faham yang dia tolong itu kerana Nabi Muhammad SAW itu adalah anak saudaranya, bukan dia tolong kerana Nabi Muhammad itu Rasulullah. Kalaulah dia tolong atas dasar Muhammad itu Rasulullah, ulama kata dia pasti akan dapat hidayah. Oleh itu, orang seperti Abu Talib itu tidak mengambil peluang untuk beriman semasa dia ada peluang itu.

        Maka dia telah kerugian yang amat sangat. seterusnya, وَاتَّبَعوا أَهواءَهُم dan mengikuti hawa nafsu mereka. allah beritahu yang mereka itu sebenarnya ikut nafsu mereka sahaja. Ini selalunya dikatakan tentang sifat orang kafir sedangkan ayat ini berkenaan orang munafik pada zaman Rasulullah. Maknanya, orang munafik itu sama sahaja dengan orang kafir. Mereka itu musuh dalaman. Kerana itu mereka lebih teruk kerana kalau musuh luaran, senang nak nampak. Tapi pada luarannya mereka nampak seperti orang Islam tapi dalam hati mereka sebenarnya kufur, mereka itu adalah musuh dalaman, gunting dalam lipatan. Mereka amat bahaya kerana mereka boleh merosakan umat Islam dari dalaman. Perangai mereka mungkin mempengaruhi orang-orang yang lemah iman mereka, maka mereka itu amat bahaya.

Rabu, 14 November 2018

AYAT 14-15

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH MUHAMAD 14-15'

BIS MILLA HIR RAHMANIR RAHIM'
14. afaman kaana ‘alaa bayyinatin min rabbihi kaman zuyyina lahu suu-u ‘amalihi waittaba’uu ahwaa-ahum 15. matsalu aljannati allatii wu’ida almuttaquuna fiihaa anhaarun min maa-in ghayri aasinin wa-anhaarun min labanin lam yataghayyar tha’muhu wa-anhaarun min khamrin ladzdzatin lilsysyaaribiina wa-anhaarun min ‘asalin mushaffan walahum fiihaa min kulli altstsamaraati wamaghfiratun min rabbihim kaman huwa khaalidun fii alnnaari wasuquu maa-an hamiiman faqaththha’a am’aa-ahum

بسملهررهمننررهم
{أَفَمَنْ كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ كَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ (14) مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ (15) }

          Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (setan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya? (Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhannya, sama dengan orang yang kekal di dalam neraka, dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?

       Firman Allah Swt.: {أَفَمَنْ كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ} Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya. (Muhammad: 14)
      Yakni berada dalam keyakinan dan pengetahuan tentang perintah Allah dan agama-Nya melalui apa yang diturunkan oleh Allah Swt. di dalam Kitab-Nya, berupa hidayah dan ilmu serta fitrah yang lurus yang telah dijadikan oleh Allah Swt. di dalam dirinya. {كَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ} sama dengan orang yang (setan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya. (Muhammad: 14)
        Sebagai jawabannya dapat dikatakan bahwa jelas tidak sama, semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: {أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى} Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? (Ar-Ra'd: 19)

       Dan firman Allah Swt.: {لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ} Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung. (Al-Hasyr: 20) Kemudian Allah Swt. berfirman: {مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ} (Apakah) perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa. (Muhammad: 15) Menurut Ikrimah,
          makna yang dimaksud ialah sifat-sifat surga. {فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ} yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya. (Muhammad: 15)

         Menurut Ibnu Abbas, Al-Hasan, dan Qatadah, makna yang dimaksud ialah airnya tidak berubah rasa dan baunya. Qatadah, Ad-Dahhak, dan Ata Al-Khurrasani mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah tidak bau. Orang-orang Arab mengatakan terhadap air yang berubah baunya dengan sebutan asin. Di dalam hadis yang marfu' yang diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim, gairu asin artinya yang jernih dan tidak keruh.
          Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Waki', dari Al-A'masy, dari Abdullah ibnu Murrah, dari Masruq yang mengatakan bahwa Abdullah ibnu Mas'ud r.a. telah mengatakan bahwa sungai-sungai di surga itu berhulu dari gunung minyak kesturi.
                 {وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ} dan sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya. (Muhammad: 15) Bahkan warnanya sangat keruh dan rasanya sangat manis lagi berlemak Di dalam sebuah hadis marfu' disebutkan: "لَمْ يَخْرُجْ مِنْ ضُرُوع الْمَاشِيَةِ". Tidak dikeluarkan dari tetek hewan ternak. Firman Allah Swt.: {وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ} dan sungai-sungai dari khamr yang lezat rasanya bagi peminumnya. (Muhammad: 15)

       Yakni bau dan rasanya tidak buruk seperti yang ada pada khamr di dunia melainkan warna, bau, rasa, dan pengaruhnya sangat baik. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

        {لَا فِيهَا غَوْلٌ وَلا هُمْ عَنْهَا يُنزفُونَ} Tidak ada dalam khamr itu alkohol dan mereka tiada mabuk karena (meminum)nya. (Ash-Shaffat: 47) {لَا يُصَدَّعُونَ عَنْهَا وَلا يُنزفُونَ} mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk (Al-Waqi'ah: 19)
       Dan firman Allah Swt.: {بَيْضَاءَ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ} (Warnanya) putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang vanz minum. (Ash-Shaffat: 46) Di dalam hadis Marfu’ disebutkan:

        "لَمْ تَعْصُرْهَا الرِّجَالُ بِأَقْدَامِهَا". Tidak diperas dengan kaki-kaki kaum lelaki.
    ******************* {وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى} dan sungai-sungai dari madu yang disaring. (Muhammad: 15) Yaitu sangat jernih, indah warnanya, rasanya, dan baunya.
         Di dalam hadis yang marfu' disebutkan: "لَمْ يَخْرُجْ مِنْ بُطُونِ النَّحْلِ" yang bukan dikeluarkan dari perut lebah. قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَخْبَرَنَا الجُريري، عَنْ حَكِيمِ بْنِ مُعَاوِيَةَ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "فِي الْجَنَّةِ بَحْرُ اللَّبَنِ، وَبَحْرُ الْمَاءِ، وَبَحْرُ الْعَسَلِ، وَبَحْرُ الْخَمْرِ، ثُمَّ تَشَقَّقُ الْأَنْهَارُ مِنْهَا بَعْدُ"

        Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Al-Jariri, dari Hakim ibnu Mu'awiyah, dari ayahnya yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Di dalam surga terdapat sungai susu, sungai air, sungai madu, dan sungai khamr, kemudian semua sungai terbelah darinya sesudah itu. Imam Turmuzi telah meriwayatkannya di dalam Sifatul Jannah, dari Muhammad ibnu Yasar, dari Yazid ibnu Harun,

                dari Sa'id ibnu Abu Iyas Al-Jariri, dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan. قَالَ أَبُو بَكْرِ بْنُ مَرْدَوَيْهِ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَاصِمٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ النُّعْمَانِ، حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا الْحَارِثُ بْنُ عُبَيْدٍ أَبُو قُدَامَةَ الْإِيَادِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو عِمْرَانَ الْجَوْنِيُّ، عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قَيْسٍ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هَذِهِ الْأَنْهَارُ تَشخُبُ مِنْ جَنَّةِ عَدْنٍ فِي جَوْبَة، ثُمَّ تَصَدَّعُ بَعْدُ أَنْهَارًا"

       Abu Bakar ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnu Asim, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad ibnunNu'man, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Al-Haris ibnu Ubaid Abu Qudamah Al-Ayadi, telah menceritakan kepada kami Abu Imran Al-Juni, dari Abu Bakar ibnu Abdullah ibnu Qais, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sungai-sungai ini mengalir dari surga 'Adn dari mata air yang ada di dalamnya, kemudian terbelah menjadi banyak sungai sesudahnya.

      Di dalam hadis sahih disebutkan: "إِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ، وَمِنْهُ تُفَجَّر أَنْهَارُ الْجَنَّةِ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ" Apabila kalian meminta kepada Allah, mintalah surga Firdaus kepada-Nya, karena sesungguhnya Firdaus adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi; darinya mengalir semua sungai di surga, dan di atasnya terdapat Arasy Tuhan Yang Maha Pemurah. قَالَ الْحَافِظُ أَبُو الْقَاسِمِ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا مُصْعَبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ حَمْزَةَ الزُّبَيْرِيُّ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ الصفر السُّكَّرِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ الْحِزَامِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْمُغِيرَةِ، حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ دَلْهَمِ بْنِ الْأَسْوَدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَاجِبِ بْنِ عَامِرِ بْنِ الْمُنْتَفِقِ الْعُقَيْلِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَمِّهِ لَقِيطِ بْنِ عَامِرٍ، قَالَ دَلْهَمٌ: وَحَدَّثَنِيهِ أَيْضًا أَبُو الْأَسْوَدِ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ لَقِيطٍ أَنَّ لقيط بْنَ عَامِرٍ خَرَجَ وَافِدًا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قلت: يا رسول اللَّهِ، فَعَلَامَ نَطَّلِعُ مِنَ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: "عَلَى أَنْهَارِ عَسَلٍ مُصَفًّى، وَأَنْهَارٍ مِنْ خَمْرٍ مَا بِهَا صُدَاعٌ وَلَا نَدَامَةٌ، وَأَنْهَارٍ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ، وَمَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ، وَفَاكِهَةٍ، لَعَمْرُ إِلَهِكَ مَا تَعْلَمُونَ وَخَيْرٍ مِنْ مِثْلِهِ، وأزواج مطهرة" قلت: يا رسول الله، أو لنا فِيهَا أَزْوَاجٌ مُصْلِحَاتٌ؟ قَالَ: "الصَّالِحَاتُ لِلصَّالِحِينَ تَلَذُّونَهُنَّ مِثْلَ لَذَّاتِكُمْ فِي الدُّنْيَا وَيَلَذُّونَكُمْ، غَيْرَ أَلَّا تَوَالُدَ"

         Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mus'ab ibnu Ibrahim ibnu Hamzah Az-Zubairi dan Abdullah ibnus Safar As-Sukari. Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Munzir Al-Hizami, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnul Mugirah, telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman ibnu Iyasy, dari Dalham ibnul Aswad; dan Dalham menerima hadis ini pula dari Abul Aswad, dari Asim ibnu Laqit yang mengatakan bahwa sesungguhnya Laqit ibnu Amir berangkat sebagai delegasi kaumnya kepada Rasulullah Saw. Aku (Laqit ibnu Amir) bertanya, "Wahai Rasulullah, pemandangan apakah yang akan kita lihat di dalam surga itu?" Rasulullah Saw. menjawab: Sungai-sungai dari madu yang disaring, sungai-sungai dari khamr yang tidak memabukkan dan tidak pula membuat kecanduan, dan sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai dari air yang tiada berubah bau dan rasanya, dan berbagai macam buah-buahan, demi usia Tuhanmu, seperti yang pernah kalian ketahui, tetapi jauh lebih baik daripadanya, dan juga istri-istri yang disucikan. Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah bagi kita ada istri-istri yang saleh di dalam surga?' Rasulullah Saw. menjawab: Istri-istri yang saleh untuk orang-orang yang saleh, kalian merasakan kenikmatan mereka sebagaimana kenikmatan kalian di dunia dan mereka pun merasakan kenikmatan dari kalian, hanya saja tiada beranak.

             Abu Bakar ibnu Abdullah ibnu Muhammad ibnu Abud Dunia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya'qub ibnu Ubaid, dari Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepadaku Al-Jariri, dari Mu'awiyah ibnu Qurrah, dari ayahnya, dari Anas ibnu Malik r.a. yang mengatakan, "Barangkali kalian mengira bahwa sungai-sungai surga itu mengalir di parit-parit sebagaimana di bumi. Demi Allah, sesungguhnya sungai-sungai di surga itu benar-benar mengalir bebas di permukaan tanah; kedua sisinya adalah kubah-kubah dari mutiara dan tanahnya adalah minyak kesturi yang harum sekali."
     Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Bakar ibnu Murdawaih melalui hadis Mahdi ibnu Hakim, dari Yazid ibnu Harun dengan sanad yang sama secara marfu'.

******************* Firman Allah Swt.: {وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ} dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan. (Muhammad: 15) Semakna dengan firman-Nya: {يَدْعُونَ فِيهَا بِكُلِّ فَاكِهَةٍ آمِنِينَ} Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran). (Ad-Dukhan: 55) {فِيهِمَا مِنْ كُلِّ فَاكِهَةٍ زَوْجَانِ} Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan. (Ar-Rahman: 52)

      Adapun firman Allah Swt.: {وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ} dan ampunan dari Tuhan mereka. (Muhammad: 15) selain dari semua kenikmatan surgawi itu. Firman Allah Swt.: {كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ} sama dengan orang yang kekal dalam neraka. (Muhammad: 15) Apakah mereka yang telah disebutkan kedudukan mereka di dalam surga sama dengan orang-orang yang kekal di dalam neraka? Tentu saja tidak sama, orang yang berada di tingkat yang tinggi tidaklah sama dengan orang yang berada di dasar neraka. {وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا} dan diberi minum dengan air yang mendidih. (Muhammad: 15) Yakni air yang sangat panas yang panasnya tak terperikan. {فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ} sehingga memotong-motong ususnya?
       (Muhammad: 15) Yaitu menghancurleburkan semua isi perut dan usus yang bersangkutan. Semoga Allah melindungi kita dari siksa neraka.

Selasa, 13 November 2018

AYAT 10-13

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK.
. SURAH MUHAMAD AYAT 10-13
BIS-MILLAAHIR-RAHMAN-NIR-RAHIM'
10. afalam yasiiruu fii al-ardhi fayanzhuruu kayfa kaana ‘aaqibatu alladziina min qablihim dammara allaahu ‘alayhim walilkaafiriina amtsaaluhaa
11. dzaalika bi-anna allaaha mawlaa alladziina aamanuu wa-anna alkaafiriina laa mawlaa lahum
12. inna allaaha yudkhilu alladziina aamanuu wa’amiluu alshshaalihaati jannaatin tajrii min tahtihaa al-anhaaru waalladziina kafaruu yatamatta’uuna waya/kuluuna kamaa ta/kulu al-an’aamu waalnnaaru matswan lahum
 13. waka-ayyin min qaryatin hiya asyaddu quwwatan min qaryatika allatii akhrajatka ahlaknaahum falaa naasira lahum

 بسملهرهمنرحم
 وَلِلْكَافِرِينَ أَمْثَالُهَا (10) ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَى لَهُمْ (11) إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الأنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ (12) وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ هِيَ {أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ دَمَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ أَشَدُّ قُوَّةً مِنْ قَرْيَتِكَ الَّتِي أَخْرَجَتْكَ أَهْلَكْنَاهُمْ فَلا نَاصِرَ لَهُمْ (13) }
             Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu. Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada mempunyai pelindung. Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka. Dan betapa banyaknya negeri-negeri yang (penduduknya) lebih kuat daripada (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu. Kami telah membinasakan mereka; maka tidak ada seorang penolong pun bagi mereka.

        Firman Allah Swt.: {أَفَلَمْ يَسِيرُوا} Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan. (Muhammad: 10) Yakni mereka yang mempersekutukan Allah dan mendustakan rasul­Nya. {فِي الأرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ دَمَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ} di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka. (Muhammad: 10)
         Yakni Allah mengazab mereka karena kedustaan dan kekafiran mereka, sedangkan orang-orang mukmin diselamatkan Allah dari kalangan mereka yang diazab. . Dan dalam firman berikutnya disebutkan: {وَلِلْكَافِرِينَ أَمْثَالُهَا} dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu. (Muhammad: 10)

       Kemudian Allah Swt. berfirman: {ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَى لَهُمْ} Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada mempunyai pelindung. (Muhammad: 11)

       Abu Sufyan alias Sakhr ibnu Harb -pemimpin kaum musyrik- mengatakan dalam Perang Uhud ketika ia bertanya tentang Nabi Saw. dan Abu Bakar, tetapi tidak dijawab. Maka ia berkata, "Ingatlah, mereka telah mati." Lalu ucapannya itu dijawab oleh Umar ibnul Khattab r.a., "Engkau dusta, hai musuh Allah, bahkan Allah Swt. telah memelihara apa yang membuatmu susah, dan sesungguhnya orang-orang yang engkau bilang tadi masih hidup."
             Maka Abu Sufyan berkata, "Hari ini merupakan balasan dari Perang Badar, peperangan itu silih berganti. Ingatlah, sesungguhnya kalian akan menjumpai orang yang mati dicincang. Aku tidak memerintahkannya, tidak pula melarangnya." Lalu Abu Sufyan pergi seraya mendendangkan syair yang isinya, "Tinggilah Hubal, tinggilah Hubal!" (Hubal nama berhala yang disembah mereka).
            Maka Rasulullah Saw. bersabda, "Mengapa kalian tidak menjawabnya?" Mereka bertanya, "Apa yang harus kami katakan?" Rasulullah Saw. bersabda: اللَّهُ أَعْلَى وَأَجَلُّ Allah lebih tinggi dan lebih agung. Abu Sufyan berkata lagi, "Kami mempunyai Uzza, dan tiada Uzza bagi kalian." (maksudnya kejayaan yang namanya kebetulan sama dengan berhala sembahan mereka). Rasulullah Saw. bersabda (kepada para sahabatnya), "Mengapa kalian tidak menjawabnya?" Mereka bertanya, "Apakah yang harus kami katakan, wahai Rasulullah?" Rasulullah Saw. bersabda: اللَّهُ مَوْلَانَا وَلَا مَوْلَى لَكُمْ Allah adalah Pelindung kami, dan tiada pelindung bagi kalian. *******************

        Kemudian Allah Swt. berfirman: {إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ} Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (Muhammad: 12)
        Yakni pada hari kiamat nanti. {وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الأنْعَامُ} Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. (Muhammad: 12)
        Yaitu dalam kehidupan dunia mereka senang, dan mereka hidup hanya untuk makan sebagaimana binatang makan, yakni tujuan mereka hanyalah makan dan bersenang-senang dalam dunia ini.
            Karena itulah disebutkan dalam hadis sahih melalui sabda Rasulullah Saw. yang mengatakan: "الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعيّ وَاحِدٍ، وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ" Orang yang mukmin makan dengan satu perut, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh perut. Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya: {وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ} Dan neraka adalah tempat tinggal mereka. (Muhammad: 12)
   Yakni di hari mereka mendapat pembalasan.

*******************

Firman Allah Swt.: {وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ هِيَ أَشَدُّ قُوَّةً مِنْ قَرْيَتِكَ الَّتِي أَخْرَجَتْكَ} Dan betapa banyaknya negeri-negeri yang (penduduknya) lebih kuat daripada (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu. (Muhammad: 13)

         Yakni penduduk Mekah. {أَهْلَكْنَاهُمْ فَلا نَاصِرَ لَهُمْ} Kami telah membinasakan mereka; maka tidak ada seorang penolongpun bagi mereka. (Muhammad: 13) Ini merupakan peringatan yang keras dan ancaman yang kuat ditujukan kepada penduduk Mekah karena mereka telah mendustakan rasul-Nya, padahal dia adalah penghulu para rasul dan penutup para nabi. Apabila Allah telah membinasakan umat-umat yang dahulu telah mendustakan rasul-rasul yang sebelumnya, padahal mereka jauh lebih kuat daripada orang-orang musyrik Mekah. Maka apakah yang akan dilakukan oleh Allah Swt. terhadap mereka di dunia dan akhirat, yakni bagaimanakah prasangka mereka terhadap kenyataan ini?

       Dan jika Allah membebaskan sejumlah besar dari mereka dari hukuman di dunia berkat keberadaan Rasulullah Saw. Nabi pembawa rahmat, maka sesungguhnya azab akan dipenuhi terhadap orang-orang kafir itu di hari mereka dikembalikan kepada-Nya. {يُضَاعَفُ لَهُمُ الْعَذَابُ مَا كَانُوا يَسْتَطِيعُونَ السَّمْعَ وَمَا كَانُوا يُبْصِرُونَ} Siksaan itu dilipatgandakan kepada mereka. Mereka selalu tidak dapat mendengar (kebenaran) dan mereka selalu tidak dapat melihat (nya). (Hud: 20)

        Adapun firman Allah Swt.: {مِنْ قَرْيَتِكَ الَّتِي أَخْرَجَتْكَ} dari (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu. (Muhammad: 13) Yakni orang-orang yang telah mengusirmu dari kalangan mereka

   . قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: ذَكَرَ أَبِي، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْأَعْلَى، عَنِ الْمُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ حَنَش ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا خَرَجَ مِنْ مَكَّةَ إِلَى الْغَارِ أُرَاهُ قَالَ: الْتَفَتَ إِلَى مَكَّةَ -وَقَالَ: "أَنْتِ أَحَبُّ بِلَادِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ، وَأَنْتِ أَحَبُّ بِلَادِ اللَّهِ إِلَيَّ، وَلَوْ أَنَّ الْمُشْرِكِينَ لَمْ يُخْرِجُونِي لَمْ أَخْرُجْ مِنْكِ"

        Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa ayahnya telah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Abdul Ala, dari Al-Mu'tamir ibnu Sulaiman, dari ayahnya, dari Hanasy, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a., bahwa Nabi Saw. ketika keluar dari Mekah menuju ke gua tempat persembunyiannya. Ketika sampai di gua itu beliau menoleh ke arah Mekah, lalu berkata: Sesungguhnya engkau adalah negeri Allah yang paling disukai oleh-Nya, dan engkau adalah negeri Allah yang paling aku sukai; seandainya orang-orang musyrik itu (penduduknya) tidak mengusirku, aku tidak akan keluar meninggalkanmu. Musuh yang paling dimurkai ialah orang yang memusuhi Allah di tanah suci-Nya, atau memerangi orang yang tidak bersalah. Maka Allah menurunkan firman-Nya: {وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ هِيَ أَشَدُّ قُوَّةً مِنْ قَرْيَتِكَ الَّتِي أَخْرَجَتْكَ أَهْلَكْنَاهُمْ فَلا نَاصِرَ لَهُمْ} Dan betapa banyaknya negeri-negeri yang (penduduknya) lebih kuat daripada (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu. Kami telah membinasakan mereka; maka tidak ada seorang penolong pun bagi mereka. (Muhammad: 13)

Isnin, 12 November 2018

AYAT 4-9

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK .,.
SURAH MUHAMAD 4-9
   ،.بسملهرحمنرحم
{فَإِذا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ حَتَّى إِذَا أَثْخَنْتُمُوهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنًّا بَعْدُ وَإِمَّا فِدَاءً حَتَّى تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا ذَلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ (4) سَيَهْدِيهِمْ وَيُصْلِحُ بَالَهُمْ (5) وَيُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَهَا لَهُمْ (6) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (7) (8) وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ (8) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ )(9)

BIS-MILLAAAHIR-RAHMAN-NIR-RAHIM.,.,
4. fa-idzaa laqiitumu alladziina kafaruu fadharba alrriqaabi hattaa idzaa atskhantumuuhum fasyudduu alwatsaaqa fa-immaa mannan ba’du wa-immaa fidaa-an hattaa tadha’a alharbu awzaarahaa dzaalika walaw yasyaau allaahu laintashara minhum walaakin liyabluwa ba’dhakum biba’dhin waalladziina qutiluu fii sabiili allaahi falan yudhilla a’maalahum sayahdiihim wayushlihu baalahum
5. sayahdihim wa yushlihu baa lahum
 6. wayudkhiluhumu aljannata ‘arrafahaa lahum
7. yaa ayyuhaa alladziina aamanuu in tanshuruu allaaha yanshurkum wayutsabbit aqdaamakum
 8. waalladziina kafaruu fata’san lahum wa-adhalla a’maalahum
9. dzaalika bi-annahum karihuu maa anzala allaahu fa-ahbatha a’maalahum

 Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang), maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka, maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikianlah, apabila Allah menghendaki, niscaya Allah akan membinasakan mereka. tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi pinjaman kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka. Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur'an), lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka. Allah Swt. memberikan petunjuk kepada orang-orang mukmin tentang apa yang harus mereka pegang dalam peperangan mereka menghadapi orang-orang musyrik. {فَإِذا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ}


Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang), maka pancunglah batang leher mereka. (Muhammad: 4) Yakni apabila kamu berhadapan dengan mereka di medan perang, maka tunailah mereka dengan pedang, yakni babatlah leher mereka dengan pedang. {حَتَّى إِذَا أَثْخَنْتُمُوهُمْ فَشُدُّوا} Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka. (Muhammad: 4)
                  Maksudnya, kamu lumpuhkan mereka dan kamu bunuh sebagian dari mereka. {فَشُدُّوا} maka tawanlah mereka. (Muhammad: 4) Yaitu jadikanlah mereka orang-orang yang kamu tawan sebagai tawanan perang. Kemudian sesudah,perang usai, kamu boleh memilih untuk menentukan nasib mereka. Jika kamu suka, kamu boleh membebaskan mereka dengan cuma-cuma atau dengan tebusan yang kamu terima dari mereka sesuai dengan apa yang kamu persyaratkan terhadap mereka. Makna lahiriah ayat menunjukkan bahwa ayat ini diturunkan sesudah Perang Badar. Karena sesungguhnya Allah Swt. menegur sikap kaum mukmin yang lebih suka memperbanyak tawanan dengan tujuan agar mendapat tebusan yang banyak dari mereka dan mempersedikit hukuman mati. Sehubungan dengan peristiwa tersebut
                      Allah Swt. telah berfirman: {مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَى حَتَّى يُثْخِنَ فِي الأرْضِ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الآخِرَةَ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ لَوْلا كِتَابٌ مِنَ اللَّهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيمَا أَخَذْتُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ} Tidak patut bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta duniawiyah, sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah berlalu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu terima. (Al-Anfal: 67-68)

        Tetapi ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa ayat yang mempersilakan Nabi Saw. boleh memilih antara menerima tebusan dari tawanan atau membebaskan mereka dengan cuma-cuma, telah di-mansukh oleh firman Allah Swt. yang menyebutkan: فَإِذَا انْسَلَخَ الأشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kamu jumpai mereka. (At-Taubah: 5)

          . hingga akhir ayat. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas r.a., Qatadah, Ad-Dahhak, As-Saddi, dan Ibnu Juraij, juga ulama lainnya mengatakan bahwa ayat ini tidak di-mansukh. Kemudian sebagian dari mereka mengatakan bahwa sesungguhnya imam hanya dibolehkan memilih antara membebaskan tawanan dan menerima tebusannya, tidak diperbolehkan baginya menghukum mati tawanan. Sebagian yang lain dari mereka mengatakan bahwa bahkan diperbolehkan bagi imam membunuh tawanannya karena ada hadis yang menceritakan bahwa Nabi Saw. membunuh An-Nadr ibnul Haris dan Uqbah ibnu Abu Mu'it tawanan Perang Badar. Dan Sumamah ibnu Asal berkata kepada Rasulullah Saw. saat beliau mengatakan kepadanya, "Apakah yang kamu punyai, hai Sumamah?" Maka Sumamah menjawab, "Jika engkau menghukum mati, berarti engkau membunuh orang yang masih ada ikatan keluarganya denganmu. Dan jika engkau membebaskan, berarti engkau akan membebaskan orang yang akan berterima kasih kepadamu. Jika engkau menginginkan harta (tebusan), mintalah sesukamu, maka aku akan memberinya." Imam Syafii rahimahullah telah mengatakan bahwa imam boleh memilih antara menghukum mati, atau membebaskannya dengan cuma-cuma atau dengan tebusan atau dengan memperbudaknya. Masalah ini diterangkan di dalam kitab-kitab ftqih yang telah kami kemukakan keterangan mengenainya di dalam kitab kami Al-Ahkam.

                 ******************* Firman Allah Swt.: {حَتَّى تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا} sampai perang berhenti. (Muhammad: 4) Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah sampai Isa putra Maryam a.s. diturunkan, seakan-akan takwil ini disimpulkan dari sabda Rasulullah Saw. yang mengatakan: "لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ حَتَّى يُقَاتِلَ آخِرُهُمُ الدَّجَّالَ" Masih akan tetap ada segolongan dari umatku yang memperjuangkan perkara yang hak hingga orang yang terakhir dari mereka memerangi Dajjal.
 قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سُلَيْمَانَ، عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الجُرَشي، عَنْ جُبَير بْنِ نُفيَر؛ أَنَّ سَلَمَةَ بْنَ نُفيَل أَخْبَرَهُمْ: أَنَّهُ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّي سَيَّبْتُ الْخَيْلَ، وَأَلْقَيْتُ السِّلَاحَ، وَوَضَعَتِ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا، وَقُلْتُ: "لَا قِتَالَ" فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "الْآنَ جَاءَ الْقِتَالُ، لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى النَّاسِ يُزيغ اللَّهُ قُلُوبَ أَقْوَامٍ فَيُقَاتِلُونَهُمْ: وَيَرْزُقُهُمُ اللَّهُ مِنْهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ. أَلَا إِنَّ عُقْرَ دَارِ الْمُؤْمِنِينَ الشَّامُ، والخيلُ مَعْقُودٌ فِي نَوَاصِيهَا الْخَيْرُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ".

                      Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hakam ibnu Nafi', telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Iyasy, dari Ibrahim ibnu Sulaiman, dari Al-Walid ibnu Abdur Rahman Al-Jarasyi, dari Jubair ibnu Nafir yang mengatakan bahwa sesungguhnya Salamah ibnu Nufail pernah menceritakan kepada mereka bahwa ia datang menghadap kepada Rasulullah Saw., lalu berkata, "Sesungguhnya aku telah melepaskan kudaku dan kuletakkan senjataku serta perang telah berhenti." Dan aku mengatakan kepada beliau Saw., "Sekarang tidak ada perang lagi." Maka Nabi Saw. bersabda: Sekarang peperangan akan datang, masih akan tetap ada segolongan dari umatku yang berjuang melawan orang lain; Allah menyesatkan hati banyak kaum, maka mereka memeranginya, dan Allah memberinya rezeki dari mereka, hingga datanglah perintah Allah (hari kiamat), sedangkan segolongan dari umatku itu tetap dalam keadaan berjuang. Ingatlah, sesungguhnya kekuasaan negeri kaum mukmin berada di negeri Syam. Dan kuda itu (yakni peralatan perang) pada ubun-ubunnya terikat kebaikan sampai hari kiamat. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Nasai melalui dua jalur, dari Jubair ibnu Nafir, dari Salamah ibnu Nafil As-Sukuni dengan sanad yang sama.

    قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ الْبَغَوِيُّ: حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ رُشَيْد، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُهَاجِرٍ، عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الجُرَشي، عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَير، عَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ قَالَ: لَمَّا فُتِحَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتْح فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، سُيِّبَتِ الْخَيْلُ، وَوُضِعَتِ السِّلَاحُ، وَوَضَعَتِ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا، قَالُوا: لَا قِتَالَ، قَالَ: "كَذَبُوا، الْآنَ، جَاءَ الْقِتَالُ، لَا يَزَالُ اللَّهُ يُرَفِّع قُلُوبَ قَوْمٍ يُقَاتِلُونَهُمْ، فَيَرْزَقُهُمْ مِنْهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ، وعُقْر دَارِ الْمُسْلِمِينَ بِالشَّامِ".

        Abul Qasim Al-Bagawi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Rasyid, telah menceritakan kepada kami Al-Walid, dari Jubair ibnu Muhammad ibnu Muhajir, dari Al-Walid ibnu Abdur Rahman Al-Jarasyi, dari Jubair ibnu Nafir, dari An-Nuwwas ibnu Sam'an r.a. yang mengatakan bahwa ketika Rasulullah Saw. beroleh suatu kemenangan, para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, kuda-kuda perang telah dilepaskan, dan semua senjata telah diletakkan serta peperangan telah berhenti." Mereka mengatakan pula, "Tidak ada peperangan lagi." Maka Rasulullah Saw. bersabda: Mereka dusta, sekarang peperangan akan datang lagi; Allah masih terus-menerus menyesatkan hati kaum, maka mereka memeranginya, dan Allah memberi rezeki kepada mereka darinya, hingga datanglah perintah Allah (hari kiamat), sedangkan mereka tetap dalam keadaan demikian (berjuang), dan kekuasaan negeri kaum muslim berada di Syam. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Ya'la Al-Mausuli, dari Daud ibnu Rasyid dengan sanad yang sama. Menurut riwayat yang terkenal, hadis ini diriwayatkan melalui Salamah ibnu Nufail seperti yang telah disebutkan di atas. Dan hadis ini memperkuat pendapat yang mengatakan tidak ada pe-nasikh-an. Seakan-akan ketentuan hukum ini disyariatkan dalam kondisi perang, hingga perang tiada lagi. Qatadah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: sampai perang berhenti. (Muhammad: 4)

Yakni hingga tiada kemusyrikan lagi. Ayat ini semakna dengan firman-Nya: وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. (Al-Anfal: 39) Tetapi sebagian ulama mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah hingga para penyerang -yakni orang-orang musyrik itu- meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa mereka, yaitu bertobat kepada Allah Swt. dan memeluk agama-Nya. Menurut pendapat yang lainnya lagi, makna yang dimaksud ialah orang-orang yang terlibat dalam perang itu meletakkan senjatanya dan mengerahkan segala kemampuannya untuk mengerjakan ketaatan kepada Allah Swt. *******************
                             Firman Allah Swt.: {ذَلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لانْتَصَرَ مِنْهُمْ} Demikianlah, apabila Allah menghendaki, niscaya Allah akan membinasakan mereka. (Muhammad: 4) Yakni hal itu seandainya Allah menghendaki, bisa saja Dia membalas orang-orang kafir dengan hukuman dan pembalasan dari sisi-Nya. {وَلَكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ} tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. (Muhammad: 4) Akan tetapi, Allah memerintahkan kepada kalian untuk berjihad dan memerangi musuh, untuk menguji dan agar Kami menyatakan baik buruknya hal ikhwal kalian. Seperti yang disebutkan di dalam surat Ali Imran dan At-Taubah perihal hikmah disyariatkan-Nya jihad, juga diterangkan dalam firman Allah Swt.: {أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ} Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. (Ali Imran: 142)
Allah Swt. telah berfirman di dalam surat At-Taubah: {قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَيُذْهِبْ غَيْظَ قُلُوبِهِمْ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ} Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman, dan menghilangkan panas hati orang-orang mukmin. Dan Allah menerima tobat orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. (At-Taubah: 14-15) Mengingat peperangan itu memakan korban yang banyak, dan banyak dari kaum mukmin yang gugur di dalamnya, maka Allah Swt. berfirman: {وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ} Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. (Muhammad: 4) Yakni tidak akan menghapusnya, bahkan memperbanyak dan mengembangkannya serta melipatgandakannya. Di antara mereka ada yang pahala amalnya terus mengalir kepadanya selama dalam alam kuburnya, sebagaimana yang telah diterangkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya yang menyebutkan bahwa:


            حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ يَحْيَى الدِّمَشْقِيُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ ثَوْبَانَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَكْحُولٍ، عَنْ كَثِيرِ بْنِ مُرّة، عَنْ قَيْسٍ الْجُذَامِيِّ -رَجُلٍ كَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ-قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم: "يُعْطَى الشَّهِيدُ سِتُّ خِصَالٍ عِنْدَ أَوَّلِ قَطْرَةٍ مِنْ دَمِهِ: يُكَفر عَنْهُ كُلُّ خَطِيئَةٍ، وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُزَوَّجُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ، وَيُؤَمَّنُ مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَيُحَلَّى حُلَّة الْإِيمَانِ"

        telah menceritakan kepada kami Zaid ibnu Yahya Ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Sauban, dari ayahnya, dari Mak-hul, dari Kasir ibnu Murrah, dari Qais Al-Juzami -seorang lelaki yang berpredikat sahabat- yang telah menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Orang yang mati syahid dianugerahi enam perkara, yaitu pada permulaan tetes darahnya diampuni semua dosanya, dan dapat melihat kedudukannya kelak di dalam surga dan akan dikawinkan dengan bidadari yang bermata jeli, dan diselamatkan dari kegemparan yang dahsyat (hari kiamat) serta diselamatkan dari azab kubur dan dihiasi dengan keimanan yang menyelimuti dirinya. Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid.

Hadis lain. قَالَ أَحْمَدُ أَيْضًا: حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ، عن بَحِير ابن سَعِيدٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدان، عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ معد يكرب الْكِنْدِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللَّهِ سِتَّ خِصَالٍ: أَنْ يُغْفَرَ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَة مِنْ دَمِهِ، وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُحَلَّى حُلَّة الْإِيمَانِ، وَيُزَوَّجَ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ، وَيُجَارَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، ويَأمَن مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ، وَيُوضَعَ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ، الْيَاقُوتَةُ مِنْهُ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، وَيُزَوَّجَ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنَ الْحُورِ الْعِينِ، ويُشَفَّع فِي سَبْعِينَ إِنْسَانًا مِنْ أَقَارِبِهِ"

                          Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Al-Hakam ibnu Nafi', telah menceritakan kepadaku Ismail ibnu Iyasy, dari Yahya ibnu Sa'id, dari Khalid ibnu Ma'dan, dari Al-Miqdam ibnu Ma'di Kariba Al-Kindi r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya bagi orang yang mati syahid ada enam perkara di sisi Allah, yaitu mendapat ampunan pada permulaan tetesan darahnya, dan dapat melihat kedudukannya di surga, dan dianugerahi keimanan yang menyelimuti dirinya, dan dikawinkan dengan bidadari yang bermata jeli, dan diselamatkan dari azab kubur, dan diselamatkan dari kegemparan hari kiamat, dan dikenakan pada kepalanya mahkota keagungan yang dihiasi dengan intan dan yaqut, sebutir permata yaqut yang ada di mahkotanya lebih baik daripada dunia dan seisinya, dan dikawinkan dengan dua orang wanita (penghuni bumi yang masuk surga) dan tujuh puluh bidadari yang bermata jeli, serta dapat memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari kalangan kerabatnya. Imam Turmuzi telah meriwayatkan hadis ini, dan Ibnu Majah menilainya sahih.

          Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan melalui sahabat Abdullah ibnu Amr, juga dari Abu Qatadah r.a., bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: "يُغفر لِلشَّهِيدِ كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الدَّيْن" Diampuni bagi seorang yang mati syahid segala sesuatunya kecuali masalah utang. Imam Muslim telah meriwayatkan pula melalui hadis sejumlah sahabat hal yang semisal. Abu Darda r.a. mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: "يُشَفَّعُ الشَّهِيدُ فِي سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ" Orang yang mati syahid dapat memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari kalangan ahli baitnya (keluarganya). Dan Imam Abu Daud telah meriwayatkan hal yang semisal. Hadis-hadis yang menerangkan tentang keutamaan orang yang mati syahid banyak sekali. ******************* Firman Allah Swt:

                     {سَيَهْدِيهِمْ} Allah akan memberi pimpinan kepada mereka. (Muhammad: 5) Yakni akan membimbing mereka ke surga. Semakna dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya: {إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الأنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ} Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan. (Yunus: 9) Adapun firman Allah Swt.: {وَيُصْلِحُ بَالَهُمْ} dan memperbaiki keadaan mereka. (Muhammad: 5) Yaitu akan memperbaiki urusan dan keadaan mereka. {وَيُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَهَا لَهُمْ} dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka. (Muhammad: 6)

      Allah telah memperkenalkannya kepada mereka dan membimbing mereka kepadanya. Mujahid mengatakan bahwa penghuni surga mengetahui rumah dan tempat tinggalnya masing-masing, mengingat Allah telah membagi-bagikannya kepada mereka. Mereka tidak akan keliru atau salah masuk, seakan-akan mereka adalah penghuninya sejak mereka diciptakan, tidak seorang pun yang menunjukkan mereka kepadanya. Hal yang semisal telah diriwayatkan oleh Malik, dari zaid ibnu Aslam. Muhammad ibnu Ka'b mengatakan, "Apabila mereka masuk surga, mereka mengetahui rumah-rumah mereka sebagaimana kalian mengetahui rumah-rumah kalian (sewaktu di dunia) bila pulang dari salat Jumat." Muqatil ibnu Hayyan mengatakan bahwa malaikat yang telah ditugaskan mencatat amal perbuatannya sewaktu di dunia berjalan di hadapannya di dalam surga, sedangkan Anak Adam yang bersangkutan mengikutinya hingga sampailah ke tempat tinggal yang telah disediakan untuknya. Kemudian malaikat itu memperkenalkan kepadanya segala sesuatu yang diberikan oleh Allah untuknya di dalam surga. Apabila telah sampai ke tempat tinggalnya, maka masuklah ia ke dalamnya dan menemui istri-istrinya, lalu malaikat itu pergi meninggalkannya. Demikianlah menurut apa yang telah disebutkan oleh Ibnu Abu Hatim.

       Hal yang sama telah disebutkan di dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari melalui hadis Qatadah, dari Abul Mutawakkil An-Naji, dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a., bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: "إِذَا خَلَصَ الْمُؤْمِنُونَ مِنَ النَّارِ حُبِسُوا بِقَنْطَرَةٍ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، يَتَقَاصُّونَ مَظَالِمُ كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيَا، حَتَّى إِذَا هُذّبوا وَنُقُّوا أُذِنَ لَهُمْ فِي دُخُولِ الْجَنَّةِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ أَحَدَهُمْ بِمَنْزِلِهِ فِي الْجَنَّةِ أَهْدَى مِنْهُ بِمَنْزِلِهِ الَّذِي كَانَ فِي الدُّنْيَا" Apabila orang-orang mukmin telah dikeluarkan dari neraka, mereka ditahan di sebuah jembatan yang terletak di antara surga dan neraka dalam rangka saling melakukan hukum qisas (pembalasan) yang ada di antara mereka sewaktu di dunia; hingga manakala mereka telah dibersihkan dan disucikan, barulah diizinkan bagi mereka masuk surga. Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya seseorang dari mereka lebih mengetahui tempat tinggalnya di surga ketimbang tempat tinggalnya di dunia dahulu. *******************

        Kemudian Allah Swt. berfirman: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ} Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad: 7)

      Semakna dengan firman-Nya: {وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ} Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. (Al-Hajj: 40) Karena sesungguhnya imbalan itu disesuaikan dengan jenis perbuatan dan amalnya. Untuk itulah maka disebutkan oleh firman-Nya: {وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ} dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad: 7)
         Seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis yang mengatakan: "مَنْ بَلَّغ ذَا سُلْطَانٍ حَاجَةَ مَنْ لَا يَسْتَطِيعُ إِبْلَاغَهَا، ثَبَّتَ اللَّهُ قَدَمَهُ عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ".
      Barang siapa yang menyampaikan kepada sultan (penguasa) keperluan orang yang tidak mampu menyampaikannya, maka Allah akan meneguhkan kedua telapak kakinya di atas sirat kelak pada hari kiamat. Kemudian dalam firman berikutnya disebutkan: {وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ} Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka. (Muhammad: 8)

        Kebalikan dari nasib yang dialami oleh kaum mukmin yang diteguhkan kedudukan mereka karena telah menolong agama Allah dan membantu rasul-Nya. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: "تَعِس عَبْدُ الدِّينَارِ، تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ القَطِيفة -[وَفِي رِوَايَةٍ: تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيصَةِ] -تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ" Celakalah pengabdi dinar, celakalah pengabdi dirham, celakalah pengabdi kebendaan, sungguh celaka dan binasalah dia; dan apabila diberi sakit, semoga Allah tidak menyembuhkannya. Firman Allah Swt.: {وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ} dan Allah menghapus amal-amal mereka. (Muhammad: 8)
       Yakni melenyapkannya dan membatalkannya. Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya: {ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزلَ اللَّهُ} Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur'an). (Muhammad: 9) Maksudnya, tidak menghendakinya dan tidak pula menyukainya. {فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ} lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka. (Muhammad: 9)

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN