Sabtu, 7 Julai 2018

AYAT 203=207

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH BAQARAH 203-207
BIS-MIL-LSH-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM''
203.Waz- kurullaaha fiii ‘ay – yaa – mim – ma' – dudaat. Faman ta –‘ajjala fii yaw – mayni falaa ‘isma ‘alayh, wa man ta – ‘akhkhara falaaa ‘ isma ‘alayhi li – manit – taqaa. Watta – qullaaha wa' – lamuuu ‘an – nakum ‘ilayhi tuhsharuun. 204.Wa minannaasi many – yu' – jibuka qawluhuu fil – hayaa – tid dunyaa wa – yush – hidullaaha ‘alaa maa fii qalbihii wa huwa ‘alad – dul – khisaam. 205.Wa ‘izaa tawallaa sa – ‘aa fil – ‘ardi li – yufsida fiiha wa yuh – likal – harsa wan – nasl. Wal – laahu laa yuhibbul – fasaad. 206.Wa ‘izaa qiila lahuttaqil – laaha ‘aka – hazat – hul – ‘izzatu bil – ‘ismi fahasbuhu jahannam; wa la – bi' – sal – mihaad! 207.Wa minan – naasi many – yash rii – naf – sahub – tighaaa – ‘a Mardaatillaah; wal – laahu Ra- ‘uufum – bil – ‘ibaad.
       “Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah dan ketauhilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 203)“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. (QS. Al-Baqarah: 204) Dan apabila ia berpaling (dari mukamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. (QS. Al-Baqarah: 205) Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka jahannam. Dan sungguh neraka jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. (QS. Al-Baqarah: 206) Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridbaan Allah; dan Allah Mabapenyantun kepada bamba-bamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 207)

 Ibnu Abbas mengatakan: “Yang dimaksud dengan hari-hari yang berbilang (al-ayyam al-ma’duudaat) itu adalah hari-hari Tasyriq, dan yang dimaksud dengan al-ayyaam al-ma’lumaat adalah sepuluh hari dalam bulan Dzulhijjah (dari 1-10 Dzulhijjah).” Mengenai firman-Nya: wadz-kurullaaHa fii ayyaamim ma’duudaat (“Dan berdzikirlah [dengan menyebut] Allah dalam beberapa hari yang berbilang,”) Ikrimah mengatakan, “Yakni membaca takbir pada hari-hari tasyriq setelah shalat wajib, yaitu membaca Allahu Akbar, Allah Akbar.”
 Imam Ahmad meriwayatkan dari Waki’, dari Musa bin Ali, dari ayahnya, katanya, “Aku pernah mendengar Uqbah bin Amir menuturkan, Rasulullah bersabda: “Hari Arafah, hari Kurban, dan hari-hari Tasyriq adalah hari raya bagi kita, umat Islam, hari-hari itu merupakan hari makan dan minum.” Imam Ahmad meriwayatkan dari Nabisyah al-Hudzali, Rasulullah saw. bersabda: “Hari-hari Tasyriq adalah hari makan, minum dan dzikir kepada Allah.” (Hadits ini juga diriwayatkan Muslim) Berkenaan dengan firman Allah: wadz-kurullaaHa fii ayyaamim ma’duudaat (“Dan berdzikirlah [dengan menyebut] Allah dalam beberapa hari yang berbilang,”) maksudnya menyebut nama Allah pada saat penyembelihan hewan-hewan kurban.

 Sebagaimana telah dikemukakan bahwa yang rajih dalam hal ini madzab Imam Syafi’i rahimahullahu, yaitu bahwa waktu kurban berawal dari hari penyembelihan sampai akhir hari-hari Tasyriq. Berkenaan dengan hal itu juga adalah dzikir yang khusus pada setiap usai shalat lima waktu, dan dzikir mutlak yang dilakukan pada seluruh keadaan. Ada beberapa pendapat alim ulama mengenai waktunya, dan yang termasyhur adalah yang dilakukan mulai dari shalat Subuh pada hari Arafah sampai shalat Ashar pada akhir hari-hari Tasyriq, yaitu akhir hari Nafar (bertolaknya rombongan haji dari Mina) terakhir. Wallahu a’lam. As-Suddi menuturkan: “

Ayat ini turun berkenaan dengan al-Akhnas bin Syariq ats-Tsaqafi yang datang kepada Rasulullah dengan menampakkan keislaman, padahal hatinya bertolak-belakang dengan hal itu.” Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwasanya ayat ini diturunkan berkenaan dengan beberapa orang dari kalangan orang-orang munafik, mereka membicarakan dan mencaci maki Khubaib dan para sahabatnya yang terbunuh dalam peristiwa ar-Raji’. Kemudian Allah menurunkan ayat yang mencela orang-orang munafik dan memuji Khubaib dan para sahabatnya: wa minan naasi may yasyrii nafsaHubtighaa-a mardlaatillaaHi (“Dan di antara munusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah.”) Ada juga yang berpendapat bahwa ayat tersebut berlaku umum bagi orang-orang munafik dan juga orang-orang yang beriman secara keseluruhan. Demikian menurut pendapat Qatadah, Mujahid, Rabi’ bin Anas, dan beberapa ulama lainnya. Dan pendapat inilah yang benar. Muhammad bin Ka’ab mengemukakan: “Sesungguhnya ayat ini turun berkenaan dengan seorang laki-laki, dan setelah itu berlaku umum.” Dan pendapat yang dikemukakan oleh Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi ini pun baik dan benar.Sedangkan jumhur ulama membacanya: wa yusyHidullaaHa ‘alaa maa fii qalbiHii; Yang berarti orang munafik itu menampakkan keislaman kepada manusia, dan menantang Allah Ta’ala untuk membongkar kekufuran dan kemunafikan yang ada di dalam hatinya, seperti firman-Nya yang artinya: “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah.” (QS. An-Nisaa’: 108)

 Demikian makna yang diriwayatkan Ibnu Ishaq, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas. Ada pula yang mengatakan: “Artinya bahwa jika orang munafik itu menampakkan keislaman di hadapan manusia ia bersumpah dan mempersaksikan Allah kepada mereka (para manusia) bahwa apa yang ada di dalam hatinya sesuai dengan ucapannya. Makna seperti ini benar dikemukakan oleh Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam, dan menjadi pilihan Ibnu Jarir dan disandarkan kepada Ibnu Abbas dari Mujahid. Wallahu a’lam. Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Said bin al-Musayyab, Abu Utsman an-Nahdhi, Ikrimah, dan segolongan orang mengatakan, “Ayat itu turun berkenaan dengan Shuhaib bin Sinan ar-Rumi.” Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Abu Utsman an-Nahdhi, dari Shuhaib, katanya, “Ketika aku bermaksud hijrah dari Makkah kepada Nabi saw, orang-orang Quraisy berkata kepadaku, ‘Hai Shuhaib, kamu datang kepada kami dengan tidak membawa harta kekayaan, dan sekarang kamu akan pergi dengan membawa harta kekayaanmu.

Demi Allah hal itu tidak boleh terjadi sama sekali.’” Hamad bin Salamah meriwayatkan, dari Ali bin Zaid, dari Sa’id bin al-Musayyab, katanya: “Shuhaib berangkat hijrah menuju Nabi saw, lalu diikuti oleh beberapa orang Quraisy, maka ia pun turun dari kendaraannya dan mengeluarkan apa yang berada di dalam tempat anak panahnya, kemudian berujar, “Hai orang-orang Quraisy, kalian tahu bahwa aku adalah orang yang pandai memanah di antara kalian, sedang kalian, demi Allah, kalian tidak akan sampai kepadaku kecuali aku akan melemparkan semua anak panah yang ada di dalam tempatnya ini, dan membuang pedangku ini sehingga tiada yang tersisa sedikit pun padaku. Maka lakukan apa yang kalian kehendaki. Tetapi jika kalian mau, akan kutunjukkan kepada kalian harta dan simpananku di Makkah, tetapi kalian harus membebaskan jalanku.” Maka mereka pun menjawab, “Mau.” Dan ketika sampai kepada Nabi saw, beliau bersabda, “Beruntunglah Shuhaib.” Maka turunlah ayat: wa minan naasi may yasy-rii nafsaHubtighaa-a mardlaatillaaHi wallaaHu ra-uufum bil ‘ibaad (“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah. Dan Allah Mahapenyantun kepada hamba-hamba-Nya.”) Tetapi kebanyakan ulama memahami bahwa ayat tersebut turun ditujukan bagi setiap orang yang berjuang di jalan Allah Ta’ala, sebagaimana Dia telah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 111) Dan ketika Hisyam bin Amir maju menyerang ke tengah-tengah barisan musuh, sebagian orang menentangnya, sedangkan Umar bin al-Khatthab, Abu Hurairah, dan yang lainnya membantah tindakan mereka itu seraya membacakan ayat ini: wa minan naasi may yasy-rii nafsaHubtighaa-a mardlaatillaaHi wallaaHu ra-uufum bil ‘ibaad (“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah. Dan Allah Mahapenyantun kepada hamba-hamba-Nya.”)

Jumaat, 6 Julai 2018

AYAT 200-202

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
SURAH AL-BAQARAH 200-202
BIS-MIL-LAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM'


120.Wa lan – tardaa ‘ankal – Yahuudu wa lan – Nasaaraa hattaa tatabi – ‘a milla – tahum. Qul ‘inna Hudal – laahi huwal – Hudaa. Wa la –‘init – taba' ta ahwaaa- ‘ahum ba' – dallazii jaaa – ‘akaminal – ‘ilmi maa laka minallaahi minw – waliy – yinw wa laa nasiir. ‘121.Allaziina ‘aatay – naahumul Kitaaba yatluunahuu haqqa tilaawatih: ‘Ulaaa – ‘ika yu' – minuuna bih. Wa many yakfur bihii fa – ‘ulaaa – ‘ika hu mul – khaasiruun. 122.Yaa – Baniii ‘Israaa – ‘iila az – kuruu ni'matiyallatiii ‘an – ‘amtu ‘alaykum wa ‘annii faddal – tukum ‘alal – ‘aalamiin.


“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdo’a: ‘Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia,’ dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. (QS. Al-Baqarah: 200)

 Dan di antara mereka ada orang yang berdo’a: “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Al-Baqarah: 201)

Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 202)

 Sa’id bin Jubair meriwayatkan, dari Ibnu Abbas: “Dahulu, ketika masyarakat Jahiliyah berwuquf di musim haji, salah seorang di antara mereka mengatakan, ‘Ayahku suka memberi makan, menanggung beban, dan menanggung diat orang lain.’ Mereka tidak menyebut-nyebut kecuali apa yang pernah dikerjakan bapak-bapak mereka. Kemudian Allah menurunkan kepada Nabi ayat berikut ini: fadz-kurullaaHa kadzikrikum aabaa-akum au asyadda dzikran (“Maka berdzikirlah [dengan menyebut] Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut [membangga-banggakan] nenek moyangmu atau [bahkan] berdzikirlah lebih banyak dari itu.”) Wallahu a’lam. Maksud dari firman ini adalah perintah untuk memperbanyak dzikir kepada Allah swt. Dan kata “au” (atau) dalam ayat itu dimaksudkan untuk menegaskan keserupaan dalam berita, seperti halnya firman Allah: fa Hiya kalhijaarati au asyaddu qaswatun (“Hati kamu itu menjadi keras seperti batu atau bahkan lebih keras lagi.”) (QS. Al-Baqarah: 74). Fa kaana qaaba qausaini au adnaa (“Maka jadilah ia dekat [kepada Muhammad] dua ujung busur panah, atau bahkan lebih dekat lagi.” (QS. An-Najm: 9). Dengan demikian, kata “atau” di sini bukan menunjukkan keraguan, tetapi untuk menegaskan suatu berita atau (keadaan berita itu) lebih daripada itu. Allah membimbing para hamba-Nya untuk berdo’a kepada-Nya setelah banyak berdzikir kepada-Nya, karena saat itu merupakan waktu terkabulnya do’a. Pada sisi lain, Dia mencela orang-orang yang tidak mau memohon kepada-Nya kecuali untuk urusan dunia semata dan memalingkan diri dari urusan akhiratnya. Allah swt. berfirman: fa minan naasi may yaquulu rabbanaa aatinaa fiddun-yaa wamaa laHuu fil aakhirati min khalaaq (“Maka di antara manusia ada orang yang berdo’a, ‘Ya Rabb kami, berilah kami [kebaikan] di dunia,’ dan tiada baginya bagian [yang menyenangkan] di akhirat.”) Ayat ini mengandung celaan sekaligus pencegahan dari tindakan menyerupai orang yang melakukan hal itu.

 Diriwayatkan oleh Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, “Ada suatu kaum dari masyarakat Badui yang datang ke tempat wuquf, lalu mereka berdo’a, Ya Allah, jadikanlah tahun ini sebagai tahun yang banyak turun hujan, tahun kesuburan, dan tahun kelahiran anak yang baik.’” Dan mereka sama sekali tidak menyebutkan urusan akhirat. Maka Allah menurunkan firman-Nya: fa minan naasi may yaquulu rabbanaa aatinaa fiddun-yaa wamaa laHuu fil aakhirati min khalaaq (“Maka di antara manusia ada orang yang berdo’a, ‘Ya Rabb kami, berilah kami [kebaikan] di dunia,’ dan tiada baginya bagian [yang menyenangkan] di akhirat.”) Setelah mereka datanglah orang-orang yang beriman, dan mereka mengucapkan: rabbanaa aatinaa fiddun-yaa hasanataw wa fil aakhirati hasanataw waqinaa ‘adzaaban naar (“Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari adzab api neraka.”) Lalu Allah swt. menurunkan firman-Nya: ulaa-ika nashiibum mimmaa kasabuu wallaaHu sarii’ul hisaab (“Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian apa yang mereka usahakan, dan Allah sangat cepat hisab-Nya.”) Oleh karena itu, Allah Ta’ala memuji orang-orang yang memohon kebaikan dunia dan akhirat kepada-Nya. Dia berfirman: wa minHum may yaquulu rabbanaa aatinaa fiddun-yaa hasanataw wa fil aakhirati hasanataw waqinaa ‘adzaaban naar (“Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari adzab api neraka.”) Do’a ini meliputi berbagai kebaikan di dunia dan menjauhkan segala kejahatan. Kebaikan di dunia mencakup segala permintaan yang bersifat duniawi, berupa kesehatan, rumah yang luas, isteri yang`cantik, rizki yang melimpah, ilmu yang bermanfaat, amal shalih, kendaraan yang nyaman, pujian, dan lain sebagainya yang tercakup dalam ungkapan para mufassir, dan di antara semuanya itu tidak ada pertentangan, karena semuanya itu termasuk ke dalam kategori kebaikan dunia. Sedangkan mengenai kebaikan di akhirat, maka yang tertinggi adalah masuk surga dan segala cakupannya berupa rasa aman dari ketakutan yang sangat dahsyat, kemudahan hisab, dan berbagai kebaikan urusan akhirat lainnya. Sedangkan keselamatan dari api neraka, berarti juga kemudahan dari berbagai faktor penyebabnya di dunia, yaitu berupa perlindungan dari berbagai larangan dan dosa, terhindar dari berbagai syubhat dan hal-hal yang haram. Al-Qasim Abu Abdur Rahman mengatakan, “Barangsiapa dianugerahi hati yang suka bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir, dan diri yang sabar, berarti ia telah diberikan kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta dilindungi dari adzab neraka. Oleh karena itu, sunnah Rasulullah menganjurkan do’a tersebut di atas.” Al-Bukhari meriwayatkan dari Mu’ammar, dari Anas bin Malik, katanya, Rasulullah pernah berdo’a: “Ya Allah, ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari adzab neraka.”

 Dan Anas bin Malik sendiri jika hendak berdo’a, ia selalu membaca do’a itu, atau ia menyisipkan do’a itu dalam do’anya yang lain. Dan diriwayatkan oleh Muslim, (yaitu perkataan Anas.-Pent.) “Jika Allah mendatangkan kebaikan kepada kalian di dunia dan kebaikan di akhirat serta melindungi kalian dari adzab neraka, berarti Dia telah memberikan seluruh kebaikan kepada kalian.” Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas: “Rasulullah saw. pernah menjenguk seorang muslim yang sudah sangat lemah seperti anak burung, lalu beliau bertanya kepadanya: ‘Apakah engkau berdo’a kepada Allah atau memohon sesuatu kepada-Nya?’ Ia menjawab: ‘Ya, aku mengucapkan: Ya Allah jika Engkau menetapkan siksaan kepadaku di akhirat, timpakan saja kepadaku lebih awal di dunia.’ Maka Rasulullah bersabda: ‘Subhanallah, engkau tidak akan kuat atau tidak akan sanggup menerimanya. Mengapa engkau tidak mengucapkan, ‘Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta peliharalah kami dari adzab api neraka.’ Maka ia pun memanjatkan doa tersebut kepada Allah, dan Allah pun menyembuhkannya.’” (Hadits ini hanya disebutkan oleh Muslim dengan ia meriwayatkannya dari Ibnu Abi Adi) Imam Syafi’i meriwayatkan dari Abdullah bin Sa’ib, bahwasanya ia pernah mendengar Nabi mengucapkan (di sisi Ka’bah) di antara rukun (pojok), Bani Jamh (rukun Yamani) dan rukun Aswad (Hajar Aswad): “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta peliharalah kami dari adzab api neraka.” sanad hadits ini dha’if (lemah). Wallahu a’lam.

Rabu, 4 Julai 2018

AYAT 114-119


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH BAQARAH 114-119
BIS-MIL-LAHI-RAHMANIR-RAHIM''
'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
114.Wa man ‘azlamu mim – mam – mana ‘a masaajidallaahi ‘any – yuzkara fiihas – muhuu wasa – ‘aafii kharaabihaa? ‘ulaaa – ‘ika maa kaana lahum ‘ay – yad – khuluu- haaa ‘ilaa khaaa – ‘ifiiin. Lahum fid – dunyaa khiz – yunw wa lahum fil – ‘Aakhirati ‘azaabun ‘aziim. 115.Wa lillaahi –Mashriqu wal – Magh – rib: Fa – ‘aynamaa tu – walluu fa – samma Waj – hul – laah. ‘Innal – laah. ‘Innal – laaha Waasi ‘un ‘Aliim. 116.Wa qaalutta – Khazaallaahu waladanSubhaanah! Bal – lahuu maa fis – sa – maawati wal – ‘ard: kullul – lahuu qaani – tuun. 117.Badii –‘us – samaawaati wal – ‘ard: wa ‘izaa qadaaa ‘amran fa –‘innamaa yaquulu lahuu “KUN” Fayakuun. 118.Wa qaala lal – laziina laa ya' – lamuuna law laa yukallimu – nallaahu ‘aw ta' – ti – inaaa ‘Aayah? Kazaalika qaalal – laziinamin – qablihim – misla qawlihim. Tash – aabahat quluubuhum. Qad bayyannal ‘aayaati li – qawminy yuuqinuun. 119.‘Innaaa ‘arsalnaaka bil – haqqi bashiiranw wa naziiranw walaatus – ‘alu ‘an ‘As – haabil – Jahiim.
''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا أُولَئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلا خَائِفِينَ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (١١٤) وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (١١٥ وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ (١١٦) بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (١١٧) وَقَالَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ لَوْلا يُكَلِّمُنَا اللَّهُ أَوْ تَأْتِينَا آيَةٌ كَذَلِكَ قَالَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِثْلَ قَوْلِهِمْ تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ قَدْ بَيَّنَّا الآيَاتِ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (١١٨) إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلا تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيمِ (١١٩
'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
Ayat 114-115: Menerangkan haramnya menodai kehormatan masjid, contoh tindakan menghalangi orang lain beribadah, dan menerangkan bahwa menghadap kiblat adalah salah satu syarat sahnya shalat.Ayat 116-119: Menyebutkan kedustaan orang-orang Ahli Kitab dan kaum musyrikin dalam dakwaan mereka bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala punya anak;
'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
Mahasuci Dia dari apa yang mereka sifatkan 114.
Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang menyebut nama Allah di dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha merobohkannya?
[1] mereka itu tidak pantas memasukinya kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat mendapat azab yang berat. 115.
[2] Dan milik Allah timur dan barat. Kemanapun kamu menghadap di sanalah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.
[3] 116. Mereka (orang-orang kafir) berkata
[4]: "Allah mempunyai anak". Mahasuci Allah
[5], bahkan milik-Nyalah apa yang di langit dan di bumi. Semua tunduk kepada-Nya
[6]. 117. Allah Pencipta langit dan bumi
[7]. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu. 118. Dan orang-orang yang tidak mengetahui
[8] berkata: "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda (kekuasaan-Nya) kepada kami?"
[9] Demikian pula orang-orang sebelum mereka telah berkata seperti ucapan mereka itu. Hati mereka serupa
[10]. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang-orang yang yakin. 119. Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran
[11], sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan
[12]. Kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka.
''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
        Diriwayatkan oleh al-Aufi, dalam tafsirnya dari Ibnu Abbas mengenai firman-Nya: wa man adh-lamu mimmam mana’a masaajidallaaHi ay yudzkara fiiHas muHuu (“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya.”) ia mengatakan, “Yakni orang-orang Nasrani.” Mujahid juga mengatakan: “Mereka itu adalah orang-orang Nasrani. Mereka membuang berbagai macam kotoran ke Baitul Maqdis dan menghalang-halangi orang agar tidak shalat di dalamnya.” Sa’id meriwayatkan dari Qatadah, ia menuturkan, “Mereka itu adalah orang-orang Nasrani, musuh Allah, yang karena kebenciannya kepada orang Yahudi, mereka membantu Bukhtannasr penguasa Babilonia, penganut agama Majusi, untuk merobohkan Baitul Maqdis.”
        Pendapat kedua, apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir mengenai firman-Nya: wa man adh-lamu mimmam mana’a masaajidallaaHi ay yudzkara fiiHas muHuu wa sa’aa fii kharaabiHaa (“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya?”) Ibnu Zaid mengatakan, “Mereka itu adalah orang-orang musyrik yang menghalangi Rasulullah saw. dan para shahabatnya untuk masuk ke kota Makkah pada saat terjadinya peristiwa Hudaibiyah sehingga beliau menyembelih kurbannya di Dzi Thuwa dan mengajak mereka berdamai.
''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
      Dan Rasulullah saw. berkata kepada mereka: “Tidak ada seorang pun yang boleh menghalang-halangi dari Baitullah ini. Dulu, seseorang dapat bertemu dengan pembunuh ayahnya dan saudaranya, dan ia tidak menghalanginya.” Dalam kitab “An-Naasikhu sal mansuukh”, Abu Ubaid, Qasim bin Salam meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Ayat al-Qur’an yang pertama kali dinasakh dan yang telah diceritakan kepada kami -wallahu a’lam- adalah masalah kiblat. Ibnu Jarir mengatakan, para ulama yang lain mengemukakan: “Ayat ini turun kepada Rasulullah sebagai pemberian izin Bari Allah bagi beliau untuk mengerjakan shalat sunnah dengan menghadap ke arah mana saja ia menghadap, ke barat maupun ke timur, sesuai dengan arah perjalanannya, dalam keadaan perang sedang berkecamuk, dan dalam keadaan sangat takut.” Abu Kuraib pernah menceritakan kepada kami dari Ibnu Umar, “Bahwasanya ia pernah mengerjakan shalat ke arah mana saja binatang kendaraannya menghadap.”
        Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah juga melakukan hal seperti itu dalam menafsirkan ayat ini, fa aina maa tuwalluu fa tsamma wajHullaaHi (“Maka kemanapun kalian menghadap disitulah wajah Allah.”) Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardawaih melalui beberapa jalan dari Abdul Malik bin Abi Sulaiman. Dan dalam Kitab Shahihain, hadits itu berasal dari Ibnu Umar dan Amir bin Rabi’ah tanpa menyebutkan ayat itu. Ibnu Abbas, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Allah Swt. berfirman, "Anak Adam telah mendustakan Aku, pa­dahal tidak layak baginya mendustakan Aku. Dan dia telah men­caci-Ku, padahal tidak patut baginya mencaci-Ku. Adapun ke­dustaan yang dilakukannya terhadap-Ku ialah ucapannya yang mengatakan bahwa Aku tidak dapat menghidupkannya kembali seperti semula. Adapun caciannya terhadap-Ku ialah ucapannya yang mengatakan bahwa Aku mempunyai anak. Mahasuci Aku dari mempunyai istri atau anak."
       Hadis ini hanya diketengahkan oleh Imam Bukhari sendiri dari satu jalur. Ibnu Murdawaih berkata, telah menceritakan kepada kami Ah­mad ibnu Kamil, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail At-Turmuii, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq ibnu Muhammad Al-Qarwi, telah menceritakan kepada kami Malik, dari Abuz Zanad, dari Al-A'raj, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Allah Swt. berfirman, "Anak Adam telah mendustakan Aku, pa­dahal tidak layak baginya mendustakan Aku. Dan dia telah men­caci-Ku, padahal tidak patut baginya mencaci-Ku. Adapun ke­dustaan yang dilakukannya terhadap-Ku ialah ucapannya yang mengatakan, "Allah tidak akan membangkitkan aku seperti Dia menciptakan aku pada awal mulanya,” padahal permulaan pen­ciptaan tidaklah lebih mudah daripada mengembalikannya.
          Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadanya Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rafi' ibnu Hari­malah pernah berkata kepada Rasulullah Saw., "Hai Muhammad, jika engkau adalah seorang rasul dari Allah, seperti apa yang kamu kata­kan, maka katakanlah kepada Allah agar Dia berbicara langsung kepada kami hingga kami dapat mendengar kalam-Nya." Maka sehu­bungan dengan hal ini Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata, "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tan­da-tanda kekuasaan-Nya." (Al-Baqarah: 118)

      Mengenai penafsiran Ayat ini, Abu `Aliyah dan ar-Rabi’ bin Anas, Qatadah, dan as-Suddi mengemukakan: “Hal itu merupakan ucapan kaum kafir Arab.” Kadzaalika qaalal ladziina min qabliHim mitsla qauliHim (“Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu,”) Menurut para ulama di atas, mereka itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Adapun dalil yang memperkuat pendapat ini dan bahwa orang-orang yang mengatakan hal tersebut adalah kaum Musyrikin Arab yaitu, firman Allah yang artinya: “Apabila datang suatu ayat kepada mereka, mereka berkata, ‘Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang diberikan rasul-rasul Allah.” (al-An’am: 124)Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayah­ku, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Muhammad ibnu Ab­dullah Al-Fazzari, dari Syaiban An-Nahwi, telah menceritakan ke­padaku Qatadah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Telah diturunkan kepadaku firman-Nya, "Sesungguhnya Kami mengutusmu dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan." Beliau Saw. bersabda, "Sebagai pembawa berita gembira dengan surga dan pemberi peringatan terhadap neraka."
 [1] Tidak ada yang lebih zalim daripada orang yang melarang dzikrullah di masjid-masjid Allah, seperti melarang orang yang shalat, orang yang membaca Al Qur'an dan melarang orang lain menjalan ibadah. Terlebih ditambah dengan usaha untuk merobohokannya atau melarang kaum mukmin masuk ke dalamnya. Usaha merobohkannya menurut Syaikh As Sa'diy dalam tafsirnya ada dua; Hissiy (inderawi) dan Maknawi. Yang Hissiy misalnya menghancurkannya, merusaknya dan mengotorinya. Sedangkan yang Maknawi adalah melarang orang-orang yang menyebut nama Allah di masjid-masjid-Nya. Ayat di atas adalah umum mencakup kepada semua yang memiliki sifat tersebut, termasuk ke dalamnya As-habul Fiil (para tentara bergajah di bawah pimpinan Abrahah yang hendak menghancurkan Ka'bah), kaum Quraisy yang menghalangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada tahun Hudaibiyah, kaum Nasrani yang menghancurkan Baitul Maqdis dan lain-lain, maka Allah membalas mereka dengan menghalangi mereka masuk ke dalam masjid baik secara syara' maupun taqdir (ketentuan)-Nya kecuali dalam keadaan takut dan hina. Ketika mereka membuat takut hamba-hamba Allah, maka Allah membuat hati mereka takut. Kaum musyrik yang menghalangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ternyata tidak lama, kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengizinkan Beliau menaklukkan Makkah dan melarang kaum musyrik mendekati rumah-Nya (lihat surat At Taubah: 28). Sebelum mereka adalah As-habul Fiil, Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menimpakan kehinaan kepada mereka di dunia (baca kisahnya di surat Al Fiil), sedangkan orang-orang Nasrani yang merobohkan Baitul Maqdis akhirnya dikalahkan oleh kaum mukmin. Oleh karena itu, siapa saja yang coba-coba mengikuti jejak mereka, pasti akan memperoleh kehinaan. Jika tidak ada orang yang paling zalim daripada orang yang menghalangi orang lain menjalankan ibadah di dalamnya dan berusaha merobohkannya berarti tidak ada orang yang paling besar imannya daripada orang yang berusaha memakmurkan masjid-Nya baik Hissiy (seperti membangunnya dan membersihkannya) maupun maknawi (seperti mengumandangkan azan, mengadakan shalat jama'ah, mengadakan ta'lim, membaca Al Qur'an di sana dan melakukan ibadah-ibadah lainnya di sana).
 [2] Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat menghadap dari Mekah ke Madinah di atas kendaraannya, ke arah wajahnya menghadap. Tentang hal ini, turun ayat, Fa ainamaa tuwalluu fatsamma wajhullah." (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Tirmidzi, Nasa'i, Ahmad dan Ibnu Jarir. Tirmidzi berkata, "Hadits hasan shahih.")
 [3] Timur dan barat serta apa yang ada di antara keduanya adalah milik Allah, Dia-lah pemilik bumi ini. Disebutkan timur dan barat, karena di sana terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya yang besar, dari sana terbit dan tenggelam matahari, jika Allah Subhaanahu wa Ta'aala memiliki kedua arah itu, berarti memiliki semua arah. Oleh karena itu, arah mana saja seseorang menghadap dengan perintah Allah (misalnya perintah menghadap ka'bah setelah sebelumnya menghadap ke Baitul Maqdis) atau keringanan dari-Nya (seperti ketika shalat sunat di atas kendaraannya, atau ia tidak mengetahui di mana kiblat, lalu ia shalat setelah mencari-cari arah kiblat, ternyata arah kiblatnya salah atau ia shalat dalam keadaan disalib, diikat, sakit dsb), maka di situlah wajah Allah, yakni ia tidak keluar dari dari kerajaan Allah dan keta'atan kepada-Nya. Sesungguhnya Allah Mahaluas rahmat dan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya dan mengetahui perbuatan mereka, tidak ada satu pun yang samar bagi-Nya. Ayat ini menetapkan adanya wajah bagi Allah Ta'ala yang layak bagi-Nya, dan bahwa Dia memiliki wajah yang berbeda dengan wajah makhluk.
 [4] Mereka ini adalah orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang musyrik. Meskipun mereka menisbatkan kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala sesuatu yang tidak layak bagi-Nya, namun Allah Subhaanahu wa Ta'aala sangat halim (sabar dan tidak langsung menghukum padahal Dia mampu) dan mereka masih mendapatkan rezeki-Nya. Kata-kata ini "subhaanah", merupakan bantahan Allah Subhaanahu wa Ta'aala terhadap pernyataan batil tersebut. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala menegakkan hujjah dengan firman-Nya setelah kata-kata "subhaanah".
 [5] Yakni Mahasuci Allah dari pernyataan yang batil tersebut. Demikian juga Mahasuci Dia dari apa yang disifatkan oleh kaum musyrikin dan orang-orang zalim. Mahasuci Allah yang memiliki kesempurnaan secara mutlak dari segala sisi, Dia tidak terkena aib dan kekurangan dari segala sisi.   [6] Maksudnya: semua yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya dan hamba-Nya, mereka semua tunduk kepada-Nya dan di bawah tadbir (pengaturan)-Nya. Jika mereka semua adalah hamba-Nya dan butuh kepada-Nya sedangkan Dia tidak butuh kepada mereka, bagaimana mungkin salah seorang di antara mereka menjadi anaknya, padahal anak itu biasanya sejenis dengan bapaknya, karena memang ia bagian daripadanya. Perhatikanlah, Allah Subhaanahu wa Ta'aala Maha Memiliki lagi Maha Menundukkan, sedangkan mereka dimiliki dan ditundukkan, Dia Maha Kaya, sedangkan mereka fakir, berbeda bukan!, dan sungguh sangat berbeda. Oleh karena itu, pernyataan ini termasuk kebatilan yang paling batil. Tunduk atau qunut terbagi dua: Ketundukan umum dan ketundukan khusus. Ketundukan umum maksudnya bahwa semua makhluk di bawah tadbir (pengaturan) Allah Subhaanahu wa Ta'aala seperti yang dinyatakan dalam ayat ini. Sedangkan ketundukan khusus adalah ketundukan beribadah sebagaimana firman-Nya "wa quumuu lillahi qaanitiin" (dan berdirilah karena Allah dengan tunduk/khusyu') di surat Al Baqarah: 238.
 [7] Badii' artinya Allah Subhaanahu wa Ta'aala Pencipta tanpa didahului contoh sebelumnya. Allah Maha Kuasa mampu menciptakan makhluk begitu indah tanpa didahului contoh sebelumnya.
 [8] Baik dari kalangan ahli kitab maupun selain mereka.
 [9] Tanda-tanda di sini adalah tanda-tanda sesuai yang mereka inginkan berdasarkan akal mereka yang tidak sehat dan pandangan mereka yang dangkal yang membuat mereka berani berbicara seperti itu kepada Allah Al Khaliq dan bersikap sombong kepada rasul-rasul-Nya, seperti permintaan mereka agar dapat melihat Allah
       (lihat Al Baqarah: 55), permintaan agar Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menurunkan kitab langsung dari langit (lihat An Nisaa': 153), dan seperti yang disebutkan dalam surat Al Israa': 90-95. seperti inilah kebiasaan mereka terhadap rasul-rasul, meminta ayat-ayat yang memberatkan diri mereka, bukan ayat-ayat untuk memperoleh bimbingan, karena memang niat mereka bukan mencari yang hak, padahal para rasul telah datang membawakan ayat-ayat yang biasanya dengan ayat tersebut manusia mau beriman. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, "Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang-orang yang yakin." Orang-orang yang yakin telah mengetahui dari ayat-ayat Allah dan buktinya yang begitu jelas sesuatu yang membuat mereka yakin dan hilang keraguan dan kebimbangan.
 [10] Yakni ucapan tersebut tidaklah muncul kecuali karena kesamaan hati dalam kekafiran dan kesesatan.
 [11] Pada ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyatakan kebenaran kerasulan Beliau dan kebenaran apa yang Beliau bawa berupa Al Qur'an dan As Sunnah. Kebenaran Beliau didukung oleh banyak dalil, baik dalil sam'i (naqli) seperti pada ayat ini, maupun dalil 'aqli (akal). Dalil 'aqlinya adalah sbb: Pertama, keadaan penduduk bumi sebelum Beliau diutus berada dalam kegelapan dan jauh dari akhlak mulia sehingga disebut sebagai zaman jahiliyyah (kebodohan). Manusia tidak berpikir lagi tentang apa yang disembahnya; pantas atau tidak untuk disembah seperti patung, api, salib dsb. Kita pun mengetahui bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidaklah menciptakan makhluk-Nya dengan membiarkan mereka begitu saja, karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Kuasa dan Maha Penyayang. Hikmah dan rahmat-Nya menghendaki untuk mengutus kepada mereka yang berada dalam kegelapan ini seorang rasul yang menyuruh mereka menyembah kepada yang pantas disembah, yaitu Pencipta mereka (Allah) dan mengembalikan mereka kepada jati diri mereka yang sesungguhnya (memanusiakan manusia) sebagai hamba Allah bukan hamba makhluk, membebaskan mereka dari peribadatan kepada makhluk menuju peribadatan kepada Allah, mengfungsikan kembali akal mereka yang selama ini tertahan geraknya, menjalin hubungan baik antara sesama mereka yang sebelumnya bermusuh-musuhan dan menyatukan mereka di atas tauhid, di atas beribadah kepada Allah dan di atas kebaikan sehingga hidup mereka diberkahi, makmur dan penuh kedamaian. "Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Terj. Al A'raaf: 96) Kedua, barang siapa yang mengetahui keadaan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebelum diutus, akhlaknya yang mulia dan pribadinya yang agung, pasti akan mengetahui bahwa akhlak tersebut adalah akhlak para nabi dan rasul. Hal ini pun sama menunjukkan bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah Nabi dan Rasul. Ketiga, barang siapa yang mengetahui apa yang Beliau bawa, baik Al Qur'an maupun As Sunnah yang isinya mengandung berita yang benar, perintah-perintah yang baik (berbakti kepada orang tua, menyambung tali silaturrahim, berkata jujur, menepati janji dsb), larangan mengerjakan perbuatan buruk (larangan meminum khamr, judi, mengadu domba dsb), belum lagi mukjizat yang diberikan kepada Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, pasti akan membenarkan kenabian dan kerasulan Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali orang yang zhalim dan sombong saja padahal hati mereka mengakui, "Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya." (Terj. An Naml: 14)
 [12] Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam diutus dengan membawa agama yang benar (Islam) yang diperkuat dengan hujjah dan mukjizat. Beliau diperintahkan menyampaikan agama ini dengan memberikan berita gembira kepada kaum mukmin kebaikan yang akan mereka peroleh di dunia dan akhirat, dan menakuti mereka yang menolak padahal sudah jelas kebenarannya dengan azab Allah. Tugas Beliau hanya menyampaikan, adapun hisabnya diserahkan kepada Allah. Beliau tidaklah diminta pertanggungjawaban terhadap kekafiran mereka.

Isnin, 2 Julai 2018

AYAT 108-113

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK ''
SURAH BAQARAH AYAT 108-113''
BISMILLAH-HIRRAHMAN-NIRRAHIM''

108.‘Am turiiduuna ‘an – tas – ‘aluu Ra – suulakum kamaa su – ‘ila Muusaa min – qabl? Wa many – yata – baddalil- kufra bil – ‘Iimaani faqqad dalla sawaaa – ‘assabiil. 109.Wadda kasiirum – min ‘Ahlil – Kitaabi law yarudduunakum mimba'– di ‘iimaan- ikum kuf- faaran, hasadam min ‘indi ‘anfusihim min – ba' – di maa tabayyana lahumul Haqq. Fa'– fuu was fahuu hataa – ya' – tiyallaahu bi – ‘amrih: ‘in – nallaaha ‘alaa kulli shay – ‘in – Qadiir. 110.Wa ‘aqiimus – Salaata wa ‘aatuz – Zakaah: Wa maa tuqad – dimuu li – ‘anfu – sikum – min khayrin – taji – duuhu ‘indal – laah: ‘in – nallaaha bimaa ta' – maluuna Basiir. 111.Wa qaaluu lany – yad – khu – lal – Jan – nata ‘illaa man – kaana Huudan ‘aw Na – saaraa. Tilka ‘amaaniy – yahum. Qul haatuu burhaanakum ‘in – kuntum saadiqiin. 112.Balaa, man ‘aslama wajha – huu lillaahi wa huwa muhsinun falahuuu ‘ajruhuu ‘inda Rabbih; wa laa khaw fun ‘alayhim wa laa hum yahzanuun 113.Wa qaalatil –Yahuudu laysatin – Nasaaraa ‘alaa shay'in wa qaalatin' Nasaaraa laysatil Yahuudu ‘alaa shay – ‘inw wa hum yatluunal ‘Kitaab. Kazaa – lika Qaalal – laziina laa ya' la – muna mislah qawlihim. Fal – laahu Yahkumu baynahum Yawmal Qiyaamati fi – maa fii kaanuu fiihi yakkhtalifuun.

“Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada zaman dahulu? Dan barang siapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 108)“Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (al-Baqarah: 109) Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” (al-Baqarah: 110)“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nasrani.” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkan kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS. 2:111) (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Rabb-nya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 2:112) Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan,” dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,” padahal mereka (sama-sama) membaca al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengucapkan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.” (QS. 2:113)

 Artinya, jika kalian menanyakan perinciannya setelah ayat itu diturunkan, niscaya akan dijelaskan kepada kalian. Dan janganlah kalian menanyakan suatu perkara yang belum terjadi karena boleh jadi perkara itu akan diharamkan akibat adanya pertanyaan tersebut. Oleh karena itu dalam sebuah hadits shahih Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang muslim yang paling besar kejahatannya adalah yang menanyakan sesuatu yang tidak diharamkan, kemudian menjadi diharamkan lantaran pertanyaan tadi.” Ketika Rasulullah ditanya mengenai seseorang yang mendapati isterinya bersama laki-laki lain. Jika hal itu ia bicarakan, maka itu adalah suatu aib untuknya. Dan jika ia biarkan, maka pantaskah ia diamkan hal tersebut? Maka Rasulullah tidak menyukai pertanyaan-pertanyaan seperti itu dan mencelanya. Kemudian Allah swt. menurunkan hukum mula’anah (li’an). Oleh karena itu, di dalam kitab Shahihain ditegaskan melalui sebuah hadits yang diriwayatkan dari al-Mughirah bin Syu’bah: “Rasulullah melarang banyak bicara dan membicarakan setiap kabar yang didengarnya, menghambur-hamburkan harta, serta banyak bertanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam kitab Shahih Muslim diriwayatkan, Rasulullah bersabda: “Biarkanlah masalah-masalah yang tidak aku persoalkan atas kalian. Karena binasanya orang-orang sebelum kalian disebabkan mereka banyak bertanya dan menentang para nabi mareka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian. Dan jika aku melarang kalian mengerjakan sesuatu, maka tinggalkanlah.” (HR. Muslim) Yang demikian itu dikemukakan Rasulullah setelah mereka diberitahukan bahwa Allah Ta’ala mewajibkan ibadah haji kepada mereka, lalu seseorang bertanya: “Apakah setiap tahun, ya Rasulullah?” Maka Rasulullah pun terdiam meskipun telah ditanya sebanyak tiga kali. Setelah itu beliau pun menjawab: “Tidak, seandainya kujawab, ‘Ya,’ maka akan menjadi suatu kewajiban. Dan jika diwajibkan, niscaya kalian tidak sanggup menunaikannya.” Kemudian beliau bersabda: “Janganlah banyak bertanya kepadaku, laksanakan saja apa yang aku telah ajarkan kepada kalian. Karena binasanya orang-orang sebelum kalian disebabkan mereka banyak bertanya dan menentang pada nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian. Dan jika aku melarang kalian mengerjakan sesuatu, maka hindarilah.” Oleh karena itu, Anas bin Malik pernah berkata, “Kami dilarang bertanya kepada Rasulullah mengenai sesuatu. Hal yang menggembirakan kami adalah jika ada seorang dari penduduk pedalaman yang datang dan bertanya kepada beliau dan kami mendengarnya.” Allah Ta’ala mengingatkan hamba-Nya yang beriman, agar tidak menempuh jalan orang kafir dari ahlil kitab. Dia juga memberitahukan mereka tentang permusuhan orang-orang kafir terhadap mereka, baik secara batiniyah maupun lahiriyah. Dan berbagai kedengkian yang menyelimuti mereka terhadap orang mukmin karena mereka mengetahui kelebihan yang dimiliki orang-orang mukmin dan Nabi mereka. selain itu Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk berlapang dada dan memberi maaf sampai tiba saatnya Allah memberikan pertolongan dan kemenangan. Juga menyuruh mereka mengerjakan shalat dan menunaikan zakat. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishak dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, Huyay bin Akhtab dan Abu Yasir bin Akhtab merupakan orang Yahudi yang paling dengki terhadap masyarakat Arab, karena Allah telah mengistimewakan mereka dengan mengutus Rasul-Nya, Nabi Muhammad saw. Selain itu keduanya gigih menghalangi manusi untuk memeluk agama Islam. Berkaitan dengan kedua orang tersebut turunlah ayat: wad da katsiirum min aHlil kitaabi lau yarudduunakum (“Sebagian besar ahlil kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian pada kekafiran setelah kalian beriman.”) Dengan demikian pemberian maaf tersebut dinasakh (dihapuskan) bagi orang-orang musyrik. Hal yang sama dikemukakan oleh Abul Aliyah, ar-Rabi bin Anas, Qatadah, dan as-Suddi, bahwa ayat tersebut mansukh dengan ayat saif (perintah berperang). Hal itu ditunjukkan pula oleh firman-Nya: “Sehingga Allah mendatangkan perintah-Nya.” Rasulullah melaksanakan untuk memberikan maaf seperti yang diperintahkan Allah, sehingga Allah mengizinkan kaum muslimin memerangi mereka. Lalu dengannya Allah membunuh para pemuka kaum Quraisy. Hadits tersebut sanadnya shahih, meskipun aku sendiri tidak mendapatkannya di dalam Kutubus Sittah (enam kitab hadits: Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, dan Sunan an-Nasa i), tetapi asalnya terdapat dalam kitab Shahihain, dari Usamah bin Zaid. Sebagaimana firman-Nya: wa maa tuqaddimuu li anfusikum khairin tajiduuHu ‘indallaaHi (“Kebaikan apapun yang kamu lakukan untuk dirimu, maka kamu akan menemukan pahalanya pada sisi Allah.”) mereka juga diperingatkan untuk tidak bermaksiat kepada Allah. Sedangkan mengenai firman-Nya: bashiirun (“Mahamelihat”) lebih lanjut Ibnu Jarir mengatakan, Allah Ta’ala “mubshirun” (melihat), lalu kata itu berubah menjadi “bashiirun” sebagaimana “mubdi’un” (menciptakan) menjadi “bidii’un”dan “mu’limun” (pedih) menjadi “aliimun”. wallaaHu a’lam.

Ahad, 1 Julai 2018

AYAT 97-107


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
SURAH BAQARAH AYAT 97-107
BIS-MIL-LAH-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM'' 97.Qulman – kaana ‘ aduwawal – li –Jibrilla fa –‘innahuu nazzala – huu ‘alaa qalbika bi – ‘iznillaahi musaddiqal – limaa bayna ya – dayhi wa hudanw – wa bushraa lil – Mu' – miniin. 98.Man – kaana ‘aduwwal – lil – laahi wa malaaa – ‘ikatihii wa rusulihi wa Jibriila wa Miikaala fa –‘innal – laaha ‘aduwwul lil – kaafiriin. 99.Wa laqad ‘anzalnaaa ‘ilayka ‘Aayaatim – bayyinaat; wa man yakfuru bihaaa ‘illal – faasiquun. 100.'Awa – kullamaa ‘aahaduu ‘ahdan – nabazahuu fariiqum – minhum? – Bal ‘aksaruhum la yu' – minuun. 101.Wa lammaa jaaa – ‘ahum Rasuulum – min ‘indillaahi mu – saddiqul – limaa ma – ‘ahum nabaza fariiqum – minal – laziina ‘uutul – kitaaba kitaaballaahi waaraaa – ‘a zuhuurihim ka – ‘an – nahum laa ya' – la – muun! 102.Wattaba – ‘uu maa tatlush – shayaati – inu ‘alaa mulki Sulaymaan. Wa maa kafara Sulay – maa – nu wa laakin nash – shayaa – tii – na kafaruu yu – ‘allimuunan – naa – sas – sihir, wa maaa ‘unzila ‘alal – ma – lakayni bi, Baabila Haaruuta – wa Maarut. Wamaa yu – ‘alli maani min ‘ahadin hattaa yaquulaaa ‘innamaa nahnu fitnatun falaa takfur. Fayata – ‘allamuuna minhu – maa maa yufarriquuna bihii baynal – mar – ‘i wa zawjih. Wa maa hum bi – daaar- riina bihii min ‘ahadin ‘illaa bi – ‘iznil – laah. Wa yata –‘alla muuna maa yadurruhum wa laayanfa – ‘uhum. Wa laqad ‘alimuu – lama nishtaraahu maa lahuu fil – ‘Aakhirati min khalaaq. Wa labisa maa sharaw bihiii ‘anfusahum, law kanuu ya' – lamuun. 103.Wa law ‘annahum ‘aamanuu wat – taqaw lamasuubatum – min ‘indillaahi khayr: law kaanuu ya' – lamuun. 104.Yaaa – ‘ayyu – hallaziina ‘aa – manuu laa taquuluu raa – ‘inaa wa quulunzurnaa was – ma – ‘uu. Wa lil – kaafiriiina Aazaabun ‘aliim. 105.Maa Yawaddullaziina kafaruu min ‘Ahlil – Kitaabi walal – Mushrikiina ‘any – yunazzala ‘alaykum – min khayrim mir'Rabbikum. Wallaahu yakhtassu bi – rahmatihii many – yashaaa': wallaahu Zul Fadlil – ‘aziim. 106.Maa nansakh min ‘aa yatin ‘aw nunsihaa na' – ti bi – khayrim minhaaa ‘aw mislihaa: ‘alam ta' – lam ‘anallaaha ‘alaa kulli shay ‘in – Qadiir? 107.‘Alam ta' – lam ‘annallaaha lahuu mulkus – samaawaati wal'ard? Wa maa lakum min duu – nillaahi minw – waliyyinw – walaa nasiir. 

                Katakanlah: “Barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah me-nurunkan (al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.(QS. 2:97) Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka se-sungguhnya Allah adalah musuh orang-orang yang kafir.(QS. 2:98) Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik. (QS. 2:99) Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya, bahkan sebagian besar dari mereka tidak beriman. (QS. 2:100) Dan setelah datang kepada mereka seorang rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah). (QS. 2:101) Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka me-ngatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (me-ngerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu jangan-lah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari se-suatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya sendiri dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (QS. 2:102) Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui. (QS. 2:103) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Nabi Muhammad e): “Raa’ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih. (QS. 2:104) Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturun-kannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Rabb-mu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. 2:105)Ayat mana saja yang kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha-kuasa atas segala sesuatu. (QS. 2:106)Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah. Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong. (QS. 2:107)

           Imam Abu Ja’far bin Jarir ath-Thabari rahimahullahu mengatakan, para ulama tafsir telah sepakat bahwa ayat ini turun sebagai jawaban terhadap per-nyataan orang-orang Yahudi dari kalangan Bani Israil, di mana mereka mengaku bahwa Jibril adalah musuh mereka, sedangkan Mikail sebagai penolong mereka. Sebagian ulama mengemukakan, pengakuan mereka itu berkenaan dengan per-debatan yang terjadi antara mereka dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengenai masalah kenabian beliau. Abu Kuraib memberitahu kami, dari Yunus bin Bukair, dari Ibnu Abbas, ia menceritakan, ada sekelompok orang Yahudi mendatangi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka berkata, “Wahai Abu Qasim, beritahukanlah kepada kami perkara yang kami tanyakan kepadamu, yang tidak diketahui kecuali oleh seorang Nabi.” Lalu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berujar, “Tanyakanlah segala hal yang kalian ke-hendaki, tetapi berjanjilah kepadaku sebagaimana Ya’qub telah mengambil janji dari anak-anaknya. Jika aku memberitahukan kepada kalian dan kalian mengetahui bahwa itu benar, maka kalian harus mengikutiku memeluk Islam.” Mengenai firman Allah Tabaraka wa Ta’ala, Î وَلَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكَ ءَايَاتٍ بَيِّنَاتٍ Ï “Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadmu ayat-ayat yang jelas,” Imam Abu Ja’far bin Jarir mengatakan, artinya Kami (Allah) telah menurunkan ke-padamu, hai Muhammad, beberapa tanda yang sangat jelas yang menunjukkan kenabianmu. Ayat-ayat itu adalah di antara berbagai ilmu orang-orang Yahudi yang tersembunyi bermacam-macam unsur rahasia berita mereka dan berita mengenai para pendahulu mereka dari kalangan Bani Israil, yang semuanya itu terkandung di dalam al-Qur’an. Selain itu, juga berita mengenai hal-hal yang yang dikandung oleh kitab-kitab mereka yang tidak diketahui kecuali oleh para pendeta dan pemuka agama mereka, serta hukum-hukum yang terdapat di dalam kitab Taurat yang diselewengkan dan diubah oleh para pendahulu mereka. Kemudian Allah I memperlihatkan semua itu di dalam kitab (al-Qur’an) yang diturunkan kepada nabi-Nya, Muhammad e. Dalam hal itu terdapat ayat-ayat yang jelas bagi orang yang adil terhadap diri sendiri dan tidak membiarkannya dibinasakan oleh rasa dengki dan sikap melampaui batas. Orang yang memiliki fitrah yang sehat pasti akan membenar-kan ayat-ayat yang jelas yang dibawa oleh nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, yang diperoleh-nya tanpa melalui proses belajar atau mengambil kabar dari seseorang. Sebagaimana yang dikatakan adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas, mengenai firman-Nya, Î وَلَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكَ ءَ ايَاتٍ بَيِّنَاتٍ Ï “Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas,” ia mengatakan, “Engkau yang membacakan dan memberi-tahukannya kepada mereka pada pagi dan petang dan di antara keduanya sedang dalam pandangan mereka, engkau adalah orang yang ummi, yang tidak dapat membaca kitab, tetapi engkau dapat memberitahukan apa yang ada pada mereka dengan tepat. Allah Ta’alamengatakan hal itu kepada mereka sebagai ibrah (pelajaran), bayan (penjelasan), dan menjadi hujjah (bukti) yang memberatkan mereka jika mereka mengetahui.”

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menceritakan, bahwa Ibnu Shuriya al-Quthwaini pernah berkata kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Hai Muhammad, engkau tidak datang kepada kami membawa sesuatu yang kami mengetahuinya. Dan Allah tidak menurunkan suatu ayat yang jelas kepadamu sehingga kami dapat mengikutimu.”Maka berkenaan dengan hal itu Allah menurunkan ayat: Î وَ لَقَدْ أَنزَلْـنَا إِلَيْكَ ءَ ايَاتٍ بَيِّنَاتٍ وَ مَا يَكْفُـرُ بِهَا إِلاَّ الْفَاسِـقُونَ Ï “Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas, dan tidak mengingkarinya kecuali orang-orang fasik.” Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallamdiutus dan beliau mengingatkan orang yang-orang Yahudi dan janji mereka kepada Allah serta perintah-Nya kepada mereka agar beriman kepada nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, Malik bin Shaif berkata, “Demi Allah, Allah tidak memerintah kami untuk beriman kepada Muhammad dan tidak pula (Allah) mengambil janji dari kami (untuk hal itu) “Aku melihat ke alamatnya lalu mencampakkannya, seperti engkau mencampakkan sandalmu yang telah rusak.” Aku (Ibnu Katsir) katakan; Allah Ta’ala mencela kaum Yahudi itu karena mereka telah mencampakkan berbagai perjanjian, yang Dia meminta mereka agar berpegang teguh padanya serta menunaikan hak-hak-Nya. Oleh karena itu pada ayat berikutnya Allah mengungkapkan kedustaan mereka terhadap Rasul yang diutus kepada mereka dan kepada seluruh umat manusia, yang di dalam kitab-kitab mereka sudah tertulis mengenai sifat-sifat dan berita-berita mengenai-nya. Dan melalui kitab-kitab tersebut mereka telah diperintah untuk mengikuti, mendukung, dan menolongnya. Sebagaimana firman-Nya: Î الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ اْلأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَاْلإِنجِيلِ Ï “Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul, dan Nabi yang ummi yang namanya mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.” (QS. Al-A’raf: 157) “Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari termpatnya. Mereka berkata: ‘Kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya.’ Dan (mereka mengatakan pula): ‘Dengarlah,’ padahal sebenarnya kamu tidak mau mendengar apa-apa. Dan mereka mengatakan: ‘Raa’ina,’ dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: ‘Kami mendengar dan patuh. Dengar dan perhatikanlah kami.’ Maka yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Me-reka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.(QS. An-Nisa’: 46) Banyak juga hadits yang menceritakan mengenai diri mereka ini, dikisahkan, jika orang-orang Yahudi itu mengucapkan salam, sebenarnya yang mereka ucapkan adalah: “السَّـامُ عَلَيْكُـمْ” (semoga kematian menimpa kalian). “السَّامُ” berarti kematian. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk membalas salam yang mereka sampaikan dengan mengucapkan: “وَعَلَيْكُمْ” (dan juga atasmu) supaya dengan demikian ucapan kita kepada mereka dikabulkan sedangkan ucapan mereka kepada kita tidak dikabulkan. Maksudnya bahwa Allah Ta’ala melarang orang-orang mukmin menyerupai orang-orang kafir baik dalam ucapan maupun perbuatan, di mana Dia berfirman, Î يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَ امَنُوا لاَ تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ Ï “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengatakan: ‘Raa’ina,’ tetapi katakanlah: ‘Unzhurnaa,’ dan dengarlah. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.” Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Munib, dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhuma, ia menceritakan, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَجَعَلَ رِزْقِى تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِى، وَجُعِلَتِ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي. وَمَنْ تَشَبَّهُ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ. “Aku diutus menjelang kiamat dengan membawa pedang sehingga hanya Allah yang diibadahi yang tiada sekutu bagi-Nya. Rizkiku dijadikan berada di bawah bayang-bayang tombakku. Kehinaan dan kerendahan ditimpakan kepada orang-orang yang menyalahi perintahku. Dan barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”(HR. Ahmad).

Abu Daud juga meriwayatkan dari Utsman bin Abi Syaibah, dari Abu an-Nadhr Hasyim, Ibnu Qasim memberitahu kami, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: وَمَنْ تَشَبَّهُ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari golongan mereka.” (HR. Abu Daud) Hadits tersebut mengandung larangan keras sekaligus ancaman terhadap tindakan menyerupai orang-orang kafir, baik dalam ucapan, perbuatan, pakaian, perayaan hari-hari besar, dan ibadah mereka, maupun hal lainnya yang sama sekali tidak pernah disyari’atkan dan tidak kita akui keberadaannya. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, “Ayahku pernah bercerita kepadaku, ada seseorang yang mendatangi Abdullah Ibnu Mas’ud dan menuturkan, ‘Ajarilah aku.’ Maka Ibnu Mas’ud berujar, ‘Jika engkau mendengar Allah berfirman, Î يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَ امَنُوا Ï ‘Hai orang-orang yang beriman,’maka pasanglah pendengaranmu baik-baik, karena itu adalah suatu kebaikan yang diperintahkan-Nya atau keburukan yang dilarang-Nya.” Mengenai firman Allah Ta’ala, Î مَانَنسَخْ مِنْ ءَ ايَةٍ Ï “Ayat mana saja yang Kami nasakhkan,” Ibnu Abi Thalhah meriwayatkan, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, “Aartinya, yang Kami (Allah) gantikan.” Masih mengenai ayat yang sama, dari Mujahid, Ibnu Juraij meriwayat-kan, Î مَانَنسَخْ مِنْ ءَايَةٍ Ï “Ayat mana saja yang Kami nasakhkan,” maksudnya adalah, Ayat mana saja yang Kami (Allah) hapuskan.” Ibnu Abi Nujaih meriwayatkan dari Mujahid, bahwa ia menuturkan: Î مَانَنسَـخْ مِنْ ءَ ايَةٍ Ï artinya,‘Kami (Allah) biarkan tulisannya, tetapi kami ubah hukumnya.’ Hal itu diriwayatkan dari beberapa sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhu. Î مَانَنسَخْ مِنْ ءَ ايَةٍ Ï, as-Suddi mengatakan, “Nasakh berarti menarik (meng-genggamnya).” Sedangkan Ibnu Abi Hatim mengatakan, Yakni menggenggam dan mengangkatnya, seperti firman-Nya: Î الشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُ إِذَا زَنَيَا فَارْجُمُوْهُمَا الْبَتَّةَ Ï “Orang yang sudah tua, baik laki-laki maupun perempuan yang berzina, maka rajamlah keduanya.” Demikian juga firman-Nya: Î لَوْ كَانَ لإِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ لاَبْتَغَـى لَهُمَا ثَالِثًا Ï “Seandainya Ibnu Adam mem-punyai dua lembah emas, niscaya mereka akan mencari lembah yang ketiga.” Masih berhubungan dengan firman-Nya. Î مَانَنسَخْ مِنْ ءَايَةٍ Ï “Ayat mana saja yang Kami nasakhkan,” Ibnu Jarir mengatakan, Artinya hukum suatu ayat yang Kami (Allah) pindahkan kepada lainnya dan Kami ganti dan ubah, yaitu mengubah yang halal menjadi haram dan yang haram menjadi halal, yang boleh menjadi tidak boleh dan yang tidak boleh menjadi boleh. Dan hal itu tidak terjadi kecuali dalam hal perintah, larangan, keharusan, mutlaq, dan ibahah (kebolehan). Sedangkan ayat-ayat yang berkenaan dengan kisah-kisah tidak mengalami nasikh maupun manshukh.

 Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menceritakan, “Umar bin al-Khaththab t mengatakan, ‘Orang yang terbaik bacaanya di antara kami adalah Ubay dan yang paling ahli hukum adalah Ali, dan kami akan meninggalkan kata-kata Ubay, di mana ia mengatakan, ‘Aku tidak akan me-ninggalkan sesuatu apapun yang aku dengar dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam,’ padahal Allah Ta’ala berfirman, Î مَانَنسَخْ مِنْ ءَ ايَةٍ أَوْ نُنسِهَا Ï “Ayat mana saja yang Kaminasakh,” dan firman-Nya, Î نَأْتِ بِخَيْرٍمِّنْهَآ أَوْمِثْلِهَا Ï “Kami datangkan yang lebih baik darinya atau sepadan dengannya.” Yaitu hal hukum yang berkaitan dengan kepentingan para mukallaf.” Sebagaimana yang dikatakan Ali bin Abi Talhah, dari Ibnu Abbas, mengenai firman-Nya, Î نَأْتِ بِخَيْـرٍمِّنْهَآ أَوْمِثْلِهَـا Ï “Kami datangkan yang lebih baik darinya atau sepadan dengannya,” ia mengatakan, “Yaitu memberi manfaat yang lebih baik bagi kalian dan lebih ringan.” Imam Abu Ja’far bin Jarir rahimahullahu mengatakan, “Penafsiran ayat tersebut adalah sebagai berikut: ‘Hai Muhammad, tidakkah engkau mengetahui bahwa hanya Aku (Allah) pemilik kerajaan dan kekuasaan atas langit dan bumi dan tidak yang lainnya. Di dalamnya Aku putuskan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Ku, dan di sana Aku mengeluarkan perintah dan larangan, dan (juga) menasakh, mengganti, serta merubah hukum-hukum yang Aku berlakukan di tengah-tengah hamba-Ku sesuai kehendak-Ku, jika Aku menghendaki.”

Lebih lanjut Abu Ja’far mengatakan, ayat itu meski diarahkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberitahu keagungan Allah Ta’ala, namun sekaligus hal itu dimaksudkan untuk mendustakan orang-orang Yahudi yang mengingkari nasakh(penghapusan) hukum-hukum Taurat dan menolak kenabian Isa ‘alaihissalam dan Muhammad karena keduanya datang dengan membawa beberapa perubahan dari sisi AllahTa’ala untuk merubah hukum-hukum Taurat. Maka Allah memberitahukan kepada mereka bahwa kerajaan dan kekuasaan atas langit dan bumi ini hanyalah milik-Nya, semua makhluk ini berada di bawah kekuasaan-Nya. Mereka ini harus tunduk dan patuh menjalankan perintah dan menjahui larangan-Nya. Dia mempunyai hak memerintah dan melarang mereka, menasakh, menetapkan, dan membuat segala sesuatu menurut ke-hendak-Nya. Berkenaan dengan hal tersebut penulis (Ibnu Katsir) katakan, Yang membawa orang Yahudi membahas masalah nasakh ini adalah semata-mata karena kekufuran dan keingkarannya terhadap adanya nasakh tersebut. Menurut akal sehat, tidak ada suatu hal pun yang melarang adanya nasakh dalam hukum-hukum Allah Ta’ala, karena Dia dapat memutuskan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, sebagaimana Dia juga dapat berbuat apa saja yang di kehendaki-Nya. Yang demikian itu juga telah terjadi di dalam kitab-kitab dan syari’at-syari’at-Nya yang terdahulu. Misalnya, dahulu Allah Ta’ala membolehkan Nabi Adam mengawinkan putrinya dengan puteranya sendiri, tetapi setelah itu Dia mengharamkan hal itu. Dia juga membolehkan Nabi Nuh setelah keluar dari kapal itu untuk memakan semua jenis hewan, tetapi setelah itu Dia menghapus penghalalan sebagiannya. Selain itu, dulu menikahi dua saudara puteri itu diperbolehkan bagi Israil (Nabi Ya’qub) dan anak-anak-nya, tetapi hal itu diharamkan di dalam syariat Taurat dan kitab-kitab setelahnya, Dia juga pernah menyuruh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menyembelih puteranya, tetapi kemudian Dia menasakhnya sebelum perintah itu dilaksanakan. Allah Ta’ala juga memerintahkan mayoritas Bani Israil untuk membunuh orang-orang di antara mereka yang menyembah anak sapi, lalu Dia menarik kembali perintah pembunuhan tersebut agar tidak memusnahkan mereka. Di samping hal itu, masih banyak lagi hal-hal yang berkenaan dengan masalah itu, orang-orang Yahudi sendiri mengakui dan membenarkannya.

Dan jawaban-jawaban formal yang diberikan berkenaan dengan dalil-dalil ini, tidak dapat memalingkan sasaran maknanya, karena demikian itulah yang dimaksudkan. Dan sebagaimana yang masyhur tertulis di dalam kitab-kitab mereka mengenai kedatangan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan perintah untuk mengikutinya. Hal itu memberikan pengertian yang mengharuskan untuk mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan bahwa suatu amalan tidak akan diterima kecuali yang didahulukan berdasar-kan syariatnya, baik dikatakan bahwa syariat terdahulu itu terbatas sampai pe-ngutusan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka yang demikian itu tidak disebut sebagai nasakh. Hal itu didasarkan pada firman-Nya, Î ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّـيَامَ إِلَـى اللَّيْـلِ Ï “Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa syariat itu bersifat mutlak sedangkan syariat Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menasakhnya. Bagaimanapun adanya, mengikutinya (Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam) merupakan suatu keharusan, karena beliau datang dengan membawa sebuah kitab yang merupakan kitab terakhir dari Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dalam hal ini, Allah Ta’ala menjelaskan dibolehkannya nasakh sebagai bantahan terhadap orang-orang Yahudi -la’natulah ‘alaihim-, di mana Dia ber-firman, Î أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَـى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيـرٌ أَلَمْ تَعْلَـمْ أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّـمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ Ï “Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu? Tidaklah engkau mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah?” Sebagaimana Dia mempunyai kekuasaan tanpa ada yang menandingi-nya, demikian pula hanya Dia yang berhak memutuskan hukum menurut ke-hendak-Nya. Î أَلاَلَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ Ï“Ketahuilah, menciptakan dan memerintah hanya-lah hak Allah.” (QS. Al-A’raaf: 54)

Dan di dalam surat Ali Imran yang mana konteks pembicaraan pada bab awal surat tersebut ditujukan kepada Ahlul Kitab juga terdapat nasakh, yaitu pada firman-Nya: Î كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلاًّ لِّبَنِى إِسْرَاءِيلَ إِلاَّ مَاحَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ Ï “Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil kecuali makanan yang diharamkan oleh Israil (Nabi Ya’qub) untuk dirinya sendiri.”Sebagaimana penafsiran ayat ini akan kami sampaikan pada pembahasan berikutnya. Kaum muslimin secara keseluruhan sepakat membolehkan adanya nasakh dalam hukum-hukum Allah Ta’ala, karena di dalamnya terdapat hikmah yang sangat besar. Dan mereka semua mengakui terjadinya nasakh tersebut. Seorang mufasir, Abu Muslim ash-Ashabahani mengatakan: “Tidak ada nasakh di dalam al-Qur’an.” Pendapat Abu Muslim itu sangat lemah dan patut ditolak. Dan sangat mengada-ada dalam memberikan jawaban berkenaan dengan terjadinya nasakh. Misalnya (pendapat) mengenai masalah iddah seorang wanita yang berjumlah empat bulan sepuluh hari setelah satu tahun. Dia tidak dapat memberikan jawaban yang dapat diterima. Demikian halnya masalah pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah, juga tidak diberikan jawaban sama sekali. Juga penghapusan kewajiban bersabar manghadapi kaum kafir satu lawan sepuluh menjadi satu lawan dua. Dan juga penghapusan (nasakh) kewajiban membayar sedekah sebelum mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan lain-lainnya.Wallahu a’lam.

Sabtu, 30 Jun 2018

AYAT 93-96

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
SURAH BAQARAH 93-96

93.Wa ‘iz ‘akhaznaa Misaaqakum wa rafa' – naa fawqa – kumut –Tuur: Khuzuu maaa ‘aataynaakum bi – quwwatinw – wasma –‘uu . Qaalu sami' – naawa ‘asaynaa: wa ushribuu fii quluubihimul – ‘ijla bi – kufrihi. Qulbi' samaa ya' – murukum – bihiii ‘iimaanukum ‘in – kuntum mu' – miniin. 94.Qul ‘in – kaanat lakumud – Daarul – ‘Aakhiratu ‘indallaahi khaalisatam – min – duunin – naasi fatamannawul – mawta ‘in – kuntum saadiqiin. 95.Wa lany yatamannaw – hu ‘abadam – bimaa qaddamat ‘aydiihim . Wallaahu ‘Aliimum – biz –zaalimiin. 96.Wala – tajidannahum ah' – rasan – naasi ‘alaa hayaah. Wa minallaziina ‘ashrakuu yawaddu ‘ahaduhum law yu' – ammaru ‘alfa sanah: wa maa huwa bi – muzahzihihii minal – ‘azaabi ‘any – yu –‘ammar. Wallaahu Basiirum – bimaa ya' – maluun..

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): ‘Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!’ Mereka menjawab: ‘Kami mendengarkan tapi tidak mentaati.’ Dan telah diresapkan ke dalam bati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: ‘Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika kamu betul beriman (kepada Taurat).’”“(93)Katakanlah: ‘Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, Maka inginilah kematian(mu), jika kamu memang benar.’ (al-Baqarah: 94) Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha mengetahui siapa orang-orang yang aniaya. (al-Baqarah: 95) dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling tamak kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih tamak lagi) dari orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, Padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.”(96)

     Allah merinci kesalahan, pelanggaran janji, kesombongan, dan berpalingnya orang-orang Yahudi dari-Nya sehingga Dia mengangkat gunung Thursina untuk ditimpakan kepada mereka sampai mereka mau menerima perjanjian itu., lalu mereka melanggar perjanjian tersebut. Oleh karena itu: qaaluu sami’naa wa ‘ashainaa (“Mereka berkata kami mendengar tetapi kami tidak mentaati”)
Wa usy-ribuu fii quluubiHimul ‘ijla bikufriHim (“Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka kecintaan kepada anak sapi lantaran kekafiran mereka.”) Berkenaan dengan ayat tersebut, dari Qatadah, Abdur Razaq mengatakan: “Kecintaan mereka kepada anak sapi telah meresap hingga merasuk ke dalam hati mereka.”Hal senada juga dikatakan oleh Abu al-Aliyah dan Rabi’ bin Anas. Imam Ahmad pernah meriwayatkan, dari Abu Darda’, dari Nabi beliau bersabda: “Kecintaanmu pada sesuatu membuatmu buta dan tuli.” (HR Abu Dawud. Didlaifkan oleh syaikh al-Albani dalam Dla’iiful Jaami’ [2688])
       Firman Allah: qul bi’samaa ya’murukum biHii iimaanukum in kuntum mu’miniin (“Katakanlah, amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika kamu benar-benar beriman [kepada Taurat].”) artinya, betapa buruknya kekufuran kalian kepada ayat-ayat Allah dan pengingkaran kalian kepada Nabi, serta kekafiran kalian kepada Muhammad saw., yang telah kalian jadikan pegangan dari dulu hingga sekarang. Itu merupakan dosa kalian yang paling besar dan perkara paling besar/parah yang kalian lakukan karena kekufuran kalian terhadap Nabi dan Rasul penutup, Muhammad saw., yang diutus untuk seluruh umat manusia. Lalu bagaimana kalian mengaku beriman, padahal kalian telah melakukan berbagai perbuatan buruk seperti itu, baik berupa pengingkaran janji, kafir kepada ayat-ayat Allah, maupun penyembahan terhadap anak sapi –selain Allah ?
Muhammad bin Ishak meriwayatkan dari Ibnu Abbas: Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, Muhammad: qul in kaanat lakumud daarul aakhiratu khaalishatam min duunin naasi fatamannawul mauta in kuntum shaadiqiin (“Katakanlah, ‘Jika kamu [menganggap bahwa] kampung akhirat [surge] itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginkanlah kematian[mu], jika kamu memang benar.’”) Maksudnya, “Berdoalah kalian agar ditimpakan kematian terhadap salah satu kelompok yang paling berdusta. Namun mereka menolak ajakan Rasulullah tersebut. Wa lay yatamannauHu abadam bimaa qaddamat aidiiHim. wallaaHu ‘aliimum bidh-dhaalimiin (“Dan sekali-sekali mereka tidak akan menginginkan kematian itu selama-lamannya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka sendiri.

Dan Allah Mahamengetahui siapa orang-orang yang zhalim.”) Artinya, Allah mengetahui segala sesuatu tentang mereka, bahkan pengingkaran mereka terhadap (ajakan Rasul). Seandainya mereka menginginkan kematian itu pada saat Rasulullah mengajaknya niscaya tidak akan ada di muka bumi ini seorang pun dari kaum Yahudi, melainkan akan mati. Dari Ibnu Abbas, adh-Dhahhak meriwayatkan, “fa tamannawul mauta” berarti mohonlah kematian. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Seandainya orang-orang Yahudi itu menginginkan kematian, niscaya mereka akan disambar kematian.” Seluruh sanad ini shahih sampai Ibnu Abbas.

 Demikian itulah penafsiran yang dikemukakan Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat di atas, yaitu ajakan untuk bermubahalah (adu do’a) untuk mengetahui kelompok mana yang berdusta, baik kelompok kaum muslimin ataupun Yahudi. Hal yang sama dinyatakan pula oleh Ibnu Jarir dari Qatadah, Abu al-Aliyah, dan Rabi’ bin Anas semoga Allah merahmati mereka. Ketika orang-orang Yahudi terlaknat itu mengatakan bahwa mereka itu anak Allah dan kekasih-Nya serta mengatakan: “Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi dan Nasrani,” maka mereka diajak bermuhahalah dan mendoakan keburukan kepada salah satu kelompok yang berdusta, baik itu kelompok muslim ataupun kelompok Yahudi. Setelah mereka menolak ajakan tersebut, maka setiap orang mengetahui bahwa mereka itu zhalim, karena jika mereka benar-benar teguh dengan pengakuannya itu, pasti mereka menjadi kelompok yang paling dahulu tampil untuk melakukan mubahalah. Ketika mereka menunda-nunda, maka terungkaplah kebohongan mereka. Peristiwa itu sama dengan peristiwa pada saat Rasulullah mengajak utusan kaum Nasrani Najran untuk bermuhahalah setelah hujjah tegak atas mereka dalam perdebatan, (sementara mereka semakin) sombong dan ingkar, maka Allah Ta’ala berfirman: “Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (QS. Ali Imran: 61)

 Setelah orang-orang Nasrani mendengar ajakan itu, lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Demi Allah, jika kalian bermubahalah dengan Nabi ini, niscaya kalian akan musnah dalam sekejap.” Pada saat itu, mereka langsung cenderung untuk berdamai dan menyerahkan jizyah (pajak) dengan patuh, dalam keadaan hina. Kemudian Abu Ubaidah bin Jarrah diutus sebagai pengawas bagi mereka. Mubahalah ini disebut tamanni (yaitu kalimat “tamannau” [pengharapan/keinginan kematian]), karena kedua belah pihak yang merasa benar ingin agar Allah Ta ala membinasakan kelompok yang batil, apalagi jika merasa mempunyai hujjah untuk menjelaskan kebenaran dan keunggulannya. Dan mubahalah itu dilakukan dalam bentuk memohon kematian, karena kehidupan dunia bagi orang-orang Yahudi sangat mulia dan berharga, sementara mereka mengetahui tempat kembali mereka yang menyeramkan setelah kematian. Oleh karena itu Allah berfirman: Wa lay yatamannauHu abadam bimaa qaddamat aidiiHim. wallaaHu ‘aliimum bidh-dhaalimiina wa latajidannaHum ahrashun naasi ‘alaa hayaatin (“Sekali-kali mereka tidak akan menginginkannya untuk selama-lamanya karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka [sendiri].

Dan Allah Mahamengetahui orang-orang yang berbuat zhalim. Sesungguhnya kamu akan mendapati mereka setamak-tamak manusia kepada kehidupan [di dunia].”) Maksudnya, sepanjang umur mereka, karena mereka tahu bahwa tempat kembali mereka (di akhirat) itu sangat buruk dan kesudahan yang akan mereka alami sangat merugikan. Sebab dunia itu merupakan penjara bagi orang-orang mukmin dan surga bagi orang kafir. Mereka mengangankan seandainya mereka dapat menghindari alam akhirat dengan segala macam cara. Padahal apa yang mereka hindari dan jauhi itu pasti akan mereka alami. Terhadap kehidupan duniawi ini, orang-orang Yahudi itu lebih rakus daripada orang-orang musyrik yang tidak memiliki kitab. Yang demikian itu merupakan ‘athaf khash (penyandaran yang khusus) kepada yang ‘aam (umum). Mengenai firman Allah: wa minal ladziina asy-rakuu (“Bahkan [lebih tamak lagi] dari orang-orang musyrik.”) Diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, “orang-orang non-Arab.” Demikian halnya hadits yang diriwayatkan al-Hakim dalam kitab, al- Mustadrak, dari Sufyan ats-Tsauri, dan ia mengatakan bahwa hadits ini shahih menurut persyaratan al-Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkannya.

Al-Hakim berkata bahwa kedua imam itu bersepakat atas sanad tafsir sahabat ini. Sehubungan dengan firman Allah: wa latajidannaHum ahrashun naasi ‘alaa hayaatin (“Sesungguhnya engkau akan mendapati mereka setamak-tamak manusia kepada kehidupan [di dunia],”) Hasan al-Bashri mengatakan: “Orang munafik itu lebih tamak terhadap kehidupan dunia daripada orang musyrik.” Yawaddu ahaduHum (“Masing-masing orang dari mereka ingin.”) Maksudnya, salah seorang dari kaum Yahudi, seperti yang ditujukan konteks ayat. Sedangkan menurut Abul al-Aliyah: “Adalah salah seorang dari kaum Majusi. Dan ia akan kembali seperti semula, meski diberi umur seribu tahun.” Mengenai firman-Nya: Yawaddu ahaduHum lau yu-‘ammaru alfa sanatin (“Masing-masing orang dari mereka ingin agar diberi umur seribu tahun.”) Mujahid mengatakan, “Perbuatan dosa dijadikan hal yang mereka sukai sepanjang umur.” Dan berkenaan dengan firrnan-Nya: wa maa Huwa bimuzahzihiHii minal ‘adzaabi ay yu-‘ammara (“Pahahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa.”)

Berkata Mujahid bin Ishak dari Muhammad bin Abi Muhammad, dari Sa’id atau Ikrimah, dari Ibnu Abbas: “Maksudnya, umur panjang itu sama sekali tidak akan menyelamatkan mereka dari adzab, karena orang musyrik tidak mengharapkan kebangkitan kembali setelah kematian, tetapi menginginkan umur panjang. Sedangkan orang Yahudi mengetahui kehinaan yang akan mereka terima di akhirat karena mereka menyia-nyiakan ilmu yang mereka miliki.” Berkaitan dengan firman-Nya: wa maa Huwa bimuzahzihiHii minal ‘adzaabi ay yu-‘ammara (“Pahahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa.”) Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas katanya, “yaitu orang-orang yang memusuhi Jibril.” Sedangkan Abu al-Aliyah dan Ibnu Umar mengatakan, “Makna ayat itu adalah umur panjang tidak akan membantu dan menyelamatkan mereka dari adzab.” Mengenai makna ayat ini, Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam mengatakan, “Orang Yahudi itu lebih rakus terhadap kehidupan dunia ini dari pada orang-orang Musyrik, di mana mereka mengharapkan diberikan umur seribu tahun lagi. Namun umur panjang itu tidak akan dapat menyelamatkan mereka dari adzab. Sebagaimana umur panjang yang diberikan kepada Iblis tidak memberikan manfaat sama sekali kepadanya, karena ia kafir.” wallaaHu bashiirum bimaa ya’maluun (“Allah Mahamengetahui apa yang mereka lakukan.”) Maksudnya, Allah mengetahui dan menyaksikan kebaikan dan keburukan yang dikerjakan oleh hamba-hamba-Nya, dan masing-masing akan diberikan balasan sesuai dengan amalannya.

Jumaat, 29 Jun 2018

AYAT 88-92

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH AL-BAQARAH 88-92'
                BIS-MIL-LAH-HIR-RAHMAN-NIR=RAHIM''
88.Wa qaalu quluubunaa ghulf; bal – la – ‘anahumullaahu bi – kufri – him fa – qaliilam maa yu' – minuun. 89.Wa lammaa jaaa – ‘ahum Kitaabum min ‘indillaahi Musaddiqul – limaa ma – ‘ahum wa kaanuu min – qablu yastaftiihuuna ‘alal – laziina kafaruu, – falamamaajaa –‘ahum – maa – ‘arafuu kafaruu bihii fala' natullaahi ‘alal – Kaafiriin. 90.Bi' – sa – mash taraw bihiii ‘an – fusahum ‘any – yakfuruu bi – maaa – anzal – allaahu baghyan ‘ any – yunazzilal – laahu min – fadlihii ‘alaa many – yashaaa ‘u min ‘ibaadih. Fabaaa – ‘uu bi- ghadabin ‘alaa ghadab. Wa lil – kaafi – riinaa Azaabum – muhiin. 91.Wa ‘izaa qiila lahum ‘aaminuu bimaaa ‘anzalal – laaahu qaaluu nu' – minu bimaa ‘un – zila ‘alaynaa wa yak furuuna bimaa waraaa – ‘ahuu wa huwal – Haqqu musaddiqal ‘limaa ma – ‘ahum. Qul falima taqtuluuna ‘ambiyaaa – ‘allaahi min – qabluu ‘inkuntum – mu' – miniin: 92.Wa laqad jaaa – ‘akum – Muusaa bil – Bayyinaati summat – takhaz – tumul – ‘ijla mim – ba' – dihii wa ‘antum zaalimuun.

وَقَالُواْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَل لَّعَنَهُمُ اللَّه بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلاً مَّا يُؤْمِنُونَ وَلَمَّا جَاءهُمْ كِتَابٌ مِّنْ عِندِ اللّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُواْ مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُواْ فَلَمَّا جَاءهُم مَّا عَرَفُواْ كَفَرُواْ بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّه عَلَى الْكَافِرِينَ بِئْسَمَا اشْتَرَوْاْ بِهِ أَنفُسَهُمْ أَن يَكْفُرُواْ بِمَا أنَزَلَ اللّهُ بَغْياً أَن يُنَزِّلُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ عَلَى مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ فَبَآؤُواْ بِغَضَبٍ عَلَى غَضَبٍ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُّهِينٌ وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُواْ بِمَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ نُؤْمِنُ بِمَا أُنزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرونَ بِمَا وَرَاءهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَهُمْ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنبِيَاءَ اللّهِ مِن قَبْلُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ , وَلَقَدْ جَاءكُم مُّوسَى بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِن بَعْدِهِ وَأَنتُمْ ظَالِمُونَ

Dan mereka berkata: “Hati kami tertutup”. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman. (QS. 2:88)Dan setelah datang kepada mereka al-Qur’an dari Allah yang membenar-kan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, lalu mereka ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. (QS. 2:89)Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang yang kafir siksaan yang menghinakan. (QS. 2:90)Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada al-Qur’an yang diturunkan Allah”. Mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. Dan mereka kafir kepada al-Qur’an yang diturun-kan sesudahnya, sedang al-Qur’an itu (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: “Mengapa dahulu kamu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman”. (QS. 2:91) Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zhalim. (QS. 2:92)

 Masih mengenai ayat yang sama, dari Ibnu Abbas, Ali bin Abi Thalhah mengatakan, “Artinya hati mereka itu tidak dapat memahami”. Î بَل لَّعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ Ï “Namun sebenarnya Allah melaknat mereka karena kekafiran mereka.”Artinya, Allah Ta’ala mengusir dan menjauhkan mereka dari segala macam kebaikan. Î فَقَلِيلاً مَّا يُؤْمِنُونَ Ï “Maka sedikit sekali di antara mereka yang beriman.” Qatadah mengatakan, “Artinya, tidak ada dari mereka yang beriman kecuali sedikit sekali.” Para mufassir masih berbeda pendapat mengenai firman Allah Ta’ala, Î فَقَلِيـلاً مَّايُؤْمِنُونَ Ï dan firman-Nya, Î فَلاَ يُؤْمِنُونَ إِلاَّ قَلِيـلاً Ï. Sebagian dari mereka ada yang mengatakan, “Hanya sedikit sekali dari mereka yang beriman.” Tetapi ada juga yang mengartikan, sangat sedikit sekali iman mereka, dengan pengertian, mereka beriman kepada apa yang dibawa oleh Nabi Musa‘alaihissalaam berkenaan dengan hari kebangkitan, pahala, dan adzab, tetapi keimanan mereka itu tidak memberikan manfaat kepada mereka, karena keimanannya itu telah tertutup oleh kekufuran mereka terhadap apa yang dibawa Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam.diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishak dari Qatadah al-Anshari dari beberapa syaikh, katanya kisah ini tentang kami dan juga tentang mereka, yaitu tentang kaum Anshar dan kaum Yahudi yang merupakan tetangga terdekat mereka dengan kisah ini diturunkan. Yaitu: Ïوَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُصَدِّقُُلِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَآءَهُم مَّاعَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ Î “Dan setelah datang kepada mereka al-Qur’an dari sisi Allah yang membenar-kan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir. Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui. Lalu mereka ingkar kepadanya.” Mereka berkata, kami dulu pernah mengalahkan mereka pada zaman Jahiliyah, ketika itu kami masih sebagai orang musyrik, sedang mereka sebagai Ahlul Kitab dan mereka mengatakan, “Sekarang ada seorang nabi yang akan diutus, dan kami akan mengikutinya, lalu bersamanya kami akan memerangi kalian sebagaimana halnya serangan terhadap kaum ‘Aad dan Iram.” Dan ketika Allah Ta’alamengutus Rasul-Nya dari kalangan kaum Quraisy, dan kami mengikutinya, namun mereka (orang-orang Yahudi) pun meng-ingkarinya. Allah Ta’ala berfirman: Î فَلَمَّا جَآءَهُم مَّاعَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ Ï “Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, lalu mereka ingkar kepadanya, maka laknat Allah atas orang-orang kafir.”Abu al-Aliyah mengemukakan, “Allah Shalallahu ‘alaihi wa sallam murka kepada mereka disebabkan karena kekufuran mereka terhadap Injil dan Isa ‘alaihissalam, Kemudian Dia murka kepada mereka karena kekufuran mereka terhadap Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan al-Qur’an.” As-Suddi menuturkan, “Kemurkaan pertama adalah ketika mereka mendapatkan murka dari Allah karena tindakan mereka menyembah anak lembu. Sedangkan kemurkaan kedua adalah karena kufur kepada Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam.” Dan firman-Nya, Î وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابُُ مُّهِينُُ Ï “Dan bagi orang-orang kafir itu adzab yang hina.” Ketika kekufuran mereka itu disebabkan oleh kedurhakaan dan kedengkian, yang timbul akibat sikap sombong, maka mereka pun dibalas dengan kehinaan dan kekerdilan di dunia dan di akhirat. Sebagaimana firman Allah: Î إِنَّ الَّذِيـنَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِـي سَيَدْخُلُونَ جَـهَنَّمَ دَاخِرِيـنَ Ï “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mukmin: 60) Maksudnya mereka akan masuk neraka dalam keadaan terhina, tercela, dan tidak terhormat sama sekali. Imam Ahmad meriwayatkan, dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari NabiShalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: يُحْشَرُ الْمٌتَكَبِّرُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِى صُوَرِ النَّاسِ، يَعْلُوْهُمْ كُلُّ شَيْئٍ مَنَ الصِّغَارِ، حَتَّى يَدْخُلُوْا سِجْنًا فِيَ جَهَنَّمَ يُقَالُ لَهُ بُوْلَسَ، تَعْلُوْهُمْ نَارُ اْلأَنْيَارِ، يُسْقَوْنَ مِنْ طِيْنَةِ اْلخَبَالِ عُصَـارَةِ أَهْلِ النَّارِ. “Pada hari kiamat kelak, orang-orang sombong akan digiring seperti semut kecil dalam bentuk manusia yang diungguli segala sesuatu yang kecil sehingga mereka masuk ke penjara di neraka Jahanam yang disebut Bulas dan di atasnya diliputi api dari segala macam api. Mereka diberi minum dengan (thinatul khabal) cairan (nanah) penghuni neraka.” (HR. Ahmad).Abu Ja’far bin Jarir mengatakan, (makna ayat ini) “Hai Muhammad, jika engkau katakan kepada orang-orang Yahudi dari kalangan Bani Israil, ‘Berimanlah kepada apa yang diturunkan Allah’, dan mereka menjawab, ‘Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami’, maka katakanlah kepada mereka, ‘Jika kalian benar-benar beriman, mengapa kalian membunuh para nabi, wahai orang-orang Yahudi, padahal di dalam kitab yang diturunkan kepada kalian; Allah telah mengharamkan kalian membunuh mereka, bahkan Dia memerintah kalian untuk mengikuti, mentaati, dan membenarkan mereka. Yang demikian itu merupakan pembeberan kebohongan dan celaan kepada mereka atas ucapan mereka, yaitu kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami saja.’”Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, mereka pun berkata, Sungguh jika Rabb kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raaf: 149).

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN