Sabtu, 16 Jun 2018

SURAH MARIAM AYAT 1-3

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH MARIAM
إِBismillahi-rahman-nir-rahim,,,..................KAF HA YA IND SOD,..,
........................................ ;;; 1)Zikru rahmati rab bika 'abdahu_ zakariy ya_* 2)
Iz na_da_ rab bahu_ nida_ an khafiy ya_ ذِكْرُ رَحْمَةِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا َ(2) إِذْ نادى‏ رَبَّهُ نِداءً خَفِيًّا َ(3
 TIADA MAKNA YANG DI HURAI HURUF PERMULAAN KEPALA AYAT .,,. Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tetang rahmat Rabb kamu kepada hamba-Nya Zakariya. (19: 2)Yaitu tatkala ia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut. (19: 3

Sama seperti 28 surat lainnya, surat Maryam diawali dengan huruf muqatta’ah yang merupakan rahasia Ilahi. Tak ada seorang ulama tafsir yang mengaku mengerti maknanya. Semoga kelak di masa kehadiran Imam Mahdi as makna dari huruf-huruf muqatta’ah bisa dimengerti.Lafaz Zakaria, huruf ya-nya dibaca panjang dan dibaca pendek; hal ini merupakan dua qiraat yang terkenal mengenainya. Untuk Nabi yang bernama sama dari Agama Yahudi & Kristen, lihat Zakharia (nabi Ibrani). Untuk Ayah dari Yohanes (Yahya) Pembaptis, lihat Zakharia (imam).

Untuk kegunaan lain dari Zakharia, lihat Zakharia (disambiguasi). Zakariya (Arab: زكريا, Ibrani זְכַרְיָה Zakharia, Perjanjian Baru: Zechariah/ Zacharias) (sekitar 100 - 20 SM)[1][2] adalah salah seorang nabi yang disebut di dalam Al Kitab dan Qur'an. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 2 SM dan ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di Palestina. Namanya disebutkan sebanyak 8 kali di dalam Al-Quran. Ia memiliki 1 orang anak dan wafat di Syam. Nabi Zakaria adalah salah seorang nabi dari bani Israil. Beliau adalah keturunan Nabi Harun as, kakak Nabi Musa as.

Nama Zakaria disebut sebanyak tujuh kali dalam al-Quran. Allah Swt menceritakan kisah sebagian nabi dan kaum-kaum terdahulu di dalam kitab suci al-Quran untuk menjadi pelajaran bagi umat manusia yang hidup di zaman al-Quran, baik saat kitab suci ini diturunkan maupun zaman setelahnya sampai Hari Kiamat.Masa yang dialami oleh Nabi Zakaria adalah masa yang aneh di mana banyak hal yang berlawanan yang berhadap-hadapan dan saling bertentangan serta terlibat pertarungan yang tidak pernah padam. Keimanan kepada Allah SWT bercahaya di mesjid yang besar di Baitul Maqdis, sedangkan kebohongan memenuhi pasar-pasar Yahudi yang bersebelahan dengan mesjid itu.

Sudah menjadi tradisi dunia bahwa segala sesuatu yang bertentangan mesti saling berhadapan pada: kebaikan dengan kejahatan, cahaya dengan kegelapan, kebenaran dengan kebohongan, para nabi dengan para pembangkang. Alhasil, segala sesuatu berhadapan untuk mempertahankan kehidupan. Di masa yang kuno ini terdapat seorang nabi dan seorang alim yang besar. Nabi yang dimaksud adalah Zakaria sedangkan seorang alim besar yang Allah SWT memilihnya untuk salat di tengah-tengah manusia adalah Imran. Imran adalah seorang suami dan istrinya sangat berharap untuk melahirkan anak.

Waktu pagi menyelimuti kota, keluarlah istri Imran untuk memberikan makan kepada burung dan ia melihat pamandangan yang ada di sekitarnya dan mulai merenungkannya. Di sana terdapat seekor burung yang memberi makan anaknya dengan cara menyuapinya dan memberinya minum. Burung itu melindungi anaknya di bawah sayapnya karena khawatir dari kedinginan. Ketika melihat pemandangan itu, istri Imran berharap agar Allah SWT memberinya anak. Ia mengangkat tangannya dan mulai berdoa agar Allah SWT menganugerahinya seorang anak lelaki. Allah SWT mengabulkan doanya dan pada suatu hari ia merasa bahwa ia sedang hamil lalu kegembiraan menyelimutinya dan ia bersMikur kepada Allah SWT:

 Di ayat-ayat tadi, Allah Swt menjelaskan tentang anugerah dan rahmat-Nya kepada Nabi Zakaria as saat beliau berdoa dalam keheningan dan meminta diberi keturunan. Doa itu dipanjatkan dalam kesendirian sang Nabi, mengingat bani Israil mengolok-olok beliau karena tak memiliki keturunan. Adalah satu keanehan bagi mereka jika mendengar Zakaria memohon anak di saat usianya sudah lanjut dan rambut kepalanya sudah memutih. Memang dalam banyak riwayat disebutkan bahwa doa yang terbaik adalah yang diucapkan dalam keheningan dan suara pelan, bukan di depan umum dan dengan suara keras. Sebagian kalangan ulama tafsir mengatakan bahwa sesungguhnya Zakaria melirihkan suaranya dalam berdoa agar dalam permohonannya ini dia tidak dituduh sebagai orang yang lemah karena usianya telah lanjut, sebab ia meminta agar dikaruniai seorang putra. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Al-Mawardi.

Ulama lainnya mengatakan, sesungguhnya Zakaria melirihkan suaranya dalam berdoa karena kecintaannya kepada Allah Swt. seperti yang dikatakan oleh Qatadah sehubungan dengan makna ayat ini: Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. (Maryam: 3) Sesungguhnya Allah mengetahui kalbu orang yang bertakwa, dan mendengar suara yang perlahan. Sebagian ulama Salaf mengatakan, Zakaria bangun di tengah malam, sedangkan semua muridnya telah tidur; lalu dia berbisik kepada Tuhannya seraya berdoa dengan suara yang lembut. Maka Tuhannya berfirman ke­padanya, "Kupenuhi seruanmu, Kupenuhi seruanmu, Kupenuhi seruanmu." Dari 2 ayat tadi terdapat 4 pelajaran yang dapat dipetik:‎ 1. Menyebut nama dan mengingat para wali dan kekasih Allah sangat bernilai dan itulah yang diajarkan al-Quran kepada kita. 2. Jangan pernah lupa kesan dari doa, sebab doa adalah pintu bagi turunnya rahmat dan kasih sayang Allah. [3] Di tengah malam, karena pada waktu itu lebih cepat diijabah (dikabulkan). [4] Ketika tulang telah lemah, di mana ia merupakan penopang badan, maka anggota badan yang lain tentu ikut lem

Jumaat, 8 Jun 2018

TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT : 225 BAB SUMPAH

TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT : 225 [Tentang Sumpah]
Terkadang seseorang mengucapkan satu kalimat yang ia tidak menyadarinya atau tanpa ada kesengajaan baik berupa sumpah atau ucapan-ucapan lainnya hanya kerna keingginan nya di capai atau hajat nya berjaya atau inggin melarikan diri dari masaalah dan uijan allah keatas nya atau inggin keluar dari kemelaratan dan kesengsaraan hingga keluar kata kata sumpah dan janji janji yang membolehkan ia melepaskan diri dari ujian dan menanggung bebanan ,.., maka tentunya hal itu ada konsekwensinya masing-masing, maka bagaimanakah Allah Ta’ala mengajarkan akan hal-hal yang terkait dengan sumpah atau ucapan tersebut…? Allah menyebutkan dalam firmanNya… لاَّيُؤَاخِذُكُمُ اللهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ حَلِيمُُ {225} “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksudkan (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (Al-Baqarah: 225). Tafsir Ayat : 225 Maksudnya, Allah tidak akan menghukum apa yang terlontar dari lisan-lisan kalian dari sumpah-sumpah yang tidak bermakna yang sering diucapkan oleh seorang hamba, tanpa ada maksud bersumpah, dan tidak pula disengaja di hati. Akan tetapi perkataan yang biasa terucap di lisan, seperti perkataan seseorang di sela-sela pembicaraannya, “Tidak, demi Allah”, “Benar demikian, demi Allah”, atau seperti sumpahnya atas sebuah perkara yang telah berlalu yang dia kira bahwa dirinya benar. Sumpah yang dianggap dosa adalah sumpah yang dimaksudkan oleh hati. Di sini terdapat dalil atas kedudukan niat dalam perkataan sebagaimana kedudukannya dalam perbuatan, { وَاللهُ غَفُورٌ } “Dan Allah Maha Pengampun” bagi orang yang bertaubat kepadaNya, { حَلِيمٌ } “Lagi Maha Penyantun” terhadap orang yang bermaksiat kepadaNya, di mana Allah tidak menyegerakan hukuman atasnya, akan tetapi Allah bersikap santun terhadapnya, dan Dia tutupi dosanya dan Dia maafkan, padahal Dia mampu menghukumnya langsung berada dihadapanNya. Pelajaran Dari Ayat :jelas dari ayat di atas bahawa allah sawt menjelaskan apa apa jua masalah atau permasaalahan dalam kehidupan usaha kita bukan dengan bersumpah atau berjanji dengan nama nama allah dan sumpah sumpah yang brerkait dengan nama nama tuhan baik allah atau apa jua tuhan ,. sebagai mana ujian yang allah turunkan lalu ketika mana kita inggin melepaskan diri dari bebanan kehidupan dan kesengsaraan hi ngga kita terpaksa melakukan sumpah sumpah atau janji janji yang membenarkan kata kata kita untuk kita lari dari permasaalahan dan bebanan .,,.., dalam islam jelas a;llah menerangkan bahawa setiap ujian itu datang dari allah dan allah lah yang menghilangkan nya bukan dengan sumpah suimpah seranah dan janji janji yang melarat hingga bila kita berjaya dan terlepas dari ujian dan bebanan yang sedang di tanggung kita bersenang senang dan melupakan semua janji janji sumpah sumpah yang pernah kita lafaskan dan dari kata kata sumpah kita membuat seseorang menanggung bebanan dan hidup melarat di atas nya dan apa apa jua allah maha mengetahui dan membalas setiap perbuatan sumpah atau janji janji anak adam yang inggin melepaskan diri dari bebanan dan kemelaratan keatas seseorang dan ketika mana senang lupa akan janji dan sumpah ,.,. Selain larangan bersumpah dengan selain Allah, seseorang itu juga diperingatkan agar jangan berdusta dalam sumpah, sekalipun terhadap perkara yang amat kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bers sebagai mana laragan rasulullah terhadap sumpah atau janji janji untuk melepaskan diri dari bebanan atau hutang atau sesuatu hingga mendatang kan kesengsaraan pada seselorang dan jelas hadis di bawah;''“Sesiapa yang mengambil hak seorang muslim dengan sumpahnya (yang dusta), maka sesungguhnya Allah mewajibkan baginya neraka dan mengharamkan ke atasnya syurga.” Lalu seorang (yang hadir bersama) bertanya kepada baginda: “Sekalipun terhadap sesuatu yang remeh ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “(Ya), sekalipun sebatang kayu arak (yang digunakan untuk bersiwak).”[13] sebagai mana contoh sumpah sumpah yang di lafaskan atau janji janji yang membolehkan kata kata atau janji kita di perkenankan dan terlepas dari menanggung bebanan ,.,.sebagai mana contoh rasulullah pernah bersumpah dengan demi ayah kamu,.,. Daripada Abu Hurairah (radhiallahu ‘anh) dia berkata, seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah! Apakah sedekah yang paling tinggi anjarannya?” Rasulullah menjawab: “Demi ayah kamu! Tentu aku akan menjelaskannya. Iaitu sedekah ketika kamu sihat tetapi kedekut kerana bimbang kefakiran dan berharap agar harta itu kekal bersamamu. Janganlah menunda sedekah sehingga ke saat nyawa kamu hampir ditarik, lalu pada saat itu kamu berkata: “Untuk si-fulan harta ini, untuk si-fulan harta itu” padahal pada saat itu harta tersebut memang sudah menjadi hak orang-orang itu.”[20] atau sebagai mana contoh dari ayat di atas jelas bagi kita hari ini yang banyak bermain sumpah dan janji dengan seseorang demi untuk mendapat kan sesuatu perkara atau demi untuk terlepas dari tanggan atau bebanan yang sedang kita pikul dengan bersumpah dan janji janji ini jua rasulullah menerangkan agar di tunaskan janji janji yang mana bersifat sumpah sumpah yang bernama atau sumpah sumpah yang di beri sa ndaran ,.,.,. agar tiada yang teraniaya atas sumpah sumpah yang kita lakukan ,.,.,. Seseorang itu kena berhati-hati didalam melafazkan sumpah. Maksud memakan diri itu adalah seseorang itu akan menanggung dosa besar jika sumpah yang terbatal itu tidak ditebus yakni di lunaskan janji janji atau sumpah nya jika mampu jika tiada termampu atas sumpah nya maka di wajib keatas nya membayar kafarat dan merdekakan seorang hamba sahaya,.,.,.

Selasa, 22 Mei 2018

TAFSIR SURAH AL-MA'UN

   TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'.
   SURAH AL-MA'UN AYAT 1-7 

     SURAT INI ALLAH UTUSKAN BAGI MENJELASKAN BAHAWA KEPENTIGAN MENUNAIKAN ZAKAT FITRAH SEBELUM KELUAR BERSOLAT AIDILADHA & AIDILFITRI BERJAMAAH,.

Surah ini diturunkan di Makkah sesudah surah at-Takatsur.Nama surah ini diambil dari kata al-Ma’un yang diambil pada ayat terakhir. Menurut etimologi, al-Ma’un berarti banyak harta, berguna dan bermanfaat, kebaikan dan ketaatan , dan Zakat.[1]Surah ini menggambarkan orang yang tidak mau membayar zakat dan tidak mau pula berinfaq untuk membantu fakir miskin. Allah mengancam orang yang mempunyai banyak harta tetapi tidak mempunyai kepedulian social. Kata-kata Arab "al-Ma'un" yang merupakan ujung surat dan menjadi nama suratnya dijelaskan oleh Muhammad asad, berdasarkan berbagai tafsir klasik,sebagai  (... kata-kata"al-ma'un" mencakup hal-hal kecil yang diperlukan orangdalam penggunaan sehari-hari, juga perbuatan kebaikankala-kala berupa pemberian bantuan kepada sesama manusiadalam hal-hal kecil tersebut. Dalam maknanya yang lebihluas, kata-kata itu berarti "bantuan" atau "pertolongan"dalam setiap kesulitan )[2]

BIS-MIL-LAAHIR-RAHMAAN-NIR-RAHIIM 1) ARA-AYTAL-LADZII YUKADZ-DZIBU BIDDIIN 2) FADZAALIKAL-LADZII YADU'UL-YATIM 3) WA LAA YAHUDHDHU ALAA THA'AAMIL MISKIIN 4) FAWAYLUN LIL-MUSHALLIIN 5) ALLADZIINAHUN AN SHA-LAATIHIM SAAHUUN 6) ALLADZIINAHUM YURAAUUN 7) WA YAMNA UUNAL-MAA'UN.

 ارءيت الذي يكذب باالدين * فذالك الذي يدع اليتيم * ولا يحض على طعام المسكين * فويل للمصلين * الذين هم عن صلاتهم ساهون* الذين هم يراءون* ويمنعون الماعون *

 Artinya : ( 1 ) Tahukah kamu ( orang ) yang mendustakan agama? ( 2) Itulah orang yang menghardik anak yatim, ( 3 ) dan tidak menganjurkan memberi makan fakir miskin. ( 4 ) maka celakalah bagi orang yang sholat ( 5 ) ( yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya, ( 6 ) orang yang berbuat riya, ( 7) dan enggan ( menolong dengan ) barang yang berguna. B

. Asbabul Nuzul Adapun sebab turunya surah ini ialah berkenaan degan orang-orang munafik yang memamerkan shalat kepada orang yang berirman; mereka melakukan shalat dengan riya’, dan meninggalkan apabila tidak ada yang melihatnya serta menolak memberiakn bantuan kepada orang miskin dan anak yatim ( Riwayat ibnu Mudzir ). C. Tasir Surah ini diawali dengan kalimat tanya untuk menarik perhatian pembacaanya. Kemudian Allah SWT sendiri yang menjawab pertanyaan tersebut satu per satu. Tujuanya ialah agar pembaca benar-benar memperhatiakn dan meresapi makna yang terkandung di dalamnya.Biasnya setiap ayat yang didahului dengan pertanyaan mengandung nilai yang sangat penting untuk segera dipahami dan diamalkan. Pertanyaan yang paling prinsipil ialah “ siapakah pendusta agama ? “ maka jawabanya segera disusul setelah pertanyaanya. Ayat selanjutnya menjawb secara lugas bahwa pendusta agama ialah orang yang tidak mau menyantuai anak yatim.Ciri berikutnya ialah orang yang tidak mau menyeru untuk dana dan makanan supaya diberiakn kepada orang miskin.

 Dalam Tafsir Al-quran Al karim menyatakan paling tidak ada 2 hal yang patut disimak dalam ayat 3 surat ini. Pertama ayat tersebut tidak berbicara tentang kewajiban ”memberi makan” orang miskin, tapi berbicara ”menganjurkan memberi makan”. Itu berarti mereka yang tidak memiliki kelebihan apapun dituntut pula untuk berperan sebagai ”penganjur pemberi makanan terhadap orang miskin” atau dengan kata lain, kalau tidak mampu secara langsung, minimal kita menganjurkan orang-orang yang mampu untuk memperhatikan nasib mereka. Peran ini sebenarnya bisa dilakukan oleh siapapun, selama mereka bisa merasakan penderitaan orang lain. Ini berarti pula mengundang setiap orang untuk ikut merasakan penderitaan dan kebutuhan orang lain, walaupun dia sendiri tidak mampu mengulurkan bantuan materiil kepada mereka. Anak-anak yatim dan faqir miskin adalah bagian dari kelompok masyrakat yang sangat dicintai oleh Rusulullah SAW, bahkan dalam sebuah hadits dinyatakan ( Rusuluallah ) sangat dekat dengan mereka.Perhatian mereka sangat diutamakan, sebagaimana tersebut dalam sebuah ayat : ويسئلونك عن اليتمى قل اصلاح لهم خير وان تخالطهـــم فاخوانكم Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim katakanlah ; Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu” ( Al-Baqarah: 220 ). Perkataan "yahudldlu" yang diterjemahkan dengan "berjuang" di sini mempunyai asal arti "menganjurkan dengan kuat". A. Hassan dalam Al-Furqan, menerjemahkan perkataan itu dengan "menggemarkan," Departemen Agama menerjemahkan dengan "menganjurkan" sedangkan Mahmud Yunus dalam tafsir Qur'an Karim menggunakan perkataan "menyuruh". Dan Muhammad Asad, dalam The Message of the Qur'an, menerjemahkannya dalam bahasa Inggeris dengan "feels no urge" (tidak merasakan adanya dorongan), karena baginya perkataan "yahudldlu" mempunyai makna "mendorong diri sendiri" (sebelum mendorong orang lain). Jadi, perkataan "yahudldlu" menunjuk pada adanya komitmen batin yang tinggi, yakni usaha mengangkat dan menolong nasib kaum miskin. Berarti bahwa indikasi ketulusan dan kesejatian dalam beragama ialah adanya komitmen sosial yang tinggi dan mendalam kepada orang bersangkutan. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Hindarilah tujuh perkara yang membinasakan. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah SAW apakah itu?”

Rasulullah SAW bersabda: 1. Syirik, 2. Berbuat sihir, 3. Membunuh orang yang diharamkan oleh Allah untuk dibunuh kecuali dengan alasan yang benar (menurut ajaran agama), 4. Memakan riba, 5. Memakan harta anak yatim, 6. Berpaling di waktu peperangan (bukan untuk bersiasat akan tetapi lantaran takut kepada musuh), 7. menuduh zina kepada wanita mukmin yang sudah bersuami yang tidak terlintas di hatinya untuk menjalankan kejelekan Sholat adalah ibadah yang paling utama yang diperintahkan dalam syareat islam.Dengan melaksanakanya secara baik dan benar akan menimbulkan pengaruh positip yang sangat besar dalam aspek kehidupan. Di akherat pun merupakan amaliah yang paling utama yang memperoleh penilaian dan menjadi tolak ukur semua amal perbuatan. Allah berfirman : اتل ما اوحى اليك من الكتاب واقم الصلاة ان الصلوة تنهى عن الفخشاء والمنكر Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu alkitab ( al-qur’an ) dan dirikanlah sholat.sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan –perbuatan keji dan mungkar. ( al-ankabut : 45 ) Selanjutya Allah menegaskan bahwa ada sebagian orang yang melakukan amal kebaikan, termasuk shalat, untuk memperlihatkan amalnya kepada manusia. Tindakan seperti ini disebut riya’.Sikap riya’ adalah lawan dari ikhlas. Keikhlasan diperlukan dalam setiap amal kebaikan agar memperoleh pahala yang sempurna dari Allah. Yang diterjemahkan dengan "lupa" atau "lalai" dalam firman itu ialah kata-kata yang dalam bahasa aslinya (Arab) "sahun". Yang dimaksud dalam firman ini bukanlah mereka itu dikutuk Allah karena lupa mengerjakan shalat yang disebabkan lupa, misalnya, terlalu sibuk bekerja. Sebab lupa dan alpa serupa itu justru dimaafkan oleh Allah, tidak dikutuk.[3]).Tapi yang dimaksud dalam firman itu ialah mereka yang menjalankan shalat itu lupa akan shalat mereka sendiri, dalam arti bahwa shalat merekatidak mempunyai pengarah apa-apa kepada pendidikan akhlaknya, sehingga mereka yang menjalankan shalat itudengan mereka yang tidak menjalankannya sama saja. Apalagi jika lebih buruk! Suatu hari, Sayyidah Fathimah as bertanya kepada Rasulullah saw, “Yâ Abâtah, apa yang akan didapatkan oleh orang yang melecehkan shalatnya, menganggap enteng kepada shalatnya, baik laki-laki maupun perempuan?” Rasul bersabda, “Hai Fathimah, barang siapa yang melecehkan shalatnya menganggap enteng kepada shalatnya, baik laki-laki maupun perempuan, Tuhan akan menyiksanya dengan lima belas perkara. Enam perkara di dunia, tiga pada saat ia mati, tiga lagi pada waktu ia berada di kuburnya, dan tiga perkara pada Hari Kiamat, ketika ia keluar dari kuburnya.” Allah berfirman : Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang meremehkan sholat dan menuruti hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesaatan. Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal sholeh? (QS. Maryam: 59-60)

     Para ulama mengomentari ayat diatas dengan tafsirnya yang terdapat dalam Ibnu Katsir sebagai berikut : 1. Muhammad bin Kaab Al Quraan Al Qurdly, dan Ibnu Zaid bim Aslam dan Sady yang disebut meremehkan sholat adalah Meninggalkan Sholat ( Tidak sholat ) 2. Al Auz, Ibnu Maasud, Ibnu jarir, Ibnu Juraih meremehkan sholat adalah meremehkan waktu 3. Al Hasan Al-Bashri, meremehkan sholat adalah meninggalkan Masjid ( Tafsir Ibnu katsir 3 / 21 ) Kata Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu : Pengertian meninggalkan sholat tidak berarti meninggalkan sholat itu sama sekali. Tetapi Said bin Musayyib mengatakan : Orang itu tidak sholat Ashar, Dzuhur kecuali hingga datangnya waktu maghrib, tidak sholat maghrib hingga datangnya waktu Isya dan tidak sholat Isya hingga datangnya Fajar ( shubuh ). Allah berfirman : Maka celakalah orang-orang yang sholat. Yaitu orang-orang yang lalai dari sholatnya? ( Al-Maun : 4-5 ) Kata Saad bin Abi Waqosh: Aku telah bertanya kepada Rasulullah tentang mereka yang melalaikan sholatnya, maka beliau menjawab Yaitu Mengakhirkan waktu , yakni mengakhirkan waktu sholat. D. Kesimpulan Ilustarsi diatas, tentang pemahaman surat al-ma’un mengingatkan kita betapa penting nilai yang dikandungnya untuk diamalkan dalam kehidupan kita sehari-hari agar kita tidak terjebak kepada kelompok orang yang mendustakan agama.diantara nilai-nilai penting yang terkandung ialah : 1. Allah SWt mengingatkan agar kita tidak terjebak kedalam kelompok orang-orang munafiq yang cenderung menyepelehkan agama. 2. Allah SWT menjelaskan cirri-ciri oran yang mendustakan agama. 3. Allah SWT mencela orang yang melakukan sholat yang tidak mau memahami dan menghayati esensi sholatnya, yaitu orang yang sholat karena riya’ 4. Allah SWT melaknat orang kaya yang bersikap kikir, tidak mau membantu orang miskin dan tidak mau mengeluarkan zakat.

Sabtu, 19 Mei 2018

ISI KANDUGAN SURAH AL-JIN

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK ''
SURAH AL-JIN AYAT 1-28;''
Isi kandungan
Pengetahuan tentang jin diperoleh Nabi Muhammad dengan jalan wahyu Pernyataan iman segolongan jin kepada Allah Jin ada yang beriman namun ada pula yang kafir Janji Allah kepada jin dan manusia untuk melimpahkan rezeki-Nya kalau mereka mengikuti jalan yang lurus Janji perlindungan Allah terhadap Nabi Muhammad dan wahyu yang dibawanya.
 al-Jinn Arti Jin Klasifikasi
Makkiyah Surah ke 72 Juz Juz 29
Statistik Jumlah ruku' 2 ruku' Jumlah ayat 28 ayat
        Surah Al-Jinn (Arab: الجنّ ,"Jin") adalah surah ke-72 dalam al-Qur'an. Surah ini tergolong surah Makkiyah dan terdiri atas 28 ayat. Dinamakan "al-Jinn" yang berarti "Jin" diambil dari kata "al-Jinn" yang terdapat pada ayat pertama surah ini. Pada ayat tersebut dan ayat-ayat berikutnya diterangkan bahwa Jin sebagai makhluk halus telah mendengar pembacaan al-Qur'an dan mereka mengikuti ajaran al-Qur'an tersebut. Terjemahan Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Katakanlah: "Telah diwahyukan kepada diriku bahwasanya ada sekumpulan jin mendengarkan, lalu mereka berkata: 'Sungguh kami telah mendengar bacaan menakjubkan yang membimbing menuju Kebenaran, lalu kami beriman pada hal demikian; serta kami tidaklah mempersekutukan Tuhan kami dengan sesuatu pun, bahwasanya Maha Luhur Keagungan Tuhan kami, tidaklah Dia beristri, tidak pula beranak. Sungguh terdapat segolongan bodoh di kalangan kami yang berkata secara melampaui batas terhadap Allah. Dan sungguh sebelumnya kami menduga bahwa umat manusia maupun jin tidak bisa mengatakan perkataan dusta terhadap Allah.
           Dan sungguh ada beberapa laki-laki di antara umat manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara umat jin, maka para jin itu menambah dosa kepada mereka. Dan sungguh mereka menyangka sebagaimana persangkaan kalian, bahwa Allah takkan membangkitkan sesuatu pun. Dan sungguh kami telah mencoba menyusup ke langit, maka kami dapati pengawasan ketat serta panah-panah kilat, bahwa sungguh sebelumnya kami dapat menduduki beberapa tempat di langit untuk mendengar-dengarkan; maka barangsiapa yang sekarang ingin mendengar-dengarkan, tentulah ia akan menjumpai panah kilat yang melenyapkan; maka sungguh kami tidaklah mengetahui keburukan apa yang dikehendaki untuk golongan yang berada di bumi ataupun kebaikan apa yang Tuhan mereka kehendaki untuk mereka. Dan sungguh di kalangan kami terdapat segolongan yang berperilaku baik, serta di kalangan kami terdapat pula golongan yang tidak demikian halnya; kami menempuh cara yang berbeda-beda. Dan sungguh kami mengetahui bahwa kami takkan sanggup melawan Allah di bumi, serta kami tidak pula sanggup melawan Dia dengan terbang. Dan sungguh ketika kami mendengar bimbingan ini, kami mengimani hal tersebut. barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak perlu khawatir sewaktu menghadapi kesukaran; tidak pula sewaktu menghadapi penderitaan. Dan sungguh di kalangan kami terdapat segolongan yang berserah diri; ada pula segolongan yang membelot; barangsiapa yang berserah diri, maka ia benar-benar memilih ketentuan yang tepat; sedangkan orang-orang yang membelot, maka mereka adalah golongan penyulut Jahannam.'" sungguh sekiranya mereka tetap berada dalam ketentuan tersebut, tentu Kami akan menganugerahi mereka, limpahan air, supaya Kami menguji mereka tentang hal itu; sedangkan barangsiapa yang memalingkan diri terhadap peringatan Tuhannya, niscaya Dia yang akan mencampakkan ia ke dalam Azab yang menyakitkan.
          (Ayat:1-17) Dan sungguh masjid-masjid adalah Milik Allah; maka jangan menyembah apapun, selain Allah, disana. (Ayat:18) Katakanlah: "Sungguh aku hanya menyeru Tuhanku; serta aku tidaklah mempersekutukan sesuatupun terhadap Dia." Katakanlah: "Sungguh aku tidak kuasa mendatangkan suatu kesukaran untuk kalian, tidak pula suatu keberuntungan." Katakanlah: "Sungguh tiada satupun yang dapat melindungi diriku terhadap Allah, juga aku tiada mempunyai tempat berlindung selain daripada Dia; melainkan aku menyampaikan dari Allah tentang RisalahNya." Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah maupun RasulNya maka sungguh Neraka Jahannam telah disediakan untuk mereka, mereka disana selamanya; sampai ketika mereka melihat perkara yang telah diancamkan kepada mereka, sehingga mereka akan memahami siapakah yang lebih lemah penolongnya serta lebih sia-sia jumlahnya." Katakanlah: "Tidaklah aku mengetahui, apakah perkara yang diancamkan kepada kalian telah dekat ataukah Tuhanku mengadakan waktu yang lama?" Dialah Yang Maha Mengetahui segala perkara ghaib; tidaklah Dia menyingkapkan perkara ghaib kepada sesuatupun, selain kepada pihak yang Dia kehendaki, maka sungguh Dia mengadakan para penjaga di muka serta di belakangnya; supaya Dia mengetahui bahwa para Rasul tersebut telah menyampaikan berbagai Risalah Tuhan mereka, yang diserahkan kepada mereka. Dan Dia Maha Memperhitungkan segala sesuatu. (Ayat:19-28)

Jumaat, 18 Mei 2018

AYAT 25-28

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'''
Surat Al-Jin, ayat 25-28 -
                                   BIS-MIL-LAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM''
25. qul in adrii aqariibun maa tuu’aduuna am yaj’alu lahu rabbii amadaan 26. ‘aalimu alghaybi falaa yuzhhiru ‘alaa ghaybihi ahadaan 27. illaa mani irtadaa min rasuulin fa-innahu yasluku min bayni yadayhi wamin khalfihi rashadaan 28. liya’lama an qad ablaghuu risaalaati rabbihim wa-ahatha bimaa ladayhim wa-ahsaa kulla syay-in ‘adadaan

 قُلْ إِنْ أَدْرِي أَقَرِيبٌ مَا تُوعَدُونَ أَمْ يَجْعَلُ لَهُ رَبِّي أَمَدًا (25) عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا (26) إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا (27) لِيَعْلَمَ أَنْ قَدْ أَبْلَغُوا رِسَالَاتِ رَبِّهِمْ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَأَحْصَى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا (28)

    Katakanlah, "Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Tuhanku menjadikan bagi (kedatangan) azab itu masa yang panjang?” (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedangkan (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu per satu.

        Allah Swt. berfirman, memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk mengatakan kepada manusia bahwa sesungguhnya tiada pengetahuan baginya tentang waktu hari kiamat, tiada seorang pun yang mengetahui apakah kiamat itu sudah dekat waktunya ataukah masih jauh. {قُلْ إِنْ أَدْرِي أَقَرِيبٌ مَا تُوعَدُونَ أَمْ يَجْعَلُ لَهُ رَبِّي أَمَدًا} Katakanlah, "Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Tuhanku menjadikan bagi (kedatangan)nya masa yang panjang." (Al-Jin: 25)
Yaitu masa yang masih panjang. Di dalam ayat ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa hadis yang banyak beredar di kalangan orang-orang bodoh —yaitu yang menyebutkan bahwa Nabi Saw. tidak dikebumikan di bawah tanah— merupakan hadis yang dusta, tidak ada asalnya, dan tidak kami lihat pada sesuatu pun dari kitab-kitab hadis yang menyebutnya. Bahkan beliau pernah ditanya tentang saat hari kiamat, maka beliau tidak menjawab.
      Dan ketika Jibril menampakkan diri kepadanya dalam rupa seorang Badui, lalu di antara pertanyaan yang diajukannya menyebutkan, "Ceritakanlah kepadaku, hai Muhammad, tentang hari kiamat." Maka Nabi Saw. menjawab: "مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ" Tidaklah orang yang ditanya mengenainya lebih mengetahui daripada orang yang bertanya. Dan ketika ada seorang Badui bertanya kepadanya dengan suara yang lantang, "Hai Muhammad, bilakah kiamat terjadi?" Maka Nabi Saw. menjawab:
                 "وَيْحَكَ. إِنَّهَا كَائِنَةٌ، فَمَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟ Celakalah kamu, lalu apakah yang telah engkau persiapkan untuknya, sesungguhnya ia (hari kiamat) pasti akan terjadi. Lalu lelaki Badui itu menjawab, "Adapun mengenai diriku, sesungguhnya aku belum dapat mempersiapkan untuk menyambutnya dengan banyak salat, tidak pula dengan banyak puasa, tetapi aku cinta kepada Allah dan Rasul-Nya." Maka Rasulullah Saw. bersabda:
                                          "فَأَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ" Maka engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai. Anas mengatakan bahwa maka kaum muslim amat gembira dengan hadis ini, tiada sesuatu pun yang lebih menggembirakan mereka selain hadis ini.
                                                                                      قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُصفَى، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حِمْيَرَ حَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "يَا بَنِي آدَمَ، إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ فَعُدُّوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ الْمَوْتَى، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّمَا تُوعَدُونَ لِآتٍ"

          Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mada, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Jubair, telah menceritakan kepadaku Abu Bakar ibnu Abu Maryam, dari Ata ibnu Abu Rabah, dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a,, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Hai manusia, jika kamu berakal, buatlah persiapan unluk dirimu dalam menghadapi kematian. Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya apa yang diancamkan kepadamu benar-benar pasti terjadi (yakni hari kiamat). Abu Daud di dalam akhir Kitabul Malahim mengatakan:

                  حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ سُهَيْلٍ، حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَير، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي ثَعلبة الخُشني قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَنْ يُعْجِزَ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ من نصف يوم"

   telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Sahl, telah menceritakan kepada kami Hajjaj ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Mu'awiyah ibnuSaleh, dari Abdur Rahman ibnu Jubair, dari ayahnya, dari Abu Sa'labah Al-Khusyani yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Tiada yang menghalangi Allah untnk menghisab umat ini selama setengah hari. Abu Daud meriwayatkannya secara munfarid. Kemudian Abu Daud mengatakan:
                                      حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ. حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ، حَدَّثَنِي صَفْوَانُ، عَنْ شُرَيح بْنِ عُبَيْدٍ، عَنْ سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: "إِنِّي لَأَرْجُو أَلَّا تَعْجَزَ أُمَّتِي عِنْدَ رَبِّهَا أَنْ يُؤَخِّرَهُمْ نِصْفَ يَوْمٍ". قِيلَ لِسَعْدٍ: وَكَمْ نِصْفُ يَوْمٍ؟ قَالَ: خَمْسُمِائَةِ عَامٍ

        telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Usman, telah menceritakan kepada kami Abul Mugirah, telah menceritakan kepadaku Safwan, dari Syuraih ibnu Ubaid, dari Sa' id ibnu Abu Waqqas, dari Nabi Saw. bahwa beliau Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya aku benar-benar berharap semoga tiada yang menghalangi umat ini di hadapan Tuhan mereka, jangan sampai Dia menangguhkan (hisab) mereka (lebih) dari setengah hari. Lalu ditanyakan kepada Sa'd, "Berapa lamakah setengah hari di sisi Tuhan?" Sa'd menjawab, "Lima ratus tahun." Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud secara munfarid.' *******************

                Firman Allah Swt.: {عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ} (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rasul yang diridai-Nya. (Al-Jin: 26-27) Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِما شاءَ dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. (Al-Baqarah: 255) Demikian pula disebutkan dalam surat ini bahwa sesungguhnya Dia mengetahui semua yang gaib dan yang nyata, dan sesungguhnya Dia tidak memperlihatkan sesuatu pun dari ilmu-Nya kepada seseorang dari makhluk-Nya kecuali sebatas apa yang diperlihatkan oleh Dia kepadanya. Karena itu, maka disebutkan dalam firman-Nya: (Dia adalah Tuhan) Yang Mengelahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rasul yang diridai-Nya. (Al-Jin: 26-27) Hal ini mencakup utusan dari kalangan manusia dan malaikat. Kemudian dalam firman berikutnya disebutkan: {فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا} maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (Al-Jin: 27) Yakni Allah memberikan kekhususan kepadanya dengan kawalan para malaikat yang menjaganya atas perintah dari Allah Swt. Para malaikat itu mengawal dia berikut wahyu Allah yang ada padanya. Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya: {لِيَعْلَمَ أَنْ قَدْ أَبْلَغُوا رِسَالاتِ رَبِّهِمْ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَأَحْصَى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا} Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedangkan (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu per satu. (Al-Jin: 28)

            Ulama tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan damir yang terdapat di dalam firman-Nya, "Liya 'lama, " yakni kepada siapa merujuk? Menurut suatu pendapat, damir ini kembali kepada Nabi Saw. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Ya'qub Al-Qummi, dari Ja'far, dari Sa' id ibnu Jubair sehubungan dengan makna firman-Nya: (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (Al-Jin: 26-27) Yakni empat malaikat penjaga yang menemani malaikat Jibril. Supaya dia (rasul) mengetahui. (Al-Jin: 28) Artinya, supaya Muhammad mengetahui. bahwa sesungguhnya utusan-utusan itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedangkan (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu per satu. (Al-Jin: 28) Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan hal ini melalui hadis Ya'qub Al-Qummi dengan sanad yang sama. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ad-Dahhak, As-Saddi, dan Yazid ibnu Abu Habib. Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Ma'mar, dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: Supaya dia mengetahui bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya. (Al-Jin: 28) Bahwa supaya Muhammad Nabi Allah mengetahui bahwa utusan-utusan itu telah menyampaikan risalah Allah kepadanya dan bahwa para malaikat telah menjaga dan membelanya. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Sa'id ibnu Abu Arubah, dari Qatadah, lalu dipilih oleh Ibnu Jarir. Pendapat yang lainnya mengatakan hal yang lain, seperti yang diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman Allah Swt: Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (Al-Jin: 27)

                  Yakni para malaikat yang mengawal dan memelihara Nabi Saw. dari gangguan setan, sehingga orang-orang yang Nabi Saw. diutus kepada mereka jelas atas duduk perkaranya. Demikian itu di saat Rasul Saw. berkata agar orang-orang musyrik mengetahui bahwa para utusan malaikat itu telah menyampaikan kepadanya risalah-risalah Tuhan mereka. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Abu Najih, dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: Supaya dia mengetahui bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya. (Al-Jin: 28) Mujahid mengatakan bahwa makna ayat ialah supaya orang yang mendustakan rasul-rasul mengetahui bahwa para malaikat itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya. Akan tetapi, pendapat ini masih perlu diteliti kebenarannya. Al-Bagawi mengatakan bahwa Ya'qub membaca firman-Nya, "Liya 'lama, " menjadi liyu'lima dengan memakai dhammah, artinya supaya dipermaklumatkan kepada manusia bahwa rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya.
                   Dapat pula ditakwilkan bahwa damir yang ada pada lafaz liya 'lama kembali (merujuk) kepada Allah Swt. Ini menurut suatu pendapat yang diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi di dalam kitab Zadul Masir. Dengan demikian, makna ayat ialah bahwa Allah memelihara rasul-rasul-Nya dengan pengawalan para malaikat yang menjaganya agar mereka dapat menunaikan risalah-risalah-Nya, juga memelihara wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada mereka. Supaya Dia mengetahui (dengan pengetahuan yang nyata) bahwa mereka telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya. Dan ini berarti semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: وَما جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْها إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلى عَقِبَيْهِ Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikut Rasul dan siapa yang membelot. (Al-Baqarah: 143) Dan semakna dengan firman-Nya: وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنافِقِينَ Dan supaya Allah benar-benar mengetahui (dengan nyata) orang-orang yang beriman, dan supaya Dia benar-benar mengetahui (dengan nyata) orang-orang yang munafik. (Al-'Ankabut: 11) Dan masih banyak ayat lainnya yang menunjukkan bahwa Allah Swt. mengetahui segala sesuatu sebelum kejadiaiinya dan ini merupakan suatu kepastian. Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya: {وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَأَحْصَى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا} sedangkan (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu per satu. (Al-Jin: 28)

Rabu, 16 Mei 2018

AYAT 18-24

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH AL-JIN AYAT 18-24.,.,
BIS-MIL-LAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM''

18. wa-anna almasaajida lillaahi falaa tad’uu ma’a allaahi ahadaan 19. wa-annahu lammaa qaama ‘abdu allaahi yad’uuhu kaaduu yakuunuuna ‘alayhi libadaan 20. qul innamaa ad’uu rabbii walaa usyriku bihi ahadaan 21. qul innii laa amliku lakum dharran walaa rasyadaan 22. qul innii lan yujiiranii mina allaahi ahadun walan ajida min duunihi multahadaan 23. illaa balaaghan mina allaahi warisaalaatihi waman ya’shi allaaha warasuulahu fa-inna lahu naara jahannama khaalidiina fiihaa abadaan 24. hattaa idzaa ra-aw maa yuu’aduuna fasaya’lamuuna man adh’afu naasiran wa-aqallu ‘adadaan

 وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا (18) وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا (19) قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا (20) قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا (21) قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا (22) إِلَّا بَلَاغًا مِنَ اللَّهِ وَرِسَالَاتِهِ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا (23) حَتَّى إِذَا رَأَوْا مَا يُوعَدُونَ فَسَيَعْلَمُونَ مَنْ أَضْعَفُ نَاصِرًا وَأَقَلُّ عَدَدًا (24)

Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuninya. Katakanlah, "Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya.” Katakanlah, "Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan.” Katakanlah, "Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tidak akan memperoleh tempat berlindung selain dari-Nya." Akan tetapi, (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya. Allah Swt. berfirman, memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya agar mengesakan-Nya dalam beribadah, tidak menyeru seorang pun selain-Nya dalam ibadahnya itu, dan tidak mempersekutukan Allah dengan siapa pun, seperti yang dikatakan oleh Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: {وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا} Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (Al-Jin: 18)

 Dahulu orang-orang Yahudi dan Nasrani apabila memasuki tempat peribadatan mereka, maka selalu memulainya dengan mempersekutukan Allah. Maka Allah Swt. memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk selalu mengesakan-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa Ali ibnul Husain telah mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu bintis Saddi, telah menceritakan kepada kami seseorang lelaki yang senama dengannya, dari As-Saddi, dari Abu Malik atau Abu Saleh. dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (Al-Jin: 18) Ibnu Abbas mengatakan bahwa pada hari ayat ini diturunkan, tiada sebuah masjid pun di bumi Allah selain Masjidil Haram dan Masjid Iliya di Baitul Maqdis. Al-A'masy mengatakan bahwa jin berkata, "Wahai Rasulullah, izinkanlah kami untuk ikut salat bersamamu di masjidmu ini." Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (Al-Jin: 18) Maka Nabi Saw. bersabda kepada mereka, "Salatlah kalian, tetapi jangan bercampur dengan manusia." Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Mahran, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ismail ibnu Abu Khalid, dari Mahmud, dari Sa'id ibnu Jubair sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalanmya di samping (menyembah) Allah. (Al-Jin: 18) Jin bertanya kepada Nabi Saw., "Bagaimana kami dapat mendatangi masjid, sedangkan kami tinggal jauh darimu? Dan bagaimana kami dapat ikut salat bersama engkau, sedangkan kami tinggal jauh darimu?" Maka turunlah firman Allah Swt.: Dan Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalanmya di samping (menyembah) Allah. (Al-Jin: 18) Sufyan telah meriwayatkan dari Khasif, dari Ikrimah, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan semua masjid. Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan anggota-anggota yang dipakai untuk sujud, yakni semuanya itu adalah milik Allah, maka janganlah digunakan untuk sujud kecuali kepada Allah yang memilikinya. Dan mereka sehubungan dengan pendapat ini telah mengetengahkan sebuah hadis sahih yang diriwayatkan melalui Abdullah ibnu Tawus, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: " أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ: عَلَى الْجَبْهَةِ -أَشَارَ بِيَدَيْهِ إِلَى أَنْفِهِ-وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ" Aku diperintahkan untuk bersujud pada tujuh anggota, yaitu kening —seraya mengisyaratkan ke arah hidungnya—, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan (bagian dalam) jari jemari kedua kaki. *******************

 Firman Allah Swt.: {وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا} Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuninya. (Al-Jin: 19) Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Allah menceritakan ketika jin-jin itu mendengar Nabi Saw. membaca Al-Qur'an, hampir saja mereka menindihnya karena keinginan mereka yang sangat untuk mendengarkan bacaan Al-Qur'annya. Mereka berdesak-desakan di antara sesamanya untuk mendekat kepada Nabi Saw., sedangkan Nabi Saw. sendiri tidak mengetahui keberadaan mereka, hingga datanglah kepada beliau Saw. Malaikat Jibril yang mewahyukan kepadanya firman Allah Swt.: Katakanlah, "Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur'an). (Al-Jin: 1) Yakni mereka mendengarkan bacaan Al-Qur'annya. Ini menurut suatu pendapat yang diriwayatkan dari Az-Zubair ibnu Awwam r.a. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Ma'mar, telah menceritakan kepada kami Abu Muslim, dari Abu Uwanah, dari Abu Bisyr, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa jin berkata kepada kaumnya: Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (salat), hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuninya. (Al-Jin: 19) Bahwa ketika jin melihat Nabi Saw. sedang mengerjakan salat bersama para sahabatnya, maka mereka ikut rukuk dan sujud bersama beliau Saw. Mereka sangat kagum dengan ketaatan para sahabat kepada beliau Saw. Lalu mereka berkata kepada kaumnya: Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (salat), hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuninya. (Al-Jin: 19) Ini merupakan pendapat kedua yang juga diriwayatkan dari Sa'id ibnu Jubair. Al-Hasan mengatakan bahwa ketika Rasulullah Saw. bangkit mengucapkan kalimah, "Tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah," dan menyeru manusia untuk menyembah Tuhan mereka, hampir saja orang-orang Arab desak-mendesak mengerumuninya. Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (salat), hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuninya. (Al-Jin: 19) Bahwa manusia dan jin desak-mendesak berebutan untuk memadamkan kalimah ini, tetapi Allah menolak dan tetap menolongnya, melancarkannya dan memenangkannya atas orang-orang yang menentangnya. Ini merupakan pendapat ketiga yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, dan Sa'id ibnu Jubair serta pendapat Ibnu Zaid, dan dipilih oleh Ibnu Jarir. Pendapat inilah yang lebih kuat, karena dalam ayat yang selanjutnya disebutkan oleh firman-Nya: {قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا} Katakanlah, "Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya." (Al-Jin: 20) Yakni Rasul Saw. berkata kepada mereka saat mereka mengganggunya, menentang dan mendustakannya, serta bersatu padu di antara sesamanya untuk melawan kebenaran yang disampaikannya, dan sepakat untuk memusuhinya: {إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي} Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku. (Al-Jin: 20) Yaitu sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku berlindung dan bertawakal kepada-Nya. {وَلا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا} dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya. (Al-Jin: 20) *******************

Adapun firman Allah Swt.: {قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلا رَشَدًا} Katakanlah, "Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan." (Al-Jin: 21) Yakni sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian yang diberi wahyu kepadaku, juga sebagai seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Aku tidak mempunyai kuasa untuk memberi kalian petunjuk dan tidak kuasa pula membuat kalian sesat, bahkan hal tersebut berada di tangan kekuasaan Allah Swt. semata. Kemudian Nabi Saw. menceritakan tentang keadaan dirinya, bahwa tiada seorang pun yang dapat melindunginya dari azab Allah jika ia berbuat durhaka kepada-Nya. Yakni tidak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan diriku dari azab-Nya. {وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا} dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dari-Nya. (Al-Jin: 22) Mujahid, Qatadah, dan As-Saddi berkata, "Tiada pelindung," Qatadah pun mengatakan pula sehubungan dengan makna firman-Nya: Katakanlah, "Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dari-Nya." (Al-Jin: 22) Maksudnya, tiada penolong dan tiada pelindung. Menurut pendapat yang lain, tiada penyelamat dan tiada tempat berlindung. ******************* Firman Allah Swt.: {إِلا بَلاغًا مِنَ اللَّهِ وَرِسَالاتِهِ} Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. (Al-Jin: 23) Sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa ini merupakan pengecualian dari firman-Nya: {لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلا رَشَدًا} Katakanlah, "Sesungguhnya aku tidakkuasa mendatangkan sesuatu kemudaratanpun kepadamu dan tidak(pula) sesuatu kemanfaatan.” "(Al-Jin: 21) Kelanjutannya ialah "Kecuali (aku hanya) menyampaikan (peringatan)." Akan tetapi, dapat pula ditakwilkan sebagai mustasna (pengecualian) dari firman-Nya: {لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ} sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah. (Al-Jin: 22) Artinya, tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari azab-Nya dan tiada pula yang dapat menyelamatkan diriku kecuali bila aku menyampaikan risalah yang diamanatkan kepadaku untuk menyampaikannya. Dengan demikian, berarti semakna dengan apa yang disebutkan oleh ayat lain melalui firman-Nya: يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَما بَلَّغْتَ رِسالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (Al-Maidah: 67) ******************* Adapun firman Allah Swt: {وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا} Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. (Al-Jin: 23) Yakni aku menyampaikan risalah Allah kepadamu; dan barang siapa yang durhaka kepada-Nya sesudah itu, maka balasan yang akan diterimanya adalah dimasukkan ke dalam neraka Jahanam. خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. (Al-Jin: 23) Yaitu tiada jalan selamat bagi mereka darinya dan tiada pula mereka dikeluarkan darinya. ******************* Firman Allah Swt.: {حَتَّى إِذَا رَأَوْا مَا يُوعَدُونَ فَسَيَعْلَمُونَ مَنْ أَضْعَفُ نَاصِرًا وَأَقَلُّ عَدَدًا} Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya. (Al-Jin: 24) Yakni manakala mereka (manusia dan jin) yang musyrik menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri apa yang pernah diancamkan kepada mereka di hari kiamat. Maka pada hari itu mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya (kekuatannya), apakah mereka ataukah orang-orang mukmin yang mengesakan Allah? Dengan kata lain, tidak, bahkan orang-orang musyrik sama sekali tiada penolong bagi mereka, dan mereka lebih sedikit bilangannya dibandingkan dengan bala tentara Allah Swt.

Selasa, 15 Mei 2018

AYAT 12-17


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH AL-JIN AYAT12-17''
BIS-MIL-LAAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM''''
12. wannaa zhanannaa an lan nu’jiza allaaha fii al-ardhi walan nu’jizahu harabaan 13. wa-annaa lammaa sami’naa alhudaa aamannaa bihi faman yu/min birabbihi falaa yakhaafu bakhsan walaa rahaqaan 14. wa-annaa minnaa almuslimuuna waminnaa alqaasithuuna faman aslama faulaa-ika taharraw rasyadaan 15. wa-amaa alqaasithuuna fakaanuu lijahannama hathabaan 16. wa-allawi istaqaamuu ‘alaa alththhariiqati la-asqaynaahum maa-an ghadaqaan 17. linaftinahum fiihi waman yu’ridh ‘an dzikri rabbihi yasluk-hu ‘adzaaban sha’adaan''''

وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ نُعْجِزَ اللَّهَ فِي الْأَرْضِ وَلَنْ نُعْجِزَهُ هَرَبًا (12) وَأَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَى آمَنَّا بِهِ فَمَنْ يُؤْمِنْ بِرَبِّهِ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَلَا رَهَقًا (13) وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُولَئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا (14) وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا (15) وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا (16) لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا (17)12.

     12.Dan sesungguhnya kami mengetahui bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (daripada)Nya dengan lari. Maksudnya, kami mengetahui bahwa kekuasaan Allah itu mengatur kami sedang kami tidak mampu menghindarinya di muka bumi meskipun kami berusaha melarikan diri,karena sesungguhnya Allah kuasa atas kami, tidak ada satu pun dari kami yang dapat mengalahkan-Nya. 13.Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al Quran), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. Yakni, mereka merasa bangga dengan keimanan mereka tsb. Dan itu memang membanggakan,membuat mulia, meninggikan mereka, sekaligus merupakan sifat yang baik. Sementara ungkapan selanjutnya. “Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan.” Yakni Niscaya dia tidak akan takut akan dikurangi kebaikannya atau akan dibebani oleh keburukan yang bukan miliknya. 14.Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. *Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Yakni,di antara kami ada yang muslim dan ada pula yang melakukan penyimpangan dari kebenaran. *Barangsiapa yang yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Yakni,mereka telah memilih keselamatan untuk diri mereka sendiri. 15.Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam. Yakni,Bahan bakar yang mereka itu neraka jahannam akan berkorban. 16.Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). Yakni,keluasan rezeki 17.Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat. Yakni, adzab yang berat lagi menyakitkan lagi menimbulkan penderitaan.

     Firman Allah Swt.: {وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ نُعجِزَ اللَّهَ فِي الأرْضِ وَلَنْ نُعْجِزَهُ هَرَبًا} Dan sesungguhnya kami mengetahui, bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi, dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (dari-Nya) dengan lari. (Al-Jin: 12) Yakni kami mengetahui bahwa kekuasaan Allah menguasai diri kami dan sesungguhnya kami tidak dapat menyelamatkan diri di bumi ini dari kekuasaan Allah, sekalipun kami lari dengan sekuat kami. Karena sesungguhnya Dia berkuasa atas kami, tiada seorang pun yang dapat menghalang-halangi-Nya dari kami. {وَأَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَى آمَنَّا بِهِ} Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al-Qur'an), kami beriman kepadanya. (Al-Jin: 13) Mereka merasa bangga dengan keimanan mereka, dan memang hal ini merupakan kebanggaan dan penghormatan yang tinggi serta sifat baik yang dimiliki mereka. Mengenai ucapan mereka yang disebutkan oleh firman berikutnya: {فَمَنْ يُؤْمِنْ بِرَبِّهِ فَلا يَخَافُ بَخْسًا وَلا رَهَقًا} Barang siapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 13) Menurut Ibnu Abbas, Qatadah, dan selain keduanya, dia tidak akan merasa takut pahalanya dikurangi atau dibebankan kepadanya dosa orang lain. Sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya: فَلا يَخافُ ظُلْماً وَلا هَضْماً maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya. (Thaha: 112) Firman Allah Swt. menceritakan ucapan jin: {وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ} Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. (Al-Jin: 14) Yaitu di antara kami ada orang yang taat dan ada pula orang yang melampaui batasan hak dan menyimpang darinya, yakni durhaka. Lafaz al-qasit berbeda dengan lafaz al-muqsit, karena al-muqsit artinya adil. {فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُولَئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا} Barang siapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. (Al-Jin: 14) Maksudnya, mencari jalan keselamatan untuk dirinya. {وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا} Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahanam. (Al-Jin: 15) Yakni bahan bakarnya yang menambah nyala api Jahanam. *******************

    Dan firman Allah Swt. berikutnya: {وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لأسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ} Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). Untuk Kami beri cobaan kepada mereka dengan melaluinya. (Al-Jin: 16-17) Ulama tafisr berbeda pendapat mengenai makna ayat ini, ada dua pendapat di kalangan mereka. Salah satunya mengatakan, seandainya jin yang menyimpang dari kebenaran itu menempuh jalan Islam dan kembali kepada jalan kebenaran serta tetap menempuhnya. {لأسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا} benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). (Al-Jin: 16) Gadaqan artinya banyak, makna yang dimaksud ialah memberinya rezeki yang banyak lagi berlimpah. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman Allah Swt. dalam ayat lain, yaitu: وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقامُوا التَّوْراةَ وَالْإِنْجِيلَ وَما أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil, dan (Al-Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. (Al-Maidah: 66) Dan firman Allah Swt. lainnya: وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنا عَلَيْهِمْ بَرَكاتٍ مِنَ السَّماءِ وَالْأَرْضِ Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (Al-A'raf: 96) Dengan demikian, berarti firman Allah Swt.: {لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ} Untuk Kami beri cobaan kepada mereka dengan melaluinya. (Al-Jin: 17) Yakni untuk Kami uji mereka dengannya, sebagaimana yang dikatakan oleh Zaid ibnu Aslam, bahwa demikian itu agar Kami uji dan Kami coba mereka, siapakah di antara mereka yang tetap pada jalan hidayah, dan siapa di antara mereka yang murtad dan memilih jalan kesesatan? Tafsir ayat menurut orang-orang yang berpendapat demikian. Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus. (Al-Jin: 16) Artinya, istiqamah dalam ketaatannya. Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu. (Al-Jin: 16) Yaitu jalan agama Islam. Hal yang sama telah dikatakan oleh Sa'id ibnu Jubair, Sa'id ibnul Musayyab, Ata, As-Saddi, dan Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi. Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu. (Al-Jin: 16) Yakni seandainya mereka semuanya beriman, niscaya Kami luaskan bagi mereka rezeki Kami di dunia, Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu. (Al-Jin: 16) Maksudnya, jalan kebenaran. Hal yang sama dikatakan oleh Ad Dahhak, kemudian ia mengemukakan dalil kedua ayat yang telah disebutkan di atas untuk menguatkan pendapatnya; masing-masing dari mereka atau keseluruhannya yang berpendapat demikian mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Untuk Kami beri cobaan kepada mereka dengan melaluinya. (Al-Jin: 17) Yaitu agar Kami beri cobaan kepada mereka dengan melaluinya. Muqatil mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang Quraisy yang kafir, ketika hujan dicegah dari mereka selama tujuh tahun. Pendapat yang kedua mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Dan bahwasanya jikalau mereka tetappada jalan itu. (Al-Jin: 16) Yakni jalan kesesatan. benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar. (Al-Jin: 16) sebagai istidraj dari Kami terhadap mereka, semakna dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ} Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka. Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (Al-An'am: 44) Juga semakna dengan firman-Nya: أَيَحْسَبُونَ أَنَّما نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مالٍ وَبَنِينَ نُسارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْراتِ بَلْ لَا يَشْعُرُونَ Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. (Al-Mu’minun: 55-56) Ini adalah pendapat Abu Mijlaz alias Lahiq ibnu Humaid, karena dia mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: Dan bahwasanya jikalau mereka tetap pada jalan itu. (Al-Jin: 16) Yakni jalan kesesatannya. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim. Al-Bagawi meriwayatkannya dari Ar-Rabi' ibnu Anas, Zaid ibnu Aslam, Al-Kalabi, dan Ibnu Kaisan. Alasan pendapat ini cukup masuk di akal, dan didukung pula oleh adanya firman Allah Swt. Selanjutnya yang mengatakan: Untuk Kami beri cobaan kepada mereka dengan melaluinya. (Al-Jin 17) *******************

    Adapun firman Allah Swt.: {وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا} Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya. niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat. (Al-Jin: 17) Yaitu siksaan yang berat, keras, lagi menyakitkan. Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Qatadah, dan Ibnu Zaid mengatakan sehubungan dengan firman Allah Swt.: azab yang amat berat. (Al-Jin: 17) Yakni berat tiada henti-hentinya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Sa'dan adalah nama sebuah gunung di dalam neraka Jahanam. Diriwayatkan pula dari Sa'id ibnu Jubair, bahwa Sa'dan adalah sebuah sumur yang ada di dalam neraka Jahanam.

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN