Rabu, 29 Ogos 2018

AYAT 41-43


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
     SURAH Hud, ayat 41-43''-BIS-MIL-LAHI-RAHMAN-NIRAHIM''
                Wa qaalar kaboo feehaa bismil laahi majraihaa wa mursaahaa; inna Rabbee la Ghafoorur Raheem Wa hiya tajree bihim fee mawjin kaljibaali wa naadaa Noohunib nahoo wa kaana fee ma'ziliny yaa bunai yarkam ma'anaa wa laa takum ma'al kaafireen Qaala sa aaweee ilaa jabaliny ya'simunee minal maaa'; qaala laa 'aasimal yawma min amril laahi illaa mar rahim; wa haala bainahumal mawju fakaana minal mughraqeen ''


{وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (41) وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ (42) قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلا مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ (43) }

Dan Nuh berkata, "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedangkan anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab, "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata, " Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

               Allah Swt. berfirman menceritakan perihal Nabi Nuh a.s., bahwa dia berkata kepada orang-orang yang diperintahkan agar dibawa masuk ke dalam bahteranya: {ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا} Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. (Hud: 41) Yakni dengan menyebut nama Allah ia dapat berlayar di atas air, dan dengan menyebut nama Allah pula ia dapat berlabuh di akhir perjalanannya. Abu Raja Al-Utaridi membaca ayat ini dengan bacaan berikut: "بسْمِ اللهِ مُجْرِيَها ومُرْسِيهَا". dengan menyebut nama Allah yang memberlayarkan dan yang melabuhkannya.
               (Hud: 41) Dan Allah Swt. telah berfirman: {فَإِذَا اسْتَوَيْتَ أَنْتَ وَمَنْ مَعَكَ عَلَى الْفُلْكِ فَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَجَّانَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ وَقُلْ رَبِّ أَنزلْنِي مُنزلا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنزلِينَ} Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah, "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang zalim.” Dan berdoalah, "Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat.” (Al-Mu’minun: 28-29) Karena itulah maka disunatkan membaca basmalah di saat hendak menaiki kendaraan, baik kendaraan laut maupun kendaraan darat, sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya: {وَالَّذِي خَلَقَ الأزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْفُلْكِ وَالأنْعَامِ مَا تَرْكَبُونَ لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ} Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untuk kalian kapal dan binatang ternak yang kalian tunggangi, supaya kalian duduk di atas punggungnya. (Az-Zukhruf: 12-13), hingga akhir ayat. Sunat menganjurkan hal tersebut dan menyerukannya, seperti yang akan disebutkan di dalam tafsir surat Az-Zukhruf. قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ هَاشِمٍ الْبَغَوِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْمُقَدَّمِيُّ -وَحَدَّثَنَا زَكَرِيَّا بْنُ يَحْيَى السَّاجِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُوسَى الحَرشي -قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ الْحَسَنِ الْهِلَالِيُّ، عَنْ نَهْشل بْنِ سَعِيدٍ، عَنِ الضَّحَّاكِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "أَمَانُ أُمَّتِي مِنَ الْغَرَقِ إذا ركبوا في السفن أن يقولوا: بسم اللَّهِ الْمَلِكِ، {وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالأرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ} [الزُّمَرِ: 67] ، {بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ} Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Hasyim Al-Bagawi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Bakar Al-Maqdami, dan telah menceritakan kepada kami Zakaria ibnu Yahya As-Saji, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Musa Al-Harsi, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid ibnul Hasan Al-Hilali, dari Nahsyal ibnu Sa'id, dari Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Keamanan umatku dari tenggelam, bila mereka menaiki kapal laut ialah hendaknya mereka mengucapkan, "Dengan menyebut nama Allah Maha Raja, dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya —hingga akhir ayat— dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." *******************
                               Firman Allah Swt.: {إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ} Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Hud: 41) Makna ayat ini merupakan perimbangan di saat menyebutkan pem­balasan azab Allah yang ditimpakan atas orang-orang kafir dengan menenggelamkan mereka semuanya. Untuk itu, Allah Swt. menyebutkan bahwa Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Perihalnya sama dengan pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya: {إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ} Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguh­nya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-A'raf: 167) وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِلنَّاسِ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ الْعِقَابِ Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia, sekalipun mereka zalim; dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksa-Nya. (Ar-Ra'd: 6) Masih banyak ayat lain yang menyebutkan antara rahmat dan azab-Nya secara bergandengan. ******************* Firman Allah Swt.: {وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ} Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. (Hud: 42) Maksudnya, bahtera itu berlayar membawa mereka di atas permukaan air yang telah menggenangi semua daratan di bumi, yang ketinggiannya sampai menutupi puncak-puncak gunung yang tertinggi, dan lebih tinggi lima belas hasta darinya. Menurut pendapat lain, tinggi banjir besar itu mencapai delapan puluh mil. Bahtera Nabi Nuh itu berlayar di atas permukaan air dengan seizin Allah dan dengan pengawasan, pemeliharaan, penjagaan, dan karunia­Nya. Seperti yang disebutkan di dalam ayat lain, yaitu: {إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ لِنَجْعَلَهَا لَكُمْ تَذْكِرَةً وَتَعِيَهَا أُذُنٌ وَاعِيَةٌ} Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung), Kami bawa (nenek moyang) kalian ke dalam bahtera, agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kalian dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. (Al-Haqqah: 11-12) {وَحَمَلْنَاهُ عَلَى ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا جَزَاءً لِمَنْ كَانَ كُفِرَ وَلَقَدْ تَرَكْنَاهَا آيَةً فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ} Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku, yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh). Dan sesungguhnya telah Kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al-Qamar: 13-15) *******************
                          Adapun firman Allah Swt.: وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ Dan Nuh memanggil anaknya. (Hud: 42) Yang dimaksud adalah anaknya yang keempat, namanya Yam; dia se­orang kafir. Ayahnya memanggilnya di saat hendak menaiki bahtera dan menyerunya agar beriman serta naik bahtera bersama mereka sehingga tidak tenggelam seperti yang dialami oleh orang-orang yang kafir. {قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ} Anaknya menjawab, "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah! (Hud: 43) Menurut suatu pendapat, dia membuat perahu dari kaca untuknya. Akan tetapi, kisah ini termasuk kisah Israiliyat, hanya Allah-lah yang mengetahui kebenarannya. Tetapi yang di-nas-kan oleh Al-Qur'an ialah bahwa dia berkata: Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat meme­liharaku dari air bah! (Hud: 43) Karena kebodohannya, dia menduga bahwa banjir itu tidak akan dapat mencapai puncak-puncak bukit (gunung); dan bahwa seandainya dia mengungsi ke puncak gunung itu, niscaya dia dapat selamat dari air bah tersebut. Maka ayahnya —Nuh a.s.— berkata kepadanya: {لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلا مَنْ رَحِمَ} Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang. (Hud: 43) Yakni tidak ada sesuatu pun pada hari ini yang dapat melindungi dari azab Allah. Menurut suatu pendapat, lafaz 'asiman ini bermakna ma'suman, seperti dikatakan terhadap lafaz ta'im (pemberi makan) dan kasin (pemberi pakaian) yang artinya mat'um (yang diberi makanan) dan maksuwwun (yang diberi pakaian). {وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ} Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (Hud: 43)

AYAT 40

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
SURAH HUD 40
BISMILLAHIRAHMANIRAHIM''

{حَتَّى إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلا قَلِيلٌ (40) }

 Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah meman­carkan air, Kami berfirman, "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya, dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.” Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.

Hal ini merupakan janji Allah Swt. kepada Nuh a.s. yang menyatakan bahwa apabila telah datang perintah Allah yang berupa hujan yang berturut-turut tiada henti-hentinya disertai dengan luapan air yang tak pernah berhenti,

                     bahkan keadaannya adalah seperti yang diungkapkan oleh Allah dalam ayat lain, yaitu: {فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ وَفَجَّرْنَا الأرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ وَحَمَلْنَاهُ عَلَى ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا جَزَاءً لِمَنْ كَانَ كُفِرَ} Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air, itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku, yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh). (Al-Qamar: 11-14) Adapun firman Allah Swt.: {وَفَارَ التَّنُّورُ} dan dapur telah memancarkan air. (Hud: 40) Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud dengan tannur ialah permukaan bumi. Dengan kata lain, bumi menjadi mata air yang memancarkan air, sehingga air pun keluar menyembur dari tempat pemanggangan roti yang merupakan tempat yang berapi. Yakni bumi memancarkan airnya dari segala tempat. Demikianlah menurut pendapat jumhur ulama Salaf dan Khalaf. Dari Ali ibnu Abu Talib r.a., diriwayatkan bahwa tannur artinya cahaya waktu subuh dan sinar fajar. Tetapi pendapat yang pertamalah yang paling jelas. Mujahid dan Asy-Sya'bi mengatakan bahwa tannur tersebut berada di kota Kufah. Menurut riwayat dari Ibnu Abbas, tannur adalah sebuah mata air yang terletak di negeri India. Sedangkan menurut riwayat dari Qatadah, tannur adalah sebuah mata air yang terletak di Jazirah Arabia yang dikenal dengan nama "mata air Wardah". Tetapi semua pendapat di atas berpredikat garib (aneh). Maka pada saat itu Allah memerintahkan kepada Nuh a.s. untuk membawa bersamanya ke dalam bahtera itu dari setiap jenis makhluk yang bernyawa sepasang jodoh. Menurut pendapat yang lain, juga membawa yang lainnya yang berupa tumbuh-tumbuhan dari setiap jenis sepasang jodoh. Menurut suatu pendapat, burung yang mula-mula dimasukkan ke dalam bahtera Nabi Nuh a.s. ialah burung beo, dan hewan terakhir yang dimasukkan ke dalam bahtera adalah keledai. Lalu bergantung iblis pada ekornya; ketika keledai hendak bangkit naik ke bahtera, iblis memberat­kannya karena ia bergantung pada ekor keledai itu. Maka Nabi Nuh a.s. berkata, "Mengapa kamu, masuklah, celakalah kamu!" Keledai hendak bangkit, tetapi tidak mampu. Maka Nuh berkata, "Masuklah kamu, se­kalipun iblis ikut bersamamu," hingga masuklah keduanya ke dalam bahtera itu.

       Sebagian ulama Salaf menyebutkan bahwa mereka merasa keberatan bila singa dibawa masuk ke dalam bahtera bersama-sama mereka, akhirnya ditimpakan penyakit lemah kepada singa. قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ كَاتِبُ اللَّيْثِ، حَدَّثَنِي اللَّيْثُ، حَدَّثَنِي هِشَامُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ. عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "لَمَّا حَمَلَ نُوحٌ فِي السَّفِينَةِ مِنْ كُلِّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ، قَالَ أَصْحَابُهُ: وَكَيْفَ يَطْمَئِنُّ أَوْ: تَطْمَئِنُّ -اَلْمَوَاشِي وَمَعَهَا الْأَسَدُ؟ فَسَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْحُمَّى، فَكَانَتْ أَوَّلَ حُمَّى نَزَلَتِ الْأَرْضَ، ثُمَّ شَكَوُا الْفَأْرَةَ فَقَالُوا: الفُوَيسقة تُفْسِدُ عَلَيْنَا طَعَامَنَا وَمَتَاعَنَا. فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَى الْأَسَدِ، فَعَطَسَ، فَخَرَجَتِ الْهِرَّةُ مِنْهُ، فَتَخَبَّأَتِ الْفَأْرَةُ مِنْهَا Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibnu Saleh (juru tulis Al-Lais), telah menceritakan kepadaku Al-Lais, telah menceritakan kepadaku Hisyam ibnu Sa'd, dari Zaid ibnu Aslam, dari ayahnya, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Setelah Nuh membawa serta ke dalam perahunya dari setiap makhluk satu jodoh, teman-temannya berkata, "Bagaimana ternak-ternak itu dapat tenang bila mereka tinggal bersama singa?” Maka Allah menimpakan penyakit demam pada singa, dan penyakit demam itu adalah penyakit demam yang mula-mula ada di bumi. Kemudian mereka mengadu tentang tikus, mereka berkata, "Binatang perusak ini telah membuat rusak makanan dan barang-barang kami.” Maka Allah memerintahkan kepada singa untuk bersin. Lalu bersinlah singa itu, dan keluarlah darinya kucing; maka tikus-tikus itu bersembunyi dari kucing (karena takut kepadanya). *******************

        Firman Allah Swt.: {وَأَهْلَكَ إِلا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ} dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya. (Hud: 40) Yakni muatkanlah ke dalam bahtera itu seluruh keluargamu, mereka terdiri atas ahli bait dan kaum kerabat Nuh a.s. Kecuali orang yang telah ditetapkan oleh takdir Allah dari kalangan mereka, yaitu orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dari kalangan mereka. Di antaranya ialah anak lelaki Nabi Nuh sendiri yang bernama Yam, dia memisahkan dirinya; juga istri Nabi Nuh yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Firman Allah Swt.: {وَمَنْ آمَنَ} dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman. (Hud: 40) Yaitu dari kalangan kaummu. {وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلا قَلِيلٌ} Dan tidak beriman bersama Nuh itu kecuali sedikit. (Hud: 40) Maksudnya, sangat sedikit; padahal masa Nabi Nuh tinggal bersama mereka cukup lama, yaitu kurang lebih sembilan ratus lima puluh tahun. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa jumlah mereka yang beriman kepada Nabi Nuh ada delapan puluh jiwa termasuk kaum wanitanya. Diriwayatkan dari Ka'bul Ahbar bahwa jumlah mereka yang ber­iman adalah tujuh puluh dua orang. Menurut pendapat lainnya adalah sepuluh orang. Menurut pendapat lainnya, sesungguhnya yang naik ke dalam bahtera itu hanyalah Nuh dan ketiga putranya (yaitu Sam, Ham, dan Yafis) serta empat orang wanita, yaitu istri dari ketiga putra Nuh dan istri Yam. Menurut pendapat yang lainnya lagi, istri Nuh pun berada bersama mereka di dalam bahtera itu, tetapi pendapat ini masih perlu dipertimbang­kan kebenarannya. Karena sesungguhnya menurut pendapat yang kuat, istri Nabi Nuh binasa, karena dia masih memeluk agama kaumnya, sehingga ia tertimpa apa yang menimpa kaumnya. Perihalnya sama dengan istri Nabi Lut yang ikut tertimpa azab yang menimpa kaumnya.

Selasa, 28 Ogos 2018

AYAT 36-39

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH HUD 36-39
BIS-MIL-LAHI-RAHMAN-NIRRAHIM''

{وَأُوحِيَ إِلَى نُوحٍ أَنَّهُ لَنْ يُؤْمِنَ مِنْ قَوْمِكَ إِلا مَنْ قَدْ آمَنَ فَلا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (36) وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ (37) وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلأ مِنْ قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ قَالَ إِنْ تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنْكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ (38) فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُقِيمٌ (39) }

“Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. (QS.11:36) Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang dhalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (QS. 11:37) Dan mulailah Nub membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: ‘Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). (QS. 11:38) Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh adzab yang menghinakan(nya) dan yang akan ditimpa adzab yang kekal.’ (QS. 11:39)”

       (Huud: 36-39)Wa oohiya ilaa Noohin annahoo lany-yu'mina min qawmika illaa man qad aamana falaa tabta'is bimaa kaanoo yaf'aloon Wasna'il fulka bi-a'yuninaa wa wahyinaa wa laa tukhaa tibnee fil lazeena zalamoo; innahum mughraqoon Wa yasn'ul fulka wa kullamaa marra 'alaihi malaum min qawmihee sakhiroo minh; qaala in taskharoo minnaa fa innaa naskharu minkum kamaa taskharoon Fasawfa ta'lamoona mai yaateehi 'azaabuny yaukhzeehi wa yahillu 'alaihi 'azaabum muqeem

         Allah Memberi kabar, bahwa sesungguhnya Dia telah memberi wahyu kepada Nuh, yang berkaitan dengan siksa dan adzab-Nya yang diminta oleh kaumnya untuk menyiksa mereka, maka Nuh berdo’a terhadap mereka dengan do’anya yang Allah Ta’ala kabarkan dalam firman-Nya yang artinya: “Ya Rabbku janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.” (Nuh: 26) annaHuu laa yu’mina min qaumika illaa man qad aamana (“Bahwasannya sekali-sekali tidak akan beriman di antara kaummu,
                                             kecuali orang-orang yang telah beriman [saja].”) maka janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan janganlah kau hiraukan urusan mereka. washna’il fulka (“dan buatlah bahtera itu”) yaitu perahu; bi-a’yunina (“dengan pengawasan”) maksudnya dengan pengawasan Kami; wa wahyinaa (“dan petunjuk wahyu kami”) maksudnya dengan pengajaran Kami kepadamu apa yang harus (bagaimana engkau membuatnya). Walaa takhaathibnii fil ladziina dhalamuu innaHum mughraquun (“Dan janganlah engkau bicara dengan Aku tentang orang-orang dhalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.”) Dan firman-Nya: wa yashna’ul fulka wa kullamaa marra ‘alaiHi mala-um min qaumiHii sakhiruu minHu (“Dan mulailah Nuh membuat bahtera.
          Dan setiap kali pemimpin kaumnya melewati Nuh, mereka mengejeknya.”) maksudnya mereka mengolok-olok dan mendustakan ancaman yang ditujukan kepada mereka bahwa mereka akan ditenggelamkan. Qaala in taskharuu minnaa fa innaa naskharu minkum (“Berkata Nuh: ‘Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kamu [pun] mengejekmu.’”) ayat seterusnya. Ini merupakan ancaman yang keras dan janji yang kokoh. May ya’tiiHi ‘adzaabuy yukhziiHi (“Siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya”) maksudnya adalah menghinakannya di dunia. Wa yahillu ‘alaiHi ‘adzaabum muqiim (“Dan yang akan ditimpa adzab yang kekal”) yakni abadi, terus-menerus dan selama-lamanya di akherat kelak.

DALAM AYAT 37 -
Sebagian ulama Salaf mengatakan bahwa Allah memerintahkan Nabi Nuh agar menanam pohon-pohonan; setelah besar ditebang, lalu dike­ringkan; hal ini memakan waktu seratus tahun. Kemudian Nabi Nuh meng­gergaji, menyerutnya, dan menghaluskannya selama seratus tahun lagi; sedangkan menurut pendapat lain adalah empat puluh tahun. Muhammad ibnu Ishaq telah menceritakan dari kitab Taurat, bahwa Allah Swt. memerintahkan Nuh untuk membuat bahtera itu dari kayu saj (jati) dengan panjang delapan puluh hasta dan lebar lima puluh hasta, dan hendaknya bahtera itu dicat dengan gar (ter) bagian luar dan dalamnya, hendaknya pula dibuatkan anjungan buat membelah air. Qatadah mengatakan bahwa bahtera Nabi Nuh mempunyai panjang tiga ratus hasta dan lebarnya lima puluh hasta. Dari Al-Hasan, disebutkan bahwa panjangnya enam ratus hasta dan lebarnya tiga ratus hasta. Juga dari Al-Hasan dan Ibnu Abbas, disebut­kan bahwa panjangnya seribu dua ratus hasta dan lebarnya enam ratus hasta. Sedangkan menurut pendapat lain, panjangnya dua ribu hasta, dan lebarnya seratus hasta. Semuanya mengatakan bahwa tinggi bahtera Nabi Nuh adalah tiga puluh hasta, terdiri atas tiga tingkat, setiap tingkat mempunyai tinggi sepuluh hasta. Tingkatan yang paling bawah untuk hewan dan binatang liar, yang tengah untuk manusia, sedangkan yang atas untuk burung-burung. Disebutkan pula bahwa pintunya berada di bagian tengahnya, bagian atas bahtera itu beratap. Imam Abu Ja'far ibnu Jarir telah menyebutkan sebuah asar yang garib melalui hadis Ali ibnu Zaid ibnu Jad'an, dari Yusuf ibnu Mahran, dari Abdullah ibnu Abbas. Disebutkan bahwa Ibnu Abbas telah mengatakan bahwa kaum Hawariyyin berkata kepada Isa ibnu Maryam, "Sebaiknya engkau mengirimkan seorang lelaki sebagai wakil dari kita semua untuk melihat bahtera itu, lalu dia akan menceritakannya kepada kita." Maka Isa ibnu Maryam membawa serta mereka pergi hingga sampai di sebuah bukit pasir, lalu Isa mengambil segenggam pasir dengan telapak tangannya dan berkata, "Tahukah kalian, apakah ini?" Mereka menjawab, "Allah dan utusan-Nya lebih mengetahui." Isa . menjawab, "Ini adalah mata kaki Ham ibnu Nuh." Kemudian Nabi Isa memukul bukit pasir itu dengan tongkatnya seraya bersabda, "Berdirilah dengan seizin Allah." Tiba-tiba berdirilah Ham seraya menepiskan pasir yang ada di kepalanya yang telah beruban. Isa bertanya kepadanya, "Apakah dalam keadaan seperti ini ketika kamu mati?" Ham ibnu Nuh menjawab, "Tidak, aku meninggal dunia dalam usia yang masih muda. Tetapi aku menduga bahwa kematian itu merupakan hari kiamat, karena itulah maka aku beruban." Isa bertanya, "Ceritakanlah kepada kami tentang bahtera Nabi Nuh." Ham ibnu Nuh menjawab, "Panjangnya adalah seribu dua ratus hasta dan lebarnya enam ratus hasta. Bahtera itu terdiri atas tiga tingkat, salah satunya untuk hewan dan binatang liar, yang lainnya untuk manusia, dan yang terakhir untuk burung-burung." Ham melanjutkan kisahnya, "Setelah kotoran hewan terlalu banyak, maka Allah menurunkan wahyu kepada Nuh a.s., memerintahkan kepadanya agar menggelitiki ekor gajah. Maka Nuh a.s. menggelitikinya, lalu dari ekor gajah itu keluarlah seekor babi betina yang langsung melahap kotoran tersebut. Dan ketika tikus-tikus muncul di dalam bahtera itu, mereka menggerogoti kayu-kayu dan tali temalinya. Maka Allah menu­runkan wahyu kepada Nuh a.s., memerintahkannya agar memukul wajah singa di antara kedua matanya. Maka Nuh a.s. memukulnya, dan keluarlah burung elang jantan dan betina dari hidung singa itu, lalu keduanya me­nyambar tikus-tikus tersebut. Isa berkata kepada Ham, "Bagaimanakah Nuh mengetahui bahwa daratan telah tenggelam?" Ham menjawab, "Nuh a.s. mengutus burung gagak yang menyampaikan berita kepadanya. Tetapi burung gagak itu menjumpai bangkai, lalu burung gagak itu hinggap padanya dan mema­kannya, maka Nuh a.s. berdoa kepada Allah, semoga burung gagak selalu dicekam rasa takut. Karena itulah burung gagak tidak biasa tinggal di rumah-rumah. Kemudian Nuh a.s. mengirimkan burung merpati, lalu burung merpati itu datang dengan membawa daun pohon zaitun pada paruhnya dan daun pohon tin pada kakinya. Karena itulah Nuh a.s. mengetahui bahwa seluruh negeri telah tenggelam. Lalu Nabi Nuh a.s. mengalung­kan ikat pinggangnya pada leher burung merpati dan mendoakannya agar hidupnya selalu dalam aman dan jinak. Karena itulah maka burung-burung merpati biasa tinggal di rumah-rumah." Kaum Hawariyyin berkata, "Wahai utusan Allah, bolehkah kami membawa Ham ini kepada keluarga kami dan duduk bersama kami seraya bercerita kepada kami?" Isa menjawab, "Mana mungkin orang yang tidak mempunyai rezeki dapat mengikuti kalian?" Maka Nabi Isa berkata kepada Ham, "Kembalilah kamu seperti semula dengan seizin Allah!" Maka kembalilah Ham dalam bentuk semulanya, yaitu berupa pasir.

Isnin, 27 Ogos 2018

AYAT 35

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH HUD 35
BISMILLAHIRAHMANIRAHIM,.,.
Am yaqooloonaf taraahu qul inif taraituhoo fa'alaiya ijraamee wa ana bareee'um mimmaa tujrimoon (section 3)  
     {أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَعَلَيَّ إِجْرَامِي وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تُجْرِمُونَ

     (35) } Malahan kaum Nuh itu berkata, "Dia cuma membuat-buat nasihatnya saja.” Katakanlah, "Jika aku membuat-buat nasihat itu, maka hanya akulah yang memikul dosaku dan aku berlepas diri dari dosa yang kalian perbuat.” Ini adalah kalimat sisipan yang berada di tengah-tengah kisah ini, berkedudukan menguatkan dan menetapkannya.

    Allah Swt. berfirman kepada Nabi Muhammad Saw., "Malahan orang-orang kafir yang ingkar itu mengatakan bahwa dia cuma membuat-buatnya dan merekayasanya dari dirinya sendiri." nasihat nabi adalah dari wahtyu allah sawt., sebagai mana hadis ;'Dari ‘Aisyah r.ha : Harits bin Hisyam r.a pernah bertanya kepada Rasulullah saw, “Bagaimanakah caranya wahyu turun kepada anda (Rasulullah saw)?

      Jawab Rasulullah saw, “Kadang-kadang wahyu itu datang kepadaku (kedengaran) seperti bunyi loceng. Itulah yang sangat berat bagiku. Setelah bunyi tu berhenti, lantas aku mengerti apa yang dikatakannya. Kadang-kadang malaikat menjelma seperti seorang laki-laki datang kepadaku. Dia berbicara kepadaku dan aku mengerti apa yang dikatakannya. Kata ‘Aisyah r.ha, “Aku pernah melihat Nabi saw, ketika wahyu turun kepada beliau pada suatu hari yang amat dingin. Setelah wahyu itu berhenti turun, kelihatan dahi Nabi saw bersimbah peluh.” (Hadis 0002) {قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَعَلَيَّ إِجْرَامِي} Katakanlah, "Jika aku membuat-buat nasihat itu, maka hanya akulah yang memikul dosaku. (Hud: 35) Yakni dosanya aku tanggung sendiri. {وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تُجْرِمُونَ} dan aku berlepas diri dari dosa yang kalian perbuat.” (Hud: 35) Maksudnya, hal tersebut bukanlah buat-buatan, bukan pula suatu rekayasa, karena aku benar-benar mengetahui siksaan yang ada di sisi Allah bagi orang yang berdusta terhadap-Nya.

Ahad, 26 Ogos 2018

AYAT 32-34

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH HUD 32-34
BISMILLAHIRAHMANIRRAHIM.,.,
     Qaaloo yaa Noohu qad jaadaltanaa fa aksarta jidaalanaa faatinaa bimaa ta'idunaaa in kunta minas saadiqeen Qaala innamaa yaateekum bihil laahu in shaaa'a wa maaa antum bimu'jizeen Wa laa yanfa'ukum nusheee in arattu an ansaha lakum in kaanal laahu yureedu ai yughwi yakum; Huwa Rabbukum wa ilaihi turja'oon
     “Mereka berkata: ‘Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami adzab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.’ (QS. 11:32) Nuh menjawab: ‘Hanyalah Allah yang akan mendatangkan adzab itu kepadamu jika Allah menghendaki dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri. (QS. 11:33) Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Rabbmu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.’ (QS. 11:34)”

    (Huud: 32-34) Allah berfirman dengan mengabarkan tentang tuntutan penyegeraan siksa, adzab dan murka Allah oleh kaum Nuh as. Qaaluu yaa nuuhu qad jaadaltanaa fa aktsarta jidaalanaa (“Mereka berkata: ‘Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami dan kamu memperpanjang bantahanmu terhadap kami.’”) Maksudnya, engkau telah melontarkan bantahan berulang kali dan kami tidak akan mengikutimu. Fa’tinaa bimaa ta-‘idunaa (“Maka datangkanlah kepada kami adzab yang kamu ancamkan kepada kami.”) Yakni, berupa murka dan adzab. Kutuklah kami sesuka hatimu, lalu datangkanlah kutukan tersebut kepada kami. In kunta minash shaadiqiina qaala innamaa ya’tiikum biHillaaHi insyaa-a wamaa antum bimu’jiziin (“’Jika kamu temasuk orang-orang yang benar.’ Nuh menjawab: ‘Hanya Allah yang akan mendatangkan adzab itu kepadamu jika Allah menghendaki dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri.’”) Maksudnya, sesungguhnya yang menimpakan siksaan dan menyegerakannya untuk kalian itu adalah Allah Ta’ala, yang tidak akan pernah dapat dipaksakan oleh sesuatu apa pun. Wa laa tanfa’ukum nush-hii in aradtu an anshaha lakum in kaanallaaHu yuriidu ay yughwiyakum (“Dan nasihatku tidak bermanfaat bagi kalian jika aku hendak memberi nasihat kepada kalian. Sekiranya Allah hendak menyesatkan kalian.”) Yakni, jika Allah hendak menyesatkan kalian, apakah masih bisa berguna bagi kalian akan peringatanku dan nasihatku? Huwa rabbukum wa ilaiHi turja’uun (“Allah adalah Rabbmu dan kepada-Nyalah kalian dikembalikan.”) Maksudnya, Allah adalah Raja pengendali segala sesuatu, Hakim yang adil yang tidak akan pernah berbuat lalim. Hak penciptaan dan perintah itu hanya ada pada-Nya, Allahlah yang mengawali semua ciptaan dan Allah pula yang akan mengembalikan ciptaan setelah hancurnya. Allah adalah Raja dunia dan akhirat. sebagai mana kita beraqidah abu hasan (asr-ariyah ) wajib percaya bahawa setiap yang datang adalah dengan izin allah sebagai mana kisah malaikat harut dan marut yang mana mengajar ilmu pada kaum israil lalu mereka percaya dengan pertologan harut marut dan mereka itu tergolog dalam gologan sesat kerna percaya bahawa ilmu harut marut yang menolong padahal harut dan marut hanya meminta pertologan iblis dan jin dan tiada guna ilmu harut dan marut tampa izin allah sawt .,.,.,
       sebagai contoh '' kita mintak tolong jin penunggu pokok besar tapi tampa izin allah tak akan berjaya usaha kita kerna allah telah menetap segala takdir mahluk di muka bumi .,.,,. jadi sembah allah dan pertologan hanya dengan izin allah sawt.,.,., wallahuaklam .,,.

Sabtu, 18 Ogos 2018

AYAT 31


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK';;
 SURAH HUD AYAT 31
 walaa aquulu lakum ‘indii khazaa-inu allaahi walaa a’lamu alghayba walaa aquulu innii malakun walaa aquulu lilladziina tazdarii a’yunukum lan yu/tiyahumu allaahu khayran allaahu a’lamu bimaa fii anfusihim innii idzan lamina alzhzhaalimiina “Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa) aku mempunyai gudang-gudang rizki dan kekayaan dari Allah dan aku tidak juga mengetahui yang ghaib, dan tidak (pula) aku mengatakan: ‘Bahwa sesungguhnya aku adalah Malaikat,’ dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu; ‘Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka.’ Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang dhalim.” (QS. Huud: 31)

 DALAM surah hud ayat 31 ini allah menjelaskan bahawa allah ada dalam rahsia .,., dan sebagai mana nur muhamat seawal ciptaan sebelum itu allah berupa dzat yang mana tersembunyi dan dalam rahsia.,.,., sebagai mana baginda rasulullah dalam kitab nur muhamat karangan abu hasan (alirah asr-ariyah).,.,. yang mana ketika muhamat sedang mencari allah allah berfirman aku ada dalam rahsia .,.,,. dan cari alah dalam rahsia allah.,.,yang mana berupa dzat illah dalam diri orang beriman .,., Carilah dalam dirimu... Sungguh dirimu itu sendiri adalah kepunyaan Allah... Sentiasa ada dekat dengan diri mu... Kadangkala kamu tidak perasan @ belum sedar DIA yakni Allah sentiasa dekat dengan kamu... Kita mukmin yang dipilih Allah untuk berlindung di bawah cahaya-Nya... Bila aku kenali Aku... Maka tiadalah aku... Lenyaplah aku... Sekiranya aku tahu diriku adalah Aku... Sudah pasti aku kembalikan rahsia aku kepada Aku... Maka carilah...??? aku dekat Aku.... aku dalam diriku...Sesungguhnya Allah dalam mengenalkan diri-Nya melalui lidah n hati manusia...

Maka DIA telah mentajallikan diri-Nya menjadi rahsia kepada diri manusia... Sebagaiman diperkatakan dalam hadis Qudsi : "AL INSANUL SIRRUHU WA ANA SIRRUHU" Maksudnya : 'Manusia itu adalah rahsia-Ku n Aku adalah rahsia manusia itu sendiri'.. Lebih lanjut, Nuh as. memberitahu mereka bahwa dirinya adalah Rasul utusan Allah yang mengajak mereka beribadah kepada Allah Ta’ala semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan dalam hal itu, ia telah mendapatkan izin dari Allah. Selain itu ia juga memberitahu mereka bahwa dirinya tidak mempunyai kemampuan untuk mengatur berbagai perbendaharaan Allah dan tidak juga ia mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali sedikit yang Allah perlihatkan kepadanya, juga bahwasanya ia bukanlah seorang Malaikat, tetapi ia hanyalah manusia biasa yang diutus dengan didukung oleh mukjizat. Ia juga memberitahukan, bahwa dirinya tidak mengatakan, bahwa orang-orang yang mereka hinakan dan usir itu tidak memperoleh pahala di sisi Allah atas amal perbuatan mereka. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka. Jika mereka beriman secara batiniyah sesuai dengan yang ada pada lahiriyahnya, maka bagi mereka adalah balasan yang baik. Jika seseorang memutuskan dengan tuduhan yang buruk kepada mereka yang telah beriman, maka orang tersebut telah berbuat dhalim dengan mengatakan apa yang sebenarnya tidak ia ketahui. Sehingga aku memberikanya kepada orang yang aku kehendaki dan aku halangi orang yang aku kehendaki. Aku hanyalah utusan Allah kepada kepada kamu yang tugasnya hanya memberikan kabar gembira dan peringatan; tidak lebih. Sehingga aku memberitakan kepadamu rahasia kamu dan apa yang kamu sembunyikan. Bahkan aku adalah manusia seperti kamu, dan aku tidak menempatkan diriku di atas posisi yang Allah berikan kepadaku. Yakni kaum mukmin yang lemah. Jika iman mereka benar, maka mereka akan mendapatkan kebaikan yang banyak, dan jika tidak demikian, maka hisab mereka terserah kepada Allah Azza wa Jalla. Kata-kata Nabi Nuh ‘alaihis salam di atas merupakan cara bijaksana agar kaumnya tidak lagi mengusir atau membenci kaum mukmin yang fakir serta usaha agar mereka menerima pengikutnya itu.

Jumaat, 17 Ogos 2018

AYAT 29-30

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
Hud, ayat 29-30
 {وَيَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالا إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى اللَّهِ وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ وَلَكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ (29) وَيَا قَوْمِ مَنْ يَنْصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِنْ طَرَدْتُهُمْ أَفَلا تَذَكَّرُونَ (30) }
“Dia [berkata]: ‘Hai kaumku, aku tidak meminta harta benda kepada kamu [sebagai upah] bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-sekali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Rabb-nya, akan tetapi aku memandang kalian sebagai kaum yang tidak mengetahui.’ (QS. 11:29) Dan (dia berkata): ‘Hai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari [adzab] Allah jika aku mengusir mereka. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?’ (QS 11: 30)” (Huud: 29-30) Nuh as. berkata kepada kaumnya, aku tidak minta harta benda kepada kalian atas pelajaran yang kuberikan kepada kalian. Yakni aku tidak meminta upah yang kuambil dari kalian. Tetapi aku hanya mengharapkan balasan dari Allah;
         Wa maa ana bithaaridil ladziina aamanuu (“Dan aku sekali-sekali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman.”) Seolah-olah mereka mengajukan tuntutan kepadanya agar ia mengusir orang-orang yang beriman dari sisinya sebagai bentuk penghormatannya terhadap mereka dan supaya mereka [orang-orang yang beriman] tidak duduk bersama mereka. sebagaimana orang-orang yang serupa dengan mereka mengajukan tuntutan kepada Rasulullah saw. agar mengusir sekelompok du’afa dari mereka, kemudian beliau duduk bersama mereka dalam majelis tersendiri. Maka Allah menurunkan firman-Nya yang artinya: “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Rabb-nya pada pagi hari dan pada petang hari, sedang mereka menghendaki keridlaan-Nya.” (al-An’am: 62) perkataan Rasulullah SAW berdasarkan beberapa hadits riwayat, kondisi di akhir zaman diantara yaitu : 1.
              Takwa dan perpaduan asas keselamatan di akhir zaman Dari Abi Nijih ‘Irbadh bin Sariyah r.a. ‘Rasullullah saw telah menasihati kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati kami dan menitik air mata kami ketika mendengarnya, lalu kami berkata, ‘Ya Rasulullah! Seolah-olah ini adalah nasihat yang terakhir, maka berilah pesan kepada kami.’ Lalu baginda pun bersabda, ‘Aku berwasiat akan kamu supaya sentiasa bertakwa kepada Allah swt. dan mendengar serta taat (kepada pemimpin) sekalipun yang memimpin kamu itu hanya seorang hamba. Sesungguhnya sesiapa yang panjang umurnya diantara kamu pasti ia akan melihat banyak perselisihan. Maka hendaklah kamu berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa ar Rasyidin al Mahdiyin (khalifah-khalifah yang mengetahui kebenaran dan mendapat petunjuk ke jalan yang benar) dan gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham dan jauhilah perkara-perkara yang baru (bid’ah) yang diada-adakan, kerana sesungguhnya tiap-tiap bid’ah itu adalah sesat.’ (HR. Abu Daud dan Tirmizi) 2. Mengapa dunia Islam menjadi sasaran pemusnahan?
                            Dari Ummul Mu’minin, Zainab binti Jahsy (isteri Rasulullah saw) ‘(Pada suatu hari) Rasulullah saww. masuk ke dalam rumahnya dalam keadaan cemas sambil bersabda, La ilaha illallah, celaka (binasa) bagi bangsa Arab dari kejahatan (malapetaka) yang sudah hampir menimpa mereka. Pada hari ini telah terbuka dinding Ya’juj dan Ma’juj seperti ini’, dan Baginda mempertemukan ujung jari dan ujung jari yang sebelahnya (jari telunjuk) yang dengan itu mengisyaratkan seperti bulatan. Saya (Zainab binti Jahsy) lalu bertanya: ‘Ya Rasulullah! Apakah kami akan binasa sedangkan di kalangan kami masih ada orang-orang yang shaleh?’ Lalu Nabi saww. bersabda: ‘Ya, jikalau kejahatan sudah terlalu banyak’. (HR. Bukhari dan Muslim) 3. Seluruh dunia datang mengerumuni dunia Islam Dari Tsauban r.a. Rasulullah saw. bersabda; ‘Hampir tiba suatu masa di mana bangsa-bangsa dan seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang-orang yang hendak makan mengerumuni talam hidangan mereka.’ Maka salah seorang sahabat bertanya, ’Apakah karena jumlah kami sedikit pada masa itu?’ Nabi saw. menjawab, ‘Bahkan kamu pada hari itu banyak sekali, tetapi kamu umpama buih di waktu banjir, dan Allah akan mencabut rasa takut terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan mencampakkan ke dalam hati kamu penyakit wahan. Seorang sahabat bertanya, ‘Apakah wahan itu hai Rasulullah?’ Nabi saww. nenjawab, ‘Cinta pada dunia dan takut pada mati.’ (HR. Abu Daud)

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN