Sabtu, 17 Mac 2018

ayat 110,111,112

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK ;
SURAH ALI-IMRAN 200AYAT, JUZ4

 Bis-mil-laahir-rahma-nir-rahim. Ayat 110 ,Kuntum khaira ummatin ukhrijat linna_si ta'muru_na bil ma'ru_fi wa tanhauna'anil munkari wa tu'minu_na billa_h(i), wa lau a_mana ahlul kita_bi laka_na khairal lahum, minhumul mu'minu_na wa aksaruhumul fa_siqu_n(a). 3:111 Ayat 111 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 111 Lay yadurru_kum illa_ aza_(n), wa iy yuqa_tilu_kum yuwallu_kumul adba_r(a), summa lu_ yunsaru_n(a). 3:112 Ayat 112 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 112 Duribat 'alaihimuz zillatu ainama_ suqifu_ illa_ bi hablim minalla_hi wa hablim minan na_si wa ba_'u_ bi gadabim minalla_hi wa duribat 'alaihimul maskanah(tu), za_lika bi annahum ka_nuyakfuru_na bi a_ya_tilla_hi wa yaqtulu_nal ambiya_'a bi gairi haqq(in),za_lika bima_ 'asau wa ka_nu_ ya'tadu_n(a).

 نْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتابِ لَكانَ خَيْراً لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفاسِقُونَ (110) لَنْ يَضُرُّوكُمْ إِلاَّ أَذىً وَإِنْ يُقاتِلُوكُمْ يُوَلُّوكُمُ الْأَدْبارَ ثُمَّ لَا يُنْصَرُونَ (111) ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلاَّ بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَباؤُ بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذلِكَ بِأَنَّهُمْ كانُوا يَكْفُرُونَ بِآياتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِياءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذلِكَ بِما عَصَوْا وَكانُوا يَعْتَدُونَ (112) “

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. 3:110). Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudharat kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan, celaan saja, dan jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri kebelakang (kalah). Kemudian mereka tidak mendapat pertolongan. (QS. 3:111). Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” (QS. 3:112)

 Allah swt. memberitahukan mengenai umat Muhammad, bahwa mereka adalah sebaik-baik umat seraya berfirman, kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaasi (“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.”) Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, mengenai ayat ini, kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaasi (“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,”) ia berkata: “Kalian adalah sebaik-baik manusia untuk manusia lain. Kalian datang membawa mereka dengan belenggu yang melilit di leher mereka sehingga mereka masuk Islam.” Demikian juga yang dikatakan Ibnu ‘Abbas, Mujahid, `Athiyyah al-Aufi, ‘Ikrimah, ‘Atha’, dan Rabi’ bin Anas. Karena itu Dia berfirman, ta’muruuna bil ma’ruufi wa tanHauna ‘anil munkari wa tu’minuuna billaaHi (“Menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah.”) Imam Ahmad meriwayatkan dari Durrah binti Abu Lahab, ia berkata ada seseorang berdiri menghadap Nabi, ketika itu beliau berada di mimbar, lalu orang itu berkata, ‘Ya Rasulullah, siapakah manusia terbaik itu?’ Beliau bersabda: `Sebaik-baik manusia adalah yang paling hafal al-Qur’an, paling bertakwa kepada Allah, paling giat menyuruh berbuat yang ma’ruf dan paling gencar mencegah kemunkaran dan paling rajin bersilaturahmi di antara mereka.” (HR. Ahmad) An-Nasa’i dalam kitab Sunan dan al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak meriwayatkan dari hadits Samak, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas, mengenai firman Allah: kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaasi (“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.”) Ia berkata: “Mereka itu adalah orang-orang yang berhijrah bersama Rasulullah dari Makkah menuju Madinah.” Yang benar bahwa ayat ini bersifat umum mencakup seluruh umat pada setiap generasi berdasarkan tingkatannya. Dan sebaik-baik generasi mereka adalah para Sahabat Rasulullah, kemudian yang setelah mereka, lalu generasi berikutnya. Sebagaimana firman-Nya, dalam ayat yang lain, wa kadzaalika ja’alnaakum ummataw wasathal litakuunu syuHadaa-a ‘alan naasi (“Dan demikian [pula] Kami telah menjadikan kamu [umat Islam], umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas [perbuatan] manusia.”) (QS. Al-Baqarah: 143) Dalam Musnad Imam Ahmad, , jaami’ at-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, dan Mustadrak al-Hakim, diriwayatkan dari Hakim bin Mu’awiyah bin Haidah, dari ayahnya, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Kalian sebanding dengan 70 (tujuh puluh) umat dan kalian adalah sebaik-baik dan semulia-mulia umat bagi Allah swt.” (Hadits di atas masyhur, dan dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi.) Umat ini menjadi sang juara dalam menuju kepada kebaikan tiada lain karena Nabinya, Muhammad saw. Sebab beliau adalah makhluk paling terhormat dan Rasul yang paling mulia di hadapan Allah swt. Beliau diutus Allah dengan syari’at yang sempurna nan agung yang belum pernah diberikan kepada seorang Nabi maupun Rasul sebelumnya. Maka pengamalan sedikit dari manhaj dan jalannya menempati posisi yang tidak dicapai oleh pengamalan banyak dari manhaj dan jalan umat lainnya. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Muhammad bin `Ali Ibnu al-Hanafiyah, bahwa ia pernah mendengar ‘Ali bin Abi Thalib berkata, Rasulullah bersabda: “Aku telah diberi sesuatu yang tidak diberikan kepada seorang Nabi pun.” Lalu kami bertanya: “Apakah sesuatu itu, ya Rasulallah?” Beliau bersabda: “Aku dimenangkan dengan ketakutan (musuh), aku diberi kunci-kunci bumi, diberikan kepadaku nama Ahmad, dan dijadikan tanah ini bagiku suci, serta dijadikan umatku ini sebagai umat yang terbaik.” (Melalui jalan tersebut hadits ini hanya diriwayatkan Ahmad dengan isnad hasan). Imam Ahmad meriwayatkan dari Dhamdham bin Zar’ah, ia berkata, Syuraih bin `Ubaidah berkata: Tsauban jatuh sakit di Himsha, dan Gubernur Himsha ketika itu ‘Abdullah bin Qarath al-Azdi, tidak menjenguknya. Lalu ada seseorang dari Kala’iyyin datang menjenguknya, Tsauban pun berkata kepada orang itu: “Apakah engkau bisa menulis?” “Bisa,” jawabnya. “Tulislah,” kata Tsauban. Maka ia pun menulis surat yang dikatakan Tsauban: Kepada al-Amir ‘Abdullah bin Qarath. Dari Tsauban, (pembantu) Rasulullah, amma ba’du. Seandainya Musa dan `Isa as. mempunyai seorang pembantu yang berada di dekatmu, maka tentulah engkau akan menjenguknya.” Kemudian Tsauban melipat suratnya, dan bertanya kepada orang itu: “Apakah engkau dapat mengirimkan kepadanya?” “Ya,” jawabnya. Maka orang itu berangkat dengan membawa surat tersebut dan menyerahkannya kepada Abdullah Ibnu Qarath. Ketika Ibnu Qarath melihatnya, maka ia pun bangkit dalam keadaan terkejut, lalu orang-orang pun bertanya: “Mengapa dia, apakah terjadi sesuatu?” Lalu ia berangkat mendatangi Tsauban dan menemuinya serta duduk di sisinya sejenak. Ketika ia bangkit, Tsauban pun memegang pakaiannya seraya berkata: “Duduklah sehingga aku dapat memberitahukan sebuah hadits yang pernah aku dengar langsung dari Rasulullah, beliau bersabda: “Akan masuk Surga dari umatku tujuh puluh ribu orang tanpa hisab dan adzab bagi mereka, setiap seribu orang disertai lagi tujuh puluh ribu orang.” Dengan jalan tersebut, hadits ini diriwayatkan Imam Ahmad sendirian. Dan sanad para perawinya tsiqat (dapat dipercaya), mereka dari orang-orang Syam dan Himsha, maka hadits ini adalah shahih. Abu Qasim ath-Thabrani meriwayatkan dari Abu Hazim, dari Sahlbin Sa’ad, bahwa Nabi bersabda: “Akan masuk Surga dari umatku tujuh puluh ribu orang atau tujuh ratus ribu orang, mereka saling bergandengan sehingga yang pertama masuk Surga bersama yang terakhir. Wajah mereka seperti bulan pada malam purnama.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Muslim bin al-Hajjaj meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, Sa’id bin Mashur, menceritakan kepada kami dari Hasyim, dari Hushain bin ‘Abdur-rahman, ia berkata, aku pernah bersama Sa’id bin Jubair, lalu ia bertanya: “Siapa di antara kalian yang melihat bintang jatuh tadi malam?” “Aku,” jawabku. Lalu kukatakan: “Adapun aku waktu itu tidak sedang mengerjakan shalat, tetapi aku tersengat.” Ia pun bertanya: “Lalu apa yang engkau lakukan?” “Aku bacakan rugyah (jampi-jampi),” jawabku. Kemudian ia bertanya: “Apa yang mendorongmu melakukan hal tersebut?” Aku katakan: “Sebuah hadits yangdiberitahukan kepada kami oleh asy-Sya’bi.” “Apa yang dikatakan asy-Sya’bi kepadamu?” Tanyanya lebih lanjut. Aku pun menjawab: “Kami diberitahu oleh Buraidah bin al-Hushaib al-Aslami, bahwa Rasulullah bersabda: “Telah diperlihatkan kepadaku berbagai umat, lalu aku melihat seorang Nabi yang bersamanya sekelompok orang, seorang Nabi lain yang bersamanya satu atau dua orang dan seorang Nabi yang tidak mempunyai seorang pengikutpun. Tiba-tiba muncul sekumpulan manusia yang sangat banyak, aku mereka itu adalah umatku. Lalu dikatakan kepadaku: “Ini adalah Musa dan kaumnya, tetapi lihatlah ke ufuk.” Kemudian aku melihat ke ufuk, ternyata ada sekumpulan umat dalam jumlah yang sangat besar. Selanjutnya dikatakan kepadaku: “Lihatlah ke ufuk yang lain.” Tiba-tiba ada kumpulan manusia dalam jumlah yang sangat besar pula, dan dikatakan kepadaku: “Itulah umatmu dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk Surga tanpahisab dan tanpa adzab.” Kemudian beliau bangkit dan memasuki rumahnya. Maka orang-orangpun beramai-ramai membicarakan mereka yang disebut masuk Surga tanpa hisab dan tanpa adzab tersebut. Sebagian mereka mengatakan: “Boleh jadi mereka itu adalah orang-orang yang menjadi Sahabat Rasulullah.” Sebagian lainnya mengatakan: “Mungkin juga mereka itu adalah orang-orang yang di-lahirkan pada masa Islam dan tidak menyekutukan Allah sedikit pun.” Mereka menyebutkan beberapa hal, hingga akhirnya Rasulullah keluar menemui mereka seraya bertanya: “Apa yang kalian perbincangkan?” Maka mereka pun memberitahukannya, kemudian beliau bersabda: “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak melakukan ruqyah dan tidak minta diruqyah, tidak berobat dengan kayy (besi panas) dan tidak bertathayyur, serta hanya kepada Allah mereka bertawakkal.” Ukkasyah bin Mihshan pun berdiri seraya berkata: “Mohonkanlah kepada Allah agar Dia berkenan menjadikanku termasuk golongan mereka.” Beliau menjawab: “Engkau termasuk salah satu dari mereka.” Selanjutnyaada orang lain berdiri lalu berkata: “Mohonkanlah kepada Allah agar aku juga termasuk dari mereka.” Beliau menjawab: “Engkau telah didahului oleh Ukkasyah.” (HR. Muslim) Dan al-Bukhari meriwayatkan dari Usaid bin Zaid, dari Hasyim, di dalam haditsnya tidak disebutkan kalimat “laa yarquuna” (Tidak melakukan ruqyah). Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, disebutkan sebuah hadits dari Abu Ishaq as-Subai’i, dari ‘Amr bin Maimun, dari ‘Abdullah binMas’ud, ia berkata, Rasulullah bersabda kepada kami: “Apakah kalian senang menjadi seperempat penghuni Surga?” Maka kami pun bertakbir. Lalu beliau bersabda: “Apakah kalian senang menjadi sepertiga penghuni Surga?” Kami pun bertakbir lagi. Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya aku sangat berharap kalian menjadi setengah penghuni Surga.” Abdurrazzaq meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Kami adalah umat terakhir, tetapi yang pertama pada hari Kiamat kelak. Kami adalah orang yang pertama kali masuk Surga, meskipun mereka diberikan Kitab sebelum kita, sedang kita diberi Kitab setelah mereka. Lalu Allah menunjukkan kepada kita kebenaran yang mereka perselisihkan, maka hari ini( hari Jum’at) yang mereka perselisihkan (diberikan untuk kita), manusia tentang hal ini mengikuti kita, sedangkan untuk Yahudi adalah besok (hari Sabtu), dan untuk Nasrani adalah lusa (hari Ahad).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Hadits-hadits di atas berkenaan dengan makna firman Allah: kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaasi ta’muruuna bil ma’ruufi wa tanHauna ‘anil munkari wa tu’minuuna billaaHi (“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah.”) Dengan demikian, barangsiapa dari umat ini yang memiliki sifat-sifat di atas, maka ia termasuk mereka yang mendapatkan pujian tersebut. Sebagaimana yang dikatakan Qatadah: “Pernah sampai kepada kami berita bahwa Umar bin al-Khaththab ra. ketika menunaikan ibadah haji, melihat di antara orang-orang itu hidup dalam ketenteraman, maka ‘Umar membaca ayat ini, kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaasi (“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untukmanusia,”) kemudian ‘Umar berkata: “Barangsiapa yang ingin menjadi bagian dariumat ini, maka ia harus memenuhi syarat yang telah ditetapkan Allah dalam ayat tersebut.” (HR. Ibnu Jarir) Dan barangsiapa tidak memiliki sifat-sifat tersebut di atas, maka ia seperti Ahlul Kitab yang dicela Allah melalui firman-Nya, kaanuu laa yatanaaHauna munkarin fa’aluuHu (“Mereka tidak saling melarang dari kemunkaran yang mereka lakukan.”) (QS.Al-Maa-idah: 79) Oleh karena itu, ketika Allah memberikan pujian kepada umat ini atas sifat-sifat yang dimilikinya, Dia pun mencela Ahlul Kitab seraya berfirman, wa law aamana aHlul kitaabi (“Seandainya Ahlul Kitab itu beriman.”) Yaitu beriman kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. La kaana khaira laHum min Humul mu’minuuna wa aktsara Humul faasiquun (“Niscaya hal itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada orang yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang fasik.”) Maksudnya, sedikit sekali dari mereka yang beriman kepada Allah swt. dan kepada apa yang diturunkan untuk mereka. Dan kebanyakan dari mereka berada dalam kesesatan, kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. Selanjutnya Allah memberitahukan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, sekaligus menyampaikan kabar gembira kepada mereka, bahwa kemenangan dan keberuntungan ada pada kaum mukminin terhadap Ahlul Kitab, yang kafir dan ingkar kepada Allah. Firman-Nya, laa yadluurrukum illaa adzaw wa iy yuqaatiluukum yuwalluukumul ad-baara tsumma laa yunsharuun (“Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudharat kepadamu selain dari gangguan-gangguan celaan saja. Dan jika mereka berperang melawanmu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang [kalah]. Kemudian mereka tidak mendapat pertolongan.”) Demikianlah yang terjadi. Pada peristiwa perang Khaibar, mereka benar-benar dihinakan oleh Allah dan dijadikan tidak berkutik. Demikian juga Ahlul Kitab sebelum mereka yang berada di Madinah, yaitu; Bani Qainuqa’, Bani Nadhir dan Bani Quraizhah, mereka semua dihinakan oleh Allah. Sama halnya dengan orang-orang Nasrani yang berada di Syam. Merekad itaklukkan oleh para Sahabat dan kekuasaan di Syam pun direbut dari mereka untuk selama-lamanya. Kekuatan kelompok Islam tetap terus berdiri tegak di Syam sampai turun `Isa bin Maryam pada akhir zaman, sedang mereka tetap dalam keadaan demikian, `Isa pun akan memimpin dengan agama Islam dan syari’at Muhammad. Beliau akan menghancurkan salib, membunuh babi, membatalkan jizyah dan tidak menerima selain Islam. Kemudian Allah berfirman: dluribat ‘alaiHimudz dzillatu aina maa tsuqifuu illaa bihablim minallaaHi wa hablim minan naasi (“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali [agama] Allah dan tali [perjanjian] dengan manusia.” Yakni Allah menetapkan kehinaan dan kerendahan kepada mereka. Di mana saja berada, mereka tidak akan merasa aman, illaa bi hablim minallaaHi (“Kecuali jika mereka berpegang kepada tali [agama] Allah.”) Maksudnya, dengan jaminan perlindungan Allah, yaitu berupa perjanjian ber-lakunya jaminan untuk mereka, pemberlakuan jizyah, serta penerapan hukum-hukum Islam terhadap mereka. Wa hablim minan naasi (“Dan tali [perjanjian] dengan manusia.”) Yakni jaminan keamanan dari manusia untuk mereka sendiri, seperti misalnya terhadap orang yang memiliki perjanjian perdamaian atau persekutuan, diberi jaminan keamanan oleh salah seorang dari kaum muslimin, meski hanya seorang wanita. Demikian pula seorang hamba sahaya, menurutsalah satu pendapat para ulama. Mengenai firman Allah: illaa bihablim minallaaHi wa hablim minan naasi (“Kecuali jika mereka berpegang kepada tali [agama] Allah dan tali [perjanjian] dengan manusia,”) Ibnu ‘Abbas berkata, Maksudnya adalah perjanjian Allah dan perjanjianmanusia. Demikian juga pendapat Mujahid, ‘Ikrimah, ‘Atha’, adh-Dhahhak,as-Suddi dan ar-Rabi’ bin Anas. Firman-Nya, wabaa-uu bi ghadlabim minallaaHi (“Dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah.”) Yakni mereka dipastikan mendapatkan murka dari Allah, dan mereka memang berhak mendapatkannya. Wa dluribata ‘alaiHimul maskanatu (“Dan mereka diliputi oleh kehinaan.”) Maksudnya, ditetapkan bagi mereka kehinaan sesuai dengan takdir dan hukum syari’at. Oleh karena itu Allah berfirman: dzaalika bi-annaHum kaanuu yakfuruuna bi-aayaatillaaHi wa yaqtuluunal anbiyaa-a bighairi haqqi (“Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar.”) Artinya, yang mendorong mereka melakukan hal tersebut adalah kesombongan, kesewenangan dan kedengkian, oleh karena itu mereka mendapatkan kehinaan, celaan dan kerendahan untuk selama-lamanya yang berlanjut sampai dengan kehinaan di akhirat. Selanjutnya Allah berfirman, dzaalika bimaa ‘ashau wa kaanuu ya’taduun (“Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.”) Artinya, bahwa yang menyeret mereka berbuat kufur terhadap ayat-ayat Allah dan membunuh para Rasul Allah adalah karena kebiasaan mereka (yang) banyak berbuat durhaka terhadap perintah Allah, senang bergelimang dalam kemaksiatan kepada Allah dan melanggar syari’at-Nya. Semoga Allah melindungi kita dari semua itu. Hanya Allah yang berhak menjadi tumpuan pertolongan.

Jumaat, 16 Mac 2018

ayat 104,105,106,107,108,109

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK;
SURAH ALI-IMRAN 200AYAT JUZ 4;

 Bis-mil-laa-hir-rahman-nir-rahim; Ayat 104 Waltakum minkum ummatuy yad'u_na ilal khairi wa ya'muru_na bil ma'ru_fi wa yanhauna 'anil munkar(i), wa ula_'ika humul muflihu_n(a). 3:105 Ayat 105 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 105 Wa la_ taku_nu_ kallazina tafarraqu_ wakhtalafu_ mim ba'di ma_ ja_'ahumul bayyina_t(u), wa ula_'ika lahum 'aza_bun 'azim(un). 3:106 Ayat 106 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 106 Yauma tabyaddu wuju_huw wa taswaddu wuju_h(un), fa ammal lazinaswaddat wuju_huhum, akafartum ba'da ima_nikum fa zu_qul 'aza_ba bima_ kuntum takfuru_n(a).

3:107 Ayat 107 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 107 Wa ammal lazinabyaddat wuju_huhum fa fi rahmatilla_h(i), hum fiha_ kha_lidu_n(a). 3:108 Ayat 108 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 108 Tilka a_ya_tulla_hi natlu_ha_'alaika bil haqq(i), wa malla_hu yuridu zulmal lil'a_lamin(a). 3:109 Ayat 109 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 109 Wa lilla_hi ma_ fis sama_wa_ti wa ma_ fil ard(i), wa ilalla_hi turja'ul umu_r(u).

 وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (104) وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جاءَهُمُ الْبَيِّناتُ وَأُولئِكَ لَهُمْ عَذابٌ عَظِيمٌ (105) يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذابَ بِما كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ (106) وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَتِ اللَّهِ هُمْ فِيها خالِدُونَ (107) تِلْكَ آياتُ اللَّهِ نَتْلُوها عَلَيْكَ بِالْحَقِّ وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْماً لِلْعالَمِينَ (108) وَلِلَّهِ مَا فِي السَّماواتِ وَما فِي الْأَرْضِ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ (109

 Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung. (QS. 3:104). Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat, (QS. 3:105). Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? karena itu rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu”. (QS. 3:106). Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (Surga); mereka kekal didalamnya. (QS. 3:107). Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya. (QS. 3:108). Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. (QS. 3:109).

 Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Kebajikan (al khair) adalah segala sesuatu yang mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kemurkaan-Nya. Ma'ruf: segala perintah Allah atau yang dianggap baik oleh syara' dan akal, sedangkan munkar adalah segala yang dilarang Allah atau yang dianggap buruk oleh syara' dan akal. Ayat ini merupakan petunjuk dari Allah kepada kaum mukmin, yakni hendaknya di antara mereka ada segolongan orang yang mau berdakwah dan mengajak manusia ke dalam agama-Nya. Termasuk ke dalamnya adalah para ulama yang mengajarkan agama, para penasehat yang mengajak orang-orang non muslim ke dalam Islam, orang yang mengajak orang-orang yang menyimpang agar dapat beristiqamah, orang-orang yang berjihad fi sabilillah, dewan hisbah (lembaga amr ma'ruf dan nahi munkar) yang ditunjuk pemerintah untuk memperhatikan keadaan manusia dan mengajak manusia mengikuti syara' seperti mengajak mereka mendirikan shalat lima waktu, berzakat, berpuasa, berhaji bagi yang mampu dan mengajak kepada syari'at Islam lainnya, demikian juga memperhatikan pasar, bagaimana timbangan dan takaran yang mereka gunakan apakah terjadi pengurangan atau tidak, serta melarang mereka melakukan kecurangan dalam bermu'amalah. Semua ini hukumnya fardhu kifayah. Bahkan tidak hanya itu, segala sarana yang menjadikan sempurna amr ma'ruf dan nahi munkar, sama diperintahkan, misalnya menyediakan perlengkapan jihad untuk dapat mengalahkan musuh, mempelajari ilmu agar dapat mengajak manusia kepada kebajikan, menuliskan buku-buku yang berisikan ajaran Islam, membangun madrasah untuk mengajarkan agama, membantu pihak berwenang (dewan hisbah) mewujudkan syari'at, dsb. Mereka inilah orang-orang yang beruntung, yakni memperoleh apa yang mereka inginkan dan selamat dari hal yang mereka khawatirkan. Pada ayat selanjutnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala melarang mereka bertasyabbuh (menyerupai) Ahli Kitab yang berpecah belah dalam beragama, terlebih perpecahan mereka terjadi setelah datang keterangan yang jelas. Allah swt. berfirman: wal takum minkum ummatuy yad’uuna ilal khairi wa ya’muruuna bil ma’ruufi wa yanHauna ‘anil munkari wa ulaa-ika Humul muflihuun (“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”) Adh-Dhahhak berkata: “Mereka itu adalah khusus para Sahabat, khusus para Mujahidin dan ulama.” Abu Ja’far al-Sair berkata, Rasulullah pernah membaca ayat: wal takum minkum ummatuy yad’uuna ilal khairi (“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan.”) Lalu beliau bersabda: “Kebajikan itu adalah mengikuti al-Qur’an dan Sunnahku.” (HR. Ibnu Mar-dawaih). Maksud ayat ini, hendaklah ada segolongan dari umat yang siap memegang peran ini, meskipun hal itu merupakan kewajiban bagi setiap individu umat sesuai dengan kapasitasnya, sebagaimana ditegaskan dalam kitab Shahih Muslim, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa melihat kemunkaran, maka hendaklah ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka hendaklah ia merubah dengan lisannya dan jika tidak mampu juga, maka hendaklah ia merubah dengan hatinya dan yang demikian itu merupakan selemah-lemah iman.” (HR. Muslim) Dalam riwayat lain disebutkan: “Dan setelah ketiganya (tangan, lisan, dan hati) itu, maka tidak ada lagi iman meskipun hanya sebesar biji sawi.” Imam Ahmad meriwayatkan dari Hudzaifah bin al-Yaman, bahwa Nabi pernah bersabda: “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaklah kalian menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran, atau Allah akan menyegerakan penurunan adzab untuk kalian dari sisi-Nya, lalu kalian berdo’a memohon kepada-Nya dan Dia tidak mengabulkannya untuk kalian.” (HR. At-Tirmidzidan Ibnu Majah. At-Tirmidzi berkata, hadits ini hasan). Dalam masalah ini terdapat banyak hadits dan ayat al-Qur’an, sebagai-mana yang akan kami kemukakan penafsirannya dalam masing-masing ayat. Selanjutnya Allah berfirman: wa laa takuunuu kal ladziina tafarraquu wakhtalafuu mim ba’di maa jaa-a Humul bayyinaaat (“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.”) Allah melarang umat ini menjadi seperti umat-umat yang terdahulu dalam perpecahan dan perselisihan mereka serta keengganan mereka menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, padahal hujjah sudah jelas bagi mereka. Dan firman-Nya, yauma tab-yadl-dlu wujuuHuw wa taswaddu wujuuH (“Pada hari yang pada waktu itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram.”) Yakni pada hari Kiamat kelak, ketika wajah Ahlussunnah wal Jama’ah putih berseri, sedangkan wajah ahlul bid’ah wal furqah (ahli bid’ah dan perpecahan) hitam muram. Demikian dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas.` Firman-Nya, fa ammal ladziins waddat wujuuHuHum akafartum ba’da iimaanikum (“Adapun orang-orang yang hitam muram wajahnya [kepada mereka dikatakan]: ‘Mengapa kamu kafir sesudah kamu beriman?’”) al-Hasan al-Bashri berkata: “Mereka itu adalah orang-orang munafik.” “Karena itu rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu.” Gambaran itu mencakup seluruh orang-orang kafir. Dan firman-Nya, wa ammal ladziinabyadl-dlat wujuuHuHum fa fii rahmatillaaHi Hum fiiHaa khaaliduun (“Adapun orang-orang yang putih berseri wajahnya, maka mereka berada dalam rahmat Allah [Surga], mereka kekal di dalamnya.”) Rahmat Allah yaitu Surga, mereka akan tetap tinggal di sana selamanya dan tidak ingin beranjak darinya sejenak pun. Setelah itu Allah berfirman, tilka aayaatullaaHi nat-luuHaa ‘alaika (“Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu.”) Maksudnya, inilah ayat-ayat, hujjah-hujjah dan penjelasan Allah yang Kami bacakan kepadamu, hai Muhammad, bil haqqi (“Dengan benar.”) Yakni, Kami menyingkapkan hakekat persoalannya di dunia dan di akhirat. Wa mallaaHu yuriidu dhulmal lil ‘aalamiin (“Dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya.”) Maksud-nya, Allah tidak berbuat zhalim terhadap mereka, bahkan Dia bertindak bijaksana dan adil yang tidak menyimpang, karena Dia berkuasa atas segala sesuatu, yang Mahamengetahui atas segala sesuatu, sehingga dengan demikian itu Dia tidak perlu berbuat zhalim terhadap hamba-hamba-Nya. Oleh karena Dia berfirman: wa lillaaHi maa fis samaawaati wa maa fil ardli (“Kepunyaan Allah segala itu, yang ada di langit dan di bumi.”) Semuanya itu adalah kepunyaan-Nya dan menjadi hamba-Nya. Wa lillaaHi turja’ul ‘umuur (“Dan kepada Allah dikembalikan segala urusan.”) Artinya, Dialah pengambil keputusan yang mengendalikan apa yang ada di dunia dan di akhirat.

Khamis, 15 Mac 2018

AYAT 103

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK SURAT ALI-IMRAN 200AYAT JUZ4 ALI-IMRAN:103 KESATUAN MEMEGANG TALI ALLAH

 وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

 Ayat 103 Wa'tasimu_ bi hablilla_hi jami'aw wa la_ tafarraqu_, wazkuru_ ni'matalla_hi'alaikum iz kuntum a'da_'an fa allafabaina qulu_bikum fa asbahtum bi ni'matihi ikhwa_na_(n), wa kuntum 'ala_ syafa_ hufratim minan na_ri fa anqazakum minha_, kaza_lika yubayyinulla_hu lakum a_ya_tihi la'allakum tahtadu_n(a).

 Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.Qs.3:103 1.

 Ayat sebelumnya menyerukan agar setiap orang mu`min bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa, serta jangan mati kecuali dalam keadaan muslim. Ayat selanjutnya memberikan bimbingan tentang cara menjadi mu`min sempurna antara lain berpegang pada tali Allah, menjalin persaudaraan, syukur ni’mat, membentuk umat yang terdiri dari berbagai satuan tugas. 2. Jika ayat 102 dikaji dari sudut langkah meraih kebahagiaan paripurna, maka ayat 103-104 merupakan rangkaian dari langkah iman, taqwa dan Islam. Tatkala Rasul SAW serta shahabatnya tiba di Madinah, kaum Aus dan Kahzraj merupakan kedua kelompok saling bermusuhan di jaman jahiliyah dapat disatukan menjadi bersaudara. Namun pada suatu saat ada perselisihan di anatar kedua kelompk itu hingga hamper terjadi tawuran. Ayat ini menyeru mereka agar tetap berpegang teguh pada tali Allah dengan persatuan, jangan terus bertengkar seperti jaman jahiliyah.[1] Ibnu al-Jauzi (508-597H) menerangkan bahwa بِحَبْلِ اللَّهِ memiliki beberapa pengertian antara lain: (1) kitab Allah, al-Qur`an sebagaimana diriwayat Syaqiq dari Ibn Mas’ud, yang disepekati Qatadah, al-Dlahak dan al-Suddi. (2) Jamaah semua muslimin sebagaimana dikemukakan oleh al-Sya’bi masih dari Ibn Mas’ud. (3) Agama Allah sebagaimana dikemukakan Ibn Abbas, Ibn Zaid yang menegaskan al-Islam, Muqatil, dan Ibn Qutaibah. (4) Janji dengan Allah, sebagaimana dikemukakan Mujahid, Atha. (5) al-Ikhlash, sebagaiman dikemukakan Abu al-Aliyah. (6) Perintah Allah dan kemestaian menaatinya, sebagaimana dikemuakan oleh Muqatil bin Hayan.[4] Menurut Abu al-S’ud, perkataan جَمِيْعًا berkedudukan sebagai keterangan keadaan yang diperintah oleh kalimat وَاعْتَصِمُوا, maka ma’nanya adalah مجتمعين في الاعتصام bersama-sama dalam berpegang teguh/ memegang teguh tali Allah secara berjamaah bersama-sama.[5] Istilah جَمِيْعًا bisa berma’na secara keseluruhan atau total berpedoman pada al-Qur`an, bisa juga berma’na semuanya atau bersama-sama. Rasul SAW bersabda:فَعَلَيْكَ بِالجَمَاعَةِ فَإنَّمَا يَأكُلُ الذِّئْبُ القَاصِيَة hendaklah kamu berjamaah. Sesunguhnya serigala itu memakan hewan yang memisahkan diri. Hr. Ibn Hibban.[6] عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَة

 Dari Abu Hurairah diriwayatkan dari Nabi SAW bersabda: Barangsiapa yang memisahkan diri dari taat dan dari jamaah maka mati seperti mati jahiliyah (Hr. Muslim ,)[7] Yang dimaskud dengan ke luar dari jamaah dalam hadits ini adalah murtad atau menjadi kafir. Berpegag pada jamaah berarti memegang teguh Islam secara bersama dalam kepemimpinan muslim. Rasul SAW bersabda: مَنْ رَأى مِنْ أمِيْرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِر فَإنه لَيْسَ أحَد يُفَاِرقُ الجَمَاعَة شِبْرا فَيَمُوتُ إلا مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِية Barangsiapa yang melihat pemimpin kurang disenangi bersabarlah. Sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari jamaah satu jengkal kemudian mati, maka seperti mati jahiliyah. Hr. al-Bukhari, [8] عن النبي صلى الله عليه وسلم قال السَّمْع والطَّاعَة عَلى المَرْءِ المُسْلِمِ فِيْمَا أحَبَّ وَكَرِه مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإذا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلا سَمْعَ ولا طَاعَة Rasul SAW bersabda: Taat dan patuhmerupakan kewajiban seorang muslim, baik dalam keadaan senang maupun tidak, sepanjang tidak diperintah ma’shiat. Jika diperintah ma’siat, maka tidak ada ketaatan dan kepatuhan baginya. Hr. al-Bukhari[9] Adapun pengertian jamaah adalah berpegang pada kebenaran. قال ابن مسعود: إن الجَمَاعَةَ مَا وَافَقَ طَاعَة الله Kata Ibn Mas’ud (w.32H) sesungguhnya jamaah itu adalah kesesuaian dengan taat pada Allah SWT. Al-Thabarani (w.360H)[10] Ketepatan jamaah tidak ditentukan oleh banyaknya anggota, tapi tepat atau tidaknya menjalankan ajaran al-Islam. Dalam riwayat lain Ibn Mas’ud menandaskan: الجَمَاعَة مَا وَافَقَ طَاعَةَ الله وَإنْ كُنْتَ وَحْدَك Jamah ialah kesesuaian dalam mentaati Allah SWT walau anda sendirian. Hibat Allah (w.418H)[11]. Berdasar definisi ini, jelaslah bahwa jamaah yang benar bukan ditentukan oleh jumlah anggotanya, tapi ditentukan oleh sesuai atau tidaknya dengan syari’ah. Orang yang menentang kebenaran berarti meninggalkan jamaah, walau berjumlah banyak. Orang yang tetap berada pada jalan yang benar berarti termasuk berjamaah, walau sendirian. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَفَرَّقَتْ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ أَوْ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَالنَّصَارَى مِثْلَ ذَلِكَ وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً Diriwayatkan dari Abi Hurairah bahwa rasul SAW bersabda: yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan atau tjuh puluh dua golongan, nashrani pun demikian. Sedangkan umatku menjadi tujuh puluh tiga kelompok. Hr. Abu Dawud dan al-Turmudzi. Dalam hadits lain ditandaskan: تَفْتَرِقُ هَذِهِ الأمَّة عَلَى ثَلاَثِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَة كُلُّهُم فِي النَّار إلا وَاحِدة قَالُوا وَمَا تِلْكَ الفِرْقَة قال مَا اَنَا عَلَيْه اليَوْم وَأصْحَابِي Umatku ini terdiri atas tujuh puluh tiga firqah yang semuanya masuk neraka kecuali satu saja. Shabat bertanya siapakah yang selamat itu? Rasul bersabda: yang sesuai dengan aku hari ini dan para shabatku. Al-Thabrani (w.360),[12] dalam riwayat Ibn Umar: كُلُّهُم فِي النَار إِلاَّ مِلَّة وَاحِدَة قَالوا مَا هِي قَالَ مَا أَنَا عَلَيْه وأصْحَابِي Semua masuk neraka kecuali agama yang satu. Shabat bertanya yang mana? Rasul bersabda; Agama yang ku pegang atasnya dan para shahabatku.

Hr.Al-Turmudzi (w.279 H) [13] Dengan demikian yang dimaksud tujuh puluh tiga golongan bukan berupa organisasi atau jam’iyah, tapi kelompok berbeda agama. Umat saat ini, agamanya berbeda-beda, hanya satu yang masuk surga yaitu yang mengikuti Rasul SAW dan shahabatnya, yaitu yang berpedoman pada al-Qur`an dan al-Sunnah. Dengan kata lain, orang yang meninggalkan al-Qur`an, al-Sunnah dan tidak mengikuti shahabat Rasul berarti telah meninggalkan jamaah. Adapun perbedaan faham dalam masalah keagamaan tidak bisa disatukan, yang penting jangan sampai tafaruq. عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ صَلَّى سُبْحَةَ الضُّحَى ثَمَانِ رَكَعَاتٍ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ إِنِّي صَلَّيْتُ صَلاةَ رَغْبَةٍ وَرَهْبَةٍ سَأَلْتُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ ثَلاث فَأَعْطَانِي ثِنْتَيْنِ وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً سَأَلْتُ أَنْ لاَ يَبْتَلِيَ أُمَّتِي بِالسِّنِينَ فَفَعَلَ وَسَأَلْتُ أَنْ لاَ يُظْهِرَ عَلَيْهِمْ عَدُوَّهُمْ فَفَعَلَ وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يَلْبِسَهُمْ شِيَعًا فَأَبَى عَلَيَّ Anas bin Malik menerangkan: Saya melihat rasul SAW pada sutau perjalanan melakukan shalat dluha delapan raaka’at. Tatkala selesai beliau bersabda: Sesungguhnya aku shalat dengan penuh harap dan cemas. Saya bermohon pada Tuhanku yang Maha Agung dengan tiga permohonan, tapi Ia hanya mengabulkan dua dan menolak satu. Aku mohon agar umatku jangan dilanda penderitaan oleh penyakit tua, Ia mengabulkannya. Aku mohon agar umatku tidak dikalahkan oleh musuhnya, Allah mengebulkan. Namun aku bermohon agar umatku berada pada satu pandangan tidak dilanda pengelompokan, Allah SWT menolaknya.

Hr. Ahmad (w.241H)dan al-Hakim [14] Hadits ini memberi isyarat bahwa perbedaan pendapat tidak akanm bisa dihilangkan. Adapun yang dilarang adalah tafarruq, bukan ikhtilaf. Iktilaf boleh, jangan menimbulkan tafarruq, tapi tetap berjamaah. Rasul SAW bersabda: وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ Jamaah itu mendatangkan rahmat, dan perpecahan mendatangkan siksa. Hr. Ahmad (w.241)[15] Antara jamaah dan tafarruq dapat digambarkan seperti berikut: Secara histories, ayat ini berkaitan dengan peringatan terhadap kaum khazraj dan kaum Aus yang sempat terprofokasi hingga hamper bermusuhan lagi. Mereka yang sebelum Islam bermusuhan, kemudian menjadi bersaudara terikat oleh ukhuwah Islamiyah. Kesatuan aqidah di antara mereka menjadi ni’mat yang sangat penting. Dengan demikian ni’mat mesti diingat dalam ayat ini adalah ni’mat Islam. Namun tentu saja pengertiannya berlaku umum, agar setiap mu`min selalu mengingat ni’mat yang telah Allah SWT berikan. Menurut al-Baydlawi ni’mat yang paling utama adalah hidayah dan taufiq hingga bahagia ber-Islam, senang berada pada jalan yang terang, dan terbebas dari pengaruh jahilyah yang menyesatkan.[16] Setiap manusia, di samping memiliki kekurangan, juga mempunyai kelebihan, di samping mengalami kesulitan, juga sering memperoleh keni’matan. Untuk meraih kebahagiaan hendaklah banyak mengingat ni’mat, jangan terlalu sering meningat-ingat kesulitan. Dengan banyak mengingat ni’mat akan terdorong untuk bersyukur. Orang yang bersyukur akan mandapatkan kebahagiaan dan berbagai kebaikan. Rasul SAW bersabda: عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ إِذَا أَصَابَهُ خَيْرٌ حَمِدَ اللَّهَ وَشَكَرَ وَإِنْ أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ حَمِدَ اللهَ وَصَبَرَ فَالْمُؤْمِنُ يُؤْجَرُ فِي كُلِّ أَمْرِهِ حَتَّى يُؤْجَرَ فِي اللُّقْمَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى فِي امْرَأَتِهِ Aku sangat kagum atas sifat orang mu`min. Jika ia meraih kebaikan, memuji Allah dengan hamdalah dan bersyukur. Bila terkena mushibat memuji Allah (dengan istirja) dan shabar, maka semuanya jadi pahala; bahkan satu suap yang diberikan pada istrinya mendatangkan pahala. Hr. Ahmad (w.241H), Ibn Humaid (w.249H)[17] Berdasar hadits ini, factor yang mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan, antara lain (1) syukur tatkala meraih ni’mat, (2) shabar tatkala terkena mushibat, (3) beramal sekecil apa pun bertujuan mengharapkan pahala atau imbalan hanya dari Allah.

Rabu, 14 Mac 2018

AYAT 102

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK,
SURAH ALI-IMRAN 200AYAT,JUZ-4,
 Bis-mill-laa-hir-rahman-nir-rahim;

Ayat 102 Ya_ ayyuhal lazina a_manuttaqulla_ha haqqa tuqa_tihi wa la_ tamu_tunna illa_ wa antum muslimu_n(a).

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

 Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Ibnu Murdawaih meriwayatkannya melalui hadis Yunus ibnu Abdul A'la, dari Ibnu Wahb, dari Sufyan As-Sauri, dari Zubaid, dari Murrah, dari Abdullah Ibnu Mas'ud yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. membaca firman-Nya: bertakwalah kalian kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya (Ali Imran: 102), —lalu beliau bersabda menafsirkannya— hendaknya Allah ditaati, tidak boleh durhaka kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya dan jangan ingkar kepada (nikmat)-Nya, dan selalu ingat kepada-Nya dan tidak melupakan-Nya. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya melalui hadis Mis'ar, dari Zubaid, dari Murrah, dari Ibnu Mas'ud secara marfu' (yakni sampai kepada Rasulullah Saw.). Kemudian Imam Hakim menuturkan hadis ini, lalu berkata, "Predikat hadis sahih dengan syarat Syaikhain, tetapi keduanya tidak mengetengahkannya." Demikianlah menurut penilaian Imam Hakim. Tetapi menurut pendapat yang kuat, predikatnya adalah mauquf (hanya sampai pada Ibnu Mas'ud saja). Dalam tafsir Al Jalaalain disebutkan, bahwa ketika turun ayat ini, ada yang merasa keberatan, maka dimansukhlah dengan ayat "fattaqullah mas tatha'tum" (Maka bertakwalah kepada Allah semampu kamu) surat At Taghabun: 16, wallahu a'lam.dalam riwayat ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Ayat tersebut tidak dinasakh, tetapi yang dimaksud ‘takwa yang sebenar-benarnya’ adalah berjihad di jalan Allah sebenar-benar jihad dengan tidak merasa takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela, berlaku adil meskipun terhadap diri mereka sendiri, orang tua dan anak-anak mereka.” dari riwayat hadis Imam Ahmad meriwayatkan dari Mujahid, bahwa: “Ketika orang-orang sedang mengerjakan thawaf di Baitullah, Ibnu ‘Abbas sedang duduk dengan memegang tongkat, kemudian ia berkata, Rasululullah saw. bersabda: “Wahai sekalian orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu meninggal dunia melainkan kamu dalam keadaan Islam.

    Seandainya setetes zagqum jatuh ke dunia, maka ia akan merusak kehidupan penghuninya. Lalu bagaimana bagi orang yang tidak mempunyai makanan kecuali zaqqum?” Demikian pula diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya dan al-Hakim dalam al-Mustadrak, melalui beberapa jalan dari Syu’bah. At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.” Sedangkan menurut al-Hakim, hadits ini shahih sesuai dengan persyaratan al-Bukhari dan Muslim, tetapi keduanya tidak mengeluarkan. Imam Ahmad meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Waki’ dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata, Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa yang ingin dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka jagalah supaya ketika kematiannya tiba ia berada dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, serta mendatangi orang-orang dengan cara yang ia inginkan ketika didatangi.” (HR. Ahmad)

Selasa, 13 Mac 2018

ayat 100-101

Tafsir quran dan hadis tabaruk,.
Ali-imran 200ayat juz4;

 Biss-mil--laaa-hir-rahman-nir-rahim-Ayat 100

Ya_ ayyuhal lazina a_manu_ in tuti'u_ fariqam minal lazina u_tul kita_ba yaruddu_kum ba'da ima_nikum ka_firin(a).Ayat 101 Wa kaifa takfuru_na wa antum tutla_ 'alaikum a_ya_tulla_hi wa fikum rasu_luh(u_), wa may ya'tasim billa_hi faqad hudiya ila_ sira_tim mustaqim(in).

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقاً مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمانِكُمْ كافِرِينَ (100) وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلى عَلَيْكُمْ آياتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلى صِراطٍ مُسْتَقِيمٍ (101)

    Hai orang-orang yang beriman, jika kalian mengikuti sebagian orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi orang kafir sesudah kalian beriman. Bagaimanakah kalian (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

        Sebab turunnya dua ayat ini: Bahwasanya Syas bin Qais al-Yahudi berjalan melewati majelis pertemuan yang didalamnya terdapat segolongan kaum Aus dan Khazraj yang sedang bercakap-cakap. Lalu Syas duduk bersama mereka. Ia marah melihat persatuan dan keakraban mereka setelah sebelumnya pada masa jahiliah mereka terpecah belah dan saling berselisih. Ia berkata dalam hati, “Mengapa kita harus bersama mereka apabila mereka telah bersatu dalam ketentraman?” Ia pun memanggil seorang pemuda untuk mengingatkan mereka akan hari Bu’ats (hari dimana kaum Aus dan Khazraj bertempur, dengan kemenangan berpihak kepada Aus) berikut syair-syair yang dikumandangkan pada hari itu. Akibatnya, kaum Aus dan Khazraj bertengkar, mereka saling membanggakan diri dan hendak menyelesaikannya dengan pedang dan senjata. Hal tersebut sampai terdengar oleh Rasulullah saw. Beliau keluar menemui mereka bersama kaum Muhajirin. Beliau bersabda, “Wahai sekalian kaum Muslimin, Allah, Allah, akankah kalian bertengkar karena tuntutan perkara jahiliah sedangkan aku ada di antara kalian?” Beliau menasehati mereka. Akhirnya mereka mengetahui bahwa penyebabnya adalah godaan setan. Mereka melemparkan senjata lalu menangis dan saling berpelukan. Mereka beranjak pergi bersama Rasulullah saw dengan sikap mendengarkan (sabda beliau) dan taat (kepadanya). Lalu Allah menurunkan ayat-ayat tersebut terkait dengan Syas dan tindakan yang dilakukannya. Allah Swt. memperingatkan hamba-hamba-Nya yang mukmin agar jangan sampai taat kepada kemauan segolongan Ahli Kitab yang selalu dengki terhadap kaum mukmin, karena kaum mukmin telah mendapat anugerah dari Allah berkat kemurahan-Nya, dan telah mengutus Rasul-Nya kepada mereka.

       Dalam ayat yang lain disebutkan oleh firman-Nya: وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمانِكُمْ كُفَّاراً حَسَداً مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran seielah kalian beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri. (Al-Baqarah: 109) Sedangkan di dalam ayat ini disebutkan: {إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ} jika kalian mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi kafir sesudah kalian beriman. (Ali Imran: 100) Kemudian Allah Swt. berfirman: {وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ} Bagaimanakah kalian (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? (Ali Imran: 101) Yakni kekafiran sangat jauh dari kalian dan semoga Allah menjauhkan kalian darinya. Karena sesungguhnya ayat-ayat Allah terus-menerus diturunkan kepada Rasul-Nya malam dan siang hari, sedangkan beliau Saw. membacakannya kepada kalian dan menyampaikannya. Makna ayat ini sama dengan ayat lainnya, yaitu firman-Nya: وَما لَكُمْ لَا تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ لِتُؤْمِنُوا بِرَبِّكُمْ وَقَدْ أَخَذَ مِيثاقَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ Dan mengapa kalian tidak beriman kepada Allah, padahal Rasul menyeru kalian supaya kalian beriman kepada Tuhan kalian. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjian kalian jika kalian adalah orang-orang yang beriman. (Al-Hadid: 8) J uga sama dengan makna yang terkandung di dalam sebuah hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepada para sahabatnya di suatu hari: «أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَعْجَبُ إِلَيْكُمْ إِيمَانًا؟» قَالُوا: الْمَلَائِكَةُ. قَالَ: «وَكَيْفَ لَا يُؤْمِنُونَ وَهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ» ؟ وَذَكَرُوا الْأَنْبِيَاءَ، قَالَ «وَكَيْفَ لَا يُؤْمِنُونَ وَالْوَحْيُ يَنْزِلُ عَلَيْهِمْ؟» قَالُوا: فَنَحْنُ. قَالَ «وَكَيْفَ لَا تُؤْمِنُونَ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟» قَالُوا: فَأَيُّ النَّاسِ أَعْجَبُ إِيمَانًا؟ قَالَ: «قَوْمٌ يَجِيئُونَ مِنْ بَعْدِكُمْ يَجِدُونَ صُحُفًا يُؤْمِنُونَ بِمَا فِيهَا» "Orang mukmin manakah yang paling kalian kagumi keimanannya?" Mereka menjawab, "Para malaikat." Nabi Saw bersabda, "Mengapa mereka tidak beriman, padahal wahyu selalu diturunkan kepada mereka." Mereka berkata, "Kalau demikian, kamilah." Nabi Saw. bersabda, "Mengapa kalian tidak beriman, padahal aku berada di antara kalian." Mereka bertanya, "Maka siapakah yang paling dikagumi keimanannya, kalau demikian?" Nabi Saw. menjawab, "Suatu kaum yang datang sesudah kalian. Mereka menjumpai lembaran-lembaran (Al-Qur'an), lalu mereka beriman kepada apa yang terkandung di dalamnya." Kami mengetengahkan sanad hadis ini dan juga keterangan mengenainya pada permulaan syarah Imam Bukhari. ***************** Kemudian Allah Swt. berfirman: {وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ} Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang benar. (Ali Imran: 101) Yakni selain dari itu berpegang teguh kepada agama Allah dan bertawakal kepada-Nya menipakan sumber hidayah dan sekaligus sebagai penangkal dari kesesatan, sebagai sarana untuk mendapat bimbingan, beroleh jalan yang lurus, dan mencapai cita-cita yang didambakan.

Isnin, 12 Mac 2018

Ayat 98-99

Tafsir quran dan hadis tabaruk Surah Ali ‘Imraan ayat 98-99
 Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan) Surah Madaniyyah;
surah ke 3: 200 ayat

98* قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ شَهِيدٌ عَلَىٰ مَا تَعْمَلُونَ
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتابِ لِمَ تَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ تَبْغُونَها عِوَجاً وَأَنْتُمْ شُهَداءُ وَمَا اللَّهُ بِغافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ*99

 “Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Mahamenyaksikan apa yang kamu kerjakan.’ (QS. 3:98). Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan.’ Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. 3:99) I

Ini merupakan kecaman keras dari Allah bagi orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab, atas keengganan mereka menerima kebenaran dan kekafiran mereka terhadap ayat-ayat Allah, serta tindakan mereka menghalang-halangi dari jalan Allah terhadap orang-orang beriman yang hendak menuju Allah dengan menggunakan segala daya dan kekuatan mereka. Padahal mereka mengetahui bahwa apa yang dibawa Rasulullah adalah haq dari Allah dan mereka pun mempunyai pengetahuan tentang para Nabi dan Rasul terdahulu serta kabar gembira yang disebutkan dan disampaikan kepada mereka mengenai kedatangan Nabi yang buta huruf, dari Bani Hasyim, berbangsa Arab dan berasal dari Makkah, pemimpin anak keturunan Adam,

Nabi terakhir, Rasul Allah pemelihara langit dan bumi. Allah mengancam mereka atas hal itu, serta memberitahukan bahwa Dia menyaksikan apa yang mereka perbuat, karena tindakan mereka menyalahi apa yang ada di tangan mereka dari para Nabi, serta perlakuan mereka terhadap Rasul yang diberitakan dengan berita gembira dengan pendustaan, pengingkaran dan pembangkangan. Lalu Allah memberitahukan bahwa Dia sama sekali tidak pernah lengah dan lalai atas apa yang mereka kerjakan, artinya Dia akan memberikan balasan yang setimpal atas perbuatan mereka. Yauma laa yanfa-‘u maaluw wa laa banuun (“Pada hari di mana harta dan anak-anak tidak lagi bermanfaat.”) (QS. Asy-Syu’araa: 88) &

Ahad, 11 Mac 2018

ayat 96-97

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK,
ALI-IMRAN 200AYAT.JUZ4
Bis-mil-laaa-hir-rahman-nir-rahim., Ayat 96 Quran,

Surah Al-i'Imran, Ayat 96 Inna awwala baitiw wudi'a linna_si lallazi bi bakkata muba_rakw wa hudal lil'a_lamin(a).Ayat 97 Fihi a_ya_tum bayyina_tum maqa_mu ibra_him(a), wa man dakhalahu_ ka_na a_mina_(n), wa lilla_hi 'alan na_si hijjul baiti manistata_'a ilaihi sabila_(n), wa man kafara fa innalla_ha ganiyyun 'anil 'a_lamin(a). “

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (QS. 3:96). Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. 3:97)

 Allah memberitahukan, bahwa Baitullah adalah rumah yang pertama kali dibangun untuk umat manusia secara keseluruhan bagi kepentingan ibadah dan haji mereka, di sana mereka mengerjakan thawaf, shalat dan beri’tikaf, yaitu lilladzii bibakkata (“Yang terletak di Makkah.”) Yakni Ka’bah yang dibangun Ibrahim Khalilullah as. yang masing-masing kelompok dari Nasrani dan Yahudi mengaku bahwa mereka mengikuti agamanya dan berjalan pada jalannya, tetapi mereka tidak mengerjakan ibadah haji di Baitullah yang didirikan Ibrahim atas perintah Allah dan ia menyerukan kepada umat manusia untuk mengerjakan ibadah haji di sana. Oleh karena itu Dia berfirman, mubaarakan (“Yang diberkahi.”) Artinya dibangun dengan disertai pelimpahan berkah. Wa Hudal lil ‘aalamiin (“Dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”) Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu, aku berkata: “Ya Rasulullah, masjid apa yang pertama kali didirikan?” Beliau bersabda: “Masjidil Haram.” “Kemudian masjid apa lagi?” Tanyaku. Beliau bersabda: “Masjidil Aqsha.” “Berapa lama jarak antara keduanya?” Tanyaku. Beliau pun menjawab: “Empat puluh tahun.” Lalu kutanyakan lagi: “Kemudian yang mana lagi?” Beliau menjawab: “Kemudian dimana pun waktu shalat tiba, maka shalatlah di sana, karena semua bumi ini adalah masjid.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Firman-Nya, lilladzii bibakkata (“Yang terletak di Bakkah [Makkah].”) Bakkah adalah salah satu nama kota Makkah, menurut pendapat yang masyhur. Disebut demikian karena tempat ini membuat banyak orang zhalim dan tiran bersimpuh dan menundukkan diri di sana. Qatadah berkata: “Sungguh Allah menjadikan umat manusia berdesak-desakkan di tempat ini, sampai kaum wanita mengerjakan shalat di depan kaum pria, di mana hal itu tidak terjadi di tempat lain.” Demikian pula diriwayatkan dari Mujahid, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Amr bin Syu’aib dan Muqatil bin Hayyan. Hamad bin Salamah menyebutkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Makkah mulai dari al-Fajj sampai Tan’im, sedang Bakkah mulai dari Baitullah sampai al-Bathha’.” Para ulama menyebutkan bahwa Makkah mempunyai banyak nama, di antaranya: Makkah, Bakkah, al-Baitul ‘Atiq, al-Baitul Haram, al-Baladul Amin wal Ma’mun, Ummu Rahm, Ummul Qura, Shalah, al-‘Arsy, dan al-Qadis, karena menyucikan dari segala macam dosa, al-Muqaddasah, an-Nasah, al-Basah, al-Hathimah, ar-Ra’s, Kautsa, al-Baldah, al-Bunyah dan al-Ka’bah. Firman-Nya, fiiHi aayaatum bayyinaat (“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata.”) Maksudnya, bukti-bukti yang jelas bahwa ia dibangun oleh Ibrahim, dan Allah telah mengagungkan Berta memuliakannya. Selanjutnya Dia berfirman, maqaamu ibraaHiima (“Maqam Ibrahim.”) Yakni, sebuah tempat yang ketika bangunan tersebut meninggi, ia menggunakannya sebagai pijakan untuk membangun tinggi tiang-tiang dan dinding-dindingnya, pada pijakan ia (Ibrahim) berdiri dengan dibantu oleh puteranya, Isma’il. Sebelumnya, maqam itu menempel pada dinding Baitullah, kemudian dimundurkan ke arah timur oleh ‘Umar bin al-Khaththab pada masa pemerintahannya, sehingga memudahkan thawaf dan tidak mengganggu orang-orang yang shalat di sisinya seusai thawaf. Karena Allah telah memerintahkan kita untuk shalat di sana, ketika Dia berfirman, wat takhidzuu mim maqaami ibraaHiima mushallaa (“Dan jadikanlah maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.”) Mengenai hal ini, telah kami sebutkan beberapa hadits sehingga tidak perlu mengulanginya kembali di sini. Dan segala puji hanya bagi Allah. Firman Allah, fiiHi aayaaatum bayyinaatum maqaamu ibraaHiima (“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata,”) al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, “Maksudnya, di antara tanda-tandanya itu adalah Maqam Ibrahim dan beberapa tempat ibadah haji.” Mujahid berkata: “Bekas telapak kedua kaki Ibrahim as. yang terdapat pada maqam itu merupakan tanda yang nyata.” Demikian pula diriwayatkan dari ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, al-Hasan, Qatadah, as-Suddi, Muqatil bin Hayyan dan ulama lainnya. Sedangkan Abu Thalib dalam qasidahnya, “al-Lamiyah” menyebutkan: Pijakan Ibrahim pada batu yang masih basah, Di atas kedua kakinya yang tidak beralas kaki. Mengenai firman-Nya: maqaamu ibraaHiima (“Maqam Ibrahim,”) Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Tanah haram seluruhnya adalah Maqam Ibrahim.” Dan firman-Nya, wa man dakhalaHuu kaana aaminan (“Barangsiapa memasukinya [Baitullah itu] maka ia akan aman.”) Yakni tanah haram Makkah. Jika orang yang berada dalam ketakutan memasukinya, maka ia akan aman dari segala macam kejahatan. Hal itu juga yang terjadi pada masa Jahiliyyah, sebagaimana yang disebutkan al-Hasan al-Bashri dan ulama lainnya, “Pernah ada orang yang telah membunuh, lalu ia meletakkan pada lehernya sepotong bulu domba dan memasuki kota Makkah, jika di sana bertemu dengan anak orang yang dibunuhnya tadi, maka anak orang itu tidak menyerangnya sehingga ia keluar.” Mengenai firman-Nya: wa man dakhalaHuu kaana aaminan (“Barangsiapa memasukinya [Baitullah itu] maka ia akan aman.”) Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Maksudnya, barangsiapa berlindung di Baitullah, maka ia terlindungi olehnya tetapi ia tidak diberi tempat, makan dan minum. Namun jika keluar darinya, maka ia dihukum sesuai kesalahannya.” Allah swt. berfirman yang artinya: “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok.” (QS. Al-‘Ankabuut: 67) Dan di antara hal yang diharamkan di sana, adalah berburu binatang buruan dan menghalaunya dari sarangnya, menebang pohon dan mencabuti rumputnya, sebagaimana telah ditegaskan dalam beberapa hadits dan atsar yang diriwayatkan dari sejumlah Sahabat sebagai hadits marfu’ dan mauquf. Dari ‘Abdullah bin `Adi bin al-Hamra’ az-Zuhri, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda ketika beliau berdiri di al-Harurah, sebuah pasar di Makkah: “Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah bumi Allah yang paling baik dan bumi Allah yang paling dicintai-Nya. Sekiranya aku tidak dikeluarkan darimu, niscaya aku tidak akan pergi.” Hadits ini diriwayatkan Imam Ahmad dengan lafazh di atas. Juga diriwayatkan at-Tirmidzi dan an-Nasa’i serta Ibnu Majah. Menurut at-Tirmidzi, hadits ini hasan shahih, begitu pula ia menshahihkan hadits semisal dari Ibnu Abbas. Hal senada juga diriwayatkan Imam Ahmad dari Abu Hurairah. Firman-Nya: wa lillaaHi ‘alannaasi hijjul baiti manistathaa-‘a ilaiHis sabiilan (“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.”) Menurut jumhur ulama, ini adalah ayat yang menunjukkan kewajiban haji. Telah banyak hadits yang menyebutkan bahwa ibadah haji adalah salah satu rukun, sendi dan asas Islam. Kaum muslimin pun telah berijma’ atas hal tersebut secara tegas. Hanya saja diwajibkan kepada orang mukallaf satu kali saja seumur hidup berdasarkan nash dan ijma’. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah pernah berkhutbah kepada kami dan bersabda: “Wahai sekalian manusia, telah diwajibkan haji kepada kalian, maka kerjakanlah haji.” Kemudian salah seorang (namanya al-Aqra’ bin Habis) menanyakan: “Apakah setiap tahun, ya Rasulullah?” Kemudian beliau diam hingga orang itu menanyakannya tiga kali. Lalu Rasulullah menjawab: “Seandainya aku katakan ya, maka ia wajib dan kalian tidak akan mampu mengerjakannya.” Selanjutnya beliau bersabda: “Biarkan aku sendiri mentetapkan untuk kalian sebab sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian dikarenakan mereka banyak bertanya dan berselisih terhadap para Nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu, maka kerjakanlah sesuai dengan kemampuan kalian. Dan jika aku melarang sesuatu, maka tinggalkanlah.” (HR. Muslim). Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan dari Suraqah bin Malik, is berkata: “Ya Rasulullah, engkau perintahkan haji tamattu’ kepada kami untuk tahun ini saja atau untuk selamanya?” Beliau bersabda: “Tidak, tetapi untuk selamanya.” Dalam Musnad Imam Ahmad dan Sunan Abu Dawud disebutkan hadits dari Waqid bin Abu Waqid al-Laitsi, dari ayahnya, bahwa Rasulullah pernah mengatakan kepada isteri-isterinya pada ibadah hajinya ini: “Kemudian mereka (kaum wanita) menetapi tikar hamparannya maksudnya tetaplah kalian pada tikar kalian dan janganlah kalian tidak keluar dari rumah.” Sedangkan Istitha’ah (kemampuan) terdapat beberapa macam, terkadang seseorang itu mampu dengan dirinya sendiri dan terkadang mampu karena bantuan orang lain, sebagaimana yang telah ditetapkan dalam kitab-kitab fiqih. Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Bersegeralah mengerjakan haji yaitu haji yang wajib karena salah seorang di antara kalian tidak mengetahui apa yang akan menghalanginya.” Imam Ahmad meriwayatkan pula dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang ingin mengerjakan ibadah haji, maka hendaklah ia bersegera (melaksanakannya).” (HR. Abu Dawud). Mengenai firman-Nya: manistathaa-‘a ilaiHis sabiilan (“Yaitu [bagi] orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah,”) Waki’ dan Ibnu jarir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Barangsiapa memiliki tiga ratus dirham, berarti ia telah mampu mengadakan perjalanan untuk ibadah haji ke Baitullah.” Firman-Nya: wa man kafara fa innallaaHa ghaniyyun ‘anil ‘aalamiin (“Barangsiapa mengingkari [kewajiban haji], maka sesungguhnya Allah Mahakaya [tidak memerlukan sesuatu] dari semesta alam ini.”) Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan ulama lainnya, berkata: “Maksudnya, barangsiapa mengingkari kewajiban ibadah haji, berarti ia telah kafir. Dan Allah tidak butuh terhadapnya.” Sa’id bin Mansyur mengatakan dari Sufyan dari Ibnu Abi Najih dari ‘Ikrimah, ia berkata, ketika turun ayat, wa may yabtaghi ghaira islaami diinan falay yuqbala minHu (“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima [agama itu] darinya,”) (QS. Ali-‘Imran: 85) orang-orang Yahudi me-ngatakan: “Kamipun orang-orang Islam.” Lalu Allah menurunkan firman-Nya untuk membantah dan menghujat mereka. Yakni Nabi bersabda kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kaum muslimin beribadah haji ke Baitullah bagi orang yang sanggup menunaikannya.” Maka mereka berkata, “Haji itu tidak diwajibkan kepada kami.” Dan mereka pun menolak mengerjakan ibadah haji. Dan Allah berfirman, wa man kafara fa innallaaHa ghaniyyun ‘anil ‘aalamiin (“Barangsiapa mengingkari [kewajiban haji], maka sesungguhnya Allah Mahakaya [tidak memerlukan sesuatu] dari semesta alam ini.”)

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN