TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat
Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 5
Innalla_ha la_ yakhfa_ 'alaihi syai'un fil ardi wa la_ fis sama_'(i).Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 6 .Huwal lazi yusawwirukum fil arha_mi kaifa yasya_'(u), la_ ila_ha illa_ huwal 'azizul hakim(u).
إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ
{ هُوَ الذي يُصَوِّرُكُمْ فِي الأرحام كَيْفَ يَشَاءُ } من ذكورة وأنوثة وبياض وسواد وغير ذلك { لاَ إله إِلاَّ هُوَ } في ملكه { العليم الحكيم } في صنعه
TERJEMAHAN MELAYU; Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.. Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali ‘Imraan: 5-6)
TAFSIR MELAYU;AYAT5-6 Disebutkan hanya bumi dan langit, karena penglihatan manusia tidak dapat melebihinya.sebagai mana penglihatan rasulullah ketika di malam israq wal midraq , rasulullah menghadap allah dan kelihatan jelas wajjah allah namun penglihatan seorang hamba yakni insan terbatas sebagai mana melihat matahari yang terang bersinar pun penglihatan manusia terbatas dari kemampuan .,., jelas sekali ayat ini menerangkan bahawa tiada sesuatu mahluk yang ujud melaikan dia lah allah yang ujud di sebalik segala sesuatu pergerakan penglihatan pendengaran dan setiap detik dan saat waktu hanya bagi nya lah allah penentu takdir tiap mahluk ciptaan nya .,,. sebaik dari sebesar zarah hingga sebesar besar mahluk ,. sebaik baik mahluk bejirim ketulan hingga mahluk beraqrod anggin atau cahaya,..,,. namun apa yang jelas pada ayat ali imran ke5ini allah inggin menyatakan bahawasanya allah adalah tempat pengaduan tempat meminta tem pat penggan tugan tiap mahluk baik di langgit atau di bumi,. sebagai mana penjelasan hadis di bawah bersa bda rasulullah sawt;
Untuk memahami konsep takdir, jadi umat Islam tidak dapat melepaskan diri dari dua dimensi pemahaman takdir.
TERJEMAHAN MELAYU MENURUT HADIS;AYAT5-6;-Kedua dimensi dimaksud ialah dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan
Pada masa nubuah,wujud"Lauh"yang dikenal oleh para sahabat adalah sebidang papan atau tulang yang biasa ditulisi.Papan dan tulang itu hanya disebut Lauh jika sudah ditulisi.Sedangkan "Qalam"adalah alat tulis atau pena. Pada masa itu"Qalam"berupa bulu unggas yang dipakai untuk menulis setelah dicelupkan ke tinta terlebih dahuluatau sebatang ranting/ kayu yang diruncingkan untuk mengores "Lauh". Demikianlah penggambaran yang diberikan oleh Ibnu Manzhur dalam kitab "Lisanul Arab".
Mengenai Lauh Mahfuzh (Lauh yang selalu dijaga) dan pena yang telah menulisinya ada sebuah atsar marfu'dari Ibnu 'Abbas .Beliau berkata,"sesungguhnya Allah menciptakan Lauh Mahfuzh dari mutiara putih. Kedua sampulnya dari permata yaqut merah.Qalamnya adalah cahaya,tulisanya adalah cahaya, dan lebarnya sejarak antara langit dan bumi,"
Tulisan pada Lauh Mahfuzh
Takdir Allah untuk setiap dan semua mahluk bresifat azali. Sebelum Allah menciptakan semua mahluk-temasuk Qalam dan Lauh Mahfuzh-Allah sudah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh setiap makhluk. Kemudian pada masa 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi Allah mencitakan Qalam,lalu diperintahkanya Qalam untuk menulis semua takdir. Hal ini dapat kita pahami dari kedua hadist berikut ini:
"Allah menulis takdir pada mahkluk 50.000 tahun sebelum diciptakanya semua langit dan bumi."(H.R.Muslim dari Abdullah bin 'Amru bin 'Ash)
"mahluk kedua setelah nur muhamat yang diciptakan oleh Allah adalah pena (qalam).Allah berfirman,'Tulislah!'Pena(qalam) menjawab,'Apa yang aku tulis?'Allah berfirman,'Tulislah takdir yang telah terjadi dan akan terjadi selamanya!'."(H.R.at-Tirmidziy dan dinyatakan shahih oleh al-Albaniy)
Hal ini juga telah Allah terangkan di dalam al-Qur'an. Allah berfirman,
"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kamami menciptakanya.Sesungguhnya Allah mengetahuinya apa saja yang ada dilangit dan dibumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh).Sesungguhya yang demikian itu amat mudah bagi Allah."(Q.S.al-Hajj:70)
Apa yand terjadi diseluruh alam dijadikan oleh Allah dengan iradah dan masyiah-Nya yang berporos pada rahmat dan hikmah-Nya. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki tersesat dengan hikmahNya.semua itu dan semua takdir telah ditulis didalam Lauh Mahfuzh.tidak ada seorang pun yang terlewatkan.Apa yang telah terjadi dan akan terjadi sampai hari kiamat. Dan saat kejadianya,semuanya persis seperti apa yang tertulis disana. Tidak sesuatu pun yang bergeser.Ini adalah bukti kesempurnaan ilmu,kuasa dan hikmah Allah.
Memahami Takdir Illahi sebagai mana penjelasan ayat ali imran 5. Di dalam memahami takdir Illahi, setiap manusia harus merujuk pada apa yang terdapat dalam Rukun Iman yang telah di paparkan dalam Hadis Rasulullah Saw yakni Percaya pada Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari akhir dan percaya pada Qada dan Qadar-Nya. Keenam poin yang termaktup dalam Rukun Iman di atas harus kita yakini seyakin-yakinya, guna melahirkan dan menumbuhkan ketabahan dan kesabaran yang penuh di dalam menerima ujian dan cobaan dari Allah Swt, karena tidak ada manusia yang tidak luput dari cobaan dan ujian. Dan mewujudkan kepercayaan yang tinggi bahwa dalam penciptaan manusia, Allah Swt menetapkan apa yang di sebutkan agama dengan langkah, rezeki, pertemuan dan maut. Serta segala sesuatu yang baik ( kenikmatan ) atau segala sesuatu yang buruk (bencana maupun musibah).
Lima poin di atas kebanyakan dari manusia khususnya manusia muslim mungkin sudah bisa merealisasikanya dengan baik dan benar melalui amal ibadah kita sehari-hari. Apakah itu amalan yang di kerjakan secara munfarit (sendiri) atau berjamaah, saling sehat-menasehati dan menaburkan kebaikan yang kesemuanya itu terangkum dalam ber-Amar Makruf dan ber-Nahi Mungkar. Dengan satu pengharapan, keridhoan dan pahala dari Allah Swt. Lalu bagaimana dengan poin ke enam mengimani dan mempercayai adanya takdir dalam bentuk Qada & Qadar yang di voniskan Allah Pada umat manusia?, bagaimana pula kita memahami dan mengimaninya ? sehingga apapun bentuk takdir apakah itu baik atau buruk, rasa syukur dan optimis tetap di terapkan dalam hidup dan kehidupan ini, dengan satu tekad Allah pun pasti memberikan jalan keluarnya.
Mengimani takdir Ilahi atau Qada & Qadar akan memberikan pelajaran pada manusia, bahwa segala sesuatu yang telah dan yang akan terjadi di jagat raya ini sudah sesuai dengan kebijaksanaan yang telah di gariskan oleh zat yang maha tinggi. Sebagai muslim sejati kita dituntut untuk mentaati, menerima dan mematuhi. Seperti yang di firmankan Allah Swt dalam Qs Al Ahzab-36 “ Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak pula bagi perempuan mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia berada dalam kesesatan yang nyata “
pengajaran dan pegertian dari ayat ini jelas sebagai mana Allah mengabarkan bahwa Dia mengetahui apa yang tersembunyi di langit dan bumi. Tidak ada sesuatupun yang ada di antara keduanya yang tersembunyi dari-Nya.
Huwalladzii yusharwwirukum fil arhaami kaifa yasyaa-u (“Dialah yang membentukmu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya.”) yakni menciptakan kalian dalam rahim seperti yang Dia kehendaki, baik laki-laki maupun perempuan, bagus maupun jelek, celaka [sengsara] maupun bahagia.
Laa ilaaHa illaa Huwal ‘aziizul hakiim (“Tidak ada ilah [yang berhak diibadahi] melainkan Dia. yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”) artinya, Dia lah yang menciptakan dan hanya Dia lah yang berhak untuk diibadahi, tiada sekutu bagi-Nya. Dia yang mempunyai keperkasaan yang tidak terjangkau dan memiliki hikmah serta hukum.
Di dalam ayat ini [telah] tersirat bahwa jelas sekali menunjukkan bahwa ‘Isa bin Maryam as. adalah hamba yang diciptakan, sebagaimana Allah telah menciptakan seluruh umat manusia, karena Dia telah membentuknya dalam rahim dan menciptakannya sesuai dengan yang dikehendak-Nya, maka bagaimana mungkin dia menjadi ilah [sesembahan] sebagaimana anggapan orang Nasrani –laknat Allah atas mereka–. Sesungguhnya ia telah mengalami proses pertumbuhan dalam rahim ibunya dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain, sebagaimana firman Allah: yakhluqukum fii buthuuni ummaHaatikum khalqam mim ba’di khalqin fii dhulumaatin tsalaats (“Dia telah menciptakanmu di dalam perut ibumu, ciptaan demi ciptaan dalam tiga kegelapan.”) (az-Zumar: 6)
Rabu, 24 Januari 2018
Selasa, 23 Januari 2018
tafsir surah imraan 1-4
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK,
Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan
(Keluarga ‘Imraan) Surah Madaniyyah;
surah ke 3: 200
Ayat Ayat pertama sampai ayat 83 dari surat ini diturunkan berkenaan dengan urusan Najran yang datang pada tahun kesembilan Hijrah. Mengenai masalah ini, insya Allah akan dijelaskan pada penafsiran mubahalah [doa saling melaknat]. Sedang keutamaan surat ini telah diuraikan pada pembahasan awal penafsiran surah al-Baqarah.
BismillaaHir rahmaanir rahiim (“Dengan menyebut nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.”) “1. Alif laam miim. 2. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. 3. Dia menurunkan Al kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, 4. sebelum (Al Quran), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai Balasan (siksa).”
(Ali ‘Imraan: 1-4) Penjelasaan sebuah hadits yang menyebutkan bahwa Nama Allah yang paling agung [yaitu alhayyul qayyuum] terdapat dalam kedua ayat berikut ini: allaaHu laa ilaaHa illaa Huwal hayyul qayyuum (“Allah, tiada ilah [yang berhak diibadahi] melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.”) dan ayat: alif laam miim, allaaHu laa ilaaHa illaa Huwal hayyul qayyuum (“Allah, tiada ilah [yang berhak diibadahi] melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.”) telah dikemukakan sebelumnya ketika menafsirkan ayat Kursi.
Dan juga penjelasan mengenai firman-Nya: “Alif laam miim.” Telah dijelaskan di awal surah al-Baqarah sehingga tidak perlu diulang lagi. Dari Anas, ia pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dalam keadaan duduk lantas ada seseorang yang sholat, kemudian ia berdoa: ALLAHUMMA INNI AS-ALUKA BI-ANNA LAKAL HAMDA, LAA ILAHA ILLA ANTA AL-MANNAAN BADII’US SAMAAWAATI WAL ARDH, YAA DZAL JALALI WAL IKRAM, YAA HAYYU YAA QAYYUM Artinya: Ya Allah, aku meminta pada-Mu karena segala puji hanya untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Banyak Memberi Karunia, Yang Menciptakan langit dan bumi, Wahai Allah yang Maha Mulia dan Penuh Kemuliaan, Ya Hayyu Ya Qayyum –Yang Maha Hidup dan Tidak Bergantung pada Makhluk-Nya-].”
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh ia telah berdoa pada Allah dengan nama yang agung, di mana siapa yang berdoa dengan nama tersebut, maka akan diijabahi. Dan jika diminta dengan nama tersebut, maka Allah akan beri.” [HR. Abu Daud no. 1495 dan An-Nasa’i no. 1301. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini shahih]. Ibnul Qayyim dalam Zaad Al Ma’ad (4: 187) berkata: “Doa ‘Yaa Hayyu yaa Qayyum, bi rohmatika astaghits …’ punya kandungan yang luar biasa. Sifat Hayyu (kehidupan) mengandung makna bahwa Allah memiliki sifat sempurna dan mengonsekuensikan sifat sempurna tersebut.
Sedangkan sifat Qayyum mengandung makna seluruh sifat fi’liyah (sifat yang menunjukkan perbuatan Allah). Oleh karena itu, nama Al-Hayyu Al-Qayyum termasuk dalam nama Allah yang agung (ism Allah Al A’zham) di mana jika seseorang berdoa dengannya, akan dikabulkan. Jika meminta dengannya, akan diberi. Firman Allah: nazzala ‘alaikal kitaaba bilhaqqi (“Dia menurunkan al-Kitab [al-Qur’an] kepadamu dengan sebenarnya.”) dengan pengertian, telah diturunkan kepadamu, wahai Muhammad, al-Qur’an dengan sebenarnya. Kitab yang tidak ada keraguan dan kebimbangan di dalamnya.
Bahkan, kitab itu diturunkan dari sisi Allah dengan ilmu-Nya, para malaikat pun menyaksikan dan cukuplah Allah sebagai saksi. Firman-Nya: mushaddiqal limaa baina yadaiHi (“membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya.”) yakni kitab-kitab yang diturunkan dari langit sebelum al-Qur’an, kepada hamba-hamba Allah dan para Nabi-Nya, bahwa kitab-kitab tersebut membenarkan al-Qur’an, dengan apa yang dikhabarkan dan berita gembira yang telah disampaikan sejak zaman dahulu kala. Sedang al-Qur’an itu sendiri pun membenarkan kitab-kitab tersebut, karena al-Qur’an sesuai dengan apa yang dikhabarkan dan berita gembira yang disampaikan oleh kitab-kitab itu mengenai janji Allah dengan pengutusan Nabi Muhammad saw. dan penurunan al-Qur’anul ‘Adhim kepadanya.
Firman Allah selanjutnya: wa anzalat tauraata (“dan menurunkan Taurat”) kepada Musa binn ‘Imraan. Wal injiila (“dan Injil”) kepada ‘Isa bin Maryam, ming qablu (“Sebelumnya.”) yakni sebelum al-Qur’an ini. Hudal linnaasi (“Sebagai petunjuk bagi manusia”) yaitu orang-orang yang hidup pada masa Musa dan ‘Isa. Wa anzalal furqaan (“Dan Dia menurunkan al-Furqaan”) sebuah kitab yang menjadi pembeda antara penyimpangan dan petunjuk yang lurus , melalui berbagai hujjah, penjelasan, dalil yang jelas, dan bukti nyata yang telah Allah sebutkan, terangkan, jelaskan, tafsirkan dan tetapkan.
Qatadah dan ar-Rabi’ bin Anas berkata: “Yang dimaksud al-Furqan disini adalah al-Qur’an.” Sedang Ibnu Jarir berpendapat bahwa disebutkannya al-Furqaan di sini karena telah disebutkan kata al-Qur’an sebelumnya, yaitu firman-Nya: nazzala ‘alaikal kitaabal bilhaqqi (“Dia menurunkan al-Kitab kepadamu dengan sebenarnya.”) yaitu al-Qur’an. Firman Allah: innalladziina kafaruu bi aayaatillaaHi (“Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah.”) yaitu mengingkari dan menolaknya dengan cara yang bathil, laHum ‘adzaabun syadiid (“Akan memperoleh siksa yang berat.”) pada hari kiamat kelak. wallaaHu ‘aziizun (“dan Allah Mahaperkasa.”) yaitu yang menolak segala bentuk pengingkaran lagi mempunyai kekuasaan yang sangat besar. Dzun tiqaam (“Serta mempunyai balasan [siksa].” Yakni bagi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya serta menyelisihi para Rasul-Nya yang mulia dan para Nabi-Nya yang agung.
Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan
(Keluarga ‘Imraan) Surah Madaniyyah;
surah ke 3: 200
Ayat Ayat pertama sampai ayat 83 dari surat ini diturunkan berkenaan dengan urusan Najran yang datang pada tahun kesembilan Hijrah. Mengenai masalah ini, insya Allah akan dijelaskan pada penafsiran mubahalah [doa saling melaknat]. Sedang keutamaan surat ini telah diuraikan pada pembahasan awal penafsiran surah al-Baqarah.
BismillaaHir rahmaanir rahiim (“Dengan menyebut nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.”) “1. Alif laam miim. 2. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. 3. Dia menurunkan Al kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, 4. sebelum (Al Quran), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai Balasan (siksa).”
(Ali ‘Imraan: 1-4) Penjelasaan sebuah hadits yang menyebutkan bahwa Nama Allah yang paling agung [yaitu alhayyul qayyuum] terdapat dalam kedua ayat berikut ini: allaaHu laa ilaaHa illaa Huwal hayyul qayyuum (“Allah, tiada ilah [yang berhak diibadahi] melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.”) dan ayat: alif laam miim, allaaHu laa ilaaHa illaa Huwal hayyul qayyuum (“Allah, tiada ilah [yang berhak diibadahi] melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.”) telah dikemukakan sebelumnya ketika menafsirkan ayat Kursi.
Dan juga penjelasan mengenai firman-Nya: “Alif laam miim.” Telah dijelaskan di awal surah al-Baqarah sehingga tidak perlu diulang lagi. Dari Anas, ia pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dalam keadaan duduk lantas ada seseorang yang sholat, kemudian ia berdoa: ALLAHUMMA INNI AS-ALUKA BI-ANNA LAKAL HAMDA, LAA ILAHA ILLA ANTA AL-MANNAAN BADII’US SAMAAWAATI WAL ARDH, YAA DZAL JALALI WAL IKRAM, YAA HAYYU YAA QAYYUM Artinya: Ya Allah, aku meminta pada-Mu karena segala puji hanya untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Banyak Memberi Karunia, Yang Menciptakan langit dan bumi, Wahai Allah yang Maha Mulia dan Penuh Kemuliaan, Ya Hayyu Ya Qayyum –Yang Maha Hidup dan Tidak Bergantung pada Makhluk-Nya-].”
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh ia telah berdoa pada Allah dengan nama yang agung, di mana siapa yang berdoa dengan nama tersebut, maka akan diijabahi. Dan jika diminta dengan nama tersebut, maka Allah akan beri.” [HR. Abu Daud no. 1495 dan An-Nasa’i no. 1301. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini shahih]. Ibnul Qayyim dalam Zaad Al Ma’ad (4: 187) berkata: “Doa ‘Yaa Hayyu yaa Qayyum, bi rohmatika astaghits …’ punya kandungan yang luar biasa. Sifat Hayyu (kehidupan) mengandung makna bahwa Allah memiliki sifat sempurna dan mengonsekuensikan sifat sempurna tersebut.
Sedangkan sifat Qayyum mengandung makna seluruh sifat fi’liyah (sifat yang menunjukkan perbuatan Allah). Oleh karena itu, nama Al-Hayyu Al-Qayyum termasuk dalam nama Allah yang agung (ism Allah Al A’zham) di mana jika seseorang berdoa dengannya, akan dikabulkan. Jika meminta dengannya, akan diberi. Firman Allah: nazzala ‘alaikal kitaaba bilhaqqi (“Dia menurunkan al-Kitab [al-Qur’an] kepadamu dengan sebenarnya.”) dengan pengertian, telah diturunkan kepadamu, wahai Muhammad, al-Qur’an dengan sebenarnya. Kitab yang tidak ada keraguan dan kebimbangan di dalamnya.
Bahkan, kitab itu diturunkan dari sisi Allah dengan ilmu-Nya, para malaikat pun menyaksikan dan cukuplah Allah sebagai saksi. Firman-Nya: mushaddiqal limaa baina yadaiHi (“membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya.”) yakni kitab-kitab yang diturunkan dari langit sebelum al-Qur’an, kepada hamba-hamba Allah dan para Nabi-Nya, bahwa kitab-kitab tersebut membenarkan al-Qur’an, dengan apa yang dikhabarkan dan berita gembira yang telah disampaikan sejak zaman dahulu kala. Sedang al-Qur’an itu sendiri pun membenarkan kitab-kitab tersebut, karena al-Qur’an sesuai dengan apa yang dikhabarkan dan berita gembira yang disampaikan oleh kitab-kitab itu mengenai janji Allah dengan pengutusan Nabi Muhammad saw. dan penurunan al-Qur’anul ‘Adhim kepadanya.
Firman Allah selanjutnya: wa anzalat tauraata (“dan menurunkan Taurat”) kepada Musa binn ‘Imraan. Wal injiila (“dan Injil”) kepada ‘Isa bin Maryam, ming qablu (“Sebelumnya.”) yakni sebelum al-Qur’an ini. Hudal linnaasi (“Sebagai petunjuk bagi manusia”) yaitu orang-orang yang hidup pada masa Musa dan ‘Isa. Wa anzalal furqaan (“Dan Dia menurunkan al-Furqaan”) sebuah kitab yang menjadi pembeda antara penyimpangan dan petunjuk yang lurus , melalui berbagai hujjah, penjelasan, dalil yang jelas, dan bukti nyata yang telah Allah sebutkan, terangkan, jelaskan, tafsirkan dan tetapkan.
Qatadah dan ar-Rabi’ bin Anas berkata: “Yang dimaksud al-Furqan disini adalah al-Qur’an.” Sedang Ibnu Jarir berpendapat bahwa disebutkannya al-Furqaan di sini karena telah disebutkan kata al-Qur’an sebelumnya, yaitu firman-Nya: nazzala ‘alaikal kitaabal bilhaqqi (“Dia menurunkan al-Kitab kepadamu dengan sebenarnya.”) yaitu al-Qur’an. Firman Allah: innalladziina kafaruu bi aayaatillaaHi (“Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah.”) yaitu mengingkari dan menolaknya dengan cara yang bathil, laHum ‘adzaabun syadiid (“Akan memperoleh siksa yang berat.”) pada hari kiamat kelak. wallaaHu ‘aziizun (“dan Allah Mahaperkasa.”) yaitu yang menolak segala bentuk pengingkaran lagi mempunyai kekuasaan yang sangat besar. Dzun tiqaam (“Serta mempunyai balasan [siksa].” Yakni bagi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya serta menyelisihi para Rasul-Nya yang mulia dan para Nabi-Nya yang agung.
Isnin, 22 Januari 2018
isi kandugan dan tafsir al-qoriah
- tafsir quran dan hadis tabaruk ,surah qoriah 1-11
Ketahuilah bahwasanya Al Qori’ah merupakan salah satu nama kiamat sebagaimana kiamat juga dinamakan Al Haqqoh dan Al Ghosiyah. -faedah-surat-al-qoriah-kejadian-mengerikan-di-hari-kiamat.html
Pada ayat selanjutnya Allah berfirman (yang artinya), ’Pada hari itu manusia adalah seperti firosy yang bertebaran’.
Apa itu firosy?
Para ulama mengatakan bahwa firosy adalah binatang kecil yang beterbangan.
Tatkala ada cahaya pada malam hari binatang itu saling berdesakan dan berebutan. Binatang ini penglihatannya begitu lemah sehingga tidak tahu arah dan tujuan. Itulah gambaran keadaan manusia tatkala hari kiamat, tatkala bangkit dari kuburnya. Manusia sangat bingung, berdesak-desakan tanpa tahu arah dan tujuan.Kemudian bagaimana keadaan gunung-gunung yang terpancang begitu kokohnya di bumi ini? Allah berfirman mengenai hal tersebut, ”dan gunung-gunung adalah seperti ’ihni yang dihambur-hamburkan”. Para ulama mengatakan bahwasanya ’ihni di situ adalah bulu domba (shuf). Ada pula yang mengatakan bahwa ’ihni adalah kapas. Jadi ’ihni adalah suatu benda yang sangat ringan. Yang apabila diletakkan pada tangan, bulu (kapas) akan berhamburan tidak karuan. Itulah keadaan bumi pada hari kiamat nanti.
-faedah-surat-al-qoriah-kejadian-mengerikan-di-hari-kiamat.html nbsp;
(bahasa Arab:القارعة) adalah surah ke-101 dalam Al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 11 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyyah, diturunkan sesudah surah Quraisy. Nama Al-Qari'ah diambil dari kata Al-Qari'ah yang terdapat pada ayat pertama, artinya menggebrak atau mengguncang, kemudian kata ini dipakai untuk nama hari kiamat. Pokok isi surah ini adalah kejadian-kejadian pada hari kiamat, yaitu manusia bertebaran, gunung berhamburan, amal perbuatan manusia ditimbang dan ancaman Neraka Hawiyah
.Asbabun Nuzul“1. hari kiamat, 2. Apakah hari kiamat itu? 3. tahukah kamu Apakah hari kiamat itu? 4. pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, 5. dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. 6. dan Adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, 7. Maka Dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. 8. dan Adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, 9. Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. 10. tahukah kamu Apakah neraka Hawiyah itu? 11. (yaitu) api yang sangat panas.”
(Al-Qaari’ah: 1-11) Al-Qaari’ah adalah salah satu nama hari kiamat, seperti nama lainnya; al-Haaqqah, ath-Thaammah, ash-ShaakhkhaH, al-Ghaasyiyah, dan lain-lain. Kemudian dengan mengagungkan urusan hari kiamat ini serta membesarkan keadaanya, Allah Ta’ala berfirman: wa maa adraaka mal qaari’ah (“Tahukah kamu apakah hari kiamat itu?”) lebih lanjut, Dia menafsirkan melalui firman-Nya: yauma yakuunun naasu kalfaraasyil mabtsuuts (“Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran.”) yakni dalam hal ketersebaran, perpecahan, kepergian dan kedatangan mereka karena perasaan bingung atas apa yang mereka alami, seakan-akan mereka itu seperti kapas yang dihamburkan, sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala dalam ayat yang lain: ka-annaHum jaraadum muntasyir (“Seakan-akan mereka itu belalang yang bertebaran.”) (al-Qamar: 7).
Dan firman Allah Ta’ala: wa takuunul jibaalu kal’iHnil mangfuusy (“Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.”) maksudnya, gunung-gunung itu seperti bulu-bulu yang dihambur-hamburkan yang mudah terbang dan robek. Kemudian Allah Ta’ala memberitahukan akibat dari apa yang pernah mereka perbuat serta apa yang akan mereka terima selanjutnya, baik kemuliaan maupun kehinaan, sesuai dengan amal perbuatan mereka. Dimana Dia berfirman: fa ammaa mang tsaqulat mawaaziinuH (“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan [kebaikan]nya.”) yakni kebaikannya lebih unggul daripada keburukannya, fa huwa fii ‘iisyatir raadliyah (“Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.”) yakni di dalam syurga. Wa ammaa man khaffat mawaaziinuhu (“Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan [kebaikannya]”) yakni amal keburukannya lebih unggul daripada kebaikannya. Adapun firman Allah ta’ala: Fa ummuHuu Haawiyah (“Maka tempat kembalinya adalah neraka hawiyah”) ada yang mengatakan: “Artinya, maka dia akan jatuh ke neraka jahanam dengan kepala di bawah. Dia mengungkapkan dengan menggunakan kata “ummuhu” yang berarti “otaknya”.
Hal senada diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Abu Shalih, dan Qatadah. Ada juga yang berpendapat: “Artinya tempat yang menjadi rujukan dan kembalinya pada hari kebangkitan kelak adalah Neraka Hawiyah.” Hawiyah ini adalah salah satu nama neraka. Ibnu Jarir mengatakan: “Hawiyah disebut dengan sebutan ummuhu [induknya], karena tidak ada tempat kembali baginya kecuali neraka tersebut. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman seraya menafsirkan kata Hawiyah, firman-Nya: Wa maa adraaka maa HiyaH naarun haamiyaH (“Dan tahukah kamu apakah neraka hawiyah itu? yaitu api yang sangat panas.”) firman-Nya: naarun haamiyaH karena api itu benar-benar sangat panas dan mempunyai kobaran dan sengatan yang sangat kuat. Abu Mush’ab meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. Pernah bersabda: “Api anak cucu Adam yang biasa kalian nyalakan itu hanya satu bagian dari tujuh puluh bagian neraka jahanam.”) Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulallah, satu bagian saja sudah sangat cukup?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya satu bagian api itu masih ditambah lagi dengan enampuluh Sembilan bagian.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
Ahad, 21 Januari 2018
isi kandugan dan tafsir surah at-takasur 1-8
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK SURAH AT-TAKASSUR 1-8
Arab:التكاثر) adalah surah ke-102 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 8 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah, diturunkan sesudah surah Al-Kausar. Dinamai At-Takasur (bermegah-megahan) diambil dari perkataan At-Takasur yang terdapat pada ayat pertama surat ini. تَفْسِيرُ سُورَةِ التَّكَاثُرِ (Bermegah-megahan) Makkiyah, 8 ayat Turun sesudah Surat Al-Kautsar بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ 1. Al-haakumut-takaatsur(u) Bermegah-megahan telah membuat diri kalian terlena حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ 2. Hatta zurtumul maqaabir(a) sampai kalian terjerumus ke dalam alam kubur. كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ 3. Kalaa saufa ta'lamuun(a) Jangan demikian, kelak kalian tahu ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ 4. Tsumma kalaa saufa ta'lamuun(a) Maka jangan demikian, kelak kalian tahu كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ 5. Kalaa lau ta'lamuuna 'ilmal yaqiin(i) Jangan demikian, kiranya kalian mengetahui dengan pengetahuan yang pasti, لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ 6. Latarawun-nal jahiim(a) pasti kalian akan melihat Jahim, ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ 7. Tsumma latarawun-nahaa 'ainal yaqiin(i) maka kalian benar-benar melihatnya dengan pemandangan yang jelas, ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ 8. Tsumma latus-alun-na yauma-idzin 'anin-na'iim(i) kemudian kelak kalian pasti diperkarakan pada hari itu mengenai kesenangan-kesenangan tersebut. “1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, 2. sampai kamu masuk ke dalam kubur. 3. janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), 4. dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. 5. janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, 6. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, 7. dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. 8. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (at-Takaatsur: 1-8) Allah Ta’ala berfirman, kalian terlalu disibukkan oleh kecintaan pada dunia, kenikmatan dan berbagai perhiasannya, sehingga lupa untuk mencari dan mengejar kehidupan akhirat. Dan hal tersebut terus menimpa kalian sehingga kematian menjemput kalian, lalu kalian mendatangi kuburan dan menjadi salah satu dari penghuninya. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Zaid bin Aslam dari ayahnya, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, dari ketaatan, sampai kamu masuk ke dalam kubur –sampai kematian menjemput kalian.” Al-Hasan al-Basrhri mengatakan: alhaakumut takaatsur (“Bermegah-megahan telah melalaikanmu.”) yakni dalam hal harta dan anak. Dan dalam kitab Shahih al-Bukhari mengenai ar-riqaaq (perbudakan), dari Ubay bin Ka’ab, dia berkata: “Kami pernah melihat hal ini dari al-Qur’an sehingga turun: alhaakumut takaatsur (“Bermegah-megahan telah melalaikanmu.”) yakni seandainya anak Adam memiliki lembah emas.” Imam Ahmad meriwayatkan dari Mithraf, yakni Ibnu ‘Abdillah bin asy Syikhir dari ayahnya, dia berkata: “Kami pernah sampai kepada Rasulullah saw. yang ketika itu beliau mengatakan: alhaakumut takaatsur (“Bermegah-megahan telah melalaikanmu.”) anak Adam mengatakan: hartaku, hartaku. Tidaklah kamu mendapatkan dari hartamu itu kecuali apa yang kamu makan, lalu habis atau kamu pakai lalu usang, atau kamu sedekahkan sehingga akan terus mengalir?” diriwayatkan oleh Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasa-i. Imam Bukhari meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda: “Ada tiga hal yang mengantarkan jenazah, lalu dua di antaranya masih kembali sedang satu lagi tetap bersamanya; jenazah itu diantar oleh keluarga, harta dan amalnya, lalu keluarga dan hartanya kembali pulang sedangkan amalnya tetap bersamanya.” Diriwayatkan oleh Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i. Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas, bahwa Nabi saw. bersabda: “Anak Adam itu akan menjadi tua dan ada dua hal yang akan tetap bersamanya; ketamakan dan angan-angan.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab Ash-Shahihain. Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir menyebutkan di dalam biografi al-Ahnaf bin Qais dan namanya adalah adl-Dlahhak, bahwasannya dia pernah melihat uang dirham di tangan seseorang, lalu ia bertanya: “Milik siapa dirham ini?” lalu orang itu berkata kepadaku, dia mengatakan: “Uang itu akan menjadi milikmu jika engkau menginfakkannya, baik untuk memperoleh pahala maupun untuk mendapatkan rasa syukur.” Kemudian al-Ahnaf mengumandangkan ungkapan seorang penyair: “Engkau akan menjadi milik hartamu jika engkau menahannya, dan jika engkau menafkahkannya maka harta itu akan menjadi milikmu.” Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Buraidah mengenai firman-Nya, alhaakumut takaatsur, dia mengatakan: “Ayat ini turun berkenaan dengan dua dari beberapa kabilah Anshar pada Bani Haritsah dan Bani al-Harits. Mereka berbangga-bangga dan bermegah-megah. Kemudian salah satu dari kabilah itu berkata: ‘Apakah di antara kalian terdapat seperti si fulan dan fulan bin fulan?’ sedangkan yang lainnya mengatakan hal yang sama. Mereka membanggakan orang-orang yang masih hidup. Kemudian mereka berkata: ‘Mari ikut kami ke kuburan.’ Selanjutnya salah seorang dari kedua kabilah itu berkata: ‘Apakah di antara kalian terdapat orang seperti fulan ?’ dan kabilah yang lain mengatakan hal yang sama. Kemudian Allah menurunkan ayat: alhaakumut takaatsur hattaa zurtumul maqaabir (“Bermegah-megahan telah melalaikanmu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur.”) dan yang dimaksud dengan firman-Nya: hattaa zurtumul maqaabir (“sampai kamu masuk ke dalam kubur.”) yakni kalian akan berangkat menuju ke sana dan dimakamkan di dalamnya. Sebagai mana yang disebutkan dalam sebuah hadits shahih bahwa Rasulullah saw. pernah masuk menemui seorang Badui untuk menjenguknya, beliau bersabda: “Tidak apa-apa, insya Allah akan menghapuskan dosa-dosa.” Lalu dia berkata: “Aku katakana: ‘Dia Suci, tetapi ia adalah demam yang cukup parah yang menimpa orang tua yang telah mendekati kubur.” Beliau bersabda: “Benar, kalau begitu.” Dan firman Allah Ta’ala: Kallaa saufa ta’lamuuna tsumma kallaa saufa ta’lamuun (“Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui, kemudian janganlah begitu kelak kamu akan mengetahui.”) Al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Ini adalah ancaman di atas ancaman.” Adl-Dlahhak berkata tentan firman Allah Ta’ala: kallaa saufa ta’lamuun (“Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.”) yakni wahai orang-orang kafir. Tsumma kallaa saufa ta’lamuun (“Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.”) yakni wahai orang-orang yang beriman. Dan firman Allah: kallaa lau ta’lamuuna ‘ilmal yaqiin (“Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.”) maksudnya, seandainya kalian mengetahui dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian tidak akan dibuat lengah oleh sikap bermegah-megah dari mengejar kehidupan akhirat sampai akhirnya kalian masuk ke dalam kubur. Lebih lanjut, firman Allah Ta’ala: latarawunnal jahiima tsumma latarawunahaa ‘ainal yaqiin (“Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahim. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin”) hal ini merupakan penafsiran ancaman sebelumnya, yakni firman-Nya: Kallaa saufa ta’lamuuna tsumma kallaa saufa ta’lamuun (“Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui, kemudian janganlah begitu kelak kamu akan mengetahui.”) Allah telah mengancam mereka dengan keadaan seperti itu, yakni para penghuni neraka itu akan melihat saat api neraka bernafas dengan satu kali nafas, maka setiap malaikat Muqarabun (yang mendekatkan diri) dan Nabi yang diutus akan terseungkur di atas kedua lututnya, lantaran kehebatan, kedahsyatan, dan kengerian yang terlihat, seperti yang disebutkan oleh atsar yang diriwayatkan mengenai hal tersebut. Firman Allah Ta’ala: tsumma latus-alunna yauma-idzin ‘anin na’iim (“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan.”) yakni selanjutnya pada hari itu kalian akan ditanya tentang rasa syukur atas nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada kalian, baik berupa kesehatan, keamanan, rizki, dan lain-lain yang demikian banyak jika kalian menerima nikmat-nikmat Allah dengan rasa syukur atasnya dan beribadah kepada-Nya. Ibnu Jarir meriwayatkan, al-Husain bin ‘Ali ash-Shuda-I memberitahuku dari Abu Hurairah dia berkata: “Ketika Abu Bakr dan ‘Umar sedang duduk-duduk, tiba-tiba Nabi saw. mendatangi mereka dan bertanya: ‘Mengapa kalian duduk-duduk di sini?’ keduanya menjawab: ‘ Demi Rabb yang telah mengutus dirimu dengan kebenaran, tidak ada yang mengeluarkan diriku kecuali alasan yang sama (lapar).’ Kemudian mereka bertolak sehingga mendatangi rumah salah seorang kaum Anshar. Lalu mereka disambut oleh seorang wanita, maka Nabi saw. bertanya kepadanya: ‘Mana si fulan?’ wanita itu menjwab: ‘Pergi mencari air untuk kami.’ Setelah itu, shahabat itu datang dengan membawa qirbahnya (kendi dari kulit). Dia berkata: ‘Selamat datang. Tidak ada kunjungan seorang hamba yang lebih baik selain kunjungan seorang Nabi kepadaku pada hari ini.’ Kemudian orang itu menggantungkan kendinya di dahan kurma. Kemudian dia pergi lagi dan datang dengan membawa anggur. Maka Nabi saw. berkata: ‘Mengapa engkau tidak memilahnya?’ orang itu menjawab: ‘Aku lebih suka kalian sendiri yang memilih sesuai dengan selera kalian.’ Kemudian dia mengambil pisau. Lalu Nabi berkata kepadanya: ‘Hindarilah olehmu perahan.’ Pada hari itu , dia juga menyembelihkan kambing untuk mereka. Maka merekapun memakannya. Selanjutnya Nabi saw. bersabda kepadanya: ‘Sesungguhnya engkau benar-benar akan ditanya mengenai hal ini pada hari kiamat kelak. Rasa lapar telah membuat kalian keluar rumah, lalu kalian tidak pulang sehingga kalian mendapatkan ini, dan ini adalah bagian dari kenikmatan.’” Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Ya’la, dan Ibnu Majah. Juga diriwayatkan oleh para penulis kitab as-Sunan. Mujahid mengatakan (tentang kenikmatan dlam ayat di atas): “Dari setiap kelezatan-kelezatan dunia.” Sedangkan ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, tsumma latus-alunna yauma-idzin ‘anin na’iim (“Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan.”) dia mengatakan: “Kenikmatan itu adalah kesehatan badan, pendengaran, dan penglihatan. Allah akan menanyakan kepada semua hamba untuk apa semuanya itu mereka pergunakan. Dan dia lebih mengetahui hal tersebut daripada mereka. Dan itulah firman-Nya: innas sam’a wal bashara wal fu-aada kullu ulaa-ika kaana ‘anhu mas-uula (“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS al-Israa’: 36). Dan telah ditegaskan pula di dalam Shahih al-Bukhari, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa-i, dan Sunan Ibnu Majah, dari hadits ‘Abdullah bin Sa’id bin Abi Hindi dari ayahnya, dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Ada dua nikmat yang membuat banyak orang tertipu olehnya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” Hal itu berarti bahwa mereka terlalu sedikit mensyukuri kedua nikmat tersebut, dimana mereka tidak menunaikan kewajiban yang dituntut keduanya. Dan orang yang tidak menunaikan hak yang telah diwajibkan atasnya berarti dia telah tertipu.
Arab:التكاثر) adalah surah ke-102 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 8 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah, diturunkan sesudah surah Al-Kausar. Dinamai At-Takasur (bermegah-megahan) diambil dari perkataan At-Takasur yang terdapat pada ayat pertama surat ini. تَفْسِيرُ سُورَةِ التَّكَاثُرِ (Bermegah-megahan) Makkiyah, 8 ayat Turun sesudah Surat Al-Kautsar بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ 1. Al-haakumut-takaatsur(u) Bermegah-megahan telah membuat diri kalian terlena حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ 2. Hatta zurtumul maqaabir(a) sampai kalian terjerumus ke dalam alam kubur. كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ 3. Kalaa saufa ta'lamuun(a) Jangan demikian, kelak kalian tahu ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ 4. Tsumma kalaa saufa ta'lamuun(a) Maka jangan demikian, kelak kalian tahu كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ 5. Kalaa lau ta'lamuuna 'ilmal yaqiin(i) Jangan demikian, kiranya kalian mengetahui dengan pengetahuan yang pasti, لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ 6. Latarawun-nal jahiim(a) pasti kalian akan melihat Jahim, ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ 7. Tsumma latarawun-nahaa 'ainal yaqiin(i) maka kalian benar-benar melihatnya dengan pemandangan yang jelas, ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ 8. Tsumma latus-alun-na yauma-idzin 'anin-na'iim(i) kemudian kelak kalian pasti diperkarakan pada hari itu mengenai kesenangan-kesenangan tersebut. “1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, 2. sampai kamu masuk ke dalam kubur. 3. janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), 4. dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. 5. janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, 6. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, 7. dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. 8. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (at-Takaatsur: 1-8) Allah Ta’ala berfirman, kalian terlalu disibukkan oleh kecintaan pada dunia, kenikmatan dan berbagai perhiasannya, sehingga lupa untuk mencari dan mengejar kehidupan akhirat. Dan hal tersebut terus menimpa kalian sehingga kematian menjemput kalian, lalu kalian mendatangi kuburan dan menjadi salah satu dari penghuninya. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Zaid bin Aslam dari ayahnya, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, dari ketaatan, sampai kamu masuk ke dalam kubur –sampai kematian menjemput kalian.” Al-Hasan al-Basrhri mengatakan: alhaakumut takaatsur (“Bermegah-megahan telah melalaikanmu.”) yakni dalam hal harta dan anak. Dan dalam kitab Shahih al-Bukhari mengenai ar-riqaaq (perbudakan), dari Ubay bin Ka’ab, dia berkata: “Kami pernah melihat hal ini dari al-Qur’an sehingga turun: alhaakumut takaatsur (“Bermegah-megahan telah melalaikanmu.”) yakni seandainya anak Adam memiliki lembah emas.” Imam Ahmad meriwayatkan dari Mithraf, yakni Ibnu ‘Abdillah bin asy Syikhir dari ayahnya, dia berkata: “Kami pernah sampai kepada Rasulullah saw. yang ketika itu beliau mengatakan: alhaakumut takaatsur (“Bermegah-megahan telah melalaikanmu.”) anak Adam mengatakan: hartaku, hartaku. Tidaklah kamu mendapatkan dari hartamu itu kecuali apa yang kamu makan, lalu habis atau kamu pakai lalu usang, atau kamu sedekahkan sehingga akan terus mengalir?” diriwayatkan oleh Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasa-i. Imam Bukhari meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda: “Ada tiga hal yang mengantarkan jenazah, lalu dua di antaranya masih kembali sedang satu lagi tetap bersamanya; jenazah itu diantar oleh keluarga, harta dan amalnya, lalu keluarga dan hartanya kembali pulang sedangkan amalnya tetap bersamanya.” Diriwayatkan oleh Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i. Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas, bahwa Nabi saw. bersabda: “Anak Adam itu akan menjadi tua dan ada dua hal yang akan tetap bersamanya; ketamakan dan angan-angan.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab Ash-Shahihain. Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir menyebutkan di dalam biografi al-Ahnaf bin Qais dan namanya adalah adl-Dlahhak, bahwasannya dia pernah melihat uang dirham di tangan seseorang, lalu ia bertanya: “Milik siapa dirham ini?” lalu orang itu berkata kepadaku, dia mengatakan: “Uang itu akan menjadi milikmu jika engkau menginfakkannya, baik untuk memperoleh pahala maupun untuk mendapatkan rasa syukur.” Kemudian al-Ahnaf mengumandangkan ungkapan seorang penyair: “Engkau akan menjadi milik hartamu jika engkau menahannya, dan jika engkau menafkahkannya maka harta itu akan menjadi milikmu.” Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Buraidah mengenai firman-Nya, alhaakumut takaatsur, dia mengatakan: “Ayat ini turun berkenaan dengan dua dari beberapa kabilah Anshar pada Bani Haritsah dan Bani al-Harits. Mereka berbangga-bangga dan bermegah-megah. Kemudian salah satu dari kabilah itu berkata: ‘Apakah di antara kalian terdapat seperti si fulan dan fulan bin fulan?’ sedangkan yang lainnya mengatakan hal yang sama. Mereka membanggakan orang-orang yang masih hidup. Kemudian mereka berkata: ‘Mari ikut kami ke kuburan.’ Selanjutnya salah seorang dari kedua kabilah itu berkata: ‘Apakah di antara kalian terdapat orang seperti fulan ?’ dan kabilah yang lain mengatakan hal yang sama. Kemudian Allah menurunkan ayat: alhaakumut takaatsur hattaa zurtumul maqaabir (“Bermegah-megahan telah melalaikanmu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur.”) dan yang dimaksud dengan firman-Nya: hattaa zurtumul maqaabir (“sampai kamu masuk ke dalam kubur.”) yakni kalian akan berangkat menuju ke sana dan dimakamkan di dalamnya. Sebagai mana yang disebutkan dalam sebuah hadits shahih bahwa Rasulullah saw. pernah masuk menemui seorang Badui untuk menjenguknya, beliau bersabda: “Tidak apa-apa, insya Allah akan menghapuskan dosa-dosa.” Lalu dia berkata: “Aku katakana: ‘Dia Suci, tetapi ia adalah demam yang cukup parah yang menimpa orang tua yang telah mendekati kubur.” Beliau bersabda: “Benar, kalau begitu.” Dan firman Allah Ta’ala: Kallaa saufa ta’lamuuna tsumma kallaa saufa ta’lamuun (“Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui, kemudian janganlah begitu kelak kamu akan mengetahui.”) Al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Ini adalah ancaman di atas ancaman.” Adl-Dlahhak berkata tentan firman Allah Ta’ala: kallaa saufa ta’lamuun (“Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.”) yakni wahai orang-orang kafir. Tsumma kallaa saufa ta’lamuun (“Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.”) yakni wahai orang-orang yang beriman. Dan firman Allah: kallaa lau ta’lamuuna ‘ilmal yaqiin (“Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.”) maksudnya, seandainya kalian mengetahui dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian tidak akan dibuat lengah oleh sikap bermegah-megah dari mengejar kehidupan akhirat sampai akhirnya kalian masuk ke dalam kubur. Lebih lanjut, firman Allah Ta’ala: latarawunnal jahiima tsumma latarawunahaa ‘ainal yaqiin (“Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahim. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin”) hal ini merupakan penafsiran ancaman sebelumnya, yakni firman-Nya: Kallaa saufa ta’lamuuna tsumma kallaa saufa ta’lamuun (“Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui, kemudian janganlah begitu kelak kamu akan mengetahui.”) Allah telah mengancam mereka dengan keadaan seperti itu, yakni para penghuni neraka itu akan melihat saat api neraka bernafas dengan satu kali nafas, maka setiap malaikat Muqarabun (yang mendekatkan diri) dan Nabi yang diutus akan terseungkur di atas kedua lututnya, lantaran kehebatan, kedahsyatan, dan kengerian yang terlihat, seperti yang disebutkan oleh atsar yang diriwayatkan mengenai hal tersebut. Firman Allah Ta’ala: tsumma latus-alunna yauma-idzin ‘anin na’iim (“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan.”) yakni selanjutnya pada hari itu kalian akan ditanya tentang rasa syukur atas nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada kalian, baik berupa kesehatan, keamanan, rizki, dan lain-lain yang demikian banyak jika kalian menerima nikmat-nikmat Allah dengan rasa syukur atasnya dan beribadah kepada-Nya. Ibnu Jarir meriwayatkan, al-Husain bin ‘Ali ash-Shuda-I memberitahuku dari Abu Hurairah dia berkata: “Ketika Abu Bakr dan ‘Umar sedang duduk-duduk, tiba-tiba Nabi saw. mendatangi mereka dan bertanya: ‘Mengapa kalian duduk-duduk di sini?’ keduanya menjawab: ‘ Demi Rabb yang telah mengutus dirimu dengan kebenaran, tidak ada yang mengeluarkan diriku kecuali alasan yang sama (lapar).’ Kemudian mereka bertolak sehingga mendatangi rumah salah seorang kaum Anshar. Lalu mereka disambut oleh seorang wanita, maka Nabi saw. bertanya kepadanya: ‘Mana si fulan?’ wanita itu menjwab: ‘Pergi mencari air untuk kami.’ Setelah itu, shahabat itu datang dengan membawa qirbahnya (kendi dari kulit). Dia berkata: ‘Selamat datang. Tidak ada kunjungan seorang hamba yang lebih baik selain kunjungan seorang Nabi kepadaku pada hari ini.’ Kemudian orang itu menggantungkan kendinya di dahan kurma. Kemudian dia pergi lagi dan datang dengan membawa anggur. Maka Nabi saw. berkata: ‘Mengapa engkau tidak memilahnya?’ orang itu menjawab: ‘Aku lebih suka kalian sendiri yang memilih sesuai dengan selera kalian.’ Kemudian dia mengambil pisau. Lalu Nabi berkata kepadanya: ‘Hindarilah olehmu perahan.’ Pada hari itu , dia juga menyembelihkan kambing untuk mereka. Maka merekapun memakannya. Selanjutnya Nabi saw. bersabda kepadanya: ‘Sesungguhnya engkau benar-benar akan ditanya mengenai hal ini pada hari kiamat kelak. Rasa lapar telah membuat kalian keluar rumah, lalu kalian tidak pulang sehingga kalian mendapatkan ini, dan ini adalah bagian dari kenikmatan.’” Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Ya’la, dan Ibnu Majah. Juga diriwayatkan oleh para penulis kitab as-Sunan. Mujahid mengatakan (tentang kenikmatan dlam ayat di atas): “Dari setiap kelezatan-kelezatan dunia.” Sedangkan ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, tsumma latus-alunna yauma-idzin ‘anin na’iim (“Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan.”) dia mengatakan: “Kenikmatan itu adalah kesehatan badan, pendengaran, dan penglihatan. Allah akan menanyakan kepada semua hamba untuk apa semuanya itu mereka pergunakan. Dan dia lebih mengetahui hal tersebut daripada mereka. Dan itulah firman-Nya: innas sam’a wal bashara wal fu-aada kullu ulaa-ika kaana ‘anhu mas-uula (“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS al-Israa’: 36). Dan telah ditegaskan pula di dalam Shahih al-Bukhari, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa-i, dan Sunan Ibnu Majah, dari hadits ‘Abdullah bin Sa’id bin Abi Hindi dari ayahnya, dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Ada dua nikmat yang membuat banyak orang tertipu olehnya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” Hal itu berarti bahwa mereka terlalu sedikit mensyukuri kedua nikmat tersebut, dimana mereka tidak menunaikan kewajiban yang dituntut keduanya. Dan orang yang tidak menunaikan hak yang telah diwajibkan atasnya berarti dia telah tertipu.
Sabtu, 20 Januari 2018
isi kandugan surah falaq tafsir 1-5
SURAT AL-FALAQ
Surat ini dan surat sesudahnya (surat An Naas)
diturunkan secara bersamaan sebagaimana dikatakan oleh Al Baihaqi dalam
Dalailin Nubuwwah. Oleh karena itu, kedua surat ini dinamakan Al Maw’izatain.
Surat ini merupakan surat Makkiyyah (turun sebelum hijrah) dan ada juga yang mengatakan bahwa surat ini adalah surat Madaniyyah. Surat ini turun sesudah surat Al Fiil.
(Aysarut Tafasir, hal. 1503; At Ta’rif bi Suratil Qur’anil Karim)
Asbabun Nuzul
Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disihir oleh orang Yahudi yang bernama Labid bin Al A’shom di Madinah, Allah Ta’ala menurunkan Al Maw’izatain
(surat Al Falaq dan An Naas). Lalu Jibril ’alaihis salam meruqyah (membaca kedua ayat tersebut) kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam.
Berkat izin Allah, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sembuh. (Aysarut Tafasir, hal. 1503) [Namun, riwayat sabab nuzul untuk surat Al falaq dan An Naaas dinilai dhaif oleh Syaikh Muqbil dalam as Shahih al Musnad min Asbab anNuzul, lihat juga penjelasan Ibnu Katsir] (Waktu Subuh) Makkiyah atau Madaniyyah, 5 ayat Turun sesudah Surat Al-Fil
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Al-Falaq, ayat 1-5
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)
Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang mengembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Isam, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az-Zubairi, telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Saleh, dari Abdullah ibnu Muhammad ibnu Aqil, dari Jabir yang mengatakan bahwa al-falaq artinya subuh. Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya, "Al-falaq" bahwa makna yang dimaksud ialah subuh. Dan telah diriwayatkan halyangsemisal dari Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, Abdullah ibnu Muhammad ibnu Aqil, Al-Hasan, Qatadah, Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi, Ibnu Zaid, dan Malik, dari Zaid ibnu Aslam. Al-Qurazi. Ibnu Zaid, dan Ibnu Jarir mengatakan bahwa makna yang dimaksud sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu: فالِقُ الْإِصْباحِ Dia menyingsingkan pagi.
(Al-An'am: 96) Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya, "Al-falaq," bahwa makna yang dimaksud ialah makhluk. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ad-Dahhak, bahwa Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk membaca ta'awwuz dari kejahatan semua makhluk-Nya. Ka'bul Ahbar mengatakan bahwa al-falaq adalah nama sebuah penjara di dalam neraka Jahanam; apabila pintunya dibuka, maka semua penghuni neraka menjerit karena panasnya yang sangat. Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya, untuk itu ia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Suhail ibnu Usman, dari seorang lelaki, dari As-Saddi, dari Zaid ibnu Ali, dari kakek moyangnya, bahwa mereka telah mengatakan bahwa al-falaq adalah nama sebuah sumur di dasar neraka Jahanam yang mempunyai tutup. Apabila tutupnya dibuka, maka keluarlah darinya api yang menggemparkan neraka Jahanam karena panasnya yang sangat berlebihan. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Amr ibnu Anbasah dan As-Saddi serta lain-lainnya. Sehubungan dengan hal ini telah ada sebuah hadis marfu' yang berpredikat munkar; untuk itu Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ishaq ibnu Wahb Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Mas'ud ibnu Musa ibnu Misykan Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Nasr ibnu Khuzaimah Al-Khurrasani, dari Syu'aib ibnu Safwan, dari Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: «الْفَلَقُ جُبٌّ فِي جَهَنَّمَ مُغَطَّى» Falaq adalah sebuah sumur di dalam neraka Jahanam yang mempunyai penutup. Sanad hadis ini garib dan predikat marfu'-nya tidak sahih. Abu Abdur Rahman Al-Habli telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, bahwa al-falaq adalah nama lain dari neraka Jahanam. Ibnu Jarir mengatakan bahwa yang benar adalah pendapat yang pertama, yaitu yang mengatakan bahwa sesungguhnya falaq adalah subuh. Pendapat inilah yang sahih dan dipilih oleh Imam Bukhari di dalam kitab sahihnya.
Firman Allah Swt: {مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ} dari kejahatan makhluk-Nya. (Al-Falaq: 2) Yakni dari kejahatan semua makhluk. Sabit Al-Bannani dan Al-Hasan Al-Basri telah mengatakan bahwa Jahanam, Iblis, dan keturunannya termasuk makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt. Firman Allah Swt.: {وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ} dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. (Al-Falaq: 3) Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah bila matahari telah tenggelam; demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Mujahid. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Abu Najih, dari Mujahid. Dan hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Abbas, Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi. Ad-Dahhak. Khasif. Al-Hasan, dan Qatadah, bahwa sesungguhnya makna yang dimaksud ialah malam hari apabila datang dengan kegelapan. Az-Zuhri mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita.
(Al-Falaq: 3) Yakni matahari apabila telah tenggelam. Telah diriwayatkan pula dari Atiyyah dan Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: apabila telah gelap gulita. (Al-Falaq: 3) Yaitu malam hari bila telah pergi. Abu Mihzan mengatakan dari Abu Hurairah sehubungan dengan makna firman-Nya: dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. (Al-Falaq: 3) Bahwa makna yang dimaksud ialah bintang. Ibnu Zaid mengatakan, dahulu orang-orang Arab mengatakan bahwa al-gasiq artinya jatuhnya bintang surayya. Berbagai penyakit dan Ta'un mewabah seusai jatuhnya bintang surayya, dan menjadi Lenyap dengan sendirinya bila bintang surayya terbit. Yang dimaksud dengan jatuh ialah tenggelam. Ibnu Jarir mengatakan bahwa di antara asar yang bersumber dari mereka ialah apa yang diceritakan kepadaku oleh Nasr Ibnu Ali, telah menceritakan kepadaku Bakkar, dari Abdullah keponakan Hammam, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdul Aziz ibnu Umar, dari Abdur Rahman ibnu Auf, dari ayahnya, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. sehubungan dengan makna firman-Nya: dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. (Al-Falaq: 3) Lalu beliau Saw. bersabda, bahwa makna yang dimaksud ialah bintang bila telah tenggelam. Menurut hemat saya, predikat marfu' hadis ini tidak sahih sampai kepada Nabi Saw. Ibnu Jarir mengatakan, ulama lainnya mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah rembulan. Menurut hemat saya, yang dijadikan pegangan oleh orang-orang yang berpendapat demikian ialah apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Daud Al-Hafri, dari Ibnu Abu Zi-b, dari Al-Haris ibnu Abu Salamah yang mengatakan bahwa Siti Aisyah r.a. telah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. memegang tangannya, lalu memperlihatkan kepadanya rembulan saat terbitnya, kemudian beliau Saw. bersabda: «تَعَوَّذِي بِاللَّهِ مِنْ شَرِّ هَذَا الْغَاسِقِ إِذَا وَقَبَ» Mohonlah perlindungan kepada Allah dari kejahatan rembulan ini apabila telah tenggelam. Imam Turmuzi dan Imam Nasai telah meriwayatkan di dalam kitab tafsir dari kitab sunan masing-masing melalui hadis Muhammad ibnu Abdur Rahman ibnu Abu Zi-b, dari pamannya (yaitu Al-Haris ibnu Abdur Rahman) dengan lafazyang sama; dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih. Lafaznya berbunyi seperti berikut: «تَعَوَّذِي بِاللَّهِ مِنْ شَرِّ هَذَا فَإِنَّ هَذَا الْغَاسِقُ إِذَا وَقَبَ» Mohonlah perlindungan kepada Allah dari kejahatan (rembulan) ini, yaitu apabila ia telah tenggelam. Menurut lafaz Imam Nasai disebutkan seperti berikut: «تَعَوَّذِي بِاللَّهِ مِنْ شَرِّ هَذَا، هَذَا الْغَاسِقُ إِذَا وَقَبَ» Mohonlah perlindungan kepada Allah dari kejahatan (rembulan) ini, yaitu apabila ia telah tenggelam. Orang-orang yang mengatakan pendapat pertama mengatakan bahwa rembulan merupakan pertanda malam hari bila telah muncul, dan ini tidaklah bertentangan dengan pendapat kami. Karena sesungguhnya rembulan merupakan pertanda malam hari dan rembulan tidak berperan kecuali hanya di malam hari. Demikian pula halnya dengan bintang-bintang; bintang-bintang tidak dapat bersinar kecuali di malam hari; dan hal ini sejalan dengan pendapat yang kami katakan; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Firman Allah Swt.: {وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ} dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang mengembus pada buhul-buhul. (Al-Falaq:4) Mujahid, Ikrimah. Al-Hasan. Qatadah. dan Ad-Dahhak telah mengatakan bahwa yang dimaksud ialah wanita-wanita penyihir. Mujahid mengatakan bahwa yaitu apabila wanita-wanita penyihir itu mengembus pada buhul-buhulnya. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Saur, dari Ma'mar, dari Ibnu Tawus, dari ayahnya yang mengatakan bahwa tiada suatu perbuatan pun yang lebih mendekati kepada kemusyrikan selain dari ruqyatul hayyah dan majanin, yakni sejenis perbuatan sihir.
Di dalam hadis lain disebutkan bahwa Malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw., lalu bertanya, "Hai Muhammad, apakah engkau sakit?" Nabi Saw. menjawab, "Ya." Jibril berkata (yakni berdoa): باسم اللَّهِ أَرْقِيكَ مِنْ كُلِّ دَاءٍ يُؤْذِيكَ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ حَاسِدٍ وَعَيْنٍ، اللَّهُ يَشْفِيكَ Dengan menyebut nama Allah aku meruqyahmu dari semua penyakit yang mengganggumu dan dari kejahatan setiap orang yang dengki dan kejahatan pandangan mata; semoga Allah menyembuhkanmu. Barangkali hal ini terjadi di saat Nabi Saw. sakit akibat terkena sihir, kemudian Allah Swt. menyelamatkan dan menyembuhkannya, dan menolak rencana jahat para penyihir dan orang-orang yang dengki dari kalangan orang-orang Yahudi, lalu menimpakannya kepada mereka dan menjadikan kehancuran mereka oleh tipu muslihat mereka sendiri hingga mereka dipermalukan. Tetapi sekalipun mendapat perlakuan demikian, Rasulullah Saw. tidak menegur atau mengecam pelakunya di suatu hari pun, bahkan beliau merasa cukup hanya meminta pertolongan kepada Allah, dan Dia menyembuhkan serta menyehatkannya. Imam Ahmad mengatakan. telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Yazid ibnu Hibban, dari Zaid ibnu Arqam yang mengatakan bahwa seorang lelaki Yahudi menyihir Nabi Saw. Karena itu, beliau merasa sakit selama beberapa hari. Lalu datanglah Jibril dan berkata, "Sesungguhnya seorang lelaki Yahudi telah menyihirmu dan membuat suatu buhul yang ditujukan terhadapmu, lalu ia meletakkannya di dalam sumurmu.'" Lalu Rasulullah Saw. menyuruh seseorang untuk mengambil buhul tersebut dari dalam sumur yang dimaksud. Setelah buhul itu dikeluarkan dari sumur, lalu diberikan kepada Rasulullah Saw. dan beliau membukanya, maka dengan serta merta seakan-akan Rasulullah Saw. baru terlepas dari suatu ikatan. Dan Rasulullah Saw. tidak pernah menyebutkan lelaki Yahudi itu dan tidak pula melihat mukanya sampai beliau wafat. Imam Nasai telah meriwayatkan hadis ini dari Hamad, dari Abu Mu'awiyah alias Muhammad ibnu Hazim Ad-Darir. Imam Bukhari mengatakan di dalam Kitabut Tib, dari kitab sahihnya, bahwa telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sufyan ibnu Uyaynah mengatakan bahwa orang yang mula-mula menceritakan kisah ini kepada kami adalah ibnu Juraij. Ia mengatakan, telah menceritakan kepadaku keluarga Urwah, dari Urwah, lalu aku menanyakan tentangnya kepada Hisyam, maka Hisyam mengatakan bahwa Urwah memang pernah menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa dahulu Rasulullah Saw. pernah disihir hingga beliau beranggapan bahwa dirinya telah mendatangi istri-istrinya, padahal tidak. Sufyan selanjutnya mengatakan bahwa sihir jenis ini merupakan sihir yang paling keras, bila pengaruhnya demikian. Lalu Rasulullah Saw.
bersabda: «يَا عَائِشَةُ أَعْلِمْتِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ؟ أَتَانِي رَجُلَانِ فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَالْآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيِّ، فَقَالَ الَّذِي عِنْدَ رَأْسِي لِلْآخَرِ: مَا بَالُ الرَّجُلِ؟ قَالَ: مَطْبُوبٌ ، قَالَ: وَمَنْ طَبَّهُ، قال لَبِيَدُ بْنُ أَعْصَمَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي زُرَيْقٍ حليف اليهود كان منافقا، قال: وَفِيمَ؟ قَالَ: فِي مُشْطٍ وَمُشَاقَةٍ ، قَالَ: وَأَيْنَ؟ قَالَ: فِي جُفِّ طَلْعَةِ ذَكَرٍ تَحْتَ رَعُوفَةٍ في بئر ذروان»
Hai Aisyah, tahukah engkau bahwa Allah telah memberiku nasihat tentang masalah yang aku telah memohon petunjuk dari-Nya mengenainya" Dua orang lelaki datang kepadaku yang salah seorangnya duduk di dekat kepalaku, sedangkan yang lainnya duduk di dekat kakiku. Maka orang yang ada di dekat kepalaku berkata kepada temannya, "Mengapa lelaki ini?” Ia menjawab, "Terkena sihir.” Orang yang berada dekat kepalaku bertanya, "Siapakah yang menyihirnya?” Ia menjawab, "Lubaid ibnu A 'sam, seorang lelaki dari Bani Zuraiq teman sepakta orang-orang Yahudi, dia adalah seorang munafik.” Yang berada di dekat kepalaku bertanya, "Dengan apa?” Ia menjawab, "Sisir dan rambut.” Orang yang berada di dekat kepalaku bertanya, ' 'Di taruh di mana?'' Ia menjawab, "Di dalam mayang kurma jantan di bawah sebuah batu di dalam sumur Zirwan." Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Rasulullah Saw. mendatangi sumur tersebut dan mengeluarkannya, kemudian beliau bersabda
«هَذِهِ الْبِئْرُ الَّتِي أُرِيتُهَا وَكَأَنَّ مَاءَهَا نقاعة الحناء وكأن نخلها رؤوس الشياطين»
Inilah sumur yang diperlihatkan kepadaku dalam mimpiku; airnya seakan-akan seperti warna pacar (merah) dan pohon-pohon kurmanya seakan-akan seperti kepala-kepala setan. Kemudian benda itu dikeluarkan dan dikatakan kepada beliau Saw., "Tidakkah engkau membalikkannya?" Rasulullah Saw. menjawab:
«أَمَّا اللَّهُ فَقَدْ شَفَانِي وَأَكْرَهُ أَنْ أُثِيرَ عَلَى أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ شَرًّا»
Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya Allah telah menyembuhkan diriku, dan aku tidak suka menimpakan suatu keburukan terhadap seseorang. Dan Imam Bukhari meng-isnad-kan hadis ini melalui Isa ibnu Yunus, Abu Damrah alias Anas ibnu Iyad, Abu Usamah, dan Yahya Al-Qattan, yang di dalamnya disebutkan bahwa Aisyah r.a. mengatakan bahwa beliau Saw. sering berilusi seakan-akan telah melakukan sesuatu padahal tidak. Dalam riwayat ini disebutkan pula bahwa setelah itu Nabi Saw. memerintahkan agar sumur tersebut dimatikan, lalu ditimbun. Imam Bukhari menyebutkan bahwa hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Abuz Zanad dan Al-Lais ibnu Sa'd, dari Hisyam. Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Abu Usamah alias Hammad ibnu Usamah dan Abdullah ibnu Namir. Imam Ahmad meriwayatkannya dari Affan, dari Wahb, dari Hisyam dengan sanad yang sama. Imam Ahmad meriwayatkannya pula dari Ibrahim ibnu Khalid, dari Ma'mar, dari Hisyam, dari ayahnya, dari Aisyah yang menceritakan bahwa Nabi Saw. tinggal selama enam bulan sering mengalami seakan-akan mengerjakan sesuatu, padahal kenyataannya tidak. Kemudian datanglah kepadanya dua malaikat, salah seorang duduk di dekat kepalanya, sedangkan yang lain duduk di dekat kakinya. Salah seorangnya berkata kepada yang lain, "Kenapa dia?" Yang lain menjawab, "Terkena sihir." Ia bertanya, "Siapakah yang menyihirnya?" Yang lain menjawab, "Labid ibnul A'sam," lalu disebutkan hingga akhir hadis. Al-Ustaz Al-Mufassir As-Sa'labi telah menyebutkan di dalam kitab tafsirnya, bahwa ibnu Abbas dan Aisyah pernah menceritakan bahwa pernah ada seorang pemuda Yahudi menjadi pelayan Rasulullah Saw. Lalu orang-orang Yahudi mempengaruhi pemuda itu dengan gencarnya hingga pemuda itu mau menuruti kemauan mereka. Maka ia mengambil beberapa helai rambut Rasulullah Saw. dan beberapa buah gigi sisir yang biasa dipakai oleh beliau Saw., setelah itu kedua barang tersebut ia serahkan kepada orang-orang Yahudi. Lalu mereka menyihir Nabi Saw. melalui kedua benda itu, dan orang yang melakukannya adalah salah seorang dari mereka yang dikenal dengan nama Ibnu A'sam. Kemudian kedua barang tersebut ia tanam di dalam sebuah sumur milik Bani Zuraiq yang dikenal dengan nama Zirwan. Maka Rasulullah Saw. mengalami sakit dan rambut beliau kelihatan rontok. Beliau tinggal selama enam bulan seakan-akan mendatangi istri-istrinya, padahal kenyataannya tidak, dan beliau kelihatan gelisah dan tidak mengetahui apa yang telah terjadi pada dirinya. Ketika beliau sedang tidur, tiba-tiba ada dua malaikat datang kepadanya. Maka salah seorangnya duduk di dekat kepalanya, sedangkan yang lain duduk di dekat kakinya. Malaikat yang ada di dekat kakinya bertanya kepada malaikat yang ada di dekat kepalanya, "Apakah yang dialami oleh lelaki ini?" Ia menjawab, "Pengaruh Tib." Yang ada di dekat kakinya bertanya, "Apakah Tib itu?" Ia menjawab, "Sihir." Yang ada di dekat kakinya bertanya "Siapakah yang menyihirnya?" Ia menjawab, "Labid Ibnul A'sam, seorang Yahudi."
Malaikat yang ada di dekat kakinya bertanya, "Dengan apakah ia menyihirnya?" Ia menjawab, "Dengan rambutnya dan gigi sisirnya." Yang ada di dekat kakinya bertanya, "Di manakah hal itu diletakkan?" Ia menjawab, "Di dalam mayang kurma jantan di bawah batu yang ada di dalam sumur Zirwan." Al-juff artinya. kulit mayang kurma. Dan ar-raufah adalah sebuah batu yang di dalam sumur, tetapi menonjol digunakan untuk tempat berdirinya orang yang mengambil air. Maka Rasulullah Saw. terbangun dalam keadaan terkejut, lalu bersabda: Hai Aisyah, tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah telah menceritakan kepadaku tentang penyakitku ini. Lalu Rasulullah Saw. menyuruh Ali, Az-Zubair, dan Ammar ibnu Yasir untuk mengeringkan sumur tersebut; maka mereka bertiga mengeringkan sumur itu, yang airnya kelihatan seakan-akan seperti warna pacar (merah). Mereka bertiga mengangkat batu itu dan mengeluarkan mayang kurma yang ada di bawahnya. Maka ternyata di dalamnya terdapat beberapa helai rambut Rasulullah Saw. dan beberapa gigi sisirnya, dan tiba-tiba di dalamnya terdapat benang yang berbuhul (mempunyai ikatan) sebanyak dua belas ikatan yang ditusuk dengan jarum. Maka Allah menurunkan dua surat Mu'awwizatain, dan setiap kali Rasulullah Saw. membaca suatu ayat dari kedua surat tersebut, beliau merasa agak ringan, hingga terlepaslah semua ikatan benang itu dan bangkitlah beliau seakan-akan baru terlepas dari ikatan. Sedangkan Jibril a.s. mengucapkan: Dengan menyebut nama Allah aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang mengganggumu dari orang yang dengki dan pandangan mata yang jahat; semoga Allah menyembuhkanmu. Setelah itu mereka berkata, "Wahai Rasulullah, bolehkah kami menangkap orang yang jahat itu dan membunuhnya?" Rasulullah Saw. menjawab: "أما أَنَا فَقَدَ شَفَانِي اللَّهُ، وَأَكْرَهُ أَنْ يُثِيرَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا" Adapun diriku telah disembuhkan oleh Allah, dan aku tidak suka menimpakan keburukan terhadap orang lain.
Surat ini dan surat sesudahnya (surat An Naas)
diturunkan secara bersamaan sebagaimana dikatakan oleh Al Baihaqi dalam
Dalailin Nubuwwah. Oleh karena itu, kedua surat ini dinamakan Al Maw’izatain.
Surat ini merupakan surat Makkiyyah (turun sebelum hijrah) dan ada juga yang mengatakan bahwa surat ini adalah surat Madaniyyah. Surat ini turun sesudah surat Al Fiil.
(Aysarut Tafasir, hal. 1503; At Ta’rif bi Suratil Qur’anil Karim)
Asbabun Nuzul
Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disihir oleh orang Yahudi yang bernama Labid bin Al A’shom di Madinah, Allah Ta’ala menurunkan Al Maw’izatain
(surat Al Falaq dan An Naas). Lalu Jibril ’alaihis salam meruqyah (membaca kedua ayat tersebut) kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam.
Berkat izin Allah, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sembuh. (Aysarut Tafasir, hal. 1503) [Namun, riwayat sabab nuzul untuk surat Al falaq dan An Naaas dinilai dhaif oleh Syaikh Muqbil dalam as Shahih al Musnad min Asbab anNuzul, lihat juga penjelasan Ibnu Katsir] (Waktu Subuh) Makkiyah atau Madaniyyah, 5 ayat Turun sesudah Surat Al-Fil
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Al-Falaq, ayat 1-5
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)
Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang mengembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Isam, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az-Zubairi, telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Saleh, dari Abdullah ibnu Muhammad ibnu Aqil, dari Jabir yang mengatakan bahwa al-falaq artinya subuh. Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya, "Al-falaq" bahwa makna yang dimaksud ialah subuh. Dan telah diriwayatkan halyangsemisal dari Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, Abdullah ibnu Muhammad ibnu Aqil, Al-Hasan, Qatadah, Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi, Ibnu Zaid, dan Malik, dari Zaid ibnu Aslam. Al-Qurazi. Ibnu Zaid, dan Ibnu Jarir mengatakan bahwa makna yang dimaksud sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu: فالِقُ الْإِصْباحِ Dia menyingsingkan pagi.
(Al-An'am: 96) Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya, "Al-falaq," bahwa makna yang dimaksud ialah makhluk. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ad-Dahhak, bahwa Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk membaca ta'awwuz dari kejahatan semua makhluk-Nya. Ka'bul Ahbar mengatakan bahwa al-falaq adalah nama sebuah penjara di dalam neraka Jahanam; apabila pintunya dibuka, maka semua penghuni neraka menjerit karena panasnya yang sangat. Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya, untuk itu ia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Suhail ibnu Usman, dari seorang lelaki, dari As-Saddi, dari Zaid ibnu Ali, dari kakek moyangnya, bahwa mereka telah mengatakan bahwa al-falaq adalah nama sebuah sumur di dasar neraka Jahanam yang mempunyai tutup. Apabila tutupnya dibuka, maka keluarlah darinya api yang menggemparkan neraka Jahanam karena panasnya yang sangat berlebihan. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Amr ibnu Anbasah dan As-Saddi serta lain-lainnya. Sehubungan dengan hal ini telah ada sebuah hadis marfu' yang berpredikat munkar; untuk itu Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ishaq ibnu Wahb Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Mas'ud ibnu Musa ibnu Misykan Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Nasr ibnu Khuzaimah Al-Khurrasani, dari Syu'aib ibnu Safwan, dari Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: «الْفَلَقُ جُبٌّ فِي جَهَنَّمَ مُغَطَّى» Falaq adalah sebuah sumur di dalam neraka Jahanam yang mempunyai penutup. Sanad hadis ini garib dan predikat marfu'-nya tidak sahih. Abu Abdur Rahman Al-Habli telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, bahwa al-falaq adalah nama lain dari neraka Jahanam. Ibnu Jarir mengatakan bahwa yang benar adalah pendapat yang pertama, yaitu yang mengatakan bahwa sesungguhnya falaq adalah subuh. Pendapat inilah yang sahih dan dipilih oleh Imam Bukhari di dalam kitab sahihnya.
Firman Allah Swt: {مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ} dari kejahatan makhluk-Nya. (Al-Falaq: 2) Yakni dari kejahatan semua makhluk. Sabit Al-Bannani dan Al-Hasan Al-Basri telah mengatakan bahwa Jahanam, Iblis, dan keturunannya termasuk makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt. Firman Allah Swt.: {وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ} dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. (Al-Falaq: 3) Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah bila matahari telah tenggelam; demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Mujahid. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Abu Najih, dari Mujahid. Dan hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Abbas, Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi. Ad-Dahhak. Khasif. Al-Hasan, dan Qatadah, bahwa sesungguhnya makna yang dimaksud ialah malam hari apabila datang dengan kegelapan. Az-Zuhri mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita.
(Al-Falaq: 3) Yakni matahari apabila telah tenggelam. Telah diriwayatkan pula dari Atiyyah dan Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: apabila telah gelap gulita. (Al-Falaq: 3) Yaitu malam hari bila telah pergi. Abu Mihzan mengatakan dari Abu Hurairah sehubungan dengan makna firman-Nya: dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. (Al-Falaq: 3) Bahwa makna yang dimaksud ialah bintang. Ibnu Zaid mengatakan, dahulu orang-orang Arab mengatakan bahwa al-gasiq artinya jatuhnya bintang surayya. Berbagai penyakit dan Ta'un mewabah seusai jatuhnya bintang surayya, dan menjadi Lenyap dengan sendirinya bila bintang surayya terbit. Yang dimaksud dengan jatuh ialah tenggelam. Ibnu Jarir mengatakan bahwa di antara asar yang bersumber dari mereka ialah apa yang diceritakan kepadaku oleh Nasr Ibnu Ali, telah menceritakan kepadaku Bakkar, dari Abdullah keponakan Hammam, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdul Aziz ibnu Umar, dari Abdur Rahman ibnu Auf, dari ayahnya, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. sehubungan dengan makna firman-Nya: dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. (Al-Falaq: 3) Lalu beliau Saw. bersabda, bahwa makna yang dimaksud ialah bintang bila telah tenggelam. Menurut hemat saya, predikat marfu' hadis ini tidak sahih sampai kepada Nabi Saw. Ibnu Jarir mengatakan, ulama lainnya mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah rembulan. Menurut hemat saya, yang dijadikan pegangan oleh orang-orang yang berpendapat demikian ialah apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Daud Al-Hafri, dari Ibnu Abu Zi-b, dari Al-Haris ibnu Abu Salamah yang mengatakan bahwa Siti Aisyah r.a. telah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. memegang tangannya, lalu memperlihatkan kepadanya rembulan saat terbitnya, kemudian beliau Saw. bersabda: «تَعَوَّذِي بِاللَّهِ مِنْ شَرِّ هَذَا الْغَاسِقِ إِذَا وَقَبَ» Mohonlah perlindungan kepada Allah dari kejahatan rembulan ini apabila telah tenggelam. Imam Turmuzi dan Imam Nasai telah meriwayatkan di dalam kitab tafsir dari kitab sunan masing-masing melalui hadis Muhammad ibnu Abdur Rahman ibnu Abu Zi-b, dari pamannya (yaitu Al-Haris ibnu Abdur Rahman) dengan lafazyang sama; dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih. Lafaznya berbunyi seperti berikut: «تَعَوَّذِي بِاللَّهِ مِنْ شَرِّ هَذَا فَإِنَّ هَذَا الْغَاسِقُ إِذَا وَقَبَ» Mohonlah perlindungan kepada Allah dari kejahatan (rembulan) ini, yaitu apabila ia telah tenggelam. Menurut lafaz Imam Nasai disebutkan seperti berikut: «تَعَوَّذِي بِاللَّهِ مِنْ شَرِّ هَذَا، هَذَا الْغَاسِقُ إِذَا وَقَبَ» Mohonlah perlindungan kepada Allah dari kejahatan (rembulan) ini, yaitu apabila ia telah tenggelam. Orang-orang yang mengatakan pendapat pertama mengatakan bahwa rembulan merupakan pertanda malam hari bila telah muncul, dan ini tidaklah bertentangan dengan pendapat kami. Karena sesungguhnya rembulan merupakan pertanda malam hari dan rembulan tidak berperan kecuali hanya di malam hari. Demikian pula halnya dengan bintang-bintang; bintang-bintang tidak dapat bersinar kecuali di malam hari; dan hal ini sejalan dengan pendapat yang kami katakan; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Firman Allah Swt.: {وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ} dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang mengembus pada buhul-buhul. (Al-Falaq:4) Mujahid, Ikrimah. Al-Hasan. Qatadah. dan Ad-Dahhak telah mengatakan bahwa yang dimaksud ialah wanita-wanita penyihir. Mujahid mengatakan bahwa yaitu apabila wanita-wanita penyihir itu mengembus pada buhul-buhulnya. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Saur, dari Ma'mar, dari Ibnu Tawus, dari ayahnya yang mengatakan bahwa tiada suatu perbuatan pun yang lebih mendekati kepada kemusyrikan selain dari ruqyatul hayyah dan majanin, yakni sejenis perbuatan sihir.
Di dalam hadis lain disebutkan bahwa Malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw., lalu bertanya, "Hai Muhammad, apakah engkau sakit?" Nabi Saw. menjawab, "Ya." Jibril berkata (yakni berdoa): باسم اللَّهِ أَرْقِيكَ مِنْ كُلِّ دَاءٍ يُؤْذِيكَ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ حَاسِدٍ وَعَيْنٍ، اللَّهُ يَشْفِيكَ Dengan menyebut nama Allah aku meruqyahmu dari semua penyakit yang mengganggumu dan dari kejahatan setiap orang yang dengki dan kejahatan pandangan mata; semoga Allah menyembuhkanmu. Barangkali hal ini terjadi di saat Nabi Saw. sakit akibat terkena sihir, kemudian Allah Swt. menyelamatkan dan menyembuhkannya, dan menolak rencana jahat para penyihir dan orang-orang yang dengki dari kalangan orang-orang Yahudi, lalu menimpakannya kepada mereka dan menjadikan kehancuran mereka oleh tipu muslihat mereka sendiri hingga mereka dipermalukan. Tetapi sekalipun mendapat perlakuan demikian, Rasulullah Saw. tidak menegur atau mengecam pelakunya di suatu hari pun, bahkan beliau merasa cukup hanya meminta pertolongan kepada Allah, dan Dia menyembuhkan serta menyehatkannya. Imam Ahmad mengatakan. telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Yazid ibnu Hibban, dari Zaid ibnu Arqam yang mengatakan bahwa seorang lelaki Yahudi menyihir Nabi Saw. Karena itu, beliau merasa sakit selama beberapa hari. Lalu datanglah Jibril dan berkata, "Sesungguhnya seorang lelaki Yahudi telah menyihirmu dan membuat suatu buhul yang ditujukan terhadapmu, lalu ia meletakkannya di dalam sumurmu.'" Lalu Rasulullah Saw. menyuruh seseorang untuk mengambil buhul tersebut dari dalam sumur yang dimaksud. Setelah buhul itu dikeluarkan dari sumur, lalu diberikan kepada Rasulullah Saw. dan beliau membukanya, maka dengan serta merta seakan-akan Rasulullah Saw. baru terlepas dari suatu ikatan. Dan Rasulullah Saw. tidak pernah menyebutkan lelaki Yahudi itu dan tidak pula melihat mukanya sampai beliau wafat. Imam Nasai telah meriwayatkan hadis ini dari Hamad, dari Abu Mu'awiyah alias Muhammad ibnu Hazim Ad-Darir. Imam Bukhari mengatakan di dalam Kitabut Tib, dari kitab sahihnya, bahwa telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sufyan ibnu Uyaynah mengatakan bahwa orang yang mula-mula menceritakan kisah ini kepada kami adalah ibnu Juraij. Ia mengatakan, telah menceritakan kepadaku keluarga Urwah, dari Urwah, lalu aku menanyakan tentangnya kepada Hisyam, maka Hisyam mengatakan bahwa Urwah memang pernah menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa dahulu Rasulullah Saw. pernah disihir hingga beliau beranggapan bahwa dirinya telah mendatangi istri-istrinya, padahal tidak. Sufyan selanjutnya mengatakan bahwa sihir jenis ini merupakan sihir yang paling keras, bila pengaruhnya demikian. Lalu Rasulullah Saw.
bersabda: «يَا عَائِشَةُ أَعْلِمْتِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ؟ أَتَانِي رَجُلَانِ فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَالْآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيِّ، فَقَالَ الَّذِي عِنْدَ رَأْسِي لِلْآخَرِ: مَا بَالُ الرَّجُلِ؟ قَالَ: مَطْبُوبٌ ، قَالَ: وَمَنْ طَبَّهُ، قال لَبِيَدُ بْنُ أَعْصَمَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي زُرَيْقٍ حليف اليهود كان منافقا، قال: وَفِيمَ؟ قَالَ: فِي مُشْطٍ وَمُشَاقَةٍ ، قَالَ: وَأَيْنَ؟ قَالَ: فِي جُفِّ طَلْعَةِ ذَكَرٍ تَحْتَ رَعُوفَةٍ في بئر ذروان»
Hai Aisyah, tahukah engkau bahwa Allah telah memberiku nasihat tentang masalah yang aku telah memohon petunjuk dari-Nya mengenainya" Dua orang lelaki datang kepadaku yang salah seorangnya duduk di dekat kepalaku, sedangkan yang lainnya duduk di dekat kakiku. Maka orang yang ada di dekat kepalaku berkata kepada temannya, "Mengapa lelaki ini?” Ia menjawab, "Terkena sihir.” Orang yang berada dekat kepalaku bertanya, "Siapakah yang menyihirnya?” Ia menjawab, "Lubaid ibnu A 'sam, seorang lelaki dari Bani Zuraiq teman sepakta orang-orang Yahudi, dia adalah seorang munafik.” Yang berada di dekat kepalaku bertanya, "Dengan apa?” Ia menjawab, "Sisir dan rambut.” Orang yang berada di dekat kepalaku bertanya, ' 'Di taruh di mana?'' Ia menjawab, "Di dalam mayang kurma jantan di bawah sebuah batu di dalam sumur Zirwan." Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Rasulullah Saw. mendatangi sumur tersebut dan mengeluarkannya, kemudian beliau bersabda
«هَذِهِ الْبِئْرُ الَّتِي أُرِيتُهَا وَكَأَنَّ مَاءَهَا نقاعة الحناء وكأن نخلها رؤوس الشياطين»
Inilah sumur yang diperlihatkan kepadaku dalam mimpiku; airnya seakan-akan seperti warna pacar (merah) dan pohon-pohon kurmanya seakan-akan seperti kepala-kepala setan. Kemudian benda itu dikeluarkan dan dikatakan kepada beliau Saw., "Tidakkah engkau membalikkannya?" Rasulullah Saw. menjawab:
«أَمَّا اللَّهُ فَقَدْ شَفَانِي وَأَكْرَهُ أَنْ أُثِيرَ عَلَى أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ شَرًّا»
Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya Allah telah menyembuhkan diriku, dan aku tidak suka menimpakan suatu keburukan terhadap seseorang. Dan Imam Bukhari meng-isnad-kan hadis ini melalui Isa ibnu Yunus, Abu Damrah alias Anas ibnu Iyad, Abu Usamah, dan Yahya Al-Qattan, yang di dalamnya disebutkan bahwa Aisyah r.a. mengatakan bahwa beliau Saw. sering berilusi seakan-akan telah melakukan sesuatu padahal tidak. Dalam riwayat ini disebutkan pula bahwa setelah itu Nabi Saw. memerintahkan agar sumur tersebut dimatikan, lalu ditimbun. Imam Bukhari menyebutkan bahwa hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Abuz Zanad dan Al-Lais ibnu Sa'd, dari Hisyam. Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Abu Usamah alias Hammad ibnu Usamah dan Abdullah ibnu Namir. Imam Ahmad meriwayatkannya dari Affan, dari Wahb, dari Hisyam dengan sanad yang sama. Imam Ahmad meriwayatkannya pula dari Ibrahim ibnu Khalid, dari Ma'mar, dari Hisyam, dari ayahnya, dari Aisyah yang menceritakan bahwa Nabi Saw. tinggal selama enam bulan sering mengalami seakan-akan mengerjakan sesuatu, padahal kenyataannya tidak. Kemudian datanglah kepadanya dua malaikat, salah seorang duduk di dekat kepalanya, sedangkan yang lain duduk di dekat kakinya. Salah seorangnya berkata kepada yang lain, "Kenapa dia?" Yang lain menjawab, "Terkena sihir." Ia bertanya, "Siapakah yang menyihirnya?" Yang lain menjawab, "Labid ibnul A'sam," lalu disebutkan hingga akhir hadis. Al-Ustaz Al-Mufassir As-Sa'labi telah menyebutkan di dalam kitab tafsirnya, bahwa ibnu Abbas dan Aisyah pernah menceritakan bahwa pernah ada seorang pemuda Yahudi menjadi pelayan Rasulullah Saw. Lalu orang-orang Yahudi mempengaruhi pemuda itu dengan gencarnya hingga pemuda itu mau menuruti kemauan mereka. Maka ia mengambil beberapa helai rambut Rasulullah Saw. dan beberapa buah gigi sisir yang biasa dipakai oleh beliau Saw., setelah itu kedua barang tersebut ia serahkan kepada orang-orang Yahudi. Lalu mereka menyihir Nabi Saw. melalui kedua benda itu, dan orang yang melakukannya adalah salah seorang dari mereka yang dikenal dengan nama Ibnu A'sam. Kemudian kedua barang tersebut ia tanam di dalam sebuah sumur milik Bani Zuraiq yang dikenal dengan nama Zirwan. Maka Rasulullah Saw. mengalami sakit dan rambut beliau kelihatan rontok. Beliau tinggal selama enam bulan seakan-akan mendatangi istri-istrinya, padahal kenyataannya tidak, dan beliau kelihatan gelisah dan tidak mengetahui apa yang telah terjadi pada dirinya. Ketika beliau sedang tidur, tiba-tiba ada dua malaikat datang kepadanya. Maka salah seorangnya duduk di dekat kepalanya, sedangkan yang lain duduk di dekat kakinya. Malaikat yang ada di dekat kakinya bertanya kepada malaikat yang ada di dekat kepalanya, "Apakah yang dialami oleh lelaki ini?" Ia menjawab, "Pengaruh Tib." Yang ada di dekat kakinya bertanya, "Apakah Tib itu?" Ia menjawab, "Sihir." Yang ada di dekat kakinya bertanya "Siapakah yang menyihirnya?" Ia menjawab, "Labid Ibnul A'sam, seorang Yahudi."
Malaikat yang ada di dekat kakinya bertanya, "Dengan apakah ia menyihirnya?" Ia menjawab, "Dengan rambutnya dan gigi sisirnya." Yang ada di dekat kakinya bertanya, "Di manakah hal itu diletakkan?" Ia menjawab, "Di dalam mayang kurma jantan di bawah batu yang ada di dalam sumur Zirwan." Al-juff artinya. kulit mayang kurma. Dan ar-raufah adalah sebuah batu yang di dalam sumur, tetapi menonjol digunakan untuk tempat berdirinya orang yang mengambil air. Maka Rasulullah Saw. terbangun dalam keadaan terkejut, lalu bersabda: Hai Aisyah, tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah telah menceritakan kepadaku tentang penyakitku ini. Lalu Rasulullah Saw. menyuruh Ali, Az-Zubair, dan Ammar ibnu Yasir untuk mengeringkan sumur tersebut; maka mereka bertiga mengeringkan sumur itu, yang airnya kelihatan seakan-akan seperti warna pacar (merah). Mereka bertiga mengangkat batu itu dan mengeluarkan mayang kurma yang ada di bawahnya. Maka ternyata di dalamnya terdapat beberapa helai rambut Rasulullah Saw. dan beberapa gigi sisirnya, dan tiba-tiba di dalamnya terdapat benang yang berbuhul (mempunyai ikatan) sebanyak dua belas ikatan yang ditusuk dengan jarum. Maka Allah menurunkan dua surat Mu'awwizatain, dan setiap kali Rasulullah Saw. membaca suatu ayat dari kedua surat tersebut, beliau merasa agak ringan, hingga terlepaslah semua ikatan benang itu dan bangkitlah beliau seakan-akan baru terlepas dari ikatan. Sedangkan Jibril a.s. mengucapkan: Dengan menyebut nama Allah aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang mengganggumu dari orang yang dengki dan pandangan mata yang jahat; semoga Allah menyembuhkanmu. Setelah itu mereka berkata, "Wahai Rasulullah, bolehkah kami menangkap orang yang jahat itu dan membunuhnya?" Rasulullah Saw. menjawab: "أما أَنَا فَقَدَ شَفَانِي اللَّهُ، وَأَكْرَهُ أَنْ يُثِيرَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا" Adapun diriku telah disembuhkan oleh Allah, dan aku tidak suka menimpakan keburukan terhadap orang lain.
Jumaat, 19 Januari 2018
at-tiin tafsir dan isi kandugan 1-8
Tafsir At Tiin Surah At Tiin
(Buah Tin) Surah ke-95.
8 ayat. Makkiyyah;
Teguran keras mengenai manusia sebagai makhluk paling istimewa yang pernah diciptakan Allah melampaui segala makhluk namun berakhir tragis karena dicampakkan ke dalam keadaan paling menyedihkan jika tidak beriman dan enggan beramal saleh. Penegasan bahwa tiada yang melebihi Keadilan Yang Maha Adil.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Ayat 1-8: Manusia diciptakan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dalam bentuk yang sebaik-baiknya, yang menjadi pokok kemuliaan manusia adalah iman dan amal saleh, dan menetapkan adanya kebangkitan.
وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ (١) وَطُورِ سِينِينَ (٢) وَهَذَا الْبَلَدِ الأمِينِ (٣) لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (٤) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (٥)إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (٦) فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ (٧) أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ (٨)
Terjemah Surat At Tiin Ayat 1-8
1. Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun[1],1) wat-tin waz-zaytuuni 2. demi gunung Sinai[2],2) Wa thuuri siiniina 3. dan demi negeri (Mekah) yang aman ini[3],3) wa haadzal-baladil amiin 4. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya[4],4) laqad khalaqnal-insaana fii ahsani taqwiim 5. kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)[5],5) tsumma radadnaahu as fala saafiliin 6. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya[6].6) llal-ladziina amanuu wa amilus-shalihaati falahum Arjun ghayru mam-nuun 7. Maka apa yang menyebabkan (mereka) mendustakanmu (tentang) hari pembalasan setelah (adanya keterangan-keterangan) itu[7]?7) famaa yukadzdzibuka ba'du biddiin 8. Bukankah Allah hakim yang paling adil?[8]8) alaysal-laahu bi-ahkamil-haakimiin
(Buah Tin) Surah ke-95.
8 ayat. Makkiyyah;
Teguran keras mengenai manusia sebagai makhluk paling istimewa yang pernah diciptakan Allah melampaui segala makhluk namun berakhir tragis karena dicampakkan ke dalam keadaan paling menyedihkan jika tidak beriman dan enggan beramal saleh. Penegasan bahwa tiada yang melebihi Keadilan Yang Maha Adil.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Ayat 1-8: Manusia diciptakan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dalam bentuk yang sebaik-baiknya, yang menjadi pokok kemuliaan manusia adalah iman dan amal saleh, dan menetapkan adanya kebangkitan.
وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ (١) وَطُورِ سِينِينَ (٢) وَهَذَا الْبَلَدِ الأمِينِ (٣) لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (٤) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (٥)إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (٦) فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ (٧) أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ (٨)
Terjemah Surat At Tiin Ayat 1-8
1. Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun[1],1) wat-tin waz-zaytuuni 2. demi gunung Sinai[2],2) Wa thuuri siiniina 3. dan demi negeri (Mekah) yang aman ini[3],3) wa haadzal-baladil amiin 4. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya[4],4) laqad khalaqnal-insaana fii ahsani taqwiim 5. kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)[5],5) tsumma radadnaahu as fala saafiliin 6. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya[6].6) llal-ladziina amanuu wa amilus-shalihaati falahum Arjun ghayru mam-nuun 7. Maka apa yang menyebabkan (mereka) mendustakanmu (tentang) hari pembalasan setelah (adanya keterangan-keterangan) itu[7]?7) famaa yukadzdzibuka ba'du biddiin 8. Bukankah Allah hakim yang paling adil?[8]8) alaysal-laahu bi-ahkamil-haakimiin
[1] Yang dimaksud dengan Tin menurut sebagian mufassir ialah tempat tinggal Nabi Nuh, yaitu Damaskus yang banyak pohon Tin; dan Zaitun ialah Baitul Maqdis yang banyak tumbuh pohon Zaitun. Allah Subhaanahu wa Ta'aala bersumpah dengan kedua pohon itu karena banyaknya manfaat pada pohon dan buahnya, dan karena biasa tumbuh di negeri Syam; negeri tempat kenabian Isa putera Maryam’alaihis salam. [2] Bukit Sinai adalah tempat Nabi Musa ‘alaihis salam diajak bicara oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan menerima wahyu dari-Nya. Sinin artinya yang diberkahi atau indah karena pohon-pohon yang berbuah. [3] Yang merupakan negeri tempat kenabian Muhamad shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah Subhaanahu wa Ta'aala bersumpah dengan tempat-tempat yang mulia tersebut yang dari sana dibangkitkan nabi-nabi yang utama dan mulia. Isi sumpahnya adalah apa yang disebutkan dalam ayat selanjutnya. [4] Yakni sempurna dan seimbang fisiknya serta sesuai letak anggota badannya. Namun sayang, nikmat yang besar ini tidak disyukuri oleh kebanyakan manusia. Kebanyakan mereka berpaling dari sikap syukur, sibuk dengan permainan dan yang melalaikan, dan lebih senang dengan perkara yang hina dan rendah, sehingga Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengembalikan mereka ke tempat yang paling rendah, yaitu neraka yang merupakan tempat para pelaku maksiat yang durhaka. [5] Ada pula yang menafsirkan dengan masa tua, pikun dan lemah. [6] Mereka memperoleh kenikmatan yang penuh, kegembiraan yang berturut-turut, kesenangan yang banyak selama-lamanya. [7] Yakni setelah mereka tahu bahwa manusia diciptakan Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya, lalu dikembalikan-Nya kepada keadaan yang paling rendah dimana pada semua itu terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala berkuasa membangkitkan. [8] Yakni bukankah hikmah (kebijaksanaan)-Nya menghendaki untuk tidak membiarkan makhluk ciptaan-Nya begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang serta tanpa diberikan balasan? Bukankah Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang menciptakan manusia secara bertahap dan mengirimkan berbagai kenikmatan yang tidak dapat mereka jumlahkan serta mengurus mereka dengan pengurusan yang sebaik-baiknya pasti akan mengembalikan mereka ke tempat terakhir mereka menetap? Dan bukankah Allah Subhaanahu wa Ta'aala hakim yang paling adil dan tidak pernah berbuat zalim kepada seorang pun? Ya, benar kami menjadi saksi terhadap hal itu.
tafsir surah adh-dhuha 1-11
Tafsir Ibnu Katsir Surah Adl-Dluhaa
(Waktu Matahari Naik Sepenggalah)
Surah Makkiyaah, Surah ke 93: 11 ayat (bahasa Arab:الضحى) adalah surah ke-93 dalam al-Qur'an dan terdiri atas 11 ayat. Surah ini termasuk golongan surah Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Fajr. Nama Adh Dhuhaa diambil dari kata yang terdapat pada ayat pertama, yang artinya "waktu matahari sepenggalahan naik". Surat Adh Dhuhaa, menerangkan tentang pemeliharaan Allah SWT terhadap Nabi Muhammad SAW dengan cara yang tak putus-putusnya, larangan berbuat buruk terhadap anak yatim dan orang yang meminta-minta dan mengandung pula perintah kepada Nabi supaya mensyukuri segala nikmat. “
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم وَالضُّحَى وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى وَلَلآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الأولَى وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى وَوَجَدَكَ ضَالا فَهَدَى وَوَجَدَكَ عَائِلا فَأَغْنَى فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلا تَقْهَرْ وَأَمَّا السَّائِلَ فَلا تَنْهَرْ وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
1. demi waktu matahari sepenggalahan naik, 2. dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), 3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, 4. dan Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan) 5. dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas. 6. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? 7. dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. 8. dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. 9. sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu Berlaku sewenang-wenang. 10. dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. 11. dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan.”
(adl-Dluhaa: 1-11) Imam Ahmad meriwayatkan, Abu Nu’aim Sufyan member tahu kami dari al-Aswad bin Qais, dia berkata: aku pernah mendengar Jundub berkata: “Nabi saw. Pernah bersedih hati sehingga beliau tidak bangun satu atau dua malam. Kemudian dating seorang perempuan dan berkata: ‘Wahai Muhammad, aku tidak melihat syaitanmu melainkan dia telah meninggalkanmu.’
Kemudian Allah menurunkan ayat: wadl-dluhaa. Wallaili idzaa sajaa. Maa wadda’aka rabbuka wamaa qalaa (““1. demi waktu matahari sepenggalahan naik, 2. dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), 3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu,”) diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i. Yang demikian itu merupakan sumpah Allah dengan waktu dluha dan juga cahaya yang dipancarkan pada waktu itu. Wal laili idzaa sajaa (“Dan demi malam apabila telah sunyi”) yakni telah menjadi tenang, lalu digelapkan.
Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid, Qatadah, adl-Dlahhak, Ibnu Zaid, dan lain-lain. Dan hal itu yang menjadi dalil nyata yang menunjukkan kekuasaan Sang Khaliq. Firman Allah: maa wadda’aka rabbuka (“Rabb-mu tidak meninggalkanmu”) yakni tidak membiarkanmu. Wa maa qalaa (“Dan tidak [pula] benci kepadamu.”) yakni membencimu. Wa lal-aakhiratu khairul laka minal uulaa (“Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan.”) maksudnya, alam akhirat itu lebih baik bagimu daripada alam dunia ini. Oleh karena itu, Rasulullah saw. sebagai orang paling juhud di dunia ini sekaligus paling bijaksana menyikapinya, dan itu sudah sangat dikenal di dalam sirah beliau.
Dan ketika diajukan pilihan kepada beliau di akhir hayatnya, antara tetap hidup di dunia sampai berakhir dan kemudian mendapatkan surga dengan menghadap Allah, maka beliau memilih apa yang ada di sisi Allah daripada dunia yang hina ini. Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: “Rasulullah saw. pernah berbaring di atas tikar sehingga menimbulkan bekas pada lambungnya. Pada saat bangun, aku mengusap lambung beliau dan kukatakan: ‘Wahai Rasulallah, berikan perkenan kepada kami sehingga kami bentangkan sesuatu di atas tikar tersebut untukmu.’ Maka Rasululullah saw. bersabda: ‘Aku tidak mempunyai kepentingan terhadap dunia ini. Perumpamaanku dengan dunia ini tidak lain hanyalah seperti orang yang sedang berkendaraan yang berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.’”
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi mengatakan: “Hasan shahih”. Firman Allah: wa lasaufa yu’thiika rabbuka fatardlaa (“Dan kelak pasti Rabb-mu memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu [hati] kamu menjadi puas.”) yakni, di alam akhirat kelak, Dia akan memberikan karunia kepada beliau sehingga Dia meridlainya untuk memberi syafaat kepada umatnya dan menerima apa yang telah disediakan untuk beliau berupa kemuliaan. Imam Abu ‘Amr al-Auza’i meriwayatkan dari ‘Ali bin ‘Abdillah bin ‘Abbas, dari ayahnya, ia berkata: “Pernah diperlihatkan kepada Rasulullah saw. sesuatu yang telah dibukakan gudang penyimpan barang berharga untuk umatnya sepeninggal beliau.
Maka Rasulullah saw. sangat gembira dengan hal tersebut sehingga Allah menurunkan ayat: wa lasaufa yu’thiika rabbuka fatardlaa (“Dan kelak pasti Rabb-mu memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu [hati] kamu menjadi puas.”) Maka Allah pun memberi beliau di surga satu juta istana. Di setiap istana terdapat istri-istri juga pelayan. Demikian yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari jalannya. Dan ini adalah sanad yang shahih kepada Ibnu ‘Abbas. Dan perumpamaan ini tidak diungkapkan melainkan sebagai penghentian. As-Suddi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, di antara bentuk kepuasan Muhammad saw. adalah tidak adanya seorang pun dari keluarganya yang masuk neraka. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim. Al-Hasan mengungkapkan: “Yang dimaksud dengan hal ini adalah syafaat.” Demikianlah yang dikemukakan oleh Abu ja’far al-Baqir. Kemudian sambil menghitung nikmat-nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba sekaligus Rasul-Nya, Muhammad saw., Allah berfirman: a lam yajidka yatiimang fa aawaa (“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu.”) yang demikian itu karena ayahnya telah wafat ketika beliau masih dalam kandungan ibunya. Ada juga yang menyebutkan, setelah beliau lahir, ibunya –Aminah binti Wahb- pun wafat, ketika itu beliau masih berusia 6 tahun. Kemudian beliau berada di bawah asuhan kakeknya, ‘Abdul Muththalib sampai kakeknya meninggal dunia ketika beliau berusian 8 tahun. Lalu beliau diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Abu Thalib melindungi dan memuliakannya hingga beliau diangkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun, sedangkan Abu Thalib masih memeluk agama nenek moyangnya. Semua itu terjadi atas takdir Allah dan pengaturnan-Nya yang baik sampai akhirnya Abu Thalib meninggal dunia sesaat sebelum beliau berhijrah. Kemudian orang-orang bodoh dari kaum Quraisy semakin berani sehingga Allah memilihkan hijrah untuk beliau dari tengah-tengah mereka ke negeri Anshar, dari suku Auz dan Khazraj (Madinah). Sebagaimana Allah telah memberlakukan sunnah-Nya dengan penuh kesempurnaan dan kelengkapan, maka setelah beliau sampai kepada mereka, merekpun memberikan perlindungan dan pertolongan serta pengawalan, dan menyertai berperang bersama beliau. Semua itu merupakan bentuk penjagaan, perlindungan dan pertolongan Allah kepada beliau. Firman Allah: wawajadaka dlaallang faHadaa (“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberi petunjuk.”) yang demikian itu sama seperti firman-Nya yang artinya: 52. dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”)(asy-Syuura: 52) Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat itu adalah Nabi saw. pernah tersesa di jalanan gunung yang terletak di Makkah, ketika itu beliau masih kecil, kemudian beliau bisa pulang kembali. Pada saat itu beliau sedang bersama pamannya menuju ke Syam. Beliau naik unta pada malam hari, lalu iblis datang dan menyelewengkan beliau dari jalan yang sebenarnya. Selanjutnya Jibril datang, lalu menyembur dengan sekali tiupan kepada iblil sehingga dia pergi darinya menuju Habasyah, kemudian mengarahkan binatang kendaraan itu ke suatu jalan. Demikian yang diriwayatkan oleh al-Baghawi. Firman Allah: wawajadaka ‘aa-ilang fa-anghnaa (“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”) artinya, engkau sebagai seorang miskin yang banyak kekurangan, lalu allah memberimu kecukupan dari selain-Nya. Dengan demikian, Dia menggabungkan dua kedudukan untuk beliau, sebagai seorang miskin yang senantiasa bersabar dan seorang kaya yang senantiasa bersyukur. Dalam kitab ash-Shahihain disebutkan melalui jalan ‘Abdurrazzaq dari Ma’mar dari Hammam bin Munabbih, dia mengatakan: “Inilah diberitahukan kepada kami oleh Abu Hurairah. Dia berkata: “Rasulullah bersabda: ‘Tidaklah kekayaan itu dengan banyakknya harta, tetapi kekayaan itu adalah kayanya jiwa.’”
Di dalam kitab Shahih Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Berbahagialah orang yang memeluk Islam dan diberi rizki yang cukup dan dijadikan puas oleh Allah atas apa yang telah Dia berikan kepadanya.” Firman Allah: fa ammal yatiima falaa taqHar (“Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.”) yakni sebagaimana kamu dulu sebagai seorang anak yatim, lalu Allah memberikan perlindungan kepadamu. Oleh karena itu, janganlah engkau menghardik anak yatim. Artinya janganlah engkau menghinakan, berbuat kasar terhadapnya dan janganlah engkau menghalanginya, tetapi hendaklah bersikap baik dan berlemah lembut terhadapnya. Qatadah mengatakan: “Jadilah engkau bagi anak yatim serperti seorang anak yang penuh kasih sayang.” Wa ammas saa-ila falaa tanHar (“Dan terhadap orang yang minta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya.”) maksudnya, sebagaimana dulu engkau pernah tersesat, lalu Allah memberi petunjuk, maka janganlah kamu menghardik orang yang meminta ilmu dan bimbingan. Selain itu, Qatadah juga mengemukakan: “Yakni, menolak orang miskin dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.” Wa ammaa bini’mati rabbika fahaddits (“Dan terhadap nikmat Rabb-mu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya [dengan bersyukur]”) maksudnya, sebagaiman dulu engkau seorang miskin lagi kekurangan, lalu Allah membuatmu kaya, maka sebut-sebutlah nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepadamu. Dan di dalam kitab ash-Shahihain, dari Anas bahwa kaum Muhajirin pernah berkata: “Wahai Rasulallah, kaum Anshar telah membawa pergi semua pahala.” Maka beliau menjawab: “Tidak, selama kalian mendo’akan kebaikan untuk mereka dan pujian yang kalian berikan kepada mereka.”
(Waktu Matahari Naik Sepenggalah)
Surah Makkiyaah, Surah ke 93: 11 ayat (bahasa Arab:الضحى) adalah surah ke-93 dalam al-Qur'an dan terdiri atas 11 ayat. Surah ini termasuk golongan surah Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Fajr. Nama Adh Dhuhaa diambil dari kata yang terdapat pada ayat pertama, yang artinya "waktu matahari sepenggalahan naik". Surat Adh Dhuhaa, menerangkan tentang pemeliharaan Allah SWT terhadap Nabi Muhammad SAW dengan cara yang tak putus-putusnya, larangan berbuat buruk terhadap anak yatim dan orang yang meminta-minta dan mengandung pula perintah kepada Nabi supaya mensyukuri segala nikmat. “
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم وَالضُّحَى وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى وَلَلآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الأولَى وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى وَوَجَدَكَ ضَالا فَهَدَى وَوَجَدَكَ عَائِلا فَأَغْنَى فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلا تَقْهَرْ وَأَمَّا السَّائِلَ فَلا تَنْهَرْ وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
1. demi waktu matahari sepenggalahan naik, 2. dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), 3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, 4. dan Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan) 5. dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas. 6. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? 7. dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. 8. dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. 9. sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu Berlaku sewenang-wenang. 10. dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. 11. dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan.”
(adl-Dluhaa: 1-11) Imam Ahmad meriwayatkan, Abu Nu’aim Sufyan member tahu kami dari al-Aswad bin Qais, dia berkata: aku pernah mendengar Jundub berkata: “Nabi saw. Pernah bersedih hati sehingga beliau tidak bangun satu atau dua malam. Kemudian dating seorang perempuan dan berkata: ‘Wahai Muhammad, aku tidak melihat syaitanmu melainkan dia telah meninggalkanmu.’
Kemudian Allah menurunkan ayat: wadl-dluhaa. Wallaili idzaa sajaa. Maa wadda’aka rabbuka wamaa qalaa (““1. demi waktu matahari sepenggalahan naik, 2. dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), 3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu,”) diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i. Yang demikian itu merupakan sumpah Allah dengan waktu dluha dan juga cahaya yang dipancarkan pada waktu itu. Wal laili idzaa sajaa (“Dan demi malam apabila telah sunyi”) yakni telah menjadi tenang, lalu digelapkan.
Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid, Qatadah, adl-Dlahhak, Ibnu Zaid, dan lain-lain. Dan hal itu yang menjadi dalil nyata yang menunjukkan kekuasaan Sang Khaliq. Firman Allah: maa wadda’aka rabbuka (“Rabb-mu tidak meninggalkanmu”) yakni tidak membiarkanmu. Wa maa qalaa (“Dan tidak [pula] benci kepadamu.”) yakni membencimu. Wa lal-aakhiratu khairul laka minal uulaa (“Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan.”) maksudnya, alam akhirat itu lebih baik bagimu daripada alam dunia ini. Oleh karena itu, Rasulullah saw. sebagai orang paling juhud di dunia ini sekaligus paling bijaksana menyikapinya, dan itu sudah sangat dikenal di dalam sirah beliau.
Dan ketika diajukan pilihan kepada beliau di akhir hayatnya, antara tetap hidup di dunia sampai berakhir dan kemudian mendapatkan surga dengan menghadap Allah, maka beliau memilih apa yang ada di sisi Allah daripada dunia yang hina ini. Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: “Rasulullah saw. pernah berbaring di atas tikar sehingga menimbulkan bekas pada lambungnya. Pada saat bangun, aku mengusap lambung beliau dan kukatakan: ‘Wahai Rasulallah, berikan perkenan kepada kami sehingga kami bentangkan sesuatu di atas tikar tersebut untukmu.’ Maka Rasululullah saw. bersabda: ‘Aku tidak mempunyai kepentingan terhadap dunia ini. Perumpamaanku dengan dunia ini tidak lain hanyalah seperti orang yang sedang berkendaraan yang berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.’”
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi mengatakan: “Hasan shahih”. Firman Allah: wa lasaufa yu’thiika rabbuka fatardlaa (“Dan kelak pasti Rabb-mu memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu [hati] kamu menjadi puas.”) yakni, di alam akhirat kelak, Dia akan memberikan karunia kepada beliau sehingga Dia meridlainya untuk memberi syafaat kepada umatnya dan menerima apa yang telah disediakan untuk beliau berupa kemuliaan. Imam Abu ‘Amr al-Auza’i meriwayatkan dari ‘Ali bin ‘Abdillah bin ‘Abbas, dari ayahnya, ia berkata: “Pernah diperlihatkan kepada Rasulullah saw. sesuatu yang telah dibukakan gudang penyimpan barang berharga untuk umatnya sepeninggal beliau.
Maka Rasulullah saw. sangat gembira dengan hal tersebut sehingga Allah menurunkan ayat: wa lasaufa yu’thiika rabbuka fatardlaa (“Dan kelak pasti Rabb-mu memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu [hati] kamu menjadi puas.”) Maka Allah pun memberi beliau di surga satu juta istana. Di setiap istana terdapat istri-istri juga pelayan. Demikian yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari jalannya. Dan ini adalah sanad yang shahih kepada Ibnu ‘Abbas. Dan perumpamaan ini tidak diungkapkan melainkan sebagai penghentian. As-Suddi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, di antara bentuk kepuasan Muhammad saw. adalah tidak adanya seorang pun dari keluarganya yang masuk neraka. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim. Al-Hasan mengungkapkan: “Yang dimaksud dengan hal ini adalah syafaat.” Demikianlah yang dikemukakan oleh Abu ja’far al-Baqir. Kemudian sambil menghitung nikmat-nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba sekaligus Rasul-Nya, Muhammad saw., Allah berfirman: a lam yajidka yatiimang fa aawaa (“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu.”) yang demikian itu karena ayahnya telah wafat ketika beliau masih dalam kandungan ibunya. Ada juga yang menyebutkan, setelah beliau lahir, ibunya –Aminah binti Wahb- pun wafat, ketika itu beliau masih berusia 6 tahun. Kemudian beliau berada di bawah asuhan kakeknya, ‘Abdul Muththalib sampai kakeknya meninggal dunia ketika beliau berusian 8 tahun. Lalu beliau diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Abu Thalib melindungi dan memuliakannya hingga beliau diangkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun, sedangkan Abu Thalib masih memeluk agama nenek moyangnya. Semua itu terjadi atas takdir Allah dan pengaturnan-Nya yang baik sampai akhirnya Abu Thalib meninggal dunia sesaat sebelum beliau berhijrah. Kemudian orang-orang bodoh dari kaum Quraisy semakin berani sehingga Allah memilihkan hijrah untuk beliau dari tengah-tengah mereka ke negeri Anshar, dari suku Auz dan Khazraj (Madinah). Sebagaimana Allah telah memberlakukan sunnah-Nya dengan penuh kesempurnaan dan kelengkapan, maka setelah beliau sampai kepada mereka, merekpun memberikan perlindungan dan pertolongan serta pengawalan, dan menyertai berperang bersama beliau. Semua itu merupakan bentuk penjagaan, perlindungan dan pertolongan Allah kepada beliau. Firman Allah: wawajadaka dlaallang faHadaa (“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberi petunjuk.”) yang demikian itu sama seperti firman-Nya yang artinya: 52. dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”)(asy-Syuura: 52) Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat itu adalah Nabi saw. pernah tersesa di jalanan gunung yang terletak di Makkah, ketika itu beliau masih kecil, kemudian beliau bisa pulang kembali. Pada saat itu beliau sedang bersama pamannya menuju ke Syam. Beliau naik unta pada malam hari, lalu iblis datang dan menyelewengkan beliau dari jalan yang sebenarnya. Selanjutnya Jibril datang, lalu menyembur dengan sekali tiupan kepada iblil sehingga dia pergi darinya menuju Habasyah, kemudian mengarahkan binatang kendaraan itu ke suatu jalan. Demikian yang diriwayatkan oleh al-Baghawi. Firman Allah: wawajadaka ‘aa-ilang fa-anghnaa (“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”) artinya, engkau sebagai seorang miskin yang banyak kekurangan, lalu allah memberimu kecukupan dari selain-Nya. Dengan demikian, Dia menggabungkan dua kedudukan untuk beliau, sebagai seorang miskin yang senantiasa bersabar dan seorang kaya yang senantiasa bersyukur. Dalam kitab ash-Shahihain disebutkan melalui jalan ‘Abdurrazzaq dari Ma’mar dari Hammam bin Munabbih, dia mengatakan: “Inilah diberitahukan kepada kami oleh Abu Hurairah. Dia berkata: “Rasulullah bersabda: ‘Tidaklah kekayaan itu dengan banyakknya harta, tetapi kekayaan itu adalah kayanya jiwa.’”
Di dalam kitab Shahih Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Berbahagialah orang yang memeluk Islam dan diberi rizki yang cukup dan dijadikan puas oleh Allah atas apa yang telah Dia berikan kepadanya.” Firman Allah: fa ammal yatiima falaa taqHar (“Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.”) yakni sebagaimana kamu dulu sebagai seorang anak yatim, lalu Allah memberikan perlindungan kepadamu. Oleh karena itu, janganlah engkau menghardik anak yatim. Artinya janganlah engkau menghinakan, berbuat kasar terhadapnya dan janganlah engkau menghalanginya, tetapi hendaklah bersikap baik dan berlemah lembut terhadapnya. Qatadah mengatakan: “Jadilah engkau bagi anak yatim serperti seorang anak yang penuh kasih sayang.” Wa ammas saa-ila falaa tanHar (“Dan terhadap orang yang minta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya.”) maksudnya, sebagaimana dulu engkau pernah tersesat, lalu Allah memberi petunjuk, maka janganlah kamu menghardik orang yang meminta ilmu dan bimbingan. Selain itu, Qatadah juga mengemukakan: “Yakni, menolak orang miskin dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.” Wa ammaa bini’mati rabbika fahaddits (“Dan terhadap nikmat Rabb-mu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya [dengan bersyukur]”) maksudnya, sebagaiman dulu engkau seorang miskin lagi kekurangan, lalu Allah membuatmu kaya, maka sebut-sebutlah nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepadamu. Dan di dalam kitab ash-Shahihain, dari Anas bahwa kaum Muhajirin pernah berkata: “Wahai Rasulallah, kaum Anshar telah membawa pergi semua pahala.” Maka beliau menjawab: “Tidak, selama kalian mendo’akan kebaikan untuk mereka dan pujian yang kalian berikan kepada mereka.”
Langgan:
Catatan (Atom)
JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN
JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN
-
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'' SURAH ALI-IMRAN-JUZ-4 BIS-MIL-LAA-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM.''' Ayat 155-158: Menanamka...
-
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK; SURAH ALI-IMRAN JUZ-4 BISS-,MILLAA-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM,.; Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 154 Summa a...
-
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK' SURAH BAQARAH 214-220'' BIS-MIL-LAHI-RAHMANI-RAHIM' 214...