Rabu, 20 Disember 2017

ayat 11-26

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
  • JILIK-7 AYAT 11-26
  • BIS MILLAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM;
  • بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
  • Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
  • Ayat 11-26: Rincian kenikmatan yang diperoleh As Saabiquun.

  •  أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (١١) فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (١٢) ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ (١٣) وَقَلِيلٌ مِنَ الآخِرِينَ (١٤) عَلَى سُرُرٍ مَوْضُونَةٍ (١٥) مُتَّكِئِينَ عَلَيْهَا مُتَقَابِلِينَ (١٦) يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ (١٧) بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِينٍ (١٨) لا يُصَدَّعُونَ عَنْهَا وَلا يُنْزِفُونَ (١٩) وَفَاكِهَةٍ مِمَّا يَتَخَيَّرُونَ (٢٠) وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ (٢١) وَحُورٌ عِينٌ (٢٢) كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ (٢٣) جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٢٤) لا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلا تَأْثِيمًا (٢٥) إِلا قِيلا سَلامًا سَلامًا (٢٦)


  • (11). أُولَٰئِكَ الْمُقَرَّبُونَ olaika almuqarraboona
  • Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah).
  • (12). فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ fee jannati alnnaAAeemi
  • Berada dalam surga keni`matan.
  • (13). ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ thullatun mina alawwaleena
  • Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,
  • (14). وَقَلِيلٌ مِنَ الْآخِرِينَ waqaleelun mina alakhireena
  • dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.
  • (15). عَلَىٰ سُرُرٍ مَوْضُونَةٍ AAala sururin mawdoonatin
  • Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata,
  • (16). مُتَّكِئِينَ عَلَيْهَا مُتَقَابِلِينَ muttakieena AAalayha mutaqabileena
  • seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan.
  • (17). يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ yatoofu AAalayhim wildanun mukhalladoona
  • Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda,
  • (18). بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِينٍ biakwabin waabareeqa wakasin min maAAeenin
  • dengan membawa gelas, cerek dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir,
  • (19). لَا يُصَدَّعُونَ عَنْهَا وَلَا يُنْزِفُونَ la yusaddaAAoona AAanha wala yunzifoona
  • mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk,
  • (20). وَفَاكِهَةٍ مِمَّا يَتَخَيَّرُونَ wafakihatin mimma yatakhayyaroona
  • dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih,
  • (21)وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ walahmi tayrin mimma yashtahoona
  • 21. dan daging burung apa pun yang mereka inginkan.
  • (22)وَحُورٌ عِينٌ wahoorun AAeenun
  • 22. dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah[19],
  • (23)كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ kaamthali allului almaknooni
  • 23. laksana mutiara yang tersimpan baik[20].
  • (24)جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ jazaan bima kanoo yaAAmaloona
  • 24. Sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan[21].
  • (25)لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا la yasmaAAoona feeha laghwan wala tatheeman
  • 25. Di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia maupun yang menimbulkan dosa,
  • (26)إِلَّا قِيلًا سَلَامًا سَلَامًا illa qeelan salaman salaman
  • 26. tetapi mereka mendengar ucapan salam[22].

  • [10] Mereka ini adalah makhluk-makhluk pilihan Allah Subhaanahu wa Ta'aala.Yakni ayat ini menjelas kan allah mendampingi mereka ; sebagai mana jelas allah ada dalam hati sanubari tiap orang beriman dan soleh ;
  • [11] Yakni mereka itu terdiri dari segolongan besar dari generasi pertama umat ini dan umat-umat sebelum Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
  • [12] Ayat ini menunjukkan keutamaan generasi pertama umat ini secara jumlah (garis besar) daripada generasi yang datang kemudian, karena orang-orang yang didekatkan dari kalangan orang-orang terdahulu lebih banyak daripada orang-orang yang datang kemudian.
  • [13] Yakni dipan-dipan yang dilapisi emas, perak, mutiara dan permata dan perhiasan lainnya yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
  • [14] Dengan tenang dan santai.
  • [15] Anak-anak muda ini melayani dan memenuhi kebutuhan mereka (penghuni surga). Mereka (anak-anak muda) ini saking indahnya seperti mutiara yang berhamburan. Mereka kekal dan tetap muda di sana serta tidak bertambah usianya.
  • [16] Yakni teko yang memiliki pegangan.
  • [17] Berbeda dengan arak di dunia. Walhasil, semua kenikmatan di surga yang ada jenisnya di dunia, maka kenikmatan tersebut ketika di surga tidak memiliki kekurangan.
  • [18] Mereka dapat memperolehnya dengan keadaannya yang sempurna.
  • [19] Yakni bidadari yang sangat jelas hitam bola matanya dan sangat putih pinggirnya serta matanya jeli.
  • [20] Demikianlah bidadari itu, tidak ada cacatnya, bahkan sempurna sifatnya.
  • [21] Oleh karena mereka memperbaiki amal, maka Allah memperbaiki balasan-Nya.
  • [22] Hal itu, karena surga adalah tempat orang-orang yang baik dan tidak ada di sana selain semua yang baik. Hal ini juga menunjukkan bagusnya adab penghuni surga dalam percakapan di antara sesama mereka, dan bahwa ucapan mereka adalah ucapan yang paling baik dan paling menyenangkan jiwa serta paling selamat dari sesuatu yang sia-sia dan dosa.

  • Ya Allah, masukkanlah kami ke surga dan jauhkanlah kami dari neraka. Ya Allah, masukkanlah kami ke surga dan jauhkanlah kami dari neraka. Ya Allah, masukkanlah kami ke surga dan jauhkanlah kami dari neraka.

  • Ulama tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan makna yang dimaksud oleh firman-Nya,' "Al-awwalin" dan "Al-akhirin." Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan yang pertama ialah umat-umat terdahulu, sedangkan yang terakhir adalah umat ini (umat Nabi Saw.). Ini dikatakan oleh Mujahid dan Al-Hasan Al-Basri menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, dan pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir dengan alasan ada sabda Rasulullah Saw. yang mengatakan:
  • "نَحْنُ الْآخِرُونَ السَّابِقُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ"
  • Kita adalah umat yang terakhir, tetapi yang paling dahulu kelak di hari kiamat.
  • Tetapi tidak ada seorang pun yang meriwayatkannya selain dia dan tiada seorang pun yang menisbatkannya kepada seseorang (selain dia). Dan di antara alasan lain bagi pendapat ini ialah adanya hadis yang diriwayatkan oleh Abu Muhammad ibnu Abu Hatim, dia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Isa Ibnu Tabba", telah menceritakan kepada kami Syarik ibnu Muhammad ibnu Abdur Rahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya: Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. (Al-Waqi'ah: 13-14) Maka hal ini terasa berat bagi sahabat-sahabat Nabi Saw., lalu turunlah firman-Nya: (yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian. (Al-Waqi'ah: 39-40) Lalu Nabi Saw. bersabda:
  • إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا رُبْعَ أَهْلِ الْجَنَّةِ، ثُلُثَ أَهْلِ الْجَنَّةِ، بَلْ أَنْتُمْ نِصْفُ أَهْلِ الْجَنَّةِ -أَوْ: شَطْرُ أَهْلِ الْجَنَّةِ-وَتُقَاسِمُونَهُمُ النِّصْفَ الثَّانِي
  • Sesungguhnya aku berharap semoga kalian adalah seperempat penghuni surga, sepertiga penduduk surga, bahkan kalian adalah setengah atau separo penduduk surga, sedangkan yang separo lainnya diperebutkan oleh mereka.
  • Imam Ahmad meriwayatkannya melalui Aswad ibnu Amir, dari Syarik, dari Muhammad ibnu Bayya' Al-Mala, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, lalu disebutkan hal yang semisal dengan hadis di atas.
  • Imam Ahmad telah meriwayatkannya pula melalui hadis Jabir dengan lafaz yang semisal.
  • Al-Hafiz Ibnu Asakir telah meriwayatkannya melalui Hisyam ibnu Imarah, telah menceritakan kepada kami Abdu Rabbihi ibnu Saleh, dari Urwah ibnu Ruwayyim, dari Jabir ibnu Abdullah, dari Nabi Saw. Disebutkan bahwa ketika diturunkan surat Al-Waqi'ah yang di dalamnya disebutkan, "Segolongan besar dari orang-orang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian," maka Umar berkata, "Wahai Rasulullah, itu berarti segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan kecil dari kalangan kita." Maka Rasulullah Saw. diam dari wahyu terhenti selama satu tahun, kemudian turunlah firman-Nya: (yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan yang besar dari orang-orang yang kemudian. (Al-Waqi'ah: 39-40); Maka Rasulullah Saw. bersabda:
  • "يَا عُمَرُ، تَعَالَ فَاسْمَعْ مَا قَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ: {ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ. وَثُلَّةٌ مِنَ الآخِرِينَ} ، أَلَا وَإِنَّ مِنْ آدَمَ إليَّ ثُلَّةً، وَأُمَّتِي ثُلَّةٌ، وَلَنْ نَسْتَكْمِلَ ثُلَّتَنَا حَتَّى نَسْتَعِينَ بِالسُّودَانِ مِنْ رُعَاةِ الْإِبِلِ، مِمَّنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ".
  • Hai Umar, kemarilah, dengarkanlah apa yang telah diturunkan oleh Allah, "(Yaitu) segolongan yang besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan yang besar pula dari orang-orang yang kemudian" (Al-Waqi'ah: 39-40). Ingatlah, sesungguhnya dari Adam sampai masaku adalah satu golongan, dan umatku adalah golongan lainnya. Dan bilangan kita masih belum mencapai dua pertiga (dari yang dijanjikan) hingga kita meminta bantuan dengan orang-orang yang berkulit hitam para penggembala unta dari kalangan orang-orang yang telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya..
  • Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam biografi Urwah ibnu Ruwayyim sanad dan matannya, tetapi dalam sanadnya masih ada hal yang harus diteliti ulang. Hanya saja telah disebutkan melalui berbagai jalur hadis Nabi Saw. yang mengatakan:
  • "إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا رُبْعَ أَهْلِ الْجَنَّةِ"
  • Sesungguhnya aku berharap semoga kalian adalah seperempat ahli surga.
  • hingga akhir hadis, dan hadis ini merupakan hadis tunggal dalam Bab "Sifatul Jannah." Dan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir dalam hal ini perlu diteliti ulang—bahkan dinilai lemah—karena umat ini adalah umat yang terbaik didukung oleh nas Al-Qur'an, sehingga jauh dari kemungkinan bila dikatakan bahwa golongan muqarribin ada pada selainnya dalam jumlah yang lebih banyak daripada apa yang ada pada umat ini, terkecuali bila mereka semua digabungkan menjadi satu untuk mengimbangi umat ini.
  • Makna lahiriahnya menunjukkan bahwa muqarribin (orang-orang yang didekatkan kepada Allah) dari kalangan mereka jauh lebih banyak daripada apa yang ada di kalangan umat-umat yang lain.
  • Dalam masalah ini pendapat yang kedualah yang lebih kuat, yaitu yang mengartikan firman-Nya: segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu. (Al-Waqi'ah: 13) Yaitu dari kalangan permulaan umat ini. dan segolongan yang kecil dari orang-orang yang kemudian. (Al-Waqi'ah: 14) Yakni dari kalangan generasi selanjutnya dari umat ini.
  • Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabbah, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Bakar Al-Muzani, bahwa ia pernah mendengar Al-Hasan membaca Al-Qur'an sampai pada ayat berikut, yaitu firman-Nya: Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). (Al-Waqi'ah: 10-11) Lalu Al-Hasan mengatakan bahwa adapun orang-orang yang paling dahulu beriman, maka sesungguhnya mereka telah pergi. Tetapi kita memohon kepada Allah semoga Dia menjadikan kita termasuk golongan kanan (Ashabul yamin).
  • Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abul Walid, telah menceritakan kepada kami As-Sirri ibnu Yahya yang mengatakan bahwa Al-Hasan membaca firman-Nya: Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu. (Al-Waqi'ah: 10-13) Lalu ia mengatakan bahwa yang dimaksud ialah segolongan dari umat ini yang telah pergi.
  • Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnul Mugirah Al-Minqari. telah menceritakan kepada kami Abu Hilal, dari Muhammad ibnu Sirin, bahwa ia telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. (Al-Waqi'ah: 13-14) Bahwa dahulu mereka mengatakan atau berharap semoga semuanya itu dari kalangan umat ini.
  • Demikianlah pendapat yang dikatakan oleh Al-Hasan dan Ibnu Sirin, yaitu bahwa semuanya dari kalangan umat ini. Dan tidak diragukan lagi bahwa permulaan dari tiap-tiap umat lebih baik daripada yang terakhirnya. Dengan demikian, berarti dapat diartikan bahwa makna ayat ini bersifat umum mencakup semua umat, yang masing-masing umat menurut persentasinya tersendiri. Karena itulah disebutkan di dalam sebuah hadis yang terdapat di dalam kitab-kitab sahih dan lain-lainnya melalui berbagai jalur, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:
  • "خَيْرُ الْقُرُونِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ"
  • Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian orang-orang yang sesudah mereka, kemudian orang-orang yang sesudah mereka. hingga akhir hadis.
  • Dan yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, yaitu bahwa telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah mencerita­kan kepada kami Ziad alias Abu Umar, dari Al-Hasan,dari Ammar ibnu Yasir yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:
  • "مَثَلُ أُمَّتِي مَثَلُ الْمَطَرِ، لَا يُدْرَى أَوَّلُهُ خَيْرٌ أَمْ آخِرُهُ"
  • Perumpamaan umatku adalah sama dengan hujan, tidak diketahui apakah yang baik itu permulaan ataukah akhirnya.
  • Hadis ini setelah diputuskan bahwa sanadnya sahih mengandung makna bahwa agama ini memerlukan permulaan umat yang berfungsi untuk menyampaikannya kepada generasi sesudahnya, begitu pula ia memerlukan orang-orang yang menegakkannya di masa-masa selanjutnya. Yaitu guna meneguhkan manusia agar tetap pada sunnah dan periwayatannya serta mempertahankan keberadaannya, hanya keutamaan ada pada generasi pendahulu. Demikian pula tanaman, memerlukan hujan di masa permulaannya sebagaimana ia pun memerlukan hujan di masa-masa mendatang. Akan tetapi, jasa yang terbesar adalah bagi hujan yang pertama dan kebutuhan tanaman akan yang pertama lebih kuat. Karena sesungguhnya seandainya tidak ada hujan yang pertama, tentulah bumi tidak dapat menumbuhkan tetumbuhannya dan akarnya pun tidak dapat hidup padanya. Karena itulah maka Nabi Saw. pernah bersabda:
  • "لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ، وَلَا مَنْ خَالَفَهُمْ، إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ".
  • Ada segolongan dari umatku yang terus-menerus berjuang membela kebenaran, tidak membahayakan mereka orang-orang yang menghina mereka dan tidak pula orang-orang yang menentang mereka, sampai hari kiamat terjadi.
  • Menurut lafaz yang lain disebutkan:
  • "حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ"
  • hingga tibalah saatnya perintah Allah (hari kiamat), sedangkan mereka dalam keadaan demikian (memperjuangkan perkara yang liak).
  • Maksud pengutaraan kesemuanya ini adalah untuk menunjukkan bahwa umat ini adalah umat yang paling mulia di antara semua umat, dan orang-orang yang didekatkan kepada Allah dari kalangannya jauh lebih banyak jumlahnya daripada yang lainnya, serta lebih tinggi kedudukannya daripada umat-umat lainnya. Demikian itu berkat kemuliaan agamanya dan kebesaran nabinya.
  • Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah Saw. telah disebutkan bahwa beliau Saw. pernah memberitakan bahwa di kalangan umat ini terdapat tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab. Dan menurut lafaz yang lain, tiap-tiap seribu orang dari mereka membawa tujuh puluh ribu orang. Menurut lafaz yang lainnya lagi, tiap-tiap orang dari mereka membawa tujuh puluh ribu orang.
  • قَالَ الْحَافِظُ أَبُو الْقَاسِمِ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ مَرْثَدٍ الطَّبَرَانِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ -هُوَ ابْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ عَيَّاشٍ-حَدَّثَنِي أَبِي، حَدَّثَنِي ضَمْضَم -يَعْنِي ابْنَ زُرْعَة-عَنْ شُرَيْحٍ -هُوَ ابْنُ عُبَيْدٍ-عَنْ أَبِي مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَمَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَيُبْعَثَنَّ مِنْكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِثْلَ اللَّيْلِ الْأَسْوَدِ زُمْرَةٌ جَمِيعُهَا يُحِيطُونَ الْأَرْضَ، تَقُولُ الْمَلَائِكَةُ لَمَا جَاءَ مَعَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثَرُ مِمَّا جَاءَ مَعَ الْأَنْبِيَاءِ، عَلَيْهِمُ السَّلَامُ"
  • Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Yazid At-Tabrani, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail ibnu Iyasy, telah menceritakan kepadaku ayahku telah menceritakan kepadaku Damdam ibnu Zur'ah, dari Syuraih ibnu Ubaid, dari Abu Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, "Ingatlah, demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, sesungguhnya benar-benar akan dibangkitkan dari kalian kelak di hari kiamat sejumlah orang yang banyaknya seperti malam yang pekat karena semuanya menutupi bumi ini. Para malaikat merasa kagum melihat umat yang datang bersama Muhammad Saw. dalam jumlah yang lebih besar daripada apa yang dibawa oleh para nabi lainnya."

  • Abu Nasr ibnu Qatadah, telah menceritakan kepada kami Abu Amr ibnu Matar, telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Muhammad ibnul Mustafad Al-Faryabi, telah menceritakan kepadaku Abu Wahab alias Al-Walid ibnu Abdul Malik ibnu Abdullah ibnu Masrah Al-Harrani, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ata Al-Qurasyi Al-Harrani, dari Muslim ibnu Abdullah Al-Juhani, dari pamannya (yaitu Abu Misyja'ah ibnu Rib'i), dari Abu Zamil Al-Juhani r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. apabila usai dari salat Subuhnya, beliau mengucapkan doa berikut seraya melipatkan kedua kakinya: Mahasuci Allah dan dengan memuji kepada-Nya aku memohon ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah adalah Maha Penerima tobat. sebanyak tujuh puluh kali. Setelah selesai, beliau Saw. bersabda: Tujuh puluh kali dengan imbalan (pahala) tujuh ratus kali. Tiada baiknya bagi orang yang dosa-dosanya dalam satu hari lebih banyak daripada tujuh ratus kali. Beliau Saw. mengucapkan sabdanya ini sebanyak dua kali, lalu menghadapkan mukanya kepada orang-orang (para makmum). Dan RasulullalrSaw. adalah seorang yang suka mendengar kisah mimpi yang baik, untuk itu beliau selalu bertanya, "Apakah ada seseorang di antara kalian yang melihat sesuatu dalam mimpinya (tadi malam)?" Abu Zamil menjawab, "Aku telah bermimpi tadi malam, wahai Rasulullah Saw." Maka Rasulullah Saw. bersabda: Mudah-mudahan kebaikanlah yang kamu jumpai dan terhindar dari keburukan yang tidak kamu inginkan. Dan semoga menjadi kebaikan bagi kita dan menjadi keburukan bagi musuh-musuh kita; segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Sekarang ceritakanlah mimpimu itu. Maka aku menjawab, "Aku bermimpi melihat semua manusia berada pada suatu jalan yang sangat luas, datar, lagi jelas, dan mereka berada di tengah jalan dalam keadaan bergerak maju. Ketika mereka sedang dalam keadaan demikian, tiba-tiba jalan itu sampai kepada suatu lahan penggembalaan yang belum pernah kulihat tempat penggembalaan seperti itu; tetumbuhannya tumbuh dengan segarnya memukau pandangan mata. dan air hujan yang turun padanya menumbuhkan berbagai macam tetumbuhan yang hijau segar. Gelombang pertama dari manusia itu ketika sampai di lahan penggembalaan itu bertakbir, kemudian memacu kendaraan mereka meneruskan perjalanannya tanpa menoleh ke arah kanan maupun ke arah kiri. Dan aku melihat seakan-akan rombongan itu berjalan dengan cepatnya meneruskan perjalanannya. Kemudian datanglah gelombang manusia yang kedua, jumlah mereka berkali-kali lipat jumlah gelombang yang pertama. Ketika sampai di lahan itu mereka bertakbir, kemudian melanjutkan perjalanannya dengan memacu kendaraan mereka. Di antara mereka ada yang melepaskan hewan kendaraan mereka di lahan itu, ada pula yang hanya mengambil bekal secukupnya, lalu meneruskan perjalanannya. Kemudian datanglah gelombang manusia yang paling besar. Ketika sampai di lahan penggembalaan itu mereka bertakbir (karena kagum), dan mereka mengatakan, 'Ini adalah sebaik-baik tempat tinggal." Seakan-akan aku melihat mereka bergerak ke arah kanan dan ke arah kiri (jalan). Aku melihat semua kejadian itu, sedangkan aku tetap berada pada jalan tersebut dan meneruskan perjalananku hingga sampai di penghujung lahan itu. Tiba-tiba aku bersua dengan engkau, wahai Rasulullah, sedang berada di atas mimbar yang tangga naik menuju ke atasnya terdiri dari tujuh susun tangga naik dan engkau berada di tangga yang paling atas. Dan tiba-tiba kulihat di sebelah kanan engkau terdapat seorang lelaki yang berkulit hitam manis, bertubuh gempal, lagi berperawakan tinggi; apabila berbicara, maka suaranya dapat didengar oleh semua orang. Tiba-tiba di sebelah kiri engkau terdapat seorang lelaki berperawakan sedang dengan wajah yang kelihatan agak murung, sedangkan rambutnya seakan-akan baru dibasuh dengan air; apabila dia berbicara, maka engkau diam karena menghormatinya. Dan tiba-tiba di hadapan lelaki itu terdapat seorang lelaki berusia lanjut yang rupanya sangat mirip dengan engkau, baik perawakan maupun wajahnya, dan kamu semua bermakmum kepadanya dan menginginkannya. Tiba-tiba di hadapan orang tua itu terdapat seekor unta betina yang kurus lagi sudah tua sekali. Dan tiba-tiba engkau, ya Rasulullah, seakan-akan engkau menggiring unta itu." Maka berubahlah wajah Rasulullah Saw. Sesaat setelah itu biasa kembali, lalu beliau Saw. bersabda, "Adapun mengenai jalan yang kamu lihat rata, luas, lagi jelas, maka itu merupakan gambaran tentang hidayah yang aku bawa kepada kalian dan kalian berada padanya. Sedangkan lahan penggembalaan yang kamu lihat itu merupakan gambaran tentang dunia dan kehidupannya yang memperdaya, aku dan para sahabatku menempuh kehidupan ini tanpa bergantung kepada sesuatu pun darinya, dan dunia pun tidak bergantung kepada kami, kami tidak menginginkannya sebagaimana dunia pun tidak menginginkan kami. Kemudian datanglah rombongan kedua sesudah kami, mereka berjumlah lebih banyak daripada kami dengan lipatan yang banyak; di antara mereka ada yang menggembalakan hewan kendaraannya, ada pula yang hanya mengambil bekal secukupnya, kemudian mereka dengan begitu tetap selamat. Kemudian datanglah manusia yang sangat besar jumlahnya, lalu mereka menyerbu lahan penggembalaan itu, ada yang ke arah kanan dan ada pula yang ke arah kiri (jalan). Inna lillahi wa inna ilaihi rdji'un (sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya kita hanya kepada-Nya dikembalikan). Mengenai dirimu itu, berarti engkau berada pada jalan yang baik, dan kamu tetap dalam keadaan seperti itu hingga bersua denganku. Sedangkan takwil mimbar yang kamu lihat mempunyai tujuh buah tangga naik dan aku berada di tangga yang paling atas, artinya dunia ini berusia tujuh ribu tahun dan aku berada di seribu tahun yang terakhir. Mengenai lelaki yang kamu lihat berada di sebelah kananku yang berkulit hitam manis berperawakan gempal, dia adalah Musa a.s. Apabila berbicara, maka suaranya mengalahkan semua kaum lelaki berkat ia pernah diajak bicara langsung oleh Allah. Dan orang yang kamu lihat berada di sebelah kiriku yang berperawakan sedang, berwajah murung, seakan-akan rambut kepalanya dibasahi dengan air, dia adalah Isa putra Maryam, kami menghormatinya karena Allah menghormatinya. Adapun mengenai unta betina yang kamu lihat dan kamu saksikan dalam mimpimu itu aku membangunkannya, maka itu adalah hari kiamat. Hari kiamat akan dialami oleh kita; tiada nabi sesudahku dan tiada umat sesudah umatku."

  • Ibnu Abbas mengatakan bahwa dipan tersebut dihiasi dengan emas, yakni dilapisi dengannya. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Zaid ibnu Aslam, Qatadah, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya. As-Saddi mengatakan bahwa dipan itu dihiasi dengan emas dan mutiara. Ikrimah mengatakan, dipan itu terbuat dari permata dan yaqut. Ibnu Jarir mengatakan bahwa pengertian yang sama disebutkan pula terhadap tali pengikat pelana yang ada di bawah perut unta. Lafaz ini ber-wazan fa'il, tetapi maknanya maf'ul, mengingat pengertiannya menunjukkan sesuatu yang dipintal, maka demikian pula dipan-dipan di surga dihiasi dengan emas dan permata.

  • Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang mengatakan sehubungan dengan khamr dunia, bahwa peminumnya mengalami empat hal karena pengaruhnya, yaitu mabuk, pening, muntah, dan buang air kecil. Dan Allah Swt. menyebutkan tentang sifat khamr di surga, bahwa khamr di surga terbebas dari semua pengaruh tersebut.
  • Mujahid, Ikrimah. Said ibnu Jubair, Atiyyah, Qatadah, dan As-Saddi mengatakan sehubungan dengan firman-Nya. mereka tidak pening karena meminumnya. (Al-Waqi'ah: 19) Artinya mereka di dalam surga tidak merasa pening karena meminumnya.

  • Al-Abbas ibnul Walid At-Tursi, telah menceritakan kepada kami Al-Ala ibnul Fadl ibnu Abdul Malik ibnu Abu Saumah, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Ikrasy, dari ayahnya (yaitu Ikrasy Ibnu Zu-aib) yang menceritakan bahwa Murrah mengutusnya untuk membawa harta zakat mereka kepada Rasulullah Saw. Ketika tiba di Madinah, ia menjumpai Rasulullah Saw. sedang duduk di antara orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansar. Ia datang kepadanya dengan membawa unta-unta zakat yang jumlahnya cukup banyak. Beliau Saw. bertanya, "Siapakah lelaki ini?" Aku (Ikrasy) menjawab, "Ikrasy ibnu Zu-aib." Beliau Saw. bersabda, "Apakah nasab tidak diberlakukan lagi (dalam penyebutan nama)?" Maka aku kaitkan nasabku demi Rasulullah Saw. kepada Murrah, lalu kukatakan kepadanya, "Ini adalah harta zakat dari Murrah ibnu Ubaid." Maka Rasulullah Saw. tersenyum dan bersabda: Ini adalah ternak (dari) kaumku, dan ini adalah ternak zakat (dari) kaumku. Kemudian Rasulullah Saw. memerintahkan agar unta zakat itu diberi tanda dengan cap zakat, lalu digabungkan bersama-sama unta zakat lainnya. Setelah itu beliau memegang tanganku dan mengajakku pergi ke rumah Ummu Salamah, dan beliau bertanya, "Apakah ada makanan?" Maka kami disuguhi semangkuk makanan berupa. sarid (roti dicampur dengan kuah gulai) dan wazar (daging yang diiris kecil-kecil). Rasulullah Saw. makan dari mangkuk itu, sedangkan aku makan dengan menjulurkan tangan­ku ke semua bagian dari mangkuk itu. Lalu Rasulullah Saw. memegang tangan kananku dengan tangan kirinya dan bersabda, "Hai Ikrasy, makan­lah dari satu tempat, karena sesungguhnya makanan ini semuanya sama!" Seusai makan kami disuguhi sebaki buah-buahan yang berisikan buah kurma yang sudah disale atau kurma yang masih segar—Ubaidillah ragu yang mana di antara keduanya—, lalu aku makan dari satu tempat saja. Tetapi Rasulullah Saw. menjulurkan tangannya ke seluruh baki itu dan bersabda: Hai Ikrasy, makanlah dari bagian mana yang kamu sukai, karena sesungguhnya buah ini tidak satu macam. Sesudah itu didatangkan kepada kami air, dan Rasulullah Saw. membasuh tangannya, lalu mengusapkan kedua telapak tangannya yang masih basah itu kepada wajah dan kedua tangan serta kepalanya sebanyak tiga kali. kemudian bersabda: Hai Ikrasy, ini adalah wudu karena telah memakan makanan (daging) yang telah dimasak.
  • Demikian pula hal yang diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Ibnu Majah secara panjang lebar, dari Muhammad ibnu Basysyar, dari Abul Huzail alias Al-Ala ibnul Fadl dengan sanad yang sama. Lalu Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib, kami tidak mengenalnya melainkan hanya melalui hadis Abul Huzail.
  • Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bahz ibnu Asad dan Affan; Al-Hafiz Abu Ya'la mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Syaiban, ketiga-tiganya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Sabit yang mengatakan bahwa sahabat Anas r.a. pernah bercerita bahwa Rasulullah Saw. adalah seorang yang senang kepada ru-ya, adakalanya seseorang mengalami ru-ya (mimpi yang baik), lalu ia menanyakan takwilnya kepada Nabi Saw. karena ia tidak mengetahuinya. Dan apabila Nabi Saw. memuji mimpi yang dialaminya itu dengan pujian yang baik, maka orang yang bersangkutan amat senang dengan mimpinya itu.
  • Pada suatu hari datanglah seorang wanita, kemudian berkata, "Wahai Rasulullah, aku telah melihat dalam mimpiku seakan-akan aku didatangi dan dikeluarkan dari Madinah, lalu dimasukkan ke dalam surga. Kemudian aku mendengar suara gemuruh yang membuat surga bergetar karenanya. Ketika kulihat, ternyata penyebabnya adalah si Fulan bin Fulan dan si Anu bin Anu." Wanita itu menyebutkan sebanyak dua belas orang sahabat Nabi Saw. yang telah diutus oleh Nabi Saw. dalam suatu pasukan khusus sebelum itu. Kedua belas orang itu dimasukkan ke dalam surga, semuanya memakai pakaian yang berdebu dan pada bagian lehernya penuh dengan darah. Lalu dikatakan (kepada para malaikat), "Bawalah mereka ke Sungai Al-Baidakh atau Al-Baizakh." Selanjutnya mereka dibenamkan ke dalam sungai itu, dan mereka dikeluarkan darinya, sedangkan rupa mereka bagaikan rembulan di malam purnama.
  • Dan disuguhkan kepada mereka sebuah piring besar terbuat dari emas yang berisikan buah kurma, lalu mereka memakannya sepuas mereka. Maka tidak sekali-kali mereka membalikkan bagian dari piring besar itu, melainkan mereka memakan buah-buahan sepuas mereka, dan wanita itu ikut makan bersama-sama mereka.
  • Kemudian datanglah pembawa berita dari pasukan khusus itu (kepada Nabi Saw.) dan menceritakan apa yang dialami oleh pasukan itu yang kisahnya persis dengan kisah dalam mimpi itu. Disebutkan bahwa telah gugur dari pasukan itu si Anu dan si Fulan hingga semuanya berjumlah dua belas orang. Maka Rasulullah Saw. memanggil wanita itu dan bersabda kepadanya, "Ceritakanlah (kembali) mimpimu itu!" Wanita itu menceritakan mimpinya, bahwa lalu didatangkanlah si Fulan dan si Fulan (ke dalam surga) yang jumlah orangnya sama persis dengan apa yang diberitakan oleh si pembawa berita dari pasukan tersebut.
  • Hadis ini berdasarkan lafaz yang ada pada Abu Ya'la. Al-Hafiz Ad-Diya mengatakan bahwa sanad hadis ini dengan syarat Imam Muslim.

  • Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sayyar ibnu Hatim, telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Sulaiman Ad-Dab'i, telah menceritakan kepada kami Sabit, dari Anas yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Sesungguhnya burung surga itu besarnya seperti unta, burung-burung itu terbang dengan bebasnya di pohon-pohon surga. Maka Abu Bakar r.a. berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya burung surga itu benar-benar burung yang hidupnya senang." Rasulullah Saw. bersabda: Aku akan memakannya dan merasa lebih senang darinya —sebanyak tiga kali—. Dan sesungguhnya aku berharap semoga engkau termasuk salah seorang yang memakannya.
  • Imam Ahmad meriwayatkannya secara tunggal melalui jalur ini.

  • Abu Bakar ibnu Abud Dunia mengatakan, telah menceritakan kepadaku Mujahid ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ma'an ibnu Isa, telah menceritakan kepadaku anak saudara lelakiku Ibnu Syihab, dari ayahnya, dari Anas ibnu Malik, bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang Al-Kausar. Maka beliau Saw. menjawab: Kausar ialah sebuah sungai di dalam surga yang diberikan kepadaku oleh Tuhanku, airnya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis daripada madu, padanya terdapat burung-burung (surga) yang lehernya seperti leher untajazur (yakni besarnya seperti unta jazur). Maka Umar berkata, "Sudah barang tentu burung-burung itu hidup dengan senang." Rasulullah Saw. bersabda: Aku akan memakan (daging)nya dan merasa lebih senang darinya.
  • Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi, dari Abdu ibnu Humaid, dari Al-Qa'nabi, dari Muhammad ibnu Abdullah ibnu Muslim ibnu Syihab, dari ayahnya. Imam Turmuzi kemudian mengatakan bahwa predikat hadis ini hasan dari Anas.

  • Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Muhammad At-Tanafisi, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Ubaidillah ibnul Walid Al-Wassafi, dari Atiyyah Al-Aufi, dari Abu Sa'id Al-Khudri yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, "Sesungguhnya di dalam surga itu benar-benar terdapat burung yang mempunyai tujuh puluh ribu bulu, lalu burung itu hinggap pada piring salah seorang dari penghuni surga, dan burung itu mengibaskan sayap (bulu)nya. Maka keluarlah darinya—yakni dari tiap bulunya— suatu warna yang lebih putih daripada air susu, lebih lunak daripada buih, dan lebih jernih daripada madu, dan tiap warna berbeda dengan warna lain yang dikeluarkannya."
  • Tetapi hadis ini garib sekali. Al-Wassafi dan gurunya keduanya berpredikat daif.
  • Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Saleh juru tulis Al-Lais, telah menceritakan kepadaku Al-Lais. telah menceritakan kepada kami Khalid ibnu Yazid, dari Sa'id ibnu Abu Hilal ibnu Abu Hazm, dari Ata. dari Ka'b yang mengatakan bahwa sesungguhnya burung surga itu besarnya seperti unta, yang menjadi makanannya adalah buah-buahan surga, dan minumnya dari sungai-sungai surga. Kemudian burung-burung itu berbaris kepada seorang penghuni surga. Dan apabila penghuni surga itu menginginkan sesuatu dari burung itu, maka burung tersebut hinggap di hadapannya dan ia memakan bagian luar dan bagian dalam (yang diingininya), sesudah itu burung itu terbang kembali dalam keadaan tidak kurang dari sesuatu pun (yakni tubuhnya utuh kembali). Sanad hadis ini sahih sampai ke pada Ka'b.
  • قَالَ الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ: حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ خَلِيفَةَ، عَنْ حُمَيْدٍ الْأَعْرَجِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّكَ لَتَنْظُرُ إِلَى الطَّيْرِ فِي الْجَنَّةِ فَتَشْتَهِيهِ فَيَخِرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ مَشْوِيًّا"
  • Al-Hasan ibnu Arafah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnu Khalifah, dari Humaid Al-A'raj, dari Abdullah ibnul Haris, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda kepadanya: Sesungguhnya engkau benar-benar memandang kepada burung (yang sedang terbang) di surga yang kamu ingini dagingnya, maka dengan serta merta burung itu terjatuh di hadapanmu dalam keadaan telah terpanggang (sudah masak).

  • سورة الواقعة
  • Artinya: Hari Kiamat
  • Al-Waqi’ah 96 Ayat,Surat Ke 56
  • Golongan Surah Makkiyyah

Selasa, 19 Disember 2017

ayat 2-10


Tafsir quran dan hadis tabaruk;
  • Tafsir Surat Al-Waqi'ah,
  • Surah ke-56. 96 ayat. Makkiyyah
  • ayat 2-10 Di antara peristiwa dahsyat 
  • pada hari Kiamat, dan bahwa manusia akan terbagi menjadi tiga golongan; As Saabiqun, As-habul yamin dan As-habusy syimal.
  •      BISMILLAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM; بسم الله الرحمن الرحيم
  • 2. Terjadinya tidak dapat didustakan (disangkal)[2]. laysa liwaqAAatiha kathibatun.3. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan)[3] dan meninggikan (golongan yang lain)[4].khafidatun rafiAAatun.4. Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya,itha rujjati alardu rajjan;5. dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya,wabussati aljibalu bassan6. maka jadilah ia debu yang beterbangan[5],fakanat habaan munbaththan7. dan kamu menjadi tiga golongan[6].wakuntum azwajan thalathatan.8. yaitu golongan kanan[7], alangkah mulianya golongan kanan itu,faashabu almaymanati ma ashabu almaymanati.9. dan golongan kiri[8], alangkah sengsaranya golongan kiri itu,waashabu almashamati ma ashabu almashamati.10. dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga)[9],waalssabiqoona alssabiqoona

  • لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ (2) خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ (3) إِذَا رُجَّتِ الأرْضُ رَجًّا (4) وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا (6) وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلاثَةً (7) فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (8) وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (9) وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11) فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (12) }

  • [2] Sebagaimana sebelum terjadinya disangkal atau didustakan oleh sebagian manusia. Atau maksudnya, tidak ada keraguan padanya karena begitu jelas dalil-dalilnya baik secara akal maupun naql, demikian pula ditunjukkan oleh hikmah (kebijaksanaan) Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
  • [3] Dengan masuk ke tempat yang paling rendah, yaitu neraka.
  • [4] Dengan masuk ke tempat yang paling tinggi, yaitu surga.
  • [5] Sehingga bumi menjadi rata tidak ada tempat yang tinggi dan tidak ada tempat yang rendah.
  • [6] Sesuai amal yang kamu kerjakan selama di dunia.
  • [7] Ialah mereka yang menerima buku catatan amal dengan tangan kanan.
  • [8] Ialah mereka yang menerima buku catatan amal dengan tangan kiri.
  • [9] Menurut Syaikh As Sa’diy, maksudnya bahwa orang-orang yang bersegera kepada kebaikan ketika di dunia, maka mereka itulah orang-orang yang bersegera di akhirat untuk masuk surga. Mereka inilah orang-orang yang dekat dengan Allah Subhaanahu wa Ta'aala di surga kenikmatan yang berada di tempat yang paling tinggi (‘Illiyyin).

  • Dari Ibnu ‘Abbas, ia mengatakan bahwa Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah! Engkau kelihatan telah beruban,” Kemudian Rasulullah saw bersabda:

  • “Yang membuatku membuatku beruban adalah surah Hud, al Waqi’ah, al Mursalat, an Naba, dan At Takwiir.” Diriwayatkan oleh At Tirmidzi. Hasan Gharib.

  • Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Al Waqi’ah pada tiap malam, maka dia tidak akan tertimpa melarat selamanya”. (Diriwayatkan oleh Hafidz Abu Ya’la dan Ibnu Asakir).

  • Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a Rasulullah SAW bersabda, “Pada hari kiamat nanti manusia akan mengeluarkan keringat hingga keringat tersebut mengalir di bumi (padang mahsyar) sehingga tujuh puluh hasta, dan keringat tersebut mengekang (membenamkan) mereka hingga mencapai telinga mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah mengkiaskan kejadian di atas dengan peristiwa pada hari penerimaan rapot anak-anak di sekolah. Dapat disaksikan bila siswa menerima rapot dengan hasil baik (lulus ujian), maka ia akan memamerkannya kepada teman-teman dan kaum kerabatnya. Berbeda dengan siswa yang tidak lulus, maka ia akan berandai-andai agar tidak pernah menerima rapot, apalagi sampai melihatnya.[1]

  • ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha menceritakan“Bahwa tangan kanan Rasulullah dipergunakan dalam bersuci dan makan. Adapun tangan kiri, dipakai untuk membersihkan bekas kotoran dari buang hajat dan perkara-perkara yang najis (najis)” [Hadits shahih riwayat Abu Dawud]

  • Ketika Rasulullah dalam perjalanan Mikraj, Baginda telah berhenti di Sidratul Muntaha. Menurut baginda, Sidratul Muntaha itu berada jauh di luar alam langit (di luar ruang angkasa). Di situlah Baginda dapati terletaknya syurga. 

Isnin, 18 Disember 2017

AYAT 1


  1. TABSIR QURAN DAN HADIS TABARUK;
  2. JILIK-7 SURAH AL-WAQIAH AYAT1;
  3. BISMILLAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM;
  4. 1- إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ

  5. 1- itzha waqaAAati alwaqiAAatu
  6. 1. Apabila terjadi hari kiamat,Ayat 1-10: Di antara peristiwa dahsyat pada hari Kiamat, dan bahwa manusia akan terbagi menjadi tiga golongan; As Saabiqun, As-habul yamin dan As-habusy syimal.

  • [1] Di ayat ini dan setelahnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang sesuatu yang pasti terjadi, yaitu hari Kiamat.

  • Tentang datangnya hari Kiamat, maka tidak ada seorang pun yang mengetahui, baik Malaikat, Nabi, maupun Rasul, masalah ini adalah perkara ghaib dan hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala sajalah yang mengetahuinya. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih.

  • Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

  • يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

  • “Mereka bertanya kepadamu tentang Kiamat: ‘Kapankah terjadinya.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah pada sisi Rabb-ku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: ‘Sesungguhnya penge-tahuan tentang hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi ke-banyakan manusia tidak mengetahui.’” [Al-A’raaf: 187]

  • Malaikat Jibril Alaihissallam mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya:

  • …فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ؟

  • “Kabarkanlah kepadaku, kapan terjadi Kiamat?”

  • Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

  • مَا الْمَسْئُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ.

  • “Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.” [1]

  • Meskipun waktu terjadinya hari Kiamat tidak ada yang mengetahuinya, akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tanda-tanda Kiamat tersebut. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepada ummatnya tentang tanda-tanda Kiamat. Para ulama membaginya menjadi dua: (pertama) tanda-tanda kecil dan (kedua) tanda-tanda besar.

  • Tanda-tanda kecil sangat banyak dan sudah terjadi sejak zaman dahulu dan akan terus terjadi di antaranya adalah wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, munculnya banyak fitnah, munculnya fitnah dari arah timur (Iraq), timbulnya firqah Khawarij, munculnya orang yang mengaku sebagai Nabi, hilangnya amanah, diangkatnya ilmu dan merajalelanya kebodohan, banyaknya perzinaan, banyaknya orang yang bermain musik [2], banyak orang yang minum khamr (minuman keras) dan merebaknya perjudian, masjid-masjid dihias, banyak bangunan yang tinggi, budak melahirkan tuannya, banyaknya pembunuhan, banyaknya kesyirikan, banyaknya orang yang memutuskan silaturrahim, banyaknya orang yang bakhil, wafatnya para ulama dan orang-orang shalih, banyaknya orang yang belajar kepada Ahlul Bid’ah, banyaknya wanita yang berpakaian tetapi telanjang [3],dan lain-lainnya.[4]

  • Banyak sekali dalil tentang hal ini, di antaranya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

  • اُعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ: مَوْتِيْ، ثُمَّ فَتْحُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ، ثُمَّ مُوْتَانٌ يَأْخُذُ فِيْكُمْ كَقُعَاصِ الْغَنَمِ، ثُمَّ اسْتِفَاضَةُ الْمَالِ حَتَّى يُعْطَى الرَّجُلُ مِائَةَ دِيْنَارٍ فَيَظَلُّ سَاخِطًا، ثُمَّ فِتْنَةٌ لاَ يَبْقَى بَيْتٌ مِنَ الْعَرَبِ إِلاَّ دَخَلَتْهُ، ثُمَّ هُدْنَةٌ تَكُوْنُ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ بَنِي اْلأَصْفَرِ، فَيَغْدِرُوْنَ فَيَأْتُوْنَكُمْ تَحْتَ ثَمَانِيْنَ غَايَةً، تَحْتَ كُلِّ غَايَةٍ اِثْنَا عَشَرَ أَلْفًا.

  • “Perhatikanlah enam tanda-tanda hari Kiamat: (1) wafatku, (2) penaklukan Baitul Maqdis, (3) wabah kematian (penyakit yang menyerang hewan sehingga mati mendadak) yang menyerang kalian bagaikan wabah penyakit qu’ash yang menyerang kambing, (4) melimpahnya harta hingga seseorang yang diberikan kepadanya 100 dinar, ia tidak rela menerimanya, (5) timbulnya fitnah yang tidak meninggalkan satu rumah orang Arab pun melainkan pasti memasukinya, dan (6) terjadinya perdamaian antara kalian dengan bani Asfar (bangsa Romawi), namun mereka melanggarnya dan mendatangi kalian dengan 80 kelompok besar pasukan. Setiap kelompok itu terdiri dari 12 ribu orang.” [5]

  • Juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

  • إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ، وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ، وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ، وَيَظْهَرَ الزِّنَا.

  • “Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah: diangkatnya ilmu, tersebarnya kebodohan, diminumnya khamr, dan merajalelanya perzinaan.”[6]

  • Kemudian munculnya tanda-tanda yang kedua, yaitu tanda-tanda Kiamat yang besar sebagai tanda telah dekatnya hari Kiamat. Penulis khususkan pembahasan tentang sebagian tanda-tanda Kiamat yang besar, karena ada sebagian orang (golongan) yang menolak tentang tanda-tanda besar tersebut berdasarkan akal, ra’yu dan hawa nafsu. Padahal para ulama Ahlus Sunnah sudah membahas permasalahan ini dalam kitab-kitab tafsir, kitab-kitab hadits, dan kitab-kitab ‘aqidah mereka.

  • Pembahasan mengenai permasalahan ini mengikuti jejak para ulama Ahlus Sunnah dalam kitab-kitab mereka, seperti dalam kitab Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah [7] dan kitab-kitab lainnya.

  • Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani tentang adanya tanda-tanda Kiamat yang besar (kubra) seperti [8], keluarnya Imam Mahdi, Dajjal, turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam dari langit, Ya’juj dan Ma’juj, terbitnya matahari dari barat, dan yang lainnya.

  • Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

  • يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ

  • “Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan Ma-laikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedatangan Rabb-mu atau kedatangan sebagian tanda-tanda Rabb-mu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: ‘Tunggu-lah olehmu sesungguhnya kami pun menunggu (pula).’” [Al-An’aam: 158]

  • Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

  • إِنَّ السَّاعَةَ لاَ تَكُوْنُ حَتَّى تَكُوْنَ عَشْرُ آيَاتٍ: خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ فِي جَزِيْرَةِ الْعَرَبِ، وَالدُّخَانُ، وَالدَّجَّالُ، ودَابَّةٌ، وَيَأْجُوْجُ وَمَأْجُوْجُ، وَطُلُوْعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَنَارٌ تَخْرُجُ مِنْ قَعْرِ عَدَنٍ تَرْحَلُ النَّاسَ، وَنُزُوْلُ عِيْسَى بْنِ مَرْيَمَ e.

  • “Hari Kiamat tidak akan terjadi sehingga kalian melihat sepuluh tanda: (1) penenggelaman permukaan bumi di timur, (2) penenggelaman permukaan bumi di barat, (3) pe-nenggelaman permukaan bumi di Jazirah Arab, (4) keluarnya asap, (5) keluarnya Dajjal, (6) keluarnya binatang besar, (7) keluarnya Ya’juj wa Ma’juj, (8) terbitnya matahari dari barat, dan (9) api yang keluar dari dasar bumi ‘Adn yang meng-giring manusia, serta (10) turunnya ‘Isa bin Maryam Alaihissallam.” [9

Ahad, 17 Disember 2017

Isi kandugan penting surah waqiah

  1. TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
  2. ISI KANDUGAN PENTING SURAH AL-WAQIAH
  •       Al-Waqi'ah (Arab: الواقعه, "Hari Kiamat") adalah surah ke-56 dalam Al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 96 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah. Surah ini dinamai dengan Al Waaqi'ah (Hari Kiamat), diambil dari perkataan Al Waaqi'ah yang terdapat pada ayat pertama.Surah Al-Waqiah disebut Al-Waqiah lantaran kata ini yang merupakan sifat dan nama hari kiamat disebutkan pada awal surah. Jumlah ayatnya menurut qari Kufah adalah 96 ayat, sementara dalam pandangan qari Syam dan Hijaz terdiri dari 99 ayat. Namun sesuai pendapat qari lainnya adalah 97 ayat. Di antara semua pendapat ini, pendapat pertama yang paling masyhur. Surah Al-Waqiah terdiri 96 ayat dari 370 huruf dan 1756 kata. Sesuai dengan susunan mushaf, surah Al-Waqiah adalah surah ke-56 Al-Quran dan surah ke-48 berdasarkan urutan pewahyuan. Surah ini tergolong salah satu surah Makkiyah. Dari sisi isi, surah Al-Waqiah termasuk surah Thawal dalam kelompok Al-Mufasshalat. Kurang lebih berukuran setengah hizb Al-Quran. surah Al-Waqiah diakhiri dengan perintah tasbih dan takzim Allah Swt (dengan maksud berlindung kepada Allah Swt, bertasbih dan memuliakan-Nya serta meminta pertolongan kepada-Nya sebagai satu-satunya yang menyelamatkan manusia dari dahsyatnya azab hari kiamat dan dunia akhirat). [1]
  • Isi Kandungan dari ayat 1-96-370huruf-1756kata Huru hara hari kiamat;Huru-hara di waktu terjadinya hari kiamat manusia di waktu hisab;terbagi atas tiga gologan;iaitu gologan yang segera menjalankan kebaikan; gologan kanan dan gologan yang celaka serta balasan yang di perolehi oleh masing masing gologan; bantahan terhadap allah keingkaran orang orang yang mengengkari adanya tuhan ;hari berbangkit dan ada nya hisaf; al-quran berasal dari lauh mahfus ; lain lain gambaran tentang syurga,
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

  • Tatkala sebuah Kemutlakan terlaksana, kelak tiada yang membantah kedatangan perkara tersebut; keadaan yang akan merendahkan maupun keadaan yang akan meninggikan; Tatkala bumi digoncangkan secara keras serta gunung-gunung diremukkan secara keras hingga menjadi debu berhamburan, kemudian kalian dibagi menjadi tiga golongan: Golongan Kanan; apakah Golongan Kanan itu? serta Golongan Kiri; apakah Golongan Kiri itu?
  • serta Golongan Utama, yakni golongan yang diutamakan; golongan ini merupakan golongan didekatkan yang berada dalam Surga kesejahteraan; segolongan generasi terdahulu beserta sebagian kecil generasi terkemudian, golongan ini berada di tahta-tahta yang terpahat seraya golongan ini duduk sambil berhadap-hadapan; golongan ini dikelilingi oleh golongan muda abadi yang membawakan gelas, cerek serta piala berisi minuman yang diambil dari mata air mengalir; golongan ini tidak merasakan pening akibat itu bahwa golongan ini tiada mabuk, serta hidangan buah-buahan yang golongan kehendaki maupun hidangan daging burung yang golongan ini inginkan; disediakan pula para bidadari bermata indah laksana permata yang tersimpan baik, sebagai hadiah atas hal-hal yang telah golongan ini kerjakan; Tidaklah mereka mendengar disana; ocehan, serta tidak pula olok-olok; melainkan diserukan: "Damai!, Damai!"
  • Ataupun Golongan Kanan, apakah Golongan Kanan itu? yakni golongan yang berada di tengah-tengah pepohonan bidara yang tak berduri serta pepohonan yang bersusun-susun, golongan yang dikaruniai naungan terbentang luas, aliran air yang tercurah, buah-buahan berlimpah yang tiada berkurang serta tidak terlarang beserta singgasana-singgasana yang nyaman; yang kesemuanya Kami hadirkan secara langsung,
  • juga Kami sediakan untuk mereka, kaum bidadari perawan yang rupawan lagi sebaya untuk Golongan Kanan; segolongan generasi terdahulu beserta segolongan generasi terkemudian.
  • Sedangkan Golongan Kiri, apakah Golongan Kiri itu? merupakan orang-orang yang dilanda angin yang membakar beserta air mendidih maupun berada dalam naungan asap pekat yang tiada sejuk juga tiada nyaman disebabkan sebelumnya orang-orang itu hidup bermewah-mewahan serta bertekun mengerjakan perbuatan-perbuatan tercela, bahkan orang-orang itu terbiasa mengatakan: "Apakah sewaktu kami telah mati sehingga kami telah menjadi debu maupun tulang belulang bahwa diri kami akan dibangkitkan kembali? apakah kaum leluhur kami yang terdahulu juga?" Katakanlah: "Sungguh generasi terdahulu beserta golongan terkemudian kelak pasti dihimpunkan di sebuah waktu yang telah ditetapkan, pada sebuah Hari yang dikenal; kemudian tentulah kalian, wahai golongan sesat yang mendustakan, pasti akan memakan pohon Zaqqum serta akan memenuhi perut kalian dengan itu, lalu kalian akan meminum air mendidih serta kalian akan minum menyerupai unta kehausan." itulah hidangan untuk golongan demikian pada Hari Penghakiman. (Ayat:1-56)
  • Kamilah yang telah menciptakan diri kalian lalu mengapakah kalian tiada mengakui? maka apakah kalian memperhatikan tentang hal yang kalian pancarkan; apakah kalian yang menciptakan hal demikian, ataukah Kami yang menciptakan hal demikian? telah Kami tetapkan Kematian terhadap kalian; ketahuilah bahwa Kami takkan dapat dikalahkan supaya mengganti kalian dengan golongan yang serupa kalian; ataupun untuk menciptakan kalian kelak dalam wujud yang tidak kalian ketahui, sungguh kalian telah mengetahui penciptaan pertama lalu mengapakah kalian tidak memahami?
  • Maka apakah kalian perhatikan tentang yang kalian taburkan? apakah kalian yang menumbuhkan itu ataukah Kami yang menumbuhkan itu? sekiranya Kami kehendaki, tentu Kami jadikan itu kering serta remuk hingga kalian merasa heran: "kita benar-benar merugi, bahkan kita sama sekali tak berdaya."
  • Maka apakah kalian perhatikan tentang air yang kalian minum? apakah kalian yang menurunkan itu dari awan ataukah Kami yang menurunkan itu? sekiranya Kami kehendaki niscaya Kami jadikan itu memiliki rasa asin lalu mengapakah kalian tidak bersyukur?
  • Maka apakah kalian perhatikan tentang api yang kalian percikkan, apakah kalian yang menimbulkan itu ataukah Kami yang menimbulkan itu? Kami telah menjadikan itu sebagai peringatan serta bekal berguna untuk pengembara di gurun pasir;
  • Maka semarakkan seraya memuji Nama Tuhanmu Yang Maha Agung.
  • Maka Aku bersumpah demi orbit bintang-bintang; hal ini merupakan penegasan yang kuat sekiranya kalian mengetahui, bahwasanya Al-Qur'an ini merupakan sebuah Bacaan yang berharga dalam Kitab yang Terpelihara, tiada yang menjangkau hal ini selain golongan suci, hal yang dihadirkan dari Tuhannya semesta alam.
  • (Ayat: 57-80)
  • Maka apakah kalian meremehkan Hadits ini? lalu apakah kalian mengganggap sebagai urusan kalian sendiri supaya kalian dapat membantah? juga mengapa ketika telah direnggut hingga mencapai tenggorokan: padahal kalian ketika itu memperhatikan bahkan Kami berada lebih dekat terhadap hal demikian dibanding kalian walaupun diri kalian tiada menyadari, lalu mengapakah jika kalian sama sekali tidak berada dalam kendali maka kalian tiada mengembalikan hal demikian apabila kalian memang golongan yang benar?
  • dan apabila orang itu termasuk Golongan yang dekat, maka orang itu meraih ketenteraman juga pencapaian beserta Surga kesejahteraan.
  • sedangkan apabila orang itu termasuk Golongan Kanan: "Maka kesejahteraan untuk kamu karena kamu termasuk Golongan Kanan."
  • Dan adapun sekiranya orang itu termasuk golongan pembantah yang sesat maka orang itu mendapat hidangan air mendidih serta dibakar di dalam Gejolak Api; Sungguh hal ini merupakan sebuah Kebenaran yang utuh, oleh sebab itu semarakkan Nama Tuhanmu Yang Maha Agung. (Ayat: 81-96)

ayat 45-78


 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
  • JILIK-6 -Tafsir Ar Rahman Ayat 46-78
  • Ayat 46-78: Rincian kenikmatan yang akan diperoleh kaum mukmin dan pujian bagi Allah Subhaanahu wa Ta'aala terhadap hal tersebut.
  •                           BISMILLAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM;
  • Wa liman khaafa maqaama rabbihii jannataan(i)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Dzawaataa afnaan(in)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Fiihimaa 'ainaani tajriyaan(i)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Fiihimaa min kulli faakihatin zaujaan(i)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Muttaki-iina 'alaa furusyin bathaa-inuhaa min istabraqin wa janal jannataini daan(in)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Fiihinna qaashiraatuth-tharfi lam yathmitshunna insun qablahum wa laa jaann(un)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Ka-annahunnal yaaquutu wal marjaan(u)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Hal jazaa-ul ihsaani ilaal ihsaan(u)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Wa min duunihimaa jannataan(i)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Mudhaammataan(i)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Fiihimaa 'ainaani nadh-dhaakhataan(i)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Fiihimaa faakihatun wanakhlun wa rummaan(un)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Fiihinna khairaatun hisaan(un)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Huurun maqshuuraatun fiil khiyaam(i)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Lam yathmitshunna insun qablahum wa laa jaann(un)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Muttaki-iina 'alaa rafrafin khudhrin wa 'abqariyyin hisaan(in)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Tabaarakaasmu rabbika dziil jalaali wal-ikraam(i)

  1. وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ (٤٦) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٤٧) ذَوَاتَا أَفْنَانٍ (٤٨) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٤٩) فِيهِمَا عَيْنَانِ تَجْرِيَانِ (٥٠)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٥١) فِيهِمَا مِنْ كُلِّ فَاكِهَةٍ زَوْجَانِ (٥٢) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٥٣) مُتَّكِئِينَ عَلَى فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍ وَجَنَى الْجَنَّتَيْنِ دَانٍ (٥٤) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٥٥) فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلا جَانٌّ (٥٦) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٥٧)كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ (٥٨) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٥٩) هَلْ جَزَاءُ الإحْسَانِ إِلا الإحْسَانُ (٦٠) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٦١) وَمِنْ دُونِهِمَا جَنَّتَانِ (٦٢) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٦٣) مُدْهَامَّتَانِ (٦٤) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٦٥) فِيهِمَا عَيْنَانِ نَضَّاخَتَانِ (٦٦) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٦٧) فِيهِمَا فَاكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌ (٦٨)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٦٩)فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ (٧٠) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٧١)حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ (٧٢) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٧٣) لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلا جَانٌّ (٧٤) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٧٥)مُتَّكِئِينَ عَلَى رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ (٧٦) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٧٧) تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلالِ وَالإكْرَامِ (٧٨)
Terjemah Ayat 26-45
  • 46. Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya[1] ada dua surga[2].
  • 47. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 48. Kedua surga itu mempunyai aneka pepohonan dan buah-buahan[3].
  • 49. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 50. Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang memancar[4].  
  • 51. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 52. Di dalam kedua surga itu terdapat aneka buah-buahan yang berpasang-pasangan[5].
  • 53. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 54. Mereka bersandar di atas permadani yang bagian dalamnya dari sutera tebal[6]. Dan buah-buahan di kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat[7].
  • 55. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 56. Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan[8], yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya[9].
  • 57. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 58. Seakan-akan mereka itu permata yakut dan marjan[10].
  • 59. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 60. Tidak ada balasan untuk kebaikan[11] selain kebaikan (pula)[12].
  • 61. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 62. Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi[13].
  • 63. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 64. Kedua surga itu (kelihatan) hijau tua warnanya.
  • 65. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 66. Di dalam keduanya (syurga itu) ada dua buah mata air yang memancar.
  • 67. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?  
  • 68. Di dalam kedua surga itu ada buah-buahan, kurma dan delima.
  • 69. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 70. Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik (akhlaknya) dan cantik wajahnya[14].
  • 71. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 72. Bidadari-bidadari yang dipelihara di dalam kemah-kemah[15].
  • 73. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 74. Mereka sebelumnya tidak pernah disentuh oleh manusia maupun oleh jin.
  • 75. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 76. Mereka bersandar pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah[16].
  • 77. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 78. [17]Mahasuci nama Tuhanmu Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.

HURAIAN MAKNA AYAT;
  • [1] Yakni berdiri di hadapan-Nya untuk dihisab.
  • [2] Yakni bagi orang yang takut kepada Tuhannya dan takut berhadapan dengan-Nya, dimana hal itu membuatnya mengerjakan perintah dan menjauhi larangan, maka dia memperoleh dua surga. Menurut Syaikh As Sa’diy, dia akan mendapatkan dua surga dari emas, baik bejana, perhiasan, bangunan dan apa yang ada di sana (dari emas); surga yang satu sebagai balasan karena meninggalkan larangan, sedangkan surga yang satu lagi karena mengerjakan ketaatan.
  • [3] Ada pula yang menafsirkan kata ‘afnaan’ dengan berbagai jenis kenikmatan, baik kenikmatan luar maupun dalam yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan terlintas di hati manusia.
  • [4] Mereka dapat memancarkannya ke tempat yang mereka inginkan dan mereka kehendaki.
  • [5] Setiap jenisnya memiliki rasa dan warnanya masing-masing yang tidak dimiliki oleh jenis yang lain.
  • [6] Syaikh As Sa’diy menerangkan, ini adalah sifat permadani penghuni surga dan sifat duduknya mereka di atasnya, dan bahwa mereka sambil bersandar sambil santai. Permadani ini tidak diketahui sifatnya kecuali oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala, sampai-sampai bagian dalamnya dari sutera tebal yang merupakan sutera terbaik dan dibanggakan, lalu bagaimana dengan luarnya yang bersentuhan langsung dengan kulit mereka?
  • Ibnu Mas’ud berkata, “Ini bagian dalamnya, lalu bagaimana kalau kamu melihat bagian luarnya?”
  • [7] Yakni bisa dipetik sambil berdiri, sambil duduk dan sambil berbaring.
  • [8] Kepada suami mereka karena cakep dan gantengnya suami mereka, dan cintanya mereka kepadanya.
  • [9] Mereka masih sebagai gadis.
  • [10] Yakni karena bersih, cantik dan indahnya mereka.
  • [11] Yakni tidak ada balasan bagi orang yang berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah dan berbuat ihsan dalam bergaul dengan manusia kecuali dibalas dengan kebaikan, berupa pahala yang besar, keberuntungan yang besar, kenikmatan yang kekal, dan kehidupan yang sentosa. Kedua surga yang tinggi yang terbuat dari emas ini diperuntukkan bagi orang-orang yang didekatkan dengan Allah Subhaanahu wa Ta'aala (Al Muqarrabiin).
  • [12] Dengan kenikmatan surga.
  • [13] Selain dari dua surga yang tersebut di atas ada dua surga lagi yang disediakan untuk orang-orang mukmin yang derajatnya di bawah orang-orang mukmin yang dimasukkan ke dalam kedua surga yang pertama. Menurut Syaikh As Sa’diy, kedua surga yang lain itu dari perak, baik bangunannya, bejananya, perhiasannya, dan apa yang ada di dalamnya. Kedua surga ini diperuntukkan kepada As-habul Yamin (Golongan kanan).
  • [14] Mereka menggabung antara indahnya luar dan dalam; fisiknya indah dan akhlaknya baik.
  • [15] Bidadari itu tertahan dalam kemah-kemah mutiara; yang telah mempersiapkan diri mereka untuk suami mereka, namun hal itu tidaklah menafikan mereka untuk keluar ke kebun-kebun dan taman-taman surga sebagaimana kebiasaan putri-putri raja dan wanita-wanita yang dipingit.
  • [16] Orang-orang yang mendapatkan kedua surga yang kedua ini tempat sandaran mereka adalah rafraf (permadani) hijau, yaitu permadani yang berada di atas majlis-majlis (tempat duduk) yang tinggi yang menjadi tambahan terhadap majlis (tempat duduk) mereka. Dengan demikian, majlis tersebut memiliki rafrafah (permadani) di atas majlis mereka sehingga semakin indah dan bagus. Adapun ‘abqariy sebagai nisbat kepada setiap yang ditenun dengan tenunan yang indah dan mewah, oleh karenanya, disifati dengan keindahan yang menyeluruh karena bagus buatannya, indah dilihat serta halus disentuh. Kedua surga ini bukanlah surga yang sebelumnya sebagaimana disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, “Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi.” Selain itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menyifatkan dua surga yang pertama dengan beberapa sifat yang tidak disifatkan kepada dua surga yang setelahnya. Pada dua surga yang pertama Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang memancar,” sedangkan pada kedua surga setelahnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Di dalam keduanya (syurga itu) ada dua buah mata air yang memancar.” Sudah menjadi maklum, bahwa keduanya berbeda, yang satu mengalir, sedangkan yang satu lagi memancar. Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Kedua surga itu mempunyai aneka pepohonan dan buah-buahan.” Dan Dia tidak berfirman demikian pada surga yang kedua. Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Di dalam kedua surga itu terdapat aneka buah-buahan yang berpasang-pasangan.” Sedangkan pada kedua surga yang setelahnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Di dalam kedua surga itu ada buah-buahan, kurma dan delima.” Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Mereka bersandar di atas permadani yang bagian dalamnya dari sutera tebal. Dan buah-buahan di kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat.” Sedangkan pada dua surga yang kedua (setelahnya), Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Mereka bersandar pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah.” Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.” Sedangkan pada kedua surga yang setelahnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Bidadari-bidadari yang dipelihara di dalam kemah-kemah.” Sudah menjadi maklum adanya perbedaan di antara keduanya.

  • Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).” Dan Dia tidak berfirman demikian, pada dua surga setelahnya, maka hal ini menunjukkan bahwa hal itu sebagai balasan bagi orang-orang yang berbuat ihsan.
  • Di samping itu, didahulukan kedua surga yang pertama daripada yang kedua menunjukkan keutamaan yang pertama.
  • Berdasarkan sisi-sisi di atas dapat diketahui kelebihan dua surga yang pertama daripada dua surga yang kedua, dan bahwa kedua surga yang pertama itu dipetuntukkan kepada orang-orang yang didekatkan dari kalangan para nabi, para shiddiqin dan hamba-hamba pilihan Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang saleh, sedangkan pada kedua surga yang kedua disiapkan untuk kaum mukmin pada umumnya. Di semua surga itu terdapat sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terlintas di hati manusia, di dalamnya terdapat apa yang diinginkan jiwa dan indah dipandang mata, penduduknya benar-benar santai, ridha, tenang, dan mendapatkan tempat tinggal yang terbaik, bahkan masing-masing dari mereka tidak melihat bahwa orang lain lebih bagus darinya dan lebih tinggi kenikmatannya darinya.
  • [17] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan luasnya karunia dan ihsan-Nya, maka Dia berfirman, “Mahasuci nama Tuhanmu Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.” Yakni Mahaagung dan banyak kebaikan Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang memiliki kebesaran yang unggul di atas segalanya, Mahamulia secara sempurna, serta memuliakan para wali-Nya.
  • Selesai tafsir surah Ar Rahman dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, wal hamdulillahi Rabbil ‘aalamiin.

  1. TAFSIR AYAT ;
  • Dua tempat terbit matahari dan dua tempat terbenamnya ialah tempat dan terbenam matahari di waktu musim panas dan di musim dingin.
  • [1443]. Di antara ahli Tafsir ada yang berpendapat bahwa la yabghiyan maksudnya masing-masingnya tidak menghendaki. Dengan demikian maksud ayat 19-20 ialah bahwa ada dua laut yang keduanya tercerai karena dibatasi oleh tanah genting, tetapi tanah genting itu tidaklah dikehendaki (tidak diperlukan) maka pada akhirnya, tanah genting itu dibuang (digali untuk keperluan lalu lintas), maka bertemulah dua lautan itu. Seperti terusan Suez dan terusan Panama.

  • [1445]. Maksudnya: pada hari berhisab tidak lagi didengar alasan-alasan dan uzur-uzur yang mereka kemukakan.
  • [1446]. Yang dimaksud dua syurga di sini adalah, yang satu untuk manusia yang satu lagi untuk jin. 
  • Ada juga ahli Tafsir yang berpendapat syurga dunia dan syurga akhirat.
  • [1447]. Selain dari dua syurga yang tersebut di atas ada dua syurga lagi yang disediakan untuk orang-orang mukmin yang kurang derajatnya dari orang-orang mukmin yang dimasukkan ke dalam syurga yang pertama.

  • Abu Shuhaib al-Karami mengatakan, “Yang dimaksud dengan hur adalah bentuk jamak dari haura, yaitu wanita muda yang cantik jelita dengan kulit yang putih dan dengan mata yang sangat hitam. Sedangkan arti ‘ain adalah wanita yang memiliki mata yang indah.

  • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rombongan yang pertama masuk surga adalah dengan wajah bercahaya bak rembulan di malam purnama. Rombongan berikutnya adalah dengan wajah bercahaya seperti bintang-bintang yang berkemilau di langit. Masing-masing orang di antara mereka mempunyai dua istri, dimana sumsum tulang betisnya kelihatan dari balik dagingnya. Di dalam surga nanti tidak ada bujangan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sekiranya salah seorang bidadari surga datang ke dunia, pasti ia akan menyinari langit dan bumi dan memenuhi antara langit dan bumi dengan aroma yang harum semerbak. Sungguh tutup kepala salah seorang wanita surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Dua surga itu bejana dan apa yang ada di dalamnya dari perak. Dua surga itu bejana dan apa yang ada di dalamnya dari emas. Tidaklah di antara kaum dan di antara mereka melihat Rabb mereka, melainkan ada pakaian sombong di wajah-Nya di surga ‘Aden (yang tetap).” (HR. Bukhari no. 4878 dan Muslim no. 180). (Shahih Tafsir Ibnu Katsir, 4: 344-345)

  • Syaikh As Sa’di rahimahullah menyatakan, “Konsekuensi dari orang yang takut pada Allah adalah meninggalkan larangan dan melaksanakan perintah. Itulah yang mendapatkan dua surga. Dua surga itu terdapat bejana, perhiasan, bangunan dan isi lainnya yang terbuat dari emas. Salah satu dari dua surga itu diperuntukkan karena meninggalkan yang diharamkan. Dan surga lainnya diperuntukkan karena melakukan ketaatan yang diperintahkan.” (Tafsir As Sa’di, hal. 880)

  • Ayat ini bersifat umum mencakup manusia dan jin, sebagai mana dipermulaan pertanyaan ayat ini yang mana allah menjelaskan telah mencipta manusia dari 7lapisan tanah bumi dan jin yakni iblis dari naar yang mana bermakna taman tempat penyesalan atau neraka;maka ayat ini adalah dalil yang paling kuat yang menunjukkan bahwa jin akan masuk surga apabila mereka beriman dan bertaqwa. Oleh karena itu Alloh anugerahkan kepada jin dan manusia dengan balasan ini , Alloh berfirman [ dan bagi yang takut akan kedudukan Rabb-nya baginya ada dua surga, maka nikmat Alloh yang manakah yang kamu dustakan].” [Lihat tafsir Ibnu Katsir –rohimahulloh-]

Sabtu, 16 Disember 2017

AYAT 26-45


  • TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK 
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
  • JILIK-6 
  • Tafsir Ar Rahman Ayat 26-45
  • Ayat 26-45: 
  • Keadaan pada hari Kiamat, 
  • hisab, dan azab bagi orang-orang yang berdosa di neraka Jahanam.

  • (BISMILLAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM)
  • Kullu man 'alaihaa faan(in)
  • Wayabqaa wajhu rabbika dzuul jalaali wal-ikraam(i)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Yas-aluhuu man fiis-samaawaati wal ardhi kulla yaumin huwa fii sya'n(in)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Sanafrughu lakum ayyuhaats-tsaqalaan(i)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Yaa ma'syaral jinni wal-insi iniistatha'tum an tanfudzuu min aqthaaris-samaawaati wal ardhi faanfudzuu laa tanfudzuuna illaa bisulthaan(in)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Yursalu 'alaikumaa syuwaazhun min naarin wa nuhaasun falaa tantashiraan(i)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Fa-idzaaan-syaqqatis-samaa-u fakaanat wardatan kaddihaan(i
  • Fabiayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Fayauma-idzil laa yusalu 'an dzanbihi insun wa laa jaann(un)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

  1. كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (٢٦) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ (٢٧)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٢٨) يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ (٢٩)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٣٠) سَنَفْرُغُ لَكُمْ أَيُّهَا الثَّقَلانِ (٣١) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٣٢) يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ فَانْفُذُوا لا تَنْفُذُونَ إِلا بِسُلْطَانٍ (٣٣) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٣٤) يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ وَنُحَاسٌ فَلا تَنْتَصِرَانِ (٣٥) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٣٦) فَإِذَا انْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ وَرْدَةً كَالدِّهَانِ (٣٧) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٣٨) فَيَوْمَئِذٍ لا يُسْأَلُ عَنْ ذَنْبِهِ إِنْسٌ وَلا جَانٌّ (٣٩) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٤٠) يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ بِسِيمَاهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِي وَالأقْدَامِ (٤١)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٤٢)هَذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُونَ (٤٣) يَطُوفُونَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ حَمِيمٍ آنٍ (٤٤)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٤٥)

Terjemah Ayat 26-45
  • 26. Semua yang ada di bumi itu[1] akan binasa.
  • 27. Tetapi zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran[2] dan kemuliaan[3] tetap kekal.
  • 28. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 29. Apa yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya[4]. Setiap waktu Dia dalam kesibukan[5].
  • 30. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 31. Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu[6] wahai (golongan) manusia dan jin.
  • 32. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 33. [7]Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan[8].
  • 34. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? 
  • 35. [9]Kepada kamu (jin dan manusia), akan dikirim nyala api dan cairan tembaga (panas)[10] sehingga kamu tidak dapat menyelamatkan diri (darinya)[11].
  • 36. [12]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 37. [13]Maka apabila langit telah terbelah[14] dan menjadi merah mawar seperti (kilauan) minyak[15].
  • 38. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 39. Maka pada hari itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya[16].
  • 40. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 41. Orang-orang yang berdosa itu diketahui dengan tanda-tandanya[17], lalu direnggut ubun-ubun dan kakinya[18].
  • 42. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 43. Inilah neraka Jahanam yang didustakan oleh orang-orang yang berdosa.
  • 44. Mereka berkeliling di sana dan di antara air yang mendidih[19].
  • 45. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

  Huraian makna ayat;
  • [1] Baik manusia, jin, hewan dan makhluk-makhluk lainnya.
  • [2] Yakni yang mempunyai keagungan dan kebesaran; yang diagungkan dan dibesarkan.
  • [3] Ikraam artinya yang luas karunia dan kemurahan-Nya, serta yang menghendaki untuk memuliakan para wali dan makhluk pilihan-Nya dengan berbagai bentuk pemuliaan, dimana Dia dimuliakan, diagungkan, dicintai dan diibadahi oleh para wali-Nya.
  • [4] Baik dengan lisaanul maqaal (lisan) maupun lisaanul haal (keadaan).
  • Allah Subhaanahu wa Ta'aala Mahakaya zat-Nya tidak membutuhkan semua makhluk-Nya dan Mahaluas kemurahan-Nya. Semua makhluk butuh kepada-Nya meminta dipenuhi kebutuhannya dan mereka tidak pernah cukup terhadapnya sekejap mata pun atau kurang dari itu.
  • [5] Dia mengayakan yang miskin, menutupi hati yang sedih, memberi kepada suatu kaum dan menghalangi yang lain, menciptakan, menghidupkan dan mematikan, memuliakan dan menghinakan, meninggikan dan merendahkan, memelihara, memberi rezki, mengabulkan doa dan lain lain. Dia tidak pernah lelah terhadapnya dan tidak pernah bosan terhadap permintaan makhluk-Nya yang begitu banyak dan terus menerus. Dia senantiasa menampilkan apa yang telah ditetapkan-Nya di zaman azali (yang tidak ada awalnya) pada waktu-waktunya yang sesuai hikmah-Nya, baik ketetapan agama yang berupa perintah dan larangan, ketetapan qadari terhadap hamba-hamba-Nya selama mereka tinggal di dunia, sehingga ketika telah sempurna makhluk itu dan Allah telah membinasakan mereka, Dia menampilkan ketetapan jaza’i(pembalasan)-Nya dan memperlihatkan kepada mereka keadilan, karunia dan ihsan-Nya yang banyak, dimana dengannya mereka dapat mengenal-Nya dan mentauhidkan-Nya. Dia memindahkan manusia dari tempat ujian (dunia) menuju kepada kehidupan yang sesungguhnya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui.” (Al ‘Ankabut: 64)
  • Maka Mahasuci Allah Tuhan Yang Maha Pemberi yang pemberian-Nya merata kepada penduduk langit dan bumi, dan kelembutan-Nya mengena kepada semua makhluk di setiap waktu dan setiap saat.
  • [6] Untuk menghisab dan memberikan balasan terhadap amal yang kamu kerjakan selama di dunia.
  • [7] Apabila Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengumpulkan mereka di mauqif (tempat perhentian seperti di padang mahsyar) pada hari Kiamat, maka Allah memberitahukan kelemahan mereka, sempurnanya kekuasaan-Nya, berlakunya kehendak dan kekuasaan-Nya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman sebagaimana pada ayat di atas menerangkan kelemahan mereka.
  • [8] Bagaimana mereka memilikinya sedangkan mereka tidak berkuasa memberikan manfaat kepada diri mereka dan menghindarkan madharrat dari diri mereka, tidak bisa menghidupkan dan tidak bisa mematikan serta tidak bisa membangkitkan?! Pada tempat itu (padang mahsyar) tidak ada seorang pun yang berani bicara kecuali dengan izin-Nya dan tidak terdengar selain suara bisik-bisik. Di tempat itu, semua manusia sama, baik raja maupun rakyatnya, pemimpin maupun yang dipimpin, orang kaya maupun orang miskin.
  • [9] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan apa yang disiapkan-Nya untuk mereka di tempat itu.
  • [10] Syaikh As Sa’diy menerangkan tentang syuwaazh, yaitu nyala api yang bersih, sedangkan nuhaas, yaitu nyala api yang bercampur asap. Maksudnya kedua ini adalah bahwa keduanya akan dikirimkan untuk mengepung jin dan manusia agar tidak melarikan diri.
  • [11] Mujahid berkata, “Tembaga adalah kuningan yang dilebur lalu dituangkan di atas kepala mereka.” Maksudnya, Kalau kamu (wahai jin dan manusia) pergi melarikan diri pada hari Kiamat, tentu para malaikat dan malaikat Zabaniyah akan mengembalikan kamu dengan mengirimkan nyala api dan tembaga yang dileburkan yang akan ditimpakan kepada kamu agar kamu kembali (ke padang mahsyar).
  • [12] Oleh karena penakutan-Nya kepada hamba-hamba-Nya merupakan nikmat-Nya kepada mereka sekaligus sebagai cemeti untuk menggiring mereka ke tempat yang tinggi dan untuk memperoleh pemberian yang paling baik yang diberikan-Nya kepada mereka, maka Dia berfirman, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
  • [13] Pada hari Kiamat karena dahsyatnya keadaan ketika itu, banyaknya kegelisahan, rasa takut tidak kunjung henti, matahari dan bulan diredupkan dan bintang-bintang berjatuhan maka langit menjadi merah mawar seperti (kilauan) minyak, yakni seperti cairan logam dan timah yang mencair.
  • [14] Menjadi pintu-pintu untuk turunnya malaikat.
  • [15] Jika demikian, maka sungguh dahsyat dan mengerikan kejadian ketika itu.[16] Tetapi pada waktu yang lain. Atau maksudnya, bahwa pada hari itu manusia dan jin tidak dimintai informasi tentang apa yang terjadi karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengetahui yang gaib dan yang tampak, yang lalu dan yang akan datang. Dia ingin memberikan balasan kepada hamba sesuai yang diketahui-Nya terhadap keadaan mereka, dan Dia telah mengadakan tanda pada hari Kiamat untuk orang-orang yang baik dan orang-orang yang buruk yang dengannya mereka dapat dikenali sebagaimana firman-Nya di ayat lain, “Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. (Terj. Ali Imran: 106)
  • [17] Yaitu dengan hitam wajahnya dan biru matanya sebagaimana yang dikatakan Qatadah dan Al Hasan.
  • [18] Maksudnya, ubun-ubun orang yang berdosa dan kakinya direnggut lalu dilempar ke dalam neraka dan mereka diseret di sana. Allah Subhaanahu wa Ta'aala jika bertanya kepada mereka, maka maksudnya pertanyaan untuk menghinakan dan agar mereka mengakuinya karena Dia lebih mengetahui dari mereka, akan tetapi Dia ingin menunjukkan kepada makhluk hujjah-Nya yang kuat dan hikmah-Nya yang dalam.
  • [19] Mereka akan meminumnya ketika meminta pertolongan dari panasnya api neraka.
Tafsir ayat ;
  • Baik dengan lisaanul maqaal (lisan) maupun lisaanul haal (keadaan).
  • Dia mengayakan yang miskin, menutupi hati yang sedih, memberi kepada suatu kaum dan menghalangi yang lain, menciptakan, menghidupkan dan mematikan, memuliakan dan menghinakan, meninggikan dan merendahkan, memelihara, memberi rezki, mengabulkan doa dan lain lain. Dia tidak pernah lelah terhadapnya dan tidak pernah bosan terhadap permintaan makhluk-Nya yang begitu banyak dan terus menerus. Dia senantiasa menampilkan apa yang telah ditetapkan-Nya di zaman azali (yang tidak ada awalnya) pada waktu-waktunya yang sesuai hikmah-Nya, baik ketetapan agama yang berupa perintah dan larangan, ketetapan qadari terhadap hamba-hamba-Nya selama mereka tinggal di dunia, sehingga ketika telah sempurna makhluk itu dan Allah telah membinasakan mereka, Dia menampilkan ketetapan jaza’i(pembalasan)-Nya dan memperlihatkan kepada mereka keadilan, karunia dan ihsan-Nya yang banyak, dimana dengannya mereka dapat mengenal-Nya dan mentauhidkan-Nya. Dia memindahkan manusia dari tempat ujian (dunia) menuju kepada kehidupan yang sesungguhnya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui.” (Al ‘Ankabut: 64)

  • Mahsyar (Arab: محشر) dalam Islam adalah tanah berpasir putih yang sangat luas dan datar, dimana tidak terlihat dataran rendah maupun tinggi di akhirat.. Mahsyar adalah dataran raksasa yang tidak bertepi, tidak ada lembah, sungai maupun laut.
  • Di Mahsyar inilah semua makhluk Allah yang berada di tujuh lapis langit dan bumi termasuk malaikat, jin, manusia, binatang berkumpul dan berdesak-desakan. Setiap manusia pada hari pengadilan akan hadir di mahsyar, diiringi oleh dua malaikat, yang satu sebagai pengiringnya dan yang satu lagi sebagai saksi atas segala perbuatannya di dunia.
  • Menurut ajaran Islam, manusia yang pertama kali dibangkitkan oleh Allah adalah Muhammad.[HR Utsman bin Affan bin Dahaak bin Muzahim daripada Abbas ra]. 

  • Apabila Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengumpulkan mereka di mauqif (tempat perhentian seperti di padang mahsyar) pada hari Kiamat, maka Allah memberitahukan kelemahan mereka, sempurnanya kekuasaan-Nya, berlakunya kehendak dan kekuasaan-Nya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman sebagaimana pada ayat di atas menerangkan kelemahan mereka.Dalam Hadits riwayat Ibnu Umar ra .dijelaskan bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala menggulung semua langit dan bumi dengan Tangan-Nya. Kemudian Dia berkata : Aku adalah Raja. Aku adalah Maha Perkasa. Aku adalah Yang Sombong. Mana raja-raja di atas bumi? Mana mereka yang perkasa? Mana mereka yang sombong itu?
  • Tak ada satupun dari mantan raja dan penguasa di atas bumi yang menjawab. Tak ada seorangpun dari pejabat tinggi negara di atas bumi yang mampu merespon. Tak satupun dari konglomerat, kepala suku, kepala geng, mafia dan preman yang berani bersuara. Tak satupun dari para jendral berbintang empat atau lima yang berkutik.Tak satupun dari manusia-manusia yang pernah hidup di atas bumi yang berani berkata. Semuanya tertunduk sambil menggigil ketakutan. Dalam pikiran mereka tergambar semua kejahatan, kedurhakaan dan kezaliman yang dulu pernah mereka lakukan.
  • Setiap orang memikirkan nasibnya sendiri. Saking dahsyatnya suasana, mereka tidak bisa berbicara, apalagi berargumentasi. Suasananya sangat mencekam. Semua hamba tunduk, diam seribu bahasa.
  • Pada hari itu, manusia tidak sempat lagi memikirkan harta, anak, pangkat, kedudukan dan semua fasilitas hidup yang diperoleh ketika mereka melewati fase kehidupan di dunia. Mereka terfokus memikirkan diri sendiri, tanpa peduli dengan orang-orang yang ketika hidup di dunia menjadi teman dekat atau karib kerabat. Pada hari itu, wajah manusia hanya terbagi dua, yang berseri-seri mukanya dan yang bermuka masam, pucat pasi dan hina. 

  • Bagaimana mereka memilikinya sedangkan mereka tidak berkuasa memberikan manfaat kepada diri mereka dan menghindarkan madharrat dari diri mereka, tidak bisa menghidupkan dan tidak bisa mematikan serta tidak bisa membangkitkan?! Pada tempat itu (padang mahsyar) tidak ada seorang pun yang berani bicara kecuali dengan izin-Nya dan tidak terdengar selain suara bisik-bisik. Di tempat itu, semua manusia sama, baik raja maupun rakyatnya, pemimpin maupun yang dipimpin, orang kaya maupun orang miskin.‘Dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi Saw ia berkata : “Ada tujuh golongan yang Allah beri naungan dengan naungan-Nya, pada hari tiada lagi naungan kecuali naungan-Nya. Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dan berkembang dalam ketaatan pada Allah, seseorang yang hatinya terpaut pada masjid, dua orang yang saling mencintai di jalan Allah dan karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah di atas dasar itu, seorang lelaki yang digoda wanita yang memiliki jabatan dan kecantikan, lalu dia (menolaknya) sambil berkata : aku takut pada Allah, seseorang yang bersedekah maka ia sembunyikan sehingga apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya tidak diketahui oleh tangan kirinya, dan seseorang yang berzikir (mengingat) kepada Allah di tempat yang sunyi sepi, maka ia bergelimang air mata”. (Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
  • Adapun orang-orang-orang yang menolak dan melupakan dengan sengaja petunjuk Tuhan Pencipta dalam menjalankan misi dan visi hidup ketika hidup di dunia, mereka dikumpulkan dalam keadaan buta. Lengkaplah penderitaan yang mereka rasakan. 

  • Syaikh As Sa’diy menerangkan tentang syuwaazh, yaitu nyala api yang bersih, sedangkan nuhaas, yaitu nyala api yang bercampur asap. Maksudnya kedua ini adalah bahwa keduanya akan dikirimkan untuk mengepung jin dan manusia agar tidak melarikan diri.

  • Mujahid berkata, “Tembaga adalah kuningan yang dilebur lalu dituangkan di atas kepala mereka.” Maksudnya, Kalau kamu (wahai jin dan manusia) pergi melarikan diri pada hari Kiamat, tentu para malaikat dan malaikat Zabaniyah akan mengembalikan kamu dengan mengirimkan nyala api dan tembaga yang dileburkan yang akan ditimpakan kepada kamu agar kamu kembali (ke padang mahsyar).

  • Tetapi pada waktu yang lain. Atau maksudnya, bahwa pada hari itu manusia dan jin tidak dimintai informasi tentang apa yang terjadi karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengetahui yang gaib dan yang tampak, yang lalu dan yang akan datang. Dia ingin memberikan balasan kepada hamba sesuai yang diketahui-Nya terhadap keadaan mereka, dan Dia telah mengadakan tanda pada hari Kiamat untuk orang-orang yang baik dan orang-orang yang buruk yang dengannya mereka dapat dikenali sebagaimana firman-Nya di ayat lain, “Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. (Terj. Ali Imran: 106)

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN