Sabtu, 2 Disember 2017

ayat8-12



TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK-5SURAH-YASIN 8-12


  1. 8 innaa ja'Alnaa fiiiy a'Ånaaqihim agLaaLan fahiya ilal adhqaani fahum muqmaHuuna9 wa ja'Alnaa mim bayni aydiyhim saddaw wa min khalfihim saddan fa-agshaynaahum fahum Laa yubSiruun10 wa sawaaaun 'Alayhim a-andhartahum am lam tundhirhum Laa yu'minuuna11 innamaa tundhiru manittaba'Adhdhikra wa khashiyarraHmaana bilgaybi fabashshirhu bimagfiratiw wa ajrin kariymin12 innaa naHnu nuHyiyl mawtaa wa naktubu maa qaddamuu wa aathaarahum wa kulla shay'in aHSaynaahu fiiiy imaamim mubiynin

إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلالا فَهِيَ إِلَى الأذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ (٨) وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لا يُبْصِرُونَ (٩) وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُونَ (١٠) إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ (١١) إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ (١٢

8. [9]Sungguh, Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, karena itu mereka tertengadah[10].9. Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat (dinding) dan di belakang mereka juga sekat, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat[11].
10. Dan sama saja bagi mereka, apakah engkau memberi peringatan kepada mereka atau engkau tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman juga[12].11. Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan[13] kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan[14] dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih walaupun mereka tidak melihat-Nya. [15]Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia (surga).
12. Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati[16], [17]dan Kamilah yang mencatat[18] apa yang telah mereka kerjakan[19] dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan[20]. Dan segala sesuatu[21] Kami kumpulkan dalam kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh).

[8] Yakni berlaku pada mereka qadha’ dan kehendak-Nya, bahwa mereka senantiasa dalam kekafiran dan kemusyrikan, dan dijatuhkan kepada mereka perkataan (hukuman) karena sebelumnya mereka telah disodorkan kebenaran, lalu mereka menolaknya, maka sebagai hukumannya hati mereka dicap.
[9] Menurut Syaikh As Sa’diy, selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan penghalang yang menghalangi masuknya iman ke dalam hati mereka.[10] Yakni mengangkat kepalanya dan tidak sanggup menundukkannya. Menurut sebagian ahli tafsir, ayat ini merupakan tamtsil (perumpamaan) yang maksudnya adalah bahwa mereka tidak mau tunduk beriman.[11] Ayat ini juga menurut sebagian ahli tafsir merupakan tamtsil yang menunjukkan tertutupnya jalan bagi mereka untuk beriman.[12] Yakni bagaimana akan beriman orang yang telah dicap hatinya, di mana ia sudah melihat yang hak sebagai kebatilan dan yang batil sebagai hak.[13] Yakni peringatan dan nasihatmu hanyalah bermanfaat bagi orang yang mengikuti peringatan, yaitu mereka yang niatnya adalah mengikuti kebenaran.[14] Maksudnya peringatan yang diberikan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam hanyalah berguna bagi orang yang mau mengikutinya.[15] Yakni barang siapa yang memiliki kedua sifat ini, yaitu niat yang baik dalam mencari yang hak (benar) dan rasa takut kepada Allah. Orang yang seperti inilah yang dapat mengambil manfaat dari risalah Beliau dan dapat membersihkan dirinya dengan pengajaran Beliau. Oleh karena itu, berikan kabar gembira kepadanya dengan ampunan dan pahala yang mulia terhadap amal mereka yang saleh dan niatnya yang baik.[16] Yakni Kami bangkitkan mereka setelah matinya untuk diberikan balasan terjadap amal mereka.[17] Abu Bakar Al Bazzar berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Abbad bin Ziyad As Saajiy. (Ia berkata): Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Umar. (Ia berkata): Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Jaririy dari Abu Nadhrah dari Abu Sa’id radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Sesungguhnya Bani Salamah mengeluhkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam jauhnya tempat tinggal mereka dari masjid, maka turunlah ayat, “dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” Maka akhirnya mereka tetap tinggal di tempat tersebut. Ia (Al Bazzar) juga berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna. (Ia berkata): Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul A’la. (Ia berkata): Telah menceritakan kepada kami Al Jaririy Sa’id bin Ayas dari Abu Nadhrah dari Abu Sa’id radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang sama seperti itu. Menurut Ibnu Katsir, bahwa di sana terdapat keghariban (keasingan) karena disebutkan turunnya ayat ini, sedangkan surat tersebut semuanya adalah Makkiyyah. Hadits ini para perawinya adalah para perawi hadits shahih kecuali ‘Abbad bin Ziyad, tentang dia terdapat pembicaraan sebagaimana dalam Tahdzibut Tahdzib, akan tetapi hadits ini telah dimutaba’ahkan sebagaimana yang kita lihat. Tirmidzi juga meriwayatkannya di juz 4 hal. 171 dan ia menghasankannya. Hakim di juz 2 hal. 428 juga meriwayatkan dan ia menshahihkannya namun didiamkan oleh Adz Dzahabi dari hadits Abu Sa’id Al Khudriy, akan tetapi di hadits itu dalam riwayat keduanya ada Tharif bin Syihab, sedankan dia adalah dha’if sekali sebagaimana dalam Al Mizan, namun orang tersebut dalam riwayat Hakim adalah Sa’id bin Tharif, mungkin saja sebagian rawi keliru dalam hal ini. Akan tetapi, hadits ini memiliki syahid dalam riwayat Ibnu Jarir rahimahullah dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, ia berkata, “Rumah orang-orang Anshar berjauhan dari masjid, lalu mereka ingin pindah ke dekat masjid, maka turunlah ayat, “Dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” Hadits ini melalui jalan Simak dari Ikrimah, sedangkan riwayat Simak dari Ikrimah adalah mudhtharib, akan tetapi ia termasuk ke dalam syahid. Syaikh Muqbil berkata, “Adapun ucapan Ibnu Katsir rahimahullah, bahwa di sana terdapat keghariban karena surat terseut semua (ayat)nya adalah Makkiyyah, maka belum jelas arahnya bagiku. Kalau memang ayat ini turun di Mekah, maka tidaklah menghalangi turunnya dua kali, namun jika tidak pasti turunnya di Mekah, maka bisa saja surat ini Makkiyyah selain ayat itu sebagaimana yang sudah biasa, wallahu a’lam.” (Lihat Ash Shahihul Musnad Min Asbaabin Nuzul hal. 193-194 oleh Syaikh Muqbil).[18] Dalam Lauh Mahfuzh.
[19] Dalam hidup mereka; perbuatan baik atau buruk untuk diberikan balasan.
[20] Baik atau buruk bekas yang mereka tinggalkan, di mana mereka menjadi sebab ada tidaknya perbuatan itu baik di masa hidup mereka maupun setelah mati mereka, demikian pula amalan yang dilakukan karena ucapan, perbuatan dan keadaan mereka. Oleh karena itu, setiap kebaikan yang dikerjakan oleh seseorang disebabkan pengetahuannya, pengajarannya, dan nasihatnya, atau amar ma’ruf dan nahi mungkarnya atau ilmu yang dia tanamkan ke dalam diri siswa atau ia tulis dalam beberapa kitab yang kemudian dimanfaatkan baik pada masa hidupnya maupun setelah matinya, atau mengerjakan kebaikan, seperti shalat, zakat, sedekah dan berbuat ihsan, lalu diikuti oleh orang lain. Atau ia membangun masjid atau membuat suatu tempat yang kemudian dimanfaatkan oleh manusia, dsb. Maka hal itu termasuk bekas peninggalan yang dicatat pula, sebagaimana peninggalan buruk juga dicatat. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barang siapa mencontohkan dalam Islam contoh yang baik, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkan setelahnya. Barang siapa yang mencontohkan sunnah yang buruk, maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang yang mengamalkan setelahnya tanpa dikurangi sedikit pun dari dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim)Hal ini menunjukkan pula betapa tingginya kedudukan dakwah kepada Alah; membimbing manusia ke jalan-Nya dengan berbagai sarana dan jalan yang dapat mencapai kepadanya, dan menunjukkan rendahnya kediudukan orang yang mengajak kepada keburukan atau menjadi imam dalam hal ini, dan bahwa ia adalah makhluk paling hina, paling besar kejahatan dan dosanya.[21] Baik amal, niat dan selainnya.

maka karena itu mereka tertengadah. (Yasin: 8)
Al-muqmah artinya orang yang terangkat kepalanya, seperti yang dikatakan oleh Ummu Zari' dalam ucapannya, "Saya minum dengan menengadahkan kepala," maksudnya dia minum hingga kenyang dengan menengadahkan kepalanya agar air mudah masuk dan menyegarkan. Dan sudah dianggap cukup hanya menyebut 'belenggu pada leher' tanpa menyebut 'kedua tangan', sekalipun pada kenyataannya kedua tangan pun dibelenggu pula menjadi satu dengan leher. Sebagaimana pengertian yang terdapat di dalam perkataan seorang penyair, yaitu:
فَمَا أدْري إذَا يَمَّمْتُ أرْضًا ... أُرِيدُ الخَيْرَ أَيُّهُمَا يَليني ...
أالْخَيْرُ الَّذِي أنَا أبْتَغيه ... أَمِ الشَّرّ الَّذِي لَا يَأتَليني ...
Aku mengetahui bila menuju suatu tempat untuk mencari kebaikan, manakah di antara keduanya (baik atau buruk) yang akan kuperoleh.
Apakah kebaikan yang menjadi tujuanku yang akan kuperoleh ataukah keburukan yang tidak kuinginkan yang akan kuperoleh.
Dalam bait pertama hanya disebutkan kebaikan, tanpa menyebutkan keburukan, dan sudah cukup dimengerti dari konteks kalimatnya. Demikian pula halnya pengertian dalam ayat ini, mengingat belenggu itu hanya dipakai untuk mengikat kedua tangan bersama dengan leher, maka dianggap cukup hanya dengan menyebutkan leher saja tanpa kedua tangan, karena pengertiannya sudah termasuk di dalamnya.
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. (Yasin: 8) Bahwa ayat ini semakna dengan ayat lain yang mengatakan: Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu. (Al-Isra: 29) Yakni tangan mereka terikat ke leher mereka sebagai kata kiasan yang menunjukkan bahwa tangan mereka tidak mau diulurkan untuk memberi kebaikan.
Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: maka karena itu mereka tertengadah. (Yasin: 8) Mereka menengadahkan kepalanya, sedangkan tangan mereka diletakkan di mulut mereka dan mereka terbelenggu tidak mendapatkan kebaikan apa pun.
**********
Firman Allah Swt.:
{وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا}
Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding. (Yasin: 9)
Menurut Mujahid, dinding itu menutupi mereka dari kebenaran sehingga mereka kebingungan, yang menurut Qatadah disebutkan berada dalam kesesatan.
Firman Allah Swt.:
{فَأَغْشَيْنَاهُمْ}
dan kami tutup (mata) mereka. (Yasin: 9)
Yakni Kami tutup mata mereka dari kebenaran.
{فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ}
sehingga mereka tidak dapat melihat. (Yasin: 9)
Maksudnya, tidak dapat mengambil manfaat dari kebaikan dan tidak mendapat petunjuk untuk menempuh jalan kebaikan.
Ibnu Jarir mengatakan, telah diriwayatkan seterusnya dari Ibnu Abbas, bahwa ia membaca ayat ini dengan bacaan "فَأَعْشَيْنَاهُمْ" dengan memakai huruf 'ain bukan gin, berasal dari akar kata al-asya yang artinya suatu penyakit yang mengenai mata.
Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa Allah Swt. menjadikan dinding ini antara mereka dan Islam serta iman, karenanya mereka tidak dapat menembusnya. Lalu Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam membaca firman-Nya:
{إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الألِيمَ}
Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih. (Yunus: 96-97)
Kemudian ia mengatakan bahwa orang yang telah dicegah oleh Allah Swt. pasti tidak mampu.
Ikrimah mengatakan, bahwa Abu Jahal pernah berkata, "Sekiranya aku melihat Muhammad, sungguh aku akan melakukan anu dan anu." Maka turunlah firman Allah Swt.: Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka (Yasin: 8) sampai dengan firman-Nya: sehingga mereka tidak dapat melihat. (Yasin: 9). Ikrimah melanjutkan, bahwa mereka mengatakan, "Inilah Muhammad." Tetapi Abu Jahal bertanya, Mana dia, mana dia ?" Ternyata dia tidak dapat melihatnya. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.
Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yazid ibnu Ziad dari Muhammad ibnu Ka'b yang mengatakan, bahwa Abu Jahal pernah berkata saat mereka sedang duduk, "Sesungguhnya Muhammad mengira bahwa jika kalian mengikutinya, pastilah kalian akan menjadi raja-raja. Dan apabila kalian telah mati, maka kelak akan dibangkitkan hidup kembali sesudah mati kalian, lalu kalian akan mendapatkan taman-taman surga yang lebih baik daripada taman-taman negeri Yordan. Dan jika kalian menentangnya, maka kalian akan disembelih olehnya (yakni dibunuh), kemudian kalian dibangkitkan sesudah mati kalian dan kalian akan mendapat neraka tempat kalian disiksa di dalamnya. Lalu Rasulullah Saw. saat itu keluar menyambut mereka, sedangkan di tangan beliau Saw. terdapat segenggam pasir, dan Allah Swt. telah menutup pandangan mereka dari Nabi Saw., maka Nabi Saw. menabur­kan pasir itu di atas kepala mereka seraya membaca firman-Nya Ya sin. Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah. (Yasin: 1-2) sampai dengan firman-Nya: Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. (Yasin: 9); Sedangkan Rasulullah Saw. pergi menunaikan keperluannya, dan mereka semalaman mengincar keluarnya Nabi Saw. di depan pintu rumahnya, sehingga keluarlah seseorang sesudah itu dari pintu yang dipakai keluar oleh Nabi Saw. dari rumah beliau Saw., lalu orang itu bertanya keheranan, "Sedang apa kalian di sini?" Mereka menjawab, "Kami sedang menunggu Muhammad." Orang tersebut menjawab, "Dia telah keluar melalui kalian, dan tiada seorang pun dari kalian, melainkan Nabi Saw. telah meletakkan pasir di atas kepalanya, lalu beliau pergi menuju ke tempat keperluannya." Maka tiap-tiap orang dari mereka menepiskan debu dari kepalanya. Ikrimah melanjutkan kisahnya, bahwa akhirnya sampai kepada Nabi Saw. perkataan Abu Jahal tersebut. Maka beliau bersabda:
"وَأَنَا أَقُولُ ذَلِكَ: إِنَّ لَهُمْ مِنِّي لَذَبْحًا، وَإِنَّهُ أَحَدُهُمْ"
Dan aku akan menegaskan hal tersebut, bahwa sesungguhnya aku akan membunuh mereka dan sesungguhnya aku benar-benar akan menghukum mereka
************
Firman Allah Swt.:
{وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ}
Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. (Yasin: 10)
Allah telah memastikan kesesatan atas diri mereka, karenanya tidak ada faedahnya lagi peringatan untuk mereka dan mereka tidak akan terpengaruh oleh peringatan. Hal yang semisal telah disebutkan di dalam tafsir surat Al-Baqarah; dan ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ * وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الألِيمَ}
Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih. (Yunus: 96-97)
*********
Adapun firman Allah Swt.:
{إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ}
Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan. (Yasin: 11)
Sesungguhnya orang-orang yang mengambil manfaat dari peringatanmu hanyalah orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang mau mengikuti peringatan itu alias Al-Qur'an.
وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ
dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, walaupun dia tidak melihat-Nya. (Yasin: 11)
Yakni manakala tiada seorang pun yang melihatnya selain hanya Allah Swt., karena ia mengetahui bahwa Allah Swt. Maha Melihat kepadanya dan Maha Mengetahui segala yang diperbuatnya
{فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ}
Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. (Yasin: 11)
Yaitu ampunan dari dosa-dosanya dan pahala yang banyak, luas, baik, dan indah. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
{إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ}
Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. (Al-Mulk: 12)
**********
Adapun firman Allah Swt.:
{إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى}
Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati. (Yasin: 12)
Yakni kelak di hari kiamat.
Di dalam makna ayat terkandung isyarat yang menunjukkan bahwa Allah Swt. dapat menghidupkan hati orang yang dikehendaki-Nya dari kalangan orang-orang kafir yang hatinya telah mati karena kesesatan, maka Allah memberinya petunjuk kepada jalan yang benar sesudah itu. Sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya sesudah menerangkan tentang orang-orang yang hatinya keras:
{اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِي الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ}
Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya (Al-Hadid: 17)
********
firman Allah Swt.:
{وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا}
dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan. (Yasin: 12)
Yaitu semua amal perbuatan yang telah mereka kerjakan.
Dan sehubungan dengan makna firman-Nya:
{وَآثَارَهُمْ}
dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. (Ya sin: 12)
Ada dua pendapat yang mengenainya.
Pendapat pertama, mengatakan bahwa Kami mencatat semua amal perbuatan yang telah mereka kerjakan, juga jejak-jejak mereka yang dijadikan suri teladan sesudah mereka tiada, maka Kami membalas amal perbuatan itu. Jika amal perbuatannya baik, maka balasannya baik; dan jika amal perbuatnnya buruk, maka balasannya buruk pula. Seperti yang disebutkan di dalam hadis Nabi Saw. yang mengatakan:
"مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، ومَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا ووزرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا".
Barang siapa yang mengerjakan suatu sunnah (perbuatan) baik, maka ia memperoleh pahalanya dan juga pahala dari orang-orang yang mengikuti jejaknya sesudah ia tiada, tanpa mengurangi pahala mereka barang sedikit pun. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan buruk, maka ia akan mendapatkan dosanya dan juga dosa orang-orang yang mengikuti jejaknya sesudah ia tiada tanpa mengurangi dosa-dosa mereka barang sedikit pun.
Imam Muslim meriwayatkannya melalui Syu'bah, dari Aun ibnu Abu Juhaifah, dari Al-Munzir ibnu Jarir, dari ayahnya, dari Jarir ibnu Abdullah Al-Bajali r.a. Di dalamnya terdapat kisah orang-orang Mudar yang memetik buah-buahan.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya dari ayahnya, dari Yahya ibnu Sulaiman Al-Ju'fi, dari Abul Muhayya alias Yahya ibnu Ya'la, dari Abdul Malik ibnu Umair, dari Jarir ibnu Abdullah r.a., lalu disebutkan hal yang semisal dengan panjang lebar, kemudian ia membaca firman-Nya: dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. (Yasin: 12)
Imam Muslim meriwayatkannya melalui Abu Uwwanah, dari Abdul malik ibnu Umair ibnul Munzir ibnu Jarir, dari ayahnya, lalu disebutkan hadis yang semisal.
Hal yang sama dinyatakan di dalam hadis lain yang berada di dalam kitab Sahih Muslim melalui Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ، انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: مِنْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ، أَوْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ مِنْ بَعْدِهِ".
Apabila anak Adam mati, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya, atau sedekah jariyah (yang terus mengalir pahalanya) sesudah ia tiada.
Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Abu Sa'id r.a. yang telah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. (Yasin: 12) bahwa makna yang dimaksud ialah kesesatan yang mereka tinggalkan.
Ibnu Lahi'ah telah meriwayatkan dari Ata ibnu Dinar, dari Sa'id ibnu Jubair sehubungan dengan makna firman-Nya: dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. (Yasin: 12) Yakni bekas-bekas yang mereka tinggalkan, dengan kata lain suatu amal perbuatan yang jejaknya diikuti oleh orang lain sesudah ia tiada. Maka jika bekas-bekas itu baik, maka pelaku pertamanya mendapat pahala yang semisal dengan orang-orang yang mengikuti jejaknya tanpa mengurangi pahala mereka barang sedikit pun. Dan jika hal itu berupa perbuatan buruk, maka pelaku pertamanya mendapatkan dosa yang sama dengan orang-orang yang mengiktui jejaknya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka barang sedikit pun. Kedua riwayat ini diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim dan dipilih oleh Al-Bagawi.
Pendapat yang kedua, mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah langkah-langkah mereka menuju kepada amal ketaatan atau kemaksiatan.
Ibnu Abu Najih dan lain-lainnya telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. (Yasin: 12) Yaitu langkah-langkah mereka.
Hal yang sama dikatakan oleh Al-Hasan dan Qatadah, bahwa yang dimaksud dengan atsarahum (bekas-bekas mereka) adalah langkah-langkah mereka. Qatadah mengatakan bahwa seandainya Allah melupakan sesuatu dari keadaanmu, hai anak Adam, tentulah Dia melupakan sebagian dari jejak-jejak ini yang telah terhapus oleh angin. Akan tetapi, Dia mencatat terhadap anak Adam semua jejak dan amal perbuatannya, sehingga Dia pun mencatat langkah-langkahnya yang dipakainya untuk ketaatan kepada Allah atau kedurhakaan terhadap­Nya. Maka barang siapa di antara kalian yang mampu mencatat jejaknya dalam ketaatan kepada Allah, hendaklah ia melakukannya. Sehubungan dengan pengertian ini ada banyak hadis yang mengutarakan hal yang semakna, seperti yang diterangkan berikut:
Hadis pertama,
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا الجُرَيْري، عَنْ أَبِي نَضْرَة، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: خَلَتِ الْبِقَاعُ حَوْلَ الْمَسْجِدِ، فَأَرَادَ بَنُو سَلَمَةَ أَنْ يَنْتَقِلُوا قُرْبَ الْمَسْجِدِ، فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ لَهُمْ: "إِنَّهُ بَلَغَنِي أَنَّكُمْ تُرِيدُونَ أَنْ تَنْتَقِلُوا قُرْبَ الْمَسْجِدِ". قَالُوا: نَعَمْ، يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ أَرَدْنَا ذَلِكَ. فَقَالَ: "يَا بَنِي سَلَمَةَ، دِيَارَكُمْ تُكْتَبْ آثَارُكُمْ، دِيَارَكُمْ تُكْتَبْ آثَارُكُمْ".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al-Jariri, dari Abu Nadrah, dari Jabir ibnu Abdullah r.a. yang menceritakan bahwa tanah di sekitar Masjid Nabawi kosong, maka Bani Salamah bermaksud akan pindah tempat ke dekat Masjid Nabawi. Ketika berita itu terdengar oleh Rasulullah Saw., maka beliau bersabda kepada mereka: 'Sesungguhnya telah sampai berita kepadaku bahwa kalian bermaksud akan pindah tempat ke dekat masjid?” Mereka menjawab, "Benar, wahai Rasulullah, kami bermaksud akan pindah" Maka beliau Saw. bersabda, "Hai Bani Salamah, tetaplah di tempat kalian, niscaya langkah-langkah kalian akan dituliskan; tetaplah di tempat kalian, niscaya langkah-langkah kalian akan dituliskan (oleh Allah)."
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui hadis Sa'id Al-Jariri dan Kahmas ibnul Hasan, yang keduanya dari Abu Nadrah yang nama aslinya adalah Al-Munzir ibnu Malik ibnu Qit'ah Al-Abdi, dari Jabir r.a. dengan sanad yang sama.
Hadis kedua,
قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْوَزِيرِ الْوَاسِطِيُّ، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ الْأَزْرَقُ، عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ، عَنْ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: كَانَتْ بَنُو سلَمة فِي نَاحِيَةٍ مِنَ الْمَدِينَةِ، فَأَرَادُوا أَنْ يَنْتَقِلُوا إِلَى قَرِيبٍ مِنَ الْمَسْجِدِ، فَنَزَلَتْ: {إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ} فَقَالَ لَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ آثَارَكُمْ تُكْتبُ". فَلَمْ يَنْتَقِلُوا.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Wazir Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnul Azraq, dari Sufyan, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a. yang mengatakan, bahwa dahulu Bani Salamah bermaksud akan pindah ke tempat yang berdekatan dengan masjid, karena mereka tinggal di pinggiran kota Madinah. Maka turunlah ayat ini, yaitu firman Allah Swt.: Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. (Yasin: 12) Maka Rasulullah Saw. bersabda kepada mereka: Sesungguhnya jejak langkah-langkah kalian dituliskan (oleh Allah pahalanya). Akhirnya mereka tidak jadi pindah;
Imam Turmuzi di dalam kitab tafsirnya meriwayatkan hadis ini secara tunggal melalui Muhammad ibnul Wazir dengan sanad yang sama. Kemudian ia mengatakan bahwa predikat hadis garib hasan bila melalui hadis Sufyan As-Sauri. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Sulaiman ibnu Umar ibnu Khalid Ar-Ruqi, dari Ibnul Mubarrak, dari Sufyan As-Sauri, dari Tarif alias Ibnu Syihab Abu Sufyan As-Sa'di, dari Abu Nadrah dengan sanad yang sama.
Telah diriwayatkan pula bukan melalui Sufyan As-Sauri. Untuk itu Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Abbad ibnu Ziad As-Saji, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Umar, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Sa'id Al-Jariri, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa'id r.a. yang mengatakan bahwa sesungguhnya Bani Salamah mengadu kepada Rasulullah Saw. tentang tempat tinggal mereka yang jauh dari masjid. Maka turunlah ayat berikut, yaitu firman Allah Swt.: dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. (Yasin: 12). Akhirnya mereka tetap berada di tempat tinggalnya, tidak jadi pindah.
Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Al-Jariri, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa'id r.a., dari Nabi Saw., lalu disebutkan hal yang semisal, tetapi di dalamnya terkandung hal yang aneh, karena dipandang dari segi penuturan latar belakang turunnya ayat ini, padahal semua ayat yang ada di dalam surat ini Makkiyyah. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Hadis ketiga,
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Nasr ibnu Al-Jahdami, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az-Zubairi, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa dahulu tempat-tempat tinggal kaum Ansar berjauhan dengan masjid, lalu mereka beimaksud pindah ke dekat Masjid Nabawi. Maka turunlah ayat berikut, yaitu firman Allah Swt.: dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. (Yasin: 12); Akhirnya mereka berkata, "Kami akan tetap tinggal di tempat kami semula."
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, tetapi tidak ada tanda sesuatu pun yang menunjukkan ke-marfu '-annya.
Imam Tabrani meriwayatkannya dari Abdullah ibnu Muhammad ibnu Sa'id ibnu Abu Maryam, dari Muhammad ibnu Yusuf Al-Faryabi, dari Israil, dari Sammak, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa rumah orang-orang Ansar jauh dari masj id. Maka mereka berniat akan pindah ke dekat masjid, lalu turunlah firman Allah Swt.: dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. (Yasin: 12); Akhirnya mereka tetap di tempat tinggal semula.
Hadis keempat,
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حَسَنٌ، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَة، حَدَّثَنِي حُيَيّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الحُبُلي، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: تُوُفِّيَ رَجُلٌ بِالْمَدِينَةِ، فَصَلَّى عَلَيْهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ: "يَا لَيْتَهُ مَاتَ فِي غَيْرِ مَوْلِدِهِ". فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ النَّاسِ وَلِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا تُوُفِّيَ فِي غَيْرِ مَوْلِدِهِ، قِيس لَهُ مِنْ مَوْلِدِهِ إلى منقطع أثره فِي الْجَنَّةِ".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah telah menceritakan kepadaku Huyay ibnu Abdullah, dari Abu Abdur Rahman Al-Habli, dari Abdullah ibnu Amr r.a. yang menceritakan bahwa pernah ada seorang lelaki meninggal dunia di Madinah. Maka Nabi Saw. menyalatkan jenazahnya, lalu beliau bersabda: Seandainya saja dia meninggal dunia bukan di tempat kelahirannya. Maka ada seseorang yang bertanya, "Mengapa begitu, wahai Rasulullah?" Rasulullah Saw. menjawab: Sesungguhnya seseorang itu apabila meninggal dunia bukan di tempat kelahirannya, maka akan dilakukan pengukuran baginya dari tempat kelahirannya hingga batas akhir dari jejaknya (sebagai tempat tinggalnya nanti) di dalam surga.
Imam Nasai meriwayatkannya dari Yunus ibnu Abdul A'la, sedangkan Ibnu Majah meriwayatkannya dari Harmalah. Keduanya meriwayatkan­nya dari Ibnu Wahb, dari Huyay ibnu Abdullah dengan sanad yang sama.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Abu Namilah, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, dari Sabit yang mengatakan bahwa ia berjalan bersama Anas r.a., lalu ia melangkahkan kakinya dengan cepat, maka Anas memegang tangannya dan akhirnya kami berdua berjalan dengan langkah-langkah biasa. Setelah kami menyelesaikan salat kami, maka Anas berkata, "Saya pernah berjalan bersama Zaid ibnu Sabit r.a., lalu saya berjalan dengan langkah yang cepat. Maka Zaid ibnu Sabit berkata kepadaku, Hai Anas, tidakkah kamu merasakan bahwa langkah-langkah itu dicatat (pahalanya oleh Allah)?"
Pendapat ini pada garis besarnya tidak bertentangan dengan pendapat yang pertama, balikan dalam pendapat yang kedua ini terkandung peringatan dan dalil yang menunjukkan kepada pendapat yang pertama dengan skala prioritas. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa apabila langkah-langkah saja ditulis pahalanya, maka terlebih lagi jejak-jejak kebaikan yang di kemudian hari dijadikan suri teladan oleh orang lain. Begitu pula sebaliknya, jika jejak-jejak atau langkah-langkah itu untuk tujuan keburukan, maka balasannya akan buruk pula. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
********
Firman Allah Swt.:
{وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ}
Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata. (Yasin: 12)
Yakni semua yang ada dicatat di dalam kitab secara rinci lagi tepat, yaitu di Lauh Mahfuz. Yang dimaksud dengan Imamul Mubin dalam ayat ini ialah induk dari kitab (Ummul Kitab), demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam. Hal yang semakna disebutkan di dalam firman-Nya:
{يَوْمَ نَدْعُوا كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ}
(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap-tiap umat dengan pemimpinnya. (Al-Isra: 71)
Yang dimaksud dengan imam dalam ayat ini adalah kitab-kitab amal perbuatan mereka yang menjadi saksi atas mereka terhadap semua amal perbuatan yang telah mereka kerjakan selama di dunia, yaitu amal baik dan amal buruknya. Seperti juga yang disebutkan di dalam firman-Nya:
{وَوُضِعَ الْكِتَابُ وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ}
dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi. (Az-Zumar: 69)
{وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلا كَبِيرَةً إِلا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا}
Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang berdosa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, "Aduhai, celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya, " dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun.” (Al-Kahfi: 49)

Jumaat, 1 Disember 2017

ayat 1-7

  1. TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
  2. JILIK-5-AYAT1-7 SURAH YASIN

Sebelum saya menghurai ayat ini inggin saya bertanya pada diri saya sendiri 
sudah sejauh mana pemahaman kita akan surah Yasin tersebut? Apakah bertahun-tahun hanya puas dan mencukupkan diri dengan membacanya saja, tidak pernah sekali pun mengetahui apa artinya paling tidak dengan membaca terjemahannya? Apalagi dengan mengetahui kandungan maknanya dengan membaca dan mempelajari tafsirnya?

Berikut ini, Insya Allah akan diketengahkan tafsir dan intisari pelajaran dari Surah Yasin tersebut, mudah-mudahan bisa menambah ilmu dan wawasan serta mempertebal keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, juga semakin mencintai dan semngat untuk mentadabburi Al-Quran.

Surah Yasin Ayat 1 – 7

يس (١)وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ (٢)إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ (٣)عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (٤)تَنْزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ (٥)لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ (٦)لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لا يُؤْمِنُونَ

 “Yaa siin. Demi Al Quran yang penuh hikmah. Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul. (yang berada) diatas jalan yang lurus. (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, kerena mereka tidak beriman.”

  1. Telah diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas r.a., Ikrimah, Ad-Dahhak, Al-Hasan, dan Sufyan ibnu Uyaynah, bahwa Yasin artinya ya insan alias hai manusia.

Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa memang seperti itulah maknanya dalam bahasa Habsyah (Etiopia).
Malik ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan, Yasin adalah salah satu dari asma Allah Swt.
{وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ}
Demi Al-Qur'an yang penuh dengan hikmah. (Yasin: 2)
Yakni yang muhkam, yang tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya.
{إِنَّكَ} يَا مُحَمَّدُ {لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ * عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}
sesungguhnya kamu [Hai Muhammad] salah seorang dari rasul-rasul (yang berada) di atas jalan yang lurus. (Yasin: 3-4)
  1. Artinya, berada pada suatu tuntunan, agama yang benar, dan syariat yang lurus

{تَنزيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ}
(sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (Yasin: 5)
Yaitu jalan, tuntunan dan agama yang engkau sampaikan ini diturunkan keterangannya dari Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang untuk hamba-hamba-Nya yang beriman. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ * صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ أَلا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الأمُورُ}
Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, (yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan. (Asy-Syura: 52-53)
  1. ************

Adapun firman Allah Swt.:
{لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ}
agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. (Yasin: 6)
Yang dimaksud dengan 'mereka' adalah orang-orang Arab, karena sesungguhnya belum pernah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan sebelum Nabi Muhammad Saw. Penyebutan 'mereka' secara tersendiri, bukan berarti meniadakan yang lainnya. Sebagaimana penyebutan beberapa orang tertentu, tidak meniadakan pengertiannya secara umum. Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan ayat-ayat dan hadis-hadis yang mutawatir, yang menunjukkan bahwa kerasulan Nabi Muhammad Saw. bersifat umum untuk seluruh umat manusia, yaitu pada tafsir firman-Nya:
{قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا}
Katakanlah, "Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk kalian semuanya.” (Al-A'raf: 158)
**********
Firman Allah Swt.:
{لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ}
  • Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka. (Yasin: 7)

Ibnu Jarir mengatakan bahwa azab Allah telah dipastikan atas sebagian besar dari mereka. Dengan kata lain, Allah telah menetapkan di dalam Lauh Mahfuz, bahwa sebagian besar dari mereka tidak beriman.
{فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ}
karena mereka tidak beriman. (Yasin: 7)
kepada Allah dan tidak membenarkan rasul-rasul-Nya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, ‘Ikrimah, adh-Dhahhak, al-Hasandan Sufyanbin ‘Uyainah, bahwa Yaasiin bermakna “ya insan”. Sa’id bin Jubairberkata: “Demikianlah menurut bahasa Habasyah.” Malik berkata dari Zaidbin Aslam; “Yaitu satu nama di antara nama-nama Allah Ta’ala.”

“Demi al-Qur-an yangpenuh hikmah,” yaitu, muhkam yang tidak didatangi kebathilan dari hadapan dan dari belakangnya. “Sesungguhnya kamu,” hai Muhammad, “Salah seorang dari Rasul-Rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, yaitu di atas manhaj, agama yang kokoh dan syari’at yang lurus. “Yang diturunkan oleh YangMahaperkasa lagi Mahapenyayang,” yaitu jalan, manhaj dan agama yang engkau bawa ini diturunkan dari Rabb Yang Mahaperkasa lagi Mahapenyayang kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

 Dan firman Allah Ta’ala, “Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai,” yang dimaksud dengan mereka adalah bangsa Arab. Karena, tidak satu pun seorang pemberi peringatan datang kepada mereka sebelumnya. Disebutnya mereka sendiri-sendiri tidak meniadakan yang lainnya, sebagaimana telah disebutkan bahwa sebagian individu tidak meniadakan yang umum. Sebutan ayat-ayat dan hadits-hadits mutawatir tentang keumuman diutusnya Rasulullah Saw telah disebutkan di dalam firman Allah Ta’ala, “Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.'” (QS. Al-A’raaf: 158).

 Dan firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, “Ibnu Jarir berkata: “Sesungguhnya adzab pasti berlaku terhadap mayoritas mereka, dimana Allah Ta’ala telah menetapkan bagi mereka di dalam Ummul Kitab bahwa mereka tidak beriman.”Karena mereka tidak beriman,” kepada Allah dan tidak membenarkan Rasul-Rasul-Nya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimindalam kitabnya “Tafsir Surah Yasin” menjelaskan tentang pelajaran-pelajaran yang bisa dipetik dari ayat 1 – 7 tersebut, antara lain:

Penjelasan bahwa Al-Quran yang melemahkan manusia, bukanlah suatu hal yang baru dari lisan orang-orang yang menentang dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, melainkan huruf-huruf yang sering mereka rangkai dalam perkataan mereka. Hal itu ditunjukkan oleh firman-Nya, “Ya-Siin”. Oleh karena itu, tidaklah huruf-huruf hijaiyyah itu datang pada permulaan surah melainkan biasanya datang setelahnya penyebutan tentang Al-Quran.
Keagungan Al-Quran, karena Allah Ta’ala bersumpah dengannya; dan Allah tidaklah bersumpah melainkan dengan suatu yang diagungkan dan Al-Quran al-Karim adalah sesuatu yang agung dengan sendirinya.
Pujian atas Al-Quran bahwa dia penuh hikmah menurut tiga segi, yaitu bijaksana dalam urutan-urutannya, hikmah di dalam hukum-hukumnya, dan bijaksana dalam uslubnya.
Perhatian akan penetapan risalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Allah Ta’ala bersumpah atasnya, “Sesungguhnya kamu kamu salah seorang dari rasul-rasul”.
Pernyataan akan risalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Barangsiapa yang mengingkarinya maka dia kafir karena telah mendustakan Allah, rasul-Nya, dan ijma kaum muslimin.
Penetapan rasul-rasul, dan sesungguhnya ada banyak rasul selain Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Allah berfirman, “salah seorang dari rasul-rasul”. Hal ini seperti difirmankan Allah dalam surah Al-Ahqaf ayat 9, “Aku bukanlah rasul yang pertama diantara rasul-rasul.”
Sesungguhnya apa saja yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah jalan yang lurus. Sedangkan jalan yang menyelisihi syariat, pasti di dalamnya terdapat keburukan dan penyimpangan sesuai dengan kadar penyelisihannya terhadap syariat Nabi.
Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan dari sisi Allah Swt. Allah Taalaberfirman: “Yang diturunkan oleh YangMahaperkasa lagi Mahapenyayang.”
Sesungguhnya Al-Qur’an adalah firman Allah, bukan makhluk.
Penetapan Al-Aziiz dan Ar-Rahiim sebaga dua nama diantara nama-nama Allah; penetapan sifat yang terkandung di dalamnya; juga penetapan pengaruh vang terkandung di dalam nama Ar-Rahiim yakni hikmah-hikmah dan yang terkandung di dalam nama    Al-Aziiz yakni keperkasaan.
Sesungguhnya Rasulullah Saw adalah seorang mundzir (pemberi peringatan).
Sesungguhnya Nabi Saw diutus kepada bangsa Arab secara khusus.
Sesungguhnya barangsiapa yang telah pasti ketentuan adzab atas dirinya, maka dia tidak akan beriman, sebagaimana firman Allah Talala: “Apakah (kamu hendak merobah nasib) orang-orang yang telah pasti ketentuan azab atasnya? Apakah kamu akan menyelamatkan orang yang berada dalam api neraka? (QS. Az-Zumar: 19).
Sesungguhnya dari bangsa Quraisy yang mendustakan Rasul Saw, ada orang-orang yang belum pasti ketentuan. adzab atas mereka, sehingga mereka dapat beriman.
Referensi:
Lubaabut Tafsiir Min Ibni Katsiir, DR. Abdullah bin Muhammad bin Abdurahman bin Ishaq Al-Sheikh
Tafsir Surah Yasin, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Khamis, 30 November 2017

ISI KANDUGAN DAN HURAIAN SURAH YASIN


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK-5-SURAH YASIN
ISI KANDUGAN DAN HURAIAN SURAH YASIN
Surah Ya Sin (bahasa Arab:يس) adalah surah ke-36 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 83 ayat, serta termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Dinamai Ya Sin karena surah ini dimulai dengan dua abjad Arab Ya Sin. Sebagaimana halnya arti tersembunyi huruf-huruf abjad Alif Lam Mim atau Nun yang terletak pada permulaan beberapa surah Al-Quran, maka demikian pula arti Ya Sin yang termasuk dalam kategori ayat mutasyaabihat.
surah yasin ini mempunyai kedudukan tersendiri dalam tradisi kehidupan sebagian umat Islam. Meskipun keabsahan tradisi tersebut diperdebatkan, surah Ya Sin sering dibaca pada waktu-waktu tertentu seperti ketika seseorang sedang menghadapi sakratul maut, malam Jumat, malam Nisfu Sya'ban, tahlil, dan lain sebagainya.
surah yasin adalah surah yang di namakan dengan jantung al-quran ;kerna surah ini Disebut surat Yasin , sebab surat ini dimulai dengan huruf ” Yaa siin “. Arti dari kata-kata Yasin , sengaja dirahasiakan oleh Allah. Tidak ada yang mengetahui artinya selain Dia ( Allah SWT ) sendiri.
Sementara keutamaan ( fadhilah ) adalah sebagai berikut :
1. Pahala membaca surat Yasin menyamai dengan pahala mengkhatamkan Al-Qur’an 10 kali.Hal ini telah ditegaskan oleh Nabi SAW dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Sahabat Anas : ( Artinya ) : ” Sesungguhnya setiap sesuatu itu ada jantung hatinya. Jantung hati AL-QUR’AN adalah surat Yasin. Siapa pun yang membaca surat ini, maka Allah akan menetapkan ( pahala ) baginya seperti membaca Al- Qur’an sepuluh kali. ” ( Al-Hadist ) .
2. Mendapat ampunan Allah :Dalam sebuah Hadist Nabi SAW pernah bersabda : ( Artinya ) : ” Barangsiapa yang membaca surat Yasin hanya mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang terdahulu akan diampuni, karena itu bacakanlah surat Yasin dihadapan orang – orang yang mati diantara kalian ”
( Al-Hadist ) .
1. Surat Yasin dibaca sebanyak 7 ( tujuh ) kali sesudah shalat Subuh.
2. Pada bacaan lafadz ” Yaa Siin ” dibaca 7 kali.
3. Sampai pada kalimat ” dzalika taqdiirul azizil ‘alim ” dibaca sebanyak 14 kali.
4. Jika sampai pada Kalimat ” Salamun qaulam mirrobbirrahim ” dibaca 7 kali.
5. Sampai diayat ” Awalaisalladzi… ( ayat 81 ) ” dibaca 12 kali .
6. Setelah selesai membaca surat Yasin sebagaimana cara diatas , selanjutnya membaca surat Al Fatihah satu kali, membaca basmalah, sekaligus lalu berdoa meminta kepada Allah segala sesuatu yang dihajatkan. ( Demikian Kitab Minhajul Hanif )

Dengan nama allah yang maha pemurah lagi maha pengasih
Ya Sin, Demi Al-Quran yang mengandung Hikmah, bahwa kamu termasuk golongan Rasul yang berada dalam Jalan Lurus, orang yang diutus oleh Yang Maha Perkasa, Maha Penyayang supaya kamu memperingatkan kaum yang para leluhur mereka belum pernah diperingatkan sehingga kaum itu mengabaikan diri,
sungguh telah berlaku keputusan terhadap sebagian besar dari kaum itu, akibat mereka tidak beriman, bahwasanya kelak Kami akan membelenggu leher kaum itu lalu tangan mereka ke dagu sehingga mereka menghadap ke atas, lalu Kami adakan dinding di hadapan mereka beserta dinding pula di belakang mereka, bahwa Kami tutup mereka sehingga mereka tidak dapat melihat; bahwa telah mutlak tentang keadaan mereka, baik kamu peringatkan mereka maupun tidak kamu peringatkan, mereka takkan beriman. (Ayat:1-10)
Sungguh kamu hanya sanggup memperingatkan orang-orang yang bersedia menuruti pengajaran serta orang-orang yang menghormati Yang Maha Penyayang secara ghaib, maka gembirakan orang-orang tersebut berkaitan dengan pengampunan maupun upah yang mulia. (Ayat:11)
Sungguh Kami menghidupkan segala yang telah mati serta Kami mencatat hal-hal yang telah mereka lakukan maupun hal-hal yang telah mereka tinggalkan bahwasanya segala sesuatu Kami simpan dalam catatan khusus. (Ayat:12)
Dan berikan suatu perumpamaan kepada mereka tentang sebuah penduduk negeri saat golongan Rasul datang kepada mereka,
ketika Kami telah mengutus dua Rasul menghadap mereka, lalu mereka menolak keduanya kemudian ketika Kami perkuat kedua Rasul itu dengan yang ketiga, lalu golongan tersebut berkata: "kami ini adalah golongan yang diutus kepada kalian"; mereka mengatakan: "kalian tidak lain hanyalah beberapa manusia yang serupa dengan kami bahwa Yang Maha Pengasih tiada menyampaikan apapun, kalian tidak lain menyatakan dusta belaka;" golongan tersebut berkata: "Tuhan kami yang mengetahui bahwa kami adalah golongan yang diutus kepada kalian, bahwa tiada kewajiban kami melainkan penyampaian secara jelas," mereka mengatakan: "kami sungguh risau menghadapi kalian sungguh jika kalian tidak berhenti niscaya kami melempari kalian dengan batu sehingga kalian pasti akan mendapati hukuman yang keras dari diri kami", golongan tersebut berkata: "Kerisauan kalian itu berada pada diri kalian sendiri, apakah itu akibat kalian diperingatkan? yang sebenarnya kalian itu merupakan kaum yang keras kepala", kemudian muncul dari ujung kota, seorang laki-laki yang bergegas-gegas, ia berkata: "Wahai kaumku, ikutilah golongan Rasul tersebut, Ikutilah orang yang tiada meminta upah kepada kalian bahwa mereka itulah golongan yang terbimbing; mengapakah aku tidak menyembah Dia yang telah Membentuk diriku; serta hanya menuju Dia, kalian berpulang? apakah aku akan menyeru kepada sembahan-sembahan selain Dia? sekiranya Yang Maha Pengasih menghendaki kesukaran terhadap diriku niscaya perantaraan mereka tiada berpengaruh sedikitpun terhadap diriku bahkan tidak pula mereka itu sanggup menyelamatkan diriku, jika aku bertindak demikian tentulah aku berada dalam kesesatan yang parah,"
:"bahwa aku telah beriman terhadap Tuhan kalian; maka dengarkan diriku," diserukan: "Masuklah ke Surga" orang tersebut berkata: "Alangkah baik sekiranya kaumku mengetahui hal yang menyebabkan Tuhanku mengampuni diriku serta yang menjadikan diriku termasuk kelompok yang diistimewakan" maka Kami tidak mengirimkan suatu peninggalan dari langit kepada kaumnya sepeninggal orang tersebut bahwa tidaklah perlu bagi Kami untuk menghadirkan hal demikian; melainkan melalui Kegemparan yang sekali saja, lalu seketika mereka semua diam tak berdaya. (Ayat:13-29)
Alangkah menyesal hamba-hamba itu, bahwa tiada satupun Rasul yang diterima oleh mereka melainkan mereka mencemooh orang itu, tidakkah mereka mengetahui betapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami punahkan bahwasanya orang-orang itu tiada kembali kepada mereka, sebab kelak mereka semua akan dihimpunkan kepada Kami. (Ayat:30-32)
Dan suatu Bukti bagi mereka adalah bumi yang mati, Kamilah yang menghidupkan itu serta Kamilah yang menumbuhkan daripada itu, biji-bijian yang mereka makan; serta Kami sediakan kebun-kebun kurma maupun anggur disana, serta Kami pancarkan disana sumber-sumber mata air supaya mereka dapat makan buah-buah disana, maupun hal-hal yang diusahakan oleh tangan mereka lalu mengapakah mereka tidak bersyukur? (Ayat:33-35)
Dipermuliakanlah Yang Menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, baik hal-hal yang ditumbuhkan oleh bumi serta diri mereka maupun hal-hal yang tidak mereka ketahui,
dan merupakan Bukti bagi mereka adalah malam bahwa Kamilah yang menghapuskan keadaan siang dalam malam, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan,
bahwa matahari bergerak dalam jalurnya, demikianlah Ketetapan dari Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui,
sungguh telah Kami tetapkan pada bulan, keadaan manzilah-manzilah hingga kembali dalam bentuk tandan tua, tidaklah matahari mengiringi bulan serta tidaklah malam mendahului siang, sebab masing-masing bergerak pada jalur tertentu. (Ayat:36-40)
Dan sebuah Bukti untuk mereka adalah bahwa Kami mengangkut keturunan mereka dalam suatu bahtera yang penuh muatan, maka kelak Kami ciptakan untuk mereka hal menyerupai ini yang akan mereka kendarai,
sekiranya Kami kehendaki niscaya telah Kami tenggelamkan mereka sehingga tiada penolong untuk mereka serta tidak pula mereka diluputkan akan tetapi sebagai Kasih dari Kami, serta sebagai hiburan sampai waktu tertentu supaya diserukan kepada mereka: "Takutlah terhadap hal-hal yang telah berlalu maupun hal-hal yang segera menanti kalian supaya kalian dikasihani" bahwa tiada hadir kepada mereka suatu Bukti Tuhan mereka, melainkan mereka menghindar terhadap yang demikian. (Ayat:41-46)
Dan apabila diserukan kepada mereka: "Sisihkan sebagian rezeki yang dikaruniakan oleh Allah kepada kalian" maka orang-orang yang kafir itu mengatakan kepada orang-orang yang beriman: "Haruskah kami memberi makan kepada orang yang sekiranya Allah kehendaki tentulah Dia yang memberi makan kepada orang itu, kalian tidak lain berada dalam penyimpangan yang jelas" bahkan mereka mengatakan: "Kapankah janji ini jika kalian memang golongan yang benar?", tidaklah mereka menunggu melainkan suatu Kegemparan yang menumpas mereka sewaktu mereka masih meragu, lalu mereka tidak kuasa berwasiat serta mereka tidak pula dapat berpulang kepada keluarga mereka tatkala sangkalala ditiup, seketika mereka muncul secara bergegas dari kubur menghadap Tuhan mereka, mereka mengatakan: "Celakalah kami! siapakah yang membangkitkan kami dari tempat peristirahatan kami?" demikianlah bahwa hal-hal yang dijanjikan oleh Yang Maha Pengasih beserta golongan Rasul merupakan Kebenaran, hanya melalui Kegemparan yang sekali saja, maka tiba-tiba mereka semua dihimpunkan kepada Kami; kemudian pada Hari itu setiap diri tak sedikitpun dicurangi bahwa tidaklah kalian dibalas, melainkan sesuai dengan hal-hal yang telah kalian lakukan.
Bahwasanya golongan penghuni Surga pada hari itu dalam keadaan bersuka cita dalam kesibukan, baik mereka serta pasangan-pasangan mereka berada dalam tempat yang teduh, duduk di atas tahta-tahta; dalam Surga itu mereka memperoleh buah-buah serta memperoleh yang mereka minta; "Salam" merupakan ucapan selamat dari Tuhan, Yang Maha Penyayang. (Ayat:47-58)
"Dan berpisahlah kalian pada hari ini, wahai kalian golongan berdosa! belumkah Aku memerintahkan kepada kalian wahai Bani Adam supaya kalian tidak menyembah setan? sungguh makhluk itu merupakan musuh sejati terhadap kalian maka mengabdilah kepada Aku, demikianlah Jalan Lurus, makhluk itu yang telah menyesatkan sebagian besar dari kalian, tidakkah kalian menyadari?", "Inilah Jahannam yang dahulu telah diancamkan kepada kalian, masukilah pada Hari ini disebabkan sebulumnya kalian mengingkari." pada hari ini Kami tutup mulut mereka, sehingga berbicara kepada Kami, tangan mereka beserta kaki mereka bersaksi tentang yang dahulu mereka kerjakan; sekiranya Kami kehendaki, tentu sebelumnya Kami lenyapkan penglihatan mata mereka sehingga mereka berada dalam kebingungan mencari jalan, maka bukankah sebelumnya mereka sanggup melihat, dan sekiranya Kami kehendaki pastilah Kami tahan mereka di tempat mereka berada sehingga mereka tidak sanggup bergerak maupun tidak sanggup kembali; bahwa barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dirinya menuju keadaan asal maka tidakkah mereka memikirkan? (Ayat:59-68)
Dan tidaklah Kami mengajarkan syair kepada ia, bahwa hal itu tidaklah sesuai untuk dirinya, demikian itu tidak lain sebuah Pengajaran serta sebuah bacaan yang nyata supaya ia memperingatkan orang-orang yang masih hidup serta supaya mutlak Ketetapan terhadap golongan yang kafir. (Ayat:69-70)
Dan tidakkah mereka mengetahui bahwasanya Kami yang telah menciptakan hewan ternak untuk mereka, dari hal-hal yang telah Kami ciptakan melalui Kekuasaan Kami, lalu mereka dapat menguasai hal demikian? serta Kamilah yang menundukkan hal-hal demikian untuk mereka, maka sebagiannya menjadi kendaraan mereka, sementara sebagian lain mereka makan; dan mereka memperoleh daripada hal-hal demikian, berbagai manfaat serta minuman; lalu mengapakah mereka tidak bersyukur? (Ayat:71-73)
Orang-orang yang menghendaki sembahan-sembahan yang bukan Allah, dengan harapan supaya orang-orang diselamatkan akan tetapi hal-hal demikian tiada menyelamatkan orang-orang itu padahal hal-hal demikian telah dijadikan sebagai pembela yang telah mereka rawat sendiri. (Ayat:74-75)
Maka janganlah ucapan mereka itu menggelisahkan dirimu, sungguh Kami mengetahui hal-hal yang mereka rahasiakan maupun hal-hal yang mereka nyatakan. (Ayat:76)
Dan tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami telah menciptakan dirinya berbahan air nutfah, tiba-tiba orang itu menjadi penentang yang melampaui batas! bahkan orang itu membuat perumpamaan terhadap Kami sehingga orang itu lupa tentang asal mula dirinya; orang itu mengatakan: "Siapakah yang menghidupkan tulang belulang beserta serpihan yang remuk?" Katakanlah: "Dihidupkan oleh Yang Menyusun itu pada kali pertama," bahwasanya Dialah Yang Maha Memahami segala ciptaan; Yang menjadikan api melalui kayu hijau untuk kalian supaya kalian dapat menyalakan api melalui hal tersebut", lalu bukankah Tuhan yang telah menciptakan langit beserta bumi itu berkuasa menciptakan hal-hal yang serupa dengan diri mereka? tentu saja, sebab Dialah Yang Maha Mencipta, Maha Mengetahui. (Ayat:77-81)
Sungguh perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu maka Dia berkata tentang itu: "Jadi" maka terjadi,

bahwa Dipermuliakanlah Yang berada di TanganNya, Kuasa terhadap segala sesuatu, sungguh kepada Dia, kalian berpulang. (Ayat:82-83)

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN