Sabtu, 18 Ogos 2018

AYAT 31


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK';;
 SURAH HUD AYAT 31
 walaa aquulu lakum ‘indii khazaa-inu allaahi walaa a’lamu alghayba walaa aquulu innii malakun walaa aquulu lilladziina tazdarii a’yunukum lan yu/tiyahumu allaahu khayran allaahu a’lamu bimaa fii anfusihim innii idzan lamina alzhzhaalimiina “Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa) aku mempunyai gudang-gudang rizki dan kekayaan dari Allah dan aku tidak juga mengetahui yang ghaib, dan tidak (pula) aku mengatakan: ‘Bahwa sesungguhnya aku adalah Malaikat,’ dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu; ‘Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka.’ Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang dhalim.” (QS. Huud: 31)

 DALAM surah hud ayat 31 ini allah menjelaskan bahawa allah ada dalam rahsia .,., dan sebagai mana nur muhamat seawal ciptaan sebelum itu allah berupa dzat yang mana tersembunyi dan dalam rahsia.,.,., sebagai mana baginda rasulullah dalam kitab nur muhamat karangan abu hasan (alirah asr-ariyah).,.,. yang mana ketika muhamat sedang mencari allah allah berfirman aku ada dalam rahsia .,.,,. dan cari alah dalam rahsia allah.,.,yang mana berupa dzat illah dalam diri orang beriman .,., Carilah dalam dirimu... Sungguh dirimu itu sendiri adalah kepunyaan Allah... Sentiasa ada dekat dengan diri mu... Kadangkala kamu tidak perasan @ belum sedar DIA yakni Allah sentiasa dekat dengan kamu... Kita mukmin yang dipilih Allah untuk berlindung di bawah cahaya-Nya... Bila aku kenali Aku... Maka tiadalah aku... Lenyaplah aku... Sekiranya aku tahu diriku adalah Aku... Sudah pasti aku kembalikan rahsia aku kepada Aku... Maka carilah...??? aku dekat Aku.... aku dalam diriku...Sesungguhnya Allah dalam mengenalkan diri-Nya melalui lidah n hati manusia...

Maka DIA telah mentajallikan diri-Nya menjadi rahsia kepada diri manusia... Sebagaiman diperkatakan dalam hadis Qudsi : "AL INSANUL SIRRUHU WA ANA SIRRUHU" Maksudnya : 'Manusia itu adalah rahsia-Ku n Aku adalah rahsia manusia itu sendiri'.. Lebih lanjut, Nuh as. memberitahu mereka bahwa dirinya adalah Rasul utusan Allah yang mengajak mereka beribadah kepada Allah Ta’ala semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan dalam hal itu, ia telah mendapatkan izin dari Allah. Selain itu ia juga memberitahu mereka bahwa dirinya tidak mempunyai kemampuan untuk mengatur berbagai perbendaharaan Allah dan tidak juga ia mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali sedikit yang Allah perlihatkan kepadanya, juga bahwasanya ia bukanlah seorang Malaikat, tetapi ia hanyalah manusia biasa yang diutus dengan didukung oleh mukjizat. Ia juga memberitahukan, bahwa dirinya tidak mengatakan, bahwa orang-orang yang mereka hinakan dan usir itu tidak memperoleh pahala di sisi Allah atas amal perbuatan mereka. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka. Jika mereka beriman secara batiniyah sesuai dengan yang ada pada lahiriyahnya, maka bagi mereka adalah balasan yang baik. Jika seseorang memutuskan dengan tuduhan yang buruk kepada mereka yang telah beriman, maka orang tersebut telah berbuat dhalim dengan mengatakan apa yang sebenarnya tidak ia ketahui. Sehingga aku memberikanya kepada orang yang aku kehendaki dan aku halangi orang yang aku kehendaki. Aku hanyalah utusan Allah kepada kepada kamu yang tugasnya hanya memberikan kabar gembira dan peringatan; tidak lebih. Sehingga aku memberitakan kepadamu rahasia kamu dan apa yang kamu sembunyikan. Bahkan aku adalah manusia seperti kamu, dan aku tidak menempatkan diriku di atas posisi yang Allah berikan kepadaku. Yakni kaum mukmin yang lemah. Jika iman mereka benar, maka mereka akan mendapatkan kebaikan yang banyak, dan jika tidak demikian, maka hisab mereka terserah kepada Allah Azza wa Jalla. Kata-kata Nabi Nuh ‘alaihis salam di atas merupakan cara bijaksana agar kaumnya tidak lagi mengusir atau membenci kaum mukmin yang fakir serta usaha agar mereka menerima pengikutnya itu.

Jumaat, 17 Ogos 2018

AYAT 29-30

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
Hud, ayat 29-30
 {وَيَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالا إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى اللَّهِ وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ وَلَكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ (29) وَيَا قَوْمِ مَنْ يَنْصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِنْ طَرَدْتُهُمْ أَفَلا تَذَكَّرُونَ (30) }
“Dia [berkata]: ‘Hai kaumku, aku tidak meminta harta benda kepada kamu [sebagai upah] bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-sekali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Rabb-nya, akan tetapi aku memandang kalian sebagai kaum yang tidak mengetahui.’ (QS. 11:29) Dan (dia berkata): ‘Hai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari [adzab] Allah jika aku mengusir mereka. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?’ (QS 11: 30)” (Huud: 29-30) Nuh as. berkata kepada kaumnya, aku tidak minta harta benda kepada kalian atas pelajaran yang kuberikan kepada kalian. Yakni aku tidak meminta upah yang kuambil dari kalian. Tetapi aku hanya mengharapkan balasan dari Allah;
         Wa maa ana bithaaridil ladziina aamanuu (“Dan aku sekali-sekali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman.”) Seolah-olah mereka mengajukan tuntutan kepadanya agar ia mengusir orang-orang yang beriman dari sisinya sebagai bentuk penghormatannya terhadap mereka dan supaya mereka [orang-orang yang beriman] tidak duduk bersama mereka. sebagaimana orang-orang yang serupa dengan mereka mengajukan tuntutan kepada Rasulullah saw. agar mengusir sekelompok du’afa dari mereka, kemudian beliau duduk bersama mereka dalam majelis tersendiri. Maka Allah menurunkan firman-Nya yang artinya: “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Rabb-nya pada pagi hari dan pada petang hari, sedang mereka menghendaki keridlaan-Nya.” (al-An’am: 62) perkataan Rasulullah SAW berdasarkan beberapa hadits riwayat, kondisi di akhir zaman diantara yaitu : 1.
              Takwa dan perpaduan asas keselamatan di akhir zaman Dari Abi Nijih ‘Irbadh bin Sariyah r.a. ‘Rasullullah saw telah menasihati kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati kami dan menitik air mata kami ketika mendengarnya, lalu kami berkata, ‘Ya Rasulullah! Seolah-olah ini adalah nasihat yang terakhir, maka berilah pesan kepada kami.’ Lalu baginda pun bersabda, ‘Aku berwasiat akan kamu supaya sentiasa bertakwa kepada Allah swt. dan mendengar serta taat (kepada pemimpin) sekalipun yang memimpin kamu itu hanya seorang hamba. Sesungguhnya sesiapa yang panjang umurnya diantara kamu pasti ia akan melihat banyak perselisihan. Maka hendaklah kamu berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa ar Rasyidin al Mahdiyin (khalifah-khalifah yang mengetahui kebenaran dan mendapat petunjuk ke jalan yang benar) dan gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham dan jauhilah perkara-perkara yang baru (bid’ah) yang diada-adakan, kerana sesungguhnya tiap-tiap bid’ah itu adalah sesat.’ (HR. Abu Daud dan Tirmizi) 2. Mengapa dunia Islam menjadi sasaran pemusnahan?
                            Dari Ummul Mu’minin, Zainab binti Jahsy (isteri Rasulullah saw) ‘(Pada suatu hari) Rasulullah saww. masuk ke dalam rumahnya dalam keadaan cemas sambil bersabda, La ilaha illallah, celaka (binasa) bagi bangsa Arab dari kejahatan (malapetaka) yang sudah hampir menimpa mereka. Pada hari ini telah terbuka dinding Ya’juj dan Ma’juj seperti ini’, dan Baginda mempertemukan ujung jari dan ujung jari yang sebelahnya (jari telunjuk) yang dengan itu mengisyaratkan seperti bulatan. Saya (Zainab binti Jahsy) lalu bertanya: ‘Ya Rasulullah! Apakah kami akan binasa sedangkan di kalangan kami masih ada orang-orang yang shaleh?’ Lalu Nabi saww. bersabda: ‘Ya, jikalau kejahatan sudah terlalu banyak’. (HR. Bukhari dan Muslim) 3. Seluruh dunia datang mengerumuni dunia Islam Dari Tsauban r.a. Rasulullah saw. bersabda; ‘Hampir tiba suatu masa di mana bangsa-bangsa dan seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang-orang yang hendak makan mengerumuni talam hidangan mereka.’ Maka salah seorang sahabat bertanya, ’Apakah karena jumlah kami sedikit pada masa itu?’ Nabi saw. menjawab, ‘Bahkan kamu pada hari itu banyak sekali, tetapi kamu umpama buih di waktu banjir, dan Allah akan mencabut rasa takut terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan mencampakkan ke dalam hati kamu penyakit wahan. Seorang sahabat bertanya, ‘Apakah wahan itu hai Rasulullah?’ Nabi saww. nenjawab, ‘Cinta pada dunia dan takut pada mati.’ (HR. Abu Daud)

Khamis, 16 Ogos 2018

AYAT 28

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
Surat Hud, ayat 28,
BIS-MIL-LAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM.
Qaala yaa qawmi ara'aitum in kuntu 'alaa baiyinatim mir Rabbee wa aataanee rahmatam min 'indihee fa'um miyat 'alaikum anulzimuku moohaa wa antum lahaa kaarihoon

 {قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَآتَانِي رَحْمَةً مِنْ عِنْدِهِ فَعُمِّيَتْ عَلَيْكُمْ أَنُلْزِمُكُمُوهَا وَأَنْتُمْ لَهَا كَارِهُونَ (28) }

Berkata Nuh, "Hai kaumku, bagaimana pikiran kalian, jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan diberi-Nya aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagi kalian. Apa akan kami paksakan kalian menerimanya, padahal kalian tidak menyukainya?" Allah Swt. menceritakan tentang jawaban Nabi Nuh a.s. terhadap kaumnya dalam hal tersebut:

 {أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي}

      bagaimanakah pikiran kalian, jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku. (Hud: 28) Yaitu bukti yang meyakinkan, perkara yang jelas, dan kenabian yang benar; sebagai rahmat yang besar dari Allah buat Nabi Nuh sendiri, juga buat mereka. {فَعُمِّيَتْ عَلَيْكُمْ} tetapi rahmat itu disamarkan bagi kalian.
(Hud: 28) Maksudnya, disembunyikan dari kalian sehingga kalian tidak mendapat petunjuk untuk mengetahuinya, tidak pula dapat mengetahui kadarnya, bahkan sebaliknya kalian bersegera mendustakannya dan membantahnya. {أَنُلْزِمْكُمُوهَا} Apa akan kami paksakan kalian menerimanya.
(Hud: 28) Yakni apakah kami menekan kalian untuk menerimanya, padahal kalian sendiri tidak menyukainya?
Kata-kata ini sesungguhnya sudah cukup sebagai persaksiannya. Kebencian mereka itulah yang menghalangi mereka dari tunduk kepada kebenaran sehingga tidak mungkin mereka dipaksa untuk menerimanya.

Sabtu, 11 Ogos 2018

AYAT 25-27

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH HUD'25-27

Wa laqad arsalnaa Noohan ilaa qawmihee innee lakum nazeerum mubeen Al laa ta'budooo illal laaha inneee akhaafu 'alaikum 'azaaba Yawmin aleem Faqaalal mala ul lazeena kafaroo min qawmihee ma naraaka illaa basharam mislanaa wa maa naraakat taba'aka illal lazeena hum araazilunaa baadiyar raayi wa maa naraa lakum 'alainaa min fadlim bal nazunnukum kaazibeen “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): ‘Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, (QS. 11:25) agar kamu tidak beribadah kepada selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa adzab (pada) hari yang sangat menyedihkan.’ (QS. 11:26) Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: ‘Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina-dina di antara kami yang lekas percaya saja dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.’ (QS. 11:27)”

(Huud: 25-27)
 Allah bercerita tentang Nuh, bahwa ia adalah Rasul yang pertama kali diutus oleh Allah Ta’ala kepada penduduk bumi, dari kalangan orang-orang musyrik, penyembah berhala. Bahwasanya ia pernah berkata kepada kaumnya: innii lakum nadziirum mubiin (“Sesungguhnya aku ini adalah seorang pemberi peringatan yang nyata bagi kalian.”) Maksudnya, pemberi peringatan kepada kalian secara terang-terangan dari adzab Allah, jika kalian beribadah kepada selain Allah. Oleh karena itu Allah berfirman: allaa ta’buduu illallaaH (“Agar kalian tidak beribadah kepada selain Allah.”)

 Dan firman-Nya: innii akhaafu ‘alaikum ‘adzaaba yaumin ‘adhiim (“Sesungguhnya aku khawatir kalian akan ditimpa adzab pada hari yang sangat menyedihkan.”) Yakni, jika kalian terus-menerus dan tidak bergeming dari apa yang kalian kerjakan itu, niscaya Allah Ta’ala akan mengadzab kalian dengan siksaan yang pedih, menyakitkan dan berat di alam akhirat. Fa qaalal mala-ul ladziina kafaruu minHum (“Maka para pemimpin yang kafir dari kaumnya berkata”) Sedangkan yang dimaksud dengan al-mala’ adalah para pemuka dan pembesar kaum kafir.

 Maa naraka illaa basyaram mitslanaa (“Kami tidak melihat kalian, melainkan sebagai seorang manusia biasa seperti kami.”) Maksudnya, kamu ini bukan seorang Malaikat, melainkan hanya manusia biasa, lalu bagaimana mungkin diturunkan wahyu kepadamu tanpa melibatkan kami. Kemudian kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu kecuali orang-orang hina di antara kami, misalnya pengemis, tukang tenun, dan yang sebangsanya. Dan tidak ada seorang pun dari orang-orang terhormat dan para pemimpin di antara kami yang mengikutimu. Kemudian orang-orang yang mengikutimu itu, orang-orang yang mengambil keputusan tanpa peninjauan dan pemikiran yang mendalam, tetapi mereka hanya sekedar menanggapi yang kamu serukan kepada mereka dan kemudian mengikutimu. Oleh karena itu mereka berkata: wa maa naraakat taba’aka illalladziina Hum araadzilunaa baadiyar ra’yi (“Dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu melainkan orang-orang yang hina-dina antara kami yang lekas percaya saja.”) Yaitu, pada awal permulaan.

 Wa maa naraa lakum ‘alainaa min fadlin (“Dan kami tidak melihatmu memiliki sesuatu kebihan apa pun atas kami.”) Mereka berkata, kami tidak melihat adanya kelebihan pada dirimu atas diri kami, baik dalam penciptaan, moral, rizki dan juga keadaan, setelah kalian masuk ke dalam agama kalian ini. Bal nadzunnukum kaadzibiin (“Bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.”) Maksudnya, dusta dalam apa yang kamu serukan, baik berupa kebaikan, perbaikan, ibadah, dan bahagiaan di alam akhirat kelak jika kalian digiring menuju ke sana. Ini adalah penyangkalan yang dilakukan oleh orang-orang kafir terhadap Nabi Nuh as. dan para pengikutnya. Dan hal yang demikian itu merupakan bukti yang menunjukkan kebodohan mereka dan minimnya pengetahuan yang mereka miliki serta lemahnya akal pikiran mereka. Bukan suatu aib bagi kebenaran jika yang mengikutinya itu adalah orang-orang yang hina, karena kebenaran itu sendiri tetap shahih baik ia diikuti oleh orang-orang terhormat maupun orang-orang yang hina. Bahkan yang sebenarnya dan tidak diragukan lagi bahwa para pengikut kebenaran itu adalah orang-orang terhormat meski mereka itu orang-orang miskin, sedangkan mereka yang menolak kebenaran itulah justru yang hina-dina, meski mereka dari golongan orang-orang yang kaya-raya. Kemudian, kenyataan yang dominan adalah bahwa para pengikut benaran itu berasal dari kaum dhu’afa’. Mayoritas para pemuka dan pembesar itulah yang menentang kebenaran. Sebagaimana yang difirmankan Allah yang artinya: “Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelummu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak jejak mereka.’” (QS. Zukhruf: 23) Ketika raja Romawi, Heraclius bertanya kepada Abu Sufyan Shakhr bin Harb, tentang sifat-sifat Nabi, ia bertanya: “Apakah yang mengikutinya itu dari kalangan orang-orang terhormat, ataukah dari kalangan orang-orang lemah?” Abu Sufyan menjawab: “Mereka adalah dari kalangan orang-orang yang lemah.” Maka Heraclius pun berkata: “Orang-orang lemah itu memang pengikut para Rasul.” Ucapan mereka: “Yang lekas percaya saja,” bukanlah suatu hal yang tercela dan hina, serta tidak pula sebagai aib. Karena kebenaran itu jika sudah benar-benar jelas, maka tidak memerlukan lagi kepada pemikiran dan perenungan, tetapi hanya perlu diikuti dan ditaati. Demikian itulah yang dilakukan oleh setiap orang yang mempunyai kebersihan jiwa dan kecerdasan, bahkan orang yang berpikir kembali untuk menerima kebenaran tersebut merupakan orang bodoh dan tidak berpikiran.

 Para Rasul Allah secara keseluruhan, mereka datang dengan membawa perintah yang sudah jelas dan nyata. Firman Allah Ta’ala: “Dan kami tidak melihatmu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami.” Mereka tidak mengetahui hal itu karena mereka buta, tidak dapat melihat kebenaran dan tidak mendengarnya, bahkan mereka selalu dalam keraguan dan senantiasa terombang-ambing dalam kebodohan mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang durhaka lagi pendusta, yang picik lagi hina. Dan di akhirat kelak, mereka itu termasuk orang-orang yang merugi.

Khamis, 9 Ogos 2018

AYAT 23-24'

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH HUD 23-24'
BIS-MIL-LAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM.,
Innal lazeena aamanoo wa 'amilus saalihaati wa akhbatooo ilaa Rabbihim ulaaa'ika Ashaabul Jannati hum feehaa khaalidoon Masalul fareeqini kal a'maa wal asammi walbaseeri wassamee'; hal yastawiyaani masalaa; afalaa tazakkaroon (section 2) “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih dan merendahkan diri kepada Rabb mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS. 11:23) Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran (daripada perbandingan itu)? (QS.-11:24)”

(Huud: 23-24) Setelah Allah menceritakan keadaan orang-orang yang hidup sengsara, kemudian Allah menceritakan golongan orang-orang yang berbahagia, yaitu mereka yang beriman dan mengerjakan amal shalih. Hati mereka benar-benar beriman dan seluruh anggota tubuh mereka berbuat amal shalih, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yakni dengan mengerjakan berbagai ketaatan dan menjauhi berbagai kemungkaran. Dengan demikian, mereka menjadi pewaris beraneka ragam surga yang mempunyai banyak kamar yang tinggi, pelaminan yang berderet rapi, aneka buah-buahan yang segar, permadani yang tebal, serta berbagai keindahan yang menyenangkan, berbagai macam makanan yang lezat dan minuman yang segar, serta kesempatan memandang kepada Rabb Pencipta langit dan bumf.

Di dalamnya mereka benar-benar kekal untuk selamanya, tidak akan mati, tidak tua, tidak juga sakit, tidak tidur, tidak buang kotoran, tidak meludah dan tidak berdahak, melainkan ia selalu mengeluarkan bau yang sangat harum.dalam tafsir lain menyatakan terdapat 7jenis syurga yang mana allah nilaikan bagi setiap insan yang bakal menghuni nya ,. 1.Darus Salam: Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, “Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal sholeh yang selalu mereka kerjakan.” (QS. 6:127)

 Surga adalah Darussalam (negri keselamatan) dari segala musibah, kecelakaan, dan segala hal yang tidak disukai, dan dia merupakan negri Allah subhanahu wata’ala, diambil dari nama Allah “as-Salam”. Allah subhanahu wata’ala pun mengucapkan salam atas mereka, “Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan), “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang Maha Penyayang.” (QS. 36:57-58) 2.Jannatu ‘adn: Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, (Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang sholeh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya, dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan), “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. 13:23-24) 3.Jannatul Khuld: Karena penduduknya kekal di dalamnya dan tidak akan berpindah ke alam (tempat) lain. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, ”Katakanlah, “Apakah (azab) yang demikian itu yang baik, atau surga yang kekal yang dijanjikan kepada orang- orang yang bertaqwa?” Surga itu menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka.” (QS. Al-Furqan:15) 4.Darul Muqamah: Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, “Dan mereka berkata:”Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”. (QS. 35:34-35) 5.Jannatul Ma’wa: Adalah tempat menetap sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat an-Najm di atas. Disebut demikian karena surga merupakan tempat menetapnya orang-orang mukmin 6.Jannatun Na’im: 7.Al Muqamul Amin:

 Dan dari ayat diatas jelas allah sawt menerangkan bahawa celakalah bagi mereka yang di tempatkan dalam neraka yang mana terdiri 7 tingkatan ,.,. 1.Neraka jahanam: Adalah tingkat yang atas sekali. yaitu tempat mukminin,mukminat,muslimin dan muslimat yang melakukan dosa kecil maupun besar “….Demi Neraka jahanam di datangkan untuk semua orang walaupun hanya lewat / mampir dalam 1 hari” Firman Allah SWT: “Bahwasanya orang-orang kafir dan orang aniaya itu tidak akan diampuniAllah, dan tidak pula ditunjuki jalan, melainkan jalan ke Neraka Jahannam. Mereka kekal dalam neraka itu selama-lamanya. Yang demikian itu mudah sekali bagi Allah”(Q.S. An-Nisa: 169) 2.Neraka ladhoh: Tingkat kedua yaitu tempat orang yang mendustakan agama Firman Allah SWT : “Sebab itu Kami beri kabar pertakut kamu dengan Neraka Luza (neraka yang menyala-nyala). Tiada yang masuk kedalamnya selain orang yang celaka. Yaitu orang yang mendustakan agama dan berpaling dari pada-Nya”(Q.S. Al-Lail : 14-16) 3.Neraka Khutamah: Inilah neraka tingkat ketiga. yaitu tempat orang yang hanya lalai memikirkan dunianya tanpa mengerjakan kebutuhan/kepentingan untuk ibadahnya. Harta yang membuat orang durhaka. Firman Allah SWT : “Tahukah engkau apakah Hathamah itu? Yaitu api neraka yang menyala-nyala yang membakar hati manusia. Api yang ditutupkan kepada mereka. Sedangkan mereka itu diikatkan pada tiang yang panjang” (Q.S. Al-Humazah : 4-9) 4.Neraka sair: Tingkat ke-empat yaitu tempat orang yang tidak mau mengeluarkan zakat atau bagi mereka yang mengeluarkan tapi tidak pada porsinya dan Dalam neraka ini ditempatkan orang yang memakan harta anak yatim. Didalam neraka ini mereka buta, pekak, dan kulitnya tebal seperti Jabal uhud. Firman Allah SWT : “Bahwasanya orang-orang yang memakan harta anak yatim dengan aniaya, sesungguhnya mereka memakan api sepenuh perutnya. Dan nanti mereka akan dimasukkan kedalam neraka Sair(Q.S. An-Nisa: 10) 5.Neraka Sahkhor: Yaitu tempat orang yang tidak melaksanakan salat, tempat orang yang berbohong tentang keberadaan Allah, menyembah selain Allah atau menyembah zat yang keluar dari sifat Allah dan Al quran,. Didalam kitab safina : “….orang yang tidak melaksanakan solat dihukumi sebagai hewan yang tidak ada harganya/ tidak ada manfaatnya “ Didalam surga mereka saling bertanya dari hal orang berdosa. Apakah sebabnya kamu masuk neraka Saqru? Karena kami tidak sholat, kami tidak memberi makan orang miskin, kami percaya pada yang bukan-bukan. Kami mendustakan hari kiamat.(Q.S. Al-Mudatsir : 40-46) 6.Neraka jahim: Tingkat ke-enam yaitu ditempatkan orang kafir, orang yang mendustakan agama, yaitu orang-orang Islam yang berdosa. Mereka yang berbuat apa yang dilarang Tuhan. Umpamanya berzina, meminum khamar, dan membunuh tanpa hak. Firman Allah SWT : ”Dan orang-orang yang kafir dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami, mereka itulah penghuni neraka Jahim.(Q.S. Al-Maidah : 86) 7.Neraka Hawiyah: Inilah neraka yang berada dibawah sekali.neraka yang paling keras, yaitu tempat orang yang ketika matinya tidak membawa iman dan islam, apinya hitam dan sudah dibakar 1000tahun lamanya, Alas atau kerak-kerak neraka. Disinilah tempat orang-orang yang berdoa berat. Mereka yang menjadi musuh nabi-nabi, seperti Firaun. Firman Allah SWT : “

       Dan barang siapa yang ringan timbangannya, maka dia dilemparkan ke neraka hawiyah. Tahukah engkau apakah Neraka Hawiyah itu? Yaitu api yang sangat panas”.(Q.S. Al-Qoriah : 8-11) sahabat Abu Hurairoh “terdengar suara yang mengelegar lalu bertanyalah ke rosulullah dan rosulullah menjawab itu adalah suara batu yang jatuh dari neraka jahanam ke “teleng” sekitar dada jatuhnya 1000 tahun”. Bersabda Nabi SAW : Adapun Neraka itu gelap gulita, tidak mempunyai penerangan kecuali api yang menyala-nyala. Neraka itu mempunyai tujuh pintu dan tiap-tiap pintu itu mempunyai tujuh puluh ribu bukit, tiap-tiap bukit mempunyai tujuh puluh ribu cabangnya, tiap-tiap cabang itu terdiri atas bagian-bagian yang lebih kecil. Dan tiap-tiap bagian yang lebih kecil itu terdiri atas tujuh puluh ribu dusunnya. Dan tiap-tiap dusun itu tujuh puluh ribu rumahnya dan api yang menyala-nyala. Tiap-tiap rumah itu tujuh puluh ribu ular dan kalajengking

Selasa, 7 Ogos 2018

AYAT 18-22

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH HUD'' 18-22
BIS-MILLAH-HIRAHMAN-NIRRAHIM''
{وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أُولَئِكَ يُعْرَضُونَ عَلَى رَبِّهِمْ وَيَقُولُ الأشْهَادُ هَؤُلاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ (18) الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا وَهُمْ بِالآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ (19) أُولَئِكَ لَمْ يَكُونُوا مُعْجِزِينَ فِي الأرْضِ وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ يُضَاعَفُ لَهُمُ الْعَذَابُ مَا كَانُوا يَسْتَطِيعُونَ السَّمْعَ وَمَا كَانُوا يُبْصِرُونَ (20) أُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ (21) لَا جَرَمَ أَنَّهُمْ فِي الآخِرَةِ هُمُ الأخْسَرُونَ (22) }

Wa man azlamu mimmanif taraa 'alal laahi kazibaa; ulaaa'ika yu'radoona 'alaa Rabbihim wa yaqoolul ashhaa duhaaa'ulaaa'il lazeena kazaboo 'alaa Rabbihim; alaa la'natul laahi alaz zaalimeen Allazeena yasuddoona 'an sabeelil laahi wa yabghoonahaa 'iwajanw wa hum bil Aakhiratihum kaafiroon Ulaaa'ika lam yakoonoo mu'jizeena fil ardi wa maa kaana lahum min doonil laahi min awliyaaa'; yudaa'afu lahumul 'azaab; maa kaanoo yastatee'oonas sam'a wa maa kaanoo yubsiroon Ulaaa'ikal lazeena khasirooo anfusahum wa dalla 'anhum maa kaanoo yaftaroon Laa jarama annahum fil Aakhirati humul akhsaroon
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang y ang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim, (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. Dan mereka itulah orang-orang yang tidak percaya adanya hari akhirat. Orang-orang itu tidak mampu menghalang-halangi Allah untuk (mengazab mereka) di bumi ini, dan sekali-kali tidak adalah bagi mereka penolong selain Allah.

Siksaan itu dilipatgandakan kepada mereka. Mereka selalu tidak dapat mendengar (kebenaran) dan mereka selalu tidak dapat melihat (nya). Mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, dan lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan. Pasti mereka itu di akhirat menjadi orang-orang yang paling merugi. Allah Swt. menerangkan keadaan orang-orang yang mendustakan-Nya, juga tentang dipermalukan-Nya mereka di hari akhirat kelak di hadapan mata kepala semua makhluk dari kalangan para malaikat, para rasul, para nabi, serta seluruh umat manusia dan jin.

 Allah menjelaskan tentang keadaan orang-orang yang mengada-adakan dusta terhadap-Nya dan mengungkapkan rahasia mereka di akhirat kelak di hadapan semua makhluk, di antaranya para Malaikat, para Rasul, Nabi, Berta seluruh bangsa manusia dan bangsa jin. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Shafwan bin Muhriz, ia bercerita: “Aku pernah memegang tangan Ibnu ‘Umar, tiba-tiba ada seseorang yang menghadangnya. Ia berkata: ‘Apa yang kamu dengar ketika Rasulullah bersabda tentang pembicaraan rahasia pada hati Kiamat?’

Ibnu `Umar menjawab: `Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah swt. mendekati orang mukmin, lalu melindungi dan menutupi aibnya dari manusia serta membuatnya mengakui dosa-dosanya. Dia bertanya kepadanya: ‘Apakah kamu mengetahui dosa ini? Apakah kamu mengetahui dosa ini? Apakah kamu mengetahui dosa ini ?’ Sehingga apabila telah mengakui dosa-dosanya dan memandang dirinya telah binasa, maka Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa itu bagimu di dunia dan sekarang Aku mengampuninya.’ Setelah itu Allah memberikan kitab amal kebaikannya. Sedangkan orang-orang kafir dan orang-orang munafik, ‘Para saksi akan berkata: ‘Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Rabb mereka.’ Ingatlah, kutukan Allah ditimpakan atas orang orang yang dhalim.’” Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab ash-Shahihain. Artinya, justru mereka berada di bawah tekanan, kendali, genggaman dan kekuasaan-Nya. Dan Allah mampu,untuk menuntut balas kepada mereka di alam dunia sebelum di alam akhirat, “Sesungguhnya Allah memberi penangguhan kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42) Dalam kitab ash-Shahihain disebutkan, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah akan menangguhkan (adzab) kepada orang dhalim hingga apabila Allah menindaknya, maka la tidak akan melepaskannya.” Oleh karena itu Allah berfirman: yudlaa’afu laHumul ‘adzaabu (“Siksaan itu dilipatgandakan kepada mereka.”) Maksudnya, siksaan mereka dilipatgandakan. Yakni bahwa Allah Ta `ala telah memberi pendengaran dan penglihatan, serta hati. Tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak bermanfaat bagi mereka, bahkan justru mereka malah menjadi tuli dari mendengar kebenaran, buta untuk mengikuti kebenaran itu, sebagaimana diceritakan oleh Allah tentang diri mereka itu ketika masuk neraka. Misalnya firman-Nya yang artinya berikut ini: “Dan mereka berkata: ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya kami tidak akan termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Al-Mulk: 10)

 Oleh karena itu, mereka disiksa atas setiap perintah yang mereka abaikan dan setiap larangan yang mereka langgar. Oleh sebab itu pendapat yang paling benar adalah, bahwa mereka dibebani dengan cabang-cabang syari’at, perintah maupun larangannya sampai ke alam akhirat. Bahz dan Affan; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Safwan ibnu Muharriz yang mengatakan bahwa ia dalam keadaan memegang tangan Ibnu Umar di saat-ada seorang lelaki bertanya kepadanya, "Apakah yang telah engkau dengar dari Rasulullah Saw. tentang najwa (berbisik) di hari kiamat kelak?" Ibnu Umar menjawab, bahwa ia pernah mendengar Nabi Saw. bersabda: Sesungguhnya Allah Swt. mendekati orang mukmin, lalu meletak­kan perlindungan dan naungan-Nya di atas orang mukmin itu sehingga orang mukmin itu dalam keadaan tertutup dari pan­dangan manusia. Lalu Allah menyebutkan semua dosanya. Allah berfirman kepadanya, "Tahukah kamu dosa ini? Tahukah kamu dosa itu? Tahukah kamu dosa anu?” Setelah Allah menyebutkan semua dosanya dan orang mukmin yang bersangkutan merasakan bahwa dirinya pasti binasa, maka Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa-dosamu itu sewaktu di dunia, dan sesungguhnya Aku sekarang mengampuninya bagimu hari ini." Kemudian diberikan kepadanya kitab catatan amal-amal kebaikannya. Adapun terhadap orang-orang kafir dan orang-orang munafik, maka para saksi akan berkata, " Orang-Orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka.” Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim. Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya di dalam kitab Sahihain melalui hadis Qatadah dengan sanad yang sama. Allah Swt. menceritakan tentang tempat kembali mereka, bahwa mereka adalah orang-orang yang paling merugi di hari akhirat nanti karena mereka telah mengganti ketinggian dengan kerendahan, mengganti nikmat surga dengan panasnya api neraka, khamr surga dengan air yang sangat panas, bidadari dengan makanan dari darah dan nanah, gedung-gedung surga dengan jurang-jurang neraka, serta berada dekat dengan Tuhan Yang Maha Pemurah lagi dapat melihat-Nya dengan murka Tuhan Yang Maha Membalas serta siksaan-Nya. Maka tidaklah aneh bila mereka adalah orang-orang yang paling merugi kelak di akhirat.

Sabtu, 4 Ogos 2018

AYAT 17

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH HUD AYAT 17
BIS-MIL-LAHI-RAHMAN-NIRRAHIM,.,.

{أَفَمَنْ كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ وَيَتْلُوهُ شَاهِدٌ مِنْهُ وَمِنْ قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَى إِمَامًا وَرَحْمَةً أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الأحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ فَلا تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِنْهُ إِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ (17) }

   Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al-Qur'an) dari Tuhannya, dan di­ikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum Al-Qur'an itu telah ada kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al-Qur’an. Dan barang siapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al-Qur’an, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya. Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al-Qur'an itu. Sesungguhnya (Al-Qur'an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.

Allah Swt. menceritakan perihal orang-orang mukmin yang berada pada fitrah Allah yang telah difitrahkan-Nya kepada semua hamba-Nya, yaitu pengakuan yang menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Disebutkan oleh Allah melalui firman-Nya: {فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ} Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia me­nurut fitrah itu. (Ar-Rum: 30), hingga akhir ayat.

“Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ia mempunyai bukti yang nyata (al-Qur’an) dari Rabbnya dan diikuti pula seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum al-Qur’an itu telah kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat. Mereka itu beriman kepada al-Qur’an. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) sekutu-sekutunya yang kafir kepada al-Qur’an, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap al-Qur’an itu. Sesungguhnya (al-Qur’an) itu benar-benar dari Rabbmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” (QS. Huud: 17)

 Dalam kitab ash-Shahihain telah diriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah ra. ia bercerita, Rasulullah saw. bersabda: “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani atau Majusi, sebagaimana binatang itu dilahirkan dengan lengkap. Apakah kalian melihat binatang-binatang lahir dengan terputus-putus (hidung, telinga, dan lain-lainnya secara terpisah)?” (HR Al-Bukhari dan Muslim) Dan dalam kitab Shahih Muslim, diriwayatkan dari Iyadh bin Hammad, dari Rasulullah saw., beliau bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (selalu berpegang kepada kebenaran).

Kemudian mereka didatangi oleh syaitan, lalu syaitan itu menjauhkan mereka dari agama mereka, mengharamkan bagi mereka apa yang Ku-halalkan bagi mereka. Dan syaitan itu juga menyuruh mereka menyekutukan-Ku, yang Aku tidak pernah menurunkan kekuasaan padanya.’” (HR. Muslim) Dan dalam kitab-kitab al-Musnad dan juga as-Sunan disebutkan: “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan memeluk agama ini sehingga lisannya mengucapkannya (dua kalimat syahadat secara spontan). Oleh karena itu Ibnu `Abbas, Mujahid, `Ikrimah, Abul `Aliyah, adh- Dhahhak, Ibrahim an-Nakha’i, as-Suddi dan beberapa ulama lainnya berkata mengenai firman-Nya: wa yatluuHu syaaHidum minHu (“Dan diikuti pula oleh satu saksi Allah.”) yaitu Jibril as. Dan dari `Ali , al-Hasan dan Qatadah, mereka mengatakan: “Seorang saksi itu adalah Muhammad saw.” Namun demikian, kedua penafsiran tersebut mempunyai kedekatan dalam arti tersebut, karena keduanya (Jibril dan Muhammad) menyampaikan risalah Allah Ta’ala. Di mana Jibril menyampaikan risalah-Nya kepada Muhammad saw, sedangkan Muhammad menyampaikan risalah tersebut kepada umatnya.

 Dalam kitab Shahib Muslim, diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak akan ada seorang pun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengarku kemudian ia tidak beriman kepadaku melainkan ia akan masuk neraka.” ulamak tafsir menafsirkan dengan cahaya di bahawah cahaya illah,.,. ayat ini di tafsir ibnu abbas bahawa .di sebut sesudahnya bahawa annur ayat 35; allah berfirman,.,. YANG DI DALAM NYA ADA PELITA YANG BESAR,. Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al-Qur’an itu. Sesungguhnya (Al-Qur'an) itu benar-benar dari Tuhanmu. (Hud: 17), hingga akhir ayat. Artinya, Al-Qur'an itu benar-benar dari Allah, tiada keraguan dan tiada kebimbangan di dalamnya. Seperti yang disebutkan pula di dalam firman-Nya: {الم تَنزيلُ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ} Alif Lam Mim. Turunnya Al-Qur'an yang tidak ada keraguan padanya (adalah) dari Tuhan semesta alam. (As-Sajdah: 1-2) {الم ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ} Alif Lam Mim. Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya. (Al-Baqarah: 1-2) Adapun firman Allah Swt.: {وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ} tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (Hud: 17) Ayat tersebut sama halnya dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: {وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ} Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya. (Yusuf: 103) {وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ} Dan Jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah (Al-An'am: 116) {وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ} Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian orang-orang yang beriman. (Saba: 20)

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN