Rabu, 14 Februari 2018

ayat 34

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
Surah ali-iman ayat 34,

 ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

       (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Di mana antara yang satu dengan yang lain memiliki kemiripan baik dari sisi fisik maupun akhlak. “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”
        (HR Abu Daud dan Ahmad), Yakni Allah Maha Mengetahui siapa yang berhak dipilih-Nya dan siapa yang tidak berhak dipilih. Hal ini menunjukkan bahwa mereka dipilih Allah karena keadaan mereka yang diketahui Allah sehingga berhak mendapat pilihan-Nya sebagai karunia dan pemberian-Nya. Allah swt. memberitahukan bahwa Dia telah memilih beberapa keluarga atas keluarga lainnya di belahan bumi ini. Dia memilih Adam yang Dia telah menciptakannya dengan tangan-Nya sendiri dan ditiupkan ruh-Nya kepadanya, serta memerintahkan para Malaikat bersujud kepadanya. Dia juga mengajarkan kepadanya nama segala sesuatu dan menempatkannya di Surga, kemudian menurunkannya dari Surga, yang dalam peristiwa tersebut mengandung hikmah. Selanjutnya Allah juga memilih Nuh as. dan menjadikannya Rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi ini, pada saat manusia menyembah berhala dan menyekutukan-Nya, yang mana Dia tidak pernah menurunkan hujjah untuk itu. Lalu Allah mengadzab (mereka, untuk membela Nabi Nuh) ketika dia telah lama terjun di tengah-tengah mereka, menyeru mereka ke jalan Allah pada siang dan malam hari, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, namun hal itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Kemudian Nuh mendo’akan kejelekan (kebinasaan) atas mereka, maka Allah pun menenggelamkan mereka, tidak ada yang selamat kecuali orang-orang yang mengikuti agama yang dibawanya. Setelah itu Allah memilih keluarga Ibrahim, yang di antara keluarganya adalah Nabi Muhammad, manusia paling mulia, penutup para Nabi. Juga memilih keluarga `Imran. Yang dimaksud dengan `Imran di sini adalah ayah Maryam binti `Imran, ibu `Isa bin Maryam. Dipilih manusia yang utama di antara manusia yang banyak. ذُرِّيَّةً بَعْضُها مِنْ بَعْضٍ وَ اللهُ سَميعٌ عَليمٌ "(Ialah) keturunan yang sebahagiannya adalah dari yang sebahagian. Dan Allah adalah Maha Mendengar lagi Mengetahui . " (ayat 34). Adam sebagai bapak manusia. Dialah yang terlebih dahulu terpilih menerima wahyu dan menyampaikan wahyu itu kepada anak-cucunya. Tidaklah di sini kita akan masuk kepada perhitungan ulama, apakah Adam telah membawa syariat ataukah belum. Tetapi bahwa sudah dilimpahkan wahyu kepadanya, tidaklah ada pertikaian faham diantara ulama. Di sinilah timbul pendapat bahwa nabi dan rasul sama-sama mendapat wahyu. Tetapi nabi hanya mendapat wahyu dan tidak membawa syariat. Sedang rasul mendapat wahyu dan di antara wahyu itu mengandung syariat yang wajib disampaikannya kepada manusia. Itu sebabnya maka seorang rasul dengan sendirinya adalah nabi, tetapi seorang nabi belumlah tentu bahwa dia merangkap jadi rasul. Maka segala yang beroleh wahyu, nabilah dia. Manusia yang pertama sekali mendapat kehormatan terpilih menerima wahyu ialah Adam. Dari keturunan Adam ialah Nuh. Diantara Adam dan Nuh ada lagi seorang nabi, yaitu Idris. Tetapi di dalam ayat ini lebih dikemukakan Nabi Nuh sebab dia telah mulai membawa syariat yang tegas kepada ummat manusia (lihat Surat 42, as-Syura,ayat 13),yang meskipun telah diajarkan oleh Adam, namun anak cucunya telah mulai menyembah berhala. Nabi Nuh itulah yang disuruh membuat bahtera untuk melepaskan orang-orang yang percaya kepada Al­lah yang Tunggal. Maka ditenggelamkan Tuhanlah manusia yang menyembah berhala itu dan diselamatkan manusia yang percaya dan mengikut kepada pimpinan Nuh. Di antara anak Nuh yang terkenal dalam catatan sejarah ialah Ham, Sam dan Yafits. Dari keturunan Nuh yang bernama Sam ialah kemudian lahir Ibrahim. Ibrahim disebut pada ayat 33 ini, keluarga Ibrahim. Sebab Ibrahim dengan beroleh kedua puteranya Ismail dan Ishak, telah menurunkan keluarga yang besar. Ismail anak yang tertua telah mengembangkan bangsa Arab Adnani dan Ishak telah mengembangkan Bani Israil. Berpuluh nabi dan rasul telah ditimbulkan pada Bani Israil. Kemudian timbullah dari keturunan Bani Israil itu keluarga Imran. Di dalam al-Qur'an ada tersebut dua Imran, tetapi jaraknya lebih kurang 1.800 tahun. Imran yang pertama adalah ayah dari Nabi Musa, dan Imran yang kedua ialah ayah dari Maryam, dan Maryam ini ibu dari Nabi Isa Almasih. Adapun satu cabang dari keluarga Ibrahim yang dari puteranya Ismail tadi, dari sanalah dipilih dan diutus pula Nabi Muhammad s.a.w Maka keluarga-­keluarga yang mulia ini telah diberikan kemuliaan nubuwwat dan risalat, mengatasi sekalian manusia. Sehingga bolehlah dikatakan bahwasanya pimpinan rohani sebahagian terbesar dari ummat manusia didatangkan Allah melalui keluarga-keluarga ini. Oleh semua keluarga itu adalah satu dari keturunan, yaitu Nabi Adam dan Nuh, itulah sebab dijelaskan di ayat 33 bahwa yang sebahagian adalah keturunan dariyang sebahagian. Penyebar-penyebar agama Kristen di zaman kita ini selain menemukan bahwa al-Qur'an bukanlah wahyu Tuhan, melainkan karangan Muhammad saja. Ceritera-ceritera mengenai nabi-nabi yang dahulu itu menurut pendakwaan mereka hanya dicaplok saja oleh Muhammad dari kitab-kitab mereka, terutama Perjanjian Lama. Kalau ada persamaan ceritera, mereka jadikanlah itu menjadi bukti bahwa al-Qur'an hanya menyalin kitab suci mereka. Tetapi kalau tidak ada persamaan itu, mereka tuduh pula al-Qur'an itu wahyu palsu sebab tidak cocok dengan kitab mereka. Mereka menuduh al-Qur'an itu berkacau saja tentang nama-nama orang. Jika terdapat dua Imran, yaitu Imran ayah Musa dan Imran ayah Maryam, mereka katakan al-Qur'an telah salah catat. Kalau dalam al-Qur'an pernah dipanggil orang Maryam itu "saudara perempuan Harun", mereka ketawakan lagi. Karena kata mereka Harun itu ialah saudara Musa, bukan saudara Maryam, sedang jaraknya kurang lebih 1.800 tahun. Mereka batalkan lagi karena al-Qur'an mengatakan Haman wazir dari Fir'aun, sebab di dalam Perjanjian Lama (Kitab Ester) tersebut bahwa Haman bukan wazir Fir'aun, melainkan wazir dari raja Ahasyweros. Kalau hal ini dipertengkarkan, tidaklah akan putus-putus, karena masing-masing akan mempertahankan pihaknya dan mendustakan yang lain. Tetapi kalau masuk ke dalam gelanggang ilmiah, marilah dipersoalkan manakah yang lebih terjamin keaslian isi al-Qur'an dengan keaslian kitab-kitab yang mereka pegang sekarang itu ? Apakah perjanjian lama yang sekarang ini menurut asli yang diterima dari Musa ? Bukankah "Perjanjian Lama" baru disusun kembali setelah 400 tahun Musa meninggal ? Dan itu terbukti dari jalannya riwayat dalam kitab-kitab itu bahwa Nabi Musa hanya diceritakan sebagai orang ketiga. Siapakah penulis kitab-kitab itu yang sebenarnya ? Ada kitab Ezra (Nabi Uzair) yang disebut mengumpulkan kitab-kitab itu kembali. Siapa yang menuliskan "Kitab Ezra" itu ? Tidak terang siapa penulis semua kitab itu. Tidak terang sampai sekarang ini! . Menurut undang-undang berfikir secara ilmiah, dapatkah dibatalkan al-Qur'an, wahyu ilahi kepada Muhammad s.a.w yang dicatat lengkap pada waktu beliau hidup, lalu disalin menjadi satu mushhaf di zaman Abu Bakar dan disalin lagi mushhaf Abu Bakar itu di zaman Usman oleh satu panitia yang terang nama-nama orangnya? Yang sepakat seluruh ahli pengetahuan sampai sekarang ini bahwa tidak pernah selama 14 abad satu kalimatpun masuk kata-kata lain ke dalamnya.

Selasa, 13 Februari 2018

AYAT 33

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK ۞

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ

 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 33
 Innalla_hastafa_ a_dama wa nu_haw wa a_la ibra_hima wa a_la'imra_na 'alal 'a_lamin(a).           Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing),

 Selain memilih Muhammad sebagai penyampai risalah--dengan menjadikan upaya meneladaninya sebagai sarana untuk memperoleh kecintaan, ampunan dan kasih sayang Allah--Allah juga memilih Adam, Nûh, Ibrâhîm dan keturunanya, Ismâ'îl dan Ishâq, serta nabi-nabi lain keturunan mereka berdua seperti Mûsâ, 'alayhim al-salâm. Di samping itu, Allah juga memilih keluarga 'Imrân, di antaranya 'Isâ dan bundanya. 'Isâ dijadikan sebagai rasul untuk Banû Isrâ'îl, sedangkan Maryam dijadikan sebagai ibunya tanpa bapak. Contohnya dengan menciptakan Adam dengan Tangan-Nya, meniupkan kepadanya ruh (ciptaan)- Nya, memerintahkan para malaikat untuk sujud kepadanya, menempatkannya di surga, memberinya ilmu pengetahuan, sifat santun dan keutamaan yang melebihi makhluk-makhluk yang lain.

 Allah menjadikannya sebagai rasul pertama, memberinya taufiq untuk bersabar dan siap memikul beban berat, rasa syukur yang tinggi dan menyebut baik namanya di setiap waktu dan zaman. Nabi Ibrahim 'alaihis salam adalah kekasih Allah, seorang yang rela mengorbankan dirinya ke dalam api, mengorbankan anaknya sebagai kurban, mengorbankan hartanya untuk para tamu, seorang yang berdakwah kepada Allah di malam dan siang, secara sembunyi maupun terang-terangan. Allah menjadikannya sebagai teladan yang diikuti oleh generasi setelahnya. Keturunannya banyak yang diangkat Allah menjadi nabi dan diberi kitab. Termasuk ke dalam "Keluarga Ibrahim" adalah para nabi yang diutus setelahnya, karena mereka termasuk keturunannya, demikian juga Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, di mana Allah Subhaanahu wa Ta'aala menghimpunkan kesempurnaan yang terpisah-pisah, Beliau melebihi generasi terdahulu dan generasi kemudian, Beliau adalah Sayyidul Mursalin (tokoh para rasul). Imran adalah bapak Maryam atau bapak Musa 'alaihis salam.
 Di antara faedah dan hikmah disebutkan kepada kita kisah mereka adalah agar kita mencintai mereka, mengikuti jejak mereka dan agar kita tidak terus-menerus mencela diri kita karena keterlambatan kita dan karena tidak ada pada diri kita sifat-sifat mulia yang ada pada mereka. Hal ini pun termasuk kelembutan Allah kepada mereka, ditampakkan pujian untuk mereka baik di hadapan generasi terdahulu maupun generasi setelahnya serta dijunjung kemuliaan mereka. Sungguh demikian besar kepemurahan Allah dan besarnya faedah bermu'amalah dengan-Nya. Anadi saja keutamaan mereka hanya disebut-sebut saja terus-menerus, maka hal itu pun sudah cukup sebagai keutamaan. Allah Swt. memilih Nuh a.s. dan menjadikannya sebagai rasul pertama untuk penduduk bumi, di saat manusia mulai menyembah berhala dan mempersekutukan Allah dengan sesembahan-sesembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujah mengenainya. Kemudian Allah membela Nuh a.s. setelah lama masa tinggalnya di kalangan kaumnya menyeru mereka untuk menyembah Allah siang dan malam hari, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun dengan terang-terangan. Akan tetapi, ternyata usahanya itu tidak menambah dekat kepada mereka, kecuali makin jauh. Maka Nuh a.s. berdoa untuk kebinasaan mereka, dan akhirnya Allah Swt. menenggelamkan mereka semua hingga tidak ada seorang pun yang selamat kecuali orang-orang yang mengikuti agama yang diutus oleh Allah kepadanya. Allah Swt. memilih keluarga Ibrahim yang dari kalangan mereka lahir penghulu manusia, penutup semua nabi (yaitu Nabi Muhammad Saw.). Allah Swt. memilih keluarga Imran; yang dimaksud dengan Imran dalam ayat ini ialah orang tua Maryam, ibu Nabi Isa a.s. Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar mengatakan bahwa dia adalah Imran ibnu Yasyim ibnu Misya ibnu Hizqiya ibnu Ibrahim Guraya ibnu Nawisy ibnu Ajr ibnu Bahwa ibnu Nazim ibnu Muqasit ibnu Isya ibnu Iyaz ibnu Rukhai'am ibnu Sulaiman ibnu Daud a.s. Isa termasuk salah seorang dari keturunan Nabi Ibrahim a.s., seperti yang akan dijelaskan nanti dalam surat Al-An'am. salasilah kenabian sehingga adam alaihisalam., Nabi Ibra-hiym AS – Tarikh (Thara) – Nakhur – Sarugh – Urghu (Ragau) – Falikh – Abir – Syalikh (Sala) – Finan – Arfakhsyadz – Sam – Nabi Nuwh AS(3) – Lamik – Matusalkh – Mahanaukh (Enoch) – – – – – – – seterusnya, berapa jumlah generasi antaranya hanya Allah Yang Maha Tahu – Yarid – Mahkail – Qinan – Anwas – Syisy (Seth) – Nabi Adam AS dan salasilah nabi ibrahim hingga muhamat saw.Nabi Isma-‘iyl AS menurunkan: Haidar – Jamal – Sahail – Binta – Salaman – Hamyasa – ‘Adad – ‘Addi – Adnan – Ma’ad – Nizar – Mudhar – Ilyas – Mudrikah – Khuzaimah – Kinanah – Nadhar – Malik – Fihir – Ghalib – Luaiy – Ka’ab – Murrah – Kilab – Qushay – ‘Abd.Manaf – Hasyim – ‘Abd.Muththalib – ‘Abdullah – NABI MUHAMMAD SAW(25). sebagai mana jelas keturunan baginda nabi muhamat hingga ibrahim lalu adam sebagai mana jelas allah terangkan dalam ayat di atas,.,.dan sebagai mana rasulullah bersabda dari riwayat imam muslim., dari Watsilah bin Asyqo berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda : "Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail dan Allah memilih Quraisy dari keturunan Kinanah. Allah memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan Allah memilih aku dari keluarga Bani Hasyim" ( diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2276.)

Isnin, 12 Februari 2018

AYAT 31-32

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 31
Qul in kuntum tuhibbu_nalla_ha fattabi'u_ni yuhbibkumulla_hu wa yagfirlakum zunu_bakum, walla_hu gafu_rur rahim(un).Qul ati'ulla_ha war rasu_l(a), fa in tawallau fa innalla_ha la_ yuhibbul ka_firin(a).

 “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 3:31) Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS. 3:32)

 Ayat ini sebagai pemutus hukum bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah tetapi tidak menempuh jalan Muhammad, Rasulullah, bahwa dia adalah pembohong dalam pengakuan cintanya itu sehingga dia mengikuti syari’at dan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad dalam semua ucapan dan perbuatannya.

Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya kamu sekalian berbuat dosa hingga memenuhi langit, kemudian kalian bertaubat kepada Allah, pasti Allah akan menerima taubat kalian”. [HR. Ibnu Majah dengan sanad jayyid] “

Dari Abi Burdah dari seorang laki-laki dari sebagian sahabat Muhajirin beliau mengatakan kami telah mendengar Nabi Muhammad bersabda: “ Wahai ingatlah manusia, bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah dan mohonlah pengampunan kami sekalian kepada-Nya, maka sesungguhnya kami bertaubat kepada Allah dan kami mohon pengampunan kepada-Nya pada tiap hari 100 kali atau lebih.”(HR.Ahmad) Oleh karena itu, Allah swt. berfirman, in kuntum tuhibbuunallaaHa fattabi’uuni yuhbib-kumullaaHu (“Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.”) Maksudnya, kalian akan mendapatkan sesuatu yang lebih dari kecintaan kalian kepada-Nya, yaitu kecintaan-Nya kepada kalian, dan ini lebih besar daripada kecintaan kalian kepada-Nya. Seperti yang diungkapkan sebagian ulama ahli hikmah: “Yang jadi permasalahan bukanlah jika engkau mencintai, tapi permasalahannya ialah jika engkau dicintai.” 
Sedangkan al-Hasan al-Bashri dan beberapa ulama Salaf berkata: “Ada suatu kaum yang mengaku mencintai Allah, lalu Allah menguji mereka melalui ayat ini, di mana Dia berfirman, qul in kuntum tuhibbuunallaaHa fattabi’uuni yuhbib-kumullaaHu (“Katakanlah: ‘Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.’”)

 Setelah itu Dia berfirman, wa yaghfirlakum dzunuubakum wallaaHu ghafuurur rahiim (“Dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) Maksudnya, dengan mengikutnya kalian kepada Rasulullah, maka kalian akan memperoleh hal tersebut (pengampunan dosa) berkat keberkahan perantara-Nya (RasulNya). Selanjutnya Allah berfirman memerintahkan kepada setiap individu, qul athii’ullaaHa war rasuula fa in tawallaw (“Katakanlah: `Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling.’”) Yakni melanggar perintah-Nya, fa innallaaHa laa yuhibbul kaafiriin (“Maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir.”) Hal ini menunjukkan bahwa menyalahi Allah dalam menempuh jalan-Nya merupakan perbuatan kufur, sebab Allah tidak menyukai orang-orang yang berpredikat seperti itu, meskipun ia mengaku mencintai Allah dan bertaqarrub kepada-Nya, sampai dia benar-benar mengikuti Rasulullah, Nabi yang ummi, penutup para Rasul yang diutus kepada segenap bangsa jin dan manusia. Disuruhlah kita selalu membaca al-Qur'an dengan sebenar-­benar baca, artinya dengan menjurus kan fikiran kepadanya. Dengan demikian kelak terasa hubungan di antara satu ayat dengan ayat yang menyambutnya. Ujung ayat 30 di atas menyatakan bahwa Tuhan Allah itu amat sayang, amat kasih kepada hamba-­hambaNya. Sehingga orang yang pernah bersalah diberi kesempatan mengikuti amalan yang jahat dengan banyak-banyak berbuat baik disertai memohon ampun. Tuhan selalu bersedia menerima kedatangan hambaNya yang demikian. Apa kesan yang terasa dalam hati yang beriman bila membaca sampai di sini? Ialah cinta, kasih-sayang Tuhan kepada hambaNya. Maka dengan sendirinyapun, dalam perasaan si hamba terasalah pula keinginan membalas cinta itu. Bertepuk tidak sebelah tangan hendaknya. Dalam suasana rasa yang demikian datanglah ayat lanjutan ini: قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُوني‏ يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَ اللهُ غَفُورٌ رَحيمٌ "katakanlah: Jika memang kamu cinta kepada Allah, maka turutkanlah aku, niscaya cinta pula Allah kepada kamu dan akan diampuni Nya dosa-dosa kamu. Dan Al­lah adalah Maha pengampun lagi Penyayang." (ayat 31). Maka perasaan yang tadinya masih terasa samar-samar, laksana masih mencari-sari di antara si hamba dengan Tuhannya, sekarang rahasia itu telah terbuka. Mari kita uraikan ! . "Engkau telah mengatakan dalam ujung kataMu bahwa Engkau tetap belas-kasihan kepada aku, hambaMu yang lemah ini, ya Tuhanku ! Sebenarnya aku sendiripun begitu kepada Engkau. Aku cinta kepada Engkau ! Engkau berikan kepadaku suatu perasaan yang halus, suatu 'iffah atau wijdan. Terasa dalam hati kecilku bahwa tidak pernah aku lepas dari tilikanMu, selalu aku Engkau bimbing, banyak nikmatMu kepadaku. Aku selalu hanya menerima saja, aku tidak dapat memberi kepadaMu. Bagaimana aku akan dapat memberi sedang nyawakupun, nyawa yang sedekat-­dekatnya kepadaku, Engkau yang punya. lantaran ituah maka kasih cintaku kepada Engkau tumbuh dengan mesranya. Aku takut kepada Engkau karena Engkau. Hanya dengan sebuah tempurung aku menerima nikmatMu yang seluas lautan. Tetapi sungguhpun aku takut, akupun rindu kepada Engkau. Aku cemas, tetapi di dalam cemasku itu akupun mempunyai penuh harapan. Tuhanku ! Engkau ada ! Sungguh Engkau ada ! Hatiku merasainya. Aku ingin sekali berjumpa dengan engkau, tetapi aku tidak tahu ke mana jalan. Dan aku Engkau takdirkan jadi manusia. Aku sendiri tahu kelemahan dan kekuranganku. Sebab itu kadang-kadang terasa malu aku akan melihat Engkau, tetapi aku hendak melihat juga. Tuhanku, tolong aku, tolong aku. Tolong aku dalam penyelesaian soalku ini." Di sinilah datang jawaban Tuhan, dirumuskan oleh ayat ini. Jika sungguh-sungguh engkau cinta kepadaKu, maka jalan buat menemuiKu mudah saja. Memang Aku Maha Mengetahui, bahwa banyak hambaKu yang seperti engkau, ingin menemuiKu, ingin bersimpuh di hadapanKu, hatinya penuh dengan ingat kepadaKu. Sebelum engkau Aku adakanpun telah Kuketahui keinginan, kerinduan, dan kecintaan itu. Untuk itulah aku utus RasulKu kepadamu; dialah petunjuk jalan menuju aku itu. "Hai utusanKu! Sampaikanlah pesanKu itu kepada seluruh hambaKu yang rindu, asyik dan cinta kepadaKu itu. Bentuklah sebuah rombongan itu; zumaran, berbondong-bondong. Tiap-tiap rombongan di bawah pimpinan engkau, wahai utusanku! Katakanlah kepada mereka wahai rasulKu, cinta mereka Aku balas, bertepuk tidak sebelah tangan. Tadi mereka menyebut bahwa mereka sebagai manusia. pernah bersalah. Aku tahu itu, Aku lebih tahu. Sebab Aku yang mengetahui asal kejadian. Maka apabila rombongan itu telah terbentuk, dan mereka telah berkumpul di dalamnya, dan engkau sendiri yang memimpin, tandanya mereka telah benar-benar telah berjalan menuju Aku. Aku ampuni dosa mereka. Aku mempunyai pula suatu nama yang menunjukkan sifatKu yaitu tawwab, artinya memberi taubat, menerima hambaKu yang kembali. Akupun mempunyai suatu nama menunjukkan sifatKu, yaitu ghafur, pemberi ampun. Akupun rahim, amat penyayang. Bagaimana akan kamu ketahui kebesaran Asma'Ku itu, kalau yang bersalah di antara kamu memohon ampun tidak Aku ampuni?" Ingatlah kembali salah satu sebab turunnya ayat ini, yaitu utusan dan rombongan Nasrani 60 orang dengan 14 orang terkemuka sedang berada di Madinah. Nabi Musa yang besar telah mengajarkan kepada Bani Israil suatu ajaran yang berintisari pengorbanan. Sifatnya ialah jalal, kemuliaan. Nabi Isa Almasih yang agung telah membawa lanjutan ajaran yang berdasar hubb, artinya cinta. Sifatnya ialah jamal, keindahan. Sekarangdatang Nabi Muhammad saw. menyempur­nakan penyerahan diri kepada Tuhan itu, Islam. Sifatnya ialah kamal, kesempurnaan. Nyatalah ayat-ayat ini meninggalkan kesan yang mendalam juga pada anggota-anggota utusan Nasrani itu; Muhammad s.a.w, pun membicarakan dari hat cinta. Memang cintalah pintu pengajian itu, yang selalu dibuka dengan ucapan: "Dengan nama Allah Yang Maha Murah, lagi Penyayang." Tetapi cinta dalam ucapan sajapun tidaklah cukup. Bahkan cinta hati tidak diikuti pengorbanan tidaklah cukup. Menyatakan cinta, padahal kehendak hati yang dicintai tidak diikuti, adalah cinta palsu. Allah tidak menyukai kepalsuan. Kamu durhakai Allah, padahal kamu menyatakan cinta kepadaNya. Ini adalah mustahil dalam kejadian, dan ini adalah ganjil Jika memang cintamu itu cinta sejati, niscaya kamu taat kepadaNya. Sebab orang yang bercinta, terhadap yang dicintainya, selalu patuh. Oleh sebab itu datanglah sambungan ayat: قُلْ أَطيعُوا اللهَ وَ الرَّسُولَ "Katakanlah: hendaklah kamu taat kepada Allah dan Rasul" (pangkal ayat 32). Taatlah kepada Allah dan ikuti jejak rasul, niscaya kamu akan yakin bahwa bimbingannya tidak akan membawamu kepada kecelakaan. Apabila kamu telah cinta kepada sesuatu, tentu keinginan kamu adalah keinginan dia. Apatah lagi cinta kepada Allah. Kalau kamu telah cinta kepada Allah, niscaya fanalah kesukaan dirimu sendiri, lebur ke dalam kesukaan Allah. Niscaya bertaubat kamu, hanya Satu Dia saja ingatanmu. Tidak berbelah­ bagi. Kalau terbelah sedikit saja, niscaya terbelah pula ketaatanmu, palsulah cintamu. Taat kepada rasul adalah akibat taat kepada Allah, sebab Rasul itu diutus buat "menjemput kamu dan menunjukkan jalan serta memimpin perjalanan itu sekali. فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لا يُحِبُّ الْكافِرينَ " Tetapi jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang kafir " (ujung ayat 32). Maka adalah orang-orang yang terpacul, tercampak ke luar dari rombongan. Ada yang mengaku cinta kepada Allah, tetapi bukan bimbingan Muhammad yang hendak diturutinya, diapun tersingkir ke tepi. Dia maghdhub, dimurkai Tuhan.Ada yang mencoba-coba membuat rencana sendiri, memandai-mandai, maka diapun terlempar keluar, dia dhallin, diapun tersesat.Ada yang tidak sabar, lantas tercecer di tengah jalan. Ada yang terpesona oleh beberapa hal yang disangka indah, sehingga dia lupa bahwa yang akan dituju ialah yang sebenar-benar indah. Orang-orang yang semuanya telah kafir, artinya tidak percaya lagi kepada bimbingan Tuhan; niscaya Tuhan tidak bisa mencintai mereka. Sebab itu maka cinta yang sejati ialah penyerahan diri bulat-bulat, bukan sayang yang terbagi-bagi. Dan mesti sabar menerima apa yang ditimpakan kekasih. Sehingga kalau ada orang yang mengatakan kepada kekasihnya: " walaupun ke lautan api beta ini tuan bawa, beta akan mengikutinya juga." Ucapan yang demikian hanya layak kepada Tuhan, dan Tuhan tidak akan membawa kecintaanNya ke lautan api, melainkan ke dalam syurga. Ayat-ayat inipun masih berhubungan rapat dengan ayat yang diatasnya, tadi dilarang orang yang beriman menghubungkan wilayah dengan orang kafir, jangan mengangkat mereka jadi pelindung atau jadi pemerintahan. Kecuali kalau hendak menjaga dan memelihara supaya jangan datang dari mereka apa yang ditakuti. Kemudian datang ayat ini, mengatakan bahwa cinta sejati hanya kepada Allah dengan mengikuti Nabi saw. sudah itu datang ayat yang lebih tegas menyuruh taat kepada Allah dan Rasul. Maka kalau kita renungkan pertalian ayat ini satu dengan yang lain, nampaklah bahwa pokoknya orang yang beriman tidak boleh berwilayah kepada orang yang kafir, kecuali kalau sudah sangat terpaksa. Tetapi orang-orang yang imannya sudah sangat mendalam dan cintanya yang pertama dan utama, yaitu Allah.

Ahad, 11 Februari 2018

AYAT 28-30


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK;
 Tafsir Ali Imran Ayat 28-30 Ayat 28-30:
Menerangkan tentang larangan berwala’ (memberikan loyalitas) dan berpihak kepada orang-orang kafir baik lahir maupun batin, serta menerangkan tentang pembalasan terhadap amal pada hari Kiamat' sebagai mana firman allah azawajalla

; لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ (٢٨) قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٢٩) يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ (٣٠

 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 28 La_ yattakhizil mu'minu_nal ka_firina aulaya_'a min du_nil mu'minin(a), wa may yaf'al za_lika fa laisa minalla_hi fi syai'in illa_ an tattaqu_ minhum tuqa_h(tan), wa yuhazzirukumulla_hu nafsah(u_), wa illalla_hil masir(u).Qul in tukhfu_ ma_ fi sudu_rikum au tubdu_hu ya'lamhulla_h(u), wa ya'lamu ma_ fis sama_wa_ti wa ma_ fil ard(i), walla_hu 'ala_ kulli syai'in qadir(un).Yauma tajidu kullu nafsim ma_'amilat min khairim muhdara_w wa ma_ 'amilat min su_'(in), tawaddu lau anna bainaha_ wa bainahu_ amadam ba'ida_(n), wa yuhazzirukumulla_hu nafsah(u_), walla_hu ra'u_fum bil 'iba_d(i). 28.
              Janganlah orang-orang mukmin menjadikan orang-orang kafir sebagai wali[1] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka[2]. Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya[3], dan hanya kepada Allah tempat kembali[4].29. Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu[5] atau kamu nyatakan, Allah pasti mengetahuinya". Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu[6].30.
             Pada hari ketika setiap diri mendapatkan semua kebajikan[7] dihadapkan (di depannya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya[8]. Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan hari itu[9]. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya[10]. Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. Ayat ini merupakan ancaman kepada seluruh orang Mukmin bahwa perbuatan kalian baik buruk maupun baik, tidak akan sirna di alam ini, melainkan tercatat dan tersimpan di sisi Tuhan dan para Malaikat. Pada Hari Kiamat seluruh amal perbuatan itu akan tergambar di depan mata kalian. Oleh karenanya, takutlah dari kemurkaan Tuhan dan jauhilah perbuatan buruk yang suatu waktu menjelma di sisi kalian. Bila itu terjadi kalian sendiri akan muak bau busuknya dan kalian berharap seandainya ada jarak yang jauh memisahkan kalian dan perbuatan kalian.

                        Dari ayat tadi terdapat empat po in pelajar an yang dapat dipetik:1. Menerima segala sesuatu yang menyebabkan dominasi dan kekuasaan orang-orang kafir terhadap Mukminin, adalah haram hukumnya. Mukminin harus menguatkan posisinya, sehingga tidak tersisa jalan bagi musuh untuk mempengaruhi mereka.2. Untuk selamat dari kejahatan orang-orang kafir, menyembunyikan akidah atau berkompromi dengan mereka adalah dibolehkan. Tapi dengan syarat taqiyyah itu tidak menyebabkan musnahnya dasar atau prinsip agama.3. Banyak sekali amal perbuatan yang diminati oleh manusia di dunia, di hari kiamat nanti akan dibenci oleh kita. Untuk itu, sebaiknya kita juga memikirkan masa depan. 4. Tujuan atau alasan di balik ancaman-ancaman Tuhan adalah cinta kasih dan rahmat-Nya. Karena Tuhan menyayangi kita, maka Dia memperingatkan bahaya yang mengancam diri kita. [1] Wali jamaknya auliyaa, yang berarti teman yang akrab, pemimpin, pelindung atau penolong. Termasuk juga mencintai dan membela orang-orang kafir meninggalkan kaum mukmin. Semua ini dilarang. Dalam ayat ini terdapat larangan mengadakan pendekatan dengan orang-orang kafir, berteman akrab dengan mereka, cenderung kepada mereka, memberikan mereka jabatan serta meminta bantuan mereka untuk perkara yang terdapat maslahat bagi kaum muslimin.[2] Misalnya dengan mengadakan hudnah (genjatan senjata), atau menampakkan seakan-akan berwala' dengan mereka di lisan, namun hati tidak setuju. Hal ini dilakukan sebelum Islam berjaya, dan diperuntukkan bagi orang yang tinggal di sebuah negeri sedangkan dia tidak memiliki kekuatan di sana.[3] Oleh karena itu, janganlah mengerjakan perbuatan yang mendatangkan kemurkaan-Nya seperti dengan bermaksiat dan berwala' kepada orang-orang kafir tanpa alasan menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti.[4] Semua makhluk akan kembali kepada Allah untuk dihisab dan diberi pembalasan.[5] Seperti berwala' kepada mereka.[6] Termasuk di antaranya berkuasa menyiksa orang-orang yang berwala' kepada orang-orang kafir. Dalam ayat ini terdapat petunjuk untuk membersihkan hati dan menghadirkan pengetahuan Allah di setiap waktu, sehingga seorang hamba malu kepada Tuhannya jika sampai hatinya dipenuhi pikiran rusak, bahkan seharusnya ia menyibukkan pikirannya untuk hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah seperti mentadabburi ayat-ayat-Nya, mentadabburi hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, mengkaji suatu ilmu yang bermanfaat, memikirkan makhluk ciptaan Allah atau menasehati hamba-hamba Allah. [7] Kebajikan atau dalam bahasa Arab disebut Al Khair, adalah nama untuk semua perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah, berupa amal-amal shalih baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang besar maupun yang kecil.[8] Untuk diberikan balasan.[9] Hal ini disebabkan penyesalan dan kesedihan yang mendalam. Ayat ini sama seperti ayat-ayat berikut: "Supaya tidak ada ada orang yang mengatakan, "Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah….dst." (Terj. Az Zumar: 56)"Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah." (Terj. An Nisaa': 42)Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul".---Kecelakaan besarlah bagiku; sekiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). (Terj. Al Furqan: 27-28) "Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (di hari kiamat) dia berkata: "Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara timur dan barat ". (Terj. Az Zukhruf: 38)Jika seseorang mengetahui hal seperti ini, tentu ia akan meninggalkan syahwat dan hawa nafsunya di dunia ini meskipun berat meninggalkannya daripada merasakan kesukaran-kesukaran dan menanggung penderitaan yang sangat berat dipikul pada hari itu. Akan tetapi, karena kezaliman dan kebodohan dalam dirinya, ia tidak melihat selain perkara yang dilihatnya langsung, ia tidak memiliki akal yang sempurna untuk memperhatikan akibat di belakang, sehingga dirinya berani berani berbuat maksiat dan meninggalkan perintah.Ya Allah, bimbinglah kami dalam meniti hidup ini agar tetap istiqamah di atas jalan-Mu.[10] Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengulangi lagi peringatan ini karena sayang kepada kita, agar masa yang panjang tidak membuat hati kita keras dan agar kita memiliki rasa raja' (berharap) dengan beramal shalih serta khauf (takut) sehingga meninggalkan maksiat. Kita meminta kepada Allah agar Dia mengaruniakan kepada kita rasa takut kepada siksa-Nya terus menerus, agar kita tidak melakukan perbuatan yang mendatangkan murka-Nya dan meminta kepada-Nya agar mengaruniakan kepada kita rasa raja' agar kita tidak berputus asas dari rahmat-Nya.

Sabtu, 10 Februari 2018

ALI-IMRAN 26-27


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK ,
 Tafsir Surat Ali Imran, ayat 26-27 .
 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 26,27
 Qulilla_humma ma_likal mulki tu'til mulka man tasya_'u wa tanzi'ul mulka mimman tasya_'(u), wa tu'izzu man tasya_'u wa tuzillu man tasya_'(u),biyadikal khair(u), innaka 'ala_ kulli syai'in qadir(un).Tu_lijul laila fin naha_ri wa tu_lijun naha_ra fil laili wa tukhrijul hayya minal mayyiti wa tukhrijul mayyita minal hayyi wa tarzuqu man tasya_'u bi gairi hisa_b(in).

 {قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنزعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (26) تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ (27) } “

Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dizhalimi. Katakanlah: ‘Ya Allah, Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan prang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. 3:26) Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup.

Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).’” (QS. 3:27) Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Zakaria Al-'Ala-i, telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Hasan ibnu Farqad, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Umar ibnu Malik, dari Abul Jauza, dari Ibnu Abbas r.a., dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Asma Allah yang teragung (Ismul A'zam) bila diucapkan dalam doa, niscaya diperkenankan, berada dalam ayat ini bagian dari surat Ali Imran, yaitu firman-Nya: "Kalakanlah, 'Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya engkau Mahakuasa atas segala sesuatu' (Ali Imran: 26)." Allah berfirman: “Wahai Muhammad, katakanlah” dengan mengagungkan Allah swt., mensyukuri, berserah diri, dan bertawakkal kepada-Nya, AllaaHumma maalikul mulki (“Ya Allah Yang mempunyai kerajaan.”) Maksudnya, hanya milik-Mu seluruh kerajaan. Tu’til mulka man tasyaa-u wa tanzi’ul mulka mim man tasyaa-u wa ta’izzu man tasyaa-u wa tadzillu man tasyaa-u (“Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki.”) Maksudnya, Engkaulah Mahapemberi lagi Mahapenahan. Dan Engkaulah yang apa bila berkehendak pasti terjadi, dan apabila tidak berkehendak pasti tidak akan terjadi. Dalam ayat tersebut terkandung peringatan sekaligus bimbingan bagi Rasulullah dan umat ini untuk mensyukuri nikmat Allah Ta’ala, karena Dia telah mengalihkan kenabian dari Bani Israil kepada Nabi yang berkebangsaan Arab, bersuku Quraisy, yang ummi yang berasal dari Makkah, dan penutup bagi seluruh Rasul secara mutlak, serta Rasul Allah yang diutus kepada seluruh umat manusia dan jin. Allah telah mengumpulkan dalam dirinya berbagai kebaikan dari para Rasul sebelumnya serta memberikan keistimewaan yang tidak diberikan-Nya kepada seorang Nabi dan Rasul pun berupa pengetahuan mengenai Allah, syari’at, dan beberapa hal yang ghaib; baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Selain itu, Allah menyingkapkan kepada beliau hakikat alam akhirat, dan menyebarkan umatnya ke seluruh belahan bumi di timur dan barat. Juga memenangkan agama dan syari’atnya di atas semua agama dan ajaran-ajaran lainnya. Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepadanya sampai hari Kiamat kelak, selama malam dan siang masih tetap silih berganti. Oleh karena itu, Allah berfirman, qul AllaaHumma maalikul mulki (“Katakanlah, ‘Ya Allah Yang mempunyai kerajaan.’”) Maksudnya, Engkaulah yang mengendalikan semua ciptaan-Mu dan yang berbuat apa saja yang Engkau inginkan. Tuulijul laila fin naHaari wa tuulijun naHaara fil laili (“Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam”) maksudnya, Engkau mengambil waktu dari yang berwaktu panjang, lalu menambahkannya pada yang berwaktu pendek sehingga kedua waktu itu (siang dan malam) menjadi seimbang. Kemudian Engkau mengambil waktu dari yang satu, lalu dimasukkan kepada yang lain, maka keduanya pun (siang dan malam) berbeda panjang pendeknya, kemudian berimbang lagi. Demikian seterusnya sehingga genap satu tahun dengan melewati musim semi dan musim panas, musim gugur dan musim dingin. Firman-Nya, wa tukhrijul hayya minal mayyiti wa tukhrijul mayyita minal hayyi (“Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dan yang hidup.”) Yakni, Engkau keluarkan tanaman dari biji-bijian dan biji-bijian dari tanaman, pohon kurma dari bijinya dan biji kurma dari pohonnya, orang mukmin dari orang kafir, orang kafir dari orang mukmin, ayam dari telur dan telur dari ayam, dan lain sebagainya yang serupa dengan itu. Wa tarzuqu man tasyaa-u bighairi hisaab (“Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab [batas].”) Maksudnya, Engkau berikan kekayaan kepada orang yang Engkau kehendaki dalam jumlah yang tidak dihitung, serta menahannya dari orang lain, karena pada yang demikian itu mengandung hikmah, keinginan dan kehendak(Mu). Di dalam ayat ini terkandung isyarat dan bimbingan yang menganjurkan untuk mensyukuri nikmat Allah Swt., ditujukan kepada Rasul-Nya dan umatnya. Karena Allah Swt. mengalihkan kenabian dari kaum Bani Israil kepada nabi dari kalangan bangsa Arab, yaitu dari keturunan kabilah Quraisy yang ummi dari Mekah sebagai penutup semua nabi, serta sebagai utusan Allah kepada segenap manusia dan jin. Allah Swt. telah menghimpun di dalam dirinya semua kebaikan yang ada pada sebelumnya, dan menganugerahkan kepadanya beberapa khususiyat yang belum pernah Allah berikan kepada seorang pun dari kalangan para nabi dan para rasul sebelumnya. Yang dimaksud ialah dalam hal pengetahuannya mengenai Allah dan syariat yang diturunkan kepadanya, pengetahuannya tentang hal-hal yang gaib di masa lampau dan masa mendatang. Allah telah memperlihatkan kepadanya banyak hakikat akhirat, umatnya menyebar ke segenap pelosok dunia dari timur sampai ke barat, dan agama serta syariatnya ditampakkan di atas semua agama dan syariat yang lain. Maka semoga Allah melimpahkan salawat dan salam kepadanya untuk selama-lamanya sampai hari pembalasan, selama malam dan siang hari masih silih berganti. Karena itulah Allah Swt. mengatakan dalam firman-Nya: Katakanlah, "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan." (Ali Imran: 26), hingga akhir ayat. Yakni Engkaulah Yang mengatur makhluk-Mu, Yang Maha Melakukan semua apa yang Engkau kehendaki. Sebagaimana Allah menyanggah orang-orang yang mengakui dirinya dapat mengatur urusan Allah, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya: وَقالُوا لَوْلا نُزِّلَ هذَا الْقُرْآنُ عَلى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ Dan mereka berkata, "Mengapa Al-Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Taif) ini? (Az-Zukhruf: 31) Allah berfirman, menyanggah ucapan mereka itu, melalui ayat berikut: أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? (Az-Zukhruf: 32), hingga akhir ayat. Dengan kata lain, Kamilah yang ber-tasarruf dalam semua ciptaan Kami menurut apa yang Kami kehendaki, tanpa ada seorang pun yang mencegah atau menolak Kami, dan bagi Kamilah hikmah yang sempurna serta hujah yang benar dalam hal tersebut. Demikianlah Allah menganugerahkan kenabian kepada siapa yang dikehendaki-Nya, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya: اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسالَتَهُ Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. (Al-An'am: 124) Allah Swt. telah berfirman: انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنا بَعْضَهُمْ عَلى بَعْضٍ Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). (Al-Isra: 21), hingga akhir ayat. Al-Hafiz ibnu Asakir meriwayatkan di dalam riwayat hidup Ishaq ibnu Ahmad bagian dari kitab tarikh tentang Khalifah Al-Mamun, bahwa ia pernah melihat pada salah satu istana di negeri Rumawi suatu tulisan memakai bahasa Himyariyah. Ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, ternyata artinya seperti berikut: "Dengan nama Allah, tidak sekali-kali malam dan siang silih berganti, dan tidak pula bintang-bintang beredar pada garis edarnya, melainkan karena berpindahnya nikmat (karunia) dari suatu kerajaan yang telah sirna kekuasaannya ke kerajaan yang lain. Sedangkan kerajaan Tuhan yang memiliki Arasy tetap abadi, tidak akan hilang dan tidak ada yang menyekutuinya."

Jumaat, 9 Februari 2018

23-25 ali-imran

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
 surah ali imran ayat 23-25

 {أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُدْعَوْنَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ وَهُمْ مُعْرِضُونَ (23) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلا أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ وَغَرَّهُمْ فِي دِينِهِمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ (24) فَكَيْفَ إِذَا جَمَعْنَاهُمْ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ (25) }

 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 23 Alam tara ilal lazina u_tu_ nasibam minal kita_bi yad'u_na ila_ kita_billa_hi liyahkuma bainahum summa yatawalla_ fariqum minhum wa hum mu'ridu_n(a).Za_lika bi annahum qa_lu_ lan tamassanan na_ru illa_ ayya_mam ma'du_da_t(in), wa garrahum fi dinihim ma_ ka_nu_ yaftaru_n(a).Fa kaifa iza_ jama'na_hum li yaumil la_ raiba fih(i), wa wuffiyat kullu nafsim ma_ kasabat wa hum la_ yuzlamu_n(a). Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran).

  Hal itu adalah karena mereka mengaku, "Kami tidak akan disentuh oleh api neraka selain beberapa hari yang dapat dihitung." Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan. Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya, sedangkan mereka tidak dianiaya. Ayat 23-25 kembali menceritakan sikap dan perilaku Ahlul Kitab. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa mereka tidak mau berhukum kepada Kitab Allah, bahkan meninggalkannya.
                Hal itu ter-jadi karena mereka berpendapat bahwa meninggalkan Kitab Allah itu hanya akan menyebabkan masuk neraka beberapa hari saja. Pemahaman tersebut disebabkan mereka mengada-ada tentang agama. Mereka lupa bahwa nanti pada hari kiamat akan dikumpulkan dan akan dihitung dengan sempurna apa saja yang mereka lakukan, baik ataupun buruk.Ayat ini adalah lanjutan daripada ayat sebelumnya. Dua orang pemuda Yahudi berani mengatakan bahawa Nabi Ibrahim a.s. adalah Yahudi tetapi apabila Nabi SAW mengajak mereka untuk mencari keterangan di dalam kitab Taurat, mereka enggan.Bahkan mereka berpaling dan membelakangkan Baginda. Membuktikan bahawa mereka telah berdusta. Mengapa mereka berani berdusta dengan perkara itu? Ini kerana mereka percaya bahawa orang Yahudi itu tidak bersalah jika mereka berdusta untuk mempertahankan diri.Kerana jika mereka masuk neraka, mereka akan masuk hanya sebentar dan akan dikeluarkan semula dari neraka kerana mereka orang Yahudi.Kerana orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang utama di sisi Allah SWT, bukan seperti bangsa-bangsa dan suku-suku lain kerana mereka dianggap hina dan berada di bawah mereka.

     Sedangkan mereka adalah “kaum pilihan Allah SWT.”Firman Allah SWT yang bermaksud: Yang demikian ialah disebabkan mereka (mendakwa dengan) berkata: “Kami tidak sekali-kali akan disentuh oleh api neraka melainkan beberapa hari sahaja yang boleh dihitung”. Mereka (sebenarnya) telah diperdayakan dalam agama mereka, oleh dakwaan-dakwaan dusta yang mereka telah ada-adakan. Allah Swt. menyangkal sikap orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berpegang kepada apa yang mereka dugakan di dalam kedua kitab mereka, yaitu Taurat dan Injil. Apabila mereka diseru untuk mengambil ketetapan dari apa yang terkandung di dalam kedua kitab mereka, yaitu taat kepada Allah dalam semua perintah-Nya yang ditujukan kepada mereka, yang intinya berisikan agar mereka mengikuti Nabi Muhammad Saw., maka mereka berpaling seraya membelakangi kebenaran yang terkandung di dalam kedua kitabnya. Hal ini merupakan celaan yang sangat pedas dan menjadikan mereka sebagai figur dari orang-orang yang menentang dan sangat ingkar. Kemudian Allah Swt. berfirman: ذلِكَ بِأَنَّهُمْ قالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّاماً مَعْدُوداتٍ Hal itu adalah karena mereka mengakui, "Kami tidak akan disentuh oleh api neraka selain beberapa hari yang dapat dihitung."

     (Ali Imran: 24) Yakni sesungguhnya yang mendorong dan membuat mereka berani menentang perkara yang hak (kebenaran) ialah karena ulah buat-buatan mereka sendiri, yaitu kebohongan-kebohongan mereka terhadap Allah yang mereka dakwakan untuk diri mereka sendiri, yaitu bahwa mereka hanya disiksa di dalam neraka selama tujuh hari; setiap seribu tahun dunia hanya satu hari. Tafsir hal ini dikemukakan di dalam surat Al-Baqarah. Kemudian Allah Swt. berfirman: وَغَرَّهُمْ فِي دِينِهِمْ مَا كانُوا يَفْتَرُونَ Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan. (Ali Imran: 24) Yakni mengukuhkan mereka untuk berpegang kepada agama mereka yang batil, hal-hal yang memperdayakan diri mereka sendiri, yaitu dugaan mereka yang menyatakan bahwa api neraka tidak akan menyentuh mereka karena dosa-dosa mereka kecuali hanya beberapa hari yang dapat dihitung. Padahal mereka sendirilah yang membuat-buat kedustaan ini terhadap diri mereka, sedangkan Allah tidak pernah menurunkan suatu bukti pun yang mengukuhkan dugaan mereka itu. Allah Swt. berfirman mengancam dan memperingatkan mereka: فَكَيْفَ إِذا جَمَعْناهُمْ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya

   . (Ali Imran: 25) Yaitu bagaimanakah keadaan mereka nanti, sedangkan mereka telah berbuat kedustaan terhadap Allah, mendustakan rasul-rasul-Nya, dan membunuh nabi-nabi-Nya serta para ulama kaumnya yang ber-amar ma'ruf dan nahi munkar. Allah Swt. akan meminta pertanggungjawaban dari mereka atas semuanya itu, dan Dia pasti akan menghukum dan memberikan balasannya kepada mereka. Karena itulah Allah Swt. dalam ayat ini berfirman: {فَكَيْفَ إِذَا جَمَعْنَاهُمْ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ} Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. (Ali Imran: 25) Maksudnya, kejadian hari kiamat tidak diragukan lagi dan pasti akan terjadi. {وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ} Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya, sedangkan mereka tidak dianiaya. (Ali Imran: 25) Tidak tahukah kamu, Muhammad, ihwal orang-orang yang diberi nasib berupa kitab suci dan pengetahuan, lalu diajak berpegang teguh kepada al-Qur'ân untuk membedakan antara yang benar dan yang palsu atas perselisihan yang terjadi di antara mereka, kemudian tidak bersegera menyambut ajakan itu? Bahkan sekelompok mereka menolak dan berpaling dari ajaran itu?

Khamis, 8 Februari 2018

AYAT 22 ali imran

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 22



    Ula_'ikal lazina habitat a'ma_luhum fid dunya_ wal a_khirah(ti),
wa ma_ lahum min na_sirin(a). 3:23
(22) Bagaimana hal mereka (kelak) apabila kami kumpulkan mereka pada hari yang tidak diragu-ragukan lagi padanya, dan disempurnakan bagi tiap tiap seorang apa yang apa apa yg di kerjakanya dan apa yang mereka usahakan, padahal mereka tidak akan dianiaya ?

dari ayat 22 ali-imran ini allah menjelaskan bbahawa apa apa amalan yang di lakukan seorang insan tampa ilmu tampa guru tampa tampa keiklasan hanya akan mengundang kesia siaanya sebbagai mana perbuatan perbuatan yang pada azalinya nampak ibbadah namun hakikat nya adalah perbuatan yang sia sia ,.,. jelas rasulullah saw jelaskan ;

                  “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al Furqan : 23) Diriwayatkan dari Ummul-Mu’minin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah x ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Barangsiapa yang menciptakan hal baru dalam perkara (ibadah) yang tidak ada dasar hukumnya, maka ia ditolak”. (HR al Bukhari dan Muslim). Dalam hadits riwayat Muslim: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa melakukan amalan, yang tidak didasari perintah kami, maka ia ditolak”.
                             BIOGRAFI PERAWI HADITS Beliau adalah Ummul-Mu’minin, ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu anhuma, isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dinikahi di Mekkah pada saat berusia enam tahun. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup bersamanya di Madinah ketika ia berusia sembilan tahun, yaitu pada tahun kedua Hijriyyah dan beliau tidak menikah dengan gadis selainnya. Dia adalah isteri yang paling dicintai di antara isteri-isteri beliau yang lainnya. Dia adalah wanita yang dibebaskan oleh Allah dari berita bohong yang menimpanya dengan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

                    Dia banyak menghafal hadits, dan termasuk wanita yang paling pandai. Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepadanya, bahwa Malaikat Jibril Alaihissallam menitip salam kepadanya. Pada saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, ia berusia delapan belas tahun. Dikabarkan bahwa ia adalah wanita termulia dan akan menjadi isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga. ‘Aisyah wafat pada tahun 58 Hijriyyah dalam usia 67 tahun, dan dikuburkan di pemakaman Baqi’.[1] TAKHRIJUL-HADITS 1. Shahih al Bukhari, kitab ash-Shulhi, bab Idzas Tholahu ‘ala Shulhi Jaurin, no. 2550. 2. Shahih Muslim, kitab al Aqhdiyah, bab Naqdhil-Ahkamil Bathilah wa Raddi Muhdatsatil-Umur (no. 1718 (17, 18). 3. Sunan Abi Dawud, kitab as-Sunnah, bab Fi Luzumis-Sunnah, no. 4606. 4. Sunan Ibni Majah dalam al Muqaddimah, no. 14. 5. Musnad Imam Ahmad (VI/73, 146, 180, 240, 256, 270). 6. Shahih Ibni Hibban, no. 26 dan 27. AHAMMIYATUL HADITS (URGENSI HADITS) Imam an-Nawawi (wafat tahun 676 H) t berkata,”Hadits ini perlu dihafal dan dijadikan dalil untuk menolak segala kemunkaran.

     ” Ibnu Daqiqil-‘Id (wafat tahun 702 H) rahimahullah berkata,”Hadits ini adalah salah satu pedoman penting dalam agama Islam, yang merupakan jawami’ul kalim (kalimat yang pendek namun penuh arti) yang dikaruniakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Hadits ini dengan tegas menolak setiap perkara bid’ah, dan setiap perkara (dalam urusan agama) yang direkayasa. Sebagian ahli ushul fiqih menjadikan hadits ini sebagai dasar kaidah, bahwa setiap yang terlarang dinyatakan sebagai hal yang merusak.”[2] Ibnu Rajab al Hanbali (wafat tahun 795 H) rahimahullah berkata,”Hadits ini adalah salah satu prinsip dasar yang agung dari prinsip-prinsip dasar Islam, dan menjadi barometer dari setiap amal perbuatan yang zhahir (terlihat). Sebagaimana hadits,’Innamal-a’malu binniyat…(sesungguhnya seluruh amal perbuatan tergantung dengan niatnya…)’. merupakan barometer dari setiap perbuatan dari segi batin (niat)”. Sesungguhnya setiap amal perbuatan yang tidak ditujukan untuk mencari ridha Allah, maka amal tersebut tidak berpahala. Demikian pula halnya dengan segala amal perbuatan yang tidak atas dasar perintah Allah dan Rasul-Nya juga tertolak dari pelakunya. Siapa saja yang menciptakan hal-hal baru dalam agama yang tidak diizinkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka bukanlah termasuk perkara agama sedikit pun. [3]
         Al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqalani rahimahullah berkata,”Hadits ini termasuk bagian dari prinsip-prinsip dasar Islam dan merupakan satu kaidah dari kaidah-kaidah Islam.”[4] FIQHUL HADITS (KANDUNGAN HADITS) 1. Pelaksanaan Syari’at Islam Harus Dilakukan Dengan Cara Ittiba’ (Mengikuti), Bukan Ibtida’ (Mengada-ngada). Melalui hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga kemurnian Islam dari tangan orang-orang yang melampaui batas. Hadits ini merupakan jawami’ul kalim (kalimat singkat namun penuh makna), yang mengacu pada berbagai nash al Qur`an yang menyatakan, bahwa keselamatan seseorang hanya akan diraih dengan mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , tanpa menambah ataupun mengurangi, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah: قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian semua mencintai Allah, maka ikutilah aku; tentu Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [Ali ‘Imran/3:31]. Sumber: https://almanhaj.or.id/3378-menolak-kemunkaran-dan-bidah.html

أُولئِكَ الَّذينَ حَبِطَتْ أَعْمالُهُمْ “

Itulah orang-orang yang telah percurna amal-amal mereka.”
             (pangkal ayat 22), Sehingga arang habis besi binasa, sebab amal yang berhasil adalah yang timbul dari hati yang tulus, bukan dari hati yang penuh kebencian. فِي الدُّنْيا وَ الْآخِرَةِ “Di dunia dan diakhirat.” Dalam dunia segala arnal mereka percuma, gagal dan gugur, bekasnya tidak akan ada. Kalau di dunia sudah tidak ada, niscaya di akhirat pun kosong, malahan azab siksalah yang akan mereka derita.g mereka usahakan, padahal mereka tidak akan dianiaya ? “Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya), maka dia tertolak.”

                (HR. Bukhari dan Muslim), dalam riwayat Muslim disebutkan: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ “Siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak.” Setiap perbuatan ibadah yang tidak bersandar pada dalil yang syar’i yaitu yang bersumber dari Al-Qur’an dan As Sunnah maka tertolaklah amalannya. Oleh karena itu amalan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alahi wa sallam merupakan amalan yang sangat buruk dan merupakan salah satu dosa besar.Tersebut dalam sebuah hadits Nabi Saw di Arbain Nawawi hadits ke 4, riwayat Abdullah bin Mas’ud r.a.:”Dan sungguh seseorang dari kalian akan ada yang beramal hingga dirinya berada dekat dengan surga kecuali sejengkal saja lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan taqdir) hingga dia beramal dengan amalan penghuni neraka dan ada juga seseorang yang beramal hingga dirinya berada dekat dengan neraka kecuali sejengkal saja lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan taqdir) hingga dia beramal dengan amalan penghuni surga”.
                       Syeikh Usamah Al-Azhari dalam sebuah muhadoroh berkata: Poin penting yang tersirat dalam hadits ini yang sering terlupakan oleh banyak orang adalah, perbedaan antara amal perbuatan, dan apakah amal tersebut diterima atau tidak. Dalam hadits disebutkan orang tersebut mengerjakan perbuatan ahli surga hingga saat usianya senja mendekati kematian, lalu ia mengerjakan amalan ahli neraka, dan masuk ke neraka. Apakah ia terzolimi? Sebenarnya amal perbuatannya selama itu tidak diterima. Karena ia tidak memperhatikan perbedaan antara amal yang sahih dan amal yang diterima.
                        Betapa sedikit orang yang memperhatikan “apakah amalnya diterima atau tidak”. Sebaliknya, kebanyakan hanya memperhatikan sahih tidaknya amal perbuatan. Lalu ia hanya mengerjakan amal shalih, layaknya shalat fardhu. Setelah itu ia lupa, apakah amalnya diterima Allah atau tidak. Maka tidak mustahil seorang hamba beribadah seperti itu selama 40 sampai 50 tahun tanpa tau amalnya diterima atau tidak. Tidak mustahil pula, di akhir hayatnya, ia justru mengakhirinya dengan perbuatan ahli neraka yang terhina. Nauzubillah! Dari sini, ternyata, perhatian kita terhadap syarat sebuah ibadah diterima atau tidak, jauh lebih penting ketimbang mengerjakan ibadah itu sendiri. Yaitu, sebelum beramal shalih, wajib hukumnya memperhatikan syarat diterimanya sebuah amal shalihوَ ما لَهُمْ مِنْ ناصِرينَ “Dan tidak ada bagi mereka orang-orang yang akan menolong” (ujung ayat 22). Siapa orang yang akan dapat menolong ? Kalau siksaan Tuhan telah datang ? Siapa yang akan dapat menolong kalau satu bangunan telah diruntuh sendiri oleh Tuhan ? Siapa yang akan dapat membela , orang yang jatuh lantaran salahnya sendiri ? Seorang sopir mobil mengantuk. Di suatu tikungan jalan ada tertulis: “Awas kalau hujan licin,” Tetapi tidak diperdulikannya tulisan peringatan itu, mobil dijalankannya juga dengan acuh tak acuh, tiba-tiba di tempat yang menurun dia slip, sehingga jatuh londong-pondong masuk lurah yang dalam. Siapa yang akan dapat menolong pada waktu itu sehingga dia tidak jadi jatuh ?

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN