Sabtu, 10 Februari 2018

ALI-IMRAN 26-27


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK ,
 Tafsir Surat Ali Imran, ayat 26-27 .
 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 26,27
 Qulilla_humma ma_likal mulki tu'til mulka man tasya_'u wa tanzi'ul mulka mimman tasya_'(u), wa tu'izzu man tasya_'u wa tuzillu man tasya_'(u),biyadikal khair(u), innaka 'ala_ kulli syai'in qadir(un).Tu_lijul laila fin naha_ri wa tu_lijun naha_ra fil laili wa tukhrijul hayya minal mayyiti wa tukhrijul mayyita minal hayyi wa tarzuqu man tasya_'u bi gairi hisa_b(in).

 {قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنزعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (26) تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ (27) } “

Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dizhalimi. Katakanlah: ‘Ya Allah, Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan prang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. 3:26) Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup.

Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).’” (QS. 3:27) Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Zakaria Al-'Ala-i, telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Hasan ibnu Farqad, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Umar ibnu Malik, dari Abul Jauza, dari Ibnu Abbas r.a., dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Asma Allah yang teragung (Ismul A'zam) bila diucapkan dalam doa, niscaya diperkenankan, berada dalam ayat ini bagian dari surat Ali Imran, yaitu firman-Nya: "Kalakanlah, 'Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya engkau Mahakuasa atas segala sesuatu' (Ali Imran: 26)." Allah berfirman: “Wahai Muhammad, katakanlah” dengan mengagungkan Allah swt., mensyukuri, berserah diri, dan bertawakkal kepada-Nya, AllaaHumma maalikul mulki (“Ya Allah Yang mempunyai kerajaan.”) Maksudnya, hanya milik-Mu seluruh kerajaan. Tu’til mulka man tasyaa-u wa tanzi’ul mulka mim man tasyaa-u wa ta’izzu man tasyaa-u wa tadzillu man tasyaa-u (“Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki.”) Maksudnya, Engkaulah Mahapemberi lagi Mahapenahan. Dan Engkaulah yang apa bila berkehendak pasti terjadi, dan apabila tidak berkehendak pasti tidak akan terjadi. Dalam ayat tersebut terkandung peringatan sekaligus bimbingan bagi Rasulullah dan umat ini untuk mensyukuri nikmat Allah Ta’ala, karena Dia telah mengalihkan kenabian dari Bani Israil kepada Nabi yang berkebangsaan Arab, bersuku Quraisy, yang ummi yang berasal dari Makkah, dan penutup bagi seluruh Rasul secara mutlak, serta Rasul Allah yang diutus kepada seluruh umat manusia dan jin. Allah telah mengumpulkan dalam dirinya berbagai kebaikan dari para Rasul sebelumnya serta memberikan keistimewaan yang tidak diberikan-Nya kepada seorang Nabi dan Rasul pun berupa pengetahuan mengenai Allah, syari’at, dan beberapa hal yang ghaib; baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Selain itu, Allah menyingkapkan kepada beliau hakikat alam akhirat, dan menyebarkan umatnya ke seluruh belahan bumi di timur dan barat. Juga memenangkan agama dan syari’atnya di atas semua agama dan ajaran-ajaran lainnya. Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepadanya sampai hari Kiamat kelak, selama malam dan siang masih tetap silih berganti. Oleh karena itu, Allah berfirman, qul AllaaHumma maalikul mulki (“Katakanlah, ‘Ya Allah Yang mempunyai kerajaan.’”) Maksudnya, Engkaulah yang mengendalikan semua ciptaan-Mu dan yang berbuat apa saja yang Engkau inginkan. Tuulijul laila fin naHaari wa tuulijun naHaara fil laili (“Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam”) maksudnya, Engkau mengambil waktu dari yang berwaktu panjang, lalu menambahkannya pada yang berwaktu pendek sehingga kedua waktu itu (siang dan malam) menjadi seimbang. Kemudian Engkau mengambil waktu dari yang satu, lalu dimasukkan kepada yang lain, maka keduanya pun (siang dan malam) berbeda panjang pendeknya, kemudian berimbang lagi. Demikian seterusnya sehingga genap satu tahun dengan melewati musim semi dan musim panas, musim gugur dan musim dingin. Firman-Nya, wa tukhrijul hayya minal mayyiti wa tukhrijul mayyita minal hayyi (“Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dan yang hidup.”) Yakni, Engkau keluarkan tanaman dari biji-bijian dan biji-bijian dari tanaman, pohon kurma dari bijinya dan biji kurma dari pohonnya, orang mukmin dari orang kafir, orang kafir dari orang mukmin, ayam dari telur dan telur dari ayam, dan lain sebagainya yang serupa dengan itu. Wa tarzuqu man tasyaa-u bighairi hisaab (“Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab [batas].”) Maksudnya, Engkau berikan kekayaan kepada orang yang Engkau kehendaki dalam jumlah yang tidak dihitung, serta menahannya dari orang lain, karena pada yang demikian itu mengandung hikmah, keinginan dan kehendak(Mu). Di dalam ayat ini terkandung isyarat dan bimbingan yang menganjurkan untuk mensyukuri nikmat Allah Swt., ditujukan kepada Rasul-Nya dan umatnya. Karena Allah Swt. mengalihkan kenabian dari kaum Bani Israil kepada nabi dari kalangan bangsa Arab, yaitu dari keturunan kabilah Quraisy yang ummi dari Mekah sebagai penutup semua nabi, serta sebagai utusan Allah kepada segenap manusia dan jin. Allah Swt. telah menghimpun di dalam dirinya semua kebaikan yang ada pada sebelumnya, dan menganugerahkan kepadanya beberapa khususiyat yang belum pernah Allah berikan kepada seorang pun dari kalangan para nabi dan para rasul sebelumnya. Yang dimaksud ialah dalam hal pengetahuannya mengenai Allah dan syariat yang diturunkan kepadanya, pengetahuannya tentang hal-hal yang gaib di masa lampau dan masa mendatang. Allah telah memperlihatkan kepadanya banyak hakikat akhirat, umatnya menyebar ke segenap pelosok dunia dari timur sampai ke barat, dan agama serta syariatnya ditampakkan di atas semua agama dan syariat yang lain. Maka semoga Allah melimpahkan salawat dan salam kepadanya untuk selama-lamanya sampai hari pembalasan, selama malam dan siang hari masih silih berganti. Karena itulah Allah Swt. mengatakan dalam firman-Nya: Katakanlah, "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan." (Ali Imran: 26), hingga akhir ayat. Yakni Engkaulah Yang mengatur makhluk-Mu, Yang Maha Melakukan semua apa yang Engkau kehendaki. Sebagaimana Allah menyanggah orang-orang yang mengakui dirinya dapat mengatur urusan Allah, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya: وَقالُوا لَوْلا نُزِّلَ هذَا الْقُرْآنُ عَلى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ Dan mereka berkata, "Mengapa Al-Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Taif) ini? (Az-Zukhruf: 31) Allah berfirman, menyanggah ucapan mereka itu, melalui ayat berikut: أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? (Az-Zukhruf: 32), hingga akhir ayat. Dengan kata lain, Kamilah yang ber-tasarruf dalam semua ciptaan Kami menurut apa yang Kami kehendaki, tanpa ada seorang pun yang mencegah atau menolak Kami, dan bagi Kamilah hikmah yang sempurna serta hujah yang benar dalam hal tersebut. Demikianlah Allah menganugerahkan kenabian kepada siapa yang dikehendaki-Nya, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya: اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسالَتَهُ Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. (Al-An'am: 124) Allah Swt. telah berfirman: انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنا بَعْضَهُمْ عَلى بَعْضٍ Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). (Al-Isra: 21), hingga akhir ayat. Al-Hafiz ibnu Asakir meriwayatkan di dalam riwayat hidup Ishaq ibnu Ahmad bagian dari kitab tarikh tentang Khalifah Al-Mamun, bahwa ia pernah melihat pada salah satu istana di negeri Rumawi suatu tulisan memakai bahasa Himyariyah. Ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, ternyata artinya seperti berikut: "Dengan nama Allah, tidak sekali-kali malam dan siang silih berganti, dan tidak pula bintang-bintang beredar pada garis edarnya, melainkan karena berpindahnya nikmat (karunia) dari suatu kerajaan yang telah sirna kekuasaannya ke kerajaan yang lain. Sedangkan kerajaan Tuhan yang memiliki Arasy tetap abadi, tidak akan hilang dan tidak ada yang menyekutuinya."

Jumaat, 9 Februari 2018

23-25 ali-imran

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
 surah ali imran ayat 23-25

 {أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُدْعَوْنَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ وَهُمْ مُعْرِضُونَ (23) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلا أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ وَغَرَّهُمْ فِي دِينِهِمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ (24) فَكَيْفَ إِذَا جَمَعْنَاهُمْ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ (25) }

 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 23 Alam tara ilal lazina u_tu_ nasibam minal kita_bi yad'u_na ila_ kita_billa_hi liyahkuma bainahum summa yatawalla_ fariqum minhum wa hum mu'ridu_n(a).Za_lika bi annahum qa_lu_ lan tamassanan na_ru illa_ ayya_mam ma'du_da_t(in), wa garrahum fi dinihim ma_ ka_nu_ yaftaru_n(a).Fa kaifa iza_ jama'na_hum li yaumil la_ raiba fih(i), wa wuffiyat kullu nafsim ma_ kasabat wa hum la_ yuzlamu_n(a). Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran).

  Hal itu adalah karena mereka mengaku, "Kami tidak akan disentuh oleh api neraka selain beberapa hari yang dapat dihitung." Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan. Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya, sedangkan mereka tidak dianiaya. Ayat 23-25 kembali menceritakan sikap dan perilaku Ahlul Kitab. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa mereka tidak mau berhukum kepada Kitab Allah, bahkan meninggalkannya.
                Hal itu ter-jadi karena mereka berpendapat bahwa meninggalkan Kitab Allah itu hanya akan menyebabkan masuk neraka beberapa hari saja. Pemahaman tersebut disebabkan mereka mengada-ada tentang agama. Mereka lupa bahwa nanti pada hari kiamat akan dikumpulkan dan akan dihitung dengan sempurna apa saja yang mereka lakukan, baik ataupun buruk.Ayat ini adalah lanjutan daripada ayat sebelumnya. Dua orang pemuda Yahudi berani mengatakan bahawa Nabi Ibrahim a.s. adalah Yahudi tetapi apabila Nabi SAW mengajak mereka untuk mencari keterangan di dalam kitab Taurat, mereka enggan.Bahkan mereka berpaling dan membelakangkan Baginda. Membuktikan bahawa mereka telah berdusta. Mengapa mereka berani berdusta dengan perkara itu? Ini kerana mereka percaya bahawa orang Yahudi itu tidak bersalah jika mereka berdusta untuk mempertahankan diri.Kerana jika mereka masuk neraka, mereka akan masuk hanya sebentar dan akan dikeluarkan semula dari neraka kerana mereka orang Yahudi.Kerana orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang utama di sisi Allah SWT, bukan seperti bangsa-bangsa dan suku-suku lain kerana mereka dianggap hina dan berada di bawah mereka.

     Sedangkan mereka adalah “kaum pilihan Allah SWT.”Firman Allah SWT yang bermaksud: Yang demikian ialah disebabkan mereka (mendakwa dengan) berkata: “Kami tidak sekali-kali akan disentuh oleh api neraka melainkan beberapa hari sahaja yang boleh dihitung”. Mereka (sebenarnya) telah diperdayakan dalam agama mereka, oleh dakwaan-dakwaan dusta yang mereka telah ada-adakan. Allah Swt. menyangkal sikap orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berpegang kepada apa yang mereka dugakan di dalam kedua kitab mereka, yaitu Taurat dan Injil. Apabila mereka diseru untuk mengambil ketetapan dari apa yang terkandung di dalam kedua kitab mereka, yaitu taat kepada Allah dalam semua perintah-Nya yang ditujukan kepada mereka, yang intinya berisikan agar mereka mengikuti Nabi Muhammad Saw., maka mereka berpaling seraya membelakangi kebenaran yang terkandung di dalam kedua kitabnya. Hal ini merupakan celaan yang sangat pedas dan menjadikan mereka sebagai figur dari orang-orang yang menentang dan sangat ingkar. Kemudian Allah Swt. berfirman: ذلِكَ بِأَنَّهُمْ قالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّاماً مَعْدُوداتٍ Hal itu adalah karena mereka mengakui, "Kami tidak akan disentuh oleh api neraka selain beberapa hari yang dapat dihitung."

     (Ali Imran: 24) Yakni sesungguhnya yang mendorong dan membuat mereka berani menentang perkara yang hak (kebenaran) ialah karena ulah buat-buatan mereka sendiri, yaitu kebohongan-kebohongan mereka terhadap Allah yang mereka dakwakan untuk diri mereka sendiri, yaitu bahwa mereka hanya disiksa di dalam neraka selama tujuh hari; setiap seribu tahun dunia hanya satu hari. Tafsir hal ini dikemukakan di dalam surat Al-Baqarah. Kemudian Allah Swt. berfirman: وَغَرَّهُمْ فِي دِينِهِمْ مَا كانُوا يَفْتَرُونَ Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan. (Ali Imran: 24) Yakni mengukuhkan mereka untuk berpegang kepada agama mereka yang batil, hal-hal yang memperdayakan diri mereka sendiri, yaitu dugaan mereka yang menyatakan bahwa api neraka tidak akan menyentuh mereka karena dosa-dosa mereka kecuali hanya beberapa hari yang dapat dihitung. Padahal mereka sendirilah yang membuat-buat kedustaan ini terhadap diri mereka, sedangkan Allah tidak pernah menurunkan suatu bukti pun yang mengukuhkan dugaan mereka itu. Allah Swt. berfirman mengancam dan memperingatkan mereka: فَكَيْفَ إِذا جَمَعْناهُمْ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya

   . (Ali Imran: 25) Yaitu bagaimanakah keadaan mereka nanti, sedangkan mereka telah berbuat kedustaan terhadap Allah, mendustakan rasul-rasul-Nya, dan membunuh nabi-nabi-Nya serta para ulama kaumnya yang ber-amar ma'ruf dan nahi munkar. Allah Swt. akan meminta pertanggungjawaban dari mereka atas semuanya itu, dan Dia pasti akan menghukum dan memberikan balasannya kepada mereka. Karena itulah Allah Swt. dalam ayat ini berfirman: {فَكَيْفَ إِذَا جَمَعْنَاهُمْ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ} Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. (Ali Imran: 25) Maksudnya, kejadian hari kiamat tidak diragukan lagi dan pasti akan terjadi. {وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ} Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya, sedangkan mereka tidak dianiaya. (Ali Imran: 25) Tidak tahukah kamu, Muhammad, ihwal orang-orang yang diberi nasib berupa kitab suci dan pengetahuan, lalu diajak berpegang teguh kepada al-Qur'ân untuk membedakan antara yang benar dan yang palsu atas perselisihan yang terjadi di antara mereka, kemudian tidak bersegera menyambut ajakan itu? Bahkan sekelompok mereka menolak dan berpaling dari ajaran itu?

Khamis, 8 Februari 2018

AYAT 22 ali imran

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 22



    Ula_'ikal lazina habitat a'ma_luhum fid dunya_ wal a_khirah(ti),
wa ma_ lahum min na_sirin(a). 3:23
(22) Bagaimana hal mereka (kelak) apabila kami kumpulkan mereka pada hari yang tidak diragu-ragukan lagi padanya, dan disempurnakan bagi tiap tiap seorang apa yang apa apa yg di kerjakanya dan apa yang mereka usahakan, padahal mereka tidak akan dianiaya ?

dari ayat 22 ali-imran ini allah menjelaskan bbahawa apa apa amalan yang di lakukan seorang insan tampa ilmu tampa guru tampa tampa keiklasan hanya akan mengundang kesia siaanya sebbagai mana perbuatan perbuatan yang pada azalinya nampak ibbadah namun hakikat nya adalah perbuatan yang sia sia ,.,. jelas rasulullah saw jelaskan ;

                  “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al Furqan : 23) Diriwayatkan dari Ummul-Mu’minin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah x ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Barangsiapa yang menciptakan hal baru dalam perkara (ibadah) yang tidak ada dasar hukumnya, maka ia ditolak”. (HR al Bukhari dan Muslim). Dalam hadits riwayat Muslim: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa melakukan amalan, yang tidak didasari perintah kami, maka ia ditolak”.
                             BIOGRAFI PERAWI HADITS Beliau adalah Ummul-Mu’minin, ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu anhuma, isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dinikahi di Mekkah pada saat berusia enam tahun. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup bersamanya di Madinah ketika ia berusia sembilan tahun, yaitu pada tahun kedua Hijriyyah dan beliau tidak menikah dengan gadis selainnya. Dia adalah isteri yang paling dicintai di antara isteri-isteri beliau yang lainnya. Dia adalah wanita yang dibebaskan oleh Allah dari berita bohong yang menimpanya dengan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

                    Dia banyak menghafal hadits, dan termasuk wanita yang paling pandai. Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepadanya, bahwa Malaikat Jibril Alaihissallam menitip salam kepadanya. Pada saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, ia berusia delapan belas tahun. Dikabarkan bahwa ia adalah wanita termulia dan akan menjadi isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga. ‘Aisyah wafat pada tahun 58 Hijriyyah dalam usia 67 tahun, dan dikuburkan di pemakaman Baqi’.[1] TAKHRIJUL-HADITS 1. Shahih al Bukhari, kitab ash-Shulhi, bab Idzas Tholahu ‘ala Shulhi Jaurin, no. 2550. 2. Shahih Muslim, kitab al Aqhdiyah, bab Naqdhil-Ahkamil Bathilah wa Raddi Muhdatsatil-Umur (no. 1718 (17, 18). 3. Sunan Abi Dawud, kitab as-Sunnah, bab Fi Luzumis-Sunnah, no. 4606. 4. Sunan Ibni Majah dalam al Muqaddimah, no. 14. 5. Musnad Imam Ahmad (VI/73, 146, 180, 240, 256, 270). 6. Shahih Ibni Hibban, no. 26 dan 27. AHAMMIYATUL HADITS (URGENSI HADITS) Imam an-Nawawi (wafat tahun 676 H) t berkata,”Hadits ini perlu dihafal dan dijadikan dalil untuk menolak segala kemunkaran.

     ” Ibnu Daqiqil-‘Id (wafat tahun 702 H) rahimahullah berkata,”Hadits ini adalah salah satu pedoman penting dalam agama Islam, yang merupakan jawami’ul kalim (kalimat yang pendek namun penuh arti) yang dikaruniakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Hadits ini dengan tegas menolak setiap perkara bid’ah, dan setiap perkara (dalam urusan agama) yang direkayasa. Sebagian ahli ushul fiqih menjadikan hadits ini sebagai dasar kaidah, bahwa setiap yang terlarang dinyatakan sebagai hal yang merusak.”[2] Ibnu Rajab al Hanbali (wafat tahun 795 H) rahimahullah berkata,”Hadits ini adalah salah satu prinsip dasar yang agung dari prinsip-prinsip dasar Islam, dan menjadi barometer dari setiap amal perbuatan yang zhahir (terlihat). Sebagaimana hadits,’Innamal-a’malu binniyat…(sesungguhnya seluruh amal perbuatan tergantung dengan niatnya…)’. merupakan barometer dari setiap perbuatan dari segi batin (niat)”. Sesungguhnya setiap amal perbuatan yang tidak ditujukan untuk mencari ridha Allah, maka amal tersebut tidak berpahala. Demikian pula halnya dengan segala amal perbuatan yang tidak atas dasar perintah Allah dan Rasul-Nya juga tertolak dari pelakunya. Siapa saja yang menciptakan hal-hal baru dalam agama yang tidak diizinkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka bukanlah termasuk perkara agama sedikit pun. [3]
         Al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqalani rahimahullah berkata,”Hadits ini termasuk bagian dari prinsip-prinsip dasar Islam dan merupakan satu kaidah dari kaidah-kaidah Islam.”[4] FIQHUL HADITS (KANDUNGAN HADITS) 1. Pelaksanaan Syari’at Islam Harus Dilakukan Dengan Cara Ittiba’ (Mengikuti), Bukan Ibtida’ (Mengada-ngada). Melalui hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga kemurnian Islam dari tangan orang-orang yang melampaui batas. Hadits ini merupakan jawami’ul kalim (kalimat singkat namun penuh makna), yang mengacu pada berbagai nash al Qur`an yang menyatakan, bahwa keselamatan seseorang hanya akan diraih dengan mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , tanpa menambah ataupun mengurangi, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah: قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian semua mencintai Allah, maka ikutilah aku; tentu Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [Ali ‘Imran/3:31]. Sumber: https://almanhaj.or.id/3378-menolak-kemunkaran-dan-bidah.html

أُولئِكَ الَّذينَ حَبِطَتْ أَعْمالُهُمْ “

Itulah orang-orang yang telah percurna amal-amal mereka.”
             (pangkal ayat 22), Sehingga arang habis besi binasa, sebab amal yang berhasil adalah yang timbul dari hati yang tulus, bukan dari hati yang penuh kebencian. فِي الدُّنْيا وَ الْآخِرَةِ “Di dunia dan diakhirat.” Dalam dunia segala arnal mereka percuma, gagal dan gugur, bekasnya tidak akan ada. Kalau di dunia sudah tidak ada, niscaya di akhirat pun kosong, malahan azab siksalah yang akan mereka derita.g mereka usahakan, padahal mereka tidak akan dianiaya ? “Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya), maka dia tertolak.”

                (HR. Bukhari dan Muslim), dalam riwayat Muslim disebutkan: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ “Siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak.” Setiap perbuatan ibadah yang tidak bersandar pada dalil yang syar’i yaitu yang bersumber dari Al-Qur’an dan As Sunnah maka tertolaklah amalannya. Oleh karena itu amalan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alahi wa sallam merupakan amalan yang sangat buruk dan merupakan salah satu dosa besar.Tersebut dalam sebuah hadits Nabi Saw di Arbain Nawawi hadits ke 4, riwayat Abdullah bin Mas’ud r.a.:”Dan sungguh seseorang dari kalian akan ada yang beramal hingga dirinya berada dekat dengan surga kecuali sejengkal saja lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan taqdir) hingga dia beramal dengan amalan penghuni neraka dan ada juga seseorang yang beramal hingga dirinya berada dekat dengan neraka kecuali sejengkal saja lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan taqdir) hingga dia beramal dengan amalan penghuni surga”.
                       Syeikh Usamah Al-Azhari dalam sebuah muhadoroh berkata: Poin penting yang tersirat dalam hadits ini yang sering terlupakan oleh banyak orang adalah, perbedaan antara amal perbuatan, dan apakah amal tersebut diterima atau tidak. Dalam hadits disebutkan orang tersebut mengerjakan perbuatan ahli surga hingga saat usianya senja mendekati kematian, lalu ia mengerjakan amalan ahli neraka, dan masuk ke neraka. Apakah ia terzolimi? Sebenarnya amal perbuatannya selama itu tidak diterima. Karena ia tidak memperhatikan perbedaan antara amal yang sahih dan amal yang diterima.
                        Betapa sedikit orang yang memperhatikan “apakah amalnya diterima atau tidak”. Sebaliknya, kebanyakan hanya memperhatikan sahih tidaknya amal perbuatan. Lalu ia hanya mengerjakan amal shalih, layaknya shalat fardhu. Setelah itu ia lupa, apakah amalnya diterima Allah atau tidak. Maka tidak mustahil seorang hamba beribadah seperti itu selama 40 sampai 50 tahun tanpa tau amalnya diterima atau tidak. Tidak mustahil pula, di akhir hayatnya, ia justru mengakhirinya dengan perbuatan ahli neraka yang terhina. Nauzubillah! Dari sini, ternyata, perhatian kita terhadap syarat sebuah ibadah diterima atau tidak, jauh lebih penting ketimbang mengerjakan ibadah itu sendiri. Yaitu, sebelum beramal shalih, wajib hukumnya memperhatikan syarat diterimanya sebuah amal shalihوَ ما لَهُمْ مِنْ ناصِرينَ “Dan tidak ada bagi mereka orang-orang yang akan menolong” (ujung ayat 22). Siapa orang yang akan dapat menolong ? Kalau siksaan Tuhan telah datang ? Siapa yang akan dapat menolong kalau satu bangunan telah diruntuh sendiri oleh Tuhan ? Siapa yang akan dapat membela , orang yang jatuh lantaran salahnya sendiri ? Seorang sopir mobil mengantuk. Di suatu tikungan jalan ada tertulis: “Awas kalau hujan licin,” Tetapi tidak diperdulikannya tulisan peringatan itu, mobil dijalankannya juga dengan acuh tak acuh, tiba-tiba di tempat yang menurun dia slip, sehingga jatuh londong-pondong masuk lurah yang dalam. Siapa yang akan dapat menolong pada waktu itu sehingga dia tidak jadi jatuh ?

Rabu, 7 Februari 2018

AYAT 21


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
surah ali-imran ayat 21 .,
pangkal ayat 21 dari surah ali imran mengisahkan pencelaan allah keatas kaum & ahli kitab karena mereka telah melakukan dosa-dosa dan hal-hal yang diharamkan disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Allah di masa lampau dan juga di masa sekarang,

 إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

 Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memamg tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yg pedih.Seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi.Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abuz Zubair Al-Hasan ibnu Ali ibnu Muslim An-Naisaburi yang tinggal di Mekah,

   telah menceritakan kepadaku Abu Hafs Umar ibnu Hafs, yakni Ibnu Sabit dan Zurarah Al-Ansari, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Hamzah, telah menceritakan kepada kami Abul Hasan maula Bani Asad, dari Makhul, dari Abu Qubaisah ibnu Zi-b Al-Khuza'i, dari Abu Ubaidali ibnul Jarrah r.a. yang menceritakan: Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah orangnya yang paling keras mendapat azab di hari kiamat nanti?" Nabi Saw. menjawab, "Seorang lelaki yang membunuh seorang nabi atau orang yang memerintahkan kepada kebajikan dan melarang kemungkaran." Kemudian Nabi Saw. membacakan firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih. (Ali Imran: 21); Setelah itu Rasulullah Saw. bersabda: Hai Abu Ubaidah, orang-orang Bani Israil telah membunuh empat puluh tiga orang nabi dalam satu saat dari permulaan siang hari, maka bangkitlah seratus tujuh puluh orang lelaki dari kalangan Bani Israil, lalu mereka melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar terhadap orang-orang yang telah membunuh para nabi, maka kaum Bani Israil membunuh semua orang yang melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar itu di penghujung siang hari itu juga; mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah Swt. (dalam ayat ini). Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Abu Ubaid Al-Wassabi yaitu Muhammad ibnu Hafs, dari Ibnu Humair, dari Abul Hasan maula Bani Asad, dari Makhul dengan lafaz yang sama. Dari sahabat Ibnu Mas'ud, disebutkan bahwa orang-orang Bani Israil pernah membunuh tiga ratus orang nabi pada permulaan siang hari, lalu mereka mendirikan pasar sayur-mayur mereka pada penghujung siang harinya. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim. Karena itulah ketika mereka (Bani Israil) menentang perkara yang hak dan bersikap angkuh terhadap manusia, maka Allah membalikkan mereka menjadi hina dan nista dalam kehidupan di dunia ini, dan kelak mereka akan mendapat siksa yang menghinakan di hari akhirat. Yakni orang-orang yang beramal ma'ruf dan bernahi munkar, yang pada hakikatnya adalah berbuat ihsan kepada orang itu serta menasehatinya. Namun malah dibalas dengan perbuatan buruk. dari ayat ini allah inggin men jelaskan bahawa setiap perbuatan mungkar akan ada balasan nya di akirat kelak baik ia nya yahudi atau nasrani , yang mana membunuh dan mengubah setiap pangkal ayat ayat allah azawajalla lalu kitab kitab yang asal dan asli di buang dan hanya ayat ayat yang membenarkan mereka melakukan perbuatan perbuatan mungkar dan keji di sematkan dalam kitab kitab mereka karangkan ,.,.., (Sesungguhnya orang-orang yang kafir akan ayat-ayat Allah dan membunuh) pada satu qiraat yuqatiluuna yang berarti memerangi (nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan membunuh orang-orang yang menyuruh berlaku adil di antara manusia) mereka ini ialah orang-orang Yahudi. Diriwayatkan bahwa mereka telah membunuh 43 orang nabi kemudian mereka dicegah oleh 170 orang pengikut-pengikut nabi tersebut namun akhirnya mereka pun dibunuh oleh mereka pada saat yang sama (maka gembirakanlah mereka) artinya beritahukanlah mereka (akan adanya siksa yang pedih) yang menyakitkan. Menyebutkan 'gembirakanlah' adalah sebagai penghinaan bagi mereka, dan khabar 'inna' dimasuki oleh fa, karena isimnya inna yang berupa isim maushul mirip dengan syarat.إِنَّ الَّذينَ يَكْفُرُونَ بِآياتِ اللهِ " Sesungguhnya orang-orang yang kufur kepada perintah-perintah Allah,”Ini adalah celaan dari Allah terhadap Ahlul Kitab, disebabkan berbagai perbuatan haram dan dosa yang telah mereka lakukan, dalam pendustaan mereka terhadap ayat-ayat Allah baik pada masa dahulu maupun sekarang, yang disampaikan oleh para Rasul kepada mereka, karena kesombongan dan penentangan mereka terhadap para Rasul itu serta keengganan mereka menerima dan mengikuti kebenaran. Karena itu mereka membunuh para Nabi ketika menyampaikan syari’at Allah tanpa suatu sebab dan kesalahan, melainkan karena para Nabi itu mengajak mereka kepada kebenaran. tidak mau menerima kebenaran ditutupnya telinga dan hatinya , وَ يَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ “dan membunuh Nabi-nabi dengan tidak benar”, Sebagai yang kerapkali telah dilakukan oleb orang Yahudi kepada Nabi-nahi mereka sendiri. Berpuluh Nabi-nabi yang tidak mereka senangi mereka bunuh. Dan telah mereka bunuh pula Nabi Zakaria dan puteranya Nabi Yahya, bahkan mereka coba pula hendak menarik tangan pihak penguasa supaya Nabi Isa Almasih pun dibunuh, tetapi Isa Almasih dipelihara oleh Allah. Meskipun orang Yahudi yang hidup di zaman Rasulullah s.a.w. hanya keturunan yang kesekian dari nenek-moyang mereka, yang membunuh Nabi-nabi itu, namun sisa nafsu jahat itu masih ada pada mereka. Mereka telah kedapatan dua tiga kali membuat komplot hendak membunuh nabi Muhammad s.a.w. Oleh karena mereka tidak mempunyai pertahanan buat menolak seruan Nabi, sedang nafsu mereka penuh kebencian, tidak lain bagi mereka hanyalah membunuh. Itu sebabnya maka dikatakan mernbunuh dengan tidak benar. Artinya nabi-nabi itu tidak bersalah sehingga pembunahan itu tidak patut. Mereka menyangka bahwa dengan cara demikian akan tercapailah penyelesaian, sebab telah tersingkir orang yang mereka anggap hendak merubah-rubah pusaka kepercayaan mereka. وَ يَقْتُلُونَ الَّذينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ “Dan membunuh orang-orang yang menyuruhkan keadilan kepada manusia.” Yaitu ahli-ahli fikir yang berani rnenyatakan kebenaran, menyebut yang terasa, menunjukkan jalan yang adil dan membawa perubahan-perubahan berfikir kepada masyarakat, meskipun mereka bukan nabi, seperti Socrates dalam dunia filsafat , yang juga mati dihukum bunuh oleh penguasa Yunani dengan tuduhan merusak fikiran anak muda-muda dan meremehkan agama pusaka nenek-moyang, begitu pulalah yang mereka lakukan terhadap orang-orang yang mendirikan keadilan. Atau di zaman-zaman yang selanjutnya, orang-orang yang tidak senang kebiasaannya yang buruk diganggu oleh yang membawa perubahan-perubahan fikiran kepada kemajuan, latu mereka main bunuh.

Selasa, 6 Februari 2018

ayat 20

  1. TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
  2. SURAH ALI IMRAN AYAT 20


Fa in ha_jju_ka fa qul aslamtu wajhiya lilla_hi wa manittaba'an(i), wa qul lillazina u_tul kita_ba wal ummiyyina a'aslamtum, fa in aslamu_ fa qadihtadau, wa in tawallau fa innama_ 'alaikal bala_g(u), walla_hu basirum bil'iba_d(i).


فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ ۗ وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ ۚ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

   Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku". Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: "Apakah kamu (mau) masuk Islam". Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. Dalam kata-kata ini terdapat ta'yis (menjadikan putus asa) orang-orang yang coba-coba memurtadkan kita dari agama Islam dengan perdebatan yang dilakukannya dan menguatkan agama ketika datang syubhat.Abdurrazzaq pernah meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada seorang pun dari umat ini yang mendengar tentang diriku, baik Yahudi maupun Nasrani, lalu dia meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada apa yang aku diutus dengannya (Islam), melainkan ia termasuk penghuni Neraka.” (HR. Muslim) Sedangkan Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas: “Bahwa ada seorang anak Yahudi yang biasa mengambilkan air wudhu untuk Rasulullah dan membawakan sandal beliau. Lalu anak itu jatuh sakit, maka Rasulullah menjenguknya. Beliau menemuinya, sedangkan ayahnya sedang duduk di samping kepalanya. Kemudian beliau bersabda kepadanya: `Wahai fulan, ucapkanlah “Laa ilaaHa illallaaH” Lalu anak itu melihat ke arah ayahnya dan ayahnya pun diam. Kemudian beliau mengulanginya kembali, anak itupun kembali melihat ayahnya, maka ayahnya pun mengatakan: `Taatilah Abul Qasim (Rasulullah).’ Maka anak itupun mengucapkan: `Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Allah dan engkau adalah Rasul Allah.’ Setelah itu Nabi keluar seraya berucap: `Segala puji bagi Allah yang telah mengeluarkannya dari Neraka melalui aku.’” (Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari di dalam Shahihnya). Ummi artinya ialah orang yang tidak tahu tulis baca. Menurut sebagian ahli tafsir yang dimaksud dengan Ummi ialah orang musyrik Arab yang tidak tahu tulis baca. Sedangkan menurut sebagian yang lain ialah orang-orang yang tidak diberi Al Kitab.Kemudian jika mereka mendebat kamu. (Ali Imran: 20) Yaitu mendebatmu tentang masalah tauhid. فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ maka katakanlah, "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku." (Ali Imran: 20) Yakni katakanlah bahwa aku memurnikan ibadahku hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada tandingan bagi-Nya, tidak beranak, dan tidak beristri. Yang dimaksud dengan 'orang-orang yang mengikutiku' ialah orang-orang yang berada dalam agamaku akan mengatakan hal yang sama dengan ucapanku ini. Seperti yang disebutkan di dalam ayat lainnya, yaitu firman-Nya: قُلْ هذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللَّهِ عَلى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي Katakanlah, "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada Allah dengan hujah yang nyata." (Yusuf: 108), hingga akhir ayat. Kemudian Allah Swt. memerintahkan kepada hamba dan rasul-Nya (yaitu Nabi Muhammad Saw.) untuk menyeru orang-orang Ahli Kitab dari kalangan dua agama (Yahudi dan Nasrani) serta orang-orang ummi (buta huruf) dari kalangan kaum musyrik, agar mereka mengikuti jalannya, memasuki agamanya, serta mengamalkan syariatnya dan apa yang diturunkan oleh Allah kepadanya. ******************* Untuk itu Allah Swt. berfirman: {وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالأمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلاغُ} Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, "Apakah kalian (mau) masuk Islam?" Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). (Ali Imran: 20) Yakni Allah-lah yang menghisab mereka karena hanya kepada-Nyalah mereka kembali. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya, dan hanya milik-Nyalah hikmah yang tepat dan hujah yang benar. Karena itu, dalam akhir ayat ini Allah Swt. berfirman: وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبادِ Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Ali Imran: 20) Yaitu Allah Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapat hidayah dan siapa yang berhak mendapat kesesatan. Dia berhak untuk melakukan itu, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya: لا يُسْئَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْئَلُونَ Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai. (Al-Anbiya: 23) Hal tersebut tiada lain karena hikmah dan rahmat-Nya. Ayat ini dan yang semisal dengannya merupakan dalil yang paling jelas yang menunjukkan keumuman risalah Nabi Muhammad Saw. kepada semua makhluk, seperti yang telah dimaklumi dari pokok-pokok agamanya, dan seperti apa yang telah ditunjukkan oleh dalil Al-Qur'an dan sunnah dalam banyak ayat dan hadis. Antara lain ialah firman-Nya: قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً Katakanlah, "Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua." (Al-A'raf: 158) Firman Allah Swt.: تَبارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقانَ عَلى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعالَمِينَ نَذِيراً Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (Al-Furqan: 1) Di dalam hadis Sahihain dan lain-lainnya disebutkan melalui hadis yang mutawatir dalam berbagai peristiwa, bahwa Nabi Saw. mengirimkan surat-suratnya kepada semua raja dan pemimpin kabilah, baik yang Arab maupun yang 'ajam, baik mereka yang mengerti baca dan tulis maupun yang ummi, sebagai pengamalan dari perintah Allah Swt. Beliau Saw. dalam surat-suratnya itu mengajak mereka untuk menyembah kepada Allah Swt. Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma'mar, dari Hammam, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. yang bersabda: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ: يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ وَمَاتَ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ» Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tiada seorang pun yang telah mendengarku dari kalangan umat ini, baik yang Yahudi ataupun yang Nasrani, lalu ia mati dalam keadaan tidak beriman kepada risalah yang aku bawa, melainkan ia termasuk ahli neraka. (Riwayat Imam Muslim) Nabi Saw. telah bersabda: «بُعِثْتُ إِلَى الْأَحْمَرِ وَالْأَسْوَدِ» Aku diutus untuk kulit merah dan kulit hitam. Dan Nabi Saw. telah bersabda pula: «كَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً» Dahulu seorang nabi diutus khusus untuk umatnya, sedangkan aku diutus untuk umat manusia seluruhnya. قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا مُؤَمِّل، حَدَّثَنَا حَمَّاد، حَدَّثَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَنَسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ غُلَامًا يَهُودِيًّا كَانَ يَضع لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضُوءه وَيُنَاوِلُهُ نَعْلَيْهِ، فَمَرِضَ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَخَلَ عَلَيْهِ وَأَبُوهُ قَاعِدٌ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يَا فُلانُ، قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ" فَنَظَرَ إلَى أَبِيهِ، فَسَكَتَ أَبُوهُ، فأعَادَ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَظَرَ إلَى أَبيهِ، فَقَالَ أبُوهُ: أطِعْ أَبَا الْقَاسِم، فَقَالَ الْغُلامُ:: أشْهَدُ أن لَا إلَهَ إِلَّا اللَّهُ وأَنَّكَ رَسُولُ اللهِ، فَخَرَجَ النَّبَيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ: "الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أخْرَجَهُ بِي مِنِ النَّارِ" Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muammal, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Sabit, dari Anas r.a. yang mengatakan bahwa ada seorang anak Yahudi yang biasa menyuguhkan air wudu buat Nabi Saw. dan mempersiapkan sepasang terompahnya. Lalu anak itu sakit keras, dan Nabi Saw. datang kepadanya, lalu masuk menemuinya, sedangkan kedua orang tua si anak berada di dekat kepalanya. Maka Nabi Saw. bersabda kepadanya: Hai Fulan, katakanlah, "Tidak ada Tuhan selain Allah!" Lalu anak itu memandang kepada ayahnya, dan si ayah diam. Lalu Nabi Saw. mengulangi perintahnya itu, dan si anak kembali memandang kepada ayahnya. Akhirnya si ayah berkata, "Turutilah kemauan Abul Qasim!" Maka si anak berkata: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah. Maka Nabi Saw. keluar seraya bersabda: Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka melalui aku. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab sahihnya. Masih banyak ayat serta hadis yang menunjukkan bahwa Rasulullah Saw. diutus untuk segenap umat manusia.

Ahad, 4 Februari 2018

AYAT 19 ali imran

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK JILIK-10-Ali Imran (3) Ayat 19

 إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

 inna ddiina 'indallaahi l-islaamu wamaa ikhtalafalladziina uutuu lkitaaba illaa min ba'di maa jaa-ahumu l'ilmu baghyan baynahum waman yakfur bi-aayaatillaahi fa-innallaaha sarii'u lhisaab 

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

       dalam ayat ini allah inggin menyatakan bahawa agama samawi yang allah redho yakni setelah ini selepas ini tiadak lagi di terima agama agama yang lain sebagai mana ajaran musa atau isa yang mana di kenali sebagai yahudi dan nasrani yang mana kitab kitab allah yang allah turunkan tiada lagi di terima allah dan tiada lagi kitab kitab yang di turunkan pada musa dan isa .,,. sebagai mana yang terdapat waktu masa agama islam dari nabi muhamat adalah penutup dan sempurna seawal adam terdapat dalam quran dan terdapat dalam ajaran nabi mujhamat saw., Yaitu agama yang memerintahkan untuk menyerahkan diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan mentaati-Nya, berlepas dari syirk dan pelakunya serta mengikuti rasul yang diutus Allah Subhaanahu wa Ta'aala, yang diakhiri oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

      Ada pula yang mengartikan Islam dengan "syari'at yang dibawa para rasul, yang dasarnya adalah tauhid". Orang yang mencari agama selain agama yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (agama Islam), maka agama itu tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.sebagai mana ada nya sesetengah ulamak atau imam atau ahli politik yang mana membawa islam yang baharu .,sebagai mana terdapat banyak zaman akhir di hujung zaman kiamat ,.., sebagai mana terdapat pengikut pengikut ulamak ulamak yang menyesatkan agama islam sebagai mana ahli ahli dan tokoh politik yang mana pengikut pengikut yang menyesatkan dan bukan dari ajaran islam yakni dari nabi muhamat saw ., tiada lah lain kedatangan ahli ahli politik dan tokoh politik atau ulamak ulamak yang datang melaikan mereka itu adalah di antara mereka ada nya subhak yakni hasat dengki mendengki antara mereka untuk jatuh menjatuh kan sesama sendiri sebagai mana terjadi nya aliran ajaran wahabi syiah imam ibnu taimiah imam muhamat asy,syakri dan berbagai bagai lagi jenis kesesatan dari agama allah yang sebenar yang mana telah kafir dan mendustakan ayat ayat allah dengan mengikut kehendak dan pengaruh mereka sebagai mana terjadi pada zaman musa dan isa,.,.,..,
       sebagai mana penjelasan hadis dan ayat quran yang lain yang menceritakan tentang ayat ini ,.,.., allah berfirman Ayat ini dan yang semisalnya merupakan ayat yang paling jelas yang menunjukkan universalitas pengutusan Rasulullah kepada seluruh umat manusia, sebagaimana hal itu menjadi keharusan yang mesti diketahui dalam ajaran agamanya dan sebagaimana yang ditunjukkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah dalam banyak ayat dan hadits. Di antaranya adalah firman-Nya: qul yaa ayyuHannaasu innii rasuulullaaHi ilaikum jamii’an (“Katakanlah: Wahai sekalian umat manusia, sesungguhnya aku adalah Rasul Allah yang diutus kepada kamu semua.’”) (QS. Al-A’raaf: 158);Melalui ayat ini, Allah memberitahukan pembatasan, bahwa agama yang diterima di sisi-Nya hanyalah Islam, innad diina ‘indallaaHil islaam (“Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam.”) Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. (Ali Imran: 19)Sebagai berita dari Allah Swt. yang menyatakan bahwa tidak ada agama yang diterima dari seseorang di sisi-Nya selain Islam, yaitu mengikuti para rasul yang diutus oleh Allah Swt. di setiap masa, hingga diakhiri dengan Nabi Muhammad Saw. yang membawa agama yang menutup semua jalan lain kecuali hanya jalan yang telah ditem-puhnya. Karena itu, barang siapa yang menghadap kepada Allah —sesudah Nabi Muhammad Saw. diutus— dengan membawa agama yang bukan syariatnya, maka hal itu tidak diterima oleh Allah. Seperti yang disebutkan di dalam firman lainnya, yaitu: وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ دِيناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya. (Ali Imran: 85), hingga akhir ayat. Dalam ayat ini Allah memberitakan terbatasnya agama yang diterima oleh Allah hanya pada agama Islam, yaitu: Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. (Ali Imran: 19) Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas membaca firman-Nya: Allah menyatakan sesungguhnya tiada Tuhan selain Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Bahwasanya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. (Ali Imran: 18-19) Dengan innahu yang di-kasrah-kan dan anna yang di-fathah-kan, artinya 'Allah telah menyatakan —begitu pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu— bahwa agama yang diridai di sisi Allah adalah Islam'. Sedangkan menurut jumhur ulama, mereka membacanya kasrah' innad dina 'sebagai kalimat berita. Bacaan tersebut kedua-duanya benar, tetapi menurut bacaan jumhur ulama lebih kuat. Kemudian Allah Swt. memberitakan bahwa orang-orang yang telah diberikan Al-Kitab kepada mereka di masa-masa yang lalu, mereka berselisih pendapat hanya setelah hujah ditegakkan atas mereka, yakni sesudah para rasul diutus kepada mereka dan kitab-kitab samawi diturunkan buat mereka. Untuk itu Allah Swt. berfirman: وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْياً بَيْنَهُمْ Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. (Ali Imran: 19) Yakni karena sebagian dari mereka merasa dengki terhadap sebagian yang lainnya, lalu mereka berselisih pendapat dalam perkara kebenaran. Hal tersebut terjadi karena terdorong oleh rasa dengki, benci, dan saling menjatuhkan, hingga sebagian dari mereka berusaha menjatuhkan sebagian yang lain dengan menentangnya dalam semua ucapan dan perbuatannya, sekalipun benar. Kemudian Allah Swt. berfirman: وَمَنْ يَكْفُرْ بِآياتِ اللَّهِ Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah. (Ali Imran: 19) Yakni barang siapa yang ingkar kepada apa yang diturunkan oleh Allah di dalam kitab-Nya. فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسابِ maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (Ali Imran: 19) Artinya, sesungguhnya Allah akan membalas perbuatannya dan melakukan perhitungan terhadapnya atas kedustaannya itu, dan akan menghukurnnya akibat ia menentang Kitab-Nya. Kemudian Allah Swt. berfirman: فَإِنْ حَاجُّوكَ Kemudian jika mereka mendebat kamu. (Ali Imran: 20) Yaitu mendebatmu tentang masalah tauhid. فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ maka katakanlah, "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku." (Ali Imran: 20) Yakni katakanlah bahwa aku memurnikan ibadahku hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada tandingan bagi-Nya, tidak beranak, dan tidak beristri. Yang dimaksud dengan 'orang-orang yang mengikutiku' ialah orang-orang yang berada dalam agamaku akan mengatakan hal yang sama dengan ucapanku ini. Seperti yang disebutkan di dalam ayat lainnya, yaitu firman-Nya: قُلْ هذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللَّهِ عَلى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي Katakanlah, "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada Allah dengan hujah yang nyata." (Yusuf: 108), hingga akhir ayat. Kemudian Allah Swt. memerintahkan kepada hamba dan rasul-Nya (yaitu Nabi Muhammad Saw.) untuk menyeru orang-orang Ahli Kitab dari kalangan dua agama (Yahudi dan Nasrani) serta orang-orang ummi (buta huruf) dari kalangan kaum musyrik, agar mereka mengikuti jalannya, memasuki agamanya, serta mengamalkan syariatnya dan apa yang diturunkan oleh Allah kepadanya.

Sabtu, 3 Februari 2018

AYAT 18

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 18

 Syahidalla_hu annahu_ la_ ila_ha illa_ huw(a), wal mala_'ikatu wa ulul 'ilmi qa_'imam bil qist(i), la_ ila_ha illa_ huwal'azizul hakim(u).

     شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

       Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia lah tuhan yg disembah, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dialah tuhan yg di sembah, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

         Melalui bukti-bukti dan tanda-tanda dalam alam raya yang tidak dapat dipungkiri lagi oleh orang yang berakal sehat, Allah menerangkan bahwa Dia Mahaesa, tak bersekutu, dan bahwa Dia mengatur urusan makhluk-Nya secara seimbang. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu mengakui dan meyakini hal itu. Demikian juga, Allah menjelaskan bahwa hanya Dialah yang memiliki sifat-sifat ketuhanan, yang tidak dapat dikalahkan oleh siapa pun, dan yang meliputi segala sesuatu dengan kebijakan-Nya.

            Ayat ini menunjukkan keutamaan orang-orang yang berilmu. Mereka adalah para nabi dan orang-orang berilmu lainnya dari kalangan orang-orang mukmin. Pengangkatan saksi dari kalangan orang-orang berilmu menngandung tazkiyah (rekomendasi) dan ta'dil (penyebutan sebagai orang adil) dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala, dan bahwa mereka merupakan orang-orang yang terpercaya. Perlu diketahui, bahwa kebenaran tauhid dan batilnya syirk didukung oleh dalil-dalil naqli (wahyu) maupun 'aqli (akal), sehingga kebenarannya bagi orang-orang yang memiliki mata hati lebih jelas dan terang daripada matahari. Adapun dalil-dalil naqlinya adalah seluruh isi Al Qur'an dan As Sunnah terdapat perintah mentauhidkan Allah dan menguatkannya, mencintai orang-orang yang bertauhid, mencela syirk dan membenci orang-orang yang berbuat syirk. Sedangkan dalil 'aqli di antaranya: Hakikat Islam "Allah telah menyelaskan bahwa tiada Tuhan selain Dia." (pangkal ayat 18). Syahida kita artikan menjelaskan. Dengan segala amal ciptaanNya ini , pada langit dan bumi , pada lautan dan daratan , pada tumbuh-tumbuhan dan binatang , dan segala semat-­semesta, Tuhan Allah telah menjelaskan bahwa hanya Dia yang Tuhan, hanya Dia yang mengatur. Maka segala yang ada ini adalah penjelasan atau kesaksian dari Tuhan, menunjukkan bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. "Demikianpun malaikat" dalam keadaan mereka yang ghaib itu; semuanya telah menyaksikan, telah memberikan syahadah bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Sebab Malaikat adalah sesuatu kekuatan yang telah diperintahkan oleh Tuhan melaksanakan perintahNya, dan taat patuh setialah mereka menjalankan perintah itu. Kita tidak dapat melihat malaikat dalam bentuk rupanya yang asli , tetapi kita dapat merasakan adanya. Di antara malaikat itu ialah Jibril yang diperintahkan Tuhan menyampaikan wahyu kepada Nabi kita Muhammad saw dan wahyu itu telah tercatat menjadi al-Qur'an dan al-Qur'an telah terkumpul menjadi mushhaf . Oleh sebab itu di dalam tangan kita sendiri kita telah mendapat salah satu bekas syahadah dari malaikat. " Dan orang-orang yang berilmu " pun telah menyampaikan syahadahnya pula , bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Bertambah mendalam ilmu , bertambah menjadi kesaksianlah dia bahwa alam ini ada bertuhan dan Tuhan itu hanya satu, yaitu Allah dan tidak ada Tuhan yang lain, sebab yang lain adalah makhlukNya belaka. "Bahwa Dia berdiri dengan keadilan ", yakni setelah Allah menyaksikan dengan qudrat-iradatNya , dan malaikat menyaksikan dengan ketaatannya , dan manusia yang berilmu menyaksikan dengan penyelidikan akalnya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, maka timbul pulalah kesaksian bahwa Tuhan Allah itu berdiri dengan keadilan. Bahwa Tuhan mencipta alam dengan perseimbangan dan Tuhan menurunkan perintahNya dengan adil , serta seimbang. Adil ciptaanNya atas seluruh alam , sehingga manusia berjalan dengan teratur, tidak lain adalah karena adil pertimbangannya. Adil pula perintah dan syariat yang diturunkanNya, sehingga seimbang dunia dengan akhirat, rohani dengan jasmani. Kata qisthi mengandung akan maksud adil, seimbang, setimbang ; semuanya bisa kita dapati di mana-mana dengan teropong ilmu pengetahuan. "Tidaklah ada Tuhan selain Dia. Maha gagah lagi Bijaksana." (ujung ayat 18). Hendaklah menarik perhatian kita tentang kedudukan mulia yang diberikan Tuhan kepada Ulil-ilmi, yaitu orang-orang yang mempunyai ilmu di dalam ayat ini. Setelah Tuhan menyatakan kesaksianNya yang tertinggi sekali , bahwa tiada Tuhan selain Allah , dan kesaksian itu datang dari Allah sendiri , maka Tuhan pun menyatakan pula bahwa kesaksian tertinggi itupun diberikan oleh malaikat. Setelah itu kesaksian itupun diberikan pula oleh orang-orang yang berilmu. Artinya, tiap-tiap orang yang berilmu, yaitu orang-orang yang menyediakan akal dan pikirannya buat menyelidiki keadaan alam ini, baik di bumi ataupun di langit, di laut dan di darat, di binatang dan di tumbuh-tumbuhan, niscaya manusia itu akhirnya akan sampai juga, tidak dapat tidak, kepada kesaksian yang murni, bahwa memang tidak ada Tuhan melainkan Allah. Itulah pula sebabnya maka di dalam surat Fathir (surat 35 ayat 28) tersebut, bahwa yang bisa merasai takut kepada Allah itu hanyalah ulama, yaitu ahli-ahli ilmu pengetahuan

        . Imam Ghazali di dalam kitab al-Ilmi dan di dalam kitabnya Ihya Ulumiddin telah memahkotai karangannya itu ketika memuji martabat ilmu bahwa ahli ilmu yang sejati telah diangkat Tuhan dengan ayat ini kepada martabat yang tinggi sekali, yaitu ke dekat Allah dan ke dekat malaikat. Itulah kesan yang timbul kembali, meyakinkan kesan yang pertama tadi demi setelah memperhatikan pendirian Tuhan Al­lah dengan keadilan itu. Pada dua nama, Aziz dan Hakim, gagah dan bijaksana, terdapat lagi keadilan. Tuhan Allah itu Gagah Perkasa, hukumNya keras, teguh dan penuh disiplin. Tetapi dalam kegagah-perkasaan itu, diimbangiNya lagi dengan sifatNya yang lain, yaitu Bijaksana. Sehingga tidak pernah Allah berlaku sewenang-wenang karena kegagah-perkasaanNya dan tidak pernah pula bersikap lemah karena kebijaksanaanNya. Di antara gagah dan bijaksana itulah terletak keadilan.Allah bersaksi, dan cukuplah Dia saja sebagai saksi, karena Dia yang paling jujur sebagai saksi dan paling adil, serta paling benar perkataannya, annaHuu laa ilaaHa illaa Huwa (“Bahwasanya tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi] melainkan Dia.”) Hanya Dia saja yang berhak sebagai Ilah bagi seluruh makhluk. Dan bahwa semuanya selain Dia adalah hamba dan ciptaan-Nya, semuanya butuh kepada-Nya, sedang Dia tidak butuh sama sekali kepada selain-Nya. Sebagaimana firman-Nya, laakinillaaHu yasy-Hadu bimaa anzala ilaika (“Tetapi Allah memberikan kesaksian atas apa yang diturunkan kepadamu.”) (QS. An-Nisaa’: 166) Setelah itu Dia mempersandingkan kesaksian para Malaikat-Nya dan orang-orang yang berilmu dengan kesaksian-Nya seraya berfirman, syaHidallaaHu annaHuu laa ilaaHa illaa Huwa wal malaa-ikatu wa ulul ‘ilmi (“Allah bersaksi bahwasanya tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi] melainkan Dia, demikian juga para Malaikat dan orang-orang yang berilmu.”) Yang demikian itu merupakan keistimewaan yang besar bagi para ulama dalam kedudukan ini. Qaa-imam bil qisthi (“Yang menegakkan keadilan.”) Yaitu dalam segala hal dan keadaan. Laa ilaaHa illaa Huwa (“Tidak ada Ilah [yang haq] melainkan Dia.”) Hal ini dimaksudkan untukmemberikan penegasan bagi (kalimat)yang sebelumnya. Al ‘aziizul hakiim (“Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”) Yaitu Mahaperkasa yang keagungan dan kebesaran-Nya tidak dapat dijangkau, dan yang Mahabijaksana dalam perkataan, perbuatan-perbuatan, syari’at dan ketetapan-Nya.

        Imam Ahmad pernah meriwayatkan dari az-Zubair bin al-‘Awwam, dia berkata, aku pernah mendengar Nabi pada waktu berada di ‘Arafah membaca ayat ini, “syaHidallaaHu annaHuu laa ilaaHa illaa Huwa wal malaa-ikatu wa ulul ‘ilmi qaa-imatam bil qisthi laa ilaaHa illaa Huwal ‘aziizul hakiim (“Allah bersaksi bahwasanya tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi] melainkan Dia, yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu [juga menyatakan yang demikian itu]. Tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Dia. Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”) Lalu beliau bersabda: “Dan terhadap hal itu aku termasuk orang-orang yang memberi kesaksian, ya Rabbku.” (Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim melalui jalan lain).

        Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Abdu Rabbih, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah ibnul Walid, telah menceritakan kepadaku Jubair ibnu Amr Al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Ansari, dari Abu Yahya maula keluarga Az-Zubair ibnul Awwam, dari Az-Zubair ibnul Awwam yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Nabi Saw. di Arafah membaca ayat berikut, yaitu firman-Nya: Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Ali Imran: 18); Sesudah itu beliau Saw. mengucapkan: Dan aku termasuk salah seorang yang mempersaksikan hal tersebut, ya Tuhanku.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan melalui jalur lain. Untuk itu ia mengatakan:

 حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُسَيْنٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُتَوَكِّلِ الْعَسْقَلَانِيُّ، حَدَّثَنَا عُمَر بْنُ حَفْصِ بْنِ ثَابِتٍ أَبُو سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ يَحْيَى بْنِ عَبَّادِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنِ الزُّبَيْرِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ: {شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ} قال: "وأَنَا أشْهَدُ أيْ رَبِّ"

telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Husain, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Mutawakkil Al-Asqalani, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Hafs ibnu Sabit Abu Sa'id Al-Ansari, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik ibnu Yahya ibnu Abbad ibnu Abdullah ibnuz Zubair, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Az-Zubair yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. ketika membacakan ayat ini: Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia, begitu pula para malaikat. (Ali Imran: 18); Lalu beliau mengucapkan: Dan aku ikut bersaksi, ya Tuhanku. Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan di dalam kitab Mu'jamul Kabir:

 حَدَّثَنَا عَبْدَانُ بْنُ أَحْمَدَ وَعَلِيُّ بْنُ سَعِيدٍ الرَّازِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا عَمَّار بْنُ عُمَرَ بْنِ الْمُخْتَارِ، حَدَّثَنِي أَبِي، حَدَّثَنِي غَالِبٌ الْقَطَّانُ قَالَ: أَتَيْتُ الْكُوفَةَ فِي تِجَارَةٍ، فَنَزَلْتُ قَرِيبًا مِنَ الْأَعْمَشِ، فَلَمَّا كَانَتْ لَيْلَةٌ أردتُ أَنْ أنْحَدِرَ قَامَ فَتَهَجَّدَ مِنَ اللَّيْلِ، فَمَرَّ بِهَذِهِ الآية: {شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ. إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ} ثُمَّ قَالَ الْأَعْمَشُ: وَأَنَا أَشْهَدُ بِمَا شَهِدَ اللَّهُ بِهِ، وَأَسْتَوْدِعُ اللَّهَ هَذِهِ الشَّهَادَةَ، وَهِيَ لِي عِنْدَ اللَّهِ وَدِيعَةٌ: {إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ} قَالَهَا مِرَارًا. قُلْتُ: لَقَدْ سَمِعَ فِيهَا شَيْئًا، فَغَدَوْتُ إِلَيْهِ فَوَدَّعْتُهُ، ثُمَّ قُلْتُ: يَا أَبَا مُحَمَّدٍ، إِنِّي سمعتك تردد هذه الآية. قال: أو ما بَلَغَكَ مَا فِيهَا؟ قُلْتُ: أَنَا عِنْدَكَ مُنْذُ شَهْرٍ لَمْ تُحَدِّثْنِي. قَالَ: وَاللَّهِ لَا أُحَدِّثُكَ بِهَا إِلَى سَنَةٍ. فَأَقَمْتُ سَنَةً فَكُنْتُ عَلَى بَابِهِ، فَلَمَّا مَضَتِ السَّنَةُ قُلْتُ: يَا أَبَا مُحَمَّدٍ، قَدْ مَضَتِ السَّنَةُ. قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو وَائِلٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يُجَاءُ بِصَاحِبِهَا يَوْمَ القِيامَةِ، فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: عَبْدِي عَهِدَ إلَيَّ، وأنَا أحَقُّ مَن وَفَّى بالْعَهْدِ، أدْخِلُوا عَبْدِي الْجَنَّةَ"

 telah menceritakan kepada kami Abdan ibnu Ahmad dan Ali ibnu Sa'id; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ammar ibnu Umar Al-Mukhtar, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepadaku Galib Al-Qattan, bahwa ia datang ke Kufah dalam salah satu misi dagangnya, lalu tinggal di dekat rumah Al-A'masy. Pada suatu malam ketika aku hendak turun, Al-A'masy melakukan salat tahajud di malam hari, lalu bacaannya sampai pada ayat berikut, yaitu firman-Nya: Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. (Ali Imran: 18-19) Kemudian Al-A'masy mengatakan, "Dan aku pun mempersaksikan apa yang telah dinyatakan oleh Allah, dan aku titipkan kepada Allah persaksianku ini, yang mana hal ini merupakan titipan bagiku di sisi Allah." Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN