Isnin, 27 Ogos 2018

AYAT 35

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH HUD 35
BISMILLAHIRAHMANIRAHIM,.,.
Am yaqooloonaf taraahu qul inif taraituhoo fa'alaiya ijraamee wa ana bareee'um mimmaa tujrimoon (section 3)  
     {أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَعَلَيَّ إِجْرَامِي وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تُجْرِمُونَ

     (35) } Malahan kaum Nuh itu berkata, "Dia cuma membuat-buat nasihatnya saja.” Katakanlah, "Jika aku membuat-buat nasihat itu, maka hanya akulah yang memikul dosaku dan aku berlepas diri dari dosa yang kalian perbuat.” Ini adalah kalimat sisipan yang berada di tengah-tengah kisah ini, berkedudukan menguatkan dan menetapkannya.

    Allah Swt. berfirman kepada Nabi Muhammad Saw., "Malahan orang-orang kafir yang ingkar itu mengatakan bahwa dia cuma membuat-buatnya dan merekayasanya dari dirinya sendiri." nasihat nabi adalah dari wahtyu allah sawt., sebagai mana hadis ;'Dari ‘Aisyah r.ha : Harits bin Hisyam r.a pernah bertanya kepada Rasulullah saw, “Bagaimanakah caranya wahyu turun kepada anda (Rasulullah saw)?

      Jawab Rasulullah saw, “Kadang-kadang wahyu itu datang kepadaku (kedengaran) seperti bunyi loceng. Itulah yang sangat berat bagiku. Setelah bunyi tu berhenti, lantas aku mengerti apa yang dikatakannya. Kadang-kadang malaikat menjelma seperti seorang laki-laki datang kepadaku. Dia berbicara kepadaku dan aku mengerti apa yang dikatakannya. Kata ‘Aisyah r.ha, “Aku pernah melihat Nabi saw, ketika wahyu turun kepada beliau pada suatu hari yang amat dingin. Setelah wahyu itu berhenti turun, kelihatan dahi Nabi saw bersimbah peluh.” (Hadis 0002) {قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَعَلَيَّ إِجْرَامِي} Katakanlah, "Jika aku membuat-buat nasihat itu, maka hanya akulah yang memikul dosaku. (Hud: 35) Yakni dosanya aku tanggung sendiri. {وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تُجْرِمُونَ} dan aku berlepas diri dari dosa yang kalian perbuat.” (Hud: 35) Maksudnya, hal tersebut bukanlah buat-buatan, bukan pula suatu rekayasa, karena aku benar-benar mengetahui siksaan yang ada di sisi Allah bagi orang yang berdusta terhadap-Nya.

Ahad, 26 Ogos 2018

AYAT 32-34

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH HUD 32-34
BISMILLAHIRAHMANIRRAHIM.,.,
     Qaaloo yaa Noohu qad jaadaltanaa fa aksarta jidaalanaa faatinaa bimaa ta'idunaaa in kunta minas saadiqeen Qaala innamaa yaateekum bihil laahu in shaaa'a wa maaa antum bimu'jizeen Wa laa yanfa'ukum nusheee in arattu an ansaha lakum in kaanal laahu yureedu ai yughwi yakum; Huwa Rabbukum wa ilaihi turja'oon
     “Mereka berkata: ‘Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami adzab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.’ (QS. 11:32) Nuh menjawab: ‘Hanyalah Allah yang akan mendatangkan adzab itu kepadamu jika Allah menghendaki dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri. (QS. 11:33) Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Rabbmu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.’ (QS. 11:34)”

    (Huud: 32-34) Allah berfirman dengan mengabarkan tentang tuntutan penyegeraan siksa, adzab dan murka Allah oleh kaum Nuh as. Qaaluu yaa nuuhu qad jaadaltanaa fa aktsarta jidaalanaa (“Mereka berkata: ‘Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami dan kamu memperpanjang bantahanmu terhadap kami.’”) Maksudnya, engkau telah melontarkan bantahan berulang kali dan kami tidak akan mengikutimu. Fa’tinaa bimaa ta-‘idunaa (“Maka datangkanlah kepada kami adzab yang kamu ancamkan kepada kami.”) Yakni, berupa murka dan adzab. Kutuklah kami sesuka hatimu, lalu datangkanlah kutukan tersebut kepada kami. In kunta minash shaadiqiina qaala innamaa ya’tiikum biHillaaHi insyaa-a wamaa antum bimu’jiziin (“’Jika kamu temasuk orang-orang yang benar.’ Nuh menjawab: ‘Hanya Allah yang akan mendatangkan adzab itu kepadamu jika Allah menghendaki dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri.’”) Maksudnya, sesungguhnya yang menimpakan siksaan dan menyegerakannya untuk kalian itu adalah Allah Ta’ala, yang tidak akan pernah dapat dipaksakan oleh sesuatu apa pun. Wa laa tanfa’ukum nush-hii in aradtu an anshaha lakum in kaanallaaHu yuriidu ay yughwiyakum (“Dan nasihatku tidak bermanfaat bagi kalian jika aku hendak memberi nasihat kepada kalian. Sekiranya Allah hendak menyesatkan kalian.”) Yakni, jika Allah hendak menyesatkan kalian, apakah masih bisa berguna bagi kalian akan peringatanku dan nasihatku? Huwa rabbukum wa ilaiHi turja’uun (“Allah adalah Rabbmu dan kepada-Nyalah kalian dikembalikan.”) Maksudnya, Allah adalah Raja pengendali segala sesuatu, Hakim yang adil yang tidak akan pernah berbuat lalim. Hak penciptaan dan perintah itu hanya ada pada-Nya, Allahlah yang mengawali semua ciptaan dan Allah pula yang akan mengembalikan ciptaan setelah hancurnya. Allah adalah Raja dunia dan akhirat. sebagai mana kita beraqidah abu hasan (asr-ariyah ) wajib percaya bahawa setiap yang datang adalah dengan izin allah sebagai mana kisah malaikat harut dan marut yang mana mengajar ilmu pada kaum israil lalu mereka percaya dengan pertologan harut marut dan mereka itu tergolog dalam gologan sesat kerna percaya bahawa ilmu harut marut yang menolong padahal harut dan marut hanya meminta pertologan iblis dan jin dan tiada guna ilmu harut dan marut tampa izin allah sawt .,.,.,
       sebagai contoh '' kita mintak tolong jin penunggu pokok besar tapi tampa izin allah tak akan berjaya usaha kita kerna allah telah menetap segala takdir mahluk di muka bumi .,.,,. jadi sembah allah dan pertologan hanya dengan izin allah sawt.,.,., wallahuaklam .,,.

Sabtu, 18 Ogos 2018

AYAT 31


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK';;
 SURAH HUD AYAT 31
 walaa aquulu lakum ‘indii khazaa-inu allaahi walaa a’lamu alghayba walaa aquulu innii malakun walaa aquulu lilladziina tazdarii a’yunukum lan yu/tiyahumu allaahu khayran allaahu a’lamu bimaa fii anfusihim innii idzan lamina alzhzhaalimiina “Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa) aku mempunyai gudang-gudang rizki dan kekayaan dari Allah dan aku tidak juga mengetahui yang ghaib, dan tidak (pula) aku mengatakan: ‘Bahwa sesungguhnya aku adalah Malaikat,’ dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu; ‘Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka.’ Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang dhalim.” (QS. Huud: 31)

 DALAM surah hud ayat 31 ini allah menjelaskan bahawa allah ada dalam rahsia .,., dan sebagai mana nur muhamat seawal ciptaan sebelum itu allah berupa dzat yang mana tersembunyi dan dalam rahsia.,.,., sebagai mana baginda rasulullah dalam kitab nur muhamat karangan abu hasan (alirah asr-ariyah).,.,. yang mana ketika muhamat sedang mencari allah allah berfirman aku ada dalam rahsia .,.,,. dan cari alah dalam rahsia allah.,.,yang mana berupa dzat illah dalam diri orang beriman .,., Carilah dalam dirimu... Sungguh dirimu itu sendiri adalah kepunyaan Allah... Sentiasa ada dekat dengan diri mu... Kadangkala kamu tidak perasan @ belum sedar DIA yakni Allah sentiasa dekat dengan kamu... Kita mukmin yang dipilih Allah untuk berlindung di bawah cahaya-Nya... Bila aku kenali Aku... Maka tiadalah aku... Lenyaplah aku... Sekiranya aku tahu diriku adalah Aku... Sudah pasti aku kembalikan rahsia aku kepada Aku... Maka carilah...??? aku dekat Aku.... aku dalam diriku...Sesungguhnya Allah dalam mengenalkan diri-Nya melalui lidah n hati manusia...

Maka DIA telah mentajallikan diri-Nya menjadi rahsia kepada diri manusia... Sebagaiman diperkatakan dalam hadis Qudsi : "AL INSANUL SIRRUHU WA ANA SIRRUHU" Maksudnya : 'Manusia itu adalah rahsia-Ku n Aku adalah rahsia manusia itu sendiri'.. Lebih lanjut, Nuh as. memberitahu mereka bahwa dirinya adalah Rasul utusan Allah yang mengajak mereka beribadah kepada Allah Ta’ala semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan dalam hal itu, ia telah mendapatkan izin dari Allah. Selain itu ia juga memberitahu mereka bahwa dirinya tidak mempunyai kemampuan untuk mengatur berbagai perbendaharaan Allah dan tidak juga ia mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali sedikit yang Allah perlihatkan kepadanya, juga bahwasanya ia bukanlah seorang Malaikat, tetapi ia hanyalah manusia biasa yang diutus dengan didukung oleh mukjizat. Ia juga memberitahukan, bahwa dirinya tidak mengatakan, bahwa orang-orang yang mereka hinakan dan usir itu tidak memperoleh pahala di sisi Allah atas amal perbuatan mereka. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka. Jika mereka beriman secara batiniyah sesuai dengan yang ada pada lahiriyahnya, maka bagi mereka adalah balasan yang baik. Jika seseorang memutuskan dengan tuduhan yang buruk kepada mereka yang telah beriman, maka orang tersebut telah berbuat dhalim dengan mengatakan apa yang sebenarnya tidak ia ketahui. Sehingga aku memberikanya kepada orang yang aku kehendaki dan aku halangi orang yang aku kehendaki. Aku hanyalah utusan Allah kepada kepada kamu yang tugasnya hanya memberikan kabar gembira dan peringatan; tidak lebih. Sehingga aku memberitakan kepadamu rahasia kamu dan apa yang kamu sembunyikan. Bahkan aku adalah manusia seperti kamu, dan aku tidak menempatkan diriku di atas posisi yang Allah berikan kepadaku. Yakni kaum mukmin yang lemah. Jika iman mereka benar, maka mereka akan mendapatkan kebaikan yang banyak, dan jika tidak demikian, maka hisab mereka terserah kepada Allah Azza wa Jalla. Kata-kata Nabi Nuh ‘alaihis salam di atas merupakan cara bijaksana agar kaumnya tidak lagi mengusir atau membenci kaum mukmin yang fakir serta usaha agar mereka menerima pengikutnya itu.

Jumaat, 17 Ogos 2018

AYAT 29-30

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
Hud, ayat 29-30
 {وَيَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالا إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى اللَّهِ وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ وَلَكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ (29) وَيَا قَوْمِ مَنْ يَنْصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِنْ طَرَدْتُهُمْ أَفَلا تَذَكَّرُونَ (30) }
“Dia [berkata]: ‘Hai kaumku, aku tidak meminta harta benda kepada kamu [sebagai upah] bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-sekali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Rabb-nya, akan tetapi aku memandang kalian sebagai kaum yang tidak mengetahui.’ (QS. 11:29) Dan (dia berkata): ‘Hai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari [adzab] Allah jika aku mengusir mereka. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?’ (QS 11: 30)” (Huud: 29-30) Nuh as. berkata kepada kaumnya, aku tidak minta harta benda kepada kalian atas pelajaran yang kuberikan kepada kalian. Yakni aku tidak meminta upah yang kuambil dari kalian. Tetapi aku hanya mengharapkan balasan dari Allah;
         Wa maa ana bithaaridil ladziina aamanuu (“Dan aku sekali-sekali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman.”) Seolah-olah mereka mengajukan tuntutan kepadanya agar ia mengusir orang-orang yang beriman dari sisinya sebagai bentuk penghormatannya terhadap mereka dan supaya mereka [orang-orang yang beriman] tidak duduk bersama mereka. sebagaimana orang-orang yang serupa dengan mereka mengajukan tuntutan kepada Rasulullah saw. agar mengusir sekelompok du’afa dari mereka, kemudian beliau duduk bersama mereka dalam majelis tersendiri. Maka Allah menurunkan firman-Nya yang artinya: “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Rabb-nya pada pagi hari dan pada petang hari, sedang mereka menghendaki keridlaan-Nya.” (al-An’am: 62) perkataan Rasulullah SAW berdasarkan beberapa hadits riwayat, kondisi di akhir zaman diantara yaitu : 1.
              Takwa dan perpaduan asas keselamatan di akhir zaman Dari Abi Nijih ‘Irbadh bin Sariyah r.a. ‘Rasullullah saw telah menasihati kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati kami dan menitik air mata kami ketika mendengarnya, lalu kami berkata, ‘Ya Rasulullah! Seolah-olah ini adalah nasihat yang terakhir, maka berilah pesan kepada kami.’ Lalu baginda pun bersabda, ‘Aku berwasiat akan kamu supaya sentiasa bertakwa kepada Allah swt. dan mendengar serta taat (kepada pemimpin) sekalipun yang memimpin kamu itu hanya seorang hamba. Sesungguhnya sesiapa yang panjang umurnya diantara kamu pasti ia akan melihat banyak perselisihan. Maka hendaklah kamu berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa ar Rasyidin al Mahdiyin (khalifah-khalifah yang mengetahui kebenaran dan mendapat petunjuk ke jalan yang benar) dan gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham dan jauhilah perkara-perkara yang baru (bid’ah) yang diada-adakan, kerana sesungguhnya tiap-tiap bid’ah itu adalah sesat.’ (HR. Abu Daud dan Tirmizi) 2. Mengapa dunia Islam menjadi sasaran pemusnahan?
                            Dari Ummul Mu’minin, Zainab binti Jahsy (isteri Rasulullah saw) ‘(Pada suatu hari) Rasulullah saww. masuk ke dalam rumahnya dalam keadaan cemas sambil bersabda, La ilaha illallah, celaka (binasa) bagi bangsa Arab dari kejahatan (malapetaka) yang sudah hampir menimpa mereka. Pada hari ini telah terbuka dinding Ya’juj dan Ma’juj seperti ini’, dan Baginda mempertemukan ujung jari dan ujung jari yang sebelahnya (jari telunjuk) yang dengan itu mengisyaratkan seperti bulatan. Saya (Zainab binti Jahsy) lalu bertanya: ‘Ya Rasulullah! Apakah kami akan binasa sedangkan di kalangan kami masih ada orang-orang yang shaleh?’ Lalu Nabi saww. bersabda: ‘Ya, jikalau kejahatan sudah terlalu banyak’. (HR. Bukhari dan Muslim) 3. Seluruh dunia datang mengerumuni dunia Islam Dari Tsauban r.a. Rasulullah saw. bersabda; ‘Hampir tiba suatu masa di mana bangsa-bangsa dan seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang-orang yang hendak makan mengerumuni talam hidangan mereka.’ Maka salah seorang sahabat bertanya, ’Apakah karena jumlah kami sedikit pada masa itu?’ Nabi saw. menjawab, ‘Bahkan kamu pada hari itu banyak sekali, tetapi kamu umpama buih di waktu banjir, dan Allah akan mencabut rasa takut terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan mencampakkan ke dalam hati kamu penyakit wahan. Seorang sahabat bertanya, ‘Apakah wahan itu hai Rasulullah?’ Nabi saww. nenjawab, ‘Cinta pada dunia dan takut pada mati.’ (HR. Abu Daud)

Khamis, 16 Ogos 2018

AYAT 28

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
Surat Hud, ayat 28,
BIS-MIL-LAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM.
Qaala yaa qawmi ara'aitum in kuntu 'alaa baiyinatim mir Rabbee wa aataanee rahmatam min 'indihee fa'um miyat 'alaikum anulzimuku moohaa wa antum lahaa kaarihoon

 {قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَآتَانِي رَحْمَةً مِنْ عِنْدِهِ فَعُمِّيَتْ عَلَيْكُمْ أَنُلْزِمُكُمُوهَا وَأَنْتُمْ لَهَا كَارِهُونَ (28) }

Berkata Nuh, "Hai kaumku, bagaimana pikiran kalian, jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan diberi-Nya aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagi kalian. Apa akan kami paksakan kalian menerimanya, padahal kalian tidak menyukainya?" Allah Swt. menceritakan tentang jawaban Nabi Nuh a.s. terhadap kaumnya dalam hal tersebut:

 {أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي}

      bagaimanakah pikiran kalian, jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku. (Hud: 28) Yaitu bukti yang meyakinkan, perkara yang jelas, dan kenabian yang benar; sebagai rahmat yang besar dari Allah buat Nabi Nuh sendiri, juga buat mereka. {فَعُمِّيَتْ عَلَيْكُمْ} tetapi rahmat itu disamarkan bagi kalian.
(Hud: 28) Maksudnya, disembunyikan dari kalian sehingga kalian tidak mendapat petunjuk untuk mengetahuinya, tidak pula dapat mengetahui kadarnya, bahkan sebaliknya kalian bersegera mendustakannya dan membantahnya. {أَنُلْزِمْكُمُوهَا} Apa akan kami paksakan kalian menerimanya.
(Hud: 28) Yakni apakah kami menekan kalian untuk menerimanya, padahal kalian sendiri tidak menyukainya?
Kata-kata ini sesungguhnya sudah cukup sebagai persaksiannya. Kebencian mereka itulah yang menghalangi mereka dari tunduk kepada kebenaran sehingga tidak mungkin mereka dipaksa untuk menerimanya.

Sabtu, 11 Ogos 2018

AYAT 25-27

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH HUD'25-27

Wa laqad arsalnaa Noohan ilaa qawmihee innee lakum nazeerum mubeen Al laa ta'budooo illal laaha inneee akhaafu 'alaikum 'azaaba Yawmin aleem Faqaalal mala ul lazeena kafaroo min qawmihee ma naraaka illaa basharam mislanaa wa maa naraakat taba'aka illal lazeena hum araazilunaa baadiyar raayi wa maa naraa lakum 'alainaa min fadlim bal nazunnukum kaazibeen “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): ‘Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, (QS. 11:25) agar kamu tidak beribadah kepada selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa adzab (pada) hari yang sangat menyedihkan.’ (QS. 11:26) Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: ‘Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina-dina di antara kami yang lekas percaya saja dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.’ (QS. 11:27)”

(Huud: 25-27)
 Allah bercerita tentang Nuh, bahwa ia adalah Rasul yang pertama kali diutus oleh Allah Ta’ala kepada penduduk bumi, dari kalangan orang-orang musyrik, penyembah berhala. Bahwasanya ia pernah berkata kepada kaumnya: innii lakum nadziirum mubiin (“Sesungguhnya aku ini adalah seorang pemberi peringatan yang nyata bagi kalian.”) Maksudnya, pemberi peringatan kepada kalian secara terang-terangan dari adzab Allah, jika kalian beribadah kepada selain Allah. Oleh karena itu Allah berfirman: allaa ta’buduu illallaaH (“Agar kalian tidak beribadah kepada selain Allah.”)

 Dan firman-Nya: innii akhaafu ‘alaikum ‘adzaaba yaumin ‘adhiim (“Sesungguhnya aku khawatir kalian akan ditimpa adzab pada hari yang sangat menyedihkan.”) Yakni, jika kalian terus-menerus dan tidak bergeming dari apa yang kalian kerjakan itu, niscaya Allah Ta’ala akan mengadzab kalian dengan siksaan yang pedih, menyakitkan dan berat di alam akhirat. Fa qaalal mala-ul ladziina kafaruu minHum (“Maka para pemimpin yang kafir dari kaumnya berkata”) Sedangkan yang dimaksud dengan al-mala’ adalah para pemuka dan pembesar kaum kafir.

 Maa naraka illaa basyaram mitslanaa (“Kami tidak melihat kalian, melainkan sebagai seorang manusia biasa seperti kami.”) Maksudnya, kamu ini bukan seorang Malaikat, melainkan hanya manusia biasa, lalu bagaimana mungkin diturunkan wahyu kepadamu tanpa melibatkan kami. Kemudian kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu kecuali orang-orang hina di antara kami, misalnya pengemis, tukang tenun, dan yang sebangsanya. Dan tidak ada seorang pun dari orang-orang terhormat dan para pemimpin di antara kami yang mengikutimu. Kemudian orang-orang yang mengikutimu itu, orang-orang yang mengambil keputusan tanpa peninjauan dan pemikiran yang mendalam, tetapi mereka hanya sekedar menanggapi yang kamu serukan kepada mereka dan kemudian mengikutimu. Oleh karena itu mereka berkata: wa maa naraakat taba’aka illalladziina Hum araadzilunaa baadiyar ra’yi (“Dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu melainkan orang-orang yang hina-dina antara kami yang lekas percaya saja.”) Yaitu, pada awal permulaan.

 Wa maa naraa lakum ‘alainaa min fadlin (“Dan kami tidak melihatmu memiliki sesuatu kebihan apa pun atas kami.”) Mereka berkata, kami tidak melihat adanya kelebihan pada dirimu atas diri kami, baik dalam penciptaan, moral, rizki dan juga keadaan, setelah kalian masuk ke dalam agama kalian ini. Bal nadzunnukum kaadzibiin (“Bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.”) Maksudnya, dusta dalam apa yang kamu serukan, baik berupa kebaikan, perbaikan, ibadah, dan bahagiaan di alam akhirat kelak jika kalian digiring menuju ke sana. Ini adalah penyangkalan yang dilakukan oleh orang-orang kafir terhadap Nabi Nuh as. dan para pengikutnya. Dan hal yang demikian itu merupakan bukti yang menunjukkan kebodohan mereka dan minimnya pengetahuan yang mereka miliki serta lemahnya akal pikiran mereka. Bukan suatu aib bagi kebenaran jika yang mengikutinya itu adalah orang-orang yang hina, karena kebenaran itu sendiri tetap shahih baik ia diikuti oleh orang-orang terhormat maupun orang-orang yang hina. Bahkan yang sebenarnya dan tidak diragukan lagi bahwa para pengikut kebenaran itu adalah orang-orang terhormat meski mereka itu orang-orang miskin, sedangkan mereka yang menolak kebenaran itulah justru yang hina-dina, meski mereka dari golongan orang-orang yang kaya-raya. Kemudian, kenyataan yang dominan adalah bahwa para pengikut benaran itu berasal dari kaum dhu’afa’. Mayoritas para pemuka dan pembesar itulah yang menentang kebenaran. Sebagaimana yang difirmankan Allah yang artinya: “Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelummu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak jejak mereka.’” (QS. Zukhruf: 23) Ketika raja Romawi, Heraclius bertanya kepada Abu Sufyan Shakhr bin Harb, tentang sifat-sifat Nabi, ia bertanya: “Apakah yang mengikutinya itu dari kalangan orang-orang terhormat, ataukah dari kalangan orang-orang lemah?” Abu Sufyan menjawab: “Mereka adalah dari kalangan orang-orang yang lemah.” Maka Heraclius pun berkata: “Orang-orang lemah itu memang pengikut para Rasul.” Ucapan mereka: “Yang lekas percaya saja,” bukanlah suatu hal yang tercela dan hina, serta tidak pula sebagai aib. Karena kebenaran itu jika sudah benar-benar jelas, maka tidak memerlukan lagi kepada pemikiran dan perenungan, tetapi hanya perlu diikuti dan ditaati. Demikian itulah yang dilakukan oleh setiap orang yang mempunyai kebersihan jiwa dan kecerdasan, bahkan orang yang berpikir kembali untuk menerima kebenaran tersebut merupakan orang bodoh dan tidak berpikiran.

 Para Rasul Allah secara keseluruhan, mereka datang dengan membawa perintah yang sudah jelas dan nyata. Firman Allah Ta’ala: “Dan kami tidak melihatmu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami.” Mereka tidak mengetahui hal itu karena mereka buta, tidak dapat melihat kebenaran dan tidak mendengarnya, bahkan mereka selalu dalam keraguan dan senantiasa terombang-ambing dalam kebodohan mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang durhaka lagi pendusta, yang picik lagi hina. Dan di akhirat kelak, mereka itu termasuk orang-orang yang merugi.

Khamis, 9 Ogos 2018

AYAT 23-24'

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH HUD 23-24'
BIS-MIL-LAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM.,
Innal lazeena aamanoo wa 'amilus saalihaati wa akhbatooo ilaa Rabbihim ulaaa'ika Ashaabul Jannati hum feehaa khaalidoon Masalul fareeqini kal a'maa wal asammi walbaseeri wassamee'; hal yastawiyaani masalaa; afalaa tazakkaroon (section 2) “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih dan merendahkan diri kepada Rabb mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS. 11:23) Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran (daripada perbandingan itu)? (QS.-11:24)”

(Huud: 23-24) Setelah Allah menceritakan keadaan orang-orang yang hidup sengsara, kemudian Allah menceritakan golongan orang-orang yang berbahagia, yaitu mereka yang beriman dan mengerjakan amal shalih. Hati mereka benar-benar beriman dan seluruh anggota tubuh mereka berbuat amal shalih, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yakni dengan mengerjakan berbagai ketaatan dan menjauhi berbagai kemungkaran. Dengan demikian, mereka menjadi pewaris beraneka ragam surga yang mempunyai banyak kamar yang tinggi, pelaminan yang berderet rapi, aneka buah-buahan yang segar, permadani yang tebal, serta berbagai keindahan yang menyenangkan, berbagai macam makanan yang lezat dan minuman yang segar, serta kesempatan memandang kepada Rabb Pencipta langit dan bumf.

Di dalamnya mereka benar-benar kekal untuk selamanya, tidak akan mati, tidak tua, tidak juga sakit, tidak tidur, tidak buang kotoran, tidak meludah dan tidak berdahak, melainkan ia selalu mengeluarkan bau yang sangat harum.dalam tafsir lain menyatakan terdapat 7jenis syurga yang mana allah nilaikan bagi setiap insan yang bakal menghuni nya ,. 1.Darus Salam: Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, “Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal sholeh yang selalu mereka kerjakan.” (QS. 6:127)

 Surga adalah Darussalam (negri keselamatan) dari segala musibah, kecelakaan, dan segala hal yang tidak disukai, dan dia merupakan negri Allah subhanahu wata’ala, diambil dari nama Allah “as-Salam”. Allah subhanahu wata’ala pun mengucapkan salam atas mereka, “Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan), “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang Maha Penyayang.” (QS. 36:57-58) 2.Jannatu ‘adn: Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, (Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang sholeh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya, dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan), “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. 13:23-24) 3.Jannatul Khuld: Karena penduduknya kekal di dalamnya dan tidak akan berpindah ke alam (tempat) lain. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, ”Katakanlah, “Apakah (azab) yang demikian itu yang baik, atau surga yang kekal yang dijanjikan kepada orang- orang yang bertaqwa?” Surga itu menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka.” (QS. Al-Furqan:15) 4.Darul Muqamah: Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, “Dan mereka berkata:”Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”. (QS. 35:34-35) 5.Jannatul Ma’wa: Adalah tempat menetap sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat an-Najm di atas. Disebut demikian karena surga merupakan tempat menetapnya orang-orang mukmin 6.Jannatun Na’im: 7.Al Muqamul Amin:

 Dan dari ayat diatas jelas allah sawt menerangkan bahawa celakalah bagi mereka yang di tempatkan dalam neraka yang mana terdiri 7 tingkatan ,.,. 1.Neraka jahanam: Adalah tingkat yang atas sekali. yaitu tempat mukminin,mukminat,muslimin dan muslimat yang melakukan dosa kecil maupun besar “….Demi Neraka jahanam di datangkan untuk semua orang walaupun hanya lewat / mampir dalam 1 hari” Firman Allah SWT: “Bahwasanya orang-orang kafir dan orang aniaya itu tidak akan diampuniAllah, dan tidak pula ditunjuki jalan, melainkan jalan ke Neraka Jahannam. Mereka kekal dalam neraka itu selama-lamanya. Yang demikian itu mudah sekali bagi Allah”(Q.S. An-Nisa: 169) 2.Neraka ladhoh: Tingkat kedua yaitu tempat orang yang mendustakan agama Firman Allah SWT : “Sebab itu Kami beri kabar pertakut kamu dengan Neraka Luza (neraka yang menyala-nyala). Tiada yang masuk kedalamnya selain orang yang celaka. Yaitu orang yang mendustakan agama dan berpaling dari pada-Nya”(Q.S. Al-Lail : 14-16) 3.Neraka Khutamah: Inilah neraka tingkat ketiga. yaitu tempat orang yang hanya lalai memikirkan dunianya tanpa mengerjakan kebutuhan/kepentingan untuk ibadahnya. Harta yang membuat orang durhaka. Firman Allah SWT : “Tahukah engkau apakah Hathamah itu? Yaitu api neraka yang menyala-nyala yang membakar hati manusia. Api yang ditutupkan kepada mereka. Sedangkan mereka itu diikatkan pada tiang yang panjang” (Q.S. Al-Humazah : 4-9) 4.Neraka sair: Tingkat ke-empat yaitu tempat orang yang tidak mau mengeluarkan zakat atau bagi mereka yang mengeluarkan tapi tidak pada porsinya dan Dalam neraka ini ditempatkan orang yang memakan harta anak yatim. Didalam neraka ini mereka buta, pekak, dan kulitnya tebal seperti Jabal uhud. Firman Allah SWT : “Bahwasanya orang-orang yang memakan harta anak yatim dengan aniaya, sesungguhnya mereka memakan api sepenuh perutnya. Dan nanti mereka akan dimasukkan kedalam neraka Sair(Q.S. An-Nisa: 10) 5.Neraka Sahkhor: Yaitu tempat orang yang tidak melaksanakan salat, tempat orang yang berbohong tentang keberadaan Allah, menyembah selain Allah atau menyembah zat yang keluar dari sifat Allah dan Al quran,. Didalam kitab safina : “….orang yang tidak melaksanakan solat dihukumi sebagai hewan yang tidak ada harganya/ tidak ada manfaatnya “ Didalam surga mereka saling bertanya dari hal orang berdosa. Apakah sebabnya kamu masuk neraka Saqru? Karena kami tidak sholat, kami tidak memberi makan orang miskin, kami percaya pada yang bukan-bukan. Kami mendustakan hari kiamat.(Q.S. Al-Mudatsir : 40-46) 6.Neraka jahim: Tingkat ke-enam yaitu ditempatkan orang kafir, orang yang mendustakan agama, yaitu orang-orang Islam yang berdosa. Mereka yang berbuat apa yang dilarang Tuhan. Umpamanya berzina, meminum khamar, dan membunuh tanpa hak. Firman Allah SWT : ”Dan orang-orang yang kafir dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami, mereka itulah penghuni neraka Jahim.(Q.S. Al-Maidah : 86) 7.Neraka Hawiyah: Inilah neraka yang berada dibawah sekali.neraka yang paling keras, yaitu tempat orang yang ketika matinya tidak membawa iman dan islam, apinya hitam dan sudah dibakar 1000tahun lamanya, Alas atau kerak-kerak neraka. Disinilah tempat orang-orang yang berdoa berat. Mereka yang menjadi musuh nabi-nabi, seperti Firaun. Firman Allah SWT : “

       Dan barang siapa yang ringan timbangannya, maka dia dilemparkan ke neraka hawiyah. Tahukah engkau apakah Neraka Hawiyah itu? Yaitu api yang sangat panas”.(Q.S. Al-Qoriah : 8-11) sahabat Abu Hurairoh “terdengar suara yang mengelegar lalu bertanyalah ke rosulullah dan rosulullah menjawab itu adalah suara batu yang jatuh dari neraka jahanam ke “teleng” sekitar dada jatuhnya 1000 tahun”. Bersabda Nabi SAW : Adapun Neraka itu gelap gulita, tidak mempunyai penerangan kecuali api yang menyala-nyala. Neraka itu mempunyai tujuh pintu dan tiap-tiap pintu itu mempunyai tujuh puluh ribu bukit, tiap-tiap bukit mempunyai tujuh puluh ribu cabangnya, tiap-tiap cabang itu terdiri atas bagian-bagian yang lebih kecil. Dan tiap-tiap bagian yang lebih kecil itu terdiri atas tujuh puluh ribu dusunnya. Dan tiap-tiap dusun itu tujuh puluh ribu rumahnya dan api yang menyala-nyala. Tiap-tiap rumah itu tujuh puluh ribu ular dan kalajengking

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN