Khamis, 22 Februari 2018

ayat 48-51

Tafsir quran dan hadis tabaruk,
Surah Ali ‘Imraan ayat 48-51,
Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan
(Keluarga ‘Imraan) Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat.
 Biss-mil-laa-hir-rahman-nir-rahim; Ayat 47 Qa_lat anna_ yaku_nu li waladuw wal lam yamsasni basyar(un), qa_la kaza_likilla_hu yakhluqu ma_ yasya_'(u), iza_ qada_ amran fa innama_ yaqu_lu lahu_ kun fayaku_n(u). 3:48 Ayat 48 Wa yu'allimuhul kita_ba wal hikmata wat taura_ta wal injil(a). 3: Ayat 49 Wa rasu_lan ila_ bani isra_'il(a), anni qad ji'tukum bi a_yatim mir rabbikum anni akhluqu lakum minat tini ka hai'atit tairi fa anfukhu fihi fa yaku_nu tairam bi iznilla_h(i), wa unabbi'ukum bima_ ta'kulu_na wa ma_ taddakhiru_na fi buyu_tikum, inna fi za_lika la a_yatal lakum in kuntum mu'minin(a). Ayat 50 Wa musaddiqal lima_ baina yadayya minat taura_ti wa li'uhilla lakum ba'dal lazi hurrima 'alaikum wa ji'tukum bi a_yatim mir rabbikum, fattaqulla_ha wa ati'u_n(i). 3:51 Ayat 51 Innalla_ha rabbi wa rabbukum fa'budu_h(u), ha_za_ sira_tum mustaqim(un).

 {وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالإنْجِيلَ (48) وَرَسُولا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُبْرِئُ الأكْمَهَ وَالأبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (49) وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَلأحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ وَجِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (50) إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (51) } “

Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil. (QS. 3:48) Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabb-mu, yaitu aku membuat untukmu dari tanah berbentuk burung kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit kusta; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumabmu. Sesunggubnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu,jika kamu sungguh-sungguh beriman. (QS. 3:49) Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabb-mu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. (QS. 3:50) Sesungguhnya Allah, Rabb-ku dan Rabbmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus”. (QS. 3:51) Allah memberitahukan mengenai kesempurnaan berita gembira yang disampaikan Malaikat kepada Maryam. Tentang puteranya, `Isa as. dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah, mengajarkan kepadanya al-Kitab dan Hikmah, serta Taurat dan Injil.”

 Lahiriyah ayat ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan kitab di sini adalah tulis-menulis, sedangkan hikmah telah diterangkan pada pembahasan surat al-Baqarah. Sedang Taurat maksudnya adalah kitab yang diturunkan kepada Musa bin `Imran, dan Injil adalah hafal kedua kitab ini. Taurat ialah kitab yang diturunkan kepada Musa ibnu Imran, sedangkan kitab Injil ialah kitab yang diturunkan kepada Isa ibnu Maryam a.s. Disebutkan bahwa Nabi Isa a.s. hafal kitab Taurat dan kitab Injil yang diturunkan kepadanya. Taurat dan Injil , Taurat kitab dari nabi Daud tapi diajarkan kpdNabi Isa juga.Ini memperlihatkan bahwa agama tiap nabi satu,Islam.Demikian juga ayah mereka smw satu.Nabi ibrahim.kecuali nabi Luth (keponakan).Nabi diatas nabi Ibrahim di luar pembahasan ini. Al Hikmah. Jika dlm islam hikmah yg diberikan kepada Nabi berupa sunnah.Nabi Isa punya sunnah. dsb Al Kitab disini maksudnya? Kan sudah ada injil sudah dsebut. Di ayat ini al kitab tdk sama Injil-Taurad.untuk diayat ini.beda lagi jk di ayat lain. Maksudnya adalah tulis menulis.Allah ajarkan kpd nabi Isa bisa menulis dan membaca.berbeda dgn nabi Muhammad. Nabi muhammad tdk bisa membaca (refer ke kejadian saat pertama kali Jibril mendatangi Nabi di gua Hiro'). Firman-Nya, wa rasuulan ilaa banii israa-iil (“Dan [sebagai] Rasul kepada bani Israil,”) yang berkata kepada mereka, “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari ‘Rabb-mu, yaitu aku membuat untukmu dari tanah berbentuk burung, kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah.” Demikianlah `Isa menciptakan bentuk sebuah burung yang terbuat dari tanah liat, lalu meniupnya, dan kemudian burung itu, dengan disaksikan banyak orang, terbang dengan sebenar-benarnya dengan seizin Allah yang mana Allah menjadikan hal itu sebagai mukjizat baginya yang menunjukkan bahwa Dia benar-benar mengutusnya. Firman-Nya, abri-ul akmaHa (“Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya.”) Yaitu orang yang dilahirkan dalam keadaan buta, karena yang demikian itu merupakan mukjizat yang amat hebat dan sangat menantang. Wal abrasha (“Dan orang yang berpenyakit kusta,”) yaitu penyakit yang sudah dikenal (kusta). Wa uhyil mautaa bi-idznillaaH (“Dan aku hidupkan orang mati dengan seizin Allah.”) Mayoritas ulama berpendapat: “Allah telah mengutus setiap Nabi sesuai dengan keadaan zamannya.” Yang dominan pada zaman Nabi Musa as. adalah sihir dan pengagungan tukang sihir. Maka Allah mengutusnya dengan disertai mukjizat yang membelalakkan mata dan membingungkan para penyihir. Dan ketika mereka meyakini bahwa mukjizat itu berasal dari Allah, maka mereka berbondong-bondong memeluk Islam hingga akhirnya menjadi hamba Allah yang berbakti. Sedangkan `Isa as. diutus oleh Allah pada masa yang marak dengan ahli kedokteran dan pakar ilmu alam. Maka `Isa pun datang ke tengah-tengah mereka dengan membawa mukjizat yang tidak ada lagi seorang pun mampu mencapainya, kecuali mendapat dukungan dari Pembuat syari’at. Dokter mana yang sanggup menghidupkan benda mati, atau menyembuhkan orang buta sejak lahir atau orang yang menderita penyakit kusta, serta membangkitkan orang yang berada di dalam kuburnya yang terikat dengan amal perbuatannya hingga hari Kiamat? Demikian juga dengan Muhammad saw. yang diutus pada masa yang dipenuhi oleh ahli bahasa, sastrawan, dan penyair. Maka beliau diberi Kitab oleh Allah yang mana seandainya jin dan manusia bersatu untuk membuat kitab yang sama, atau dengan sepuluh surat sepertinya, atau satu surat saja yang menyerupainya, niscaya mereka tidak akan pernah sanggup melakukan hal itu, selamanya, meskipun antara satu dengan yang lainnya saling tolong-menolong. Yang demikian itu tidak lain karena firman Allah tidak akan pernah serupa dengan perkataan makhluk-Nya, selamanya. Firman-Nya, wa unabbi-ukum bimaa ta’kuluuna wa maa taddakhiruuna fii buyuutikum (“Dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. “Yakni aku akan memberitahukan kepada kalian apa yang dimakan salah seorang di antara kalian sekarang dan apa yang disimpan di dalam rumahnya untuk esok hari. Inna fii dzaalika (“Sesungguhnya pada yang demikian itu,”) yaitu pada semuanya itu, la aayatal lakum (“Adalah suatu tanda [kebenaran kerasulan] bagimu,”) artinya tanda kebenaranku dalam membawa ajaran kepada kalian. In kuntum mu’miniina. Wa mushaddiqal limaa baina yadayya minat tauraati (“Jika kamu sungguh sungguh beriman. Dan [aku datang kepadamu] membenarkan Taurat.”) Yaitu menetapkan dan menegaskannya. Wa uhilla lakum ba’dlal ladzii hurrima ‘alaikum (“Dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu.”) Ini menunjukkan bahwa `Isa menasakh (menghapus) sebagian syari’at Taurat. Inilah pendapat yang benar dari dua pendapat yang ada. Wallahu a’lam ed. Dan di antara ulama ada yang berpendapat, bahwa `Isa tidak menasakh sedikit pun dari Taurat. Tetapi menghalalkan bagi mereka sebagian apa yang telah mereka perselisihkan karena salah, dan menyingkap bagi mereka tabir penutup hal tersebut. Sebagaimana firman-Nya dalam ayat yang lain: wa li-ubayyina lakum ba’dlal ladzii takhtalifuuna fiiHi (“Dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya.”) (QS. Az-Zukhruf: 63) Wallaahu a’lam. Lalu Dia berfirman, wa ji’tukum bi-aayatim mir rabbikum (“Dan aku datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda [mukjizat] dari Rabb-mu.”) Yaitu dengan hujjah dan bukti atas kebenaranku terhadap apa yang aku katakan kepada kalian. Fat taqullaaHa wa athii’uun. innallaaHa rabbii wa rabbukum fa’buduuHu (“Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Rabbku dan Rabbmu, karena itu sembahlah Dia.”) Artinya, aku dan kalian sama, menghambakan diri dan tunduk serta khusyu’ kepada Nya. Haadzaa shiraatum mustaqiim (“Inilah jalan yang lurus.”) Penjelasan ayat 47-51 Di ayat ini dijelaskanlah empat keutamaan anugerah Tuhan kepada beliau. Pertama dia akan diajari kitab, yaitu akan diberi pengetahuan menulis dan membaca. Sabda Tuhan yang begini menambah kepercayaan ummat Muhammad s.a.w bahwasanya niscaya Nabi Isa itu ada mencatatkan Injil, sebagai wahyu yang diterimanya dari Tuhan. Dan diajarkan pula kepada beliau hikmat, yaitu kebijaksanaan dan akal budi yang luas dan jauh pandangan. Diajar Tuhan pula kepada beliau kitab Taurat dan diberi pula dia wahyu sendiri, yaitu Injil. Injil itulah syari'at yang khas bagi beliau. Dari sebab ayat ini maka orang Islam percaya bahwa sebelum adanya keempat Injil yang dipercayai oleh orang Kristen, yang dikarang oleh Matius, Markus, Lukas dan Yohannes, telah ada terlebih dahulu Injilnya Nabi Isa sendiri, yaitu Injil yang asli. Ini diterangkan jelas oleh Markus dalam Injil yang dikarangnya (Fasal I ayat 14-15). 14. Setelah Yahya itu sudah tertangkap, datanglah Yesus ke tanah Galilea memasyurkan Injil Allah. 15. Serta berkata: "Waktunya sudah sampai, Kerajaan Allah sudah dekat. Bertaubatlah kamu dan percayailah akan Injil itu. "Akan Injil itu!" Dengan dasar ini bertambah dapatlah difahamkan oleh saudara-saudara kita orang Kristen jika orang Islam percaya akan adanya satu Injil Almasih menurut ajaran al-Qur'an; isyarat tentang itupun terdapat dalam kitab mereka sendiri. Dan lantaran itu dapat pula mereka fahami bahwa dalam keempat karangan, Matius, Markus, Lukas dan Yohannes (Yahya) itu belum dapat dipastikan cukup tercakup Injil Yesus, karena semuanya hanya karangan mereka sesudah Isa Almasih meninggal. Di samping itu, menurut kepercayaan orang Kristen sendiri ada lagi catatan yang lain-lain yang mereka namai juga Injil, tetapi kemudian tidak disahkan oleh keputusan gereja. Kemudian malaikat itu meneruskan katanya pula: وَرَسُولاً إِلى‏ بَني‏ إِسْرائيلَ "Dan Rasul kepada Bani Israil " (pangkal ayat 49). Kepada Bani Israillah tujuan beliau yang pertama dan utama sekali, sebagai pernah beliau sebutkan bahwa beliau datang adalah hendak mengumpulkan domba-domba Israil yang hilang. Kemudian itu, di dalam ayat itu juga, diterangkan apa seruan Nabi Isa Almasih kepada Bani Israil itu. Di antara kata beliau: أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ "Sesungguhnya aku telah datang kepada kamu dengan ayat dari Tuhan kamu." Arti ayat di sini ialah mu'jizat, yaitu tanda-tanda yang ganjil, jarang terjadi, sebagai tanda dari kekuasaan Allah. Maka diuraikan pulalah oleh Nabi Isa di antara ayat itu: أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فيهِ فَيَكُونُ طَيْراً بِإِذْنِ اللهِ "Sesungguhnya aku dapat membuat untuk kamu dari tanah seperti bentuk burung, lalu aku hembuskan padanya, maka jadilah dia burung dengan izin Allah." Beliau katakan bahwa beliau sanggup menggamak-gamak tanah, membuat tanah itu berbentuk seperti burung, maka setelah dihembusnya tanah in dengan izin Allah, jadilah dia burung benar-benar. Kemudian beliau sebut pula mu'jizat yang lain, yang dia sanggup mengerjakan: وَ أُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَ الْأَبْرَصَ وَ أُحْيِ الْمَوْتى‏ بِإِذْنِ اللهِ "dan aku dapat menyembuhkan orang buta dan orang disupak (balak) dan menghidupkan orang yang telah mati dengan izin Allah." Dan ketiganya itu telah pernah beliau lakukan, maka orang buta, or­ang disupak itupun sembuhlah kembali, yang buta menjadi nyalang matanya dan yang dapat penyakit supak licin baik kembali mulutnya dan orang yang baru meninggalpun hidup kembali; semuanya itu dengan izin Allah. وَ أُنَبِّئُكُمْ بِما تَأْكُلُونَ وَ ما تَدَّخِرُونَ في‏ بُيُوتِكُمْ "Dan aku dapat menceritakan kepada kamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan dalam rumah-rumah kamu." Serupa ini pulalah mukjizat yang pernah diberikan kepada NabiYusuf, yang dapat menerka makanan apa yang akan diberikan penjaga penjara kepada teman-temannya di dalam penjara sebelum makanan sampai seperti tersebut di dalam Surat Yusuf . Sama sekali itu, dialas kata oleh Almasih, adalah dengan izin Allah, sebagaimana sekali rasul pun mengeluarkan berbagai mukjizat; Musa dengan tongkatnya, Shalih dengan untanya, Ibrahim tidak terbakar dalam nyala api, semuanya itu berlaku dengan izin Allah. Lalu berkatalah Isa selanjutnya: إِنَّ في‏ ذلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنينَ "Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah satu tanda bagimu,jika memang kamu beriman." (ujung ayat 49). Yaitu satu tanda yang tidak akan dapat kamu mungkiri lagi bahwa aku ini memang utusan dari Al­lah untuk kamu. Karena semua yang terjadi pada mukjizat itu hanya semata-mata keizinan dari Allah, bukan daya upayaku sendiri. Sebab itu berimanlah kamu dan percayalah kamu kepada Allah. Menurut ahli-ahli Tasauf, kerohanian Isa Almasih itu lebih tinggi dari kejasmaniannya, yang menyebabkan begitu ialah karena hamil ibunya ialah dengan kedatangan Roh yang menyerupakan dirinya sebagai manusia itu. Sebab itu maka dengan izin Allah dapatlah diberi bernyawa bentukan burung dari tanah. Tetapi tentang burung ini Nabi Isa hanya sanggup berbuat begitu. Tidak ada riwayat sahih menyatakan yang demikian pernah terjadi. Kata ahli-ahli Tasauf itu pula, Roh Alam Malakut (Malaikat) itu menyebabkan kepada beliau dianugerahi kesanggupan menghidupkan kembali orang yang baru mati. Tetapi rohani yang badan aslinya telah hancur, sehingga hanya tinggal tulang tidaklah beliau diberi kesanggupan untuk mengembalikannya. Hal ini dikuatkan oleh keterangan dalam kitab-kitab pegangan orang Nasrani sendiri, yang menceritakan bahwa beliau menyuruhberdiri kembali seorang anak perempuan yang kelihatan sudah mati, tetapi belum dikuburkan. Eliazar pun beliau suruh berdiri kembali dan hidup sebelum badannya rusak atau busuk. Tentang penyembuhan beberapa penyakit, maka di dalam kalangan Kristen lantaran ini, timbul ilmu pengobatan yang mereka namai Christian Science yang dengan kekuatan rohani dapat menyembuhkan penyakit. Kemudian Nabi Isa berkata lagi tentang tugasnya وَ مُصَدِّقاً لِما بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْراةِ "dan membenarkan apa yang di hadapanku daripada Taurat." (pangkal ayat 50). Artinya, bahwa beliau datang bukanlah akan mengubah ­ubah hukum Taurat, bahwa satu noktahpun tidak ada yang akan dirobah: وَ لِأُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ "dan untuk menghalalkan bagi kamu apa yang pernah diharamkan atas kamu." Karena banyak perkara, terutama makanan yang diharamkan kepada Bani Israil karena dari kesalahan mereka sendiri, karena banyak pertanyaan mereka; maka kedatangan Isa adalah mencabut kembali beberapa larangan itu, sehingga tidak menyempit. Sebab itu maka pokok-pokok hukum Taurat sekali-kali tidak berubah, yang berubah ialah beberapa syariat menurut zamannya. وَ جِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ "Dan akan datang kepada kamu dengan ayat dari Tuhan kamu", beliau ulangkan sekali lagi menyebutkan ayat atau mu'jizat untuk pemisahkan mu'jizat yang terlebih dahulu dengan yang akan datang kemudian yang semuanya bukan tanda bahwa Isa Tuhan, melainkan sebagai tanda bahwa dia adalah Utusan Allah; فَاتَّقُوا اللهَ "maka takwalah kepada Allah", ikutlah perintahNya dan hentikanlah laranganNya dan sembahlah Dia, وَ أَطيعُونِ "dan taatilah aku." (ujung ayat 50). Sebab yang tahu bagaimana mendekati Tuhan Allah dan menghambakan diri kepadaNya ialah aku, sebab aku adalah utusanNya. Untuk keselamtanmu semuanya, taatilah aku dan turutilah jalan yang aku tempuh. إِنَّ اللهَ رَبِّي وَ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هذا صِراطٌ مُسْتَقيمٌ "Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kamu. Sebab itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus." (ayat 51). Di hadapan Allah itu samalah di antara aku dengan kamu, sama-sama hambaNya. Sebab itu kepadaNya sajalah hendaknya kamu menyembah. Inilah jalan yang lurus, jalan yang lain tidak ada. Tidak ada Tuhan melainkan Dia. Demikianlah diceritakan tentang Maryam mengandung dan Isa Almasih lahir kemudian diangkat Allah menjadi utusanNya. Tidak ada Isa Almasih menyeru manusia untuk menempuh jalan lain, ataupun untuk menuhankan dirinya sendiri.

Rabu, 21 Februari 2018

AYAT 45-47

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
Surah Ali ‘Imraan ayat 45-47 Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan) Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

 {إِذْ قَالَتِ الْمَلائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ (45) وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَمِنَ الصَّالِحِينَ (46) قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (47) } “

(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakanmu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya al-Masih ‘Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), (QS. 3:45) dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang shalih’. (QS. 3:46) Maryam berkata: ‘Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.’ Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): ‘Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: ‘Jadilah’, lalu jadilah dia.” (QS. 3:47) Ini merupakan kabar gembira yang disampaikan oleh Malaikat kepada Maryam, bahwa Allah akan melahirkan darinya seorang anak yang mulia yang memiliki kedudukan tinggi. Allah swt. berfirman, wa idz qaalatil malaa-ikatu yaa maryamu innallaaHa yubasy-syiruki bikalimatin minHu (“Ingatlah ketika Malaikat berkata: ‘Wahai Maryam, sesungguhnya Allah memberikan kabar gembira kepadamu [dengan kelahiran seorangputra yang diciptakan] dengan kalimat [yang datang] dari-Nya.’ Yaitu seorang anak yang keberadaannya melalui sebuah kalimat dari Allah, yaitu Allah berkata kepadanya, kun ‘Jadilah’, maka jadilah ia. Dan ini merupakan penafsiran firman-Nya, mushaddiqam bikalimatim minallaaH (“Yang membenarkan kalimat [yang datang] dari Allah.”) (QS. Ali-Imian: 39)

Sebagaimana yang disebutkan oleh Jumhur ulama, yang telah dijelaskan sebelumnya. Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Yazid ibnu Abdullah ibnu Qasit, dari Muhammad ibnu Syurahbil, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Tidak ada seorang pun semasa bayinya dapat berbicara kecuali Isa dan teman Juraij. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abus Saqr Yahya ibnu Muhammad ibnu Quza'ah, telah menceritakan kepada kami Al-Husain (yakni Al-Marwazi), telah menceritakan kepada kami Jarir (yakni Ibnu Abu Hazim), dari Muhammad, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Tidak ada yang dapat berbicara di dalam buaian kecuali tiga orang, yaitu Isa, bayi yang ada di masa Juraij, dan bayi lainnya (anak Masyitah, pent.). ismuHul masiihu ‘iisabna maryama (“Namanya al Masih Isa putra Maryam.”) Artinya, nama ini masyhur di dunia dan dikenal oleh orang-orang yang beriman. Dinamai al-Masih, menurut sebagian ulama salaf, karena ia banyak melakukan perjalanan. Ada juga yang mengatakan, karena ia rata kedua telapak kakinya, tidak berlekuk. Dikatakan juga, karena jika ia mengusap seseorang yang mengidap penyakit kronis, maka dengan izin Allah orang itu akan sembuh. Firman-Nya, ‘iisabna maryama (“Isa putra Maryam,”) dinisbatkan kepada ibunya, Maryam, kerena tidak mempunyai ayah. wajiiHan fiddun-yaa wal aakhirati wa minal muqarrabiin (“Seorang terkemuka di dunia dan akhirat serta termasuk orang-orang yang didekatkan [kepada Allah].”) Dengan kata lain, ia mempunyai kehormatan dan kedudukan di hadapan Allah di dunia, karena syari’at telah diwahyukan kepadanya serta diturunkan pula kepadanya kitab dan karunia Allah lainnya yang diberikan kepadanya. Sedang di akhirat kelak ia akan memberi syafa’at di hadapan Allah kepada orang-orang yang diizinkan-Nya dan syafa’atnya itu dikabulkan Allah sebagaimana para Rasul dari kalangan Uulul `Azmi. Semoga shalawat dan salam Allah atas mereka semuanya. Firman-Nya, wa yukallimun naasa fil maHdi wa kaHlan (“Dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa.”) Yaitu ia mengajak untuk ibadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya pada waktu masih bayi. Yang demikian itu merupakan mukjizat dan tanda (kekuasaan Allah). Juga pada waktu sudah dewasa, yaitu ketika Allah menyampaikan wahyu kepadanya. Wa minash shaalihiin (“Dan dia termasuk di antara orang-orang yang shalih.”) Yakni dalam perkataan dan perbuatan, ia memiliki ilmu yang benar dan amal yang shalih. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Hurairah, Nabi bersabda: “Tidak ada yang dapat bicara ketika masih dalam buaian kecuali tiga bayi, yaitu `Isa, seorang bayi pada masa Juraij, dan seorang bayi lainnya.” (Muttafaq alaih) Ketika mendengar kabar gembira yang disampaikan oleh Malaikat itu, Maryam berucap dalam munajatnya: rabbi innii yakuunu lii waladuw walam yamsasnii basyar (“Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.”) Maksudnya, bagaimana anak itu akan lahir dariku sedang aku tidak mempunyai suami, bahkan niat menikah pun tidak ada, dan aku pun bukan seorang pelacur, a’uudzubillaah. Sebagai jawaban atas pertanyaannya tersebut, maka Malaikat menyampaikan kepadanya dari Allah, kadzaalikillaaHu yakhluqu maa yasyaa-u (“Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya.”) Artinya, demikianlah perintah Allah itu sangat agung, tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkannya. Ditegaskan di sini dengan firman-Nya: “yakhluqu maa yasyaa-u” dan tidak menggunakan kalimat “yaf’alu maa yasyaa-u” sebagaimana dalam kisah Zakariya. Bahkan disebutkan di sini dengan jelas bahwa Ia menciptakan, dengan tujuan agar tidak ada syubhat atau keraguan. Dan hal ini diperkuat dengan firman-Nya, idzaa qadlaa amran fa innamaa yaquulu laHuu kun fayakuun (“Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka hanya cukup berkata kepadanya: ‘jadilah, ” maka jadilah ia.”) Maksudnya, tidak tertambat sedikit pun, bahkan segera. Sebagaimana firman-Nya: wa maa amrunaa illaa waahidatun kalamhil bashari (“Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata.”) Artinya, Kami hanya memerintah satu kali saja, tanpa diulangi, maka segeralah terjadi sesuatu itu secepat kejapan mata. Maksudnya: membenarkan kedatangan seorang Nabi yang diciptakan dengan kalimat kun (jadilah) tanpa bapak yaitu Nabi Isa 'alaihis salam. Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengutus Jibril kepada Maryam, lalu Jibril meniupkan ruh dari leher baju Maryam, maka tiupan itu masuk ke dalam diri Maryam, kemudian Allah mengembangkan ruh itu, sehingga ia menjadi manusia dari materi ruh. Oleh karena itulah, ia disebut Ruuhullah, yakni ruh ciptaan Allah. Dinisbatkan kepada Maryam untuk mengingatkan bahwa Isa lahir tanpa bapak. Yang demikian tidaklah mustahil bagi Allah, bukankah Nabi Adam 'alaihis salam lahir tanpa bapak dan ibu, sedangkan Hawa' lahir dari laki-laki, yaitu dari tulang rusuk Nabi Adam 'alaihis salam. Yakni memiliki kedudukan tinggi baik di dunia dan di akhirat. Allah menjadikannya termasuk rasul ulul 'azmi pemilik syari'at yang besar dan pengikut yang banyak. Allah menyebarkan pujian untuknya di timur dan barat. Di akhirat, ia termasuk orang-orang yang didekatkan dengan Allah, bahkan termasuk pemuka orang-orang yang dekat dengan Allah.

Isnin, 19 Februari 2018

ayat 42.43.44

Tafsir quran dan hadis tabaruk,Surah Ali ‘Imraan ayat 42-44;
Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
 Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat;

Biss-millaa-hirah-maa-nir-rahim. Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 42,43,44 Wa iz qa_latil mala_'ikatu ya_ maryamu innalla_hastafa_ki wa tahharaki wastafa_ki 'ala_ nisa_'il 'a_lamin(a). Ya_ maryamuqnuti li rabbiki wasjudi warka'i ma'ar ra_ki'in(a).Za_lika min amba_'il gaibi nu_hihi ilaik(a), wa ma_ kunta ladaihim iz yulqu_na aqla_mahum ayyuhum yakfulu maryam(a), wa ma_ kunta ladaihim iz yakhtasimu_n(a).

 وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ ذَٰلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ ۚ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلَامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ “

Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu dan melebihkanmu atas segala wanita di dunia (yang semasa denganmu).” (QS. 3:42) “Hai Maryam, taatlah kepada Rabb-mu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (QS. 3:43) Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.” (QS. 3:44)

 Ini merupakan pemberitaan dari Allah mengenai apa yang disampaikan Malaikat kepada Maryam, tentang perintah Allah kepada para Malaikat untuk menyampaikan hal tersebut, yaitu bahwa Allah telah memilih Maryam karena ibadahnya yang banyak, kezuhudan, kemuliaan dan kesuciannya dari kotoran dan bisikan syaitan. Kemudian Dia memilihnya untuk kedua kalinya, karena kemuliaannya atas semua wanita di muka bumi ini. Mengenai firman-Nya: innallaaHash thafaaki wa thaHHaraki washthafaaki ‘alaa nisaa-il ‘aalamiin (“Sesungguhnya Allah telah memilihmu, mensucikanmu, dan melebihkanmu atas semua wanita di dunia [yang semasa denganmu,”) `Abdurrazzaq mengatakan dari Sa’id bin al-Musayyab, ia berkata, Abu Hurairah ra. pernah menyampaikan hadits dari Rasulullah “Sebaik-baik wanita yang mengendarai unta adalah wanita Quraisy, paling penyayang kepada anaknya pada masa kecil, dan paling memelihara hak suaminya.
             
Sedangkan Maryam binti `Imran tidak pernah sama sekali menaiki unta.” Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari jalur ini kecuali Imam Muslim saja. Hisyam bin `Urwah mengatakan dari `Ali bin Abi Thalib kata, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Maryam binti `Imran adalah sebaik-baik wanita pada zamannya, dan Khadijah binti Khuwailid adalah sebaik-baik wanita pada zamannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dalam kitab shahihnya masing-masing) Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Anas bin Malik Rasulullah pernah bersabda: “Cukuplah bagimu dari wanita di dunia; Maryam binti `Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, dan Asiah isteri Fir’aun.” Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi sendiri. Dan ia menshahihkannya. Abdullah bin Abi Ja’far ar-Razi mengatakan dari ayahnya, ia berkata, Tsabit al-Banani pernah menyampaikan hadits dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Wanita terbaik di dunia ini ada empat, yaitu Maryam binti `Imran, Asiah isteri Fir’aun, Khadijah binti Khuwailid, dan Fathimah binti Rasulullah. Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih. Dan melalui jalan Syu’bah, dari Mu’awiyah bin Qurrah, dari ayahnya, ia berkata, Rasulullah saw. pernah bersabda: “Laki-laki yang sempurna itu banyak, tetapi tidak ada wanita yang sempurna kecuali tiga orang, yaitu Maryam binti `Imran, Asiah isteri Fir’aun, Khadijah binti Khuwailid. Dan keutamaan ‘Aisyah atas wanita lainnya adalah seperti keutamaan bubur daging atas makanan lainnya.” Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ary bahwa Rasulullah bersabda: “Laki-laki yang sempurna itu banyak, dan tidak ada wanita yang sempurna kecuali Maryam binti `Imran dan Asiah isteri Firaun.” Hadits di atas diriwayatkan oleh al Jama’ah kecuali Abu Dawud. Sedang menurut lafazh dari al-Bukhari adalah sebagai berikut: “Laki-laki yang mencapai kesempurnaan itu banyak. Dan tidak ada wanita yang mencapai kesempurnaan kecuali Asiah isteri Fir’aun dan Maryam binti `Imran. Sesungguhnya keutamaan ‘Aisyah atas wanita lainnya adalah seperti keutamaan bubur daging atas makanan lainnya.” Aku telah menyelidiki thuruq (jalan-jalan) hadits ini dan lafazh-lafazhnya tentang kisah `Isa bin Maryam dalam buku kami yang berjudul al-Bidaayah wan Nihaayah. Dan hanya milik Allah-lah segala puja dan puji. Setelah itu Allah swt. memberitahukan bahwa para Malaikat itu memerintahkan kepada Maryam agar memperbanyak ibadah, khusyu’, ruku’, sujud, dan tekun dalam beramal, untuk menghadapi apa yang dikehendaki Allah terhadap dirinya, yaitu ketentuan dan ketetapan-Nya, yang di dalamnya terkandung ujian baginya dan derajat yang tinggi di dunia maupun di akhirat, di mana dari diri Maryam, Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya yang Mahaagung yang Dia menciptakan anak darinya tanpa seorang ayah. Allah berfirman, “Wahai Maryam, taatlah kepada Rabb-mu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku “, qunut yaitu ketaatan dengan penuh kekhusyuan. Sebagaimana firman-Nya, wa laHuu man fis samaawaati wal ardli kullul laHuu qaanituun (“Dan kepunyaan-Nya siapa saja yang ada di langit dan di bumi Semuanya hanya tunduk kepada-Nya.”) (QS. Ar-Ruum: 26) Mujahid berkata: “Maryam pernah berdiri mengerjakan shalat hingga kedua kakinya bengkak.” Dan qunut yaitu memanjangkan ruku dalam shalat, sebagai pelaksanaan perintah Allah: yaa maryamuqnutii lirabbiki.” Al-Hasan berkata: “Maksudnya adalah beribadahlah kepada Rabb-mu.” Wasjudii warka’ii ma’ar raaki’iin (“Sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku.”) Artinya, jadilah kamu (Maryam) termasuk dari mereka. Kemudian Allah berfirman kepada Rasul-Nya, setelah memberitahukan kepadanya akan jelasnya perkara tersebut, dzaalika min anbaa-il ghaibi nuuhiHi ilaika (“Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang kami wahyukan kepadamu [ya Muhammad].” Yaitu, yang Kami ceritakan kepadamu. Wa maa kunta ladaiHim (“Padahal kamu tidak hadir bersama mereka.”) Artinya, kamu tidak berada bersama mereka, hai Muhammad, lalu kamu dapat memberitahukan secara gamblang peristiwa yang terjadi. Bahkan Allah telah memperlihatkan kepadamu (Muhammad), seolah-olah engkau hadir dan menyaksikan persoalan yang terjadi pada mereka ketika mereka mengundi masalah Maryam, siapakah di antara mereka yang akan memeliharanya. Hal itu disebabkan karena keinginan mereka untuk memperoleh pahala. ‘Ikrimah, as-Suddi, Qatadah, ar-Rabi’ bin Anas, dan yang lainnya menyebutkan hadits tentang kisah sebagian mereka masuk kepada sebagian yang lain, “Bahwa mereka pergi ke sungai Yordania, di sana mereka mengadakan undian, dengan ketentuan bahwa mereka harus melemparkan anak-anak panah mereka masing-masing ke sungai, maka anak panah siapa yang tetap dan tidak terbawa arus air, dialah yang memeliharanya. Mereka pun melemparkan anak panah mereka, namun semuanya terbawa oleh arus kecuali anak panah Zakariya yang tetap. Dan dikatakan juga bahwa anak panah itu naik ke atas dan membelah (melawan) arus air. Di mana Zakariya adalah yang tertua; tokoh, ulama, imam, dan Nabi mereka. Semoga shalawat dan salam Allah kepada beliau dan Para Nabi lainnya.”

Ahad, 18 Februari 2018

AYAT 42

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK,
Ayat 42 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 42
 Wa iz qa_latil mala_'ikatu ya_ maryamu innalla_hastafa_ki wa tahharaki wastafa_ki 'ala_ nisa_'il 'a_lamin(a).

 وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ

 Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Untuk mentaati-Nya.Yaitu dari akhlak yang buruk.mensuci kan kamu di sini bermaksut allah inggin menjadikan mariam seorang ibu kepada nabi bagi umat nya dan kaum nya.,,.pada waktu itu mariam seorang wanita yang soleh dan suci dari kesan kesan zina dan maksiat pada tubuh badan nya,. sebab itu lah allah memilih mariam bagi menjadikan wanita diantara wanita wanita syurga dan melahirkan seorang anak yang akan memimpin dunia dan sebagai roh allah., Bisa pada masa itu dan bisa juga secara mutlak di setiap masa.

Di dalam hadits, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Imam Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Zanjawaih, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Qatadah, dari Anas, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Cukuplah bagimu dari wanita di dunia ini dengan Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, dan Asiah istri Fir'aun. Rasulullah Saw. telah bersabda: Sebaik-baik wanita yang naik unta ialah wanita Quraisy, paling penyayang kepada anak semasa masih bayi, dan paling memelihara kehormatan diri suami, sedangkan Maryam binti Imran belum pernah naik unta sama sekali.

 Allah Swt. menceritakan khitab malaikat yang ditujukan kepada Maryam a.s. atas perintah dari Allah Swt. yang isinya menyatakan bahwa Allah Swt. telah memilihnya menjadi wanita yang terpilih, karena ibadahnya yang banyak, zuhudnya, kemuliaannya, dan kesuciannya dari semua kotoran dan godaan setan. Allah memilihnya kembali dari suatu waktu ke waktu yang lain karena kemuliaan yang dimilikinya berada di atas semua wanita di dunia (pada masanya). Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Adam Al-Asqalani, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Murrah; ia pernah mendengar Murrah Al-Hamdani menceritakan hadis berikut dari Abu Musa Al-Asy'ari yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Telah mencapai kesempurnaan orang-orang banyak dari kalangan kaum lelaki, tetapi tidak ada yang mencapai kesempurnaan dari kalangan kaum wanita selain Maryam binti Imran dan Asiah istri Fir'aun. Jamaah menceritakan pula hadis ini selain Imam Abu Daud melalui berbagai jalur dari Syu'bah dengan lafaz yang sama. Lafaz yang diketengahkan oleh Imam Bukhari adalah seperti berikut:

 "كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلا آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَمَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَإنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ ". Banyak dari kaum lelaki yang mencapai tingkat kesempurnaan, tetapi dari kalangan kaum wanita tidak ada yang mencapai tingkat kesempurnaan kecuali Asiah istri Fir'aun dan Maryam binti Imran, dan sesungguhnya keutamaan Aisyah dibandingkan dengan wanita-wanita lainnya sama dengan keutamaan makanan Sarid di atas semua jenis makanan. Kami memerincikan hadis ini berikut semua lafaznya dalam kisah Isa ibnu Maryam a.s. di dalam kitab kami yang berjudul Al-Bidayah wan Nihayah.

Sabtu, 17 Februari 2018

ayat 38-41

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK,

Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 38
Huna_lika da'a_ zakariyya_ rabbah(u_), qa_la rabbi hab li mil ladunka zurriyyatan tayyibah(tan),innaka sami'ud du'a_'(i).Fa na_dathul mala_'ikatu wa huwa qa_'imuy yusalli fil mihra_b(i), annalla_ha yubasysyiruka bi yahya_ musaddiqam bi kalimatim minalla_hi wa sayyidaw wa husu_raw wa nabiyyam minas sa_lihin(a).Qa_la rabbi anna_ yaku_nu li gula_muw wa qad balaganiyal kibaru wamra'ati 'a_qir(un), qa_la kaza_likalla_hu yaf'alu ma_ yasya_'(u). Qa_la rabbij'al li a_yah(tan), qa_la a_yatuka alla_ tukalliman na_sa sala_sata ayya_min illa_ ramza_(n), wazkur rabbaka kasiraw wa sabbih bil'asyiyyi wal ibka_r(i). “

Di sanalah Zakariya berdo’a kepada Rabb-nya seraya berkata: ‘Ya Rabbku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Mahamendengar do’a “. (QS. 3:38) Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): ‘Sesungguhnya Allah menggembirakanmu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang shalih.’ (QS. 3:39) Zakariya berkata: ‘Ya Rabbku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang mandul.’ Allah berfirman: ‘Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya’. (QS. 3:40) Berkata Zakariya: ‘Berilah aku suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung).’ Allah berfirman: ‘Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Rabbmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.’” 41.

{هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ (38) فَنَادَتْهُ الْمَلائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ (39) قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلامٌ وَقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَأَتِي عَاقِرٌ قَالَ كَذَلِكَ اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ (40) قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِي آيَةً قَالَ آيَتُكَ أَلا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلاثَةَ أَيَّامٍ إِلا رَمْزًا وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالإبْكَارِ (41) }

 Ketika Zakariya melihat bahwa Allah telah memberikan rizki kepada Maryam berupa buah-buahan musim dingin pada musim kemarau dan buah-buahan musim kemarau pada musim dingin, maka pada saat itu ia berkeinginan keras untuk mendapatkan seorang anak meskipun sudah tua, tulang-tulangnya sudah mulai rapuh dan rambutnya pun telah memutih, sedang isterinya sendiri juga sudah tua dan bahkan mandul. Namun demikian, ia tetap memohon kepada Rabbnya dengan suara yang lembut seraya berdo’a: Rabbi Hablii mil ladunka (“Ya Rabb-ku, berikanlah kepadaku dari sisi Mu.”) Yakni dari-Mu, dzurriyyatan thayyiban (“Seorang anak yang baik.”) Maksudnya adalah anak yang shalih. Innaka samii’ud du’aa’ (“Sesungguhnya Engkau Mahamendengar doa.”) Dia berfirman, fanaadatHul malaa-ikatu wa Huwa qaa-imuy yushallii fil mihraabi (“Kemudian Malaikat [Jibril] memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab.”) Maksudnya, Malaikat menyerukan kepadanya dengan seruan yang didengar olehnya, sedang pada saat itu ia dalam keadaan berdiri mengerjakan shalat di mihrab, tempat di mana ia beribadah, menyendiri, bermunajat, dan mengerjakan shalat. Lalu Allah memberitahukan kabar gembira yang disampaikan oleh Malaikat, “Sesungguhnya Allah menggembirakanmu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya.” Yaitu dengan seorang anak yang lahir dari tulang sulbimu yang diberi nama Yahya. Qatadah dan yang lainnya berkata, “Diberi nama Yahya, karena Allah menghidupkannya dengan keimanan.” Firman-Nya, mushaddiqam bikalimaatim minallaaHi (“Yang membenarkan kalimat [yang datang] dari Allah.”) Mengenai firman-Nya di atas ini, al-‘Aufi dan selainnya meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dan juga al-Hasan, Qatadah, `Ikrimah, Mujahid, Abu asy-Sya’tsa’, as-Suddi, ar-Rabi’ bin Anas, adh-Dhahhak, dan yang lainnya berkata tentang ayat ini, bahwa yang dimaksudkan dengan, Kalimat yang datang dari Allah’ adalah `Isa bin Maryam. Ar-Rabi’ bin Anas berkata: “Dia (Yahya) adalah orang yang pertama kali percaya akan datangnya `Isa bin Maryam. Dan Qatadah berkata, “(Dia Yahya) diatas Sunnah dan manhajnya.” Sedangkan Ibnu Juraij meriwayatkan, mengenai firman-Nya: mushaddiqam bikalimaatim minallaaHi (“Yang membenarkan kalimat [yang datang] dari Allah.”) Ibnu `Abbas berkata: “Yahya dan `Isa adalah saudara sepupu. Dan Yahya adalah orang yang pertama kali membenarkan `Isa. Dan kalimat Allah yang dimaksud adalah `Isa itu sendiri. Yahya itu lebih tua daripada `Isa. Hal yang sama juga dikatakan oleh as-Suddi. Firman-Nya: wa sayyidan (“Menjadi panutan.”) Abul `Aliyah, ar-Rabi’ bin Anas, Qatadah, Sa’id bin Jubair, dan selain mereka berkata: “Yaitu, yang penyantun.” Sedangkan Qatadah berkata: “Ia itu sebagai panutan dalam (hal) ilmu dan ibadah.” Ibnu ‘Abbas, ats-Tsauri, dan adh-Dhahhak berkata: “Sayyidan berarti yang santun dan penuh ketakwaan.” Sa’id bin al-Musayyab berkata: “Sayyidan berarti orang yang sangat faham dan berilmu.” Dan ‘Athiyyah berkata: “Ia adalah panutan dalam (hal) akhlak dan agamanya.” ‘Ikrimah berkata: “la adalah orang yang tidak pemah dikendalikan oleh amarah.” Sedangkan Ibnu Zaid berkata: “Maksudnya adalah orang yang mulia.” Dan Mujahid serta ulama yang lain berkata: “Artinya adalah, yang mulia di sisi Allah.” Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Hammad dan Muhammad Ibnu Salimah Al-Muradi; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj ibnu Sulaiman Al-Muqri, dari Al-Lais ibnu Sa'd, dari Muhammad ibnu Ajlan, dari Al-Qa'qa', dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: «كُلُّ ابْنِ آدَمَ يَلْقَى اللَّهَ بذنب يُعَذِّبُهُ عَلَيْهِ إِنْ شَاءَ أَوْ يَرْحَمُهُ، إِلَّا يَحْيَى بْنَ زَكَرِيَّا فَإِنَّهُ كَانَ سَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ» Semua anak Adam menghadap kepada Allah dengan membawa dosa yang jika Allah menghendaki, Dia pasti mengazabnya karena dosanya itu atau Allah membelaskasihaninya, kecuali Yahya ibnu Zakaria. Karena sesungguhnya dia adalah orang yang menjadi ikutan, menahan diri (dari pengaruh hawa nafsu), dan seorang nabi serta dari keturunan orang-orang yang saleh. Kemudian Nabi Saw. membungkukkan tubuhnya ke arah sebuah kerikil kecil di tanah, lalu mengambilnya, kemudian bersabda: «وكان ذكره مثل هذه القذاة» Dan tersebutlah bahwa kemaluan dia (Yahya) kecil sekali seperti batu kerikil kecil ini. Firman-Nya: wa hashuuran (“Yang menahan diri.”) Dalam kitabnya, asy-Syifa’, al-Qadhi ‘Iyadh berkata: “Ketahuilah bahwa pujian Allah pada Yahya bahwa ia sebagai “hashuuran” bukanlah seperti yang dikemukakan oleh sebagian orang, di antara mereka menyebutkan bahwa Yahya itu tidak memiliki kemaluan. Pendapat ini secara tegas ditentang oleh para ahli tafsir yang terkemuka dan ulama yang kritis. Dalam hal ini mereka berkata: “Penafsiran seperti itu merupakan suatu kekurangan dan aib serta tidak layak bagi para Nabi. Dan makna yang benar adalah, bahwa Yahya itu ma’shum (terpelihara) dari perbuatan dosa, seakan-akan Yahya itu dibentengi dari dosa.” Ada juga yang berpendapat, bahwa Yahya itu menahan dirinya dari nafsu syahwat. Dari sini, tampak bahwa ketidakmampuan untuk menikah itu merupakan suatu kekurangan. Dan yang merupakan keutamaan adalah adanya kemampuan dalam menikah, namun Yahya menolaknya, baik karena melalui mujahadah (usaha keras) seperti yang dilakukan `Isa as. maupun karena diberikan kemampuan oleh Allah untuk melakukan hal tersebut, seperti yang dialami oleh Yahya sendiri. Menikah itu bagi orang yang mampu dan sanggup menunaikan semua kewajiban yang timbul akibat menikah dengan tidak melalaikan kewajiban kepada Rabb-nya adalah merupakan derajat yang tinggi, yaitu derajat yang diperoleh Nabi Muhammad, yang dengan isteri-isteri yang dimilikinya, beliau tidak pernah lalai untuk beribadah kepada Allah. Bahkan hal itu menjadikan beliau bertambah ibadahnya, yaitu dengan memelihara mereka, menunaikan kewajiban kepada mereka, memberikan nafkah, serta memberikan bimbingan kepada mereka. Bahkan secara tegas beliau menyatakan bahwa isteri itu bukan bagian yang diperoleh dari dunianya, meski ia merupakan bagian dunia bagi orang lain.” Lalu beliau bersabda: “Allah menjadikan aku mencintai sebagian dari urusan dunia kalian.” Maksud dari ungkapan itu adalah, bahwa beliau memuji Yahya sebagai orang yang terpelihara. Yang demikian itu bukan karena tidak menggauli wanita, melainkan karena ia ma’shum, terpelihara dari berbagai macam perbuatan keji dan kotor. Dan kema’shumannya itu tidak menghalanginya untuk menikahi, mencumbui, dan menjadikan hamil wanita yang halal baginya. Bahkan dapat difahami lahirnya keturunan baginya melalui do’a yang dipanjatkan Zakariya di atas, di mana Zakariya berdo’a, “Berikanlah kepadaku dari sisi-Mu seorang anak yang baik.” Seolah-olah ia (Zakariya) mengucapkan: “Seorang anak yang memiliki anak cucu, keturunan, dan pengganti.” Wallahu a’lam. Firman-Nya, wa nabiyyam minash shaalihiin (“Dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang yang shalih.”) Ini merupakan kabar gembira kedua, yaitu berita pengangkatan Yahya sebagai Nabi setelah berita gembira sebelumnya, yaitu kelahiran Yahya. Berita kedua ini lebih tinggi kedudukannya daripada berita pertama, sebagaimana firman-Nya kepada ibunya Musa, “Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang dari para Rasul,” (QS. Al-Qashash : 7) Pada saat Zakariya meyakini berita gembira ini, maka ia merasa heran terhadap lahirnya anak dari dirinya setelah usia tua. Rabbi innii yakuunu lii ghulaamuw wa laqad balaghaniyal kibaru wam ra-atii ‘aaqir. Qaala (“Zakariya berkata: ‘Ya Rabbku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang mandul.’ Ia berkata,”) yaitu malaikat: kadzaalikallaaHu yaf’alu maa yasyaa-u (“demikianlah Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya”) artinya, demikian itulah urusan Allah yang besar [agung] itu, tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan [tidak mampu diperbuat]Nya, dan tidak ada suatu hal [perkara] yang memberatkan-Nya. Qaala rabbij’al lii aayaH (“Zakaria berkata, ‘Berikanlah kepadaku suatu tanda [bahwa istriku hamil]”) yaitu tanda yang menunjukkan akan lahirnya seorang anak dariku. Qaala aayatuka allaa tukallimannaasa tsalaatsata ayyaamin illaa ramzan (“Allah berfirman, ‘Tandanya bagimu adalah kamu tidak bisa berkata-kata kepada manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat.’”) yakni hanya berupa isyarat karena kamu tidak bisa berbicara, padahal pada saat itu engkau dalam keadaan sehat dan normal, sebagaimana dalam firman-Nya: tsalaatsa layaalin sawiyyan (“Selama tiga malam, padahal kamu sehat.”)(Maryam: 10) Kemudian Allah menyuruhnya untuk banyak berdzikir, bertakbir dan bertasbih dalam keadaan seperti itu. Maka Dia pun berfirman: wadz-kur rabbaka katsiiraw wa sabbih bil ‘asyiyyi wal ibkaar (“Dan sebutlah [nama] Rabb-mu sebanyak-banyaknya serta bertasbih di waktu petang dan pagi hari.”) akan dikemukakan dari sisi lain dalam pembahasan masalah ini pada surah Maryam, insyaa Allaah.

Jumaat, 16 Februari 2018

AYAT 36

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK,
Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 36
Falamma_ wada'atha_ qa_lat rabbi inni wada'tuha_ unsa_, walla_hu a'lamu bima_ wada'at, wa laisaz zakaru kal unsa_, wa inni sammaituha_ maryama wa inni u'izuha_ bika wa zurriyyataha_ minasy syaita_nir rajim(i).Fataqabbalaha_ rabbuha_ bi qabu_lin hasaniw wa ambataha_ naba_tan hasana_(n), wa kaffalaha_ zakariyya_, kullama_ dakhala 'alaiha_ zakariyyal mihra_b(a), wajada 'indaha_ rizqa_(n), qa_la ya_ maryamu anna_ laki ha_za_, qa_lat huwa min 'indilla_h(i), innalla_ha yarzuqu may yasya_'u bi gairi hisa_b(in).

36 Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk."37 Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah." Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

 فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَىٰ ۖ وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۖ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

 Tiada seorang bayi pun melainkan setan telah mencubitnya sekali atau dua kali, kecuali Isa ibnu Maryam dan Maryam sendiri. Kemudian Rasulullah Saw. membacakan firman-Nya: Dan sesungguhnya aku melindungkannya serta anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari setan yang terkutuk. (Ali Imran: 36)Dalam hadits shahih juga disebutkan, ketika Abu Usaid datang kepada Rasulullah dengan membawa puteranya agar beliau mentahniknya, tetapi beliau lupa, lalu ayahnya diperintahkan (oleh orang-orang) untuk mentahniknya sendiri, maka Abu Usaid membawanya ke rumah mereka. Dan ketika Rasulullah ingat ketika di suatu majelis, maka beliau menamainya al-Mundzir. Sedangkan hadits dari Qatadah, dari al-Hasan al-Bashri, dari Samurah bin Jundub, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Setiap anak itu tergadai oleh aqiqahnYa, disembelih untuk (aqiqah)nya pada hari ketujuh, kemudian diberi nama dan dicukur rambutnya.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan semua penulis kitab Sunan, dan disahihkan oleh Imam at-Tirmidzi.) Dan firman-Nya yang memberitahukan tentang ibunya Maryam, di mana ia berkata, wa innii u-‘iidzuHaa bika wa dzurriyyataHaa minasy-syaithaanir rajiim (“Dan aku memohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan)-Mu dari syaitan yang terkutuk.”) Yakni, aku memohon perlindungan untuk Maryam kepada Allah dari kejahatan syaitan, dan juga untuk keturunannya, `Isa as. Maka Allah swt. mengabulkan do’anya itu. Sebagaimana ‘Abdurrazzaq meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada seorang anak pun yang dilahirkan, melainkan disentuh oleh syaitan ketika ia dilahirkan, sehingga dia menangis kencang akibat sentuhannya itu, kecuali Maryam dan puteranya, (`Isa).” Setelah itu Abu Hurairah ra. berkata: “Jika kalian menghendaki, bacalah: wa innii u-‘iidzuHaa bika wa dzurriyyataHaa minasy-syaithaanir rajiim [Dan aku memohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan)-Mu dari syaitan yang terkutuk.]’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari hadits ‘Abdurrazzaq). Juga dari hadis Al-Ala, dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Iman Muslim meriwayatkannya dari Abut Tahir, dari Ibnu Wahb, dari Amr ibnul Haris, dari Abu Yunus, dari Abu Hurairah. Ibnu Wahb meriwayatkannya pula dari Ibnu Abu Zi-b, dari Ajlan maula Al-Musyma'il, dari Abu Hurairah. Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkannya dari Yazid ibnu Abdullah ibnu Qasit, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. dengan pokok hadisnya. Hal yang sama diriwayatkan oleh Al-Lais ibnu Sa'd, dari Ja'far ibnu Rabi'ah, dari Abdur Rahman ibnu Hurmuz Al-A'raj yang mengatakan, Abu Hurairah pernah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

 "كُلُّ بَنِي آدَمَ يَطْعنُ الشَّيْطَانُ فِي جَنْبِه حِينَ تَلِدهُ أمُّهُ، إِلَّا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ، ذَهَبَ يَطْعَنُ فَطَعَنَ فِي الحِجَاب"

Semua anak Adam pernah ditusuk oleh setan pada lambungnya ketika dilahirkan oleh ibunya, kecuali Isa ibnu Maryam; setan pergi untuk menusuknya, tetapi yang ditusuknya hanyalah hijab (penghalang). Rabb kita memberitahukan bahwa Dia menerima Maryam dari ibunya sebagai orang yang dinadzarkan dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik. Yaitu, Dia besarkan ia sebagai orang yang dewasa yang enak dipandang serta menyertakan kepadanya beberapa unsur yang menyebabkan ia diterima. Dan Dia memberinya teman dari orang-orang shalih supaya ia dapat belajar ilmu, kebaikan dan agama dari mereka. Oleh karena itu Dia berfirman, “Dan Dia menjadikan Zakariya sebagai pemelihara. “Dengan ditasydidnya huruf fa’ dan dinashabkan kata Zakariya sebagai objek, artinya, Allah menjadikan Zakariya sebagai orang yang bertanggung jawab atas dirinya. Wallahu a’lam. Ditetapkan Zakariya sebagai penanggung jawab itu tidak lain adalah untuk kebahagiaannya supaya ia dapat mengambil ilmu yang banyak dan bermanfaat serta amal shalih darinya (Zakariya), selain karena Zakariya itu sendiri adalah suami saudara perempuan Maryam. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih: “Ternyata Yahya dan `Isa itu adalah saudara sepupu.” Dan telah disebutkan dalam sebuah hadits shahih, bahwa Rasulullah memutuskan dalam kasus `Imarah binti Hamzah bahwa is diserahkan ke dalam pemeliharaan bibinya, isteri Ja’far bin Abi Thalib, dan beliau bersabda: “Bibi itu berkedudukan sebagai ibu.” Kemudian Allah swt. memberitahukan keutamaan dan kesungguhan Maryam dalam beribadah, di mana Dia berfirman, kullamaa dzakhala ‘alaiHaa zakariyyal mihraaba wajada ‘indaHaa rizqan (“Setiapkali Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya.”) Mujahid, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Abu asy-Sya’tsa’, Ibrahim an-Nakha’i, adh-Dhahhak, Qatadah, ar-Rabi’ bin Anas, ‘Athiyyah al-‘Aufi, dan as-Suddi berkata: “Yakni, dia mendapatkan di sisi Maryam buah-buahan musim panas pada musim dingin dan buah-buahan musim dingin pada musim panas (kemarau). Dalam hal itu terdapat bukti tentang adanya karamah pada para wali. Ada banyak hadits semisal dengan makna tersebut. Dan ketika Zakariya mendapatkan makanan tersebut di sisi Maryam, maka: qaala yaa maryamu annaa laki Haadzaa (“Zakariya bertanya: `Wahai Maryam, dari mana engkau memperoleh makanan ini?’”) Artinya, dari mana makanan-makanan ini engkau dapatkan, hai Maryam? Maka, “Maryam menjawab: ‘Makanan itu dari sisi Allah.’ Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.”

Khamis, 15 Februari 2018

ayat 35

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
 ayat 35-surah ali-imran-Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 35
 Iz qa_latimra'atu 'imra_na rabbi inni nazartu laka ma_ fi batni muharraran fa taqabbal minni, innaka antas sami'ul 'alim(u). 3:36

 إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

 (Ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". Isteri `Imran adalah ibu Maryam, yaitu Hannah binti Faqudz. Muhammad bin Ishaq berkata: “Hannah binti Faqudz adalah seorang wanita yang tidak pernah hamil. Suatu hari ia melihat seekor burung memberi makan anak-anaknya, maka ia pun ingin mendapatkan anak. Lalu ia berdo’a kepada Allah agar memberinya seorang anak.

Dan Allah pun mengabulkan do’a-nya. Setelah suaminya melakukan hubungan badan dengannya, maka ia pun hamil. Setelah benar-benar hamil, ia bernadzar agar anaknya menjadi anak yang tulus beribadah dan khusus untuk beribadah, berkhidmah ke Baitul Maqdis seraya berucap: Rabbi innii nadzaartu laka maa fii bath-nii muharraran fataqabbal minnii innaka antas samii’ul ‘aliim (“Ya Rabb-ku, sesungguhnya aku bernadzar kepada-Mu anak yang dalam kandunganku ini menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Magdis). Karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkau YangMahamendengar lagi Mahamengetahui.”) Yakni Mahamendengar do’a yang kupanjatkan dan Mahamengetahui niatku. Dan ia belum mengetahui anak yang berada di dalam kandungannya itu, laki-laki atau perempuan. Falammaa wadla’atHaa qaalat Rabbi innii wadla’atHaa untsaa wallaaHu a’lamu bimaa wadla’at (“Maka tatkala isteri Imran melahirkan anaknya, ia pun berkata: ‘Ya Rabb-ku, sesungguhnya aku melahirkannya sebagai anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu.”) Jika kata “wadla’at” dibaca “wadla’tu” (aku lahirkan) dengan dhammah di atas huruf “ta”, karena dianggap berkedudukan sebagai mutakallim (yang berbicara), maka hal itu berarti kelanjutan perkataannya. Dan (apabila) dibaca dengan sukun di atas hurut “ta”. Abu Bakar dan Ibnu ‘Amir membacanya: “bimaa wadla’tu” dengan sukun di atas ‘ain dan dhammah di atas ta’. Sedang ulama qira-at lainnya membacanya “bimaa wadla-at” dengan fat-hah di atas ‘ain dan sukun di atas ta’. Maka hal itu berarti sebagai ucapan Allah: wa laisadz dzakaru kal untsaa (“Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan,”) dalam kekuatan dan keuletan dalam beribadah dan mengabdi di Masjidil Aqsha. Wa innii sammaituHaa maryama (“Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam.”) Ini adalah dalil diperbolehkannya menamai anak pada hari kelahirannya, sebagaimana yang terbaca secara jelas dari lahiriyah ayat, karena pemberian nama itu telah disyari’atkan orang-orang sebelum kita, di mana telah diceritakan sebagai penguat. Hal itu telah tetap didalam Sunnah Rasulullah, di mana beliau bersabda: “Telah lahir tadi malam seorang puteraku, dan aku namai ia dengan nama ayahku Ibrahim.”

 (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Ditegaskan pula dlam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa Anas bin Malik ra. pernah pergi membawa saudaranya menemui Rasulullah setelah ia (saudaranya itu) dilahirkan ibunya, maka beliau mentahniknya dan memberikannya nama ‘Abdullah. Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan, ada seorang laki-laki yang berkata: “Ya Rasulullah, telah lahir puteraku tadi malam, lalu bagaimana aku menamainya?” Beliau menjawab: “Namai puteramu itu ‘Abdurrahman.” Dalam hadits shahih juga disebutkan, ketika Abu Usaid datang kepada Rasulullah dengan membawa puteranya agar beliau mentahniknya, tetapi beliau lupa, lalu ayahnya diperintahkan (oleh orang-orang) untuk mentahniknya sendiri, maka Abu Usaid membawanya ke rumah mereka. Dan ketika Rasulullah ingat ketika di suatu majelis, maka beliau menamainya al-Mundzir. Sedangkan hadits dari Qatadah, dari al-Hasan al-Bashri, dari Samurah bin Jundub, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Setiap anak itu tergadai oleh aqiqahnYa, disembelih untuk (aqiqah)nya pada hari ketujuh, kemudian diberi nama dan dicukur rambutnya.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan semua penulis kitab Sunan, dan disahihkan oleh Imam at-Tirmidzi.) Maksudnya: Ingatlah wahai Rasul! Tentang perkara Maryam, ibunya dan anaknya Isa 'alaihis salam untuk membantah orang-orang yang menuhankan Isa atau mengatakan sebagai anak Allah –Maha Suci Allah-. Tidak disibukkan dengan urusan dunia, bahkan sibuk beribadah kepada Allah dan berkhidmat di Baitul Maqdis. Apa yang ada dalam hati.

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN