Isnin, 18 Disember 2017

AYAT 1


  1. TABSIR QURAN DAN HADIS TABARUK;
  2. JILIK-7 SURAH AL-WAQIAH AYAT1;
  3. BISMILLAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM;
  4. 1- إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ

  5. 1- itzha waqaAAati alwaqiAAatu
  6. 1. Apabila terjadi hari kiamat,Ayat 1-10: Di antara peristiwa dahsyat pada hari Kiamat, dan bahwa manusia akan terbagi menjadi tiga golongan; As Saabiqun, As-habul yamin dan As-habusy syimal.

  • [1] Di ayat ini dan setelahnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang sesuatu yang pasti terjadi, yaitu hari Kiamat.

  • Tentang datangnya hari Kiamat, maka tidak ada seorang pun yang mengetahui, baik Malaikat, Nabi, maupun Rasul, masalah ini adalah perkara ghaib dan hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala sajalah yang mengetahuinya. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih.

  • Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

  • يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

  • “Mereka bertanya kepadamu tentang Kiamat: ‘Kapankah terjadinya.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah pada sisi Rabb-ku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: ‘Sesungguhnya penge-tahuan tentang hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi ke-banyakan manusia tidak mengetahui.’” [Al-A’raaf: 187]

  • Malaikat Jibril Alaihissallam mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya:

  • …فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ؟

  • “Kabarkanlah kepadaku, kapan terjadi Kiamat?”

  • Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

  • مَا الْمَسْئُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ.

  • “Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.” [1]

  • Meskipun waktu terjadinya hari Kiamat tidak ada yang mengetahuinya, akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tanda-tanda Kiamat tersebut. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepada ummatnya tentang tanda-tanda Kiamat. Para ulama membaginya menjadi dua: (pertama) tanda-tanda kecil dan (kedua) tanda-tanda besar.

  • Tanda-tanda kecil sangat banyak dan sudah terjadi sejak zaman dahulu dan akan terus terjadi di antaranya adalah wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, munculnya banyak fitnah, munculnya fitnah dari arah timur (Iraq), timbulnya firqah Khawarij, munculnya orang yang mengaku sebagai Nabi, hilangnya amanah, diangkatnya ilmu dan merajalelanya kebodohan, banyaknya perzinaan, banyaknya orang yang bermain musik [2], banyak orang yang minum khamr (minuman keras) dan merebaknya perjudian, masjid-masjid dihias, banyak bangunan yang tinggi, budak melahirkan tuannya, banyaknya pembunuhan, banyaknya kesyirikan, banyaknya orang yang memutuskan silaturrahim, banyaknya orang yang bakhil, wafatnya para ulama dan orang-orang shalih, banyaknya orang yang belajar kepada Ahlul Bid’ah, banyaknya wanita yang berpakaian tetapi telanjang [3],dan lain-lainnya.[4]

  • Banyak sekali dalil tentang hal ini, di antaranya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

  • اُعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ: مَوْتِيْ، ثُمَّ فَتْحُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ، ثُمَّ مُوْتَانٌ يَأْخُذُ فِيْكُمْ كَقُعَاصِ الْغَنَمِ، ثُمَّ اسْتِفَاضَةُ الْمَالِ حَتَّى يُعْطَى الرَّجُلُ مِائَةَ دِيْنَارٍ فَيَظَلُّ سَاخِطًا، ثُمَّ فِتْنَةٌ لاَ يَبْقَى بَيْتٌ مِنَ الْعَرَبِ إِلاَّ دَخَلَتْهُ، ثُمَّ هُدْنَةٌ تَكُوْنُ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ بَنِي اْلأَصْفَرِ، فَيَغْدِرُوْنَ فَيَأْتُوْنَكُمْ تَحْتَ ثَمَانِيْنَ غَايَةً، تَحْتَ كُلِّ غَايَةٍ اِثْنَا عَشَرَ أَلْفًا.

  • “Perhatikanlah enam tanda-tanda hari Kiamat: (1) wafatku, (2) penaklukan Baitul Maqdis, (3) wabah kematian (penyakit yang menyerang hewan sehingga mati mendadak) yang menyerang kalian bagaikan wabah penyakit qu’ash yang menyerang kambing, (4) melimpahnya harta hingga seseorang yang diberikan kepadanya 100 dinar, ia tidak rela menerimanya, (5) timbulnya fitnah yang tidak meninggalkan satu rumah orang Arab pun melainkan pasti memasukinya, dan (6) terjadinya perdamaian antara kalian dengan bani Asfar (bangsa Romawi), namun mereka melanggarnya dan mendatangi kalian dengan 80 kelompok besar pasukan. Setiap kelompok itu terdiri dari 12 ribu orang.” [5]

  • Juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

  • إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ، وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ، وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ، وَيَظْهَرَ الزِّنَا.

  • “Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah: diangkatnya ilmu, tersebarnya kebodohan, diminumnya khamr, dan merajalelanya perzinaan.”[6]

  • Kemudian munculnya tanda-tanda yang kedua, yaitu tanda-tanda Kiamat yang besar sebagai tanda telah dekatnya hari Kiamat. Penulis khususkan pembahasan tentang sebagian tanda-tanda Kiamat yang besar, karena ada sebagian orang (golongan) yang menolak tentang tanda-tanda besar tersebut berdasarkan akal, ra’yu dan hawa nafsu. Padahal para ulama Ahlus Sunnah sudah membahas permasalahan ini dalam kitab-kitab tafsir, kitab-kitab hadits, dan kitab-kitab ‘aqidah mereka.

  • Pembahasan mengenai permasalahan ini mengikuti jejak para ulama Ahlus Sunnah dalam kitab-kitab mereka, seperti dalam kitab Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah [7] dan kitab-kitab lainnya.

  • Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani tentang adanya tanda-tanda Kiamat yang besar (kubra) seperti [8], keluarnya Imam Mahdi, Dajjal, turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam dari langit, Ya’juj dan Ma’juj, terbitnya matahari dari barat, dan yang lainnya.

  • Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

  • يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ

  • “Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan Ma-laikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedatangan Rabb-mu atau kedatangan sebagian tanda-tanda Rabb-mu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: ‘Tunggu-lah olehmu sesungguhnya kami pun menunggu (pula).’” [Al-An’aam: 158]

  • Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

  • إِنَّ السَّاعَةَ لاَ تَكُوْنُ حَتَّى تَكُوْنَ عَشْرُ آيَاتٍ: خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ فِي جَزِيْرَةِ الْعَرَبِ، وَالدُّخَانُ، وَالدَّجَّالُ، ودَابَّةٌ، وَيَأْجُوْجُ وَمَأْجُوْجُ، وَطُلُوْعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَنَارٌ تَخْرُجُ مِنْ قَعْرِ عَدَنٍ تَرْحَلُ النَّاسَ، وَنُزُوْلُ عِيْسَى بْنِ مَرْيَمَ e.

  • “Hari Kiamat tidak akan terjadi sehingga kalian melihat sepuluh tanda: (1) penenggelaman permukaan bumi di timur, (2) penenggelaman permukaan bumi di barat, (3) pe-nenggelaman permukaan bumi di Jazirah Arab, (4) keluarnya asap, (5) keluarnya Dajjal, (6) keluarnya binatang besar, (7) keluarnya Ya’juj wa Ma’juj, (8) terbitnya matahari dari barat, dan (9) api yang keluar dari dasar bumi ‘Adn yang meng-giring manusia, serta (10) turunnya ‘Isa bin Maryam Alaihissallam.” [9

Ahad, 17 Disember 2017

Isi kandugan penting surah waqiah

  1. TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
  2. ISI KANDUGAN PENTING SURAH AL-WAQIAH
  •       Al-Waqi'ah (Arab: الواقعه, "Hari Kiamat") adalah surah ke-56 dalam Al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 96 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah. Surah ini dinamai dengan Al Waaqi'ah (Hari Kiamat), diambil dari perkataan Al Waaqi'ah yang terdapat pada ayat pertama.Surah Al-Waqiah disebut Al-Waqiah lantaran kata ini yang merupakan sifat dan nama hari kiamat disebutkan pada awal surah. Jumlah ayatnya menurut qari Kufah adalah 96 ayat, sementara dalam pandangan qari Syam dan Hijaz terdiri dari 99 ayat. Namun sesuai pendapat qari lainnya adalah 97 ayat. Di antara semua pendapat ini, pendapat pertama yang paling masyhur. Surah Al-Waqiah terdiri 96 ayat dari 370 huruf dan 1756 kata. Sesuai dengan susunan mushaf, surah Al-Waqiah adalah surah ke-56 Al-Quran dan surah ke-48 berdasarkan urutan pewahyuan. Surah ini tergolong salah satu surah Makkiyah. Dari sisi isi, surah Al-Waqiah termasuk surah Thawal dalam kelompok Al-Mufasshalat. Kurang lebih berukuran setengah hizb Al-Quran. surah Al-Waqiah diakhiri dengan perintah tasbih dan takzim Allah Swt (dengan maksud berlindung kepada Allah Swt, bertasbih dan memuliakan-Nya serta meminta pertolongan kepada-Nya sebagai satu-satunya yang menyelamatkan manusia dari dahsyatnya azab hari kiamat dan dunia akhirat). [1]
  • Isi Kandungan dari ayat 1-96-370huruf-1756kata Huru hara hari kiamat;Huru-hara di waktu terjadinya hari kiamat manusia di waktu hisab;terbagi atas tiga gologan;iaitu gologan yang segera menjalankan kebaikan; gologan kanan dan gologan yang celaka serta balasan yang di perolehi oleh masing masing gologan; bantahan terhadap allah keingkaran orang orang yang mengengkari adanya tuhan ;hari berbangkit dan ada nya hisaf; al-quran berasal dari lauh mahfus ; lain lain gambaran tentang syurga,
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

  • Tatkala sebuah Kemutlakan terlaksana, kelak tiada yang membantah kedatangan perkara tersebut; keadaan yang akan merendahkan maupun keadaan yang akan meninggikan; Tatkala bumi digoncangkan secara keras serta gunung-gunung diremukkan secara keras hingga menjadi debu berhamburan, kemudian kalian dibagi menjadi tiga golongan: Golongan Kanan; apakah Golongan Kanan itu? serta Golongan Kiri; apakah Golongan Kiri itu?
  • serta Golongan Utama, yakni golongan yang diutamakan; golongan ini merupakan golongan didekatkan yang berada dalam Surga kesejahteraan; segolongan generasi terdahulu beserta sebagian kecil generasi terkemudian, golongan ini berada di tahta-tahta yang terpahat seraya golongan ini duduk sambil berhadap-hadapan; golongan ini dikelilingi oleh golongan muda abadi yang membawakan gelas, cerek serta piala berisi minuman yang diambil dari mata air mengalir; golongan ini tidak merasakan pening akibat itu bahwa golongan ini tiada mabuk, serta hidangan buah-buahan yang golongan kehendaki maupun hidangan daging burung yang golongan ini inginkan; disediakan pula para bidadari bermata indah laksana permata yang tersimpan baik, sebagai hadiah atas hal-hal yang telah golongan ini kerjakan; Tidaklah mereka mendengar disana; ocehan, serta tidak pula olok-olok; melainkan diserukan: "Damai!, Damai!"
  • Ataupun Golongan Kanan, apakah Golongan Kanan itu? yakni golongan yang berada di tengah-tengah pepohonan bidara yang tak berduri serta pepohonan yang bersusun-susun, golongan yang dikaruniai naungan terbentang luas, aliran air yang tercurah, buah-buahan berlimpah yang tiada berkurang serta tidak terlarang beserta singgasana-singgasana yang nyaman; yang kesemuanya Kami hadirkan secara langsung,
  • juga Kami sediakan untuk mereka, kaum bidadari perawan yang rupawan lagi sebaya untuk Golongan Kanan; segolongan generasi terdahulu beserta segolongan generasi terkemudian.
  • Sedangkan Golongan Kiri, apakah Golongan Kiri itu? merupakan orang-orang yang dilanda angin yang membakar beserta air mendidih maupun berada dalam naungan asap pekat yang tiada sejuk juga tiada nyaman disebabkan sebelumnya orang-orang itu hidup bermewah-mewahan serta bertekun mengerjakan perbuatan-perbuatan tercela, bahkan orang-orang itu terbiasa mengatakan: "Apakah sewaktu kami telah mati sehingga kami telah menjadi debu maupun tulang belulang bahwa diri kami akan dibangkitkan kembali? apakah kaum leluhur kami yang terdahulu juga?" Katakanlah: "Sungguh generasi terdahulu beserta golongan terkemudian kelak pasti dihimpunkan di sebuah waktu yang telah ditetapkan, pada sebuah Hari yang dikenal; kemudian tentulah kalian, wahai golongan sesat yang mendustakan, pasti akan memakan pohon Zaqqum serta akan memenuhi perut kalian dengan itu, lalu kalian akan meminum air mendidih serta kalian akan minum menyerupai unta kehausan." itulah hidangan untuk golongan demikian pada Hari Penghakiman. (Ayat:1-56)
  • Kamilah yang telah menciptakan diri kalian lalu mengapakah kalian tiada mengakui? maka apakah kalian memperhatikan tentang hal yang kalian pancarkan; apakah kalian yang menciptakan hal demikian, ataukah Kami yang menciptakan hal demikian? telah Kami tetapkan Kematian terhadap kalian; ketahuilah bahwa Kami takkan dapat dikalahkan supaya mengganti kalian dengan golongan yang serupa kalian; ataupun untuk menciptakan kalian kelak dalam wujud yang tidak kalian ketahui, sungguh kalian telah mengetahui penciptaan pertama lalu mengapakah kalian tidak memahami?
  • Maka apakah kalian perhatikan tentang yang kalian taburkan? apakah kalian yang menumbuhkan itu ataukah Kami yang menumbuhkan itu? sekiranya Kami kehendaki, tentu Kami jadikan itu kering serta remuk hingga kalian merasa heran: "kita benar-benar merugi, bahkan kita sama sekali tak berdaya."
  • Maka apakah kalian perhatikan tentang air yang kalian minum? apakah kalian yang menurunkan itu dari awan ataukah Kami yang menurunkan itu? sekiranya Kami kehendaki niscaya Kami jadikan itu memiliki rasa asin lalu mengapakah kalian tidak bersyukur?
  • Maka apakah kalian perhatikan tentang api yang kalian percikkan, apakah kalian yang menimbulkan itu ataukah Kami yang menimbulkan itu? Kami telah menjadikan itu sebagai peringatan serta bekal berguna untuk pengembara di gurun pasir;
  • Maka semarakkan seraya memuji Nama Tuhanmu Yang Maha Agung.
  • Maka Aku bersumpah demi orbit bintang-bintang; hal ini merupakan penegasan yang kuat sekiranya kalian mengetahui, bahwasanya Al-Qur'an ini merupakan sebuah Bacaan yang berharga dalam Kitab yang Terpelihara, tiada yang menjangkau hal ini selain golongan suci, hal yang dihadirkan dari Tuhannya semesta alam.
  • (Ayat: 57-80)
  • Maka apakah kalian meremehkan Hadits ini? lalu apakah kalian mengganggap sebagai urusan kalian sendiri supaya kalian dapat membantah? juga mengapa ketika telah direnggut hingga mencapai tenggorokan: padahal kalian ketika itu memperhatikan bahkan Kami berada lebih dekat terhadap hal demikian dibanding kalian walaupun diri kalian tiada menyadari, lalu mengapakah jika kalian sama sekali tidak berada dalam kendali maka kalian tiada mengembalikan hal demikian apabila kalian memang golongan yang benar?
  • dan apabila orang itu termasuk Golongan yang dekat, maka orang itu meraih ketenteraman juga pencapaian beserta Surga kesejahteraan.
  • sedangkan apabila orang itu termasuk Golongan Kanan: "Maka kesejahteraan untuk kamu karena kamu termasuk Golongan Kanan."
  • Dan adapun sekiranya orang itu termasuk golongan pembantah yang sesat maka orang itu mendapat hidangan air mendidih serta dibakar di dalam Gejolak Api; Sungguh hal ini merupakan sebuah Kebenaran yang utuh, oleh sebab itu semarakkan Nama Tuhanmu Yang Maha Agung. (Ayat: 81-96)

ayat 45-78


 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
  • JILIK-6 -Tafsir Ar Rahman Ayat 46-78
  • Ayat 46-78: Rincian kenikmatan yang akan diperoleh kaum mukmin dan pujian bagi Allah Subhaanahu wa Ta'aala terhadap hal tersebut.
  •                           BISMILLAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM;
  • Wa liman khaafa maqaama rabbihii jannataan(i)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Dzawaataa afnaan(in)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Fiihimaa 'ainaani tajriyaan(i)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Fiihimaa min kulli faakihatin zaujaan(i)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Muttaki-iina 'alaa furusyin bathaa-inuhaa min istabraqin wa janal jannataini daan(in)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Fiihinna qaashiraatuth-tharfi lam yathmitshunna insun qablahum wa laa jaann(un)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Ka-annahunnal yaaquutu wal marjaan(u)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Hal jazaa-ul ihsaani ilaal ihsaan(u)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Wa min duunihimaa jannataan(i)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Mudhaammataan(i)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Fiihimaa 'ainaani nadh-dhaakhataan(i)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Fiihimaa faakihatun wanakhlun wa rummaan(un)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Fiihinna khairaatun hisaan(un)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Huurun maqshuuraatun fiil khiyaam(i)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Lam yathmitshunna insun qablahum wa laa jaann(un)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Muttaki-iina 'alaa rafrafin khudhrin wa 'abqariyyin hisaan(in)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Tabaarakaasmu rabbika dziil jalaali wal-ikraam(i)

  1. وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ (٤٦) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٤٧) ذَوَاتَا أَفْنَانٍ (٤٨) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٤٩) فِيهِمَا عَيْنَانِ تَجْرِيَانِ (٥٠)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٥١) فِيهِمَا مِنْ كُلِّ فَاكِهَةٍ زَوْجَانِ (٥٢) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٥٣) مُتَّكِئِينَ عَلَى فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍ وَجَنَى الْجَنَّتَيْنِ دَانٍ (٥٤) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٥٥) فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلا جَانٌّ (٥٦) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٥٧)كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ (٥٨) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٥٩) هَلْ جَزَاءُ الإحْسَانِ إِلا الإحْسَانُ (٦٠) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٦١) وَمِنْ دُونِهِمَا جَنَّتَانِ (٦٢) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٦٣) مُدْهَامَّتَانِ (٦٤) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٦٥) فِيهِمَا عَيْنَانِ نَضَّاخَتَانِ (٦٦) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٦٧) فِيهِمَا فَاكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌ (٦٨)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٦٩)فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ (٧٠) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٧١)حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ (٧٢) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٧٣) لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلا جَانٌّ (٧٤) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٧٥)مُتَّكِئِينَ عَلَى رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ (٧٦) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٧٧) تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلالِ وَالإكْرَامِ (٧٨)
Terjemah Ayat 26-45
  • 46. Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya[1] ada dua surga[2].
  • 47. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 48. Kedua surga itu mempunyai aneka pepohonan dan buah-buahan[3].
  • 49. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 50. Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang memancar[4].  
  • 51. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 52. Di dalam kedua surga itu terdapat aneka buah-buahan yang berpasang-pasangan[5].
  • 53. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 54. Mereka bersandar di atas permadani yang bagian dalamnya dari sutera tebal[6]. Dan buah-buahan di kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat[7].
  • 55. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 56. Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan[8], yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya[9].
  • 57. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 58. Seakan-akan mereka itu permata yakut dan marjan[10].
  • 59. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 60. Tidak ada balasan untuk kebaikan[11] selain kebaikan (pula)[12].
  • 61. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 62. Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi[13].
  • 63. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 64. Kedua surga itu (kelihatan) hijau tua warnanya.
  • 65. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 66. Di dalam keduanya (syurga itu) ada dua buah mata air yang memancar.
  • 67. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?  
  • 68. Di dalam kedua surga itu ada buah-buahan, kurma dan delima.
  • 69. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 70. Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik (akhlaknya) dan cantik wajahnya[14].
  • 71. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 72. Bidadari-bidadari yang dipelihara di dalam kemah-kemah[15].
  • 73. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 74. Mereka sebelumnya tidak pernah disentuh oleh manusia maupun oleh jin.
  • 75. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 76. Mereka bersandar pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah[16].
  • 77. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 78. [17]Mahasuci nama Tuhanmu Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.

HURAIAN MAKNA AYAT;
  • [1] Yakni berdiri di hadapan-Nya untuk dihisab.
  • [2] Yakni bagi orang yang takut kepada Tuhannya dan takut berhadapan dengan-Nya, dimana hal itu membuatnya mengerjakan perintah dan menjauhi larangan, maka dia memperoleh dua surga. Menurut Syaikh As Sa’diy, dia akan mendapatkan dua surga dari emas, baik bejana, perhiasan, bangunan dan apa yang ada di sana (dari emas); surga yang satu sebagai balasan karena meninggalkan larangan, sedangkan surga yang satu lagi karena mengerjakan ketaatan.
  • [3] Ada pula yang menafsirkan kata ‘afnaan’ dengan berbagai jenis kenikmatan, baik kenikmatan luar maupun dalam yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan terlintas di hati manusia.
  • [4] Mereka dapat memancarkannya ke tempat yang mereka inginkan dan mereka kehendaki.
  • [5] Setiap jenisnya memiliki rasa dan warnanya masing-masing yang tidak dimiliki oleh jenis yang lain.
  • [6] Syaikh As Sa’diy menerangkan, ini adalah sifat permadani penghuni surga dan sifat duduknya mereka di atasnya, dan bahwa mereka sambil bersandar sambil santai. Permadani ini tidak diketahui sifatnya kecuali oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala, sampai-sampai bagian dalamnya dari sutera tebal yang merupakan sutera terbaik dan dibanggakan, lalu bagaimana dengan luarnya yang bersentuhan langsung dengan kulit mereka?
  • Ibnu Mas’ud berkata, “Ini bagian dalamnya, lalu bagaimana kalau kamu melihat bagian luarnya?”
  • [7] Yakni bisa dipetik sambil berdiri, sambil duduk dan sambil berbaring.
  • [8] Kepada suami mereka karena cakep dan gantengnya suami mereka, dan cintanya mereka kepadanya.
  • [9] Mereka masih sebagai gadis.
  • [10] Yakni karena bersih, cantik dan indahnya mereka.
  • [11] Yakni tidak ada balasan bagi orang yang berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah dan berbuat ihsan dalam bergaul dengan manusia kecuali dibalas dengan kebaikan, berupa pahala yang besar, keberuntungan yang besar, kenikmatan yang kekal, dan kehidupan yang sentosa. Kedua surga yang tinggi yang terbuat dari emas ini diperuntukkan bagi orang-orang yang didekatkan dengan Allah Subhaanahu wa Ta'aala (Al Muqarrabiin).
  • [12] Dengan kenikmatan surga.
  • [13] Selain dari dua surga yang tersebut di atas ada dua surga lagi yang disediakan untuk orang-orang mukmin yang derajatnya di bawah orang-orang mukmin yang dimasukkan ke dalam kedua surga yang pertama. Menurut Syaikh As Sa’diy, kedua surga yang lain itu dari perak, baik bangunannya, bejananya, perhiasannya, dan apa yang ada di dalamnya. Kedua surga ini diperuntukkan kepada As-habul Yamin (Golongan kanan).
  • [14] Mereka menggabung antara indahnya luar dan dalam; fisiknya indah dan akhlaknya baik.
  • [15] Bidadari itu tertahan dalam kemah-kemah mutiara; yang telah mempersiapkan diri mereka untuk suami mereka, namun hal itu tidaklah menafikan mereka untuk keluar ke kebun-kebun dan taman-taman surga sebagaimana kebiasaan putri-putri raja dan wanita-wanita yang dipingit.
  • [16] Orang-orang yang mendapatkan kedua surga yang kedua ini tempat sandaran mereka adalah rafraf (permadani) hijau, yaitu permadani yang berada di atas majlis-majlis (tempat duduk) yang tinggi yang menjadi tambahan terhadap majlis (tempat duduk) mereka. Dengan demikian, majlis tersebut memiliki rafrafah (permadani) di atas majlis mereka sehingga semakin indah dan bagus. Adapun ‘abqariy sebagai nisbat kepada setiap yang ditenun dengan tenunan yang indah dan mewah, oleh karenanya, disifati dengan keindahan yang menyeluruh karena bagus buatannya, indah dilihat serta halus disentuh. Kedua surga ini bukanlah surga yang sebelumnya sebagaimana disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, “Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi.” Selain itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menyifatkan dua surga yang pertama dengan beberapa sifat yang tidak disifatkan kepada dua surga yang setelahnya. Pada dua surga yang pertama Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang memancar,” sedangkan pada kedua surga setelahnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Di dalam keduanya (syurga itu) ada dua buah mata air yang memancar.” Sudah menjadi maklum, bahwa keduanya berbeda, yang satu mengalir, sedangkan yang satu lagi memancar. Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Kedua surga itu mempunyai aneka pepohonan dan buah-buahan.” Dan Dia tidak berfirman demikian pada surga yang kedua. Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Di dalam kedua surga itu terdapat aneka buah-buahan yang berpasang-pasangan.” Sedangkan pada kedua surga yang setelahnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Di dalam kedua surga itu ada buah-buahan, kurma dan delima.” Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Mereka bersandar di atas permadani yang bagian dalamnya dari sutera tebal. Dan buah-buahan di kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat.” Sedangkan pada dua surga yang kedua (setelahnya), Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Mereka bersandar pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah.” Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.” Sedangkan pada kedua surga yang setelahnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Bidadari-bidadari yang dipelihara di dalam kemah-kemah.” Sudah menjadi maklum adanya perbedaan di antara keduanya.

  • Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).” Dan Dia tidak berfirman demikian, pada dua surga setelahnya, maka hal ini menunjukkan bahwa hal itu sebagai balasan bagi orang-orang yang berbuat ihsan.
  • Di samping itu, didahulukan kedua surga yang pertama daripada yang kedua menunjukkan keutamaan yang pertama.
  • Berdasarkan sisi-sisi di atas dapat diketahui kelebihan dua surga yang pertama daripada dua surga yang kedua, dan bahwa kedua surga yang pertama itu dipetuntukkan kepada orang-orang yang didekatkan dari kalangan para nabi, para shiddiqin dan hamba-hamba pilihan Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang saleh, sedangkan pada kedua surga yang kedua disiapkan untuk kaum mukmin pada umumnya. Di semua surga itu terdapat sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terlintas di hati manusia, di dalamnya terdapat apa yang diinginkan jiwa dan indah dipandang mata, penduduknya benar-benar santai, ridha, tenang, dan mendapatkan tempat tinggal yang terbaik, bahkan masing-masing dari mereka tidak melihat bahwa orang lain lebih bagus darinya dan lebih tinggi kenikmatannya darinya.
  • [17] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan luasnya karunia dan ihsan-Nya, maka Dia berfirman, “Mahasuci nama Tuhanmu Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.” Yakni Mahaagung dan banyak kebaikan Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang memiliki kebesaran yang unggul di atas segalanya, Mahamulia secara sempurna, serta memuliakan para wali-Nya.
  • Selesai tafsir surah Ar Rahman dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, wal hamdulillahi Rabbil ‘aalamiin.

  1. TAFSIR AYAT ;
  • Dua tempat terbit matahari dan dua tempat terbenamnya ialah tempat dan terbenam matahari di waktu musim panas dan di musim dingin.
  • [1443]. Di antara ahli Tafsir ada yang berpendapat bahwa la yabghiyan maksudnya masing-masingnya tidak menghendaki. Dengan demikian maksud ayat 19-20 ialah bahwa ada dua laut yang keduanya tercerai karena dibatasi oleh tanah genting, tetapi tanah genting itu tidaklah dikehendaki (tidak diperlukan) maka pada akhirnya, tanah genting itu dibuang (digali untuk keperluan lalu lintas), maka bertemulah dua lautan itu. Seperti terusan Suez dan terusan Panama.

  • [1445]. Maksudnya: pada hari berhisab tidak lagi didengar alasan-alasan dan uzur-uzur yang mereka kemukakan.
  • [1446]. Yang dimaksud dua syurga di sini adalah, yang satu untuk manusia yang satu lagi untuk jin. 
  • Ada juga ahli Tafsir yang berpendapat syurga dunia dan syurga akhirat.
  • [1447]. Selain dari dua syurga yang tersebut di atas ada dua syurga lagi yang disediakan untuk orang-orang mukmin yang kurang derajatnya dari orang-orang mukmin yang dimasukkan ke dalam syurga yang pertama.

  • Abu Shuhaib al-Karami mengatakan, “Yang dimaksud dengan hur adalah bentuk jamak dari haura, yaitu wanita muda yang cantik jelita dengan kulit yang putih dan dengan mata yang sangat hitam. Sedangkan arti ‘ain adalah wanita yang memiliki mata yang indah.

  • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rombongan yang pertama masuk surga adalah dengan wajah bercahaya bak rembulan di malam purnama. Rombongan berikutnya adalah dengan wajah bercahaya seperti bintang-bintang yang berkemilau di langit. Masing-masing orang di antara mereka mempunyai dua istri, dimana sumsum tulang betisnya kelihatan dari balik dagingnya. Di dalam surga nanti tidak ada bujangan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sekiranya salah seorang bidadari surga datang ke dunia, pasti ia akan menyinari langit dan bumi dan memenuhi antara langit dan bumi dengan aroma yang harum semerbak. Sungguh tutup kepala salah seorang wanita surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Dua surga itu bejana dan apa yang ada di dalamnya dari perak. Dua surga itu bejana dan apa yang ada di dalamnya dari emas. Tidaklah di antara kaum dan di antara mereka melihat Rabb mereka, melainkan ada pakaian sombong di wajah-Nya di surga ‘Aden (yang tetap).” (HR. Bukhari no. 4878 dan Muslim no. 180). (Shahih Tafsir Ibnu Katsir, 4: 344-345)

  • Syaikh As Sa’di rahimahullah menyatakan, “Konsekuensi dari orang yang takut pada Allah adalah meninggalkan larangan dan melaksanakan perintah. Itulah yang mendapatkan dua surga. Dua surga itu terdapat bejana, perhiasan, bangunan dan isi lainnya yang terbuat dari emas. Salah satu dari dua surga itu diperuntukkan karena meninggalkan yang diharamkan. Dan surga lainnya diperuntukkan karena melakukan ketaatan yang diperintahkan.” (Tafsir As Sa’di, hal. 880)

  • Ayat ini bersifat umum mencakup manusia dan jin, sebagai mana dipermulaan pertanyaan ayat ini yang mana allah menjelaskan telah mencipta manusia dari 7lapisan tanah bumi dan jin yakni iblis dari naar yang mana bermakna taman tempat penyesalan atau neraka;maka ayat ini adalah dalil yang paling kuat yang menunjukkan bahwa jin akan masuk surga apabila mereka beriman dan bertaqwa. Oleh karena itu Alloh anugerahkan kepada jin dan manusia dengan balasan ini , Alloh berfirman [ dan bagi yang takut akan kedudukan Rabb-nya baginya ada dua surga, maka nikmat Alloh yang manakah yang kamu dustakan].” [Lihat tafsir Ibnu Katsir –rohimahulloh-]

Sabtu, 16 Disember 2017

AYAT 26-45


  • TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK 
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
  • JILIK-6 
  • Tafsir Ar Rahman Ayat 26-45
  • Ayat 26-45: 
  • Keadaan pada hari Kiamat, 
  • hisab, dan azab bagi orang-orang yang berdosa di neraka Jahanam.

  • (BISMILLAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM)
  • Kullu man 'alaihaa faan(in)
  • Wayabqaa wajhu rabbika dzuul jalaali wal-ikraam(i)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Yas-aluhuu man fiis-samaawaati wal ardhi kulla yaumin huwa fii sya'n(in)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Sanafrughu lakum ayyuhaats-tsaqalaan(i)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Yaa ma'syaral jinni wal-insi iniistatha'tum an tanfudzuu min aqthaaris-samaawaati wal ardhi faanfudzuu laa tanfudzuuna illaa bisulthaan(in)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Yursalu 'alaikumaa syuwaazhun min naarin wa nuhaasun falaa tantashiraan(i)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Fa-idzaaan-syaqqatis-samaa-u fakaanat wardatan kaddihaan(i
  • Fabiayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Fayauma-idzil laa yusalu 'an dzanbihi insun wa laa jaann(un)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

  1. كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (٢٦) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ (٢٧)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٢٨) يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ (٢٩)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٣٠) سَنَفْرُغُ لَكُمْ أَيُّهَا الثَّقَلانِ (٣١) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٣٢) يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ فَانْفُذُوا لا تَنْفُذُونَ إِلا بِسُلْطَانٍ (٣٣) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٣٤) يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ وَنُحَاسٌ فَلا تَنْتَصِرَانِ (٣٥) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٣٦) فَإِذَا انْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ وَرْدَةً كَالدِّهَانِ (٣٧) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٣٨) فَيَوْمَئِذٍ لا يُسْأَلُ عَنْ ذَنْبِهِ إِنْسٌ وَلا جَانٌّ (٣٩) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٤٠) يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ بِسِيمَاهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِي وَالأقْدَامِ (٤١)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٤٢)هَذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُونَ (٤٣) يَطُوفُونَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ حَمِيمٍ آنٍ (٤٤)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٤٥)

Terjemah Ayat 26-45
  • 26. Semua yang ada di bumi itu[1] akan binasa.
  • 27. Tetapi zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran[2] dan kemuliaan[3] tetap kekal.
  • 28. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 29. Apa yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya[4]. Setiap waktu Dia dalam kesibukan[5].
  • 30. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 31. Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu[6] wahai (golongan) manusia dan jin.
  • 32. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 33. [7]Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan[8].
  • 34. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? 
  • 35. [9]Kepada kamu (jin dan manusia), akan dikirim nyala api dan cairan tembaga (panas)[10] sehingga kamu tidak dapat menyelamatkan diri (darinya)[11].
  • 36. [12]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 37. [13]Maka apabila langit telah terbelah[14] dan menjadi merah mawar seperti (kilauan) minyak[15].
  • 38. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 39. Maka pada hari itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya[16].
  • 40. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 41. Orang-orang yang berdosa itu diketahui dengan tanda-tandanya[17], lalu direnggut ubun-ubun dan kakinya[18].
  • 42. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 43. Inilah neraka Jahanam yang didustakan oleh orang-orang yang berdosa.
  • 44. Mereka berkeliling di sana dan di antara air yang mendidih[19].
  • 45. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

  Huraian makna ayat;
  • [1] Baik manusia, jin, hewan dan makhluk-makhluk lainnya.
  • [2] Yakni yang mempunyai keagungan dan kebesaran; yang diagungkan dan dibesarkan.
  • [3] Ikraam artinya yang luas karunia dan kemurahan-Nya, serta yang menghendaki untuk memuliakan para wali dan makhluk pilihan-Nya dengan berbagai bentuk pemuliaan, dimana Dia dimuliakan, diagungkan, dicintai dan diibadahi oleh para wali-Nya.
  • [4] Baik dengan lisaanul maqaal (lisan) maupun lisaanul haal (keadaan).
  • Allah Subhaanahu wa Ta'aala Mahakaya zat-Nya tidak membutuhkan semua makhluk-Nya dan Mahaluas kemurahan-Nya. Semua makhluk butuh kepada-Nya meminta dipenuhi kebutuhannya dan mereka tidak pernah cukup terhadapnya sekejap mata pun atau kurang dari itu.
  • [5] Dia mengayakan yang miskin, menutupi hati yang sedih, memberi kepada suatu kaum dan menghalangi yang lain, menciptakan, menghidupkan dan mematikan, memuliakan dan menghinakan, meninggikan dan merendahkan, memelihara, memberi rezki, mengabulkan doa dan lain lain. Dia tidak pernah lelah terhadapnya dan tidak pernah bosan terhadap permintaan makhluk-Nya yang begitu banyak dan terus menerus. Dia senantiasa menampilkan apa yang telah ditetapkan-Nya di zaman azali (yang tidak ada awalnya) pada waktu-waktunya yang sesuai hikmah-Nya, baik ketetapan agama yang berupa perintah dan larangan, ketetapan qadari terhadap hamba-hamba-Nya selama mereka tinggal di dunia, sehingga ketika telah sempurna makhluk itu dan Allah telah membinasakan mereka, Dia menampilkan ketetapan jaza’i(pembalasan)-Nya dan memperlihatkan kepada mereka keadilan, karunia dan ihsan-Nya yang banyak, dimana dengannya mereka dapat mengenal-Nya dan mentauhidkan-Nya. Dia memindahkan manusia dari tempat ujian (dunia) menuju kepada kehidupan yang sesungguhnya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui.” (Al ‘Ankabut: 64)
  • Maka Mahasuci Allah Tuhan Yang Maha Pemberi yang pemberian-Nya merata kepada penduduk langit dan bumi, dan kelembutan-Nya mengena kepada semua makhluk di setiap waktu dan setiap saat.
  • [6] Untuk menghisab dan memberikan balasan terhadap amal yang kamu kerjakan selama di dunia.
  • [7] Apabila Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengumpulkan mereka di mauqif (tempat perhentian seperti di padang mahsyar) pada hari Kiamat, maka Allah memberitahukan kelemahan mereka, sempurnanya kekuasaan-Nya, berlakunya kehendak dan kekuasaan-Nya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman sebagaimana pada ayat di atas menerangkan kelemahan mereka.
  • [8] Bagaimana mereka memilikinya sedangkan mereka tidak berkuasa memberikan manfaat kepada diri mereka dan menghindarkan madharrat dari diri mereka, tidak bisa menghidupkan dan tidak bisa mematikan serta tidak bisa membangkitkan?! Pada tempat itu (padang mahsyar) tidak ada seorang pun yang berani bicara kecuali dengan izin-Nya dan tidak terdengar selain suara bisik-bisik. Di tempat itu, semua manusia sama, baik raja maupun rakyatnya, pemimpin maupun yang dipimpin, orang kaya maupun orang miskin.
  • [9] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan apa yang disiapkan-Nya untuk mereka di tempat itu.
  • [10] Syaikh As Sa’diy menerangkan tentang syuwaazh, yaitu nyala api yang bersih, sedangkan nuhaas, yaitu nyala api yang bercampur asap. Maksudnya kedua ini adalah bahwa keduanya akan dikirimkan untuk mengepung jin dan manusia agar tidak melarikan diri.
  • [11] Mujahid berkata, “Tembaga adalah kuningan yang dilebur lalu dituangkan di atas kepala mereka.” Maksudnya, Kalau kamu (wahai jin dan manusia) pergi melarikan diri pada hari Kiamat, tentu para malaikat dan malaikat Zabaniyah akan mengembalikan kamu dengan mengirimkan nyala api dan tembaga yang dileburkan yang akan ditimpakan kepada kamu agar kamu kembali (ke padang mahsyar).
  • [12] Oleh karena penakutan-Nya kepada hamba-hamba-Nya merupakan nikmat-Nya kepada mereka sekaligus sebagai cemeti untuk menggiring mereka ke tempat yang tinggi dan untuk memperoleh pemberian yang paling baik yang diberikan-Nya kepada mereka, maka Dia berfirman, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
  • [13] Pada hari Kiamat karena dahsyatnya keadaan ketika itu, banyaknya kegelisahan, rasa takut tidak kunjung henti, matahari dan bulan diredupkan dan bintang-bintang berjatuhan maka langit menjadi merah mawar seperti (kilauan) minyak, yakni seperti cairan logam dan timah yang mencair.
  • [14] Menjadi pintu-pintu untuk turunnya malaikat.
  • [15] Jika demikian, maka sungguh dahsyat dan mengerikan kejadian ketika itu.[16] Tetapi pada waktu yang lain. Atau maksudnya, bahwa pada hari itu manusia dan jin tidak dimintai informasi tentang apa yang terjadi karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengetahui yang gaib dan yang tampak, yang lalu dan yang akan datang. Dia ingin memberikan balasan kepada hamba sesuai yang diketahui-Nya terhadap keadaan mereka, dan Dia telah mengadakan tanda pada hari Kiamat untuk orang-orang yang baik dan orang-orang yang buruk yang dengannya mereka dapat dikenali sebagaimana firman-Nya di ayat lain, “Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. (Terj. Ali Imran: 106)
  • [17] Yaitu dengan hitam wajahnya dan biru matanya sebagaimana yang dikatakan Qatadah dan Al Hasan.
  • [18] Maksudnya, ubun-ubun orang yang berdosa dan kakinya direnggut lalu dilempar ke dalam neraka dan mereka diseret di sana. Allah Subhaanahu wa Ta'aala jika bertanya kepada mereka, maka maksudnya pertanyaan untuk menghinakan dan agar mereka mengakuinya karena Dia lebih mengetahui dari mereka, akan tetapi Dia ingin menunjukkan kepada makhluk hujjah-Nya yang kuat dan hikmah-Nya yang dalam.
  • [19] Mereka akan meminumnya ketika meminta pertolongan dari panasnya api neraka.
Tafsir ayat ;
  • Baik dengan lisaanul maqaal (lisan) maupun lisaanul haal (keadaan).
  • Dia mengayakan yang miskin, menutupi hati yang sedih, memberi kepada suatu kaum dan menghalangi yang lain, menciptakan, menghidupkan dan mematikan, memuliakan dan menghinakan, meninggikan dan merendahkan, memelihara, memberi rezki, mengabulkan doa dan lain lain. Dia tidak pernah lelah terhadapnya dan tidak pernah bosan terhadap permintaan makhluk-Nya yang begitu banyak dan terus menerus. Dia senantiasa menampilkan apa yang telah ditetapkan-Nya di zaman azali (yang tidak ada awalnya) pada waktu-waktunya yang sesuai hikmah-Nya, baik ketetapan agama yang berupa perintah dan larangan, ketetapan qadari terhadap hamba-hamba-Nya selama mereka tinggal di dunia, sehingga ketika telah sempurna makhluk itu dan Allah telah membinasakan mereka, Dia menampilkan ketetapan jaza’i(pembalasan)-Nya dan memperlihatkan kepada mereka keadilan, karunia dan ihsan-Nya yang banyak, dimana dengannya mereka dapat mengenal-Nya dan mentauhidkan-Nya. Dia memindahkan manusia dari tempat ujian (dunia) menuju kepada kehidupan yang sesungguhnya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui.” (Al ‘Ankabut: 64)

  • Mahsyar (Arab: محشر) dalam Islam adalah tanah berpasir putih yang sangat luas dan datar, dimana tidak terlihat dataran rendah maupun tinggi di akhirat.. Mahsyar adalah dataran raksasa yang tidak bertepi, tidak ada lembah, sungai maupun laut.
  • Di Mahsyar inilah semua makhluk Allah yang berada di tujuh lapis langit dan bumi termasuk malaikat, jin, manusia, binatang berkumpul dan berdesak-desakan. Setiap manusia pada hari pengadilan akan hadir di mahsyar, diiringi oleh dua malaikat, yang satu sebagai pengiringnya dan yang satu lagi sebagai saksi atas segala perbuatannya di dunia.
  • Menurut ajaran Islam, manusia yang pertama kali dibangkitkan oleh Allah adalah Muhammad.[HR Utsman bin Affan bin Dahaak bin Muzahim daripada Abbas ra]. 

  • Apabila Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengumpulkan mereka di mauqif (tempat perhentian seperti di padang mahsyar) pada hari Kiamat, maka Allah memberitahukan kelemahan mereka, sempurnanya kekuasaan-Nya, berlakunya kehendak dan kekuasaan-Nya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman sebagaimana pada ayat di atas menerangkan kelemahan mereka.Dalam Hadits riwayat Ibnu Umar ra .dijelaskan bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala menggulung semua langit dan bumi dengan Tangan-Nya. Kemudian Dia berkata : Aku adalah Raja. Aku adalah Maha Perkasa. Aku adalah Yang Sombong. Mana raja-raja di atas bumi? Mana mereka yang perkasa? Mana mereka yang sombong itu?
  • Tak ada satupun dari mantan raja dan penguasa di atas bumi yang menjawab. Tak ada seorangpun dari pejabat tinggi negara di atas bumi yang mampu merespon. Tak satupun dari konglomerat, kepala suku, kepala geng, mafia dan preman yang berani bersuara. Tak satupun dari para jendral berbintang empat atau lima yang berkutik.Tak satupun dari manusia-manusia yang pernah hidup di atas bumi yang berani berkata. Semuanya tertunduk sambil menggigil ketakutan. Dalam pikiran mereka tergambar semua kejahatan, kedurhakaan dan kezaliman yang dulu pernah mereka lakukan.
  • Setiap orang memikirkan nasibnya sendiri. Saking dahsyatnya suasana, mereka tidak bisa berbicara, apalagi berargumentasi. Suasananya sangat mencekam. Semua hamba tunduk, diam seribu bahasa.
  • Pada hari itu, manusia tidak sempat lagi memikirkan harta, anak, pangkat, kedudukan dan semua fasilitas hidup yang diperoleh ketika mereka melewati fase kehidupan di dunia. Mereka terfokus memikirkan diri sendiri, tanpa peduli dengan orang-orang yang ketika hidup di dunia menjadi teman dekat atau karib kerabat. Pada hari itu, wajah manusia hanya terbagi dua, yang berseri-seri mukanya dan yang bermuka masam, pucat pasi dan hina. 

  • Bagaimana mereka memilikinya sedangkan mereka tidak berkuasa memberikan manfaat kepada diri mereka dan menghindarkan madharrat dari diri mereka, tidak bisa menghidupkan dan tidak bisa mematikan serta tidak bisa membangkitkan?! Pada tempat itu (padang mahsyar) tidak ada seorang pun yang berani bicara kecuali dengan izin-Nya dan tidak terdengar selain suara bisik-bisik. Di tempat itu, semua manusia sama, baik raja maupun rakyatnya, pemimpin maupun yang dipimpin, orang kaya maupun orang miskin.‘Dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi Saw ia berkata : “Ada tujuh golongan yang Allah beri naungan dengan naungan-Nya, pada hari tiada lagi naungan kecuali naungan-Nya. Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dan berkembang dalam ketaatan pada Allah, seseorang yang hatinya terpaut pada masjid, dua orang yang saling mencintai di jalan Allah dan karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah di atas dasar itu, seorang lelaki yang digoda wanita yang memiliki jabatan dan kecantikan, lalu dia (menolaknya) sambil berkata : aku takut pada Allah, seseorang yang bersedekah maka ia sembunyikan sehingga apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya tidak diketahui oleh tangan kirinya, dan seseorang yang berzikir (mengingat) kepada Allah di tempat yang sunyi sepi, maka ia bergelimang air mata”. (Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
  • Adapun orang-orang-orang yang menolak dan melupakan dengan sengaja petunjuk Tuhan Pencipta dalam menjalankan misi dan visi hidup ketika hidup di dunia, mereka dikumpulkan dalam keadaan buta. Lengkaplah penderitaan yang mereka rasakan. 

  • Syaikh As Sa’diy menerangkan tentang syuwaazh, yaitu nyala api yang bersih, sedangkan nuhaas, yaitu nyala api yang bercampur asap. Maksudnya kedua ini adalah bahwa keduanya akan dikirimkan untuk mengepung jin dan manusia agar tidak melarikan diri.

  • Mujahid berkata, “Tembaga adalah kuningan yang dilebur lalu dituangkan di atas kepala mereka.” Maksudnya, Kalau kamu (wahai jin dan manusia) pergi melarikan diri pada hari Kiamat, tentu para malaikat dan malaikat Zabaniyah akan mengembalikan kamu dengan mengirimkan nyala api dan tembaga yang dileburkan yang akan ditimpakan kepada kamu agar kamu kembali (ke padang mahsyar).

  • Tetapi pada waktu yang lain. Atau maksudnya, bahwa pada hari itu manusia dan jin tidak dimintai informasi tentang apa yang terjadi karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengetahui yang gaib dan yang tampak, yang lalu dan yang akan datang. Dia ingin memberikan balasan kepada hamba sesuai yang diketahui-Nya terhadap keadaan mereka, dan Dia telah mengadakan tanda pada hari Kiamat untuk orang-orang yang baik dan orang-orang yang buruk yang dengannya mereka dapat dikenali sebagaimana firman-Nya di ayat lain, “Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. (Terj. Ali Imran: 106)

AYAT 16-25


  • TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
  • JILIK-6 SURAH AR-RAHMAN AYAT 16-25

  • Ayat 16-25: Penciptaan jin dan manusia dan asal penciptaannya, dan beberapa nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang dapat dirasakan di dunia.
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Rabbul masyriqaini wa rabbul maghribain(i)
  • Fab-iayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Marajal bahraini yaltaqiyaan(i)
  • Bainahumaa barzakhul laa yabghiyaan(i)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Yakhruju minhumaallu'lu'u wal marjaan(u)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
  • Wa lahul jawaaril munsyaaatu fiil bahri kal a'laam(i)
  • Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

  • فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (١٦) رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ (١٧) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (١٨) مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ (١٩) بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لا يَبْغِيَانِ (٢٠) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٢١) يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ (٢٢) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٢٣) وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنْشَآتُ فِي الْبَحْرِ كَالأعْلامِ (٢٤) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٢٥)

  • Terjemah Surat Ar Rahman Ayat 16-25
  • 16. [24]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 17. Tuhan (yang memelihara) dua timur dan Tuhan (yang memelihara) dua barat[25].
  • 18. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 19. Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu,
  • 20. di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing[26].
  • 21. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 22. Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.
  • 23. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • 24. Milik-Nyalah kapal-kapal yang berlayar di lautan bagaikan gunung-gunung[27].
  • 25. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?


  • [24] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan penciptaan manusia dan jin serta bahan bakunya, dimana hal itu merupakan nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada mereka, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
  • [25] Maksudnya tempat terbit dan terbenam matahari di musim panas dan di musim dingin.
  • [26] Sehingga tidak bercampur. Di antara ahli tafsir ada yang berpendapat bahwa la yabghiyan maksudnya masing-masingnya tidak menghendaki. Dengan demikian maksud ayat 19-20 ialah bahwa ada dua laut yang keduanya terpisah karena dibatasi oleh tanah genting, tetapi tanah genting itu tidaklah dikehendaki (tidak diperlukan), maka pada akhirnya, tanah genting itu dibuang (digali untuk keperluan lalu lintas), maka bertemulah dua lautan itu, seperti terusan Suez dan terusan Panama.
  • Menurut Syaikh As Sa’diy, maksud dua buah laut adalah; laut yang terasa tawar dan laut yang terasa asin, keduanya bertemu bersama, sehingga laut yang berair tawar mengena kepada laut yang berair asin sehingga keduanya bercampur. Akan tetapi, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menjadikan di antara keduanya ada batas pemisah dari daratan sehingga yang satu tidak dapat dilampaui oleh masing-masing, namun tercapai manfaat dari keduanya. Dari air yang tawar dapat dimanfaatkan dengan diminum oleh manusia dan hewan serta digunakan menyirami tanaman, sedangkan dari air laut yang asin ada udara menjadi sejuk, ikan, mutiara dan marjan. Demikian pula menjadi tempat berlayar perahu dan kapal-kapal.[27] Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menundukkan kapal-kapal untuk hamba-hamba-Nya sehingga kapal yang dibuat mereka itu dapat membelah lautan dengan izin-Nya. Saking besarnya kapal itu, maka ia bagaikan gunung yang besar, dimana manusia dapat menaikinya, mereka dapat membawa barang-barang mereka ke atasnya serta yang mereka butuhkan lainnya untuk dibawa ke atasnya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang menjaga lagit dan bumi telah menjaga kapal itu untuk mereka. Ini termasuk di antara nikmat-nikmat Allah yang besar yang diberikan-Nya kepada mereka.

  • Imam Muslim meriwayatkan hadis ini dari Muhammad ibnu Rafi' dan Abdu ibnu Humaid, keduanya dari Abdur Razzaq dengan sanad yang sama.
  • Firman Allah Swt.:
  • {فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ}
  • Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-Rahman: 16)
  • Tafsirnya sama dengan yang sebelumnya.
  • {رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ}
  • Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya. (Ar-Rahman: 17)
  • Yakni kedua tempat terbitnya matahari di musim panas dan musim dingin, kedua tempat terbenamnya matahari di musim panas dan musim dingin. Dan dalam ayat yang lain disebutkan oleh firman-Nya:
  • {فَلا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ}
  • Maka Aku bersumpah dengan Tuhan Yang Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari. (Al-Ma'arij: 40)
  • Demikian itu karena berbeda-bedanya tempat terbit mentari dan perpindahannya di setiap hari, di saat-saat kemunculannya kepada manusia. Dan dalam ayat yang lain disebutkan:
  • {رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلا}
  • (Dialah) Tuhan masyriq dan magrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung. (Al-Muzzammil: 9)
  • Inilah makna yang dimaksud, yaitu berbagai derajat arah masyriq dan berbagai derajat arah magrib. Dan mengingat adanya perbedaan yang terjadi pada masyriq dan magrib ini mengandung kemaslahatan bagi makhluk, baik jin maupun manusianya, maka dalam firman selanjutnya disebutkan:
  • {فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ}
  • Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-Rahman: 18)
  • *****************
  • Adapun firman Allah Swt.:
  • {مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ}
  • Dia membiarkan dua lautan mengalir yang kemudian keduanya bertemu. (Ar-Rahman: 19)
  • Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa makna waltaqiyani ialah membiarkan keduanya mengalir.
  • Menurut Ibnu Zaid, Allah Swt. telah mencegah keduanya membaur dengan menjadikan pemisah yang menghalangi kedua air (asin dan tawar) membaur menjadi satu. Dan yang dimaksud dengan dua lautan ialah air asin dan air tawar. Air tawar adalah air yang terdapat di sungai-sungai yang ada di antara manusia. Pembahasan mengenainya telah kami sebutkan di dalam tafsir surat Al-Furqan, yaitu pada firman Allah Swt.:
  • {وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا}
  • Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar, dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi. (Al-Furqan: 53)
  • Ibnu Jarir dalam hal ini memilih pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan bahrain ialah lautan yang ada di langit dan lautan yang ada di bumi. Pendapat ini diriwayatkan dari Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, Atiyyah, dan Ibnu Abza.
  • Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa dikatakan demikian karena mutiara itu terjadi berkat pertemuan antara laut yang ada di langit dan laut yang ada di bumi.
  • Jika memang demikian, sudah barang tentu pengertian ini tidak di dukung oleh teks ayat yang menyebutkan:
  • {بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَا يَبْغِيَانِ}
  • antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. (Ar-Rahman: 20)
  • Yakni Allah telah menjadikan di antara keduanya dinding pembatas yang menghalangi keduanya dapat membaur, agar yang ini tidak mencemari yang itu, dan sebaliknya yang itu tidak mencemari yang ini sehingga dapat melenyapkan spesifikasi masing-masing yang diciptakan oleh Allah Swt. justru untuk tujuan tersebut. Dan jika dikatakan seperti itu, berarti tidak ada lagi dinding penghalang yang mencegah air langit dan air bumi untuk terpisah.
  • *****************
  • Firman Allah Swt.:
  • {يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ}
  • Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. (Ar-Rahman: 22)
  • Yaitu kelompok masing-masing dari keduanya. Maka apabila hal tersebut dapat dijumpai pada salah satunya, itu sudah cukup. Seperti pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:
  • {يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ}
  • Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri. (Al-An'am: 130)
  • Sedangkan rasul-rasul itu hanyalah pada kalangan manusia secara khusus, bukan dari kalangan jin; dan ungkapan seperti ini dianggap sah secara mutlak.
  • Lu-lu- sudah dikenal, yaitu mutiara. Sedangkan marjan, menurut suatu pendapat adalah mutiara yang kecil-kecil, menurut Mujahid, Qatadah, Abu Razin, dan Ad-Dahhak. Dan menurut riwayat yang bersumber dari Ali, marjan adalah mutiara yang besar-besar lagi yang terbaik. Hal yang semisal telah diriwayatkan dari sebagian ulama saleh oleh Ibnu Jarir. Ibnu Abu Hatim meriwayatkan pendapat ini dari Ar-Rabi' ibnu Anas, dan As-Saddi telah meriwayatkannya dari seseorang yang menceritakan kepadanya dari Ibnu Abbas. Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Ali, Mujahid, dan Murrah Al-Hamdani.
  • Menurut pendapat yang lain, marjan adalah sejenis permata yang berwarna merah. As-Saddi telah meriwayatkan dari Abu Malik, dari Masruq, dari Abdullah yang mengatakan bahwa marjan adalah permata yang berwarna merah. As-Saddi mengatakan bahwa marjan itu adalah permata dengan bahasa Persia. Adapun mengenai firman-Nya:
  • {وَمِنْ كُلٍّ تَأْكُلُونَ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُونَ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا}
  • Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang kamu dapat memakainya. (Fathir: 12)
  • Yakni protein hewani dari kedua air tersebut, yaitu air asin dan air tawar. Sedangkan perhiasan itu hanyalah didapat dari air asin saja, tidak didapat pada air tawar.
  • Ibnu Abbas mengatakan bahwa tidak sekali-kali setetes air yang jatuh dari langit ke dalam laut, lalu mengenai kerang dan masuk ke dalamnya melainkan terjadilah mutiara karenanya. Hal yang sama dikatakan oleh Ikrimah, tetapi ditambahkan bahwa 'jika tidak terjatuh di dalam kerang, maka air dari langit itu akan menumbuhkan anbarah'. Telah diriwayatkan pula hal yang semisal melalui berbagai jalur dari Ibnu Abbas.
  • Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A'masy, dari Abdullah ibnu Abdullah, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa apabila langit menurunkan hujannya dan kerang-kerang yang ada di laut membukakan katupnya, maka tidak sekali-kali ada setetes air hujan yang masuk ke dalamnya melainkan akan menjadi mutiara. Sanad asar ini sahih.
  • Mengingat mutiara dan marjan dapat dijadikan sebagai perhiasan dan merupakan nikmat bagi penduduk bumi, dan itu merupakan karunia dari Allah Swt. untuk mereka, maka disebutkanlah dalam firman berikutnya:
  • {فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ}
  • Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-Rahman: 23)
  • *****************
  • Adapun firman Allah Swt.:
  • {وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنْشَآتُ}
  • Dan kepunyaan-Nyalah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya. (Ar-Rahman: 24)
  • Yakni kapal-kapal yang berlayar.
  • فِي الْبَحْرِ
  • di lautan lepas. (Ar-Rahman: 24)
  • Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan munsya-at ialah kapal yang mempunyai layar yang tinggi (yakni berbadan besar dan lebar), sedangkan kapal yang tidak demikian keadaannya bukan dinamakan munsya-at. Qatadah mengatakan bahwa munsya-at artinya yang diciptakan, sedangkan selainnya mengatakan perahu tradisional.
  • {كَالْأَعْلَامِ}
  • laksana gunung-gunung. (Ar-Rahman: 24)
  • Yaitu seperti gunung-gunung pemandangannya karena besar dan tingginya, dan karena apa yang dimuatnya berupa barang-barang dagangan dan barang-barang kebutuhan yang diekspor dan diimpor dari suatu kawasan ke kawasan yang lain untuk keperluan manusia. Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:
  • {فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ}
  • Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-Rahman: 25)
  • Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Al-Aizar ibnu Suwaid, dari Umrah ibnu Suwaid yang mengatakan bahwa ia pernah bersama Ali ibnu Abu Talib r.a. di tepi Sungai Furat, tiba-tiba datanglah sebuah perahu yang tinggi layarnya, lalu Ali duduk di atas permadani yang dihamparkan untuknya. Kemudian ia mengatakan bahwa Allah Swt. telah berfirman: Dan kepunyaan-Nyalah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung. (Ar-Rahman: 24) Tuhan Yang telah menciptakannyalah yang membuatnya dapat berlayar di lautan ciptaan-Nya. Aku tidak membunuh Usman dan tidak pula bersekongkol untuk membunuhnya.

Jumaat, 15 Disember 2017

AYAT 15


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
  • JILIK-6SURAH AR-RAHMAN AYAT 14
  • BISMILLAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM

  • وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ
  • Wa khalaqal jaanna min maarijim min naar(in)
  • dan Dia(allah) menciptakan jin dari nyala api.

  • HSI 5.76 : An-Naar (Neraka) api neraka yang bernyala nyala ;sebagai mana adam tanah 7jenis tanah bumi yang berupa rupa warna;An-Naar secara bahasa adalah api. Secara syariat, an-naar adalah negeri di akhirat yang penuh dengan adzab

  • Dalam hadits shahih dari Aisyah rodhiallahu 'anha, dia berkata: Rasulullah sallallahu'alaihi wasallam bersabda:

  • "Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api dan Adam diciptakan sebagaimana telah dijelaskan kepada kalian (dari tanah)"

  • (HR. Muslim dalam shahihnya, no. 2996, Ahmad no. 24668, Baihaqi di Sunan Kubro, no. 18207, dan Ibnu Hibban, no. 6155)

  • Dan Dia menciptakan jin) (Arabic إبليس), adalah nama yakni bapak moyang jin, yaitu iblis (dari nyala api) yaitu nyala api yang tidak berasap.Arab yang artinya "dia yang dipukul memar"

  • sebagai mana bapak manusia adam yang diusir dari syurga ;Bapak jin yaitu Iblis yang terlaknat allah sawt..Arab nama iblis berasal dari kata balasa بَلَسَ, meaning yang artinya menyesal. 

  •  Penciptaan jin dari api pun berdasarkan pada hikmah dan kebijakan Ilahi ini. jin merupakan salah satu jenis jin, tercipta dari api dan memiliki material yang lembut dan halus.Dalam sebuah klasifikasi global materi atau jisim terbagi menjadi dua:

  • Jisim atau materi yang rendah seperti materi dari eksistensi semacam hewan dan manusia yang tercipta dari tanah, dan materi yang halus seperti eksistensi dari kelompok jin yang tercipta dari api. Kedua bentuk materi ini memiliki volume dan ukuran, akan tetapi pada masing-masingnya terdapat perbedaan yang hakiki. Salah satu dari perbedaan tersebut adalah jin tidak bisa dilihat oleh manusia, bahkan dengan kelembutan yang dimilikinya, terdapat kemungkinan mereka bisa melakukan penjelmaan yang berubah-ubah dalam berbagai bentuk dan bisa ke tempat mana pun yang mereka kehendaki. Namun kebalikan dari itu, manusia terlihat oleh jin dan tidak memiliki kemungkinan untuk melakukan perubahan dalam diri dan tempat yang ditinggalinya dalam waktu cepat, melainkan dengan gerakan yang bertahap.

  • Yakni kobaran api yang bersih. Hal ini menunjukkan keutamaan unsur (bahan baku) manusia yang diciptakan dari tanah, dimana tanah dapat dimanfaatkan, seperti dengan digarap dan ditanam tumbuh-tumbuhan. Berbeda dengan api, yang keadaannya ringan, tidak tentu arah, buruk dan merusak.

  • “Dari Jabir, Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda, “Sesungguhnya iblis singgasananya berada di atas laut. Dia mengutus para pasukannya. Setan yang paling dekat kedudukannya adalah yang paling besar godaannya. Di antara mereka ada yang melapor, ‘Saya telah melakukan godaan ini.’ Iblis berkomentar, ‘Kamu belum melakukan apa-apa.’ Datang yang lain melaporkan, ‘Saya menggoda seseorang, sehingga ketika saya meninggalkannya, dia telah bepisah (talak) dengan istrinya.’ Kemudian iblis mengajaknya untuk duduk di dekatnya dan berkata, ‘Sebaik-baik setan adalah kamu.'” (HR. Muslim 2813).

  • Iblis menjadikan singgasananya di atas laut untuk menandingi Arsy Allah Ta’ala, yang berada di atas air dan di atas langit ketujuh.Imam al-Ghazali menyebutkan bahwa iblis itu sesungguhnya namanya disebut sebagai al-Abid (ahli ibadah) pada langit yang pertama, pada langit yang keduanya disebut az-Zahid. Pada langit ketiga, namanya disebut al-Arif. Pada langit keempat, namanya adalah al-Wali. Pada langit kelima, namanya disebut at-Taqi. Pada langit keenam namanya disebut al-Kazin. Pada langit ketujuh namanya disebut Azazil manakala dalam Luh Mahfudz, namanya ialah iblis.

AYAT 14

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
  • JILIK-6 SURAH AR-RAHMAN;
  • AYAT 14;
  • BISMILLAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM,;
  • خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ
  • Khalaqal insaana min shalshaalin kal fakh-khaar(i)
  • Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar,
  • (Dia menciptakan manusia) yakni Nabi Adam (dari tanah kering) tanah kering yang apabila diketuk akan mengeluarkan suara berdenting (seperti tembikar) seperti tanah liat yang dibakar.
  • Menurut Ibnu Abbas ada beberapa;spesifikasi tanah yang digunakan untuk
  • membuat manusia (Adam) sebagai
  • berikut:
  • 1. Kepala Adam dari tanah Baitul
  • Muqadis: Tempat otak dan akal manusia
  • 2. Telinga Adam dari tanah Bukit Tursina:
  • Karenanya menjadi alat pendengar
  • 3. Dahi Adam dari tanah Iraq: Karenanya
  • tempat bersujud pada Allah
  • 4. Muka Adam dari tanah Aden:
  • Karenanya menjadi tempat berhias dan
  • kecantikan
  • 5. Gigi Adam dari tanah telaga Al-
  • Kautsar: Tempat untuk manis-manis
  • 6. Tangan kanan Adam dari tanah
  • Ka’bah: Untuk mencari nafkah dan
  • bekerja
  • 7. Tangan kiri Adam dari tanah Paris:
  • Untuk bersuci, cebok (istinja’)
  • 8. Kemaluan Adam dari tanah Babylonia:
  • Tempat birahi dan tipu daya syaitan
  • untuk membimbing manusia menuju
  • dosa.
  • 9. Hati Adam dari tanah surga Firdaus:
  • Sebagai tempat iman, keyakinan, dan
  • ilmu
  • 10. Lidah Adam dari tanah Tha’if:
  • Tempat untuk mengucap kalimat
  • syahadat dan berdoa.
  • Bagaimanakah Prosesnya:
  • 1. Ketika Allah akan jadikan Adam,
  • tanah itu dicampuri air tawar, air
  • asin, air anyir, angin, api.
  • Kemudian Allah resapkan Nur
  • kebenaran dalam diri Adam
  • dengan berbagai macam "sifat".
  • 2. Lalu tubuh Adam itu digenggam
  • dengan genggaman "Jabarut"
  • kemudian diletakkan di dalam
  • "Alam Malakut".
  • 3. Sesungguhnya tanah yang akan
  • dijadikan "tubuh Adam" adalah
  • tanah pilihan. Maka sebelum
  • dijadikan patung, tanah itu
  • dicampurkan dengan rempah-
  • rempah, wangi-wangian dari sifat
  • Nur Sifat Allah, dan disiram dengan
  • air hujan "Barul Uluhiyah".
  • 4. Kemudian tubuh itu dibenamkan di
  • dalam air "Kudral-Izzah-Nya" yaitu
  • sifat "Jalan dan Jammal". Lalu
  • diciptakan menjadi tubuh Adam
  • yang sempurna.
  • 5. Demikian pula roh, ketika itu
  • diperintah masuk ke dalam tubuh
  • Adam, ia pula merasa malas dan
  • enggan, malah ia berputar-putar,
  • mengelilingi patung kepada Izrail.
  • Menurut riwayat ketika Adam masih
  • berada di surga, sangat baik sekali
  • kulitnya. Tidak seperti warna kulit kita
  • sekarang ini. Karena Adam telah
  • diturunkan ke dunia, terjadilah
  • perubahan pada warna kulitnya.
  • Sebagai peringatan: Yang masih
  • tertinggal warnanya hanyalah pada
  • kuku manusia. Hal ini kita biasa lihat
  • meskipun orang kulitnya hitam, tetapi
  • warna kukunya adalah sama, ialah putih
  • kemerah-merahan.
  • Dijadikan pada tubuh Adam ada
  • sembilan rongga atau liang. Tujuh buah
  • liang di kepala, dan dua buah liang di
  • bawah badan letaknya.
  • Tujuh buah letaknya di kepala: Dua liang
  • mata, dua liang telinga, dua liang hidung
  • dan sebuah liang mulut. Yang dua
  • macam di bawah: Sebuah liang
  • kemaluan dan liang dubur.
  • Dijadikan pula lima buah panca indera :
  • 1. Mata alat penglihatan
  • 2. Hidung alat penciuman
  • 3. Telinga alat pendengaran
  • 4. Mulut alat perasa manis, asin dan
  • sebagainya.
  • 5. Anggota tubuh lainya seperti kulit,
  • telapak tangan, untuk perasa halus,

  • kasar dan sebagainya.
  • Termasuk nikmat-nikmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya adalah Dia memperlihatkan kepada mereka atsar (pengaruh) dari qudrah(kekuasaan)-Nya dan indahnya ciptaan-Nya.
  • Bapak manusia yaitu Adam ‘alaihis salam.
  • Yaitu tanah yang basah, yang dikokohkan sehingga menjadi kering dan berbunyi seperti suara tembikar yang dibakar di atas api.

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN