Khamis, 13 September 2018

AYAT 84

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
SURAH HUD 84''
BISMILLAHIRAHMANIRAHIM

{وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ وَلا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ (84) }

 Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka Syu’aib. Ia berkata, "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagi kalian selain Dia. Dan janganlah kalian kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kalian dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadap kalian akan azab hari yang membinasakan (kiamat)." Allah Swt. menyebutkan, "Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada penduduk kota Madyan yang penghuninya terdiri atas suatu kabilah dari kalangan bangsa Arab.

 Mereka tinggal di kawasan antara Hijaz dan Syam, dekat dengan Ma'an, suatu kota yang dikenal dengan nama mereka; kota tersebut dijuluki dengan sebutan kota Madyan." Allah mengutus Nabi Syu'aib kepada mereka. Nabi Syu'aib berasal dari keturunan orang yang terhormat di kalangan mereka. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya: {أَخَاهُمْ شُعَيْبًا} saudara mereka Syu’aib.

 (Hud: 84) Nabi Syu'aib memerintahkan mereka untuk menyembah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Nabi Syu'aib pun melarang mereka mengurangi takaran dan timbangan mereka. {إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ } sesungguhnya aku melihat kalian dalam keadaan yang baik (mampu). (Hud: 84) Yakni penghidupan dan rezeki kalian dalam keadaan baik-baik saja, dan sesungguhnya aku takut bila kenikmatan yang ada pada kalian itu di­cabut dari kalian karena kalian mengerjakan hal-hal yang diharamkan oleh Allah Swt. {وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ} dan sesungguhnya aku khawatir terhadap kalian akan azab hari yang membinasakan (kiamat). (Hud: 84) Maksudnya, di hari akhirat nanti.

AYAT 82-83

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH HUD 82-83

BIS-MILLAHI-RAHMANI-RAHIM''

{فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ (82) مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ (83) }

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Lut itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah-tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan negeri itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim. Firman Allah Swt.: {فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا} Maka tatkala datang azab Kami.

(Hud: 82) Hal itu terjadi di saat matahari terbit. {جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا} Kami jadikan negeri kaum Lut yang bagian atasnya ke bawah (Kami balikkan). (Hud: 82) Yang dimaksud adalah kota Sodom, sama halnya dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: فَغَشَّاهَا مَا غَشَّى lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpa­nya. (An-Najm: 54) Artinya, Kami hujani kota itu dengan batu dari tanah liat. Lafaz sijjil menurut bahasa Persia berarti 'batu dari tanah liat', menurut Ibnu Abbas dan lain-lainnya. Menurut sebagian ulama adalah dari batu dan tanah liat. Di dalam ayat yang lain disebutkan oleh firman-Nya: {حِجَارَةً مِنْ طِينٍ} batu-batu dari tanah yang (keras). (Adz-Dzariyat: 33) Yakni yang telah mengeras jadi batu sehingga kuat. Sebagian ulama mengatakan tanah liat yang dibakar.

Imam Bukhari mengatakan bahwa sijjil artinya yang kuat lagi besar. Sijjil dan sijjin mempunyai makna yang sama. Tamim ibnu Muqbil mengatakan dalam salah satu bait syairnya: وَرَجْلَةٍ يَضْربُون البَيْضَ ضَاحِيةٌ ... ضَرْبًا تواصَت بِهِ الْأَبْطَالُ سِجّينا Dan mereka memukulkan pelana untanya ke pedang yang dibawanya dengan pukulan yang membuat pedang itu menjadi keras dan kuat serta pantas dipakai oleh para pendekar. Firman Allah Swt.: {مَنْضُودٍ} dengan bertubi-tubi. (Hud: 82) Sebagian ulama mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah yang dibakar di langit, yakni yang disediakan khusus untuk itu. Ulama lainnya mengatakan, makna mandud ialah yang diturunkan secara bertubi-tubi kepada mereka. Firman Allah Swt.: {مُسَوَّمَةً} yang diberi tanda. (Hud: 83) Maksudnya, pada tiap-tiap batu itu diberi tanda cap nama-nama pemilik­nya. Dengan kata lain, setiap batu tertuliskan nama orang yang akan ditimpa olehnya.

Qatadah dan Ikrimah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: yang diberi tanda.
(Hud: 83) yang dilumuri dengan cairan racun berwarna merah. Menurut suatu riwayat, batu-batu itu diturunkan kepada penduduk kota tersebut, juga kepada penduduk kota itu yang tersebar di berbagai kampung yang ada di sekitarnya. Ketika salah seorang penduduk kota itu sedang berbicara dengan orang-orang banyak, tiba-tiba datanglah batu dari langit menimpa­nya, maka ia pun roboh dan binasa di hadapan orang banyak. Batu-batu tersebut mengejar mereka di seluruh negeri, lalu membinasakannya hingga ke akar-akarnya tanpa ada seorang pun yang tersisa. Mujahid mengatakan bahwa Jibril mengambil kaum Lut dari tempat-tempat penggembalaan ternak dan rumah-rumah mereka, lalu mengangkat mereka bersama ternak dan harta benda mereka. Jibril mengangkat mereka ke atas langit, sehingga penduduk langit dapat mendengar lolongan anjing mereka, kemudian mereka dijungkirkan ke tanah. Jibril mengangkat mereka dengan sayap kanannya, dan tatkala Jibril menjungkirkannya ke bumi, maka bagian yang mula-mula terjatuh adalah bagian halaman (pinggiran) kota itu. Qatadah mengatakan, telah sampai kepada kami bahwa Jibril mengambil pilar tengah kota tersebut, lalu menerbangkannya ke langit sehingga penduduk langit dapat mendengar lolongan anjing mereka, setelah itu Jibril menghancurkan sebagian darinya dengan sebagian yang lain. Kemudian sisa-sisa penduduk kota itu dikejar dengan batu-batu besar yang dijatuhkan dari langit. Diceritakan pula kepada kami bahwa mereka mendiami empat kota, pada tiap-tiap kota terdapat seratus ribu penduduk. Menurut riwayat lain adalah tiga kota besar, antara lain kota Sodom. Qatadah mengatakan, telah sampai suatu riwayat kepada kami bahwa Ibrahim a.s. menyaksikan penghancuran kota Sodom itu dan ia mengatakan, "Hai penduduk Sodom, ini adalah hari kehancuran kalian!"

Menurut riwayat yang lain —dari Qatadah dan lain-lainnya—telah sampai kepada kami suatu kisah yang mengatakan bahwa ketika Jibril a.s. berada di pagi hari itu, ia membeberkan sayapnya. Maka beterbangan­lah karenanya tanah mereka berikut isinya yang terdiri atas gedung-gedung-nya, semua hewan ternaknya, batu-batuan, dan pepohonannya. Lalu Jibril a.s. menggenggamnya dengan sayapnya dan mengepitnya di dalam sayapnya. Lalu ia terbang ke langit pertama sehingga penduduk langit mendengar suara manusia dan lolongan anjingnya; jumlah penduduk kota itu adalah empat juta jiwa. Kemudian Jibril a.s. membalikkannya dan menjatuhkannya ke tanah dalam keadaan terjungkir, lalu ia meng­hancurkan sebagiannya dengan sebagian yang lain. Bagian atas kota itu dibalikkan ke bawah, lalu diiringi dengan hujan batu dari tanah yang terbakar. Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi mengatakan bahwa kota-kota kaum Lut ada lima buah, yaitu: Sodom yang merupakan kota terbesar, lalu Sa'bah, Su'ud, Gomorah, dan Dauha. Jibril mengangkatnya dengan sayapnya dan membawanya ke langit, sehingga penduduk langit benar-benar dapat mendengar lolongan anjing serta kokokan ayam mereka, lalu membalikkannya ke bumi dalam keadaan terjungkir, setelah itu Allah mengiringinya dengan hujan batu. Allah Swt. telah berfirman: {جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ} Kami jadikan negeri kaum Lut itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar. (Hud: 82)

Allah membinasakan kota itu, dan semua kota yang ada di sekitarnya di­musnahkan. As-Saddi mengatakan balivva Malaikat Jibril turun kepada kaum Lut pada pagi harinya, lalu Jibril mencabut bumi kota itu dari bumi lapis yang ketujuh. Kemudian ia mengangkatnya ke langit, sehingga penduduk langit pertama dapat mendengar lolongan anjing dan suara kokok ayam milik mereka, lalu Jibril membalikkannya dan membinasakan mereka. Yang demikian itu disebutkan di dalam firman-Nya: {وَالْمُؤْتَفِكَةَ أَهْوَى} dan negeri-negeri kaum Lut yang telah dihancurkan Allah (An- Najm: 53)

Dan siapa di antara mereka yang masih belum mati sesudah negeri mereka dijatuhkan ke bumi, maka Allah menghujaninya dengan batu-batuan sehingga matilah ia. Barang siapa di antara mereka melarikan diri ke negeri lain, maka batu-batuan itu mengejarnya ke tempat ia berada. Tersebutlah seseorang yang sedang asyik berbicara, maka dengan tiba-tiba batu itu menimpanya dan membunuhnya. Yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya: {وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ} dan Kami hujani mereka. (Hud: 82) Yakni di kota-kota itu dengan batu dari tanah yang terbakar. Demikianlah menurut riwayat As-Saddi. *******************

Firman Allah Swt. {وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ} dan negeri itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim. (Hud: 83) Artinya, azab dan pembalasan Allah itu tidaklah jauh dari orang-orang yang serupa dengan mereka dalam kezalimannya. Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan di dalam kitab-kitab Sunan —dari Ibnu Abbas secara marfu— disebutkan: " مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعَمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ، فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ" Barang siapa yang kalian jumpai sedang mengerjakan perbuatan kaum Lut, maka bunuhlah pelaku dan orang yang dikerjainya. Imam Syafi’i —menurut suatu pendapat yang bersumber darinya— dan sejumlah ulama mengatakan bahwa orang yang melakukan perbuatan kaum Lut harus dibunuh, baik dia telah muhsan ataupun belum muhsan, karena berdasarkan hadis di atas. Lain halnya dengan Imam Abu Hanifah, ia berpendapat bahwa si pelaku dijatuhkan dari tempat yang tinggi (dari ketinggian), kemudian diiringi dengan lemparan batu, seperti yang dilakukan oleh Allah Swt. terhadap kaum Luth.

Selasa, 11 September 2018

AYAT 80-81

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH HUD 80-81
BIS-MIL-LAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM''

{قَالَ لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً أَوْ آوِي إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ (80) قَالُوا يَا لُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَلا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلا امْرَأَتَكَ إِنَّهُ مُصِيبُهَا مَا أَصَابَهُمْ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ (81) }

Lut berkata, "Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolak kalian) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)." Para utusan (malaikat) berkata, "Hai Lut, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu. Sebab itu, pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam, dan janganlah ada seorang pun di antara kamu yang tertinggal kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka, karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?”

Allah Swt. berfirman menceritakan perihal Nabi Lut a.s., bahwa sesung­guhnya Lut mengancam mereka melalui ucapannya yang disitir oleh firman Allah Swt.: لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً Seandainya aku mempunyai kekuatan untuk menolak kalian. (Hud: 80),

 hingga akhir ayat. Yakni niscaya aku akan menghajar kalian dan melakukan berbagai macam upaya untuk mencegah kalian dengan diriku sendiri dan keluargaku. Karena itulah di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan melalui jalur Muhammad ibnu Amr ibnu Alqamah, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: "رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَى لُوطٍ، لَقَدْ كَانَ يَأْوِي إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ -يَعْنِي: اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ -فَمَا بَعَثَ اللَّهُ بَعْدَهُ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا فِي ثَرْوَةٍ مِنْ قَوْمِهِ"

Rahmat Allah terlimpahkan kepada Lut, sesungguhnya dia telah berlindung di bawah naungan pilar yang kuat, yakni Allah Swt. Maka tidak sekali-kali Allah mengutus seorang nabi sesudahnya, melainkan berasal dari kalangan terhormat kaumnya. Maka pada saat itu juga para malaikat utusan Allah menceritakan kepada Lut tentang hakikat jati diri mereka, bahwa mereka adalah utusan Allah yang ditujukan kepadanya dan mereka tidak akan mempunyai kekuatan untuk menimpakan mudarat kepadanya. {قَالُوا يَا لُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ} Para utusan (malaikat) berkata, "Hai Lut, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu.” (Hud: 81) Para malaikat itu pun memerintahkan Lut agar pergi meninggalkan kota itu bersama keluarganya di akhir malam, dan hendaknya Lut berjalan di belakang keluarganya, yakni menggiring mereka. {وَلا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ} dan janganlah ada seorang pun di antara kalian yang menoleh ke belakang. (Hud: 81) Yakni apabila kamu mendengar suara azab yang menimpa kaummu, janganlah kamu terkejut dan takut dengan suara yang menggetarkan itu; tetapi tetaplah berjalan terus, jangan hiraukan mereka. {إِلا امْرَأَتَكَ} kecuali istrimu. (Hud: 81)

HURAIAN ULAMAK TAFSIR DAN HADIS ''
Kebanyakan ulama tafsir menilai istisna ini dari kalimat yang musbat, yakni kalimat yang dikecualikannya adalah kalimat positif, yaitu firman-Nya: {فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ} Sebab itu pergilah dengan membawa keluargamu. (Hud: 81) Dengan kata lain, pergilah dengan membawa keluargamu dan pengikut-pengikutmu kecuali istrimu. Hal yang sama disebutkan menurut qiraat Ibnu Mas'ud. Mereka me-nasab-kan lafaz imra-ah. karena —menurut mereka— istisna dari kalimat yang musbat itu hukumnya wajib di-nasab-kan. Ulama qiraat lainnya dan ulama nahwu mengatakan bahwa istisna ini berasal dari firman-Nya: {وَلا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلا امْرَأَتَكَ} dan janganlah ada seorang pun di antara kalian yang menoleh kecuali istrimu. (Hud: 81)

Karena itulah mereka memperbolehkan bacaan rafa dan nasab. Mereka menyebutkan pula bahwa istri Nabi Lut berangkat bersama rombongan Nabi Lut. Tetapi ketika mendengar suara gemuruh, istri Nabi Lut menoleh ke belakang. Maka ia menjerit seraya berkata, "Aduhai kaumku!" Lalu datanglah sebuah batu besar dari langit menimpanya, sehingga matilah ia. Kemudian para utusan itu mempercepat kebinasaan kaumnya, sebagai berita gembira untuknya, karena ia berkata kepada mereka, "Binasakanlah mereka saat sekarang juga." Maka mereka (para utusan) itu berkata, seperti yang disitir oleh firman-Nya: {إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ} karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat? (Hud: 81) Saat itu juga kaum Lut berdiri di depan pintu rumahnya, menunggu. Mereka datang ke rumah Nabi Lut dengan bergegas-gegas dari semua penjuru, sedangkan Nabi Lut berdiri di depan pintu, menolak mereka dan melarang serta mengusir mereka agar tidak melakukan kebiasaannya terhadap tamu-tamunya itu. Tetapi sebaliknya kaum Lut tidak mau menerima perlakuan itu, bahkan mereka mengancam dan menekannya. Maka pada saat itu . Jibril keluar menghadapi mereka dan memukul wajah mereka dengan sayapnya, sehingga wajah mereka penuh dengan debu, lalu mereka pergi tanpa mengetahui jalan yang ditempuhnya. Hal ini diterangkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu: وَلَقَدْ رَاوَدُوهُ عَنْ ضَيْفِهِ فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerah­kan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. (Al-Qamar: 37)

Kebanyakan ulama berkata bahwa kalimat ini adalah pengecualian dari kalimat yang telah ditetapkan, yaitu firman-Nya: fa asri bi-aHlika (“Sebab itu pergilah dengan membawa keluargamu.”) illam ra-ataka (“Kecuali isterimu.”) Begitu juga Ibnu Mas’ud membacanya, mereka membaca (dengan) nashab: “imra-ataka”, karena itu adalah pengecualian dari yang telah ditetapkan, maka wajib dibaca nasab menurut mereka, sebagian ahli qira’at dan ahli nahwu lainnya berkata bahwa itu adalah pengecualian dari firman-Nya: Wa laa yaltafit minkum ahadun illam ra-ataka (“Dan janganlah ada seorang pun di antara kamu yang tertinggal kecuali isterimu,”) maka mereka membolehkan rafa’ dan nashab dalam membacanya. Mereka menyebutkan, bahwa isterinya keluar bersama mereka dan ketika ia mendengar gemuruh, ia menoleh dan berkata: “Wah kaumku”, maka ia ditimpa batu dari langit dan matilah ia. Kemudian para Malaikat itu mendekatkan kebinasaan kaumnya, untuk menggembirakannya, karena dia telah berkata kepada mereka: “Binasakanlah mereka dengan seketika,” maka mereka berkata: inna mau’idaHumush shubhu alaisash shubhu biqariib (“Karena sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu shubuh; bukankah shubuh itu sudah dekat.”) Pada waktu ini, kaum Luth berdiri dan berdiam di ambang pintu, mereka datang tergesa-gesa kepada Luth dari tiap penjuru dan Luth berdiri di ambang pintu menahan mereka, menolak mereka dan melarang mereka dari apa yang mereka sedang kerjakan. Akan tetapi mereka tidak menerimanya, bahkan mengancam dan menakut-nakutinya, maka seketika itu Jibril as. mendatangi mereka dan memukul mereka dengan sayapnya, maka kaburlah penglihatan mereka, lalu mereka kembali dengan tidak mengetahui jalan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah adzab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku….” (QS. Al-Qamar: 37)

Ma'mar telah meriwayatkan dari Qatadah, dari Huzaifah ibnul Yaman yang mengatakan bahwa Ibrahim a.s. sering datang kepada kaum Lut dan mengatakan kepada mereka, "Allah telah melarang kalian melakukan perbuatan yang menyebabkan kalian akan tertimpa siksa dan azab-Nya." Tetapi mereka tidak menaatinya. Ketika ketetapan Allah telah tiba, maka para malaikat datang kepada Nabi Lut yang saat itu sedang bekerja di lahan miliknya, lalu Lut mengundang mereka untuk bertamu kepadanya. Maka mereka menjawab, "Kami akan menjadi tamu-tamumu malam ini." Allah telah memerintahkan kepada Malaikat Jibril, bahwa janganlah ia mengazab mereka sebelum Lut mempersaksikan mereka sebanyak empat kali persaksian. Ketika Lut berangkat bersama mereka ke rumahnya untuk menerima mereka sebagai tamunya, maka Lut menceritakan kejahatan yang dilakukan oleh kaumnya. Lut berjalan sesaat dengan mereka, lalu ia menoleh kepada mereka dan berkata, "Tidakkah kalian mengetahui apa yang dilakukan oleh penduduk kota ini? Aku belum pernah mengetahui di muka bumi ini manusia yang lebih jahat daripada mereka. Ke manakah aku akan membawa kalian pergi? Kepada kaumku? Mereka adalah sejahat-jahatnya makhluk Allah." Jibril menoleh kepada malaikat lainnya seraya berkata, "Catatlah oleh kalian, ini adalah persaksian pertama. Kemudian Nabi Lut berjalan sesaat lagi bersama mereka; dan ketika sampai ditengah kota, Nabi Lut merasa khawatir akan keselamatan mereka dan merasa malu kepada mereka. Lalu ia berkata, "Tidakkah kalian ketahui apa yang biasa dilakukan oleh penduduk kota ini? Aku belum pernah mengetahui ada manusia yang lebih jahat daripada mereka di muka bumi ini. Sesungguhnya kaumku adalah manusia yang paling jahat." Jibril menoleh kepada malaikat lainnya dan berkata, "Catatlah oleh kalian kedua persaksian ini." Ketika Lut sampai di depan pintu rumahnya, ia menangis karena malu kepada mereka dan sekaligus merasa khawatir akan keselamatan mereka. Lalu ia berkata, "Sesungguhnya kaumku adalah makhluk yang paling jahat. Tidakkah kalian tahu apa yang biasa dilakukan oleh penduduk kota ini. Aku belum pernah mengetahui suatu penduduk kota pun di muka bumi ini yang lebih jahat daripada mereka." Maka Jibril berkata, "Catatlah oleh kalian ketiga persaksian ini, kini azab pasti diturunkan." Setelah mereka masuk ke dalam rumah, ternyata istri Nabi Lut yang sudah berusia lanjut lagi berhati buruk itu pergi dan naik ke atas rumah, ia mengibarkan pakaiannya sebagai isyarat yang ditujukan kepada kaumnya. Maka orang-orang fasik berlomba-lomba datang dengan cepat menuju ke arahnya, lalu bertanya, "Apakah yang telah terjadi denganmu?" Istri Lut berkata, "Lut telah menerima suatu kaum sebagai tamunya, aku belum pernah melihat wajah yang setampan mereka dan belum pernah mencium bau yang sewangi bau mereka." Maka mereka bersegera menuju pintu rumah Nabi Lut, lalu Nabi Lut menutup pintu rumahnya dan menahan mereka dari dalam, sedangkan mereka mendorong pintu dari luar. Dalam keadaan demikian Nabi Lut mengingatkan mereka kepada Allah seraya berkata, seperti yang disitir oleh firman-Nya: Inilah putri-putriku, mereka lebih suci bagi kalian. (Hud: 78) Maka Malaikat Jibril bangkit dan menyumbat pintu itu, lalu ia meminta izin kepada Tuhannya untuk menyiksa mereka, maka Allah mengizin­kannya. Lalu Jibril bangkit dan berubah ujud seperti aslinya di langit, kemudian membeberkan kedua sayapnya. Jibril mempunyai dua buah sayap, dan pada sayapnya terdapat kain selendang yang terbuat dari mutiara yang dianyam. Malaikat Jibril mempunyai gigi seri yang berkilauan, keningnya lebar lagi bercahaya sedangkan (rambut) kepalanya ikal bergelombang berwarna mutiara yang sangat putih seperti salju, dan kedua kakinya berwarna kehijau-hijauan. Lalu ia berkata, "Hai Lut, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu.” (Hud: 81) Pergilah kamu, hai Lut, menjauhlah dari pintu itu dan biarkanlah aku menghadapi mereka. Maka Lut menjauh dari pintu, lalu Malaikat Jibril keluar menghadapi mereka dan merentangkan sayapnya; ia pukul wajah mereka dengan sayapnya dengan pukulan yang membuat mata mereka tidak dapat melihat, sehingga mereka menjadi buta, tidak dapat melihat jalan. Kemudian Lut diperintahkan untuk pergi bersama keluarganya pada malam itu juga: Sebab itu, pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam. (Hud: 81) Telah diriwayatkan dari Muhammad ibnu Ka'b, Qatadah, dan As-Saddi hal yang semisal dengan keterangan di atas.

Isnin, 10 September 2018

AYAT 77-79

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH HUD 77-79
BIS'MIL'LAHI'RAHMAN'NI'RAHIM''

Wa lammaa jaaa'at Rusulunaa Lootan seee'a bihim wa daaqa bihim zar'anw wa qaala haazaa yawmun 'aseeb Wa jaaa'ahoo qawmuhoo yuhra'oona ilaihi wa min qablu kaanoo ya'maloonas saiyiaat; qaala yaa qawmi haaa'ulaaa'i banaatee hunna atharu lakum fattaqul laaha wa laa tukhzooni fee daifee alaisa minkum rajulur rasheed Qaaloo laqad 'alimta maa lanaa fee banastika min haqq, wa innaka lata'lamu maa nureed


{وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ (77) وَجَاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوا يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ قَالَ يَا قَوْمِ هَؤُلاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلا تُخْزُونِ فِي ضَيْفِي أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ (78) قَالُوا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ (79) }

 Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Lut, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, "Ini adalah hari yang amat sulit.” Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Lut berkata, "Hai kaumku, inilah putri-putriku, mereka lebih suci bagi kalian. Maka bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kalian mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antara kalian seorang yang berakal?” Mereka menjawab, "Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.” Allah Swt. menceritakan kisah datangnya utusan-utusan Allah yang terdiri atas kalangan para malaikat sesudah mereka memberitahu Nabi Ibrahim bahwa mereka akan membinasakan kaum Lut pada malam itu juga atas perintah dari Allah Swt. Mereka berangkat dari rumah Nabi Ibrahim dan datang kepada Nabi Lut a.s. yang saat itu menurut suatu pendapat sedang berada di suatu tempat miliknya, sedangkan menurut pendapat lainnya sedang berada di rumahnya. Mereka datang kepada Lut dalam rupa yang sangat tampan sebagai ujian dari Allah buat mereka, hanya Allah-lah yang mengetahui hikmah dan alasan hal tersebut. Keadaan mereka yang tampan-tampan itu membuat Lut kerepotan dan merasa sempit dadanya, serta dia merasa khawatir bila dia tidak menerima mereka sebagai tamu, pasti akan ada seseorang dari kaumnya yang mau menerima mereka sebagai tamunya, lalu ia akan berbuat buruk terhadap mereka. {وَقَالَ هَذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ} dan Lut berkata, "Ini adalah hari yang amat sulit.”

(Hud: 77) Ibnu Abbas dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan, yang dimaksud dengan 'asib ialah ujian yang sangat berat. Demikian itu karena Lut mengetahui bahwa dia pasti harus membela mereka dari ulah kaumnya, dan tentu saja hal itu terasa amat berat baginya. Qatadah mengatakan bahwa mereka (para malaikat) itu datang ke­pada Lut yang saat itu sedang berada di suatu tempat miliknya, lalu mereka bertamu kepadanya, tetapi Lut merasa malu kepada mereka. Lalu ia berjalan di hadapan mereka dan berkata kepada mereka di tengah jalan seperti orang yang berpaling dari mereka agar mereka pergi darinya, "Demi Allah, hai kalian, aku belum pernah mengetahui di muka bumi ini suatu penduduk kota yang lebih kotor dan lebih jahat daripada mereka." Lalu Lut meneruskan jalannya dan kembali mengulangi perkataannya kepada mereka, hingga ia mengulanginya sebanyak empat kali. Qatadah mengatakan bahwa mereka (para malaikat) itu diperintahkan agar jangan membinasakan kaum Lut sebelum dipersaksikan oleh Nabi mereka akan kejahatan kaumnya. As-Saddi mengatakan bahwa para malaikat keluar dari rumah Ibrahim menuju ke kota kaum Lut. Mereka baru sampai di Sungai Sodom pada tengah harinya, dan mereka bersua dengan putri Nabi Lut yang saat itu sedang memberi minum ternak gembalaannya. Maka mereka bertanya, "Hai gadis, apakah ayahmu ada rumah?" Putri Nabi Lut menjawab, "Tetaplah kalian di tempat, nanti aku akan datang lagi kepada kalian." Putri Nabi Lut sengaja memisahkan (menjauhkan) mereka dari kaumnya, lalu ia datang kepada ayahnya dan berkata, "Hai ayah, susullah beberapa pemuda yang ada di pintu gerbang kota, aku belum pernah melihat wajah kaum yang setampan mereka, agar mereka tidak diculik oleh kaummu." Sebelum itu kaum Nabi Lut melarang Nabi Lut menerima lelaki sebagai tamunya, tetapi akhirnya Lut berkata, "Biarlah, aku akan tetap menerima mereka sebagai tamuku." Lut datang menemui mereka dan tidak memberi tahu seorang pun tentang kedatangan mereka kecuali hanya keluarganya. Tetapi istri Nabi Lut keluar dan memberitahukan kepada kaumnya akan kedatangan para tamu itu. Maka mereka bergegas datang menuju rumah Nabi Lut. *******************

 Firman Allah Swt.: {يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ} dengan bergegas-gegas kepadanya. (Hud: 78) Artinya, mereka datang dengan berlari-lari kecil karena gembira mendengar berita tersebut. Firman Allah Swt.: {وَمِنْ قَبْلُ كَانُوا يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ} Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. (Hud: 78) Yakni hal tersebut telah menjadi tradisi dan kebiasaan mereka, sehingga pada akhirnya mereka diazab dalam keadaan seperti itu.

 Firman Allah Swt.: {قَالَ يَا قَوْمِ هَؤُلاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ} Lut berkata, "Hai kaumku, inilah putri-putriku, mereka lebih suci bagi kalian.' (Hud: 78) Nabi Lut memberikan petunjuk mereka kepada kaum wanitanya, karena sesungguhnya kedudukan seorang nabi kepada umatnya sama dengan orang tua kepada anaknya. Nabi Lut memberikan petunjuk mereka kepada hal yang lebih bermanfaat bagi mereka dalam kehidupan di dunia dan akhirat, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: {أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ} Mengapa kalian mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kalian tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhan kalian untuk kalian, bahkan kalian adalah orang-orang yang melampaui batas. (Asy-Syu'ara: 165-166) {قَالُوا أَوَلَمْ نَنْهَكَ عَنِ الْعَالَمِينَ} Mereka berkata, "Dan bukankah kami telah melarang kalian dari (melindungi) manusia?” (Al-Hijr: 70) Dengan kata lain, kaum Lut berkata kepada Lut, "Bukankah kami telah melarangmu menerima laki-laki sebagai tamumu?" {قَالَ هَؤُلاءِ بَنَاتِي إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ. لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ} Lut berkata, "Inilah putri-putriku (kawinlah dengan mereka) jika kalian hendak berbuat (secara yang halal)." (Allah berfirman), "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)." (Al-Hijr: 71-72)

Dalam ayat berikut ini disebutkan oleh firman-Nya: {هَؤُلاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ} Inilah putri-putriku, mereka lebih suci bagi kalian. (Hud: 78) Mujahid mengatakan bahwa mereka bukan putri-putrinya, melainkan kaum wanita dari kalangan umatnya, karena sesungguhnya setiap nabi adalah bapak umatnya.

 Hal yang sama telah diriwayatkan dari Qatadah dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang. Ibnu Juraij mengatakan bahwa Lut menganjurkan mereka agar mengawini kaum wanitanya bukan sebagai tawaran secara sifah (yakni untuk berbuat zina dengan mereka). Said ibnu Jubair mengatakan, yang dimaksud dengan anak-anak perempuan dalam ayat ini ialah kaum wanita dari kalangan umatnya, dan Nabi Lut selaku nabi mereka adalah sebagai ayahnya. Dalam suatu qiraat disebutkan dengan bacaan berikut mengenai firman-Nya: النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ )وَهُوَ أَبٌ لَهُمْ( Nabi haruslah lebih diutamakan oleh orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka, (sedangkan Nabi sendiri adalah bapak mereka). (Al-Ahzab: 6) Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ar-Rabi' ibnu Anas, Qatadah, As-Saddi, Muhammad ibnu Ishaq, dan lain-lainnya. *******************

Firman Allah Swt.: {فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلا تُخْزُونِ فِي ضَيْفِي} maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kalian mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. (Hud: 78) Maksudnya, terimalah apa yang aku perintahkan kepada kalian, yaitu hanya mengawini kaum wanita saja. {أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ} Tidak adakah di antara kalian seorang yang berakal? (Hud: 78) Yakni seorang lelaki yang baik, yang mau menerima apa yang aku perintahkan dan meninggalkan apa yang aku larang. {قَالُوا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ} Mereka menjawab, "Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu.”

(Hud: 79) Artinya, sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa kami tidak mempunyai selera dan keinginan terhadap kaum wanita kami. {وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ} dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki. (Hud: 79) Dengan kata lain, kami tidak mempunyai keinginan kecuali terhadap kaum lelaki, dan kamu mengetahui hal tersebut, maka tiada gunanya engkau mengulangi ucapan itu kepada kami. As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki (Hud: 79) Sesungguhnya yang kami kehendaki hanyalah kaum laki-laki (bukan wanita).

Ahad, 9 September 2018

AYAT 74-76

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH HUD 74-76
BIS-MIL-LAHI-RAHMAN-NIR-RAHIM''
Falammaa zahaba an Ibraaheemar raw'u wa jaaa'at hul bushraaa yujaadilunaa fee qawmi Loot Inna Ibraaheema lahaleemun awwwaahum muneeb Yaaa Ibraaheemu a'rid 'an haazaaa innahoo qad jaaa'a amru Rabbika wa innahum aateehim 'azaabun ghairun mardood

{فَلَمَّا ذَهَبَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ الرَّوْعُ وَجَاءَتْهُ الْبُشْرَى يُجَادِلُنَا فِي قَوْمِ لُوطٍ (74) إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ (75) يَا إِبْرَاهِيمُ أَعْرِضْ عَنْ هَذَا إِنَّهُ قَدْ جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ وَإِنَّهُمْ آتِيهِمْ عَذَابٌ غَيْرُ مَرْدُودٍ (76)

“Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bersoal-jawab dengan (para Malaikat) Kami tentang kaum Luth. (QS. 11:74) Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi pengiba dan suka kembali (bertaubat) kepada Allah. (QS. 11:75) Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal-jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi adzab yang tidak dapat ditolak. (QS. 11:76)”

(Huud: 74-76) Allah mengabarkan (dalam firman-Nya) tentang Ibrahim as, bahwa ketika rasa takutnya telah hilang, yaitu dia merasa takut ketika para Malaikat tidak mau makan. Lalu setelah itu, mereka (para Malaikat) memberikan berita gembira bahwa ia akan mendapatkan anak, juga mereka mengabarkan tentang kebinasaan kaum Nabi Luth. Firman-Nya: inna ibraaHiima lahaliimun awwaaHum muniib (“Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi pengiba dan suka kembali kepada Allah,”) merupakan sanjungan kepada Ibrahim as. dengan sifat-sifat yang bagus ini, dan tafsirnya telah dijelaskan sebelum ini.

 Dan firman-Nya Ta’ala: yaa ibraaHiimu a’ridl ‘an Haadzaa innaHuu qad jaa-a amru rabbika (“Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal-jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu,”) dan ayat seterusnya. Maksudnya, Allah telah memberlakukan suatu keputusan terhadap mereka, telah nyata kalimat kebinasaan terhadap mereka dan datangnya siksa yang tidak akan tertolak dari kaum yang berbuat dosa.

Sabtu, 8 September 2018

AYAT 69-73

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK '
SURAH HUD 69-73
BIS-MIL-LAHI-RAHAN-NIRAHIM''

{وَلَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَى قَالُوا سَلامًا قَالَ سَلامٌ فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ (69) فَلَمَّا رَأَى أَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمِ لُوطٍ (70) وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ (71) قَالَتْ يَا وَيْلَتَا أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ (72) قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ (73) }

69.Qaalud – ‘u lanaa Rabbaka yubayyil – lanaa maa law – nuhaa. Qaala ‘'innahuu yaquulu ‘in – nahaa baqaratun – saf – raaa – ‘u faaqi- ‘ul –lawnuhaa tasurrun- naaziriin. 70.Qaalud – ‘u lanaa Rabbaka Yubayyil – lanaa maa hiya ‘in – nal – baqara tashabaha ‘alay – naa; wa –‘innaaa ‘in – shaaa – ‘al – laahu la – muhtaduun. 71.Qaala ‘innahuu yaquulu ‘in – nahaa baqaratul laa zaluu – lun – tusirul – ‘arda wa laa tasqil – hars; musallamutul laa shiyata fihaa Qaalu – ‘aanaji – tabil – haqq. Faza – bahuuha wa man kaaduu yaf –‘aluun. 72.Wa ‘iz qatalum nafsan – faddaara' – tum fiihaa: wallaahu mukhrijum – maa kuntum taktumuun. 73.Faqul- nadribuuhu bi – ba' – di – haa. Kazaalika yuhyil – laahul – mawtaa wa yuriikum ‘Aayaati – hii la – ‘allakum ta' – qiluun.
        Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (para Malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: ‘Selamat.’ Ibrahim menjawab: ‘Selamatlah,’ maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. (QS. 11:69) Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: ‘Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (para Malaikat) yang diutus kepada kaum Luth.’ (QS. 11:70) Dan isterinya berdiri (di balik tirai) dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya’qub. (QS. 11:71) Isterinya berkata: ‘Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.’ (QS. 11:72) Para Malaikat itu berkata: ‘Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah. (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahan-Nya, dicurahkan atas kamu, Ahlulbait! Sesungguhnya Allah Mahaterpuji lagi Mahapemurah.’ (QS. 11:73)”

 (Huud: 69-73) Allah berfirman: wa laqad jaa-at rusulunaa (“Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami [Para Malaikat] telah datang.”) Mereka adalah para Malaikat yang datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira. Dalam satu riwayat, mereka memberi kabar gembira tentang Ishaq, dan riwayat yang lain, mereka memberi kabar tentang kebinasaan kaum Luth. Pendapat pertama telah diperkuat dengan firman-Nya yang artinya: “Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bersoal-jawab dengan (para Malaikat) Kami tentang kaum Luth.” (QS. Huud: 74) Qaaluu salaaman qaala salaamun (“Mereka mengucapkan: ‘Salaman’ [selamat]. Ibrahim menjawab: `Salamu’ (selamatlah), ” maksudnya atas kamu. Ulama (ahli ilmu) al-bayan berkata: “Ini adalah lebih baik daripada penghormatan mereka (dengan mengucapkan “Salaman”), karena rafa’ (bacaan dengan akhiran “mun”) pada kata “salamun” menunjukkan ketetapan kesinambungan.” Famaa labitsa an jaa-a bi’ijlin haniid (“Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.”) Maksudnya, Ibrahim pergi dengan cepat, kemudian dia datang kepada mereka dengan membawa sapi muda. Sapi itu dipanggang di atas batu yang telah dipanaskan.

Ini adalah pengertian yang diriwayatkan oleh Ibnu `Abbas, Qatadah dan beberapa ulama. Sebagaimana Allah berfirman di ayat yang lain yang artinya: “Maka dia pergi dengan diam-diam meneinui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk [yang dibakar], lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim berkata: ‘Silahkan anda makan.’” (QS. Adz-Dzaariyaat: 26-27).

     Ayat ini memberi pelajaran dari berbagai segi tentang tata krama bagaimana adab dalam menyambut tamu. Firman-Nya: falammaa ra-aa aidiyaHum laa tashilu ilaiHi nakiraHum wa aujasa minHum khiifatan (“Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka. Dan merasa takut kepada mereka.”) Hal yang demikian karena Malaikat tidak berminat kepada makanan, tidak tertarik dan tidak makan makanan, maka dari itu ketika dia (Ibrahim) melihat keadaan mereka yang menghindar secara total dari makanan yang dihidangkan kepada mereka, maka dia memandang aneh dengan perbuatan (tingkah) mereka: wa aujasa minHum khiifatan (“Dan merasa takut kepada mereka.”) As-Suddi berkata: “Ketika Allah mengutus Malaikat kepada kaum Luth, mereka bergegas berjalan dengan penampilan sebagai laki-laki muda, kemudian mereka singgah di rumah Ibrahim dan bertamu kepadanya, ketika Ibrahim melihat mereka, dia menghormati mereka. “Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar).” (Adz-Dzaariyaat: 26). Maka dia menyembelihnya kemudian memanggangnya dalam batu besar dan menghidangkannya, lalu duduk bersama mereka, Sarah pun melayani mereka, maka ketika itulah Allah Ta’ala berfirman: “Istrinya berdiri sedangkan dia duduk.”

 Dalam bacaan Ibnu Masud: faqarrabaHuu ilaiHim qaala alaa ta’kuluun (“Ketika dihidang-kannya kepada mereka, Ibrahim berkata: ‘Silahkan anda makan.’”) (QS. Dzaariyaat: 27). Mereka berkata: “Hai Ibrahim, kami tidak makan makanan kecuali dengan memberikan harganya.” Ibrahim berkata: “Ini ada harganya.” Mereka berkata: “Apa itu harganya?” Ibrahim berkata: “Anda menyebut nama Allah di awal makan dan anda memuji-Nya di akhirnya.” Maka fibril melihat kepada Mikail, lalu berkata: “Memang pantas untuk orang ini kalau Rabbnya menjadikannya kekasih.” falammaa ra-aa aidiyaHum laa tashilu ilaiHi nakiraHum (“Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka.”)

Allah berfirman: “Ketika Ibrahim melihat mereka tidak makan, maka terperanjatlah ia dan takut kepada mereka, maka ketika Sarah melihat, bahwa Ibrahim telah memuliakan mereka dan ia pun melayaninya, ia tersenyum dan berkata: “Heran terhadap tamu-tamu kami, kami telah melayaninya untuk menghormatinya, sedangkan mereka tidak mau makan.” Firman-Nya, mengabarkan tentang Malaikat: qaaluu laa takhaf (“Malaikat itu berkata: ‘Jangan kamu takut.’”) Maksudnya, mereka berkata: “Janganlah kamu takut kepada kami, kami adalah Malaikat yang diutus kepada kaum Luth untuk membinasakan mereka.” Maka Sarah tertawa karena senang dengan kebinasaan mereka, karena mereka telah banyak membuat kerusakan, kekafiran dan penentangan mereka yang teramat sangat, maka dengan kesenangan dihadiahilah (mereka) dengan seorang anak laki-laki setelah ia berusia lanjut. 

     Al-`Aufi berkata dari Ibnu `Abbas: “fadlahikat” maksudnya adalah haid. fabasysyarnaaHaa bi-ishaaqa wa miw waraa-i ishaaqa ya’quuba (“Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentarig [kelahiran] Ishaq dan dari Ishaq [akan lahir puteranya] Ya’qub.”) Maksudnya, dari anaknya akan mempunyai anak, cucu dan keturunan Karena Ya’qub adalah anak Ishaq, maka dari sinilah ada sebagian ulama berdalil dengan ayat ini, bahwasanya yang disembelih adalah Isma’il, dan tidak dapat dikatakan bahwa ia adalah Ishaq, karena Ishaq diberikan sebagai penggembira, juga karena ia akan mempunyai anak (yaitu) Ya’qub, maka bagaimana mungkin Ibrahim diperintahkan untuk menyembelihnya, sedangkan ia masih seorang anak kecil dan Ya’qub yang dijanjikan keberadaannya belum dilahirkan, janji Allah adalah benar, tidak diingkari, maka tidak bisa diperintahkan untuk menyembelihnya, sedang keadaannya seperti demikian, maka bisa ditentukan bahwa yang disembelih itu adalah Isma’il as. Inilah pengambilan dalil yang paling baik, shahih dan jelas, hanya milik Allahlah segala puji. Qaalat yaa wailataa a alidu wa ana ‘ajuuzuw wa Haadzaa ba’lii syaikhan (“Isterinya berkata: ‘Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak, padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula.”) Qaaluu a ta’jabiina min amrillaaHi (“Para Malaikat itu berkata: ‘Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah.’”) Maksudnya, Malaikat berkata kepada Sarah: “Janganlah kamu heran terhadap urusan Allah, karena jika Allah menginginkan sesuatu,

      Dia akan berfirman: ‘Jadilah,’ maka jadilah sesuatu itu. Maka janganlah kamu heran terhadap ini, meskipun kamu sudah tua-renta dan mandul, juga dengan suamimu yang sudah tua-renta, sesungguhnya Allah adalah Mahakuasa atas segala sesuatu yang Dia kehendaki. rahmatullaaHi wa barakaatuHu ‘alaikum aHlal baiti innaHuu hamiidum majiid (“[Itu adalah] rahmat Allah dan keberkahan-Nya, dicurahkan atasmu, Ahlulbait! Sesungguhnya Allah terpuji lagi Mahapemurah.”) Maksudnya, Allah adalah Mahaterpuji dalam segala perbuatan dan firman-Nya, Sifat dan Dzat-Nya. Untuk itu, telah tetap dalam ash-Shahihain, bahwa mereka (sahabat Rasulullah saw.) berkata: “Kami telah mengetahui bagaimana salam kepada engkau, maka bagaimana shalawat atas engkau wahai Rasulullah?”

        Beliau bersabda: “Bacalah oleh kalian: allaaHumma shalli ‘alaa muhammadiw wa ‘alaa aali muhammadin kamaa shallaita ‘alaa ibraaHiima wa ‘alaa aali ibraaHiim, wa baarik ‘alaa muhammadiw wa ‘alaa aali muhammadin kamaa baarakta ‘alaa ibraaHiim. Innaka hamiidum majiid. (`Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi rahmat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberkahi Ibrahim, sesungguhnya Engkau adalah Mahaterpuji lagi Mahaagung.’)”

Jumaat, 7 September 2018

AYAT 64-68

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK ''
SURAH HUD 64-68'
BISMILLAHIRAHMANIRAHIM''
Wa yaa qawmi haazihee naaqatul laahi lakum aayatan fazaroohaa taakul feee ardil laahi wa laa tamassoohaa bisooo'in fa yaakhuzakum azaabun qareeb Fa 'aqaroohaa faqaala tamatta'oo fee daarikum salaasata aiyaamin zaalika wa'dun ghairu makzoob Falammaa jaaa'a amrunaa najjainaa Saalihanw wal lazeena aamanoo ma'ahoo birahmatim minnaa wa min khizyi Yawmi'iz inna Rabbaka Huwal Qawiyyul 'Azeez Wa akhazal lazeena zalamus saihatu fa asbahoo fee diyaarihim jaasimeena Ka al lam yaghnaw feehaaa; alaaa inna Samooda kafaroo Rabbahum; alaa bu'dal li Samood.(section 6

{وَيَا قَوْمِ هَذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ قَرِيبٌ (64) فَعَقَرُوهَا فَقَالَ تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلاثَةَ أَيَّامٍ ذَلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوبٍ (65) فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا صَالِحًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَمِنْ خِزْيِ يَوْمِئِذٍ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ (66) وَأَخَذَ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ (67) كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا أَلا إِنَّ ثَمُودَ كَفَرُوا رَبَّهُمْ أَلا بُعْدًا لِثَمُودَ (68) }

“Hai kaumku, inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat (yang menunjukkan kebenaran) untukmu, sebab itu biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun yang akan menyebabkan kamu ditimpa adzab yang dekat.’ (QS. 11:64) Mereka membunuh unta itu, maka berkata Shalih: ‘Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.’ (QS. 11:65) Maka tatkala datang adzab Kami, Kami selamatkan Shalih beserta orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat dari Kami dan dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Rabbmu, Allahlah yang Mahakuat lagi Mahaperkasa. (QS. 11:66) Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang dhalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka, (QS. 11:67) seolab-olab mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud. (QS. 11:68)”

(Huud: 64-68) Telah lewat pembicaraan tentang kisah ini dalam surat al-A’raaf yang mana sudah dianggap cukup tanpa mengulangnya, dan kepada Allahlah tempat memohon taufik.

SEBAGAI MANA FIRMAN ALLAH TERHADAP PENDERHAKA PENDERHAKA KEATAS RASUL UTUSAN ALLAH''Dan di antara mereka (yang munafik itu) ada orang-orang yang menyakiti Nabi sambil mereka berkata: "Bahawa dia (Nabi Muhammad) orang yang suka mendengar (dan percaya pada apa yang didengarnya)". Katakanlah: "Dia mendengar (dan percaya) apa yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah dan percaya kepada orang mukmin, dan ia pula menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu". Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab seksa yang tidak terperi sakitnya.

DAN SEBAGAI MANA RIWAYAT HADIS TENTANG PENCELA DAN PENDUSTA RASUL''“Seorang lelaki buta mempunyai Ummu Walad yang menghina Nabi SAW dan ia benar-benar telah melakukannya (penghinaan). Lelaki tersebut telah melarang dan mengancamnya namun ia tidak berhenti dan lelaki tersebut terus melarangnya namun wanita tersebut tidak mengendahkan larangan tersebut. Ibn Abbas meneruskan lagi: Pada suatu malam, wanita itu kembali mencela Nabi SAW, maka lelaki tersebut mengambil sebilah pisau yang tajam dan meletakkanya di perut wanita tersebut lantas menikamnya. Lelaki tersebut telah membunuhnya sementara antara dua kaki wanita tersebut lahir seorang bayi dalam keadaan wanita tersebut berlumuran darah. Apabila tiba waktu pagi, kejadian tersebut diceritakan kepada Nabi SAW, lalu baginda SAW mengumpul orang ramai dan bersabda: “Aku bersumpah kepada Allah SWT atas seorang lelaki, dia telah melakukan sesuatu perbuatan kerana aku dan dia adalah benar (perbuatannya)”. Kemudian lelaki buta itu melangkah di antara manusia hingga dia duduk di hadapan Rasulullah SAW. Dia berkata: “Wahai Rasulullah, aku adalah suaminya akan tetapi dia (wanita) telah mencela dan menghinamu. Aku telah melarangnya dan mengancamnya tetapi dia tetap tidak berhenti atau mengendahkannya. Daripadanya aku telah dikurniakan dua orang anak yang merupakan permata, isteriku sangat sayang kepadaku. Namun, semalam dia telah mencelamu dan menghinamu, lalu aku mengambil pisau dan aku letakkan di perutnya lantas aku menikamnya sehingga meninggal. Nabi SAW bersabda : “Ketahuilah bahawa darah wanita adalah sia-sia (halal).”Riwayat Abu Daud (4361), Kitab al-Hudud, Bab Hukum Orang Yang Mencela Rasulullah SAW. Hadis ini adalah Sahih dan perawi-perawinya adalah tsiqah. (Surah al-Taubah, 9:61)

 Ayat 63-68 masih meneruskan kisah nabi Saleh dan kaum Tsamud. Mereka selalu menantang nabi Saleh untuk mendatangkan bukti kerasulan Beliau. Nabi Saleh menjelaskan bahwa Ia telah mendapat wahyu dari Allah sebagai bukti kasih-sayang Allah padanya dan pada kaumnya. Jika ia durhaka pada Allah, maka tidak ada yang dapat menolongnya dari murka Allah. Kedurhakaan pada Allah itu hanya akan membawa kerugian yang amat besar. Karena kedurhakaan mereka yang sudah melampaui batas, maka mereka diuji Allah dengan seekor unta betina. Mereka dilarang mengganggunya dengan cara apapun dan membiarkannya makan rumput yang disukainya. Kalau mereka ganggu, Allah akan turunkan azab pada mereka. Mereka tidak mau menaati larangan tersebut dan menyembelih unta betina itu. Ketika Allah hendak memusnahkan mereka, Allah selamtkan terlebih dahulu nabi Saleh dan orang-orang beriman bersamanya Allah selamatkan. Lalu Allah mengirimkan azab pada mereka tiga hari setelah itu, berupa petir yang amat dahsyat sehingga mereka mati di rumah-rumah mereka bergelimpangan dan menjadi mayat-mayat yang beku. Begitulah cara Allah mengazab kaum Tsamud yang kafir lagi durhaka pada-Nya.

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN