TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK;'
Surat Ali Imran, ayat 176-180
BIS-MIL-LAA-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM.,
Ayat 178 Wa la_ yahsabannal lazina kafaru_ annama_ numli lahum khairul li anfusihim, innama_ numli lahum liyazda_du_ isma_(n), wa lahum'aza_bum muhin(un). 3:179 Ayat 179 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 179 Ma_ ka_nalla_hu liyazaral mu'minina 'ala ma_ antum'alaihi hatta_ yamizal khabisa minat tayyib(i), wa ma_ ka_nalla_hu liyutli'akum'alal gaibi wa la_kinnalla_ha yajtabi mir rusulihi may yasya_'(u), fa a_minu_ billa_hi wa rusulih(i), wa in tu'minu_ wa tattaqu_ fa lakum ajrun 'azim(un). 3:180 Ayat 180 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 180 Wa la_ yahsabannal lazina yabkhalu_na bima_ a_ta_humulla_hu min fadlihi huwa khairal lahum, bal huwa syarrul lahum, sayutawwaqu_na ma_ bakhilu_ bihi yaumal qiya_mah(ti), wa lilla_hi mira_sus sama_wa_ti wal ard(i), walla_hu bima_ ta'malu_na khabir(un).
وَلا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسارِعُونَ فِي الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئاً يُرِيدُ اللَّهُ أَلاَّ يَجْعَلَ لَهُمْ حَظًّا فِي الْآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذابٌ عَظِيمٌ (176) إِنَّ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْكُفْرَ بِالْإِيْمانِ لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئاً وَلَهُمْ عَذابٌ أَلِيمٌ (177) وَلا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّما نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ إِنَّما نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدادُوا إِثْماً وَلَهُمْ عَذابٌ مُهِينٌ (178) مَا كانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَما كانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشاءُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ (179) وَلا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِما آتاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْراً لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيامَةِ وَلِلَّهِ مِيراثُ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بِما تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (180)
Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir, sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka azab yang pedih. Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sekali-kali mereka tidak dapat memberi mudarat kepada Allah sedikit pun; dan bagi mereka azab yang pedih. Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kalian sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dengan yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kalian hal-hal yang gaib. tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kalian beriman dan bertakwa, maka bagi kalian pahala yang besar. Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.
Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Munir yang telah mendengar dari Abun Nadr. telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman (yaitu ibnu Abdullah ibnu Dinar), dari ayahnya, dari Saleh, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa dianugerahi oleh Allah sejumlah harta, lalu ia tidak menunaikan zakat hartanya, kelak hartanya itu akan berubah ujud menjadi ular yang botak yang memiliki dua buah taring membelitnya kelak di hari kiamat. Ular itu menelannya dengan kedua rahangnya seraya mengatakan, "Akulah hartamu, akulah harta timbunanmu." Kemudian Rasulullah Saw. membacakan ayat berikut, yaitu firman-Nya: Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. (Ali Imran: 180), hingga akhir ayat.
Hadis ini hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari, tanpa Imam Muslim bila ditinjau dari segi ini.
Ibnu Hibban meriwayatkannya di dalam kitab sahih melalui jalur Al-Lais ibnu Sa'd, dari Muhammad ibnu Ajlan, dari Al-Qa'qa' ibnu Hakim, dari Abu Saleh dengan lafaz yang sama.
Hadis lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
حَدَّثَنَا حُجَين بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنِ ابْنِ عمَر، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: "إِنَّ الَّذِي لَا يُؤَدِّي زَكَاةَ مَالِهِ يُمَثِّلُ اللهُ لَهُ مَالَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيبتَان، ثُمَّ يُلْزِمهُ يطَوّقه، يَقُول: أنَا كَنزكَ، أنَا كَنزكَ".
Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Hujain ibnul Musanna, telah mence-ritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Abdullah ibnu Abu Salamah, dari Abdullah ibnu Dinar, dari Ibnu Umar, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Sesungguhnya orang yang tidak menunaikan zakai hartanya, kelak di hari kiamat hartanya itu diubah ujudnya menjadi ular yang botak dengan memiliki dua buah taring, kemudian ular itu menggigitinya dan membelitnya seraya mengatakan, "Akulah hartamu, akulah timbunanmu."
Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Nasai, dari Al-Fadl ibnu Sahl, dari Abun Nadr Hasyim ibnul Qasim, dari Abdul Aziz ibnu Abdullah ibnu Abu Salamah dengan lafaz yang sama. Kemudian Imam Nasai mengatakan bahwa riwayat Abdul Aziz, dari Abdullah ibnu Dinar, dari Ibnu Umar lebih kuat daripada riwayat Abdur Rahman, dari ayahnya Abdullah ibnu Dinar, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah.
Menurut kami, tidak ada pertentangan di antara kedua riwayat tersebut, karena barangkali riwayat yang ada pada Abdullah ibnu Dinar bersumber dari dua jalur. Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih mengetengahkannya melalui berbagai jalur dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah; juga dari hadis Muhammad ibnu Humaid. dari Ziyad Al-Khatmi, dari Abu Hurairah.
Hadis lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ جَامِعٍ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ قَالَ: " مَا مِنْ عَبْدٍ لَا يُؤَدِّي زَكَاةَ مَالِهِ إِلَّا جُعِلَ لَهُ شُجَاعٌ أقْرَعُ يَتْبَعُهُ، يَفِرّ مِنْهُ وَهُوَ يَتْبَعُه فَيقُولُ: أنَا كَنْ ". ثُمَّ قَرَأَ عَبْدُ اللَّهِ مِصْدَاقَهُ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ: {سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ}
Dikatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Jami', dari Abu Wa-il, dari Abdullah, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Tidak sekali-kali seorang hamba tidak menunaikan zakat hartanya, melainkan dijadikan baginya ular botak yang selalu mengejarnya. Bila ia lari, maka ular bolak itu mengejarnya dan mengatakan, "Akulah timbunanmu (simpananmu)." Kemudian Abdullah ibnu Dinar membacakan ayat Kitabullah yang semakna dengannya, yaitu: Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. (ali Imran: 180)
Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Turmuzi, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah melalui hadis Sufyan ibnu Uyaynah, dari Jami' ibnu Abu Rasyid, Imam Turmuzi, dan Abdul Malik ibnu A'yun menambahkan bahwa keduanya dari Abu Wa-il Syaqiq ibnu Salamah, dari Abdullah ibnu Mas'ud dengan lafaz yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa predikat hadis adalah hasan sahih.
Imam Hakim meriwayatkan di dalam kitab Mustadrak melalui hadis Abu Bakar ibnu Iyasy dan Sufyan As-Sauri, keduanya dari Abu Ishaq As-Subai'i, dari Abu Wa-il, dari Ibnu Mas'ud dengan lafaz yang sama.
Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui berbagai jalur dari Ibnu Mas'ud secara mauquf.
Hadis lain diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Ya'la,
حَدَّثَنَا أُمَيَّةُ بْنُ بِسْطام، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْع، حَدَّثَنَا سَعِيدٌ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ، عَنْ مَعْدَانَ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ، عَنْ ثَوْبَانَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ قَالَ: " مَنْ تَرَكَ بَعْدَهُ كَنزا مُثِّلَ لَهُ شُجُاعًا أَقْرَعَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَهُ زَبِيبَتَان، يَتْبَعُه ويَقُولُ: مَنْ أَنْتَ؟ وَيْلَكَ. فيقُولُ: أنَا كَنزكَ الَّذِي خَلَّفتَ بَعْدَكَ فَلا يَزَالُ يَتْبَعُه حَتَّى يُلْقِمَه يَدَه فَيقْضِمَها، ثُمَّ يَتْبَعه سَائِر جَسَ".
telah menceritakan kepada kami Umayyah ibnu Bustam, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Zurai', telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Qatadah, dari Salim ibnu Abul Ja'd, dari Ma'dan ibnu Abu Talhah, dari Sauban, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Barang siapa sesudah matinya meninggalkan harta simpanan, maka diserupakan baginya ular yang botak memiliki dua buah taring, ular botak itu terus mengejarnya. Maka dia bertanya, "Celakalah, siapakah kamu?" Ular botak itu menjawab, "Aku-lah harta simpanan yang kamu tinggalkan sesudah kamu mati." Ular botak itu terus mengejarnya hingga dapat menangkap tangannya, lalu dikunyahnya, kemudian menyusul seluruh tubuhnya.
Sanad hadis dinilai jayyid lagi kuat, tetapi mereka tidak mengetengahkannya. Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Tabrani dari Jarir ibnu Abdullah Al-Bajali.
Ibnu Jarir dan Ibnu Murdawaih meriwayatkan dari hadis Bahz ibnu Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi Saw. yang telah bersabda:
"لَا يَأْتِي الرَّجُلُ مَولاهُ فيَسْأله مِنْ فَضْلِ مَالِهِ عِنْدَهُ، فَيَمْنَعهُ إيَّاهُ، إِلَّا دُعِي لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجاعٌ يَتَلَمَّظُ فَضْلَهُ الَّذِي مَنَعَ"
Tidak sekali-kali seorang lelaki datang kepada tuan (majikan)nya, lalu ia meminta sebagian dari lebihan harta yang ada padanya, tetapi si majikan menolaknya, melainkan dipanggilkan baginya kelak di hari kiamat seekor ular yang (diperintahkan) menelan lebihan harta yang tidak ia berikan itu.
Demikianlah menurut lafaz Ibnu Jarir.
قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى، حَدَّثَنَا دَاوُدُ، عَنْ أَبِي قَزَعة، عَنْ رَجُلٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "مَا مِنْ ذِي رَحِمٍ يَأْتِي ذَا رَحِمه، فيَسْأله مِنْ فَضْلٍ جَعَلَهُ اللهُ عِنْدَهُ، فَيَبْخَلُ بِهِ عَلَيْه، إِلَّا أخُرِج لَهُ مِنْ جَهَنَّم شُجَاعٌ يَتَلَمَّظ، حَتَّى يُطوّقه".
Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkan pula, telah menceritakan kepada kami Ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Daud, dari Abu Quza’ah, dari seorang lelaki (sahabat), dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Tidak sekali-kali seseorang datang kepada familinya. kemudian meminta kepadanya sebagian dari lebihan harta yang diberikan oleh Allah kepadanya, lalu ia kikir tidak memberikannya. melainkan dikeluarkan untuknya dari neraka Jahannam seekor ular yang menelan dan membelitnya.
Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui jalur lain dari Abu Quza'ah yang nama aslinya adalah Hajar ibnu Bayan, dari Abu Malik Al-Abdi secara mauquf. Tetapi ia meriwayatkannya pula melalui jalur lainnya lagi dari Abu Qaza'ah secara mursal.
Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Ahli Kitab yang kikir dengan kitab-kitab yang ada di tangan mereka, dalam arti kata mereka tidak mau menerangkannya.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Tetapi pendapat pertamalah yang benar, sekalipun pendapat terakhir termasuk ke dalam pengertiannya. Adakalanya dikatakan bahwa justru pendapat yang terakhir inilah yang lebih diprioritaskan. Hanya Allah Yang Mengetahui.
Selasa, 10 April 2018
Isnin, 9 April 2018
ayat 176
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
SURAH ALI-IMRAN''JUZ-4;
BIS-MIL-LAA-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM;
Ayat 176 Wa la_ yahzunkal lazina yusa_ri'u_na fil kufr(i), innahum lay yadurrulla_ha syai'a_(n), yuridulla_ha alla_ yaj'ala lahum hazzan fil a_khirati wa lahum 'aza_bun'azim(un)
وَلَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ ۚ إِنَّهُمْ لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا ۗ يُرِيدُ اللَّهُ أَلَّا يَجْعَلَ لَهُمْ حَظًّا فِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Dan janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra menyatakan bahwa orang yang beriman dan bertakwa yaitu Al khoufu minal jalil (adanya rasa takut kepada Dzat Yang Maha Agung, Allah).
Takut hisab-Nya, takut azab-Nya, takut neraka-Nya. Jika tidak takut pada hal tersebut, maka janganlah mengaku sebagai orang yang beriman. Selain memiliki rasa takut, orang beriman juga senantiasa menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup. Bersikap qonaah dan menyiapkan bekal untuk berpulang kepada Allah. Jangan bersedih, wahai Nabi, apabila engkau melihat orang yang semakin bertambah kufur dan berpindah dari kondisi buruk kepada kondisi yang lebih buruk. Mereka tidak akan merugikan Allah sama sekali, sebab Dialah yang Mahakuasa atas hamba-hamba-Nya. Bahkan Allah tidak memberikan jatah pahala kepada mereka di ahirat.
Dan mereka, disamping tidak menerima pahala itu, akan mendapat siksa yang amat berat. [1] Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sangat perhatian kepada manusia, Beliau bersungguh-sungguh agar mereka mendapatkan hidayah dan bersedih jika mereka tidak memperolehnya.Orang-orang kafir Mekah atau orang-orang munafik yang selalu merongrong agama Islam.Allah akan tetap memenangkan agama-Nya, membela rasul-Nya dan mewujudkan ketetapan-Nya tanpa membutuhkan mereka. Bahkan mereka hanyalah merugikan diri mereka sendiri. “
Ayat ini termasuk ayat tasliyah, yaitu untuk menghibur Rasulullah dan memberi sugesti kepda umat Islam pada saat itu. Pada saat baru saja terluka dari perang uhud, datanglah huru-hara setan. Dimana setan ini berwujud manusia bernama Nu’aim bin Mas’ud. Nu’aim bin Mas’ud sengaja dikirim oleh Abu Sofyan untuk menjatuhkan mental dan semangat juang para kaum muslimin Dalam ayat ini juga menunjukkan betapa bencinya orang-orang kafir kepada Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam dan agama yang disebarkannya, yaitu Islam. Orang-orang kafir membuat Rasulullah bersedih hati, oleh karena itu ayat ini diturunkan oleh Allah sebagai penghibur hati kekasih-Nya, tidak lain yaitu Rasulullah
BIS-MIL-LAA-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM;
Ayat 176 Wa la_ yahzunkal lazina yusa_ri'u_na fil kufr(i), innahum lay yadurrulla_ha syai'a_(n), yuridulla_ha alla_ yaj'ala lahum hazzan fil a_khirati wa lahum 'aza_bun'azim(un)
وَلَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ ۚ إِنَّهُمْ لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا ۗ يُرِيدُ اللَّهُ أَلَّا يَجْعَلَ لَهُمْ حَظًّا فِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Dan janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra menyatakan bahwa orang yang beriman dan bertakwa yaitu Al khoufu minal jalil (adanya rasa takut kepada Dzat Yang Maha Agung, Allah).
Takut hisab-Nya, takut azab-Nya, takut neraka-Nya. Jika tidak takut pada hal tersebut, maka janganlah mengaku sebagai orang yang beriman. Selain memiliki rasa takut, orang beriman juga senantiasa menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup. Bersikap qonaah dan menyiapkan bekal untuk berpulang kepada Allah. Jangan bersedih, wahai Nabi, apabila engkau melihat orang yang semakin bertambah kufur dan berpindah dari kondisi buruk kepada kondisi yang lebih buruk. Mereka tidak akan merugikan Allah sama sekali, sebab Dialah yang Mahakuasa atas hamba-hamba-Nya. Bahkan Allah tidak memberikan jatah pahala kepada mereka di ahirat.
Dan mereka, disamping tidak menerima pahala itu, akan mendapat siksa yang amat berat. [1] Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sangat perhatian kepada manusia, Beliau bersungguh-sungguh agar mereka mendapatkan hidayah dan bersedih jika mereka tidak memperolehnya.Orang-orang kafir Mekah atau orang-orang munafik yang selalu merongrong agama Islam.Allah akan tetap memenangkan agama-Nya, membela rasul-Nya dan mewujudkan ketetapan-Nya tanpa membutuhkan mereka. Bahkan mereka hanyalah merugikan diri mereka sendiri. “
Ayat ini termasuk ayat tasliyah, yaitu untuk menghibur Rasulullah dan memberi sugesti kepda umat Islam pada saat itu. Pada saat baru saja terluka dari perang uhud, datanglah huru-hara setan. Dimana setan ini berwujud manusia bernama Nu’aim bin Mas’ud. Nu’aim bin Mas’ud sengaja dikirim oleh Abu Sofyan untuk menjatuhkan mental dan semangat juang para kaum muslimin Dalam ayat ini juga menunjukkan betapa bencinya orang-orang kafir kepada Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam dan agama yang disebarkannya, yaitu Islam. Orang-orang kafir membuat Rasulullah bersedih hati, oleh karena itu ayat ini diturunkan oleh Allah sebagai penghibur hati kekasih-Nya, tidak lain yaitu Rasulullah
Ahad, 8 April 2018
AYAT 169-175
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
SURAH ALI IMRAN 200AYAT JUZ 4
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ (169) فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (170) يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ (171) الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ (172) الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ (173) فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ (174) إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (175)
Ayat 169 Wa la_ tahsabannal lazina qutilu_ fi sabililla_hi amwa_ta_(n), bal ahya_'un'inda rabbihim yurzaqu_n(a). 3:170 Ayat 170 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 170 Farihin bima_ a_ta_humulla_hu min fadlih(i), wa yastabsyiru_na billazina lam yalhaqu_ bihim min khalfihim, alla_ khaufun'alaihim wa la_ hum yahzanu_n(a). 3:171 Ayat 171 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 171 Yastabsyiru_na bi ni'matim minalla_hi wa fadl(in), wa annalla_ha la_ yudi'u ajral mu'minin(a). 3:172 Ayat 172 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 172 Allazinastaja_bu_ lilla_hi war rasu_li mim ba'di ma_ asa_bahumul qarh(u), lillazina ahsanu_ minhum wattaqau ajrun 'azim(un). 3:173 Ayat 173 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 173 Allazina qa_la lahumun na_su innan na_sa qad jama'u_ lakum fakhsyauhum fa za_dahum ima_na_(w), wa qa_lu_ hasbunalla_hu wa ni'mal wakil(u). 3:174 Ayat 174 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 174 Fanqalabu_ bi ni'matim minalla_hi wa fadlil lam yamsashum su_'(uw),wattaba'u_ ridwa_nalla_h(i), walla_hu zu_ fadlin 'azim(in). 3:175 Ayat 175 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 175 Innama_ za_likumusy syaita_nu yukhawwifu auliya_'ah(u_), fala_ takha_fu_hum wa kha_fu_ni in kuntum mu'minin(a). “
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb-nya dengan mendapat rezeki. (QS. Ali ‘Imraan: 169) Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka. Dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka. Bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Ali ‘Imraan: 170) Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (QS. Ali ‘Imraan: 171) (Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. (QS. Ali ‘Imraan: 172) (Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”; maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung”. (QS. Ali ‘Imraan: 173) Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. Ali ‘Imraan: 174) Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imraan: 175)
Allah memberitahukan mengenai keadaan orang-orang yang mati syahid bahwa mereka itu meskipun telah mati di dunia ini, namun ruh mereka tetap hidup dan mendapat rizki di akhirat. Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dan kitab-kitab lainnya telah ditegaskan bahwa ayah Jabir, yaitu Abdullah bin ‘Amr bin Haram al-Anshari terbunuh dalam perang Uhud sebagai syahid. Al-Bukhari meriwayatkan, Abu Walid mengatakan dari Syu’bah, dari Ibnu Munkadir, ia berkata, aku pernah mendengar Jabir berkata, ketika ayahku terbunuh, aku menangis dan membuka kain penutup wajahnya. Lalu para Sahabat Rasulullah melarangku, sedang Nabi sendiri tidak melarangku, maka beliau bersabda, “Jangan engkau menangisinya, Malaikat masih terus menaunginya dengan kedua sayapnya sehingga ia diangkat.” Al-Bukhari, Muslim, dan an-Nasa’i menyandarkan sanad kepadanya. Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Ketika saudara-saudara kalian mendapatkan musibah perang Uhud, Allah telah menempatkan arwah mereka dalam perut burung hijau yang mendatangi sungai-sungai di Surga, dan makan dari buah-buahannya serta kembali ke pelita yang terbuat dari emas di bawah naungan ‘Arsy. Ketika mereka mendapatkan makan dan minum mereka yang baik, mereka berkata, ‘Andai saja sahabat-sahabat kami mengetahui apa yang diperbuat oleh Allah terhadap kami niscaya mereka tidak enggan dalam berjihad dan tidak mundur dari perang.’ Maka Allah pun berfirman, ‘Aku akan menyampaikan kepada mereka mengenai keadaan kalian.’ Lalu Dia menurunkan ayat, ‘Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb-nya dengan mendapat rizki.’ Dan ayat-ayat setelah-nya.” (HR. Imam Ahmad).
Dan juga diriwayatkan Abu Dawud dan al-Hakim dari Ibnu ‘Abbas Dan ini lebih kuat. Sedang al-Hakim meriwayatkannya dalam kitab al-Mustadrak. Seolah-olah para syuhada’ itu terbagi menjadi beberapa kelompok, ada yang arwahnya berterbangan di Surga, ada juga yang berada di atas sungai-sungai di pintu Surga. Bisa diartikan perjalanan mereka berakhir sampai pada sungai tersebut. Di sana mereka berkumpul dan disana pula mereka diberi makan dan rizki serta beristirahat. Wallahu a’lam. Dan kami telah meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Musnad Imam Ahmad, yang di dalamnya terdapat kabar gembira untuk semua orang yang beriman, bahwa arwah mereka bebas di Surga, makan dari buah-buahan yang terdapat di sana, dan di sana pula mereka merasakan kesenangan dan kebahagiaan. Selain itu arwah-arwah mereka juga menyaksikan kemuliaan yang dijanjikan Allah kepadanya. Hadits di atas dengan isnad shahih, di dalamnya terdapat tiga orang dari empat imam. Imam Ahmad meriwayatkan dari Muhammad bin Idris asy-Syafi’i – dari Malik bin Anas al-Ashbahi dari az-Zuhri Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik, dari ayahnya, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Arwah seorang mukmin itu adalah berupa burung yang bergantung pada pohon di Surga sehingga Allah mengembalikannya ke jasadnya pada hari ia dibangkitkan.” Sabda beliau (bergantung), maksudnya ialah makan. Dalam hadits ini juga disebutkan: “Sesungguhnya arwah seorang mukmin itu berwujud burung di Surga.” Sedangkan arwah para syuhada’, sebagaimana yang di sebutkan pada hadits sebelumnya, yaitu berada dalam perut burung hijau. Arwah mereka itu seperti bintang jika dibandingkan arwah orang-orang mukmin lainnya, karena itu dapat terbang. Kita berdo’a semoga Allah mematikan kita dalam keadaan beriman.As-Suddi berkata, “Orang yang mati syahid akan didatangkan sebuah kitab yang di dalamnya tercata, akan datang kepadamu si fulan pada hari ini dan ini, dan akan datang kepadamu si fulan hari ini dan ini. Maka bergembiralah dia atas kedatangannya, sebagaimana penduduk dunia bergembira ketidak hadiran mereka apabila datang. Sa’id bin Jabir berkata, “Ketika mereka memasuki surga dan menyaksikan kemuliaan yang disediakan untuk para syuhada, mereka berkata, ‘Seandainya saudara-saudara kami yang masih hidup di dunia mengetahui kemuliaan yang kami saksikan ini, maka apabila mereka mendapati perang pasti mereka akan menyambut dengan sendirinya sehingga mereka mati syahid dan mendapatkan sebagaimana kami peroleh dari kebaikan.’ Maka Rasulullah memberitahukan tentang keadaan mereka serta kemuliaan yang mereka terima.
Dan Allah memberitahukan mereka, sesungguhnya Aku telah menurunkan dan memberitahukan Nabi kalian mengenai keadaan kalian dan apa yang kalian peroleh, maka bergembiralah atas itu. Dan itulah makna firman Allah: wa yastab-syiruunal ladziina lam yalhaquu biHim min khalfiHim (“Dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka dan belum menyusul mereka.”) Dalam kitab shahih al-Bukhari dan Muslim disebutkan sebuah hadits dari Anas bin Malik mengenai kisah 70 shahabat dari kaum Anshar di sumur Ma’unah yang terbunuh dalam waktu satu hari. Kemudian Rasulullah saw. membacakan qunut nazilah seraya mendoakan atas pembunuh serta melaknat mereka yang membunuh para shahabat beliau itu. Anas berkata, dan mengenai mereka ini diturunkan ayat yang kami baca, hingga kemudian ayat tersebut diangkat. “Sampaikanlah kepada kaum kami dari kami, sesungguhnya kami telah bertemu Rabb kami, lalu Dia ridla kepada kami dan kami pun ridla.”Ibnu Hisyam meriwayatkan dari Abu ‘Ubaidah, ia berkata, bahwa ketika sampai kepada Rasulullah berita kepulangan pasukan musyrikin Quraisy, maka beliau bersabda: “Demi Rabb yang jiwaku berada ditangan-Nya, sesungguhnya telah di panaskan bebatuan untuk mereka, jika mereka bangun pagi, niscaya nasib mereka akan menjadi seperti kemarin.”Maka Allah swt. berfirman, falaa takhaafuuHum wa khaafuuni in kuntum mu’miniin (“Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”) Apabila kalian ditakut-takuti, maka bertawakkallah kepada-Ku, dan berlindunglah kepada-Ku, sebab cukuplah Aku sebagai Pelindung dan Penolong kalian, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah?” (QS. Az-Zumar: 36).
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ (169) فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (170) يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ (171) الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ (172) الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ (173) فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ (174) إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (175)
Ayat 169 Wa la_ tahsabannal lazina qutilu_ fi sabililla_hi amwa_ta_(n), bal ahya_'un'inda rabbihim yurzaqu_n(a). 3:170 Ayat 170 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 170 Farihin bima_ a_ta_humulla_hu min fadlih(i), wa yastabsyiru_na billazina lam yalhaqu_ bihim min khalfihim, alla_ khaufun'alaihim wa la_ hum yahzanu_n(a). 3:171 Ayat 171 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 171 Yastabsyiru_na bi ni'matim minalla_hi wa fadl(in), wa annalla_ha la_ yudi'u ajral mu'minin(a). 3:172 Ayat 172 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 172 Allazinastaja_bu_ lilla_hi war rasu_li mim ba'di ma_ asa_bahumul qarh(u), lillazina ahsanu_ minhum wattaqau ajrun 'azim(un). 3:173 Ayat 173 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 173 Allazina qa_la lahumun na_su innan na_sa qad jama'u_ lakum fakhsyauhum fa za_dahum ima_na_(w), wa qa_lu_ hasbunalla_hu wa ni'mal wakil(u). 3:174 Ayat 174 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 174 Fanqalabu_ bi ni'matim minalla_hi wa fadlil lam yamsashum su_'(uw),wattaba'u_ ridwa_nalla_h(i), walla_hu zu_ fadlin 'azim(in). 3:175 Ayat 175 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 175 Innama_ za_likumusy syaita_nu yukhawwifu auliya_'ah(u_), fala_ takha_fu_hum wa kha_fu_ni in kuntum mu'minin(a). “
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb-nya dengan mendapat rezeki. (QS. Ali ‘Imraan: 169) Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka. Dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka. Bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Ali ‘Imraan: 170) Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (QS. Ali ‘Imraan: 171) (Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. (QS. Ali ‘Imraan: 172) (Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”; maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung”. (QS. Ali ‘Imraan: 173) Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. Ali ‘Imraan: 174) Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imraan: 175)
Allah memberitahukan mengenai keadaan orang-orang yang mati syahid bahwa mereka itu meskipun telah mati di dunia ini, namun ruh mereka tetap hidup dan mendapat rizki di akhirat. Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dan kitab-kitab lainnya telah ditegaskan bahwa ayah Jabir, yaitu Abdullah bin ‘Amr bin Haram al-Anshari terbunuh dalam perang Uhud sebagai syahid. Al-Bukhari meriwayatkan, Abu Walid mengatakan dari Syu’bah, dari Ibnu Munkadir, ia berkata, aku pernah mendengar Jabir berkata, ketika ayahku terbunuh, aku menangis dan membuka kain penutup wajahnya. Lalu para Sahabat Rasulullah melarangku, sedang Nabi sendiri tidak melarangku, maka beliau bersabda, “Jangan engkau menangisinya, Malaikat masih terus menaunginya dengan kedua sayapnya sehingga ia diangkat.” Al-Bukhari, Muslim, dan an-Nasa’i menyandarkan sanad kepadanya. Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Ketika saudara-saudara kalian mendapatkan musibah perang Uhud, Allah telah menempatkan arwah mereka dalam perut burung hijau yang mendatangi sungai-sungai di Surga, dan makan dari buah-buahannya serta kembali ke pelita yang terbuat dari emas di bawah naungan ‘Arsy. Ketika mereka mendapatkan makan dan minum mereka yang baik, mereka berkata, ‘Andai saja sahabat-sahabat kami mengetahui apa yang diperbuat oleh Allah terhadap kami niscaya mereka tidak enggan dalam berjihad dan tidak mundur dari perang.’ Maka Allah pun berfirman, ‘Aku akan menyampaikan kepada mereka mengenai keadaan kalian.’ Lalu Dia menurunkan ayat, ‘Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb-nya dengan mendapat rizki.’ Dan ayat-ayat setelah-nya.” (HR. Imam Ahmad).
Dan juga diriwayatkan Abu Dawud dan al-Hakim dari Ibnu ‘Abbas Dan ini lebih kuat. Sedang al-Hakim meriwayatkannya dalam kitab al-Mustadrak. Seolah-olah para syuhada’ itu terbagi menjadi beberapa kelompok, ada yang arwahnya berterbangan di Surga, ada juga yang berada di atas sungai-sungai di pintu Surga. Bisa diartikan perjalanan mereka berakhir sampai pada sungai tersebut. Di sana mereka berkumpul dan disana pula mereka diberi makan dan rizki serta beristirahat. Wallahu a’lam. Dan kami telah meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Musnad Imam Ahmad, yang di dalamnya terdapat kabar gembira untuk semua orang yang beriman, bahwa arwah mereka bebas di Surga, makan dari buah-buahan yang terdapat di sana, dan di sana pula mereka merasakan kesenangan dan kebahagiaan. Selain itu arwah-arwah mereka juga menyaksikan kemuliaan yang dijanjikan Allah kepadanya. Hadits di atas dengan isnad shahih, di dalamnya terdapat tiga orang dari empat imam. Imam Ahmad meriwayatkan dari Muhammad bin Idris asy-Syafi’i – dari Malik bin Anas al-Ashbahi dari az-Zuhri Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik, dari ayahnya, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Arwah seorang mukmin itu adalah berupa burung yang bergantung pada pohon di Surga sehingga Allah mengembalikannya ke jasadnya pada hari ia dibangkitkan.” Sabda beliau (bergantung), maksudnya ialah makan. Dalam hadits ini juga disebutkan: “Sesungguhnya arwah seorang mukmin itu berwujud burung di Surga.” Sedangkan arwah para syuhada’, sebagaimana yang di sebutkan pada hadits sebelumnya, yaitu berada dalam perut burung hijau. Arwah mereka itu seperti bintang jika dibandingkan arwah orang-orang mukmin lainnya, karena itu dapat terbang. Kita berdo’a semoga Allah mematikan kita dalam keadaan beriman.As-Suddi berkata, “Orang yang mati syahid akan didatangkan sebuah kitab yang di dalamnya tercata, akan datang kepadamu si fulan pada hari ini dan ini, dan akan datang kepadamu si fulan hari ini dan ini. Maka bergembiralah dia atas kedatangannya, sebagaimana penduduk dunia bergembira ketidak hadiran mereka apabila datang. Sa’id bin Jabir berkata, “Ketika mereka memasuki surga dan menyaksikan kemuliaan yang disediakan untuk para syuhada, mereka berkata, ‘Seandainya saudara-saudara kami yang masih hidup di dunia mengetahui kemuliaan yang kami saksikan ini, maka apabila mereka mendapati perang pasti mereka akan menyambut dengan sendirinya sehingga mereka mati syahid dan mendapatkan sebagaimana kami peroleh dari kebaikan.’ Maka Rasulullah memberitahukan tentang keadaan mereka serta kemuliaan yang mereka terima.
Dan Allah memberitahukan mereka, sesungguhnya Aku telah menurunkan dan memberitahukan Nabi kalian mengenai keadaan kalian dan apa yang kalian peroleh, maka bergembiralah atas itu. Dan itulah makna firman Allah: wa yastab-syiruunal ladziina lam yalhaquu biHim min khalfiHim (“Dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka dan belum menyusul mereka.”) Dalam kitab shahih al-Bukhari dan Muslim disebutkan sebuah hadits dari Anas bin Malik mengenai kisah 70 shahabat dari kaum Anshar di sumur Ma’unah yang terbunuh dalam waktu satu hari. Kemudian Rasulullah saw. membacakan qunut nazilah seraya mendoakan atas pembunuh serta melaknat mereka yang membunuh para shahabat beliau itu. Anas berkata, dan mengenai mereka ini diturunkan ayat yang kami baca, hingga kemudian ayat tersebut diangkat. “Sampaikanlah kepada kaum kami dari kami, sesungguhnya kami telah bertemu Rabb kami, lalu Dia ridla kepada kami dan kami pun ridla.”Ibnu Hisyam meriwayatkan dari Abu ‘Ubaidah, ia berkata, bahwa ketika sampai kepada Rasulullah berita kepulangan pasukan musyrikin Quraisy, maka beliau bersabda: “Demi Rabb yang jiwaku berada ditangan-Nya, sesungguhnya telah di panaskan bebatuan untuk mereka, jika mereka bangun pagi, niscaya nasib mereka akan menjadi seperti kemarin.”Maka Allah swt. berfirman, falaa takhaafuuHum wa khaafuuni in kuntum mu’miniin (“Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”) Apabila kalian ditakut-takuti, maka bertawakkallah kepada-Ku, dan berlindunglah kepada-Ku, sebab cukuplah Aku sebagai Pelindung dan Penolong kalian, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah?” (QS. Az-Zumar: 36).
Khamis, 5 April 2018
AYAT 165-168
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK '';
SURAH ALI- IMRAN JUZ4'
BIS-MIL-LAA-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM''
Ayat 165 Awalamma_ asa_batkum musibatun qad asabtum mislaiha_, qultum anna_ ha_za_, qul huwa min 'indi anfusikum, innalla_ha 'ala_ kulli syai'in qadir(un). 3:166 Ayat 166 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 166 Wa ma_ asa_bakum yaumal taqal jam'a_ni fa bi'iznilla_hi wa liya'lamal mu'minin(a). 3:167 Ayat 167 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 167 Wa liya'lamal lazina na_faqu_, wa qila lahum ta'a_lau qa_tilu_ fi sabililla_hi awidfa'u_, qa_lu_ lau na'lamu qita_lal lattaba'na_kum, hum lilkufri yauma'izin aqrabu minhum lil'ima_n(i), yaqu_lu_na biafwa_hihim ma_ laisa fi qulu_bihim, walla_hu a'lamu bima_ yaktumu_n(a). 3:168 Ayat 168 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 168 Allazina qa_lu_ li ikhwa_nihim wa qa'adu_ lau ata_'u_na_ ma_ qutilu_, qul fadra'u_ 'an anfusikumul mauta in kuntum sa_diqin(a).
أَوَلَمَّا أَصابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْها قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (165) وَما أَصابَكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعانِ فَبِإِذْنِ اللَّهِ وَلِيَعْلَمَ الْمُؤْمِنِينَ (166) وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ نافَقُوا وَقِيلَ لَهُمْ تَعالَوْا قاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوِ ادْفَعُوا قالُوا لَوْ نَعْلَمُ قِتالاً لاتَّبَعْناكُمْ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمانِ يَقُولُونَ بِأَفْواهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِما يَكْتُمُونَ (167) الَّذِينَ قالُوا لِإِخْوانِهِمْ وَقَعَدُوا لَوْ أَطاعُونا مَا قُتِلُوا قُلْ فَادْرَؤُا عَنْ أَنْفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صادِقِينَ (168)
Dan mengapa ketika kalian ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kalian telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuh kalian (pada peperangan Badar) kalian berkata, "Dari mana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah, "Itu dari (kesalahan) diri kalian sendiri." Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan apa yang menimpa kalian pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah; dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman, dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan, "Marilah berperang dijalan Allah atau pertahankanlah (diri kalian)." Mereka berkata, "Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kalian." Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak ada terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang, "Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh." Katakanlah, "Tolaklah kematian itu dari diri kalian, jika kalian orang-orang yang benar."
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Qurad ibnu Nuh, telah menceritakan kepada kami Ikrimah ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Sammak Al-Hanafi Abu Zamil, telah menceritakan kepadaku Ibnu Abbas, telah menceritakan kepadaku Umar ibnul Khattab yang menceritakan bahwa ketika peperangan Uhud terjadi, yaitu setahun setelah Perang Badar, maka kaum muslim memperoleh hukuman disebabkan kesalahan mereka berani menerima tebusan dari tawanan Perang Badar kaum musyrik. Akhirnya dalam Perang Uhud, tujuh puluh orang dari pasukan kaum muslim gugur, dan sahabat-sahabat Rasulullah Saw. lari meninggalkan beliau hingga gigi seri beliau rontok dan topi besi pelindung kepalanya pecah serta darah mengalir pada wajahnya karena terluka. Lalu Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Dan mengapa ketika kalian ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kalian telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuh kalian (pada peperangan Badar) kalian berkata, "Dari manakah datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah, "Itu dari (kesalahan) diri kalian sendiri." (Ali Imran :165) Yakni karena kalian lebih suka menerima tebusan dari tawanan Perang Badar. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari ibnu Abdur Rahman ibnu Gazwan (yaitu Qurad ibnu Nuh) berikut sanadnya, tetapi lebih panjang daripada hadis di atas. Hal yang sama dikatakan pula oleh Al-Hasan Al-Basri. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ulayyah, dari Ibnu Aun. Sunaid (yakni Husain) mengatakan, dan telah menceritakan kepadaku Hajjaj, dari Juraij, dari Muhammad, dari Ubaidah, dari Ali r.a. yang menceritakan bahwa Malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw., lalu berkata: Hai Muhammad, sesungguhnya Allah benar-benar tidak menyukai apa yang dilakukan oleh kaummu dalam mengambil (tebusan) tawanan-tawanan Perang (Badar), padahal Allah telah memerintahkan kepadamu agar memberitahukan kepada mereka untuk memilih salah satu di antara dua perkara. Yaitu adakalanya para tawanan itu dihukum mati dengan dipenggal lehernya. Dan pilihan lainnya ialah mereka (kaum muslim) boleh mengambil tebusan, tetapi kelak akan terbunuh dari kalangan mereka sejumlah orang-orang musyrik (yang terbunuh dalam Perang Badar).
Sahabat Ali r.a. melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu Rasulullah Saw. memanggil orang-orang dan diceritakan kepada mereka hal tersebut. Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, mereka adalah keluarga dan teman-teman kita. Mengapa kita tidak ambil saja tebusan mereka, yang hasilnya nanti dijadikan sebagai biaya untuk memerangi musuh-musuh kita. Biarpun ada yang gugur dari kalangan kita sejumlah mereka, kami tidak akan menolak pilihan ini." Sahabat Ali melanjutkan kisahnya, bahwa pada peperangan Uhud akhirnya terbunuh dari pasukan kaum muslim yang bilangannya sama saja dengan mereka (pihak musuh) yang tertawan di dalam peperangan Badar. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Nasai dan Imam Turmuzi melalui hadis Abu Daud Al-Hafri, dari Yahya ibnu Zakaria ibnu Abu Zaidah, dari Sufyan ibnu Sa'id, dari Hisyam ibnu Hassan, dari Muhammad ibnu Sirin dengan lafaz yang sama. Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa predikat hadis ini hasan garib, kami tidak mengenalnya kecuali melalui hadis ibnu Abu Zaidah. Abu Usamah meriwayatkan hal yang semisal dari Hisyam. Telah diriwayatkan dari Ibnu Sirin, dari Ubaidah, dari Nabi Saw. hadis ini secara mursal. Muhammad ibnu Ishaq, Ibnu Jarir, Ar-Rabi' ibnu Anas, dan As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Katakanlah, "Itu dari (kesalahan) diri kalian sendiri." (Ali Imran: 165) Ibnu Abbas, Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Ad-Dahhak, Abu Saleh, Al-Hasan, dan As-Saddi mengatakan bahwa dengan keikutsertaan mereka, maka pasukan kaum muslim menjadi bertambah banyak. Al-Hasan ibnu Saleh mengatakan, makna yang dimaksud ialah pertahankanlah diri kalian dengan berdoa. Sedangkan selain mereka mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah bersiap siagalah kalian. Tetapi mereka mengemukakan alasannya seraya berkata, yang perkataan mereka disitir oleh firman-Nya: Seandainya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kalian. (Ali Imran: 167) Menurut Mujahid, mereka bermaksud 'sekiranya kami mengetahui bahwa kalian akan menghadapi peperangan, niscaya kami datang kepada kalian untuk membantu, tetapi ternyata kalian tidak menghadapi suatu peperangan pun'. Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Muslim ibnu Syihab Az-Zuhri dan Muhammad ibnu Yahya ibnu Hayyan, Asim ibnu Umar ibnu Qatadah, Al-Husain ibnu Abdur Rahman ibnu Amr ibnu Sa'd ibnu Mu'az serta lain-lain-nya dari kalangan ulama kami; semuanya menceritakan bahwa Rasulullah Saw. membawa kami turut serta berangkat, yakni ketika beliau berangkat menuju medan Uhud bersama seribu orang sahabatnya. Ketika beliau sampai di Asy-Syaut yang terletak di antara Uhud dan Madinah, maka Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul memisahkan diri dari Nabi Saw. bersama sepertiga pasukan (kembali ke Madinah). Ia berkata, "Dia (yakni Nabi Saw.) menuruti pendapat mereka (kaum muslim) dan menentang pendapatku.”Demi Allah, kita tidak mengetahui untuk apakah kita membunuh diri kita sendiri di sini, hai orang-orang." Lalu ia kembali ke Madinah bersama sejumlah orang dari kaumnya, yaitu ahli nifaq dan yang berada dalam keraguan. Kemudian mereka dikejar oleh Abdullah ibnu Amr ibnu Haram (saudara lelaki Bani Salamah), lalu ia mengatakan (kepada mereka yang kembali itu), "Hai kaum, aku perintahkan kalian akan Allah Swt., janganlah kalian merendahkan Nabi dan kaum kalian manakala beliau tiba dari musuh kalian nanti!" Mereka menjawab, "Sekiranya kami mengetahui akan terjadinya peperangan, niscaya kami tidak akan membiarkan kalian. Tetapi kami berpendapat bahwa tidak akan terjadi peperangan." Ketika mereka membangkang, tidak mau menuruti kata-katanya, dan mereka bertekad bulat untuk kembali ke Madinah, maka Abdullah ibnu Amr ibnu Haram mengatakan kepada mereka, "Semoga Allah menjauhkan kalian (dari rahmat-Nya), hai musuh-musuh Allah. Allah Mahakaya dari kalian." Lalu Rasulullah Saw. melanjutkan perjalanannya. Yakni jika memang tetap tinggal di Madinah dapat menjamin seseorang selamat dari terbunuh dan maut, maka sudah selayaknya bila kalian tidak mati. Tetapi maut pasti datang kepada kalian, sekalipun kalian berada di dalam benteng yang kuat. Karena itu, tolaklah kematian dari diri kalian jika kalian memang orang-orang yang benar dalam pengakuan kalian itu. Mujahid meriwayatkan dari Jabir ibnu Abdullah, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan sikap Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul dan kawan-kawannya (dari kalangan orang-orang munafik).
SURAH ALI- IMRAN JUZ4'
BIS-MIL-LAA-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM''
Ayat 165 Awalamma_ asa_batkum musibatun qad asabtum mislaiha_, qultum anna_ ha_za_, qul huwa min 'indi anfusikum, innalla_ha 'ala_ kulli syai'in qadir(un). 3:166 Ayat 166 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 166 Wa ma_ asa_bakum yaumal taqal jam'a_ni fa bi'iznilla_hi wa liya'lamal mu'minin(a). 3:167 Ayat 167 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 167 Wa liya'lamal lazina na_faqu_, wa qila lahum ta'a_lau qa_tilu_ fi sabililla_hi awidfa'u_, qa_lu_ lau na'lamu qita_lal lattaba'na_kum, hum lilkufri yauma'izin aqrabu minhum lil'ima_n(i), yaqu_lu_na biafwa_hihim ma_ laisa fi qulu_bihim, walla_hu a'lamu bima_ yaktumu_n(a). 3:168 Ayat 168 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 168 Allazina qa_lu_ li ikhwa_nihim wa qa'adu_ lau ata_'u_na_ ma_ qutilu_, qul fadra'u_ 'an anfusikumul mauta in kuntum sa_diqin(a).
أَوَلَمَّا أَصابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْها قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (165) وَما أَصابَكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعانِ فَبِإِذْنِ اللَّهِ وَلِيَعْلَمَ الْمُؤْمِنِينَ (166) وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ نافَقُوا وَقِيلَ لَهُمْ تَعالَوْا قاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوِ ادْفَعُوا قالُوا لَوْ نَعْلَمُ قِتالاً لاتَّبَعْناكُمْ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمانِ يَقُولُونَ بِأَفْواهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِما يَكْتُمُونَ (167) الَّذِينَ قالُوا لِإِخْوانِهِمْ وَقَعَدُوا لَوْ أَطاعُونا مَا قُتِلُوا قُلْ فَادْرَؤُا عَنْ أَنْفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صادِقِينَ (168)
Dan mengapa ketika kalian ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kalian telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuh kalian (pada peperangan Badar) kalian berkata, "Dari mana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah, "Itu dari (kesalahan) diri kalian sendiri." Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan apa yang menimpa kalian pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah; dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman, dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan, "Marilah berperang dijalan Allah atau pertahankanlah (diri kalian)." Mereka berkata, "Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kalian." Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak ada terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang, "Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh." Katakanlah, "Tolaklah kematian itu dari diri kalian, jika kalian orang-orang yang benar."
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Qurad ibnu Nuh, telah menceritakan kepada kami Ikrimah ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Sammak Al-Hanafi Abu Zamil, telah menceritakan kepadaku Ibnu Abbas, telah menceritakan kepadaku Umar ibnul Khattab yang menceritakan bahwa ketika peperangan Uhud terjadi, yaitu setahun setelah Perang Badar, maka kaum muslim memperoleh hukuman disebabkan kesalahan mereka berani menerima tebusan dari tawanan Perang Badar kaum musyrik. Akhirnya dalam Perang Uhud, tujuh puluh orang dari pasukan kaum muslim gugur, dan sahabat-sahabat Rasulullah Saw. lari meninggalkan beliau hingga gigi seri beliau rontok dan topi besi pelindung kepalanya pecah serta darah mengalir pada wajahnya karena terluka. Lalu Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Dan mengapa ketika kalian ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kalian telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuh kalian (pada peperangan Badar) kalian berkata, "Dari manakah datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah, "Itu dari (kesalahan) diri kalian sendiri." (Ali Imran :165) Yakni karena kalian lebih suka menerima tebusan dari tawanan Perang Badar. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari ibnu Abdur Rahman ibnu Gazwan (yaitu Qurad ibnu Nuh) berikut sanadnya, tetapi lebih panjang daripada hadis di atas. Hal yang sama dikatakan pula oleh Al-Hasan Al-Basri. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ulayyah, dari Ibnu Aun. Sunaid (yakni Husain) mengatakan, dan telah menceritakan kepadaku Hajjaj, dari Juraij, dari Muhammad, dari Ubaidah, dari Ali r.a. yang menceritakan bahwa Malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw., lalu berkata: Hai Muhammad, sesungguhnya Allah benar-benar tidak menyukai apa yang dilakukan oleh kaummu dalam mengambil (tebusan) tawanan-tawanan Perang (Badar), padahal Allah telah memerintahkan kepadamu agar memberitahukan kepada mereka untuk memilih salah satu di antara dua perkara. Yaitu adakalanya para tawanan itu dihukum mati dengan dipenggal lehernya. Dan pilihan lainnya ialah mereka (kaum muslim) boleh mengambil tebusan, tetapi kelak akan terbunuh dari kalangan mereka sejumlah orang-orang musyrik (yang terbunuh dalam Perang Badar).
Sahabat Ali r.a. melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu Rasulullah Saw. memanggil orang-orang dan diceritakan kepada mereka hal tersebut. Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, mereka adalah keluarga dan teman-teman kita. Mengapa kita tidak ambil saja tebusan mereka, yang hasilnya nanti dijadikan sebagai biaya untuk memerangi musuh-musuh kita. Biarpun ada yang gugur dari kalangan kita sejumlah mereka, kami tidak akan menolak pilihan ini." Sahabat Ali melanjutkan kisahnya, bahwa pada peperangan Uhud akhirnya terbunuh dari pasukan kaum muslim yang bilangannya sama saja dengan mereka (pihak musuh) yang tertawan di dalam peperangan Badar. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Nasai dan Imam Turmuzi melalui hadis Abu Daud Al-Hafri, dari Yahya ibnu Zakaria ibnu Abu Zaidah, dari Sufyan ibnu Sa'id, dari Hisyam ibnu Hassan, dari Muhammad ibnu Sirin dengan lafaz yang sama. Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa predikat hadis ini hasan garib, kami tidak mengenalnya kecuali melalui hadis ibnu Abu Zaidah. Abu Usamah meriwayatkan hal yang semisal dari Hisyam. Telah diriwayatkan dari Ibnu Sirin, dari Ubaidah, dari Nabi Saw. hadis ini secara mursal. Muhammad ibnu Ishaq, Ibnu Jarir, Ar-Rabi' ibnu Anas, dan As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Katakanlah, "Itu dari (kesalahan) diri kalian sendiri." (Ali Imran: 165) Ibnu Abbas, Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Ad-Dahhak, Abu Saleh, Al-Hasan, dan As-Saddi mengatakan bahwa dengan keikutsertaan mereka, maka pasukan kaum muslim menjadi bertambah banyak. Al-Hasan ibnu Saleh mengatakan, makna yang dimaksud ialah pertahankanlah diri kalian dengan berdoa. Sedangkan selain mereka mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah bersiap siagalah kalian. Tetapi mereka mengemukakan alasannya seraya berkata, yang perkataan mereka disitir oleh firman-Nya: Seandainya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kalian. (Ali Imran: 167) Menurut Mujahid, mereka bermaksud 'sekiranya kami mengetahui bahwa kalian akan menghadapi peperangan, niscaya kami datang kepada kalian untuk membantu, tetapi ternyata kalian tidak menghadapi suatu peperangan pun'. Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Muslim ibnu Syihab Az-Zuhri dan Muhammad ibnu Yahya ibnu Hayyan, Asim ibnu Umar ibnu Qatadah, Al-Husain ibnu Abdur Rahman ibnu Amr ibnu Sa'd ibnu Mu'az serta lain-lain-nya dari kalangan ulama kami; semuanya menceritakan bahwa Rasulullah Saw. membawa kami turut serta berangkat, yakni ketika beliau berangkat menuju medan Uhud bersama seribu orang sahabatnya. Ketika beliau sampai di Asy-Syaut yang terletak di antara Uhud dan Madinah, maka Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul memisahkan diri dari Nabi Saw. bersama sepertiga pasukan (kembali ke Madinah). Ia berkata, "Dia (yakni Nabi Saw.) menuruti pendapat mereka (kaum muslim) dan menentang pendapatku.”Demi Allah, kita tidak mengetahui untuk apakah kita membunuh diri kita sendiri di sini, hai orang-orang." Lalu ia kembali ke Madinah bersama sejumlah orang dari kaumnya, yaitu ahli nifaq dan yang berada dalam keraguan. Kemudian mereka dikejar oleh Abdullah ibnu Amr ibnu Haram (saudara lelaki Bani Salamah), lalu ia mengatakan (kepada mereka yang kembali itu), "Hai kaum, aku perintahkan kalian akan Allah Swt., janganlah kalian merendahkan Nabi dan kaum kalian manakala beliau tiba dari musuh kalian nanti!" Mereka menjawab, "Sekiranya kami mengetahui akan terjadinya peperangan, niscaya kami tidak akan membiarkan kalian. Tetapi kami berpendapat bahwa tidak akan terjadi peperangan." Ketika mereka membangkang, tidak mau menuruti kata-katanya, dan mereka bertekad bulat untuk kembali ke Madinah, maka Abdullah ibnu Amr ibnu Haram mengatakan kepada mereka, "Semoga Allah menjauhkan kalian (dari rahmat-Nya), hai musuh-musuh Allah. Allah Mahakaya dari kalian." Lalu Rasulullah Saw. melanjutkan perjalanannya. Yakni jika memang tetap tinggal di Madinah dapat menjamin seseorang selamat dari terbunuh dan maut, maka sudah selayaknya bila kalian tidak mati. Tetapi maut pasti datang kepada kalian, sekalipun kalian berada di dalam benteng yang kuat. Karena itu, tolaklah kematian dari diri kalian jika kalian memang orang-orang yang benar dalam pengakuan kalian itu. Mujahid meriwayatkan dari Jabir ibnu Abdullah, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan sikap Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul dan kawan-kawannya (dari kalangan orang-orang munafik).
Rabu, 4 April 2018
AYAT 160-164
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK;
SURAH ALI-IMRAN JUZ-4' BISS-MIL-LAA-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM'''
, Ayat 160 Iy yansurkumulla_hu fala_ ga_liba lakum, wa iy yakhzulkum fa man zallazi yansurukum mim ba'dih(i), wa 'alalla_hi falyatawakkalil mu'minu_n(a). 3:161 Ayat 161 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 161 Wa ma_ ka_na li nabiyyin ay yagull(a), wa may yaglul ya'ti bima_ galla yaumal qiya_mah(ti), summa tuwaffa_ kullu nafsim ma_ kasabat wa hum la_ yuzlamu_n(a). 3:162 Ayat 162 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 162 Afamanittaba'a ridwa_nalla_hi kamam ba_'a bi sakhatim minalla_hi wa ma'wa_hu jahannam(u), wa bi'sal masir(u). 3:163 Ayat 163 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 163 Hum daraja_tun 'indalla_h(i), walla_hu basirum bima_ ya'malu_n(a). 3:164 Ayat 164 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 164 Laqad mannalla_hu 'alal mu'minina iz ba'asa fihim rasu_lam min anfusihim yatlu_'alaihi a_ya_tihi wa yuzakkihim wa yu'allimuhumul kita_ba wal hikmah(ta), wa in ka_nu_ min qablu lafi dala_lim mubin(in)
. إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلا غالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (160) وَما كانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِما غَلَّ يَوْمَ الْقِيامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ (161) أَفَمَنِ اتَّبَعَ رِضْوانَ اللَّهِ كَمَنْ باءَ بِسَخَطٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْواهُ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (162) هُمْ دَرَجاتٌ عِنْدَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِما يَعْمَلُونَ (163) لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ آياتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (164)
Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu; dan jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal. (QS. Ali ‘Imraan: 160) Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat (dalam urusan harta rampasan perang). Barangsiapa yang berkhianat (dalam urusan rampasan perang itu), maka pada hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu; kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya. (QS. Ali ‘Imraan: 161) Apakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan (yang besar) dari Allah dan tempatnya adalah Jahannam? Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali (QS. Ali ‘Imraan: 162) (Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Mahamelihat apa yang mereka kerjakan. (QS. Ali ‘Imraan: 163) Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali ‘Imraan: 164)
Dari ayat di atas jelas di huraian mengikut hadis riwayat ; Ibnu Abbas, Mujahid, Al-Hasan, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang telah mengatakan bahwa tidak layak bagi seorang nabi berbuat khianat. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al-Musayyab ibnu Wadih, telah menceritakan kepada kami Abi Ishaq Al-Fazzari, dari Sufyan ibnu Khasif, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa mereka kehilangan sebuah qatifah (permadani) dalam Perang Badar, lalu mereka berkata, "Barangkali Rasulullah Saw. telah mengambilnya." Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Al-Hasan al-Bashri, Thawus, Mujahid, dan adh-Dhahhak membaca: wa maa kaana li nabiyyin ay yughall; dengan memberikan dhammah di atas huruf “ya” yang berarti “yukhaan” (dikhianati). Sedangkan Qatadah dan ar-Rabi’ bin Anas berkata: “Ayat ini turun pada waktu perang Badar, di mana sebagian dari Sahabat Rasulullah berkhianat.” Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Qatadah dan ar-Rabi’ bin Anas. Kemudian ia menceritakan dari sebagian ulama bahwa bacaan ini ditafsirkan dengan makna, “dituduh berkhianat. Dan Sunnah Nabawiyyah sendiri telah melarang hal itu, yang dijelaskan dalam beberapa hadits. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Malik al-Asyja’i dari Nabi, beliau bersabda: “Pengkianatan yang paling besar di sisi Allah adalah pengkhianatan terhadap sejengkal tanah. Kalian dapati dua orang yang tanahnya atau rumahnya berdekatan (berbatasan), kemudian salah seorang dari keduanya mengambil sejengkal dari tanah milik saudaranya itu. Jika ia mengambilnya, maka akan dikalungkan kepadanya tujuh lapis bumi pada hari Kiamat kelak.” (HR. Ahmad). Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Hubairah dan al-Harits bin Yazid dari ‘Abdurrahman bin Jubair, ia berkata, aku pernah mendengar al-Mustaurid bin Syaddad berkata, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Barangsiapa mengurusi suatu urusan bagi kami sedang ia tidak mempunyai rumah, maka hendaklah ia membangun rumah, atau tidak mempunyai isteri, maka hendaklah ia menikah, atau tidak mempunyai pelayan, maka hendaklah ia mengambil pelayan, atau tidak mempunyai binatang tunggangan maka hendaklah ia mengambilnya. Barangsiapa mengambil sesuatu melebihi itu, ia telah berkhianat.” Hadits di atas juga diriwayatkan Imam Abu Dawud dengan sanad dan redaksi yang berbeda. Imam Ahmad meriwayatkan pula Sufyan telah menceritakan kepada kami dari az-Zuhri, ia mendengar ‘Urwah berkata, Abu Hamid as-Sa’idi telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Rasulullah pernah mempekerjakan seseorang dari kabilah al-Azad yang bernama Ibnu al-Lutbiyyah untuk mengurus zakat. Setelah bekerja ia datang seraya berkata, “Ini untuk anda dan ini yang dihadiahkan untukku.” Maka Rasulullah berdiri di atas mimbar seraya bersabda: “Bagaimanakah keadaan orang yang kami tugaskan untuk mengurus sebuah pekerjaan, lalu ia berkata, ‘Ini untuk anda dan ini yang dihadiahkan untukku.’ Mengapa ia tidak duduk-duduk saja di rumah bapak dan ibunya sambil menunggu apakah hadiah itu diberikan kepadanya atau tidak? Demi Rabb yang jiwaku berada ditangan-Nya, tidaklah salah seorang di antara kalian mengambilnya, melainkan akan datang dengan membawanya pada hari Kiamat kelak di atas pundaknya. Jika yang diambil itu berupa unta, maka unta itu akan mengeluarkan suaranya, atau sapi, maka sapi itu akan melenguh ataupun kambing, maka kambing itupun akan mengembik.” Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya hingga terlihat putih kedua ketiak beliau dan kemudian bersabda, “Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikan risalah.” Sebanyak tiga kali. Hisyam bin ‘Urwah menambahkan, lalu Abu Hamid berkata, “Kedua mataku menyaksikannya, kedua telingaku mendengarkannya. Tanyakanlah kepada Zaid bin Tsabit.” Dikeluarkan dari hadits Sufyan bin ‘Uyainah dan pada riwayat al-Bukhari: “Tanyakanlah kepada Zaid bin Tsabit.” Dan dalam bab ini juga diriwayatkan dari ‘Adi bin ‘Umairah, Buraidah, al-Mustaurid bin Syaddad, Abu Humaid dan Ibnu ‘Umar.” Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata, Rasulullah pernah berdiri di tengah-tengah kami lalu beliau mengingatkan masalah pengkhianatan. Beliau menganggapnya sebagai masalah yang besar dan penting, lalu beliau bersabda: “Sungguh aku akan menjumpai salah seorang di antara kalian yang datang pada hari Kiamat kelak dengan unta yang menderum di atas pundaknya seraya berkata, “Ya Rasulullah, tolonglah aku.” Maka kujawab, “Tidak, aku tidak mempunyai wewenang sedikit pun dari Allah untuk menolongmu. Aku dulu sudah pernah menyampaikan risalah kepadamu.” Dan aku akan menjumpai salah seorang di antara kalian yang datang pada hari Kiamat kelak sedang diatas pundaknya terdapat kuda yang meringkik seraya berkata, “Ya Rasulullah, tolonglah aku.” Maka kujawab, “Aku tidak mempunyai wewenang sedikitpun dari Allah untuk menolongmu. Aku dulu sudah menyampaikan risalah kepadamu.” Dan aku akan menjumpai salah seorang diantara kamu yang datang pada hari Kiamat dengan emas dan Perak, seraya berkata: “Ya Rasulullah, tolonglah aku.” Maka kujawab, “Aku tidak mempunyai wewenang sedikitpun dari Allah untuk menolongmu. Aku dulu sudah menyampaikan kepadamu.” Dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abi Hayyan. Imam Ahmad juga meriwayatkan dari ‘Adi bin ‘Umairah al-Kindi, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Wahai sekalian manusia, barangsiapa di antara kalian bekerja untuk kami, lalu menyembunyikan dari kami sebatang jarum atau yang lebih kecil darinya, maka hal itu adalah pengkhianatan dan ia akan datang membawanya pada hari Kiamat.” Kemudian salah seorang dari kaum Anshar yang berkulit hitam berdiri yang menurut Mujahid dia adalah Sa’ad bin ‘Ubadah, seolah-olah aku pernah melihatnya seraya berkata, “Ya Rasulullah, terimalah dariku tugasmu ini.” Beliau bertanya, “Tugas apa itu?” la menjawab, “Aku pernah mendengar engkau mengatakan ini dan itu. Beliau pun berkata, “Dan aku katakan hal itu sekarang. Barangsiapa yang pernah kami pekerjakan untuk mengerjakan sesuatu, maka hendaklah ia datang dengan membawanya, sedikit atau banyak. Apa yang diberikannya, maka hendaklah ia mengambilnya, dan apa yang tidak diberikannya, maka hendaklah ia menahan diri.” (Demikian juga yang diriwayatkan Imam Muslim dan Imam Abu Dawud). Imam Ahmad meriwayatkan, telah menceritakan kepadaku Samakal-Hanafi Abu Zamil, telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin ‘Abbas, telah menceritakan kepadaku ‘Umar bin al-Khaththab, ia berkata, ketika perang Khaibar berlangsung ada beberapa orang Sahabat yang datang menemui Rasulullah seraya berkata, “Si fulan mati syahid, si fulan mati syahid.” Hingga mereka mengatakan, “Si fulan mati syahid.” Lalu Rasulullah bersabda, “Tidak, aku melihatnya berada di Neraka di dalam selimut atau mantel yang digelapkannya.” Lebih lanjut beliau bersabda, “Pergi dan serukan kepada semua orang bahwasanya tidak akan masuk Surga kecuali orang-orang yang beriman.” Maka aku pun keluar dan menyerukan bahwasanya tidak akan masuk Surga kecuali orang-orang yang beriman.” Imam Ahmad meriwayatkan dari Salim bin ‘Abdullah, bahwa ia bersama Maslamah bin ‘Abdul Malik berada di kawasan Romawi, lalu ia mendapati dalam harta kekayaan seseorang terdapat harta pengkhianatan. Kemudian ia menanyakan kepada Salim bin ‘Abdullah, maka ia menjawab, Abu ‘Abdullah telah menceritakan kepadaku dari ‘Umar bin al-Khaththab ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang mendapatkan dalam harta kekayaannya terdapat harta pengkhianatan, maka bakarlah, atau ia mengatakan, tahanlah, atau mengatakan dan binasakanlah.” Lalu ia mengeluarkan kekayaannya itu di pasar dan kemudian ia menemukan mushaf al-Qur’an dan ia tanyakan kepada Salim bin ‘Abdullah, maka Salim pun menjawab, “Jual dan sedekahkan hasil penjualannya.” Demikianlah yang diriwayatkan ‘Ali bin al-Madini, Abu Dawud danat-Tirmidzi. ‘Ali bin al-Madini, Imam al-Bukhari dan lain-lainnya mengatakan bahwa hadits tersebut mungkar dari riwayat Abu Waqid. Sedangkan ad-Daruquthni mengatakan, yang benar bahwa hal itu hanya fatwa dari Salim semata. Imam Ahmad dan para pengikutnya berpendapat seperti hadits diatas, sedangkan Abu Hanifah, Malik, dan asy-Syafi’i, serta jumhur ulama menentangnya seraya mengatakan, bahwa kekayaan orang yang berkhianat itu tidak dibakar melainkan cukup hanya dengan mendera pemiliknya dengan deraan yang setimpal. Imam al-Bukhari mengatakan, Rasulullah tidak mau menyalatkan orang yang berkhianat dan beliau tidak membakar kekayaannya. Wallahu a’lam. Ini adalah karunia yang paling besar, dimana Rasul yang diutus kepada mereka itu adalah dari jenis mereka sendiri, sehingga dengan demikian mereka bisa berkomunikasi dan menjadikannya sebagai tempat rujukan dalam memahami firman-firman-Nya. Oleh karena itu Allah berfirman: yatluu ‘alaiHim aayaatiHi (“Yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah.”) yakni al-Qur’an. Wa yuzakkiiHim (“membersihkan jiwa mereka.”) yakni memerintahkan mereka mengerjakan kebajikan dan mencegah mereka dari melakukan kemunkaran, agar dengan demikian mereka bisa menyucikan diri dari kotoran dan najis yang menyelimuti mereka, ketika mereka masih dalam keadaan jahiliyyah yang diselimuti dengan kemusyrikan.
Selasa, 3 April 2018
AYAT 159
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK;'
SURAH ALI-IMRAN JUZ-4
BISS-MIL-LAA-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM'''
Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 159 Fabima_ rahmatim minalla_hi linta lahum, wa lau kunta fazzan galizal qalbi lanfaddu_ min haulik(a), fa'fu 'anhum wastagfir lahum wa sya_wirhum fil amr(i), fa iza_ 'azamta fa tawakkal 'alalla_h(i), innalla_ha yuhibbul mutawakklilin(a).
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. Berdasarkan ayat ini, maka di antara sarana dakwah yang ampuh, yang dapat menarik manusia ke dalam agama Allah adalah akhlak mulia, di samping adanya pujian dan pahala yang istimewa bagi pelakunya.
Karena tidak sempurna memenuhi hak Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam. Hal ini merupakan sikap ihsan. Oleh karena itu, Beliau menggabung antara sikap memaafkan dan sikap ihsan. Maksudnya: dalam urusan yang butuh adanya musyawarah, pemikiran yang matang dan pandangan yang tajam. Misalnya dalam urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lain. Musyawarah memiliki banyak faedah dan maslahat duniawi maupun agama, antara lain: Setelah bermusyawarah. Bersandarlah dengan kemampuan dan kekuatan Allah; tidak mengandalkan kemampuan kamu.
Allah Swt berfirman kepada rasul-Nya seraya menyebutkan anugerah yang telah dilimpahkan-Nya kepada dia, juga kepada orang-orang mukmin; yaitu Allah telah membuat hatinya lemah lembut kepada umatnya yang akibatnya mereka menaati perintahnya dan menjauhi larangannya,
Allah juga membuat tutur katanya terasa menyejukkan hati mereka. {فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ} Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. (Ali Imran: 159) Yakni sikapmu yang lemah lembut terhadap mereka, tiada lain hal itu dijadikan oleh Allah buatmu sebagai rahmat buat dirimu dan juga buat mereka. Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. (Ali Imran: 159) Yaitu berkat rahmat Allah-lah kamu dapat bersikap lemah lembut terhadap mereka. Huruf ma merupakan silah; orang-orang Arab biasa menghubungkannya dengan isim makrifat, seperti yang terdapat di dalam firman-Nya: فَبِما نَقْضِهِمْ مِيثاقَهُمْ Maka disebabkan mereka melanggar perjanjian itu. (An-Nisa: 155) Dapat pula dihubungkan dengan isim nakirah, seperti yang terdapat di dalam firman-Nya: عَمَّا قَلِيلٍ Dalam sedikit waktu. (Al-Mu’minun: 40) Demikian pula dalam ayat ini disebutkan melalui firman-Nya: {فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ} Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. (Ali Imran: 159) Yakni karena rahmat dari Allah. Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa begitulah akhlak Nabi Muhammad Saw. yang diutus oleh Allah, dengan menyandang akhlak ini. Makna ayat ini mirip dengan makna ayat yang lain, yaitu firman-Nya: لَقَدْ جاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُفٌ رَحِيمٌ Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (At-Taubah: 128) قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حَيْوة، حَدَّثَنَا بَقِيَّة، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ، حَدَّثَنِي أَبُو رَاشِدٍ الحُبْراني قَالَ: أَخَدَ بِيَدِي أَبُو أمَامة الْبَاهِلِيُّ وَقَالَ: أَخَذَ بِيَدِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم فقال: "يَا أبَا أُمامَةَ، إنَّ مِنَ الْمُؤْمِنينَ مَنْ يَلِينُ لِي قَلْبُه". Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Haiwah, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ziyad, telah menceritakan kepadaku Abu Rasyid Al-Harrani yang mengatakan bahwa Abu Umamah Al-Bahili pernah memegang tangannya, lalu bercerita bahwa Rasulullah Saw. pernah memegang tangannya, kemudian bersabda: Hai Abu Umamah, sesungguhnya termasuk orang-orang mukmin ialah orang yang dapat melunakkan hatinya. Hadis ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad sendiri. *******************
Kemudian Allah Swt. berfirman: وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (Ali Imran: 159) Al-fazzu artinya keras, tetapi makna yang dimaksud ialah keras dan kasar dalam berbicara, karena dalam firman selanjutnya disebutkan: {غَلِيظَ الْقَلْبِ} lagi berhati kasar. (Ali Imran: 159) Dengan kata lain, sekiranya kamu kasar dalam berbicara dan berkeras hati dalam menghadapi mereka, niscaya mereka bubar darimu dan meninggalkan kamu. Akan tetapi, Allah menghimpun mereka di sekelilingmu dan membuat hatimu lemah lembut terhadap mereka sehingga mereka menyukaimu, seperti apa yang dikatakan oleh Abdullah ibnu Amr: Sesungguhnya aku telah melihat di dalam kitab-kitab terdahulu mengenai sifat Rasulullah Saw., bahwa beliau tidak keras, tidak kasar, dan tidak bersuara gaduh di pasar-pasar, serta tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan lagi, melainkan memaafkan dan merelakan. وَرَوَى أَبُو إِسْمَاعِيلَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ التِّرْمِذِيُّ، أَنْبَأَنَا بشْر بْنُ عُبَيد الدَّارِمِيُّ، حَدَّثَنَا عَمّار بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنِ الْمَسْعُودِيِّ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَة، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إنَّ اللَّهَ أمَرَنِي بِمُدَارَاةِ النَّاس كَمَا أمَرني بِإقَامَة الْفَرَائِضِ" Abu Ismail Muhammad ibnu Ismail At-Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Ubaid, telah menceritakan ke-pada kami Ammar ibnu Abdur Rahman, dari Al-Mas'udi, dari Abu Mulaikah, dari Siti Aisyah r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepadaku agar bersikap lemah lembut terhadap manusia sebagaimana Dia memerintahkan kepadaku untuk mengerjakan hal-hal yang fardu. Hadis ini berpredikat garib. *******************
Dalam firman selanjutnya disebutkan: فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. (Ali Imran: 159) Karena itulah Rasulullah Saw. selalu bermusyawarah dengan mereka apabila menghadapi suatu masalah untuk mengenakkan hati mereka, agar menjadi pendorong bagi mereka untuk melaksanakannya. Seperti musyawarah yang beliau lakukan dengan mereka mengenai Perang Badar, sehubungan dengan hal mencegat iring-iringan kafilah kaum musyrik. Maka mereka mengatakan: Wahai Rasulullah, seandainya engkau membawa kami ke lautan, niscaya kami tempuh laut itu bersamamu; dan seandainya engkau membawa kami berjalan ke Barkil Gimad (ujung dunia), niscaya kami mau berjalan bersamamu. Dan kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti apa yang dikatakan oleh kaum Musa kepada Musa, "Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya tetap duduk di sini," melainkan kami katakan, "Pergilah dan kami selalu bersamamu, di hadapanmu, di sebelah kananmu, dan di sebelah kirimu dalam keadaan siap bertempur." Nabi Saw. mengajak mereka bermusyawarah ketika hendak menentukan posisi beliau saat itu, pada akhirnya Al-Munzir ibnu Amr mengisyaratkan (mengusulkan) agar Nabi Saw. berada di hadapan kaum (pasukan kaum muslim).
Nabi Saw. mengajak mereka bermusyawarah sebelum Perang Uhud, apakah beliau tetap berada di Madinah atau keluar menyambut kedatangan musuh. Maka sebagian besar dari mereka mengusulkan agar semuanya berangkat menghadapi mereka. Lalu Nabi Saw. berangkat bersama pasukannya menuju ke arah musuh-musuhnya berada. Nabi Saw. mengajak mereka bermusyawarah dalam Perang Khandaq, apakah berdamai dengan golongan yang bersekutu dengan memberikan sepertiga dari hasil buah-buahan Madinah pada tahun itu. Usul itu ditolak oleh dua orang Sa'd, yaitu Sa'd ibnu Mu'az dan Sa'd ibnu Ubadah. Akhirnya Nabi Saw. menuruti pendapat mereka. Nabi Saw. mengajak mereka bermusyawarah pula dalam Perjanjian Hudaibiyah, apakah sebaiknya beliau bersama kaum muslim menyerang orang-orang musyrik. Maka Abu Bakar As-Siddiq berkata, "Sesungguhnya kita datang bukan untuk berperang, melainkan kita datang untuk melakukan ibadah umrah." Kemudian Nabi Saw. memperkenankan pendapat Abu Bakar itu. Dalam peristiwa hadisul ifki (berita bohong),
Nabi Saw. bersabda: «أَشِيرُوا عَلَيَّ مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ فِي قَوْمٍ أَبَنُوا أَهْلِي وَرَمَوْهُمْ، وَايْمُ اللَّهِ مَا عَلِمْتُ عَلَى أَهْلِي مِنْ سُوءٍ وَأَبَنُوهُمْ بِمَنْ؟ وَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ عَلَيْهِ إِلَّا خَيْرًا» Hai kaum muslim, kemukakanlah pendapat kalian kepadaku tentang suatu kaum yang telah mencemarkan keluargaku dan menuduh mereka berbuat tidak senonoh. Demi Allah, aku belum pernah melihat suatu keburukan pun pada diri keluargaku, lalu dengan siapakah mereka berbuat tidak senonoh. Demi Allah, tiada yang aku ketahui kecuali hanya kebaikan belaka.
Lalu beliau meminta pendapat kepada sahabat Ali dan sahabat Usamah tentang menceraikan Siti Aisyah r.a. Nabi Saw. bermusyawarah pula dengan mereka dalam semua peperangannya, juga dalam masalah-masalah lainnya. Para ahli fiqih berbeda pendapat mengenai masalah, apakah musyawarah bagi Nabi Saw. merupakan hal yang wajib ataukah hanya dianjurkan (disunatkan) saja untuk mengenakkan hati mereka (para sahabatnya)? Sebagai jawabannya ada dua pendapat. Imam Hakim meriwayatkan di dalam kitab Mustadrak-nya, telah menceritakan kepada kami Abu Ja'far Muhammad ibnu Muhammad Al-Bagdadi, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Ayyub Al-Allaf di Mesir, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Amr ibnu Dinar, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: dan bermusyawarahlah kamu dengan mereka dalam urusan itu. (Ali Imran: 159)
Yang dimaksud dengan mereka ialah sahabat Abu Bakar dan sahabat Umar r.a kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa asar ini sahih dengan syarat Syaikhain, tetapi keduanya tidak mengetengahkannya. Hal yang sama diriwayatkan oleh Al-Kalbi, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Bakar dan Umar. Keduanya adalah penolong Rasulullah Saw. dan sebagai wazir (patih)nya serta sekaligus sebagai kedua orang tua kaum muslim. قَدْ رَوَى الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا وَكِيع، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ، عَنْ شَهْرَ بْنِ حَوْشَب، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَنْم أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِأَبِي بَكْرٍ وَعُمْرَ: "لوِ اجْتَمَعْنا فِي مَشُورَةٍ مَا خَالَفْتُكُمَا"
Imam Ahmad meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid, dari Syahr ibnu Hausyab, dari Abdur Rahman ibnu Ganam, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda kepada Abu Bakar dan Umar: Seandainya kamu berdua berkumpul dalam suatu musyawarah, aku tidak akan berbeda denganmu. Ibnu Murdawaih meriwayatkan melalui sahabat Ali ibnu Abu Talib yang pernah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya mengenai azam (tekad bulat). Maka beliau bersabda: «مُشَاوَرَةُ أَهْلِ الرَّأْيِ ثُمَّ اتِّبَاعُهُمْ» Meminta pendapat dari ahlur rayi, kemudian mengikuti pendapat mereka. قَالَ ابْنُ مَاجَهْ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ عَنْ شَيْبَانَ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمير، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "المُسْتَشَارُ مُؤْتَمَنٌ".
Ibnu Majah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Bukair, dari Sufyan, dari Abdul Malik ibnu Umair, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Penasihat adalah orang yang dipercaya. Imam Abu Daud dan Imam Turmuzi meriwayatkannya pula melalui hadis Abdul Malik dengan konteks yang lebih panjang daripada hadis di atas, dan dinilai hasan oleh Imam Nasai. قَالَ ابْنُ مَاجَهْ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ، عَنْ شَرِيكٍ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي عَمْرو الشَّيْبَانِيِّ، عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "المُسْتَشَارُ مُؤْتَمَنٌ".
Ibnu Majah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Aswad ibnu Amir, dari Syarik, dari Al-A'masy, dari Abu Amr Asy-Syaibani, dari ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Penasihat adalah orang yang dipercaya. Imam Ibnu Majah menyendiri dalam periwayatan hadis ini dengan sanad tersebut. حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ زَكَرِيَّا بْنِ أَبِي زَائِدَةَ وَعَلِيُّ بْنُ هَاشِمٍ، عَنِ ابْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "إذَا اسْتَشَارَ أحَدُكُمْ أخَاهُ فَليشِر عليْهِ. ia mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Zakaria ibnu Abu Zaidah dan Ali ibnu Hasyim, dari Ibnu Abu Laila, dari Abuz Zubair, dari Jabir yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Apabila seseorang di antara kalian meminta nasihat kepada saudaranya, maka hendaklah saudaranya itu memberikan nasihat (saran) kepadanya.
Isnin, 2 April 2018
AYAT 155-158
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK''
SURAH ALI-IMRAN-JUZ-4
BIS-MIL-LAA-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM.'''
Ayat 155-158: Menanamkan jiwa berkorban dan berjihad, larangan menyerupai orang-orang munafik, menerima syubhat mereka, dan bantahan terhadap syubhat mereka
Ayat 155 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 155 Innal lazina tawallau yaumal taqal jam'a_n(i), innamastazallahumusy syaita_nu bi ba'di ma_ kasabu_, wa laqad 'afalla_hu'anhum, innalla_ha gafu_run halim(un). 3:156 Ayat 156 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 156 Ya_ ayyuhal lazina a_manu_ la_ taku_nu_ kallazina kafaru_ wa qa_lu_ li ikhwa_nihim iza_ darabu_ fil ardi au ka_nu_ guzzal lau ka_nu_ 'indana_ ma_ ma_tu_ wa ma_ qutilu_, liyaj'alalla_hu za_lika hasratan fi qulu_bihim, walla_hu yuhyi wa yumit(u), walla_hu bima_ ta'malu_na basir(un). 3:157 Ayat 157 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 157 Wa la'in qutiltum fi sabililla_hi au muttum lamagfiratum minalla_hi wa rahmatun khairum mimma_ yajma'u_n(a). 3:158 Ayat 158 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 158 Wa la'im muttum au qutiltum la ilalla_hi tuhsyaru_n(a). 3:159
إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا وَلَقَدْ عَفَا اللَّهُ عَنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ (155) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ كَفَرُوا وَقَالُوا لِإِخْوَانِهِمْ إِذَا ضَرَبُوا فِي الْأَرْضِ أَوْ كَانُوا غُزًّى لَوْ كَانُوا عِنْدَنَا مَا مَاتُوا وَمَا قُتِلُوا لِيَجْعَلَ اللَّهُ ذَلِكَ حَسْرَةً فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (156) وَلَئِنْ قُتِلْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (157) وَلَئِنْ مُتُّمْ أَوْ قُتِلْتُمْ لَإِلَى اللَّهِ تُحْشَرُونَ (158)
Artinya: 155: Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu , hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi ma'af kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.
156: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: "Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh." Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan.
157: Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal , tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan.
158: Dan sungguh jika kamu meninggal atau gugur, tentulah kepada Allah saja kamu dikumpulkan.
Makna umum ayat: 155: Di ayat ini, Allah ingin memberitahukan kepada hamba-Nya bahwa sebab kekalahan mukminin di perang Uhud itu bukan hanya sebab yang bisa dilihat oleh panca indra saja, seperti yang telah disebutkan dalam ayat 152, tetapi juga ada sebab yang tidak terlihat. Sebab tak terlihat tersebut adalah syaithan. Syaithan mendorong atau menjadikan mukminin terjerumus dalam kesalahan melalui apa yang telah mukminin kerjakan sendiri. Saat itu, memang dalam diri mereka ada sesuatu yang tidak beres. Pasukan pemanah lihat ghanimah lalu lupa perintah Rasul. Kesempatan inilah yang digunakan oleh syaithan untuk menggoyahkan hati mukminin sehingga mereka lari dan meninggalkan pos yang ditentukan oleh Rasul untuk bertahan. Akan tetapi, meskipun mereka bersalah karena lari dalam perang (perlu diulangi, bahwa larinya mukminin dari perang Uhud itu bukan disebabkan karena nifaq atau ingin menjauhi Rasul. Tetapi karena naluri manusia untuk menghindari bahaya), mereka mau bertaubat kepada Allah, maka Allah pun mengampuni mereka. 156: Ayat ini berlaku bagi semua orang yang mengaku beriman. Kalau memang benar-benar beriman, maka seseorang tidak boleh meniru-niru orang kafir dalam segala aspek kehidupannya. Baik cara berpikir, budaya, apalagi prinsip hidup. Dalam ayat ini, yang dibahas adalah larangan meniru orang-orang kafir dalam menyikapi suatu kejadian. Di mana mereka tidak mengimani adanya qadha dan qadar Allah. Oleh karena itu, mereka mengatakan bahwa kalau saja orang-orang tidak pergiataukeluar untuk perang, mereka pasti akan tetap hidup dan tak akan mati atau terluka. Dengan kata lain mereka selalu mengandalkan hitungan akal semata, mereka tidak percaya adanya yang ghaib. Akibat sikap semacam itu. Allah menanamkan dalam hati mereka kesedihan dan penyesalan yang mendalam, karena banyak kejadian di luar kemampuan akal. Maka seorang mukmin harus menyakini, bahwa segala hal itu hanya di tangan Allah. Atas kuasa Allah. Hidup dan mati bukan atas kehendak manusia. Allah itu maha melihat segalanya. Amalan baik sekecil apapun tak akan disia-siakan oleh Allah. Pasti Allah akan memberi balasan bahkan dilipat gandakan. Sebagaimana Allah jelaskan di ayat lain, “Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." (QS. 12:90).
157: Allah menegaskan bahwa bila seseorang meninggal di jalan Allah (misal; berperang atau belajar din al-Islam) atau mati secara wajar (tidak dengan sebab apapun), maka jangan merasa rugi. Kenapa? Karena ia akan diampuni dan dirahmati oleh Allah. Ampunan dan rahmat Allah itu lebih baik dari apa yang orang-orang kafir kumpulkan dari segala harta di dunia ini. 158: Mati dengan cara apapun, semua pasti akan kembali kepada Allah. Kata (la`in) di sini ada lam taukid yang berfungsi sebagai penguat. Jadi, sebagai seorang mukmin harus berkeyakinan secara total bahwa siapa pun ia dengan cara apapun ia mati, semuanya akan kembali pada Allah untuk mendapatkan keadilan dan pembalasan atas amal perbuatannya selama di dunia. Sebagaimana dalam ayat lain, “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalanitu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. 21: 47). Penjelasan Ayat: 155: 1. Pekerjaan yang baik akan melahirkan pekerjaan baik. Begitu pula, pekerjaan yang buruk akan melahirkan pekerjaan yang buruk. Misalnya berbohong. Perbuatan bohong akan membuat pelakunya terus melakukan kebohongan berikutnya untuk menutupi kebenaran. 2. Al-Jahidz, seorang sastrawan Arab mengatakan, “Idza lam yusyghilka khoirun, syaghalaka syarrun. Kalau kamu tidak disibukkan dengan kebaikan, maka kamu akan disibukkan oleh keburukan. 3. Syaithan itu bisa menjerumuskan kita melalui kelemahan yang kita miliki. Maka, marilah kita berhati-hati! Jangan sampai kita menyepelekan suatu kemaksiatan dan menganggapnya wajar atau sah-sah saja dilakukan. Sebab bila demikian, maka lambat laun kita akan melakukan dosa yang merupakan kelanjutan dari kemaksiatan yang kita remehkan. 4. Allah Ta’ala itu Maha Bijaksana. Dia mencegah hamba-Nya jatuh pada perbuat dosa, dengan melarang hamba-Nya dari melakukan hal-hal yang membuatnya terdorong melakukan dosa. Misalnya Allah melarang zina. Allah juga melarang segala hal yang membuat orang dapat terjatuh untuk melakukan zina. Misalnya pacaran, berduaan dengan bukan mahram, dlsb. 5.Kalau kita mampu menahan bisikan-bisikan syaithan, supaya kita melakukan atau merasakan sesuatu yang tidak benar menurut Allah, maka lambat laun bisikan itu akan berhenti dengan sendirinya. Jadi sebisa mungkin kita berusaha agar syaithan tidak menjerumuskan kita karena kelakuan kita sendiri. Misalnya, hati dibisiki syaithan untuk mencuri. Bila bisikan itu tidak kita layani, maka dia akan hilang sendiri. Kita harus iringi dengan doa sepenuh hati, dan berusaha terus untuk menjaga kebersihan hati. 6. Kita harus iringi dengan doa sepenuh hati, dan berusaha terus untuk menjaga kebersihan hati. Di antaranya dengan selalu mendengarkan taushiah, menghadiri majlis ilmi dan mencari komunitas yang baik. 7. Taubat itu harus segera dilakukan. Kenapa? Karena dosa itu ibarat rantai yang akan terus menerus bersambungan dengan dosa-dosa yang lain. Bila tidak segera taubat, maka ikatan rantai tersebut akan semakin panjang dan akan menjadi sulit untuk diputus. 8. Hidup itu mempunyai gema. Apapun yang kita suarakan, kita pasti akan mendengar pantulan suara yang sama persis seperti suara kita. Begitu juga kehidupan ini. Bila kita memberi yang baik, maka kita akan mendapat balasan yang baik pula. Kalau memberi yang buruk, maka kita akan dapat yang buruk pula. 9. Allah selalu membuka kesempatan kepada siapapun yang mau kembali kepada-Nya. Tujuannya adalah supaya manusia mampu mengubah dirinya dan bangkit kembali dari keterpurukan. 156:
1. Kalimat ‘dharabuu fil ardhi’ diartikan dengan safar. Mengapa demikian, padahal dharaba arti asilnya adalah memukul? Sebab, biasanya orang kalau bersafar selalu menekan, menyentuh atau berpijak pada sesuatu. Kata ini kemudian menjadi istilah yang berarti bepergian. 2. Kita sebagai orang mukmin telah dimuliakan oleh Allah dengan berbagai fadhilah (keutamaan), lalu kenapa kita merendahkan diri kita sendiri dengan mengikuti orang kafir? Di antara keutamaan itu, Allah telah memberikan aturan hidup bagi orang mukmin. Maka, jangan sampai kita itu latah atau suka meniru orang kafir. 3. Di antara sikap orang kafir yang kita dilarang untuk mengikutinya adalah sikap meniadakan campur tangan Allah dalam sebuah kejadian yang terjadi. Ketika misalkan terjadi kegagalan atau musibah, mereka tidak pernah mengembalikan kepada Allah. Akibatnya mereka akan selalu dirundung kesedihan dan tidak pernah mendapatkan ketenangan jiwa. 4.Kita tak bisa menata takdir, misalnya hidup, mati atau rizki. Semuanya hanya Allah yang mengatur. Oleh karena itu, kita harus punya rasa tawakkal yang besar. Bila sudah merencanakan sesuatu dan merancangnya dengan matang, maka sikap seterusnya yang harus diambil adalah maju dan bertawakkal kepada Allah. Sikap orang mukmin selalu mengantungkan segala urusannya hanya pada Allah. Tidak takut dan gamang seperti orang kafir. Apapun resikonya, bila sudah dirancang dengan matang, maka orang yang mengaku beriman akan siap menerimanya. Dia yakin bahwa Allah pasti akan menolongnya. Dan semua itu membutuhkan kejujuran diri dengan Allah. Allah berkalam, “Tetapi jikalau mereka benar (jujur) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS.47: 21). Di antara bentuk kekujuran adalah mampu bersabar, bertaqwa dan menegakkan kebenaran dengan sebenar-benarnya. (QS. 3: 186, 31: 17, 42: 43). 5. Dalam ayat ini terdapat kalimat: hasratan fi qulubihim yang berarti, Allah menimbulkan rasa penyesalan, kesedihan yang sangat di dalam hati mereka. Lantas muncul pertanyaan: apakah ada sedih yang di luar hati? Memang tidak ada.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Ishaq As-Sailahini, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Samalah, dari Abu Sinan yang menceritakan, "Aku baru menguburkan salah seorang anakku yang meninggal dunia. Ketika aku masih berada di pekuburan, tiba-tiba tanganku dipegang oleh Abu Talhah Al-Aulani, lalu ia mengeluarkan aku dari pekuburan itu dan berkata kepadaku, 'Maukah engkau aku sampaikan berita gembira kepadamu?' Aku menjawab, 'Tentu saja mau'." Abu Talhah mengatakan bahwa telah menceritakan kepadanya Ad-Dahhak ibnu Abdur Rahman ibnu Auzab, dari Abu Musa yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Allah berfirman, "Hai malaikat maut, engkau telah mencabut anak hamba-Ku, engkau telah mencabut nyawa penyejuk mata dan buah hatinya!" Malaikat maut menjawab, "Ya." Allah Swt. bertanya, "Lalu apa yang dikatakannya?" Malaikat maut menjawab, "Dia memuji dan ber-istirja' kepada-Mu." Allah Swt. berfirman, "Bangunkanlah buatnya sebuah gedung di dalam surga dan namailah gedung itu dengan sebutan Baitul Hamdi (rumah pujian)."
SURAH ALI-IMRAN-JUZ-4
BIS-MIL-LAA-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM.'''
Ayat 155-158: Menanamkan jiwa berkorban dan berjihad, larangan menyerupai orang-orang munafik, menerima syubhat mereka, dan bantahan terhadap syubhat mereka
Ayat 155 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 155 Innal lazina tawallau yaumal taqal jam'a_n(i), innamastazallahumusy syaita_nu bi ba'di ma_ kasabu_, wa laqad 'afalla_hu'anhum, innalla_ha gafu_run halim(un). 3:156 Ayat 156 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 156 Ya_ ayyuhal lazina a_manu_ la_ taku_nu_ kallazina kafaru_ wa qa_lu_ li ikhwa_nihim iza_ darabu_ fil ardi au ka_nu_ guzzal lau ka_nu_ 'indana_ ma_ ma_tu_ wa ma_ qutilu_, liyaj'alalla_hu za_lika hasratan fi qulu_bihim, walla_hu yuhyi wa yumit(u), walla_hu bima_ ta'malu_na basir(un). 3:157 Ayat 157 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 157 Wa la'in qutiltum fi sabililla_hi au muttum lamagfiratum minalla_hi wa rahmatun khairum mimma_ yajma'u_n(a). 3:158 Ayat 158 Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 158 Wa la'im muttum au qutiltum la ilalla_hi tuhsyaru_n(a). 3:159
إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا وَلَقَدْ عَفَا اللَّهُ عَنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ (155) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ كَفَرُوا وَقَالُوا لِإِخْوَانِهِمْ إِذَا ضَرَبُوا فِي الْأَرْضِ أَوْ كَانُوا غُزًّى لَوْ كَانُوا عِنْدَنَا مَا مَاتُوا وَمَا قُتِلُوا لِيَجْعَلَ اللَّهُ ذَلِكَ حَسْرَةً فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (156) وَلَئِنْ قُتِلْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (157) وَلَئِنْ مُتُّمْ أَوْ قُتِلْتُمْ لَإِلَى اللَّهِ تُحْشَرُونَ (158)
Artinya: 155: Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu , hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi ma'af kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.
156: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: "Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh." Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan.
157: Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal , tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan.
158: Dan sungguh jika kamu meninggal atau gugur, tentulah kepada Allah saja kamu dikumpulkan.
Makna umum ayat: 155: Di ayat ini, Allah ingin memberitahukan kepada hamba-Nya bahwa sebab kekalahan mukminin di perang Uhud itu bukan hanya sebab yang bisa dilihat oleh panca indra saja, seperti yang telah disebutkan dalam ayat 152, tetapi juga ada sebab yang tidak terlihat. Sebab tak terlihat tersebut adalah syaithan. Syaithan mendorong atau menjadikan mukminin terjerumus dalam kesalahan melalui apa yang telah mukminin kerjakan sendiri. Saat itu, memang dalam diri mereka ada sesuatu yang tidak beres. Pasukan pemanah lihat ghanimah lalu lupa perintah Rasul. Kesempatan inilah yang digunakan oleh syaithan untuk menggoyahkan hati mukminin sehingga mereka lari dan meninggalkan pos yang ditentukan oleh Rasul untuk bertahan. Akan tetapi, meskipun mereka bersalah karena lari dalam perang (perlu diulangi, bahwa larinya mukminin dari perang Uhud itu bukan disebabkan karena nifaq atau ingin menjauhi Rasul. Tetapi karena naluri manusia untuk menghindari bahaya), mereka mau bertaubat kepada Allah, maka Allah pun mengampuni mereka. 156: Ayat ini berlaku bagi semua orang yang mengaku beriman. Kalau memang benar-benar beriman, maka seseorang tidak boleh meniru-niru orang kafir dalam segala aspek kehidupannya. Baik cara berpikir, budaya, apalagi prinsip hidup. Dalam ayat ini, yang dibahas adalah larangan meniru orang-orang kafir dalam menyikapi suatu kejadian. Di mana mereka tidak mengimani adanya qadha dan qadar Allah. Oleh karena itu, mereka mengatakan bahwa kalau saja orang-orang tidak pergiataukeluar untuk perang, mereka pasti akan tetap hidup dan tak akan mati atau terluka. Dengan kata lain mereka selalu mengandalkan hitungan akal semata, mereka tidak percaya adanya yang ghaib. Akibat sikap semacam itu. Allah menanamkan dalam hati mereka kesedihan dan penyesalan yang mendalam, karena banyak kejadian di luar kemampuan akal. Maka seorang mukmin harus menyakini, bahwa segala hal itu hanya di tangan Allah. Atas kuasa Allah. Hidup dan mati bukan atas kehendak manusia. Allah itu maha melihat segalanya. Amalan baik sekecil apapun tak akan disia-siakan oleh Allah. Pasti Allah akan memberi balasan bahkan dilipat gandakan. Sebagaimana Allah jelaskan di ayat lain, “Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." (QS. 12:90).
157: Allah menegaskan bahwa bila seseorang meninggal di jalan Allah (misal; berperang atau belajar din al-Islam) atau mati secara wajar (tidak dengan sebab apapun), maka jangan merasa rugi. Kenapa? Karena ia akan diampuni dan dirahmati oleh Allah. Ampunan dan rahmat Allah itu lebih baik dari apa yang orang-orang kafir kumpulkan dari segala harta di dunia ini. 158: Mati dengan cara apapun, semua pasti akan kembali kepada Allah. Kata (la`in) di sini ada lam taukid yang berfungsi sebagai penguat. Jadi, sebagai seorang mukmin harus berkeyakinan secara total bahwa siapa pun ia dengan cara apapun ia mati, semuanya akan kembali pada Allah untuk mendapatkan keadilan dan pembalasan atas amal perbuatannya selama di dunia. Sebagaimana dalam ayat lain, “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalanitu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. 21: 47). Penjelasan Ayat: 155: 1. Pekerjaan yang baik akan melahirkan pekerjaan baik. Begitu pula, pekerjaan yang buruk akan melahirkan pekerjaan yang buruk. Misalnya berbohong. Perbuatan bohong akan membuat pelakunya terus melakukan kebohongan berikutnya untuk menutupi kebenaran. 2. Al-Jahidz, seorang sastrawan Arab mengatakan, “Idza lam yusyghilka khoirun, syaghalaka syarrun. Kalau kamu tidak disibukkan dengan kebaikan, maka kamu akan disibukkan oleh keburukan. 3. Syaithan itu bisa menjerumuskan kita melalui kelemahan yang kita miliki. Maka, marilah kita berhati-hati! Jangan sampai kita menyepelekan suatu kemaksiatan dan menganggapnya wajar atau sah-sah saja dilakukan. Sebab bila demikian, maka lambat laun kita akan melakukan dosa yang merupakan kelanjutan dari kemaksiatan yang kita remehkan. 4. Allah Ta’ala itu Maha Bijaksana. Dia mencegah hamba-Nya jatuh pada perbuat dosa, dengan melarang hamba-Nya dari melakukan hal-hal yang membuatnya terdorong melakukan dosa. Misalnya Allah melarang zina. Allah juga melarang segala hal yang membuat orang dapat terjatuh untuk melakukan zina. Misalnya pacaran, berduaan dengan bukan mahram, dlsb. 5.Kalau kita mampu menahan bisikan-bisikan syaithan, supaya kita melakukan atau merasakan sesuatu yang tidak benar menurut Allah, maka lambat laun bisikan itu akan berhenti dengan sendirinya. Jadi sebisa mungkin kita berusaha agar syaithan tidak menjerumuskan kita karena kelakuan kita sendiri. Misalnya, hati dibisiki syaithan untuk mencuri. Bila bisikan itu tidak kita layani, maka dia akan hilang sendiri. Kita harus iringi dengan doa sepenuh hati, dan berusaha terus untuk menjaga kebersihan hati. 6. Kita harus iringi dengan doa sepenuh hati, dan berusaha terus untuk menjaga kebersihan hati. Di antaranya dengan selalu mendengarkan taushiah, menghadiri majlis ilmi dan mencari komunitas yang baik. 7. Taubat itu harus segera dilakukan. Kenapa? Karena dosa itu ibarat rantai yang akan terus menerus bersambungan dengan dosa-dosa yang lain. Bila tidak segera taubat, maka ikatan rantai tersebut akan semakin panjang dan akan menjadi sulit untuk diputus. 8. Hidup itu mempunyai gema. Apapun yang kita suarakan, kita pasti akan mendengar pantulan suara yang sama persis seperti suara kita. Begitu juga kehidupan ini. Bila kita memberi yang baik, maka kita akan mendapat balasan yang baik pula. Kalau memberi yang buruk, maka kita akan dapat yang buruk pula. 9. Allah selalu membuka kesempatan kepada siapapun yang mau kembali kepada-Nya. Tujuannya adalah supaya manusia mampu mengubah dirinya dan bangkit kembali dari keterpurukan. 156:
1. Kalimat ‘dharabuu fil ardhi’ diartikan dengan safar. Mengapa demikian, padahal dharaba arti asilnya adalah memukul? Sebab, biasanya orang kalau bersafar selalu menekan, menyentuh atau berpijak pada sesuatu. Kata ini kemudian menjadi istilah yang berarti bepergian. 2. Kita sebagai orang mukmin telah dimuliakan oleh Allah dengan berbagai fadhilah (keutamaan), lalu kenapa kita merendahkan diri kita sendiri dengan mengikuti orang kafir? Di antara keutamaan itu, Allah telah memberikan aturan hidup bagi orang mukmin. Maka, jangan sampai kita itu latah atau suka meniru orang kafir. 3. Di antara sikap orang kafir yang kita dilarang untuk mengikutinya adalah sikap meniadakan campur tangan Allah dalam sebuah kejadian yang terjadi. Ketika misalkan terjadi kegagalan atau musibah, mereka tidak pernah mengembalikan kepada Allah. Akibatnya mereka akan selalu dirundung kesedihan dan tidak pernah mendapatkan ketenangan jiwa. 4.Kita tak bisa menata takdir, misalnya hidup, mati atau rizki. Semuanya hanya Allah yang mengatur. Oleh karena itu, kita harus punya rasa tawakkal yang besar. Bila sudah merencanakan sesuatu dan merancangnya dengan matang, maka sikap seterusnya yang harus diambil adalah maju dan bertawakkal kepada Allah. Sikap orang mukmin selalu mengantungkan segala urusannya hanya pada Allah. Tidak takut dan gamang seperti orang kafir. Apapun resikonya, bila sudah dirancang dengan matang, maka orang yang mengaku beriman akan siap menerimanya. Dia yakin bahwa Allah pasti akan menolongnya. Dan semua itu membutuhkan kejujuran diri dengan Allah. Allah berkalam, “Tetapi jikalau mereka benar (jujur) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS.47: 21). Di antara bentuk kekujuran adalah mampu bersabar, bertaqwa dan menegakkan kebenaran dengan sebenar-benarnya. (QS. 3: 186, 31: 17, 42: 43). 5. Dalam ayat ini terdapat kalimat: hasratan fi qulubihim yang berarti, Allah menimbulkan rasa penyesalan, kesedihan yang sangat di dalam hati mereka. Lantas muncul pertanyaan: apakah ada sedih yang di luar hati? Memang tidak ada.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Ishaq As-Sailahini, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Samalah, dari Abu Sinan yang menceritakan, "Aku baru menguburkan salah seorang anakku yang meninggal dunia. Ketika aku masih berada di pekuburan, tiba-tiba tanganku dipegang oleh Abu Talhah Al-Aulani, lalu ia mengeluarkan aku dari pekuburan itu dan berkata kepadaku, 'Maukah engkau aku sampaikan berita gembira kepadamu?' Aku menjawab, 'Tentu saja mau'." Abu Talhah mengatakan bahwa telah menceritakan kepadanya Ad-Dahhak ibnu Abdur Rahman ibnu Auzab, dari Abu Musa yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Allah berfirman, "Hai malaikat maut, engkau telah mencabut anak hamba-Ku, engkau telah mencabut nyawa penyejuk mata dan buah hatinya!" Malaikat maut menjawab, "Ya." Allah Swt. bertanya, "Lalu apa yang dikatakannya?" Malaikat maut menjawab, "Dia memuji dan ber-istirja' kepada-Mu." Allah Swt. berfirman, "Bangunkanlah buatnya sebuah gedung di dalam surga dan namailah gedung itu dengan sebutan Baitul Hamdi (rumah pujian)."
Langgan:
Catatan (Atom)
JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN
JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN
-
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK; SURAH ALI-IMRAN JUZ-4 BISS-,MILLAA-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM,.; Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 154 Summa a...
-
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK' SURAH MUHAMAD AYAT 21-22 BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM'' 22. fahal ‘asaytum in tawallaytum an t...
-
JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN