TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK,
Ayat 42
Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 42
Wa iz qa_latil mala_'ikatu ya_ maryamu innalla_hastafa_ki wa tahharaki wastafa_ki 'ala_ nisa_'il 'a_lamin(a).
وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ
Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).
Untuk mentaati-Nya.Yaitu dari akhlak yang buruk.mensuci kan kamu di sini bermaksut allah inggin menjadikan mariam seorang ibu kepada nabi bagi umat nya dan kaum nya.,,.pada waktu itu mariam seorang wanita yang soleh dan suci dari kesan kesan zina dan maksiat pada tubuh badan nya,. sebab itu lah allah memilih mariam bagi menjadikan wanita diantara wanita wanita syurga dan melahirkan seorang anak yang akan memimpin dunia dan sebagai roh allah.,
Bisa pada masa itu dan bisa juga secara mutlak di setiap masa.
Di dalam hadits, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Imam Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Zanjawaih, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Qatadah, dari Anas, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Cukuplah bagimu dari wanita di dunia ini dengan Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, dan Asiah istri Fir'aun.
Rasulullah Saw. telah bersabda: Sebaik-baik wanita yang naik unta ialah wanita Quraisy, paling penyayang kepada anak semasa masih bayi, dan paling memelihara kehormatan diri suami, sedangkan Maryam binti Imran belum pernah naik unta sama sekali.
Allah Swt. menceritakan khitab malaikat yang ditujukan kepada Maryam a.s. atas perintah dari Allah Swt. yang isinya menyatakan bahwa Allah Swt. telah memilihnya menjadi wanita yang terpilih, karena ibadahnya yang banyak, zuhudnya, kemuliaannya, dan kesuciannya dari semua kotoran dan godaan setan. Allah memilihnya kembali dari suatu waktu ke waktu yang lain karena kemuliaan yang dimilikinya berada di atas semua wanita di dunia (pada masanya).
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Adam Al-Asqalani, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Murrah; ia pernah mendengar Murrah Al-Hamdani menceritakan hadis berikut dari Abu Musa Al-Asy'ari yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Telah mencapai kesempurnaan orang-orang banyak dari kalangan kaum lelaki, tetapi tidak ada yang mencapai kesempurnaan dari kalangan kaum wanita selain Maryam binti Imran dan Asiah istri Fir'aun.
Jamaah menceritakan pula hadis ini selain Imam Abu Daud melalui berbagai jalur dari Syu'bah dengan lafaz yang sama.
Lafaz yang diketengahkan oleh Imam Bukhari adalah seperti berikut:
"كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلا آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَمَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَإنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ ".
Banyak dari kaum lelaki yang mencapai tingkat kesempurnaan, tetapi dari kalangan kaum wanita tidak ada yang mencapai tingkat kesempurnaan kecuali Asiah istri Fir'aun dan Maryam binti Imran, dan sesungguhnya keutamaan Aisyah dibandingkan dengan wanita-wanita lainnya sama dengan keutamaan makanan Sarid di atas semua jenis makanan.
Kami memerincikan hadis ini berikut semua lafaznya dalam kisah Isa ibnu Maryam a.s. di dalam kitab kami yang berjudul Al-Bidayah wan Nihayah.
Ahad, 18 Februari 2018
Sabtu, 17 Februari 2018
ayat 38-41
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK,
Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 38Huna_lika da'a_ zakariyya_ rabbah(u_), qa_la rabbi hab li mil ladunka zurriyyatan tayyibah(tan),innaka sami'ud du'a_'(i).Fa na_dathul mala_'ikatu wa huwa qa_'imuy yusalli fil mihra_b(i), annalla_ha yubasysyiruka bi yahya_ musaddiqam bi kalimatim minalla_hi wa sayyidaw wa husu_raw wa nabiyyam minas sa_lihin(a).Qa_la rabbi anna_ yaku_nu li gula_muw wa qad balaganiyal kibaru wamra'ati 'a_qir(un), qa_la kaza_likalla_hu yaf'alu ma_ yasya_'(u). Qa_la rabbij'al li a_yah(tan), qa_la a_yatuka alla_ tukalliman na_sa sala_sata ayya_min illa_ ramza_(n), wazkur rabbaka kasiraw wa sabbih bil'asyiyyi wal ibka_r(i). “
Di sanalah Zakariya berdo’a kepada Rabb-nya seraya berkata: ‘Ya Rabbku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Mahamendengar do’a “. (QS. 3:38) Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): ‘Sesungguhnya Allah menggembirakanmu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang shalih.’ (QS. 3:39) Zakariya berkata: ‘Ya Rabbku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang mandul.’ Allah berfirman: ‘Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya’. (QS. 3:40) Berkata Zakariya: ‘Berilah aku suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung).’ Allah berfirman: ‘Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Rabbmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.’” 41.
{هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ (38) فَنَادَتْهُ الْمَلائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ (39) قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلامٌ وَقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَأَتِي عَاقِرٌ قَالَ كَذَلِكَ اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ (40) قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِي آيَةً قَالَ آيَتُكَ أَلا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلاثَةَ أَيَّامٍ إِلا رَمْزًا وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالإبْكَارِ (41) }
Ketika Zakariya melihat bahwa Allah telah memberikan rizki kepada Maryam berupa buah-buahan musim dingin pada musim kemarau dan buah-buahan musim kemarau pada musim dingin, maka pada saat itu ia berkeinginan keras untuk mendapatkan seorang anak meskipun sudah tua, tulang-tulangnya sudah mulai rapuh dan rambutnya pun telah memutih, sedang isterinya sendiri juga sudah tua dan bahkan mandul. Namun demikian, ia tetap memohon kepada Rabbnya dengan suara yang lembut seraya berdo’a: Rabbi Hablii mil ladunka (“Ya Rabb-ku, berikanlah kepadaku dari sisi Mu.”) Yakni dari-Mu, dzurriyyatan thayyiban (“Seorang anak yang baik.”) Maksudnya adalah anak yang shalih. Innaka samii’ud du’aa’ (“Sesungguhnya Engkau Mahamendengar doa.”) Dia berfirman, fanaadatHul malaa-ikatu wa Huwa qaa-imuy yushallii fil mihraabi (“Kemudian Malaikat [Jibril] memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab.”) Maksudnya, Malaikat menyerukan kepadanya dengan seruan yang didengar olehnya, sedang pada saat itu ia dalam keadaan berdiri mengerjakan shalat di mihrab, tempat di mana ia beribadah, menyendiri, bermunajat, dan mengerjakan shalat. Lalu Allah memberitahukan kabar gembira yang disampaikan oleh Malaikat, “Sesungguhnya Allah menggembirakanmu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya.” Yaitu dengan seorang anak yang lahir dari tulang sulbimu yang diberi nama Yahya. Qatadah dan yang lainnya berkata, “Diberi nama Yahya, karena Allah menghidupkannya dengan keimanan.” Firman-Nya, mushaddiqam bikalimaatim minallaaHi (“Yang membenarkan kalimat [yang datang] dari Allah.”) Mengenai firman-Nya di atas ini, al-‘Aufi dan selainnya meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dan juga al-Hasan, Qatadah, `Ikrimah, Mujahid, Abu asy-Sya’tsa’, as-Suddi, ar-Rabi’ bin Anas, adh-Dhahhak, dan yang lainnya berkata tentang ayat ini, bahwa yang dimaksudkan dengan, Kalimat yang datang dari Allah’ adalah `Isa bin Maryam. Ar-Rabi’ bin Anas berkata: “Dia (Yahya) adalah orang yang pertama kali percaya akan datangnya `Isa bin Maryam. Dan Qatadah berkata, “(Dia Yahya) diatas Sunnah dan manhajnya.” Sedangkan Ibnu Juraij meriwayatkan, mengenai firman-Nya: mushaddiqam bikalimaatim minallaaHi (“Yang membenarkan kalimat [yang datang] dari Allah.”) Ibnu `Abbas berkata: “Yahya dan `Isa adalah saudara sepupu. Dan Yahya adalah orang yang pertama kali membenarkan `Isa. Dan kalimat Allah yang dimaksud adalah `Isa itu sendiri. Yahya itu lebih tua daripada `Isa. Hal yang sama juga dikatakan oleh as-Suddi. Firman-Nya: wa sayyidan (“Menjadi panutan.”) Abul `Aliyah, ar-Rabi’ bin Anas, Qatadah, Sa’id bin Jubair, dan selain mereka berkata: “Yaitu, yang penyantun.” Sedangkan Qatadah berkata: “Ia itu sebagai panutan dalam (hal) ilmu dan ibadah.” Ibnu ‘Abbas, ats-Tsauri, dan adh-Dhahhak berkata: “Sayyidan berarti yang santun dan penuh ketakwaan.” Sa’id bin al-Musayyab berkata: “Sayyidan berarti orang yang sangat faham dan berilmu.” Dan ‘Athiyyah berkata: “Ia adalah panutan dalam (hal) akhlak dan agamanya.” ‘Ikrimah berkata: “la adalah orang yang tidak pemah dikendalikan oleh amarah.” Sedangkan Ibnu Zaid berkata: “Maksudnya adalah orang yang mulia.” Dan Mujahid serta ulama yang lain berkata: “Artinya adalah, yang mulia di sisi Allah.” Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Hammad dan Muhammad Ibnu Salimah Al-Muradi; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj ibnu Sulaiman Al-Muqri, dari Al-Lais ibnu Sa'd, dari Muhammad ibnu Ajlan, dari Al-Qa'qa', dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: «كُلُّ ابْنِ آدَمَ يَلْقَى اللَّهَ بذنب يُعَذِّبُهُ عَلَيْهِ إِنْ شَاءَ أَوْ يَرْحَمُهُ، إِلَّا يَحْيَى بْنَ زَكَرِيَّا فَإِنَّهُ كَانَ سَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ» Semua anak Adam menghadap kepada Allah dengan membawa dosa yang jika Allah menghendaki, Dia pasti mengazabnya karena dosanya itu atau Allah membelaskasihaninya, kecuali Yahya ibnu Zakaria. Karena sesungguhnya dia adalah orang yang menjadi ikutan, menahan diri (dari pengaruh hawa nafsu), dan seorang nabi serta dari keturunan orang-orang yang saleh. Kemudian Nabi Saw. membungkukkan tubuhnya ke arah sebuah kerikil kecil di tanah, lalu mengambilnya, kemudian bersabda: «وكان ذكره مثل هذه القذاة» Dan tersebutlah bahwa kemaluan dia (Yahya) kecil sekali seperti batu kerikil kecil ini. Firman-Nya: wa hashuuran (“Yang menahan diri.”) Dalam kitabnya, asy-Syifa’, al-Qadhi ‘Iyadh berkata: “Ketahuilah bahwa pujian Allah pada Yahya bahwa ia sebagai “hashuuran” bukanlah seperti yang dikemukakan oleh sebagian orang, di antara mereka menyebutkan bahwa Yahya itu tidak memiliki kemaluan. Pendapat ini secara tegas ditentang oleh para ahli tafsir yang terkemuka dan ulama yang kritis. Dalam hal ini mereka berkata: “Penafsiran seperti itu merupakan suatu kekurangan dan aib serta tidak layak bagi para Nabi. Dan makna yang benar adalah, bahwa Yahya itu ma’shum (terpelihara) dari perbuatan dosa, seakan-akan Yahya itu dibentengi dari dosa.” Ada juga yang berpendapat, bahwa Yahya itu menahan dirinya dari nafsu syahwat. Dari sini, tampak bahwa ketidakmampuan untuk menikah itu merupakan suatu kekurangan. Dan yang merupakan keutamaan adalah adanya kemampuan dalam menikah, namun Yahya menolaknya, baik karena melalui mujahadah (usaha keras) seperti yang dilakukan `Isa as. maupun karena diberikan kemampuan oleh Allah untuk melakukan hal tersebut, seperti yang dialami oleh Yahya sendiri. Menikah itu bagi orang yang mampu dan sanggup menunaikan semua kewajiban yang timbul akibat menikah dengan tidak melalaikan kewajiban kepada Rabb-nya adalah merupakan derajat yang tinggi, yaitu derajat yang diperoleh Nabi Muhammad, yang dengan isteri-isteri yang dimilikinya, beliau tidak pernah lalai untuk beribadah kepada Allah. Bahkan hal itu menjadikan beliau bertambah ibadahnya, yaitu dengan memelihara mereka, menunaikan kewajiban kepada mereka, memberikan nafkah, serta memberikan bimbingan kepada mereka. Bahkan secara tegas beliau menyatakan bahwa isteri itu bukan bagian yang diperoleh dari dunianya, meski ia merupakan bagian dunia bagi orang lain.” Lalu beliau bersabda: “Allah menjadikan aku mencintai sebagian dari urusan dunia kalian.” Maksud dari ungkapan itu adalah, bahwa beliau memuji Yahya sebagai orang yang terpelihara. Yang demikian itu bukan karena tidak menggauli wanita, melainkan karena ia ma’shum, terpelihara dari berbagai macam perbuatan keji dan kotor. Dan kema’shumannya itu tidak menghalanginya untuk menikahi, mencumbui, dan menjadikan hamil wanita yang halal baginya. Bahkan dapat difahami lahirnya keturunan baginya melalui do’a yang dipanjatkan Zakariya di atas, di mana Zakariya berdo’a, “Berikanlah kepadaku dari sisi-Mu seorang anak yang baik.” Seolah-olah ia (Zakariya) mengucapkan: “Seorang anak yang memiliki anak cucu, keturunan, dan pengganti.” Wallahu a’lam. Firman-Nya, wa nabiyyam minash shaalihiin (“Dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang yang shalih.”) Ini merupakan kabar gembira kedua, yaitu berita pengangkatan Yahya sebagai Nabi setelah berita gembira sebelumnya, yaitu kelahiran Yahya. Berita kedua ini lebih tinggi kedudukannya daripada berita pertama, sebagaimana firman-Nya kepada ibunya Musa, “Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang dari para Rasul,” (QS. Al-Qashash : 7) Pada saat Zakariya meyakini berita gembira ini, maka ia merasa heran terhadap lahirnya anak dari dirinya setelah usia tua. Rabbi innii yakuunu lii ghulaamuw wa laqad balaghaniyal kibaru wam ra-atii ‘aaqir. Qaala (“Zakariya berkata: ‘Ya Rabbku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang mandul.’ Ia berkata,”) yaitu malaikat: kadzaalikallaaHu yaf’alu maa yasyaa-u (“demikianlah Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya”) artinya, demikian itulah urusan Allah yang besar [agung] itu, tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan [tidak mampu diperbuat]Nya, dan tidak ada suatu hal [perkara] yang memberatkan-Nya. Qaala rabbij’al lii aayaH (“Zakaria berkata, ‘Berikanlah kepadaku suatu tanda [bahwa istriku hamil]”) yaitu tanda yang menunjukkan akan lahirnya seorang anak dariku. Qaala aayatuka allaa tukallimannaasa tsalaatsata ayyaamin illaa ramzan (“Allah berfirman, ‘Tandanya bagimu adalah kamu tidak bisa berkata-kata kepada manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat.’”) yakni hanya berupa isyarat karena kamu tidak bisa berbicara, padahal pada saat itu engkau dalam keadaan sehat dan normal, sebagaimana dalam firman-Nya: tsalaatsa layaalin sawiyyan (“Selama tiga malam, padahal kamu sehat.”)(Maryam: 10) Kemudian Allah menyuruhnya untuk banyak berdzikir, bertakbir dan bertasbih dalam keadaan seperti itu. Maka Dia pun berfirman: wadz-kur rabbaka katsiiraw wa sabbih bil ‘asyiyyi wal ibkaar (“Dan sebutlah [nama] Rabb-mu sebanyak-banyaknya serta bertasbih di waktu petang dan pagi hari.”) akan dikemukakan dari sisi lain dalam pembahasan masalah ini pada surah Maryam, insyaa Allaah.
Jumaat, 16 Februari 2018
AYAT 36
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK,
Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 36
Falamma_ wada'atha_ qa_lat rabbi inni wada'tuha_ unsa_, walla_hu a'lamu bima_ wada'at, wa laisaz zakaru kal unsa_, wa inni sammaituha_ maryama wa inni u'izuha_ bika wa zurriyyataha_ minasy syaita_nir rajim(i).Fataqabbalaha_ rabbuha_ bi qabu_lin hasaniw wa ambataha_ naba_tan hasana_(n), wa kaffalaha_ zakariyya_, kullama_ dakhala 'alaiha_ zakariyyal mihra_b(a), wajada 'indaha_ rizqa_(n), qa_la ya_ maryamu anna_ laki ha_za_, qa_lat huwa min 'indilla_h(i), innalla_ha yarzuqu may yasya_'u bi gairi hisa_b(in).
36 Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk."37 Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah." Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.
فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَىٰ ۖ وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۖ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Tiada seorang bayi pun melainkan setan telah mencubitnya sekali atau dua kali, kecuali Isa ibnu Maryam dan Maryam sendiri. Kemudian Rasulullah Saw. membacakan firman-Nya: Dan sesungguhnya aku melindungkannya serta anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari setan yang terkutuk. (Ali Imran: 36)Dalam hadits shahih juga disebutkan, ketika Abu Usaid datang kepada Rasulullah dengan membawa puteranya agar beliau mentahniknya, tetapi beliau lupa, lalu ayahnya diperintahkan (oleh orang-orang) untuk mentahniknya sendiri, maka Abu Usaid membawanya ke rumah mereka. Dan ketika Rasulullah ingat ketika di suatu majelis, maka beliau menamainya al-Mundzir. Sedangkan hadits dari Qatadah, dari al-Hasan al-Bashri, dari Samurah bin Jundub, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Setiap anak itu tergadai oleh aqiqahnYa, disembelih untuk (aqiqah)nya pada hari ketujuh, kemudian diberi nama dan dicukur rambutnya.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan semua penulis kitab Sunan, dan disahihkan oleh Imam at-Tirmidzi.) Dan firman-Nya yang memberitahukan tentang ibunya Maryam, di mana ia berkata, wa innii u-‘iidzuHaa bika wa dzurriyyataHaa minasy-syaithaanir rajiim (“Dan aku memohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan)-Mu dari syaitan yang terkutuk.”) Yakni, aku memohon perlindungan untuk Maryam kepada Allah dari kejahatan syaitan, dan juga untuk keturunannya, `Isa as. Maka Allah swt. mengabulkan do’anya itu. Sebagaimana ‘Abdurrazzaq meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada seorang anak pun yang dilahirkan, melainkan disentuh oleh syaitan ketika ia dilahirkan, sehingga dia menangis kencang akibat sentuhannya itu, kecuali Maryam dan puteranya, (`Isa).” Setelah itu Abu Hurairah ra. berkata: “Jika kalian menghendaki, bacalah: wa innii u-‘iidzuHaa bika wa dzurriyyataHaa minasy-syaithaanir rajiim [Dan aku memohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan)-Mu dari syaitan yang terkutuk.]’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari hadits ‘Abdurrazzaq). Juga dari hadis Al-Ala, dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Iman Muslim meriwayatkannya dari Abut Tahir, dari Ibnu Wahb, dari Amr ibnul Haris, dari Abu Yunus, dari Abu Hurairah. Ibnu Wahb meriwayatkannya pula dari Ibnu Abu Zi-b, dari Ajlan maula Al-Musyma'il, dari Abu Hurairah. Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkannya dari Yazid ibnu Abdullah ibnu Qasit, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. dengan pokok hadisnya. Hal yang sama diriwayatkan oleh Al-Lais ibnu Sa'd, dari Ja'far ibnu Rabi'ah, dari Abdur Rahman ibnu Hurmuz Al-A'raj yang mengatakan, Abu Hurairah pernah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:
"كُلُّ بَنِي آدَمَ يَطْعنُ الشَّيْطَانُ فِي جَنْبِه حِينَ تَلِدهُ أمُّهُ، إِلَّا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ، ذَهَبَ يَطْعَنُ فَطَعَنَ فِي الحِجَاب"
Semua anak Adam pernah ditusuk oleh setan pada lambungnya ketika dilahirkan oleh ibunya, kecuali Isa ibnu Maryam; setan pergi untuk menusuknya, tetapi yang ditusuknya hanyalah hijab (penghalang). Rabb kita memberitahukan bahwa Dia menerima Maryam dari ibunya sebagai orang yang dinadzarkan dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik. Yaitu, Dia besarkan ia sebagai orang yang dewasa yang enak dipandang serta menyertakan kepadanya beberapa unsur yang menyebabkan ia diterima. Dan Dia memberinya teman dari orang-orang shalih supaya ia dapat belajar ilmu, kebaikan dan agama dari mereka. Oleh karena itu Dia berfirman, “Dan Dia menjadikan Zakariya sebagai pemelihara. “Dengan ditasydidnya huruf fa’ dan dinashabkan kata Zakariya sebagai objek, artinya, Allah menjadikan Zakariya sebagai orang yang bertanggung jawab atas dirinya. Wallahu a’lam. Ditetapkan Zakariya sebagai penanggung jawab itu tidak lain adalah untuk kebahagiaannya supaya ia dapat mengambil ilmu yang banyak dan bermanfaat serta amal shalih darinya (Zakariya), selain karena Zakariya itu sendiri adalah suami saudara perempuan Maryam. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih: “Ternyata Yahya dan `Isa itu adalah saudara sepupu.” Dan telah disebutkan dalam sebuah hadits shahih, bahwa Rasulullah memutuskan dalam kasus `Imarah binti Hamzah bahwa is diserahkan ke dalam pemeliharaan bibinya, isteri Ja’far bin Abi Thalib, dan beliau bersabda: “Bibi itu berkedudukan sebagai ibu.” Kemudian Allah swt. memberitahukan keutamaan dan kesungguhan Maryam dalam beribadah, di mana Dia berfirman, kullamaa dzakhala ‘alaiHaa zakariyyal mihraaba wajada ‘indaHaa rizqan (“Setiapkali Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya.”) Mujahid, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Abu asy-Sya’tsa’, Ibrahim an-Nakha’i, adh-Dhahhak, Qatadah, ar-Rabi’ bin Anas, ‘Athiyyah al-‘Aufi, dan as-Suddi berkata: “Yakni, dia mendapatkan di sisi Maryam buah-buahan musim panas pada musim dingin dan buah-buahan musim dingin pada musim panas (kemarau). Dalam hal itu terdapat bukti tentang adanya karamah pada para wali. Ada banyak hadits semisal dengan makna tersebut. Dan ketika Zakariya mendapatkan makanan tersebut di sisi Maryam, maka: qaala yaa maryamu annaa laki Haadzaa (“Zakariya bertanya: `Wahai Maryam, dari mana engkau memperoleh makanan ini?’”) Artinya, dari mana makanan-makanan ini engkau dapatkan, hai Maryam? Maka, “Maryam menjawab: ‘Makanan itu dari sisi Allah.’ Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.”
Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 36
Falamma_ wada'atha_ qa_lat rabbi inni wada'tuha_ unsa_, walla_hu a'lamu bima_ wada'at, wa laisaz zakaru kal unsa_, wa inni sammaituha_ maryama wa inni u'izuha_ bika wa zurriyyataha_ minasy syaita_nir rajim(i).Fataqabbalaha_ rabbuha_ bi qabu_lin hasaniw wa ambataha_ naba_tan hasana_(n), wa kaffalaha_ zakariyya_, kullama_ dakhala 'alaiha_ zakariyyal mihra_b(a), wajada 'indaha_ rizqa_(n), qa_la ya_ maryamu anna_ laki ha_za_, qa_lat huwa min 'indilla_h(i), innalla_ha yarzuqu may yasya_'u bi gairi hisa_b(in).
36 Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk."37 Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah." Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.
فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَىٰ ۖ وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۖ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Tiada seorang bayi pun melainkan setan telah mencubitnya sekali atau dua kali, kecuali Isa ibnu Maryam dan Maryam sendiri. Kemudian Rasulullah Saw. membacakan firman-Nya: Dan sesungguhnya aku melindungkannya serta anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari setan yang terkutuk. (Ali Imran: 36)Dalam hadits shahih juga disebutkan, ketika Abu Usaid datang kepada Rasulullah dengan membawa puteranya agar beliau mentahniknya, tetapi beliau lupa, lalu ayahnya diperintahkan (oleh orang-orang) untuk mentahniknya sendiri, maka Abu Usaid membawanya ke rumah mereka. Dan ketika Rasulullah ingat ketika di suatu majelis, maka beliau menamainya al-Mundzir. Sedangkan hadits dari Qatadah, dari al-Hasan al-Bashri, dari Samurah bin Jundub, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Setiap anak itu tergadai oleh aqiqahnYa, disembelih untuk (aqiqah)nya pada hari ketujuh, kemudian diberi nama dan dicukur rambutnya.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan semua penulis kitab Sunan, dan disahihkan oleh Imam at-Tirmidzi.) Dan firman-Nya yang memberitahukan tentang ibunya Maryam, di mana ia berkata, wa innii u-‘iidzuHaa bika wa dzurriyyataHaa minasy-syaithaanir rajiim (“Dan aku memohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan)-Mu dari syaitan yang terkutuk.”) Yakni, aku memohon perlindungan untuk Maryam kepada Allah dari kejahatan syaitan, dan juga untuk keturunannya, `Isa as. Maka Allah swt. mengabulkan do’anya itu. Sebagaimana ‘Abdurrazzaq meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada seorang anak pun yang dilahirkan, melainkan disentuh oleh syaitan ketika ia dilahirkan, sehingga dia menangis kencang akibat sentuhannya itu, kecuali Maryam dan puteranya, (`Isa).” Setelah itu Abu Hurairah ra. berkata: “Jika kalian menghendaki, bacalah: wa innii u-‘iidzuHaa bika wa dzurriyyataHaa minasy-syaithaanir rajiim [Dan aku memohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan)-Mu dari syaitan yang terkutuk.]’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari hadits ‘Abdurrazzaq). Juga dari hadis Al-Ala, dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Iman Muslim meriwayatkannya dari Abut Tahir, dari Ibnu Wahb, dari Amr ibnul Haris, dari Abu Yunus, dari Abu Hurairah. Ibnu Wahb meriwayatkannya pula dari Ibnu Abu Zi-b, dari Ajlan maula Al-Musyma'il, dari Abu Hurairah. Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkannya dari Yazid ibnu Abdullah ibnu Qasit, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. dengan pokok hadisnya. Hal yang sama diriwayatkan oleh Al-Lais ibnu Sa'd, dari Ja'far ibnu Rabi'ah, dari Abdur Rahman ibnu Hurmuz Al-A'raj yang mengatakan, Abu Hurairah pernah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:
"كُلُّ بَنِي آدَمَ يَطْعنُ الشَّيْطَانُ فِي جَنْبِه حِينَ تَلِدهُ أمُّهُ، إِلَّا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ، ذَهَبَ يَطْعَنُ فَطَعَنَ فِي الحِجَاب"
Semua anak Adam pernah ditusuk oleh setan pada lambungnya ketika dilahirkan oleh ibunya, kecuali Isa ibnu Maryam; setan pergi untuk menusuknya, tetapi yang ditusuknya hanyalah hijab (penghalang). Rabb kita memberitahukan bahwa Dia menerima Maryam dari ibunya sebagai orang yang dinadzarkan dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik. Yaitu, Dia besarkan ia sebagai orang yang dewasa yang enak dipandang serta menyertakan kepadanya beberapa unsur yang menyebabkan ia diterima. Dan Dia memberinya teman dari orang-orang shalih supaya ia dapat belajar ilmu, kebaikan dan agama dari mereka. Oleh karena itu Dia berfirman, “Dan Dia menjadikan Zakariya sebagai pemelihara. “Dengan ditasydidnya huruf fa’ dan dinashabkan kata Zakariya sebagai objek, artinya, Allah menjadikan Zakariya sebagai orang yang bertanggung jawab atas dirinya. Wallahu a’lam. Ditetapkan Zakariya sebagai penanggung jawab itu tidak lain adalah untuk kebahagiaannya supaya ia dapat mengambil ilmu yang banyak dan bermanfaat serta amal shalih darinya (Zakariya), selain karena Zakariya itu sendiri adalah suami saudara perempuan Maryam. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih: “Ternyata Yahya dan `Isa itu adalah saudara sepupu.” Dan telah disebutkan dalam sebuah hadits shahih, bahwa Rasulullah memutuskan dalam kasus `Imarah binti Hamzah bahwa is diserahkan ke dalam pemeliharaan bibinya, isteri Ja’far bin Abi Thalib, dan beliau bersabda: “Bibi itu berkedudukan sebagai ibu.” Kemudian Allah swt. memberitahukan keutamaan dan kesungguhan Maryam dalam beribadah, di mana Dia berfirman, kullamaa dzakhala ‘alaiHaa zakariyyal mihraaba wajada ‘indaHaa rizqan (“Setiapkali Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya.”) Mujahid, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Abu asy-Sya’tsa’, Ibrahim an-Nakha’i, adh-Dhahhak, Qatadah, ar-Rabi’ bin Anas, ‘Athiyyah al-‘Aufi, dan as-Suddi berkata: “Yakni, dia mendapatkan di sisi Maryam buah-buahan musim panas pada musim dingin dan buah-buahan musim dingin pada musim panas (kemarau). Dalam hal itu terdapat bukti tentang adanya karamah pada para wali. Ada banyak hadits semisal dengan makna tersebut. Dan ketika Zakariya mendapatkan makanan tersebut di sisi Maryam, maka: qaala yaa maryamu annaa laki Haadzaa (“Zakariya bertanya: `Wahai Maryam, dari mana engkau memperoleh makanan ini?’”) Artinya, dari mana makanan-makanan ini engkau dapatkan, hai Maryam? Maka, “Maryam menjawab: ‘Makanan itu dari sisi Allah.’ Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.”
Khamis, 15 Februari 2018
ayat 35
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
ayat 35-surah ali-imran-Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 35
Iz qa_latimra'atu 'imra_na rabbi inni nazartu laka ma_ fi batni muharraran fa taqabbal minni, innaka antas sami'ul 'alim(u). 3:36
إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
(Ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". Isteri `Imran adalah ibu Maryam, yaitu Hannah binti Faqudz. Muhammad bin Ishaq berkata: “Hannah binti Faqudz adalah seorang wanita yang tidak pernah hamil. Suatu hari ia melihat seekor burung memberi makan anak-anaknya, maka ia pun ingin mendapatkan anak. Lalu ia berdo’a kepada Allah agar memberinya seorang anak.
Dan Allah pun mengabulkan do’a-nya. Setelah suaminya melakukan hubungan badan dengannya, maka ia pun hamil. Setelah benar-benar hamil, ia bernadzar agar anaknya menjadi anak yang tulus beribadah dan khusus untuk beribadah, berkhidmah ke Baitul Maqdis seraya berucap: Rabbi innii nadzaartu laka maa fii bath-nii muharraran fataqabbal minnii innaka antas samii’ul ‘aliim (“Ya Rabb-ku, sesungguhnya aku bernadzar kepada-Mu anak yang dalam kandunganku ini menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Magdis). Karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkau YangMahamendengar lagi Mahamengetahui.”) Yakni Mahamendengar do’a yang kupanjatkan dan Mahamengetahui niatku. Dan ia belum mengetahui anak yang berada di dalam kandungannya itu, laki-laki atau perempuan. Falammaa wadla’atHaa qaalat Rabbi innii wadla’atHaa untsaa wallaaHu a’lamu bimaa wadla’at (“Maka tatkala isteri Imran melahirkan anaknya, ia pun berkata: ‘Ya Rabb-ku, sesungguhnya aku melahirkannya sebagai anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu.”) Jika kata “wadla’at” dibaca “wadla’tu” (aku lahirkan) dengan dhammah di atas huruf “ta”, karena dianggap berkedudukan sebagai mutakallim (yang berbicara), maka hal itu berarti kelanjutan perkataannya. Dan (apabila) dibaca dengan sukun di atas hurut “ta”. Abu Bakar dan Ibnu ‘Amir membacanya: “bimaa wadla’tu” dengan sukun di atas ‘ain dan dhammah di atas ta’. Sedang ulama qira-at lainnya membacanya “bimaa wadla-at” dengan fat-hah di atas ‘ain dan sukun di atas ta’. Maka hal itu berarti sebagai ucapan Allah: wa laisadz dzakaru kal untsaa (“Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan,”) dalam kekuatan dan keuletan dalam beribadah dan mengabdi di Masjidil Aqsha. Wa innii sammaituHaa maryama (“Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam.”) Ini adalah dalil diperbolehkannya menamai anak pada hari kelahirannya, sebagaimana yang terbaca secara jelas dari lahiriyah ayat, karena pemberian nama itu telah disyari’atkan orang-orang sebelum kita, di mana telah diceritakan sebagai penguat. Hal itu telah tetap didalam Sunnah Rasulullah, di mana beliau bersabda: “Telah lahir tadi malam seorang puteraku, dan aku namai ia dengan nama ayahku Ibrahim.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Ditegaskan pula dlam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa Anas bin Malik ra. pernah pergi membawa saudaranya menemui Rasulullah setelah ia (saudaranya itu) dilahirkan ibunya, maka beliau mentahniknya dan memberikannya nama ‘Abdullah. Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan, ada seorang laki-laki yang berkata: “Ya Rasulullah, telah lahir puteraku tadi malam, lalu bagaimana aku menamainya?” Beliau menjawab: “Namai puteramu itu ‘Abdurrahman.” Dalam hadits shahih juga disebutkan, ketika Abu Usaid datang kepada Rasulullah dengan membawa puteranya agar beliau mentahniknya, tetapi beliau lupa, lalu ayahnya diperintahkan (oleh orang-orang) untuk mentahniknya sendiri, maka Abu Usaid membawanya ke rumah mereka. Dan ketika Rasulullah ingat ketika di suatu majelis, maka beliau menamainya al-Mundzir. Sedangkan hadits dari Qatadah, dari al-Hasan al-Bashri, dari Samurah bin Jundub, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Setiap anak itu tergadai oleh aqiqahnYa, disembelih untuk (aqiqah)nya pada hari ketujuh, kemudian diberi nama dan dicukur rambutnya.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan semua penulis kitab Sunan, dan disahihkan oleh Imam at-Tirmidzi.) Maksudnya: Ingatlah wahai Rasul! Tentang perkara Maryam, ibunya dan anaknya Isa 'alaihis salam untuk membantah orang-orang yang menuhankan Isa atau mengatakan sebagai anak Allah â“Maha Suci Allah-. Tidak disibukkan dengan urusan dunia, bahkan sibuk beribadah kepada Allah dan berkhidmat di Baitul Maqdis. Apa yang ada dalam hati.
ayat 35-surah ali-imran-Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 35
Iz qa_latimra'atu 'imra_na rabbi inni nazartu laka ma_ fi batni muharraran fa taqabbal minni, innaka antas sami'ul 'alim(u). 3:36
إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
(Ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". Isteri `Imran adalah ibu Maryam, yaitu Hannah binti Faqudz. Muhammad bin Ishaq berkata: “Hannah binti Faqudz adalah seorang wanita yang tidak pernah hamil. Suatu hari ia melihat seekor burung memberi makan anak-anaknya, maka ia pun ingin mendapatkan anak. Lalu ia berdo’a kepada Allah agar memberinya seorang anak.
Dan Allah pun mengabulkan do’a-nya. Setelah suaminya melakukan hubungan badan dengannya, maka ia pun hamil. Setelah benar-benar hamil, ia bernadzar agar anaknya menjadi anak yang tulus beribadah dan khusus untuk beribadah, berkhidmah ke Baitul Maqdis seraya berucap: Rabbi innii nadzaartu laka maa fii bath-nii muharraran fataqabbal minnii innaka antas samii’ul ‘aliim (“Ya Rabb-ku, sesungguhnya aku bernadzar kepada-Mu anak yang dalam kandunganku ini menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Magdis). Karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkau YangMahamendengar lagi Mahamengetahui.”) Yakni Mahamendengar do’a yang kupanjatkan dan Mahamengetahui niatku. Dan ia belum mengetahui anak yang berada di dalam kandungannya itu, laki-laki atau perempuan. Falammaa wadla’atHaa qaalat Rabbi innii wadla’atHaa untsaa wallaaHu a’lamu bimaa wadla’at (“Maka tatkala isteri Imran melahirkan anaknya, ia pun berkata: ‘Ya Rabb-ku, sesungguhnya aku melahirkannya sebagai anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu.”) Jika kata “wadla’at” dibaca “wadla’tu” (aku lahirkan) dengan dhammah di atas huruf “ta”, karena dianggap berkedudukan sebagai mutakallim (yang berbicara), maka hal itu berarti kelanjutan perkataannya. Dan (apabila) dibaca dengan sukun di atas hurut “ta”. Abu Bakar dan Ibnu ‘Amir membacanya: “bimaa wadla’tu” dengan sukun di atas ‘ain dan dhammah di atas ta’. Sedang ulama qira-at lainnya membacanya “bimaa wadla-at” dengan fat-hah di atas ‘ain dan sukun di atas ta’. Maka hal itu berarti sebagai ucapan Allah: wa laisadz dzakaru kal untsaa (“Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan,”) dalam kekuatan dan keuletan dalam beribadah dan mengabdi di Masjidil Aqsha. Wa innii sammaituHaa maryama (“Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam.”) Ini adalah dalil diperbolehkannya menamai anak pada hari kelahirannya, sebagaimana yang terbaca secara jelas dari lahiriyah ayat, karena pemberian nama itu telah disyari’atkan orang-orang sebelum kita, di mana telah diceritakan sebagai penguat. Hal itu telah tetap didalam Sunnah Rasulullah, di mana beliau bersabda: “Telah lahir tadi malam seorang puteraku, dan aku namai ia dengan nama ayahku Ibrahim.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Ditegaskan pula dlam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa Anas bin Malik ra. pernah pergi membawa saudaranya menemui Rasulullah setelah ia (saudaranya itu) dilahirkan ibunya, maka beliau mentahniknya dan memberikannya nama ‘Abdullah. Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan, ada seorang laki-laki yang berkata: “Ya Rasulullah, telah lahir puteraku tadi malam, lalu bagaimana aku menamainya?” Beliau menjawab: “Namai puteramu itu ‘Abdurrahman.” Dalam hadits shahih juga disebutkan, ketika Abu Usaid datang kepada Rasulullah dengan membawa puteranya agar beliau mentahniknya, tetapi beliau lupa, lalu ayahnya diperintahkan (oleh orang-orang) untuk mentahniknya sendiri, maka Abu Usaid membawanya ke rumah mereka. Dan ketika Rasulullah ingat ketika di suatu majelis, maka beliau menamainya al-Mundzir. Sedangkan hadits dari Qatadah, dari al-Hasan al-Bashri, dari Samurah bin Jundub, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Setiap anak itu tergadai oleh aqiqahnYa, disembelih untuk (aqiqah)nya pada hari ketujuh, kemudian diberi nama dan dicukur rambutnya.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan semua penulis kitab Sunan, dan disahihkan oleh Imam at-Tirmidzi.) Maksudnya: Ingatlah wahai Rasul! Tentang perkara Maryam, ibunya dan anaknya Isa 'alaihis salam untuk membantah orang-orang yang menuhankan Isa atau mengatakan sebagai anak Allah â“Maha Suci Allah-. Tidak disibukkan dengan urusan dunia, bahkan sibuk beribadah kepada Allah dan berkhidmat di Baitul Maqdis. Apa yang ada dalam hati.
Rabu, 14 Februari 2018
ayat 34
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
Surah ali-iman ayat 34,
ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
(sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Di mana antara yang satu dengan yang lain memiliki kemiripan baik dari sisi fisik maupun akhlak. “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”
(HR Abu Daud dan Ahmad), Yakni Allah Maha Mengetahui siapa yang berhak dipilih-Nya dan siapa yang tidak berhak dipilih. Hal ini menunjukkan bahwa mereka dipilih Allah karena keadaan mereka yang diketahui Allah sehingga berhak mendapat pilihan-Nya sebagai karunia dan pemberian-Nya. Allah swt. memberitahukan bahwa Dia telah memilih beberapa keluarga atas keluarga lainnya di belahan bumi ini. Dia memilih Adam yang Dia telah menciptakannya dengan tangan-Nya sendiri dan ditiupkan ruh-Nya kepadanya, serta memerintahkan para Malaikat bersujud kepadanya. Dia juga mengajarkan kepadanya nama segala sesuatu dan menempatkannya di Surga, kemudian menurunkannya dari Surga, yang dalam peristiwa tersebut mengandung hikmah. Selanjutnya Allah juga memilih Nuh as. dan menjadikannya Rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi ini, pada saat manusia menyembah berhala dan menyekutukan-Nya, yang mana Dia tidak pernah menurunkan hujjah untuk itu. Lalu Allah mengadzab (mereka, untuk membela Nabi Nuh) ketika dia telah lama terjun di tengah-tengah mereka, menyeru mereka ke jalan Allah pada siang dan malam hari, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, namun hal itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Kemudian Nuh mendo’akan kejelekan (kebinasaan) atas mereka, maka Allah pun menenggelamkan mereka, tidak ada yang selamat kecuali orang-orang yang mengikuti agama yang dibawanya. Setelah itu Allah memilih keluarga Ibrahim, yang di antara keluarganya adalah Nabi Muhammad, manusia paling mulia, penutup para Nabi. Juga memilih keluarga `Imran. Yang dimaksud dengan `Imran di sini adalah ayah Maryam binti `Imran, ibu `Isa bin Maryam. Dipilih manusia yang utama di antara manusia yang banyak. ذُرِّيَّةً بَعْضُها مِنْ بَعْضٍ وَ اللهُ سَميعٌ عَليمٌ "(Ialah) keturunan yang sebahagiannya adalah dari yang sebahagian. Dan Allah adalah Maha Mendengar lagi Mengetahui . " (ayat 34). Adam sebagai bapak manusia. Dialah yang terlebih dahulu terpilih menerima wahyu dan menyampaikan wahyu itu kepada anak-cucunya. Tidaklah di sini kita akan masuk kepada perhitungan ulama, apakah Adam telah membawa syariat ataukah belum. Tetapi bahwa sudah dilimpahkan wahyu kepadanya, tidaklah ada pertikaian faham diantara ulama. Di sinilah timbul pendapat bahwa nabi dan rasul sama-sama mendapat wahyu. Tetapi nabi hanya mendapat wahyu dan tidak membawa syariat. Sedang rasul mendapat wahyu dan di antara wahyu itu mengandung syariat yang wajib disampaikannya kepada manusia. Itu sebabnya maka seorang rasul dengan sendirinya adalah nabi, tetapi seorang nabi belumlah tentu bahwa dia merangkap jadi rasul. Maka segala yang beroleh wahyu, nabilah dia. Manusia yang pertama sekali mendapat kehormatan terpilih menerima wahyu ialah Adam. Dari keturunan Adam ialah Nuh. Diantara Adam dan Nuh ada lagi seorang nabi, yaitu Idris. Tetapi di dalam ayat ini lebih dikemukakan Nabi Nuh sebab dia telah mulai membawa syariat yang tegas kepada ummat manusia (lihat Surat 42, as-Syura,ayat 13),yang meskipun telah diajarkan oleh Adam, namun anak cucunya telah mulai menyembah berhala. Nabi Nuh itulah yang disuruh membuat bahtera untuk melepaskan orang-orang yang percaya kepada Allah yang Tunggal. Maka ditenggelamkan Tuhanlah manusia yang menyembah berhala itu dan diselamatkan manusia yang percaya dan mengikut kepada pimpinan Nuh. Di antara anak Nuh yang terkenal dalam catatan sejarah ialah Ham, Sam dan Yafits. Dari keturunan Nuh yang bernama Sam ialah kemudian lahir Ibrahim. Ibrahim disebut pada ayat 33 ini, keluarga Ibrahim. Sebab Ibrahim dengan beroleh kedua puteranya Ismail dan Ishak, telah menurunkan keluarga yang besar. Ismail anak yang tertua telah mengembangkan bangsa Arab Adnani dan Ishak telah mengembangkan Bani Israil. Berpuluh nabi dan rasul telah ditimbulkan pada Bani Israil. Kemudian timbullah dari keturunan Bani Israil itu keluarga Imran. Di dalam al-Qur'an ada tersebut dua Imran, tetapi jaraknya lebih kurang 1.800 tahun. Imran yang pertama adalah ayah dari Nabi Musa, dan Imran yang kedua ialah ayah dari Maryam, dan Maryam ini ibu dari Nabi Isa Almasih. Adapun satu cabang dari keluarga Ibrahim yang dari puteranya Ismail tadi, dari sanalah dipilih dan diutus pula Nabi Muhammad s.a.w Maka keluarga-keluarga yang mulia ini telah diberikan kemuliaan nubuwwat dan risalat, mengatasi sekalian manusia. Sehingga bolehlah dikatakan bahwasanya pimpinan rohani sebahagian terbesar dari ummat manusia didatangkan Allah melalui keluarga-keluarga ini. Oleh semua keluarga itu adalah satu dari keturunan, yaitu Nabi Adam dan Nuh, itulah sebab dijelaskan di ayat 33 bahwa yang sebahagian adalah keturunan dariyang sebahagian. Penyebar-penyebar agama Kristen di zaman kita ini selain menemukan bahwa al-Qur'an bukanlah wahyu Tuhan, melainkan karangan Muhammad saja. Ceritera-ceritera mengenai nabi-nabi yang dahulu itu menurut pendakwaan mereka hanya dicaplok saja oleh Muhammad dari kitab-kitab mereka, terutama Perjanjian Lama. Kalau ada persamaan ceritera, mereka jadikanlah itu menjadi bukti bahwa al-Qur'an hanya menyalin kitab suci mereka. Tetapi kalau tidak ada persamaan itu, mereka tuduh pula al-Qur'an itu wahyu palsu sebab tidak cocok dengan kitab mereka. Mereka menuduh al-Qur'an itu berkacau saja tentang nama-nama orang. Jika terdapat dua Imran, yaitu Imran ayah Musa dan Imran ayah Maryam, mereka katakan al-Qur'an telah salah catat. Kalau dalam al-Qur'an pernah dipanggil orang Maryam itu "saudara perempuan Harun", mereka ketawakan lagi. Karena kata mereka Harun itu ialah saudara Musa, bukan saudara Maryam, sedang jaraknya kurang lebih 1.800 tahun. Mereka batalkan lagi karena al-Qur'an mengatakan Haman wazir dari Fir'aun, sebab di dalam Perjanjian Lama (Kitab Ester) tersebut bahwa Haman bukan wazir Fir'aun, melainkan wazir dari raja Ahasyweros. Kalau hal ini dipertengkarkan, tidaklah akan putus-putus, karena masing-masing akan mempertahankan pihaknya dan mendustakan yang lain. Tetapi kalau masuk ke dalam gelanggang ilmiah, marilah dipersoalkan manakah yang lebih terjamin keaslian isi al-Qur'an dengan keaslian kitab-kitab yang mereka pegang sekarang itu ? Apakah perjanjian lama yang sekarang ini menurut asli yang diterima dari Musa ? Bukankah "Perjanjian Lama" baru disusun kembali setelah 400 tahun Musa meninggal ? Dan itu terbukti dari jalannya riwayat dalam kitab-kitab itu bahwa Nabi Musa hanya diceritakan sebagai orang ketiga. Siapakah penulis kitab-kitab itu yang sebenarnya ? Ada kitab Ezra (Nabi Uzair) yang disebut mengumpulkan kitab-kitab itu kembali. Siapa yang menuliskan "Kitab Ezra" itu ? Tidak terang siapa penulis semua kitab itu. Tidak terang sampai sekarang ini! . Menurut undang-undang berfikir secara ilmiah, dapatkah dibatalkan al-Qur'an, wahyu ilahi kepada Muhammad s.a.w yang dicatat lengkap pada waktu beliau hidup, lalu disalin menjadi satu mushhaf di zaman Abu Bakar dan disalin lagi mushhaf Abu Bakar itu di zaman Usman oleh satu panitia yang terang nama-nama orangnya? Yang sepakat seluruh ahli pengetahuan sampai sekarang ini bahwa tidak pernah selama 14 abad satu kalimatpun masuk kata-kata lain ke dalamnya.
Surah ali-iman ayat 34,
ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
(sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Di mana antara yang satu dengan yang lain memiliki kemiripan baik dari sisi fisik maupun akhlak. “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”
(HR Abu Daud dan Ahmad), Yakni Allah Maha Mengetahui siapa yang berhak dipilih-Nya dan siapa yang tidak berhak dipilih. Hal ini menunjukkan bahwa mereka dipilih Allah karena keadaan mereka yang diketahui Allah sehingga berhak mendapat pilihan-Nya sebagai karunia dan pemberian-Nya. Allah swt. memberitahukan bahwa Dia telah memilih beberapa keluarga atas keluarga lainnya di belahan bumi ini. Dia memilih Adam yang Dia telah menciptakannya dengan tangan-Nya sendiri dan ditiupkan ruh-Nya kepadanya, serta memerintahkan para Malaikat bersujud kepadanya. Dia juga mengajarkan kepadanya nama segala sesuatu dan menempatkannya di Surga, kemudian menurunkannya dari Surga, yang dalam peristiwa tersebut mengandung hikmah. Selanjutnya Allah juga memilih Nuh as. dan menjadikannya Rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi ini, pada saat manusia menyembah berhala dan menyekutukan-Nya, yang mana Dia tidak pernah menurunkan hujjah untuk itu. Lalu Allah mengadzab (mereka, untuk membela Nabi Nuh) ketika dia telah lama terjun di tengah-tengah mereka, menyeru mereka ke jalan Allah pada siang dan malam hari, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, namun hal itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Kemudian Nuh mendo’akan kejelekan (kebinasaan) atas mereka, maka Allah pun menenggelamkan mereka, tidak ada yang selamat kecuali orang-orang yang mengikuti agama yang dibawanya. Setelah itu Allah memilih keluarga Ibrahim, yang di antara keluarganya adalah Nabi Muhammad, manusia paling mulia, penutup para Nabi. Juga memilih keluarga `Imran. Yang dimaksud dengan `Imran di sini adalah ayah Maryam binti `Imran, ibu `Isa bin Maryam. Dipilih manusia yang utama di antara manusia yang banyak. ذُرِّيَّةً بَعْضُها مِنْ بَعْضٍ وَ اللهُ سَميعٌ عَليمٌ "(Ialah) keturunan yang sebahagiannya adalah dari yang sebahagian. Dan Allah adalah Maha Mendengar lagi Mengetahui . " (ayat 34). Adam sebagai bapak manusia. Dialah yang terlebih dahulu terpilih menerima wahyu dan menyampaikan wahyu itu kepada anak-cucunya. Tidaklah di sini kita akan masuk kepada perhitungan ulama, apakah Adam telah membawa syariat ataukah belum. Tetapi bahwa sudah dilimpahkan wahyu kepadanya, tidaklah ada pertikaian faham diantara ulama. Di sinilah timbul pendapat bahwa nabi dan rasul sama-sama mendapat wahyu. Tetapi nabi hanya mendapat wahyu dan tidak membawa syariat. Sedang rasul mendapat wahyu dan di antara wahyu itu mengandung syariat yang wajib disampaikannya kepada manusia. Itu sebabnya maka seorang rasul dengan sendirinya adalah nabi, tetapi seorang nabi belumlah tentu bahwa dia merangkap jadi rasul. Maka segala yang beroleh wahyu, nabilah dia. Manusia yang pertama sekali mendapat kehormatan terpilih menerima wahyu ialah Adam. Dari keturunan Adam ialah Nuh. Diantara Adam dan Nuh ada lagi seorang nabi, yaitu Idris. Tetapi di dalam ayat ini lebih dikemukakan Nabi Nuh sebab dia telah mulai membawa syariat yang tegas kepada ummat manusia (lihat Surat 42, as-Syura,ayat 13),yang meskipun telah diajarkan oleh Adam, namun anak cucunya telah mulai menyembah berhala. Nabi Nuh itulah yang disuruh membuat bahtera untuk melepaskan orang-orang yang percaya kepada Allah yang Tunggal. Maka ditenggelamkan Tuhanlah manusia yang menyembah berhala itu dan diselamatkan manusia yang percaya dan mengikut kepada pimpinan Nuh. Di antara anak Nuh yang terkenal dalam catatan sejarah ialah Ham, Sam dan Yafits. Dari keturunan Nuh yang bernama Sam ialah kemudian lahir Ibrahim. Ibrahim disebut pada ayat 33 ini, keluarga Ibrahim. Sebab Ibrahim dengan beroleh kedua puteranya Ismail dan Ishak, telah menurunkan keluarga yang besar. Ismail anak yang tertua telah mengembangkan bangsa Arab Adnani dan Ishak telah mengembangkan Bani Israil. Berpuluh nabi dan rasul telah ditimbulkan pada Bani Israil. Kemudian timbullah dari keturunan Bani Israil itu keluarga Imran. Di dalam al-Qur'an ada tersebut dua Imran, tetapi jaraknya lebih kurang 1.800 tahun. Imran yang pertama adalah ayah dari Nabi Musa, dan Imran yang kedua ialah ayah dari Maryam, dan Maryam ini ibu dari Nabi Isa Almasih. Adapun satu cabang dari keluarga Ibrahim yang dari puteranya Ismail tadi, dari sanalah dipilih dan diutus pula Nabi Muhammad s.a.w Maka keluarga-keluarga yang mulia ini telah diberikan kemuliaan nubuwwat dan risalat, mengatasi sekalian manusia. Sehingga bolehlah dikatakan bahwasanya pimpinan rohani sebahagian terbesar dari ummat manusia didatangkan Allah melalui keluarga-keluarga ini. Oleh semua keluarga itu adalah satu dari keturunan, yaitu Nabi Adam dan Nuh, itulah sebab dijelaskan di ayat 33 bahwa yang sebahagian adalah keturunan dariyang sebahagian. Penyebar-penyebar agama Kristen di zaman kita ini selain menemukan bahwa al-Qur'an bukanlah wahyu Tuhan, melainkan karangan Muhammad saja. Ceritera-ceritera mengenai nabi-nabi yang dahulu itu menurut pendakwaan mereka hanya dicaplok saja oleh Muhammad dari kitab-kitab mereka, terutama Perjanjian Lama. Kalau ada persamaan ceritera, mereka jadikanlah itu menjadi bukti bahwa al-Qur'an hanya menyalin kitab suci mereka. Tetapi kalau tidak ada persamaan itu, mereka tuduh pula al-Qur'an itu wahyu palsu sebab tidak cocok dengan kitab mereka. Mereka menuduh al-Qur'an itu berkacau saja tentang nama-nama orang. Jika terdapat dua Imran, yaitu Imran ayah Musa dan Imran ayah Maryam, mereka katakan al-Qur'an telah salah catat. Kalau dalam al-Qur'an pernah dipanggil orang Maryam itu "saudara perempuan Harun", mereka ketawakan lagi. Karena kata mereka Harun itu ialah saudara Musa, bukan saudara Maryam, sedang jaraknya kurang lebih 1.800 tahun. Mereka batalkan lagi karena al-Qur'an mengatakan Haman wazir dari Fir'aun, sebab di dalam Perjanjian Lama (Kitab Ester) tersebut bahwa Haman bukan wazir Fir'aun, melainkan wazir dari raja Ahasyweros. Kalau hal ini dipertengkarkan, tidaklah akan putus-putus, karena masing-masing akan mempertahankan pihaknya dan mendustakan yang lain. Tetapi kalau masuk ke dalam gelanggang ilmiah, marilah dipersoalkan manakah yang lebih terjamin keaslian isi al-Qur'an dengan keaslian kitab-kitab yang mereka pegang sekarang itu ? Apakah perjanjian lama yang sekarang ini menurut asli yang diterima dari Musa ? Bukankah "Perjanjian Lama" baru disusun kembali setelah 400 tahun Musa meninggal ? Dan itu terbukti dari jalannya riwayat dalam kitab-kitab itu bahwa Nabi Musa hanya diceritakan sebagai orang ketiga. Siapakah penulis kitab-kitab itu yang sebenarnya ? Ada kitab Ezra (Nabi Uzair) yang disebut mengumpulkan kitab-kitab itu kembali. Siapa yang menuliskan "Kitab Ezra" itu ? Tidak terang siapa penulis semua kitab itu. Tidak terang sampai sekarang ini! . Menurut undang-undang berfikir secara ilmiah, dapatkah dibatalkan al-Qur'an, wahyu ilahi kepada Muhammad s.a.w yang dicatat lengkap pada waktu beliau hidup, lalu disalin menjadi satu mushhaf di zaman Abu Bakar dan disalin lagi mushhaf Abu Bakar itu di zaman Usman oleh satu panitia yang terang nama-nama orangnya? Yang sepakat seluruh ahli pengetahuan sampai sekarang ini bahwa tidak pernah selama 14 abad satu kalimatpun masuk kata-kata lain ke dalamnya.
Selasa, 13 Februari 2018
AYAT 33
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
۞
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ
Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 33
Innalla_hastafa_ a_dama wa nu_haw wa a_la ibra_hima wa a_la'imra_na 'alal 'a_lamin(a). Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing),
Selain memilih Muhammad sebagai penyampai risalah--dengan menjadikan upaya meneladaninya sebagai sarana untuk memperoleh kecintaan, ampunan dan kasih sayang Allah--Allah juga memilih Adam, Nûh, Ibrâhîm dan keturunanya, Ismâ'îl dan Ishâq, serta nabi-nabi lain keturunan mereka berdua seperti Mûsâ, 'alayhim al-salâm. Di samping itu, Allah juga memilih keluarga 'Imrân, di antaranya 'Isâ dan bundanya. 'Isâ dijadikan sebagai rasul untuk Banû Isrâ'îl, sedangkan Maryam dijadikan sebagai ibunya tanpa bapak. Contohnya dengan menciptakan Adam dengan Tangan-Nya, meniupkan kepadanya ruh (ciptaan)- Nya, memerintahkan para malaikat untuk sujud kepadanya, menempatkannya di surga, memberinya ilmu pengetahuan, sifat santun dan keutamaan yang melebihi makhluk-makhluk yang lain.
Allah menjadikannya sebagai rasul pertama, memberinya taufiq untuk bersabar dan siap memikul beban berat, rasa syukur yang tinggi dan menyebut baik namanya di setiap waktu dan zaman. Nabi Ibrahim 'alaihis salam adalah kekasih Allah, seorang yang rela mengorbankan dirinya ke dalam api, mengorbankan anaknya sebagai kurban, mengorbankan hartanya untuk para tamu, seorang yang berdakwah kepada Allah di malam dan siang, secara sembunyi maupun terang-terangan. Allah menjadikannya sebagai teladan yang diikuti oleh generasi setelahnya. Keturunannya banyak yang diangkat Allah menjadi nabi dan diberi kitab. Termasuk ke dalam "Keluarga Ibrahim" adalah para nabi yang diutus setelahnya, karena mereka termasuk keturunannya, demikian juga Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, di mana Allah Subhaanahu wa Ta'aala menghimpunkan kesempurnaan yang terpisah-pisah, Beliau melebihi generasi terdahulu dan generasi kemudian, Beliau adalah Sayyidul Mursalin (tokoh para rasul). Imran adalah bapak Maryam atau bapak Musa 'alaihis salam.
Di antara faedah dan hikmah disebutkan kepada kita kisah mereka adalah agar kita mencintai mereka, mengikuti jejak mereka dan agar kita tidak terus-menerus mencela diri kita karena keterlambatan kita dan karena tidak ada pada diri kita sifat-sifat mulia yang ada pada mereka. Hal ini pun termasuk kelembutan Allah kepada mereka, ditampakkan pujian untuk mereka baik di hadapan generasi terdahulu maupun generasi setelahnya serta dijunjung kemuliaan mereka. Sungguh demikian besar kepemurahan Allah dan besarnya faedah bermu'amalah dengan-Nya. Anadi saja keutamaan mereka hanya disebut-sebut saja terus-menerus, maka hal itu pun sudah cukup sebagai keutamaan. Allah Swt. memilih Nuh a.s. dan menjadikannya sebagai rasul pertama untuk penduduk bumi, di saat manusia mulai menyembah berhala dan mempersekutukan Allah dengan sesembahan-sesembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujah mengenainya. Kemudian Allah membela Nuh a.s. setelah lama masa tinggalnya di kalangan kaumnya menyeru mereka untuk menyembah Allah siang dan malam hari, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun dengan terang-terangan. Akan tetapi, ternyata usahanya itu tidak menambah dekat kepada mereka, kecuali makin jauh. Maka Nuh a.s. berdoa untuk kebinasaan mereka, dan akhirnya Allah Swt. menenggelamkan mereka semua hingga tidak ada seorang pun yang selamat kecuali orang-orang yang mengikuti agama yang diutus oleh Allah kepadanya. Allah Swt. memilih keluarga Ibrahim yang dari kalangan mereka lahir penghulu manusia, penutup semua nabi (yaitu Nabi Muhammad Saw.). Allah Swt. memilih keluarga Imran; yang dimaksud dengan Imran dalam ayat ini ialah orang tua Maryam, ibu Nabi Isa a.s. Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar mengatakan bahwa dia adalah Imran ibnu Yasyim ibnu Misya ibnu Hizqiya ibnu Ibrahim Guraya ibnu Nawisy ibnu Ajr ibnu Bahwa ibnu Nazim ibnu Muqasit ibnu Isya ibnu Iyaz ibnu Rukhai'am ibnu Sulaiman ibnu Daud a.s. Isa termasuk salah seorang dari keturunan Nabi Ibrahim a.s., seperti yang akan dijelaskan nanti dalam surat Al-An'am. salasilah kenabian sehingga adam alaihisalam., Nabi Ibra-hiym AS – Tarikh (Thara) – Nakhur – Sarugh – Urghu (Ragau) – Falikh – Abir – Syalikh (Sala) – Finan – Arfakhsyadz – Sam – Nabi Nuwh AS(3) – Lamik – Matusalkh – Mahanaukh (Enoch) – – – – – – – seterusnya, berapa jumlah generasi antaranya hanya Allah Yang Maha Tahu – Yarid – Mahkail – Qinan – Anwas – Syisy (Seth) – Nabi Adam AS dan salasilah nabi ibrahim hingga muhamat saw.Nabi Isma-‘iyl AS menurunkan: Haidar – Jamal – Sahail – Binta – Salaman – Hamyasa – ‘Adad – ‘Addi – Adnan – Ma’ad – Nizar – Mudhar – Ilyas – Mudrikah – Khuzaimah – Kinanah – Nadhar – Malik – Fihir – Ghalib – Luaiy – Ka’ab – Murrah – Kilab – Qushay – ‘Abd.Manaf – Hasyim – ‘Abd.Muththalib – ‘Abdullah – NABI MUHAMMAD SAW(25). sebagai mana jelas keturunan baginda nabi muhamat hingga ibrahim lalu adam sebagai mana jelas allah terangkan dalam ayat di atas,.,.dan sebagai mana rasulullah bersabda dari riwayat imam muslim., dari Watsilah bin Asyqo berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda : "Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail dan Allah memilih Quraisy dari keturunan Kinanah. Allah memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan Allah memilih aku dari keluarga Bani Hasyim" ( diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2276.)
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ
Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 33
Innalla_hastafa_ a_dama wa nu_haw wa a_la ibra_hima wa a_la'imra_na 'alal 'a_lamin(a). Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing),
Selain memilih Muhammad sebagai penyampai risalah--dengan menjadikan upaya meneladaninya sebagai sarana untuk memperoleh kecintaan, ampunan dan kasih sayang Allah--Allah juga memilih Adam, Nûh, Ibrâhîm dan keturunanya, Ismâ'îl dan Ishâq, serta nabi-nabi lain keturunan mereka berdua seperti Mûsâ, 'alayhim al-salâm. Di samping itu, Allah juga memilih keluarga 'Imrân, di antaranya 'Isâ dan bundanya. 'Isâ dijadikan sebagai rasul untuk Banû Isrâ'îl, sedangkan Maryam dijadikan sebagai ibunya tanpa bapak. Contohnya dengan menciptakan Adam dengan Tangan-Nya, meniupkan kepadanya ruh (ciptaan)- Nya, memerintahkan para malaikat untuk sujud kepadanya, menempatkannya di surga, memberinya ilmu pengetahuan, sifat santun dan keutamaan yang melebihi makhluk-makhluk yang lain.
Allah menjadikannya sebagai rasul pertama, memberinya taufiq untuk bersabar dan siap memikul beban berat, rasa syukur yang tinggi dan menyebut baik namanya di setiap waktu dan zaman. Nabi Ibrahim 'alaihis salam adalah kekasih Allah, seorang yang rela mengorbankan dirinya ke dalam api, mengorbankan anaknya sebagai kurban, mengorbankan hartanya untuk para tamu, seorang yang berdakwah kepada Allah di malam dan siang, secara sembunyi maupun terang-terangan. Allah menjadikannya sebagai teladan yang diikuti oleh generasi setelahnya. Keturunannya banyak yang diangkat Allah menjadi nabi dan diberi kitab. Termasuk ke dalam "Keluarga Ibrahim" adalah para nabi yang diutus setelahnya, karena mereka termasuk keturunannya, demikian juga Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, di mana Allah Subhaanahu wa Ta'aala menghimpunkan kesempurnaan yang terpisah-pisah, Beliau melebihi generasi terdahulu dan generasi kemudian, Beliau adalah Sayyidul Mursalin (tokoh para rasul). Imran adalah bapak Maryam atau bapak Musa 'alaihis salam.
Di antara faedah dan hikmah disebutkan kepada kita kisah mereka adalah agar kita mencintai mereka, mengikuti jejak mereka dan agar kita tidak terus-menerus mencela diri kita karena keterlambatan kita dan karena tidak ada pada diri kita sifat-sifat mulia yang ada pada mereka. Hal ini pun termasuk kelembutan Allah kepada mereka, ditampakkan pujian untuk mereka baik di hadapan generasi terdahulu maupun generasi setelahnya serta dijunjung kemuliaan mereka. Sungguh demikian besar kepemurahan Allah dan besarnya faedah bermu'amalah dengan-Nya. Anadi saja keutamaan mereka hanya disebut-sebut saja terus-menerus, maka hal itu pun sudah cukup sebagai keutamaan. Allah Swt. memilih Nuh a.s. dan menjadikannya sebagai rasul pertama untuk penduduk bumi, di saat manusia mulai menyembah berhala dan mempersekutukan Allah dengan sesembahan-sesembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujah mengenainya. Kemudian Allah membela Nuh a.s. setelah lama masa tinggalnya di kalangan kaumnya menyeru mereka untuk menyembah Allah siang dan malam hari, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun dengan terang-terangan. Akan tetapi, ternyata usahanya itu tidak menambah dekat kepada mereka, kecuali makin jauh. Maka Nuh a.s. berdoa untuk kebinasaan mereka, dan akhirnya Allah Swt. menenggelamkan mereka semua hingga tidak ada seorang pun yang selamat kecuali orang-orang yang mengikuti agama yang diutus oleh Allah kepadanya. Allah Swt. memilih keluarga Ibrahim yang dari kalangan mereka lahir penghulu manusia, penutup semua nabi (yaitu Nabi Muhammad Saw.). Allah Swt. memilih keluarga Imran; yang dimaksud dengan Imran dalam ayat ini ialah orang tua Maryam, ibu Nabi Isa a.s. Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar mengatakan bahwa dia adalah Imran ibnu Yasyim ibnu Misya ibnu Hizqiya ibnu Ibrahim Guraya ibnu Nawisy ibnu Ajr ibnu Bahwa ibnu Nazim ibnu Muqasit ibnu Isya ibnu Iyaz ibnu Rukhai'am ibnu Sulaiman ibnu Daud a.s. Isa termasuk salah seorang dari keturunan Nabi Ibrahim a.s., seperti yang akan dijelaskan nanti dalam surat Al-An'am. salasilah kenabian sehingga adam alaihisalam., Nabi Ibra-hiym AS – Tarikh (Thara) – Nakhur – Sarugh – Urghu (Ragau) – Falikh – Abir – Syalikh (Sala) – Finan – Arfakhsyadz – Sam – Nabi Nuwh AS(3) – Lamik – Matusalkh – Mahanaukh (Enoch) – – – – – – – seterusnya, berapa jumlah generasi antaranya hanya Allah Yang Maha Tahu – Yarid – Mahkail – Qinan – Anwas – Syisy (Seth) – Nabi Adam AS dan salasilah nabi ibrahim hingga muhamat saw.Nabi Isma-‘iyl AS menurunkan: Haidar – Jamal – Sahail – Binta – Salaman – Hamyasa – ‘Adad – ‘Addi – Adnan – Ma’ad – Nizar – Mudhar – Ilyas – Mudrikah – Khuzaimah – Kinanah – Nadhar – Malik – Fihir – Ghalib – Luaiy – Ka’ab – Murrah – Kilab – Qushay – ‘Abd.Manaf – Hasyim – ‘Abd.Muththalib – ‘Abdullah – NABI MUHAMMAD SAW(25). sebagai mana jelas keturunan baginda nabi muhamat hingga ibrahim lalu adam sebagai mana jelas allah terangkan dalam ayat di atas,.,.dan sebagai mana rasulullah bersabda dari riwayat imam muslim., dari Watsilah bin Asyqo berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda : "Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail dan Allah memilih Quraisy dari keturunan Kinanah. Allah memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan Allah memilih aku dari keluarga Bani Hasyim" ( diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2276.)
Isnin, 12 Februari 2018
AYAT 31-32
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 31
Qul in kuntum tuhibbu_nalla_ha fattabi'u_ni yuhbibkumulla_hu wa yagfirlakum zunu_bakum, walla_hu gafu_rur rahim(un).Qul ati'ulla_ha war rasu_l(a), fa in tawallau fa innalla_ha la_ yuhibbul ka_firin(a).
“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 3:31) Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS. 3:32)
Ayat ini sebagai pemutus hukum bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah tetapi tidak menempuh jalan Muhammad, Rasulullah, bahwa dia adalah pembohong dalam pengakuan cintanya itu sehingga dia mengikuti syari’at dan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad dalam semua ucapan dan perbuatannya.
Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya kamu sekalian berbuat dosa hingga memenuhi langit, kemudian kalian bertaubat kepada Allah, pasti Allah akan menerima taubat kalian”. [HR. Ibnu Majah dengan sanad jayyid] “
Dari Abi Burdah dari seorang laki-laki dari sebagian sahabat Muhajirin beliau mengatakan kami telah mendengar Nabi Muhammad bersabda: “ Wahai ingatlah manusia, bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah dan mohonlah pengampunan kami sekalian kepada-Nya, maka sesungguhnya kami bertaubat kepada Allah dan kami mohon pengampunan kepada-Nya pada tiap hari 100 kali atau lebih.”(HR.Ahmad) Oleh karena itu, Allah swt. berfirman, in kuntum tuhibbuunallaaHa fattabi’uuni yuhbib-kumullaaHu (“Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.”) Maksudnya, kalian akan mendapatkan sesuatu yang lebih dari kecintaan kalian kepada-Nya, yaitu kecintaan-Nya kepada kalian, dan ini lebih besar daripada kecintaan kalian kepada-Nya. Seperti yang diungkapkan sebagian ulama ahli hikmah: “Yang jadi permasalahan bukanlah jika engkau mencintai, tapi permasalahannya ialah jika engkau dicintai.”
Sedangkan al-Hasan al-Bashri dan beberapa ulama Salaf berkata: “Ada suatu kaum yang mengaku mencintai Allah, lalu Allah menguji mereka melalui ayat ini, di mana Dia berfirman, qul in kuntum tuhibbuunallaaHa fattabi’uuni yuhbib-kumullaaHu (“Katakanlah: ‘Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.’”)
Setelah itu Dia berfirman, wa yaghfirlakum dzunuubakum wallaaHu ghafuurur rahiim (“Dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) Maksudnya, dengan mengikutnya kalian kepada Rasulullah, maka kalian akan memperoleh hal tersebut (pengampunan dosa) berkat keberkahan perantara-Nya (RasulNya). Selanjutnya Allah berfirman memerintahkan kepada setiap individu, qul athii’ullaaHa war rasuula fa in tawallaw (“Katakanlah: `Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling.’”) Yakni melanggar perintah-Nya, fa innallaaHa laa yuhibbul kaafiriin (“Maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir.”) Hal ini menunjukkan bahwa menyalahi Allah dalam menempuh jalan-Nya merupakan perbuatan kufur, sebab Allah tidak menyukai orang-orang yang berpredikat seperti itu, meskipun ia mengaku mencintai Allah dan bertaqarrub kepada-Nya, sampai dia benar-benar mengikuti Rasulullah, Nabi yang ummi, penutup para Rasul yang diutus kepada segenap bangsa jin dan manusia. Disuruhlah kita selalu membaca al-Qur'an dengan sebenar-benar baca, artinya dengan menjurus kan fikiran kepadanya. Dengan demikian kelak terasa hubungan di antara satu ayat dengan ayat yang menyambutnya. Ujung ayat 30 di atas menyatakan bahwa Tuhan Allah itu amat sayang, amat kasih kepada hamba-hambaNya. Sehingga orang yang pernah bersalah diberi kesempatan mengikuti amalan yang jahat dengan banyak-banyak berbuat baik disertai memohon ampun. Tuhan selalu bersedia menerima kedatangan hambaNya yang demikian. Apa kesan yang terasa dalam hati yang beriman bila membaca sampai di sini? Ialah cinta, kasih-sayang Tuhan kepada hambaNya. Maka dengan sendirinyapun, dalam perasaan si hamba terasalah pula keinginan membalas cinta itu. Bertepuk tidak sebelah tangan hendaknya. Dalam suasana rasa yang demikian datanglah ayat lanjutan ini: قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُوني يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَ اللهُ غَفُورٌ رَحيمٌ "katakanlah: Jika memang kamu cinta kepada Allah, maka turutkanlah aku, niscaya cinta pula Allah kepada kamu dan akan diampuni Nya dosa-dosa kamu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Penyayang." (ayat 31). Maka perasaan yang tadinya masih terasa samar-samar, laksana masih mencari-sari di antara si hamba dengan Tuhannya, sekarang rahasia itu telah terbuka. Mari kita uraikan ! . "Engkau telah mengatakan dalam ujung kataMu bahwa Engkau tetap belas-kasihan kepada aku, hambaMu yang lemah ini, ya Tuhanku ! Sebenarnya aku sendiripun begitu kepada Engkau. Aku cinta kepada Engkau ! Engkau berikan kepadaku suatu perasaan yang halus, suatu 'iffah atau wijdan. Terasa dalam hati kecilku bahwa tidak pernah aku lepas dari tilikanMu, selalu aku Engkau bimbing, banyak nikmatMu kepadaku. Aku selalu hanya menerima saja, aku tidak dapat memberi kepadaMu. Bagaimana aku akan dapat memberi sedang nyawakupun, nyawa yang sedekat-dekatnya kepadaku, Engkau yang punya. lantaran ituah maka kasih cintaku kepada Engkau tumbuh dengan mesranya. Aku takut kepada Engkau karena Engkau. Hanya dengan sebuah tempurung aku menerima nikmatMu yang seluas lautan. Tetapi sungguhpun aku takut, akupun rindu kepada Engkau. Aku cemas, tetapi di dalam cemasku itu akupun mempunyai penuh harapan. Tuhanku ! Engkau ada ! Sungguh Engkau ada ! Hatiku merasainya. Aku ingin sekali berjumpa dengan engkau, tetapi aku tidak tahu ke mana jalan. Dan aku Engkau takdirkan jadi manusia. Aku sendiri tahu kelemahan dan kekuranganku. Sebab itu kadang-kadang terasa malu aku akan melihat Engkau, tetapi aku hendak melihat juga. Tuhanku, tolong aku, tolong aku. Tolong aku dalam penyelesaian soalku ini." Di sinilah datang jawaban Tuhan, dirumuskan oleh ayat ini. Jika sungguh-sungguh engkau cinta kepadaKu, maka jalan buat menemuiKu mudah saja. Memang Aku Maha Mengetahui, bahwa banyak hambaKu yang seperti engkau, ingin menemuiKu, ingin bersimpuh di hadapanKu, hatinya penuh dengan ingat kepadaKu. Sebelum engkau Aku adakanpun telah Kuketahui keinginan, kerinduan, dan kecintaan itu. Untuk itulah aku utus RasulKu kepadamu; dialah petunjuk jalan menuju aku itu. "Hai utusanKu! Sampaikanlah pesanKu itu kepada seluruh hambaKu yang rindu, asyik dan cinta kepadaKu itu. Bentuklah sebuah rombongan itu; zumaran, berbondong-bondong. Tiap-tiap rombongan di bawah pimpinan engkau, wahai utusanku! Katakanlah kepada mereka wahai rasulKu, cinta mereka Aku balas, bertepuk tidak sebelah tangan. Tadi mereka menyebut bahwa mereka sebagai manusia. pernah bersalah. Aku tahu itu, Aku lebih tahu. Sebab Aku yang mengetahui asal kejadian. Maka apabila rombongan itu telah terbentuk, dan mereka telah berkumpul di dalamnya, dan engkau sendiri yang memimpin, tandanya mereka telah benar-benar telah berjalan menuju Aku. Aku ampuni dosa mereka. Aku mempunyai pula suatu nama yang menunjukkan sifatKu yaitu tawwab, artinya memberi taubat, menerima hambaKu yang kembali. Akupun mempunyai suatu nama menunjukkan sifatKu, yaitu ghafur, pemberi ampun. Akupun rahim, amat penyayang. Bagaimana akan kamu ketahui kebesaran Asma'Ku itu, kalau yang bersalah di antara kamu memohon ampun tidak Aku ampuni?" Ingatlah kembali salah satu sebab turunnya ayat ini, yaitu utusan dan rombongan Nasrani 60 orang dengan 14 orang terkemuka sedang berada di Madinah. Nabi Musa yang besar telah mengajarkan kepada Bani Israil suatu ajaran yang berintisari pengorbanan. Sifatnya ialah jalal, kemuliaan. Nabi Isa Almasih yang agung telah membawa lanjutan ajaran yang berdasar hubb, artinya cinta. Sifatnya ialah jamal, keindahan. Sekarangdatang Nabi Muhammad saw. menyempurnakan penyerahan diri kepada Tuhan itu, Islam. Sifatnya ialah kamal, kesempurnaan. Nyatalah ayat-ayat ini meninggalkan kesan yang mendalam juga pada anggota-anggota utusan Nasrani itu; Muhammad s.a.w, pun membicarakan dari hat cinta. Memang cintalah pintu pengajian itu, yang selalu dibuka dengan ucapan: "Dengan nama Allah Yang Maha Murah, lagi Penyayang." Tetapi cinta dalam ucapan sajapun tidaklah cukup. Bahkan cinta hati tidak diikuti pengorbanan tidaklah cukup. Menyatakan cinta, padahal kehendak hati yang dicintai tidak diikuti, adalah cinta palsu. Allah tidak menyukai kepalsuan. Kamu durhakai Allah, padahal kamu menyatakan cinta kepadaNya. Ini adalah mustahil dalam kejadian, dan ini adalah ganjil Jika memang cintamu itu cinta sejati, niscaya kamu taat kepadaNya. Sebab orang yang bercinta, terhadap yang dicintainya, selalu patuh. Oleh sebab itu datanglah sambungan ayat: قُلْ أَطيعُوا اللهَ وَ الرَّسُولَ "Katakanlah: hendaklah kamu taat kepada Allah dan Rasul" (pangkal ayat 32). Taatlah kepada Allah dan ikuti jejak rasul, niscaya kamu akan yakin bahwa bimbingannya tidak akan membawamu kepada kecelakaan. Apabila kamu telah cinta kepada sesuatu, tentu keinginan kamu adalah keinginan dia. Apatah lagi cinta kepada Allah. Kalau kamu telah cinta kepada Allah, niscaya fanalah kesukaan dirimu sendiri, lebur ke dalam kesukaan Allah. Niscaya bertaubat kamu, hanya Satu Dia saja ingatanmu. Tidak berbelah bagi. Kalau terbelah sedikit saja, niscaya terbelah pula ketaatanmu, palsulah cintamu. Taat kepada rasul adalah akibat taat kepada Allah, sebab Rasul itu diutus buat "menjemput kamu dan menunjukkan jalan serta memimpin perjalanan itu sekali. فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لا يُحِبُّ الْكافِرينَ " Tetapi jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang kafir " (ujung ayat 32). Maka adalah orang-orang yang terpacul, tercampak ke luar dari rombongan. Ada yang mengaku cinta kepada Allah, tetapi bukan bimbingan Muhammad yang hendak diturutinya, diapun tersingkir ke tepi. Dia maghdhub, dimurkai Tuhan.Ada yang mencoba-coba membuat rencana sendiri, memandai-mandai, maka diapun terlempar keluar, dia dhallin, diapun tersesat.Ada yang tidak sabar, lantas tercecer di tengah jalan. Ada yang terpesona oleh beberapa hal yang disangka indah, sehingga dia lupa bahwa yang akan dituju ialah yang sebenar-benar indah. Orang-orang yang semuanya telah kafir, artinya tidak percaya lagi kepada bimbingan Tuhan; niscaya Tuhan tidak bisa mencintai mereka. Sebab itu maka cinta yang sejati ialah penyerahan diri bulat-bulat, bukan sayang yang terbagi-bagi. Dan mesti sabar menerima apa yang ditimpakan kekasih. Sehingga kalau ada orang yang mengatakan kepada kekasihnya: " walaupun ke lautan api beta ini tuan bawa, beta akan mengikutinya juga." Ucapan yang demikian hanya layak kepada Tuhan, dan Tuhan tidak akan membawa kecintaanNya ke lautan api, melainkan ke dalam syurga. Ayat-ayat inipun masih berhubungan rapat dengan ayat yang diatasnya, tadi dilarang orang yang beriman menghubungkan wilayah dengan orang kafir, jangan mengangkat mereka jadi pelindung atau jadi pemerintahan. Kecuali kalau hendak menjaga dan memelihara supaya jangan datang dari mereka apa yang ditakuti. Kemudian datang ayat ini, mengatakan bahwa cinta sejati hanya kepada Allah dengan mengikuti Nabi saw. sudah itu datang ayat yang lebih tegas menyuruh taat kepada Allah dan Rasul. Maka kalau kita renungkan pertalian ayat ini satu dengan yang lain, nampaklah bahwa pokoknya orang yang beriman tidak boleh berwilayah kepada orang yang kafir, kecuali kalau sudah sangat terpaksa. Tetapi orang-orang yang imannya sudah sangat mendalam dan cintanya yang pertama dan utama, yaitu Allah.
Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 31
Qul in kuntum tuhibbu_nalla_ha fattabi'u_ni yuhbibkumulla_hu wa yagfirlakum zunu_bakum, walla_hu gafu_rur rahim(un).Qul ati'ulla_ha war rasu_l(a), fa in tawallau fa innalla_ha la_ yuhibbul ka_firin(a).
“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 3:31) Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS. 3:32)
Ayat ini sebagai pemutus hukum bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah tetapi tidak menempuh jalan Muhammad, Rasulullah, bahwa dia adalah pembohong dalam pengakuan cintanya itu sehingga dia mengikuti syari’at dan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad dalam semua ucapan dan perbuatannya.
Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya kamu sekalian berbuat dosa hingga memenuhi langit, kemudian kalian bertaubat kepada Allah, pasti Allah akan menerima taubat kalian”. [HR. Ibnu Majah dengan sanad jayyid] “
Dari Abi Burdah dari seorang laki-laki dari sebagian sahabat Muhajirin beliau mengatakan kami telah mendengar Nabi Muhammad bersabda: “ Wahai ingatlah manusia, bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah dan mohonlah pengampunan kami sekalian kepada-Nya, maka sesungguhnya kami bertaubat kepada Allah dan kami mohon pengampunan kepada-Nya pada tiap hari 100 kali atau lebih.”(HR.Ahmad) Oleh karena itu, Allah swt. berfirman, in kuntum tuhibbuunallaaHa fattabi’uuni yuhbib-kumullaaHu (“Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.”) Maksudnya, kalian akan mendapatkan sesuatu yang lebih dari kecintaan kalian kepada-Nya, yaitu kecintaan-Nya kepada kalian, dan ini lebih besar daripada kecintaan kalian kepada-Nya. Seperti yang diungkapkan sebagian ulama ahli hikmah: “Yang jadi permasalahan bukanlah jika engkau mencintai, tapi permasalahannya ialah jika engkau dicintai.”
Sedangkan al-Hasan al-Bashri dan beberapa ulama Salaf berkata: “Ada suatu kaum yang mengaku mencintai Allah, lalu Allah menguji mereka melalui ayat ini, di mana Dia berfirman, qul in kuntum tuhibbuunallaaHa fattabi’uuni yuhbib-kumullaaHu (“Katakanlah: ‘Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.’”)
Setelah itu Dia berfirman, wa yaghfirlakum dzunuubakum wallaaHu ghafuurur rahiim (“Dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) Maksudnya, dengan mengikutnya kalian kepada Rasulullah, maka kalian akan memperoleh hal tersebut (pengampunan dosa) berkat keberkahan perantara-Nya (RasulNya). Selanjutnya Allah berfirman memerintahkan kepada setiap individu, qul athii’ullaaHa war rasuula fa in tawallaw (“Katakanlah: `Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling.’”) Yakni melanggar perintah-Nya, fa innallaaHa laa yuhibbul kaafiriin (“Maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir.”) Hal ini menunjukkan bahwa menyalahi Allah dalam menempuh jalan-Nya merupakan perbuatan kufur, sebab Allah tidak menyukai orang-orang yang berpredikat seperti itu, meskipun ia mengaku mencintai Allah dan bertaqarrub kepada-Nya, sampai dia benar-benar mengikuti Rasulullah, Nabi yang ummi, penutup para Rasul yang diutus kepada segenap bangsa jin dan manusia. Disuruhlah kita selalu membaca al-Qur'an dengan sebenar-benar baca, artinya dengan menjurus kan fikiran kepadanya. Dengan demikian kelak terasa hubungan di antara satu ayat dengan ayat yang menyambutnya. Ujung ayat 30 di atas menyatakan bahwa Tuhan Allah itu amat sayang, amat kasih kepada hamba-hambaNya. Sehingga orang yang pernah bersalah diberi kesempatan mengikuti amalan yang jahat dengan banyak-banyak berbuat baik disertai memohon ampun. Tuhan selalu bersedia menerima kedatangan hambaNya yang demikian. Apa kesan yang terasa dalam hati yang beriman bila membaca sampai di sini? Ialah cinta, kasih-sayang Tuhan kepada hambaNya. Maka dengan sendirinyapun, dalam perasaan si hamba terasalah pula keinginan membalas cinta itu. Bertepuk tidak sebelah tangan hendaknya. Dalam suasana rasa yang demikian datanglah ayat lanjutan ini: قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُوني يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَ اللهُ غَفُورٌ رَحيمٌ "katakanlah: Jika memang kamu cinta kepada Allah, maka turutkanlah aku, niscaya cinta pula Allah kepada kamu dan akan diampuni Nya dosa-dosa kamu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Penyayang." (ayat 31). Maka perasaan yang tadinya masih terasa samar-samar, laksana masih mencari-sari di antara si hamba dengan Tuhannya, sekarang rahasia itu telah terbuka. Mari kita uraikan ! . "Engkau telah mengatakan dalam ujung kataMu bahwa Engkau tetap belas-kasihan kepada aku, hambaMu yang lemah ini, ya Tuhanku ! Sebenarnya aku sendiripun begitu kepada Engkau. Aku cinta kepada Engkau ! Engkau berikan kepadaku suatu perasaan yang halus, suatu 'iffah atau wijdan. Terasa dalam hati kecilku bahwa tidak pernah aku lepas dari tilikanMu, selalu aku Engkau bimbing, banyak nikmatMu kepadaku. Aku selalu hanya menerima saja, aku tidak dapat memberi kepadaMu. Bagaimana aku akan dapat memberi sedang nyawakupun, nyawa yang sedekat-dekatnya kepadaku, Engkau yang punya. lantaran ituah maka kasih cintaku kepada Engkau tumbuh dengan mesranya. Aku takut kepada Engkau karena Engkau. Hanya dengan sebuah tempurung aku menerima nikmatMu yang seluas lautan. Tetapi sungguhpun aku takut, akupun rindu kepada Engkau. Aku cemas, tetapi di dalam cemasku itu akupun mempunyai penuh harapan. Tuhanku ! Engkau ada ! Sungguh Engkau ada ! Hatiku merasainya. Aku ingin sekali berjumpa dengan engkau, tetapi aku tidak tahu ke mana jalan. Dan aku Engkau takdirkan jadi manusia. Aku sendiri tahu kelemahan dan kekuranganku. Sebab itu kadang-kadang terasa malu aku akan melihat Engkau, tetapi aku hendak melihat juga. Tuhanku, tolong aku, tolong aku. Tolong aku dalam penyelesaian soalku ini." Di sinilah datang jawaban Tuhan, dirumuskan oleh ayat ini. Jika sungguh-sungguh engkau cinta kepadaKu, maka jalan buat menemuiKu mudah saja. Memang Aku Maha Mengetahui, bahwa banyak hambaKu yang seperti engkau, ingin menemuiKu, ingin bersimpuh di hadapanKu, hatinya penuh dengan ingat kepadaKu. Sebelum engkau Aku adakanpun telah Kuketahui keinginan, kerinduan, dan kecintaan itu. Untuk itulah aku utus RasulKu kepadamu; dialah petunjuk jalan menuju aku itu. "Hai utusanKu! Sampaikanlah pesanKu itu kepada seluruh hambaKu yang rindu, asyik dan cinta kepadaKu itu. Bentuklah sebuah rombongan itu; zumaran, berbondong-bondong. Tiap-tiap rombongan di bawah pimpinan engkau, wahai utusanku! Katakanlah kepada mereka wahai rasulKu, cinta mereka Aku balas, bertepuk tidak sebelah tangan. Tadi mereka menyebut bahwa mereka sebagai manusia. pernah bersalah. Aku tahu itu, Aku lebih tahu. Sebab Aku yang mengetahui asal kejadian. Maka apabila rombongan itu telah terbentuk, dan mereka telah berkumpul di dalamnya, dan engkau sendiri yang memimpin, tandanya mereka telah benar-benar telah berjalan menuju Aku. Aku ampuni dosa mereka. Aku mempunyai pula suatu nama yang menunjukkan sifatKu yaitu tawwab, artinya memberi taubat, menerima hambaKu yang kembali. Akupun mempunyai suatu nama menunjukkan sifatKu, yaitu ghafur, pemberi ampun. Akupun rahim, amat penyayang. Bagaimana akan kamu ketahui kebesaran Asma'Ku itu, kalau yang bersalah di antara kamu memohon ampun tidak Aku ampuni?" Ingatlah kembali salah satu sebab turunnya ayat ini, yaitu utusan dan rombongan Nasrani 60 orang dengan 14 orang terkemuka sedang berada di Madinah. Nabi Musa yang besar telah mengajarkan kepada Bani Israil suatu ajaran yang berintisari pengorbanan. Sifatnya ialah jalal, kemuliaan. Nabi Isa Almasih yang agung telah membawa lanjutan ajaran yang berdasar hubb, artinya cinta. Sifatnya ialah jamal, keindahan. Sekarangdatang Nabi Muhammad saw. menyempurnakan penyerahan diri kepada Tuhan itu, Islam. Sifatnya ialah kamal, kesempurnaan. Nyatalah ayat-ayat ini meninggalkan kesan yang mendalam juga pada anggota-anggota utusan Nasrani itu; Muhammad s.a.w, pun membicarakan dari hat cinta. Memang cintalah pintu pengajian itu, yang selalu dibuka dengan ucapan: "Dengan nama Allah Yang Maha Murah, lagi Penyayang." Tetapi cinta dalam ucapan sajapun tidaklah cukup. Bahkan cinta hati tidak diikuti pengorbanan tidaklah cukup. Menyatakan cinta, padahal kehendak hati yang dicintai tidak diikuti, adalah cinta palsu. Allah tidak menyukai kepalsuan. Kamu durhakai Allah, padahal kamu menyatakan cinta kepadaNya. Ini adalah mustahil dalam kejadian, dan ini adalah ganjil Jika memang cintamu itu cinta sejati, niscaya kamu taat kepadaNya. Sebab orang yang bercinta, terhadap yang dicintainya, selalu patuh. Oleh sebab itu datanglah sambungan ayat: قُلْ أَطيعُوا اللهَ وَ الرَّسُولَ "Katakanlah: hendaklah kamu taat kepada Allah dan Rasul" (pangkal ayat 32). Taatlah kepada Allah dan ikuti jejak rasul, niscaya kamu akan yakin bahwa bimbingannya tidak akan membawamu kepada kecelakaan. Apabila kamu telah cinta kepada sesuatu, tentu keinginan kamu adalah keinginan dia. Apatah lagi cinta kepada Allah. Kalau kamu telah cinta kepada Allah, niscaya fanalah kesukaan dirimu sendiri, lebur ke dalam kesukaan Allah. Niscaya bertaubat kamu, hanya Satu Dia saja ingatanmu. Tidak berbelah bagi. Kalau terbelah sedikit saja, niscaya terbelah pula ketaatanmu, palsulah cintamu. Taat kepada rasul adalah akibat taat kepada Allah, sebab Rasul itu diutus buat "menjemput kamu dan menunjukkan jalan serta memimpin perjalanan itu sekali. فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لا يُحِبُّ الْكافِرينَ " Tetapi jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang kafir " (ujung ayat 32). Maka adalah orang-orang yang terpacul, tercampak ke luar dari rombongan. Ada yang mengaku cinta kepada Allah, tetapi bukan bimbingan Muhammad yang hendak diturutinya, diapun tersingkir ke tepi. Dia maghdhub, dimurkai Tuhan.Ada yang mencoba-coba membuat rencana sendiri, memandai-mandai, maka diapun terlempar keluar, dia dhallin, diapun tersesat.Ada yang tidak sabar, lantas tercecer di tengah jalan. Ada yang terpesona oleh beberapa hal yang disangka indah, sehingga dia lupa bahwa yang akan dituju ialah yang sebenar-benar indah. Orang-orang yang semuanya telah kafir, artinya tidak percaya lagi kepada bimbingan Tuhan; niscaya Tuhan tidak bisa mencintai mereka. Sebab itu maka cinta yang sejati ialah penyerahan diri bulat-bulat, bukan sayang yang terbagi-bagi. Dan mesti sabar menerima apa yang ditimpakan kekasih. Sehingga kalau ada orang yang mengatakan kepada kekasihnya: " walaupun ke lautan api beta ini tuan bawa, beta akan mengikutinya juga." Ucapan yang demikian hanya layak kepada Tuhan, dan Tuhan tidak akan membawa kecintaanNya ke lautan api, melainkan ke dalam syurga. Ayat-ayat inipun masih berhubungan rapat dengan ayat yang diatasnya, tadi dilarang orang yang beriman menghubungkan wilayah dengan orang kafir, jangan mengangkat mereka jadi pelindung atau jadi pemerintahan. Kecuali kalau hendak menjaga dan memelihara supaya jangan datang dari mereka apa yang ditakuti. Kemudian datang ayat ini, mengatakan bahwa cinta sejati hanya kepada Allah dengan mengikuti Nabi saw. sudah itu datang ayat yang lebih tegas menyuruh taat kepada Allah dan Rasul. Maka kalau kita renungkan pertalian ayat ini satu dengan yang lain, nampaklah bahwa pokoknya orang yang beriman tidak boleh berwilayah kepada orang yang kafir, kecuali kalau sudah sangat terpaksa. Tetapi orang-orang yang imannya sudah sangat mendalam dan cintanya yang pertama dan utama, yaitu Allah.
Langgan:
Catatan (Atom)
JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN
JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN
-
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK; SURAH ALI-IMRAN JUZ-4 BISS-,MILLAA-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM,.; Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 154 Summa a...
-
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK' SURAH MUHAMAD AYAT 21-22 BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM'' 22. fahal ‘asaytum in tawallaytum an t...
-
JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN