Jumaat, 19 Januari 2018

at-tiin tafsir dan isi kandugan 1-8

Tafsir At Tiin Surah At Tiin
 (Buah Tin) Surah ke-95.
 8 ayat. Makkiyyah;

Teguran keras mengenai manusia sebagai makhluk paling istimewa yang pernah diciptakan Allah melampaui segala makhluk namun berakhir tragis karena dicampakkan ke dalam keadaan paling menyedihkan jika tidak beriman dan enggan beramal saleh. Penegasan bahwa tiada yang melebihi Keadilan Yang Maha Adil.

           بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
 Ayat 1-8: Manusia diciptakan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dalam bentuk yang sebaik-baiknya, yang menjadi pokok kemuliaan manusia adalah iman dan amal saleh, dan menetapkan adanya kebangkitan. 
وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ (١) وَطُورِ سِينِينَ (٢) وَهَذَا الْبَلَدِ الأمِينِ (٣) لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (٤) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (٥)إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (٦) فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ (٧) أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ (٨)

Terjemah Surat At Tiin Ayat 1-8

 1. Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun[1],1) wat-tin waz-zaytuuni 2. demi gunung Sinai[2],2) Wa thuuri siiniina 3. dan demi negeri (Mekah) yang aman ini[3],3) wa haadzal-baladil amiin 4. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya[4],4) laqad khalaqnal-insaana fii ahsani taqwiim 5. kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)[5],5) tsumma radadnaahu as fala saafiliin 6. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya[6].6) llal-ladziina amanuu wa amilus-shalihaati falahum Arjun ghayru mam-nuun 7. Maka apa yang menyebabkan (mereka) mendustakanmu (tentang) hari pembalasan setelah (adanya keterangan-keterangan) itu[7]?7) famaa yukadzdzibuka ba'du biddiin 8. Bukankah Allah hakim yang paling adil?[8]8) alaysal-laahu bi-ahkamil-haakimiin

 [1] Yang dimaksud dengan Tin menurut sebagian mufassir ialah tempat tinggal Nabi Nuh, yaitu Damaskus yang banyak pohon Tin; dan Zaitun ialah Baitul Maqdis yang banyak tumbuh pohon Zaitun. Allah Subhaanahu wa Ta'aala bersumpah dengan kedua pohon itu karena banyaknya manfaat pada pohon dan buahnya, dan karena biasa tumbuh di negeri Syam; negeri tempat kenabian Isa putera Maryam’alaihis salam. [2] Bukit Sinai adalah tempat Nabi Musa ‘alaihis salam diajak bicara oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan menerima wahyu dari-Nya. Sinin artinya yang diberkahi atau indah karena pohon-pohon yang berbuah. [3] Yang merupakan negeri tempat kenabian Muhamad shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah Subhaanahu wa Ta'aala bersumpah dengan tempat-tempat yang mulia tersebut yang dari sana dibangkitkan nabi-nabi yang utama dan mulia. Isi sumpahnya adalah apa yang disebutkan dalam ayat selanjutnya. [4] Yakni sempurna dan seimbang fisiknya serta sesuai letak anggota badannya. Namun sayang, nikmat yang besar ini tidak disyukuri oleh kebanyakan manusia. Kebanyakan mereka berpaling dari sikap syukur, sibuk dengan permainan dan yang melalaikan, dan lebih senang dengan perkara yang hina dan rendah, sehingga Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengembalikan mereka ke tempat yang paling rendah, yaitu neraka yang merupakan tempat para pelaku maksiat yang durhaka. [5] Ada pula yang menafsirkan dengan masa tua, pikun dan lemah. [6] Mereka memperoleh kenikmatan yang penuh, kegembiraan yang berturut-turut, kesenangan yang banyak selama-lamanya. [7] Yakni setelah mereka tahu bahwa manusia diciptakan Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya, lalu dikembalikan-Nya kepada keadaan yang paling rendah dimana pada semua itu terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala berkuasa membangkitkan. [8] Yakni bukankah hikmah (kebijaksanaan)-Nya menghendaki untuk tidak membiarkan makhluk ciptaan-Nya begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang serta tanpa diberikan balasan? Bukankah Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang menciptakan manusia secara bertahap dan mengirimkan berbagai kenikmatan yang tidak dapat mereka jumlahkan serta mengurus mereka dengan pengurusan yang sebaik-baiknya pasti akan mengembalikan mereka ke tempat terakhir mereka menetap? Dan bukankah Allah Subhaanahu wa Ta'aala hakim yang paling adil dan tidak pernah berbuat zalim kepada seorang pun? Ya, benar kami menjadi saksi terhadap hal itu.

tafsir surah adh-dhuha 1-11

Tafsir Ibnu Katsir Surah Adl-Dluhaa
(Waktu Matahari Naik Sepenggalah)
Surah Makkiyaah, Surah ke 93: 11 ayat (bahasa Arab:الضحى) adalah surah ke-93 dalam al-Qur'an dan terdiri atas 11 ayat. Surah ini termasuk golongan surah Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Fajr. Nama Adh Dhuhaa diambil dari kata yang terdapat pada ayat pertama, yang artinya "waktu matahari sepenggalahan naik". Surat Adh Dhuhaa, menerangkan tentang pemeliharaan Allah SWT terhadap Nabi Muhammad SAW dengan cara yang tak putus-putusnya, larangan berbuat buruk terhadap anak yatim dan orang yang meminta-minta dan mengandung pula perintah kepada Nabi supaya mensyukuri segala nikmat. “

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم وَالضُّحَى وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى وَلَلآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الأولَى وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى وَوَجَدَكَ ضَالا فَهَدَى وَوَجَدَكَ عَائِلا فَأَغْنَى فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلا تَقْهَرْ وَأَمَّا السَّائِلَ فَلا تَنْهَرْ وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
1. demi waktu matahari sepenggalahan naik, 2. dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), 3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, 4. dan Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan) 5. dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas. 6. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? 7. dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. 8. dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. 9. sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu Berlaku sewenang-wenang. 10. dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. 11. dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan.”

(adl-Dluhaa: 1-11) Imam Ahmad meriwayatkan, Abu Nu’aim Sufyan member tahu kami dari al-Aswad bin Qais, dia berkata: aku pernah mendengar Jundub berkata: “Nabi saw. Pernah bersedih hati sehingga beliau tidak bangun satu atau dua malam. Kemudian dating seorang perempuan dan berkata: ‘Wahai Muhammad, aku tidak melihat syaitanmu melainkan dia telah meninggalkanmu.’
Kemudian Allah menurunkan ayat: wadl-dluhaa. Wallaili idzaa sajaa. Maa wadda’aka rabbuka wamaa qalaa (““1. demi waktu matahari sepenggalahan naik, 2. dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), 3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu,”) diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i. Yang demikian itu merupakan sumpah Allah dengan waktu dluha dan juga cahaya yang dipancarkan pada waktu itu. Wal laili idzaa sajaa (“Dan demi malam apabila telah sunyi”) yakni telah menjadi tenang, lalu digelapkan.
Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid, Qatadah, adl-Dlahhak, Ibnu Zaid, dan lain-lain. Dan hal itu yang menjadi dalil nyata yang menunjukkan kekuasaan Sang Khaliq. Firman Allah: maa wadda’aka rabbuka (“Rabb-mu tidak meninggalkanmu”) yakni tidak membiarkanmu. Wa maa qalaa (“Dan tidak [pula] benci kepadamu.”) yakni membencimu. Wa lal-aakhiratu khairul laka minal uulaa (“Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan.”) maksudnya, alam akhirat itu lebih baik bagimu daripada alam dunia ini. Oleh karena itu, Rasulullah saw. sebagai orang paling juhud di dunia ini sekaligus paling bijaksana menyikapinya, dan itu sudah sangat dikenal di dalam sirah beliau.

      Dan ketika diajukan pilihan kepada beliau di akhir hayatnya, antara tetap hidup di dunia sampai berakhir dan kemudian mendapatkan surga dengan menghadap Allah, maka beliau memilih apa yang ada di sisi Allah daripada dunia yang hina ini. Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: “Rasulullah saw. pernah berbaring di atas tikar sehingga menimbulkan bekas pada lambungnya. Pada saat bangun, aku mengusap lambung beliau dan kukatakan: ‘Wahai Rasulallah, berikan perkenan kepada kami sehingga kami bentangkan sesuatu di atas tikar tersebut untukmu.’ Maka Rasululullah saw. bersabda: ‘Aku tidak mempunyai kepentingan terhadap dunia ini. Perumpamaanku dengan dunia ini tidak lain hanyalah seperti orang yang sedang berkendaraan yang berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.’”

    Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi mengatakan: “Hasan shahih”. Firman Allah: wa lasaufa yu’thiika rabbuka fatardlaa (“Dan kelak pasti Rabb-mu memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu [hati] kamu menjadi puas.”) yakni, di alam akhirat kelak, Dia akan memberikan karunia kepada beliau sehingga Dia meridlainya untuk memberi syafaat kepada umatnya dan menerima apa yang telah disediakan untuk beliau berupa kemuliaan. Imam Abu ‘Amr al-Auza’i meriwayatkan dari ‘Ali bin ‘Abdillah bin ‘Abbas, dari ayahnya, ia berkata: “Pernah diperlihatkan kepada Rasulullah saw. sesuatu yang telah dibukakan gudang penyimpan barang berharga untuk umatnya sepeninggal beliau.
      Maka Rasulullah saw. sangat gembira dengan hal tersebut sehingga Allah menurunkan ayat: wa lasaufa yu’thiika rabbuka fatardlaa (“Dan kelak pasti Rabb-mu memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu [hati] kamu menjadi puas.”) Maka Allah pun memberi beliau di surga satu juta istana. Di setiap istana terdapat istri-istri juga pelayan. Demikian yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari jalannya. Dan ini adalah sanad yang shahih kepada Ibnu ‘Abbas. Dan perumpamaan ini tidak diungkapkan melainkan sebagai penghentian. As-Suddi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, di antara bentuk kepuasan Muhammad saw. adalah tidak adanya seorang pun dari keluarganya yang masuk neraka. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim. Al-Hasan mengungkapkan: “Yang dimaksud dengan hal ini adalah syafaat.” Demikianlah yang dikemukakan oleh Abu ja’far al-Baqir. Kemudian sambil menghitung nikmat-nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba sekaligus Rasul-Nya, Muhammad saw., Allah berfirman: a lam yajidka yatiimang fa aawaa (“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu.”) yang demikian itu karena ayahnya telah wafat ketika beliau masih dalam kandungan ibunya. Ada juga yang menyebutkan, setelah beliau lahir, ibunya –Aminah binti Wahb- pun wafat, ketika itu beliau masih berusia 6 tahun. Kemudian beliau berada di bawah asuhan kakeknya, ‘Abdul Muththalib sampai kakeknya meninggal dunia ketika beliau berusian 8 tahun. Lalu beliau diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Abu Thalib melindungi dan memuliakannya hingga beliau diangkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun, sedangkan Abu Thalib masih memeluk agama nenek moyangnya. Semua itu terjadi atas takdir Allah dan pengaturnan-Nya yang baik sampai akhirnya Abu Thalib meninggal dunia sesaat sebelum beliau berhijrah. Kemudian orang-orang bodoh dari kaum Quraisy semakin berani sehingga Allah memilihkan hijrah untuk beliau dari tengah-tengah mereka ke negeri Anshar, dari suku Auz dan Khazraj (Madinah). Sebagaimana Allah telah memberlakukan sunnah-Nya dengan penuh kesempurnaan dan kelengkapan, maka setelah beliau sampai kepada mereka, merekpun memberikan perlindungan dan pertolongan serta pengawalan, dan menyertai berperang bersama beliau. Semua itu merupakan bentuk penjagaan, perlindungan dan pertolongan Allah kepada beliau. Firman Allah: wawajadaka dlaallang faHadaa (“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberi petunjuk.”) yang demikian itu sama seperti firman-Nya yang artinya: 52. dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”)(asy-Syuura: 52) Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat itu adalah Nabi saw. pernah tersesa di jalanan gunung yang terletak di Makkah, ketika itu beliau masih kecil, kemudian beliau bisa pulang kembali. Pada saat itu beliau sedang bersama pamannya menuju ke Syam. Beliau naik unta pada malam hari, lalu iblis datang dan menyelewengkan beliau dari jalan yang sebenarnya. Selanjutnya Jibril datang, lalu menyembur dengan sekali tiupan kepada iblil sehingga dia pergi darinya menuju Habasyah, kemudian mengarahkan binatang kendaraan itu ke suatu jalan. Demikian yang diriwayatkan oleh al-Baghawi. Firman Allah: wawajadaka ‘aa-ilang fa-anghnaa (“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”) artinya, engkau sebagai seorang miskin yang banyak kekurangan, lalu allah memberimu kecukupan dari selain-Nya. Dengan demikian, Dia menggabungkan dua kedudukan untuk beliau, sebagai seorang miskin yang senantiasa bersabar dan seorang kaya yang senantiasa bersyukur. Dalam kitab ash-Shahihain disebutkan melalui jalan ‘Abdurrazzaq dari Ma’mar dari Hammam bin Munabbih, dia mengatakan: “Inilah diberitahukan kepada kami oleh Abu Hurairah. Dia berkata: “Rasulullah bersabda: ‘Tidaklah kekayaan itu dengan banyakknya harta, tetapi kekayaan itu adalah kayanya jiwa.’”
       Di dalam kitab Shahih Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Berbahagialah orang yang memeluk Islam dan diberi rizki yang cukup dan dijadikan puas oleh Allah atas apa yang telah Dia berikan kepadanya.” Firman Allah: fa ammal yatiima falaa taqHar (“Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.”) yakni sebagaimana kamu dulu sebagai seorang anak yatim, lalu Allah memberikan perlindungan kepadamu. Oleh karena itu, janganlah engkau menghardik anak yatim. Artinya janganlah engkau menghinakan, berbuat kasar terhadapnya dan janganlah engkau menghalanginya, tetapi hendaklah bersikap baik dan berlemah lembut terhadapnya. Qatadah mengatakan: “Jadilah engkau bagi anak yatim serperti seorang anak yang penuh kasih sayang.” Wa ammas saa-ila falaa tanHar (“Dan terhadap orang yang minta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya.”) maksudnya, sebagaimana dulu engkau pernah tersesat, lalu Allah memberi petunjuk, maka janganlah kamu menghardik orang yang meminta ilmu dan bimbingan. Selain itu, Qatadah juga mengemukakan: “Yakni, menolak orang miskin dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.” Wa ammaa bini’mati rabbika fahaddits (“Dan terhadap nikmat Rabb-mu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya [dengan bersyukur]”) maksudnya, sebagaiman dulu engkau seorang miskin lagi kekurangan, lalu Allah membuatmu kaya, maka sebut-sebutlah nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepadamu. Dan di dalam kitab ash-Shahihain, dari Anas bahwa kaum Muhajirin pernah berkata: “Wahai Rasulallah, kaum Anshar telah membawa pergi semua pahala.” Maka beliau menjawab: “Tidak, selama kalian mendo’akan kebaikan untuk mereka dan pujian yang kalian berikan kepada mereka.”

Rabu, 17 Januari 2018

surah quraish tafsir

    Untuk keluhur Muhammad dan kaumnya, lihat Quraisy dan Suku Quraisy. Quraisy قُرَيْشٍ Quraish.png Informasi Arti Suku Quraisy Klasifikasi Makkiyah Surah ke 106 Juz Juz 30 Statistik Jumlah ruku' 1 ruku' Jumlah ayat 4 ayat Surah Quraisy (bahasa Arab:قُرَيْشٍ, "Bani Quraisy") adalah surah ke-106 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 4 ayat dan tergolong surah Makkiyah. Kata Quraisy sendiri merujuk pada kaum Quraisy yakni kaum (suku) yang mendapat kepercayaan menjaga Ka'bah. Pokok isinya surat ini menerangkan kehidupan orang Quraisy serta kewajiban yang seharusnya mereka penuhi.
  1. Quraisy
    قُرَيْشٍ
    Quraish.png
    Informasi
    ArtiSuku Quraisy
    KlasifikasiMakkiyah
    Surah ke106
    JuzJuz 30
    Statistik
    Jumlah ruku'1 ruku'
    Jumlah ayat4 ayat

  2. لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ (1) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (2) فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ ) 
   Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah), Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan rasa lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. Surat ini menurut Mushaf Induk terpisah dari surat yang sebelumnya, mereka menuliskan di antara keduanya baris pemisah, yaitu Bismillahir Rahmanir Rahim, sekalipun bila dipandang dari segi maknanya dengan surat yang sebelumnya mempunyai kaitan yang erat. Hal ini dijelaskan oleh Muhammad ibnu Ishaq dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam. Dengan alasan karena makna yang dimaksud ialah Kami menahan pasukan bergajah dari Mekah dan Kami binasakan pula para pemiliknya, demi kebiasaan orang-orang Quraisy. Yakni untuk memelihara kelestarian kebiasaan dan terhimpunnya mereka di negerinya dalam keadaan aman. Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud dengan Ilaf ialah tradisi mereka dalam melakukan perjalanan di musim dingin ke negeri Yaman dan di musim panas ke negeri Syam untuk tujuan berniaga dan lain-lainnya. Kemudian mereka kembali ke negerinya dalam keadaan aman tanpa ada gangguan di perjalanan mereka. Demikian itu karena mereka dihormati dan disegani oleh orang lain, mengingat mereka adalah penduduk kota suci Allah. Maka siapa yang mengenal mereka, pasti menghormati mereka. Bahkan barang siapa yang dipilih oleh mereka untuk menjadi teman perjalanan mereka, maka ia ikut aman berkat keberadaan mereka. Demikianlah keadaan mereka dalam perjalanan dan misi mereka di musim dingin dan musim panas. Adapun mengenai keadaan mereka bila menetap di kota mereka, maka disebutkan oleh firman-Nya: أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنا حَرَماً آمِناً وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedangkan manusia sekitarnya rampok-merampok. (Al-'Ankabut: 67) Untuk itulah maka disebutkan oleh firman-Nya: {لإيلافِ قُرَيْشٍ} Karena kebiasaan orang-orang Quraisy. (Quraisy: 1-2) Ilaf yang kedua menjadi badal dan tafsir dari yang pertama, untuk itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya: {إِيلافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ} (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. (Quraisy: 2) Ibnu Jarir mengatakan bahwa yang benar ialah bahwa lam dalam permulaan ayat surat ini menunjukkan makna ta'ajjub, seakan-akan disebutkan bahwa kagumlah kamu kepada kebiasaan orang-orang Quraisy dan nikmat-Ku yang telah Kulimpahkan kepada mereka dalam hal tersebut. Ibnu Jarir mengatakan bahwa menurut kesepakatan kaum muslim, kedua surat ini merupakan surat yang masing-masing berdiri sendiri dan terpisah dari yang lainnya. Kemudian Allah Swt. memberi mereka petunjuk untuk bersyukur atas semua hikmat yang besar ini, melalui firman-Nya: {فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ} Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah). (Quraisy: 3) Yakni hendaklah mereka mengesakan-Nya dalam menyembah-Nya, sebagaimana Dia telah menjadikan bagi mereka kota yang suci lagi aman dan Ka'bah yang disucikan. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu: إِنَّما أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَها وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nyalah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (An-Naml: 91) Firman Allah Swt.: {الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ} Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan rasa lapar. (Quraisy: 4) Yaitu Dia adalah Tuhan Pemilik Ka'bah ini, Dialah yang memberi mereka makan agar tidak lapar. وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ dan mengamankan mereka dari ketakutan. (Quraisy: 4) Allah telah memberikan karunia keamanan dan banyak kemurahan kepada mereka, maka hendaklah mereka menyembah-Nya dengan mengesakan-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan janganlah mereka menyembah-Nya dengan yang lain-Nya, baik berhala maupun patung atau lain-lainnya yang mereka persekutukan dengan-Nya. Karena itulah barang siapa yang memenuhi perintah ini, maka Allah menghimpunkan baginya keamanan di dunia dan keamanan di akhirat nanti; dan barang siapa yang durhaka kepada-Nya, maka Allah Swt. mencabut keduanya dari dia. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيها رِزْقُها رَغَداً مِنْ كُلِّ مَكانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذاقَهَا اللَّهُ لِباسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِما كانُوا يَصْنَعُونَ وَلَقَدْ جاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْهُمْ فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمُ الْعَذابُ وَهُمْ ظالِمُونَ Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya dengan melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya; karena itu mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (An-Nahl: 112-113) قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو العَدَني، حَدَّثَنَا قَبِيصة، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ لَيْثٍ، عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ، عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "وَيْلُ أُمِّكُمْ، قُرَيْشٍ، لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ" Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Amr Al-Gaziy, telah menceritakan kepada kami Qubaisah, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Lais, dari Syahr ibnu Hausyab, dari Asma binti Yazid yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Kecelakaan yang besarlah bagi kalian, hai Quraisy, karena adanya surat Quraisy ini. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al-Mu-ammal ibnul Fadl Al-Harrani, telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Yunus, dari Abdullah ibnu Abu Ziyad, dari Syahr ibnu Hausyab, dari Usamah ibnu Zaid yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: لِإِيلافِ قُرَيْشٍ إِيلافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتاءِ وَالصَّيْفِ وَيَحْكُمُ يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ اعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ الَّذِي أَطْعَمَكُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَكُمْ مِنْ خَوْفٍ Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musimpanas. Celakalah kalian, hai golongan orang-orang Quraisy, sembahlah oleh kalian Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah) yang telah memberi kalian makan dari kelaparan dan memberi kalian keamanan dari rasa takut. Demikianlah yang telah kusaksikan hadis dari Usamah ibnu Zaid. sebenarnya dari Asma binti Yazid ibnus Sakan Ummu Salamah Al-Ansariyyah r.a. Barangkali terjadi salah penyalinan dari asal riwayatnya; hanya Allahlah Yang Maha Mengetahui.

Isnin, 15 Januari 2018

tafsir surah afiiil 1-5

تَفْسِيرُ سُورَةِ الْفِيلِ
 (Gajah) Makkiyah,
 5 ayat Turun sesudah Surat Al-Kafirun
 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
 Al-Fil, ayat 1-5 أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (1) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5)
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia? dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). Ini mempakan nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada kaum Quraisy, karena Allah telah menyelamatkan mereka dari serangan tentara bergajah, yang sejak semula telah bertekad akan merobohkan Ka'bah dan meratakannya dengan tanah hingga tiada bekas-bekasnya lagi. Maka Allah memusnahkan mereka dan menjadikan mereka kalah serta usaha mereka menjadi sia-sia, begitu pula tiada hasilnya dari kerja mereka; Allah mengusir mereka dengan cara yang buruk dan akibat yang mengecewakan. Mereka adalah kaum Nasrani, dan agama mereka saat itu lebih mirip keadaannya dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy, yaitu menyembah berhala. Peristiwa ini terjadi sebagai irhas dan pendahuluan bagi akan diutus-Nya Rasulullah Saw. Karena sesungguhnya di tahun itu Nabi Muhammad —menurut pendapat yang terkenal— dilahirkan. Dan seakan-akan takdir Allah Swt. telah menetapkan bahwa hai golongan orang-orang Quraisy, Kami menolong kalian bukanlah karena kalian lebih baik daripada orang-orang Habsyah itu, tetapi karena memelihara Baitul 'Atiq yang akan Kami muliakan, Kami agungkan, dan Kami hormati dengan diutusnya seorang nabi yang ummi, yaitu Muhammad Saw. penutup para nabi. Berikut ini adalah kisah tentara bergajah secara ringkas, padat, tetapi mendekati kebenaran. Dalam kisah orang-orang yang dimasukkan di dalam parit berapi telah disebutkan bahwa Zu Nuwas, raja terakhir orang-orang Himyar yang musyrik; dialah orang yang membunuh kaum Nasrani dengan memasukkan mereka ke dalam parit yang berapi, jumlah mereka yang dibunuh olehnya kurang lebih ada dua puluh ribu orang. Tiada seorang pun dari mereka yang selamat kecuali Daus yang dijuluki dengan panggilan Zu Sa'labain. Daus melarikan diri dan meminta pertolongan kepada Kaisar raja di negeri Syam, yang juga seagama dengannya, yaitu pemeluk agama Nasrani. Maka Kaisar berkirim surat perintah kepada Raja Najasyi di negeri Habsyah, mengingat letak geografis Habsyah lebih dekat ke negeri Yaman. Maka Raja Najasyi mengirimkan dua orang panglima perangnya— yaitu Aryat dan Abrahah ibnus Sabah Abu Yaksum— dengan membawa pasukan yang sangat banyak jumlahnya. Maka mereka memasuki negeri Yaman dan mereka merajalela di kota-kotanya, lalu merebut kerajaan negeri Yaman dari tangan orang-orang Himyar, sedangkan Zu Nuwas sendiri tewas karena tenggelam di laut. Dan Habsyah menjadikan negeri Yaman sebagai negeri yang berdiri sendiri di bawah pimpinan kedua panglima tersebut, yaitu Aryat dan Abrahah. Lalu keduanya berselisih pendapat mengenai siapa di antara keduanya yang berhak menjadi raja di negeri Yaman; keduanya berupaya menjatuhkan yang lainnya. Pada akhirnya salah satu pihak berkata kepada pihak lawannya, "Kita tidak perlu mengorbankan prajurit yang tidak berdosa di antara kita, lebih baik kita perang tanding saja antara aku dan kamu. Maka barang siapa yang dapat mengalahkan lawannya dan berhasil membunuhnya, dialah yang berhak menjadi raja di negeri ini." Pihak lainnya menyetujui usul ini, akhirnya keduanya bertanding dalam suatu ajang perang yang di belakang masing-masing pihak ada parit. Di suatu kesempatan Aryat berhasil menebaskan pedangnya dan mengenai hidung dan mulut Abrahah, dan hampir saja membelah wajahnya. Maka Atudah maula (bekas budak) Abrahah membela majikannya dan menyerang Aryat serta berhasil membunuhnya. Maka Abrahah diusung dari arena itu dalam keadaan terluka, lalu lukanya diobati hingga akhirnya ia sembuh; setelah itu ia sendirilah yang memimpin tentara Habsyah di negeri Yaman. Raja Najasyi (Negus) berkirim surat kepadanya, yang isinya mencela perbuatannya itu dan mengancamnya serta bersumpah bahwa dirinya benar-benar akan menginjak-injak negeri Yaman dan membelah ubun-ubunnya. Maka Abrahah membalas suratnya dengan nada memohon belas kasihan dan berdiplomasi, seraya mengirimkan hadiah-hadiah, cindera mata, dan kantong yang berisikan tanah negeri Yaman serta potongan rambut ubun-ubunnya. Semuanya itu ia kirimkan bersama kurirnya untuk disampaikan kepada Raja Najasyi. Di dalam suratnya Abrahah mengatakan, "Hendaklah Anda (raja) menginjak-injak tanah ini untuk menunaikan sumpah Anda, dan inilah potongan rambut ubun-ubunku kuserahkan kepadamu." Ketika hal tersebut sampai di pangkuan Raja Najasyi, ternyata ia terpikat dengan cara yang dilakukan Abrahah, dan akhirnya ia puas dan mendukung apa yang dilakukan oleh Abrahah. Dan dalam suratnya itu Abrahah menjanjikan kepada Najasyi bahwa dirinya akan membangun sebuah gereja di tanah Yaman atas nama Raja Najasyi, yang belum pernah ada suatu gereja pun dibangun sebesar itu. Maka Abrahah membangun sebuah gereja yang sangat besar di kota San'a, bangunannya tinggi sekali lagi dipenuhi dengan berbagai ukiran dan pahatan; orang-orang Arab menamainya Al-Qulais. Disebut demikian karena bangunannya tinggi sekali, hingga membuat qalansuwah (peci) orang yang memandangnya hampir saja terjatuh dari kepalanya, mengingat puncaknya tinggi sekali. Kemudian Abrahah menginstruksikan kepada Asyram agar memalingkan para peziarah dari kalangan orang-orang Arab untuk mengunjunginya sebagaimana Ka'bah di Mekah dikunjungi mereka. Dan Abrahah memerintahkan kepada Asyram supaya menyerukan pengumuman ini di seluruh kerajaannya. Maka orang-orang Arab keturunan 'Adnan dan Qahtan tidak suka dengan hal tersebut, dan orang-orang Quraisy sangat marah karenanya, hingga sebagian dari mereka ada yang bertekad membuat kerusuhan di dalamnya. Dia masuk dengan diam-diam ke dalamnya di malam hari, lalu menimbulkan peristiwa yang menggemparkan di dalamnya, setelah itu ia lari pulang ke Hijaz. Ketika para pelayan gereja melihat peristiwa tersebut, mereka melaporkan kepada rajanya (yaitu Abrahah) dan mengatakan kepadanya bahwa sesungguhnya yang melakukan peristiwa tersebut tiada lain adalah kaki tangan orang-orang Quraisy, karena mereka marah dan tidak suka dengan adanya gereja ini yang dianggap menyaingi kepunyaan mereka. Maka Abrahah bersumpah bahwa dirinya benar-benar akan menuju ke Ka'bah di Mekah dan benar-benar akan menghancurkannya batu demi batu hingga rata dengan tanah. Muqatil ibnu Sulaiman menyebutkan bahwa ada seorang pemuda dari kalangan Quraisy memasuki gereja besar di Yaman itu, lalu ia membakarnya, sedangkan di hari itu cuaca sangat panas, maka dengan mudahnya gereja itu terbakar hingga ambruk. Karena peristiwa itulah Abrahah bersiap-siap menghimpun bala tentaranya dalam jumlah yang sangat besar. Lalu ia berangkat dengan pasukannya itu dengan maksud agar tiada seorang pun yang dapat menghalang-halangi niatnya. Selain dari itu ia membawa seekor gajah yang besarnya tak terperikan, diberi nama Mahmud; gajah tersebut sengaja dikirim oleh Raja Najasyi kepadanya untuk tujuan tersebut. Bahkan menurut pendapat lain, selain gajah Mahmud itu ada delapan gajah lainnya; dan menurut pendapat yang lainnya lagi dua belas ekor gajah; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Gajah tersebut akan dijadikan sebagai sarana untuk merobohkan Ka'bah, misalnya mengikat semua sisi Ka'bah dengan rantai, lalu mengikatkannya pada leher gajah, maka gajah akan menariknya dan tembok Ka'bah akan runtuh sekaligus dalam waktu yang singkat. Ketika orang-orang Arab mendengar keberangkatan Abrahah dengan pasukannya yang bergajah itu, maka mereka merasakan adanya bahaya yang amat besar akan menimpa diri mereka. Dan mereka merasakan bahwa sudah merupakan keharusan bagi mereka membela Bait mereka dan mengusir orang-orang yang bermaksud jahat terhadapnya. Maka bangkitlah seorang lelaki dari kalangan penduduk Yaman yang terhormat dan terbilang sebagai pemimpin mereka untuk mengadakan perlawanan terhadap Abrahah. Orang tersebut bernama Zu Nafar, maka ia menyerukan kepada kaumnya dan orang-orang Arab lainnya untuk memerangi Abrahah dan berjihad melawannya demi membela Baitullah, karena Abrahah bermaksud akan merobohkannya dan meratakannya dengan tanah. Seruannya itu mendapat sambutan yang hangat dari mereka, lalu mereka berperang melawan Abrahah dipimpin oleh Zu Nafar, tetapi pada akhirnya Zu Nafar kalah. Ini tiada lain karena kehendak Allah Swt. yang bertujuan akan memuliakan Baitullah dan mengagungkannya. Zu Nafar ditawan, tetapi Abrahah memaafkannya dan membawanya pergi bersama ke Mekah. Dan ketika perjalanan Abrahah sampai di tanah orang-orang Khas'am, ia dihalangi oleh Nufail ibnu Habib Al-Khas'ami bersama kaumnya, yang memeranginya selama dua bulan. Tetapi pada akhirnya Abrahah berhasil mengalahkan mereka dan menawan Nufail ibnu Habib; pada mulanya Abrahah bermaksud membunuhnya, kemudian ia memaafkannya dan membawanya serta ke Mekah sebagai penunjuk jalannya di negeri Hijaz. Ketika perjalanan Abrahah sampai di dekat Taif, maka para penduduk Taif datang menyambutnya dan bersikap diplomatis dengannya karena takut dengan rumah peribadatan mereka yang mereka beri nama Al-Lata, karenanya Abrahah menghormati mereka. Dan mereka mengirimkan Abu Rigal untuk pergi bersamanya sebagai penunjuk jalan. Ketika perjalanan Abrahah sampai di Al-Magmas —yaitu di suatu tempat yang terletak tidak jauh dari Mekkah— ia turun beristirahat, sedangkan bala tentaranya merampas semua ternak penduduk Mekah dan sekitarnya atas perintah Abrahah sendiri. Dan di antara ternak unta yang dirampas terdapat dua ratus ekor unta milik Abdul Muttalib. Dan tersebutlah orang yang diserahi oleh Abrahah untuk memimpin perampasan ternak itu adalah komandan pasukan terdepannya yang dikenal dengan nama Al-Aswad ibnu Maqsud, lalu ia dikecam oleh sebagian bangsa Arab melalui bait-bait syairnya, menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq. Abrahah mengirimkan Hannatah Al-Himyari ke Mekah dan memerintahkan kepadanya supaya kembali membawa orang Quraisy yang paling terhormat. Dan Abrahah menyampaikan kepadanya bahwa dia datang bukan untuk memerangi kamu, terkecuali jika kamu menghalang-halanginya dari Baitullah. Maka datanglah Hannatah ke Mekah, lalu ditunjukkan kepadanya rumah Abdul Muttalib ibnu Hasyim, lalu ia menyampaikan kepadanya apa yang dikatakan oleh Abrahah. Maka Abdul Muttalib mengatakan kepadanya, "Demi Allah, kami tidak berniat untuk memeranginya, juga kami tidak mempunyai kekuatan untuk itu. Ini adalah Baitullah yang disucikan dan merupakan bait (rumah) kekasih-Nya, yaitu Ibrahim. Maka jika Dia mempertahankannya, sudah wajar karena ia adalah rumah-Nya yang disucikan. Dan jika Dia membiarkan antara bait-Nya. dan Abrahah, maka tiada kemampuan bagi kami untuk mempertahankannya." Hannatah berkata kepada Abdul Muttalib, "Kalau begitu, marilah engkau pergi bersamaku untuk menemuinya." Maka Abdul Muttalib berangkat bersama Hannatah. Dan ketika Abrahah melihat Abdul Muttalib, ia terkejut melihat penampilan Abdul Muttalib yang tinggi lagi berwibawa dan tampan. Maka ia menghormatinya, dan ia turun dari singgasananya, lalu duduk bersama Abdul Muttalib di hamparan permadani. Abrahah berkata kepada juru terjemahnya untuk mengatakan kepada Abdul Muttalib mengenai keperluannya hingga datang menghadap kepadanya. Abdul Muttalib berkata kepada juru terjemah Abrahah, "Sesungguhnya aku datang untuk keperluanku sendiri, yaitu sudilah kiranya sang raja (Abrahah) menyerahkan kepadanya dua ratus ekor unta miliknya yang telah dirampasnya." Abrahah terkejut dan mengatakan kepada juru terjemahnya bahwa katakanlah kepadanya, "Sesungguhnya pada mulanya ketika aku melihatmu, aku merasa kagum dengan penampilan dan wibawamu. Tetapi setelah engkau berbicara kepadaku, kesanku menjadi sebaliknya; apakah engkau berbicara kepadaku hanya mengenai dua ratus ekor unta yang telah kurampas darimu? Sedangkan engkau meninggalkan bait-mu yang merupakan agamamu dan agama nenek moyangmu, padahal aku datang untuk merobohkannya, lalu mengapa engkau tidak berbicara kepadaku mengenainya?" Abdul Muttalib menjawab, "Sesungguhnya aku adalah pemilik unta itu dan sesungguhnya bait itu mempunyai Pemiliknya sendiri yang akan membelanya." Abrahah berkata, "Dia tidak akan dapat mencegahku dari merobohkannya." Abdul Muttalib berkata, "'Kalau begitu, terserah Anda." Menurut suatu pendapat, sesungguhnya bersama Abdul Muttalib terdapat segolongan orang-orang terhormat dari kalangan orang-orang Arab. Mereka menawarkan kepada Abrahah sepertiga dari harta Tihamah dengan syarat Abrahah mengurungkan niatnya dari menghancurkan Ka'bah. Tetapi Abrahah menolak tawaran mereka dan mengembalikan kepada Abdul Muttalib dua ratus ekor untanya. Abdul Muttalib kembali ke Mekah dan menemui orang-orang Quraisy, lalu memerintahkan kepada mereka agar keluar dari Mekah dan berlindung di atas puncak-puncak bukitnya karena takut akan serangan bala tentara Abrahah. Setelah itu Abdul Muttalib pergi ke Ka'bah dan memegang pegangan pintu Ka'bah, sedangkan di belakangnya ikut beberapa orang dari kaum Quraisy. Mereka semuanya berdoa kepada Allah dan memohoh pertolongan kepada-Nya dari serangan Abrahah dan bala tentaranya. Abdul Muttalib dalam doanya itu mengatakan seraya memegang pegangan pintu Ka'bah: لاهُمَّ إنَّ المرء يمـ ... نَعُ رَحْلَه فامْنع حِلالَك ... لَا يغلبنَّ صَلِيبُهم ... ومحَالُهم غَدْوًا مِحَالك ... Ya Allah, sesungguhnya seseorang itu diharuskan membela ternak unta miliknya, maka belalah kepemilikan-Mu. Janganlah sekali-kali Engkau biarkan salib dan kekuasaan mereka selamanya menang atas tempat-Mu ini. Setelah itu Abdul Muttalib melepaskan pegangan pintu Ka'bah, lalu ia bersama orang-orang Quraisy lainnya keluar menuju ke daerah perbukitan, berlindungdi puncak-puncaknya. Demikianlah menurut Ibnu Ishaq. Muqatil ibnu Sulaiman menyebutkan bahwa mereka meninggalkan di dekat Baitullah seratus ekor unta budnah yang telah dikalungi (untuk dikurbankan), dengan tujuan mudah-mudahan sebagian tentara Abrahah ada yang berani mengganggunya dan menyembelih sebagiannya tanpa hak, maka akibatnya Allah akan menghukum mereka. Dan pada pagi harinya Abrahah bersiap-siap untuk memasuki kota Mekah, lalu menyiapkan gajahnya yang diberi nama Mahmud dan ia menyiapkan pula bala tentaranya. Setelah semuanya siap, maka mereka mengarahkan gajahnya menuju ke arah Mekah, tetapi sebelum itu Nufail ibnu Habib datang dan berdiri di dekat gajah, lalu berkata, "Hai Mahmud, duduklah kamu dan kembalilah dengan penuh kesadaran menuju ke tempat asal kedatanganmu, karena sesungguhnya engkau berada di negeri Allah yang disucikan," setelah itu melepaskan telinga gajah Mahmud, yang dipeganginya saat ia membisikinya. Maka gajah itu duduk, dan Nufail lari dengan kencangnya menuju ke daerah perbukitan dan berlindung di puncaknya. Mereka memukuli gajah itu supaya berdiri, akan tetapi gajah itu membangkang dan tidak mau berdiri. Lalu mereka memukul kepalanya dengan palu agar bangkit, dan mereka masukkan tongkat mereka ke bagian lubang telinganya, menariknya dengan tujuan agar mau berdiri, tetapi gajah itu tetap menolak. Kemudian mereka mengarahkannya ke negeri Yaman, dan ternyata tanpa sulit gajah itu bangkit dengan sendirinya, lalu berlari kecil menuju ke arah itu. Kemudian mereka mencoba untuk mengarahkannya ke negeri Syam, dan gajah itu menuruti perintahnya; mereka coba mengarahkannya ke timur, maka gajah itu mengikuti perintah. Tetapi bila diarahkan ke Mekah, gajah itu diam dan duduk. Dan Allah mengirimkan kepada mereka sejumlah besar burung dari arah laut yang bentuknya seperti burung walet dan burung balsan; tiap-tiap ekor membawa tiga buah batu. Satu diparuhnya dan yang dua dipegang oleh masing-masing dari kedua kakinya; batu itu sebesar kacang humsh dan kacang 'adas. Tiada seorang pun dari mereka yang terkena batu itu melainkan pasti binasa, tetapi tidak seluruhnya terkena batu itu. Akhirnya mereka melarikan diri dan lari tunggang langgang ke arah semula mereka datang seraya mencari Nufail ibnu Habib untuk menunjukkan kepada mereka jalan pulangnya. Sedangkan Nufail berada di atas bukit bersama orang-orang Quraisy dan orang-orang Arab Hijaz lainnya, menyaksikan apa yang ditimpakan oleh Allah Swt. kepada tentara bergajah itu sebagai azab dari-Nya. Dan ketika menyaksikan pemandangan itu Nufail berkata: أينَ المَفَرُّ? والإلهُ الطَّالب والأشرمُ المغلوبُ غَيْرُ الْغَالِبْ Ke manakah tempat untuk berlari dari kejaran Tuhan yang mengejar; Asyram kalah dan tidak menang. Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Nufail ibnu Habib dalam kesempatan itu mengumandangkan bait-bait syair yang berbunyi, أَلَا حُييت عَنا يَا رُدَينا ... نَعمْنا كُم مَعَ الأصبَاح عَينَا ... رُدَينةُ لَوْ رَأَيْتِ -وَلَا تَرَيْه ... لَدَى جَنْب الْمُحَصَّبِ -مَا رَأينَا ... إِذًا لَعَذَرتني وَحَمَدت أمْري ... وَلَم تَأْسَيْ عَلَى مَا فَاتَ بَيْنَا ... حَمِدتُ اللَّهَ إِذْ أبصَرتُ طَيْرًا ... وَخفْتُ حَجارة تُلقَى عَلَينا ... فَكُلّ الْقَوْمِ يَسألُ عَن نُفَيل ... كَأنَّ عليَ للحُبْشَان دَينَا! ... "Mengapa engkau tidak menghormati kami dan agama kami, maka kami akan menghormati kedatanganmu dengan penghormatan yang luar biasa. Demi suatu agama yang seandainya engkau melihat sebagaimana yang kami lihat di dekat Al-Muhassib, tetapi ternyata engkau tidak melihatnya. Jika engkau melihatnya, tentulah engkau memaafkanku dan memuji tindakanku, dan engkau tidak akan mengalami kekecewaan dari apa yang telah terlewatkan di antara kita. Aku memuji kepada Allah ketika melihat kedatangan burung-burung, dan aku menjadi takut akan tertimpa oleh batu-batu yang dijatuhkannya. Maka semua kaum (tentara Habsyah) mencari-cari Nufail, seakan-akan aku mempunyai utang kepada tentara Habsyah itu." Al-Waqidi meriwayatkan berikut sanadnya, bahwa mereka bersiap-siap untuk memasuki Mekah dan gajahnya telah mereka persiapkan pula, tetapi manakala mereka mengarahkannya ke salah satu tujuan dari tujuan yang lain, maka gajah itu mau bergerak. Dan jika mereka arahkan gajahnya menuju ke kota suci Mekah, tiba-tiba ia duduk dan mengeluarkan suaranya (menolak). Lalu Abrahah memaksa pawang gajah dan membentaknya, bahkan memukulinya supaya ia memaksa gajah agar mau masuk ke kota Mekah; mereka memakan waktu yang cukup lama untuk itu. Sedangkan Abdul Muttalib dan segolongan orang dari para pemuka penduduk Mekah —antara lain Mut'im ibnu Adiy, Amr ibnu Aid ibnu Imran ibnu Makhzum, dan Mas'ud ibnu Amr As-Saqafi— berada di Gua Hira menyaksikan apa yang dilakukan oleh tentara Habsyah itu, dan apa yang dialami mereka dengan gajahnya yang membangkang itu; kisahnya sangat ajaib dan aneh. Ketika mereka sedang dalam keadaan demikian, tiba-tiba Allah mengirimkan kepada tentara habsyah yang bergajah itu burung Ababil, gelombang demi gelombang yang warna bulunya kuning, lebih kecil daripada merpati, sedangkan kakinya berwarna merah; tiap-tiap burung membawa tiga buah batu kerikil. Lalu iringan burung-burung itu tiba dan berputar di atas mereka, kemudian menimpakan batu-batu itu kepada mereka hingga mereka binasa. Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa tentara Habsyah datang dengan membawa dua ekor gajah; adapun gajah Mahmud hanya mendekam dan tidak mau bangkit, sedangkan gajah lainnya memberanikan dirinya dan akhirnya ia terkena batu itu. Wahb ibnu Munabbih mengatakan bahwa mereka membawa banyak gajah, sedangkan gajah Mahmud adalah kendaraan raja mereka, Mahmud mendekam dengan tujuan agar gajah lainnya mengikuti jejaknya. Dan ternyata di antara kumpulan gajah yang mereka bawa ada seekor gajah yang memberanikan dirinya melangkah, maka ia tertimpa batu dan binasa hingga gajah lainnya kabur melarikan diri. Ata ibnu Yasar dan lain-lainnya mengatakan bahwa tentara bergajah itu tidak semuanya binasa oleh azab seketika itu juga, bahkan di antara mereka ada yang segera mati, dan di antaranya ada yang tubuhnya rontok anggota demi anggota dalam pelariannya, yang pada akhirnya binasa juga. Sedangkan Abrahah termasuk dari mereka yang tubuhnya rontok anggota demi anggota, hingga akhirnya mati di tanah orang-orang Khas'am. Ibnu Ishaq mengatakan bahwa lalu mereka melarikan diri, sedangkan anggota tubuh mereka rontok satu demi satu, dan di setiap jalan mereka mati bergelimpangan. Sedangkan Abrahah, tubuhnya terkena oleh batu itu, lalu mereka membawanya lari bersama mereka, dan tubuhnya rontok sedikit demi sedikit, hingga sampailah mereka bersamanya di San'a, sedangkan keadaan Abrahah seperti anak burung yang baru menetas. Dan Abrahah masih belum mati kecuali setelah dadanya terbelah dan jantungnya keluar; demikianlah menurut sahibul hikayat. Muqatil ibnu Sulaiman menceritakan bahwa orang-orang Quraisy memperoleh harta yang banyak dari jarahan harta benda pasukan Abrahah itu, sehingga disebutkan bahwa pada hari itu Abdul Muttalib mendapat emas yang jumlahnya dapat memenuhi suatu galian sumur. Ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya'kub ibnu Utbah yang menceritakan kepadanya bahwa penyakit cacar dan lepra di tanah Arab mula-mula terjadi pada tahun itu. Dan bahwa pahitnya buah harmal, hanzal, dan 'usr dirasakan sejak tahun itu. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ikrimah melalui jalur yang jayyid. Ibnu Ishaq mengatakan bahwa ketika Allah Swt. berkehendak mengutus Nabi Muhammad Saw., maka termasuk di antara karunia dan nikmat yang dilimpahkan-Nya kepada kaum Quraisy ialah terusirnya tentara Habsyah dari mereka, demi menjaga tetapnya kekuasaan dan masa keemasan mereka (Quraisy). Untuk itulah maka disebutkan oleh firman-Nya: {أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ} Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daunyang dimakan ulat. (Al-Fil: 1-5) Dan juga firman-Nya: لِإِيلافِ قُرَيْشٍ إِيلافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتاءِ وَالصَّيْفِ فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هذَا الْبَيْتِ الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. (Quraisy: 1-4) Yakni agar tiada sesuatu pun yang mengubah keadaan mereka dari kebiasaannya, yang hal tersebut tiada lain karena Allah berkehendak baik terhadap mereka, sekiranya mereka mensyukurinya. Ibnu Hisyam mengatakan bahwa ababil artinya berbondong-bondong, dalam bahasa Arab kata ini tidak ada bentuk tunggalnya. Ibnu Hisyam mengatakan pula bahwa adapun makna sijjil, menurut apa yang telah dikatakan oleh Yunus An-Nahwi dan Abu Ubaidah, makna yang dimaksud menurut orang Arab ialah yang sangat keras. Ibnu Hisyam mengatakan bahwa sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa keduanya merupakan kata yang berasal dari bahasa Persia, lalu oleh orang Arab dijadikan menjadi satu. Sesungguhnya yang dimaksud tiada lain sama dengan batu dan tanah liat. Ulama tafsir itu mengatakan bahwa batu-batu tersebut berasal dari kedua jenis itu, yakni batu dan tanah Hat. Ibnu Hasyim mengatakah bahwa al-'asfu artinya daun tanaman yang belum diketam, bentuk tunggalnya adalah 'asfah; demikianlah menurut apa yang dikemukakan oleh Ibnu Hasyim. Hammad ibnu Salamah telah meriwayatkan dari Amir, dari Zurr, dari Abdullah dan Abu Salamah ibnu Abdur Rahman sehubungan dengan makna firman-Nya: burung yang berbondong-bondong. (Al-Fil: 3) Maksudnya, yang bergelombang-gelombang. Ibnu Abbas dan Ad-Dahhak mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah sebagian darinya mengiringi sebagian yang lainnya. Al-Hasan Al-Basri dan Qatadah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ababil ialah yang banyak jumlahnya. Mujahid mengatakan bahwa ababil artinya yang berpencar, berturut-turut, lagi berbondong-bondong. Ibnu Zaid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ababil ialah berpencar-pencar, ada yang datang dari arah ini dan arah itu, yakni mendatangi mereka dari segala penjuru. Al-Kisa-i mengatakan bahwa ia pernah mendengar sebagian ulama Nahwu mengatakan bahwa bentuk tunggal ababil ialah ibil. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abdul A'la, telah menceritakan kepadaku Daud, dari Ishaq ibnu Abdullah ibnul Haris ibnu Naufal yang mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. (Al-Fil: 3) Yaitu berkelompok-kelompok seperti ternak unta yang dilepas bebas. Dan telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Waki', dari Ibnu Aun, dari Ibnu Sirin, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. (Al-Fil: 3) Maksudnya, burung-burung yang mempunyai belalai seperti gajah dan cakar-cakar yang seperti kaki anjing. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya'qub ibnu ibrahim, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Husain, dari Ikrimah sehubungan dengan makna firman-Nya: burung yang berbondong-bondong. (Al-Fil: 3) Burung-burung itu berwarna hijau keluar dari laut, kepalanya seperti kepala serigala. Telah menceritakan pula kepada kami ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi, dari Sufyan, dari Al-A'masy, dari Abu Sufyan, dari Ubaid ibnu Umair sehubungan dengan makna firman-Nya: burung yang berbondong-bondong. (Al-Fil: 3) Yakni burung yang muncul dari laut yang paruh dan kedua cakarnya semuanya berwarna hitam; semua sanad riwayat di atas berpredikat sahih. Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa burung itu berwarna hijau, sedangkan paruhnya berwarna kuning. Burung-burung itu silih berganti menyerang mereka. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, dan Ata, bahwa burung ababil itu bentuknya serupa dengan burung garuda yang dikenal di daerah Magrib. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari mereka. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar'ah, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Muhammad ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Al-A'masy, dari Abu Sufyan, dari Ubaid ibnu Umair yang mengatakan bahwa ketika Allah berkehendak akan membinasakan tentara bergajah, maka Dia mengirimkan kepada mereka pasukan burung yang dikeluarkan dari laut yang gesitnya sama dengan burung walet. Tiap ekor burung membawa tiga buah batu yang terbagi pada paruhnya satu buah dan pada masing-masing kedua kakinya satu buah. Burung-burung itu datang berbaris bersaf-saf di atas mereka, lalu mengeluarkan suaranya dan menjatuhkan batu-batu yang ada pada paruh dan kedua kakinya. Maka tiada sebuah batu pun yang menimpa kepala seseorang dari mereka melainkan tembus sampai ke duburnya, dan tidak sekali-kali batu itu mengenai sesuatu dari tubuh seseorang dari mereka melainkan tembus ke bagian lainnya. Allah mengirimkan pula angin yang kencang sehingga menambah kencang jatuhnya batu-batuan itu hingga semuanya binasa. As-Saddi telah meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa batu-batuan dari sijjil, makna yang dimaksud ialah tanah liat yang telah berubah menjadi batu. Hal ini disebutkan keterangannya di atas dan tidak perlu diulangi lagi. Firman Allah Swt.: {فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ} Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). (Al-Fil: 5) Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah pakan hewan ternak yang dikenal oleh bahasa pasaran dengan istilah habur. Menurut riwayat lain dari'Sa'id, disebutkan daun tanaman gandum. Diriwayatkan pula darinya al-’asfu artinya pakan ternak yang telah digerogoti oleh ulat dedaunannya. Hal yang sama telah dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa al-’asfu artinya kulit ari biji gandum. Ibnu Zaid mengatakan bahwa al-’asfu artinya daun tanaman dan daun sayuran bilamana telah dimakan oleh ternak, maka kelihatan hanya tangkainya saja. Makna yang dimaksud ialah bahwa Allah Swt. membinasakan mereka dan menghancurkan mereka serta menjadikan mereka 'senjata makan tuan' dengan penuh kedongkolan. Tiada suatu kebaikan pun yang mereka peroleh, dan sebagian besar dari mereka binasa, serta tiada yang pulang melainkan dalam keadaan terluka parah, sebagaimanayang dialami oleh raja mereka (yaitu Abrahah). Sesungguhnya dadanya terbelah dan jantungnya kelihatan ketika ia sampai di san'a, lalu ia sempat menceritakan kepada penduduk San'a apa yang telah menimpa diri mereka, setelah itu ia mati. Kemudian tampuk pemerintahan negeri Yaman dipegang oleh anak Abrahah yang bernama Yaksum, setelah itu saudaranya yang bernama Masruq ibnu Abrahah. Kemudian Saif ibnu Zi Yazin Al-Himyari berangkat menemui Kisra (Raja Persia) dan meminta bantuan kepadanya untuk menghadapi tentara Habsyah. Maka Kisra mengabulkan permintaannya dan menyerahkan kepadanya sebagian dari tentaranya yang berperang bersama Saif ibnu Zi Yazin. Maka Allah mengembalikan kepada mereka kerajaan yang dahulu dimiliki oleh nenek moyang mereka berikut semua kekuasaannya. Kemudian berdatanganlah kepadanya delegasi-delegasi dari orang-orang Arab, mengucapkan selamat atas kemenangannya. Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abu Bukair, dari Amrah binti Abdur Rahman ibnu As'ad ibnu Zurarah, dari Aisyah yang mengatakan bahwa sesungguhnya ia sempat melihat bekas pawang gajah dan pemegang kendalinya di Mekah dalam keadaan telah tuna netra lagi cacat, tak dapat berjalan, dan meminta-minta (menjadi pengemis). Al-Waqidi telah meriwayatkan hal yang semisal dari Aisyah. Dan Al-Waqidi telah meriwayatkan dari Asma binti Abu Bakar yang telah mengatakan bahwa kedua bekas pawang gajah itu dalam keadaan cacat parah, meminta-minta kepada orang di Asaf dan Na'ilah, tempat orang-orang musyrik menyembelih sembelihan mereka. Menurut hemat saya, nama pemegang kendali gajah Abrahah bernama Anis. Al-Hafiz Abu Na'im di dalam kitabnya yang berjudul Dala'ilun Nubuwwah telah meriwayatkan melalui jalur Ibnu Wahb, dari Ibnu Lahi'ah, dari Aqil ibnu Khalid, dari Usman ibnul Mugirah, kisah tentang tentara bergajah ini; tetapi tidak disebutkan bahwa Abrahah datang dari Yaman, melainkan dia hanya mengutus pasukannya yang dipimpin oleh seorang lelaki bernama Syamir ibnu Maqshud, jumlah pasukannya kurang lebih dua puluh ribu orang personil. Disebutkan pula bahwa burung ababil datang menyerang mereka di malam hari, dan pada pagi harinya mereka semuanya tewas. Konteks kisah ini aneh sekali, sekalipun Abu Na'im telah menguatkannya di atas riwayat yang lain. Menurut riwayat yang benar, Abrahah Al-Asyram Al-Habsyi datang ke Mekah sebagaimana yang ditunjukkan oleh konteks riwayat yang lainnya dan juga yang disebutkan dalam syair orang-orang dahulu. Hal yang sama telah disebutkan dalam riwayat yang bersumberkan dari Ibnu Lahi'ah, dari Al-Aswad, dari Urwah, bahwa Abrahah mengirimkan Al-Aswad ibnu Maqsud bersama sejumlah besar pasukannya di sertai dengan gajah, tetapi tidak disebutkan bahwa Abrahah sendiri ikut dalam misi tersebut. Menurut pendapat yang benar, Abrahah pun memang ikut datang dalam misi itu, barangkali Ibnu Maqsud berada di barisan pasukan yang terdepan; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui kebenarannya. Ibnu Ishaq meriwayatkan sebagian dari syair-syair yang dikatakan oleh orang-orang Arab berkenaan dengan kisah tentara bergajah ini; di antara lain ia mengutip syair Abdullah ibnuz Zaba'ri yang menyebutkan, تَنَكَّلُوا عَنْ بَطْنِ مَكَّةَ إِنَّهَا ... كانتْ قَدِيمًا لَا يُرَام حَريمها ... لَمْ تُخلَق الشِّعرَى لَيَالِيَ حُرّمتْ ... إِذْ لَا عزيزَ مِنَ الْأَنَامِ يَرُومها ... سَائِلْ أميرَ الْجَيْشِ عَنْهَا مَا رَأى? ... فلسوفَ يُنبي الْجَاهِلِينَ عَلَيْمُهَا ... ستونَ أَلْفًا لَمْ يَؤُوبُوا أرَضهم ... بَلْ لَمْ يَعِشْ بَعْدَ الِإْيَابِ سَقِيمُهَا ... كانتْ بِهَا عادٌ وجُرْهُم قَبْلَهَمُ ... واللهُ مِنْ فَوْقِ الْعِبَادِ يُقيمها "Mereka takut terhadap lembah Mekah, karena sejak masa dahulu tiada yang berani melanggar kesuciannya, bintang syi'ra masih belum diciptakan di malam-malam ia disucikan. Karena tiada seorang pun yang mengaku dirinya perkasa, berani mengotori kesuciannya. Bila ada orang yang bertanya tentang kisah panglima pasukan apa yang telah dialaminya dari tanah suci itu, maka akan diceritakan kepadanya oleh orang yang mengetahuinya. Enam puluh ribu pasukan tidak pernah kembali ke tempat tinggal mereka, bahkan tidak dapat hidup lama orang yang sakit dari mereka sesudah kepulangannya. Sebelum mereka terdapat kaum 'Ad dan Jurhum di dekatnya dan kekuasaan Allah berada di atas hamba-hamba-Nya, Dialah yang menjaga kesuciannya." Abu Qais ibnu Aslat Al-Ansari Al-Madani mengatakan dalam bait-bait syairnya yaitu, وَمِنْ صُنْعه يَوْمَ فِيلِ الحُبُو ... شِ، إِذْ كُلُّ مَا بَعَثُوه رَزَمْ ... مَحَاجِنُهُمْ تَحْتَ أَقْرَابِهِ ... وَقَدْ شَرَموا أَنْفَهُ فَانْخَرَمْ ... وَقَدْ جَعَلُوا سَوْطَهُ مِغْوَلًا ... إِذَا يَمَّمُوه قَفَاه كُليم ... فَسوَّل أَدْبَرَ أَدْرَاجِهِ ... وَقَدْ بَاءَ بِالظُّلْمِ مَنْ كَانَ ثمَّ ... فَأَرْسَلَ مِنْ فَوْقِهِمْ حَاصِبًا ... يَلُفهُم مثْلَ لَفُ القزُم ... تَحُثُّ عَلَى الصَّبر أحبارُهم ... وَقَد ثأجُوا كَثؤاج الغَنَم ... "Dan di antara apa yang diperbuat oleh-Nya di hari tentara bergajah Habsyah telah terbuktikan, karena setiap orang yang dikirimkan oleh mereka dikalahkan. Tameng-tameng mereka berada di bawah qirbah wadah minum mereka, sedangkan mereka dalam keadaan terhina lagi terluka. Pada mulanya kekuatan mereka menakutkan, di saat mereka menuju kepadanya dengan penuh keangkuhan. Tetapi pada akhirnya pemimpin mereka lari tunggang langgang kembali ke tempat asal datangnya, semua orang yang ikut dengannya di tempat itu adalah orang yang aniaya. Maka dikirimkanlah kepada mereka dari atas mereka hujan batu kerikil, yang menghancurleburkan mereka. Meskipun para pendeta mereka memerintahkan kepada pasukannya untuk bersabar, tetapi mereka menjerit-jerit bagaikan embikan kambing yang terancam bahaya." Abus-Silt ibnu Rabi'ah As-Saqafi mengatakan bahwa telah dinukil dari Umayah ibnu Abus-Silt ibnu Rabi'ah bait-bait syair yang berbunyi, إِنَّ آيَاتِ رَبِّنا بَاقياتٌ ... مَا يُمَاري فيهنَّ إِلَّا الكفورُ ... خُلِقَ الليلُ والنهارُ فَكُلّ ... مستبينٌ حسابُه مَقْدُورُ ... ثمَّ يَجْلُو النَّهارَ ربٌ رحيمٌ ... بِمَهَاةٍ شُعَاعها منشورُ ... حُبِسَ الفيلُ بالمُغمَّس حَتَّى ... صَارَ يَحْبُو، كَأَنَّهُ معقورُ ... لَازِمًا حلقُه الجرانَ كَمَا قُطِّر ... مِنْ ظَهْر كَبْكَب مَحدُورُ ... حَوله مِنْ مُلُوك كِندةَ أبطالُ ... ملاويثُ فِي الحُرُوب صُقُورُ ... خَلَّفُوه ثُمَّ ابذَعرّوا جَميعًا، ... كُلَّهم عَظْمُ سَاقِهِ مَكْسُورُ ... كُلّ دِينٍ يَومَ القِيَامة عندَ الـ ... له إِلَّا دِينُ الحَنِيفَة بورُ ... "Sesungguhnya di antara tanda-tanda kekuasaan Tuhan kami yang masih tetap ada dan tiada yang mengingkarinya selain hanya orang yang benar-benar pengingkar kebenaran, (yaitu) adanya malam dan siang hari, semua orang memahami perhitungannya yang telah ditetapkan dengan jelas. Kemudian Tuhan Yang Maha Penyayang menjadikan siang hari terang benderang dengan sinar mentarinya yang menyeluruh. Dialah Yang telah menahan pasukan bergajah di Magmas, hingga gajah itu merangkak seakan-akan seperti tak berdaya, ia hanya diam mendekam sekalipun punggungnya dipukuli bertubi-tubi dengan kerasnya. Di sekitarnya terdapat raja-raja Kindah yang disegani dan menjadi para pendekar dalam medan perang, semuanya menentang niatnya. Kemudian mereka semuanya terkejut karena semua pasukan bergajah itu patah dan binasa. Setiap agama kelak di hari kiamat di hadapan Allah akan ditolak dan sia-sia kecuali agama yang hanif (Islam)." Dalam pembahasan yang lalu pada tafsir surat Al-Fath telah disebutkan bahwa di hari perjanjian Hudaibiyah ketika Rasulullah Saw. berada di atas lereng yang darinya dapat ditempuh jalan menuju ke tempat orang-orang Quraisy, unta beliau mendekam, lalu mereka menghardiknya, tetapi unta kendaraan beliau Saw. tetap menolak. Maka mereka mengatakan bahwa Qaswa (nama unta milik Nabi Saw.) mogok. Maka Rasulullah Saw. bersabda: «مَا خَلَأَتِ الْقَصْوَاءُ وَمَا ذَاكَ لَهَا بِخُلُقٍ وَلَكِنْ حَبَسَهَا حَابِسُ الْفِيلِ- ثُمَّ قَالَ- وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَسْأَلُونِي الْيَوْمَ خُطَّةً يُعَظِّمُونَ فِيهَا حُرُمَاتِ اللَّهِ إِلَّا أَجَبْتُهُمْ إِلَيْهَا» Qaswa tidak mogok, karena mogok bukan merupakan pembawaannya, tetapi ia ditahan oleh Tuhan Yang telah menahan pasukan bergajah. Kemudian Rasulullah Saw. melanjutkan sabdanya: Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tidaklah mereka meminta kepadaku hari ini suatu rencana yang di dalamnya terkandung penghormatan kepada hal-hal yang disucikan oleh Allah melainkan aku akan menyetujuinya. Setelah itu beliau Saw. menghardik untanya, maka untanya bangkit dan meneruskan perjalannya. Hadis ini termasuk hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara munfarid (tunggal). Di dalam kitab Sahihain disebutkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda di hari jatuhnya kota Mekah: «إِنَّ اللَّهَ حَبْسَ عَنْ مَكَّةَ الْفِيلَ وَسَلَّطَ عَلَيْهَا رَسُولَهُ وَالْمُؤْمِنِينَ، وَإِنَّهُ قَدْ عادت حرمتها اليوم كحرمتها بالأمس ألا فليبلغ الشاهد الغائب» Sesungguhnya Allah telah menahan pasukan bergajah dari Mekah, dan menguasakannya kepada Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan sesungguhnya kini telah kembali kesuciannya pada hari ini juga, sebagaimana kesuciannya di waktu sebelumnya. Ingatlah, hendaklah orang yang hadir menyampaikannya kepada orang yang tidak hadir.

Ahad, 14 Januari 2018

tafsir 1-5 surah al-qadar dan isi kandugan ayat


Surat Al-Qadr yang merupakan surat yang ke-97 ini berjumlah 5 ayat dan berisi tentang kemuliaan Lailatul Qadr. Berikut ini bacaan (tulisan Arab) serta terjemahnya.Isi penting kandugan; Menurut para mufassir, Kitab Al-Qur'an mulai diturunkan pada Lailatul Qadr meski tiada kata Al-Qur'an dalam keseluruhan surah ini. Pada ayat keempat dikatakan bahwa dalam Lailatul Qadr, para malaikat beserta "Al-Ruh" hadir ke dunia untuk mengatur berbagai urusan. Penentuan kapan terjadinya Lailatul Qadr di bulan Ramadhan masih sering diperselisihkan oleh berbagai mazhab. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Bismillahirrahmanirrahim 1. Inna anzalna Hufilailatil qodr. 2. wamaa ad-ro kama-lailatul qodr 3. lailatul qod-ri khoirum min-al fi-syaH (r) 4. tanaz-zalul malaa ikatu warruhu fii-Habi idz-ni robbiHim minkulli am (r) 5. sala-mun Hiya hatta mat (tho) la-'il fajr 1-Sesungguhnya Kami telah mengirim hal demikian di Malam Kemuliaan, 2-dan tahukah kamu apakah Malam Kemuliaan itu? 3-Malam Kemuliaan adalah lebih baik dibanding seribu bulan; 4-ketika para malaikat beserta Al Ruh hadir atas izin Tuhan mereka untuk tugas masing-masing, 5-kesejahteraan didalamnya sampai terbit fajar. إِنَّآ أَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١ 1. Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Quran) pada malam kemuliaan *1.Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa malam tersebut terjadi pada tanggal malam 21,23,25,27,29 dan akhir malam bulan Ramadhan. [1] Imam Syafi’i berkata : “Menurut pemahamanku. wallahu ‘alam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab sesuai yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau : “Apakah kami mencarinya di malam ini?”, beliau menjawab : “Carilah di malam tersebut” [2] Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada malam terakhir bulan Ramadhan berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terkahir bulan Ramadhan dan beliau bersabda. تَحَرَّوْا وفي رواية : الْتَمِسُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ “Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” [3 Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, karena riwayat dari Ibnu Umar, (dia berkata) : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. الْتَمِسُوْ مَا فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُ كُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي “Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari sisanya” [4] Ini menafsirkan sabdanya. أَرَى رُؤْيَا كُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّ هَا فيْ السَّبْعِ الأَوَاخِِرِ “Aku melihat mimpi kalian telah terjadi, barangsiapa yang mencarinya carilah pada tujuh hari terakhir” [5]Telah diketahui dalam sunnah, pemberitahuan ini ada karena perdebatan para sahabat. Dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke luar pada malam Lailatul Qadar, ada dua orang sahabat berdebat, beliau bersabda : “Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang malam Lailatul Qadar, tapi ada dua orang berdebat hingga tidak bisa lagi diketahui kapannya; mungkin ini lebih baik bagi kalian, carilah di malam 29. 27. 25 (dan dalam riwayat lain : tujuh, sembilan dan lima)” [6] وَمَآ أَدْرٰكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ٢ 2. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?Dan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan” [14] [Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, edisi Indonesia Sipat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata] لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ ٣ 3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. تَنَزَّلُ الْمَلٰئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ٤ 4. Pada malam itu turun Malaikat-Malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan. سَلٰمٌ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ٥ 5. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. *1 "Malam Kemuliaan" dikenal dalam bahasa melayu dengan malam Lailatul Qadr yaitu malam seribu bulan yang mempunyai kemuliaan dan kebesaran, karena malam itu merupakan malam permulaan diturunkannya Al-Quran. Dalam suatu riwayat ada dikemukakan bahawa Nabi s.a.w. bermimpi melihat Bani Umayyah menduduki dan menguasai mimbarnya setelah baginda wafat. Oleh itu, baginda merasa tidak senang disebabkan perkara itu. Maka turunlah ayat "inna a'thainakal kautsar" (Surah al Kautsar: 108: 1) dan (Surah al Qadr: 97: 1-5) untuk membesarkan hati baginda. (Diriwayatkan oleh at Tirmizi dan al Hakim dan Ibnu Jarirdari al Hasan bin Ali) KETERANGAN Al Qasim al Hirani menyatakan bahawa kerajaan Bani Umayyah itu memegang pemerintahan selama lebih kurang 1,000 bulan. Menurut at Tirmizi riwayat ini adalah gharib sedangkan al Muzani dan Ibnu Katsir menyebutnya sebagai sangat munkar. Dalam suatu riwayat ada dikemukakan bahawa Rasulullah s.a.w. pernah menyebut tentang seorang dari Bani Israel yang berjuang fisabilillah menggunakan senjatanya selama seribu bulan secara berterusan. Kaum Muslimin berasa kagum dengan perjuangan orang tersebut. Maka Allah menurunkan ayat ini (Surah al Qadr: 97: 1-3) yang menerangkan bahawa satu malam lailatul qadar itu lebih lebih baik daripada perjuangan Bani Israel selama 1000 bulan. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan al Wahidi dari Mujahid) Dalam riwayat lain ada dikemukakan bahawa pada zaman Bani Israel terdapat seorang lelaki yang beribadat pada malam hari dan berjuang memerangi musuh pada siang harinya. Perbuatan ini dilakukan selama seribu bulan. Maka Allah menurunkan ayat ini (Surah al Qadr: 97: 1-3) yang menjelaskan bahawa satu malam lailatulqadarliu adalah lebih baik daripada amalan 1000 bulan Bani Israel tersebut. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarirdari Mujahid) Pemuda bani Israil bernama Syam`un Al-Ghazy – Lelaki yang beribadah 1000 bulan Pada suatu saat malaikat Jibril AS datang menemui nabi Muhammad SAW, kemudian menuturkan cerita tentang seorang laki-laki. Nama orang itu adalah Syam`un Al Ghazy, dia telah memerangi orang-orang kafir selama seribu bulan, sedangkan senjata yang digunakannya hanyalah jenggot unta. Dikisahkan setiap kali dia memukul orang kafir dengan jenggot untanya tersebut, maka sudah dapat dipastikan orang yang bersangkutan akan langsung tewas. Entah sudah berapa banyak orang yang mati ditangan Syam`un yang memiliki senjata yang sangat aneh itu. Menghadapi kekuatan Syam`un yang teramat sulit ditandingi, maka orang- orang kafir yang jumlahnya tak terhitung itu merasa kewalahan. Dan karena sudah kehabisan cara, akhirnya mereka berusaha membujuk isteri Syam`un yang juga termasuk orang kafir, agar mau diajak bersekongol untuk bersama-sama membunuhnya. “Kami akan memberimu uang dan harta yang sangat banyak, agar engkau bersedia membunuh suamimu!” kata salah seorang diantara kafir itu kepada isteri Syam`un. “Saya tidak mampu membunuhnya,” jawab isteri Syam`un. “Kami akan memberimu tali yang sangat kuat. Dengan tali itu, ikatlah kedua tangan dan kakinya sewaktu tidur. Setelah itu kamilah nanti yang akan membunuhnya,” kata orang kafir itu lagi. Wanita kafir ini pun menyanggupinya, dan berhasil melakukan apa yang diperintahkan oleh orang- orang yang memusuhi suaminya. Alkisah, ketika bangun tidur, tentu Syam`un merasa sangat terkejut mendapati kedua tangan serta kakinya sudah dalam keadaan terikat dengan tali yangi sangat kuat. “Siapa gerangan orang-orang yang telah mengikat saya” tanya Syam’un sambil menatap isterjnya. “Akulah yang telah mengikatmu, sekadar untuk mencoba kekuatanmu saja”, jawab isterinya. Rupanya sang isteri sengaja menjawab demikian dengan pertimbangan bila ternyata suaminya nanti mampu melepaskan- . diri dari ikatan itu, maka hal itu tak akan membahayakan dirinya. Kenyataannya Syam’un memang berhasil melepaskan diri. Tak berhasil dengan cara itu, orang-orang kafir itu kemudian datang lagi sambil membawa rantai yang sangat kokoh. Isteri Syam’un lagi-lagi menyatakan kesediaannya untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh mereka dan berhasil. Ya… suaminya diikat dengan menggunakan rantai tersebut. “Siapakah orang yang telah mengikat saya dengan rantai ini ? tanya Syam`un kepada isterinya, saat terbangun dari tidurnya. “Saya yang melakukan itu, sekadar untuk menguji kekuatanmu” ,jawab isterinya.. . Maka Syam`un pun lalu menarik tangannya, dan seketika rantai yang membelenggu tangan serta kakinya langsung terputus. “Hai isteriku, saya adalah seorang Wali Allah. Tak ada seorangpun yang akan sanggup merontokkan kekuatan saya, kecuali rambutku ini!” jelas Syam`un. Perlu diketahui, laki-laki yang dinugerahi karamah luar biasa oleh Allah SWT ini memang rnemiliki rambut yang sangat panjang. Disitulah rupanya letak kekuatannya (Kisah ini lah yang meng-inspirasikan kisah Samson) Isteri Syam’un pun menyimak baik- baik apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Malam harinya dengan nekad dia kemudian memotong rambut Syam`un selagi Syam`un sedang tidur, dan mengikatnya. Alat atau tali yang digunakan untuk mengikat tak lain adalah rambutnya itu pula. Ketika Syam`un terbangun dari tidurnya, lagi-lagi dia merasa terkejut karena tubuhnya telah dalam keadaan terikat. “Siapakah yang telah mengikat tubuhku ini?” tanyanya kemudian. Dan isterinya pun memberi jawaban sama seperti yang sudah-sudah. Syam`un menarik tali yang mengikat tubuhnya. Tetapi kali ini, meskipun sudah berusaha dengan sekuat tenaga, dia tetap tak bisa melepaskan tali pengikat yang terbuat dari rambut kepalanya sendiri itu. Menyaksikan usahanya telah berhasil, isteri Syam`un buru-buru menemui orang kafir dan menceritakan apa yang terjadi. Maka segeralah mereka menemui Syam`un lalu membawanya ke tempat penjagalan manusia. Laki-laki ini diikat disebuah tiang yang ada disitu dan orang-orang kafir itu kemudian memotong- motong anggota tubuhnya. Dengan sadisnya mereka mencungkil matanya, memotong kedua tangan dan kakinya, telinganya, lidahnya, bibirnya ,dan lain-lain. Namun Allah SWT tak membiarkan seorang wali-Nya menderita seperti itu terlalu panjang. Dia lalu berfirman kepada Syam`un : “Apakah yang engkau kehendaki Syam`un?” Syam`un pun menjawab, “Saya menghendaki agar Engkau memberi kekuatan kepada saya, sehingga nantinya mampu meruntuhkan tiang bangunan dan reruntuhannya menimpa mereka.” “Allah SWT pun memberikan kekuatan luar biasa kepadanya. Lalu Syan`un menggerakkan tubuhnya, menyebabkan tiang bangunan menjadi patah berantakan, disusul ambruknya seluruh badan bangunan tersebut menimpa orang-orang kafir, mereka, termasuk isteri Syam`un semuanya langsung tewas. Adapun Syam`un sendiri diselamatkan oleh Allah SWT, bahkan Dia juga mengembalikan semua anggota tubuhnya. Setelah itu Syam`un beribadah kepada Allah SWT siang malam selama seribu bulan… Salah seorang diantara para sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau mengetahui?” (maksudnya pahala ibadah Syam`un). Rasulullah SAW mengatakan bahwa Beliau tidak mengetahui, berapa banyak pahala yang dianugerahkan Allah kepada Syam`un tsb. Oleh karena itu maka Allah SWT kemudian menurunkan surat Al-Qadar melalui malaikat Jibril AS. Pada surat ini Allah menjelaskan, bahwa ibadah yang dilakukan seseorang pada malam Qadar (salah satu malam dibulan Ramadhan), itu adalah lebih baik dari ibadah yang dilakukan selama seribu bulan.

Sabtu, 13 Januari 2018

surah ath-thariq isi kandugan dan tafsir 1-17

Surat Ath-Thaariq
berarti Yang Datang pada Malam Hari berisikan jiwa yang selalu ada penjaganya.
Selain itu Surat Ath-Thaariq juga berisi tentang Allah Yang Kuasa Menciptakan Manusia, dan Kuasa Pula membangkitkannya. Serta berisi tentang Al-Quran sebagai pemisah antara yang haq dan yang batil. Dan berikut ini adalah bacaan (tulisan Arab) Surat Ath-Thaariq dan terjemahannya.Surat Ath-Thaariq. Merupakan Surat yang ke-86, Surat Ath-Thaariq terdapat pada Juz 30 Al-Quran yang terdiri dari 17 ayat. Surat Ath-Thaariq merupakan Surat Makkiyah karena diwahyukan atau diturunkan di Mekkah.Para ahli tafsir sepakat berpendapat bahwa bahwa surat ath-Thâriqditurunkan pada periode Makkah.
 Yaitu setelah surat al-Balad([1]). Surat ini dinamakan dengan ath-Thâriq sebagai-mana tertera dalam mushaf al-Imam (usmany) serta di berbagai buku tafsir.Semoga setiap malam kita bisa mengingatkan diri kita bahwa kegelapan malam itu yang menjadikannya adalah Allah. Dan seseorang mungkin akan diselimuti kegelapan di alam kuburnya bila tak ada cahaya yang diberikan Allah. Semoga hati-hati kita menjadi terketuk setiap malam sehingga bisa mempersiapkan dengan baik hari perjumpaan dengan ajal kita. Dengan harapan hidup yang sebentar ini berakhir dengan sempurna, meraih kemenangan hakiki.
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Dengan nama Allah yan Maha Pengasih lagi Maha Penyayan. وَالسَّمَآءِ وَالطَّارِقِ ١ waalssamaa-i waalththaariqi 1. Demi langit dan yang datang pada malam hari,Demi luasnya langit, dan bagian tertentu langit yang dapat dilihat! Demi keagungan langit yang tiada batas dan bintang yang bersinar cemerlang, yang menunjukkan diri dengan terang. Demi langit batinmu dan pancaran cahaya yang tiba-tiba bersinar dalam dirimu! Demi Keluasan yang tak terukur hingga engkau menjumpai sesuatu yang membimbingmu!
Semua ini adalah cara untuk menjelaskan ayat pertama dengan gaya ayat itu sendiri. Tharaqa, akar kata dari mana thariq berasal, artinya 'mengetuk (pintu), menemukan, mencapai' dan 'datang menjelang malam'. la juga bermakna orang yang bepergian di malam hari. Biasanya pintu-pintu sebuah rumah terbuka pada siang hari, dan hanya pada malam harilah syariat (hukum lahir) menyuruh agar segala sesuatu ditutup. Maka orang yang bepergian di malam hari harus mengetuk pintu untuk memberitahukan kedatangannya. Luasnya langit dan kemudian spesifikasi yang lebih sempit tentang pendatang di malam hari, pertama menunjukkan ketakterukuran dan kemudian menunjukkan sesuatu yang bisa diukur dan kita dapat berhubungan dengannya.
 وَمَآ أَدْرٰكَ مَا الطَّارِقُ ٢ wamaa adraaka maa alththaariqu

 2. tahukah kamu apa yang datang pada malam hari itu?Apa yang kita ketahui tentang ketukan itu? Apa yang kita tahu tentang yang datang menjelang malam? Malam ketidaktahuan hanya dapat dipecahkan dengan thariq, dengan ketukan pengetahuan. Pengetahuan kita tentang thariq ini datang tiba-tiba dari keluasan tak terbatas yang sebelumnya tak terukur, tidak nyata dan tidak dapat ditakar.

 النَّجْمُ الثَّاقِبُ ٣alnnajmu altstsaaqibu 3. (Yaitu) bintang yang cahayanya menembus,Bintang yang sinarnya menembus mempunyai kejelasan dan arah yang menjadikan kemunculannya sebagai sebuah peristiwa.
Ia menembus apa yang nampaknya tak dapat ditembus. Sebagian orang mengartikan ini sebagai sinar laser. Sinar laser adalah percikan yang mampu menembus bahan paling tebal sekalipun tanpa berubah, seperti benang yang menjahit kain, dan menyatukan satu sisi dengan sisi lainnya.
 إِنْ كُلُّ نَفْسٍ لَّمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ ٤ in kullu nafsin lammaa ‘alayhaa haafizhun 4. tidak ada suatu jiwa pun (diri) melainkan ada penjaganya.Seakan-akan ayat ini memberitahu kita bahwa di dalam setiap jiwa ada bintang yang menembus, sebuah mercusuar yang terus-menerus menyorotkan cahaya yang akan menembus setiap selubung yang berusaha kita kenakan atas diri kita.
Makna batinnya adalah menunjukkan bahwa setiap orang ada penjaga pribadinya, seorang hafizh (penjaga, pengawas, pemelihara). Ada malaikat penjaga yang menyimpan catatan tentang setiap perbuatan seseorang dan yang bemiat akan dilakukannya, yang kemudian akan dikembalikan kepadanya di akhir zaman. Semua perbuatan dan niatnya dicatat dalam satu-satunya catatan, yakni dirinya. Dari catatan ini tidak ada peluang untuk mengelak.
 فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ ٥falyanzhuri al-insaanu mimma khuliqa 5. Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan?
Jika manusia mengira ia terpisah dari semua ini, jika ia mengira bahwa persoalan tentang langit dan bintang, lahir dan batin, dan segala sesuatu yang diciptakan merupakan suatu hal yang luar biasa, maka hendaklah ia memperhatikan komposisi fisiknya sendiri. Ia harus kembali ke realitas ini dan memulai dari tempat asalnya, dari lapisan lahiriah tubuhnya. Ia akan melihat di dalamnya bagaimana keseluruhan penciptaan terjadi. Penelitian seperti itu akan menyalakan obor penerang sehingga ia dapat menembus seluruh kondisi penciptaan.
Tapi untuk menembusnya ia harus melihat dahulu dari apa ia diciptakan, secara lahiriah dan secara harfiah.
 خُلِقَ مِنْ مَّآءٍ دَافِقٍ ٦ khuliqa min maa-in daafiqin 6. Dia diciptakan dari air yang terpancar,Secara fisik, unsur utama tubuh manusia adalah air. Dafiq artinya 'memancar, menuang, meluap'. Eksistensi tidak dapat dilihat kalau tidak menjelma kedalam bentuk yang berwujud. Tidak ada wujud padat pada eksistensi, karena wujud didasarkan pada fluiditas (ketidakstabilan), pada air. Karena itulah maka, sama halnya, penciptaan manusia pun didasarkan pada fluiditas: tidak ada yang tetap.
Segala sesuatu dalam keadaan meluap: pikirannya, kehidupan sehari-harinya, kesusahan dan kecemasannya; semuanya dalam keadaan yang tems berubah secara dinamis. Tapi karena manusia mencari keamanan maka ia mewujudkan kebutuhannya yang inheren ini menjadi sesuatu yang solid, dan itulah keruntuhannya. Ia mengira bahwa keamanan terletak pada soliditas, pada tembok dan gedung-gedung, pada pemilikan, karena pada dasarnya ia sedang mencari satu-satunya basis yang aman dan kokoh yang menjadi sumber kelemahannya yang nampak.
Tapi keamanan seperti itu tidaklah mungkin, karena segala sesuatu mengikuti sunah atau polanya yang tertentu.
 يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَآئِبِ ٧ yakhruju min bayni alshshulbi waalttaraa-ibi 7. yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan dada perempuan.Ini berkenaan dengan dua hal yang berlawanan. Makna harfiah dari shulb adalah 'keras, kaku, sulit', dan juga berarti 'pinggang' dan 'punggung'. Kata tara'ib berarti 'tulang dada, iga', dan berasal dari kata kerja tariba yang berarti 'berdebu, tertutup debu'. Dari kata tersebut juga muncul tarib (sezaman, setara, sesuai, sebanding). Manusia lahir dari pertemuan antara dua hal berlawanan, yang satu padat dan yang lain cair.
 إِنَّهُ عَلَى رَجْعِهِ لَقَادِرٌ ٨ innahu ‘alaa raj’ihi laqaadirun 8. Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup setelah mati).Pada ayat-ayat sebelumnya kita diberitahukan, 'Lihatlah dirimu! Dari lelangit kosong yang luas, tiba-tiba muncul bintang. Dari kebodohan muncullah keterangan. Dari kebingungan hati muncullah percikan pengetahuan di dalamnya.
Wahai manusia, engkau yang berada dalam perubahan terus-menerus dan dinamis, engkau telah dijadikan dari zat cair yang keluar dari antara tengah-tengah seorang laki-laki dan perempuan.' Kemudian Allah berkata, " Sesungguhnya Ia berkuasa untuk mengembalikannya"', maksudnya bahwa apa pun yang diciptakan di sini dalarn kehidupan ini, Allah dapat dengan mudah menciptakan dalam bentuk lain. Oleh karena itu, sebagaimana malam yang sunyi dapat terganggu oleh pejalan malam yang 'mengetuk pintu, apa yang hidup dalam suatu bentuk dapat kembali ke keadaannya sebelum dibentuk.
Ayat ini menggiring kita pada kesimpulan yang sesuai dengan topik: untuk setiap ciptaan ada lawannya, dan, dengan kata lain, mesti ada ciptaan lainnya. Ciptaan ini temoda oleh apa yang memproteksinya, yakni gagasan diri atau ego. Ciptaan berikutnya harus merupakan bayangan terbalik dari ciptaan ini.
 يَوْمَ تُبْلَى السَّرَآئِرُ ٩ yawma tublaa alssaraa-iru 9. Pada hari dinampakkan segala rahasia,Bala berarti 'menguji, mencoba, meniinpai'. Bali berarti 'usang, tua, jompo, busuk, bobrok'. Dan bala' berarti 'kemalangan, kesukaran, siksaan'.
Kemalangan dari sebuah rahasia adalah bila ia diketahui umum. Surr, berasal dari akar kata yang sama dengan sara’ir (rahasia), artinya 'tali pusar', dan masarrah berarti 'kenikmatan, kesenangan, kegembiraan, kebahagiaan'. Ia menunjukkan bahwa anak yang baru lahir mengumandangkan kegembiraannya karena tidak tergantung pada ibunya, dan hanya tergantung pada Allah semata, meskipun dalam kenyataannya ia selalu tergantung hanya pada Allah. Kita akan ditimpai kesusahan untuk menguji apakah kita benar-benar yakin kepada Allah, dan itu akan menjadi ujian yang mutlak berat.
Pada hari itu, dalam situasi itu, rahasia yang kita sembunyikan sekarang akan sungguh-sungguh diungkapkan: itulah makna dari diuji. Maksud dari ujian bukan untuk mengetahui apakah kita akan mencapai suatu tanda tertentu, tapi untuk menunjukkan realitas kita, tingkat kesucian, ketulusan hati dan ketauhidan kita, derajat kemunafikan atau ketidakmunafikan kita. Kita tidak mengetahui hal ini sekarang mungkin karena kita telah mengelabui diri kita sendiri, tapi pada waktu itu kita akan mengetahui seberapa besar ketergantungan kita pada Allah dan seberapa besar kepada selain Allah. فَمَآ لَهُ مِنْ قُوَّةٍ وَلَا نَاصِرٍ
١٠ famaa lahu min quwwatin walaa naasirin 10. maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong.Kita dipaksa untuk kembali ke situasi kita dan memulai dari tempat di mana kita berada, dengan mengenali segala kelemahan dan kemunafikan kita, mengenali dualitas dari mana kita berasal, dan mengenali bahwa tujuan kedatangan kita adalah untuk mengetahui makna Allah, Sumber Pokok kekuatan, Yang Maha Penolong. وَالسَّمَآءِ ذَاتِ الرَّجْعِ ١١ waalssamaa-i dzaati alrraj’i 11. Demi langit yang mengandung hujan, *1Kita harus merenungkan penciptaan langit dan bumi, dan cara turunnya hujan yang berulang-ulang mengikuti musim. Dari satu sudut pandang, bisa diartikan bahwa lelangit akan kembali ke hakikatnya, ke ketiadaannya semula.
 وَالْاَرْضِ ذَاتِ الصَّدْعِ ١٢ waal-ardhi dzaati alshshad’i 12. dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan,Bumi juga akan retak dan hancur kembali ke ketiadaannya semula. Makna dari shad’ adalah 'belahan, atau retakan', dan di sini menunjuk kepada bumi yang terbelah karena timbulnya semaian-semaian tanaman. Kita juga dapat menganggap dua ayat ini (11 dan 12) sebagai simbolisasi langit batin kita dan bumi batin kita. Maka bumi berarti dada dan hati yang ada di dalam dada, dan langit menunjuk kepada pengetahuan yang senantiasa kembali kepada kita pada tahap-tahap pembukaan yang berbeda. Tidak ada di langit rnaupun di bumi yang tidak mengingat, atau mengagungkan Allah. Ini adalah zikir langit dan bumi. Dari sudut pandang manusia, zikir yang berulang-ulang adalah laksana hujan yang menghanyutkan polusi lahir dan batin kita, dan bumi, sang hati, meresponnya.
 إِنَّهُ لَقَوْلٌ فَصْلٌ ١٣ innahu laqawlun fashlun 13. sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang haq dan yang batil,Perkataan—dekrit Tuhan—yang ditunjukkan kepada kita dalam ayat ini adalah pemisah antara kebodohan dengan pengetahuan dan antara dunia sekarang dengan dunia akan datang. Selanjutnya, perkataan tersebut juga membedakan antara mereka yang telah hidup di jalan tauhid dalam kehidupan ini dan mereka yang tidak. Ada garis yang jelas dan pasti yang membedakan dengan tepat, itulah Alquran. Sebagaimana pada awal surah, ketika langit yang luas tampak bersih dan kosong, dan tiba-tiba muncul bersitan cahaya bintang, manusia juga terlahir dengan sifat suka membeda-bedakan. Kekuatan diskriminasi, perbedaan yang tajam antara kebenaran dan kesalahan, berasal dari satu-satunya Tuhan Yang Mahakuat Yang menciptakan dan menghancurkan segala sesuatu bil haqq (dengan kebenaran).
 وَّمَا هُوَ بِالْهَزْلِ ١٤ wamaa huwa bialhazli 14. dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau.Hazala berarti 'menjadi kurus, tipis', dan hazila adalah 'berkelakar, bersendagurau'. Hazl adalah 'kelakar, hiburan'. Kita tidak boleh memperolok-olokkan karena penciptaan ini sangatlah serius. Biasanya kita menertawakan atau memperolokkan sesuatu karena kita tidak memahaminya. Kita ingin membenarkan sesuatu yang tidak nyata sehingga menerima sikap yang sinis. Sinisme menunjukkan tiadanya energi dan merupakan salah satu watak paling buruk yang dapat dimiliki seseorang. Kita mencari periindungan pada pemahaman atau sistem tertentu, dan ketika kita dihadapkan pada sesuatu yang menentangnya dan yang tidak dapat kita pertanggungjawabkan, kita menjadi sinis. Itulah mekanisme pelarian diri; sinisme adalah sebuah saluran. Nifaq (munafik, pura-pura) dikaitkan pada nafaq (saluran, jalan terusan bawah tanah). Jadi kemunafikan merupakan jalan keluar, pelarian diri, sebagaimana memperolok-olok. Pilihannya adalah: kita berhubungan dengan hal yang bertentangan dengan kita lalu menerimanya, atau, kalau tidak, kita menjadi sinis. Dengan cara demikian kita membebaskan diri dari setiap pencampur-bauran yang serius.
 إِنَّهُمْ يَكِيدُوْنَ كَيْدًا ١٥ innahum yakiiduuna kaydaan 15. Sesungguhnya orang-orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya.Pesan ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad dan kepada kaum beriman, kepada mereka yang menegakkan kebenaran dan para pembawa pesan. Kayd (komplotan, tipu-daya, rencana) berarti merencanakan dengan diam-diam, baik secara patut atau tidak patut. Karena itu ayat ini bisa diartikan bahwa seseorang berkomplot melawan dirinya sendiri melalui kebodohannya, atau seseorang berkomplot menentang Nabi. Orang-orang yang menyangkal realitas karena kebodohannya akan berkomplot secara sembarangan, tidak berarti bahwa mereka akan secara sengaja sembunyi-sembunyi laksana maling yang bersekongkol untuk merampok sebuah bank. Yang benar adalah, mereka melakukan persekongkolan batin karena hati mereka akan bersekongkol melawan kebenaran.
 وَأَكِيْدُ كَيْدًا ١٦ wa-akiidu kaydaan 16. Dan Aku pun membuat rencana (pula) yang sebenar-benarnya.Tapi Allah juga punya rencana. Dia adalah pembuat rencana yang terbaik; rencana-Nya akan selalu berlaku. Dia meliputi semua, Dia adalah Pencipta semua. Sementara, manusia hanyalah perencana tangan kedua, maka rencana-Nya akan selalu berlaku. Akhirnya mereka membuktikan keimanan mereka kepada-Nya melalui kematian mereka; melalui kematian fisik merekalah maka mereka membuktikan loyalitasnya kepada Allah, karena saat itu mereka kembali kepada-Nya, suka atau tidak suka.
 فَمَهِّلِ الْكٰفِرِيْنَ أَمْهِلْهُمْ رُوَيْدًا ١٧ famahhili alkaafiriina amhilhum ruwaydaan 17. Karena itu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar. Mahhala berarti memberikan tangguh. Mahala, bentuk akar, adalah mengerjakan suatu hal secara diam-diam dan dengan lemah-lembut, sementara amhala, dari akar kata yang sama, artinya bertindak dengan lemah-lembut terhadap seseorang atau sesuatu. Kita semua diberi peluang untuk menemukan keberanian sejati kita. Kerahiman yang dituliskan kepada ciptaan Allah sedemikian rupa sehingga selalu ada pilihan untuk bangun (sadar) dan tetap bangun, yang merupakan tujuan dari penciptaan kita. Pilihan satu-satunya yang dihadapi manusia adalah mengetahui bahwa ia berada di jalan yang benar. Setiap orang berada dalam Islam; setiap orang tunduk pada hukum yang mengatur eksistensi, suka atau tidak suka. Setiap orang adalah muslim baik itu pilihan dia atau bukan, baik ia mengucapkan sahadat atau tidak, baik ia ruku dan sujud atau tidak. Setiap orang tunduk pada hukum yang mengatur keberadaannya. Perbedaannya terletak pada kenyataan bahwa sebagian orang telah memilih untuk mengakui hukum ini, mempersatukan kehendak dan niat mereka dengan kehendak Allah.[] *1 Ar-raj'i berarti kembali. Dalam ayat ini hujan dinamakan Ar-raj'i, karena hujan berasal dari uap air yang naik dari bumi ke udara, kemudian turun ke bumi, kemudian kembali ke atas, dan dari atas kembali ke bumi, demikian dan begitu seterusnya .ath-Thâriq” berarti mengetuk dengan suara yang terdengar keras. Bisa juga dipakai untuk menyebut orang yang berjalan dengan kaki. Dan secara khusus digunakan pada waktu malam, karena umumnya pada malam hari pintu-pintu rumah kebanyakan ditutup. Kemudian makna ini diperluas menjadi apa saja yang terlihat pada waktu malam. Adapun yang dimaksud dalam surat ini sebagian besar pakar tafsir mengartikannya dengan bintang yang muncul di malam hari([2]). Tema surat ini masih berkisar tentang hari akhirat. Adapun poros utama pembicaraan adalah tentang manusia, rahasia penciptaan serta tahapan-tahapannya kemudian memuat tanda-tanda kekuasaan Allah yang tiada batasnya. Dan pembenaran terhadap Al-Quran sebagai wahyu dan kitab Allah yang menjadi pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Muatan surat ini ditutup dengan hiburan kepada Nabi Muhammad supaya tidak terlalu menanggapi tekanan dari kaum kafir Quraisy. Agar beliau terus bekerja dan berdakwah tanpa memikirkan resiko. Karena Allah yang akan menangani dan mengurusi mereka. Yang Muncul di Malam Hari “Demi langit dan yang datang pada malam hari. Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? (yaitu) bintang yang cahayanya menembus” (QS. 86: 1-3) Allah kembali bersumpah dengan langit yang bertingkat-tingkat yang diciptakan-Nya tinggi menjulang tanpa ada tiang penyangganya. Luas dan dihuni oleh malaikat-malaikat-Nya yang mulia dan dimuliakan. Menariknya Allah menggandengkan sumpah dengan langit dengan sesuatu yang datang di malam hari yang oleh sebagian besar pakar tafsir dianggap sebagai bintang terang yang muncul di malam hari. Ini diperkuat dengan ayat ketiga yang menjelaskannya; yaitu bintang yang cahayanya menembus kegelapan malam. Jika saja benda mati seperti bintang itu mampu menembus kegelapan malam sehingga sampai cahayanya di bumi, tentu malaikat-malaikat Allah mampu menembus apapun dengan titah-Nya. Karena … “Tidak ada suatu jiwa pun (diri) melainkan ada penjaganya” (QS. 86: 4). Siapakah penjaga tersebut? Yaitu para penjaga yang selalu mempunyai akses langsung terhadap setiap jiwa manusia. Sebagian ahli tafsir ada yang mengatakan bahwa ini demi menjaga manusia dari godaan setan. Secara umum, yang dimaksud di sini adalah pencatat amal manusia. Karena ia selalu menyertainya dengan berbagai tindakan dan amal yang dikerjakannya. Tindakan yang dikerjakan manusia tersebut dijaga dan tak akan dilewatkan sedetikpun. Semua direkam dengan teliti dan detil([3]). Rahasia Penciptaan Manusia Untuk kepentingan apakah hal di atas perlu diingatkan kepada para manusia? Hal ini bisa diketahui dengan perintah Allah pada ayat selanjutnya. Yaitu perintah kepada setiap manusia yang disebut secara langsung di sini untuk memperhatikan penciptaannya. Dari apa ia diciptakan? Bagimana ia berubah menjadi seperti sekarang? Hingga kemudian ia akan mati dan dikembalikan kepada asalnya. “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan. Yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan” (QS. 86: 5-7) Manusia diciptakan dari air yang memancar. Yang secara kasat mata seolah tiada kehidupan di sana. Dari air yang kelihatannya tak ada kehidupan itulah manusia diciptakan. Kemudian dimatikan dan kelak dihidupkan lagi. Siapakah yang membuat air tersebut memancar. Siapakah yang menurunkan syariat supaya kedua air itu bertemu. Dengan sah dan halal. Pertemuan kedua air itu bukanlah sekadar untuk melepas syahwat antara laki-laki dan perempuan. Pertemuan kedua air itu juga bukan sesuatu yang sepele. Bukan sesuatu yang kebetulan. Tapi itu adalah ibadah yang mengemban misi penampakan ayat-ayat dan tanda kekuasaan Allah. Dan Maha Besar Allah yang memberikan tugas berat tersebut dengan diberikan sebuah kenikmatan dalam menjalaninya. Siapakah yang mempertemukan kedua air tersebut. Dan dari air itu kemudian diubah menjadi sebuah kehidupan dengan ritme yang teratur dan tahapan yang sangat luar biasa. Siapakah yang sanggup melakukan hal itu? Air yang dipancarkan dan dicampurkan di atas, diproduksi dari tulang punggung (belakang) laki-laki dan dari tulang dada perempuan. Air yang sangat cair dan sangat lunak tersebut diproduksi di dalam benda yang sangat keras. Yaitu tulang. Satu diciptakan dari arah belakang dan satu lagi di ciptakan dari arah depan. Inilah sebenarnya kodrat manusia. Laki-laki dan perempuan. Bahwa manusia secara fitrah adalah berpasangan dan saling melengkapi. Laki-laki dan perempuan. Ada depan dan belakang. Karena memang seharusnya demikian. Misi kekhilafahan manusia hanya bisa dikerjakan bersama oleh laki-laki dan perempuan, sebagaimana ada bulan dan matahari, ada malam dan siang. “Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati). Pada hari dinampakkan segala rahasia. Maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong” (QS. 86: 8-10) Dzat yang mencipta manusia dari bahan dan proses seperti yang dijelaskan di atas, sudah tentu sanggup dan kuasa untuk mematikan sekaligus menghidupkan manusia setelah kematiannya. Dan sebagaimana penciptaan manusia, kebangkitannya juga tidaklah merupakan hal yang kebetulan saja. Pada hari kebangkitan manusia akan diadili dan kemudian ditentukan balasan amalannya ketika berada di dunia. Hari itu tak satu pun makhluk-Nya yang sanggup merahasiakan sekecil apapun dari-Nya. Hari itu semua rahasia terbongkar. Baik yang bersifat bagus ataupun rahasia-rahasia dan konspirasi kejahatan serta keburukan. Tanda Kekuasaan Allah “Demi langit yang mengandung hujan. Dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan” (QS. 86: 11-12) Kemudian Allah kembali bersumpah dengan langit. Jika di awal surat ini langit dihubungkan dengan kegelapan dan bintang yang menerangi dan menghiasnya, maka pada ayat ini Allah menggandengkan langit dengan bumi. Menggandengkan langit dengan hujan serta bumi dengan tumbuh-tumbuhan. Dikatakan raj’i sebagai hujan karena air hujan pada dasarnya berasal dari bumi dan akan dikembalikan ke bumi ke tempat asalnya untuk mengairi tumbuhan yang bermacam-macam. Siapakah yang sanggup mengembalikan air ke bumi dengan bentuk yang tidak menyakitkan bagi manusia. Air itu dijatuhkan ke bumi dan dikemballikan setelah berproses dengan bentuk tetesan-tetesan air yang kecil yang datang dalam jumlah yang berbeda sesuai kadarnya. Ada kalanya sedikit dan hanya menjadi gerimis ada kalanya banyak dan deras menjelma menjadi air yang melimpah. Hasan al-Bashry mengatakan bahwa hujan di sebut raj’i karena kembali dari langit dengan membawa rezeki, padahal tadinya berasal dari bumi berupa air saja. Adapun Ibnu Zaid menafsirkan raj’i dengan bulan, matahari dan bintang-bintang yang memiliki orbit tempat kembali mereka([4]). Dan dari air yang sama itu kemudian ketika sampai di bumi berubah menjadi tumbuhan yang bermacam-macam. Dinamakan ash-shad’u karena aslinya terbelah. Biji-bijian dan benih yang tadinya di dalam tanah kemudian muncul dengan membelah tanah di atasnya, meskipun tak semua tumbuhan berasal dari dalam tanah([5]). Tanda-tanda kekuasaan Allah tersebut, langit dan bumi serta sebagian fenomena yang diungkap dalam ayat ini digunakan Allah bersumpah. Semata untuk meneguhkan hakikat Al-Quran yang didustakan oleh orang-orang kafir saat diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. “Sesungguhnya al-Quran itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil. Dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau”. (QS. 86: 13-14) Al-Quran tidaklah seperti yang mereka tuduhkan. Bukan gurauan atau mitos sebagaimana klaim mereka. Al-Quran adalah kalam suci yang diturunkan sebagai pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Di dalamnya termuat kaidah dan risalah serta ajaran yang mengajak kepada kebenaran serta konsekuensinya. Juga memuat rambu-rambu dan batas-batas yang menyelamatkan manusia dari kerugian abadi dan kesengsaraan. Namun, sayang orang-orang kafir tersebut “… merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya” (QS. 86: 15). Tidak tahukah mereka bahwa Allah pun “… membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya” (QS. 86: 16). Dan makar serta rencana yang disiapkan Allah tentu jauh lebih sempurna. Baik untuk membalas kesabaran dan keteguhan kaum beriman ataupun untuk membalas kezhaliman orang-orang kafir tersebut, termasuk menghalangi kemudharatan dan menahan kemanfaatan bagi suatu kaum. Maka,Allah mewahyukan kepada Nabi Muhammad Saw untuk bersabar. “Karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir itu yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar” (QS. 86: 17). Janganlah kau sibukkan diri dengan membalas dendam kelakuan mereka atau memikirkan terlalu dalam ejekan dan hinaan mereka. Tangguhkan sebentar. Biarlah Allah yang mengurusi mereka. Allah yang serba maha lebih tahu bagaimana memperlakukan mereka, baik di dunia maupun menyediakan tempat yang sangat menyeramkan untuk mereka di akhirat, kelak. Kata ruwaida (sebentar) mengindikasikan bahwa seberapa lama seseorang hidup di dunia tidaklah memakan waktu yang lama karena kehidupan dunia tidaklah bisa dibandingkan dengan masa yang sangat panjang dengan kehidupan di akhirat yang hanya diketahui oleh Allah saja. Asal kata ruwaidan, diambil dari angin yang bertiup dengan tiupan yang lemah([6]).

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN

JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN