Surah Alam Nasyrah lengkap dengan terjemahan dan Latinnya
Surat Alam Nasyrah:
8 AyatDalam Al Qur’an ada
salah satu surat pendek
yang mempunyai
keistimewaan yang
sangat luar biasa, salah
satu surat dalam Al
Qur’an yang mempunyai
keistimewaan yang
sangat luar biasa itu
adalah SURAT ALAM
NASROH ( AL INSYIROH ).
Banyak sekali umat islam
yang tidak mengetahui
hikmah dibalik
keistimewaan surat
ALAM NASROH padahal
keistimewaan SURAT
ALAM NASROH sangat
banyak sekali. Surat
ALAM NASROH terdiri
dari 8 ayat, sekalipun
surat ALAM NASROH
pendek, tapi
keistimewaanya
luarbiasa. Untuk
mendapatkan
keistimewaan yang
terkandung dalam surat
ALAM NASROH ini
dibutuhkan pembimbing
yang ahli dibidangnya
terutama orang yang
mengusai ilmu hikmah
dan ilmu khodam. Untuk
mendapatkan
keistimewaan yang
terkandung dalam surat
ALAM NASROH secara
sempurna kita harus
faham dan mengetahui
seluk beluk surat yang
ada dalam Al Qur’an
sehingga kita mudah
mempelajarinya, tidak
hanya itu kita juga
membutuhkan guru yang
faham tentang surat
ALAM NASROH yang
akan kita pelajari.
Kistimewaan yang
terkandung dalam surat
ALAM NASROH sangat
banyak sekali
diantaranya yaitu :
1.dapat menghilangkan
segala macam kesulitan,
2. mampu menghilangkan
kesedihan ataupun
kegelisahan yang
menimpa umat manusia,
3. mampu melariskan
ataupun memajukan
usaha apapun bahkan
orang yang membaca
surat ALAM NASROH
dengan benar maka
segala bidang usaha yang
digelutinya akan maju
pesat dan tidak akan
pernah mengalami
kebangkrutan serta
mempunyai banyak
pelanggan yang tidak
akan habis,
4. melalui
surat ALAM NASROH ini
segala hajat apapun
akan dikabulkan oleh
Allah terutama hajat
yang sangat besar sekali
seperti ingin jadi
pemimpin daerah ,
pemimpin negara atau
yang lainya,
5. mampu
mengangkat derajat dan
akan dilapangkan segala
beban hidupnya bila
orang yang membacanya
selalu bersabar,
6. mampu membantu
menarik benda pusaka
atau harta terpendam ,
7. mampu terlepas dari
berbagai hukuman baik
hukuman yang ringan
ataupun hukuman yang
sangat berat sekalipun
termasuk hukmun mati
dll.
Semua keistimewaan
yang ada dalam
kandungan surat ALAM
NASROH ini memang
benar2 nyata atas segala
kekuasaan Allah. Adapun
salah satu orang yang
pernah merasakan
dahsyatnya
keistimewaan surat
ALAM NASROH ini adalah
PRESIDEN PERTAMA kita
yaitu BUNG KARNO.
Sewaktu zaman
penjajahan belanda
BUNG KARNO selalu
dikejar2 oleh belanda,
sehingga BUNG KARNO
harus selalu berpindah
pindah tempat untuk
menghindari kejaran
pemerintah belanda
karena BUNG KARNO
dianggap oleh belanda
sebagai pemberontak,
sekalipun BUNG KARNO
berpindah pindah tempat
akhirnya beliau
tertangkap juga oleh
belanda dan dimasukan
kedalam penjara, setelah
beberapa lama dipenjara
maka hukuman tetap
pun dijatuhkan, beliau
dijatuhi hukuman mati
oleh belanda. Hari demi
hari beliau hanya
membaca buku dan
membaca Al Qur’an
sesuai yang diajarkan
oleh gurunya. Menurut
beberapa salah satu gurU disarankan
membaca SURAT ALAM
NASROH dengan
hitungan tertentu, Ke
esokan harinya sewaktu
eksekusi mau di
laksanakan tiba2 ada
perintah dari negara
belanda bahwa hukuman
mati yang sudah
dijatuhkan dibatalkan,
kemudian hukuman itu
diganti dengan hukuman
pengasingan ke suatu
daerah yang terpencil
bahkan setelah
pengasingan beliau
dibebaskan oleh
pejuang2 kita.
Itulah salah satu
keistimewaan surat
ALAM NASROH,
keistimewaan yang tidak
kalah hebatnya dengan
surat lainya
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ ﴿١﴾ وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ ﴿٢﴾ الَّذِي أَنقَضَ ظَهْرَكَ ﴿٣﴾ وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ ﴿٤﴾ فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴿٥﴾ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴿٦﴾ فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ ﴿٧﴾ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَب ﴿٨﴾
Alam nasyrah laka shadraka, wawadha'naa 'anka wizraka, alladzii anqadha zhahraka, warafa'naa laka dzikraka, fa-inna ma'a al'usri yusraan, inna ma'a al'usri yusraan, fa-idzaa faraghta fainshab, wa-ilaa rabbika fairghab.
Artinya:
1). Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?
2). Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu
3). Yang memberatkan punggungmu ?
4). Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu ,
5). Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan
6). Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan
7). Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain ,
8).
Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap
Firman Allah: a lam nasyrah laka shadraka (“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?”) maksudnya, Kami telah menerangi dadamu, yaitu dengan cahaya Kami. Dan Kami jadikan dadamu lapang, lebar, dan luas. Yang demikian itu seperti firman-Nya: famay yuridillaaHu ay yaHdiyaHu yasyrah shadraHuu lil islaami (“Barangsiapa yang Allah berkehendak untuk memberi petunjuk kepadanya, maka Dia akan melapangkan dadanya untuk Islam.” (al-An’am: 125) dan sebagaimana Allah telah melapangkan dada beliau, maka Diapun menjadikan syariat-Nya demikian lapang dan luas, penuh toleransi dan kemudahan, tidak mengandung kesulitan, benban dan kesempitan.
Tadabbur Surat Alam Nasyrah: Satu Kesulitan Dua Kemudahan;Surat ini merupakan kelanjutan surat sebelumnya, karena sama-sama membahas kepribadian Nabi Muhammad saw dan kondisi yang dihadapi oleh beliau. Keduanya juga menyebutkan kenikmatan-kenikmatan yang diberikan Allah. Jika di surat sebelumnya Allah menyebutkan tiga nikmatnya: Allahlah yang memberikan ‘inayah (perlindungan) saat kondisi beliau yatim, fakir dan kebingungan. Maka pada surat ini, Allah tambahkan tiga nikmat-Nya yang lain: nikmat kelapangan dada([4]), meringankan beban beliau saat berhadapan dengan kaumnya ketika menyampaikan risalah kenabian yang tak ringan, juga Allah tinggikan kedudukan dan derajat beliau baik di bumi maupun di langit melebihi segala ciptaan-Nya yang pernah dan yang akan ada.
Hal ini hanya diperuntukkan kepada beliau demi menghibur sekaligus menguatkan azamnya. Di tengah teror yang tak henti-hentinya dari musyrikin Makkah. Di akhir surat ini, Allah memerintahkan untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya, juga untuk beribadah setelah menyampaikan risalah. Perpindahan-perpindahan aktivitas tersebut merupakan refleksi rasa syukur([5]) kepada Allah swt atas karunia nikmat-nikmat-Nya yang sangat banyak yang tak memungkinkan untuk dihitung-hitung apalagi untuk dibalas.
Kenikmatan-Kenikmatan
“Bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu?
Dan kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu. Yang memberatkan punggungmu? Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu”. (QS. 94: 1-4)
Nikmat pertama yang disebut Allah adalah nikmat kelapangan dada. Diturunkan dalam bentuk pertanyaan sebagaimana surat sebelumnya. Hal ini dimaksudkan supaya Nabi Muhammad saw juga benar-benar berpikir, merenungi lebih dalam atas karunia dan nikmat-nikmat yang diberikan Allah kepadanya. Lebih dari yang sekadar disebut-Nya.
Ayat di atas mengandung dua makna, zhahir dan batin. Secara zhahir, Rasulullah saw pernah dibersihkan organ dalamnya oleh malaikat sewaktu masih kecil. Demikian juga setelah itu. Sebagian ulama berpendapat bahwa hal tersebut terjadi berkali-kali.
Pertama kali terjadi pada saat beliau berusia empat tahun, yaitu masa-masa terakhir beliau diasuh oleh Halimah Sa’diyah di perkampungan Bani Sa’d sebelum dikembalikan kepada ibunya. Kedua, terjadi pada saat beliau berumur duapuluhan tahun. Ketiga, terjadi lagi sebelum beliau Isra’ Mi’raj([6]).
Dalam riwayat Imam Ahmad dijelaskan bahwa tujuan pembelahan dada beliau –operasi fisik- secara zhahir adalah untuk membuang dendam, hasad dan iri (al-Ghill wa al-Hasad) dan kemudian memasukkan cinta dan kasih sayang (Rahmah wa Ra`fah) ([7]).
Menariknya, Imam al-Baidhawy mengatakan bahwa seolah-olah ini merupakan athaf dari surat sebelumnya yang datang dengan kata tanya (istifham) (ألم يجدك يتيماً). Dan untuk menegaskan bahwa masih banyak nikmat-nikmat Allah yang lain yang tidak disebut dan manusia tak mampu menghitungnya.
Adapun kandungan makna batinnya, bahwa Allah telah memberikan kelapangan dada dengan membuka hati beliau untuk dimudahkan menerima ilmu dan hikmah kenabian serta risalah. Demikian ditegaskan maknanya oleh Imam al-Baghawi([8]).
Bahkan para tokoh sufi lebih suka memakai makna batin ini dan lebih merajihkannya karena kata yang dipakai adalah syaraha.
Nikmat kedua, menghilangkan beratnya beban-beban dakwah Rasulullah saw.
Sebagian para ahli tafsir menafsirkan al-wizr adalah kesalahan dan kealpaan yang dilakukan Nabi Muhammad sebelum beliau menjadi nabi. Semuanya telah Allah ampunkan. Tapi, tak sedikit yang menafsirkannya dengan beban secara umum yang dihadapi oleh Rasulullah saw dalam melaksanakan misi yang dianugerahkan Allah kepadanya. Yaitu menyampaikan risalah kenabian. Baik beban fisik dengan teror yang diterimanya, maupun secara psikis yang dialaminya berkali-kali. Mulai hinaan, cemoohan, ancaman, tuduhan keji atau bahkan rayuan dan bujukan. Semuanya Allah jadikan ringan. Bahkan Allah melengkapinya dengan nikmat selanjutnya.
Nikmat ketiga, ditinggikan derajatnya. Allah mengangkat derajat beliau sebagai nabi. Bahkan disandingkan namanya dengan asma’ Allah Yang Mahaagung. Namanya disebut oleh penduduk bumi dan langit di sepanjang waktu. Penduduk bumi yang shalat saja berputar dari pagi ke pagi selalu ada yang shalat, syahadatain dibaca di dalamnya. Dalam khutbah, syahadatain juga dibaca. Sebelum ijab qabul pernikahan, syahadatain juga dibaca. Banyak riwayat yang menyebutan kemuliaan beliau yang diberikan Allah dengan penyebutan tersebut([9]).
Firman Allah: wawadla’naa ‘angka wizraka (“Dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu.” Mempunyai pengertian: liyaghfiralakallaaHu maa taqaddama min dzambika wamaa ta-akhkhara (“Supaya Allah member ampunan kepadamu akan dosa yang telah engkau perbuat dulu dan yang akan dating.”)(al-Fath: 2)
Alladzii angqadla dzaHraka (“yang memberatkan punggungmu.”) kala “al-inqaadu” disini berarti suara. Dan lebih dari satu ulama salaf yang mengenai firman-Nya, Alladzii angqadla dzaHraka (“yang memberatkan punggungmu.”) mengatakan: “Yakni bebannya telah memberatkanmu.”
Firman Allah: wa rafa’naa laka dzikraka (“Dan Kami tinggikan bagimu sebutan [nama]mu.” Mujahid mengatakan, “Aku tidak disebut melainkan disebutkan bersamaku kesaksian bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah.” Qatadah mengatakan: “Allah meninggikan sebutan beliau di dunia dan di akhirat. Tidak ada seorang khatib, orang yang mengucapkan syahadat, dan juga orang yang mengerjakan shalat, melainkan menyebutkan kesaksian: asyHadu allaa ilaaHa illaallaaHu wa asyHadu anna muhammadar rasuulullaH (Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak untuk diibadahi dengan benar selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.”
Ibnu Katsir menyebutkan sejumlah baik syair Hasan bin Tsabit: “Dipancarkan pada penutup kenabian, dari Allah berupa cahaya yang kemilau lagi disaksikan Ilah telah menggabungkan nama Nabi pada Nama-Nya, Dimana pada kumandang kelima mu-adzin menyebutkan syaHadat. Dan diambil nama dari Nama-Nya untuk mengagungkannya.
Demikian Pemilik Arsy sangat terpuji, dan inilah Muhammad.
Firman Allah Ta’ala: fa inna ma’al ‘usri yusran, inna ma’al ‘usri yusran (“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”) Allah memberitahukan bahwa bersama kesulitan itu terdapat kemudahan. Kemudian Dia mempertegas berita tersebut. Ibnu Jarir meriwayatkan dari al-Hasaan, dia berkata: “Nabi saw. Pernah keluar rumah pada suatu hari dalam keadaan senang dan gembira, dan beliau juga dalam keadaan tertawa seraya bersabda: “Satu kesulitan itu tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu terdapat kemudahan.”
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kesulitan itu dapat diketahui pada dua keadaan, dimana kalimatnya dalam bentuk mufrad (tunggal). Sedangkan kemudahan (al-yusr) dalam bentuk nakirah (tidak ada ketentuannya) sehingga bilangannya bertambah banyak. Oleh karena itu beliau bersabda: “Satu kesulitan itu tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan.”
Ibnu Duraid berkata: “Abu Hatim as-Sijistani mengumandangkan syair untukku: “Jika hati telah menguasai keputusasaan. Dan sudah menjadi sempit oleh dada yang lapang. Ia menginjak semua yang tidak disukai dan menjadi tenang,. Dan menancapkan kesulitan di beberapa tempat. Dan untuk menyingkap mudharat, ia tidak melihat jalan. Dia mendatangimu dalam keadaan putus asa dari meminta bantuan. Yang diberikan oleh Yang Mahalembut lagi Mahamengabulkan. Dan setiap kejadian itu jika berakhir, maka akan membawa kepada kebahagiaan yang dekat.”
Penyair lain mengungkapkan: “Tidak jarang musibah itu membuat sempit gerak pemuda, dan pada sisi Allah jalan keluar diperoleh. Lengkap sudah penderitaan. Dan ketika kepungannya mendominasi, maka terbukalah jalan, yang sebelumnya dia menduga musibah itu tiada akhir.”
Firman Allah: fa idzaa faraghta fangshab.Wa ilaa rabbika farghab (“Maka apabila kamu telah selesai [dari suatu urusan], kerjakanlah dengan sungguh-sungguh [urusan] yang lain. Dan hanya kepada Rabb-mu lah hendaknya kamu berharap.”) maksudnya, jika engkau telah selesai mengurus berbagai kepentingan dunia dan semua kesibukannya serta telah memutus semua jarigannya, maka bersungguh-sungguhlah untuk menjalankan ibadah serta melangkahlah kepadanya dengan penuh semangat, dengan hati yang kosong lagi tulus, serta niat karena Allah. Dari pengertian ini terdapat sabda Rasulullah saw. Di dalam hadits yang diserpakati keshahihannya: “Tidak sempurna shalat seseorang ketika makanan telah dihidangkan dan tidak sempurna pula shalat dalam keadaan menahan buang air kecil dan besar.”
Dan dari Ibnu Mas’ud: “Jika engkau telah selesai menunaikan berbagai kewajiban, maka bersungguh-sungguhlah untuk melakukan Qiyamul lain. Dan dalam sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud: fangshab. Wa ilaa rabbika farghab (“dan kerjakanlah dengan sungguh-sungguh. Dan hanya kepada Rabb-mu lah hendaknya kamu berharap.”) setelah selesai dari shalat yang engkau kerjakan sedang engkau masih dalam keadaan duduk. ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Jika engkau telah selesai, maka bersungguh-sunguhlah, yakni berdoa. wallaaHu a’lam.
Isnin, 8 Januari 2018
Sabtu, 6 Januari 2018
Tafsir aurah kautsar
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
- JILIK=9-SURAH KAUTSAR 1-3
- Surat Al-Kautsar
- تَفْسِيرُ سُورَةِ الْكَوْثَرِ
- (Nikmat yang Banyak)
- Makkiyah atau Madaniyyah, 3 ayat Turun sesudah Surat Al-Adiyat
- بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
- Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
- Al-Kautsar, ayat 1-3
- إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)
- Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.'
- Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fudail, dari Al-Mukhtar ibnu Fulful, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. menundukkan kepalanya sejenak, lalu beliau mengangkat kepalanya seraya tersenyum. Beliau bersabda kepada mereka, atau mereka bertanya kepada beliau Saw., "Mengapa engkau tersenyum?" Maka Rasulullah Saw. menjawab, "Sesungguhnya barusan telah diturunkan kepadaku suatu surat." Lalu beliau membaca firman-Nya: Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar. (Al-Kautsar: l), hingga akhir surat. Lalu Rasulullah Saw. bersabda, "Tahukan kalian, apakah Al-Kautsar itu?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Rasulullah bersabda:
- «هُوَ نَهْرٌ أَعْطَانِيهِ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ فِي الْجَنَّةِ عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ، تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدَ الْكَوَاكِبِ يُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُمْ، فَأَقُولُ يَا رَبِّ إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِي، فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ»
- Al-Kautsar adalah sebuah sungai (telaga) yang diberikan kepadaku oleh Tuhanku di dalam surga, padanya terdapat kebaikan yang banyak, umatku kelak akan mendatanginya di hari kiamat; jumlah wadah-wadah (bejana-bejana)nya sama dengan bilangan bintang-bintang. Diusir darinya seseorang hamba, maka aku berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya dia dari umatku.” Maka dikatakan, "Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang telah dibuat-buatnya sesudahmu."
- Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad Sulasi ini dan juga konteks yang sama dari Muhammad ibnu Fudail, dari Al-Mukhtar ibnu Fulfill, dari Anas ibnu Malik.
- Telah disebutkan sehubungan dengan gambaran tentang telaga ini di hari kiamat, bahwa tercurahkan kepadanya air dari langit melalui dua talang, dan bahwa bejana-bejananya bilangannya sama dengan bintang-bintang di langit. Imam Muslim, Imam Abu Daud, dan Imam Nasai telah meriwayatkannya melalui jalur Ali ibnu Mis-har dan Muhammad ibnu Fudail; keduanya dari Al-Mukhtar ibnu Fulfill, dari Anas.
- Menurut lafaz Imam Muslim, disebutkan bahwa ketika Rasulullah Saw. berada di hadapan kami di masjid, tiba-tiba beliau menundukkan kepalanya sejenak, kemudian mengangkat kepalanya seraya tersenyum. Maka kami bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang menyebabkan engkau tertawa?" Rasulullah Saw. menjawab: Sesungguhnya telah diturunkan kepadaku barusan suatu surat. Maka beliau Saw. membaca firman-Nya: Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus. (Al-Kautsar: 1-3) Kemudian beliau Saw. bersabda: "Tahukah kamu, apakah Al-Kautsar itu?” Kami menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah Saw. bersabda,
- فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ خَيْرٌ كثير وهو حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عدد النجوم في السماء، فَيُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُمْ فَأَقُولُ رَبِّ إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِي، فَيَقُولُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثَ بَعْدَكَ
- "Sesungguhnya Al-Kautsar adalah sebuah sungai (telaga) yang telah dijanjikan oleh Tuhanku untukku, padanya terdapat kebaikan yang banyak. Al-Kautsar merupakan telaga yang akan didatangi oleh umatku kelak di hari kiamat, jumlah bejananya sama dengan bilangan bintang-bintang di langit, maka diusirlah darinya seorang hamba dari mereka, lalu aku berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya dia dari kalangan umatku.” Maka Dia berfirman, "Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang telah dibuat-buatnya sesudahmu.
- sebagian besar ulama ahli qiraat mengatakan berdasarkan dalil ayat ini, bahwa surat ini adalah surat Madaniyah. Dan kebanyakan ulama fiqih mengatakan bahwa Basmalahnya merupakan bagian dari surat dan diturunkan bersama-sama dengan surat ini.
- *****************
- Adapun mengenai firman-Nya:
- {إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ}
- Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar. (Al-Kautsar: 1)
- Dalam hadis yang lalu telah disebutkan bahwa Al-Kautsar adalah nama sebuah sungai di dalam surga.
- Imam Ahmad telah meriwayatkan melalui jalur lain dari Anas; untuk itu ia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Sabit, dari Anas, bahwa ia membaca firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar. (Al-Kautsar: 1) Lalu ia mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
- "أعطيتُ الْكَوْثَرَ، فَإِذَا هُوَ نَهَرٌ يَجْرِي، وَلَمْ يُشق شَقًّا، وَإِذَا حَافَّتَاهُ قِبَابُ اللُّؤْلُؤِ، فَضَرَبْتُ بِيَدِي فِي تُرْبَتِهِ، فَإِذَا مِسْكُهُ ذَفَرة، وَإِذَا حَصَاهُ اللُّؤْلُؤُ"
- Aku diberi Al-Kautsar, dan ternyata ia adalah sebuah sungai yang mengalir, tetapi tidak dibedahkan sebagai mana sungai. Dan ternyata kedua tepinya adalah kubah-kubah dari mutiara; lalu aku menyentuhkan tanganku ke tanahnya, dan ternyata ia seharum minyak kesturi yang sangat harum baunya, dan ternyata batu-batu kerikilnya dari mutiara.
- Imam Ahmad mengatakan. telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Adiy, dari Humaid, dari Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
- «دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَإِذَا أَنَا بِنَهْرٍ حَافَّتَاهُ خِيَامُ اللُّؤْلُؤِ فَضَرَبْتُ بِيَدِي إِلَى مَا يَجْرِي فِيهِ الْمَاءُ فَإِذَا مِسْكٌ أَذْفَرُ قُلْتُ: مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَذَا الْكَوْثَرُ الَّذِي أَعْطَاكَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ»
- Aku masuk ke dalam surga, dan tiba-tiba aku melihat sebuah sungai yang kedua tepinya dipenuhi oleh kemah-kemah dari mutiara, lalu aku sentuhkan tanganku ke tanah yang dialiri airnya, tiba-tiba ia adalah minyak kesturi yang sangat harum baunya. Aku bertanya, "Hai Jibril, apakah ini?” Jibril menjawab, "Ini adalah Al-Kautsar yang diberikan oleh Allah Swt. kepadamu.”
- Imam Bukhari di dalam kitab sahihnya dan Imam Muslim telah meriwayatkan melalui hadis Syaiban ibnu Abdur Rahman, dari Qatadah, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa setelah Nabi Saw. dibawa naik ke langit, beliau menceritakan:
- «أَتَيْتُ عَلَى نَهْرٍ حَافَّتَاهُ قِبَابُ اللُّؤْلُؤِ الْمُجَوَّفِ فَقُلْتُ مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَذَا الْكَوْثَرُ»
- Aku datang ke sebuah sungai yang kedua tepinya dipenuhi oleh kemah-kemah dari mutiara yang dilubangi, lalu aku bertanya, "Apakah ini, hai Jibril?” Jibril berkata, "Ini adalah Sungai Al-Kautsar.”
- Demikianlah menurut lafaz Imam Bukhari rahimahullah. Ibnu Jarir mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ar-Rabi', telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, dari Sulaiman ibnu Bilal, dari Syarik ibnu Abu Namir; ia pernah mendengar Anas menceritakan hadis berikut kepadanya (dan teman-temannya), bahwa ketika Rasulullah Saw. melakukan Isra, Jibril membawanya naik ke langit terdekat, tiba-tiba Nabi Saw. melihat sebuah sungai yang padanya terdapat sebuah gedung dari mutiara dan zabarjad. Lalu Nabi Saw. mencium bau tanahnya, dan ternyata baunya harum seperti minyak kesturi, lalu beliau Saw. bertanya, "Hai Jibril, sungai apakah ini?" Jibril menjawab, "Ini adalah Sungai Al-Kautsar yang disediakan oleh Tuhanmu untukmu."
- Hadis mengenai Isra ini telah disebutkan di dalam tafsir surat Al-Isra melalui jalur Syarik, dari Anas, dari Nabi Saw.'yang hadisnya diketengahkan di dalam kitab Sahihain.
- Sa'id telah meriwayatkan dari Qatadah, dari Anas, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
- «بينما أَنَا أَسِيرُ فِي الْجَنَّةِ إِذْ عَرَضَ لِي نهر حافتاه قباب اللؤلؤ المجوف، فَقَالَ الْمَلَكُ- الَّذِي مَعَهُ- أَتَدْرِي مَا هَذَا؟ هَذَا الْكَوْثَرُ الَّذِي أَعْطَاكَ اللَّهُ، وَضَرَبَ بِيَدِهِ إِلَى أَرْضِهِ فَأَخْرَجَ مِنْ طِينِهِ الْمِسْكَ»
- Ketika aku sedang berjalan di dalam sungai, tiba-tiba terbentang di hadapanku sebuah sungai yang kedua tepinya penuh dengan kemah-kemah mutiara yang berlubang. Maka berkatalah malaikat yang menemaninya, "Tahukah kamu apakah sungai ini? Inilah Al-Kautsar yang akan diberikan Allah kepadamu.” Lalu Nabi Saw. memasukkan tangannya ke tanah dan mengeluarkan dari tanahnya minyak kesturi (yang harum baunya).
- Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Sulaiman ibnu Tarkhan dan Ma'mar serta Hammam dan lain-lainnya dari Qatadah dengan sanad yang sama.
- قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي سُرَيج حَدَّثَنَا أَبُو أَيُّوبَ الْعَبَّاسِيُّ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، ابْنُ أَخِي ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَنَسٍ قال: سُئل رسول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْكَوْثَرِ، فَقَالَ: "هُوَ نَهْرٌ أَعْطَانِيهِ اللَّهُ فِي الْجَنَّةِ، تُرَابُهُ مِسْكٌ، [مَاؤُهُ] أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ، وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ، تَرِدُهُ طَيْرٌ أَعْنَاقُهَا مِثْلُ أَعْنَاقِ الجُزُر". فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّهَا لِنَاعِمَةٌ؟ قَالَ: "أَكْلُهَا أَنْعَمُ مِنْهَا".
- Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abu Syuraih, telah menceritakan kepada kami Abu Ayyub Al-Abbas, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Sa'd, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abdul Wahhab (keponakan Ibnu Syihab), dari ayahnya, dari Anas yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya mengenai makna Al-Kautsar, maka beliau Saw. menjawab: Al-Kautsar adalah sebuah sungai yang diberikan Allah kepadaku di dalam surga, tanahnya adalah minyak kesturi (airnya) lebih putih daripada air susu dan rasanya lebih manis daripada madu; sungai itu didatangi oleh burung-burung yang lehernya seperti leher unta. Abu Bakar berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya burung itu benar-benar lezat dagingnya." Rasulullah Saw. menjawab: Aku akan memakan dagingnya dan merasakan kelezatan (kenikmatan)nya.
- قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ الْخُزَاعِيُّ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْهَادِ، عَنْ عَبْدِ الْوَهَّابِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُسْلِمِ بْنِ شِهَابٍ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْكَوْثَرُ؟ قَالَ: "نَهْرٌ فِي الْجَنَّةِ أَعْطَانِيهِ رَبِّي، لَهُوَ أَشَدَّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ، وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ، فِيهِ طُيُورٌ أَعْنَاقُهَا كَأَعْنَاقِ الْجُزُرِ". قَالَ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّهَا لَنَاعِمَةٌ؟ قَالَ: "أَكْلُهَا أَنْعَمُ مِنْهَا يَا عُمَرُ".
- Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah Al-Khuza'i, telah menceritakan kepada kami Al-Lais, dari Yazid ibnul Had, dari Abdul Wahhab, dari Abdullah ibnu Muslim ibnu Syihab, dari Anas, bahwa seorang lelaki pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah Al-Kautsar itu?" Rasulullah Saw. bersabda: "Al-Kautsar adalah sebuah sungai di dalam surga yang diberikan oleh Tuhanku untukku. Airnya lebih putih daripada air susu dan rasanya lebih manis daripada madu, padanya terdapat burimg-burung yang lehernya seperli leher unta.” Umar bertanya, "Wahai Rasulullah, sudah tentu dagingnya amat lezat.” Rasulullah Saw. bersabda, "Aku akan memakannya dan merasakan kelezatannya, hai Umar.”
- Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui hadis Az-Zuhri dari saudaranya (yaitu Abdullah), dari Anas, bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang Al-Kautsar, maka disebutkan hal yang semisal dengan hadis di atas.
- Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Khalid ibnu Yazid Al-Kahili, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abu Ishaq, dari Abu Ubaidah, dari Aisyah r.a. Bahwa ia pernah bertanya kepada Aisyah tentang makna firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar. (Al-Kautsar: 1) Maka Siti Aisyah r.a. menjawab, "'Al-Kautsar adalah sebuah sungai yang diberikan kepada Nabi kalian, kedua tepinya berupa mutiara yang berlubang, jumlah bejana-bejananya sama dengan bilangan bintang-bintang di langit." Kemudian Imam Bukhari mengatakan bahwa Zakaria, Abul Ahwas dan Mutarrif telah meriwayatkannya dari Abu Ishaq; Imam Ahmad dan Imam Nasai meriwayatkannya melalui jalur Mutarrif dengan sanad yang sama.
- Ibnu Jarir mengatakan. telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Wakr, dari Sufyan dan Israil, dari Abu Ishaq, dari Abu Ubaidah, dari Aisyah yang mengatakan bahwa. Al-Kautsar adalah nama sebuah sungai di dalam surga yang kedua tepinya mutiara yang berlubang. Israil mengatakan bahwa Al-Kautsar adalah sebuah sungai di dalam surga yang padanya terdapat bejana-bejana yang bilangannya sama dengan bintang-bintang di langit.
- Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Ya'qub Al-Qummi, dari Hafs ibnu Humaid, dari Syamir ibnu Atiyyah, dari Syaqiq atau Masruq yang mengatakan bahwaaku bertanya kepada Siti Aisyah, ''Wahai Ummul Mu’minin, ceritakanlah kepadaku tentang Al-Kautsar? Aisyah menjawab, "Sebuah sungai di lembah surga." Aku bertanya, "Apakah yang dimaksud dengan lembah surga?" Aisyah menjawab, "Terletak dibagian tengahnya, kedua tepinya penuh dengan gedung-gedung dari mutiara dan yaqut, dan tanahnya seharum minyak kesturi, sedangkan batu kerikilnya dari mutiara dan yaqut.
- Ibnu Jarir mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Waki', dari Abu Ja'far Ar-Razi, dari Ibnu Abu Najih, dari Aisyah r.a. yang mengatakan, "Barang siapa yang ingin mendengarkan gemerciknya air Telaga Kautsar, hendaklah ia menutupkan kedua jari telunjuknya ke kedua lubang telinganya. Riwayat ini terdapat mata rantai yang putus antara Ibnu Abu Najih dan Siti Aisyah r.a. Dan menurut sebagian riwayat dari seorang lelaki, dari Aisyah, disebutkan bahwa makna yang dimaksud ialah suarayang semisal dengan itu, bukan berarti suaranya persis, seperti itu; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. As-Suhaili mengatakan bahwa Imam Daruqutni telah meriwayatkannya secara marfu' melalui jalur Malik ibnu Magul, dari Asy-Sya'bi, dari Masruq, dari Aisyah, dari Nabi Saw.
- Kemudian Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya'qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Hasyim. telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan sehubungan dengan Al-Kautsar, bahwa Al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Saw.
- Abu Bisyr mengatakan bahwa ia pernah berkata kepada Sa'id ibnu Jubair, bahwa sesungguhnya orang-orang mengira Al-Kautsar adalah sebuah sungai di dalam surga. Maka Sa'id menjawab. bahwa sungai di dalam surga termasuk kebaikan yang diberikan oleh Allah Swt. kepada Nabi Saw.
- Abu Bisyr telah meriwayatkannya pula melalui hadis Hasyim, dari Abu Bisyr dan Ata ibnus Sa’ib, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa Al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak.
- As-Sauri telah meriwayatkan dari Ata ibnus Sa’ib, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Al-Kautsar artinya kebaikan yang banyak. Dan tafsir ini bersifat lebih umum mencakup sungai dan nikmat lainnya. Mengingat lafaz Al-Kautsar berasal dari Al-Ka'srah yang artinya kebaikan yang banyak, dan di antaranya ialah sungai tersebut di dalam surga. Pendapat ini dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Mujahid, Muharib ibnu Disar, dan Al-Hasan ibnu Abul Hasan Al-Basri, sehingga Mujahid mengatakan bahwa Al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak di dunia dan akhirat.
- Ikrimah mengatakan bahwa. Al-Kautsar adalah kenabian, Al-Qur'an, dan pahala di akhirat. Tetapi telah terbuktikan kesahihan sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas menyebutkan bahwa dia menakwilkannya pula dengan makna sebuah sungai di dalam surga.
- Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Ubaid, dari Ata, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Al-Kautsar adalah sebuah sungai di dalam surga yang kedua tepinya dari emas dan perak, mengalir di atas yaqut dan mutiara, airnya lebih putih daripada salju, dan rasanya lebih manis daripada madu. Al-Aufi telah meriwayatkan hal yang semisal dari Ibnu Abbas.
- Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya'qub, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Ata ibnus Sa’ib dari Muharib ibnu Disar, dari Ibnu Umar, dia mengatakan bahwa Al-Kautsar adalah sebuah sungai di dalam surga yang kedua tepinya dari emas dan perak, mengalir di atas mutiara dan yaqut, airnya lebih putih daripada susu, dan rasanya lebih manis daripada madu. Hal yang semisal telah diriwayatkan pula oleh Imam Turmuzi dari ibnu Humaid, dari Jarir, dari Ata ibnu Sa’ib dengan sanad dan lafaz yang semisal secara mauqufhanya sampai pada Ibnu Abbas.
- Tetapi telah diriwayatkan pula hal yang semisal secara marfu', Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Hafs, telah menceritakan kepada kami Warqa yang mengatakan bahwa Ata telah meriwayatkan dari Muharib ibnu Disar, dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
- "الْكَوْثَرُ نَهْرٌ فِي الْجَنَّةِ حَافَّتَاهُ مِنْ ذَهَبٍ، وَالْمَاءُ يَجْرِي عَلَى اللُّؤْلُؤِ، وَمَاؤُهُ أَشَدَّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ، وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ"
- Al-Kautsar adalah sebuah sungai di dalam surga yang kedua tepinya dari emas, airnya mengalir di atas mutiara, dan warnanya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis daripada madu.
- Hal yang semisal telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi, Ibnu Majah, Ibnu Abu Hatim, dan Ibnu Jarir melalui jalur Muhammad ibnu Fudail, dari Ata ibnus Sa’ib secara inarfu', Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.
- Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya'qub, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aliyyah, telah menceritakan kepada kami Ata ibnus Sa’ib yang mengatakan bahwa Muharib ibnu Disar telah menceritakan kepadanya apa yang telah dikatakan oleh Sa’id ibnu Jubair tentang Al-Kautsar. Muharib ibnu Disar mengatakan bahwa Sa'id ibnu Jubair telah menceritakan kepada kami dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak. Lalu Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa benar, sesungguhnya Al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak. Akan.tetapi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Umar, bahwa seketika diturunkan firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah rnemberikan kepadamu Al-Kautsar (kebaikan yang banyak). (Al-Kautsar: 1)
- Maka Rasulullah Saw. bersabda:
- «الْكَوْثَرُ نَهْرٌ فِي الْجَنَّةِ حَافَّتَاهُ مِنْ ذَهَبٍ يَجْرِي عَلَى الدُّرِّ وَالْيَاقُوتِ»
- Al-Kautsar adalah sebuah sungai di dalam surga yang kedua tepinya emas, (airnya) mengalir di atas mutiara dan yaqut.
- Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ibnul Burqi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Maiyam, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far ibnu Abu Kasir, telah menceritakan kepadaku Haram ibnu USman, dari Abdur Rahman Al-A'raj, dari Usamah ibnu Zaid, bahwa Rasulullah Saw. di suatu hari berkunjung ke rumah Hamzah ibnu Abdul Muttalib, dan ternyata beliau tidak menjumpainya, lalu beliau menanyakannya kepada istrinya yang berasal dari Bani Najjar. Istri Hamzah menjawab, "Hai Nabi Allah, dia baru saja keluar menuju ke rumahmu, kalau begitu barangkali dia sesat jalan di sebagian lorong-lorong Bani Najjar. Tidakkah engkau masuk lebih dahulu, wahai Rasulullah?" Maka Rasulullah Saw. masuk, dan istri Hamzah menyuguhkan kepadanya makanan hais (makanan yang terbuat dari buah kurma, minyak samin, dan tepung sawiq), maka Nabi Saw. memakan sebagian darinya. Dan istri Hamzah bertanya, "Wahai Rasulullah, kuucapkan selamat kepada engkau, sebenarnya aku ingin datang kepadamu untuk mengucapkan selamat, karena Abu Imarah pernah menceritakan kepadaku bahwa engkau telah diberi sebuah sungai di dalam surga yang dikenal dengan nama Al-Kautsar." Nabi Saw. menjawab:
- «أَجَلْ وَعَرَضُهُ- يَعْنِي أَرْضَهُ- يَاقُوتٌ وَمَرْجَانٌ وَزَبَرْجَدٌ وَلُؤْلُؤٌ»
- Benar, dan luasnya yakni tanahnya adalah yaqut, marjan, zabarjad, dan mutiara.
- Haram ibnu Usman adalah orang yang berpredikat daif, tetapi konteks hadis ini hasan, dan asal hadis ini berpredikat sahih, bahkan dapat dibilang mutawatir yang diriwayatkan melalui berbagai jalur hingga memberikan pengertian kepastian di kalangan para imam ahli hadis, demikian pula hadis-hadis yang menceritakan tentang telaga (Kautsar). Hal yang sama telah diriwayatkan dari Anas, Abul Aliyah dan Mujahid serta bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf. bahwa Al-Kautsar adalah nama sebuah sungai di dalam surga. Ata mengatakan bahwa Al-Kautsar yaitu nama sebuah telaga di dalam surga.
- *****************
- Firman Allah Swt.:
- {فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ}
- Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. (Al-Kautsar: 2)
- Yakni sebagaimana Kami telah memberimu kebaikan yang banyak di duni adan akhirat, antara lain ialah sebuah sungai yang sifat-sifatnya telah disebutkan di atas; maka kerjakanlah salat fardu dan salat sunatmu dengan ikhlas karena Allah dan juga dalam semua gerakmu. Sembahlah Dia semata, tiada sekutu bagi-Nya; dan sembelihlah korbanmu dengan menyebut nama-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya. Hal yang senada disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:
- قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيايَ وَمَماتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
- Katakanlah, "Sesungguhnya salatku, ibadahku. hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”(Al-An'am: 162-163)
- Ibnu Abbas, Ata, Mujahid, Ikrimah, dan Al-Hasan telah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan wanhar ialah menyembelih unta dan ternak lainnya sebagai korban. Hal yang semisal telah dikatakan oleh Qatadah, Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi, Ad-Dahhak, Ar-Rabi', Ata Al-Khurrasani, Al-Hakam, Sa'id ibnu Abu Khalid, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf. Hal ini berbeda keadaannya dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang menyebut nama-Nya, Allah Swt. telah berfirman:
- وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ
- Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. (Al-An'am: 121), sampai akhir ayat.
- Menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan wanhar ialah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di bawah tenggorokan. Hal ini diriwayatkan dari Ali, tetapi sanadnya tidak sahih. Dan hal yang semisal telah diriwayatkan dari Abu Ja'far Al-Baqir.
- Pendapat yang lainnya mengatakan bahwa wanhar artinya mengangkat kedua tangan di saat membuka salat. Dan menurut pendapat yang lainnya lagi, wanhar artinya hadapkanlah lehermu ke arah kiblat. Ketiga pendapat ini disebutkan oleh Ibnu Jarir.
- Ibnu Abu Hatim sehubungan dengan hal ini telah meriwayatkan sebuah hadis yang mungkar. Untuk itu ia mengatakan:
- حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْفَامِيُّ -سَنَةَ خَمْسٍ وَخَمْسِينَ وَمِائَتَيْنِ-حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ بْنُ حَاتِمٍ الْمَرْوَزِيُّ، حَدَّثَنَا مُقَاتِلُ بْنُ حَيَّانَ، عَنِ الْأَصْبَغِ بْنِ نَبَاتَةَ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ: لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ السُّورَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ} قَالَ رَسُولُ اللَّهِ: "يَا جِبْرِيلُ، مَا هَذِهِ النَّحِيرَةُ الَّتِي أَمَرَنِي بِهَا رَبِّي؟ " فَقَالَ: لَيْسَتْ بِنَحِيرَةٍ، وَلَكِنَّهُ يَأْمُرُكَ إِذَا تَحَرَّمْتَ لِلصَّلَاةِ، ارْفَعْ يَدَيْكَ إِذَا كَبَّرْتَ وَإِذَا رَكَعْتَ، وَإِذَا رَفَعْتَ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوعِ، وَإِذَا سَجَدْتَ، فَإِنَّهَا صَلَاتُنَا وَصَلَاةُ الْمَلَائِكَةِ الَّذِينَ فِي السَّمَوَاتِ السَّبْعِ، وَإِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ زِينَةً، وَزِينَةُ الصَّلَاةِ رَفَعُ الْيَدَيْنِ عِنْدَ كُلِّ تَكْبِيرَةٍ.
- telah menceritakan kepada kami Wahb ibnu Ibrahim Al-Qadi pada tahun dua ratus lima puluh lima Hijriah, telah menceritakan kepada kami Israil ibnu Hatim Al-Marwazi, telah menceritakan kepada kami Muqatil ibnu Hayyan, dari Al-Asbagh ibnu Nabtah, dari Ali ibnu Abu Talib yang mengatakan bahwa ketika diturunkan kepada Nabi Saw. surat ini, yaitu: Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. (Al-Kautsar: 1-2) Maka Rasulullah Saw. bertanya, "Hai Jibril, apakah yang dimaksud dengan nahirah yang diperintahkan kepadaku oleh Tuhanku agar aku melakukannya?" Jibril menjawab, "Bukan nahirah, tetapi Dia memerintahkan kepadamu apabila berihram untuk salat, angkatlah kedua tanganmu saat mengucapkan takbir, dan saat engkau rukuk, dan saat engkau angkat kepalamu dari rukuk, dan apabila engkau akan sujud. Karena sesungguhnya itulah salat kita dan salat para malaikat yang ada di tujuh langit. Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu itu mempunyai perhiasan, dan perhiasan salat ialah mengangkat kedua tangan di saat takbir."'
- Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya melalui hadis Israil ibnu Hatim dengan sanad yang sama.
- Telah diriwayatkan dari Ata Al-Khurrasani sehubungan dengan makna firman-Nya, "wanhar" artinya angkatlah tulang punggungmu sesudah rukuk dan tegakkanlah ia serta tampakkanlah tenggorokanmu. Makna yang dimaksud ialah i'tidal. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim; semua pendapat ini berpredikat garib sekali.
- Pendapat yang sahih adalah yang pertama, yaitu yang mengatakan, bahwa makna yang dimaksud dengan nahr ialah menyembelih hewan kurban. Karena itulah maka Rasulullah Saw. seusai salat Idul Adha segera menyembelih kurbannya, lalu bersabda:
- "مَنْ صَلَّى صَلَاتَنَا، وَنَسَكَ نُسُكَنَا، فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ. وَمَنْ نَسَكَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَلَا نُسُكَ لَهُ". فَقَامَ أَبُو بُرْدَةَ بْنُ نَيَّارٍ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي نَسكتُ شَاتِي قَبْلَ الصَّلَاةِ، وَعَرَفْتُ أَنَّ الْيَوْمَ يَوْمٌ يُشْتَهَى فِيهِ اللَّحْمُ. قَالَ: "شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ". قَالَ: فَإِنَّ عِنْدِي عِنَاقًا هِيَ أَحَبُّ إليَّ مِنْ شَاتَيْنِ، أَفَتُجْزِئُ عَنِّي؟ قَالَ: "تُجْزِئُكَ، وَلَا تُجَزِئُ أَحَدًا بَعْدَكَ".
- Barang siapa yang salat seperti salat kami dan menyembelih kurban seperti kami menyembelih kurban, maka sesungguhnya dia telah menunaikan kurbannya. Dan barang siapa yang menyembelih kurban sebelum salat (hari raya) maka tiada kurban baginya. Maka Abu Burdah Nayyar bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menyembelih kambingku sebelum salat, dan aku mengetahui bahwa hari ini adalah hari yang semua orang menyukai daging padanya" Rasulullah Saw. menjawab: Kambingmu itu adalah daging kambing biasa (bukan kurban). Abu Burdah berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai seekor anak kambing kacang yang lebih aku sukai daripada dua ekor kambing biasa, apakah itu cukup untuk kurbanku?" Rasulullah Saw. menjawab: Cukup untukmu, tetapi tidak cukup untuk orang lain sesudahmu.
- Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud dari ayat ialah jadikanlah salatmu semuanya tulus ikhlas hanya untuk Tuhanmu, bukan untuk berhala atau sembahan selain-Nya. Demikian pula kurbanmu, jadikanlah hanya untuk Dia, bukan untuk berhala-berhala. sebagai ungkapan rasa syukurmu terhadap-Nya atas kemuliaan dan kebaikan tiada taranya yang dikhususkan-Nya buatmu sebagai anugerah dari-Nya. Pendapat yang dikemukakan oieh orang yang mengatakan ini amatlah baik. Dan pendapat ini telah dikatakan sebelumnya oleh Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi dan Ata dengan ungkapan yang semakna.
- *****************
- Firman Allah Swt.:
- {إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ}
- Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus. (Al-Kautsar: 3)
- Yakni sesungguhnya orang yang membencimu, hai Muhammad, dan benci kepada petunjuk, kebenaran, bukti yang jelas, dan cahaya terang yang kamu sampaikan; dialah yang terputus lagi terhina, direndahkan dan terputus sebutannya. Ibnu Abbas, Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, dan Qatadah mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Al-As ibnu Wa-il.
- Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari yazid ibnu Ruman yang mengatakan bahwa dahulu Al-As ibnu Wa-il apabila disebutkan nama Rasulullah Saw., ia mengatakan, "Biarkanlah dia, karena sesungguhnya dia adalah seorang lelaki yang terputus, tidak mempunyai keturunan. Apabila dia mati, maka terputuslah sebutannya." Maka Allah menurunkan surat ini.
- Syamir ibnu Atiyyah mengatakan bahwa surat ini diturunkan berkenaan dengan Uqbah ibnu Abu Mu'it. Ibnu Abbas mengatakan pula, dan juga ikrimah, bahwa surat ini diturunkan berkenaan dengan Ka'b ibnul Asyraf dan sejumlah orang-orang kafir Quraisy.
- Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ziyad ibnu Yahya Al-Hassani, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Addi, dari Daud, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Ka'b ibnul Asyraf datang ke Mekah, maka orang-orang Quraisy berkata kepadanya, "Engkau adalah pemimpin mereka. Tidakkah engkau melihat kepada lelaki yang terusir lagi terputus dari kaumnya itu (maksudnyaNabi Saw.)? Dia mengira bahwa dirinya lebih baik daripada kami, padahal kami adalah ahli (pelayan) jemaah haji, ahli sadanah (pelayan Ka'bah) dan ahli Siqayah (pelayan minuman air zamzam)," Maka Ka'b Ibnul Asyraf berkata, "Kalian lebih baik daripadanya." Maka turunlah firman Allah Swt.: Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus. (Al-Kautsar: 3)
- Hal yang sama diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dan hadis ini sahih sanadnya. Diriwayatkan pula dari Ata, bahwa surat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Lahab. Demikian itu terjadi ketika putra Rasulullah Saw. meninggal dunia, maka Abu Lahab pergi menemui orang-orang musyrik dan berkata kepada mereka, "Tadi malam Muhammad terputus (keturunannya)." Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya sehubungan dengan peristiwa tersebut: Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus (Al-Kautsar: 3)
- Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Jahal. Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas, bahwa makna: sesungguhnya orang-orang yang membencimu. (Al-Kautsar: 3) Yakni musuhmu. Pendapat ini lebih mencakup dan meliputi semua orang yang bersifat dan berkarakter demikian, baik dari kalangan mereka yang telah disebutkan di atas maupun yang lainnya.
- ikrimah mengatakan bahwa al-abtar artinya sebatang kara. As-Saddi mengatakan bahwa dahulu mereka apabila meninggal dunia keturunannya laki-laki mereka, maka mereka mengatakannya abtar (terputus keturunannya). Dan ketika putra-putra Nabi Saw. semuanya meninggal dunia, maka mereka mengatakan, "Muhammad telah terputus." Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus. (Al-Kautsar: 3)
- Pendapat ini senada dengan apa yang telah kami sebutkan di atas yang mengatakan bahwa abtar ialah orang yang tidak mempunyai keturunan laki-laki. Maka orang-orang kafir Quraisy itu mengira bahwa seseorang itu apabila anak-anak lelakinya mati, maka terputuslah sebutannya.
- Padalah tidaklah demikianlah kenyataannya, bahkan sebenarnya Allah mengekalkan sebutan Nabi Saw. di hadapan para saksi dan mewajibkan syariat yang dibawanya di atas pundak hamba-hamba-Nya, yang akan terus berlangsung selamanya sampai hari mereka dihimpunkan untuk mendapat pembalasan. Semoga salawat dan salam-Nya terlimpah-kan kepadanya selama-lamanya sampai hari kiamat.
isi kandugan surah al=kausar
Surah Al-Kausar;
Tidak hanya berarti sungai di surga,
al Kautsar juga berarti kebaikan yang sangat banyak karena kebaikan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad sangat banyak. Hal ini banyak disebutkan dalam surat di al Quran. (Arab: الكوثر) adalah surah ke-108 dalam al-Qur'an. Surah ini tergolong surah Makkiyah dan terdiri dari 3 ayat yang menjadi surah terpendek dalam Al-Qur'an. Kata Al-Kausar sendiri berarti nikmat yang banyak dan diambil dari ayat pertama dari surah ini artinya karunia Allah SWT berupa telaga Al Kautsar bagi orang-orang penghuni surga.
Pokok isi surah ini adalah perintah melaksanakan salat dan berkorban karena Allah memberikan banyak kenikmatan untuk untuk mereka yang beriman sedangkan para orang kafir pembenci Nabi SAW yang mengatakan keturunan Nabi terputus karena semua putranya wafat maka sesungguhnya merekalah yang terputus. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al Azhar). Dalam surah Al-Kautsar Allah memerintahkan agar memperhambakan diri kepada Allah,
Terjemahan Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. 1. inna a'toina kalkautsar 2. fasollilirobbika wanhar 3. innasyaniaka huwal abtar Surat Al Kautsar
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ١ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ٢ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ ٣
Sungguh, Kami telah memberi mu nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sungguh, orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus nikmat. shahih Muslim, dari Anas, ia berkata, suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi kami dan saat itu beliau dalam keadaan tidur ringan (tidak nyenyak). Lantas beliau mengangkat kepala dan tersenyum. Kami pun bertanya, “Mengapa engkau tertawa, wahai Rasulullah?” “Baru saja turun kepadaku suatu surat.” Lalu beliau membaca,
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأَبْتَرُ “
Al Kautsar adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabbku ‘azza wa jalla. Sungai tersebut memiliki kebaikan yang banyak. Ia adalah telaga yang nanti akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat nanti. Bejana (gelas) di telaga tersebut sejumlah bintang di langit. Namun ada dari sebgaian hamba yang tidak bisa minum dari telaga tersebut. Allah berfirman: Tidakkah engkau tahu bahwa mereka telah berbuat bid’ah sesudahmu.” (HR. Muslim no. 400). Ada pelajaran berharga dari Ibnu Katsir mengenai cerita tentang surat Al Kautsar di atas, Beliau berkata, “Kebanyakan ahli qiroah berdalil dari sini bahwa surat Al Kautsar adalah surat Madaniyah.
Dan kebanyakan dari fuqoha memandang bahwa basmalah adalah bagian dari surat ini karena ia turun bersamanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 476). Namun Ibnul Jauzi mengatakan bahwa jumhur (mayoritas ulama) termasuk Ibnu ‘Abbas berpendapat bahwa surat ini adalah surat Makkiyah. (Zaadul Masiir, 9: 247) Ibnul Jauzi merinci ada enam pendapat mengenai makna Al Kautsar: Al Kautsar adalah sungai di surga. Al Kautsar adalah kebaikan yang banyak yang diberikan pada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pendapat Ibnu ‘Abbas.
Al Kautsar adalah ilmu dan Al Qur’an. Demikian pendapat Al Hasan Al Bashri. Al Kautsar adalah nubuwwah (kenabian), sebagaimana pendapat ‘Ikrimah. Al Kautsar adalah telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang banyak manusia mendatanginya. Demikian kata ‘Atho’. Al Kautsar adalah begitu banyak pengikut dan umat. Demikian kata Abu Bakr bin ‘Iyasy. (Lihat Zaadul Masiir, 9: 247-249) Nikmat Dibalas dengan Syukur Syaikh Musthofa Al ‘Adawy berkata, “Orang yang masih berada dalam fitrah yang selamat, tentu ketika diberi nikmat akan dibalas dengan syukur.
Maka kebaikan yang banyak yang telah diberi ini dibalas dengan: فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ Dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah.” (Tafsir Juz ‘Amma, Musthofa Al ‘Adawi, hal. 293) Dirikan Shalat dan Qurban Hanya untuk Allah Qotadah berpendapat bahwa yang dimaksud shalat di sini adalah shalat Idul ‘Adha. Adapun maksud ‘naher’ adalah penyembelihan pada hari Idul Adha sebagaimana pendapat Ibnu ‘Abbas, ‘Atho’, Mujahid dan jumhur (mayoritas ulama). (Lihat Zaadul Masiir, 9: 249) Qotadah berpendapat bahwa yang dimaksud shalat di sini adalah shalat Idul ‘Adha.
Adapun maksud ‘naher’ adalah penyembelihan pada hari Idul Adha sebagaimana pendapat Ibnu ‘Abbas, ‘Atho’, Mujahid dan jumhur (mayoritas ulama). (Lihat Zaadul Masiir, 9: 249) Yang Membenci Nabi, Merekalah yang Terputus Ayat terakhir, إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3) “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS. Al Kautsar: 1-3). Yang dimaksudkan ayat ini adalah orang-orang yang membenci dan memusuhi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya yang terputus dan tidak ada lagi penyebutan (pujian) untuknya setelah matinya.
Orang-orang Quraisy menyatakan demikian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi memiliki keturunan laki-laki (semuanya meninggal dunia). Maka Allah pun membalasnya dengan meninggikan pujian bagi beliau. Beliau dipuji oleh orang terdahulu dan belakangan di tempat yang tinggai hingga hari pembalasan. Sedangkan yang memusuhi beliau, itulah yang terputus di belakang. (Keterangan dari Musthofa Al ‘Adawi, Tafsir Juz ‘Amma, hal. 294). Ibnul Jauzi mengatakan bahwa yang dimaksud ‘abtar’ adalah terputus dari kebaikan (Zaadul Masiir, 9: 251).
‘Ikrimah berkata bahwa yang dimaksud ‘abtar’ adalah bersendirian. As Sudi mengatakan bahwa dahulu jika ada seseorang yang anak laki-lakinya meninggal dunia, maka disebut abtar (batar). Ketika anak laki-laki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, orang-orang Quraisy mengatakan, “Bataro Muhammad (Muhammad terputus).” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 483) Ibnu Katsir menjelaskan, “Yang dimaksud abtar adalah jika seseorang meninggal dunia, maka ia tidak akan lagi disebut-sebut (disanjung-sanjung).
Inilah kejahilan orang-orang musyrik. Mereka sangka bahwa jika anak laki-laki seseorang mati, maka ia pun tidak akan disanjung-sanjung. Padahal tidak demikian. Bahkan beliaulah yang tetap disanjung-sanjung dari para syahid (tuan) yang lain. Syari’at beliau tetap berlaku selamanya, hingga hari kiamat saat manusia dikumpulkan dan kembali.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 483) Surat ini kata Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berisi penjelasan mengenai nikmat yang diberikan oleh Allah kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu beliau dikaruniakan kebaikan yang banyak.
Tidak hanya berarti sungai di surga,
al Kautsar juga berarti kebaikan yang sangat banyak karena kebaikan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad sangat banyak. Hal ini banyak disebutkan dalam surat di al Quran. (Arab: الكوثر) adalah surah ke-108 dalam al-Qur'an. Surah ini tergolong surah Makkiyah dan terdiri dari 3 ayat yang menjadi surah terpendek dalam Al-Qur'an. Kata Al-Kausar sendiri berarti nikmat yang banyak dan diambil dari ayat pertama dari surah ini artinya karunia Allah SWT berupa telaga Al Kautsar bagi orang-orang penghuni surga.
Pokok isi surah ini adalah perintah melaksanakan salat dan berkorban karena Allah memberikan banyak kenikmatan untuk untuk mereka yang beriman sedangkan para orang kafir pembenci Nabi SAW yang mengatakan keturunan Nabi terputus karena semua putranya wafat maka sesungguhnya merekalah yang terputus. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al Azhar). Dalam surah Al-Kautsar Allah memerintahkan agar memperhambakan diri kepada Allah,
Terjemahan Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. 1. inna a'toina kalkautsar 2. fasollilirobbika wanhar 3. innasyaniaka huwal abtar Surat Al Kautsar
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ١ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ٢ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ ٣
Sungguh, Kami telah memberi mu nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sungguh, orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus nikmat. shahih Muslim, dari Anas, ia berkata, suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi kami dan saat itu beliau dalam keadaan tidur ringan (tidak nyenyak). Lantas beliau mengangkat kepala dan tersenyum. Kami pun bertanya, “Mengapa engkau tertawa, wahai Rasulullah?” “Baru saja turun kepadaku suatu surat.” Lalu beliau membaca,
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأَبْتَرُ “
Al Kautsar adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabbku ‘azza wa jalla. Sungai tersebut memiliki kebaikan yang banyak. Ia adalah telaga yang nanti akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat nanti. Bejana (gelas) di telaga tersebut sejumlah bintang di langit. Namun ada dari sebgaian hamba yang tidak bisa minum dari telaga tersebut. Allah berfirman: Tidakkah engkau tahu bahwa mereka telah berbuat bid’ah sesudahmu.” (HR. Muslim no. 400). Ada pelajaran berharga dari Ibnu Katsir mengenai cerita tentang surat Al Kautsar di atas, Beliau berkata, “Kebanyakan ahli qiroah berdalil dari sini bahwa surat Al Kautsar adalah surat Madaniyah.
Dan kebanyakan dari fuqoha memandang bahwa basmalah adalah bagian dari surat ini karena ia turun bersamanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 476). Namun Ibnul Jauzi mengatakan bahwa jumhur (mayoritas ulama) termasuk Ibnu ‘Abbas berpendapat bahwa surat ini adalah surat Makkiyah. (Zaadul Masiir, 9: 247) Ibnul Jauzi merinci ada enam pendapat mengenai makna Al Kautsar: Al Kautsar adalah sungai di surga. Al Kautsar adalah kebaikan yang banyak yang diberikan pada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pendapat Ibnu ‘Abbas.
Al Kautsar adalah ilmu dan Al Qur’an. Demikian pendapat Al Hasan Al Bashri. Al Kautsar adalah nubuwwah (kenabian), sebagaimana pendapat ‘Ikrimah. Al Kautsar adalah telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang banyak manusia mendatanginya. Demikian kata ‘Atho’. Al Kautsar adalah begitu banyak pengikut dan umat. Demikian kata Abu Bakr bin ‘Iyasy. (Lihat Zaadul Masiir, 9: 247-249) Nikmat Dibalas dengan Syukur Syaikh Musthofa Al ‘Adawy berkata, “Orang yang masih berada dalam fitrah yang selamat, tentu ketika diberi nikmat akan dibalas dengan syukur.
Maka kebaikan yang banyak yang telah diberi ini dibalas dengan: فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ Dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah.” (Tafsir Juz ‘Amma, Musthofa Al ‘Adawi, hal. 293) Dirikan Shalat dan Qurban Hanya untuk Allah Qotadah berpendapat bahwa yang dimaksud shalat di sini adalah shalat Idul ‘Adha. Adapun maksud ‘naher’ adalah penyembelihan pada hari Idul Adha sebagaimana pendapat Ibnu ‘Abbas, ‘Atho’, Mujahid dan jumhur (mayoritas ulama). (Lihat Zaadul Masiir, 9: 249) Qotadah berpendapat bahwa yang dimaksud shalat di sini adalah shalat Idul ‘Adha.
Adapun maksud ‘naher’ adalah penyembelihan pada hari Idul Adha sebagaimana pendapat Ibnu ‘Abbas, ‘Atho’, Mujahid dan jumhur (mayoritas ulama). (Lihat Zaadul Masiir, 9: 249) Yang Membenci Nabi, Merekalah yang Terputus Ayat terakhir, إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3) “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS. Al Kautsar: 1-3). Yang dimaksudkan ayat ini adalah orang-orang yang membenci dan memusuhi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya yang terputus dan tidak ada lagi penyebutan (pujian) untuknya setelah matinya.
Orang-orang Quraisy menyatakan demikian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi memiliki keturunan laki-laki (semuanya meninggal dunia). Maka Allah pun membalasnya dengan meninggikan pujian bagi beliau. Beliau dipuji oleh orang terdahulu dan belakangan di tempat yang tinggai hingga hari pembalasan. Sedangkan yang memusuhi beliau, itulah yang terputus di belakang. (Keterangan dari Musthofa Al ‘Adawi, Tafsir Juz ‘Amma, hal. 294). Ibnul Jauzi mengatakan bahwa yang dimaksud ‘abtar’ adalah terputus dari kebaikan (Zaadul Masiir, 9: 251).
‘Ikrimah berkata bahwa yang dimaksud ‘abtar’ adalah bersendirian. As Sudi mengatakan bahwa dahulu jika ada seseorang yang anak laki-lakinya meninggal dunia, maka disebut abtar (batar). Ketika anak laki-laki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, orang-orang Quraisy mengatakan, “Bataro Muhammad (Muhammad terputus).” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 483) Ibnu Katsir menjelaskan, “Yang dimaksud abtar adalah jika seseorang meninggal dunia, maka ia tidak akan lagi disebut-sebut (disanjung-sanjung).
Inilah kejahilan orang-orang musyrik. Mereka sangka bahwa jika anak laki-laki seseorang mati, maka ia pun tidak akan disanjung-sanjung. Padahal tidak demikian. Bahkan beliaulah yang tetap disanjung-sanjung dari para syahid (tuan) yang lain. Syari’at beliau tetap berlaku selamanya, hingga hari kiamat saat manusia dikumpulkan dan kembali.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 483) Surat ini kata Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berisi penjelasan mengenai nikmat yang diberikan oleh Allah kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu beliau dikaruniakan kebaikan yang banyak.
Kemudian di dalamnya berisi perintah untuk mengerjakan shalat dan berqurban juga ibadah lainnya atas dasar ikhlas karena Allah. Kemudian terakhir dijelaskan bahwa siapa yang membenci Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membenci satu saja dari ajaran beliau, merekalah yang nantinya terputus yaitu tidak mendapatkan kebaikan dan barokah (Tafsir Juz ‘Amma, 281). Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad hingga Yaumat Tanaad (hari kiamat saat manusia diseru di padang Mahsyar).
Jumaat, 5 Januari 2018
ISI PENTING SURAH WADH-DHUHA
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
ISI KANDUGAN PENTING SURAH WADH-DHUHA
Surah Ad-Duha (bahasa Arab:الضحى) adalah surah ke-93 dalam al-Qur'an dan terdiri atas 11 ayat. Surah ini termasuk golongan surah Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Fajr. Nama Adh Dhuhaa diambil dari kata yang terdapat pada ayat pertama, yang artinya "waktu matahari sepenggalahan naik". Surat Adh Dhuhaa, menerangkan tentang pemeliharaan Allah SWT terhadap Nabi Muhammad SAW dengan cara yang tak putus-putusnya, larangan berbuat buruk terhadap anak yatim dan orang yang meminta-minta dan mengandung pula perintah kepada Nabi supaya mensyukuri segala nikmat.
Asbabun Nuzul Surat Ad-Dhuha; اسباب النّزل السوراة الضحى merupakan sebab-sebab penurunan surat Adl-Dluha Sesuai namanya, surah ini turun pada waktu dluha (pagi hari) sebagai jawaban atas pertanyaan dan hinaan yang dilontarkan oleh kaum kafir Mekah yang menganggap bahwa Rasulullah S.A.W sudah tidak dipedulikan lagi oleh Tuhan, sebab Nabi Muhammad sudah lama tidak menerima wahyu kenabian. Hingga akhirnya turunlah surah ini untuk mempertegas bahwasannya Allah memberitahukan bahwa dugaan kaum kafir Mekah adalah suatu kesalahan yang besar. Allah juga memberi tahu Nabi Muhammad bahwasannya Allah tidak pernah membenci atau melupakannya.
[1] Isi Kandungan; Allah SWT sekali-kali tidak akan meninggalkan Nabi Muhammad SAW. Isyarat dari Allah SWT bahawa kehidupan Nabi Muhammad SAW dan dakwahnya akan bertambah baik dan berkembang. Larangan menghina anak yatim dan mengherdik orang-orang yang minta-minta. Perintah menyebut-nyebut nikmat yang diberikan Allah sebagai tanda bersyukur. Terjemahan ayat; بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم: Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. وَالضُّحَى Demi waktu matahari sepenggalahan naik, وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى dan demi malam apabila telah sunyi, مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, وَلَلآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الأولَى dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. وَوَجَدَكَ ضَالا فَهَدَى Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. وَوَجَدَكَ عَائِلا فَأَغْنَى Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلا تَقْهَرْ Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. وَأَمَّا السَّائِلَ فَلا تَنْهَرْ Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya. وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)
[1] Ibnu Katsir berkata, “Dianjurkan bertakbir dari akhir surah Adh Dhuha sampai akhir surah An Naas. Para ahli qiraa’at menyebutkan, bahwa hal itu termasuk sunnah yang ada riwayatnya, dan mereka menyebutkan alasan mengucapkan takbir dari awal surah Adh Dhuha, yaitu bahwa ketika wahyu terlambat turun kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan terputus selama waktu tersebut, kemudian malaikat datang dan menyampaikan wahyu kepada Beliau, “Wadh Dhuhaa-Wallaili bidzaa sajaa.” Yakni surah Adh Dhuha sampai akhirnya, maka Beliau bertakbir karena gembira dan senang.” Ibnu Katsir berkata pula, “Riwayat tersebut tidak diriwayatkan dengan isnad yang dapat dihukumi shahih maupun dha’if, wallahu a’lam.”
[2] Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Jundub bin Sufyan ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah sakit sehingga tidak bangun selama dua atau tiga malam, lalu ada seorang wanita yang datang berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya aku berharap setanmu telah meninggalkanmu, karena aku tidak melihat dia mendekatimu sejak dua atau tiga malam.” Maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wadh dhuhaa—Wallaili idzaa sajaa—Maa wadda’aka Rabbuka wamaa qalaa.” (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Muslim, Tirmidzi, dan ia berkata, “Hadits ini hasan shahih,” Ahmad, Thayalisi, Ibnu Jarir, Al Humaidiy, dan Al Khathiib dalam Muwadhdhih Awhaamil Jam’i wat Tafriiq juz 2 hal. 22).
[3] Allah Subhaanahu wa Ta'aala bersumpah dengan waktu dhuha dan waktu malam ketika telah sunyi untuk menerangkan perhatian Dia kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam.
[4] Maksudnya, ketika turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam terhenti untuk sementara waktu, orang-orang musyrik berkata, "Tuhannya (Muhammad) telah meninggalkannya dan benci kepadanya.” Maka turunlah ayat di atas untuk membantah perkataan orang-orang musyrik itu, yaitu, “Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu,” yakni Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidaklah meninggalkan Beliau dan membiarkannya sejak Dia mengurus dan mendidik Beliau, bahkan Dia senantiasa mengurus dan mendidik Beliau dengan pendidikan yang sebaik-baiknya serta meninggikan Beliau sederajat demi sederajat.
[5] Yakni Dia tidak membencimu sejak Dia mencintaimu. Inilah keadaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang dahulu dan yang sekarang; yakni keadaan yang paling sempurna; kecintaan Allah untuk Beliau dan tetap terus seperti itu serta diangkatnya Beliau kepada kesempurnaan, dan tetap terusnya mendapatkan perhatian dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Adapun keadaan Beliau pada masa mendatang, maka sebagaimana firman-Nya, “Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.”
[6] Maksudnya, bahwa akhir perjuangan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam itu akan menjumpai kemenangan-kemenangan meskipun permulaannya penuh dengan kesulitan-kesulitan. Allah Subhaanahu wa Ta'aala menguatkan agama Beliau, memenangkan Beliau terhadap musuh-musuhnya serta memperbaiki kondisi Beliau sehingga Beliau mencapai keadaan yang tidak dapat dicapai oleh orang-orang terdahulu maupun yang datang kemudian, baik dalam hal keutamaan, kebanggaan maupun kegembiraan. Sedangkan di akhirat, maka tidak perlu ditanya tentang keadaan Beliau; keadaan Beliau penuh dengan berbagai kemuliaan dan kenikmatan. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.” Pemberian-Nya yang besar tidak mungkin diungkapkan selain dengan kata-kata itu. Di antara mufassir ada yang menafsirkan ‘akhirat’ dengan kehidupan akhirat beserta segala kenikmatannya, dan ‘ula’ dengan kehidupan dunia.
[7] Al Hafizh Ibnu Katsir berkata: Imam Abu ‘Amr Al Auza’i berkata (meriwayatkan) dari Isma’il bin Ubaidullah bin Abul Muhajir Al Makhzumiy dari Ali bin Abdullah bin Abbas dari bapaknya ia berkata: Ditunjukkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam segala sesuatu dari perbendaharaan yang akan ditaklukkan untuk umatnya satu persatu, Beliau pun bergembira dengannya, maka Allah menurunkan ayat, “Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.” Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan memberikan kepada Beliau di surga sejuta istana, dimana masing-masing istana ada istri-istri dan pelayan-pelayan yang layak untuk Beliau.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari jalannya, dan ini adalah isnad yang shahih sampai kepada Ibnu Abbas). Syaikh Muqbil berkata, “Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Jarir sebagaimana dikatakan Al Haafizh Ibnu Katsir juz 30 hal. 232 dari dua jalan dari Al Auza’iy, dimana pada salah satunya ada ‘Amr bin Hasyim Al Bairutiy rawi yang meriwayatkan dari Al Auza’iy, dan dia dha’if, sedangkan pada jalan yang lain ada Rawwad bin Al Jarrah yang diperselisihkan. Saya kira, orang yang mentsiqahkannya adalah karena kejujurannya dan agamanya, sedangkan orang yang mencacatkannya karena ia adalah seorang yang mukhtalith (bercampur hapalannya). Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Hakim dan ia menshahihkannya juz 2 hal. 526, dan Adz Dzahabiy mengomentarinya dengan berkata, “’Isham bin Rawwad menyendiri dengan hadits itu dari bapaknya, sedangkan ia didhaifkan.” Thabrani juga meriwayatkan dalam Al Kabir dan Al Awsath, Al Haitsami berkata, “Sedangkan dalam riwayat di Al Awsath disebutkan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Ditunjukkan kepadaku segala sesuatu yang akan ditaklukkan untuk umatku setelahku sehingga membuatku senang.” Maka Allah menurunkan ayat, “Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.” Lalu disebutkan sama seperti dalam hadits sebelumnya, namun di sana terdapat Mu’awiyah bin Abul ‘Abbas yang aku (Haitsami) tidak mengenalnya, sedangkan para perawi yang lain adalah tsiqah, dan isnad dalam Al Kabir adalah hasan.” Syaikh Muqbil juga berkata, “Abu Nu’aim juga meriwayatkan dalam Al Hilyah juz 3 hal. 212 dari Thabrani dan di sana terdapat ‘Amr bin Hasyim Al Bairutiy, selanjutnya ia berkata, “Hadits ini gharib dari hadits Ali bin Abdullah bin ‘Abbas, dimana tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Isma’il. Dan Sufyan ats Tsauriy meriwayatkan hadits itu dari Al Auza’i dari Ismail seperti itu.” (lihat Ash Shahihul Musnad karya Syaikh Muqbil hal. 267-268).
[8] Apa yang disebutkan dalam ayat ini dan setelahnya merupakan bukti perhatian Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada Beliau. [9] Allah Subhaanahu wa Ta'aala mendapati Beliau dalam keadaan yatim-piatu; Beliau ditinggal wafat ibu dan bapaknya ketika Beliau tidak bisa mengurus diri Beliau, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala melindunginya, menyerahkan kepada kakeknya Abdul Muththalib, dan setelah kakeknya wafat Dia menyerahkan kepada pamannya Abu Thalib sampai kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala membantu Beliau dengan pertolongan-Nya kemudian dengan kaum mukmin.
[10] Yang dimaksud dengan bingung di sini ialah kebingungan untuk mendapatkan kebenaran yang tidak bisa dicapai oleh akal; Beliau tidak tahu apa itu kitab dan apa itu iman, lalu Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengajarkan kepada Beliau apa yang Beliau tidak ketahui; menurunkan wahyu kepada Beliau dan memberikan Beliau taufiq kepada amal dan akhlak yang paling baik.
[11] Yakni membuatmu qana’ah (puas dan menerima apa adanya). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: « لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ » . “Kaya itu bukanlah dengan banyaknya harta. Akan tetapi, kaya itu dengan kecukupan (kepuasan) jiwa.” (HR. Muslim) Atau maksudnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mencukupkan Beliau dengan menaklukkan berbagai negeri untuk Beliau, dimana harta dan hasilnya diperuntukkan kepada Beliau. Oleh karena Dia (Allah) telah melimpahkan berbagai kenikmatan itu, maka hadapilah nikmat-Nya itu dengan disyukuri.
[12] Yakni jangan bergaul secara buruk terhadapnya, janganlah dadamu merasa sempit terhadapnya dan janganlah membentaknya, bahkan muliakanlah, berikanlah kemudahan untuknya, dan berbuatlah terhadapnya sesuatu yang engkau suka jika anakmu diperlakukan seperti itu. [13] Yakni jangan sampai keluar dari mulutmu ucapan yang mengandung penolakan terhadap permintaannya dengan bentakan dan sikap yang buruk, bahkan berikanlah kepadanya apa yang mudah bagimu atau tolaklah dengan cara yang baik dan ihsan. Kata saa’il (meminta) di sini menurut Syaikh As Sa’diy, termasuk pula yang meminta harta dan yang meminta ilmu. Oleh karena itu, pengajar diperintahkan berakhlak mulia kepada penuntut ilmu, memuliakannya dan menaruh rasa kasihan kepadanya, karena yang demikian dapat membantu maksudnya serta memuliakan orang yang berniat menyebarkan manfaat bagi hamba dan dunia.
[14] Baik nikmat agama maupun nikmat dunia. [15] Yakni pujilah Allah terhadapnya dan sebutlah nikmat itu jika ada maslahatnya. Hal itu, karena menyebut-nyebut nikmat Allah dapat membantu untuk bersyukur, membuat hati mencintai yang memberikannya, yaitu Allah Subhaanahu wa Ta'aala, karena hati itu dijadikan cinta kepada yang berbuat baik kepadanya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: اَلتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ وَ تَرْكُهَا كُفْرٌ وَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ الْقَلِيْلَ لاَ يَشْكُرُ الْكَثِيْرَ وَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ لاَ يَشْكُرُ اللهَ وَ الْجَمَاعَةُ بَرَكَةٌ وَ الْفُرْقَةُ عَذَابٌ “Menyebut-nyebut nikmat Allah adalah bersyukur, meninggalkannya adalah kufur. Barang siapa tidak bersyukur terhadap yang sedikit, maka dia tidak akan bersyukur kepada yang banyak. Barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka dia tidak akan bersyukur kepada Allah. Berjamaah adalah berkah, sedangkan berpecah adalah azab.” (HR. Baihaqi dalam Asy Syu’ab, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 3014) Selesai tafsir surah Adh Dhuha dengan pertolongan Allah, taufiq-Nya dan kemudahan-Nya, wal hamdulillahi Rabbil ‘aalamiin.
ISI KANDUGAN PENTING SURAH WADH-DHUHA
Surah Ad-Duha (bahasa Arab:الضحى) adalah surah ke-93 dalam al-Qur'an dan terdiri atas 11 ayat. Surah ini termasuk golongan surah Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Fajr. Nama Adh Dhuhaa diambil dari kata yang terdapat pada ayat pertama, yang artinya "waktu matahari sepenggalahan naik". Surat Adh Dhuhaa, menerangkan tentang pemeliharaan Allah SWT terhadap Nabi Muhammad SAW dengan cara yang tak putus-putusnya, larangan berbuat buruk terhadap anak yatim dan orang yang meminta-minta dan mengandung pula perintah kepada Nabi supaya mensyukuri segala nikmat.
Asbabun Nuzul Surat Ad-Dhuha; اسباب النّزل السوراة الضحى merupakan sebab-sebab penurunan surat Adl-Dluha Sesuai namanya, surah ini turun pada waktu dluha (pagi hari) sebagai jawaban atas pertanyaan dan hinaan yang dilontarkan oleh kaum kafir Mekah yang menganggap bahwa Rasulullah S.A.W sudah tidak dipedulikan lagi oleh Tuhan, sebab Nabi Muhammad sudah lama tidak menerima wahyu kenabian. Hingga akhirnya turunlah surah ini untuk mempertegas bahwasannya Allah memberitahukan bahwa dugaan kaum kafir Mekah adalah suatu kesalahan yang besar. Allah juga memberi tahu Nabi Muhammad bahwasannya Allah tidak pernah membenci atau melupakannya.
[1] Isi Kandungan; Allah SWT sekali-kali tidak akan meninggalkan Nabi Muhammad SAW. Isyarat dari Allah SWT bahawa kehidupan Nabi Muhammad SAW dan dakwahnya akan bertambah baik dan berkembang. Larangan menghina anak yatim dan mengherdik orang-orang yang minta-minta. Perintah menyebut-nyebut nikmat yang diberikan Allah sebagai tanda bersyukur. Terjemahan ayat; بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم: Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. وَالضُّحَى Demi waktu matahari sepenggalahan naik, وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى dan demi malam apabila telah sunyi, مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, وَلَلآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الأولَى dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. وَوَجَدَكَ ضَالا فَهَدَى Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. وَوَجَدَكَ عَائِلا فَأَغْنَى Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلا تَقْهَرْ Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. وَأَمَّا السَّائِلَ فَلا تَنْهَرْ Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya. وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)
[1] Ibnu Katsir berkata, “Dianjurkan bertakbir dari akhir surah Adh Dhuha sampai akhir surah An Naas. Para ahli qiraa’at menyebutkan, bahwa hal itu termasuk sunnah yang ada riwayatnya, dan mereka menyebutkan alasan mengucapkan takbir dari awal surah Adh Dhuha, yaitu bahwa ketika wahyu terlambat turun kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan terputus selama waktu tersebut, kemudian malaikat datang dan menyampaikan wahyu kepada Beliau, “Wadh Dhuhaa-Wallaili bidzaa sajaa.” Yakni surah Adh Dhuha sampai akhirnya, maka Beliau bertakbir karena gembira dan senang.” Ibnu Katsir berkata pula, “Riwayat tersebut tidak diriwayatkan dengan isnad yang dapat dihukumi shahih maupun dha’if, wallahu a’lam.”
[2] Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Jundub bin Sufyan ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah sakit sehingga tidak bangun selama dua atau tiga malam, lalu ada seorang wanita yang datang berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya aku berharap setanmu telah meninggalkanmu, karena aku tidak melihat dia mendekatimu sejak dua atau tiga malam.” Maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wadh dhuhaa—Wallaili idzaa sajaa—Maa wadda’aka Rabbuka wamaa qalaa.” (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Muslim, Tirmidzi, dan ia berkata, “Hadits ini hasan shahih,” Ahmad, Thayalisi, Ibnu Jarir, Al Humaidiy, dan Al Khathiib dalam Muwadhdhih Awhaamil Jam’i wat Tafriiq juz 2 hal. 22).
[3] Allah Subhaanahu wa Ta'aala bersumpah dengan waktu dhuha dan waktu malam ketika telah sunyi untuk menerangkan perhatian Dia kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam.
[4] Maksudnya, ketika turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam terhenti untuk sementara waktu, orang-orang musyrik berkata, "Tuhannya (Muhammad) telah meninggalkannya dan benci kepadanya.” Maka turunlah ayat di atas untuk membantah perkataan orang-orang musyrik itu, yaitu, “Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu,” yakni Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidaklah meninggalkan Beliau dan membiarkannya sejak Dia mengurus dan mendidik Beliau, bahkan Dia senantiasa mengurus dan mendidik Beliau dengan pendidikan yang sebaik-baiknya serta meninggikan Beliau sederajat demi sederajat.
[5] Yakni Dia tidak membencimu sejak Dia mencintaimu. Inilah keadaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang dahulu dan yang sekarang; yakni keadaan yang paling sempurna; kecintaan Allah untuk Beliau dan tetap terus seperti itu serta diangkatnya Beliau kepada kesempurnaan, dan tetap terusnya mendapatkan perhatian dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Adapun keadaan Beliau pada masa mendatang, maka sebagaimana firman-Nya, “Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.”
[6] Maksudnya, bahwa akhir perjuangan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam itu akan menjumpai kemenangan-kemenangan meskipun permulaannya penuh dengan kesulitan-kesulitan. Allah Subhaanahu wa Ta'aala menguatkan agama Beliau, memenangkan Beliau terhadap musuh-musuhnya serta memperbaiki kondisi Beliau sehingga Beliau mencapai keadaan yang tidak dapat dicapai oleh orang-orang terdahulu maupun yang datang kemudian, baik dalam hal keutamaan, kebanggaan maupun kegembiraan. Sedangkan di akhirat, maka tidak perlu ditanya tentang keadaan Beliau; keadaan Beliau penuh dengan berbagai kemuliaan dan kenikmatan. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.” Pemberian-Nya yang besar tidak mungkin diungkapkan selain dengan kata-kata itu. Di antara mufassir ada yang menafsirkan ‘akhirat’ dengan kehidupan akhirat beserta segala kenikmatannya, dan ‘ula’ dengan kehidupan dunia.
[7] Al Hafizh Ibnu Katsir berkata: Imam Abu ‘Amr Al Auza’i berkata (meriwayatkan) dari Isma’il bin Ubaidullah bin Abul Muhajir Al Makhzumiy dari Ali bin Abdullah bin Abbas dari bapaknya ia berkata: Ditunjukkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam segala sesuatu dari perbendaharaan yang akan ditaklukkan untuk umatnya satu persatu, Beliau pun bergembira dengannya, maka Allah menurunkan ayat, “Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.” Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan memberikan kepada Beliau di surga sejuta istana, dimana masing-masing istana ada istri-istri dan pelayan-pelayan yang layak untuk Beliau.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari jalannya, dan ini adalah isnad yang shahih sampai kepada Ibnu Abbas). Syaikh Muqbil berkata, “Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Jarir sebagaimana dikatakan Al Haafizh Ibnu Katsir juz 30 hal. 232 dari dua jalan dari Al Auza’iy, dimana pada salah satunya ada ‘Amr bin Hasyim Al Bairutiy rawi yang meriwayatkan dari Al Auza’iy, dan dia dha’if, sedangkan pada jalan yang lain ada Rawwad bin Al Jarrah yang diperselisihkan. Saya kira, orang yang mentsiqahkannya adalah karena kejujurannya dan agamanya, sedangkan orang yang mencacatkannya karena ia adalah seorang yang mukhtalith (bercampur hapalannya). Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Hakim dan ia menshahihkannya juz 2 hal. 526, dan Adz Dzahabiy mengomentarinya dengan berkata, “’Isham bin Rawwad menyendiri dengan hadits itu dari bapaknya, sedangkan ia didhaifkan.” Thabrani juga meriwayatkan dalam Al Kabir dan Al Awsath, Al Haitsami berkata, “Sedangkan dalam riwayat di Al Awsath disebutkan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Ditunjukkan kepadaku segala sesuatu yang akan ditaklukkan untuk umatku setelahku sehingga membuatku senang.” Maka Allah menurunkan ayat, “Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.” Lalu disebutkan sama seperti dalam hadits sebelumnya, namun di sana terdapat Mu’awiyah bin Abul ‘Abbas yang aku (Haitsami) tidak mengenalnya, sedangkan para perawi yang lain adalah tsiqah, dan isnad dalam Al Kabir adalah hasan.” Syaikh Muqbil juga berkata, “Abu Nu’aim juga meriwayatkan dalam Al Hilyah juz 3 hal. 212 dari Thabrani dan di sana terdapat ‘Amr bin Hasyim Al Bairutiy, selanjutnya ia berkata, “Hadits ini gharib dari hadits Ali bin Abdullah bin ‘Abbas, dimana tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Isma’il. Dan Sufyan ats Tsauriy meriwayatkan hadits itu dari Al Auza’i dari Ismail seperti itu.” (lihat Ash Shahihul Musnad karya Syaikh Muqbil hal. 267-268).
[8] Apa yang disebutkan dalam ayat ini dan setelahnya merupakan bukti perhatian Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada Beliau. [9] Allah Subhaanahu wa Ta'aala mendapati Beliau dalam keadaan yatim-piatu; Beliau ditinggal wafat ibu dan bapaknya ketika Beliau tidak bisa mengurus diri Beliau, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala melindunginya, menyerahkan kepada kakeknya Abdul Muththalib, dan setelah kakeknya wafat Dia menyerahkan kepada pamannya Abu Thalib sampai kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala membantu Beliau dengan pertolongan-Nya kemudian dengan kaum mukmin.
[10] Yang dimaksud dengan bingung di sini ialah kebingungan untuk mendapatkan kebenaran yang tidak bisa dicapai oleh akal; Beliau tidak tahu apa itu kitab dan apa itu iman, lalu Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengajarkan kepada Beliau apa yang Beliau tidak ketahui; menurunkan wahyu kepada Beliau dan memberikan Beliau taufiq kepada amal dan akhlak yang paling baik.
[11] Yakni membuatmu qana’ah (puas dan menerima apa adanya). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: « لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ » . “Kaya itu bukanlah dengan banyaknya harta. Akan tetapi, kaya itu dengan kecukupan (kepuasan) jiwa.” (HR. Muslim) Atau maksudnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mencukupkan Beliau dengan menaklukkan berbagai negeri untuk Beliau, dimana harta dan hasilnya diperuntukkan kepada Beliau. Oleh karena Dia (Allah) telah melimpahkan berbagai kenikmatan itu, maka hadapilah nikmat-Nya itu dengan disyukuri.
[12] Yakni jangan bergaul secara buruk terhadapnya, janganlah dadamu merasa sempit terhadapnya dan janganlah membentaknya, bahkan muliakanlah, berikanlah kemudahan untuknya, dan berbuatlah terhadapnya sesuatu yang engkau suka jika anakmu diperlakukan seperti itu. [13] Yakni jangan sampai keluar dari mulutmu ucapan yang mengandung penolakan terhadap permintaannya dengan bentakan dan sikap yang buruk, bahkan berikanlah kepadanya apa yang mudah bagimu atau tolaklah dengan cara yang baik dan ihsan. Kata saa’il (meminta) di sini menurut Syaikh As Sa’diy, termasuk pula yang meminta harta dan yang meminta ilmu. Oleh karena itu, pengajar diperintahkan berakhlak mulia kepada penuntut ilmu, memuliakannya dan menaruh rasa kasihan kepadanya, karena yang demikian dapat membantu maksudnya serta memuliakan orang yang berniat menyebarkan manfaat bagi hamba dan dunia.
[14] Baik nikmat agama maupun nikmat dunia. [15] Yakni pujilah Allah terhadapnya dan sebutlah nikmat itu jika ada maslahatnya. Hal itu, karena menyebut-nyebut nikmat Allah dapat membantu untuk bersyukur, membuat hati mencintai yang memberikannya, yaitu Allah Subhaanahu wa Ta'aala, karena hati itu dijadikan cinta kepada yang berbuat baik kepadanya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: اَلتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ وَ تَرْكُهَا كُفْرٌ وَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ الْقَلِيْلَ لاَ يَشْكُرُ الْكَثِيْرَ وَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ لاَ يَشْكُرُ اللهَ وَ الْجَمَاعَةُ بَرَكَةٌ وَ الْفُرْقَةُ عَذَابٌ “Menyebut-nyebut nikmat Allah adalah bersyukur, meninggalkannya adalah kufur. Barang siapa tidak bersyukur terhadap yang sedikit, maka dia tidak akan bersyukur kepada yang banyak. Barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka dia tidak akan bersyukur kepada Allah. Berjamaah adalah berkah, sedangkan berpecah adalah azab.” (HR. Baihaqi dalam Asy Syu’ab, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 3014) Selesai tafsir surah Adh Dhuha dengan pertolongan Allah, taufiq-Nya dan kemudahan-Nya, wal hamdulillahi Rabbil ‘aalamiin.
TAFSIR WADH-DHUHA 1-11
Pertama kali dibagikan oleh muhamat rahmat
TAFSIR QURAN DAN HDIS TABARUK;
JILIK9--SURAH WADH-DHUHA ayat 1-11;
1- ‘Wahai Muhammad, aku tidak melihat syaitan mu melainkan dia telah meninggalkanmu.’ Nabi saw. Pernah bersedih hati sehingga beliau tidak bangun satu atau dua malam. Kemudian dating seorang perempuan dan berkata berikut; sebenar nya ketika mana dilihat orang orang qurais dan yahudi tentang muhamat yang sedang telah berputus asa dengan tuhan nya suatu ketika ; lalu ada hadis menyatakan tentang kemurungan muham at saw ketika itu dan wanita yahudi itu pun berkata pada muhamat saw bahawa tuhan mu telah pun pergi meninggalkan mu dan kamu hanya lah seorang hamba permainan nya sebagai mana yang lain ; maka waktu itu juga lah allah azawajalla menurunkan ayat 1-3 suratul dhuha; yang mana bermaksut ; “
1. demi waktu matahari sepenggalahan naik, 2. dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), 3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu'. dari sini jelas bahawa muhamat saw seorang hamba yang taad akan tuhan nya sehingga mana bersedih hati sanubarinya bila mana allah sawt tak menurunkan sesuatu pada nya; sebagai mana hadis riwayat Imam Ahmad meriwayatkan, Abu Nu’aim Sufyan member tahu kami dari al-Aswad bin Qais, di atas; yang mana menjelaskan tentang kerisauan muhamat saw hanya pada tuhanya allah sawt;As-Saddi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa untuk memuaskan hati Nabi Muhammad Saw., Allah tidak akan memasukkan seorang pun dari kalangan ahli baitnya ke dalam neraka. Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim. Al-Hasan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan hal tersebut ialah syafaat (diizinkan untuk memberi syafaat). Hal yang sama telah dikatakan oleh Abu Ja'far Al-Baqir. Tafsir Al-Qur’an Surah Adl-Dluhaa ayat 1-11 ;. Surah Adl-Dluhaa (Waktu Matahari Naik Sepenggalah) Surah Makkiyaah, Surah ke 93: 11 ayat'
Audzubillahi minasyaitan nirrajim; Bismillahirrahmanirrahiim ;' 1. Wadhdhuhaa 2. Wallayli idzaa sajaa 3. Maa wadda'aka rabbuka wamaa qalaa 4. Walal-aakhiratu khayrul laka mina l-uulaa 5. Walasawfa yu'thiika rabbuka fatardaa 6. Alam yajidka yatiiman faaawaa 7. Wawajadaka daallan fahadaa 8. Wawajadaka 'aa-ilan fa-aghnaa 9. Fa-ammaa lyatiima falaa taqhar 10. Wa-ammaa ssaa-ila falaa tanhar 11. Wa-ammaa bini'mati rabbika fahaddits
وَالضُّحَى (1) وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى (2) مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى (3) وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى (4) وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى (5) أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى (6) وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى (7) وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى (8) فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (9) وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (10) وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (11) “1.
Demi waktu matahari sepenggalahan naik, 2. dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), 3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, 4. dan Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan) 5. dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas. 6. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? 7. dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. 8. dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. 9. sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu Berlaku sewenang-wenang. 10. dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. 11. dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan.” (adl-Dluhaa: 1-11)
Imam Ahmad meriwayatkan, Abu Nu’aim Sufyan member tahu kami dari al-Aswad bin Qais, dia berkata: aku pernah mendengar Jundub berkata: “Nabi saw. Pernah bersedih hati sehingga beliau tidak bangun satu atau dua malam. Kemudian dating seorang perempuan dan berkata: ‘Wahai Muhammad, aku tidak melihat syaitanmu melainkan dia telah meninggalkanmu.’ Kemudian Allah menurunkan ayat: wadl-dluhaa. Wallaili idzaa sajaa. Maa wadda’aka rabbuka wamaa qalaa (““1. demi waktu matahari sepenggalahan naik, 2. dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), 3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu,”)
diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i. Yang demikian itu merupakan sumpah Allah dengan waktu dluha dan juga cahaya yang dipancarkan pada waktu itu. Wal laili idzaa sajaa (“Dan demi malam apabila telah sunyi”) yakni telah menjadi tenang, lalu digelapkan. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid, Qatadah, adl-Dlahhak, Ibnu Zaid, dan lain-lain. Dan hal itu yang menjadi dalil nyata yang menunjukkan kekuasaan Sang Khaliq. Firman Allah: maa wadda’aka rabbuka (“Rabb-mu tidak meninggalkanmu”) yakni tidak membiarkanmu. Wa maa qalaa (“Dan tidak [pula] benci kepadamu.”) yakni membencimu. Wa lal-aakhiratu khairul laka minal uulaa (“Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan.”) maksudnya, alam akhirat itu lebih baik bagimu daripada alam dunia ini. Oleh karena itu, Rasulullah saw. sebagai orang paling juhud di dunia ini sekaligus paling bijaksana menyikapinya, dan itu sudah sangat dikenal di dalam sirah beliau. Dan ketika diajukan pilihan kepada beliau di akhir hayatnya, antara tetap hidup di dunia sampai berakhir dan kemudian mendapatkan surga dengan menghadap Allah, maka beliau memilih apa yang ada di sisi Allah daripada dunia yang hina ini. Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: “Rasulullah saw. pernah berbaring di atas tikar sehingga menimbulkan bekas pada lambungnya. Pada saat bangun, aku mengusap lambung beliau dan kukatakan: ‘Wahai Rasulallah, berikan perkenan kepada kami sehingga kami bentangkan sesuatu di atas tikar tersebut untukmu.’ Maka Rasululullah saw. bersabda: ‘Aku tidak mempunyai kepentingan terhadap dunia ini. Perumpamaanku dengan dunia ini tidak lain hanyalah seperti orang yang sedang berkendaraan yang berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.’”
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi mengatakan: “Hasan shahih”. Firman Allah: wa lasaufa yu’thiika rabbuka fatardlaa (“Dan kelak pasti Rabb-mu memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu [hati] kamu menjadi puas.”) yakni, di alam akhirat kelak, Dia akan memberikan karunia kepada beliau sehingga Dia meridlainya untuk memberi syafaat kepada umatnya dan menerima apa yang telah disediakan untuk beliau berupa kemuliaan. Imam Abu ‘Amr al-Auza’i meriwayatkan dari ‘Ali bin ‘Abdillah bin ‘Abbas, dari ayahnya, ia berkata: “Pernah diperlihatkan kepada Rasulullah saw. sesuatu yang telah dibukakan gudang penyimpan barang berharga untuk umatnya sepeninggal beliau. Maka Rasulullah saw. sangat gembira dengan hal tersebut sehingga Allah menurunkan ayat: wa lasaufa yu’thiika rabbuka fatardlaa (“Dan kelak pasti Rabb-mu memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu [hati] kamu menjadi puas.”) Maka Allah pun memberi beliau di surga satu juta istana. Di setiap istana terdapat istri-istri juga pelayan. Demikian yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari jalannya. Dan ini adalah sanad yang shahih kepada Ibnu ‘Abbas. Dan perumpamaan ini tidak diungkapkan melainkan sebagai penghentian. As-Suddi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, di antara bentuk kepuasan Muhammad saw. adalah tidak adanya seorang pun dari keluarganya yang masuk neraka.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim. Al-Hasan mengungkapkan: “Yang dimaksud dengan hal ini adalah syafaat.” Demikianlah yang dikemukakan oleh Abu ja’far al-Baqir. Kemudian sambil menghitung nikmat-nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba sekaligus Rasul-Nya, Muhammad saw., Allah berfirman: a lam yajidka yatiimang fa aawaa (“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu.”) yang demikian itu karena ayahnya telah wafat ketika beliau masih dalam kandungan ibunya. Ada juga yang menyebutkan, setelah beliau lahir, ibunya –Aminah binti Wahb- pun wafat, ketika itu beliau masih berusia 6 tahun. Kemudian beliau berada di bawah asuhan kakeknya, ‘Abdul Muththalib sampai kakeknya meninggal dunia ketika beliau berusian 8 tahun. Lalu beliau diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Abu Thalib melindungi dan memuliakannya hingga beliau diangkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun, sedangkan Abu Thalib masih memeluk agama nenek moyangnya. Semua itu terjadi atas takdir Allah dan pengaturnan-Nya yang baik sampai akhirnya Abu Thalib meninggal dunia sesaat sebelum beliau berhijrah. Kemudian orang-orang bodoh dari kaum Quraisy semakin berani sehingga Allah memilihkan hijrah untuk beliau dari tengah-tengah mereka ke negeri Anshar, dari suku Auz dan Khazraj (Madinah). Sebagaimana Allah telah memberlakukan sunnah-Nya dengan penuh kesempurnaan dan kelengkapan, maka setelah beliau sampai kepada mereka, merekpun memberikan perlindungan dan pertolongan serta pengawalan, dan menyertai berperang bersama beliau. Semua itu merupakan bentuk penjagaan, perlindungan dan pertolongan Allah kepada beliau. Firman Allah: wawajadaka dlaallang faHadaa (“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberi petunjuk.”) yang demikian itu sama seperti firman-Nya yang artinya: 52. dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”)(asy-Syuura: 52) Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat itu adalah Nabi saw. pernah tersesa di jalanan gunung yang terletak di Makkah, ketika itu beliau masih kecil, kemudian beliau bisa pulang kembali. Pada saat itu beliau sedang bersama pamannya menuju ke Syam. Beliau naik unta pada malam hari, lalu iblis datang dan menyelewengkan beliau dari jalan yang sebenarnya. Selanjutnya Jibril datang, lalu menyembur dengan sekali tiupan kepada iblil sehingga dia pergi darinya menuju Habasyah, kemudian mengarahkan binatang kendaraan itu ke suatu jalan.
Demikian yang diriwayatkan oleh al-Baghawi. Firman Allah: wawajadaka ‘aa-ilang fa-anghnaa (“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”) artinya, engkau sebagai seorang miskin yang banyak kekurangan, lalu allah memberimu kecukupan dari selain-Nya. Dengan demikian, Dia menggabungkan dua kedudukan untuk beliau, sebagai seorang miskin yang senantiasa bersabar dan seorang kaya yang senantiasa bersyukur. Dalam kitab ash-Shahihain disebutkan melalui jalan ‘Abdurrazzaq dari Ma’mar dari Hammam bin Munabbih, dia mengatakan: “Inilah diberitahukan kepada kami oleh Abu Hurairah. Dia berkata: “Rasulullah bersabda: ‘Tidaklah kekayaan itu dengan banyakknya harta, tetapi kekayaan itu adalah kayanya jiwa.’” Di dalam kitab Shahih Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Berbahagialah orang yang memeluk Islam dan diberi rizki yang cukup dan dijadikan puas oleh Allah atas apa yang telah Dia berikan kepadanya.” Firman Allah: fa ammal yatiima falaa taqHar (“Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.”) yakni sebagaimana kamu dulu sebagai seorang anak yatim, lalu Allah memberikan perlindungan kepadamu. Oleh karena itu, janganlah engkau menghardik anak yatim. Artinya janganlah engkau menghinakan, berbuat kasar terhadapnya dan janganlah engkau menghalanginya, tetapi hendaklah bersikap baik dan berlemah lembut terhadapnya. Qatadah mengatakan: “Jadilah engkau bagi anak yatim serperti seorang anak yang penuh kasih sayang.” Wa ammas saa-ila falaa tanHar (“Dan terhadap orang yang minta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya.”) maksudnya, sebagaimana dulu engkau pernah tersesat, lalu Allah memberi petunjuk, maka janganlah kamu menghardik orang yang meminta ilmu dan bimbingan. Selain itu, Qatadah juga mengemukakan: “Yakni, menolak orang miskin dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.” Wa ammaa bini’mati rabbika fahaddits (“Dan terhadap nikmat Rabb-mu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya [dengan bersyukur]”) maksudnya, sebagaiman dulu engkau seorang miskin lagi kekurangan, lalu Allah membuatmu kaya, maka sebut-sebutlah nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepadamu. Dan di dalam kitab ash-Shahihain, dari Anas bahwa kaum Muhajirin pernah berkata: “Wahai Rasulallah, kaum Anshar telah membawa pergi semua pahala.” Maka beliau menjawab: “Tidak, selama kalian mendo’akan kebaikan untuk mereka dan pujian yang kalian berikan kepada mereka.”
TAFSIR QURAN DAN HDIS TABARUK;
JILIK9--SURAH WADH-DHUHA ayat 1-11;
1- ‘Wahai Muhammad, aku tidak melihat syaitan mu melainkan dia telah meninggalkanmu.’ Nabi saw. Pernah bersedih hati sehingga beliau tidak bangun satu atau dua malam. Kemudian dating seorang perempuan dan berkata berikut; sebenar nya ketika mana dilihat orang orang qurais dan yahudi tentang muhamat yang sedang telah berputus asa dengan tuhan nya suatu ketika ; lalu ada hadis menyatakan tentang kemurungan muham at saw ketika itu dan wanita yahudi itu pun berkata pada muhamat saw bahawa tuhan mu telah pun pergi meninggalkan mu dan kamu hanya lah seorang hamba permainan nya sebagai mana yang lain ; maka waktu itu juga lah allah azawajalla menurunkan ayat 1-3 suratul dhuha; yang mana bermaksut ; “
1. demi waktu matahari sepenggalahan naik, 2. dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), 3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu'. dari sini jelas bahawa muhamat saw seorang hamba yang taad akan tuhan nya sehingga mana bersedih hati sanubarinya bila mana allah sawt tak menurunkan sesuatu pada nya; sebagai mana hadis riwayat Imam Ahmad meriwayatkan, Abu Nu’aim Sufyan member tahu kami dari al-Aswad bin Qais, di atas; yang mana menjelaskan tentang kerisauan muhamat saw hanya pada tuhanya allah sawt;As-Saddi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa untuk memuaskan hati Nabi Muhammad Saw., Allah tidak akan memasukkan seorang pun dari kalangan ahli baitnya ke dalam neraka. Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim. Al-Hasan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan hal tersebut ialah syafaat (diizinkan untuk memberi syafaat). Hal yang sama telah dikatakan oleh Abu Ja'far Al-Baqir. Tafsir Al-Qur’an Surah Adl-Dluhaa ayat 1-11 ;. Surah Adl-Dluhaa (Waktu Matahari Naik Sepenggalah) Surah Makkiyaah, Surah ke 93: 11 ayat'
Audzubillahi minasyaitan nirrajim; Bismillahirrahmanirrahiim ;' 1. Wadhdhuhaa 2. Wallayli idzaa sajaa 3. Maa wadda'aka rabbuka wamaa qalaa 4. Walal-aakhiratu khayrul laka mina l-uulaa 5. Walasawfa yu'thiika rabbuka fatardaa 6. Alam yajidka yatiiman faaawaa 7. Wawajadaka daallan fahadaa 8. Wawajadaka 'aa-ilan fa-aghnaa 9. Fa-ammaa lyatiima falaa taqhar 10. Wa-ammaa ssaa-ila falaa tanhar 11. Wa-ammaa bini'mati rabbika fahaddits
وَالضُّحَى (1) وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى (2) مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى (3) وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى (4) وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى (5) أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى (6) وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى (7) وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى (8) فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (9) وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (10) وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (11) “1.
Demi waktu matahari sepenggalahan naik, 2. dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), 3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, 4. dan Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan) 5. dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas. 6. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? 7. dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. 8. dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. 9. sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu Berlaku sewenang-wenang. 10. dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. 11. dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan.” (adl-Dluhaa: 1-11)
Imam Ahmad meriwayatkan, Abu Nu’aim Sufyan member tahu kami dari al-Aswad bin Qais, dia berkata: aku pernah mendengar Jundub berkata: “Nabi saw. Pernah bersedih hati sehingga beliau tidak bangun satu atau dua malam. Kemudian dating seorang perempuan dan berkata: ‘Wahai Muhammad, aku tidak melihat syaitanmu melainkan dia telah meninggalkanmu.’ Kemudian Allah menurunkan ayat: wadl-dluhaa. Wallaili idzaa sajaa. Maa wadda’aka rabbuka wamaa qalaa (““1. demi waktu matahari sepenggalahan naik, 2. dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), 3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu,”)
diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i. Yang demikian itu merupakan sumpah Allah dengan waktu dluha dan juga cahaya yang dipancarkan pada waktu itu. Wal laili idzaa sajaa (“Dan demi malam apabila telah sunyi”) yakni telah menjadi tenang, lalu digelapkan. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid, Qatadah, adl-Dlahhak, Ibnu Zaid, dan lain-lain. Dan hal itu yang menjadi dalil nyata yang menunjukkan kekuasaan Sang Khaliq. Firman Allah: maa wadda’aka rabbuka (“Rabb-mu tidak meninggalkanmu”) yakni tidak membiarkanmu. Wa maa qalaa (“Dan tidak [pula] benci kepadamu.”) yakni membencimu. Wa lal-aakhiratu khairul laka minal uulaa (“Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan.”) maksudnya, alam akhirat itu lebih baik bagimu daripada alam dunia ini. Oleh karena itu, Rasulullah saw. sebagai orang paling juhud di dunia ini sekaligus paling bijaksana menyikapinya, dan itu sudah sangat dikenal di dalam sirah beliau. Dan ketika diajukan pilihan kepada beliau di akhir hayatnya, antara tetap hidup di dunia sampai berakhir dan kemudian mendapatkan surga dengan menghadap Allah, maka beliau memilih apa yang ada di sisi Allah daripada dunia yang hina ini. Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: “Rasulullah saw. pernah berbaring di atas tikar sehingga menimbulkan bekas pada lambungnya. Pada saat bangun, aku mengusap lambung beliau dan kukatakan: ‘Wahai Rasulallah, berikan perkenan kepada kami sehingga kami bentangkan sesuatu di atas tikar tersebut untukmu.’ Maka Rasululullah saw. bersabda: ‘Aku tidak mempunyai kepentingan terhadap dunia ini. Perumpamaanku dengan dunia ini tidak lain hanyalah seperti orang yang sedang berkendaraan yang berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.’”
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi mengatakan: “Hasan shahih”. Firman Allah: wa lasaufa yu’thiika rabbuka fatardlaa (“Dan kelak pasti Rabb-mu memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu [hati] kamu menjadi puas.”) yakni, di alam akhirat kelak, Dia akan memberikan karunia kepada beliau sehingga Dia meridlainya untuk memberi syafaat kepada umatnya dan menerima apa yang telah disediakan untuk beliau berupa kemuliaan. Imam Abu ‘Amr al-Auza’i meriwayatkan dari ‘Ali bin ‘Abdillah bin ‘Abbas, dari ayahnya, ia berkata: “Pernah diperlihatkan kepada Rasulullah saw. sesuatu yang telah dibukakan gudang penyimpan barang berharga untuk umatnya sepeninggal beliau. Maka Rasulullah saw. sangat gembira dengan hal tersebut sehingga Allah menurunkan ayat: wa lasaufa yu’thiika rabbuka fatardlaa (“Dan kelak pasti Rabb-mu memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu [hati] kamu menjadi puas.”) Maka Allah pun memberi beliau di surga satu juta istana. Di setiap istana terdapat istri-istri juga pelayan. Demikian yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari jalannya. Dan ini adalah sanad yang shahih kepada Ibnu ‘Abbas. Dan perumpamaan ini tidak diungkapkan melainkan sebagai penghentian. As-Suddi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, di antara bentuk kepuasan Muhammad saw. adalah tidak adanya seorang pun dari keluarganya yang masuk neraka.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim. Al-Hasan mengungkapkan: “Yang dimaksud dengan hal ini adalah syafaat.” Demikianlah yang dikemukakan oleh Abu ja’far al-Baqir. Kemudian sambil menghitung nikmat-nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba sekaligus Rasul-Nya, Muhammad saw., Allah berfirman: a lam yajidka yatiimang fa aawaa (“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu.”) yang demikian itu karena ayahnya telah wafat ketika beliau masih dalam kandungan ibunya. Ada juga yang menyebutkan, setelah beliau lahir, ibunya –Aminah binti Wahb- pun wafat, ketika itu beliau masih berusia 6 tahun. Kemudian beliau berada di bawah asuhan kakeknya, ‘Abdul Muththalib sampai kakeknya meninggal dunia ketika beliau berusian 8 tahun. Lalu beliau diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Abu Thalib melindungi dan memuliakannya hingga beliau diangkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun, sedangkan Abu Thalib masih memeluk agama nenek moyangnya. Semua itu terjadi atas takdir Allah dan pengaturnan-Nya yang baik sampai akhirnya Abu Thalib meninggal dunia sesaat sebelum beliau berhijrah. Kemudian orang-orang bodoh dari kaum Quraisy semakin berani sehingga Allah memilihkan hijrah untuk beliau dari tengah-tengah mereka ke negeri Anshar, dari suku Auz dan Khazraj (Madinah). Sebagaimana Allah telah memberlakukan sunnah-Nya dengan penuh kesempurnaan dan kelengkapan, maka setelah beliau sampai kepada mereka, merekpun memberikan perlindungan dan pertolongan serta pengawalan, dan menyertai berperang bersama beliau. Semua itu merupakan bentuk penjagaan, perlindungan dan pertolongan Allah kepada beliau. Firman Allah: wawajadaka dlaallang faHadaa (“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberi petunjuk.”) yang demikian itu sama seperti firman-Nya yang artinya: 52. dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”)(asy-Syuura: 52) Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat itu adalah Nabi saw. pernah tersesa di jalanan gunung yang terletak di Makkah, ketika itu beliau masih kecil, kemudian beliau bisa pulang kembali. Pada saat itu beliau sedang bersama pamannya menuju ke Syam. Beliau naik unta pada malam hari, lalu iblis datang dan menyelewengkan beliau dari jalan yang sebenarnya. Selanjutnya Jibril datang, lalu menyembur dengan sekali tiupan kepada iblil sehingga dia pergi darinya menuju Habasyah, kemudian mengarahkan binatang kendaraan itu ke suatu jalan.
Demikian yang diriwayatkan oleh al-Baghawi. Firman Allah: wawajadaka ‘aa-ilang fa-anghnaa (“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”) artinya, engkau sebagai seorang miskin yang banyak kekurangan, lalu allah memberimu kecukupan dari selain-Nya. Dengan demikian, Dia menggabungkan dua kedudukan untuk beliau, sebagai seorang miskin yang senantiasa bersabar dan seorang kaya yang senantiasa bersyukur. Dalam kitab ash-Shahihain disebutkan melalui jalan ‘Abdurrazzaq dari Ma’mar dari Hammam bin Munabbih, dia mengatakan: “Inilah diberitahukan kepada kami oleh Abu Hurairah. Dia berkata: “Rasulullah bersabda: ‘Tidaklah kekayaan itu dengan banyakknya harta, tetapi kekayaan itu adalah kayanya jiwa.’” Di dalam kitab Shahih Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Berbahagialah orang yang memeluk Islam dan diberi rizki yang cukup dan dijadikan puas oleh Allah atas apa yang telah Dia berikan kepadanya.” Firman Allah: fa ammal yatiima falaa taqHar (“Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.”) yakni sebagaimana kamu dulu sebagai seorang anak yatim, lalu Allah memberikan perlindungan kepadamu. Oleh karena itu, janganlah engkau menghardik anak yatim. Artinya janganlah engkau menghinakan, berbuat kasar terhadapnya dan janganlah engkau menghalanginya, tetapi hendaklah bersikap baik dan berlemah lembut terhadapnya. Qatadah mengatakan: “Jadilah engkau bagi anak yatim serperti seorang anak yang penuh kasih sayang.” Wa ammas saa-ila falaa tanHar (“Dan terhadap orang yang minta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya.”) maksudnya, sebagaimana dulu engkau pernah tersesat, lalu Allah memberi petunjuk, maka janganlah kamu menghardik orang yang meminta ilmu dan bimbingan. Selain itu, Qatadah juga mengemukakan: “Yakni, menolak orang miskin dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.” Wa ammaa bini’mati rabbika fahaddits (“Dan terhadap nikmat Rabb-mu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya [dengan bersyukur]”) maksudnya, sebagaiman dulu engkau seorang miskin lagi kekurangan, lalu Allah membuatmu kaya, maka sebut-sebutlah nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepadamu. Dan di dalam kitab ash-Shahihain, dari Anas bahwa kaum Muhajirin pernah berkata: “Wahai Rasulallah, kaum Anshar telah membawa pergi semua pahala.” Maka beliau menjawab: “Tidak, selama kalian mendo’akan kebaikan untuk mereka dan pujian yang kalian berikan kepada mereka.”
Khamis, 4 Januari 2018
tafsir surah ashr ayat 1-3
- Al Ashr atau biasa disebut Wal Asri Yaitu Demi masa yang mana manusia sedang lalai dan rugi; satu surat pendek di Al-Quran yang masuk kategori juz amma, bahkan panjangnya hanya 3 ayat aja. Al Asr turun di kota mekkah dan masuk golongan surat makkiyah. surat ini merupakan surah ke 103 di Al Quran yang bila diartikan berarti “Waktu/Masa”. diberi nama Al Ashr di karenakan mengambil Ungkap di ayat pertama surat ini.Demi masa; bagi hamba mahluk ciptaan allah masa adalah sesuatu yang penting namun masa tiada dalam masa allah azawajalla; sebagai mana masa bagi seseorang ada jangka masa panjang dan pendek bagi nya; namun hakikat masa tiada batas waktu bagi allah; 1amasa dalam pimpinan allah mencipta alam yang mana di namakan 1masa yang allah jadikan alam berupa 1ribu tahun 10 ribu tahun atau 100ribu tahun kerna masa tiada batas bagi allah sebagai mana seseorang yang sedang tidur tiada batas masa bagi nya ;seseorang yang sedang hidup atas dunia 50tahun terasa cepat bagi seseorang akan tetapi masa bagi seseorang 50tahun hidup atas dunia berasa terlalu lama dan cukup bagi nya untuk melakukan semua nya yang di perlukan nya; masa tak ada batasan bagi allah; tiada masa bagi allah azawajalla '
Mengenai inti isi Qs Al Ashri sendiri jelaskan bahwa sesungguhnya manusia itu didalam keadaan yang merugi apabila mereka menyia nyiakan waktunya begitu aja, kecuali untuk mereka yang memanfaatkan waktunya dengan senantiasa beramal saleh dan berbuat bagus.
Mereka menyebutkan bahwa ‘Amr bin al-‘Ash pernah diutus untuk menemui Musailamah al-Kadzdzab. Hal itu berlangsung setelah pengutusan Rasulullah saw. Dan sebelum dia (‘Amr bin al-‘Ash) masuk Islam. Musailamah al-Kadzab bertanya kepada ‘Amr bin al-‘Ash, “Apa yang telah diturunkan kepada sahabatmu ini (Rasulullah) selama ini?” Dia menjawab, “Telah diturunkan kepadanya satu surat ringkas namun sangat padat.” Dia bertanya, “Surat apa itu?” Dia (‘Amr) menjawab: “Wal ‘ashr….[hingga akhir surah]…(“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1-3)
Kemudian Musailamah berfikir sejenak, setelah itu ia berkata: “Dan telah diturunkan pula hall serupa kepadaku.” Kemudian ‘Amr bertanya kepadanya, “Apa itu?” Musailamah menjawab: “Yaa wabriyaa wabr. Wa innamaa anta uzduunani wa shadr. Wa saa-iruka hafr naqr (hai kelinci, hai kelinci, sesungguhnya kamu memiliki dia telinga dan satu dada. Dan semua jenismu suka membuat galian dan lubang)”. Kemudian dia bertanya: “Bagaimana menurut pendapatmu hai ‘Amr?” maka ‘Amr berkata kepadanya, “Demi Allah, aku tahu bahwa engkau telah berdusta.”
Wabr adalah binatang sejenis kucing, yang anggota badannya yang paling besar adalah keduua telinga dan dadanya, sedangkan anggota tubuh lainnya kurang bagus. Dengan halusinasi itu, Musailamah al-Kadzdzab bermaksud menyusun kalimat yang bertentangan dengan apa yang disampaikan al-Qur’an. Namun demikian, hal tersebut ditolak mentah-mentah oleh seorang penyembah berhala pada saat itu.
Imam Syafi’I mengatakan: “Seandainya manusia mencermati surat ini (al-‘Ashr) secara seksama, niscaya surat ini akan mencukupi mereka.”
Surat Al-Ashr Versi Teks Latin
1. waal’ashri
2. innal-insaana lafii khusrin
3. illaalladziina aamanuu wa’amiluusshaalihaati watawaasaw bialhaqqi watawaasaw biashobr
Arti Bahasa Melayu Qs Al-Ashr
1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada di kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menta’ati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
demikian mengenai bacaan surat Al-Ashr dan terjemahannya. insyaallah kita mendapatkan manfaat besar dari artikel ini dan kita mendapatkan pahala berlipat di membacanya. wallahu a’lam.
Surat Al ‘Ashr merupakan sebuah surat dalam Al Qur’an yang banyak dihafal oleh kaum muslimin karena pendek dan mudah dihafal. Namun sayangnya, sangat sedikit di antara kaum muslimin yang dapat memahaminya. Padahal, meskipun surat ini pendek, akan tetapi memiliki kandungan makna yang sangat dalam. Sampai-sampai Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,
لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَوَسَعَتْهُمْ
”Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.” [Tafsir Ibnu Katsir 8/499].
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Maksud perkataan Imam Syafi’i adalah surat ini telah cukup bagi manusia untuk mendorong mereka agar memegang teguh agama Allah dengan beriman, beramal sholih, berdakwah kepada Allah, dan bersabar atas semua itu. Beliau tidak bermaksud bahwa manusia cukup merenungkan surat ini tanpa mengamalkan seluruh syari’at. Karena seorang yang berakal apabila mendengar atau membaca surat ini, maka ia pasti akan berusaha untuk membebaskan dirinya dari kerugian dengan cara menghiasi diri dengan empat kriteria yang tersebut dalam surat ini, yaitu beriman, beramal shalih, saling menasehati agar menegakkan kebenaran (berdakwah) dan saling menasehati agar bersabar” [Syarh Tsalatsatul Ushul].
”Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah nomor 224 dengan sanad shahih).
”Seorang yang berilmu akan tetap menjadi orang bodoh sampai dia dapat mengamalkan ilmunya. Apabila dia mengamalkannya, barulah dia menjadi seorang alim” (Dikutip dari Hushul al-Ma’mul)
بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾ 1
. demi masa2.Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1-3)
Al-‘Ashr berarti masa yang di dalamnya berbagai aktifitas anak cucu Adam berlangsung, baik dalam wujud kebaikan maupun keburukan. Imam Malik meriwayatkan dari Zaid bin Aslam: “Kata al-‘Ashr berarti shalat ‘Ashar.” Dan yang populer adalah pendapat pertama.
Dengan demikian, Allah Ta’ala telah bersumpah dengan masa tersebut bahwa manusia itu dalam kerugian, yakni benar-benar merugi dan binasa. Illal ladziina aamanuu wa’amilush shaalihaat (“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih”). Dengan demikian Allah memberikan pengecualian dari kerugian itu bagi orang-orang yang beriman dengan hati mereka dan mengerjakan amal shalih melalui anggota tubuhnya. Wa tawaa shaubil haqqi (“Dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran”) yaitu mewujudkan semua bentuk ketaatan dan meninggalkan semua yang diharamkan. Wa tawaa shaubish shabr (“Dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.”) yakni bersabar atas segala macam cobaan, takdir, serta gangguan yang dilancarkan kepada orang-orang yang menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.
Langgan:
Catatan (Atom)
JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN
JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN
-
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK; SURAH ALI-IMRAN JUZ-4 BISS-,MILLAA-HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM,.; Quran, Surah Al-i'Imran, Ayat 154 Summa a...
-
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK' SURAH MUHAMAD AYAT 21-22 BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM'' 22. fahal ‘asaytum in tawallaytum an t...
-
JILIK KE 2 TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK AKAN BERPINDAH PADA EKAUN G.MAIL YANG BAHARU,.,.INSYAALLAH PADA TAHUN 2019,.,.,AMIIIN